Posted in FanFiction NC 17+

Evocative Seduction [Part 4]

Evocative Seduction

 

Title:  Evocative Seduction

Author : AutumnBrezee@ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Kim Jongin/Kai [EXO]. Zhang Nari [OC], Jung Sena [OC], Wu Yifan/Kris, Zhang Yixing [EXO], Jung Eunji [Apink],Oh Sehun [EXO], Do Kyungsoo [EXO], Park Chanyeol [EXO]and other supporting cast..

Genre : Fantasy,Wolf AU! And romance

Length : Chaptered

Rating:PG 17 –NC17

Warning! contain sexual content!

 

4

The Beginning Of War

Suasana masih terasa kelam, tadi pagi mereka baru saja selesai memakamkan jasad Kyungsoo. Sena dan Nari kelihatan sangat sedih sekali namun Nari kelihatan lebih sedih dari ibunya karena sekarang dia memilih untuk diam dikamarnya dan menolak untuk makan malam bersama keluarga barunya. Bahkan Eunji tidak bisa membujuk kakak sepupunya itu untuk keluar dan makan begitu juga Sehun.

Kedua mata Nari masih sembab karena menangis, dia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Kyungsoo meninggal karena dia, seharusnya dia tidak bersikeras untuk membantu Jongin seharusnya dia tidak mengatakan jika dia ingin membantu Jongin semua skenario itu memenuhi kepalanya dan airmata kembali menetes membasahai kedua pipinya sampai akhirnya sebuah ketukan menyadarkan Nari dari lamunannya.

“Nari, apakah kau tidur?” suara Jongin terdengar membuat Nari segera menyeka airmatanya.

“Tidak, kau boleh masuk.” Nari berkata.

Sosok Jongin muncul membuka pintu kamarnya dan Nari tersenyum tipis kearah pasangannya itu. Jongin kelihatan membawa sebuah nampan yang dipenuhi oleh makanan membuat Nari membantu lelaki itu untuk membukakan pintu kamarnya. Jongin menyimpan nampan itu dimeja yang ada disamping ranjang Nari lalu lelaki itu menarik Nari untuk duduk bersamanya diranjang.

“Aku dengar kau belum makan dari tadi pagi.” Ucap Jongin dan Nari hanya menunduk.

“Aku tidak lapar.” Jawab Nari lemah.

“Meskipun begitu makanlah, aku tahu kau masih bersedih soal Dokter Do tapi itu bukan alasan untuk tidak makan Nari.” Jongin memberi nasihat, membuat Nari tersenyum canggung sudah lama sekali dia dinasihati oleh seseorang.

“Terimakasih atas nasihatnya, tapi aku benat-benar tidak lapar.” Ucap Nari akan tetapi Jongin kelihatan tidak setuju dengan perkataan Nari sehingga lelaki itu mengambil semangkuk sup ayam yang masih hangat lalu mulai menawarkan sup itu pada Nari.

“Apa kau ingin aku suapi?” Jongin menggoda dan itu membuat Nari tertawa.

“Baiklah, aku akan makan.” Nari akhirnya mengalah dan mengambil mangkuk yang ada ditangan Jongin, dia bisa merasakan kedua pipinya memanas karena malu.

Jongin tersenyum saat dia melihat Nari mulai memakan sup ayam yang dia bawa, dia lega karena Nari mau makan sekarang. Sepertinya godaan Sehun benar saat lelaki itu mengatakan jika Nari hanya akan menurut padanya, Jongin harus mengakui sebagai seorang Alpha hal ini meningkatkan harga dirinya. Tanpa sadar Jongin tersenyum sambil memperhatikan Nari yang sedang makan membuat wanita itu kebingungan.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Tanya Nari penasaran.

“Tidak, aku hanya lega kau sudah makan sekarang.” Ungkap Jongin dan itu membuat Nari menunduk malu lalu memakan kembali sup ayamnya.

Nari sudah menghabiskan sup ayamnya dan meminum air yang Jongin tawarkan padanya. Jongin melirik kearah jam dinding dikamar Nari dan waktu menunjukan sudah jam delapan malam, dia sedikit menyesal tidak datang lebih awal tapi dia sendiri harus mengurus pemakaman kakaknya meskipun mereka tidak mendapatkan jasad kakaknya keluarga Jongin tetap mengadakan acara pemakaman untuk menghormati kakaknya.

“Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur.” Jongin berkata, dia mendekat dan mengecup dahi Nari namun Nari tidak menjawabnya wanita itu malah terdiam membuat Jongin khawatir.

“J-jongin.. bisaka kau tidak pergi.” Ungkap Nari, dia menarik lengan baju Jongin.

Mendengar itu Jongin tidak bisa menolak, dia mendekat kearah Nari dan menarik wanita itu kedalam pelukannya. Nari memeluk kembali Jongin, airmatanya kembali turun membasahi kedua pipinya. Mendengar isak tangis Nari membuat Jongin khawatir dan sedih, dia mengelus kepala Nari dengan lembut mencoba menenangkan wanita itu. Berpelukan seperti ini membuat Nari bisa menghirup aroma tubuh Jongin dan entah bagaimana itu mampu menenangkannya karena sekarang dia tidak menangis lagi.

Nari tidak mengerti kenapa aroma tubuh Jongin sangat harum baginya, jika bisa dia ingin terus memeluk Jongin semalaman dan tidak pernah melepaskan kekasihnya itu. Dia ingin melupakan tentang Kyungsoo dan segalanya, dia hanya ingin Jongin malam ini bersamanya.

“Nari..” Jongin memanggil, dia melepaskan pelukan mereka.

“Aku tahu kau masih merasa sedih ta—“

Sebelum Jongin bisa menamatkan perkataannya Nari meletakan jari telunjuknya pada bibir Jongin membuat lelaki itu berhenti berbicara, Nari mendekat dan mencium pipi Jongin membuat Jongin sedikit terkejut. Setelah Nari mencium pipi lelaki itu Jongin menarik tengkuk Nari sehingga bibir mereka bersentuhan dan saling bertaut sekarang. Tangan Nari meremas baju Jongin menahan hasratnya.

“Jongin…aku ingin kau malam ini.” Ucap Nari.

Dia belum pernah merasakan perasaan yang mengebu-gebu ini sebelumnya, dia pernah berkencan dengan beberapa lelaki namun dia tidak pernah merasakan perasaan ini pada mereka. Jongin berbeda, saat pertamakali dia melihat lelaki itu wajah Jongin tidak pernah meninggalkan pikiran Nari itulah kenapa dia memutuskan untuk membaca buku tentang serigala saat Jongin berubah didepannya.

Jongin tidak mengatakan apapun, tangannya masih ada dipundak Nari tidak bergerak sama sekali, seakan lelaki itu sedang berpikir. Entah apa yang dia pikirkan namun Nari merasa sedikit malu karena dia mengatakan sesuatu yang sangat berani, selama hidupnya mungkin kata-kata tadilah yang paling agresif yang pernah dia katakan.

“Lupakan saja, aku sudah gila.” Nari berkata.

“Nari, aku menginginkanmu juga…tapi aku tidak ingin kau menyesalinya.”

Nari terdiam, dia menatap kearah Jongin berbagai pertanyaan langsung muncul dibenak Nari.Apakah Jongin masih tidak percaya jika dia merasakan hal yang sama dengannya? Ataukah Jongin tidak menginginkan dia lagi? Pertanyaan itu membuat kepala Nari pening.

“Jongin,apapun yang kau rasakan terhadapku…aku merasakannya juga.” Ucap Nari dan itu membuat Jongin tersenyum senang.

“Aku tahu,aku hanya ingin kau yakin. Aku masih takut jika pada pagi hari kau bangun dan menyesalinya, kau tahu jika kita bercinta sekarang kau tidak bisa kabur dariku Nari.”

Nari menarik tangan Jongin yang ada dibahunya dan menciumnya, dia tidak akan pernah menyesal untuk bersama dengan Jongin. Hati dan tubuhnya merespon dengan cepat setiap kali dia bersama dengan Jongin, Nari sekarang mengerti kenapa serigala selalu mencari pasangan yang cocok dengan serigala mereka karena dengan begitu artinya serigala mereka menemukan kecocokan DNA dan potensi pada pasangan yang mereka pilih.

Jongin terasa cocok sekali dengannya, lelaki itu seperti sebuah bagian puzzle yang akan melengkapi dunianya. Segala hal tentang Jongin menarik Nari lebih dekat dan itu membuat Nari heran, bagaimanakah seorang lelaki bernama Kim Jongin ini mampu melakukan itu padanya. Satu-satunya jawaban yang masuk akal hanyalah, karena mereka pasangan. Pasangan yang sudah ditakdirkan oleh alam semesta atau Tuhan apapun itu yang mengatur segala hal didunia ini.

“Aku tidak punya rencana untuk meninggalkanmu Jongin.”

Mendengar jawaban itu Jongin kelihatannya yakin dengan keputusan Nari, dia akhirnya mendekat dan mencium kembali Nari penuh dengan hasrat. Dia mendorong Nari sehingga wanita itu tertidur diranjangnya, sekarang dia ada diatas Nari dan tangannya mengelus pinggang wanita itu turun kebawah menuju pahanya.

