Diposkan pada FanFiction NC 17+

Eternal Fire [Oneshoot]

Eternal Fire

Title:  Eternal Fire

Author : AutumnBrezee @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast : Wu Yi Fan, Dae Hee / Lee Da Eun

Genre : Romance and Fantasy

Length : Oneshoot

Rating: NC 17

Summary:  Seumur hidupnya Yifan hanya tahu tentang kuil dan Desa kecil yang terletak tak jauh darinya sampai akhirnya seorang wanita yang selalu memakai pakaian merah datang ke kuil dan tinggal disana bersamanya.

Warning: Sexual Content, kekerasan dan darah jika kamu sensitif dengan topik ini dimohon jangan membaca

1

Eternal Fire

Yi Fan tidak asing dengan semua pengunjung kuil, lagipula kuil yang dia jaga terdapat di daerah Desa kecil dimana semua orang tahu satu sama lainnya. Dia biasanya bertemu dengan Kim ahjumma pada hari senin dan penduduk lainnya akan mengikuti di hari selanjutnya. Mereka biasanya berdoa di kuil, contohnya Se Hun yang sekarang dengan seriusnya berdoa didepan patung Dewi Dae Hee memohon agar malam ini dia tidak akan mati kedinginan saat sedang berpatrol mengingat belakangan ini salju turun lebih lebat dari biasanya.

Setelah berdoa Se Hun melambaikan tangannya pada Yi Fan saat lelaki itu melihat sosoknya, dia mungkin seorang polisi sekarang namun Yi Fan selalu memandangnya sebagai adik kecil yang harus selalu dia lindungi. Se Hun mendekat kearah Yifan lelaki itu kelihatan membawa sesuatu ditangannya, Yifan bisa menebak apa yang lelaki itu bawa.

“Apa ibumu memasak terlalu banyak lagi?” Yi Fan berkata saat Se Hun sudah berjarak cukup dekat dengannya.

Hyeong bagaimana kau tahu? Kau selalu bisa menebak apa yang aku bawa.” Se Hun menjawab sambil memamerkan senyumnya. “Eomma khawatir, sekarang musim dingin kau tidak bisa memanen sayuranmu.” Se Hun menjelaskan, dia menyimpan kotak makanan yang dia bawa didepan Yifan yang sedang sibuk menyapu beranda kuil.

“Terimakasih Se Hun, ucapkan rasa terimakasihku juga pada ibumu.” Yifan berkata.

“Aku akan menyampaikannya pada ibuku, aku harus pergi Hyeong hari ini aku yang akan berpatrol.” Se Hun berkata lalu melambaikan tangannya sebelum akhirnya berbalik keluar dari kuil.

Yi Fan membalas lambaian tangan Se Hun dia masih tidak percaya anak itu sekarang sudah tumbuh besar menjadi seorang polisi, sejujurnya Yi Fan sangat iri dengan Se Hun. Se Hun bisa mengikuti mimpinya sedangkan Yifan terjebak di kuil ini, walaupun begitu Yi Fan tidak bisa protes. Dia cukup beruntung memiliki kuil ini karena jika tidak dia hanya akan menjadi anak jalanan yang tidak punya tempat tinggal.

Halaman depan kuil diselimuti oleh salju yang sangat tebal membuat Yi Fan khawatir, dia khawatir jika jalan setapak kuil akan tertutup membuat para penduduk Desa akan kesusahan jika mereka akan datang ke kuil. Yi Fan tidak bisa menyalahkan lokasi kuil yang ada di kaki gunung sehingga dia berdoa pada Dewa Xiu Min semoga salju hari ini tidak terlalu lebat.

Saat Yi Fan hendak masuk kedalam kuil tiba-tiba saja lonceng gerbang kuil terdengar diikuti oleh langkah kaki, Yi Fan mengernyit. Waktu sudah menunjukan jam sepuluh pagi biasanya para penduduk Desa sibuk untuk beraktifitas pada waktu tersebut. Karena penasaran Yi Fan mengintip dari beranda samping kuil dan menemukan sesosok wanita yang menggunakan jeans dan mantel merah memasuki kuil.

Mantel merah wanita itu terlihat sangat menonjol diantara salju putih yang menyelimuti kuil. Yi Fan tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya padahal Yi Fan yakin dia mengetahui semua orang yang ada di Desa kecil yang terletak dibawah kaki gunung dimana kuil berada. Siapakah wanita itu? Yi Fan bertanya-tanya, dia bisa melihat wanita itu masuk kedalam kuil dan mulai menyembah didepan patung Dewi Dae Hee.

Awalnya Yi Fan tidak terlalu peduli dia kembali melanjutkan aktivitasnya, lagipula dia harus membersihkan salju dari atap kuil dan mencuci beberapa bajunya. Yi Fan yang tinggal sendirian di kuil terlalu sibuk untuk memperhatikan seorang wanita asing.

*****

Pundak Yi Fan terasa pegal, dia memukul-mukul bagian pundaknya setelah akhirnya dia selesai mencuci bajunya. Terkadang dia berharap seseorang datang untuk menemaninya di kuil yang besar ini, tinggal sendirian di tempat yang luas ini terkadang membuat Yi Fan sangat kesepian walaupun terkadang penduduk Desa datang untuk menemaninya hal itu tidak cukup.

Dia masih merasa kesepian saat dia mengerjakan tugas-tugasnya meskipun dia tahu apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang mulia. Dia hanya ingin seseorang yang bisa diajak berbincang, seseorang yang pernah keluar dari Desa dan kuil ini agar dia bisa bertanya banyak hal padanya.

“Apa kau penjaga kuil ini?” suara feminim mengejutkan Yi Fan.

Yi Fan segera melirik kearah sumber suara dan menemukan sosok wanita yang menggunakan mantel merah berdiri disampingnya dengan senyum lembut menghiasi wajah cantiknya. Yi Fan kira wanita itu sudah pergi meninggalkan kuil cukup lama namun ternyata tidak.

“Y-ya Anda benar, Saya penjaga kuil ini.” Yi Fan menjawab langsung berdiri dari duduknya.

“Oh begitu, maaf aku hanya ingin bertanya apakah disekitar sini ada penginapan? Aku sudah berputar-putar mencari penginapan atau semacamnya tapi aku tidak menemukannya.” Wanita itu berkata, sekarang Yi Fan tahu kenapa dia belum pernah melihat wanita itu.

“Oh maaf Nona tapi di Desa kecil ini tidak ada penginapan, kami jarang sekali memiliki penziarah atau turis yang tinggal disini.” Yi Fan menjelasakan dan dia bisa melihat ekspressi kecewa terpancar di wajah wanita itu. “Tapi tidak usah khawatir, kuil ini memiliki beberapa kamar kosong jika kau mau.” Yi Fan menawarkan.

“Benarkah? Terimakasih itu akan sangat membantu.” Wanita itu menjawab dengan senyumnya kembali dan entah kenapa jantung Yi Fan rasanya akan meloncat keluar dari dadanya setiap kali dia melihat wanita itu tersenyum.

“Aku Da Eun.” Wanita itu mengulurkan tangannya pada Yi Fan dan Yi Fan menjabat tangannya. “Yi Fan.” Dia memperkenalkan diri.

*****

Seminggu bersama Da Eun terasa sangat singkat, Yi Fan merasa sangat terbantu dengan kehadiran Da Eun. Wanita itu membantu banyak hal di kuil seperti membereskan ruang beribadah, menyapu halaman luas kuil dan membantu Yi Fan membersihkan salju dari atap kuil. Da Eun juga mencerahkan suasana dengan percakapan singkatnya dan lelucon konyol yang selalu dia lontarkan sebagian bahkan sangat tidak lucu tapi Yi Fan tertawa karena ekspressi wanita itu snagat konyol.

Terkadakang rasanya masih sedikit asing menemukan wanita itu sedang duduk diberanda depan kuil, wajah menatap kearah langit abu-abu musim dingin. Wanita itu bahkan kelihatan tidak kedinginan, itu sedikit aneh menurut Yi Fan tapi selain itu segala sesuatu tentang Da Eun normal.

