Posted in FanFiction NC 17+

Evocative Seduction [END]

Evocative Seduction

Title:  Evocative Seduction

Author : AutumnBrezee@ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Kim Jongin/Kai [EXO]. Zhang Nari [OC], Jung Sena [OC], Wu Yifan/Kris, Zhang Yixing [EXO], Jung Eunji [Apink],Oh Sehun [EXO], Do Kyungsoo [EXO], Park Chanyeol [EXO]and other supporting cast..

Genre : Fantasy,Wolf AU! And romance

Length : Chaptered

Rating:PG 17 –NC17

5

New Company

Jongin, Eunji dan Sena sudah sampai dikerajaan dan mereka langsung disambut oleh Yifan yang sudah menunggu mereka digerbang utama istana. Sena yang melihat suaminya langsung berlari kearah Yifan yang sudah siap memakai baju perangnya bahkan beberapa jajar prajurit siap mengikutinya menuju perang.

“Dimana Sehun?” Yifan bertanya saat dia melepaskan pelukannya dari Sena.

“Dia mencoba menahan para tentara yang menyerang pedesaan.” Jongin menjelaskan.

Wajah Yifan terlihat menegang dia kelihatannya marah, dia melirik kearah jendral Kim ayah Jongin yang selalu mendampinginya. Jendral itu lalu mengangguk dan pergi menaiki kuda hitamnya berlalu untuk menyusul Sehun dan memastikan jika pasukan mereka tidak kalah. Yifan mengehela nafasnya dan mengajak Sena masuk kedalam istana begitu juga dengan Eunji dan Jongin yang mengikuti langkah Ratu dan Raja itu. Saat Jongin sampai di Istana dia langsung disambut oleh Nari yang kelihatan sangat cemas, Jongin mendekat kearah pasangannya itu lalu memeluknya.

“Aku lega sekali kalian baik-baik saja.” Ucap Nari saat dia melepaskan pelukan Jongin. “Aku dengar pedesaan kerajaan kita diserang apa itu benar?” Nari bertanya.

Jongin dengan berat hatinya menganggukan kepalanya menandakan jika apa yang Nari dengar memang benar. Melihat reaksi kekasihnya itu Nari menunduk sedih, dia tahu cepat atau lambat Chanyeol pasti akan menyerang mereka dan mereka harus bersiap-siap untuk melawan lelaki itu kapanpun. Saat Nari mengedarkan pandangannya dia tahu sosok adik lelakinya tidak ada membuat hatinya berdebar penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran, jangan bilang jika Sehun sudah pergi kemedan perang tanpa persetujuannya.

“Sehun, dimana dia?” Tanya Nari.

“Nari, dia harus memenuhi kewajibannya sebagai Pangeran.” Jongin mencoba menenangkan, dia bisa merasakan rasa takut dan kekhawatiran Nari.

“Tapi bagaimana jika dia terluka? Paman kau harus menyusul Sehun!” Nari berkata kearah Yifan dan Sena mencengkram tangan Nari memberi peringatan pada anak perempuannya jika perkataannya itu lancang.

“Nari,aku sudah mengirimkan Jendral Kim ke medan perang dan sekumpulan prajurit aku yakin mereka bisa mengatasi serangan ini.” Yifan berkata, dia tersenyum kearah Sena menandakan jika dia tidak marah atau tersinggung atas sikap Nari.

Nari melirik kearah Eunji yang kelihatan ketakutan, Nari akhirnya menghampiri wanita itu lalu melingkarkan tangannya dibahu Eunji membawa wanita itu kekamarnya agar mereka bisa lebih tenang. Jongin menganggukan kepalanya pada Nari saat wanita itu menatap kearahnya meminta ijin untuk pergi, dia tahu Eunji dan Nari pasti masih shock dengan keadaan perang ini. Tidak aneh mereka bukanlah bagian dari dunia militer seperti Sehun dan Jongin yang sudah terbiasa dengan situasi genting seperti sekarang.

“Raja Wu Yifan kau masih hidup ternyata.” Sebuah suara lelaki membuat Yifan, Jongin dan Sena terkejut sehingga mereka melirik kearah ambang pintu istana dan menemukan sesosok lelaki tampan yang berambut coklat dengan senyum yang manis menatap kearah mereka.

Yifan kelihatan terkejut melihat sosok lelaki itu sedangkan Sena hanya tersenyum, mereka berdua mengenali sosok lelaki yang ada didepan mereka sedangkan Jongin kelihatan kebingungan. Selama dia tinggal di kerajaan ini dia tidak pernah melihat sosok lelaki asing itu, namun melihat beberapa pelayan dan pengawal yang melihat dia langsung menunduk kearahnya bisa di prediksikan jika lelaki itu sangat penting. Yifan yang berdiri disamping Sena berjalan kearah lelaki itu dan memeluk lelaki itu dengan erat membuat lelaki asing itu tertawa.

“Yifan kau akan membunuhku jika kau memelukku seperti ini.” Lelaki itu mengeluh sampai akhirnya Yifan melepaskan pelukannya.

“Luhan! Aku kira kau tidak akan kembali…aku kira kau…” Yifan tidak mampu melanjutkan ucapannya namun dia senang sekali karena sahabatnya itu sudah kembali.

“Aku selamat Yifan, seorang peramal utusan Dewi bulan menyelamatkanku.” Luhan menjelaskan, dia berbalik dan sosok wanita cantik berdiri dibelakang Luhan.

Wanita itu menggunakan jubah untuk menutupi rambut coklatnya, kulit pucatnya terlihat sangat bersih membuat siapapun yang melihat pasti cemburu. Wanita itu melangkah kearah Luhan bersembunyi dibalik punggung Luhan, sepertinya dia wanita yang sangat pemalu karena dia hanya menunduk kearah Yifan dan Sena sebagai tanda penghormatan dia bahkan tidak mengenalkan dirinya. Yifan dan Sena tidak percaya hal ini, seorang peramal sudah lama tidak dilahirkan dikerajaan barat mendengar jika Luhan membawa seorang peramal membuat Raja dan Ratu itu terkejut.

“Aku tahu semua ini tidak gampang untuk dipercaya tapi Byeol benar-benar seorang peramal.” Ucap Luhan, dia melingkarkan tangannya dipundak Byeol mendorong wanita itu kedepan untuk menunjukan tanda bulan sabit yang ada di tangan kanannya.

Yifan mendekat untuk mengamati tanda itu namun Byeol tiba-tiba saja mencengkram tangan Yifan membuat raja itu terkejut. Mata Byeol berubah menjadi putih dan menyala, tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencang dan langit tiba-tiba saja menjadi mendung. Dewi bulan sepertinya sedang membuktikan jika wanita muda yang sekarang ada dihadapannya memang benar utusan dia.

“Wu Yifan, kau harus segera menghentikan perang ini sebelum korban lain berjatuhan aku tidak akan tinggal diam jika kau tidak bisa menangani perang ini.” Suara Dewi bulan terdengar dari mulut Byeol membuat Yifan terkejut.

“Dewi, maafkan aku sudah meragukan utusanmu.” Yifan langsung menunduk didepan Byeol.

Byeol hanya menatap kearah Yifan dan menyentuh kepala raja itu sebelum akhirnya keadaan kembali normal, begitupun mata Byeol. Wanita itu terkejut karena tangannya tiba-tiba saja menyentuh kepala Yifan. Byeol langsung menarik kembali tangannya dan Yifan berdiri, Raja itu kelihatan lebih berani sekarang mungkin karena kehadiran Byeol yang bisa menjadi jembatannya dengan Dewi bulan.

“Namamu Byeol apa benar?” Yifan bertanya dan Byeol mengangguk. “Aku mungkin butuh banyak bantuanmu sekarang, sebaiknya kau bersiap-siap sebelum kita menghadapi perang ini.” Yifan berkata dia berbalik menuju ruangan rapat dimana semua mentrinya sudah menunggu.

Byeol menatap kearah Luhan penuh khawatiran, ini pertamakalinya dia bertemu dengan Raja Yifan dan sialnya mereka harus bertemu dalam keadaan genting seperti ini membuat dia tidak dapat menyampaikan banyak hal yang ingin dia ucapkan. Luhan hanya mengelus bahu wanit aitu seakan menghiburnya, Luhan tahu betapa gugupnya Byeol saat Dewi bulan menyuruh mereka untuk datang ke kerajaan barat. Byeol tidak pernah tahu kehidupan disebuah kerajaan sehingga dia merasa asing dengan keadaan yang dia hadapi, dia sudah terbiasa hidup sendirian di hutan bersama para serigala lainnya yang memilih hidup sendirian dan Luhan.

“Byeol, bagaimana jika pelayanku mengantarkan kau kekamar?” Sena menawarkan dengan senyum ramahnya berharap peramal muda itu merasa lebih nyaman.

“Terimakasih Yang mulia.” Byeol menunduk hormat kearah Sena.

“Sama-sama.” Sena memanggil salah satu pelayannya dan menyuruh dia untuk mengantarkan Byeol kesebuah ruangan namun saat Luha hendak mengikuti wanita itu Sena menahannya.

“Bisakah kita berbicara sebentar?” Sena meminta, Byeol yang melihat Luhan tidak mengikutinya melirik kearah lelaki itu penuh khawatir.

“Byeol pergilah,aku akan menyusul.” Luhan berkata sambil tersenyum.

Meskipun Byeol kelihatan tidak senang dia menurut dan pergi bersama pelayan Sena menuju lantai dua istana. Sena melirik kearah Luhan lalu memberikan isyarat pada lelaki itu untuk mengikutinya, Luhan tidak tahu kemana Sena akan membawanya namun lelaki itu bisa menebak sehingga Luhan tersenyum. Sepertinya Sena belum lupa tempat rahasia mereka, padahal waktu sudah berlalu cukup lama.

Firasat Luhan benar ternyata, Sena benar-benar membawa dia kehalaman belakang istana menuju kebun bunga mawar yang biasa mereka datangi setiap kali mereka memiliki waktu luang. Luhan ingat dulu dia dan Sena sering meminum teh bersama disini, dulu Sena dan Yifan sering sekali bertengkar dan terkadang itu membuat Luhan sakit kepala. Sena dan Yifan memang cocok untuk satu sama lain tapi mereka berdua sangat keras kepala sehingga mereka sering bertengkar saat mereka memiliki pendapat yang berbeda. Sena selalu berakhir menangis padanya dan mengeluh jika dia ingin kembali ke daerah manusia daripada harus tinggal disini bersama Yifan namun Luhan-lah yang selalu mengingat Sena jika Yifan adalah pasangannya dan mereka ditakdirkan untuk bersama. Biasanya alasan itu selalu membuat Sena tenang dan tidak marah lagi,Luhan tidak menyangka setelah kepergiannya Yifan dan Sena tetap bersama namun dia senang jika ternyata sangkaan dia salah.

“Saat kau pergi aku sangat sedih, kenapa kau memilih pergi Luhan?” Suara Sena menyadarkan Luhan dari lamunannya.

“Aku rasa aku hanya ingin menemukan pasanganku juga.” Luhan berkata.

“Pasanganmu? Apakah Byeol pasanganmu?” Mata Sena melebar mengingat Byeol mengikuti Luhan seperti anak anjing yang lucu.

“Sayangnya bukan, tapi aku cukup optimis untuk menemukan pasanganku.” Luhan menjawab dengan senyum lebarnya, Sena terkadang merindukan senyuman itu mengingat Luhan adalah salah satu terman terdekatnya semenjak dia sampai di daerah serigala.