Nari melenguh dalam ciuman mereka saat dia merasakan tangan Jongin menyentuh dadanya, sesekali dia meremas payudara Nari membuat Nari melenguh. Nari bangun dari posisi berbaringnya dan tangan Jongin membuka kancing gaun Nari satu persatu lalu Nari membantu membuka kancing celana Jongin, lelaki itu sesekali menciumi leher Nari dan akhirnya melepaskan gaun Nari dari tubuh wanita itu.

Rompi yang dikenakan Jongin sudah terlepas sekarang dan kancing kemejanya setengahnya sudah terbuka juga, sesaat dia berhenti menciumi tubuh Nari dan menatap kearah indahnya tubuh pasangannya. Nari sedikit malu, dia menutupi dadanya saat dia merasakan pandangan menusuk Jongin.

Jongin tidak bisa menahan senyumannya saat dia melihat kedua pipi Nari memerah, dia menciumi tangan Nari dan akhirnya Nari berhenti menutupi dadanya. Jongin menarik Nari sehingga dia duduk dipangkuannya,tangan Jongin mengelus punggungnya dan itu membuat Nari sedikit geli sehingga dia melengkungkan punggungnya. Jongin menciumi dada Nari dan terkadang dia mengulum puting payudara Nari membuat Nari menarik rambut Jongin tidak sabar.

Mata coklat Jongin menatap kearah mata Nari, seketika mata kekasihnya itu berubah menjadi merah saat Jongin melihat leher mulus Nari. Tangannya menyentuh leher Nari dia bisa merasakan detak urat arteri Nari, taringnya tiba-tiba saja terasa gatal dan serigala dalam dirinya menjerit untuk membuat Nari menjadi miliknya.

“Jongin?” Tanya Nari, dia menangkup wajah Jongin membuat Jongin sadar dari lamunannya.

“Maaf, kau…aku..”

“Ada apa? Kau terlihat cemas.”

Jongin melirik kearah lain, dia tahu berbohong pada Nari bukanlah hal yang tepat sekarang. Sebenarnya dia sudah mengkhawatirkan hal ini dari pertama dia bertemu dengan Nari, memiliki pasangan seorang manusia memang menarik dan menyenangkan namun mereka tidak tahu ritual apa yang harus mereka lakukan jika mereka memutuskan untuk menjadi pasangan hidup.

“Nari, apa kau tahu ritual para serigala saat mereka memutuskan untuk menjadi pasangan hidup?” Jongin bertanya, dia menyelipkan poni panjang Nari pada telinga wanita itu.

“Apa? Apakah kita harus menari atau semacamnya?” Nari bercanda namun Jongin tidak terhibur dengan candaan kekasihnya itu. Melihat ekspressi serius Jongin Nari akhirnya berhenti tersenyum dan memasang muka seriusnya.

“Ok,maafkan aku..aku tidak tahu.” Jawab Nari serius.

Jongin menghela nafasnya, dia tidak tahu darimana dia harus memulai. Rasanya sangat canggung jika dia menjelaskan hal ini saat dia sendiri sudah tidak sabar untuk bercinta dengan Nari, namun dia lelaki yang dewasa dia tidak akan membiarkan kebutuhan dasarnya melupakan hal yang benar untuk dilakukan.

“Saat kedua serigala atau dalam kasus kita aku, memutuskan untuk menjadikan mu pasanganku aku harus menandaimu agar serigala lain tahu jika kau milikku atau dalam arti lain kau sudah memiliki pasangan.” Jongin menjelaskan, dia terdengar seperti dosen yang sedang memberikan kuliah pada para mahasiswa.

“Lalu bagaimana cara kau menandaiku?” Sena bertanya.

“Aku harus mengigitmu, tepat dilehermu dengan begitu serigala lain tidak akan berani untuk menyentuhmu.” Jawab Jongin.

Nari terdiam sesaat dan Jongin merasa sangat rapuh sekarang, jika Nari kabur sekarang dia yakin kalau dia akan hancur. Harga dirinya sebagai seorang Alpha akan tercabik-cabik, seharusnya dia menjelaskan ini pada Nari sebelumnya namun dia tidak pernah menemukan cara bagaimana menyampaikan hal ini pada pasangannya. Topik tentang pernikahan dan penandaan adalah topik yang sangat tabu bagi Jongin, dia bahkan bisa merasakan kedua pipinya memanas saat dia membahas hal ini dia tidak percaya jika dia masih merasa malu dengan percakapan intim padahal dia lebih tua dari Sehun.

Selain tabu hal ini tidak mudah untuk dikatakan juga, Jongin tidak bisa menghampiri Nari dan langsung bertanya ‘Hey apakah kau punya rencana untuk tidur denganku? Jika begitu kau harus tahu ritual bangsaku.’ Dia cukup yakin Nari akan menamparnya jika dia berkata seperti itu. Memiliki pasangan seorang manusia memang hal yang sangat jarang terjadi namun Jongin tidak pernah menyesal untuk memiliki pasangan seorang manusia apalagi jika manusia itu seperti Zhang Nari.

“Baiklah, kau boleh mengigitku.” Ucap Nari pada akhirnya membuat Jongin menghela nafas lega, dia kira Nari akan menolaknya.

“Kau yakin? Setelah ini kau tidak bisa kabur dariku Nari.”

Nari tersenyum dia tidak membalas perkataan Jongin, wanita itu malah menciumnya dan melepaskan kemeja Jongin dari tubuh lelaki itu. Kulit Jongin terasa lebih hangat dibandingkan kulitnya, dia bisa merasakan mulut Jongin mencium lehernya dan Nari bersiap-siap membiarkan lelaki itu mengigit lehernya memberikan tanda jika mereka adalah pasangan hidup sekarang.

Jongin bisa merasakan taringnya keluar dari gusinya. Seketika dia mengigit leher Nari membuat tubuh Nari menegang saat dia merasakan taring Jongin menusuk kulit lehernya, kedua tangan Nari mencengkram rambut Jongin dan Jongin bisa mendengar erangan Nari dan akhirnya menarik taringnya keluar dari luka dileher Nari. Darah menodai kulit putih Nari dan Jongin menjilatnya membersihkan luka Nari, walaupun Nari kesakitan dia puas karena sekarang dia milik Jongin. Walaupun bibir Jongin dilumuri oleh darahnya Nari tidak ragu untuk mencium lelaki itu saat Jongin mendekat kearahnya memaksa dia untuk merasakan darahnya sendiri.

“Jongin..” Nari memanggil, mendengar suara Nari segala kontrol dalam diri Jongin hilang.

Dia membaringkan Nari dan membuka kancing celananya, mata Nari melebar saat dia merasakan jari Jongin menyentuh kewanitaannya. Dia bisa merasakan dua jari Jongin bergerak mengelus klitorisnya membuat kaki Nari terasa lemas, nafasnya terputus-putus menahan lenguhan dari mulutnya. Sesekali tubuh Nari tersentak keatas menahan sensasi asing yang Jongin berikan padanya, Jongin tahu bagaimana bermain dengan tubuhnya dan itu membuat Nari sedikit kesal. Dengan jahilnya Nari menyentuh kejantanan Jongin juga membuat lelaki itu melenguh, dengan senyuman liciknya Nari memasukan tangannya kedalam celana dalam Jongin.

Jongin segera menyentuh tangan Nari mencegah wanita itu menyentuh kejantananya, Nari menatap kearah Jongin dan Jongin mencium dahinya membuat Nari tersenyum. Jongin memperlakukannya seperti seorang putri sekarang, dia suka itu namun terkadang Nari ingin diperlakukan seperti seorang wanita dewasa juga.

“Jongin biarkan aku..” Sebelum Nari sempat menamatkan kalimatnya Jongin memotongnya. “Tidak, malam ini segalanya tentangmu.” Jongin akhirnya memisahkan kedua kaki Nari sehingga sekarang dia bisa melihat kewanitaan Nari lebih jelas.

Tanpa rasa ragu dia menjilat kewanitaan Nari membuat Nari mencengkram seprai ranjangnya, Jongin melihat keatas dan menemukan Nari menatapnya sambil mengigit bibir bawahnya. Jongin kembali menjilat klitorisnya dan Nari mengeluh cukup kerasa, Jongin tertawa kecil dan menyuruh Nari untuk tidak berisik jika dia terus melenguh seperti itu penjaga didepan kamarnya akan masuk.

Nari mengangguk, dia berbaring lagi menikmati seks oral yang Jongin berikan untuknya, sekarang bukan hanya lidah Jongin saja yang menyentuh kewanitaannya Jongin juga memasukan kedua jarinya dan memainkan kedua jari didalam kewanitaan Nari membuat Nari tidak tahan lagi.Jika Jongin terus seperti ini dia akan mencapai klimaksnya, tangan Nari akhirnya mencengkram rambut Jongin dan Jongin berhenti menjilati kewanitaan Nari menatap kearah kekasihnya itu.

“Sudah cukup,aku ingin kau.” Nari berkata sambil terengah-engah.

