Diposkan pada FanFiction NC 17+

I Need You [Oneshoot]

I need you

Title:  I Need You

Author : AutumnBrezee @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast: Kim Jong In [EXO], Jeon Tae Hee [OC], Park Chan Yeol [EXO], Jung Soo Jung/ Krystal [F(x)]

Genre: Romance, Angst, and Drama

Length: Oneshoot

Rating: NC 17

Cerita ini mengandung konten seksualBroken!kaistal dan perselingkuhan jika kalian masih dibawah umur dan tidak nyaman dengan topik yang disebutkan diharapkan tidak membaca cerita ini!

Author Note:

Hello guys! aku baru bangun dari writer block aku yang lama, sebenarnya alasanku sudah lama tidak menulis karena kuliah dan pekerjaan yang menyita waktu. Belakangan ini waktuku untuk menulis semakin sedikit maafkanlah author jahat ini 😥 . bagi reader’s yang menunggu series but he’s gay mungkin bisa mengobati rasa rindu kalian dengan oneshoot ini hehehe meskipun karakternya bukan Taekwoon

Im sorry and thank you for always waiting for my writing ❤

1

Sinful Kiss

Tae Hee tidak tahu sejak kapan dia memulai hubungan yang salah ini, dia tidak tahu kapan Kim Jong In datang kedalam kehidupannya dan mulai mengacaukannya. Hidup Tae Hee selama ini ditata olehnya dengan rapih, kebanyakan orang menyukainya dan dia memiliki kekasih yang setia mendampinginya. Segalanya sempurna, dia memiliki apapun yang dia inginkan sampai lelaki tampan yang berbahaya bernama Kim Jong In datang dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari Chan Yeol yang memperkenalkan dia dengan Jong In mengatakan jika Jong In adalah teman baiknya dan dia ingin Tae Hee akrab dengan lelaki itu. Malam itu Chan Yeol bersikeras mengajaknya makan malam bersama agar mereka bisa mengenal satu sama lain lebih baik. Chan Yeol memang seperti itu, selalu senang untuk memamerkan Tae Hee pada semua temannya.

Pertemuan itu berakhir dengan baik mengingat Jong In membawa kekasihnya juga dan Tae Hee berakhir menjadi teman akrab dengan Soo Jung karena wanita itu ternyata lebih ramah dari yang orang-orang katakan. Dia mengerti kenapa Jong In mengencani Soo Jung, wanita itu adalah segala yang Tae Hee inginkan. Pintar, berbakat dan menawan semua lelaki bahkan melirik kearahnya saat dia masuk kedalam restoran.

Karena Soo Jung dan Tae Hee akrab mereka berempat berakhir selalu berkumpul hanya untuk mengobrol dan makan bersama, semua normal sampai suatu malam tatapan Tae Hee bertemu dengan Jong In. Mereka saling menatap untuk sesaat dan Tae Hee tahu dari sana dunianya akan hancur karena Jong In.

Entah alkohol atau hasrat yang selama ini mereka pendam Jong In berakhir mengantarkan Tae Hee ke apartemennya dengan alasan jika Jong In punya urusan dan dia memiliki jurusan yang sama dengan Tae Hee sehingga lelaki itu dengan santainya menawarkan tumpangan mobilnya.

Chan Yeol dengan naivenya menyetujui usul teman dekatnya itu, malam itu Chan Yeol terlalu mabuk untuk menyetir sehingga dia masuk kedalam mobil Soo Jung meminta wanita itu untuk mengantarkannya pulang. Tae Hee tahu dalam satu mobil dengan Jong In tidak akan membawa hal yang baik namun dia mengabaikan pikiran itu, dia masuk kedalam mobil bersama Jong In dengan jantung yang berdetak kencang penuh antisipasi.

Mobil Jong In berhenti didepan gedung apartemen Tae Hee, kedua kakinya enggan untuk turun dari mobil tanpa alasan yang jelas. Dia melirik kearah Jong In yang duduk dibangku pengemudi. Jong In tidak mengatakan apapun hanya menatap kearah Tae Hee, mata coklat itu penuh dengan misteri Tae Hee pikir.

“Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang Jong In-ssi.” Suara Tae Hee terdengar, dia berbalik hendak membuka pintu mobil Jong In.

Sebuah tangan mencegahnya dan dia tahu apa yang Jong In inginkan karena sejujurnya dia sendiri menginginkannya. Jong In menarik tekuk Tae Hee memaksa bibir mereka untuk bersentuhan, Tae Hee menutup matanya membiarkan bibir hangat Jong In membakarnya dengan api hasrat.

Tangan Tae Hee melingkar dileher Jong In menarik lelaki itu agar menciumnya lebih dalam, bibir mereka bertautan penuh hasrat. Bahkan Chan Yeol tidak pernah menciumnya seperti ini, Chan Yeol selalu lembut penuh dengan sentuhan kasih sayang dan ciuman hangat. Apa yang dia dan Jong In punya hanyalah murni hasrat, tidak ada kelembutan cinta didalamnya mereka hanya ingin memuaskan hasrat seksual mereka dan setelah itu selesai seperti api yang disiram air semuanya menghilang.

Tae Hee yang pertama melepaskan ciuman mereka, rasa bersalah memenuhi benaknya membuat dia merasa mual. Wanita macam apa dia? Dia sudah memiliki kekasih yang mencintainya namun dia masih berani mencium kekasih orang lain. Tangan Jongin turun mengelus pundaknya, dia sendiri kelihatan merasa bersalah juga.

“Apa yang terjadi hari ini harus kita lupakan.” Ucapnya, dia menjauh dari tubuh Tae Hee menatap lurus kearah setir mobil.

“Kau benar.” Tae Hee membalas, dia segera turun dari mobil Jong In tidak melirik kebelakang.

Jong In benar, apa yang terjadi malam itu harus dia lupakan. Ciuman itu adalah kesalahan yang sangat besar, Tae Hee menyesalinya begitu juga dengan Jong In itu sebabnya mereka berdua harus melupakannya.

*****

“Kenapa kau? Belakangan ini kau sering tidak fokus dan murung.”

Teguran itu membuat Tae Hee melirik kearah manajernya yang menyetir, dia baru saja menjadi bintang tamu di acara Radio Star namun Tae Hee bahkan tidak bereaksi banyak. Aktris itu hanya menjawab pertanyaan dan memberikan senyuman simpelnya saja ketika dia mendengar lelucon para pemandu acara dan komedian.

Berbeda dengan kepribadiannya yang biasa ceria tentu saja manajernya itu pasti menyadarinya, oh andaikan saja dia bisa menceritakan kegundahannya pada orang lain. Tae Hee menghela nafasnya, dia hanya bisa menahan beban sendirian dia bahkan tidak berani menceritakan kegundahannya pada siapapun bahkan pada teman dekatnya.