Da Eun ternyata lebih muda dari Yi Fan dan dia adalah seorang backpacker, dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan bosan di Kota Seoul dan memilih mengililingi dunia sampai akhirnya dia sampai di Desa kecil terpencil ini dalam perjalanannya untuk pulang. Yi Fan bertanya tentang banyak hal pada wanita itu, bagaimana dunia luar karena dia tidak pernah meninggalkan kuil dan Desa kecil dimana dia tinggal.

“Bagaimana rasanya mengililingi dunia sendirian?” Yi Fan bertanya malam itu saat mereka duduk berdua diruangan beribadah tepat didepan patung dewi Dae Hee yang terlihat gagah dan tangguh apalagi dengan seekor naga besar yang dia tunggangi.

“Sedikit kesepian, tapi menyenangkan kau bisa bertemu dengan orang baru dan belajar banyak hal.” Da Eun menjawab, matanya kelihatan memancarkan ekspressi sedih membuat Yi Fan enggan bertanya lebih jauh.

“Bagaimana denganmu Yi Fan-ssi? Apa yang membuat kau memutuskan untuk menjadi penjaga kuil?” Da Eun bertanya, melirik kearah Yi Fan yang duduk disampingnya.

“Penjaga kuil ini yang menemukanku dulu di depan kuil, dia sudah seperti ayahku sendiri dan kebetulan dia tidak memiliki anak untuk mewariskan kuil ini. Dia cukup baik mewariskan kuil ini untukku dan aku sangat berterimakasih padanya.” Yi Fan menjelaskan.

“Oh jadi kau bukan pemuja Dewi Dae Hee?” tanya Da Eun namun dia menyeringai setelah dia mengatakan itu. “Lagipula kenapa orang-orang memuja dia? Dia Dewi api, dia hanya akan membawa kehancuran dan penderitaan pada manusia.”

Yi Fan terkejut mendengar itu, dia kira selama ini Da Eun memuja Dewi Dae Hee mengingat wanita itu selalu berdoa setiap pagi didepan patung Dewi api tersebut.  Yi Fan sedikit kecewa mendengar Dewi yang selama ini dia puja dicela seperti itu, apalagi pendapat yang Da Eun katakan tidak tepat.

“Kau benar Da Eun, Dewi Dae Hee mampu membawa penderitaan dan kehancuran tapi yang kau tidak tahu jika tanpa Dewi Dae Hee kau akan mati kelaparan, tersesat dalam gelap dan mati kedinginan saat musim dingin.” Ungkap Yi Fan, dia bisa melihat mata wanita disampingnya melebar.

“Awalnya aku juga tidak mengerti kenapa orang-orang memuja Dewi yang begitu berbahaya namun saat aku bertanya itu pada ayah angkatku dia mengatakan apa yang aku katakan tadi. Darisana aku sadar jika aku menghakimi seorang Dewi tanpa mengetahuinya dengan jelas, aku rasa dulu aku tidak pernah benar-benar mengenal Dewi Dae Hee.”

Da Eun tersenyum mendengar jawaban Yi Fan, mungkin wanita itu menemukan jawabannya aneh. Yi Fan mengutuk kesetiaannya pada Dewi Dae Hee, seumur hidupnya dia hanya tahu cara beribadah pada Dewi itu dan mendengar puji-pujian yang ayahnya nyanyikan untuk memuja Dewi tersebut sehingga semua ajaran itu benar-benar tertanam dalam jiwanya.

“Oh jadi kau pikir sekarang kau mengenal Dewi Dae Hee?” Da Eun bertanya mengangkat kedua alisya merasa tertarik.

“Aku rasa aku mengenalnya lebih baik, semenjak aku berusia 18 tahun ayahku mengajarkan banyak hal tentang ritual, kitab-kitab dan doa-doa yang bisa disenandungkan untuk Dewi Dae Hee.”

Da Eun menganggukan kepalanya terlihat sedikit kagum dengan pengakuan Yi Fan, wanita itu tidak berbicara lagi hanya menatap kearah patung Dewi Dae Hee sebelum akhirnya dia meminta ijin pada Yi Fan untuk kembali kekemarnya karena dia mengantuk.

Malam itu entah kenapa Yi Fan semakin penasaran pada Da Eun, wanita itu tidak banyak menceritakan tentang dirinya namun Yi Fan berakhir mengungkapkan masa lalunya. Dia seperti buku yang terbuka didepan Da Eun dan itu aneh karena bagi sebagian orang Yi Fan sangatlah misterius.

*****

Tiga minggu berlalu dan ini pertamakalinya Yi Fan ingin mengajak Da Eun untuk membantunya berbelanja keperluan sehari-hari dan memperkenalkan wanita itu pada penduduk sekitar. Se Hun kelihatan terkejut saat dia melihat sosok Da Eun turun dari mobil pick up Yi Fan begitu juga beberapa penduduk kota, mereka bertanya siapakah wanita cantik yang datang bersama Yi Fan.

Da Eun memperkenalkan dirinya sedikit malu-malu namun wanita itu bisa beradaptasi dengan cepat bahkan ibu Se Hun langsung menyukai gadis itu. Se Hun sendiri kelihatan tidak jauh berbeda menatap penuh kagum kearah wanita itu seakan dia baru pertamakali melihat wanita yang sangat cantik.

Yi Fan tidak bisa menyalahkan Da Eun, wanita itu memang menarik bahkan melihat wajah wanita itu saja Yi Fan sudah suka. Menyadari itu kedua pipi Yi Fan terasa terbakar karena rasa malu, dia tidak pernah merasakan emosi asing ini seumur hidupnya. Dia sering bertemu dengan wanita cantik contohnya saja Mi Nah penjual bunga yang terkadang datang kekuil untuk berdoa agar bunganya tidak layu karena cuaca panas.

Walaupun Mi Nah sangat cantik Yi Fan tidak merasakan apa yang dia rasakan pada Da Eun, wanita itu benar-benar berbeda. Yi Fan tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang, dadanya selalu berdetak kencang setiap kali dia melihat Da Eun tersenyum dan hasrat yang asing muncul dalam benak Yi Fan membuat lelaki itu bingung.

“Yi Fan-ssi kau baik-baik saja?” suara Da Eun menyadarkan Yi Fan dan Yi Fan pura-pura baik-baik saja pergi membeli sayuran yang shearusnya dia beli.

Da Eun kelihatan tidak curiga dan melanjutkan obrolannya dengan Se Hun yang selalu siap memberikan perhatian pada gadis itu.

*****

“Apa kau mau teh?” Da Eun menawarkan saat mereka berdua baru saja selesai menyimpan belanjaan yang mereka dapatkan dari minimarket.

“Terimakasih, aku kebetulan sedang haus.” Yi Fan menerima segelas teh hangat yang Da Eun berikan padanya.

“Aku rasa cuaca sudah mulai membaik, aku kira kita tidak usah membersihkan salju diatap kuil lagi.” Da Eun berpendapat, dia meneguk teh yang ada digelasnya sambil menatap kearah langit.

Yi Fan mengangguk, dia sedikit senang mereka tidak terlalu sibuk hari ini karena salju sudah mulai menepis meskipun pada hari tertentu salju bisa menumpuk juga. Da Eun menadahkan tangannya dibawah langit dan salju berkumpul ditelapak tangannya, taklama kemudian salju itu meleleh membasahi tangan Da Eun. Yi Fan menemukan hal itu aneh, dia kira salju akan leleh setelah beberapa menit berada ditangan seseorang. Yi Fan tidak terlalu memikirkannya mungkin salju sekarang sudah lebih hangat dibandingkan salju minggu kemarin.

“Apa kau tahu asal mula salju?” Da Eun bertanya dan Yi Fan menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah mendengar cerita apapun tentang salju. Mungkin karena dia pemuja dewi Dae Hee jadi dia tidak pernah tahu cerita tentang dua belas dewa yang melindungi bumi kecuali Dae Hee.

“Salju adalah airmata Dewa Xiu Min, karena Dewa Xiu Min akan  berpisah dengan istrinya setiap musim dingin.”

“Istri? Aku kira Dewa Xiu Min tidak mempunyai pasangan.”

“Tidak banyak yang mau mengakuinya, mengingat istri Xiu Min adalah Dewi Air.”