Jongin mengangguk, dia kembali menciumi leher Nari dan sesekali dia mencium pipi dan bibir Nari membuat Nari tersenyum. Jongin mengarahkan kejantanannya pada kewanitaan Nari dan mendorong kejantananya perlahan, dia memandangi wajah Nari saat kejantanannya menyentuh kewanitaan Nari. Nari mengerutkan keningnya, merasa tidak nyaman dengan sensasi baru didaerah kewanitaannya. Jongin mendorong kejantaannya lebih dalam dan Nari memegang tangan Jongin dengan kuat, Jongin berhenti menggerakan pinggangnya membiarkan Nari terbiasa, dia membisikan kata-kata manis pada telinga Nari namun Nari terlalu fokus pada rasa sakitnya.

Setelah beberapa menit berlalu Jongin mendorong lagi pinggangnya namun kali ini Nari sudah terbiasa,dia mendesah nikmat saat Jongin menggerakan lagi pinggangnya. Jongin mulai menggerakan pingangnya dengan ritme yang lambat namun cukup sensual membuat Nari melingkarkan tangannya dileher Jongin memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. Sesekali Jongin mengecup bibirnya lembut, sampai akhirnya Jongin mengganti ritme dorongan pinggangnya lebih cepat dan dalam. Nari menutup mulutnya menahan teriakan yang akan keluar dari mulutnya, Jongin berhasil menemukan titik sensitifnya membuat Nari merasa dia akan mencapi klimaknys.

Jongin mencengkram kepala ranjang Nari dan mendorong kejantanannya lebih dalam, Nari menarik Jongin untuk mencium lelaki itu karena dia hampir saja mengerang cukup keras. Beberapa dorongan lagi Jongin bisa merasakan jika dia akan mencapai puncak kenikmatannya, akhirnya dia mengeluarkan kejantanannya dan mencapai klimaksnya dengan lenguhan lembut. Cairannya akhirnya menodai paha Nari namun wanita itu puas, Jongin menyeka keringat yang ada di dahi Nari lalu menciumnya. Nari hanya tersenyum lalu menutup matanya karena lelah setelah aktivitas bercinta mereka.

“Tidurlah, ini sudah malam.” Jongin berbaring disamping Nari.

Nari hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu dia tertidur, walaupun Jongin mengantuk dia tetap terbangun. Dia ingin memperhatikan wajah pasangannya, dia tersenyum bangga melihat tandanya yang ada dileher Nari.

“Kau milikku sekarang Zhang Nari.” Ucap Jongin dengan senyum nya.

*****

Sena sudah bersiap-siap untuk tidur dikamarnya, dia melepaskan baju gaunnya dan menggantinya dengan baju tidurnya setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan menemukan suaminya duduk diranjang mereka sedang mengganti bajunya. Sena bisa melihat luka cakaran yang besar dipunggung Yifan mengingatkan dia pertarungan suaminya dengan serigala dari kerajaan timur.

Sena mendekat dan memeluk suaminya itu dari belakang membuat Yifan sedikit terkejut, dia tersenyum saat sadar jika tangan yang melingkar dipinggangnya adalah tangan Sena. Entah kenapa Yifan bisa merasakan emosi kesedihan dari istrinya itu, mereka sudah terikat pada satu sama lain dalam waktu yang lama membuat Yifan lebih peka terhadap emosi istrinya itu.

“Ada apa Sena? Kenapa kau sedih?” Tanya Yifan.

“Jika ramalan Dewi Bulan benar,apakah kita harus mengalah?”

Mendengar itu Yifan melepaskan tangan Sena dan berbalik kearah istrinya, dia bisa melihat ekspressi kekhawatiran terpancar diwajah wanita cantik itu. Tangan besarnya menangkup wajah istrinya, dia mendekat untuk mengecup bibir Sena membuat wanita itu tersenyum puas.

“Kita tidak usah mengalah, aku dan Sehun akan mempertahankan rumah kita Sena.” Ucap Yifan dan Sena tersenyum tipis.

Yifan memeluk erat istrinya dia tahu Sena merasa takut, dia sendiri juga sebenarnya memiliki emosi itu namun dia tidak bisa menunjukan rasa takutnya. Bagaimana dia bisa memimpin semua pasukannya jika dia sendiri takut untuk melawan, dia harus terlihat berani dan kuat seperti ayahnya dulu. Apalagi dia memiliki banyak alasan untuk melawan, dia harus mempertahankan kerajaannya dan melindungi keluarganya yang baru saja menjadi lengkap. Dia tidak akan melepaskan kebahagiaan yang keluarganya layak dapatkan.

Yifan hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba saja telinganya berdering sangat keras membuat Yifan mengerang kesakitan dan Sena langsung memegang pundak suaminya terkejut. Yifan bisa mendengar ledakan yang keras sekali dan beberapa jeritan binatang-binatang yang ada di hutan kekuasaannya, Yifan langsung berdiri dari tempat tidurnya dan Sena langsung mengikuti langkah suaminya menuju balkon kamar mereka. Saat Yifan membuka pintu kaca balkon kamar mereka sebuah kobaran api yang besar bisa terlihat membakar sebagian besar hutan kerajaan Yifan membuat Raja itu mengepalkan tangannya penuh dengan amarah.

Sena menatap khawatir kearah hutan yang terbakar itu, Sena yakin hutan mereka terbakar bukan karena terkena petir atau semacamnya namun karena serangan senjata manusia. Sena melirik kearah Yifan, suaminya menatap sedih kearah hutan-hutan yang terbakar bahkan matanya berubah menjadi merah menandakan kemarahnya. Yifan berbalik kembali kekamarnya untuk mengganti bajunya dan Sena hanya bisa memandangi suaminya, mencoba memilih kata-kata untuk membujuk suaminya agar menangani masalah ini dengan hati-hati.

“Yifan..” Sena memanggil.

“Aku akan mengadakan rapat dengan Jendral Kim dan mentri-mentriku, beritahu Sehun dan Jongin jika aku membutuhkan mereka.”

Sena mengangguk untuk keadaan seperti ini tidak peduli berapa ratus kali dia akan membujuk Yifan dia tidak akan berhasil, dia akhirnya membiarkan Yifan pergi setelah suaminya itu mengecup dahinya. Sena mengganti bajunya menuju kamar Sehun dengan perasaan yang sangat gundah, dia bahkan bisa merasakan kakinya lebih lemah dari biasanya dia bahkan hampir jatuh saat dia berjalan dilorong istana.

Dia kembali teringat akan perang yang kejam dan penuh kehancuran, perang yang telah merenggut suaminya. Perang yang telah merenggut dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, Sena merasa takut ketakutan seakan memakannya perlahan-lahan dan dia tidak bisa bernafas sekarang. Dia menyandar kearah dinding istana, airmatanya bercucuran membasahi pipinya. Sena tidak ingin berperang lagi, dia tidak ingin mendengar suara jeritan dan kehancuran dimana-mana seperti dulu dia hanya ingin mengubur kenangan itu sedalam-dalamnya.

Pintu kamar Sehun terbuka saat Sena masih bersandar di dinding lorong kerajaan membuat lelaki itu terkejut melihat ibunya menangis, Sehun segera berlari menghampiri ibunya membantu Sena untuk berdiri. Sena tidak mengatakan apapun dia hanya memeluk anak lelakinya itu, dia tidak akan kehilangan lagi keluarganya kali ini dia akan bertarung dengan segala hal yang dia punya karena dia ingin mempertahankan keluarganya. Sehun yang khawatir hanya memeluk kembali ibunya tanpa mengatakan apapun, dia tahu apa alasan ibunya menangis seperti ini sekarang.

“Ma..”

“Sehun, berjanjilah padaku jika kau akan baik-baik saja.” Sena berkata dan Sehun melepaskan pelukannya, lalu dia menyeka airmata ibunya.

“Ma, aku akan kembali padamu dan semuanya akan baik-baik saja.” Sehun mencoba menenangkan Sena, Sena hanya mengangguk.

“Ayahmu ingin kau ikut rapat dengannya, jika bisa bisakah kau panggil dia juga?” Sena meminta dan Sehun mengangguk setuju.

“Sehun!”

Suara Jongin terdengar membuat Sena dan Sehun melirik kearah lelaki itu kebingungan, mereka kira Jongin sudah pulang sejak tadi namun kelihatannya dugaan mereka salah. Selain itu Jongin terlihat berbeda, dia seakan mengeluarkan jumlah feromon yang lebih banyak dari biasanya bahkan Sena bisa menciumnya dari kejauhan. Sehun memincingkan matanya kearah Jongin seakan curiga dengan keberadaan lelaki itu, Jongin hanya terdiam lalu menunduk kearah Sena seperti biasanya.

“Yang mulia.” Ucap Jongin dengan sopan.

“Tuan Kim, aku kira kau sudah pulang.” Ucap Sena keheranan.

“Maaf Yang mulia, saya ketiduran tadi jadi—“ Jongin tidak mampu berbohong dengan baik karena sekarang pipinya memerah karena dia berbohong.

“Tidak usah beralasan, kita harus pergi ke rapat sekarang.” Sehun memotong, dia langsung menarik lengan Jongin dengan kasar dan Jongin menundukan kepalanya sekilas kearah Sena yang kebingungan.