“Aku hanya lelah.” Jawab Tae Hee singkat, dia menyandarkan kepalanya dipunggung bangku mobilnya melirik kearah jendela mobil.

“Apa kau dan Chan Yeol pergi minum-minum lagi? Kau tahu kau masih harus mempromosikan dramamu. Jangan terlalu banyak keluar malam, apalagi hubungan kalian belum diumumkan secara publik.” Manajer Tae Hee mengomel dan Tae Hee hanya mengangguk bosan dengan omelan manajernya itu.

Mobil Van Tae Hee berhenti tepat didepan gedung SM dan aktris itu bisa mendengar kegaduhan diluar mobilnya, dia tahu jika sekumpulan fans sedang menunggunya. Saat Tae Hee membuka pintu mobilnya cahaya flash dari kamera menyambutnya begitu juga dengan teriakan para fans. Tae Hee melambaikan tangannya pada mereka tersenyum untuk kamera fans setelah itu dia masuk kedalam gedung.

Gedung SM agensi nya saat itu cukup sepi dia hanya melihat beberapa wajah familiar dan sekumpulan trainee yang sedang berlatih. Dia ingat dulu dia ada diposisi itu sampai akhirnya dia debut dan menjadi aktris, dia ingin menyapa para trainee namun sepertinya mereka sedang fokus untuk berlatih sehingga dia mengurungkan niatnya dan pergi langsung keruangan CEO.

Alasan dia dipanggil oleh CEO agensinya belum Tae Hee ketahui tapi dia sedikit gugup, apakah dia dalam masalah? Tae Hee mengetuk pintu ruangan bosnya. Taklama kemudian sosok sekertaris bosnya membuka pintu ruangan yang cukup luas tersebut, sosok Kim Young Min CEO mereka duduk di sofa yang ada diruangan kantornya bersama sesosok lelaki yang membelakanginya.

“Selamat siang Sajang-nim.” Tae Hee menyapa dengan nada bicara cerianya, memamerkan senyum manisnya walaupun dia sebenarnya lebih baik tidur daripada berbasa-basi dengan CEO tersebut.

“Tae Hee-ya! Kemarilah, ada kabar baik yang ingin aku sampaikan.” Young Min menyambut.

Tae Hee mengangguk dan duduk dikursi yang ada didepan sofa Young Min, dia terkejut saat melihat wajah lelaki yang duduk bersama bosnya itu. Ternyata lelaki yang duduk bersama Kim Young Min adalah Jong In membuat jantung Tae Hee berdetak lebih kencang tak karuan karena gugup.

Setiap kali dia melihat Jong In entah kenapa memori saat mereka berdua berciuman kembali lagi dalam ingatannya. Dia bisa melihat Jong In tersenyum kearahnya dan sekilas membungkuk menunjukan rasa hormatnya dan Tae Hee hanya tersenyum tipis pura-pura tidak mengenal siapa Jong In.

“Aku mendapatkan tawaran dari SBS, mereka sedang menggarap drama yang baru dan mereka kesusahan untuk mendapatkan pemeran utama wanita. Selain itu mereka sudah sepakat untuk mengkasting Jong In sebagai pemeran utama laki-laki bagaimana Tae Hee-ya apa kau tertarik? Menilai dari kesuksesan dramamu yang sebelumnya aku yakin kau bisa memerankan karakter dalam drama ini dengan baik.” Young Min menyodorkan sebuah skrip drama pada Tae Hee.

Tae Hee menatap kearah skrip yang ada dimeja yang ditawarkan oleh Young Min. Melodrama, tentu saja Kim Young Min akan menawarkan drama ini padanya mengingat selama ini dia selalu memainkan karakter yang menyedihkan. Tae Hee mengambil skrip itu dan membacanya sekilas.

“Saya akan mempertimbangkannya sajang-nim.”

“Baguslah kalau begitu! Aku kira kau dan Jong In serasi untuk memainkan peran ini.”

Entah kenapa  saat mendengar itu Tae Hee merasa malu sedangkan Jong In hanya tertawa membantah penyataan bos mereka dengan nada bercanda. Tae Hee mencengkram skrip drama yang ada ditangannya, pikirannya mengatakan jika dia sebaiknya tidak menerima peran yang ditawarkan Young Min namun hatinya berkata lain.

*****

Suara bel apartemennya terdengar membuat Tae Hee membuka matanya, dia melirik kearah jam alarm yang ada meja kecil disamping ranjangnya. Waktu masih menunjukan jam enam pagi, orang macam apa yang datang ke apartemennya sepagi ini. Chan Yeol menginap dan tidur disampingnya dengan nyenyak, dia juga tidak memiliki jadwal apapun hari ini Tae Hee berpikir.

Tae Hee bangun dari tidurnya melepaskan pelukan tangan Chan Yeol dari pinggangnya lalu membasuh wajahnya sebelum akhirnya dia membuka pintu apartemennya. Dia terkejut saat melihat Jong In ada didepan ambang pintu apartemennya sekarang, lelaki itu kelihatan berantakan.

“Jong In-ssi? Apa yang kau lakukan disini?” Tae Hee berbisik, dia keluar dari apartemen dan menutup pintunya takut jika Chan Yeol bangun jika dia mendengar suara Jong In.

“Aku dengar kau menolak tawaran peran utama yang ditawarkan Kim sajang-nim, kenapa? Aku kira kau menyukai karakternya.” Jong In berkata, dia kelihatan marah dan frustasi.

“Aku tidak bisa menerimanya, aku sudah bosan harus bermain melodrama terus.” Tae Hee berkata.

Jong In mendengus tidak percaya, tentu saja Tae Hee berbohong. Tae Hee menyukai melodrama dia mendengar itu dari beberapa staff SM yang membicarakannya, bahkan sebagian aktris dan aktor yang pernah bekerja dengan Tae Hee mengatakan jika wanita itu adalah ratu melodrama.

“Apa karena aku? Karena kita berciuman malam itu?” Jong In bertanya dan Tae Hee langsung menutup mulut lelaki itu panik.

“Apa kau gila? Bagaimana jika orang mendengarnya?!” desis Tae Hee penuh amarah, dia tidak ingin membicarakan soal ciuman itu jika bisa dia ingin menghapus memori itu.

“Dengar, aku tidak akan berbohong aku juga tidak bisa melupakannya tapi aku tidak ingin kau menolak drama ini karena aku.” Jong In menjelaskan, dia melepaskan tangan Tae Hee dari mulutnya dan mengenggam tangan wanita itu.

“Kau adalah aktris yang dibutuhkan untuk drama ini, aku harap kau mempertimbangkannya lagi lebih matang.” Jong In berbalik pergi meninggalkan Tae Hee yang tertegun kebingungan.

Apa yang Jong In katakan benar, dia ingin bermain dalam drama SBS itu dia sangat menyukai karakter utama wanitanya namun masalahnya dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk tidak menyukai Jong In. Dia takut, takut jika pada akhirnya dia dan Jong In akan berakhir seperti karakter dalam melodrama yang akan mereka mainkan.

