Posted in FanFiction NC 17+

Evacotive Seduction [Part 3]

Evocative Seduction

Title:  Evocative Seduction

Author : AutumnBrezee@ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Kim Jongin/Kai [EXO]. Zhang Nari [OC], Jung Sena [OC], Wu Yifan/Kris, Zhang Yixing [EXO], Jung Eunji [Apink],Oh Sehun [EXO], Do Kyungsoo [EXO], Park Chanyeol [EXO]and other supporting cast..

Genre : Fantasy,Wolf AU! And romance

Length : Chaptered

Rating:PG 17 –NC17

3

New Home

Jalanan yang mereka tempuh cukup rumit, terimakasih pada Sehun mereka bisa kembali pada jalur yang tepat menuju daerah serigala. Saat mereka sampai disebuah sungai mobil patrol yang mereka kendarai tiba-tiba saja mati, mungkin mesin nya rusak atau bensin mobil itu habis Nari tidak tahu.

Semua orang turun dari mobil dengan Kyungsoo yang dibantu oleh Sehun, Dokter itu kelihatan sangat pucat sekali dan darah tidak berhenti keluar dari luka tembaknya. Sehun membaringkan tubuh Kyungsoo disamping sungai, dia melepaskan kain yang menutupi luka tembak Kyungsoo yang cukup dalam dan membuka kancing kemeja hitam yang Kyungsoo gunakan agar lelaki itu bisa bernafas lebih leluasa.

“Bagaimana keadaan Dokter Do?” Tanya Sehun saat dia melihat Nari dan Eunji membersihkan luka Kyungsoo.

“Lukanya kelihatan cukup dalam,aku harus mengeluarkan pelurunya tapi aku tidak punya alat yang cukup bagus.Kita harus segera sampai diperbatasan kerajaan sebelum malam hari jika tidak aku khawatir luka tembak Dokter Do akan terinfeksi.” Nari menjelaskan.

“Jongin,tapi Jongin masih diperbatasan daerah manusia.” Eunji berkata mengingat jika Jongin membantu mereka untuk kabur tadi.

“Tenang saja, aku bisa mencium aroma tubuhnya disekitar sini dia mungkin sedang mencari kita.” Jawab Sehun membuat Nari lega.

“Aku akan mencari tanaman herbal untuk mencegah infeksi lukanya.” Sehun berkata dan Nari mengangguk setuju, mereka membutuhkan apapun yang bisa mencegah pendarahan dan infeksi luka Kyungsoo.

“Dokter bertahanlah, Sehun sedang mencarikan obat untukmu.” Nari berkata, Kyungsoo hanya mengangguk tidak mampu berkata apa-apa karena dia terllau lemah.

Pengelihatan Kyungsoo sudah mulai kabur dan dia takut jika dia akan pingsan, dia tidak boleh pingsan dalam keadaan ini jika dia pingsan ada kemungkinan dia tidak akan bangun lagi. Dia melirik kearah Nari yang duduk disampingnya, entah kenapa tiba-tiba saja dia merindukan sosok sahabatnya Sena apalagi gadis itu mirip sekali dengan Sena. Menatap kearah Nari membuat dia merasa lega dan tenang karena dia merasa dalam pelukan Sena sekarang.

“Nari…” Panggil Kyungsoo serak, tangannya menggapai kearah Nari sehingga Nari menggengam tangannya, tangan Kyungsoo terasa sangat dingin sekali sekarang.

“Ya Dokter?”

Kyungsoo tiba-tiba saja tertawa, bahkan suara Nari hampir sama dengan Sena. Setidaknya itu pendapat Kyungsoo, dia sudah lama sekali ingin mendengar lagi suara sahabatnya itu tertawa dan bersenda gurau bersama Sena dan Yixing seperti dulu. Dia ingin merasakan kembali hangatnya pelukan Sena, dia ingin menggengam tangan sahabatnya itu untuk terakhir kalinya.

Kenangan manis memenuhi pikiran Kyungsoo, dia ingat hari pertama kuliah dimana dia bertemu dengan Sena dan Yixing walaupun Sena berakhir dijurusan yang berbeda dengan dia dan Yixing mereka tetap menjadi sahabat dekat. Banyak sekali hal yang ingin dia sampaikan pada Yixing dan Sena, apalagi dia tidak sempat mengatakan perpisahan sebelum kedua sahabatnya itu pergi kedaerah serigala dan tidak pernah kembali lagi.

“Aku konyol sekali sekarang, aku bahkan hampir terbunuh.” Kyungsoo menertawakan dirinya sendiri, seharusnya dia melakukan ini beberapa tahun yang lalu bersama kedua sahabatnya.

“Dokter Do..” Nari menggengam tangan Dokter itu lebih erat.

“Maafkan aku Nari,aku seharusnya menjagamu…” Kyungsoo tidak bisa menamatkan kalimatnya karena dia batuk, darah keluar dari mulutnya itu tandanya luka tembak Kyungsoo sangat dalam dan peluru didalam dadanya melukai organ dalamnya.

“Dokter!” Nari, menahan airmatanya dia tidak boleh menangis dia harus kuat sekarang.

“Dengarkan aku,aku tidak tahu jika aku akan selamat.” Kyungsoo berkata susah payah, dia menggengam tangan Nari dengan erat.

“Jika bertemu dengan ibumu, katakan padanya jika aku menyesal…aku menyayangi kedua orangtuamu Nari mereka sahabatku.” Kyungsoo terbatuk lagi dan darah keluar dari mulutnya lebih banyak.

Mata Kyungsoo mulai terasa berat dan dia tidak bisa menahannya lagi, rasa sakit didadanya benar-benar menyiksa dan dia tidak bisa bernafas lagi sekarang.  Airmata akhirnya tumpah dari mata Nari saat dia melihat Kyungsoo mulai menutup matanya, genggaman tangan Kyungsoo melemah dan akhirnya dokter itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Nari menggengam erat tangan Kyungsoo, beberapakali wanita itu menguncangkan tubuh Kyungsoo berharap Dokter itu membuka matanya. Saat dia sadar jika Kyungsoo sudah pergi dia memeluk tubuh Dokter itu dengan erat, bahkan Dokter itu tidak sempat untuk bertemu dengan ibunya kembali padahal dia tahu jika Kyungsoo benar-benar ingin bertemu dengan ibunya.

Eunji yang melihat Nari menangis merasa kasihan juga, dia mengelus punggung Nari wanita itu menangis masih memeluk tubuh Kyungsoo yang sudah mendingin. Melihat Nari dan Eunji yang menangis Sehun tahu jika dia terlambat, dia berjalan dengan langkah kaki yang lemah tidak percaya jika Kyungsoo sudah meninggalkan mereka begitu saja.

