Posted in FanFiction NC 17+

But He’s Gay [Chapter 7]

BHG

Title: B-but He’s Gay!

Author : AutumnBreeze @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Ask Fm: http://ask.fm/Seven941

Twitter : https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Choi Taeri [OC],Jung Taekwoon [Leo VIXX], Jung/Cha Hakyeon [N VIXX], Lee Hongbin [Hongbin VIXX],Jung Krystal [Krystal F(x)], Oh Hayoung [Hayoung Apink]

Genre : Comedy, romance and angst

Length : Chaptered

Rating : PG 17

WARNING!! CONTAINING YAOI!! MEANING BOYXBOY

Author note:

Hello semuanya, sebelumnya seven mau minta maaf karena udah lama banget enggak update cerita ini. Sebenernya seven udah kenapa writer block cukup lama dan baru dapet inspirasi lagi pas belakangan ini jadi di maafin yah kalau ceritanya jadi agak boring dan seven juga mau berterimakasih sama reader yang setia nungguin cerita ini terimakasih!! kalian adalah semangat aku😀

Next chapter mungkin akan lebih baik heheheh enjoy!!

7

Falling In Love

<<Previous Chapter             Next Chapter>>

 

“Kau? Menyukai aku?” Taeri menahan tawanya saat dia mengatakan itu dan itu membuat Taekwoon sedikit malu.

Dia tahu Taeri pasti menganggap semua ini lelucon Krystal dan Hongbin namun entah kenapa dia merasa sedikit resah. Dia resah karena dia takut jika prediksi Krystal tentang perasaan dia benar, dia seharusnya tidak jatuh cinta pada siapapun selain Hakyeon dia sudah seperti itu selama ini.

Wajah Taekwoon menjadi muram saat dia melihat respon Taeri dan itu membuat Taeri berhenti tertawa dan menatap serius kearah Taekwoon. Jantung Taeri berdebar, jika Taekwoon benar-benar menyukainya dia tidak bisa membalas perasaan itu karena dia mencintai Jongin tetapi Taekwoon adalah orang terakhir yang tidak ingin dia sakiti jika dia menolak lelaki itu secara mentah-mentah dia yakin hubungan mereka akan hancur.

“Taekwoon-shi,apa kau serius?” Taeri bertanya berharap jika Taekwoon hanya bercanda dan tertawa seperti dia tadi.

“Entahlah Taeri-shi, apa aku terlihat sedang bercanda? Aku sendiri tidak tahu…” Taekwoon menghela nafasnya.

Semua ini sedikit susah untuk Taeri cerna, bukankah Taekwoon dan Hakyeon sudah bahagia bersama? Lalu kenapa emosi seperti ini tiba-tiba saja datang? Taeri berdiri dari duduknya dan menyentuh dada Taekwoon.

“Apa jantungmu berdebar saat aku ada disisimu?” Taeri bertanya, walaupun pertanyaan itu sebenarnya tidak berguna karena Taeri bisa merasakan detak jantung Taekwoon berdetak sangat kencang dibawah tangannya. Taekwoon melepaskan tangan Taeri dari dadanya beberapa saat, sebelum akhirnya dia menyentuh pipi Taeri.

“Sebaiknya kita tidak melakukan ini, kau tahu kita tidak bisa bersama.” Taekwoon berbalik dan masuk kedalam kamarnya.

Taeri hanya tersenyum sedih, dia senang jika Taekwoon memiliki pemikiran yang sama dengannya dia dan Taekwoon tidak akan pernah ditakdirkan untuk bersama itu adalah hal yang jelas. Dia mencintai Jongin dan dia tidak memiliki niat untuk meninggalkan kekasihnya itu, tidak setelah lelaki itu baru saja kembali kedalam pelukannya.

*****

Krystal tidak tahu sejak kapan dia bersembunyi dibalik tembok lorong kantor Hong bin, waktu berjalan sangat lambat sekali membuat Krystal sedikit kesal. Ini sudah sekian kalinya dia melirik kearah jam tangan pink yang melingkar di tangannya, hari ini dia bertekad untuk bertemu dengan Hongbin dan tidak ada yang bisa menghentikan niatnya itu sekarang.

Dia sudah bekerja di perusahaan penerbitan ini sebagai translator dan mengorbankan pekerjaan sebagai guru les private hanya untuk bisa melihat Hongbin bekerja. Dia kira dia akan memiliki banyak kesempatan untuk itu tetapi perkiraannya salah, Hongbin ternyata lebih sibuk dari editor lain meskipun dia hanya mengurus satu penulis yaitu Taeri temannya.

Hongbin kelihatan sibuk mengurus mengecheck penjualan buku Taeri, dia sendri sedang mengobrol dengan seseorang diruangannya. Handphonenya tidak berhenti berdering sejak tadi pagi, Krystal akhirnya memberanikan diri untuk mengintip kejendela kantor Hongbin dan terkejut saat pandangan mereka bertemu.

Hongbin menutup teleponnya dan membuka pitu kantornya, melihat itu Krystal tersenyum lalu melingkarkan tangannya kelengan Hongbin seperti yang biasa dia lakukan.

“Aku membawa makan siang, Oppa bagaimana kalau kita makan bersama?” Krystal bertanya.

Hongbin melepaskan tangan Krystal dari lengannya saat dia mendengar beberapa bisikan dari rekan kerjanya, dia tahu Krystal belum terbiasa dengan situasi pekerjaan mereka karena mereka biasa bertemu diluar tempat kerja.

“Krystal kau tidak bisa melakukan itu disini, aku dan kau rekan kerja dan hubungan kita hanya hubungan professional disini.” Hongbin menjawab membuat senyum Krystal menghilang.

“Tapi aku rindu padamu, aku bosan harus melihat skrip yang harus aku terjemahkan.” Krystal mengeluh manja, Hongbin menggelengkan kepalanya.

“Krystal, itu pekerjaanmu jika kau bosan kau bisa berhenti bekerja disini.” Jawab Hongbin.

Mendengar itu Krystal memajukan bibirnya kesal dan berbalik pergi meninggalkan Hongbin. Entah kenapa Hongbin merasa sedikit bersalah saat dia melihat ekspressi Krystal yang sekarang sudah duduk kembali dimejanya, apakah dia terlalu kasar? Hongbin terkadang tidak bisa mengontrol ucapannya.

Melihat Krystal yang benar-benar murung Hongbin tidak tega, waktu sudah hampir menunjukan jam tiga sore itu artinya pekerjaan mereka memang sudah beres. Dia bahkan tidak sadar jika dia tidak makan siang tadi, dia terlalu sibuk mengurus rumor Taeri bahkan dia sudah menolak beberapa tawaran interview dari beberapa majalah.

Hongbin akhirnya mengambil tasnya setelah dia selesai membereskan barang-barang di kantornya, dia lalu berjalan kemeja Krystal membuat gadis itu melirik kearahnya.

“Ayo kita pulang, lagipula pekerjaan aku sudah beres.” Hongbin berkata sambil berjalan tanpa menunggu Krystal.

Mendengar itu Krystal kelihatan senang sekali dan berlari menyusul Hongbin setelah dia mengambil tasnya, dia bahkan mengacuhkan tatapan iri seolbi. Krystal terlalu senang untuk memandang kearah lain selain Hongbin, dia bahkan tidak sadar jika Kyuhyun –kepala editor mereka- memperhatikan tingkahnya.

Oppa kemana kita akan makan?” Krystal bertanya dengan riang.

“Apapun yang kau mau, aku tidak keberatan.” Hongbin menjawab.

Dia bisa melihat Krystal tersenyum lebar dia bisa mendengar Krystal memberikan beberapa rekomendasi restoran yang ingin dia kunjungi namun Hongbin tidak terlalu memperhatikannya. Pikirannya melayang jauh pada Taeri yang sedang mengerjakan draft buku novel barunya membuat Hongbin ingat percakapannya dengan Kyuhyun tadi pagi.

Kyuhyun mengatakan jika sales buku Taeri semakin menurun dan itu membuata Hongbin sangat khawatir, jika keadaan ini tidak membaik Taeri kemungkinan akan kehilangan karirnya. Hongbin memiliki usulan unuk membuatkan nama pena baru bagi Taeri agar wanita itu tetap bisa berkarya namun tentu saja dia harus berkarir dari awal.

Hongbin yang sudah mengenal Taeri semenjak gadis itu hanya baru berumur delapan belas tahun merasa sedih juga, karir Taeri sudah seperti rumah megah yang mereka bangun bersama-sama dari awal dan melihat rumah itu akan hancur membuat Hongbin sedih dan kecewa.

Oppa? Hongbin Oppa?” Krystal melambaikan tangannya kearah Hongbin membuat lelaki itu melirik kearahnya. “Ya? Maaf tadi aku masih memikirkan pekerjaan.” Hongbin terus terang dan dia bisa melihat betapa kecewanya Krystal.

“Taeri akan baik-baik saja,aku sahabatnya aku tahu dia wanita yang kuat.” Krystal berkata, dia tahu sebenarnya Hongbin mengkhawatirkan sahabatnya itu. Krystal berpikir sebenarnya apa yang bisa membuat Hongbin lupa pada Taeri?terkadang dia cemburu pada sahabatnya itu.

Hongbin tidak menjawab perkataan itu, dia tahu Taeri wanita yang kuat tetapi dia lebih khawatir jika Taeri melihat laporan sales bukunya. Selama ini dia terbiasa dengan angka penjualan yang besar namun bulan ini bukunya hanya terjual beberapa ratus saja dan itupun hanya berasal dari satu toko buku, Hongbin berharap Taeri terlalu sibuk dengan hal lain selain penjualan bukunya.

Oppa,Apa kau menyukai seseorang?” Krystal tiba-tiba saja bertanya memecahkan keheningan diantara mereka.

Mendengar pertanyaan itu Hongbin sedikit terkejut, Hongbin tahu jika Krystal menyukainya dan kelihatannya wanita itu tahu jika dia menyukai Taeri. Hongbin membuat hal itu sangat jelas dimata Krystal dengan menolak mentah-mentah ajakan kencan Krystal, namun mengingat Taeri sudah bersama Jongin sekarang dia rasanya tidak berhak untuk menyukai wanita itu.

“Ya, tapi dia tidak menyukaiku.” Hongbin akhirnya menjawab dengan hellan nafas, mendengar itu Krystal menunduk dan menghentikan langkahnya.

“Apakah wanita itu Taeri?”

Hongbin melirik kearah Krystal, ini pertamakalinya dia melihat betapa sedihnya ekspressi Krystal. Dia bahkan tidak percaya dia melihat mata Krystal yang berkaca-kaca, padahal wanita itu selalu ceria didepannya dan melihat ekspressi sedih terpampang di wajah cantik Krystal membuat Hongbin sedikit merasa bersalah.

“Maafkan aku Krystal..”

“Sampai kapan? Apakah aku harus menyerah?”

Hongbin tidak bisa menjawab saat dia mendengar pertanyaan itu entah kenapa tubuhnya terasa membeku saat dia mendengar pertanyaan Krystal. Dia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu, apakah dia harus melepaskan Krystal? Dia sendiri tidak yakin bagaimana perasaan dia terhadap Krystal selama dia dia selalu melihat Krystal sebagai teman Taeri tapi ini pertama kalinya dia memandang Krystal sebagai seorang wanita.