Setelah mereka berdua cukup jauh dari Sena, Sehun melepaskan gengaman tangannya dari lengan Jongin. Jongin hendak menjelaskan kenapa dia masih ada di istana namun sebelum dia mampu mengatakan apapun tinju Sehun sudah melayang kewajahnya. Tubuh Jongin sampai terdorong kebelakang dan dia bisa merasakan pipi sebelah kanannya berdenyut sakit, dia bisa merasakan darahnya keluar dari bibirnya mengalir ke dagunya. Sehun mengerang karena tangannya terasa sakit namun sekarang dia tidak terlalu marah setelah melihat Jongin berdarah.

Walaupun begitu bibir Jongin dengan seketika beregenerasi dengan cepat, wajah lelaki itu kembali seperti semula seakan Sehun tidak pernah memukulnya. Sehun terkadang mengutuk kemampuan mereka untuk beregenerasi dengan sangat cepat, dia akan cukup senang jika Jongin masih babak belur setidaknya sampai tiga hari.

“Itu untuk tidur bersama Nari noona tanpa seijinku.” Sehun berkata sebelum dia berjalan menuruni tangga kerajaan.

Jongin menyeringai, dia tidak tahu jika Sehun sangat protektif pada kakak perempuannya namun itu membuat Jongin lega itu artinya Sehun akan melakukan apapun untuk melindungi Nari. Dia mengejar Sehun dan melingkarkan tangannya kepundak sahabatnya itu, Sehun tidak pernah menang jika dia sudah melihat senyum manis Jongin akhirnya dia tersenyum dan memukul perut sahabatnya membuat Jongin pura-pura kesakitan. Terkadang mereka seperti anak-anak yang tidak pernah tumbuh dewasa jika mereka sedang bersama.

*****

Chanyeol menyeringai dari dalam tank yang dia kendarai, dia bisa melihat sebagian besar hutan daerah kerajaan Yifan sudah hangus dia bakar. Beberapa bangkai hewan yang tidak sempat kabur bisa dia lihat juga namun dia tidak peduli, pikirannya tertuju pada Yifan dan bagaimana dia harus menghancurkan raja serigala itu. Chanyeol sudah menunggu cukup lama untuk mendapatkan kesempatan ini, dia tidak akan menyia-nyiakannya kali ini dia harus berhasil membunuh Yifan dan semua bangsa serigala sehingga dia bisa mengasuai kerajaan serigala.

Seorang prajurit melaporkan keadaan hutan saat Chanyeol turun dari tank nya, dia mengangguk puas dan menyentuh bahu prajuritnya itu. Dia melihat sebagian besar prajuritnya masih membakar beberapa pohon agar mereka bisa membangun perkemahan di hutan itu, Chanyeol menatap kearah kerajaan Yifan yang bertengger kokoh disebuah ujung bukit dengan lampu yang menyala megah. Chanyeol menatap tajam kearah bangunan megah itu, berharap jika Yifan sedang mendengarkannya dan memperhatikan gerak-geriknya.

“Wu Yifan, kerajaanmu akan aku rebut dengan mudah.” Bisik Chanyeol, dia menggengam sebuah bubuk biru yang ada di dalam kantung celananya.

*****

Sebuah burung elang baru saja mendarat ditangan Yifan, Burung itu menundukan kepalanya pada Yifan membiarkan Yifan menyentuh kepala kecilnya. Yifan menyentuh kepala burung elang itu dan semua pengelihatan burung elang itu bisa Yifan lihat, dia bisa melihat banyak sekali pohon yang hancur karena terbakar dan beberapa binatang penghuni hutannya menjadi korban dari pembakaran hutan itu. Yifan menutup matanya tidak sanggup melihat kerusakan yang para tentara manusia lakukan pada hutannya.

Para Mentri yang sudah dia panggil telah menduduki tempat mereka masing-masing tidak ada seorangpun yang berani berbicara, mereka sendiri merasa ketakutan dan gugup dengan perang yang akan terjadi. Jendral Kim hanya menundukan kepalanya mencoba menyusun stategi perang yang sudah dia siapkan bersama para prajuritnya yang sudah dia latih bertahun-tahun.

“Apa kalian bisa merasakan apa yang aku rasakan?” Yifan memulai.

“Yang mulia dengan penuh hormat, saya rasa sebaiknya kita melawan sekarang.” Mentri Song yang duduk tidak jauh dari Jendral Kim berkata.

“Benar apa yang mentri Song katakan Yang mulia, tentara manusia itu belum juga jera kita harus mengakhiri perang ini.” Mentri Kang yang berdiri disudut meja mendukung pendapat temannya.

“Mentri Song dan Mentri Kang, aku tahu kekhawatiran kalian tapi kalian tidak bisa gegabah.” Suara Sehun terdengar dari samping kanan Yifan.

Ini pertamakalinya Sehun berani mengungkapkan pemikirannya di rapat penting seperti ini, putranya itu biasanya hanya duduk manis dan terlihat bosa jika mereka sedang membahas politik kerajaan atau kemajuan ekonomi dikerajaan mereka. Beberapa mentri yang duduk dimeja terkejut mendengar pangeran mereka akhirnya menunjukan kepeduliannya terhadap kerajaan mereka, Sehun berdiri dari duduknya menatap berani kearah semua mentri kerajaannya.

“Aku dan Jongin menyaksikan kehebatan senjata manusia, kami berdua terluka parah dan tidak bisa kembali untuk beberapa hari. Manusia memiliki peluru yang terbuat dari perak, peluru itu bisa membakar kulit kita dan merusak organ-organ kita jika kita tertembak.” Sehun menjelaskan.

“Para manusia sepertinya mulai menyadari kelemahan kita pada perak, aku yakin mereka bukan memiliki peluru dari perak saja mereka pasti sudah mengembangkan nya.” Jongin mendukung pendapat sahabatnya.

“Jika kita akan menyerang mereka, kita butuh strategi dan senjata baru.” Sehun mengusulkan.

Semua menteri hanya terdiam masih terkejut dengan inisiatif yang ditawarkan oleh Sehun, Jendral Kim hanya tersenyum puas dia tahu cepat atau lambat pangeran Sehun pasti akan menunjukan potensinya sebagai pemimpin. Darah yang mengalir didalam tubuh Sehun sudah mencatat takdir pengeran muda itu, dia dilahirkan untuk menjadi pemimpin seperti ayahnya dan kakeknya.

“Apa kalian tidak mendengar perkataan anakku? Siapkan senjata baru dan stategi perang.” Yifan akhirnya memecah hening diruangan rapat mereka.

“Baiklah Yang mulia, saya akan melaksanakan perintah anda.” Jendral Kim berkata dan akhirnya semua mentri kembali fokus pada rapat mereka.

Sehun melirik kearah Jongin dan Jongin menganggukan kepalanya bangga pada sahabatnya yang mulai berani mengungkapkan pendapatnya, Yifan tanpa sadar juga tersenyum puas dengan pendapat yang di ungkapkan oleh Sehun. Mungkin keputusan dia untuk mengirimkan Sehun ke daerah manusia bukanlah keputusan yang salah, dia tahu anak lelakinya itu memang memiliki potensi untuk menjadi seorang Raja.

****

Nari terbangun saat dia merasakan angin malam dari balkon kamarnya menyentuh kulit pundak telanjangnya, dia membuka matanya dan menemukan tempat disampingnya kosong. Dia sedikit kecewa padahal dia masih ingin menghabiskan waktu dengan Jongin, dia menyentuh lehernya dia ingat jika Jongin mengigitnya tepat dilehernya namun saat dia menyentuh kulit lehernya luka gigitan Jongin sudah sembuh total, dikulit lehernya sekarang hanya ada tanda gigitan yang sudah tertutup menyisakan sedikit gundukan daging. Nari tersenyum saat dia ingat jika dia baru saja bercinta dengan Jongin, dia tidak percaya ini padahal dia mengira hubungan mereka akan berjalan lebih lambat namun dengan Jongin semuanya terasa benar.

Nari bangun dari tidurnya dan mengambil mantel sutra yang ada disamping ranjangnya, dia menutupi tubuh telanjangnya dengan mantel sutra itu. Saat dia baru selesai menggunakan mantel itu dia melihat ibunya Sena membuka pintu kamarnya, Nari sedikit terkejut namun dia segera membereskan rambut dan menarik mantel sutranya lebih dekat ketubuhnya berharap jika ibunya tidak menyadari jika dia dan Jongin baru saja bercinta.

Sena berjalan kearah Nari dan duduk disebuah sofa yang berjarak tidak jauh dari ranjang Nari, melihat itu Nari mendekat kearah ibunya lalu duduk disampingnya. Sesaat Sena tidak mengatakan apapun tapi dia menyadari jika dileher Nari terdapat tanda gigitan, apalagi anak perempuannya itu mulai tercium seperti Jongin sekarang membuat dia sedikit khawatir. Sepertinya Jongin dan Nari sudah meresmikan hubungan mereka. Tidak bisa di pungkiri lagi sekarang Jongin dan Nari adalah pasangan seumur hidup seperti dia dan Yifan, sebagian dari dirinya bahagia karena Nari memilih Jongin sebagai pasangannya namun sebagian dari diri Sena merasa takut.