*****

Tae Hee pikir dia sudah gila, dia berakhir menyetujui tawaran utama yang Kim Young Min tawarkan padanya dan tentu saja dia lolos audisi dengan mudahnya. Tak ada kandidat lain yang lebih cocok untuk memerankan peran utama wanita dalam drama itu selain Tae Hee, setelah dia mendapatkan pengumuman itu dari sutradara drama tersebut entah kenapa emosi Tae Hee terasa campur aduk saat dia mendengarnya.

Dia senang karena akhirnya bakatnnya dikenali orang-orang penting namun dia sendiri merasa takut dan khawatir. Dia khawatir jika dia tidak mampu menolak perasaannya pada Jong In, dia takut apa yang malam itu terjadi akan terulang kembali. Ponsel Tae Hee bergetar saat wanita itu baru saja masuk kedalam mobil Van nya bersama manajernya, dia tersenyum melihat nama kekasihnya tertera dilayar ponselnya.

“Selamat!! Aku dengar kau lolos audisi drama SBS.” Suara berat Chan Yeol tersengar diseberang telepon.

“Terimakasih Oppa, darimana kau tahu aku lolos audisi?” Tae Hee bertanya.

“Oh..Jong In memberitahuku, dia meminta ijin padaku untuk bekerjasama denganmu dalam drama ini mengingat kau tahu..” Chan Yeol menjelaskan suaranya terdengar sedikit khawatir.

Oppa kau tak usah khawatir, kami hanya berakting.” Tae Hee menenangkan.

“Aku tahu, aku tahu tapi tetap saja. Oleh karena itu akan menghukum kalian malam ini, kalian harus meneraktir aku dan Soo Jung.”

Tae Hee tersenyum dan menyetujui permintaan kekasihnya, dia menutup sambungan teleponnya dengan Chan Yeol setelah mereka selesai mengobrol. Senyumnya langsung hilang setelah dia menutup teleponnya, dia benar-benar membuat kesalahan kali ini seharusnya dia tidak luluh dengan bujukan Jong In.

*****

Entah bagaimana Tae Hee dan Jong In berakhir didepan apartemen aktris itu lagi tapi sekarang mereka tidak mabuk, tidak ada alasan alkohol untuk membenarkan apa yang mereka akan lakukan sekarang. Jong In mencapai tangan Tae Hee mencium punggung tangan wanita itu dan dengan lembut dia membisikan kata terimakasih pada aktris itu.

Tae Hee menarik tangannya dengan kasar dari genggaman tangan Jong In, dia tidak bisa terus membiarkan Jong In menguasainya. Kali ini dia akan menolak Jong In dengan jelas sehingga lelaki itu akan berhenti menyentuhnya dan menganggunya. Ya kali ini Tae Hee ingin melakukan itu namun dia segera lupa saat dia merasakan kedua tangan Jong In memeluknya dengan erat.

“Sejujurnya aku tidak bisa melupakan malam itu, aku tidak bisa tidur memikirkanmu.” Jong In mengaku.

Tae Hee melepaskan pelukan Jong In, dia tidak tahu harus membalas pengakuan Jong In dengan apa, dia senang mendengar itu karena setidaknya dia tahu jika dia tidak menderita sendirian. Tae Hee tidak bisa tidur juga memikirkan Jong In, memikirkan harum tubuh lelaki itu dan bibir hangatnya yang menggoda.

“Kita tidak bisa melakukan ini, aku punya Chan Yeol dan kau punya Soo Jung.” Tae Hee mengingatkan.

“Mereka tidak usah tahu.”

“Aku tidak bisa melakukan ini pada mereka.”

“Tapi aku yakin kau merasakan apa yang aku rasakan.”

Jong In menarik tangan Tae Hee kedadanya dan dia bisa merasakan detak jantung Jong In yang sangat kencang. Dia gugup, sama dengan Tae Hee dan itu membuat Tae Hee menyadari satu hal. Mungkin ini alasan kenapa dia tidak pernah bisa menolak Jong In, mungkin ini kenapa dia selalu berakhir menyesali segala keputusannya.

Tae Hee tidak bisa menjawab apapun, dia bisa merasakan Jong In mendekat kearahnya membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa centi. “Dorong  aku jika kau tidak menginginkanya.” Ucap Jong In dengan suara dalamnya.

Pada akhirnya Tae Hee tidak mendorong Jong In, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut. Ciuman mereka bukanlah ciuman yang penuh dengan hasrat seperti malam itu, ciuman mereka sekarang lebih lembut dan sensasi hangat memenuhi dada Tae Hee kali ini. Mungkin selama ini dia salah, Jong In dan dia bukanlah api yang menyala merah tapi mereka adalah batu bara yang semakin ditempa maka akan semakin kuat.

Jong In melepaskan ciuman mereka dan tersenyum melihat wajah Tae Hee yang memerah, wanita itu berbalik untuk membuka pintu apartemennya membiarkan Jong In ikut masuk bersamanya. Saat pintu apartemen Tae Hee sudah tertutup rapat Jong In memeluk wanita itu dari belakang.

Tae Hee tersenyum dan berbalik mencium kembali bibir lelaki itu, Jong In mengangkat tubuh Tae Hee mengendong wanita itu menuju kamar yang tidak jauh dari ruang tengah apartemen.

*****

Jongin menidurkan Tae Hee diranjangnya, dia mengelus pipi wanita itu dan menciumnya, bibir itu menyentuh kulit Tae Hee untuk sekian kalinya meninggalkan sensasi hangat dikulit wanita itu. Tae Hee menarik jaket Jong In memaksa lelaki itu untuk melepaskan pakaian tersebut. Jong In dengan senangnya melepaskannya bersama dengan kaos hitam yang digunakan, belum sempat Jong In melepaskan celananya Tae Hee sudah menariknya kembali untuk ciuman yang basah.

Tae Hee tidak tahu apa yang merasukinya malam itu, yang jelas dia ingin memiliki Jong In dan melakukan apapun untuk membuat lelaki itu puas. Jong In melepaskan ciuman mereka lagi, terengah-engah mencoba untuk bernafas setelah ciumannya dengan Tae Hee. Wanita itu selalu berhasil mencuri nafasnya, dia tidak mengerti bagaimana wanita itu bisa membuatnya tergila-gila seperti sekarang.

Jong In membuka kancing baju blush putih Tae Hee dan mencium leher wanita itu, Tae Hee mengelus rambut coklat Jong In menikmati ciuman sensual lelaki itu. Setelah Jong In berhasil membuka semua kancing bajunya Tae Hee melepaskan pakaiannya dan melemparkannya kesudut ruangan.

Mata coklat Jong In menatap kearah dada Tae Hee tangannya menyentuh buah dada Tae Hee yang masih dibalut oleh bra coklatnya, Tae Hee merasa sedikit malu namun saat Jong In menunduk untuk mencium dadanya pikiran itu segera menghilang. Tangannya mencengkram rambut Jong In menahan hasrat yang sekarang mulai memenuhi benaknya.