“Jawab! Apakah aku harus menyerah?” Krystal membentak dan Hongbin mencoba menenangkan wanita itu.

Tangan Hongbin menggapai kearah Krystal namun wanita itu menepis tangannya dengan kasar. Hati Hongbin sedikit sakit saat dia menerima penolakan itu, Krystal yang selalu tersenyum padanya terlihat begitu sedih dan terluka sekarang.

“Maafkan tapi aku tidak tahu harus berkata apa.” Hongbin menunduk penuh dengan penyesalan, seandainya dia pernah emmikirkan Krystal mungkin sekarang dia punya jawaban untuk pertanyaan wanita itu.

“Kau memang tidak pernah peduli padaku.” Krystal berjalan menuju jalan raya yang tidak jauh dari mereka.

Dengan langkah cepat Krystal mencoba menjauh dari Hongbin, pengelihatannya tidak jelas karena airmata mulai mengumpul disudut matanya. Dia hanya ingin segera menghindar dari Hongbin, walaupun dia bisa mendengar Hongbin mengikutinya dan memanggil namanya beberapa kali.

Lampu penyembarangan hampir berubah hijau saat Krystal menyebrang dan sebuah motor mendekat dengan kecepatan penuh kearah Krystal, melihat itu Hongbin dengan sigap menarik tubuh wanita itu kebelakang membuat mereka berdua akhirnya jatuh karena tubuh Krystal membentur tubuh Hongbin membuat lelaki itu kehilangan keseimbangan.

Melihat Hongbin dan Krystal terjatuh pengendara motor itu segera berhenti dan menghampiri Hongbin dan Krystal, lelaki itu kelihatan sangat merasa bersalah dan menawarkan tumpangan kerumah sakit saat dia melihat kaki Krystal berdarah karena terbentur aspal.

“Tidak usah,aku bisa mengobatinya.” Hongbin berkata saat lelaki itu menawarkan Krystal tumpangan kerumah sakit untuk yang kedua kalinya.

Oppa..”

Tanpa menjawab perkataan Krystal, Hongbin langsung membopong tubuh Krystal gadis itu menjerit terkejut. Hongbin bisa mendengar beberapa bisikan dari orang-orang yang ada di pinggir jalan namun lelaki itu mengacuhkannya.

“Apa kau gila? Kenapa kau menyebrang sembarangn seperti tadi? Bagaimana jika kau tertabrak?!” Hongbin marah saat dia sudah mendudukan Krystal di jok mobilnya.

Mianhae..” Krystal berkata penuh penyesalan.

Hongbin tidak menjawab, dia menyentuh kaki Krystal yang berdarah, dia ingat jika di amenyimpan kotak p3k kecil yang ada di laci dashboardnya. Dia tersenyum saat dia menemukan kotak putih itu dan mulai mencari alkohol dan dan perban, Krystal meringis saat dia merasakan cairan alkohol menyentuh lukanya.

“Lainkali pikirkan dulu dimana kau berada sebelum berlari seperti tadi.” Hongbin berkata lagi setelah akhirnya dia selesai membersihkan luka Krystal lalu membalutnya dengan perban.

Krystal hanya diam dan menunduk, dia malu sekali. Setelah dia ditolak mentah-mentah oleh Hongbin sekarang dia harus terjebak dengan lelaki ini, dia tidak tahu harus bagaimana menahan rasa malu ini. Dia hanya ingin menghilang ditelan bumi sekarang, pantas saja Hongbin tidak menyukainya dia begitu kekanak-kanakan jika bisa Krystal ingin memukul dirinya sendiri sekarang.

Oppa tidak usah khawatir, aku akan pergi sekarang.” Krystal berdiri dari duduknya namun dia langsung ambruk kembali ketanah karena kakinya terasa sangat sakit.

Melihat itu Hongbin mengelengkan kepalanya, dia membantu Krystal untuk duduk kembali dan menutup pintu mobilnya. Dia duduk di kursi pengemudi lalu memasangkan seatbelt mobilnya untuk Krystal sebelum akhirnya menghidupkan mesin mobilnya.

“Kau terluka, sebaiknya kita pulang ke apartemenmu  biarkan aku yang memasak.” Hongbin berkata.

Krystal tidak tahu jika dia harus tersenyum lebar atau menjerit karena malu, akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk saja. Dia tidak bisa mempermalukan dirinya sendiri sekarang, dia lebih baik diam dan menurut dengan perintah Hongbin. Krystal akhrinya memalingkan mukanya ke jendela mobil menatap kearah pemandangan jalanan Seoul yang cukup ramai sore itu.

Sensasi hangat menyentuh tangannya membuat Krystal sedikit terkejut, dia melirik kearah tangan kanannya dan dia menemukan tangan Hongbin menggengam tangannya. Krystal menatap sejenak kearah Hongbin sampai akhirnya lelaki itu melirik kearahnya, Hongbin tersenyum kearahnya dan itu membuat Krsytal senang.

“Jika kau benar-benar ingin bersamaku, aku akan memberikanmu kesempatan. Tapi ingat jangan berlari seperti tadi, rasanya jantungku akan copot saat melihat kau hampir tertabrak motor tadi.”

Krystal yang mendengar itu hanya bisa menahan senyumnya, dia merasa bahagia sekali saat dia mendengar betapa khawatirnya Hongbin. Mungkin selama ini dia terlalu pesimistik seharusnya dia mengungkapkan perasaannya dari dulu mungkin jika begitu mereka sudah bersama sekarang.

Oppa,aku tahu kau masih menyukai Taeri tapi aku akan menunggu sampai kau bisa melupakan dia dan suatu saat nanti kau akan mencintaiku sama seperti aku mencintaimu.” Ungkap Krystal.

Hongbin tersenyum mendengar itu, lelaki itu tidak mengatakan apapun namun genggaman tangan Hongbin terasa menenangkan bagi Krystal. Dia harap waktu bisa berhenti sejenak sehingga dia bisa bergengaman tangan dengan Hongbin lebih lama.

*****

Taeri menatap kosong kearah layar laptopnya, dia tidak memiliki sedikitpun insporasi untuk menulis namun dia sekarang mencoba memeras apapun yang ada di otaknya berharap jika Tuhan memberikannya ilham untuk menulis. Itu terlalu berlebihan, Taeri segera menggelengkan kepalanya terkadang dia memikirkan hal-hal konyol yang tidak penting.

“Krystal bertanya padaku jika aku menyukaimu.”

Suara Taekwoon terngiang-ngiang ditelinga Taeri, dia bahkan masih bisa membayangkan tatapan Taekwoon yang lembut saat dia mengatakan itu. Dia tidak pernah melihat Taekwoon serapuh itu, Taekwoon seakan seorang remaja yang baru saja menemukan jika dia sedang jatuh cinta.

Taeri menghela nafasnya, dia bisa gila jika dia mulai memikirkan perasaannya pada Taekwoon. Semua ini terasa aneh sekali, padahal beberapa bulan yang lalu dia yakin jika dia tidak akan jatuh cinta pada Taekwoon apalagi dengan kehadiran Jongin namun sekarang dia sendiri tidak bisa menjawab jika seseorang bertanya padanya soal perasaannya pada Taekwoon.

Jung Taeri, kau gila!gila!

Taeri memukul-mukul kepalanya, dia tidak boleh menyukai Taekwoon jika begitu dia berarti mengkhianati Jongin. Taeri mengambil foto yang ada dimeja kerjanya dan mengelus foto itu, foto itu adalah foto dia dengan Jongin saat mereka sedang berlibur di Lotte World. Senyumnya terlihat sangat lebar begitu juga dengan Jongin, Jongin selalu terlihat tampan jika dia sedang tersenyum seperti itu.

Foto itu sudah lama diambil namun entah kenapa Taeri tidak pernah bosan memandanginya bahkan setelah mereka putus beberapa tahun yang lalu, dia tahu jika dia dan Jongin akan kembali bersama dia selalu memiliki insting yang kuat.

Merasa sesak Taeri akhirnya menutup laptopnya dan memutuskan untuk turun kebawah, saat dia sampai dibawah dia bisa melihat Taekwoon sedang mencuci mobilnya. Lelaki itu kelihatan sangat fokus sekali membuat Taeri ingin tertawa, Taekwoon terlihat lucu jika dia sedang memasang wajah seriusnya karena dahinya dahinya akan mengkerut penuh konsentrasi.

Taeri melirik kearah selang air yang ada disamping Taekwoon, lelaki itu kelihatannya masih menggosok pintu kanan mobilnya dengan lap berbusa. Taeri berjalan pelan-pelan berharap jika Taekwoon tidak menyadari keberadaannya, dia lalu langsung mengambil selang air itu dan menyemprotkan airmya kearah Taekwoon membuat Taekwoon terkejut.

“Hahahaha kena kau!” Taeri tertawa.

Taekwoon menatap tajam kearahnya dan itu membuat Taeri sedikit canggung karena ini pertamakalinya Taekwoon menatapnya seperti itu, Taekwoon akhirnya berlari kearah Taeri mencoba mengoleskan lap berbusanya pada muka gadis itu. Taeri menjerit dan berlari menghindari serangan Taekwoon, sesekali dia menyiram kembali lelaki itu.

“Taeri-shi,kau curang.” Taekwoon berkata, dia akhirnya bisa menangkap Taeri saat wanita itu lengah dan merebut selang air yang Taeri genggam.

“Taekwoon-shi, maafkan aku…” Taeri memohon agar Taekwoon tidak menyiramnya.

“Haruskah aku menyirammu?” Taekwoon pura-pura berpikir membuat Taeri berharap namun dia tersenyum dengan licik dan menyiram Taeri pada akhrinya.

Taeri mengerang dan Taekwoon terus menyerangnya walaupun Taeri sudah minta ampun dan mencoba kabur dari serangannya. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena sekarang mereka berdua basah kuyup, Taeri masih tertawa sambil menyeka wajahnya yang basah. Taekwoon mendekat dan mengusap wajah Taeri dengan kedua tangannya membuat wanita itu menunduk malu sehingga dia bisa melihat kaos hitam Taekwoon yang memeluk tubuh lelaki itu dengan ketat sehingga Taeri bisa melihat jelas otot-otot Taekwoon.

Tanpa Taeri sangka Taekwoon mendekat seakan dia hendak menciumnya, Taeri segera mendorong Taekwoon menjauh dan berlari kedalam rumah. Taekwoon terkejut dengan perlakuan Taeri, temannya itu tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya. Apakah Taeri begitu karena dia mengatakan jika ada kemungkinan dia menyukai Taeri? Taekwoon mulai menyelasi keputusannya untuk mengatakan yang sebenarnya.

Taeri segera menutup pintu kamarnya, dia memegang dadanya yang berdebar sangat kencang. Kedua pipinya juga terasa panas apa mungkin dia merasa gugup? Taekwoon sudah dia anggap sebagai teman, tidak mungkin perasaan yang romantis muncul hanya karena Taekwoon mengatakan ada kemungkinan kalau dia menyukai wanita.