Sehun tahu Kyungsoo tidak akan bertahan lama melihat dari luka tembaknya, Sehun akhirnya menutup tubuh Kyungsoo dengan jas lab yang masih dia gunakan. Dia melirik kearah Nari yang masih menangis, dia menarik kakak perempuannya itu dalam pelukannya dan Nari menangis memeluk erat adiknya.

“Mari kita berdoa semoga jiwa Kyungsoo beristirahat dengan tenang.” Sehun berkata.

Taklama setelah mereka berdoa sosok serigala abu-abu datang, serigala itu berubah wujud menjadi Jongin dan dia terkejut saat dia melihat tubuh Kyungsoo yang sudah ditutup oleh jas lab tidak bernafas dan kaku. Jongin menghela nafasnya, walaupun dia tidak mengenal Kyungsoo namun Kyungsoo cukup baik menolong mereka dan Jongin selalu akan berterimakasih pada jasa Kyungsoo.

Dia menghampiri Nari yang masih ada dalam pelukan Sehun, hatinya terasa sakit saat dia melihat pasangannya menangis tersedu-sedu. Walaupun mereka belum secara resmi menjadi pasangan Jongin bisa merasakan emosi sedih Nari.

“Bisakah kita membawa jasad Dokter Do? Aku ingin dia dikubur dengan layak.” Nari meminta, Sehun dan Jongin mengangguk.

Tentu saja, tanpa rencana cemerlang Kyungsoo mereka tidak akan disini sekarang. Kyungsoo layak untuk mendapatkan pemakaman layaknya seorang pahlawan, lagipula mereka sudah dekat dengan perbatasan kerajaan Sehun bisa berlari kepuncak gunung dan memanggil penjaga dengan longlongannya.

“Aku akan memanggil pasukan khusus, kau diam disini jaga Eunji dan Nari.” Sehun memerintah dan Jongin mengangguk.

Sehun mengubah sosoknya menjadi serigala putih dengan mata merahnya yang sangat terang, ini pertamakalinya Eunji melihat sosok serigala Sehun dan dia mengakui jika sosok serigala Sehun sangatlah indah. Bulu putih murni Sehun kelihatan lembut jika disentuh dan mata merah serigalanya mampu menenggelamkan siapapun dalam pesona dengan melihatnya.Sosok serigala Sehun akhirnya pergi menuju puncak gunung sedangkan Eunji duduk disamping Nari yang masih bersedih, dia bahkan tidak mengatakan apapun meskipun airmatanya sesekali masih menetes menangisi jasad Kyungsoo.

*****

“Auuuuwwwwwuuuuu!!!”

Suara longlongan itu terdengar sangat jelas ditelinga Yifan, lelaki itu segera berdiri dari singgasananya senang karena akhirnya dia mendengar panggilan putra satu-satunya. Yifan segera berlari keluar dari ruang singgasananya dan menemukan sekumpulan prajurit di istananya sudah berkumpul mendengar suara panggilan Pangeran mereka.

“Yang mulia, sepertinya Pangeran Sehun membutuhkan bantuan kami.” Salah satu prajurit berkata pada Yifan.

“Pergilah, bawa apapun yang mungkin Sehun butuhkan.” Yifan memberikan perintah.

Para prajurit itu langsung pergi bersiap-siap untuk menjemput Sehun,salah satu prajurit merubah wujudnya dan menjawab longlongan Sehun memberitahu jika mereka akan datang membantu Sehun. Yifan berlari kearah kamarnya dan Sena, dia bisa melihat istrinya berdiri di balkon kamar mereka tersenyum bahagia karena kahirnya mereka bisa mendnegar suara Sehun.

Tanpa berkata apapun Sena langsung berlari kearah Yifan dan memeluk suaminya, Yifan sama bahagianya dengan Sena. Mereka berdua lega sekali mengetahui jika putra mereka satu-satunya masih hidup dan sehat mendengar dari longlongannya, Sena ingin sekali menjemput Sehun bersama para prajuritnya sehingga dia melepaskan pelukannya hendak mengutarakan keinginannya.

“Kau tidak usah mengatakannya, kita akan menjemput Sehun bersama-sama.” Yifan mendahului membuat Sena mengangguk.

Kereta kuda Sena dan Yifan sudah menunggu diluar istana, pasangan itu masuk kedalam kereta kuda mereka dengan perasaan antisipasi berharap jika mereka segera menemukan lokasi anak mereka. Selama perjalanan Sena tidak bisa berhenti berdoa pada dewi bulan untuk keselamatan anaknya dan Jongin, Yifan hanya bisa berdiam diri disamping istrinya dengan penuh harap juga.

Perjalanan menuju lokasi Sehun berada cukup lama tetapi saat matahari terbenam akhirnya mereka sampai, kereta kuda yang mereka tunggangi sudah berhenti. Yifan membuka pintu kereta kuda itu dan membantu istrinya untuk turun mengingat istrinya memakai gaun coklat yang cukup panjang.

Saat Sena turun dia bisa melihat sosok perempuan yang mirip sekali dengannya, melihat itu airmata langsung berkumpul disudut matanya. Dia tidak tahu jika anak perempuannya tumbuh dengan sehat selama ini, bahkan dia lebih cantik dari yang Sena perkirakan.

“Nari..” Panggil Sena.

Nari yang mendengar namanya dipanggil langsung melirik kearah Sena dan berlari kearah wanita itu memeluk ibunya dengan erat. Sena bahagia sekali saat Nari memeluknya, dia kira anak perempuannya itu akan membencinya karena Sena sudah meninggalkan dia sendirian tetapi perkiraannya salah anak perempuannya itu bahkan memeluknya sekarang membuat dia lega.

“Oh Nariku sayang, maafkan Eomma…” Sena berkata, dia melepaskan pelukannya dari Nari dan menatap penuh sayang kearah wajah anak perempuanya.

Eomma… kau masih hidup, kau sama seperti terakhir kali aku melihatmu.” Nari berkata, Sena hanya tersenyum dan menyeka airmata dari pipi Nari.

“Kau masih mengingatku?” Tanya Sena, Nari pasti memiliki memori yang sangat tajam jika dia masih mengingat wajahnya.

“Sedikit, aku masih ingat Appa…” Ungkap Nari dan senyum Sena langsung menghilang.

“Nari,maaf tapi ayahmu tidak didunia ini lagi.” Sena menunduk sedih.

Nari hanya terdiam, dia tidak mengharapkan banyak mendengar cerita dari paman dan bibinya Nari tahu apa yang kedua orangtuanya hadapi saat itu. Menemukan ibunya masih hidup sudah merupakan keajaiban bagi Nari, dia kira selama ini dia hanyalah sebatang kara.