Suara lenguhan terdengar saat Jong In berhasil meninggalkan tanda merah keungunan di dada Tae Hee, sial dia seharusnya mengatakan pada Jong In untuk tidak meninggalkan tanda. Bagaimanapun dia dan Chan Yeol masih berhubungan, lelaki itu pasti curiga melihat tanda yang ditinggalkan Jong In.

“Jangan..jangan tinggalkan tanda apapun.” Tae Hee bergumam ditengah lenguhannya dan Jong In berhenti menciumi dadanya.

“Kau milikku malam ini.” Jong In menjawab matanya menyipit tajam.

Dia menciumi perut Tae Hee dan melepaskan celana jeans wanita itu. Kepala Jong In hanya dipenuhi oleh pikiran tentang Tae Hee sekarang dan dia ingin wanita itu merasakan hal yang sama dengannya. Malam ini dia ingin berpura-pura jika Tae Hee adalah miliknya dan dia adalah milik Tae Hee, dia tidak ingin mengingat kenyataan jelek yang sebenarnya terjadi disini.

Tae Hee bangun dari posisi terlentangnya, tangannya menyentuh otot perut Jong In dan menciuminya membuat Jong In mendesah. Dia ingin Tae Hee, apapun yang wanita itu lakukan membuat dia terangsang. Tangan kecil Tae Hee mencapai sleting jeansnya, wanita itu membantu Jong In melepaskan jeans dan celana dalamnya.

Saat tangan Tae Hee hendak menyentuh kejantananya Jong In mencegah wanita itu, malam ini dia ingin bercinta dengan Tae Hee dia tidak butuh foreplay. Mereka bisa melakukan itu nanti, dia hanya ingin Tae Hee dalam pelukanya malam ini tidak ada yang lain.

“Apa kau punya kondom?” Jong In bertanya.

Tae Hee menganggukan kepalanya, dia mengambil satu buah kondom dari dalam laci meja kecil yang ada disamping ranjangnya dan memberikannya pada Jong In. Jong In tersenyum mencium wanita itu lalu membaringkan Tae Hee kembali,entah kenapa tangannya gemetar. Ini bukan pertamakalinya Jong In bercinta dengan wanita namun Tae Hee selalu membuatnya gugup bahkan melihat wanita itu berbaring didepannya sudah membuat dia sangat terangsang.

Jong In melepaskan celana dalam Tae Hee, tangannya menyentuh kewanitaan Tae Hee membuat wanita terkesiap. Dia bisa merasakan jari telunjuk Jong In masuk kedalam bagian intimnya, Jong In menyeringai saat dia sadar betapa basahnya Tae Hee wanita itu ternyata merasakan hal yang sama dengannya membuat dia senang.

Jong In mendorong kejantanannya kearah kewanitaan Tae Hee membuat wanita itu melengkungkan punggungnya terkejut dengan sensasi baru didalam bagian intimnya. Milik Jong In terasa sempurna menyatu dengan tubuhnya. Tae Hee memeluk erat tubuh Jong In membuat lelaki itu bergerak beberapa kali mendorong kejantananya lebih dalam kebagian intim Tae Hee.

Tae Hee tidak pernah merasa seperti ini, tubuhnya terasa panas dan dia rasanya akan meledak karena rasa nikmat yang Jong In berikan padanya. “Jong In..Jong In..” beberapa kali Tae Hee memanggil dan Jong In tersenyum, dia mencium bibir Tae Hee dengan penuh hasrat dan keinginan membuat Tae Hee luluh dalam pelukan lelaki tampan itu.

“Tae Hee-ya..” Panggil Jong In dengan suara seraknya dan tiba-tiba saja dorongan Jong In lebih cepat dan Tae Hee hampir berteriak saat dia merasakan nikmat yang luar biasa mulai menguasai semua indera tubuhnya.

Jong In tahu dia sudah menemukan titik sensitif Tae Hee, dia mengarahkan pinggangnya memburu titik itu. Dari ekspressi yang di tunjukan Tae Hee lelaki itu tahu dia berhasil menemukanya apalagi sekarang tangan Tae Hee mencengkram lengannya dan lenguhan yang cukup kerasa terdengar sampai akhirnya Jong In bisa meraskaan bagian intim Tae Hee berdenyut disekitar miliknya menandakan jika wanita itu mencapai orgasme nya.

Menyadari akan hal itu merangsang Jong In dia sekarang menggerakannya pinggangnya tanpa ritme memburu orgasme nya sendiri sampai akhirnya dia mencapai puncaknya. Tubuhnya terasa lemas dan dia ambruk menindih Tae Hee yang sama lelahnya, Jong In mengistirahatkan kepalanya diceruk leher wanita itu masih terengah-engah.

“Kau sangat luar biasa Jeon Tae Hee.” Jong In berbisik ditengah kelelahannya dan dia bisa meraskaan kedua tangan Tae Hee memeluknya dan mengelus-elus punggungnya.

*****

Kejadian yang seharusnya terjadi satu kali menjadi dua kali dan akhirnya kejadian itu menjadi sebuah kebiasaan untuk Tae Hee dan Jong In. Tidak aneh lagi bagi Tae Hee untuk mendapati Jong In menatapnya dengan pandangan yang penuh birahi ketika mereka makan malam bersama Chan Yeol dan Soo Jung. Jong In mungkin akan pura-pura sibuk dan pulang duluan namun saat Tae Hee pulang ke apartemennya dia menemukan Jong In sudah menunggunya didepan pintu apartemen.

Hubungan asmara keduanya sama-sama sedang renggang juga mengingat Chan Yeol akan sibuk dengan album duetnya dan Soo Jung menerima tawaran bermain film di Cina meninggalkan Jong In dan Tae Hee waktu luang yang banyak. Awalnya Jong In hanya akan datang ke apartemen Tae Hee pada malam hari saja namun lambat laun lelaki itu akan muncul juga di siang hari.

Sampai pada hari itu dimana Jong In menginap dan tidur bersama Tae Hee memeluk tubuh wanita itu dari belakang, mereka tidak berhubungan seks malam itu tapi entah kenapa Tae Hee puas. Dia nyaman dalam pelukan Jong In mereka bahkan bercengkrama sampai jam tiga malam.

“Apa kau ingin pergi kencan lain kali?” Jong In bertanya ditengah rasa kantuknya, dia mencium pucuk kepala Tae Hee.

Entah kenapa mulut Tae Hee langsung mengatakan kata persetujuan secara otomatis, dia bahkan tidak memikirkan konsikuensi apa yang mungkin akan mereka terima jika media tahu jika mereka sedang pergi bersama kesuatu tempat.