“Aku harap kau menemukan pasanganmu secepatnya, kau layak mendapatkannya Luhan.” Sena menyentuh tangan Luhan dan Luhan mengangguk menyentuh tangan wanita itu juga.

“Kau jahat sekali, tiba-tiba saja pergi meninggalkan aku dan Yifan.” Sena melanjutkan membuat Luhan tertawa melihat Sena merajuk seperti anak kecil.

“Maaf, aku tahu apa yang aku lakukan tidak baik.” Luhan menyentuh pipi Sena dan Sena tersenyum kearah teman lamanya itu.

*****

Sehun dan pasukannya Yifan sudah berhasil mengusir para tentara manusia yang tersisa setelah mereka berperang habis-habisan, pedesaan sekarang hancur total karena bom dari tank tentara manusia. Beberapa prajurit Yifan juga sudah terlihat lelah dan terluka parah, mereka beruntung karena tentara manusia yang datang tidak terlalu banyak sehingga mereka tidak kewalahan. Sehun merubah wujudnya menjadi manusia saat tentara manusia mundur menuju perkemahan mereka, Sehun tahu tempat persembunyian mereka tidak jauh dari pedesaan. Aroma besi, perak dan berbagai bahan peledak bisa Sehun cium dan itu membuat dia merasa was-was, dia tahu tentara manusia pasti sedang menyiapkan sesuatu. Mereka tidak mungkin mundur begitu saja sehingga dia dan rakyatnya harus siap saat tentara manusia menyerang dia lagi.

Sehun berjalan kearah pasukan ayahnya yang masih berdiri gagah meskipun mereka terluka parah, Sehun sendiri terluka cukup parah. Sehun menyentuh bahu komandan pasukan ayahnya, dia tidak terllau ingat siapa nama komandan itu namun wajahnya cukup familiar bagi Sehun. Setelah dia memeriksa pasukan ayahnya dia cukup puas karena pasukan ayahnya masih utuh meskipun sebagian dari mereka terluka parah dan tidak mampu berjalan sehingga prajurit lain membantunya. Sehun cukup terkejut saat dia melihat sosok ayah Jongin menunggang kudanya, baju besinya terlihat ternodai itu tandanya tadi dia membantu Sehun untuk melawan para tentara manusia.

“Jendral Kim!” Sehun memanggil dan lelaki paruh baya itu langsung turun dari kudanya menyambut kedatangan Sehun dengan membungkukan tubuhnya penuh hormat.

“Yang mulia.” Jendral Kim menyambut.

“Sejak kapan kau datang kesini? Bagaimana dengan Jongin?” tanya Sehun penasaran dengan keadaan sahabatnya.

“Yang mulia, anakku baik-baik saja begitu juga dengan Yang mulia Ratu Sena dan Nona Eunji.” Jendral Kim menjawab, mendengar kabar itu Sehun menghela nafasnya lega.

“Syukurlah jika mereka baik-baik saja.” Sehun berkata. “Jendral Kim,aku akan kembali ke Istana, bisakah kau menjaga keadaan disini sampai aku kembali? Aku ingin menyampaikan sesuatu pada ayahku.” Sehun meminta dan Jendral Kim menganguk menyetujui permintaan Sehun.

Sehun akhirnya menaiki kuda yang Jendral Kim bawa dan pergi menuju Istana, selama perjalanan dia bisa melihat banyak sekali korban dari perang kali ini. Dia bisa melihat jajaran rakyatnya yang terluka sebagian anak kecil yang tidak berdosapun ikut terluka, mereka menangis dan meronta karena tubuh mereka terluka parah. Melihat pemandangan itu benar-benar mengiris hati Sehun, Sehun hanya berharap jika perang ini akan berakhir dengan cepat. Dia tidak ingin rakyatnya yang tidak berdosa menjadi korban peperangan lagi, melihat penderitaan mereka sekarang sudah cukup membuat Sehun marah dan sedih.

Perjalanan menuju Istana tidak memakan waktu yang lama, dia sudah sampai didepan Istana saat seorang pengawal mengumumkan kedatangannya. Sehun turun dari kuda Jendral Kim dan berjalan kedalam Istana, dia langsung disambut oleh ibunya yang mungkin mendengar pengawal yang mengumumkan kedatangannya. Ibunya terlihat sangat khawatir sekali dan langsung datang memeluknya, Sehun tersenyum dan memeluk kembali ibunya dengan erat. Dia bersyukur jiak dia masih bisa melihat sosok ibunya itu. Sena kelihatan sedih saat dia melihat berbagai luka kecil menodai kulit putih anaknya, dia mengusapnya beberapa kali namun luka itu tidak hilang, Sena tahu luka itu tidak hilang karena luka itu disebabkan oleh senjata berbahan perak.

“Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka parah?” Sena bertanya.

Jika Sehun menjawab jujur, tubuhnya terasa remuk dan setiap otot ditubuhnya terasa sakit karena dia sudah melawan banyak tentara. Apalagi mereka sekarang menggunakan senjata mereka dari perak, Sehun bisa merasakan kulit tangan dan kakinya perih luar biasa karena luka dari senjata perak namun dia cukup kuat untuk memaksakan senyumannya dan mengangguk.

“Iya ma, aku baik-baik saja.” Sehun menjawab pertanyaan ibunya sambi menahan rasa sakitnya.

“Sena kau tahu anakmu itu berbohong.” Suara Luhan terdengar dari belakang Sena membuat Sehun kebingungan, dia tidak mengenal lelaki asing itu.

“Sehun, kenalkan dia teman lama ayahmu dia Xi Luhan.” Sena mengenalkan Luhan, Luhan tersenyum kearah Sehun lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Sehun menjabat tangan Luhan namun matanya tidak meninggalkan sosok Luhan. Entah kenapa sosok lelaki itu tidak asing bagi Sehun, seakan dia pernah melihat wajah lelaki itu. Luhan menarik tangannya terlebih dahulu padahal Sehun masih melamun, mungkin sedang berpikir dimana dia melihat sosok Luhan. Apalagi sepasang mata coklat Luhan terasa sangat familiar, dia cukup yakin jika dia pernah melihat sepasang mata coklat itu.

“Kau mungkin mengingatku karena aku menolongmu tadi saat di desa.” Luhan berkata dan sekarang Sehun mengerti kenapa sosok Luhan terasa familiar.

“Oh jadi itu kau..” Sehun bergumam.

“Sena anak ini benar-benar mirip dengan Yifan.” Luhan berkata lalu melingkarkan tangannya dibahu Sena, melihat itu entah kenapa Sehun merasa cemburu. Tidak boleh ada lelaki yang sedekat itu pada ibunya kecuali ayahnya dan tentu saja dia sehingga Sehun menatap tajam kearah Luhan seakan Luhan adalah sebuah ancaman.

“Dari ujung kaki sampai ujung rambut.” Sena menjawab, dia mengelus pipi Sehun menenangkan anak lelakinya, Sehun dan Yifan memang mirip bahkan cara mereka cemburupun sama.

“SEHUN!” Sebuah suara terdengar, Sehun tersenyum saat dia melihat sosok Eunji yang sudah berdiri diujung tangga.

Wanita itu langsung berlari kearah Sehun dan memeluk pasangannya dengan erat, dia bahkan lupa jika Sehun terluka parah membuat lelaki itu mengerang karena pelukan Eunji terlalu erat. Eunji langsung melepaskan pelukannya baru sadar jika pasangannya itu terluka, dia bisa merasakannya rasa sakit yang Sehun rasakan membuat dia sedikit terkejut. Apakah itu artinya mereka sudah punya ikatan? Eunji mengerutkan keningnya penuh kekhawatiran. Sehun menyentuh pipi Eunji dan tersenyum seakan mengatakan jika semua baik-baik saja namun Eunji tetap saja khawatir.

“Ayo, aku akan membersihkan lukamu mungkin tidak semuanya karena aku bukan Dokter.” Eunji berkata.

Luhan dan Sena yang ada dibelakang Sehun hanya tersenyum, Luhan tahu jika Sehun dan Eunji pasangan dia bisa menebak itu dari cara Eunji memperlakukan Sehun. Mereka tidak malu untuk menunjukan kasih sayang mereka didepan semua orang, Luhan terkadang iri dia juga ingin memiliki pasangan yang menyayanginya seperti Sehun. Namun saat dia berpikir tentang hal itu Byeol muncul dibenaknya, dia ingat wanita itu selalu mengkhawatirkannya setiap kali dia keluar untuk berburu makanan di hutan.

*****

“Lapor Jendral! Kami sudah menyelesaikan misi untuk menghancurkan desa kerajaan barat.” Seorang komandan melaporkan saat Chanyeol dan prajurit lain sedang membicarakan strategi perang.

“Bagus komandan Lee, berapa banyak tentara yang gugur?” Chanyeol bertanya.

“Maaf Jendral, pasukan kami hanya tersisa sepuluh orang.” Komandan Lee melaporkan, tubuh komandan itu menegang karena dia tahu Chanyeol pasti tidak senang dengan laporan yang dia berikan.

Chanyeol tidak mengatakan apapun, dia berjalan kearah komandan pasukannya dan menatap kearah komandan itu dengan tajam. Dia tidak meyangka jika pasukannya yang sudah dia bekali dengan senjata dan tank tidak dapat menang melawan sekumpulan serigala, Chanyeol menarik kerah baju komandan itu membuat komandan itu terkejut. Dia ingin sekali memukul komandan Lee karena sudah ceroboh, seharusnya dia mendampingi komandan itu sehingga dia tidak kehilangan banyak pasukan apalagi jumlah pasukannya sangat terbatas sekarang. Dia harus menyerang di waktu dan tempat yang efektif. Dia tidak boleh membuat Joonmyeon curiga dengan serangan-serangan yang dia lakukan.

Apalagi Menteri keamanan negara Choi Minho kelihatannya mengawasi dia bagaikan burung elang, dia tahu salah satu komandannya diperintah untuk melapor pada Mentri itu. Chanyeol melepaskan cengkraman tangannya dari kerah komandan Lee membuat lelaki itu sedikit lega. Namun Chanyeol tidak berhenti melotot kearah komadan itu, dia benar-benar kecewa atas hasil kerja komandan Lee.

“Lainkali jangan ceroboh, para serigala lebih kuat dari yang kita kira.” Chanyeol berkata lalu dia memberikan isyarat pada komadan Lee untuk keluar.

“Siap Jendral!” Komandan Lee menurut dan mengangkat tangan kanannya dalam gesture hormat pada Chanyeol.

Chanyeol membalas gesture itu lalu kembali kemeja strateginya. Dia harus memikirkan strategi yang lebih rapi jika dia ingin berhasil menguasai kerajaan barat, dia harus melumpuhkan kerajaan ini untuk membalaskan dendamnya. Api amarah sudah bergjolak dalam benaknya, dia tidak sabar untuk menghancurkan musuh bebuyutannya selama ini. Dia masih ingat laporan kematian orangtuanya, dia masih ingat alasan utama kenapa kedua orangtuanya meninggal. Chanyeol masih ingat nama yang menyebabkan orangtuanya meninggal, Wu Yifan… nama itu tidak akan pernah hilang dari memorinya.

“Jendral, apa yang akan kita lakukan?” salah satu komandan prajurit Chanyeol bertanya.