Melihat Taeri yang kabur, Taekwoon hanya menunduk sedih bahkan wanita itu tidak membiarkan dia untuk meyakinkan perasaan yang selama ini dia khawatirkan. Dia hanya ingin meyakinkan jika perasaannya pada Taeri benar bukan hanya ilusi belaka.

Dia berharap jika perasaannya pada Taeri hanyalah sesaat, dia tidak akan pernah bisa bersama dengan Taeri mengingat wanita itu sedang berkencan dengan cinta sejatinya Jongin. Dia tidak butuh rasa sakit lagi, dia sudah cukup menderita dengan perpisahan dia dengan Hakyeon.

*****

Jongin baru saja masuk kedalam rumah keluarga Sulli, dia bisa melihat Sulli dan kedua orangtuanya duduk bersama Joonmyeon. Entah apa yang kakak lelakinya itu katakan pada kedua orangtua Sulli namun sekarang kedua orangtua Sulli mengijinkan kembali anak perempuannya untuk bersama Jongin, mereka bahkan sepakat untuk mengadakan pernikahan yang diam-diam.

Joonmyeon menepuk bahu Jongin saat dia melangkah mendekat kearah Sulli yang sudah menunggunya dengan senyum lebar, dari sekilas Jongin tahu wanita itu pasti sangat senang sekali karena dia memutuskan untuk bersamanya kembali.

“Jangan hancurkan kesempatan ini.” Joonmyeon berbisik sebelum dia akhirnya keluar dari ruangan diikuti oleh ayah dan ibu Sulli yang mengangguk sekilas kearahnya.

Sulli segera menghampirinya dan memeluknya dia dengan erat saat semua orang sudah keluar dari ruang tamu rumahnya, Jongin hanya tersenyum tipis saat Sulli akhirnya melepaskan pelukannya dan mencium bibirnya sekilas.

“Aku tahu kau akan kembali padaku.” Sulli berkata.

“Maaf,aku hanya bingung saat itu.” Jongin menjawab lurus,Sulli menggelengakan kepalanya.

“Mari lupakan kejadian kemarin,kita punya pernikahan yang harus direncanakan.” Ucap Sulli sambil melingkarkan tangannya dilengan Jongin.

Jongin tidak menjawab apapun dan mengikuti langkah Sulli saat mereka keluar sosok Victoria muncul dan ekspressi wanit aitu terlihat sangat tidak tenang saat dia melihat tangan Sulli melingkar dilengan Jongin.

“Sulli-ya,aku ingin bicara denganmu sebentar.” Victoria memberitahu, dia kelihatan lebih gugup dari biasanya.

Sulli mencium pipi Jongin terlebih dahulu sebelum akhirnya dia mengilang dibalik koridor rumahnya bersama Victoria, mereka berdua berbisik-bisik sehingga Jongin tidak bisa mendnegar apa percakapan mereka. Ponsel Jongin tiba-tiba bergetar membuat lelaki itu segera mengaktifkan ponselnya, dia bisa melihat nama Taeri tertera dilayar ponselnya dan dia mengangkatnya.

“Taeri-ya,aku sedang dikantor aku akan meneleponmu nanti.” Jongin berbohong, dia ingin sekali mengobrol dengan kekasihnya itu namun dia tidak bisa mengingat dia harus menghabiskan waktu dengan Sulli sekarang.

“Oh..baiklah,aku hanya ingin mendengar suaramu.” Taeri berkata dengan tawa kecilnya membuat Jongin merasa sedikit senang.

“Aku akan meneleponmu lagi nanti,aku merindukanmu.” Jongin menjawab.

“Aku juga.”

Sambungan telepon mereka akhirnya berakhir dan Jongin berbalik untuk menunggu sosok Sulli muncul kembali. Beberapa menit berlalu Sulli dan Victoria kembali muncul, mereka kelihatan tidak dalam hubungan yang akur karena Victoria langsung pergi meninggalkan Sulli.

“Sebaik kau pergi,aku harus menyiapkan beberapa hal untuk pernikahan kita.” Ucap Sulli, ekspressinya terlihat sedikit murung.

“Oke,aku pergi.” Jongin melepaskan tangan Sulli dan pergi menuju pintu utama rumahnya.

Sulli menunduk sedih, dia bisa melihat betapa kosongnya pandangan Jongin terhadapnya. Dia tahu Jongin melakukan ini karena dia dibujuk oleh Joonmyeon, karena Joonmyeon adalah kunci dia pada hati Jongin.

Saat Jongin hendak menaiki mobilnya Joonmyeon sudah menunggu didepan mobilnya, lelaki itu menggengam sebuah map dan melemparkannya pada Jongin. Jongin membuka map itu dan didalam map itu berisi proposal proyek dia yang dulu ditolek oleh ayahnya namun sekarang dia bisa melihat tanda tangan persetujuan ayahnya dibawah proyek itu, dia seharusnya tidak meremehkan kekuatan kakaknya.

“Aku sudah membuat Abeoji setuju dengan proyekmu, sebaiknya kau menjalankannya dengan baik.” Joon Myeon berkata sebelum akhirnya masuk kedalam mobilnya meninggalkan Jongin yang termenung.

Jongin sendiri sekarang tidak yakin jika dia menginginkan proyek ini, dia sebenarnya hanya ingin mengetes pengaruh Joon Myeon terhadap perusahaannya dan sekarang dia sadar dengan siapa dia bermain api. Dia harus lebih berhati-hati memilih cara untuk keluar dari masalah ini tanpa menyakiti dirinya dan tentu saja Taeri.

Jongin mengambil ponselnya yang ada disakunya, dia segera menghubungi Chanyeol meminta lelaki itu menemuinya di lobi kantor. Setelah itu dia menutup teleponnya dan masuk kedalam mobil pergi menuju kantor, dia benar-benar harus membahas soal ini dengan Chanyeol.

*****

Taeri menghela nafasnya, ternyata susah juga untuk mengindari Taekwoon seharian, dia tidak bisa menonton televisi atau pergi kedapur bahkan sekarang dia juga tidak bisa menulis. Dia memandang kosong kearah layar laptop putihnya, tulisan chapter 2 terlihat sangat besar dilembar kosong microsoft wordnya dan itu semakin membuat Taeri frustasi.

Bayangan dia dan Taekwoon yang hampir berciuman membuat Taeri semakin gundah dia bahkan memukul pipinya sendiri agar bayangan itu pergi dari pikirannya. Dia tidak tahu harus bagaimana, semenjak lelaki itu mengungkapkan perasannya Taeri tidak  bisa melupakan kata-kata Taekwoon.

Ponsel Taeri berdiri membuatnya terkejut, Taeri segera melirik dan melihat nama ibunya muncul dilayar ponselnya. Taeri sangat tekejut dia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya.

Eomma! Apa kabar?” Taeri menjawab dengan gugup.

“Taeri-ya, bagaimana kabarmu? Eomma sangat khawatir sekali saat Eomma melihat semua pemberitaan tentangmu.” Ibu Taeri mengoceh setelah itu namun Taeri tidak bisa mencerna apapun yang ibunya katakan.

Nde Eomma,aku baik-baik saja tidak usah khawatir.” Taeri menjawab dengan tawa canggung.

Eomma berencana untuk menginap dirumahmu,kau tahu Taeyoung sedang liburkan?” Ibu Taeri mengumumkan.

“Tapi Eomma,aku sedang sibuk mungkin lain kali?” Taeri memberi alasan dan dia bisa menebak ibunya menggelengkan kepalanya diseberang telepon.

“Sibuk apa? Kau bahkan belum mengirimkan Hongbin skrip apapun,Eomma baru saja menelepon dia tadi.” Ibu Taeri kembali mengomel, wanita paruh baya itu kelihatan benar-benar emosi.

Eomma,aku masih sedikit terganggu dengan rumor kemarin jadi..—“ Sebelum Taeri bisa melanjutkan kalimatnya ibu wanita itu sudah memotong perkataannya.

“Apapun alasanmu,Eomma dan Taeyoung akan datang sebaiknya kau beres-beres dulu sebelum kami sampai.”

Tanpa menunggu respon ibu Taeri sudah menutup teleponnya mendengar itu Taeri langsung panik, dia langsung berlari kebawah dan dia menemukan Taekwoon sedang menonton televisi sambil memakan cemilannya. Lelaki itu kelihatan sedang menikmati hari santainya mengingat dia baru saja pulang bekerja dari toko kue Hayoung.

“Taekwoon-shi!” Taeri memanggil.

Karena suaranya yang keras Taekwoon kaget bahkan hampi menumpahkan popcorn yang dia pegang.

“Ya?ada apa?” Taekwoon langsung berdiri sambil mearpikan bajunya seakan dia tentara yang baru saja dipanggil oleh komandannya.

“Gawat! Ibu aku dan adikku akan datang, kau tidak bisa ada disini!” Taeri menyampaikan kegelisahan.

“Apa?! Tapi kenapa mendadak sekali?” Taekwoon sama kagetnya.

“Ibuku selalu seperti itu, aku tidak tahu harus bagaimana kalau ibuku tahu kau tinggal disini bersamaku aku bisa dibunuh!” Taeri mengenggut rambutnya frustasi.

Banyangan ibu dan adiknya menatap kearahnya penuh dengan kejijian sudah memenuhi otak Taeri, apalagi bayangan ayahnya yang akan mengurung dia dipenjara jika lelaki tua itu tahu kalau putrinya berani tinggal bersama seorang pria. Taeri sudah menjerit dan menggeleng-menggelengkan kepalany amencoba menghapus bayangan yang seram itu.

Taekwoon yang melihat reaksi Taeri hanya menggelengkan kepalanya, wanita memang selalu terlalu emosional. Taekwoon langsung pergi kekamarnya untuk mengambil beberapa barang kemudian dia mengunci kamarnya.

“Aku akan kerumah Hakyeon Hyeong  jika kau mau.” Taekwoon berkata sedang Taeri masih gemetaran disofa.

“Kau yakin?”

“Ya,aku yakin Hakyeon Hyeong  pasti senang aku menginap di apartemennya.”

Mendengar jawaban itu Taeri ingin sekali menangis dan berlari ditengah lapangan hijau sambil tertawa bersama Taekwoon, okay.. itu sedikit berlebihan namun intinya Taeri sangat berterimakasih pada Taekwoon.

“Taekwoon-shi gomawo…”

Mata Taeri berkaca-kaca dan dia segera memeluk Taekwoon, Taekwoon tertawa karena Taeri bertingkah sekali hari ini. Apakah ibu Taeri begitu menyeramkan? Sehingga wanita itu gemetaran saat dia menyampaikan berita kalau ibunya akan datang mungkin Taeri memnag tumbuh dikeluarga yang sangat tradisional sampai dia ketakutan seperti itu jika dia tertangkap tinggal bersama seorang pria.

“Taeri-ya!!”

Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar ditengah rumahnya, wanita itu langsung menjatuhkan kotak makanan yang dia bawa saat dia melihat sosok putri sulungnya memeluk seorang lelaki didalam rumahnya. Melihat sosok ibunya yang sudah berdiri didepannya bersama adiknya yang berdiri dibelakang ibunya menatap kearahnya penuh dengan keterkejutan.