“Kau tak usah khawatir, kita bisa pergi ke resort yang biasa aku kunjungi tempat itu aman.” Jong In menenangkan saat dia melihat ekspressi khawatir Tae Hee.

“Kenapa kau ingin berkencan denganku? Aku bukan pacarmu.” Tae Hee memukul dada Jong In dan membalikan badannya.

“Hey kau yang menyetujuinya, aku hanya memberi usul.” Jong In membela diri, bibirnya menyeringai saat dia melihat betapa merahnya telinga Tae Hee.

Wanita itu tidak menjawab dan Jong In hanya memeluk tubuh Tae Hee dari belakang sampai matahari terbit menandakan hari baru untuk mereka. Pagi itu Jong In bangun dengan wajah polos Tae Hee dan rambut berantakan wanita itu namun entah kenapa Jong In menyukainya. Dia ingin bangun setiap pagi disamping wanita itu selamanya.

Hari itu mereka berakhir pergi ke resort yang Jong In rekomendasikan, mereka memilih untuk bermain golf dan berenang di kolam besar resort yang tertutup dari umum. Tae Hee tidak bisa bohong dia sangat menikmati waktunya dengan Jong In, dia bahkan lupa kapan terakhir dia merasa begitu bahagia seperti sekarang.

*****

Jong In tidak tahu kapan terakhir kali dia berdebat dengan seseorang, Jong In bukanlah tipe orang yang kerasa kepala dan dia akan menerima pendapat oranglain dan mempertimbangkannya namun kali ini dia memilih untuk tetap pada pendiriannya. Dia ingin melihat bagaimana Tae Hee menatapnya dengan penuh ketidak percayaan saat dia mengatakan Star Wars adalah film yang biasa, wanita itu langsung membantahnya sambil mengatakan ‘apa kamu gila? Star wars adalah film yang paling keren!’ Jong In hanya tertawa terhibur dengan tingkah wanita itu.

Mereka sedang ada di apartemen Tae Hee menikmati koleksi film wanita itu. Hari ini mereka mendapat libur syuting, Chan Yeol terlalu sibuk untuk mengajak Tae Hee pergi dan Soo Jung sedang ada di Cina menyelesaikan filmnya. Awalnya Jong In hanya ingin beristirahat saja sendirian namun telepon dari Tae Hee membuat dia berlari keluar dari asrama EXO menuju apartemen wanita itu dalam hitungan menit.

Itulah awal kenapa mereka bisa disini, di sofa Tae Hee menonton film yang di tayangkan channel HBO yang kebetulan sedang menayangkan star wars marathon. Tae Hee kelihatan sangat fokus menonton film itu membuat Jong In ingin menjahilinya. Awalnya Jong In berpura-pura untuk mengeliat lalu melingkarkan tangannya dipundak Tae Hee, wanita itu masih tidak memberi respon.

Jong In akhirnya mendekat menghapus jarak diantara mereka, Tae Hee masih fokus mengikuti adengan di televisi sampai akhirnya Jong In menunduk mengecup leher wanita itu membuat Tae Hee mendorongnya.

“Aku sedang menonton.” Ucapnya, darisana Jong In semakin ingin menggoda wanita itu.

Tangan nakalnya menyelusup masuk kedalam kaos putih Tae Hee menyentuh buah dada wanita itu. Merasakan sensasi itu akhirnya fokus Tae Hee teralihkan, dia memegang tangan Jong In mencoba melepaskan tangan nakal itu dari bagian sensitifnya. “Hentikan, itu geli.” Tae Hee meronta namun Jong In tidak mau mendengar itu.

Jong In mencium telinga Tae Hee membuat wanita itu sedikit terkejut namun geli juga, Jong In sepertinya tidak mau menyerah dan terus menyentuh bauh dada Tae Hee dan memainkannya sampai akhirnya dia mendengar lenguhan. Lenguhan itu sepertinya tombol yang mengaktifkan birahi Jong In, dia bahkan langsung mengangkat tubuh Tae Hee menuju kamar.

“Jong In-ssi tapi aku belum selesai menonton filmnya!” Tae Hee protes namun Jong In membuat wanita itu berhenti dengan ciuman sensualnya, ciuman Jong In selalu membuat Tae Hee lupa akan segala hal.

Jong In menidurkan tubuh Tae Hee diranjang wanita itu mencumbu kembali tubuh indah wanita itu sebelum tiba-tiba suara dering ponsel Tae Hee mengagetkan mereka berdua. Tae Hee segera mengambil ponselnya yang ada di meja disamping ranjangnya, matanya melebar saat dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“Chan Yeol oppa menelepon.”

*****

Tae Hee selalu menyukai jalan-jalannya bersama Chan Yeol, lelaki itu selalu terlihat ceria dan berceloteh namun entah kenapa kali ini dia merasa sangat bosan. Bahkan dia menemukan percakapan di televisi yang ada dibelakang Chan Yeol lebih menarik daripada lelaki itu, Chan Yeol kelihatannya tidak menyadari rasa bosan Tae Hee karena terlalu asik dengan percakapannya sendiri.

“Apa aku benar?” Chan Yeol tiba-tiba saja bertanya dan Tae Hee hanya mengangguk tidak yakin apa yang lelaki itu katakan sebelumnya.

Malam itu berakhir dengan Chan Yeol pulang ke apartemennya dan menciumnya namun pikiran Tae Hee melayang membayangkan lelaki lainlah yang sekarang mencumbunya. Menyadari apa yang dia lakukan Tae Hee mendorong Chan Yeol mengatakan jika dia terlalu lelah dan ingin tidur saja.

Chan Yeol selalu mengerti, dia mengangguk dan menarik selimut diranjang Tae Hee menyelimuti wanita itu sebelum akhirnya tidur disampingnya. Tangan kekarnya selalu memeluk Tae Hee namun entah kenapa malam itu Tae Hee tidak ingin melihat Chan Yeol. Dia membalikan badannya menghindari tatapan Chan Yeol, dia bisa menebak kekasihnya itu sedikit kecewa meskipun Chan Yeol tetap mencium kepalanya seperti yang biasa dia lakukan.

Malam itu Tae Hee tidak bisa tidur, dia menangis. Dia takut sekali, dia takut karena menyadari dia menyadari satu hal malam itu. Dia menyadari jika mimpi buruknya telah menjadi kenyataan tanpa dia sadari. Hal yang paling sangat dia takutkan terjadi sekarang dan dia tidak bisa mencegahnya.

Dia jatuh cinta pada Kim Jongin, satu-satunya lelaki yang tidak pernah bisa dia miliki.

*****

Sepertinya Kim Jong In tidak bisa berhenti untuk menganggunya hari itu, mengingat hampir dua bulan dia dan Jong In tidak bertemu. Ponsel Tae Hee sepertinya akan meledak karena dipenuhi oleh pesan dari Jong In menanyakan kapan dia bisa bertemu lagi dengannya.