“Aku tidak akan membuang waktu, kirimkan surat pada kerajaan barat untuk mengembalikan Dokter Do dan Dokter Zhang kita tidak punya waktu banyak.” Chanyeol memerintah.

*****

Pengawal kerajaan Yifan cukup terkejut saat mereka melihat tiga orang tentara manusia berjalan menuju Istana mereka, tentara itu kelihatan tidak bersenjata karena mereka langsung mengangkat tangan mereka menunjukan jika mereka tidak berniat untuk menyerang. Salah satu prajurit kerajaan memeriksa tubuh ketiga tentara itu, tentara manusia itu ternyata hanya ingin menyampaikan sebuah surat yang ditandatangi oleh Jendral Park Chanyeol. Melihat surat itu prajurit kerajaan menyuruh rekannya untuk menyampaikan berita ini pada Raja mereka.

Taklama menunggu berita tentang tiga prajurit manusia yang datang kedepan kerajaannya dengan membawa surat sampai ditelinga Yifan, semua mentri yang masih berdebat dengan Yifan mendengar itu dan seketika wajah mereka kelihatan tegang. Apakah Chanyeol akhirnya memutuskan untuk mengumumkan perang secara terang-terangan? Yifan segera menyuruh prajurit kerajaannya untuk membawa tiga tentara manusia yang datang ke Kerajaannya. Beberapa menit kemudian tiga sosok tentara manusia yang menggunakan seragam militer mereka masuk keruangan singgasana Yifan, kepala menunduk tidak berani untuk menatap kearah Yifan.

“Yang mulia, kami hanya diperintahkan untuk menyampaikan surat ini pada Anda.” Salah satu tentara yang berdiri ditengah menyodorkan surat yang dia bawa pada Yifan.

Yifan mengambil surat itu dan membukanya, tulisan Chanyeol sedikit familiar bagi Yifan. Dia ingat jika dulu Chanyeol juga pernah mengirimkan surat padanya, sebelum seluruh keluarganya dibantai oleh Jendral itu. Yifan membaca isi surat Chanyeol dan emosinya langsung naik, dia bahkan meremas surat itu. Melihat reaksi Yifan seluruh mentri yang ada diruangan singgasana semakin khawatir, mereka bisa menebak jika perang tidak dapat di hindari sekarang.

“Katakan pada Jendral kalian, jika dia ingin mengambil Dokter Zhang langkahi dulu mayatku.” Yifan berkata dengan suara rendahnya, mata merahnya menyala membuat ketiga tentara itu gemetar ketakutan.

“B-baik Yang mulia.” Ketiga tentara itu menjawab.

“Kalian boleh pergi, tapi lainkali kita bertemu aku tidak akan menjamin keselamatan kalian.” Yifan mengacam.

Ketiga tentara itu menunduk hormat kearah Yifan lalu pergi mengikuti petunjuk prajurit Yifan yang sudah menunggu diambang pintu. Yifan kembali duduk disinggasananya dan melirik kearah Jendral Kim yang duduk tidak jauh darinya. Dia bisa menyiapkan pasukannya sekarang karena dia yakin masalah ini pasti akan berakhir dengan perang, tidak akan ada solusi politik seperti apa yang para mentri Yifan inginkan. Sekali lagi rakyatnya akan menghadapi horrornya peperangan dan Yifan sangat gugup namun optimis, mereka pernah selamat menghadapi peperangan lalu kenapa sekarang tidak? apalagi sekarang seorang peramal ada disampingnya membuat dia bisa berkonsultasi dengan Dewi bulan lebih muda.

Yifan membubarkan rapatnya untuk hari ini meskipun beberapa mentri protes, mereka belum sempat membahas apa yang Chanyeol sampaikan lewat surat yang tadi Yifan terima namun Yifan memilih untuk membahasnya hari ini. Mau tidak mau seluruh Mentri keluar dari ruangan singgasana Yifan kecuali Jendral Kim yang kelihatannya diam karena dia ingin menyampaikan sesuatu pada Yifan. Setelah semua orang keluar Jendral Kim berdiri didepan Yifan membuat Raja itu menatap kearah Jendral Kim.

“Yang mulia, Anda sebaiknya mengambil keputusan dengan hati-hati kejadian dua puluh tahun yang lalu kembali terulang. Dua puluh tahun yang lalu kita kehilangan ayah Anda Yang mulia, kali ini kita tidak tahu apa yang akan hilang dari genggaman kita.” Jendral Kim mengingatkan.

“Aku tahu Jendral Kim, aku akan membicarakanya dengan keluargaku.” Yifan menjawab dan pergi meninggalkan Jendral Kim.

Langkah kakinya tidak pernah terasa seberat ini bagi Yifan, menyampaikan berita jika Chanyeol menyerang desanya hanya karena dia ingin Nari kembali membuat Yifan resah. Nari memiliki hati yang lembut sama seperti ibunya, dia pasti akan merasa sangat bersalah jika dia tahu ratusan nyawa menghilang hanya karena dia memutuskan untuk datang menemui ibunya. Yifan membuka pintu menuju halaman belakang kerajaan, dia bisa melihat istri dan kedua anaknya sedang mengobrol dengan akrab ditambah dengan Luhan dan Byeol yang mendengarkan cerita Sena dia juga bisa melihat Eunji dan Jongin diduduk disamping pasangan mereka masing-masing tersenyum mendengar percakapan Sehun dan Sena.

Yifan tersenyum, ini pertamakalinya dia merasa lengkap. Selama ini dia selalu merasa kosong meskipun Sena dan Sehun selalu ada di Istana mereka selalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, melihat orang-orang terdekatnya berkumpul seperti ini membuat dia sangat senang. Dia merasa seperti berada di rumahnya, untuk pertamakalinya Istana besar ini terasa hangat bagi Yifan dan dia ingin mempertahankannya. Dia ingin membuat banyak memori indah bersama Sena, Sehun dan juga Nari dia ingin membuat kenangan baru bersama Luhan sahabatnya yang sudah lama tidak dia temui.

“Oh Yifan! Sejak kapan kau berdiri disana?” kehadirannya akhirnya disadari oleh Sena.

Sehun dan Nari melirik kearahnya dengan senyuman yang tulus membuat Yifan merasa sangat berat untuk menyampaikan berita buruk yang dia bawa. Yifan akhirnya tersenyum dan bertingkah normal seakan semuanya baik-baik saja, dia duduk disamping Sena dan mencium pipi istrinya membuat Sehun dan Nari mengerang.

“Pa! Semua orang melihat.” Sehun mengeluh dia menutupi mata Eunji dengan tangan kanannya membuat wanita mengerang kesal sedangkan Luhan dan Byeol hanya tersenyum meskipun pipi pucat Byeol kelihatan sedikit memerah malu melihat kemesraan Yifan dan Sena.

Yifan hanya tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Sehun, meskipun Sehun kelihatan kesal dengan perlakuan itu namun pangeran muda itu akhirnya tersenyum, sudah lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Yifan merasa takut saat dia ingat ancaman Chanyeol, dia takut jika dia tidak dapat menghabiskan waktunya lagi bersama keluarganya. Ini mungkin kesempatan terakhir bagi Yifan untuk bisa melihat senyuman lepas istrinya dan kedua anaknya, meskipun Nari bukan anak kandungnya Yifan sudah menganggap wanita itu sebagian dari kelurganya dia tidak akan pernah melepaskan Nari begitu saja. Apalagi saat dia melihat betapa bahagianya Nari saat dia berinteraksi dengan Sehun dan Sena, untuk sesaat hal itu memberikan ilusi jika dia selalu ada disini tumbuh bersama Sehun.

Luhan dan Byeol sedang menceritakan kehidupan mereka di hutan, dan Sehun juga Nari menyimak dengan penuh semangat. Mereka kelihatannya menikmati cerita Luhan yang sebenarnya sangat membosankan bagi Yifan, dia senang jika dia bisa mendengar kembali suara Luhan. Dia hanya menyandarkan kelapanya pada pundak Sena lelah, semua diskusi dan rapat yang dia lakukan sangat serius membuat dia kelelahan dan stress. Sena memegang tangannya lalu mengelusnya, Yifan merasa sedikit lega dengan sentuhan Sena, dia benar-benar membutuhkan pasangannya itu sekarang.

“Apa kau ingin istirahat? Kau belum tidur semalaman.” Sena bertanya pada Yifan dan Raja itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, aku hanya butuh udara segar.” Yifan berbohong, padahal dia merasa sangat lelah namun dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarganya.

*****

“Berapa kau akan berada disana Jendral Park?” Joonmyeon bertanya, dia mentri-mentri lain sudah merasa cemas.

“Presiden Kim, kami sudah mencoba membebaskan Dokter Zhang, namun tentara kami pulang dengan ancaman dari raja Wu Yifan.” Chanyeol menjelaskan.

Dia bisa melihat wajah Joonmyeon lewat layar monitor yang ada didepannya semakin resah, dia hanya harus mendorong Joonmyeon agar Presiden itu mengirimkan bantuan tentara sehingga dia bisa menyerang kerajaan Yifan. Menteri-mentri yang ada disamping Joonmyeon kelihatan sama resahnya, apalagi berita tentang hilangnya Dokter Do dan Nari sudah menyebar keseluruh penjuru daerah manusia. Sepasang suami Istri yang mengaku sebagai wali dari Nari bahkan muncul di televisi meminta bantuan Presiden dan  militer untuk mengembalikan anak perempuan dan keponakan mereka. Melihat itu tentu saja publik mendorong Joonmyeon untuk segera bertindak, semua Mentri yang ada diruangan rapat berbisik kearah rekan mereka mungkin mendiskusikan solusi yang tepat.

“Apakah kau sudah mencoba untuk menawarkan perdamaian politik?” Joonmyeon bertanya dan Chanyeol mengangguk berbohong.

“Kami sudah melakukan segala hal untuk mampu mencapai kesepakatan namun Raja Wu Yifan menolak tawaran yang kami berikan.” Chanyeol menjawab dengan lancar, dia sudah yakin sekarang jika Joonmyeon akan menuruti keinginannya.

“Presiden Kim, satu-satunya solusi sekarang hanyalah menyerang dan menyelamatkan Dokter Do dan Dokter Zhang dengan paksa.” Salah satu Mentri berkata.

“Apa kau gila?! Kita sudah berperang dengan bangsa serigala bertahun-tahun lamanya dan kita masih kalah, kita tidak bisa kehilangan lebih banyak tentara.” Mentri yang lain berargumen.

Beberapa Mentri kelihatan mengungkapkan pendapat mereka masing-masing, Chanyeol bisa memprediksikan jika Presiden Kim Joonmyeon sedang dalam tekanan yang sangat besar sekarang. Dia kelihatannya sedang mempertimbangkan segala opini dari mentrinya, Presiden itu terdiam sesaat sampai akhirnya dia menatap lurus kearah Chanyeol seakan dia menempatkan kepercayaannya pada Jendral muda itu. Chanyeol berdiri dengan tegak, setidaknya dia harus terlihat meyakinkan untuk Presiden Kim Joonmyeon agar dia mempercayai apapun yang akan dia usulkan.

“Jendral Park, bagaimana menurutmu? Solusi apa yang terbaik untuk masalah ini?” Tanya Joonmyeon.

“Maaf Presiden Kim, tapi perdamaian politik bukanlah solusi yang efektif.” Chanyeol menjawab.