“Jung Taeri!!!!” Ibunya menjerit.

Taeri langsung melepaskan pelukannya dari Taekwoon, dia akan mati Taeri tahu hidupnya akan berakhir sekarang. Sayang sekali dia hanya bisa hidup sampai 24 tahun, selamat tinggal dunia yang kejam.

*****

“Awww! Panas…” Hongbin mengerang saat tangannya tidak sengaja menyentuh ujung pancinya yang berisi ramyeon yang panas.

Oppa,kau harus hati-hati.” Krystal tertawa melihat Hongbin meringis seperti anak kecil, Hongbin meniup-niup jarinya yang terasa terbakar dan kembali menuangkan ramyeon yang ada dipanci itu kemangkuk yang ada dimeja counter dapur Krystal.

Dia tidak tahu bagaimana dia bisa berakhir disini, tadi pagi dia mendapat telepon dari wanita itu dan langsung berlari kesini karena Krystal bilang kakinya sakit kembali. Dia bahkan sudah membeli obat anti nyeri dan semacamnya, dia juga sengaja untuk belanja di supermarket berencana untuk membuatkan makanan sehat untuk Krystal.

Namun sayang usahanya itu sia-sia saat dia datang dan melihat Krystal sudah memasak sebuah ramyeon, Hongbin langsung panik melihat wanita itu melompat-lompat dengan satu kakinya walaupun sebenarnya dia ingin tertawa karena Krystal sekarang berjalan seperti kelinci.

“Kau seharusnya tetap diam dikamarmu.” Hongbin mengomel, dia memberikan semangkuk ramyeon kepada Krystal namun wanita itu hanya menatap kosong kearah mangkuk ramyeon nya. “Kenapa? Kau merubah pikiranmu?apa kau ingin aku memasak untukmu?” Hongbin bertanya penuh kekhawatiran.

“Tidak, ini pertamakalinya kau memasak ramyeon untukku.” Krystal tersenyum , gadis itu kelihatan bahagia sekali padahal Hongbin hanya memasakannya sebuah ramyeon instant yang simpel.

“Makanlah ramyeonnya akan dingin jika hanya menatapinya seperti itu.” Omel Hongbin walaupun dia sebenarnya menahan tawanya saat dia melihat Krystal mulai memakan ramyeonnya dengan semangat. “Lainkali aku akan memasakan makanan yang lebih enak.” Lanjut Hongbin.

Hongbin mengelus kepala Krystal dan wanita itu mengangguk dengan senyum lebar, dia terlihat lucu sekali jika dia sedang tersenyum lebar seperti itu. Hongbin hendak mengatakan sesuatu namun ponselnya berdering dengan keras membuat Hongbin segera mengangka panggilan telepon itu.

Yobuseyo?”

Mendengar suara ibu Taeri dari seberang telepon membuat Krystal juga penasaran, dia bis amenguping jika Hongbin sedang membahas sesuatu yang sangat serius dengan ibu Taeri. Krystal bahkan bisa mendengar Hongbin menyuruh ibu Taeri untuk tenang namun ibu Taeri terus mengoceh membuat Hongbin sedikit khawatir.

“Ada apa?” Krystal bertanya, Hongbin hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali mengobrol dengan ibu Taeri.

“Aku harus kerumah Taeri, sesuatu terjadi kau sebaiknya makan saja ok?” Hongbin memberi tahu setelah dia menutup panggilan.

“Kenapa?apa Taeri baik-baik saja?” Krystal berdiri dari duduknya namun dia meringis saat dia merasakan perih dilututnya.

“Tidak apa-apa, sepertinya ada kesalah pahaman sebaiknya kau diam saja ok? Aku akan mengurus semuanya.”

Hongbin lalu pergi buru-buru keluar dari apartemen Krystal meninggalkan wanita itu dengan seribu pertanyaan dan kegelisahan, walaupun hubungan dia dan Hongbin sudah lebih baik sekarang entah kenapa Krystal masih merasa jika dia adalah wanita nomor dua di hati Hongbin.

*****

Ibu Taeri menatap tajam kearah sosok wanita itu yang sekarang duduk dilantai bersama Taekwoon yang sama takutnya dengan wanita itu. Ibu Taeri mungkin lebih pendek dari mereka berdua namun aura otoritas terlihat diwajah tuanya yang masih cantik, adik Taeri yang duduk disamping ibunya hanya bisa menatap khawatir. Dia sendiri tidak bisa mengatakan apapun untuk menyelamatkan kakaknya dari amukan ibu mereka.

Taeri menelan ludahnya memberanikan diri untuk menatap kearah ibunya namun ibunya langsung melotot kearahnya, keberanian Taeri langsung menciut setelah dia melihat reaksi ibu Taeri.

“Jadi siapa namamu anak muda?” ibu Taeri bertanya pada Taekwoon.

“Kenalkan nama saya Jung Taekwoon, senang bertemu dengan anda Eommo-nim.” Taekwoon menyapa, dia terdengar seperti murid SMA yang memperkenalkan dirinya didepan kelas sekarang.

Jika mereka tidak dalam keadaan tegang seperti sekarang Taeri mungkin sudah menertawakan Taekwoon, dia bahkan bisa melihat wajah Taekwoon lebih pucat dari biasanya dan suaranya terdengar gemetaran.

Sebelum Taekwoon bisa mengatakan apapun tiba-tib saja pintu rumah Taeri terbuka dan sosok Hongbin juga Krystal muncul, kedua orang itu menyapa hormat kearah ibu Taeri. Melihat sosok Hongbin membuat Taeri sedikit tenang, satu-satunya orang yang biasa menjelaskan semua ini adalah Hongbin karena ibunya mempercayai Hongbin lebih dari anaknya walaupun terkadang Taeri sedih dengan fakta itu.

Eommni,aku bisa menjelaskan semuanya.” Hongbin berkata, dia menarik Taekwoon menjauh dari Taeri yang masih duduk dilantai.

“Hongbin-ah,siapa anak muda ini? Kenapa dia memeluk Taeri?” Ibu Taeri bertanya dan Taeri hanya menghela nafasnya kesal.

“Dia temanku Eommoni,mungkin anda salah paham Taekwoon bukan lelaki yang seperti itu iya kan Taekwoon-ah?” Hongbin bertanya dia melingkarkan tangannya dipundak Taekwoon mencoba terlihat akrab didepan ibu Taeri.

“Benar Eommo-nim,aku bukan lelaki seperti itu.” Taekwoon membela dirinya.

Ibu Taeri kelihatan tidak percaya dengan sandiwara yang mereka tunjukan sampai akhirnya adik Taeri menyentuh lengan ibunya meminta agar ibunya berhenti bersikap kasar pada mereka, ibu Taeri akhirnya mengangguk menurut pada keinginan anak bungsunya itu lagipula mereka lelah karena baru sampai kerumah Taeri setelah perjalanan panjang.

“Baiklah,aku percaya perkataan kalian untuk kali ini.”

Mendengar perkataan ibu Taeri semua orang kelihatannya lega, Hongbin pamit terlebih dahulu pada ibu Taeri dan adiknya sebelum menyeret Taekwoon dan Krystal dari rumah Taeri. Dengan berat hati Taeri sekarang harus menghadapi amukan ibunya sendirian, apalagi mengingat berita besar yang sudah ibunya terima tetang hubungan dia dan Jongin.

“Jung Taeri,belakangan ini kau pintar sekali membuat kekacauan.” Ibu Taeri berkata.

Eomma..” Taeri memelas tidak ingin membahas apapun soal masalahnya.

Ibunya menunggu penjelasan dari Taeri akan tetapi wanita itu alah pergi mengabaikan dia dan adiknya, Taeyoung adik Taeri menatap kesal kearah ibunya. Ibunya itu terkadang tidak bisa membaca situasi, padahal Taeyoung bisa melihat dengan jelas jika kakaknya itu sedang tertekan.

Dengan langkah cepat Taeyoung mengikuti langkah Taeri, ibunya hanya mendengus kesal kedua anaknya itu tidak pernah menurut padanya dan dia mulai kesal. sebagai seorang ibu, dia juga sangat khawatir namun jika Taeri tidak membuka dirinya seperti ini dia tidak tahu bagaimana cara membantu anak perempuannya.

Apalagi rumor negatif yang dia dengar tentang Taeri membuat dia sangat khawatir, anak perempuan yang dia didik dengan hati-hati dan penuh perhatian dipandang jelek oleh orang lain membuat dia marah. Lagipula dari dulu dia tidak suka sosok Jongin, Kim Jongin hanyalah masalah untuk anak perempuannya.

Taeyoung mengetuk pintu kamar Taeri, walaupun kakaknya tidak menyahut Taeyoung tetap membuka kamar kakaknya itu dan melihat kakaknya menatap kosong kearah layar komputer yang hidup. Melihat itu Taeyoung hanya mengehela nafasnya, dia tahu kebiasaan kakaknya itu memang aneh namun dengan kebiasaan aneh itu Taeyoung biasanya tahu jika kakaknya sedang frustasi atau sedih.

Eonnie…”

“Apa kalian datang karena berita soal Jongin Oppa?”

Taeyoung mengangguk, dia masih mengingat jika ayah mereka marah besar saat lelaki paruh baya itu membaca berita soal anaknya dikoran dan majalah juga televisi. Jika dia dan ibu Taeri tidak cukup persuasif mungkin ayah Taeri sudah mendatangi kediaman Kim Jongin dan menyuruh anak lelakinya itu menjauh dari Taeri.

Appa sudah tahu juga, dia marah sekali.” Taeyoung melanjutkan, dia duduk diranjang Taeri.

“Aku sudah bisa menebaknya.” Taeri bergumam sambil memijit jidatnya, kepalanya tiba-tiba terasa pusing sekarang.

Eonnie,aku tahu kau sangat menyukai Jongin Oppa tapi dengan sekarang apakah kau yakin ingin bersama dengan dia?” Taeyoung bertanya.

Tumbuh dengan melihat hubungan Taeri dan Jongin membuat Taeyoung percaya dengan cinta sejati, semenjak dia menginjak umur remaja dia selalu menghubungkan cinta sejati dengan kisah cinta kakaknya dengan Jongin. Dia sering melihat betapa senangnya mereka saat mengobrol atau bagaimana pandangan Jongin selalu tertuju pada kakaknya tidak peduli dimana mereka berada.

Suatu hari nanti Taeyoung selaluberdoa untuk mendapatkan seseorang yang akan mencintainya seperti bagaimana Jongin mencintai kakaknya, terkadang dia cemburu dengan kebahagiaan yang kakaknya miliki namun sekarang melihat bagaimana kisah cinta kakaknya dan Jongin berakhir membuat dia sangat sedih.

“Kau tahu aku sangat menyukainya Taeyoung,aku…aku tidak bisa melupakan dia.” Taeri memainkan jarinya resah.

Eonnie, kau tahu apa yang orang bilang…kau bisa melupakan cinta lama dengan cinta yang baru.” Taeyoung menyentuh bahu kakaknya sebelum akhirnya pergi.