Itu alasan yang masuk akal kenapa Xiu Min akan menangis dan kenapa dia akan berpisah dengan istrinya pada musim salju, air akan membeku saat musim salju tentu saja Dewi air tidak akan bertahan melawan dinginnya kekuatan salju Xiu Min pikir Yi Fan.

“Pada musim dingin kekuatan Xiu Min akan mencapai puncaknya bahkan barang yang dia sentuh bisa membeku dan hancur dibawah genggamannya. Xiu Min akan menjadi sangat berbahaya bagi Dewi air, jika Xiu Min tidak berhati-hati dia bisa membunuh istrinya.” Da Eun bercerita.

“Tragis sekali, aku kira selama ini Xiu Min adalah Dewa yang dingin sama seperti kekuatannya.”

Da Eun menggelengkan kepalanya. “Kau akan terkejut dengan kenyataan betapa samanya kita dengan para Dewa dan Dewi.” Wanita itu meneguk kembali tehnya yang masih hangat namun teh yang ada di gelas Yi Fan sudah dingin, bagaimana teh di gelas Da Eun masih hangat? Itu misteri yang tidak pernah bisa dipecahkan oleh Yi Fan.

“Yi Fan aku rasa aku sudah merepotkanmu selama tiga minggu ini, aku rasa sudah waktunya aku pulang.” Ungkap Da Eun.

Mendengar itu Yi Fan merasa kecewa, dia tidak ingin menghabiskan waktu sendirian lagi setelah dia mengenal Da Eun. Dia ingin makan bersama dengan wanita itu, istirahat di beranda kuil sambil menatap kearah halaman depan kuil sambil bercengkrama seperti sekarang. Dia tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa Da Eun.

“Apa kau harus benar-benar pulang?” Yi Fan bertanya, matanya memancarkan kesedihan saat Da Eun menatap kearahnya.

“Aku bisa diam disini lebih lama tapi aku tidak ingin merepotkamu, aku tidak bisa membayar makanan yang kau berikan padaku atau membantu banyak.” Da Eun berkata dan dia terkejut saat dia merasakan tangan dingin Yi Fan menyentuhnya.

“Kau tidak usah khawatir soal itu, aku senang memberikannya padamu.” Ungkap Yi Fan jujur, dia sendiri tidak tahu kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Kau yakin?”

“Ya, aku suka kau disini. Kau juga membantu banyak, ingat kamar-kamar kosong yang berdebu? Aku bisa membereskan semua itu karena kau membantuku.” Yi Fan berkata dan Da Eun tertawa mengingat Yi Fan yang terbatuk-batuk karena debu bahkan kulit wajah lelaki itu menjadi lebih gelap setelah dia membereskan kamar-kamar kosong dikuil karena ternodai oleh debu.

“Ya kau benar, kau terlihat konyol juga.” Da Eun meledek dan Yi Fan hanya bisa memutarkan matanya mengingat gadis itu tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Yi Fan.

“Apa menertawakanku bisa membuatmu tinggal disini lebih lama?” Yi Fan bertanya dan Da Eun memukul lengan Yi Fan pelan, kedua pipi wanita itu kelihatan memerah dan Yi Fan tersenyum melihat reaksi itu.

*****

Yi Fan baru saja selesai membaca kitab suci, dia menutup buku itu sebelum akhirnya matanya menangkap sosok Da Eun. Wanita itu sedang membersihkan salju dibagian samping kuil, salju hari ini tidak terlalu tebal sehingga wanita itu tidak harus lama-lama membersihkan halaman samping kuil.Yi Fan hendak memanggil wanita itu saat dia melihat seekor serigala yang entah dari mana mengintai wanita itu.

Melihat itu Yi Fan menggambil pemukul besi yang dia dapatkan dari Se Hun, tinggal di kaki gunung bisa meningkatkan peluang kriminal datang ke kuilnya Se Hun berkata. Yi Fan tidak menyangka jika seekor serigala-lah yang akan menjadi korban pertama pemukul besinya.

Yi Fan pernah mendengar jika binatang terkadang turun dari gunung ke kuil namun dia tidak menyangka jika binatang buaslah yang akan masuk kedaerah kuilnya dan memangsa Da Eun. Yi Fan segera berlari kehalaman dimana Da Eun sedang membersihkah salju, dia langsung menarik Da Eun mendekat kearahnya dan menghunungkan senjatanya kearah seekor serigala yang bersembunyi disemak-semak.

“Yi Fan ada apa?” Da Eun bertanya masih tidak sadar jika dia sedang dimangsa oleh seekor serigala.

“Aku melihat serigala dibalik semak-semak, masuklah aku akan menanganinya.” Yi Fan berkata mendorong Da Eun menjauh darinya.

Serigala yang dimaksud oleh Yi Fan keluar dari semak-semak menunjukan wujudnya yang besar dan berbulu abu-abu. Matanya biru menyala menatap tajam kearah Da Eun dan Yi Fan, serigala itu menggeram sangat menyeramkan bahkan mahluk ganas itu memamerkan taring tajamnya.

“Yi Fan kau tidak bisa melawan serigala itu sendirian.” Da Eun berkata, dia menggengam sekopnya kuat-kuat.

“Telepon Se Hun, dia pasti membantu.” Yi Fan menyuruh, Da Eun menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin akan meninggalkan Yi Fan sendirian melawan hewan buas yang besar.

“Tidak, aku akan membantumu.”

“Jangan keras kepala Da Eun.”

“Aku tidak keras kepala, kau yang keras kepala.”

Percakapan mereka terpotong saat mereka melihat serigala itu berlari kearah mereka dan melompat menerkam Yi Fan. Da Eun menjerit terkejut, Yi Fan yang cekatan langsung menahan terkaman serigala ganas itu dengan pemukul besinya sehingga serigala itu mengigit pemukul besinya bukan wajahnya.

Serigala itu berusaha keras untuk mengigit Yi Fan lagi namun Yi Fan cukup kuat untuk menggulingkan serigala itu dan kembali berdiri walaupun dia bisa merasakan kepalanya berdenyut sakit sesuatu yang kental meluncur membasahi pelipisnya. Yi Fan tahu kepalanya berdarah namun itu bukan fokus utamanya, dia melihat serigala itu kembali mendekat kearahnya menggeram lagi.

“Yi Fan kau berdarah.” Da Eun berkata dia hendak mendekat namun Yi Fan mencegah wanita itu.

“Pergilah, aku mohon telepon Se Hun.” Yi Fan menyuruh kali ini Da Eun mengangguk dan masuk kedalam kuil untuk mengambil ponselnya.

Serigala itu masih memangsa Yi Fan, mahluk itu bahkan kelihatannya hanya ingin memangsa Yi Fan karena dia sekarang tidak tertarik pada sosok Da Eun yang sebenarnya lebih dekat daripada Yi Fan. Mungkin karena mereka sama-sama dominan, serigala itu merasa Yi Fan sebagai ancaman terbesarnya dibandingkan Da Eun.

“Apa yang akan kau lakukan serigala?” Yi Fan bertanya dan serigala itu menggeram lagi sebelum akhirnya dia berlari kearah Yi Fan namun sebelum serigala itu bisa menerkam kembali Yi Fan sesuatu membentuk kepala serigala itu membuat mahluk itu melirik kebelakangnya.

Da Eun berdiri dibelakang serigala itu mencengram sepatunya dan serigala itu tidak membuang waktu untuk mengejar wanita itu. Yi Fan hendak menyusul namun kepalanya terasa pusing, dunia disekitarnya terasa berputar sampai akhirnya dia ambruk kesadaran dan pengelihatannya perlahan menghilang.

Yi Fan mencoba untuk bangkit kembali namun rasa sakit dikepalanya benar-benar dahsyat. Tubuhnya tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang dia rasakan sehingga dia mencoba memanggil Da Eun meminta tolong pada siapapun yang mampu menolong mereka.

“Kembalilah pada Tuanmu, katakan aku tidak akan kembali.”

Yi Fan mendengar suara itu tidak jelas untuk sesaat dia berpikir apakah dia sadar? siapakah yang berbicara? Apakah Da Eun? Tapi dengan siapa Da Eun berbicara? Tidak mungkin wanita itu berbicara dengan serigala ganas yang menyerangnya tadi. Tidak mungkin, Yi Fan ingin membuka matanya namun dia tidak sanggup sampai akhirnya dia pingsan kembali.