“Mama!Papa!”

Suara Sehun memecahkan hening antara mereka, Sena tersenyum melihat sosok anak lelakinya dan membuka tangannya membuat Sehun berlari dan memeluk ibunya dengan erat. Yifan yang ada disamping Sena memeluk Sehun juga, mereka bertiga tertawa penuh dengan kebahagiaan dan Nari hanya bisa melihat kebahagiaan itu. Sena yang sadar jika Nari tidak bergabung dalam pelukan mereka memanggil gadis itu, Sehun melirik kearah Nari dan menarik tangan Nari sehingga dia dan Yifan bisa memeluknya. Nari hanya tersenyum merasa konyol, rasanya dia menemukan keluarga yang baru bersama Yifan,Sena dan Sehun.

Eunji dan Jongin hanya menatap kearah keluarga itu dengan senyuman, Eunji tiba-tiba saja merindukan keluarganya yang masih ada di daerah manusia. Kedua orangtuanya mungkin sudah panik sekarang mengingat berita kaburnya Sehun dan Jongin dari lab sudah menyebar keseluruh penjuru daerah manusia. Apalagi dengan menghilangnya dia dan Sena, Eunji berdoa jika kedua orangtuanya bisa menghadapi hal ini dengan tenang.

“Eunji?apa itu kau?” Tanya Sena saat dia melihat sosok keponakannya yang berdiri disamping Jongin.

Nde imo-ah.” Jawab Eunji, Sena langsung memeluk keponakannya itu, padahal terakhir mereka bertemu Eunji masih sangat kecil.

“Kau sudah besar sekarang,kau mirip sekali dengan adikku bagaimana kabar Soo young?” tanya Sena.

Eomma baik-baik saja.” Eunji menjawab dengan senyum, Sena lalu melirik kearah Jongin.“Jongin, aku senang kau baik-baik saja.” Lanjut Sena,dia melirik kesekitar tapi dia tidak menemukan Yura, itu tandanya mereka gagal menyelamatkan kakak Jongin sehingga dia tidak menanyakan apapun soal Yura.

“Sepertinya Yura Noona  tidak bisa berkumpul dengan kita lagi Yang mulia.” Ucap Jongin saat Sena masih menatap kearahnya, lelaki itu melepaskan kalung giok hijau peninggalan kakaknya dari lehernya lalu menunjukannya pada Sena. “Satu-satunya yang dia tinggalkannya hanya ini.”

Sena bisa merasakan kesedihan Jongin yang mendalam, kehilangan seseorang yang disayangi bukanlah hal yang sepele dia mengalami itu. Sena menggengam tangan Jongin dan mengelus kepala lelaki itu dengan lembut, satu-satunya hal yang bisa Sena lalukan untuk Jongin hanyalah memberi lelaki itu kenyamanan dan semangat dia tidak bisa membawa kakaknya yang meninggal kembali hidup.

“Kau prajurit yang kuat Jongin, jangan biarkan kematian kakakmu menghentikan langkah semangat mu.” Ucap Sena dan Jongin mengangguk, perkataan Sena sedikit membuatnya tenang.

Mata Sena akhirnya menangkap jasad Kyungsoo yang sudah ditutupi oleh jas lab disamping sungai, dia menatap kearah Nari dan Nari mendekat kearah ibunya. Gadis itu menuntun ibunya untuk mendekat kearah jasad Kyungsoo, saat Nari membuka jas lab yang menutupi wajah Kyungsoo dia bisa mendengar tarikan nafas Sena.

“Kyungsoo…” panggil Sena, dia menyentuh pipi dingin Kyungsoo dan dia bisa merasakan jiwa Kyungsoo sudah meninggalkan tubuhnya.

“Sahabatku Kyungsoo, kau benar-benar menjemputku kesini.” Sena berkata, dia menahan airmatanya namun airmatanya tetap menetes.

“Dia mengatakan jika dia menyesal, dia seharusnya menjemputmu lebih awal Eomma.”

Sena hanya tersenyum sedih, sangat disayangkan mereka tidak sempat berbincang. Betapa menyenangkannya jika dia bisa kembali bertemu dengan sahabatnya, Yifan menghampiri mereka berdua dan menyentuh lengan Kyungsoo sambil menatap kearah bulan yang menyinari mereka.

“Kyungsoo baru meninggal hari ini, rohnya mungkin masih ada disekitar kita jika kau mau kita bisa memanggilnya dengan ijin Dewi bulan.” Yifan memberi tahu.

“Apakah mungkin?” Tanya Nari, dia menatap kearah Yifan penuh harap.

“Tentu saja, jika Dewi Bulan mengijinkan kita bisa memanggil roh siapapun.” Yifan menjawab, melihat ekspressi penuh keingin tahuan Nari dia merasa gemas sendiri, Nari seperti versi muda Sena.

“Sehun,Jongin bisakah kalian mengangkat jasad Kyungsoo ke air dimana bayangan bulan terlihat?” Yifan meminta.

Kedua pemuda yang Yifan panggil akhirnya mengangkat jasad Kyungsoo mengarahkan tubuh itu pada bayangan bulan yang bersinar dilangit malam yang hitam, Yifan turun kedalam sungai juga dan membuka kedua tangannya lebar-lebar sambil mendongak kearah bulan sambil bergumam membaca mantra.

Mata Yifan tiba-tiba saja berubah menjadi merah terang saat lelaki itu membuka matanya melihat itu Nari terkesima Yifan terlihat seperti tokoh-tokoh sakti yang dia lihat dalam kartun saat dia masih kecil. Sinar bulan tiba-tiba saja menyinari kepala Kyungsoo taklama kemudian sesosok wanita yang menggunakan pakaian serba putih dan sosok arwah Kyungsoo turun dari langit.

Melihat itu semua orang langsung menunduk kecuali Eunji dan Nari yang tidak mengenali sosok wanita cantik yang ada disamping arwah Kyungsoo. Wanita memiliki kulit putih yang bersinar serasi dengan rambut putihnya yang panjang, siapapun yang melihat wanita itu pasti akan terkesima. Wanita itu lalu melirik kearah sosok Nari dan tersenyum, saat Nari menatap kearah kaki wanita itu ternyata kaki wanita itu tidak menyentuh tanah dan melayang kearahnya.

“Kau pasti Nari, putri dari Zhang Yixing.” Tebak wanita itu, suara wanita itu terdengar sangat elegan dan lembut.

Nari hendak menjawab namun dia didahului oleh ibunya.

“Yang mulia Dewi bulan, Anda benar ini putriku Zhang Nari.” Sena memperkenalkan dan menyuruh Nari untuk menunduk, tidak ada seorangpun yang berani menatap kearah dewi bulan.