Mendengar nasihat adiknya Taeri hanya bisa merenung, cinta baru? Taeri sudah melakukan itu beberapa kali namun wajah Jongin selalu muncul dibenaknya. Bahkan saat dia mengobrol dengan lelaki lain pikiran Taeri selalu berhasil mengingat Jongin.

*****

Ini pertamakalinya Taekwoon merasa berterimakasih pada Hongbin dan Krystal, kedua orang itu berhasil menjauhkan dia dari ibu Taeri yang seram. Siapa sangka wanita paruh baya itu bisa sangat berbahaya, apalagi tatapannya bisa membuat orang merasa jauh lebih rendah darinya.

Ibu Taeri benar-benar berbeda jauh dengan sosok ibunya dirumah yang lembut dan penuh kasih sayang, mungkin karena Taekwoon anak tunggal jadi dia sering dimanja oleh sosok ibunya.

Hongbin dengan baiknya menawarkan tumpangan menuju apartemen Hakyeon saat mereka sudah keluar dari rumah Taeri, karena cuaca cukup dingin Taekwoon menerima tawaran itu dengan senang hati. Sekarang dia ada didalam mobil Hongbin mendengar Hongbin mengobrol dengan Krystal tentang keluarga Taeri.

Dia tidak terlalu bersemangat untuk bergabung dengan obrolan itu, pikirannya melayang pada Taeri dirumahnya. Dia memikirkan apakah ibunya akan mengatakan sesuatu yang membuat Taeri bersedih lagi? Dia tidak tahu, yang jelas dia hanya ingin kembali dan menemani wanita itu kembali.

“Kau tak usah khawatir,aku yakin Taeri baik-baik saja.”

Suara Krystal menyadarkan Taekwoon dari lamunannya, Taekwoon hanya mengangguk berharap jika Krystal tidak menanyakan apapun padanya. Dia tidak ingin membahas apapun soal Taeri dan dirinya, terakhir kali mereka membahas soal itu Krystal berakhir menanyakan apakah Taekwoon menyukai Taeri sebagai seorang wanita bukan teman.

“Taekwoon-shi, aku tahu kau sangat peduli pada Taeri tapi jika kau terus melamun seperti itu aku mulai curiga jika kau benar-benar menyukai Taeri.”

Pipi Taekwoon langsung memerah saat dia mendengar itu, Taekwoon mencoba menutupi rasa malunya dengan melirik kearah jendela mobil. Krystal memukul lengan Hongbin membuat lelaki itu mengerang kesakitan, Krystal mengatakan jika Hongbin harus diam saja dan Taekwoon bersyukur atas sikap Krystal.

Mobil Hongbin akhirnya sampai didepan gedung apartemen Hakyeon, Taekwoon berpamitan kepada Krystal dan Hongbin sebelum akhirnya masuk kedalam gedung apartemen Hakyeon. Dengan rasa gelisahnya Taekwoon berjalan masuk kedalam gedung apartemen, bahkan saat dia menunggu lift terbuka pikirannya masih dipenuhi oleh Taeri.

Dia mengaktifkan ponselnya dan menatap kosong kearah nomor kontak Taeri, jarinya memilih untuk menghubungi atau tidak menghubungi nomor telepon Taeri sampai akhirnya pintu lift terbuka. Dia memutuskan untuk tidak mengubungi Taeri dan masuk kedalam lift.

Apartemen Hakyeon terasa familiar untuk Taekwoon, dia menemukan banyak sekali fotografi yang dipajang oleh kekasihnya itu di dinding apartemennya. Beberapa foto dirinyapun ada di dinding apartemen kekasihnya itu membuat dia tersenyum bahagia, setidaknya Hakyeon sekarang tidak malu lagi mengakui jika dia mencintai Taekwoon.

Sosok Hakyeon tiba-tiba saja muncul dari kamar tidur, lelaki itu kelihatan baru saja bangun dari tidurnya. Hakyeon kelihatan kaget dia bahkan tidak bisa mengatakan apapun saat dia melihat sosok Taekwoon berdiri tidak jauh darinya.

Hyeong ,aku pulang.” Ucap Taekwoon dengan senyum manisnya.

Hakyeon membalas senyum itu dan berjalan kearah Taekwoon membuka tangannya lebar-lebar agar Taekwoon mememeluknya, dengan tawa Taekwoon memeluk kekasihnya itu dengan erat.

Welcome home Taekwoon-ah.” Hakyeon bergumam.

Hakyeon melepaskan pelukannya setelah mereka berpelukan untuk beberapa menit, saat Hakyeon melihat ekspressi wajah Taekwoon dia merasa khawatir. Taekwoon kelihatan murung, ini hal yang baru biasanya lelaki itu terlihat senang setiap kali dia datang ke apartemennya.

“Apa kau mau kopi? Atau teh?” Hakyeon berbicara dan Taekwoon hanya mengangguk.

“Kopi?”

“Ya,kopi saja.”

Dengan persetujuan itu Hakyeon pergi kedapur apartemennya menyiapkan kopi untuk Taekwoon dan dirinya, sedangkan Taekwoon hanya berdiri didepan jendela menatap pemandangan malam kota Seoul.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Hakyeon bertanya, dia menyimpan dua gelas mug diatas meja yang ada didepan sofa nya.

Hyeong ..bukan apa-apa.” Taekwoon menjawab dingin.

Hakyeon tahu Taekwoon bukanlah orang yang selalu jujur dalam mengungkapkan perasaannya, melihat ekspressi wajahnya sudah jelas Taekwoon memiliki masalah yang tidak bisa dia lupakan. Hakyeon akhirnya mendekat dan melingkarkan tangannya dipinggang Taekwoon, dia mengistirahatkan kepalanya diceruk leher Taekwoon membuat lelaki itu tersenyum.

Karena pekerjaan Hakyeon yang banyak belakangan ini dia dan Taekwoon tidak bisa menghabiskan waktu bersama, Taekwoon juuga sibuk dengan pekerjaannya di cafe Hayoung membuat mereka semakin susah untuk bertemu. Bertemu kembali dnegan kekasihnya membuat Hakyeon senang, dia juga baru sadar jika selama ini dia merindukan kehadiran Taekwoon yang membuat nya tenang.

Hyeong aku yang seharusnya bermanja-manja.” Taekwoon berkata namun Hakyeon hanya menjawab dengan tawa.

“Apa? Aku sudah bosan dengan sikap manja mu,sekarang giliran aku.” Hakyeon menjawab dengan senyum jahilnya membuat Taekwoon mendekat dan mencium pipi Hakyeon.

Hyeong, bolehkah aku menginap disini untuk beberapa hari? Ibu Taeri datang jadi aku tidak bisa kembali kerumah.” Taekwoon mengungkapkan dan dia bisa merasakan anggukan kepala Hakyeon.

“Tentu saja, aku hanya bingung…kenapa kau tidak pindah saja kesini?” Hakyeon bertanya, lelaki itu memang sudah bertanya kepada Taekwoon berkali-kali kenapa dia tidak mau pindah ke apartemen Hakyeon namun Taekwoon selalu berhasil menghindari topik itu sampai sekarang.

“Aku tidak ingin merepotkanmu,kau bekerja siang dan malam.” Taekwoon beralasan.

Sebenarnya alasan yang baru saja dia katakan hanyalah alasan palsu, dia tidak bisa tinggal bersama Hakyeon. Hubungannya dengan Hakyeon adalah sebuah rahasia, kedua orangtua mereka tidak boleh sampai tahu jika dia dan Hakyeon berhubungan. Mereka berdua bisa saja mencoba memisahkan mereka lagi seperti dulu dan dia tidak ingin mengulangi kesalahan itu.

“Kau benar, tapi bukankah kau merepotkan Taeri juga?”

Taekwoon mengelengkan kepalanya, Taeri tidak pernah merasa keberatan dengan keberadaannya dan entah kenapa Taekwoon selalu merasa khawatir setiap kali dia meninggalkan sosok wanita itu. Apalagi sekarang dia sedang dalam keadaan yang rapuh, dia menyukai keberadaan Taeri disekitarnya wanita itu seakan teman yang selama ini Taekwoon cari.

“Tidak, Taeri membutuhkanku Hyeong, aku akan pindah jika keadaan sudah tenang.” Taekwoon mengungkapkan dan itu membuat Hakyeon senang.

“Benarkah?”

“Iya,jika keadaan sudah tenang aku akan pindah.”

Hakyeon tersenyum mendengar itu, entah kenapa hatinya terasa sangat tenang saat dia mendengar jika Taekwoon akan pindah dari rumah Taeri. Jika Hakyeon bisa jujur dia sudah lama merasa curiga dengan hubungan Taekwoon dan Taeri, keduanya terlihat terlalu dekat untuk seorang teman.

“Taekwoon-ah, kau selalu bilang jika kau cemburu jika aku dekat dengan wanita tapi bagaimana jika kau yang dekat dengan seorang wanita sekarang? Apakah aku boleh cemburu juga?” Hakyeon melepaskan pelukannya dari Taekwoon.

Taekwoon membalikan badannya dan menatap kearah Hakyeon, dia sendiri tidak percaya jika Hakyeon benar-benar cemburu sekarang. Lelaki itu kelihatan sedikit marah namun itu malah membuat Taekwoon ingin mencium kekasihnya itu, Hakyeon yang cemburu sangat lucu sekali.

Hyeong,apa kau cemburu pada Taeri?” Taekwoon bertanya tidak yakin.

Hakyeon tidak menjawab, dia hanya menyilangkan tangannya dan pergi meninggalkan Taekwoon dengan seribu pertanyaan. Kekasih nya itu kelihatannya benar-benar cemburu pada Taeri,akhirnya Taekwoon berlari untuk menyusul Hakyeon dan dia bisa mendengar Hakyeon tertawa saat dia melihat wajah panik Taekwoon.

“Hyeong ,kau tak usah cemburu pada Taeri dia hanya teman.” Ungkap Taekwoon dan Hakyeon menjentikan jarinya di dahi Taekwoon membuat Taekwoon mengerang.

“Aku tahu! Kau tak usah menjelaskannya,aku hanya ingin kau menjaga jarak dengan dia mengerti?”

Taekwoon mengangguk, entah kenapa hatinya terasa bimbang saat dia mendengar itu. Dia menyukai Taeri sebagai teman pada awalnya namun entah kenapa belakangan ini wanita itu tidak meninggalkan pikirannya. Bahkan saat dia bekerja, padahal sebelumnya Hakyeon-lah yang selalu berhasil muncul dipikirannya kemanapun dia pergi.

******

Jaehwan tidak mengerti kenapa Hayoung sekarang ada didepannya, wanita itu menatapnya dengan tatapan ragu namun akhirnya Jaehwan membuka pintu apartemennya membiarkan wanita itu masuk kedalam. Dengan senyum malu Hayoung masuk kedalam, wanita itu ternyata membawa sebuah bingkisan Jaewhan baru menyadarinya saat wanita itu menyimpan bingkisan itu di counter dapurnya.

“Taekwoon Oppa,membujuk aku untuk datang kesini dia bahkan membuatkan beberapa kue dan pudding kesukaanmu.” Hayoung berkata dengan nada datar.

