Posted in FanFiction NC 17+

Color Of You

Color Of You

Title: Color Of You

Author : AutumnBrezee @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast : Oh Sehun [EXO], Lee Dae Hee [OC]

Genre : Romance,Angst

Length : Oneshoot

Rating: NC 17

Warning: Depressed Sehun! sensitive topic about psychology disorder

1

Black

Sehun tidak tahu sudah berapa kali dia menangis dikamar mandi, air dingin yang menyentuh kepalanya menyembunyikan tetesan airmatanya. Hari ini dia kembali mendapatkan ceramah dari bosnya mengatakan jika dia tidak cukup produktif dan dia harus mengembangkan dirinya jika dia ingin mendapat promosi. Sehun sudah bosan dengan ceramah itu dia sudah bosan mendengar jika dia tidak pernah cukup untuk bosnya.

Dia tidak pernah cukup untuk orangtuanya juga bukannya itu dia juga tidak cukup untuk kekasihnya, mungkin itu kenapa Irene ingin mereka berpisah. Dia bilang dia tidak cukup romantis,tidak cukup perhatian apapun yang Sehun lakukan tidak pernah cukup untuk orang-orang disekitarnya karena itu Sehun memutuskan untuk menutup dunianya.

Tidak ada seorangpun yang akan menganggap dia cukup, tidak peduli berapa cepat Sehun berlari orang-orang tidak pernah menganggap usahanya cukup. Meskipun Sehun membiarkan dirinya berdarah dan lumpuh kedua orangtuanya tidak pernah menganggap usahanya cukup, mereka akan terus menanyakan kenapa dia tidak menjadi dokter seperti kakaknya? Kenapa dia tidak menghasilkan banyak uang seperti kakaknya pertanyaan itu akan selalu muncul.

Sehun bisa merasakan tangan kanannya berdenyut sakit, dia bahkan tidak sadar kapan dia memukul dinding kamarnya mandinya. Dia menarik lengannya dari dinding kamar mandi dan darah mengalir keluar dari buku jarinya, air dingin yang mengalir dari showernya terasa perih membersihkan warna merah dari tangan Sehun namun Sehun tidak peduli karena ini bukan pertamakalinya Sehun menyakiti dirinya sendiri.

Setelah keluar dari kamar mandi Sehun mengobati lukanya lalu membalut luka ditangannya dengan perban, dia berharap lukanya segera sembuh karena dia tidak ingin menjawab pertanyaan rekan kerjanya besok di kantor. Meskipun mereka biasanya mengacuhkan Sehun entah kenapa rekan kerja wanita dikantornya selalu berpura-pura peduli jika Sehun terlihat menggunakan perban atau plester dibagian tubuhnya.

Nada dering ponsel Sehun terdengar dan dia bisa melihat nama kakaknya tertera dilayar ponselnya. Sehun menolak panggilan dari kakaknya, dia tidak pernah ingin mengobrol dengan kakaknya itu karena dia tahu kakaknya hanya akan mengasihaninya meminta dia untuk makan siang bersama atau semacamnya dan Sehun tidak butuh itu. Dia senang sedirian di apartemennya hanya ditemani oleh buku-buku dan televisi yang sebenarnya tidak dia tonton.

Dia menghidupkan televisinya hanya untuk mengusir keheningan yang perlahan mencekiknya, dia melirik kearah jendela apartemennya dan cuaca diluar mendung. Hari ini hari sabtu dia ingat daripada dia sendirian dirumah mungkin dia akan membeli cappucino kesukaannya di cafe yang tidak jauh dari apartemennya. Sehun akhirnya berdiri dan mengambil jaketnya untuk pergi keluar.

*****

Cafe yang ada beberapa blok dari apartemennya tenang dan hening itu membuat Sehun senang, dia tidak suka dengan keramaian itulah alasan kenapa cafe ini selalu menjadi kesukaan Sehun. Kasir lelaki cafe itu menyapa dia, dia sepertinya sudah tidak asing dengan kedatangan Sehun terkadang kasir itu bisa menebak jika Sehun akan memesan cappucinonya seperti sekarang.

“Apa kau sendirian lagi?” Kasir itu bertanya membuat Sehun terkejut, dia kira kasir itu tidak akan pernah berani menyapanya.

“Ya, akhir minggu ini cukup sepi.” Sehun berkomentar.

“Belakangan ini bisnis juga sedikit sepi, oh iya karena kau salah satu kostumer regulerku bagaimana kau diam disini dan mencoba resep baru kami semuanya gratis.” Ucap kasir itu, mendengar tawaran kasir itu akhirnya Sehun mengangguk lagipula dia tidak punya rencana yang lebih baik.

“Bagus! Namaku Luhan, barista yang ada dibelakang Xiumin dan pâtissier kami Kyungsoo dia lulusan dari Perancis kau akan suka resep baru dia.” Luhan berkata dengan semangat bahkan Sehun tidak mencerna semua perkataan Luhan.

“Terimakasih Luhan, kalau begitu aku menunggu cappucino dan resep barumu disana.” Sehun menunjuk sebuah meja yang ada dipojok ruangan dekat dengan jendela.

“Tentu saja, aku akan mengantarkan pesananmu.” Luhan mengangguk sebelum akhirnya dia berlari kedapur cafenya mungkin menyampaikan berita jika dia mendapatkan kelinci percobaan baru.

Sehun duduk dimeja yang dia tunjuk tadi menatap kearah jalanan kota Seoul yang sepi, butiran air hujan mulai turun dari langit dan taklama kemudian hujan lebat turun membasahi bumi. Sehun cukup beruntung karena dia sudah ada didalam cafe sampai akhirnya dia melihat seorang wanita yang memakai blush ungu dan celana jeans hitam berlari masuk kedalam cafe.

Wanita itu memiliki rambut pink seperti warna bunga sakura yang mekar, Sehun tidak mengerti kenapa orang-orang ingin mewarnai rambut mereka dengan warna yang aneh. Orang macam apa yang berpikir jika mewarnai rambut mereka dengan warna pink adalah keputusan yang bagus? Sehun tanpa sadar menatapi wanita itu sampai akhirnya wanita itu melirik kearahnya. Sehun yang tertangkap menatap kearah wanita itu melirik kearah jendela menghindari tatapan wanita itu.

Suara wanita itu terdengar memesan segelas teh lemon hangat dan dua buah cupcake setelah itu Sehun mendengar suara sepatu wanita itu melangkah namun anehnya suara langkah wanita itu semakin mendekat bukan menjauh. Sampai akhirnya suara langkah kaki wanita itu berhenti.

“Apakah kursi ini kosong?” Suara seorang wanita terdengar membuat Sehun terkejut.

“Huh? Oh…ya kursi ini kosong.” Sehun menjawab dia terdengar seperti anak Tk yang baru belajar bicara, Sehun mengutuk kecanggungannya.

Thanks, aku tidak ingin duduk sendirian dengan cuaca seperti ini.” Ucap wanita itu dia lalu mengeluarkan laptop hitamnya dari tas ransel coklatnya.

“Maaf aku harus menyelesaikan chapter buku novelku, editorku akan membunuhku jika kau tidak menyelesaikannya.” Ucap wanita itu setelah itu dia mengetik di laptopnya dengan semangat seakan ide-ide sudah terancang dari otaknya dan dia hanya butuh mengetiknya saja.