“Aku mendengar banyak hal tentangmu dari Yixing.” Ucapnya, Dewi bulan mendekat kearah Nari dan mengangkat dagu Nari sehingga mata mereka bertemu.

Saat Nari menatap kearah mata Dewi bulan dia menemukan jika mata wanita itu berwarna abu-abu percis seperti pantulan bulan dalam air sungai, mata indah Dewi bulan mampu menghipnotis siapapun yang memandangnya. Saat Dewi Bulan menatap kearah mata Nari sekilas masa depan wanita itu terkilas didepannya membuat Dewi Bulan menjadi sangat resah karena apa yang dia lihat bukanlah apa yang dia harapkan. Dewi bulan tidak mengatakan apa-apa lagi lalu melepaskan tangannya dari dagu Nari, dia berbalik kearah Kyungsoo yang masih berdiri didanau tidak jauh dari jasadnya.

“Kyungsoo,kau boleh menyampaikan pesanmu.” Dewi bulan berkata dan dia memilih untuk melayang kearah Yifan agar dia bisa memiliki waktu untuk membahas sesuatu dengan Raja itu.

“Kyungsoo…” Panggil Sena saat dia melihat arwah Kyungsoo mendekat kearahnya.

“Sena, senang bisa bertemu denganmu lagi.” Kyungsoo tersenyum, tangannya menggapai kearah pipi Sena namun tangan Kyungsoo malah menembus tubuh Sena.

Ekspressi kesedihan langsung muncul pada wajah tampan Kyungsoo, Sena sendiri tidak bisa menahan airmatanya. Bahkan pada akhirnya mereka tidak bisa bersentuhan meskipun dia sejujurnya ingin seklai memeluk Kyungsoo, sahabatnya itu pasti memiliki banyak kesedihan setelah dia dan Yixing pergi.

“Kyungsoo-ya, kau tidak usah menyesal.” Sena berkata, suaranya sedikit serak menahan airmatanya.

“Aku..jika aku berani untuk melawan Chanyeol saat itu kau dan Yixing mungkin masih bersama sekarang.” Kyungsoo menunduk penuh penyesalan.

“Keadaanmu terdesak saat itu, aku sangat mengerti…kita bertiga tidak punya pilihan lain.” Sena menghibur Kyungsoo, dia memamerkan senyum manisnya kearah Kyungsoo.

Rasanya sudah lama sekali Kyungsoo menantikan senyuman itu, jika dia masih bisa menyentuh Sena mungkin dia akan memeluk sahabatnya itu. Kenangan tentang dia dan Sena kembali muncul dalan pikirannya dan entah kenapa Kyungsoo tiba-tiba saja ingin tertawa mengingat betapa konyolnya mereka saat mereka masih muda dulu.

“Lihat kau, kau bahkan tidak berubah sedikitpun…aku semakin tua rambutku bahkan mulai memutih.” Kyungsoo berkata membuat Sena tertawa.

“Kau masih tampan.” Sena memuji. “Lagipula setidaknya kau tidak akan bertambah tua sekarang.” Sena mengingat membuat Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

“Cara bagus untuk mengingatkan seseorang jika dia sudah mati.” Kyungsoo meledek.

Setelah berkata itu mereka hanya terdiam sesaat, Nari bisa melihat ibunya mengagumi sosok arwah Kyungsoo dan itu membuat Nari berpikir berapa lama mereka tidak bertemu? Apakah mereka berdua selalu akrab seperti ini? Nari hanya bisa membayangkan apa yang kedua orangtuanya dan Kyungsoo miliki.

“Senang bertemu denganmu kembali Kyungsoo.” Sena akhirnya memecah hening mereka.

“Aku juga Sena, senang bertemu denganmu.”

Dewi bulan yang sudah berdiri didepan Kyungsoo menyentuh bahu arwah itu, Kyungsoo kelihatannya mengerti jika waktunya sudah habis sekarang dan dia harus kembali ke akhirat bersama Dewi bulan yang membawanya.

“Maaf Sena,tapi waktu Kyungsoo sudah habis dia harus kembali sebelum bulan purnama hilang.” Dewi bulan berkata dan Sena mengangguk.

“Sampaikan salamku pada Yixing, aku merindukan dia.” Ucap Sena dan Kyungsoo mengangguk.

“Hiduplah dengan bahagia Sena, aku ingin melihat senyumanmu untuk terakhir kalinya.” Pinta Kyungsoo.

Sena mengangguk dan menunjukan senyum paling lebarnya, Kyungsoo membalas senyuman itu sebelum akhirnya dia menghilang bersama Dewi bulan dan airmata akhirnya menetes dari mata Sena menangisi sahabatnya yang sudah pergi begitu juga Nari.

“Kita sebaiknya kembali kekerajaan, Chanyeol dan pasukannya akan datang kesini.” Yifan berkata membuat Nari menarik nafasnya terkejut.

*****

“Presiden Kim, kita tidak bisa membiarkan para serigala menyekap ilmuwan kita!” Chanyeol berargumen, dia sudah menyiapkan pasukannya untuk datang kedaerah serigala sekarang.

“Jendral Park, kita tidak bisa gegabah bagaimanapun bangsa serigala cukup kuat sekarang.” Joonmyeon berkata, dia memegang kepalanya.“Dengar,aku mengerti Kyungsoo adalah teman masa kecilmu dan dia ilmuwan yang berharga bagi kita namun kita tidak bisa sembarangan menuduh.” Joonmyeon menjelaskan.

“Tapi Presiden Kim,Apa bukti yang aku bawa tidak cukup?! Tentara di perbatasan selatan sudah bersaksi mereka melihat jika Kyungsoo diculik oleh dua serigala Alpha!” Chanyeol menunjukan rekaman-rekaman yang kamera keamanan dapatkan menunjukan Kyungsoo yang dipaksa masuk kedalam mobil.

Joonmyeon hanya terdiam, dia melirik kearah sekitarnya melihat ekspressi para penasihat politiknya juga mentri nya. Mereka kelihatan ragu dengan usul yang diajukan oleh Chanyeol, apalagi mereka memiliki pasukan yang lebih sedikit dibandingkan jumlah para serigala yang ada didaerahnya.

Mereka semua kecuali Chanyeol sudah lelah dengan semua perang yang mereka hadapi, dia tidak ingin menumpahkan lagi darah bangsanya namun melihat Kyungsoo dan Nari yang diculik oleh serigala membuat hatinya berat. Kedua dokter itu sudah mengabdi cukup lama pada negara ini, jika dia tidak menolongnya apa yang akan dokter lain ucapkan?