Tae Hee tidak punya waktu untuk membalas pesan lelaki itu, tidak jika Chan Yeol kekasihnya mulai curiga dengan gelagatnya belakangan ini. Tae Hee tahu Chan Yeol tidak akan berani mengatakan apa yang sejujurnya namun dia bisa melihat kekasihnya itu lebih was-was sekarang.

Chan Yeol bahkan lebih sering menghubunginya dan mengantar jemputnya ke lokasi syuting, awalnya itu sangat membantu Tae Hee namun belakangan ini dia merasa sangat dikekang. Dia merasa seperti seorang kriminal tapi disisi lain dia mengerti kenapa Chan Yeol melakukan itu, dia mengerti kenapa kekasihnya itu sangat was-was.

“Kau tak usah menjemputku hari ini Oppa, aku tahu kau sibuk.” Ucap Tae Hee, dia masih berada di lokasi syuting dan sebentar lagi dia akan menyelesaikan styutingnya.

“Tidak apa-apa, aku ingin menjemputmu.” Chan Yeol menjawab walaupun Tae Hee bisa mendengar dari nada suaranya jika Chan Yeol kelelahan.

“kau baru saja menyelesaikan pemotretan, kau pasti lelah pulanglah dan tidur.” Balas Tae Hee, berdoa jika kali ini Chan Yeol mendengarnya.

“Tapi Tae Hee-ya..”

“Aku akan baik-baik saja, ada manajer yang akan mengantarku.”

Beruntung bagi Tae Hee kekasihnya itu menuruti nasihatnya. Akhirnya Tae Hee mengakhiri sambungan teleponnya dengan Chan Yeol saat dia mendongak dia terkejut melihat sosok Soo Jung dan Jong In yang kelihatan sedang mengobrol. Wanita itu kelihatan tidak senang akan sesuatu bahkan mereka kelihatannya sedang bertengkar, Soo Jung yang kesal berbalik pergi meninggalkan Jong In namun lelaki itu mencegahnya.

Tae Hee tidak tahu apa yang harus dia lakukan sehingga dia akhirnya berbalik untuk pergi namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara tamparan. Mendengar itu Tae Hee membalikan badannya lagi dan menemukan sosok Soo Jung yang sudah menampar Jong In, wanita itu menangis dan pergi meninggalkan kekasihnya.

Jong In menyentuh pipinya yang berdenyut sakit namun sudut matanya menangkap sosok yang tidak asing menatap kearahnya, dia melihat Tae Hee berdiri cukup jauh darinya namun sepertinya wanita itu melihat semuanya.

Jong In berjalan hendak menjelaskan semuanya pada Tae Hee namun wanita itu malah berlari pergi meninggalkannya. Darisana Jong In tahu, dia baru saja mengacaukan semuanya. Dia baru saja menghancurkan hubungannya dengan Tae Hee dan Soo Jung.

*****

Cut!” Suara sutradara terdengar membuat Tae Hee dan Jong In berpisah dari pelukan mereka, dua orang staf koordi langsung datang untuk memberikan mereka minum dan mengipasi mereka mengingat cuaca sangat panas sekali hari itu.

Sutradara Park datang menghampiri Tae Hee membuat Tae Hee menunduk hormat kearahnya namun lelaki paruh baya itu hanya tersenyum. “Tae Hee-ya aktingmu bagus sekali, aku cukup optimis rating drama kita akan semakin naik.” Pujinya dan Tae Hee tersenyum bahagia mendengarnya.

“Aku tahu ini sedikit berlebihan, tapi aku belum bisa melihat chemistry yang baik antara kau dan Jong In. Aku tahu kalian canggung didepan satu sama lain tapi bisakah kalian mencoba lebih dekat?” Sutradara Park berkata dan Tae Hee hampir tersedak mendengar ucapan lelaki paruh baya itu.

“Sutradara Park berhenti menggoda Tae Hee dia masih baru.”

Jong In tiba-tiba saja muncul dibelakang Sutradara itu membuat lelaki itu melirik kearahnya menjelaskan percakapan yang sebenarnya dia dan Tae Hee diskusikan. Jong In menyeringai saat dia mendengar sutradara Park mengatakan jika Tae Hee dan dia belum memiliki chemistry yang baik untuk drama dan lelaki itu meminta mereka untuk lebih dekat.

Entah kenapa saat Tae Hee melihat seringai Jong In seluruh tubuhnya mendingin ketakutan, dia takut dengan apa yang lelaki itu rencanakan. Dia tidak mendengarkan apapun yang sutradara Park katakan setelah itu, dia terlalu segan untuk menjawab atau membantah apapun yang lelaki paruh baya itu katakan.

Dengan adegan terakhir tadi itu menandakan jika proses syuting sudah selesai dan semua kru bersiap-siap untuk beristirahat. Tae Hee pergi menuju tempat istirahatnya namun tangan Jong In menarik lengannya memaksa dia untuk mengikuti langkah lelaki itu, Tae Hee ingin protes namun dia mengurungkan niatnya saat dia melihat para kru masih ada disekitar lokasi syuting dan dia tidak ingin menyebabkan kehebohan.

Jong In membuka kunci mobilnya dan memaksa Tae Hee untuk masuk, lelaki itu menghidupkan mesin mobilnya menuju jalanan Seoul yang cukup ramai siang itu. Tae Hee tidak mengatakan apapun selama perjalanan, dia hanya menatap resah kearah jendela mobil Jong In melihat pemandangan kota Seoul pada siang hari.

Lampu merah memaksa Jong In menghentikan laju mobilnya, dia melirik kearah Tae Hee dan tangannya meraih tangan wanita itu. Tae Hee mencoba melepaskan tangan Jong In namun lelaki itu menggengamnya lebih erat, Tae Hee menghela nafasnya wanita itu kelihatan sangat kesal.

“Sebaiknya kita menghentikan apapun yang kita miliki saat ini.” Ucap Tae Hee dan entah kenapa saat Jong In mendengar itu dia bisa merasakan hatinya remuk hancur berkeping-keping.

“Dengan mudahnya?”

“Apa yang sebenarnya kita miliki Jong In-ssi? Kau tahu kau tidak mencintaiku dan begitu juga aku. Hatiku selalu untuk Chan Yeol, jadi hentikan apapun yang sedang kau coba lakukan.”

Jong In tidak ingin mendengar kebohongan itu, tidak Tae Hee tidak mencintai Chan Yeol jika wanita itu mencintai Chan Yeol lalu kenapa dia mengijinkan Jong In untuk bercinta dengannya saat itu? Kenapa wanita itu selalu kelihatan gugup didepannya? Kenapa dia menerima setiap sentuhan dan ciuman yang Jong In berikan? Pertanyaan itu memenuhi pikirannya.

“Kalau begitu mari kita buktikan jika kau benar-benar mencintai Chan Yeol.”