“Terimakasih,kau tak usah repot-repot.” Jaehwan tersenyum tipis.

Hayoung hanya diam, dia bahkan tidak duduk di sofa yang ada didepannya. Dia malah berbalik menatap kearah jendela apartemen Jaehwan, dia sedang merangkai kata-kata yang sudah dia siapkan tadi selama perjalanan menuju apartemen Jaehwan. Kenapa sekarang tiba-tiba saja kata-kata itu hilang dari pikirannnya, meninggalkan dia dengan kepanikan.

Hayoung tidak pernah menyangka Jaehwan akan kembali dikehidupannya, mengingat Jaehwan dengan kejamnya membatalkan pertunangan mereka karena dia dengan egoisnya pergi ke Paris untuk mengikuti mimpinya sebagai pohographer tanpa memikirkan bagaimana perasaan Hayoung saat itu.

Jaehwan yang melihat Hayoung yang gugup hanya melangkah mendekat kearah wanita itu, dia melingkarkan tangannya dipundak Hayoung menarik tubuh wanita itu mendekat kearahnya. Hayoung terkejut namun wanita itu tidak menolak pelukan Jaehwan, wanita itu malah menyentuh tangan Jaehwan lalu melirik kearah lelaki itu.

“Taekwoon dan Hakyeon Oppa, bersikeras agar kita kembali bersama.” Ungkap Hayoung.

“Jika kau tidak mau,aku tidak akan memaksa.” Ucap Jaehwan.

Hayoung hanya terdiam, dia melepaskan tangan Jaehwan dan membuka tasnya, sebuah cincin dia tunjukan pada Jaehwan. Mata Jaehwan melebar, dia terkejut saat dia melihat cincin pertunangan yang Jaehwan berikan pada Hayoung lima tahun yang lalu. Dia tidak menyangka jika wanita itu masih menyimpannya.

“Hayoung-ah..”

Hayoung hanya tersenyum, dia memeluk Jaehwan membuat Jaehwan balik memeluknya. Sepertinya perkataan Taekwoon benar, selama ini Hayoung tidak pernah melupakannya.

“Aku jujur jika aku masih menyukai Hakyeon Oppa, tapi aku tidak bisa bohong jika selama ini aku lebih menyukaimu daripada dia.”

“Aku bahagia, jika kau merasa seperti itu.”

Jaehwan memeluk erat Hayoung, dia senang sekali jika selama ini cintanya terhadap Hayoung tidaklah sebelah tangan seperti apa yang dia pikirkan selama ini. Sebenarnya alasan kenapa dia memilih untuk pergi ke Paris karena dia tidak pernah yakin jika Hayoung mencintainya, namun dengan pengakuan yang sekarang Jaehwan yakin jika wanita itu mencintainya sekarang.

Keduanya tersenyum saat mereka melepaskan pelukan mereka, Jaehwan mengambil kue yang Hayoung bawa dan menyuruh Hayoung untuk duduk. Wanita itu akhirnya duduk dan melirik kesekitar apartemen Jaehwan, satu foto yang Jaehwan pajang di dinding menangkap perhatian Hayoung.

Dia berjalan kearah foto itu dan menemukan jika Jaehwan memajang fotonya yang sedang berjalan. Hayoung yakin itu dirinya meskipun wajahnya dalam foto itu tidak terlihat karena dia mengenal dress yang dia gunakan beberapa tahun yang lalu, bahkan tas dia masih menggunakan tas hitam yang dulu sering dia gunakan.

“Apa kau ingat kapan aku mengambil foto itu?” Tanya Jaehwan, saat dia melihat Hayoung menatapi fotonya.

“Kapan?”

“Saat kita pertamakali bertemu.”

Hayoung sekarang ingat, dulu dia dan Jaehwan bertemu tidak sengaja disebuah taman hiburan. Saat itu Hayoung masih sangat muda dan polos, dia masih mengikuti Hakyeon kemanapun kakak sepupunya itu pergi seperti anak anjing walaupun saat itu Hakyeon sibuk bekerja.

Saat itulah Hakyeon memiliki pekerjaan di taman hiburan untuk mengambil foto wahana-wahana yang ada disana. Disanalah sosok Jaehwan muncul, sebagai asisten Hakyeon dia sendiri saat itu masih menjadi photographer amatir belum mengerti bagaimana caranya mengambil foto secara professional seperti Hakyeon.

Ketika Jaehwan sibuk memotret wahana-wahana dia menemukan seorang gadis cantik yang sedang menunggu didepan wahana ferris wheel dengan dress putih dan tas hitam, gadis itu terlihat kebingungan. Pada saat itu Jaehwan terlalu terpesona dengan kecantikan gadis itu sehingga dia berakhir mengambil beberapa foto dari gadis itu sampai akhirnya gadis itu menyadarinya dan membalikan tubuhnya.

Belum juga Jaehwan selesai mengambil foto gadis itu sosok Hakyeon datang dan memeluk akrab gadis itu, dari sana Jaehwan memeliki keberanian untuk mendekati gadis itu dan dari sana dia tahu jika gadis itu adalah Oh Hayoung. Wanita yang sekarang menjadi kekasihnya, walaupun waktu berjalan dengan cepat wajah Hayoung tidak banyak berubah dari sepuluh tahun yang lalu dimana dia baru saja bertemu dengan wanita itu.

“Saat itu kau tidak terlalu ramah, kau bahkan hanya mengikuti Hakyeon.” Jaehwan mengungkapkan, mengenang hari pertama mereka bertemu.

“Aku belum mengenalmu, tapi setelah kita berkencan aku bersikap baik padamu.” Hayoung membela diri.

“Aku tahu, aku hanya ingin mengenang masa-masa indah kita.”

Entah mengapa perkataan itu membuat Hayoung senang, dia juga ingin melakukan hal yang sama. Dia merindukan Jaehwan, selama lelaki itu pergi ke Paris dia tidak pernha bisa berhenti mengngat memori tentang lelaki itu bahkan dia tidak pernah bisa membuang cincin pertungan mereka.

“Jika kita akan mencoba berhubungan lagi,aku ingin kau tidak meninggalkan aku lagi seperti dulu.” Hayoung mengungkapkan.

Mendengar perkataan Hayoung membuat Jaehwan merasa bersalah, dia harap dia bisa mengulang waktu dan tidak pergi meninggalkan Hayoung saat itu. Namun saat itu dia buta dengan rasa cemburu, dia hanya ingin pergi dan kabur dari kenyataan jika kekasihnya menyukai sahabatnya sendiri saat itu, dia egois dan kenak-kanakan saat itu.

“Maafkan aku,aku tidak berpikir jernih saat itu…” Jaehwan mengungkapkan, dia sendiri akan selalu menyesali keputusan bodohnya lima tahun yang lalu.

“Aku sudah memaafkanmu, yang penting kita kembali bersama sekarang.”

Tangan Hayoung menyentuh foto itu dengan penuh kesenangan, dia bersyukur jika Jaehwan masih menyimpan kenangan mereka. Rasa senang memenuhi benak Hayoung dia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum dan itu membuat Jaehwan senang juga sudah lama dia tidak melihat senyum Hayoung yang cantik.

“Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Hakyeon dan Taekwoon?” Jaehwan bertanya, dia sedikit sibuk belakangan ini sehingga dia sudah lama tidak menemui kedua sahabatnya itu.

“Mereka baik-baik saja,Taekwoon dan Hakyeon Oppa sering bertemu di cafe ku sekarang.” Hayoung menjelaskan.

“Apa mereka sering bermesraan didepanmu?” Jaehwan menggoda dan Hayoung hanya mengerang.

Dia ingat beberapa hari yang lalu Hayoung memergoki Hakyeon sedang mencium pipi Taekwoon didapur belakang setelah Jinki dan Kyungsoo pulang membuat dia merasa canggung sekali. Untung saja Himchan dan Daehyun datang sehingga keadaan tidak terlalu canggung saat itu.

“Mereka selalu bermesraan,aku muak.” Hayoung bercanda sambil berpura-pura ingin muntah.

“Bagaimana jika besok kita tunjukan siapa pasangan yang paling mesra?” Jaehwan menaik turunkan alisnya dengan licik.

“Dasar!” Hayoung menjulurkan lidahnya pada Jaehwan.

Melihat itu Jaehwan mencubit hidung Hayoung membuat wanita itu menjerit terkejut dan memukul lengan Jaehwan pelan sebelum akhirnya duduk di sofa bersama Jaehwan. Jaehwan bahkan melinglarkan tanganya dipundak Hayoung,membiarkan wanita itu mengistirahatkan kepalanya dipundak lebar nya.

*****

Ketukan pintu terdengar dari pintu utama rumah Taeri, mendengar itu Taeri langsung membuka pintu kamarnya dan berlari kebawah berharap ibunya tidak membuka pintu mengingat jika orang yang datang adalah Jongin. Saat Taeri sampai dilantai bawah dia langsung disambut oleh adegan ibunya yang menatap tajam kearah sosok Jongin, Taeri hendak memanggil Jongin namun Taeyoung mencegahnya.

Taeyoung tahu apa tujuan ibunya, saat ibunya menyuruh Jongin untuk berbicara dengannya berdua diruang tamu. Hati Taeri berdetak sangat kencang saat dia melihat ibunya dengan kasarnya memanggil Jongin saat lelaki itu termenung menatap Taeri, dia tidak menyangka jika ibu Taeri akan datang.

Jongin bersyukur saat dia melihat Taeri mengikuti langkahnya menuju ruang tamu, Taeri sempat menyentuh tangan kekasihnya itu mencoba memberi semangat dan Jongin mengangguk penuh dengan kesiapan. Dia tahu cepat atau lambat dia harus menghadapi kedua orang tua Taeri, bagaimanapun dia berniat serius untuk menikahi Taeri.

Ibu Taeri kelihatan tidak senang saat ini, dia tidak tahu harus mulai darimana tapi yang jelas dia ingin Jongin untuk memperjelas hubungannya dengan putrinya. Dia sudah kesal dengan semua rumor negatif tentang putrinya, Taeri bukanlah seorang perebut suami orang ibunya ingin sekali mengatakan itu pada orang-orang yang menuduh putrinya namun dia tidak bisa.

Dia kekurangan informasi, dia sendiri tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi antara putrinya dengan seorang Kim Jongin. Semua informasi yang dia ketahui kebanyakan dari media bukanlah dari mulut putrinya sendiri dan Taeri kelihatan menutupi beberapa hal membuat dia kesal.

“Kim Jongin-shi,saya tahu anda menyukai putri saya namun maaf untuk kali ini saya tidak akan mengijinkan anda untuk berhubungan lagi dengan putri saya.”

“Eommoni,saya mohon dengar penjelasan saya dulu.” Jongin membalas, dia kelihatan gugup.

Ibu Taeri menyeringai, baguslah jika Kim Jongin gugup didepannya itu artinya lelaki itu takut padanya sehingga dia bisa menguasai percakapan mereka lebih bebas. Bagaimanapun dia akan membuat Jongin menyesal karena sudah menyakiti putrinya, bahkan lelaki itu sudah mengotori image Taeri mengancam karier yang sudah dibangun oleh anaknya bertahun-tahun hanya karena ke-egoisannya.