“Berapa tentara yang kau butuhkan?” Joonmyeon bertanya.

“Seribu tentara sudah cukup,aku akan membawa senjata yang baru saja Kyungsoo ciptakan juga dan beberapa tank.” Jawab Chanyeol penuh kepercayaan diri.

“Jendral Park, bukanlah jumlah itu terlalu banyak?! Kita tidak bisa meresikokan keamanan daerah kita.” Mentri kesehatan Lee Taemin berkata.

“Aku bisa menanganinya, kalian hanya harus percaya padaku.” Chanyeol membujuk.

Joonmyeon menghela nafasnya, dia tahu jika Chanyeol tidak akan berhenti membujuknya sebelum dia akhirnya menyetujui penyerbuan yang Chanyeol usulkan. Dia berharap jika Chanyeol bisa memegang ucapannya, bagaimanapun dia harus menyelamatkan warga sipilnya jika dia tidak melakukan itu dia bukanlah Presiden yang baik.

“Baiklah, tapi kau hanya boleh membawa delapan ratus tentara sisanya biarkan mereka menjaga perbatasan sebaiknya kau latih dulu prajurit-prajuritmu sebelum kau pergi dan Mentri Choi aku harap berita ini tidak sampai pada media.” Joonmyeon melirik kearah Minho mentri keamanan negaranya.

“Baik Presiden Kim.” Minho mengangguk.

Chanyeol menyeringai puas mendengar rencananya disetuji oleh Joonmyeon, dia tidak sabar untuk memusnahkan bangsa serigala. Dia seharusnya melakukan ini dari dulu, dia berjalan keluar dan semua tentaranya menyambut dia dengan penuh hormat.Beberapa jajaran prajurit memberikan salut padanya saat dia berjalan kearah helikopter yang menunggunya, seorang prajurit menyambutnya saat dia hendak menaiki helikopternya.

“Siapkan pasukan! Kita akan bersiap-siap untuk berperang.” Ucap Chanyeol pada seorang tentara yang ada disampingnya.

“Baik Jendral!” Prajurit itu berkata dan segera berlari untuk menyampaikan pesan Chanyeol pada pasukannya.

“Tunggu saja Wu Yifan, aku akan menghancurkanmu seperti aku menghancurkan ayahmu.” Chanyeol menyeringai.

*****

Udara didaerah serigala ternyata lebih dingin dari yang Nari kira, dia menarik jaket yang Sehun berikan padanya lebih erat saat dia baru saja keluar dari kereta kuda mereka. Melihat Nari yang sedikit mengigil akhirnya Sena melingkarkan jubahnya yang terbuat dari kulit rusa pada pundak Nari.

“Cuaca disini memang sedikit dingin, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamarmu nanti.” Sena berkata dia menangkup wajah Nari dan Nari tersenyum, tangan ibunya terasa hangat sekali dipipinya.

Noona, setelah perang ini selesai tinggallah bersama kami.” Ucap Sehun dengan senyum lembutnya begitu juga Yifan, lelaki itu menatap kearahnya dengan senyum lembutnya.

“Sehun benar, disinilah rumahmu bersama kami.” Yifan mendukung permintaan anak lelakinya membuat Nari senang.

“Baiklah, jika itu yang kalian inginkan.” Nari setuju.

Setelah dia menemukan keluarga barunya dia tidak pernah ingin meninggalkannya, selama ini dia selalu merasa terasingkan bahkan saat Eunji dan kedua orangtuanya ada dia masih merasa bukan bagian dari mereka. Namun sekarang dia sudha menemukan ibunya dan dia memiliki Sehun, dia merasa menemukan keluarganya.

Saat Nari akhirnya menginjakan kakinya dikerajaan serigala dia bisa melihat jajaran pengawal dan pelayan yang menyambut mereka, ibunya Sena berbisik pada salah satu pelayan mungkin menyuruh dia untuk menyiapkan kamar untuk Nari. Sebuah tangan menyentuh bahunya dan dia melirik kesamping menemukan sosok Jongin yang tersenyum kearahnya.

“Apa kau lelah?kau terlihat lemas.” Jongin bertanya dan Nari hanya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya terkejut dengan semua ini.” Jawab Nari, dia berjalan lebih jauh menuju tangga dimana Sehun dan Eunji sedang mengobrol.

“Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi bisakah kita membahas tentang hubungan kita?” Jongin menggapai tangan Nari membuat wanita itu terkejut.

Sehun dan Eunji yang melihat Jongin memegang tangan Nari tersenyum, mereka tahu Jongin menyukai Nari dan Nari tidak bisa menyembunyikan emosinya dengan baik juga. Nari akhirnya mengangguk dan dia membiarkan Jongin menarik tangannya menuju halaman belakang kerajaannya, Yifan yang melihat itu bahkan tidak protes.

Dia tahu Jongin sudah mengikat Nari dengan aroma tubuhnya, wanita itu sudah mulai tercium seperti Jongin beberapa waktu yang lalu. Sena yang melihat Nari dan Jongin keluar dari kerajaan hendak memanggil anak perempuannya itu namun Yifan mencegahnya, dia tersenyum kearah Sena dan memeluk istrinya itu membuat Sena kebingungan.

Kolam ikan yang ada dihalaman belakang kerajaan memang indah namun Nari tidak bisa terus menatap kolam itu saat Jongin berdiri didepannya, wajah lelaki itu terlalu distraktif membuat dia tidak bisa fokus.

“Aku..kau tahu kita pasangankan?” Jongin bertanya dan Nari mengangguk, dia tahu dari itu dari buku serigala yang dia baca diperpustakaan beberapa hari yang lalu.

“J-Jadi…aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.” Jongin mengusap lehernya dengan canggung, Nari bahkan bisa melihat pipi Jongin bersemu merah. Sebenarnya apa yang Jongin pikirkan? Nari penasaran.

“Kau bisa mengatakan apapun padaku Jongin, apa yang ingin kau katakan?” Nari mendekat.

Jongin mengigit bibir tebalnya, mata Nari terlihat cantik sekali dibawah sinar bulan membuat Jongin terpesona namun dia segera membuang pikiran itu. Dia ingin membahas tentang hubungannya dengan Nari bukan untuk mengagumi wajahnya sekarang.

“Aku ingin menikahimu, aku ingin kau jadi istriku.” Ucap Jongin, dia bisa merasakan jantungnya berdetak kencnag sekali rasanya dia susah sekali bernafas sekarang karena dia terlalu gugup.

“Jongin…”

“Aku tahu kita baru bertemu tapi aku ingin bersamamu, serigalaku sudah memilihmu dan aku tidak….kau mungkin tidak mengerti, tapi aku benar-benar menginginkanmu.” Jongin mencoba menjelaskan perasaannya namun dia malah terdengar seperti anak kecil yang belum bisa menjelaskan apapun.