*****

Saat Yi Fan membuka matanya dia sudah ada didalam kamarnya, kepalanya dibalut oleh perban dan dia bisa melihat Dokter Si Won disampingnya. Dokter itu tersenyum melihat Yi Fan yang mulai sadar,dia ingat jika dia melawan serigala tadi diang di halaman kuil lalu bagaimana dia bisa kesini? Oh tidak! Da Eun! Pikir Yi Fan.

“Da Eun…” panggil Yi Fan dan sebuah tangan menyentuh tangan kirinya, dia lega saat dia melihat sosok wanita itu ada disampingnya.

“Aku baik-baik saja, serigala itu pergi setelah dia lelah mengejarku.” Da Eun menjelaskan.

Entah apa yang mendorong Yi Fan dia tiba-tiba saja bangun dan memeluk wanita itu dengan erat, dia merasa sangat lega karena wanita itu tidak terluka sedikitpun. Dia tidak bisa membayangkan jika Da Eun terluka, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jiga itu terjadi.

“Jangan melakukan hal seperti itu lagi, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu. Apakah kau tahu betapa takutnya aku saat aku melihat serigala itu mengejarmu?” Yi Fan memarahi, dia menangkup wajah Da Eun.

“Maaf, aku tidak ingin kau terluka…aku hanya mencoba melindungimu.”

“EHM!” Dokter Si Won berdehem dokter itu kelihatan tidak nyaman dengan suasana mungkin dia merasa menjadi orang ketiga. “Aku sudah menjelaskan obat yang harus kau minum pada Da Eun-ssi, aku akan datang untuk kontrol rutin ke kuil. Aku rasa hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, sampai jumpa nanti Yi Fan-ssi.” Si Won berpamitan dan Yi Fan berterimakasih pada Dokter itu.

Setelah Si Won menghilang dari balik pintu Yi Fan dan Da Eun tertawa merasa konyol dengan perilaku mereka, Yi Fan tidak percaya mereka sampai lupa keberadaan Si Won. Setelah Si Won pergi sosok Se Hun muncul dibalik pintu menyapa mereka berdua memeluk Yi Fan yang baru sadar

Hyeong! Aku sangat khawatir sekali.” Ucap Se Hun manja dan Yi Fan hanya bisa mengelus punggung lelaki itu menghiburnya.

“Aku baik-baik saja Se Hun-ah.”

Da Eun hanya tersenyum melihat interaksi mereka, Se Hun terkadang terlihat seperti adik kandung Yi Fan. Da Eun bersyukur karena Yi Fan memiliki seseorang seperti Se Hun disampingnya, dia sangat bahagia karena saat nanti dia meninggalkan lelaki itu dia tidak akan khawatir karena dia tahu Se Hun akan ada disisi Yi Fan.

Merasa tidak ingin menganggu percakapan Yi Fan dan Se Hun akhirnya Da Eun keluar dari ruangan membiarkan kedua lelaki itu bercengkrama akrab. Yi Fan mungkin tidak mengatakannya namun Da Eun tahu lelaki itu merindukan Se Hun.

*****

“Apa kau ingin mendengar cerita tentang Dewi Dae Hee?” Da Eun menawarkan.

Yi Fan yang tidur dipangkuan Da Eun mengangguk, Yi Fan tidak tahu kapan dia diijinkan untuk tidur dipangkuan wanita itu tapi Yi Fan menyukainya. Dia suka bagaimana Da Eun mengelus kepalanya dengan lembut, suka dengan cara wanita itu menyentuh kulit dinginnya. Tangan Dae Hee selalu terasa lembut dan hangat, Yi Fan tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.

“Apa yang kau tahu tentang Dewi Dae Hee?” tanya Yi Fan penasaran.

“Hmm aku tahu cukup banyak.” Jawab Da Eun singkat, jemarinya mengelus lagi kepala Yi Fan. “Kau pernah mendengar legenda tentang terbentuknya gunung berapi?” Yi Fan menggelengkan kepalanya.

“Kenapa kau tahu cerita-cerita aneh, bahkan dalam kitab suci yang aku baca aku tidak menemukan cerita-ceritamu. Apa kau membual?” tanya Yi Fan bercanda dan Da Eun hanya tersenyum.

“Kau membaca kitab suci yang baru, kau akan menemukan cerita-ceritaku di kitab yang lama.” Da Eun memberitahu dan itu menyadarkan Yi Fan, wanita itu benar dia tidak pernah menyentuh kitab lama karena ayahnya hanya mengajarkan dia kitab-kitab baru.

“Kau benar, maafkan aku..aku yang salah.” Yi Fan berkata dan Da Eun menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, tidak banyak orang yang masih membaca kitab lama.” Ucap Da Eun. “Apa kau masih ingin mendengar ceritaku?” Yi Fan memberi respon dengan anggukan kepalanya, menerima respon itu Da Eun mulai bercerita.

Dewi Dae Hee adalah istri Dewa Kyung Soo, mereka berdua menikah setelah Dewa Kyung Soo berhasil menciptakan bumi. Mereka berdua jatuh cinta karena pada keaikan dan kemurahaan hati Dae Hee. Tanpa bantuan Dewi itu Dewa Kyung Soo akan mampu menciptakan matahari, bulan dan bintang. Tanpa Dewi Dae Hee matahari tidak akan bersinar dan bintang-bintang tidak dapat menghiasi langit gelap bumi.

Dari semua pernikahan para Dewa dan Dewi sepertinya pernikahan Kyung Soo dan Dae Hee lah yang bertahan sangat lama. Mereka saling mencintai beribu-ribu tahun lamanya, api cinta antara mereka seakan tidak pernah padam sampai suatu hari Dewa Kyung Soo menciptakan mahluk yang disebut manusia.

Manusia sangat berbeda dengan mahluk-mahluk yang Kyung Soo ciptakan, mereka mandiri dan sangat pintar. Dewi Dae Hee mengungkapkan rasa khawatirnya karena manusia mirip sekali dengan para Dewa dan Dewi disurga namun Kyung Soo mengabaikan kekhawatiran istrinya tersebut dan mulai menciptakan mahluk pintar itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti tahun dan tahun berganti abad Kyung Soo terlalu sibuk dengan dunia barunya sehingga Dae Hee memilih untuk menghibur dirinya sendiri dengan turun kebumi. Di bumi dia bertemu dengan seorang siluman Naga bernama Jia Heng, siluman itu langsung jatuh cinta pada Dewi Dae Hee pada pandangan pertama. Siluman itu dengan sukarelanya menyerahkan jiwa dan raganya dibawah tangan Dae Hee.

Dae Hee yang kesepian menerima tawaran Jia Heng, dimulai hari itu sosok perkasa Jia Heng selalu menemani Dae Hee kemanapun Dewi api itu pergi. Mereka melawan musuh bersama-sama, menangis dan tertawa bersama.

Banyak sekali kenangan dan waktu yang mereka lalui dengan satu sama lain. Tidak aneh jika Dae Hee jatuh cinta pada Jia Heng juga. Pada akhirnya Dewi Dae Hee mengabulkan permohonan Jia Heng untuk memiliki tubuh dan hatinya saat siluman naga itu memintanya. Dae Hee memberikan dirinya seutuhnya pada naga itu melupakan suaminya yang menunggu dia disurga.

Kyung Soo sebagai Dewa bumi tentu mengetahui hubungan gelap istrinya dan Jia Heng. Dewa itu sangat murka, dia memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menangkap Dae Hee dan Jia Heng. Keduanya tidak punya kesempatan yang besar untuk lolos, tidak jika semua mahluk dibumi dan surga mencari mereka.

Dae Hee dan Jia Heng akhirnya tertangkap, karena merasa marah dan dikhianati Kyung Soo membelah bumi dan mengubur Dewi Dae Hee tepat dipusat bumi. Dewi Dae Hee meronta meminta pengampunan namun Dewa Kyung Soo yang buta karena patah hati dan kebencian tidak mendengar rintihan istrinya itu dan menguburnya istrinya dalam-dalam.