Taklama menunggu Luhan datang kemeja Sehun dan mengantar cappucino juga satu piring kue keju yang dihias dengan potongan coklat yang unik. Mungkin kue keju itu adalah resep baru cafe Luhan, Sehun tidak keberatan dia suka kue keju sehingga dia mencicipi kue itu dan dia terkejut dengan kelezatan kue keju itu. Ekspektasi Sehun cukup rendah sehingga dia terkejut dengan kelezatan kue itu membuat dia kembali mencicipi kue kejunya.

“Wow kue keju itu pasti enak sekali.” Wanita yang duduk didepan Sehun berkomentar dan itu membuat Sehun berhenti memakan kue kejunya.

“Kau mau?” Sehun menawarkan namun wanita itu malah tertawa membuat Sehun kebingungan.

“Hahaha kau lucu, kenalkan aku Dae Hee aku penulis novel kau?” Dae Hee mengulurkan tangannya pada Sehun.

“Oh Sehun, aku bekerja diperusahan Seungjin grup divisi IT.” Sehun mengenalkan dirinya dan menjabat tangan Dae Hee.

“Senang berkenalan denganmu Sehun.” Dae Hee berkata dan senyum manisnya menghias wajah cantiknya membuat detak jantung Sehun tidak beraturan.

“Senang mengenalmu juga Dae Hee.” Sehun membalas.

*****

Hujan diluar sudah lama berhenti tapi Dae Hee dan Sehun masih mengobrol, mereka berdua tidak tahu bagaimana mereka berakhir mengobrol soal masa kecil mereka namun mengobrol dengan Dae Hee terasa sangat ringan. Apalagi wanita itu selalu tersenyum ramah kearahnya dan untuk pertamakalinya Sehun merasa didengarkan, tidak peduli betapa membosankan ceritanya Dae Hee menganggukan kepalanya menandakan dia mendnegar bahkan wanita itu meningkal komen-komen yang lucu tentang masa kecil Sehun.

Senyum lebar sekarang menghiasi bibirnya mungkin ini senyum tulus pertama yang dia tunjukan selama tiga tahun ini, Sehun bahkan lupa bagaimana rasanya tertawa lepas namun dengan keberadaan Dae Hee dia bisa melakukan itu dengan lepas. Dae Hee berhenti berbicara saat pandangan wanita itu tertuju pada jam dinding yang ada dibelakang Sehun.

“Oh sial! Aku harus mengirimkan naskahku sekarang, maaf Sehun tapi aku harus pulang.” Dae Hee berkata dia memasukan laptopnya kedalam tas ranselnya lalu berdiri dari duduknya.

“Baiklah, aku rasa kita akan bertemu lain kali?” Sehun bertanya penuh harap.

Dae Hee tersenyum mendengar itu lalu mengangguk menyetujui usulan Sehun sebelum akhirnya membayar makanannya lalu pergi keluar dari cafe namun sebelum dia benar-benar keluar dari cafe Dae Hee melirik kearahnya dan melambaikan tangannya pada Sehun sambil memamerkan senyum manisnya. Sehun yang melihat itu membalas lambaian tangan Dae Hee sampai akhirnya sosok langsing Dae Hee menghilang ditikungan jalan.

*****

Pekerjaan Sehun cukup banyak sekarang namun entah kenapa setiap kali dia mengingat senyum Dae Hee pekerjaannya menjadi sepuluh kali lebih ringan. Manajernya bahkan mengakui peningkatan produktifitasnya, untuk pertamakalinya selama beberapa bulan ini Sehun tidak merasa depresi saat dia keluar dari kantornya. Hari ini cuaca cerah dan angin musim semi berhembus membuat Sehun merasa semangat.

Hari ini dia akan berhenti di cafe kesukaannya seperti biasanya selain untuk mendapatkan cappucino kesukaannya dia juga bisa bertemu dengan seseorang yang selalu berhasil membuat dia senang. Langkah menuju cafe kesukaannya terasa sangat lambat tidak peduli betapa cepat Sehun melangkah namun jantungnya berdetak semakin cepat setiap kali dia mengingat Dae Hee akan menunggu dia.

Setelah beberapa menit berlalu dia akhirnya sampai di cafe namun kali ini dia terkejut melihat Xiumin-lah yang menjaga kasir bukan Luhan. Xiumin seperti biasanya menyambut kedatangan Sehun.

“Hi Sehun, kencan dengan Dae Hee lagi?” Xiumin menggoda sambil menaik turunkan kedua alisnya.

“Aku pesan yang biasa dan berhenti menggodaku Xiumin, aku dan Dae Hee hanya teman.” Sehun berkata.

“Aww kau tak usah malu semua orang bisa merasakan ketegangan seksual antara kalian berdua.” Xiumin tertawa saat dia melihat kedua pipi Sehun memerah. “Baiklah aku akan berhenti menggodamu, Dae Hee sudah menunggumu setengah jam yang lalu.” Xiumin melirik kearah meja yang biasa Sehun dan Dae Hee tempati.

Xiumin sepertinya tidak berbohong saat dia melihat Dae Hee masih sibuk mengetik di laptopnya, sepertinya wanita itu belum juga menyelesaikan novelnya. Sehun memutuskan untuk berjalan dengan sangat pelan kearah wanita itu membuat dia terkejut, saat Sehun sudah dekat dengan Dae Hee lelaki itu bisa mengintip tulisan apa yang wanita itu sedang ketik dan Sehun terkejut saat dia sadar jika tokoh lelaki yang Dae Hee tulis sangat mirip dengan dirinya.

Tokoh lelaki yang Dae Hee tulis memiliki kebiasaan untuk mengetuk-ngetukan jarinya dimeja saat gugup dan kebiasaan itu sama dengan kebiasaan Sehun.Detail penampilan fisik tokoh lelaki yang Dae Hee tulis juga mirip dengan dirinya membuat Sehun merasa senang namun bingung dalam waktu yang sama.

Dae Hee yang masih sibuk mengetik baru menyadari bayangan Sehun yang ada dibelakangnya dari kaca jendela Cafe sehingga wanita itu segera menutup layar laptopnya dan melirik kebelakang. Dia menemukan sosok Sehun yang termenung dibelakangnya dan Dae Hee bersumpah dia sangat malu sekali dan berharap lantai cafe menelannya sehingga dia tidka usah berhadapan dengan Sehun.

“Sehun..aku bisa menjelaskannya.” Dae Hee berkata namun Sehun malah menunduk dan mencium Dae Hee tepat dibibirnya membuat wanita itu terkejut.

Xiumin dan Kyungsoo yang menyaksikan itu terkejut begitu juga dengan beberapa kostumer yang duduk tidak jauh dari mereka. Setelah beberapa menit Sehun melepaskan ciuman dia dan lelaki itu akhirnya sadar jika mereka masih di cafe, Sehun segera menjauh dari Dae Hee dia harap wanita itu tidak marah padanya.

“Maaf aku tidak bermaksud…” Sehun berkata canggung.

“Tidak apa-apa, bisakah kita keluar dari sini?” Dae Hee meminta dan Sehun tidak mengatakan tidak pada suara memelas Dae Hee.