Dia tidak ingin anak perempuan satu-satunya ini mengalami hal yang dia alami, menjadi pasangan seorang serigala bukanlah hal yang simpel. Hubungan mereka sakral dan permanen setelah mereka meresmikan hubungan mereka dengan gigitan serigala yang lebih mendominasi, mereka akan bersatu meskipun mereka individu yang berbeda. Mereka harus berbagi berbagai emosi dan memori, membagi pikiran-pikiran yang personal dengan oranglain terkadang sangat menakutkan bagi Sena apalagi saat dia memulai hubungannya dengan Yifan.

“Nari, aku sedikit kecewa karena kau tidak mengatakan soal hubunganmu dengan Jongin.” Ungkap Sena, mendengar itu Nari langsung menutupi lehernya.

“Kau tak usah menutupinya, aku sudah tahu.” Sena menarik tangan Nari dari lehernya,melihat lebih jelas tanda gigitan yang Jongin tinggalkan.

“Dengar Nari, kau dan Jongin pasangan seumur hidup sekarang.” Sena menjelaskan. “ Apakah kau memikirkan hal ini dengan matang? Kau manusia, kau akan tumbuh tua dan Jongin…dia akan tetap seperti itu untuk beberapa ratus tahun. Aku tidak akan memaksamu untuk berubah menjadi serigala seperti aku dan Yifan tapi aku hanya ingin kau yakin dengan  keputusan yang kau ambil.” Sena menyentuh lengan putrinya dan Nari mengangguk.

“Aku mengerti Eomma, aku sangat menyukai Jongin dan entah kenapa aku tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan bersama Jongin. Aku mungkin mengambil keputusan terlalu cepat tapi aku tidak menyesalinya sedikitpun, jika aku harus berubah menjadi salah satu dari kalian aku tidak keberatan.”

Sena bisa melihat ekspressi ketakutan terpancar diwajah Nari meskipun anaknya berkata jika dia tidak keberatan untuk menjadi seorang serigala, dia mengerti sekali perasaan itu. Berubah menjadi sesuatu yang tidak kau kenali memang cukup menyeramkan, Sena masih ingat saat dia pertamakali berubah menjadi serigala dia hampir pingsan namun sensasi baru menjulur keseluruh tubuhnya membuat dia tetap sadar. Dia suka tubuh barunya, saat dia merasakan angin berhembus dan aroma tanah dan rumput memenuhi indra penciumannya. Yifan saat itu tersenyum penuh bangga kearahnya saat dia berhasil berubah, latihan yang Yifan berikan untuk mengontrol serigala Sena akhirnya berhasil. Saat Sena pertamakali berubah menjadi serigala mereka langsung berlari bersama menikmati hutan yang sejuk saat itu.

Saat Sena menjadi serigala dia merasa bebas dan kuat, dia bisa berlari lebih cepat dari biasanya dan indra penciuman dan pendengarannya lebih tajam. Bahkan saat malam Sena tidak perna takut untuk tersesat karena dia bisa melihat kemanapun dia pergi, dia bisa melolong memanggil Yifan atau siapapun yang dia butuhkan dan itu membuat Sena merasa lebih aman karena dia tahu dia selalu bisa mengandalkan rakyatnya dan keluarganya.

“Kau tak usah buru-buru, kau tahu kau sangat mirip sekali dengan Yixing..dia selalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu.” Ucap Sena tersenyum manis.

Eomma, apakah kau marah?” Tanya Nari khawatir.

“Tidak sayang, bagaimana aku bisa marah padamu saat kau menatapku seperti itu.” Sena menyentuh dagu Nari, putrinya itu memang versi muda dirinya.

“Tidurlah, Jongin dan Sehun sedang berunding dengan Yifan mereka mungkin akan kembali besok.” Sena memberitahu dan Nari mengangguk menurut.

“Baiklah Eomma, Eomma… bisakah kau menemui Eunji untukku? Dia kelihatan tidak nyaman disini aku tahu dia bukanlah orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru mungkin jika kau berbicara dengannya dia akan merasa lebih nyaman.” Ungkap Nari dan Sena mengangguk.

“Aku akan bicara padanya nanti.” Sena akhirnya berdiri sebelum memeluk sekilas Nari dan pergi dari kamar wanita itu.

Sena menutup pintu kamar Nari dengan pelan,dia berbalik hendak pulang kekamarnya namun saat dia menulusuri lorong istana dia bisa melihat Eunji sedang berdiri di balkon bersama Sehun. Mereka berdua kelihatan membicarakan sesuatu namun wajah Sehun kelihatan tidak senang, dia hanya menunduk dan menggaruk lehernya canggung sedangkan Eunji sepertinya sedang menjelaskan sesuatu karena mulutnya tidak berhenti bergerak. Sena ragu untuk datang dan menyapa mereka, akhirnya dia memutuskan untuk tidak menganggu dan pergi.

*****

“Apa kau benar-benar harus pergi?” Tanya Eunji.

Eunji kelihatan sangat khawatir dan Sehun mengangguk dia merasa tidak nyaman harus meninggalkan pasangannya sendirian di istana yang besar ini. Apalagi mereka belum meresmikan ikatan mereka seperti Jongin dan Nari membuat hubungan mereka masih sangat rapuh. Terutama karena Eunji adalah seorang manusia, berbeda dengan serigala manusia bisa dengan bebas memilih pasangan mereka. Jika Eunji bertemu dengan orang lain dan jatuh cinta dengan orang itu Sehun-lah yang akan menderita karena dia satu-satunya yang mencintai Eunji, karena mereka sudah di takdirkan oleh dewi bulan untuk bersama.

“Maafkan aku tapi ayahku dan Jongin benar-benar membutuhkan bantuanku.” Ucap Sehun sedih, dia ingin sekali menyentuh Eunji hanya untuk menghibur wanita itu namun dia belum berani untuk melakukan itu.

“Aku masih baru disini, aku ingin menjelajahi banyak tempat tapi sepertinya kau terlalu sibuk untuk itu.” Eunji menghela nafasnya dan memajukan bibirnya menandakan kekecewaannya, Sehun mengutuk statusnya sebagai pangeran sekarang.

“Eunji, aku janji jika aku punya waktu aku akan mengajakmu berkeliling istana…kau tak usah khawatir.” Ucap Sehun dengan senyumnya.

Eunji akhirnya tersenyum dia mengacungkan jari kelingkingnya kearah Sehun, Sehun menggelengkan kepalanya mereka terlalu tua untuk melakukan janji kelingking namun akhirnya Sehun mengaitkan jari kelingkingnya dengan Eunji menandakan jika dia berjanji untuk mengajak Eunji berkeliling. Melihat senyum lebar Eunji membuat jantung Sehun berdebar sangat kencang sehingga dia melepaskan kelingkingnya terlebih dahulu, dia bisa merasakan pipinya memanas.

Pipi Sehun benar-benar memerah dan itu membuat Eunji khawatir,apakah Sehun sakit? Eunji berpikir. Akhirnya dia mendekat dan menyentuh dahi Sehun. Saat kulit tangan Eunji yang dingin menyentuh dahi Sehun, lelaki itu langsung panik dan menarik tangan Eunji menjauh. Dia bisa pingsan karena gugup jika Eunji terus menyentuhnya seperti ini, Sehun bukanlah lelaki yang sering berada diantara para gadis mengingat dia seorang pangeran dan Sena terlalu protektif untuk membiarkan Sehun keluar dari Istana.

“Sehun dahimu panas sekali,apa kau tidak sakit?” Tanya Eunji khawatir.

“Tidak..aku serigala, suhu tubuhku memang selalu tinggi.” Ucap Sehun memalingkan pandangannya.

Eunji akhirnya mengangguk dia kembali memandangi bulan yang ada diatas mereka, malam ini langit terlihat indah sekali karena Eunji bisa melihat bintang-bintang yang bertaburan dilangit. Berbeda sekali saat dia masih berada di daerah manusia, karena di daerah manusia terlalu banyak lampu dia tidak bisa menikmat bintang-bintang seperti sekarang. Walaupun udara sedikit dingin Eunji rela untuk diam diluar dengan mantel kulit yang sudah dia dapatkan dari lemari yang ada dikamarnya.

Angin malam saat itu berhembus cukup kencang dan Eunji sedikit mengigil, dia menggosokan kedua tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Sehun yang melihat itu merasa kasihan, dia ingat jika manusia tidak memiliki suhu tubuh yang otomatis seperti para serigala. Akhirnya menelan segala kegugupan dan ketakutannya Sehun meraih tangan Eunji dan meniupkan nafas hangatnya pada tangan Eunji, Eunji sedikit terkejut namun dia tersenyum karena dia sekarang merasa hangat.

“Apa sekarang sudah hangat?” Tanya Sehun setelah dia meniup tangan Eunji beberapa kali dan menggosokan tangan dia dengan tangan wanita itu.

“Ya, tidak seburuk tadi.” Ucap Eunji, setiap hari Sehun semakin mempesona saja dan itu membuat Eunji susah untuk menolak lelaki itu.

*****

Seekor serigala abu-abu berlari sangat cepat dia kelihatannya sedang mencari sesuatu, sesekali serigala itu melirik kesekitarnya mencari lawannya yang menghilang. Serigala itu berlari lagi mencari lawannya saat dia memperlambat laju larinya tiba-tiba saja dia mendengar geraman serigala lain dan tiba-tiba saja seekor serigala putih muncul mendorong dia dari pinggir sehingga serigala itu akhirnya jatuh ketanah, mereka bergelut sesaat saling merebut dominasi antara mereka. Serigala putih yang ada diatas serigala abu-abu memamerkan taringnya menandakan dominasi namun serigala abu yang ada dibawah tetap melawan menggeram menunjukan taringnya juga tidak ingin mengalah.