Dewi Dae Hee tidak tahu apa yang suaminya lakukan pada Jia Heng namun Dewi itu tahu suaminya tidak akan membiarkan Jia Heng hidup. Dewi Dae Hee yang terperangkap didalam pusat bumi ingin berontak dan mencoba kabur sehingga dia membakar lapisan pusat bumi ditengah rasa frustasinya.

Hal itu menciptakan lava yang akhirnya berkumpul dan tersalurkan pada beberapa gunung yang ada dibumi, darisanalah gunung berapi tercipta. Dewi Dae Hee terperangkap didalam pusat bumi selamanya tanpa ada jalan keluar menciptakan lebih banyak lava sehingga terkadang gunung akan meletus dan menghancurkan apapun yang ada disekitarnya.

Da Eun menyelesaikan ceritanya dan dia bisa mendengar dengkuran halus Yi Fan, melihat ekspressi tenang Yi Fan yang tertidur membuat Da Eun tersenyum. Dia mencium kening Yi Fan dan menyenandungkan sebuah lagu tua berbahasa mandarin, angin bahkan menyambut lagu itu dengan sedihnya.

“Selamat tidur Jia Heng-ku sayang.” Ucapnya lembut.

*****

Selama dua bulan mereka hidup bersama Yi Fan dan Da Eun tidak pernah merasa secanggung ini, mereka sedang mencuci piring bekas makan malam mereka sampai akhirnya tangan Yi Fan tidak sengaja memegang tangan Da Eun yang penuh busa sabun. Da Eun mencoba menarik tangannya kembali tapi Yi Fan menggengamnya lebih erat.

“Da Eun-ah..” suara rendah Yi Fan memanggil membuat Da Eun melirik kearah lelaki itu. “Aku sudah bicara dengan Se Hun, dia mengatakan jika kau tinggal di kuil terlalu lama dan penduduk Desa mulai mempertanyakan keberadaanmu juga.” Yi Fan menjelaskan dan Da Eun menunduk sedih.

Apa Yi Fan akan mengusirnya? Apakah lelaki itu sudah muak padanya? Berbagai asumsi memenuhi benak Da Eun sampai akhirnya tangan Yi Fan menyentuh pipinya. Mata Da Eun yang berkaca-kaca menatap kearah mata coklat bening Yi Fan, lelaki itu tersenyum.

“Aku tidak mengusirmu, aku hanya ingin kau tinggal disini bersamaku. Aku tidak tahu jika kau merasakan hal yang sama denganku tapi aku mencintaimu Da Eun-ah dan aku ingin kau ada disisiku untuk waktu yang lama.” Yi Fan mengungkapkan, airmata Da Eun turun membahasi pipinya.

“Aku juga, aku mencintaimu Yi Fan.” Jawab Da Eun, wanita itu menangis mungkin tidak percaya jika Yi Fan merasakan emosi itu padanya.

Yi Fan tersenyum lebar senang dengan jawaban Da Eun, dia menarik Da Eun dan mencium bibir wanita itu penuh dengan keinginan. Rasanya lelaki itu sudah menunggu sangat lama untuk bisa merasakan bibir wanita itu, Yi Fan sendiri kagum karena jantungnya belum meloncat keluar dari dadanya karena sekarang jantung berdetak sangat cepat.

Da Eun yang pertama melepaskan ciuman mereka, dia memeluk erat tubuh Yi Fan entah kenapa wanita itu merasa takut. Dia takut jika semua ini hanya mimpi, karena jika semua ini mimpi dia akan sangat kecewa. Dia sudah menunggu untuk bersama Yi Fan cukup lama, dia tidak ingin kembali lagi pada hari-hari dimana dia sendirian tanpa Yi Fan disampingnya.

“Jangan pergi, aku mohon.” Da Eun berbisik dan dia bisa mendengar tawa Yi Fan.

“Kau tak usah khawatir, aku akan disini..bersamamu selama yang kau inginkan.” Yi Fan mengelus kepala Da Eun membuat wanita itu tersenyum.

Da Eun melepaskan pelukannya dan menarik tangan Yi Fan menuju kamar wanita itu, dia menutup pintu kamar dan mendorong Yi Fan agar lelaki itu duduk diranjangnya. Yi Fan hendak bertanya apa yang akan wanita itu lakukan namun Yi Fan mengurungkan niatnya saat bibir Da Eun sudah menciumnya kembali.

Tangan Da Eun membuka kancing kemeja Yi Fan, lelaki itu tidak bisa menolak karena dia merasakan hal yang sama. Dia menginginkan Da Eun juga, tubuhnya menjadi bukti hal itu. Yi Fan tidak pernah merasakan hasrat yang sangat besar seperti sekarang, dia lelaki normal namun dia tidak pernah merasa terbakar seperti ini. Apalagi ciuman-ciuman kecil Da Eun membuat dia hampir gila.

Yi Fan membalikan posisi sekarang Da Eun terbaring diranjang sekarang, entah apa yang ada dalam pikiran Yi Fan lelaki itu tiba-tiba saja merobek blush hitam yang Da Eun gunakan. Kancing blush Da Eun berceceran kemana-mana namun tidak ada yang peduli mereka terlalu sibuk untuk saling mencium dan menjelajahi tubuh satu sama lain.

Suara lenguhan terdengar saat Yi Fan menciumi perut Da Eun dan turun kebawah menuju tulang panggulnya. Yi Fan menarik celana kain Da Eun dan meleparkannya entah kemana, mulutnya sibuk menciumi paha Da Eun dan untuk sesaat dia tidak tahu kenapa dia merasakan dia sudah pernah melakukan ini.

“Yi Fan..Yi Fan..” Suara Da Eun terdengar, wanita itu membuka tangannya meminta Yi Fan untuk memeluknya.

Yi Fan menurut dia memeluk Da Eun dan menciumi leher wanita itu, tangannya menyelusup kedalam celana dalam Da Eun dan dia bisa merasakan wanita itu sudah basah untuknya. Yi Fan menyeringai ternyata Da Eun merasakan hal yang sama dengannya. Dia juga sudah tidak sabar untuk bercinta dengan Da Eun, menyatu dengan tubuh wanita itu mencapai kenikmatan yang paling tinggi.

“Aku ingin kau Da Eun, apa kau siap?” Suara Yi Fan terdengar lebih rendah dari biasanya dan itu membuat Da Eun terangsang.

“Ya aku ingin kau, miliki aku Yi Fan sekarang juga.” Ucap Da Eun terengah-engah, otaknya sudah kosong sekarang dia hanya ingin Yi Fan dan Yi Fan saja tidak ada yang lain.

Yi Fan membuka restling celanannya dan memasukan miliknya kedalam bagian intim Da Eun, dia bisa merasaka kehangatan menyelimutinya dan itu membuat Yi Fan gemetar dengan kenikmatan. Da Eun luar biasa, dia segala yang Yi Fan inginkan. Da Eun melenguh saat dia merasakan kejantanan Yi Fan bergerak masuk lebih dalam dan menyentuh bagian sensitifnya.

“Disana! Yi Fan lagi..” Da Eun meminta dan Yi Fan menurutinya, dia mendorong kejantanannya dengan ritme yang lebih lambat namun tepat menyentuh titik sensitif Da Eun membuat wanita itu mencengkram seprei ranjangnya.

Seluruh tubuh Yi Fan rasanya terbakar, dia menggerakan pinggangnya tidak karuan tidak ada ritme yang pasti yang jelas dia ingin mencapai klimaksnya apalagi dengan suara lenguhan Da Eun yang erotis Yi Fan tidak akan bertahan lama.

Da Eun menarik Yi Fan memeluk kembali lelaki itu, entah kenapa wanita itu ingin selalu memeluknya seakan dia takut jika Yi Fan akan tiba-tiba saja menghilang dari hadapannya. Yi Fan menciumnya kembali mengubah posisi membiarkan Da Eun duduk dalam pangkuannya sekarang punggung Yi Fan menyandar pada kepala ranjangnya. Da Eun menggerakan pinggangnya membuat Yi Fan mendesah nikmat, dia tidak tahu posisi ini membuat dia merasakan sensasi baru apalagi dia bisa melihat wajah Da Eun sekarang.