Nari hanya tersenyum, dia akhirnya memeluk Jongin dia senang jika Jongin benar-benar serius tentang hubungan mereka. Nari belum pernah merasakan emosi ini sebelumnya namun dia sangat bahagia sekali, apakah ini yang disebut jatuh cinta? Selama ini dia hanya bisa mendeskripsikan apa cinta itu tanpa benar-benar merasakannya namun dengan Jongin dia bisa merasakan emosi itu.

Dia jatuh cinta pada Kim Jongin, tubuh dan hatinya tidak bisa membantah itu lagi dan Jonginpun kelihatannya sama. Nari melepaskan pelukannya dan tangan hangat Jongin menyentuh pipinya dengan lembut, Nari menutup matanya dan membiarkan Jongin mendekat untuk mengecup bibirnya dengan manis.

Bibir Jongin terasa hangat dan sedikit kering, Nari merasa gugup saat dia merasakan tangan Jongin melingkar dipinganggnya dan menariknya lebih dekat. Angin malam yang dingin saat itu mereka acuhkan, selama Nari ada dalam pelukan Jongin mereka merasa hanya berdua didunia ini tidak ada yang lainnya.

Jongin melepaskan ciuman mereka dan dia tersenyum saat dia melihat wajah Nari sudah memerah, dia terlihat lucu sekali sekarang. Jongin mencium bibir Nari untuk terakhir kalinya dan menarik tangan wanita itu menuju istana dimana keluarga mereka sudah menunggu. Tanpa Jongin dan Nari sadari Yifan melihat semua adegan tadi dari balkon istana dan entah kenapa lelaki itu kelihatan khawatir dibandingkan senang.

*****

Kedua orangtua Jongin kelihatan lega sekali saat dia melihat sosok Jongin muncul diruang tamu istana, lelaki itu melepaskan tangan Nari dan berlari menuju sosok ibunya yang sudah membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk putra bungsunya. Ayah Jongin kelihatan senang juga, dia memeluk Jongin sekilas lalu mengusap kepala anak lelakinya itu penuh kasih sayang.

Nari hanya tersenyum, dia tahu cepat atau lambat Jongin harus menyampaikan berita kematian kakaknya,kakak perempuannya yang Nari bunuh. Nari mencengkram tangannya, dia bahkan tidak mendengar Jongin beberapakali memanggil namanya sampai lelaki itu menghampirinya dan menyentuh bahunya.

“Nari, kau tidak apa-apa? Aku memanggilmu tadi.” Ucap Jongin.

Nari mendongak dan dia langsung tersenyum merasa bodoh karena dia tidak menjawab panggilan Jongin, kedua orantua Nari tersenyum kearahnya mungkin Jongin sudah mengenalkan dia pada kedua orangtuanya membuat Nari sedikit canggung dan gugup.

“Selamat malam.” Nari menyapa dan ibu Jongin tersenyum.

“Aku dengar kau adalah anak perempuan Ratu Sena, aku senang kau dapat kembali kerumah setelah lama berada di daerah manusia.” Ucap ibu Jongin, sekarang Nari tahu darimana Jongin mendapatkan mata indah dan bibir tebalnya saat dia melihat wajah ibu Jongin.

“Walaupun Yura tidak bisa kembali kesini, aku senang Jongin menemukan pasangannya..tolong jaga anak laki-laki kami.” Ucap Jendral Kim sambil menyentuh bahu Nari membuat Nari mengangguk.

Sekarang dia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan jika dialah yang membunuh Yura, menjaga rahasia ini membuat Nari semakin cemas bahkan rasanya dia hampir mati karena dia harus menahan kebenaran yang mengancam keluar dari mulutnya.

Noona, Mama memanggilmu sebaiknya kau ganti baju dulu sebelum kita makan malam.” Sehun muncul membuat Nari melirik kearah adik laki-lakinya itu.

“Maaf Nyonya Kim, Tuan Kim…aku harus pergi dulu.” Nari berpamitan, dia tersenyum kearah Jongin dan Jongin mengangguk membiarkan pasangannya itu di tarik oleh Sehun.

Bahkan Sehun dengan akrabnya melingkarkan tangannya dibahu kakak perempuannya itu membuat Nari mencubit pinggang adiknya, Sehun mengerang namun tertawa. Jongin lega jika mereka berdua kelihatan akrab, mereka mulai terlihat seperti saudara yang asli dan entah kenapa rasa cemburu tiba-tiba saja muncul dibenaknya.

Dia langsung menggelengkan kepalanya, mungkin karena dia seorang Alpha dia memiliki rasa teritori yang lebih tinggi dibandingkan serigala yang memiliki kedudukan yang lebih rendah darinya. Jongin sadar dari lamunannya saat ibunya menyentuh bahunya dan menyuruh dia untuk bersiap-siap sebelum mereka harus makan malam bersama Raja dan Ratu mereka.

*****

Nari terkejut saat dia melihat jajaran gaun yang indah yang ada didepannya, Sena kelihatannya sudah mengeluarkan hampir sebagian gaun yang ada dilemarinya. Mengingat dia seorang Ratu Nari merasa tidak aneh jika ibunya memiliki banyak sekali gaun dan aksesoris yang sangat mahal dia bahkan menemukan jepit rambut yang terbuat dari berlian dan emas.

“Aku ingin kau terlihat cantik malam ini, ini pertamakalinya kau dan aku akan makan bersama.” Ucap Sena, dia mengambil gaun hijau yang ada disampingnya dan menunjukannnya pada Nari.

“Apa kau suka gaun ini? Kau terlihat cantik dalam balutan gaun hijau.” Ucap Sena.

Eomma, gaun ini terlalu besar untukku.” Ucap Nari, dia bahkan tidak ingin membayangkan dirinya harus berjalan dalam gaun yang besar dan berat.

Sena mengangguk, dia lupa jika putrinya itu belum pernah menggunakan gaun mewah sebelumnya mengingat dia menghabiskan setengah hidupnya didunia manusia. Sena memilihkan gaun yang lebih simpel dan ringan, dia mencari sesaat sampai akhirnya dia menemukan gaun yang berwarna coklat yang indah.

Dia ingat jika dia menggunakan gaun ini saat dia pertamakali berdansa dengan Yifan, kenangan masa lalu membuat dia tersenyum penuh dengan nostalgia. Dia berbalik dan menunjukan gaun itu pada Nari, putrinya itu kelihatannya menyukai gaun yang dia tunjukan karena dia mendekat dan menyentuh gaun itu penuh dengan kekaguman.