Akhirnya serigala abu berhasil mengambil kendali saat dia berhasil membalikan posisi mereka. Serigala abu-abu itu akhirnya menggigit longgar leher serigala putih itu membuat serigala itu akhirnya menyerah dan berhenti berontak, melihat itu akhirnya serigala abu-abu melepaskan gigitannya dan mundur beberapa langkah dari serigala putih itu sebelum menunduk menunjukan hormatnya pada serigala putih itu.

Beberapa menit kemudian seriga putih yang masih terbaring di tanah akhirnya berubah wujud menjadi Sehun yang masih terengah-engah dan kelihatan kesal lalu serigala abu yang ada didepannya berubah menjadi sosok Jongin yang menyeringai. Jongin mengulurkan tangannya kearah Sehun namun Sehun menepisnya, mereka sudah bergulat beberapa kali namun Jongin terlalu susah untuk Sehun kalahkan. Walaupun sosok serigala Sehun lebih besar serigala Sehun tidak akan pernah mengalahkan kecepatan serigala Jongin.

“Semua memiliki kelebihannya masing-masing Yang mulia, kau mungkin mengalahkanku pada duel pedang tapi tidak untuk gulat.” Jongin berkata dengan sedikit keangkuhan membuat Sehun mendengus kesal.

“Terserah kau kepala besar.” Ucap Sehun kesal, dia seorang Alpha tentu harga dirinya terluka saat dia harus kalah dari Jongin.

“Yang mulia kau bisa merajuk nanti tapi kita harus pergi ketempat pandai besi untuk melihat baju besi yang sudah kita rancang kemarin.” Jongin berkata dan Sehun akhirnya berdir merapikan bajunya sedikit.

“Baiklah, tunjukan jalannya padaku prajurit.” Sehun memberikan komandan dan Jongin memutarkan matanya.

Sehun akhirnya Sehun melingkarkan tangannya dipundak Jongin lalu memukul perut temannya itu sebelum kabur membuat Jongin kesal, kelihatannya Sehun masih dendam padanya karena dia tidur bersama Nari tanpa sepengetahuan Sehun. Dia mengerti, karena sudah berbagi banyak hal semenjak mereka kecil Sehun pasti merasa kesal karena dia tidak mengatakan apapun soal hubungan dia dengan Nari. Sebenarnya Jongin ingin sekali menceritakan semuanya namun dia belum menemukan waktu yang tepat.

“Hey Sehun!” Jongin memanggil dan pangeran yang berjalan didepannya melirik kearahnya.

“Aku sangat menyukai kakakmu, kau tak usah khawatir aku benar-benar serius tentang dia.” Ungkap Jongin membuat Sehun tertawa.

“Aku tahu bodoh! Matamu selalu mengikuti sosok kakakku aku sadar itu. Tapi ingat aku lebih sayang kakakku jadi jika kau melukai hatinya kau akan aku gantung.” Sehun  mengancam penuh dengan keseriusan membuat Jongin tersenyum lalu mengganguk.

“Aku akan menjaganya dengan baik.” Jongin menjawab dan Sehun mengangguk.

“Bagus, karena jika kau tidak melakukan itu aku akan menikahkan dia pada pangeran kerajaan Timur.”

Mendengar itu Jongin menatap tajam kearah sahabatnya dan akhirnya memukul perut Sehun membuat pangeran itu mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Sehun tidak mengantisipasi pukulan Jongin sehingga dia terkejut, Sehun memegang perutnya masih mengerang seperti orang yang akan sekarat. Jongin mendengus meledek, Sehun terkadang bisa bertingkah seperti drama king.

Yak! Untuk apa pukulan tadi?”

“Kau terkadang tidak tahu kapan untuk menutup mulutmu bodoh!” Jongin membalas dengan nada ketus lalu berlalu meninggalkan pangeran muda itu, kali ini Sehun-lah yang tertawa.

“Oke..maafkan aku,aku hanya bercanda.” Sehun berlari menyusul sosok Jongin yang sudah cukup jauh darinya.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai ditempat pandai besi, dia bisa melihat cukup banyak orang sedang membantu pegawai pandai besi untuk membuat baju besi mereka. Sehun mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Eunji dan Sena sedang mengobrol dengan seorang pandai besi, melihat itu Sehun terkejut sehingga dia menghampiri ibunya dan pasangannya itu. Sena yang pertamakali melihat Sehun tersenyum kearah anaknya dan Sehun langsung melingkarkan tangannya dipundak ibunya menjauhkan Sena dari para pandai besi yang sedang bekerja khawatir jika ibunya terkena percikan api dari besi panas yang sedang di pahat.

“Ma, sedang apa kau disini? Bukannya kau seharusnya ada di Istana?” Tanya Sehun.

“Sehun Mama bosan harus terus diam di Istana, lagipula Mama bisa membantu untuk mendesain baju besi apalagi Eunji kelihatannya cukup berbakat untuk menggambar jadi Mama membawanya kesini.” Sena berkata, dia menyikut lengan Sehun dan mengedipkan matanya membuat Sehun bingung.

“Aku tahu kau dan Eunji pasangan.” Bisik Sena dan Sehun memijat kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut sekarang, dia hars mencari orang yang membocorkan rahasia jika dia dan Eunji adalah pasangan.

“Ma aku mohon jangan ikut campur tentang hubunganku dan Eunji.” Ucap Sehun.

“Kenapa? Anak bungsu Mama yang paling tampan akhirnya menemukan pasangannya tentu saja Mama akan ikut campur.” Sena menggoda dia mencubit pipi Sehun seakan Sehun masih berumur lima tahun.

“Ma…bisakah kau tidak mencubit pipiku, aku lelaki dewasa sekarang.” Rengek Sehun namun itu membuat Sena ingin tertawa.

“Oke..oke Mama tidak akan mencubit pipimu lagi.” Sena sekarang menepuk pantat Sehun beberapakali dan pergi untuk mengobrol dengan Eunji.

Sehun bersumpah dia akan mati karena rasa malu jika Sena tidak berhenti memperlakukan dia seperti anak kecil, dia melirik kearah Jongin yang berdiri tidak jauh darinya. Dia bisa melihat serigala muda itu tertawa mungkin melihat interaksi anatara Sehun dan ibunya tadi, Sehun mengangkat kepalan tangannya kearah Jongin mengancam akan memukul lelaki itu jika dia tidka berhenti tertawa. Jongin mengangkat kedua tangannya menunjukan jika dia akan berhenti tertawa, Sehun tersenyum sombong lalu pergi mengikuti langkah ibunya.

Perkataan ibunya kelihatannya benar karena dia bisa melihat Eunji sibuk membuat sketsa baju besi, Sehun cukup kagum dengan kemampuan pasangannya itu karena Eunji dengan lihainya melukis gambar-gambar desain baju besi yang indah namun elegan. Salah satu yang menarik perhatian Sehun adalah sebuah baju besi yang memiliki lambang serigala di dadanya, dia menyentuh sketsa itu dan mengaguminya untuk sesaat.

“Apa kau suka desain yang itu?” Suara Eunji terdengar membuat Sehun terkejut dan hampir menjatuhkan sketsa Eunji namun tangannya cukup cepat untuk menangkap sketsa itu sebelum sketsa itu terjatuh ketanah.

“Oh iya! Sketsamubagussekaliakumenyukainya!” Ucap Sehun dengan cepat bahkan Eunji tidak bisa memahami sebagian perkatan Sehun.

“Terimakasih, aku senang kau menyukainya.” Ucap Eunji tersenyum, dia melanjutkan aktivitas menggambarnya.

Sehun akhirnya memutuskan untuk duduk didepan Eunji memperhatikan wanita itu yag sedang sibuk menggambar. Tanpa sadar ujung bibir Sehun terangkat dan dia akhirnya tersenyum, dia tidak pernah sadar jika Eunji secantik ini saat dia sedang serius menggambar. Sehun hanya ingin menarik wanita itu dan memeluknya namun dia tahu jika dia dan Eunji belum mencapai tahap itu. Tangannya gatal ingin menyentuh Eunji, serigala memang membutuhkan banyak sentuhan untuk merasa nyaman dan sentuhan dari pasangan adalah sentuhan yang paling membuat seorang serigala nyaman dia sangat iri pada Jongin karena sekarang dia memiliki Nari.

Eunji yang bisa merasakan Sehun menatap kearahnya akhirnya berhenti menggambar, tatapan dia dan Sehun akhirnya bertemu dan Eunji bisa melihat iris mata Sehun mulai berubah menjadi merah. Eunji merasa tertarik dengan perubahan warna di iris mata Sehun, dia tidak pernah melihat seseorang yang memiliki warna merah sehingga dia mendekat. Sehun mundur sedikit terkejut namun Eunji menarik dia lebih dekat, dia tidak percaya jika sekarang mata Sehun benar-benar berubah menjadi warna merah.