“Da Eun-ah..sebentar lagi.” Yi Fan berkata terengah-engah dan Da Eun menggerakan pinggangnya berkali-kali dalam ritme yang cepat membuat Yi Fan akhirnya menyerah dan mencapai klimaksnya.

Da Eun mencengkram bahu Yi Fan dia juga mencapai puncaknya taklama setelah Yi Fan. Wanita itu terengah-engah dan menyandarkan kepalanya dia bahuYi Fan sampai akhirnya kedua tangan Yi Fan memeluknya membaringkan tubuh nya diranjang.

“Aku mencintaimu Da Eun.”

“Aku juga Yi Fan.”

Bibir mereka akhirnya bertemu bertautan penuh hasrat, Yi Fan tidak pernah merasakan cinta yang mengebu-gebus seperti ini. Hanya Da Eun, hanya wanita itu yang bisa membuatnya seperti ini. Terbakar oleh api hasrat, hanya Da Eun yang bisa membuatnya tergila-gila tidak ada yang lain.

*****

Petir diluar membuat Yi Fan terbangun dari tidurnya, sosok Da Eun masih tertidur disampingnya dan dia tersenyum mengecup dahi kekasihnya itu. Dia bangun dari tempat tidur dan memungut pakaiannya yang ada dibawah ranjangnya, dia menutup jendela kamar Da Eun yang terbuka namun saat dia hendak menutup jendela kamar Da Eun sesosok lelaki terlihat berdiri diruang beribadah kuil.

Merasa penasaran Yi Fan pergi menuju ruang beribadah untuk melihat siapakah lelaki yang datang tengah malam seperti ini ke kuilnya. Saat Yi Fan sampai di ruang beribadah dia menemukan lelaki yang berkulit putih dan berambut hitam berdiri didepan patung Dewi Dae Hee. Lelaki itu menggunakan baju bajanya membawa pedang yang besar dan serigala abu yang beberapa minggu lalu menyerangnya ada disamping lelaki itu.

“S-siapa kau?” Yi Fan bertanya.

Belum sempat lelaki itu menjawab mereka bisa mendengar pintu menuju ruangan beribadah terbuka dan sosok Da Eun masuk kedalam. Wanita itu terlihat berantakan, dia bahkan hanya memakai celana kainnya dan baju kemeja Yi Fan yang terlalu besar untuk tubuhnya.

“Kyung Soo apa yang kau lakukan disini?” tanya Da Eun dan mata Yi Fan melebar.

Lelaki yang didepannya adalah Kyung Soo? Dewa bumi yang menciptakan segalanya? Yi Fan tidak percaya namun dari pakaian yang lelaki itu gunakan dia mengenalinya. Kyung Soo benar-benar mirip dengan patung Dewa Kyung Soo yang dia lihat di internet. Dewa perkasa yang mengubur Dewi Dae Hee dipusat bumi.

“Dae Hee…jadi Zitao tidak berbohong saat dia mengatakan jika dia membebaskanmu.” Suara lelaki itu terdengar.

Zitao nama itu tidak asing jika Yi Fan tidak salah Dewa Zitao adalah Dewa waktu Yi Fan mengingatnya, nama Dewa itu muncul beberapa kali dalam kitab yang dia baca. Karena dia satu-satunya Dewa yang bisa mengatur waktu dia juga bertugas untuk mencabut nyawa dan memberikan nyawa, apa yang Zitao rencanakan sebenarnya? Kenapa Dewa itu membantu Dae Hee?

“Kau bahkan tidak tahu aku sudah bebas.” Da Eun mendengus.

“Da Eun-ah?” Yi Fan bertanya kebingungan karena Kyung Soo memanggil Da Eun dengan sebutan Dae Hee.

“Sama seperti dulu naga peliharaanmu ini masih bodoh, apa dia tidak menyadari siapa yang baru saja dia tiduri?” Kyung Soo menyeringai penuh nada meledek dan Dae Hee atau Da Eun mengepalkan tangannya penuh emosi.

“Apa yang kau inginkan? Bukankah menguburku dipusat bumi sudah cukup?” Dae Hee berkata, matanya menatap tajam kearah Kyung Soo penuh kebencian.

“Dae Hee-ya apa kau masih marah soal itu? Mari kita lupakan saja, kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Aku hanya patah hati saat itu, aku tidak berpikir jernih aku tidak bermaksud menguburmu.” Kyung Soo membujuk dia mencoba mendekat kearah Dae Hee namun Yi Fan menghalangi langkah Dewa tersebut.

“Aku tidak akan mengijinkanmu untuk menyentuhnya.” Yi Fan berkata penuh dengan ancaman, Dae Hee langsung bersembunyi dibelakang Yi Fan tidak ingin menatap Kyung Soo.

“Hahahaha apakah kau sadar siapa aku? Aku Dewa yang menciptakan semuanya yang kau tahu, kau hanya manusia aku bisa menghancurkanmu dalam telapak tanganku.” Kyung Soo mengancam matanya bersinar memancarkan warna hijau.

“Aku tidak peduli siapa kau, Da Eu— tidak Dae Hee tidak ingin ada didekatmu.” Ucap Yi Fan yang masih bersikeras menghalangi sosok Dewa itu.

“Yi Fan benar pergilah Kyung Soo, aku tidak mencintaimu lagi…kau bukan Kyung Soo suamiku yang dulu.” Dae Hee berkata.

Kyung Soo mendengus, dia membalikan badannya menuju patung Da Eun. Tangan berototnya menyentuh patung Dae Hee yang ada di ruang beribadah, patung itu terbuat dari batu yang besar dan kokoh tangan Kyung Soo menyentuh kepala patung naga yang Dae Hee tunggangi dan mematahkannya dengan mudah.

“Kyung Soo!” Dae Hee yang marah melihat itu langsung melemparkan bola apinya kearah Kyung Soo tetapi Dewa itu cukup cepat menangkapnya. Bola api Dae Hee mati ditangan Kyung Soo dalam hitungan detik.

“Kau ingin tahu apa yang aku lakukan pada Jia Heng mu bukan? Itu yang aku lakukan.” Kyung Soo tertawa seperti maniak mengingat bagaimana dia memegal kepala naga itu tepat setelah dia mengubur Dae Hee dipusat bumi.

“Brengsek! Teganya kau! Jia Heng tidak bersalah, akulah yang berselingkuh darimu!” Dae Hee membentak, airmata berkumpul disudut matanya.

“Ckckck kau tidak belajar juga Dae Hee, walaupun dia sudah berinkarnasi tidak ada jaminanya kau tidak akan kehilangan dia lagi.” Kyung Soo berkata. “Kau milikku Dae Hee, tidak peduli kemana kau kabur aku akan menemukanmu.”

Dae Hee tertawa mendengar itu, api ditangannya masih menyala merah menandakan jika wanita itu semakin marah. Yi Fan yang ada disampingnya menyentuh bahu Dae Hee namun wanita itu mengabaikannya.

“Aku? Milikmu? Tidak Kyung Soo, kau tidak pernah memilikiku kau hanya terobesesi denganku.” Dae Hee akhirnya berlari dan menyerang Kyung Soo, tangan berapinya memukul pipi Kyung Soo dengan keras membuat Dewa itu melayang beberapa meter membentur tembok ruang ibadah dengan keras.

Dae Hee tidak memberi ampun wanita itu langsung menyerang Kyung Soo dengan bola apinya beberapa kali tapi kali ini Dewa itu cukup cepat untuk menahan serangan Dea Hee dengan pedangnya. Dae Hee meloncat hendak memukul Kyung Soo dan menyeret lelaki itu kelantai namun Kyung Soo menarik tangan wanita itu membuat dia kehilangan keseimbangan dan jatuh.

“Dae Hee!” Yi Fan berteriak, dia mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata dan dia ingat jika pedang suci yang biasa ayahnya mandikan setiap malam bulan purnama ada dibawah podium patung Dae Hee.

Yi Fan membuka laci yang ada dibawah podium patung Dae Hee dan menemukan pedang itu masih bagus dan baru. Yi Fan sudah lama tidak melatih keahlian pedangnya namun dia masih ingat bagaimana menggunakannya. Dia mengunuskan pedangnya kearah Kyung Soo menyerang lelaki itu, dia tidak menyangka jika dia berhasil melukai lengan Kyung Soo yang lengah.