“Aku sudah muak dengan semua alasan yang kau dan Taeri ucapkan, kenyataannya keadaan tidak membaik untuk putriku. Aku seorang ibu Jongin-shi, aku selalu khawatir pada Taeri sampai kapanpun jadi aku mohon…jika kau mencintai putriku lepaskan dia.” Ibu Taeri berkata.

Eomma!” Taeri membentak, dia tahu ibunya itu pasti sudah menyakiti perasaan Jongin.

“Saya mengerti dengan kekhawatiran Eommoni,tapi saya benar-benar serius soal Taeri.” Jongin menjawab dengan penuh kesungguhan, bahkan kedua tangannya mengepal dengan erat penahan rasa gugupnya.

Melihat kesungguhan Jongin hati Ibu Taeri sedikit luluh, dia tahu jika kedua anak muda itu saling mencintai. Dia menyaksikan bagaimana putrinya dan Jongin berinteraksi, betapa bahagianya dia saat dia bersama dengan Jongin namun dengan keadaan sekarang sepertinya bersama dengan Jongin bukanlah pilihan yang baik.

Apalagi jika dia mengingat bagaimana Jongin dengan mudahnya melepaskan Taeri beberapa tahun yang lalu, dia masih ingat betapa hancurnya Taeri ketika Jongin mengakhiri hubungan mereka. Kenangan buruk itu tidak pernah meninggalkan memori ibu Taeri,jika Kim Jongin mampu meninggalkan putrinya untuk pertamakali lalu apa yang akan mencegah dia untuk tidak mengulangi hal itu?

“Lagipula kenapa kau tiba-tiba saja merubah pikiranmu? Bukankah kau sudah meninggalkan putriku beberapa tahun yang lalu? Itu artinya kau akan baik-baik saja tanpa Taeri,kau bahkan dengan mudahnya memutuskan hubungan kalian saat itu.” Ibu Taeri mengungkapkan.

Taeri mengigit bibirnya gugup, ibunya benar beberapa tahun yang lalu Jongin meninggalkannya meskipun begitu hati Taeri tetap percaya jika Jongin akan kembali padanya dan hatinya ternyata benar. Sekarang Jongin disini bersamanya, menghadapi ibunya yang mencoba memisahkan mereka.

Eommoni,aku tahu  itu hal yang salah namun semua orang memiliki kesalahan. Dengan meninggalkan Taeri saat itu, aku sadar jika aku tidak bisa jauh dari Taeri karena aku mencintainya selama ini aku belum sadar betapa besarnya rasa cintaku pada Taeri.”

Taeri tersenyum tipis kearahnya Jongin mencoba menenangkan sosok lelaki itu, melihat itu Taeyoung merasa kasihan pada kakaknya dan Jongin. Bagaimanapun mereka masih terlihat saling mencintai, berbeda dengan Taeyoung ibu Taeri masih tidak setuju dengan hubungan mereka.

“Aku tidak peduli dengan alasan apapun yang akan kalian ucapkan, mulai hari ini aku ingin kalian mengakhiri hubungan kalian.” Ibu Taeri marah, dia pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah yang cepat.

Taeyoung menatap khawatir kearah kakaknya dan pergi mengikuti ibunya menuju kamar tamu. Jongin dan Taeri akhirnya termenung diruang tamu atmosphere diantara mereka terasa sedikit tegang. Jongin akhirnya berdiri dari duduknya membuat Taeri melirik kearahnya.

Jongin tidak mengatakan apapun, dia hanya menarik tangan Taeri keluar dari rumahnya, Jongin menyuruh Taeri masuk kedalam mobilnya sampai akhirnya lelaki itu masuk dan menghidupkan mesin mobilnya.

“Aku ingin kita pergi sebentar.” Ucap Jongin.

Saat itu Taeri hanya bisa mengangguk, dia tidak pernah bisa mengatakan tidak pada Jongin. Entah kemana Jongin akan membawa Taeri namun dia mempercayai Jongin. Mobil Jongin melaju menulusuri jalanan kota Seoul, Taeri tidak mampu mengatakan apapun namun tangan hangat Jongin menggengam tangannya dengan erat selama perjalanan seakan ellaki itu tidak ingin melepaskannya.

Ternyata Jongin membawanya kesebuah bukit yang indah, bintang-bintang terlihat jelas dilangit seakan memberikan mereka sedikit cahaya. Saat Taeri turun dari mobil angin malam cukup dingin sehingga Jongin melepaskan jaketnya dan melingkarkannya dibahu Taeri.

“Apa kau masih ingat bukit ini?” Jongin bertanya saat mereka duduk dirumput hijau bukit itu.

Taeri mencoba mengingat namun dia tidak ingat tentang bukit ini, Taeri menggelengkan kepalanya. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah melupakan sebagain kenangan dia dan Jongin, Jongin kelihatan sedikit kecewa namun dia menutupinya dengan senyum lebar.

“Ini adalah bukit dimana kita pertamakali berkencan, kau ingat? Saat itu Baekhyun Hyeong dan Kyungsoo Hyeong mengajak kita untuk menonton acara kembang api disini.”

Setelah Jongin mengatakan itu kenangan tentang kencan pertama dia dan Jongin langsung Taeri ingat, dia ingat saat itu dia sangat gugup sekali apalagi Jongin terlihat sangat tampan saat itu. Disini juga dimana mereka berpegangan tangan untuk pertamakalinya, Taeri tersenyum mengingat kenangan itu.

“Kenapa kau membawaku kesini Oppa?” Taeri bertanya.

“Aku rindu pada masa-masa indah kita.” Jongin bergumam, dia mendongak menatap bintang-bintang indah yang bertaburan di langit malam.

Taeri hendak membalas ucapan Jongin namun ponsel Jongin tiba-tiba saja berbunyi, lelaki itu langsung mengangkat teleponnya dan berdiri meninggalkan Taeri. Kebingungan dengan sikap Jongin membuat Taeri sedikit curiga, selama ini Jongin selalu mengangkat teleponnya didepan Taeri lalu kenapa sekarang Jongin kelihatan menyembunyikan sesuatu. Apalagi saat dia melihat Jongin bercakap-cakap dengan orang yang meneleponnya ekspressi cemas terlihat jelas di wajah Jongin, Jongin tersenyum tipis kearah Taeri sebelum akhirnya berbalik menjauh dari Taeri.

Taeri melipatkan kakinya masih mendongak menatapi bintang-bintang dilangit, dia tersenyum saat dia mengingat Taekwoon. Lelaki itu pasti senang jika dia membawanya kesini belakangan ini Taekwoon terlalu sibuk untuk bekerja dia sering kelihatan lelah setiap kali dia pulang dari cafe tempat dia bekerja.

Beberapa menit kemudian Jongin sudah kembali disampingnya,lelaki itu membuka tangannya menyuruh Taeri untuk berdiri. Taeri tidak mengerti kenapa Jongin kelihatan buru-buru, dia bahkan sedikit menarik Taeri saat dia menggengam tangan Taeri masuk menuju mobilnya yang ada di puncak bukit.

“Ada apa Oppa?kenapa kau terburu-buru?”

Setelah Taeri berkata itu Jongin langsung terdiam, dia tidak sadar jika dia sudah mencengkram tangan Taeri dengan kasar. Dia segera melepaskan genggaman tangannya, dia seharusnya lebih bisa mengendalikan emosinya didepan Taeri. Kekasihnya itu bukanlah wanita yang gampang dibohongi, jika dia bertingkah aneh seperti ini rahasianya akan terbuka dengan cepat.

“Maaf,aku hanya ingin segera membereskan urusan kantor.” Jongin berkata dengan senyum nya, dia membukakan pintu mobilnya untuk Taeri.

Kekasihnya itu hanya menatap kearahnya seakan mencari sesuatu namun akhirnya menurut untuk masuk kedalam mobilnya, Jongin menghela nafasnya lega karena Taeri kelihatannya tidak mencurigainya.

*****

Dari kemarin malam kelihatannya ibu Taeri tidak membiarkan putrinya menghilang dari awasan nya, bahkan saat Hongbin datang untuk mereview draft tulisan Taeri ibunya diam diruangan yang sama dengan mereka membuat keduanya sangat canggung apalagi Hongbin datang untuk membahas adegan ciuman yang ada dalam novel Taeri mengingat Taeri sekarang menulis cerita komedi romantis.

“Apakah ibumu seperti ini dari kemarin?” Hongbin berbisik saat ibu Taeri keluar untuk kekamar mandi.

Taeri hanya bisa mengangguk, kantung mata wanita itu lebih gelap dari biasanya menandakan kurang tidur. Setelah ceramah ibunya kemarin malam Taeri merasa gelisah dan gundah dia bahkan tidak bisa menutup matanya tanpa memikirkan kata-kata ibunya, keluarganya menyuruh Taeri untuk memutuskan hubungan apapun yang dia miliki dengan Jongin satu-satunya orang yang mendukung nya hanya Taeyoung adik kecilnya.

Adiknya itu tersenyum saat Taeri melirik kearahnya, dia sepertinya masih asik membaca novel-novel misteri karangan kakaknya sendiri. Sebenarnya sedikit malu untuk membiarkan keluarganya membaca karya tulisannya yang bisa dibilang sangat gelap dan menyeramkan, kebanyakan cerita-cerita yang ditulis olah Taeri adalah cerita misteri pembunuhan jika tidak melodrama.

“Aku rasa perkembangan novelnya cukup bangus, aku senang kau mulai menikmati cerita yang kau tulis.” Hongbin berkomentar saat dia selesai membaca chapter baru novel Taeri.

“Belakangan ini aku mencoba untuk menghibur diriku sendiri, aku membaca dan menonton banyak drama komedi.” Taeri menjawab dengan nada suara yang malas, mungkin karena wanita itu mengantuk.

“Aku juga suka dengan karakter baru yang kau masukan, namun entah kenapa aku memiliki firasat kalau kau membuat karakter ini berdasarkan Taekwoon?” Tanya Hongbin menatap kearah Taeri.

“Dia teman yang baik, dia juga menginspirasiku untuk terus menulis.” Taeri mengungkapkan, dia menatap kearah layar laptopnya yang penuh dengan tulisan sekarang.

“Jika kau ingin menampilkan karakter ini sebaiknya kau suruh dia membacanya, kau tidak ingin dia merasa tersinggung kan?” Ucap Hongbin dan Taeri menganggukan kepalanya.

Wanita itu terlihat sangat letih membuat Hongbin sangat khawatir tanpan Hongbin sadari dia menyentuh kepala Taeri dan mengelusnya membuat Taeri sedikit terkejut, ini bukan pertamkalinya Hongbin melakukan itu namun dia ingat jika adiknya Taeyoung sedang anteng membaca tidak jauh dari mereka.

Taeri akhirnya melepaskan tangan Hongbin dari kepalanya berharap Taeyoung tidak melihat apa yang baru saja Hongbin lakukan. Hongbin kelihatan sedikit tersinggung dengan penolakan Taeri namun dia menyembunyikannya dengan senyuman nya.