Eomma gaun ini bagus sekali.” Ucapnya, dia menyentuh kain lembut gaun coklat Sena.

“Tentu saja, ini hadiah pertama dari Yifan.” Sena menjawab dan itu membuat Nari tersenyum.

“Paman Yifan kelihatannya sangat mencintaimu Eomma.” Ucap Nari, melihat dari hiasan gaun dan kain lembut gaun itu Nari bisa memprediksikan mahalnya harga gaun ini.

“Begitulah, dia sedikit sentimentil jika soal hadiah.” Sena tersenyum,dia masih ingat wajah Yifan saat dia memberikan gaun ini padanya.

Saat itu hubungan mereka belum sedekat sekarang, Sena masih sedih dengan kepergian Yifan dan Yifan masih belum mengenal dia dengan baik sehingga dia berpikir jika perhiasan dan gaun adalah satu-satunya yang bisa membuat Sena senang. Setidaknya itu yang dia ketahui tentang wanita, Yifan bukanlah lelaki yang dekat dengan wanita dia bahkan selalu canggung didepan wanita lain.

“Apakah dia akan keberatan jika aku memakainya?” Tanya Nari, mengingat gaun ini pasti memiliki arti yang khusus bagi ibunya dan Yifan.

“Tidak apa-apa, Yifan bukan lelaki yang rumit dia akan mengerti.” Sena memberikan gaun itu pada Nari menyuruh putrinya menggunakan gaun indah itu.

Setelah menunggu beberapa saat Nari keluar menggunakan gaun coklatnya, gaun coklat itu benar-benar cocok untuk Nari karena gaun itu menunjukan lekuk tubuh wanita itu dengan sempurna. Nari terlihat cantik sekali dan anggun, walaupun dia melangkah sedikit canggung mungkin karena belum terbiasa.

“Kau cantik sekali! Aku tahu gaun ini akan cocok untukmu.” Sena berkata, dia memutarkan tubuh putrinya.

Sekarang dia yakin jika putrinya itu mewarisi tubuhnya, walaupun begitu wajah Nari masih bisa memiliki fitur wajah Yixing membuat hatinya berdenyut sakit. Terkadang rasanya susah untuk menatap lurus kearah putrinya tanpa mengingat mantan suaminya, Nari adalah buah cintanya dengan Yixing tentu saja dia akan mempunyai kemiripan dengan Yixing.

Eomma ?”

Suara Nari menyadarkan Sena dari lamunannya, dia segera tersenyum kearah putrinya dan menyuruh dia untuk duduk sehingga dia bisa menyisir rambut panjang Nari. Rambut hitam Nari sama dengan rambut Yixing bahkan teksturnya sama membuat Nari mengingat jika dia sering sekali mengelus rambut Yixing sebelum lelaki itu tertidur dipangkuannya dulu.

Eomma, bisakah kau menceritakan tentang Appa ?” Tanya Nari, dia menatap kearah bayangan ibunya yang sedang menyisir rambutnya dari cermin.

“Ayahmu? Hm…aku punya banyak sekali cerita soal ayahmu, tapi apa yang ingin kau ketahui tentang dia?” Sena balik bertanya.

“Aku ingin tahu Appa  seperti apa, bagaimana kepribadiannya, hal apa yang dia sukai..segalanya.” Nari menjawab penuh antusias, selama ini dia mengetahui sosok ayahnya dari foto album yang ada dirumah paman dan tantenya dan ketika Nari bertanya biasanya paman dan tantenya kelihatan enggan untuk menjawab.

“Ayahmu adalah seseorang yang bekerja keras,walaupun dia tidak terlihat seperti itu tapi dia benar-benar bekerja keras untuk mencapai cita-citanya.” Sena mulai bercerita, dia bahkan bisa melihat mata Nari menatap kearahnya penuh perhatian.

“Dia juga lucu, dalam caranya sendiri.” Sena menahan tawanya, dia ingat beberapa lelucon yang biasa Yixing katakan padanya. “Dia juga orang yang baik hati, terlalu baik menurutku.”

Dari sana Sena tidak melanjutkan ceritanya, dia ingat momen terakhir dimana Yixing sekarat. Dia masih ingat betapa kacaunya situasi saat itu, bagaimana Yixing mencoba melindunginya sampai titik terakhir hidupnya dan itu meninggalkan luka yang dalam dihati Sena. Tidak peduli berapa tahun lalu kejadian itu terjadi ingatan Sena masih jelas akan sosok Yixing, dia ingat kata-kata terakhir Yixing dan bagaimana tatapan lelaki itu sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhrinya.

  • .mencintaimu Sena

Eomma…”

Tanpa sadar airmata sudah menetes dipipi Sena, dia terkejut dan langsung menyeka airmataya. Dia lalu memasangkan jepit bunga yang indah dirambut Nari sambil memaksakan senyum nya, dia seharusnya terlihat lebih kuat didepan putrinya dia tidak ingin membuat Nari khawatir. Nari tidak mengatakan apapun namun Sena bisa merasakan tangan putrinya menyentuh tangannya, Nari kelihatannya mengerti dan tidak menanyakan apapun pada Sena.

“Semua orang sudah menunggu,sebaiknya kita kebawah.” Sena mengalihkan topik pembicaraan.

Nari berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah ibunya, dia bisa melihat beberapa pelayan mengikuti langkah mereka mungkin memastikan jika mereka baik-baik saja. Nari tdiak pernah menuruni tangga yang begitu banyak dan besar sebelumnya, sepertinya dia harus terbiasa dengan tangga ini karena dia akan tinggal di istana mulai besok.

Sebelum Nari sampai dilantai bawah dia sudah dapat mendengar suara orang yang sedang mengobrol, dia tidak yakin suara siapa yang dia dengar namun sata dia turun dia bis amelihat sosok Jongin yang sudah rapih mengobrol dengan Eunji. Eunji kelihatannya sudah mengganti bajunya karena sekarang dia memakai gaun putih yang cukup panjang.

Pandangan mata Eunji beralih kearahnya saat dia mendengar langkah kaki Sena, Eunji kelihatan terkejut dengan penampilan Nari begitu juga Jongin yang beku menatap kearahnya. Sena mengulurkan tangannya pada Nari membantu wanita itu untuk turun, dan Jongin mendekat kearahnya sambil menawarkan tangannya kepada Nari.

Nari tersenyum dan melingkar tangan dilengan Jongin sebelum melirik kearahnya ibunya meminta persetujuan, Ibunya mengangguk dan sosok Yifan muncul menyentuh bahu ibunya. Yifan yang melihat Nari dan Jongin sedang bercengkrama memutuskan untuk menarik Sena sehingga mereka bisa berbicara secara personal.