Lampu merah didepan mereka sudah berubah menjadi hijau dan Jong In menginjak gas mobilnya dengan kencang, Tae Hee terkejut dan mencengkram sabuk pengamannya. Entah apa yang Jong In inginkan darinya sekarang tapi lelaki itu langsung berhenti didepan sebuah hotel yang cukup mewah.

Tae Hee tidak mengenali hotel itu tapi kelihatannya Jong In sering datang kesini melihat dengan mudahnya lelaki itu menemukan tempat parkir untuk mobilnya. Jong In keluar dari mobilnya tidak berusaha untuk menutupi identitasnya, jika orang lain melihatnya diluar dia bisa membuat kericuhan.

“Jong In-ssi apa yang—“ sebelum Tae Hee bisa menamatkan kalimatnya Jong In membuka pintu mobil dan mencium nya tepat di bibir dengan kasar.

Mata Jong In menatapnya dengan tajam dan penuh amarah, dia membuka laci dashboard mobilnya mengambil kacamata dan topi hitam didalamnya memakaikan aksesoris itu pada Tae Hee sebelum akhirnya dia menarik keluar wanita itu dengan kasar.

Saat mereka masuk kedalam hotel mereka langsung disambut oleh satpam hotel dan resepsionis hotel, dari reaksi yang resepsionis hotel itu berikan kelihatannya mereka sudah tidak asing lagi dengan sosok Jong In. Wanita itu langsung memberikan sebuah kunci dan Jong In menyambarnya masih menarik tangan Tae Hee dengan paksa.

“Jong In-ssi!” Tae Hee memanggil mencoba menyadarkan Jong In atas tindakannya yang sangat gegabah.

Jong In mengabaikannya, lelaki itu terus menyeretnya menuju lift hotel dan dia menekan tombol lantai paling atas. Pintu lift terbuka menunjukan pintu penthouse. Jong In membuka pintu penthouse itu dan mendorong Tae Hee kedalam lalu mengunci pintu tempat itu.

“Jong In-ssi, kita harus kembali untuk syuting.” Tae Hee mengingatkan namun Jong In mengabaikannya dia menarik tubuh Tae Hee mencium wanita itu kembali. Ciumannya kasar sekali bahkan Tae Hee merasa kesakitan dia mencoba mendorong tubuh Jong In namun pelukan Jong In terlalu kuat untuknya.

Jong In melepaskan ciumannya saat dia kehabisan nafas, matanya menatap lurus kearah Tae Hee. Tae Hee memalingkan wajahnya tidak ingin luluh kedalam tatapan Jong In, dia tahu jika dia terus menatap kearah lelaki itu dia akan kalah. Seluruh pertahananya akan kalah jika dia terus menatap kearah mata Jong In, lelaki itu mungkin marah namun entah kenapa Tae Hee bisa melihat kesedihan juga dalam matanya.

“Kau bohong saat kau mengatakan kau mencintai Chan Yeol, apa aku benar?” Tanya Jong In, lelaki itu menyentuh dagu Tae Hee memaksa wanita itu menatap kearahnya. Mata Tae Hee berkaca-kaca kelihatannya wanita itu akan menangis sebentar lagi, melihat itu entah kenapa Jong In merasa bersalah.

“Apa yang kau inginkan dariku? Apa kau puas mempermainkanku?” Tae Hee bertanya, suaranya serak menahan tangis sampai akhirnya airmatanya menetes membasahi pipinya.

Jong In tidak mengerti darimana Tae Hee mendapatkan asumsi itu. Selama ini dia tidak pernah memiliki niat untuk mempermainkan Tae Hee, dia menyukai Tae Hee segala hal tentang wanita itu Jong In menyukainya sampai pada poin dia merasa akan gila.

“Siapa yang bilang aku mempermainkanmu? Aku serius Tae Hee. Itulah kenapa aku mengakhiri hubunganku dengan Soo Jung, aku sadar aku sudah lama tidak mencintainya lagi.” Jong In menjelaskan, tangannya menangkup wajah Tae Hee.

“Dulu aku mencintai Soo Jung, aku kira tidak akan ada wanita yang lebih baik dari Soo Jung sampai akhirnya aku melihatmu. Aku jatuh cinta padamu tapi Chan Yeol sudah duluan memilikimu, aku tidak tahu harus bagaimana..aku sangat putus asa.” Jong In menceritakan, nada suaranya terdengar sangat serius dan sedih.

Dia tidak tahu jika Jong In menyukainya, dia kira selama ini Jong In hanya mencintai kekasih cantiknya Soo Jung. Jika jujur Tae Hee juga menyukai Jong In, bahkan sebelum mereka bertemu langsung Tae Hee sudah menyukai Jong In. Memperhatikan lelaki itu dari jauh dan mendengar hal-hal kecil tentang lelaki itu selalu membuatnya tersenyum.

Mungkin selama ini Tae Hee sudah jatuh cinta juga pada Jong In namun dengan bodohnya dia menolak pemikiran itu, dia malah menerima cinta Chan Yeol. Chan Yeol lelaki yang mengagumkan, dia peduli tentang Chan Yeol dan menyayangi lelaki itu namun apapun yang dia dan Chan Yeol miliki bukanlah cinta dan hasrat seperti apa yang dia dan Jong In miliki.

Chan Yeol mungkin hangat tapi Jong In membakarnya, setiap kali mata mereka bertemu keinginan untuk bersama selalu kuat menguasai pikiran mereka. Jong In adalah lelaki yang selama ini dia ingin, Tae Hee hanya terlalu bodoh untuk tidak mengakuinya. Tae Hee hanya takut jika lelaki itu tidak merasakan hal yang sama dengannya, Tae Hee takut akan penolakan karena dia tahu jika Jong In menolaknya dia akan hancur.

“Berjanjilah padaku.” Tae Hee memulai, tangannya menyentuh tangan Jong In yang masih menangkup wajahnya. “Apapun untukmu.” Jong In merespon dan Tae Hee tersenyum kearah lelaki itu.

“Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi kau tidak akan melepaskanku.” Ucap Tae Hee dan Jong In menganggukan kepalanya.

“Apapun yang terjadi aku akan terus menggengam tanganmu, jika kau mencoba kabur dariku aku akan mengejarmu sampai kau kembali lagi dalam pelukanku.” Jong In berjanji.

Tae Hee tersenyum dan dia menarik wajah Jong In membuat bibir mereka akhirnya bersentuhan dan saling bertaut dalam ciuman yang penuh hasrat dan keinginan. Tangan Jong In melingkar dipinggang Tae Hee dan mereka tersenyum saat mereka melepaskan ciuman panas mereka.

“Kau milikku sekarang Jeon Tae Hee.”

*****

Seluruh media terkejut saat mereka menerima berita berakhirnya hubungan Jong In dan Soo Jung semuanya heran dengan berakhirnya hubungan kedua idola tersebut mengingat hubungan mereka baik-baik saja beberapa bulan lalu. Jong In dan Soo Jung memutuskan untuk bungkam tentang hubungan mereka, beberapa fans yang memuja hubungan mereka kelihatan menyampaikan rasa kecewanya di media namun berita mereka tidak bertahan lama.