Joonmyeon kelihatan ragu saat dia mendengar jawaban Chanyeol, dia mengusap wajahnya cemas. Tentu saja Joonmyeon pasti cemas, dia akan mengorbankan banyak tentara jika dia menyuruh Chanyeol untuk menyerang. Joonmyeon tahu sebagian mentri nya tidak setuju dengan usul Chanyeol bagaimanapun mereka tahu jika bangsa serigala bukanlah bangsa yang gampang untuk dikalahkan hal itu dibuktikan dengan kekalahan mereka dalam peperangan beberapa tahun ini. Manusia mungkin memiliki senjata yang terbuat dari perak yang mampu melukai mereka tetapi bangsa serigala lebih kuat dan gesit dari mereka. Apalagi mereka mampu sembuh dengan cepat, dilihat dari sisi apapun bangsa serigala bisa membunuh manusia lebih mudah.

Resiko yang akan diambil oleh Joonmyeon cukup besar namun dia tidak mampu menemukan solusi lain selain usulan Chanyeol. Mungkin untuk kali ini dia harus percaya pada Jendral itu, lagipula Chanyeol bukanlah Jendral yang ceroboh dia adalah pribadi yang tegas dan cerdas itulah kenapa dia dipilih sebagai Jendral walaupun dia masih cukup muda. Joonmyeon harap keputusan yang akan dia ambil sekarang adalah keputusan yang tepat.

“Baiklah, kami akan mengirimkan bantuan menuju kemah kalian.” Joonmyeon mengambil keputusan.

“Saya menghargai keputusan anda Presiden Kim.” Chanyeol menunduk hormat lalu dia mengakhiri panggilan videonya.

“Komandan!” Chanyeol memanggil komandan Lee yang berdiri tidak jauh darinya sehingga lelaki muda itu berdiri didepannya.

“Ya Jendral.”

“Siapkan pasukanmu, kita akan menyerang.” Chanyeol menyuruh.

*****

Byeol membuka matanya, dia terkejut dengan suara longlongan serigala yang cukup keras membuat dia terbangun dari tidurnya. Byeol bangun dari posisi terlentangnya dan tangannya bisa merasakan tekstur kasar tanah yang ada dibawahnya, Byeol mengerutkan keningnya kebingungan. Bagaimana bisa dia berakhir tidur disini? Seingat dia tadi malam dia berbaring diranjang empuk istana. Byeol sedikit kebingungan namun dia merasa lega karena ternyata dia terbangun di daerah danau suci yang dia kenali akhirnya Byeol berdiri dan berjalan menuju cahaya yang dia lihat berasal dari danau. Suara longlongan serigala kembali terdengar membuat Byeol kebingungan, tidak bisanya para serigala melonglong di daerah danau suci setelah dia sudah cukup dekat dengan cahaya yang dia lihat dia terkejut.

Seluruh pohon terbakar dihutan dan banyak sekali hewan-hewan yang berlarian menyelamatkan diri mereka dari api namun sebagian banyak dari mereka ada yang tergelak karena meninggal atau terluka. Byeol tidak bisa bernafas untuk sesaat menatap horror kearah pemandangan yang dia lihat. Byeol akhirnya memberanikan diri untuk mendekat kearah api namun tiba-tiba saja seekor serigala datang menghalangi langkahnya.Serigala itu tidak asing bagi Byeol, dia mengenali bulu serigala itu jika bukan Luhan siapa lagi serigala yang ada didepannya. Suara tembakan dan aroma bubuk mesiu bisa terdengar, Luhan menggeram kearah Byeol seakan mencegah Byeol untuk mendekat kearah para binatang yang terluka.

“Luhan aku harus menyelamatkan para binatang.” Byeol menjelaskan namun Luhan tetap bersikeras agar Byeol tidak pergi menuju binatang-binatang yang sekarang sekarat.

Suara tembakan terdengar lagi kali ini bahkan dengan jeritan seseorang membuat Byeol gemetar ketakutan. Sesosok lelaki tiba-tiba saja muncul dari balik pepohon yang setengah terbakar, lelaki itu memiliki rambut hitam dengan perawakan tubuh yang tinggi membawa sebuah pistol ditangannya. Lelaki itu menggunakan seragam militer tentara manusia dengan mantel militernya yang panjang, lelaki itu menyeringai jahat kearah Byeol dan Luhan berbalik kearah lelaki itu menggeram ganas memberikan peringatan agar dia tidak mendekat. Lelaki itu mengabaikan peringatan Luhan, dia malah membidikan pistolnya kearah Byeol.

Melihat niat lelaki itu Luhan berlari kearah lelaki asing itu mencoba menerkamnya, Byeol tidak mampu melihat adegan yang ada didepannya karena dia takut sehingga dia menutup matanya. Suara tembakan kembali terdengar kali ini aroma bubuk mesiu bercampur dengan darah tercium oleh indra penciuman Byeol yang tajam, seluruh tubuhnya membeku saat dia mengenali aroma darah yang dia cium sekarang. Byeol membuka matanya dan dia bisa melihat tubuh serigala Luhan tergeletak kaku ditanah dengan darah yang keluar bercucuruan dari perutnya.

“TIDAKKKK!” Byeol menjerit.

Suara pintu dibuka terdengar dan dia bisa melihat sosok Luhan diambang pintunya, Luhan kelihatan khawatir dan segera mendekat kearah Byeol. Byeol langsung memeluk lelaki itu merasa lega jika Luhan baik-baik saja, dia bisa merasakan tangan Luhan mengelus punggungnya mencoba menenangkan dirinya. Airmata mengalir membasahi pipi Byeol, dia takut jika apa yang dia mimpikan sebenarnya bukan mimpi tapi bayangan masa depan seperti yang biasa dia dapatkan dari Dewi bulan. Setelah sering mendapatkan bayangan masa depan dari dewi bulan terkadang Byeol tidak bisa membedakan mana mimpinya dan mana bayangan masa depan yang diberikan oleh Dewi bulan membuat wanita itu semakin ketakutan.

“Byeol ada apa? kenapa kau berteriak?” Tanya Luhan setelah dia melepaskan pelukannya.

“Luhan, aku..aku melihat kau..berdarah.” Byeol mencoba menjelaskan namun dia terlalu panik untuk menjelaskan apa yang dia lihat.

Melihat betapa ketakutan dan paniknya Byeol membuat Luhan khawatir, dia menyentuh tangan Byeol yang gemetaran sampai akhirnya dia mendengar suara bel yang cukup keras. Mendengar itu Luhan keluar dari kamar Byeol, dia melihat Yifan dan Sena keluar dari kamar mereka dan berlari kebawah. Byeol tidak mengerti apa yang terjadi namun dia bisa melihat ekspressi takut dan terkejut terpampang di wajah Luhan, apakah yang dia mimpikan tadi benar? Byeol segera menyentuh tangan Luhan dengan erat dan lelaki itu menarik Byeol keluar dari kamarnya.

Saat mereka berlari menuju pintu belakang kerajaan dia bertemu dengan Sehun yang kelihatan sudah siap untuk berperang, bahkan lelaki itu sudah membawa pedangnya. Luhan mengangguk kearah Sehun memberi semangat pada lelaki muda itu, dia tahu cepat atau lambat pasukan tentara manusia pasti akan menyerang mereka. Byeol yang tidak mengerti sekarang mulai mengetahui apa yang terjadi saat dia melihat jajaran pengawal kerajaan berlari sambil memegang erat senjata mereka, melihat itu Byeol langsung panik.

“Kita harus pergi dari sini Luhan.” Ucap Byeol saat mereka sampai dihalaman belakang kerajaan.

“Aku tidak bisa pergi bersamamu Byeol,aku harus membantu Yifan dan Sena.” Luhan menjawab dan itu membuat Byeol marah.

“Tidak! aku tidak bisa pergi meninggalkanmu.” Byeol menolak.

“Byeol! Kau bukan anak kecil lagi, aku mohon..pergilah cari tempat yang aman mereka pasti akan mencarimu karena kau satu-satunya koneksi langsung pada Dewi bulan.”

Byeol tidak bisa menjawab itu, alasan Luhan benar-benar masuk akal. Dia bukan anak kecil lagi, dia harus membuktikan itu pada Luhan walaupun berat dia akhirnya mengangguk. Luhan tersenyum melihat  respon itu. Luhan mengelus pipi Byeol untuk terakhir kali dan Byeol memegang tangan lelaki itu sampai akhirnya dia terpaksa untuk melepaskan tangan hangat Luhan karena dia harus pergi. Byeol menahan airmatanya, dia langsung berbalik berlari mencari pintu belakang istana saat dia sedang berlari tiba-tiba saja seseorang menabraknya membuat Byeol terkejut. Orang yang menabrak Byeol meminta maaf dan Byeol menghela nafas lega karena ternyata yang menabraknya tidak lain adalah Nari. Wanita itu sepertinya diperintahkan untuk kabur juga sama sepertinya, perbedaanya dia bisa melihat Jongin dan Eunji berdiri dibelakangnya.

“Byeol! Kau baik-baik saja?” Nari bertanya, dia membantu Byeol untuk berdiri.

“Ya, apa kalian akan mencari tempat aman juga?” tanya Byeol.

Nari hanya mengangguk, kelihatanya wanita itu tidak senang juga dengan perintahnya apalagi Eunji. Wanita itu kelihatan kesal namun ekspressi sedih dan khawatir lebih terlihat di wajahnya, mungkin dia juga khawatir pada Sehun.

“Sebaiknya kita keluar dari istana secepat mungkin.” Jongin memotong pembicaraan mereka.

Lelaki itu menuntun mereka menuju pintu belakang istana, halaman belakang istana masih sepi sehingga mereka bisa mendengar langkah kaki mereka. Halaman belakang istana kebetulan dekat dengan kandang kuda, Jongin langsung melepaskan dua kuda karena Nari dan Eunji tidak bisa mengendarai kuda sehingga Jongin dan Nari menaiki kuda yang sama dan Byeol menaiki kudanya bersama Eunji. Mereka tidak menghabiskan banyak waktu dan langsung pergi meninggalkan istana, saat mereka sudah cukup jauh dari istana menuju pedesaan mereka bis amelihat sebagian pedesaan hancur terbakar dan beberpa mayat tergeletak ditanah tak bernyawa.

Melihat itu Nari menunduk sedih, semua ini karena dirinya. Dia tahu Chanyeol pasti mencarinya dan berusaha untuk membawa dia kembali ke daerah manusia. Nari tidak bodoh, dia bisa memprediksikan apa yang terjadi disekitarnya dia hanya tidak membicarakannya dengan orang lain. Dia terlalu takut dan ragu, dia tahu Yifan dan ibunya pasti akan membelanya sampai titik akhir begitu juga dengan Jongin kekasihnya namun melihat kehancuran ini membuat Nari merasa sangat bersalah. Mungkin keputusannya untuk menemui ibunya salah, mungkin semua ini salahnya dan itu membuat Nari takut.

Saat kuda mereka sudah melewati pedesaan sekarang mereka sampai dihutan, mereka pergi menuju danau suci dimana Dewi bulan siap untuk melindungi mereka. Perjalanan mereka cukup panjang namun saat mereka sampai disana mereka terkejut melihat pemandangan yang ada didepan mereka. Pepohonan disekitar danau suci terbakar, api menyala melahap segala hal yang ada disekitar danau itu bahkan air danau itu tidak jernih lagi seperti biasanya. Bayangan bulan yang biasanya terlihat dari air danau itu hilang, seseorang mengotori air danau suci membuat Jongin marah.

“Sepertinya prediksiku benar.” Suara seorang lelaki terdengar membuat mereka melirik kearah sumber suara itu.