Merasa kesal Kyung Soo berdiri mencengkram tangannya yang berdarah, senjata yang melukainya adalah senjata suci yang didoakan tentu saja senjata itu bisa melukainya. Senjata itu bisa melukai apapun bahkan para dewa, dia lupa jika setiap kuil selalu memiliki senjata yang diberkati.

“Pilihan senjata yang bagus, aku kira kau tidak tahu soal senjata itu.” Kyung Soo berkata, luka dilengannya bukan apa-apa. Dia masih bisa berdiri tangguh, serigala yang menemaninya sekarang maju menyerang Yi Fan.

Melihat itu Dae Hee melemparkan kembali bola apinya tapi kali ini Kyung Soo berhasil menghindarinya, Dae Hee mengeluarkan rantai api yang panas dari tangannya dan mulai menyerang Kyung Soo beberapa kali berharap serangannya bisa melukai Kyung Soo namun sayangnya Dewa itu terlalu kuat dibandingkan dengan kekuatan apinya.

Kyung Soo mungkin sudah melatih kemampuan bela dirinya beratus-ratus tahun namun Dae Hee yang terjebak dipusat bumi tidak mampu melakukan apapun kecuali mengeluarkan amarahnya. Kemampuan membela dirinya belum dia asah kembali membuat dia sedikit ceroboh dan lemah.

“Kenapa Dae Hee? Kau kehilangan kekuatanmu?” Kyung Soo menggoda, dia akhirnya menemukan titik lemah Dae Hee melukai bahu Dewi itu dengan pedangnya membuat Dae Hee mengerang kesakitan.

Tangan Dae Hee mencengkram bahunya yang berdarah, darah wanita itu menetes kelantai kuil. Rasa sakit yang dahsyat bisa dia rasakan, dia ingat jika pedang Kyung Soo dibakar oleh api Chan Yeol. Chan Yeol adalah Dewa matahari itu artinya api yang keluar dari tangannya lebih panas dari api yang diciptakan oleh Dae Hee dan itu artinya api Chanyeol bisa membakarnya.

“Dae Hee-ya aku tidak ingin berperang, kembalilah ke surga bersamaku. Aku masih mencintaimu.” Kyung Soo memohon, dia bahkan mengulurkan tangannya pada Dae Hee.

Yi Fan yang berhasil menusuk mati serigala Kyung Soo, terengah-engah lelah serigala Kyung Soo benar-benar sangat kuat jika dia tidak memegang pedang Yi Fan yakin dia akan kalah. Yi Fan menendang mayat serigala itu memastikan jika mahluk buas itu benar-benar mati sebelum akhirnya menghela nafas lega.

Yi Fan melirik kesekitarnya mencari Dae Hee dan dia melihat kedua dewa itu sedang berbicara. Entah apa yang Kyung Soo sedang bicarakan dengan Dae Hee, Yi Fan hanya bisa melihat tangan  dewa itu mengulur didepan Dae Hee seakan mengajak Dewi itu untuk pergi membuat Yi Fan panik.

“Dae Hee-ya!” Yi Fan memanggil dan Dae Hee melirik kearahnya menemukan Yi Fan berlari kearahnya tapi Dae Hee menggerakan tangannya membentuk garis sehingga garis api tercipta didepan Yi Fan.

“Dae Hee-ya jangan pergi! Jangan dengarkan apa yang Kyung Soo katakan!” Yi Fan memohon, dia mencoba mendekat lagi tapi garis api yang Dae Hee ciptakan semakin besar.

Dae Hee melirik kearah Yi Fan dengan tatapan yang sedih sebelum akhirnya wanita itu menatap kearah Kyung Soo dan menerima tangan lelaki itu dengan sukarela. Airmata Yi Fan menetes, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Kyung Soo menyeringai melihat betapa sedihnya Yi Fan, Kyung Soo melepaskan tangan Dae Hee dan berlari kearahnya menghunuskan pedangnya tepat didada Yi Fan.

Merasa putus asa dan sedih Yi Fan hanya diam, dia menutup matanya menunggu tusukan pedang Kyung Soo menembus dadanya namun pedang Kyung Soo tidak kunjung menusuknya membuat Yi Fan membuka matanya. Matanya melebar saat dia melihat sosok Dae Hee sudah ada didepannya, pedang Kyung Soo menembus dada wanita itu.

“Dae Hee!!!” Yi Fan berteriak.

Tubuh wanita itu akhirnya ambuk jatuh kedepan dalam pangkuan Kyung Soo, Dewa itu masih terkejut. Pedangnya menancap tepat didada istrinya, mahluk apapun yang tertusuk oleh pedang itu tidak akan selamat Kyung Soo tahu itu. Airmatanya mengalir, tangan gemetarnya menyentuh pipi Dae Hee.

“Dae Hee-ya kenapa? Kenapa kau selalu membela dia? Aku yang mencintaimu. Hanya aku, Aku yang paling mencintaimu di dunia ini.” Kyung Soo bertanya, airmata tidak berhenti keluar dari matanya dan tangannya memeluk tubuh Dae Hee yang mulai mendingin dengan erat.

Mianhae Kyung Soo-ya.” Tangan Dae Hee menyentuh pipi Kyung Soo sampai akhirnya Dewi itu menghembuskan nafas terakhirnya.

“Dae Hee-ya!” Yi Fan menyentuh tangan Dae Hee menciumi tangan wanita itu namun tak lama kemudian tubuh wanita itu mengering dan berubah menjadi abu yang hancur tertiup oleh angin kencang.

Kyung Soo menatap kosong kearah tangannya yang dipenuhi oleh abu dari tubuh Dae Hee, dia menatap kearah Yi Fan yang menangis histeris mencoba mengumpulkan sisa abu dari tubuh Dae Hee. Semuanya percuma, apapun yang Yi Fan lakukan tidak akan mengembalikan Dae Hee. Kyung Soo sudah melakukan kesalahan, Dae Hee benar dia hanya terobsesi pada Dewi itu.

Apa yang Kyung Soo dan Dae Hee miliki bukanlah cinta lagi tapi keinginan untuk mendominasi. Harga diri Kyung Soo yang tinggi tidak ingin runtuh, dia ingin membuktikan pada semua Dewa jika dia kuat dan perkasa. Lagipula dialah satu-satunya Dewa yang mampu menciptakan bumi dan manusia, dia begitu sombong sehingga dia kehilangan Dae Hee istrinya. Cinta dalam hidupnya.

“Bunuh aku.” Kyung Soo bergumam, dia mencabut pedang yang ada di dada Dae Hee dan melemparkannya pada Yi Fan.

“Apa?”

“Kau mendengar apa yang aku katakan, bunuh aku. Setelah itu minum darahku, kau  ingin bertemu lagi dengan Dae Hee kan? Bukankah kau mencintai dia?!” bentak Kyung Soo.

Yi Fan mengambil pedang Kyung Soo mencengkram pedang itu kuat-kuat dan Kyung Soo menunduk menutup matanya. Benar, dia bisa memohon pengampunan atas kesombongannya. Dengan begini dia bisa memulai semuanya dari awal, menghapus semua kesalahan yang pernah dia lakukan.

Mata Kyung Soo terbuka seketika saat dia merasakan pedangnya menusuk dadanya, darahnya keluar membasahi lantai kuil. Dia melirik kearah Yi Fan yang menangis lelaki itu kebingungan dan ketakutan Kyung Soo tahu itu.

“Tidak usah takut, minumlah darahku dan kau akan bertemu dengan cinta sejatimu.” Kyung Soo tersenyum dan akhirnya matanya tertutup menghembuskan nafas terakhirnya.

*****

Yi Fan tidak ingat kapan terakhir kali dia berdiri didepan kuil Dewi Dae Hee, dia mulai menaiki tangga menuju kuil itu. Dia membuka gerbang kuil itu dan suara lonceng terdengar membuat Yi Fan menghela nafasnya. Kuil ini tidak berubah sedikitpun percis sama seperti tujuh puluh tahun yang lalu saat dia pertamakali meninggalkannya.