Beberapa bulan berlalu berita putusnya Jong In dan Soo Jung sudah hilang dikalahkan oleh berita lain yang lebih menarik perhatian. Jong In dan Soo Jung tetap berteman meskipun mereka sudah putus, Jong In beruntung karena Soo Jung adalah wanita yang pemaaf dan baik hati dia tidak terlalu terkejut saat mendengar jika Jong In memulai hubungan romantis dengan Tae Hee.

Berbeda dengan Soo Jung mantan kekasih Tae Hee yaitu Park Chan Yeol kelihatannya tidak bisa menerima kenyataan jika teman dekatnya sendiri merebut kekasihnya. Chan Yeol sangat marah bahkan mengutuk Jong In dan Tae Hee untuk beberapa bulan sampai akhirnya dia luluh. Bagaimanapun Chan Yeol peduli pada Tae Hee dan dia ingin melihat mantan kekasihnya itu bahagia.

Setelah semua reda Jong In dan Tae Hee bisa dengan tenang berkencan, mereka belum mengumumkan hubungan mereka ke media namun Jong In kelihatannya tidak sabar untuk mengatakan pada seluruh dunia jika Jeon Tae Hee akhirnya menjadi miliknya. Waktu berjalan sangat cepat setelah Jong In dan Tae Hee bersama, mereka terlalu menikmati kebersamaan mereka sehingga mereka lupa akan waktu.

Rasanya aneh jika diingat-ingat kembali, dua tahun yang lalu Jong In dan Tae Hee adalah orang asing setidaknya hanya kenalan yang tidak memiliki hubungan apapun namun sekarang mereka tidak membayangkan hidup mereka tanpa satu sama lain. Tae Hee tidak bisa membayangkan bangun pada pagi hari tanpa Jong In atau menonton film kesukaannya tanpa lelaki itu memeluknya dari belakang.

Senyum selalu mekar dari wajah Tae Hee setiap kali dia memikirkan kekasihnya itu, dia menghela nafasnya menahan senyum yang memaksa keluar. Dia tidak boleh tersenyum sendirian, apalagi sekarang dia ada ditempat publik. Orang-orang pasti berpikir dia gila jika dia tiba-tiba saja tersenyum sendirian.

“Tae Hee-ya!” Suara maskulin yang tidak asing terdengar memanggil nama Tae Hee dan dia melirik kearah sumber suara menemukan sosok kekasihnya berlari kearahnya. Kekasih itu memakai jaket kulit hitam yang dipasakan dengan celana jeans dan topi dengan warna yang sama, meskipun dia memakai masker semua orang tahu siapa lelaki yang berlari kearahnya.

Oppa!” Tae Hee melambaikan tangannya antusias tidak peduli jika orang disekitarnya menyadari siapa dia.

Jong In akhirnya sampai didepannya dan menariknya kedalam pelukan, udara diluar sangat dingin mengingat ini adalah musim dingin. Salju bahkan mulai mengumpul diatas kepala Jong In, Tae Hee  membersihkan rambut kekasihnya itu dari salju.

“Kau pasti lelah, bagaimana pemotretannya?” Tae Hee bertanya dengan senyumnya dan Jong In hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.

“Biasa saja,aku tidak sabar untuk bertemu denganmu.” Jawab Jong In dan itu membuat Tae Hee malu, dia bahkan bisa merasakan kedua pipinya memanas.

Aigoo pacarku sangat lucu dan cantik.” Jong In memuji dia mencubit pipi Tae Hee membuat Tae Hee mengerang kesal.

“Berhenti menggodaku, ayo kita pulang kau pasti kedinginan hanya menggunakan jaket saja.” Tae Hee mengajak, dia menarik tangan Jong In untuk pergi namun lelaki itu malah terdiam tidak mengikuti langkahnya.

Dia melirik kebelakang dan menemukan Jong In yang terdiam, lelaki itu kelihatan resah. Tangan kananya dimasukan kedalam jaket kulit yang dia gunakan memainkan sesuatu didalam saku jaket tersebut. Dia kelihatan ingin mengatakan sesuatu tapi menahannya membuat Tae Hee khawatir.

Oppa? Kau baik-baik saja?” Tae Hee bertanya.

Jong In tidak menjawab, dia melirik kearahnya kelihatan menunggu sesuatu sampai akhirnya dia tiba-tiba saja berlutut didepan Tae Hee membuat wanita itu terkejut dan menyuruh Jong In untuk berdiri dari tanah yang diselimuti oleh salju yang tebal. Jong In menolaknya dia tidak berdiri, lelaki itu malah mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari saku jaketnya.

Tae Hee menarik nafasnya tidak percaya, airmatanya mengumpul saat dia melihat Jong In membuka kotak mungil merah tersebut. didalamnya terdapat cincin pertunangan yang sangat indah, cincin itu sangat cantik sekali lebih cantik dari semua cincin yang pernah Tae Hee lihat seumur hidupnya.

“Jeon Tae Hee aku tahu ini sangat mendadak tapi akhir-akhir ini aku berpikir keras, memikirkan hari-hari yang kita jalani selama dua tahun ini dan aku sadar akan suatu hal. Aku sadar jika aku tidak bisa hidup tanpamu, oleh karena itu maukah kau membuatku menjadi lelaki yang paling bahagia didunia ini dengan menikah denganku? Jeon Tae Hee maukah kau menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku?”

Tae Hee tidak bisa menjawab airmata sudah mengalir membasahi pipinya, dia tidak pernha menyangka Jong In akan melamarnya sekarang. Dia benar-benar terkejut dan kehabisan kata-kata sehingga dia hanya mengangguk dan mengulurkan tangannya agar Jong In bisa memasakan cincinnya dijari manis Tae Hee.

Jong In tersenyum melihat kekasihnya menangis dan akhirnya memasangkan cincin pertunangan yang dia bawa di jari manis Tae Hee setelah itu dia berdiri dan Tae Hee langsung memeluknya. Tae Hee tidak percaya ini dia akan menikahi lelaki yang dia cintai, semuanya seperti mimpi saja.

“Terimakasih Kim Jong In, terimakasih telah memilihku.” Tae Hee berkata ditengah tangisannya dan Jong In mengangguk sambil menyeka airmata calon istrinya.

“Aku beruntung bisa memilikimu.” Jong In tertawa dan mencium bibir Tae Hee.

Tidak, bukan hanya Jong In yang beruntung memiliki Tae Hee tapi mereka beruntung untuk memiliki satu sama lain. Cinta sejati hanya untuk orang yang beruntung, oleh karena itu Tae Hee dan Jong In adalah orang yang paling beruntung di dunia ini karena menemukan satu sama lain.

The End

Don’t Forget The Comment ❤

 

The End

Iklan

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s