“Jendral Park.” Nari berbisik membuat Jongin semakin waspada pada sosok lelaki yang ada disamping mereka.

“Dokter Zhang, aku senang mengetahui jika kau masih hidup.” Chanyeol berkata, dia menyeringai licik.

“Jendral Park, aku mohon hentikan semua kegilaan ini.” Nari turun dari kuda hendak mendekat kearah Jendral itu namun Jongin mengentikan langkah kekasihnya.

“Maaf Dokter Zhang, selama kau tidak setuju untuk pulang aku akan melakukan apapun agar membuatmu dan Kyungsoo pulang.” Chanyeol berkata.

Nari mengepalkan tangannya, tentu saja Chanyeol akan melakukan itu. Dia bukanlah orang yang bisa diajak bernegosiasi, dia belajar itu dari Kyungsoo. Jika Kyungsoo ada disini mungkin dokter itu bisa membantunya, Nari menunduk sedih mengingat kepergian Kyungsoo beberapa minggu yang lalu. Meskipun mereka sempat mengubur Kyungsoo, Nari tidak pernah mengunjungi makam dokter itu karena dia tahu dia akan menangis kembali.

“Dokter Do, tidak akan pulang…dia sudah meninggal.” Nari menjawab dan dia bisa melihat mata Chanyeol melebar.

“Apa? Jangan bercanda Dokter Zhang.” Chanyeol menjawab, Nari menatap lurus kearah lelaki itu menandakan dia tidak bercanda sama sekali.

“Dia tertembak, kami mencoba menyelamatkannya namun dia tidak selamat.” Nari menjelaskan, mengingat kembali detik-detik terakhir bersama Kyungsoo membuat dia ingin menangis namun dia menahannya.

“Kau seorang Dokter, bagaimana kau bisa membiarkan Kyungsoo mati!” Chanyeol membentak marah. “Oh tunggu, apakah para bangsa serigala sengaja membiarkan dia mati? Apa kau bersekongkol untuk membunuh Kyungsoo karena dia tidak mengikuti rencanamu?!” Chanyeol menuduh.

“Hey Jaga mulutmu! Kami berusaha menyelamatkan Kyungsoo.” Jongin membela namun Chanyeol hanya mendengus jijik.

“Oh ya?! Jika kalian mencoba menyelamatkannya dia tidak akan mati! Kalian semua hanya mahluk ganas yang tidak berperasaan.” Chanyeol marah, dia mengeluarkan pistolnya dan membidik kearah Nari.

“Maaf Dokter Zhang, jika Kyungsoo tidak kembali kau juga.” Ucap Chanyeol, dia menarik pelatuk pistolnya dan sebuah peluru dia tembakan kearah Nari.

Jongin yang melihat itu langsung mendorong Nari kesamping sehingga wanita itu jauh dari peluru yang ditembakan oleh Chanyeol, peluru yang dia tembakan oleh Chanyeol sukses menembus pundak bagian kanan Jongin sehingga lelaki itu mengerang kesakitan. Nari yang melihat itu segera mendekat kearah Jongin. Byeol turun dari kudanya dan menggunakan kekuatan telepatinya itu menjauhkan Chanyeol dari Jongin sehingga Jendral muda itu terbanting kearah sebuah pohon sampai akhirnya terbaring ditanah.

“Jongin!” Nari mendekat kearah Jongin untuk melihat luka tembak Jongin dan Byeol berdiri didepan mereka berdua untuk melindungi mereka dari Chanyeol.

“Kau tidak bisa melukai mereka sebelum melewati mayatku!” Byeol marah, dia membuat sebuah penghalang dengan ilmu sihirnya sehingga Jongin dan Nari terlindungi.

“Kau pikir kau bisa mengalahkanku begitu saja?” Chanyeol tertawa pahit, dia menyeka bibirnya yang berdarah lalu menatap kearah Byeol.

Saat mata mereka bertemu tiba-tiba saja tubuhnya membeku, sebuah sensai aneh terasa menjalar keseluruh tubuhnya. Chanyeol bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, dia tidak percaya apa yang baru saja terjadi membuat dia terdiam kebingungan. Jongin,Nari dan Eunji yang melihat itu tahu apa yang sedang terjadi, Byeol dan Chanyeol adalah pasangan karena adegan yang mereka lihat sekarang tidak asing bagi mereka. Chanyeol takut dengan sensasi yang dia rasakan tadi dia takut jika sensasi itu bukan karena dia terjatuh atau semacamnya namun karena alasan lain karena sekarang mata Byeol berubah menjadi merah menyala. Wanita itu bahkan menatap kearahnya juga panik, Chanyeol yang melihat Byeol yang sedang lengah segera menembakan lagi pistolnya kearah Byeol namun Byeol terlalu terkejut untuk menghindar sampai akhirnya Eunji mendorong wanita itu menjauh dari bidikan pistol Chanyeol.

Eunji mengerang saat dia merasakan kakinya sakit karena tertembak, melihat itu Byeol terkejut namun dia tidak bisa menyerang Chanyeol sekarang. Hatinya melarang dia untuk melukai pasangannya, Chanyeol adalah pasangan yang selama ini Byeol tunggu membuat dia tidak bisa melukai lelaki itu. Chanyeol berdiri dan mendekat kearah Byeol, dia menarik lengan wanita itu dengan kasar membuat Byeol mengerang kesakitan. Melihat itu Jongin mendekat kearah mereka namun penghalang yang dibuat oleh Byeol mencegahnya. Jongin mencoba memukul pelindung yang Byeol buat namun usahanya tidak membuahkan hasil, dia bukanlah serigala yang memiliki ilmu sihir seperti Byeol.

“Apa yang kau lakukan padaku?!” Chanyeol membentak.

Byeol menggelengkan kepalanya, ikatan yang sekarang mereka rasakan bukanlah kehendak yang bebas. Alam sudah menakdirkan mereka untuk bersama, bahkan saat mereka baru lahir karena DNA mereka cocok. Chanyeol melepaskan cengkaraman kasarnya dari lengan Byeol membuat wanita itu terjatuh ketanah, lelaki itu mengutuk beberapa kali sampai akhirnya dia membidikan kembali pistolnya pada kepala Byeol. Walaupun hatinya menjerit untuk tidak melukai wanita itu pikirannya berkata lain, dia punya ambisi dan dia tidak akan melepaskan ambisi itu begitu saja karena dia bertemu dengan pasangan yang sama sekali tidak dia kenali yang.

“Kau hanya menghalangi jalanku, aku harus membunuhmu.” Ucap Chanyeol.

Eunji merangkak mencoba menyelamatkan Byeol namun Chanyeol menendang wanita itu sehingga dia kehilangan kesadarannya. Byeol menjerit melihat itu, dia marah sekali dengan perilaku Chanyeol namun dia tidak bisa menyakitinya. Dia bahkan tidak yakin jika dia memiliki kekuatan untuk menyakiti Chanyeol sekarang, berbeda dengan manusia bangsa serigala langsung terikat dengan pasangannya setelah mereka bertemu. Byeol mencoba memohon pada Chanyeol namun Chanyeol tidak mendengar perkataan Byeol, dia dengan teganya menjambak rambut Byeol dengan kasar membuat wanita itu menangis kesakitan. Jongin dan Nari yang melihat itu marah, bahkan mata Jongin sekarang berubah menjadi merah siap menyerang Chanyeol kapan saja.

“Aku mohon Jendral Park, kau akan menyesali apa yang akan kau lakukan!” Nari berkata, membuat Chanyeol melirik kearah wanita itu.

“Aku akan membunuh seorang serigala, kenapa aku akan menyesalinya? Aku sudah lama ingin menghancurkan kalian.” Chanyeol berkata dengan geram, dia menjambak rambut Byeol lebih keras dan menyeret wanita itu kedekatnya.

“Kau dan semua bangsa serigala layak untuk mati, seperti kedua orangtuaku.” Chanyeol menyeringai dia menodongkan pistolnya pada kepala Byeol.

“TIDAK!” Nari menjerit sebelum suara tembakan terdengar menggema keseluruh hutan.

*****

Sena menendang salah satu tentara yang mencoba menyerangnya, dia tidak bisa menghitung ada berapa tentara yang sudah dia lukai. Dia melihat sosok tentara yang membidikan pistolnya kearahnya namun Sena cukup jeli dan langsung melemparkan pisau belati yang dia bawa sehingga pisau itu menusuk dada tentara yang mencoba menembaknya, Sena mendekat dan mencabut pisau belati itu dari tubuh kaku tentara yang sudah meninggal. Saat Sena mencabut pisaunya pendengaran tajamnya menangkap jeritan Nari dan suara tembakan membuat wanita itu melirik pada sumber suara. Sena mencengkram pisaunya hendak pergi menyusul Nari namun dia merasakan sebuah tangan mencegahnya.

Yifan suaminya kelihatan tidak setuju dengan keputusannya, Sena memegang tangan Yifan. Kali ini dia harus menyelamatkan putrinya, dia tidak akan meninggalkan Nari seperti yang dia lakukan dua puluh tahun yang lalu. Melihat tekad kuat yang ditunjukan oleh istrinya Yifan tahu dia tidak akan bisa mencegahnya, akhirnya Yifan menghal anafasnya dan melepaskan tangannya dari bahunya. Dia tidak bisa ikut menolong Nari karena dia harus menjaga Istana dan mendorong tentara manusia menjauh dari daerahnya sebisa mungkin.

“Berhati-hatilah, bawa Luhan bersamamu.” Yifan berkata, dia mencium dahi Sena sebelum berlari menuju gerbang utama istana membantu pasukannya untuk melawan para tentara manusia.

Sena merubah wujudnya menjadi serigala coklat yang cukup besar dan melolong memanggil Luhan untuk mengikutinya. Sosok serigala Luhan taklama kemudian ada disampingnya dan mereka berdua berlari mengikuti jejak yang Jongin tinggalkan untuk mereka.

*****

Semua orang terdiam saat dia melihat Byeol mampu menangkap peluru yang Chanyeol tembakan padanya, wanita itu terlihat seperti orang lain. Bahkan matanya bersinar dan berwarna putih, Byeol mencengkram peluru perak yang ada ditangannya sehingga peluru itu menjadi pasir ditangannya. Melihat itu Chanyeol ketakutan, dia kembali menembak beberapa kali kearah Byeol namun peluru yang dia tembakan tidak menembus tubuh Byeol sama sekali. Byeol mendekat kearah Chanyeol dan mencekik lelaki itu membuat Chanyeol kesusahan bernafas. Dia mencoba melepaskan cekikan Byeol namun usahanya gagal. Cengkraman Byeol terlalu kuat untuk seorang wanita, bahkan untuk seorang manusia pikir Chanyeol.

“Byeol!” Suara yang familiar terdengar.

Byeol melirik dan dia bisa melihat sosok Sena dan Luhan berdiri tidak jauh darinya, Byeol tersenyum melihat Luhan namun dia kembali mencekik Chanyeol. Melihat Chanyeol yang mulai lemas Luhan takut jika Byeol tanpa sengaja membunuh lelaki itu.

“Byeol! Aku mohon, lepaskan dia.” Luhan memohon namun Byeol mengacuhkan perkataan Luhan.

“Byeol! Jangan biarkan kekuatanmu mengendalikan dirimu.” Sena berkata membujuk wanita itu untuk melepaskan Chanyeol.