*****

Bibir Sehun dan Dae Hee kembali bertemu dalam ciuman yang panas, setelah mereka berdua sampai di apartemen Sehun wanita itu langsung menarik Sehun dan menciumnya membuat Sehun terkejut namun meleleh dalam pelukan wanita itu. Tangan Dae Hee membuka kancing kemaja birunya dan Sehun melemparkan jas dan sepatunya, Dae Hee melepaskan ciuman mereka hanya untuk membuka kaos hitamnya sampai akhirnya Sehun menarik tubuhnya kembali dan menciumnya.

Kaki Dae Hee menabrak meja makan Sehun namun Sehun tidak peduli, dia mengangkat tubuh Dae Hee sehingga wanita itu duduk dimeja makannya. Bibir mereka masih bertautan dan sesekali mereka melepaskan ciuman untuk melepaskan pakaian mereka sampai akhirnya tidak ada sehelaipun kain yang menutupi tubuh mereka. Bibir Sehun mencium leher Dae Hee membuat wanita itu mendongakan kepalanya memberikan akses yang luas untuk Sehun.

Lenguhan kotor terdengar memenuhi apartemen Sehun, tangan Dae Hee menarik rambut Sehun meminta lelaki itu menciumnya kembali namun Sehun hanya menyentuh rahang Dae Hee mencegah wanita itu menciumnya. Mereka hanya menatap kearah satu sama lain sampai akhirnya Sehun memecahkan hening antara mereka.

“Aku sangat menyukaimu Lee Dae Hee.” Ucap Sehun dan Dae Hee hanya tersenyum puas.

“Kalau begitu bercinta denganku sampai puas Oh Sehun.”

Mendengar itu Sehun terangsang dia mengangkat tubuh Dae Hee membawa wanita itu ke kamarnya, hari ini Sehun akan bercinta dengan Dae Hee sampai wanita itu puas. Dae Hee tertawa saat kepalanya tidak sengaja terbentur pintu kamar Sehun karena Sehun terlalu bersemangat membawa dia ketempat tidur.

*****

That was amazing…” Dae Hee berkomentar saat dia dan Sehun selesai bercinta, lelaki itu melingkarkan tangan dibahu Dae Hee mencium kening wanita itu.

“Jadi, sejak kapan kau menulis karakter yang mirip denganku?” Sehun bertanya dan itu membuat Dae Hee melirik kearah Sehun.

“Saat pertamakali aku melihatmu di cafe.” Dae Hee menjawab jujur, entah kenapa itu membuat Sehun bahagia, dia mencium bibir Dae Hee sekilas.

“Jangan bilang kau sudah jatuh cinta padaku.” Sehun menggoda dan Dae Hee tertawa,jarinya mengelus dada bidang Sehun.

“Hm..tidak bisa dibilang begitu mengingat kau yang menatapku seperti seorang stalker.” Dae Hee meledek lalu suara tawa wanita itu terdengar membuat Sehun ingin tertawa juga.

“Setidaknya aku tidak diam-diam menulis tentang orang lain.” Sehun membalas ledekan Dae Hee sampai akhirnya Dae Hee mengalah, dia bangkit dari posisi tidurnya dan mencium bibir Sehun untuk kesekian kalinya.

“Aku sangat menyukaimu Oh Sehun.” Ucap Dae Hee dan itu membuat Sehun tertawa.

“Jika kau sangat menyukaiku, ceritakan padaku tentang novelmu.” Sehun meminta saat Dae Hee mendengar itu entah kenapa senyum wanita itu hilang.

Untuk sesaat Sehun panik, apakah dia mengatakan sesuatu yang salah? Kenapa sekarang Dae Hee kelihatan murung? Sehun terkadang ingin memukul mulut besarnya. Dia seharusnya menunggu Dae Hee untuk menceritakan apa isi novelnya. Dae Hee mencium Sehun sekali lagi namun kali ini ciumannya lambat dan lembut, dia kelihatannya sedang merangkai kata-kata yang ingin dia ucapkan.

“Novelku menceritakan tentang seorang wanita yang memiliki banyak rahasia.” Dae Hee menjawab sampai akhirnya dia turun dari ranjang Sehun menuju kamar mandinya, entah kenapa Sehun merasa dia baru saja menghancurkan hubungan dia dengan Dae Hee.

*****

Suara ketukan pintu terdengar sangat menggangu bahkan Sehun terbangun dari tidurnya, waktu menunjukan jam dua dini hari. Sehun berpikir siapakah yang berani mendatangi apartemennya dini hari seperti ini, lelaki itu bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu apartemennya setengah mengantuk. Siapapun yang ada dibalik pintu apartemennya dia akan memarahi orang itu namun dia terkejut saat dia melihat sosok Dae Hee.

Rambut pink Dae Hee terlihat lebih berantakan dari biasanya dan wanita itu kelihatan sangat cemas membuat Sehun khawatir. Sehun belum sempat mengatakan apapun saat Dae Hee memeluknya, tubuh wanita itu gemetaran. Sehun langsung menarik Dae Hee masuk dan mengunci pintu apartemennya.

“Dae Hee apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” Sehun beratnya, kedua tanagnnya menangkup wajah Dae Hee.

“Sehun! Mereka mencoba membunuhku…aku bisa mendengar suara mereka.” Dae Hee menangis.

“Siapa yang mencoba membunuhmu? Tenanglah, ceritakan semuanya dengan jelas.” Sehun berkata, dia sendiri terkejut dengan apa yang Dae Hee katakan dia tidak menyangka seseorang ingin membunuh wanita baik-baik seperti Dae Hee.

Airmata membasahi pipi Dae Hee dia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Sehun dengan erat. Sehun hanya bisa memeluk Dae Hee kembali dan mengelus punggung wanita itu menenangkannya, entah apa yang membuat Dae Hee ketakutan seperti ini. Sehun akhirnya mengajak Dae Hee untuk duduk di sofanya, Sehun membuatkan dua gelas teh hangat untuk dia dan Dae Hee saat dia kembali dari dapur Dae Hee kelihatan lebih tenang dibandingkan tadi.

Sehun menyimpan dua gelas tehnya lalu duduk disamping Dae Hee merangkul wanita itu, tubuh Dae Hee terasa lebih dingin dari biasanya itu artinya Dae Hee benar-benar ketakutan. Meskipun Dae Hee tidak menangis lagi wanita itu kelihatan masih cemas karena dia memeluk tubuh Sehun dengan seakan hidupnya ada ditangan Sehun.

“Apa kau ingin aku menelepon polisi?” Sehun menawarkan.

“Tidak, aku tidak ingin mereka mengejarku lagi Sehun.” Jawab Dae Hee.

“Kau aman disini bersamaku, tenang lah.” Sehun mencium kening Dae Hee dan wanita itu memejamkan matanya mungkin lelah karena sudah menangis.

Setelah Sehun mendengar dengkuran halus Dae Hee lelaki itu mengangkat tubuh Dae Hee kekamarnya dan membaringkan wanita itu diranjangnya. Dia menyelimuti Dae Hee dan mencium dahi wanita itu sebelum dia menelepon manajernya meminta ijin untuk tidak bekerja dengan alasan sakit. Melihat Dae Hee yang ketakutan seperti itu Sehun tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian apalagi Sehun mencintai wanita itu.