Satu-satunya yang berbeda dari kuil itu adalah patung Dewi Dae Hee dan naganya, sekarang patung Dewi itu tidak terbuat dari batu lagi tapi kayu jati yang kuat dan megah. Yi Fan menyukainya setidaknya uang yang selama ini selalu dia sumbangkan dipakai dengan baik.

Yi Fan melangkah masuk namun tiba-tiba saja sebuah bola membentur pahanya membuat lelaki itu melirik kearah bola kecil itu. Yi Fan memungutnya dan tiba-tiba saja sesosok anak lelaki yang berumur sekitar enam tahun muncul.

Ahjusshi itu bolaku.” Ucapnya dan Yi Fan tersenyum, sepertinya darah Kyung Soo memang mampu menjaga penampilannya selama ini.

“Kau mau bola ini? Kemarilah.” Yi Fan menyuruh, selalu menyukai anak kecil. Hidup selama lebih dari seratus tahun membuat dia sangat iri pada kebebasan dan kepolosan yang anak kecil miliki mereka adalah keajaiban kecil yang sangat lucu.

Anak kecil itu mengambil bolanya dari tangan Yi Fan dan tersenyum senang jika mainannya kembali ada ditangannya lagi. Yi Fan merasa gemas melihat senyuman lucu anak itu sehingga dia mencubit pipinya.

Ahjusshi apa kau akan berdoa pada Dewi Dae Hee?” anak itu bertanya penuh rasa ingin tahu dan Yi Fan mengangguk.

“Tentu saja, ini musim panas kau harus sering berdoa pada Dewi Dae Hee agar kau kita tidak mati kehausan dan kepanasan.” Ucap Yi Fan dan anak itu mengangguk.

“Aku tahu itu, ibuku bilang tidak baik untuk bermain diluar lama-lama saat musim panas. Ibu bilang naga peliharaan Dewi Dae Hee akan datang menculikku.” Ungkap anak lelaki itu membuat Yi Fan tersenyum.

“Apa kau tahu legenda tentang Dewi Dae Hee dan Naga kesayangannya Jia Heng?” Yi Fan mengendong tubuh anak itu mengajaknya duduk diberanda kuil yang lebih teduh jauh dari sinar matahari yang terik.

“Oh nama naga Dewi Dae Hee adalah Jia Heng?” anak itu mengangkat kedua alisnya tertarik.

“Ya, namanya Li Jia Heng dia adalah siluman naga yang paling kuat di Cina tidak ada yang berani menantangnya berkelahi kecuali Dewi Dae Hee.” Yi Fan bercerita anak lelaki itu mendengarkan dengan seksama.

“Wah Dewi Dae Hee memang hebat, apakah dia bisa mengalahkan Jia Heng?”

“Tentu saja, tapi Dewi Dae Hee tidak mengalahkan Jia Heng dengan kekerasan. Dewi itu mengalahkan Jia Heng dengan cinta dan pengampunan.” Yi Fan menjawab tersenyum saat melihat anak itu mengagguk-angguk seakan dia mengerti.

“Tapi Ahjusshi Dewi Dae Hee memiliki suami, apakah Jia Heng mencintai Dewi Dae Hee? Bukan itu artinya dia merebut Dewi Dae Hee dari Dewa Kyung Soo?” anak itu bertanya membuat Yi Fan tertawa, dia terkejut saat mendengar pertanyaan itu.

“Hahaha kau anak kecil yang pintar, kau benar Jia Heng mencintai Dewi Dae Hee dan dia mungkin sudah merebut Dewi Dae Hee dari Kyung Soo tapi Jia Heng melakukan itu karena dia tahu Dewi Dae Hee tidak bahagia bersama Dewa Kyung Soo.”

“Hmm begitu ya, aku tidak pernah tahu soal itu.” Anak itu berkata,

“Jong Dae!” sebuah suara maskulin mencuri perhatian anak itu, dia langsung berdiri dari duduknya dan berlari kearah sosok lelaki yang berdiri tidak jauh darinya.

Mata Yi Fan melebar terkejut melihat sosok yang ada didepannya, dia tidak pernah bisa melupakan wajah itu wajah lelaki yang sudah membunuh kekasihnya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Yi Fan yang sangat terkejut bahkan tidak sadar dia dari tadi menatapi lelaki itu sampai akhirnya lelaki itu menyapanya.

Annyeong haseyo, apakah anda peziarah yang akan menggantikan ayah saya untuk menjadi penjaga kuil ini?” tanya lelaki itu, bahkan suara lelaki itu sama dengan pembunuh kekasihnya.

“Ya Anda benar, senang bertemu dengan Anda.” Yi Fan menunduk kearah lelaki itu menunjukan rasa hormatnya.

“Oh akhirnya, sebentar aku akan memanggilkan ayahku.” Lelaki itu masuk kedalam kuil bersama Jong Dae.

Yi Fan menunggu sebentar sampai akhirnya matanya menangkap sesosok perempuan yang sedang sibuk dihalaman samping kuil. Wanita itu menggunakan baju yang sederhana namun dia memakai topi berwarna merah, wanita itu kelihatan sedang memotong rumput liar disekitar kuil membuat Yi Fan tersenyum. Dia ingat dulu dia dan Se Hun sering memotong rumput bersama dimusim panas saat anak itu libur sekolah.

Merasa kasihan akhirnya Yi Fan memutuskan untuk mendekat dan berjongkok didepan wanita itu membuat wanita itu berhenti memotong rumput dan mendongak menatap Yi Fan. Wanita itu bahkan memakai kacamata hitam membuat Yi Fan ingin tertawa, itu hal yang pintar namun konyol dalam waktu yang sama.

Aggashi apa kau butuh bantuan?” Yi Fan menawarkan.

Wanita itu menatap kearahnya aneh mungkin karena dia tidak pernah melihat Yi Fan disekitar sini sampai akhirnya dia melepaskan kacamata hitamnya menunjukan wajahnya. Yi Fan tidak percaya dengan apa yang dia lihat,dia bahkan tidak bisa menahan airmatanya untuk meluncur turun membasahi pipinya.

“T-tuan apa kau baik-baik saja?” tanya wanita itu terkejut melihat Yi Fan yang tiba-tiba saja menangis.

“Dae Hee-ya..” Yi Fan bergumam dan wanita itu menatap karahnya penuh tanya, apakah ellaki yang sekarang berjongkok didepannya ini mengenal dia? Tapi darimana? Seingat Dae Hee dia tidak pernah bertemu dengannya.

“Darimana kau tahu namaku?” tanya dia kebingungan.

Yi Fan segera menghapus airmatanya, dia bodoh sekali menangis didepan wanita yang dia cintai saat pertemakali mereka bertemu. Setidaknya untuk Dae Hee yang sekarang hari ini adalah pertemuan pertama mereka.

“Tidak apa-apa, sepertinya debu masuk kedalam mataku.” Yi Fan berbohong dan mengusap airmatanya lagi.

“Kenalkan aku Kris Wu, aku yang akan menggantikan penjaga kuil yang sekarang.” Yi Fan mengulurkan tanganya pada Dae Hee dan Dae Hee menjabat tangan lelaki itu.

“Oh kau akan menggantikan ayah Dyo oppa? Senang bertemu dengan Anda Kris Wu-ssi.” Wanita itu tersenyum, Yi Fan membalas senyuman wanita itu.

“Jadi Dae Hee-ssi apa yang Anda lakukan disini?” tanya Yi Fan penasaran.

“Aku hanya membantu, Dyo Oppa adalah seniorku disekolah.” Jawab Dae Hee ramah.

Yi Fan mengangguk, lelaki itu menerima gunting rumput yang Dae Hee berikan padanya membantu wanita itu untuk merapikan halaman depan kuil. Percakapan tidak berhenti keluar dari mulut mereka dan Yi Fan untuk pertamakalinya dalam puluhan tahun ini merasa bahagia. Semuanya bisa dimulai dari awal Yi Fan berpikir, dia tidak sabar untuk jatuh cinta lagi pada Dae Hee seperti dulu, memeluk dan mencium wanita itu untuk kesekian kalinya.

The End

Don’t Forget The Comment ❤

 

Iklan

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s