Byeol terdiam sesaat, angin disekitar mereka tidak bertiup kencang lagi sekarang dan cahaya pada mata Byeol perlahan memudar sampai akhirnya wanita itu melepaskan Chanyeol yang terbatuk-batuk sambil menyentuh lehernya. Luhan merasa lega melihat itu dan mendekat kearah Byeol yang kelihatannya sudah kembali sadar, Byeol kelihatan lemah karena tubuhnya hampir terjatuh ketanah dia beruntung Luhan cukup cepat untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke tanah. Bahkan penghalang yang melindungi Jongin dan Nari menghilang, Nari segera mendekat kearah Eunji yang pingsan memeriksa keadaan sepupunya itu.

“Apa Eunji akan baik-baik saja?” Tanya Jongin saat Nari menyobekan sebagian gaun nya untuk membalut luka tembak di kaki Eunji.

“Dia akan baik-baik saja, sebaiknya kita bawa dia kerumah sakit atau dokter terdekat.” Nari berkata, khawatir karena sepupunya pingsan walaupun dia tidak mengalami pendarahan pada luka tembaknya.

“Bajingan! Semua ini karena kau!” Jongin marah, dia mendekat kearah Jendral muda yang sekarang terlihat lemah itu.

“Jongin! Jangan ceroboh.” Sena menahan langkah Jongin yang hendak memukul Chanyeol.

“Park Chanyeol-shi, aku harap kau akan mempertangung jawabkan apa yang sudah kau lakukan.” Sena berkata, dia mengulurkan tangannya pada Chanyeol namun Chanyeol malah menepis uluran tangan itu.

Jongin kelihatan marah namun dia menahannya, Chanyeol kurang ajar sekali karena dia menolak uluran tangan Ratunya. Chanyeol menyeringai, dia kelihatannya senang melihat Jongin marah. Jika Jongin marah dan menyerangnya dia punya alasan untuk membunuh banyak serigala dengan alasan jika mereka menyerang terlebih dahulu. Chanyeol berdiri dan membersihkan bajunya sekilas sebelum dia menepukan tangannya dan tertawa jahat membuat Sena dan Jongin kebingungan. Luhan memeluk tubuh Byeol lebih erat, dia hanya ingin menyelematkan gadis itu dari kekacauan ini.

“Selamat! Kalian cukup bodoh untuk masuk dalam perangkapku.” Chanyeol berkata.

Sena mengerutkan keningnya kebingungan namun saat dia melihat jajaran tentara manusia yang sudah membidiknya dengan senapan yang berisi peluru perak mereka Sena mengerti apa yang dia maksud. Nari yang ada dibelakang langsung ditarik oleh seorang tentara, Sena yang mencoba bergerak langsung dibidik oleh para tentara itu membuat Sena akhirnya mengangkat kedua tangannya menunjukan kekalahan. Jongin terpaksa melakukan hal yang sama, dia tidak bodoh membiarkan dirinya terbunuh dalam perang ini. Dia harus menyelamatkan Nari bagaimanapun caranya, Nari mencoba melepaskan genggaman salah satu tentara yang memegang lengannya menyeret dia untuk masuk kedalam sebuah mobil yang sudah menunggu mereka. Seorang tentara lagi mengangkat tubuh Eunji menuju mobil untuk bergabung dengan sepupunya.

“Apa yang kau inginkan?” Sena bertanya, dia menahan amarahnya jika dia akan berurusan dengan Chanyeol dia harus tenang dan pintar mengingat Jendral muda itu sangatlah licik.

“Sena, jika kau memutuskan untuk pergi bersamaku dua puluh tahun yang lalu mungkin kau dan anakmu tidak akan mengalami semua ini.” Chanyeol berkata dia mendekat kearah Sena dan menyentuh dagu wanita itu.

“Hm.. waktu sepertinya berhenti untukmu.” Chanyeol berkata, dia masih tidak percaya jika orang yang ada didepannya itu adalah Jung Sena yang sudah lama tidak dia temui masih terlihat muda bahkan wanita itu terlihat tidak menua sedikitpun.

“Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi denganmu.” Sena menjawab sedikit ketus.

“Tenang saja Sena, kau tidak akan punya waktu untuk itu.” Chanyeol melirik kearah Sena dan menyuruh salah satu tentara untuk mengikat wanita itu dan memasukan dia kedalam mobil bersama Nari dan Eunji.

Jongin yang melihat itu mencoba melawan namun para tentara yang ada disana langsung membidikan senapannya kearah Jongin membuat Jongin tidak bisa melakukan apapun. Luhan mengepalkan tangannya penuh amarah, dia ingin sekali menyerang dan membunuh Chanyeol sekarang juga apalagi setelah dia melihat bagaimana Chanyeol memperlakukan teman-temannya. Chanyeol melirik sekilas kearah Luhan yang masih memeluk tubuh lemah Byeol, wanita itu masih tidak sadarkan diri mungkin lelah karena sudah mengeluarkan banyak tenaganya. Entah kenapa saat Chanyeol melihat tangan Luhan yang memeluk wanita itu dadanya bergemuruh, rasa cemburu mulai menguasainya namun Chanyeol melawan dengan keras. Dia tidak bisa jatuh cinta pada seorang serigala, dia benci serigala karena para serigala membunuh kedua orangtuanya.

Mengacuhkan keadaan Byeol Chanyeol langsung masuk kedalam mobil Jeep yang sudah menunggunya, tidak sedikitpun melirik kearah pasangannya yang sekarang berada dalam pelukan lelaki lain. Mobil Jeep yang dia kendarai melaju menjauhi danau suci, dia seharusnya senang karena sekarang rencananya berjalan dengan lancar namun entah kenapa hatinya malah berdenyut sakit sekarang. Tidak peduli seberapa kuat logika Chanyeol dia tidak bisa berbohong jika dia khawatir dengan keadaan Byeol dan dia tidak ingin melukai wanita itu.

*****

Yifan menatap kearah medan perang yang kacau, dia bisa merasakan sebelah tangannya berlemuran darah manusia. Bau amis darah bisa dia cium dan itu membuat dia sedih Yifan sekarang sudah tidak  bisa membedakan darah mana yang lebih banyak dia cium, darah manusia atau serigala Yifan sudah tidak tahu lagi. Entah kapan pertumpahan darah ini akan berhenti untuk sesaat Yifan merasa lelah, dia lelah terus berperang dan melawan rasa takut yang selama ini mencekik dia dan rakyatnya. Dia hanya ingin menyelasaikan perang ini, jika salah satu mereka memang harus kalah maka Yifan akan melawan sampai titik darah penghabisan. Dia akan memperjuangkan kemerdekaan bangsanya dan kesejahteraan kerajaannya seperti sumpah yang dia ucapkan dalam acara penobatannya beberapa puluh tahun yang lalu.

Beberapa mayat tentara dan pasukan serigala tergeletak tidak jauh dibawah kaki Yifan, wajah mereka ternodai oleh darah dan lumpur. Ekspressi takut dan sakit terpancar diwajah mereka, Yifan hanya bisa mendoakan jika jiwa mereka berhasil menyatu dengan alam dan ada disamping Dewi bulan. Suara ringkikan kuda menyadarkan Yifan dari lamunannya dan dia bisa melihat Sehun yang menunggangi kuda hitamnya sekarang ada didepannya, baju besinya dinodai oleh darah begitu juga pedangnya.

“Pa! Aku dan Jendral Kim berhasil masuk keperkemahan mereka tapi aku tidak menemukan Jendral Park Chanyeol.” Sehun memberi tahu.

Yifan mengerutkan keningnya kebingungan, itu cukup aneh bukankah Chanyeol yang diberikan tugas untuk menjemput Nari kedaerah manusia? Lalu kenapa Jendral itu membiarkan pasukannya beroperasi sendiri? Pertanyaan itu memenuhi benak Yifan sampai akhirnya dia mengingat sesuatu. Dia ingat jika Sena belum kembali bersama Nari dan itu membuat dia khawatir. Dia memejamkan matanya mencoba mencari dimana istrinya berada, mereka bisa bertelepati dari kejauhan Yifan pernah mencobanya namun dia tidak bisa menemukan dimana Sena berada sampai akhirnya tanah dibawah kaki mereka bergetar dan beberapa tank besi yang sangat besar muncul membuat Yifan terkejut begitu juga Sehun.

Lima tank besar yang muncul akhirnya berhenti tepat didepan benteng Istana mereka, sampai akhirnya sosok Chanyeol keluar dari salah satu tank besar itu sambil menyeret seorang wanita yang dia ikat. Yifan dan Sehun mengenali wanita itu, wanita itu tidak lain adalah Sena. Chanyeol memaksa Sena untuk berdiri walaupun wanita itu terlihat lebih lemas dari biasanya, sekarang Yifan tahu kenapa energinya terasa berkurang saat dia melawan beberapa tentara manusia tadi. Chanyeol menembakan pistolnya kelangit membuat seluruh prajurit Yifan dan pasukan tentaranya berhenti berkelahi dan melirik kearah sumber suara. Untuk sesaat medan perang sangat sunyi, seluruh orang menahan nafasnya sejenak karena terkejut dengan apa yang mereka lihat.

“Bangsa serigala! Seperti yang kalian lihat Ratu kalian ada bersamaku.” Chanyeol mulai berbicara, dia menarik Sena lebih dekat kearahnya namun wanita itu terlihat sangat lemas dia bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak tanpa bantuan Chanyeol. Sosok Nari muncul juga dibelakang Chanyeol dengan seorang tentara yang menahannya agar tidak kabur, Nari mencoba melepaskan genggaman tentara itu namun dia gagal.

“Mama!Noona!” Sehun memanggil saat dia melihat sosok ibunya dan kakak perempuannya disekap oleh tentara Chanyeol.

“Aku disini berbaik hati untuk menawarkan kesepakatan untuk nyawa Ratu dan Putri kalian!” Chanyeol melanjutkan, dia bisa melihat sosok Yifan yang menunggangi kuda putihnya mendekat kearah tank dimana Chanyeol berdiri.

Raja itu kelihatan tidak senang dengan apa yang dia katakan, tentu saja Yifan tidak akan menyetujui kesepakatan apapun yang Chanyeol ajukan mengingat masa lalu. Yifan turun dari kudanya bersama Sehun putranya, dia mencoba untuk menghadapi masalah ini dengan dewasa namun saat dia melihat wajah Jendral itu entah kenapa Yifan merasa sangat marah. Dadanya bergemuruh penuh dengan amarah mengingat jika Chanyeol-lah penyebab ayahnya meninggal dua puluh tahun yang lalu.

“Apa yang kau inginkan Park Chanyeol?” Yifan bertanya dengan ketus.

“Tentu saja kesepakatan.” Chanyeol menjawab dengan senyum sinisnya.

Chanyeol turun dari tanknya bersama Sena masih menjadi tahanannya, Sehun yang melihat ibunya diikat dan diperlakukan kasar yang para tentara manusia marah. Pangeran itu mengerang kearah Chanyeol dengan mata merah menyalanya, jika Yifan tidak menahannya pangeran itu sudah mencabik-cabik tubuh Chanyeol dengan cakarnya seperti daging ayam. Sehun yang merasakan kegelisahan ayahnya akhirnya menurun, dia menenangkan dirinya sehingga matanya tidak berwarna merah lagi. Chanyeol menyeringai melihat Sehun yang emosi, dia tidak muda lagi sehingga dia tidak mudah di provokasi oleh geraman saja.