Ya Sehun jatuh cinta pada Dae Hee, entah kapan dia mulai jatuh cinta pada Dae Hee mungkin di sela-sela saat mereka mengobrol akrab atau mungkin saat Dae Hee membantunya memilih pakaian entahlah  namun wanita itu sudah menaburkan warna pink dalam kanvas hitam Sehun.

*****

Dae Hee terbangun oleh aroma sup yang wangi, dia bangun dari ranjang Sehun dan memutuskan untuk mengintip Sehun yang sedang sibuk memasak didapur apartemennya. Dae Hee tersenyum melihat Sehun yang kewalahan anatara mengaduk supnya dan memotong daging dan sayuran, sebenarnya sup apa yang dia masak? Dae Hee penasaran dia akhirnya berjalan kearah Sehun dan memeluk lelaki itu dari belakang membuat Sehun terkejut.

“Dae Hee kau sudah bangun? Duduklah supnya hampir selesai.” Sehun berkata, dia mematikan api di kompornya sebelum dia berbalik kearah Dae Hee.

“Tidak apa-apa, aku akan membantumu memasak.” Dae Hee berkata namun Sehun menggelengkan kepalanya tidak setuju.

“Tidak usah, aku sudah biasa memasak sendiri lagipula aku ingin memberikanmu kejutan tapi kau bangun duluan.” Ungkap Sehun dia mengecup bibir Dae Hee sekilas membuat wanita itu menyerah dan duduk disalah satu kursi meja makan Sehun.

Sehun menyajikan satu mangkuk sup ayam yang dia masak dari penampilan sup itu Dae Hee cukup yakin rasanya tidak akan seburuk yang dia prediksikan. Dae Hee mencicipi sup itu dan matanya melebar, ternyata Sehun cukup ahli memasak juga karena sup ayamnya enak ini pertamakalinya Dae Hee merasa cemburu pada seorang lelaki karena keahlian memasaknya.

“Hmm enak…” Dae Hee memuji dan Sehun tersenyum lebar.

“Ibuku mengajarkan aku memasak sup ini saat aku masih SMA, saat itu kakakku sakit parah dan kedua orangtuaku sibuk bekerja jadi aku yang harus mengurus kakakku saat itu.” Sehun menceritakan, kenangan tentang keluarganya terlintas dalam benaknya membuat Sehun tersenyum pahit.

“Katakan pada ibumu aku berterimakasih padanya, jika ibumu tidak mengajarimu aku tidak pernah bisa mencicipi sup ayam yang lezat ini.” Ucap Dae Hee dengan riang.

“Aku senang kau menyukainya.” Kekhawatiran Sehun hilang saat dia melihat senyum manis Dae Hee kembali menghiasi wajah cantik wanita itu.

*****

Sehun membuka pintu apartemennya, hari ini dia cukup lelah karena pekerjaan di divisinya semakin bertambah mengingat segala hal dikantornya mulai ditangani oleh komputer. Sehun sudah bertekad untuk mendapatkan promosi bulan ini mengingat manajernya akan dipindah kecabang perusahannya yang baru Sehun memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan promosi.

Hal pertama yang menyambut Sehun saat dia sampai diruang tengah apartemennya adalah vas bunga berwarna biru, dia tidak ingat jika dia pernah membeli vas bunga berwarna biru. Apalagi vas bunga itu terlihat sangat mencolok antara perabotan apartemennya yang kebanyakan berwarna abu-abu dan hitam.

Welcome home honey.” Suara feminim terdengar membuat Sehun melirik kearah sumber suara itu dan dia menemukan sosok Dae Hee sedang memasak didapur apartemennya.

“Dae Hee… aku kira kau masih sibuk dengan naskah novelmu.” Sehun berkata dia mendekat kearah Dae Hee untuk mencium kekasihnya itu dengan mesra.

“Aku sudah mengirimkannya pada editorku, dia suka ceritaku.” Dae Hee mengungkapkan senyum kepuasan terpancar dari wajahnya.

“Oh..apa itu artinya kau punya waktu yang banyak untukku?” Sehun menggoda dia mencium leher Dae Hee.

Calm down lover boy, kita punya waktu yang banyak sebaiknya kau mandi dulu.” Dae Hee mendorong Sehun menuju kamar mandi.

Sehun akhirnya mengalah dia pergi kekamar mandi, setelah dia melepaskan setelan jas nya Sehun membuka kabinet yang ada dikamar mandinya untuk mengambil pasta gigi dan sikat giginya namun saat dia hendak mengambil pasta giginya dia menemukan sebuah botol obat yang bertuliskan Lithonate. Sehun tidak mengenali merek obat itu mungkin itu obat kram Dae Hee dia ingat kekasihnya itu pernah mengeluh jika tangannya sering kram.

*****

Setelah mandi Sehun merasa segar dia berjalan keruang tengah apartemennya dan menemukan Dae Hee menatap kosong kearah jendela apartemennya membuat Sehun penasaran. Dae Hee kelihatan cemas karena dia memainkan jarinya, entah apa yang wanita itu pikirkan sehingga dia secemas itu sampai akhirnya Sehun mendekat kearah Dae Hee membuat wanita itu sedikit terkejut namun dia tersenyum kearah Sehun.

“Kau sedang memikirkan apa?” Sehun bertanya dan Dae Hee hanya menggelengkan kepalanya.

“Bukan apa-apa, makan malam kita akan dingin sebaiknya kita makan sekarang.” Dae Hee mengalihkan topik.

Sehun memutuskan untuk tidak menanyakan lagi, mungkin Dae Hee gugup karena novel barunya akan diliris dia tahu kekasihnya itu sangat sensitif soal karya novelnya. Wanita itu bahkan tidak membiarkan Sehun membeli novel karyanya dan membacanya didepan Dae Hee namun Sehun bukanlah lelaki penurut. Dia diam-diam membeli salah satu novel Dae Hee dan dia harus mengakui Dae Hee sangat berbakat dalam menulis namun satu hal yang membuat Sehun kebingungan karena setiap tokoh dalam novel Dae Hee selalu menderita gangguan bipolar disorder.

Heroine dalam novel Dae Hee selalu mengalami perubahan mood yang sangat cepat selain itu mereka memiliki halusinasi dan delusi juga, Sehun harus mengacungi jempol pengetahuan Dae Hee tentang Psikologi pantas saja banyak orang yang membaca novelnya. Sehun ingin sekali membahas novel-novel yang Dae Hee tulis namun dia tidak bisa mengingat kekasihnya itu menjadi murung setiap kali dia membahas soal novelnya.

“Apa kau suka bulgoginya?” Dae Hee bertanya memecahkan lamunan Sehun.

“Ya, darimana kau belajar memasak seperti ini?” Tanya Sehun dan Dae Hee tersenyum.

“Aku belajar dari buku resep, tidak seperti kau aku tidak punya ibu yang bisa mengajariku memasak.” Ungkap Dae Hee, ini pertamakalinya kekasihnya itu bercerita tentang keluarganya.

“Aku bangga pada kekasihku yang cukup pintar untuk belajar memasak dari buku.” Sehun mengelus kepala Dae Hee.