“Sena, bisakah kau ikut denganku?” Yifan meminta, melihat ekspressi serius suaminya membuat Sena khawatir.

“Ada apa? Kau terlihat khawatir.” Tanya Sena.

“Ada yang harus aku sampaikan.”

Tanpa bertanya lagi Sena mengikuti langkah Yifan menuju halaman belakang istana, seperti biasanya halaman belakang istana selalu sepi sehingga Yifan dan Sena bisa berbicara lebih leluasa. Yifan menarik Sena lebih dekat padanya dan itu membuat Sena tertawa, mereka bukanlah remaja yang harus bersembunyi hanya untuk berpelukan atau berciuman.

“Dengarkan perkataanku baik-baik.” Ucap Yifan, dia melirik kesekitarnya khawatir jika seseorang akan mendengarnya. “Dewi bulan mengatakan padaku jika beberapa minggu lagi perang yang dahsyat akan terjadi, dia meramalkan jika jaris pemisah antara manusia dan serigala akan musnah namun dia tidak bisa melihat pihak mana yang akan menang.” Lajut Yifan.

Mendengar perkataan itu Sena seharusnya bahgia dia sudah lama ingin pulang ke kampung halamannya,dimana dia tumbuh dan lahir. Dia ingin bertemu dengan adiknya Sooyoung dan kedua orangtuanya juga tetapi dengan ketidak pastian yang diucapkan oleh Yifan membuat Sena gundah.

“Apakah kita harus menyiapkan pasukan yang lebih banyak?” Sena bertanya.

“Ya, tapi kau tahu satu-satunya yang bisa membantu kita hanyalah kerajaan timur dan kau tahu hubungan kita tidak baik dengan mereka setelah kejadian beberapa tahun yang lalu.” Ungkap Yifan mengingat konflik yang dia miliki dengan kerajaan itu beberapa puluh tahun yang lalu sebelum dia menikahi Sena.

“Apa ada harapan agar kita bisa menyatukan kekuatan?”

Yifan menggelengkan kepalanya dan itu membuat Sena putus asa, jika mereka harus menang mereka butuh bantuan dari pasukan lain. Pasukan militer mereka memang sangat kuat namun jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tentara manusia, Sena tidak tahu jika pasukannya akan bertahan melawan tentara manusia yang menggunakan peluru perak.

“Mungkin ada satu jalan, tapi aku tahu kau tidak akan menyukainya.” Suara Yifan terdengar membuat Sena penasaran.

“Apa yang kau rencanakan?”

“Aku ingin Nari menikahi pangeran mereka.”

Sena menatap kearah Yifan, dia tidak mungkin mengorbankan kesenangan dan kebebasan putri satu-satunya hanya untuk masalah politik. Sena segera menggelengkan kepalanya tidak suka dengan usul yang suaminya katakan, dia tidak akan dengan mudahnya memberikan Nari pada siapapun.

*****

Nari sudah tidak tahu berapa gelas wine yang sudah dia minum semenjak makan malam dimulai namun dia sudah merasa sedikit pusing, badanya terasa lebih ringan dari biasanya dan dia mulai melihat dua bayangan. Jongin yang duduk disampingnya masih tertawa mengingat masa lalu bersama Sehun dan kedua orangtuanya, kepala Nari sedikit berdenyut sakit sehingga dia menggengam kepalanya.

“Nari,apa kau baik-baik saja?” Tanya Sena, dia memegang tangan anak perempuanya dengan lembut.

Eomma,aku sepertinya sedikit mabuk.” Nari mengungkapkan.

Noona,kita baru saja mulai kenapa kau sudah mabuk lagi?” Tanya Sehun, dia kelihatan tidak senang dengan kenyataan jika kakaknya tidak memiliki toleransi alkohol yang tinggi.

“Sehun,kau lupa kakakmu manusia, berbeda dengan kita.” Ucap Yifan dan itu membuat Sehun menunduk malu.

Eunji cukup beruntung dia tidak meminum banyak wine, jika dia melakukan hal yang sama dia mungkin sudah mabuk duluan seperti Nari atau mungkin pingsan. Toleransi alkholnya jauh lebih rendah dibandingkan Nari, dia masih ingat pertamakali dia meminum minuman alkohol dia hampir pingsan diperjalanan pulang mereka.

“Aku akan mengantarkan Nari kekamar,aku rasa aku sudah kenyang.” Jongin berdiri diduduknya.

“Terimakasih Jongin,jaga dia baik-baik.” Sena berkata dan Jongin mengangguk.

Nari bahkan tidak ragu untuk melingkarkan tangannya dibahu Jongin dan Jongin memangkunya seperti seorang pengantin, Nari secara otomatis menyandarkan kepalanya diceruk leher Jongin. Aroma tubuh Jongin seperti hutan dipagi hari dan rumput yang segar membuat Nari tenang dalam dekapan lelaki itu.

Menutup kedua matanya Nari tidak tahu dimana mereka sekarang namun angin dingin yang masuk lewat jendela lorong istana membuat Nari sedikit mengigil, tubuh hangat Jongin menjadi jawaban yang tepat untuk masalahnya. Dia membuka matanya dan menatap kearah wajah Jongin, walaupun Nari  membuka matanya kelihatannya Jongin tidak menyadari itu karena dia terlalu fokus untuk mencari ruangan Nari.

“Ruanganku ada disamping ruangan Sehun.” Nari memberitahu dan Jongin melirik kearahnya.

“Aku tahu itu.” Jawab Jongin.

Saat Jongin melirik kearahnya bibir mereka hampir bersentuhan lagi namun Nari segera melirik kearah lain, menyembunyikan pipinya yang terasa memanas mungkin sekarang dia kelihatan seperti kepiting rebus.

Didepan ruangan Nari berdiri dua penjaga, melihat putri mereka yang dipangku oleh Jongin segera membuka kamar putri itu dan membiarkan Jongin masuk. Dengan hati-hati Jongin menidurkan Nari ditempat tidur empuknya dan menyelimuti kekasihnya itu agar dia tidak kedinginan seperti tadi.

Rambut hitam Nari sedikit acak-acakan namun Jongin tetap mengelus kepala kekasihnya itu, Nari tersenyum setengah mengatuk kearah Jongin. Tangan Jongin mengelus pipi mulus Nari dan Nari menghela nafasnya merasa nyaman dengan sentuhan hangat Jongin, sebelumnya dia tidak pernah senyaman ini dengan seorang lelaki.

“Tidurlah yang nyenyak.” Jongin berbisik setelah itu dia pergi menutup kamar Nari dengan itu hari pertama Nari di kerajaan serigala berakhir.

To Be Continue..

Thank you for reading and don’t forget the comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s