“Yang mulia, aku harap kau akan mengambil keputusan bijaksana tidak seperti dua puluh tahun yang lalu.” Ucap Chanyeol.

“Apa kesepakatan yang ingin kau buat?” Yifan bertanya.

“Pa! Kau tidak bisa membuat kesepakatan dengan dia.” Sehun mengeluh namun Yifan menatap tajam kearah anak lelakinya itu membuat Sehun segera menutup mulutnya.

“Ckckck…kau mengingatkan aku pada ayahmu sangat dia muda, Pangeran Sehun.” Chanyeol berkata dengan nada meremehkan, bahkan jendral itu menyeringai seakan merendahkan Sehun.

“Cukup dengan basa-basimu, kesepakatan apa yang kau inginkan?” Yifan menuntut.

“Yang mulia, aku kesini untuk menantangmu berduel bersamaku lagi seperti dulu.” Chanyeol mengeluarkan pedangnya membuat Yifan dan Sehun waspada. “ Kau tahu, aku selalu berpikir siapakah yang sebenarnya akan menang jika kita menyelesaikan duel kita dua puluh tahun yang lalu.”

Mendengar itu Yifan mencengkram pedangnya sendiri, dia ingat pertarungan sengit antara dirinya dan Chanyeol dua puluh tahun yang lalu seperti pertarungan itu baru terjadi kemarin. Dia masih ingat ekspressi tegang ayahnya dan Luhan yang menyaksikan, dia ingat pedang dia dan pedang Chanyeol bergesekan dengan keras sehingga pedang mereka hampir patah. Luka sayatan memenuhi tubuh dia dan Chanyeol sebelum mereka membunuh satu sama lain mereka kelihatannya tidak akan berhenti, walaupun Yifan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat sayatan pedang Chanyeol sangat mematikan karena dia tahu titik kelemahan Yifan.

Apalagi saat itu Chanyeol melumuri pedangnya dengan wolfsbane dengan alasan agar pertarungan mereka adil, Yifan ingat seluruh tubuhnya mati rasa setiap kali Chanyeol berhasil melukainya dengan pedang yang berlumuran dengan ramuan wolfsbane. Mengingat pertarungan itu membuat Yifan sedikit resah, Chanyeol mungkin tentara manusia yang dilatih untuk menggunakan pistol dan senapan namun kemampuan pedang Chanyeol cukup baik bahkan hampir menyaingi dia. Yifan semakin erat mencengkram pedangnya menahan amarahnya mengingat hal itu, Yifan mengakui Chanyeol adalah lawan yang berbahaya baginya. Apabila dia ingin berduel lagi bersama Chanyeol sebaiknya dia menggunakan teknik yang berbeda dan lebih rapih dri sebelumnya.

“Baiklah, jika aku menang aku ingin kau meninggalkan kerajaanku untuk selamanya dan jangan pernah menginjakan lagi kakimu dikerajaan ini.”

“Aku setuju, tapi jika aku menang aku akan membawa Sena,Nari dan Eunji kembali ke daerah manusia.” Chanyeol mengajukan keinginannya.

Yifan sedikit terkejut mendengar keinginan Chanyeol, dia tidak mungkin membiarkan istrinya,Nari dan Euji kembali ke daerah manusia. Yifan cukup yakin mereka akan menderita disana, hal itu membuat Yifan ragu namun dibandingkan melanjutkan perang dan menumpahkan lebih banyak darah rakyatnya Yifan harus mengambil resiko. Dia harus berani, dia bukan hanya seorang suami dan ayah namun dia juga seorang raja itu artinya dia harus bertanggung jawab juga terhadap rakyatnya. Yifan melirik kearah Sehun, melihat tatapan itu Sehun mengerti jika ayahnya akan menerima tantangan duel Chanyeol membuat Sehun langsung protes.

“Pa, setidaknya biarkan aku yang melawan dia.” Sehun mencoba berkompromi dengan ayahnya namun Yifan menggelengkan kepalanya.

“Ini urusan aku dan Chanyeol, Sehun sebaiknya kau mencari Byeol, Luhan dan Jongin mereka belum kembali dari danau suci.” Yifan menyuruh, Sehun kelihatan tidak setuju dengan perintah ayahnya namun dia tidak bisa membantah juga sehingga dia menganngguk dan pergi menuju arah danau suci sambil menunggangi kudanya.

Setelah Sehun pergi cukup jauh Yifan menghunuskan pedangnya kearah Chanyeol menandakan jika dia menerima tantangan Chanyeol. Tanpa menghabiskan waktu banyak Chanyeol langsung menyerang kearah Yifan, Yifan cukup tangkas menahan serangan Chanyeol dengan pedangnya. Yifan mundur beberapa kalah menghindari serangan Chanyeol yang cepat dan berbahaya, jika Yifan lengah sedikit dia yakin pedang Chanyeol akan melukainya. Chanyeol kelihatannya merasakan ketegangan Yifan mungkin dia harus mengintimidasi lelaki itu dan membiarkan Yifan tidak fokus.

“Kau ingat saat dua puluh tahun lalu, aku berhasil membunuh ayahmu hanya dengan satu kali tusukan dari pedang ini.” Chanyeol mengintimidasi, mendengar itu Yifan menahan amarahnya.

“Tentu saja aku ingat, aku tidak akan mengulang kesalahan ayahku dulu.” Yifan menjawab, dia menyerang kearah Chanyeol sekarang berharap pedangnya meulkai Jendral itu.

Suara pedang yang beradu terdengar, Chanyeol tidak menyangka jika Yifan sekarang lebih cepat dan licik untuk mencari titik kelemahannya. Melihat Chanyeol dan Yifan yang berkelahi dengan sengit membuat seluruh tentara dan pasukan serigala yang melihat merasa gugup juga senang beberapa dari mereka bahkan berteriak memberi dukungan pada pimpinan mereka. Pasukan serigala yang melihat gerakan cepat Chanyeol merasa gugup karena seluruh nasib mereka ada ditangan Yifan, para serigala para serigala gugup karena meskipun mereka terlatih dalam pertarungan pedang mereka harus mengakui teknik yang Chanyeol gunakan dalam melawan raja mereka cukup efektif dan rapih.

Yifan mencoba menjaga fokusnya, dia tidak akan membiarkan Chanyeol melukainya dengan pedang yang sudah dilumuri dengan wolfbane karena jika itu terjadi Yifan akan menjadi lemah dan kesempatan Chanyeol untuk menang akan bertambah besar. Chanyeol kelihatan kewalahan saat Yifan menyerang beberapa kali kearah kirinya, sepertinya bagian kiri tubuh Chanyeol lebih kaku. Yifan menyeringai sekarang dia tahu dimana letak kelemahan Chanyeol, Yifan beberapa kali menyerang Chanyeol kesebelah kiri dan sesuai dengan prediksi Yifan pedangnya berhasil melukai lengan kiri Chanyeol.

Darah segar yang keluar dari tangan kiri Chanyeol membuat Yifan merasa puas, jika bisa dia ingin melukai manusia itu lagi. Seluruh tubuhnya sekarang terasa lebih kuat, Chanyeol yang melihat Yifan menyeringai sedikit panik namun dia langsung menyerang lagi kearah Yifan berharap Raja itu tidak menyadari kepanikannya. Yifan berhasil menghidari beberapa serangan Chanyeol dan itu membuat Chanyeol kesal apalagi saat dia mendnegar pasukan Yifan berseru menyemangati Raja itu.

“Kenapa Chanyeol? Kau takut padaku sekarang?” Yifan menggoda, melukai ego Chanyeol dia bahkan bisa melihat Chanyeol menggertakan giginya marah.

“Kau yang harus takut padaku!” Chanyeol sekarang mengayunkan pedangnya dengan keras kearah Yifan, Yifan sedikit terkejut dengan serangan itu.

Yifan mencoba melindungi dirinya dengan pedangnya namun tidak disangka Chanyeol berhasil melepaskan pedang Yifan dari genggaman Raja itu, pedang Yifan sekarang terjatuh ketanah dan Chanyeol menendangnya entah kemana. Yifan mundur beberapa langkah menghindari serangan pedang Chanyeol yang kejam sedangkan Chanyeol mengayunkan pedangnya membabi buta kearah Yifan. Yifan kehilangan keseimbangannya dan jatuh terbaring dilantai, Chanyeol mencoba menusuknya beberapa kali, Yifan beruntung karena dia cukup cekatan untuk menghindari tusukan Chanyeol.

Sena dan Nari yang melihat itu menjerit panik takut jika Yifan terluka, Chanyeol terus mengayunkan pedangnya berharap serangannya berhasil melukai Yifan namun Yifan terlalu cepat untuk serangnya, Raja itu berguling menghindari serangan Chanyeol dan berhasil menemukan kembali pedangnya. Melihat Chanyeol kesal, dia ingin segera mengakhiri pertarungan ini dan menguasai kerajaan Yifan, keserakahannya sudah menguasai pikiran dan tubuhnya sehingga sekarang dia menyerang Yifan tanpa perhitungan melainkan dengan kekuatannya membuat serangannya ceroboh dan meleset.

Kedua tangan Chanyeol kelihatan mulai lemas dan Yifan sekarang mulai menyerang walaupun kedua tangannya sudah lecet karena terus menahan serangan Chanyeol dia tetap melawan, dia tidak akan kalah kali ini. Dia tidak akan mengulangi kekalahannya seperti dua puluh tahun yang lalu. Yifan menggengam pedangnya lebih erat dan menyerang Chanyeol sekuat tenaganya, Chanyeol mencoba menahan serangan Yifan dengan pedangnya namun dia terkejut karena Yifan berhasil mendorong tubuhnya kebelakang, pedang Yifan bahkan menembus tubuh pedang Chanyeol sedikit menandakan jika serangan lelaki itu sangat kuat.

Ketakutan mulai muncul didalam benak Chanyeol, dia tidak pernah tahu jika Yifan akan sekuat ini. Raja itu sekarang menyerang kearahnya tanpa henti membuat dia kewalahan, Chanyeol bahkan kehilangan fokus sampai akhirnya Chanyeol kehilangan genggaman tangan pada pedangnya dan pedangnya sekarang terpental entah kemana dan tubuhnya akhirnya terjatuh kelantai karena kelelahan. Seluruh pasukan Yifan bersorak melihat itu, Yifan menghunuskan pedangnya Chanyeol beberapa centi lagi pedang itu bisa menusuk mata Chanyeol.

“Sepertinya kali ini aku yang menang.” Yifan berkata.

Chanyeol mencengkram tangan kanannya yang terasa sakit, dia bahkan bisa merasakan cairan hangat yang berwarna merah keluar dari tangannya. Tangan kanannya berdarah karena terlalu kuat mencengkram pedangnya dan lengan kirinya terluka membuat Chanyeol kehilangan banyak darah dan mengelihatannya mulai kabur namun dia tidak menyerah. Chanyeol menyeringai, dia masih punya rencana. Lelaki dengan cepat menyentuh bandul kalungnya lalu memutarkan bandul itu membuat bandul kalung itu lepas dan dia menumpahkan isi bandul kalung itu kehadapan Yifan.

Mata Yifan melebar saat dia mencium aroma yang keluar dari bandul kalung Chanyeol. Yifan tiba-tiba saja susah bernafas dan seluruh tubuhnya terasa sangat lemas sehingga Raja itu terjatuh ketanah berusaha untuk bernafas. Chanyeol berdiri dan mengeluarkan pisau belati yang dia sembunyikan dalam saku pistol yang terikat dengan ikat pinggangnya, Yifan yang melihat itu mencoba menghindar namun dia terlalu lemah untuk melakukan apapun sehingga dia hanya terdiam saat Chanyeol mengayunkan pisau belati itu untuk menusuknya.