Wanita itu tersenyum untuk sesaat sampai akhirnya senyum itu diganti oleh ekspressi cemas lagi. Kali ini Sehun tidak akan bertingkah bodoh lagi, dia sekarang yakin ada sesuatu yang salah pada kekasih nya itu.

“Dae Hee ada apa?kau bertingkah aneh hari ini.” Sehun bertanya dan Dae Hee menghela nafasnya.

“Aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya padamu..”Dae Hee mengusap-ngusap kedua tangannya gugup.

“Hey..kau bisa mengatakan apapun padaku.” Sehun menyentuh tangan Dae Hee, dan dia bisa melihat Dae Hee mengigit bibirnya resah.

“Kakakmu Joonmyeon, dia menelepon tadi pagi.” Ungkap Dae Hee mendengar nama kakaknya membuat Sehun terkejut. “Dia bilang ibumu sakit parah.”

*****

Sebuah tamparan mendarat dipipi kiri Sehun saat dia dan Dae Hee sampai dilorong rumah sakit, Joonmyeon kakak Sehun kelihatan sangat marah sekali bahkan wajah putih Joonmyeon merah sekarang. Ayah Sehun mencoba menengahi pertengkaran antara Joonmyeon dan Sehun namun usahanya sia-sia setelah Joonmyeon menampar adiknya itu. Sehun yang marah memilih untuk pergi meninggalkan kakaknya yang masih emosi meninggalkan Dae Hee yang berdiri canggung disamping ayah Sehun.

Abeo-nim aku akan menenangkan Sehun.” Dae Hee berkata dan ayah Sehun hanya bisa mengangguk.

Dae Hee tahu Joonmyeon dan Tuan Oh lelah dan frustasi mengingat mereka sudah seminggu dirumah sakit, lingkaran hitam di bawah mata kedua lelaki itu adalah bukti nyata betapa lelahnya mereka. Dae Hee mencari Sehun kehalaman belakang rumah sakit dan dia bisa melihat sosok kekasihnya itu duduk disebuah bangku yang kosong dia kelihatannya sedang merenungkan sesuatu.

Sehun melirik kesampingnya saat dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya dan dia tersenyum saat dia melihat Dae Hee membelikannya satu kaleng minuman soda kesukaannya. Sehun mengambil minuman bersoda itu, membiarkan Dae Hee duduk disampingnya. Bahkan hanya merasakan kehadiran Dae Hee membuat Sehun merasa tenang, wanita itu memiliki efek yang aneh pada dirinya.

“Aku tahu kau marah karena kakakmu mengatakan hal-hal yang kasar padamu tapi dia merasa frustasi, apakah kau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Dokter yang tidak bisa menyembuhkan ibunya sendiri?”

Mendengar itu Sehun menghela nafasnya, Dae Hee benar seharusnya dia tidak melawan kakanya saat kakaknya mengomeli dia karena dia telat datang menjenguk ibunya. Sehun dan Joonmyeon selalu memiliki perspektif yang berbeda mungkin itu alasan kenapa mereka tidak pernah akur. Sehun tidak pernah tahu bagaimana pola pikir Joonmyeon dan dia tidak pernah mencoba untuk mengenal sosok kakaknya itu.

Dia tidak bisa mengatakan jika Joonmyeon berperilaku sama mengingat dialah yang menutup dirinya dari kakak sulungnya itu. Sehun melirik kearah Dae Hee dan Dae Hee tersenyum kearahnya,wanita itu mengistirahatkan kepalanya dipundak Sehun membuat Sehun merasa nyaman dan tenang.

Bersama Dae Hee perlahan mengubahnya, dia belajar untuk memahai perspektif orang lain dan tentu saja dia juga belajar untuk memaafkan. Sehun belajar banyak dari Dae Hee dalam waktu yang singkat, kanvas hitam milik Sehun perlahan-lahan berubah warna menjadi lebih cerah.

*****

“Maaf aku seharusnya tidak menamparmu.” Joonmyeon berkata, keadaan Nyonya Oh membaik setelah dia melihat anak bungsungya.

Untuk pertamakalinya Dae Hee melihat Sehun menyatu dengan keluarganya untuk sesaat mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia meskipun Sehun sering bercerita jika dia dan keluarganya mengalami banyak pertengkaran dan masalah. Malam itu tunangan Joonmyeon datang, ternyata tunangan Joonmyeon seorang Dokter juga dan mereka berencana untuk menikah akhir bulan ini membuat Sehun terkejut.

Joonmyeon hanya memukul pelan bahu Sehun mengatakan jika dia tidak sempat mengenalkan tunangannya karena Sehun tidak pernah menghubungi dia atau penerima panggilannya. Dae Hee bisa melihat senyum penyesalan terpancar diwajah kekasihnya itu, Dae Hee senang jika Sehun kembali akrab dengan keluarganya.

“Tidak apa-apa hyeong, aku mengerti…jika aku ada ditempatmu aku akan melakukan hal sama.” Sehun berkata namun Joonmyeon menggelengkan kepalanya.

“Tidak Sehun, tidak ada seorangpun yang layak untuk ditamparkan apalagi adik manjaku.” Ucap Joonmyeon membuat Sehun tertawa malu.

Hyeong aku sudah dua puluh tujuh tahun, kau masih memanggilku manja?”

“Kau masih adik kecilku.”

Hyeong!”

Joonmyeon hanya tersenyum mendengar keluhan Sehun dia hanya mengacak-ngacak kepala Sehun membuat Sehun semakin tidak senang tapi dia akhirnya tersenyum. Sehun senang akhirnya hubungan dia dengan kakaknya membaik, Sehun benci mengakuinya tapi dia sedikit rindu dengan sosok dewasa kakaknya. Dia ingat saat dia maish kecil dia selalu mengikuti Joonmyeon kemanapun dia pergi seperti anjing kecil.

Karena kedua orangtua Sehun selalu sibuk figur orangtua bagi Sehun adalah kakaknya semua nasihat yang selalu terngiang-ngiang ditelingannya adalah nasihat kakaknya. Rasa senang untuk kembali memiliki figur itu didalam kehidupannya, Sehun sekarang sadar kenapa dia merasa tidak bahagia dan tersesat karena dia ternyat akehilangan orang sangat berharga dalam hidupnya.

“Aku harus pulang Hyeong, besok aku harus bekerja.” Sehun pamitan dan Joonmyeon mengangguk.

“Jangan lupa hubungi aku jika kau sudah sampai di Seoul.” Joonmyeon mengingatkan dan Sehun mengangguk.

Setelah Sehun selesai berpamitan pada kakaknya Sehun menyusul masuk kedalam mobil bersama Dae Hee yang sudah menunggu. Sehun tersenyum kearah kekasihnya yang duduk dikursi pengemudi, dia harus berterimakasih pada Dae Hee karena dialah yang mengatur perdamaian antara Sehun dan kakaknya.

“Terimakasih sudah berbicara dengan Joonmyeon hyeong, aku tidak tahu bagaimana caranya membayar jasamu.” Sehun berkata, Dae Hee hanya tersenyum dan menunjuk kearah pipinya membuat Sehun memutar matanya dan mencium pipi Dae Hee.

“Aku mencintaimu Lee Dae Hee.” Ucap Sehun tiba-tiba, mendengar itu Dae Hee sedikit terkejut mengingat ini adalah pertamakalinya Sehun mengatakan itu padannya.