“Aku baru sadar jika warna matamu merah.” Ucap Eunji dan Sehun langsung menutupi matanya, gawat! Dia tidak bisa menutupi jika dia terangsang sekarang.

“Maaf aku harus pergi.” Sehun berkata berniat untuk menenangkan dirinya, namun tangannya ditarik oleh Eunji.

“Sehun, bisakah kita membicarakan tentang hubungan kita sekarang?”

Mendengar itu Sehun berbalik kearah Eunji, matanya masih menyala merah namun Eunji tidak merasa takut sedikitpun. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Sehun, tangannya sedikit gemetaran namun dia tetap menyentuh pipi Sehun membuat Sehun menahan nafasnya karena gugup. Tangan Eunji selalu dingin Sehun menyadari, dia memegang kembali tangan Eunji yang ada di pipinya untuk melepaskannya. Sehun ingin sekali menggengam tangan Eunji lebih lama namun dia tidak bisa menahan serigalanya yang menggodanya untuk menyentuh Eunji lebih lama.

Dia tidak ingin menakuti Eunji, dia bukanlah binatang yang mengikuti setiap nafsunya. Dia setengah manusia itu artinya dia bisa mengendalikan keinginannya, itulah sebabnya kenapa sekarang dia menolak sentuhan Eunji. Eunji kelihatan kecewa karena Sehun melepaskan sentuhannya namun wanita itu tidak melepaskan tangan Sehun yang masih menggengam tangannya.

“Eunji kau tidak tahu apa yang kau lakukan, aku berbahaya sekarang…aku bisa menyakitimu.” Sehun berkata, serigala dalam dirinya mulai menguasai kesadarannya dan dia yakin cepat atau lambat dia tidak bisa mengontrol hasratnya akan Eunji.

“Tidak,aku tahu apa yang aku lakukan…Tante Sena menceritakan segalanya tentang kau dan serigala lainnya.” Eunji berkata.

“Sehun, kita pasangan bukan? Seperti Tante Sena dan ayahmu?” Tanya Eunji, mata wanita itu terlihat penuh dengan harapan.

“Apa saja yang Mama ceritakan padamu?” Sehun bertanya, nafasnya mulai terdengar lebih cepat dari biasanya.

“Tante Sena mengatakan jika setiap serigala memiliki pasangan dan kau kelihatannya memilih aku sebagai pasanganmu.” Ungkap Eunji dan Sehun menghela nafasnya lega, setidaknya ibunya tidak menceritakan hal-hal memalukan.

“Kau benar Eunji, kau adalah pasanganku tapi aku tidak memilihmu serigalaku yang memilihmu.” Sehun menarik tangan Eunji menuju dadanya. “Eunji aku berbeda dari lelaki yang pernah kau kencani dulu, aku memiliki seekor serigala dalam jiwaku dan seperti yang kau lihat saat Dokter Do meninggal aku bisa berubah menjadi serigala besar yang mungkin menyeramkan bagimu.” Sehun menunduk malu, dia bahkan tidak bisa menatap kearah Eunji, dia merasa tidak pantas untuk menjadi pasangan Eunji karena menurut Sehun Eunji lebih layak mendapatkan pasangan yang normal dimana mereka berdua bisa tumbuh tua bersama dan tak usah hidup di Istana.

“Sehun aku sudah melihat serigalamu, aku tidak takut…mungkin awalnya iya tapi serigalamu indah sekali aku tidak merasa takut sedikitpun.” Eunji berkata.

Mendengar itu Sehun akhirnya menatap lurus kearah Eunji, dia menyentuh pipi Eunji dan Eunji kali ini yang menyentuh tangan Sehun. Apakah Eunji baru saja mengatakan jika dia menerima Sehun apa adanya? Sehun senang sekali mendengar itu. Jantungnya berdetak kencang sekali Sehun beruntung jantungnya itu belum meloncat keluar dari tulang iganya. Eunji tersenyum kearahnya dan dia mendekat membiarkan Sehun untuk menciumnya, Sehun akhirnya menunduk mendekat berniat untuk mengecup manis bibir Eunji.

Akhirnya bibir mereka bersentuhan dan Sehun menarik Eunji lebih dekat sehingga tubuh mereka tidak memelik jarak, bibir Eunji terasa sangat lembut bahkan dia bisa merasakan lipgloss strawberry yang Eunji gunakan. Tangan Eunji meremas baju Sehun karena gugup namun saat Sehun menarik tekuknya Eunji akhirnya lebih tenang dalam pelukan pasangannya itu. Sehun yang pertamakali melepaskan ciuman mereka dan akhirnya lelaki itu tersenyum bahagia begitu juga Eunji.

*****

“Paman Yifan?” Tanya Nari tidak yakin saat dia melihat sesosok lelaki yang sedang memainkan pedang yang ada ditangannya. Lelaki itu mungkin mendengar panggilan Nari sehingga dia berbalik dan tersenyum kearah wanita muda itu.

“Nari, apa kau sudah sarapan?” Yifan bertanya dan Nari mengangguk.

“Bagus kalau begitu, ambilah salah satu pedang yang ada disampingmu.” Yifan memberi perintah sambil menunjuk kearah rak pedang yang tidak jauh dari Nari.

Nari bisa melihat jajaran pedang yang bervariasi, dia bahkan tidak tahu harus mengambil pedang yang mana sampai akhirnya dia melihat sebuah pedang yang cukup tipis dan ringan. Dia suka pedang itu karena cukup ringan namun terlihat sangat tajam, pedang itu berkilau saat sinar matahari menyentuh permukaannya membuat Nari tercegang kagum. Ini pertamakalinya dia memegang pedang asli, seumur hidupnya dia habiskan di lab hanya untuk memegang pisau bedah bukan pedang yang tajam seperti ini. Melihat Nari mulai memainkan pedang yang ada ditangannya membuat Yifan tersenyum, Yifan tidak bisa menyangkal Nari memang sangat mirip dengan istrinya.

“Apa kau sudah siap untuk berlatih?” Yifan bertanya membuat Nari terkejut dan berhenti memainkan pedangnya.

“Berlatih?” Tanya Nari kembali, wanita itu kebingungan.

“Ya, kita akan menghadapi perang Nari tentu saja kau harus belajar untuk melindungi dirimu sendiri.” Yifan menjawab.

“Tapi paman aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan pedang.” Nari mengeluh.

“Kau akan belajar.”

Tanpa basa-basi Yifan menyerang kearah Nari membuat wanita itu terkejut dan menghindar dari serangan Yifan, Yifan berbalik dan mengayunkan pedangnya kearah Nari dan kali ini Nari mengangkat pedangnya untuk menahan serangan Yifan. Yifan menyeringai, dia tahu Nari mewarisi keahlian ibunya dalam mengendalikan pedang. Nari mendorong Yifan dan menghunuskan pedangnya kearah Yifan saat Yifan lengah namun serigala itu cukup cepat untuk menghindar dan dan menyerang Nari, Nari mundur beberapa langkah bersiap untuk menyerang, mereka berdua saling memandang untuk sesaat mencari kelemahan masing-masing.

Nari menyeringai saat dia menemukan celah dalam pertahanan Yifan, dia berlari dan menyerang Yifan dengan kekuatan penuhnya membuat Yifan terkejut. Beberapa kali Nari menyerang namun Yifan masih bisa menahan serangan wanita itu, Yifan yang percaya diri mendorong Nari sehingga Nari hampir terjatuh namun dia masih bisa menjaga keseimbangannya. Akhirnya Nari mengayunkan pedangnya kebawah kearah kaki Yifan membuat Yifan kehilangan keseimbangannya namun lelaki itu dengan cekatan kembali berdiri tegak. Nari ternyata cukup pintar untuk menemukan titik lemahnya kali ini dia tidak akan membiarkan Nari membuatnya kehilangan keseimbangan.

Kali ini Yifan yang maju kedepan untuk menyerang Nari, lelaki itu mengayunkan pedangnya beberapa kali tetapi Nari bisa menahannya. Pedang Yifan hampir saja melukainya namun Nari cukup cekatan untuk mundur dari jangkuan pedang Yifan, Yifan sepertinya tidak ragu untuk menyerangnya. Nari yang kewalahan tidak mampu menahan serangan Yifan sampai akhirnya dengan seragan terakhir Yifan pedang Nari akhirnya terlepas dari tangannya dan Nari akhirnya diam saat ujung pedang Yifan ada tepat dilehernya.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang Nari?” Yifan bertanya dengan seringainya.

“Lari?” Nari bertanya tak yakin namun mereka berdua akhirnya tertawa.

“Lari bukan solusi yang bagus jika kau melawan serigala Nari.” Yifan memberi nasihat sebelum akhirnya dia menarik pedangnya dan memasukan pedang tajam itu ketempatnya semula.

“Paman, terimakasih sudah mau melatihku walaupun kau sibuk.” Ucap Nari tersenyum canggung,

Ini pertamakalinya Nari ditinggalkan berdua bersama Yifan dan dia tidak tahu harus bertingkah bagaimana. Ibunya biasanya selalu menjadi penegah antara dia dan Yifan, suami ibunya itu terlihat sangat mengintimidasi dengan tubuh tinggi dan wajah tampannya. Yifan benar-benar terlihat seperti Raja yang kuat dan penuh dengan wibawa, pantas saja semua rakyatnya menghormati dia dan tunduk pada setiap aturannya. Namun Nari merasa tenang saat dia melihat senyum Yifan, entah bagaimana wajah tegas Yifan terlihat seperti anak kecil polos jika dia sedang tersenyum seperti itu.