“PARK CHANYEOL!”

Tiba-tiba suara seorang lelaki mengejutkan seluruh orang, beberapa helikopter tiba-tiba saja muncul dari arah daerah manusia membuat Chanyeol berhenti sesaat sebelum dia menusuk Yifan untuk melihat siapa yang memanggil namanya. Saat Chanyeol melihat helikopter pribadi Joonmyeon hendak mendarat dia panik dan melanjutkan niatnya untuk membunuh Yifan, Chanyeol kembali menganyunkan pisaunya melihat itu Yifan hanya bisa menutup matanya mengantisipasi tusukan pisau belati Chanyeol didadanya.

DORRR!

Sebuah suara tembakan terdengar dan Yifan bisa merasakan cairan hangat menetes ke dadanya membuat Raja itu membuka matanya dan dia bisa melihat noda merah mengotori dada Chanyeol. Yifan terkejut sampai akhirnya tubuh Chanyeol ambruk menimpa tubuhnya, Yifan tidak tahu siapa yang menembaknya sehingga dia melirik kesekitar dan melihat seorang tentara berdiri dan dibelakang Chanyeol masih memegang pistolnya. Tentara itu kelihatan tenang sekali bahkan dia tidak terlihat bersalah sama sekali sampai akhirnya tentara itu berubah wujud menjadi seorang wanita cantik dengan rambut putih dan mata abu-abu.

Melihat sosok itu seluruh bangsa serigala langsung bersujud kearah wanita itu begitu juga Yifan, dia segera menundukan kepalanya tidak berani menatap kearah wanita itu. Tangan dingin wanita itu menyentuh kepala Yifan dan Yifan tiba-tiba saja merasa sehat dan bugar lagi sehingga Raja itu berdiri dan menunduk kearah wanita itu. Tentara yang memegang Sena dan Naripun sadar dimana posisi mereka sekarang sehingga mereka melepaskan ikatan tangan Sena dan Nari membuat kedua wanita itu segera berlari kearah Yifan.

“Aku datang sesuai dengan permintaanmu Yifan.” Ucap wanita itu, suara feminimnya menggema sehingga seluruh orang bisa mendengar.

“Dewi tapi aku tidak meminta Anda untuk membunuh Chanyeol.” Yifan berkata, Chanyeol memang kejam dan serakah namun membunuh Chnayeol bukanlah hukuman yang Yifan inginkan untuk Chanyeol.

“Tenang saja Yifan, aku tidak membunuh dia.” Dewi bulan melirik kearah tubuh Chanyeol yang terbaring ditanah mencengkram dadanya yang berdarah.

“Aku tidak akan menerima jiwa yang kotor seperti jiwa Park Chanyeol di akhirat.” Dewi bulan berkata.

“Papa!”

Suara Sehun terdengar dari belakang Yifan membuat Raja itu melirik kearah belakangnya dan dia bisa melihat Sehun,Byeol dan Luhan juga Jongin yang menggendong Eunji berjalan kearahnya. Yifan lega melihat anak lelakinya baik-baik saja begitu juga dengan yang lainnya, Dewi bulan melirik kearah Sena dan Nari yang sekarang sudah berdiri dibelakangnya.

“Dewi, terimakasih sudah menyelamatkan suamiku.” Sena menunduk kearah Dewi bulan, Dewi bulan itu hanya tersenyum.

“Itu sudah kewajibanku, apalagi kau dan suamimu selalu berdoa padaku.” Dewi bulan menyentuh pipi Sena dan Sena membalas senyuman Dewi bulan.

“Yang mulia!” Suara Joonmyeon terdengar memanggil Yifan, Presiden itu kelihatan panik dengan keadaan yang dia lihat namun dia lega saat dia menemukan sosok Yifan baik-baik saja.

“Presiden Kim, apa yang Anda lakukan disini?” Tanya Yifan kebingungan.

“Aku..aku mendengar semua rencana Park Chanyeol dari dua orang dokter yang bekerja dengan Nari dan aku langsung terbang kesini untuk melihat Park Chanyeol namun aku terkejut saat aku mendengar apa yang Chanyeol lakukan pada kerajaan Anda Yang mulia.” Joonmyeon menjelaskan, dua sosok dokter yang familiar baru saja turun dari helikopter Joonmyeon.

Nari yang melihat sosok kedua dokter itu tersenyum, dia berlari untuk menyambut kedua Dokter itu. Dia tidak menyangka Hongbin dan Seulgi bisa meyakinkan Presiden Kim jika Chanyeol memiliki rencana jahat. Dia lega sekali melihat Seulgi sahabatnya dan Hongbin yang sedikit babak belur mungkin karena dia berkelahi namun Dokter itu kelihatan baik-baik saja.

“Ya Tuhan! Aku tidak percaya kalian ada disini!” Nari berkata.

“Maaf kami datang terlambat, anak buah Chanyeol menahan kami.” Seulgi menjelaskan dan Nari menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, yang penting kalian baik-baik saja.” Nari memeluk Seulgi dan Hongbin membuat mereka berdua tersenyum.

Jongin tersenyum melihat Nari yang kelihatan bahagia melihat kedua temannya, dia menatap kearah Eunji yang masih dia gendong dan melihat wanita itu mulai sadar. Sehun yang melihat itu mendekat kearah pasangannya dan memutuskan untuk membawa pasangannya itu menuju kumpulan Nari dan temannya, dia mungkin akan meminta para dokter itu untuk mengobati Eunji.

“Presiden Kim, aku rasa keberadaanmu disini untuk menjemput Park Chanyeol dan menghukumnya?” Dewi bulan bertanya.

“Ya Dewi, aku kesini untuk memberikan hukuman pada Park Chanyeol.” Joonmyeon mengangguk.

“Maaf tapi kau tidak usah melakukan itu, aku sendiri yang akan menghukumnya.” Dewi bulan melirik kearah Yifan dan mengulurkan tangannya pada Raja itu.

“Dewi aku mohon jangan lakukan itu!” Byeol tiba-tiba saja berteriak, dia mungkin bisa menebak apa yang akan Dewi bulan lakukan pada pasangannya.

“Byeol, maaf…tapi alam sudah menakdirkanmu dengan Chanyeol tapi aku harus menghukumnya.” Dewi bulan berkata dan menarik Yifan dan mengambil pisau belati yang masih ada ditangan Chanyeol.

Chanyeol masih menekan luka tembak didadanya, dia terlalu lemah untuk berontak atau mengatakan apapun. Chanyeol kesusahan untuk bernafas semua orang bisa melihat itu, darah mulai keluar dari mulutnya juga.

“Dewi, biarkan aku menyembuhkan dia..aku mohon!” Byeol mendekat kearah dewi bulan dan Yifan, dia menggengam erat tangan Dewi bulan yang memegang pisau belati Chanyeol.

“Kau masih ingin menyelamatkan dia setelah apa yang dia lakukan padamu?”

“Dewi, dia pasanganku…aku tidak pernah bisa menghukumnya.” Byeol memelas, matanya berkaca-kaca hendak menangis.

“Itulah kenapa aku dan Yifan yang akan menghukumnya, Alam sudah menakdirkan kalian tapi itu bukan berarti jika orang jahat seperti pasanganmu bisa bebas begitu saja tanpa menerima konsikuensi perbuatan jahatnya.” Ucap Dewi bulan dia melepaskan genggaman tangan Byeol dan wanita itu tidak bisa melakukan apapun lagi.

Dia hanya bisa menunduk dan menangis, Luhan yang melihat itu mendekat kearah Byeol dan melingkarkan tangannya pada pundak Byeol mencoba menghibur gadis itu. Byeol tidak mampu menyaksikan apa yang akan Dewi bulan lakukan pada pasangannya sehingga gadis itu berlari menjauh dari dewi bulan. Dewi Bulan hanya menghela nafasnya, dia mungkin sedikit kejam namun dia tidak bisa mentoleransi kejahatan yang dilakukan Chanyeol sehingga bagaimanapun dia harus memberikan hukuman untuk Chanyeol.

Dewi bulan membuka menarik tangan Yifan mendekat kearah pisau belati yang dia pegang dan dia menyayat sedikit kulit telapak tangan Yifan sehingga darah Yifan keluar mengalir dari telapak tangannya. Yifan kelihatan meringis kesakitan saat Dewi Bula mengepalkan tangannya agar darahnya menetes, dia mengarahkan telapak tangan Yifan keatas bibir Chanyeol sehingga tanpa sengaja Chanyeol meminum darah Yifan.

“Park Chanyeol, mulai sekarang kau adalah bagian dari banga serigala.” Dewi Bulan berkata dan sosoknya akhirnya menghilang berubah menjadi burung hantu putih yang terbang kelangit.

Semua orang terkejut mendengar apa yang dikatakan Dewi bulan, bagaimana seseorang yang begitu membenci bangsa serigala menjadi bagian dari mereka? Dewi bulan benar-benar menghukum Chanyeol dengan kejam. Pantas saja Byeol mencegah Dewi bulan tadi, Yifan bisa memperediksi bagaimana reaksi Chanyeol saat dia tahu jika dia berubah menjadi sesuatu yang selama ini dia benci. Yifan harus menghadapi itu saat dia kalah dari Chanyeol juga dan dia tidak ingin mengalami hal itu lagi karena dia menunjukan sisi buruknya pada semua orang termasuk cinta sejatinya Sena.

Yifan akhirnya berjongkok disamping tubuh Chanyeol namun lelaki itu belum kunjung membuka matanya.Yifan lalu melirik kearah luka didada Chanyeol, ternyata luka tersebut secara perlahan mulai sembuh bahkan peluru yang tadi tertanam di dada Chanyeol sekarang keluar dengan sendirinya membuat dia terkejut. Semua orang yang melihat itu sama terkejutnya dengan Yifan, Sena bahkan mendekat kearah tubuh Chanyeol memastikan jika lelaki itu bernafas lalu melirik kearah Yifan dan Yifan tahu apa yang akan istrinya tanyakan sehingga dia mengangguk.

“Chanyeol..” Sena berjongkok disamping tubuh Chanyeol memanggil lelaki itu dan menyentuh bahu lelaki itu.

Berbeda dengan beberapa jam yang lalu Chanyeol kelihatan lebih muda sekarang, rambut hitamnya terlihat lebih bersinar sekarang begitu juga kulit putihnya. Tubuhnya terlihat lebih kuat apalagi sekarang seluruh lukanya sudah sembuh total. Melihat perubahan itu membuat Joonmyeon terkejut, dia tidak tahu jika kekuatan bangsa serigala bisa merubah seseorang seperti ini.

“Chanyeol, apa kau bisa mendengarku?” Sena sekali lagi memanggil.

Chanyeol tidak kunjung membuka matanya namun tangannya kelihatan mulai bergerak, mungkin Chanyeol sedang mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang setelah dia meminum darah Yifan tadi. Semua orang menahan nafasnya saat kaki Chanyeol mulai bergerak sampai akhirnya Chanyeol membuka matanya dan matanya bersinar merah percis seperti Yifan. Semua orang  tidak percaya dengan apa yang mereka lihat ternyata Park Chanyeol, dia seorang Alpha sekarang.

The End

Thank You so Much

and Don’t forget the comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s