“Aku juga mencintaimu Oh Sehun.” Dae Hee membalas, Sehun menarik tekuk leher Dae Hee sehingga bibir mereka bertemu dalam ciuman manis yang singkat.

“Kau tahu kau tak usah mengatakannya karena aku mengatakannya lebih awal.” Ucap Sehun setelah dia melepaskan ciuman mereka.

“Bodoh! Aku tahu itu, aku mengatakannya karena aku benar-benar mencintaimu.”

*****

Sehun sudah tidak terkejut saat dia menemukan tirai jendela kamarnya berubah menjadi warna hijau. Sepertinya Dae Hee sudah menganggap apartemen Sehun sebagai rumah keduanya karena sekarang dia bisa menemukan barang milik kekasihnya itu disetiap sudut apartemen. Sehun mengambil kardigan coklat yang ada ditempat tidurnya lalu mengantungkan pakaian itu didalam lemari, sepertinya Dae Hee lupa untuk menyimpan pakaiannya.

Dasi hitam yang Sehun pakai terasa mencekik sehingga dia melepaskan dasi itu lalu dia melepaskan jasnya, saat dia membuka pintu kamar mandi dia menemukan sosok seorang wanita yang berambut coklat. Sehun sedikit terkejut namun saat wanita itu berbalik dia tersenyum karena ternyata wanita itu adalah kekasihnya Dae Hee.

“Bagaimana apa kau suka warna rambut baruku?” tanya Dae Hee.

“Wow kau terlihat cantik.” Sehun memuji dia melingkarkan tangannya dipinggang Dae Hee dan wanita itu menyentuh kedua pundaknya.

“Akhirnya pacarku memiliki warna rambut yang normal, sekarang orang-orang akan berhenti melirik kearahnya karena sekarang dia milikku.” Sehun berkata dan mencium bibir Dae Hee mesra, bibir mereka bertaut cukup lama sampai akhirnya Dae Hee melepaskan ciuman mereka.

“Aku tidak bisa sekarang, editorku sudah meminta draft novel baruku.” Dae Hee berkata dan Sehun memajukan bibirnya tidak senang.

“Ayolah, aku sibuk beberapa minggu ini kau bisa mengirimkan draft mu nanti.” Sehun membujuk, tangan nakalnya sudah masuk kedalam celana jeans Dae Hee untuk meremas bokong kekasihnya itu.

“Hmm godaanmu sangat menggiurkan tapi aku benar-benar harus menulis.” Dae Hee menolak.

“Baiklah, panggil namaku tiga kali jika kau kesepian.” Sehun bercanda dan Dae Hee hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dia tahu Sehun menggodanya, dia memukul pantat Sehun membuat lelaki itu tertawa.

*****

Beberapa minggu ini Dae Hee tenggelam dalam pekerjaannya, dia bahkan tidak pernah menginap lagi di apartemen Sehun. Terkadang Sehun-lah yang datang ke apartemen Dae Hee namun dia selalu berakhir di acuhkan karena mata Dae Hee terfokus pada layar laptopnya. Awalnya mereka sering bertukar pesan teks namun semakin hari komunikasi mereka semakin berkurang.

Sehun sibuk mengejar promosinya sebagai manajer baru dikantor dan Dae Hee sibuk menulis novel barunya. Sehun terkadang menelpon kekasihnya itu memastikan jika kekasihnya itu baik-baik saja, Dae Hee mengangkat telepon Sehun namun percakapan mereka semakin pendek saja mungkin karena mereka sekarang menjalani kehidupan yang berbeda dan menghabiskan waktu yang banyak bersama oranglain dibandingkan dengan satu sama lain.

Malam itu Sehun baru saja pulang dari kantornya, dia memutuskan untuk pulang lebih awal karena dia kelelahan. Saat pintu apartemennya terbuka dia terkejut melihat Dae Hee yang ada di apartemennya, dia hendak menyapa kekasihnya itu tetapi kelihatannya Dae Hee datang ke apartemennya bukan untuk menginap seperti biasanya karena dia membawa sebuah koper dan sibuk memasukan beberapa barang-barang yang dia tinggalkan di apartemen Sehun.

“Dae Hee? Apa yang kau lakukan?” Sehun bertanya membuat Dae Hee melirik kearahnya.

“Sehun..kau sudah pulang.”

“Ya, aku selalu pulang jam tujuh malam apa kau lupa?”

Dae Hee menghela nafasnya dia menatap kearah Sehun dengan resah, entah kenapa hati Sehun berdenyut sakit saat dia melihat Dae Hee benar-benar memasukan semua barang-barangnya kedalam koper yang dia bawa.

“Kenapa kau mengemasi barang-barangmu?”

Dae Hee tidak menjawab dia hanya menunduk didepan Sehun, melihat reaksi itu airmata mengancam mengalir dari matanya. Dia mengerti kenapa Dae Hee mengemasi barang-barangnya, dia hanya tidak ingin menerima kenyataan itu. Dia tahu hubungan dia dengan Dae Hee sedang buruk namun dia tidak menyangka jika Dae Hee akan meninggalkannya secara diam-diam seperti ini.

Apa sebenarnya yang Dae Hee rencanakan? Dia tidak menyangka Dae Hee dengan kejamnya akan meninggalkan dia tanpa mengatakan apapun. Sehun yang marah membuka kembali koper Dae Hee lelaki itu meletakan kembali barang-barang Dae Hee ketempatnya namun wanita itu mencegahnya.

“Hentikan Sehun!” Dae Hee membentak, airmata mengalir membasahi pipi wanita itu.

“Apa kau akan meninggalkanku?! Apa itu yang kau rencanakan?!” Sehun membentak.

“Kau tahu ini akan terjadi!” Dae Hee membentak balik, dia mengambil pakaiannya yang masih ada ditangan Sehun dan memasukannya kembali kedalam kopernya.

“Apa kau akan memutuskanku dengan kata-kata atau kau hanya akan mengemasi barangmu dan tidak pernah muncul dihadapanku? Mana yang kau rencanakan?!” Sehun menarik lengan Dae Hee dengan kasar.

“Keduanya! Setelah aku memutuskanmu aku tidak akan muncul didepanmu!” Dae Hee menjawab dan Sehun tersenyum pahit.

“Setelah apa yang kita lalui kau akan meninggalkanku begitu saja?! kau bilang kau mencintaiku!” Sehun marah sekarang, dia merasa dikhianati dan dibohongi karena jika Dae Hee mencintainya wanita itu tidak akan meninggalkannya.

“Aku mencintaimu Sehun! Itulah kenapa aku meninggalkanmu, agar kau mendapatkan orang yang pantas untukmu.”

Mereka berdua terdiam sesaat,apa yang dikatakan oleh Dae Hee tidak masuk akal. Apa maksud wanita itu jika dia meninggalkan Sehun untuk wanita yang pantas untuknya? Semua ini tidak masuk akal untuk Sehun. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan jika dia akan ditinggalkan oleh wanita yang dia cintai, wanita yang berhasil membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Sosok wanita yang selama ini memberikannya kenyamanan dan ketenangan, wanita yang selalu siap memeluknya saat dia lelah. Wanita yang menorehkan berbagai warna pada kanvas hitamnya, dia tidak percaya selama ini dia membiarkan Dae Hee memainkannya seperti boneka.