“Nari aku tahu aku tidak akan pernah menggantikan posisi Yixing dihatimu karena dia ayah kandungmu tapi aku juga menyayangimu sama seperti dia mungkin akan menyayangimu.” Ucap Yifan.

Nari tersenyum mendengar itu, dia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana dia dengan Yixing akan berinteraksi. Dia hanya mengingat senyum dan pelukan kuat ayahnya setelah itu dia tidak tahu apa-apa, bahkan suara ayahnya tidak pernah dapat dia ingat membuat hatinya berdenyut sakit. Dia merindukan sosok ayahnya, dia ingin tahu segala tentang ayahnya namun selama ini sepertinya semua orang menutupi kenyataan itu. Nari tidak mampu menjawab perkataan Yifan karena matanya sudah berkaca-kaca, airmata disudut matanya mengancam untuk mengalir membasahi kedua pipinya.

Sebuah tangan besar yang hangat menyentuh kepalanya dan Nari melebarkan matanya, dia mendongak dan melihat Yifan menatap kearahnya penuh dengan kasih sayang. Airmata Nari akhirnya menetes dan dia mendekat kearah Yifan memeluk lelaki itu sambil menangis. Yifan sedikit terkejut dengan pelukan Nari namun dia memeluk kembali wanita itu, dia mengelus kepala Nari dan tersenyum. Entah kenapa Nari mengingatkan dia pada Sehun saat Sehun masih kecil, dulu anak lelakinya itu cenggeng dan dia seringkali datang kepadanya dengan airmata yang membasahi kedua pipi tembemnya dulu.

Appa…aku merindukanmu.” Nari berkata dalam pelukan Nari dan Yifan hanya bisa menghela nafasnya dan mengelus punggung Nari.

Saat dia mengelus punggung Nari matanya menangkap sesosok arwah yang tidak asing baginya, Yifan tersenyum kearah sosok arwah itu. Arwah itu adalah arwah Yixing, dia berdiri tidak jauh dari mereka dan tersenyum kearah Yifan, Yixing terlihat menggerakan mulutnya dan Yifan bisa menebak apa yang lelaki itu katakan padanya. Yifan hanya mengangguk sebelum akhirnya bayangan arwah Yixing menghilang tertiup angin yang cukup besar membuat Nari melepaskan pelukannya dari Yifan.

“Maaf aku tiba-tiba saja rindu ayahku dan paman ada di depanku jadi..” Nari tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia menangis lagi.

“Tidak apa-apa Nari, makam ayahmu tidak jauh jika kita punya waktu kita bisa pergi kesana.” Yifan mengajak dan itu membuat Nari tersenyum senang.

“Terimakasih paman Yifan.” Ucap Nari.

*****

Eunji dan Sehun berjalan sambil berpengan tangan menikmati pemandangan sore dipedesaan, dibelakang mereka ada Sena dan Jongin yang masih sibuk membahas strategi perang yang akan mereka susun. Eunji kelihatan tidak tenang dia bahkan meremas tangan Sehun setiap kali dia mendengar kata perang keluar dari mulut Sena atau Jongin, semuanya terasa mimpi bagi Eunji. Dia belum pernah melihat peperangan secara langsung dan itu membuatnya ketakutan, meskipun Sehun ada disampingnya dia tetap takut. Dia merasa takut untuk semua orang yang dia tahu, perang ini nyata dan siapapun yang Eunji kenal mungkin akan mati dalam perang ini.

Sehun bisa merasakan keresahan Eunji sehingga dia melingkarkan tangan kananya dibahu Eunji, berharap jika kekasihnya itu merasa lebih tenang. Saat mereka sedang berjalan tiba-tiba saja mereka mendengar ledakan yang sangat keras membuat Sehun dan Jongin melirik kearah sumber suara itu. Taklama menyusul suara teriakan warga desa terdengar, Sehun langsung melirik kearah Jongin dan Jongin mengangguk.

“Eunji dengarkan aku.” Sehun menyentuh kedua bahu Eunji, wanita itu sudah kelihatan panik saat dia melihat ledakan yang mereka dengan menghasilkan api yang melahap sebagian bangunan dipedesaan.

“Sehun,kita harus pergi.” Ucap Eunji, Sehun bisa merasakan tangan kekasihnya itu gemetaran.

“Aku harus menyelamatkan warga desa, kau dan mama sebaiknya pergi bersama Jongin.” Sehun menyuruh.

“Tapi Sehun kau bisa terluka.” Eunji bersikeras untuk menarik Sehun agar ikut bersama.

“Aku tidak bisa Eunji, aku harus menyelamatkan rakyatku…aku mohon pergilah bersama Jongin.” Sebelum Sehun pergi dia mencium dahi Eunji dan melirik kearah ibunya, Sena hanya mengangguk menyuruh Sehun untuk berlari.

Melihat itu Sehun merubah wujudnya menjadi serigala dan berlari dengan kecepatan penuh menuju sumber ledakan, menghiraukan panggilan Eunji yang menyuruhnya kembali. Saat ini dia harus menjadi pangeran yang baik meskipun dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Eunji dia punya kewajiban yang harus dia penuhi. Kaki serigala nya berlari dnegan cepat, dia masih bisa melihat dengan jelas meskipun asap sudah mulai menghalangi jalannya. Semakin dekat Sehun pada pusat ledakan dia bisa mendengar suara tembakan dan jeritan rakyatnya membuat Sehun semakin marah mata merahnya menyala dan dia berlari lebih cepat.

Seorang tentara manusia yang sedang menembaki rakyatnya terlihat dan itu membuat Sehun kehilangan kontrol emosinya, dia langsung menerkam tentara itu dan dengan kejamnya merobek leher manusia itu dengan taring tajamnya. Dia menggeram saat dia melihat beberapa tentara manusia mencoba menyakiti seorang anak kecil. Sehun berlari kearah tentara itu lalu menerkamnya lagi dan anak kecil itu langsung berlari saat dia melihat Sehun menggigit tangan tentara manusia itu, tentara itu berhasil melepaskan gigitan Sehun dari tangannya dan hendak menembak. Sehun menggeram kearah tentara itu tidak takut dengan ancaman pistol tentara manusia, saat tentara itu hendak menembaknya tiba-tiba saja seekor serigala yang berbulu campuran antara hitam dan abu menyerang tentara itu membuat Sehun terkejut. Dia tidak mengenali serigala itu namun serigala itu kelihatannya mengenalinya karena dia menundukan kepalanya kearah Sehun seperti seluruh rakyatnya setelah serigala itu membunuh tentara yang mencoba menyerangnya.

Sehun sadar dari lamunannya dan kembali berlari menuju tentara manusia manusia lain yang masih menyerang pedesaan, serigala yang tadi menolongnya mengikuti dia dari belakang. Mereka berdua berhasil membunuh beberapa tentara sampai akhirnya beberapa ekor serigala datang membantu mereka berdua, Sehun mengenali salah satu serigala yang datang sebagai prajurit utusan ayahnya. Serigala itu menunduk kearahnya sekilas sebelum akhirnya mereka berpencar untuk menyerang segerombolan tentara manusia yang datang dan menyerang mereka.

Pedesaan kacau sekali Sehun bisa melihat banyak sekali rumah yang terakar dan beberapa tubuh rakyatnya tergeletak dimana-mana sudah tidak bernyawa. Saat Sehun berlari dia melihat seorang anak kecil tergeletak sekarat, melihat itu Sehun langsung merubah sosoknya dan mendekat kearah anak kecil tersebut. Sehun menunduk dan didepan anak lelaki yang sekarat tersebut, kaki dan tangan anak itu terluka parah namun yang membuat Sehun sedih adalah saat dia melihat luka besar dibagian perut anak lelaki itu sepertinya dia tertembak. Sehun menekan luka tembak anak itu mencoba menghentikan pendarahan, anak itu mengerang kesakitan dan mencengkram tangan Sehun.

“Bertahanlah, aku akan membawamu ketempat yang aman.” Sehun berkata saat Sehun hendak mengangkat tubuh anak itu anak itu menolak dengan menggelengkan kepalanya.

“Aku tahu aku tidak akan selamat, aku mohon…selamatkan keluargaku.” Anak itu berkata dia melepaskan kalung giok merahnya dan menyimpannya ditelapak tangan Sehun.

Sehun meremas kalung giok itu menahan airmatanya saat dia melihat anak itu menghembuskan nafas terakhirnya, Sehun menutup kedua mata anak itu dan memasukan kalung itu kedalam sakunya. Dia tahu keuarga mana yang harus menerima kabar murung ini sehingga membuat Sehun marah, dia menatap taja kearah para tentara manusia yang masih menembaki desa kerajaannya. Sebuah tank besar bahkan muncul menembakan bom yang besar menghancurkan sebuah menara yang tinggi didesa.

“KALIAN AKAN MEMBAYAR SEMUA INI!” Sehun berteriak matanya menyala merah penuh dengan amarah dan dendam.

To Be Continue..

Don’t Forget  The Comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s