“Sehun jika kau mencintaiku biarkan aku pergi,suatu hari nanti kau akan berterimakasih padaku.”

“Lakukan apa yang kau mau, jika kau ingin putus denganku setidaknya ucapkan dengan jelas alasannya.” Sehun berkata dia menyenggol bahu Dae Hee dan membantingkan pintu kamarnya meninggalkna Dae Hee yang menangis, tubuhnya ambruk didepan kopernya menangisi hubungan dia dan Sehun yang sudah hancur.

*****

“Maaf Tuan Oh tapi penulis Karen Lee tidak menerbitkan buku yang terbaru tahun ini.” Suara resepsionis perusahaan penerbitan novel Dae Hee berkata dan Sehun mengehela nafasnya kecewa.

“Baiklah terimakasih atas infonya, maaf sudah merepotkan.” Sehun mengakhiri panggilannya.

Waktu tujuh tahun berlalu begitu saja, dia menatap kearah ponselnya foto seorang wanita dengan anak laki-laki yang baru berumur empat tahun menghiasi wallpaper ponselnya membuat Sehun tersenyum. Salju diluar memang cukup dingin namun dia tidak keberatan selama dia melihat sosok anaknya keluar dari TK yang ada didepannya berlari kearahnya dan memanggilnya dengan sebutan Appa.

Suara bel TK terdengar sangat keras berbunyi itu tandanya anak-anak akan bubar, Sehun sudah bersiap-siap untuk menjemput anaknya dan saat sosok anaknya muncul Sehun langsung membuka tangannya lebar-lebar menyambut anak lelaki satu-satunya. Anak lelaki itu berlari kearah Sehun memeluk erat Sehun sambil tertawa riang senang mendapati ayahnya yang sibuk meluangkan waktu untuk menjemputnya.

Appa!”

“Dae Hwan! Bagaimana sekolahmu hari ini?” Sehun bertanya.

“Aku menggambar Appa dan Eomma.” Dae Hwan berceloteh seperti biasa anaknya itu banyak berbicara dan riang.

“Bagus sekali, apa kau sudah bisa berhitung sampai dua puluh sekarang?”

“Tentu saja!” Jawab Dae Hwan.

“Kalau begitu ayo kita hitung langkah kita sampai mobil.” Ajak Sehun dan Dae Hwan mengangguk penuh tekad, kali ini dia akan berhasil menghitung langkah mereka sambil mobil agar ayahnya membelikan hadiah yang bagus saat natal nanti seperti yang ibunya janjikan.

*****

“Sayang! Aku dan Dae Hwan pulang!” Sehun berseru sambil menutup pintu rumahnya, salju dihalaman depan rumahnya sangat tebal sekali mungkin dia harus membersihkannya besok.

Yeobo! Kau sudah pulang.” Seorang wanita dengan rambut pendek yang menggunakan apron hijau muncul dari dapur.

Dae Hwan yang melihat ibunya berlari kearah wanita itu, seperti biasa ibunya memangku Dae Hwan mencium pipi tembem anak lelaki itu. Sehun  mencium dahi istrinya membuat istrinya tersenyum mereka berdua sudah tidak bertemu selama dua hari karena pekerjaan Sehun yang menumpuk setelah dia mencium istrinya pandangan Sehun tertuju pada sebuah paket yang ada dimeja makannya.

“Sayang paket siapa itu? Apa kau berbelanja online lagi?” Sehun bertanya curiga, dia tahu istrinya itu terkadang membeli barang-barang secara impulsif.

“Tidak sayang, itu paket untukmu.” Istrinya menjawab lalu dia kembali memasak didapur ditemani oleh Dae Hwan.

Sehun menghampiri paket itu dan membukanya, dia menemukan sebuah syal yang berwarna putih dalam paket itu. Didalam paket itu terdapat sebuah surat yang Sehun buka. Saat dia membuka surat itu dia mengenal tulisan dalam surat itu, tangannya bahkan gemetar karena senang.

My beloved Oh sehun

Aku tidak tahu pertanyaan mana yang harus aku ucapkan terlebih dahulu, mungkin apa kabar lebih pantas dibandingkan apakah kamu sudah menikah. Lihat, meskipun tujuh tahun waktu berlalu aku masih lucu seperti pertamakali kau bertemu denganku bukan? Selama tujuh tahun berlalu banyak hal yang berubah Oh Sehun. Pertama, aku tidak kuat lagi untuk berlari lagi saat hujan turun seperti pertama kita bertemu. Kedua, aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa kejamnya aku yang meninggalkan lelaki baik seperti Oh Sehun begitu saja.

Selama tujuh tahun ini aku selalu menyesali hari dimana aku memutuskan untuk meninggalkanmu, kau tahu apa yang kita punya adalah cinta yang nyata. Kau adalah lelaki yang pertamakali membuatku terbangun ditengah malam dan tersenyum, terdengar gila bukan? Mungkin aku memang gila saat aku jatuh cinta padamu. Hari-hari yang kita lalui bersama benar-benar menyenangkan, aku tidak bisa melupakan wajah konyolmu setiap kali kau bangun tidur aku harap istrimu bisa menerima kenyataan jika suaminya tidak akan terlihat selalu tampan.

Hari ini pada tanggal dua Desember aku duduk dikamarku dan berpikir mungkin waktuku sudah tidak banyak lagi, Sehunku sayang tubuhku ini sudah rapuh begitu juga dengan pikiranku. Maafkan aku yang pecundang ini, bahkan sampai akhir aku tidak pernah bisa megatakan yang sebenarnya karena aku takut. Kau adalah lelaki yang kucintai dan aku ingin kau mengingatku pada saat terbaikku sehingga aku akan menjadi kenangan indahmu selamanya.

Wanita yang sekarat ini hanya ingin meminta ampunanmu, aku ingin pergi meninggalkan dunia ini tanpa rasa bersalah karena sudah melukai jiwa yang murni sepertimu. Surat ini datang untuk memberimu kabar jika aku sudah meninggalkan dunia ini dngan damai dan aku mengucapkan selamat tinggalku padamu. Semoga kau bahagia bersama keluargamu, kau layak mendapatkan seluruh kebahagiaan didunia ini.

Your beloved Lee Dae Hee

Airmata Sehun menetes membasahi pipinya dan mengambil syal putih yang ada dalam kardus paket, dia memeluk Syal itu dan airmata mengalir begitu saja tidak bisa berhenti. Bahkan sampai akhir dia tidak bisa bertemu dengan Lee Dae Hee, dia menyesal karena dia tidak berusaha dengan keras menemukan Dae Hee. Saat Sehun mengambil Syal putih Dae Hee sebuah kertas jatuh dari dalam kardus syal.

Saat Sehun membaca kartu itu dia langsung berbalik keluar dari rumah setelah dia mengatakan pada istrinya jika dia akan pergi. Sehun menaiki mobilnya, dia tidak peduli jika jalanan dilicin atau dipenuhi oleh salju dia akan menemukan Dae Hee dimanapun wanita itu berada.

*****

Mobil Sehun berhenti didepan sebuah rumah, alamat yang tertera pada kartu yang dia bawa menuntunnya berhenti didepan rumah ini. Setelah berkeliling cukup lama menulusuri kota Seoul akhirnya Sehun menemukan tempat tujuannya. Dia turun dari mobilnya dan dia melihat sosok seorang wanita yang mungkin lebih muda darinya keluar dari rumahnya itu. Sehun terkejut saat dia melihat kemiripan wanita itu dengan Dae Hee dia bahkan merasa melihat Dae Hee yang masih muda.

Sehun menghampiri wanita muda itu, wanita itu kelihatan terkejut menemukan sosok Sehun dia mungkin sudah mengenali dia. Wanita itu langsung berlari masuk kedalam rumah seakan wanita itu melihat seorang hantu membuat Sehun kecewa. Mungkin Dae Hee sudah mengatakan jika Sehun dilarang untuk mengetahui apapun tentangnya itulah alasan yang logis kenapa wanita muda tadi lari terbirit-birit.

Dengan perasaan putus asa Sehun berbalik menuju mobilnya namun tiba-tiba saja suara seorang wanita tua terdengar memanggilnya membuat lelaki itu melirik kearah sumber suara. Wanita tua itu tersenyum kearah Sehun dan menyuruh Sehun untuk masuk mengingat udara sangat dingin diluar.

Wanita muda yang tadi bertemu dengan Sehun sekarang menyajikan segelas teh untuknya, Sehun melirik kesekitar rumah itu dan dia menemukan banyak sekali foto Dae Hee bahkan mungkin foto masa kecil wanita itu membuat dia sangat merindukannya.

“Tujuh tahun…Dae Hee-ku sakit selama tujuh tahun.” Wanita itu memulai percakapan.

“Maaf halmeoni, jika boleh aku tahu sebenarnya Dae Hee sakit apa?”

“Dae Hee tidak sakit fisik, tapi pikirannya yang sakit…Dae Hee di diagnosis oleh Psikiater mengalami gangguan bipolar emosinya selalu naik turun dengan drastis sejak dia remaja.” Nenek itu menjelaskan.

“Tapi halmeoni selama dia bersamaku dia tidak menunjukan tanda-tanda orang yang mengalami bipolar.” Sehun berkata, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Karena dia bahagia denganmu Oh Sehun, Dae Hee mengirimkan banyak surat yang isinya hanya menceritakanmu. Yang benar saja! dia bahkan menulis satu novel untukmu.” Nenek itu kelihatan kesal saat dia menceritakan itu namun Sehun tidak bisa menahan senyumnya.

“Gejala bipolar Dae Hee berkurang selama dia bersamamu namu delapan tahun yang lalu entah kenapa gejalanya semakin parah, dia mencoba untuk meminum obatnya lebih rutin dan menaikan dosisnya namun gejalanya tidak hilangnya malah bertambah parah. Anak yang malang, dia tidak bisa tidur dan terus bermimpi buruk.” Nenek Dae Hee berkata.

Halmeoni, apakah itu alasan kenapa Dae Hee meninggalkanku?” tanya Sehun ragu.

“Ya, dia bilang kau lelaki yang baik dan kau layak mendapatkan wanita yang sehat secara fisik dan mental. Entah apa yang kau lakukan pada cucuku tapi dia bukan wanita yang gampang jatuh cinta.” Nenek Dae Hee berkata.“Kau pasti sudah menerima syal yang Dae Hee rajut, syal itu bukan satu-satunya yang dia tinggalkan untukmu dia juga meninggalkan satu hal lagi.” Lanjut nenek Dae Hee

Nenek Dae Hee berdiri dari duduknya dan mengeluarkan sebuah buku novel yang cukup tebal dia memberikan novel itu pada Sehun. Cover dari novel itu simpel hanya tulisan yang terbaca ‘The Color Of You.’ Dalam tulisan huruf sambung yang indah. Dia membuka novel itu dan kalimat pertama dari buku itu adalah namanya.

“Terimakasih halmeoni aku akan menjaga buku ini.” Sehun tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca menahan airmatanya.

“Aku harap cucuku bisa tenang disana sekarang, terimakasih sudah memberikannya cinta dan kasih sayang.” Nenek Dae Hee berkata.

*****

Sehun tidak percaya jika cafe kesukaannya masih berdiri tangguh didepannya, dia bahkan masih bisa melihat Luhan dan Xiumin dari jendela cafe sedang sibuk melayani kostumer mereka. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu cafe Luhan terlihat lebih ramai sekarang, dia bahkan menemukan beberapa pelayan baru. Sehun melangkah masuk dan seperti biasa Luhan menyapa kostumer yang masuk namun kata sambutannya terpotong saat dia melihat sosok Sehun.

“Sehun…” Luhan berbisik dia berlari kearah lelaki itu dan memeluknya membuat Sehun terkejut dan namun senang diwaktu yang sama.

Xiumin dan Kyungsoo terlihat tersenyum kearah mereka Sehun dari dapur cafe, Sehun membalas senyuman mereka dan melambaikan tangannya menyapa. Luhan melepaskan pelukannya lalu menyeka airmatanya, dia tidak mengerti kenapa Luhan sangat sedih saat dia bertemu dengannya.

“Luhan kau tahu aku baik-baik sajakan?” Sehun bertanya.

“Tentu saja bodoh! Aku menangis karena kisah cinta kau dan Dae Hee, apa kau tahu sebelum kalian putus Dae Hee datang kesini?” Luhan bertanya, mendengar itu tentu saja Sehun menggelengkan kepalanya.

“Tidak,aku tidak mengira dia akan datang kesini.” Ucap Sehun.

“Dia berpamitan padaku, Xiumin dan Kyungsoo dia bilang dia mungkin tidak akan pernah datang kesini lagi dan meminta maaf untuk itu. Dia bilang datang kesini akan membuat dia sedih karena cafe ini adalah cafe dimana cerita kalian dimulai.” Luhan menceritakan, dia menarik Sehun menuju meja yang biasa diisi oleh dia dan Dae Hee.

“Sebelum dia pergi ke apartemenmu Dae Hee duduk cukup lama disini, dia bilang dia akan menuliskanmu sebuah novel dan dia ingin kursi ini selalu ada di cafe ini untuk berjaga-jaga jika suatu hari kau kembali kesini dan merindukan dia atau mungkin sebaliknya.” Luhan melanjutkan.

“Terimakasih Luhan untuk menjaga kursi ini kosong.” Sehun berkata dan Luhan mengangguk.

“Tapi jika kau ingin duduk disini kau harus memesan sesuatu.” Luhan bercanda dan Sehun tersenyum.

“Baiklah,aku pesan yang biasa.” Ucap Sehun dan Luhan mengangguk.

“Satu cappucino dan kue keju datang.” Luhan berseru dan pergi meninggalkan Sehun.

Sehun menyentuh cover novel pemberian nenek Dae Hee dia membuka novel itu dan mulai membaca chapter pertama novelnya. Sehun tersenyum saat dia membaca paragraf pertama dalam novel itu karena dalam paragraf itu Dae Hee mengatakan jika Sehun seperti warna hitam. Penuh dengan misteri dan murung namun Sehun tidak bisa membantah dia memang seperti itu sebelum dia bertemu dengan Dae Hee.

The End

Thank you for reading and don’t forget the comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s