“Taeyoung ada disini, bukankah kau bilang kau ada janji dengan Krystal?” Taeri mencoba memperbaiki keadaan yang menjadi canggung.

“Iya,kau benar aku harus segera pergi.” Hongbin mengangguk.

Setelah lelaki itu pamit Taeri berhenti menulis, dia menutup layar laptopnya membuat adiknya berhenti berpura-pura membaca. Taeyoung sebenarnya sudah bosan dengan buku kakaknya beberapa menit yang lalu tapi dia ingin tetap diam di tempatnya dan alasan yang mengijinkannya melakukan itu adalah membaca buku.

“Semalam kau pergi bersama Jongin Oppa,kemana kalian pergi?” Taeyoung langsung melontarkan pertanyaan saat dia melihat sosok Hongbin sudah menghilang dari ruang baca kakaknya.

“Kami hanya mengobrol.” Taeri menjawab singkat.

“Oh benarkah? Kau kira aku percaya dengan kebohongan itu?” Taeyoung memutarkan matanya.

“Aku serius, Jongin Oppa kelihatannya sibuk dengan pekerjaannya aku tidak ingin membebani dia dengan masalah keluarga kita.”

Taeyoung hanya menghela nafasnya, perkataan kakaknya benar dia tahu Jongin bukanlah orang yang memiliki waktu yang banyak dengan perusahaan besar yang harus dia urus permasalahan keluarga Taeri hanya akan menjadi beban tambahan untuknya.

“Lalu bagaimana Eonnie? Kau tahu Appa pasti marah jika dia tahu kau dan Jongin Oppa belum berpisah.”

Taeri hanya menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya ingin menghindari keluarganya untuk beberapa menit, dia butuh udara segar juga karena semalaman dia sudah menulis seperti orang gila.

“Aku butuh udara segar, aku akan keluar sebentar katakan pada Eomma untuk berhenti mengikutiku.” Taeri meninggalkan pesan pada Taeyoung sebelum dia pergi.

Taeri masuk kedalam mobilnya dan menyetir menuju jalanan, dia tidak tahu kemana dia pergi namun saat melirik kearah ponselnya entah kenapa dia tiba-tiba saja ingat tawaran Taekwoon untuk mengunjungi cafe Hayoung. Akhirnya Taeri menghubungi nomor Taekwoon, lelaki itu bahkan langsung mengangkat panggilannya dalam beberapa detik.

“Hallo? Taeri kau baik-baik saja?” Taekwoon terdengar sangat khawatir.

“Taekwoon-shi, aku baik-baik saja.” Taeri memaksakan senyuman.

“Maaf aku tidak bisa menemanimu, cafe saat ini sangat ramai jadi aku belum punya waktu untuk datang ke rumahmu.”

“Tidak apa-apa, aku mengerti.”Taeri menjawab. “ Ngomong-ngomong soal cafe, aku punya banyak waktu luang sekarang aku tertarik untuk mengunjungi cafe dimana kau bekerja.”

Taeri mendengar tarikan nafas Taekwoon, lelaki itu sepertinya terkejut karena ini pertamakalinya Taeri menawarkan diri untuk mengunjungi cafe dimana dia bekerja. Apalagi hari ini cafe ramai sekali dan dia terlihat sangat berantakan, tepung terigu menodai pipi dan bajunya dari semua hari dalam satu minggu kenapa Taeri memilih untuk mengunjungi cafe Hayoung pada hari ini?! Taekwoon bertanya.

“Taekwoon-shi?”

“Oh iya, tentu saja kau bisa datang tapi cafe sangat ramai sekarang…apa kau tidak keberatan?” Taekwoon bertanya tidak yakin.

Taeri mempertimbangkan keadaan untuk beberapa saat namun dia terlalu penasaran untuk mengatakan tidak, lagipula skenario buruk apa yang akan terjadi di cafe Taekwoon? Dia yakin dia akan baik-baik saja.

“Tidak apa-apa, kau kirimkan saja alamat cafe Hayoung.” Taeri memerintah.

“Baiklah,aku akan menunggu.”

Taeri akhirnya menutup teleponnya, dia melirik kearah jendela mobilnya sekilas. Sudah lama sekali dia tidak keluar dari rumahnya dan angin musim panas cukup mendinginkan kepalanya yang terasa panas dan pening, dia baru sadar jika dia sudah mengurung dirinya sendiri cukup lama didalam rumah.

*****

Taekwoon tidak berbohong saat dia mengatakan jika cafe Hayoung sedang ramai, dia bahkan tidak menemukan satupun tempat duduk kosong. Pandangannya akhirnya menyebar mencari sosok yang familiar sebelum seseorang menyentuh bahunya membuat Taeri sedikit terkejut, dia berbalik dan menemukan sesosok lelaki tampan tersenyum padanya.

“Nona, maaf tapi cafe sedang penuh, mungkin anda bisa menunggu di kursi waiting list.” Ucap lelaki itu dengan ramah, pantas saja cafe ini penuh mengingat kebanyakan pelayan di cafe ini adalah lelaki tampan.

Wanita jaman sekarang… Taeri menggelengkan kepalanya, Namun dia sendiri tidak bisa membantah jika dia juga tergoda oleh ketampanan lelaki yang tadi berbicara padanya. Saat dia hendak duduk di kursi yang lelaki itu tunjukan untuknya dia bahkan mendengar beberapa gadis muda memekik penuh kegirangan saat dia melihat seorang pelayan tampan menghampiri meja mereka.

Sebenarnya cafe Hayoung ini menarik, tempat nya pun cukup nyaman Taeri mungkin harus membangun restoran juga atau semacamnya untuk investasi dia jika karier menulisnya benar-benar hancur. Lagipula jika dia sudah tua dia tidak yakin jika dia masih ingin menulis.

“Taeri-shi!”

Suara yang familiar terdengar begitu juga dengan suara jerita para remaja yang melihat sosok tampan Taekwoon keluar dari dapur, beberapa bisikan terdengar saat Taekwoon menghampirinya dia bahkan merasakan semua mata pengunjung cafe tertuju padanya.

“Apa kau sudah menunggu lama?” Taekwoon bertanya.

“Tidak,aku baru saja sampai.”

Taekwoon terlihat berbeda sekali saat dia sedang bekerja, Taeri harus mengakui jika lelaki itu terlihat lebih tampan dalam seragam putihnya. Taeri segera menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh berpikir seperti itu Taekwoon hanya teman baginya.

“Ayo masuk,aku menyiapkan tempat untukmu.” Taekwoon berkata, dia membukakan pintu cafe untuk Taeri.

Saat Taeri masuk beberapa tatapan tajam menatap kearahnya membuat dia sedikit terintimidasi namun dia mencoba tetap berjalan tanpa menundukan kepalanya, Taekwoon yang menyadari itu melirik kearah sekumpulan wanita yang menatap tajam kearah Taeri dan melotot kearah mereka membuat semua wanita itu mengalihkan perhatian mereka.

Beberapa menit kemudian mereka sampai didepan meja Taeri, Taekwoon bahkan cukup baik untuk menarik kursi Taeri sehingga wanita itu bisa duduk dengan nyaman. Taeri bisa menebak jika wanita-wanita yang melihat itu pasti sangat iri kepadanya.

“Duduklah, jika kau mau memesan panggil saja Daehyun dia lelaki yang sedang mengobrol disana.” Taekwoon menunjukan kearah sosok lelaki yang sedang melayani kostumer diujung lorong cafe.

“Baiklah, terimakasih kau tak usah repot-repot.” Taeri berkata malu, dia pertamakalinya dia berada di dalam cafe yang penuh dengan lelaki tampan.

“Tidak apa-apa,aku senang kau datang.” Taekwoon tidak tersenyum namun Taeri tahu lelaki itu tulus saat mengatakan kalau dia senang.

“Kalau begitu aku harus kembali.” Ucap Taekwoon.

Saat Taeri melihat Taekwoon hendak pergi entah kenapa dia merasa resah apalagi saat dia melihat banyak sekali pengunjung baru yang datang, dia tidak pernah suka berada di tempat yang ramai seperti ini karena situasi ini membuatnya merasa canggung apalagi dia baru saja memiliki skandal dia tidak tahan dengann tatapan para pengunjung yang mungkin sekarang sedang membicarakan dia.

“Taekwoon-shi!” Taeri tidak sadar mencengkram tangan Taekwoon membuat lelaki itu sedikit terkejut.

“Taeri-shi..”

“B-bisakah…kau diam disini?” suara Taeri hampir seperti bisikan namun Taekwoon bisa mendengarnya dengan jelas.

“Shift aku akan berakhir beberapa menit lagi,kau tunggu saja oke? Semuanya akan baik-baik saja.” Taekwoon menyentuh tangannya.

Daehyun dan Himchan yang penasaran mengintip Taekwoon dan Taeri dan saat dia melihat Taekwoon dengan lembutnya menyentuh kedua tangan Taeri lelaki itu menarik nafasnya terkejut. Selama ini Taekwoon selalu kasar pada wanita, bahkan beberapa kostumer menangis karena Taekwoon menolak ungkapan cinta mereka dengan dinginnya.

“Siapa wanita itu?”

Daehyun sangat terkejut saat dia mendengar suara bosnya muncul dari belakang, dia berbalik dan menemukan Hayoung bersembunyi di tembok dekat lorong cafe. Sepertinya yang penasaran dengan wanita yang dibawa oleh Taekwoon bukan hanya dia dan Himchan karena sekarang Kyungsoo dan Onew pun mengintip dari jendela dapur.

“Himchan Hyeong bilang dia penulis terkenal.” Daehyun berbisik pada Hayoung.

“Penulis?”

“Iya, belakangan ini dia menjadi berita hangat karena terlibat skandal dengan putra keluarga Kim pemilik perusahaan internasional.”

Hayoung mengangguk, Daehyun ternyata bisa berguna sesekali. Taekwoon yang merasa aneh karena cafe tiba-tiba saja hening melirik kesekitarnya dan semua orang seketika kembali beraktivitas. Hyaoung kembali bersembunyi di kantornya dan Daehyun pura-pura pergi kedapur untuk mengambil pesanan begitu juga Himchan.

“Apa kalian melihat apa yang aku lihat?!” Himchan memekik penuh keheranan.

“Aku kira dia tidak suka wanita.” Onew berkata sambil mengelus dagunya, berpikir.

“Apa lelaki gay tidak bisa berteman dengan wanita?” Kyungsoo bertanya penuh dengan kepolosan membuat Daehyun dan Himchan memeluk Kyungsoo.

Pâtissier muda itu terlihat sangat lucu jika dia tidak sedang marah atau menatap kearah mereka seperti psikopat yang siap membunuh mangsanya, mengingat Kyungsoo tergolong pegawai yang muda diantara mereka seharusnya dia bertingkah lebih imut dan lucu seperti Daehyun. Setidak itu yang Himchan katakan sebelum lelaki itu terkena sepatu Kyungsoo yang melayang dari dapur.

“Oh Kyungsoo, kau sangat lugu sekali sentuhan yang tadi Taekwoon berikan pada Taeri terlalu intim jika mereka hanya teman biasa.” Onew menjelaskan.

Kyungsoo membuka mulutnya hendak membalas namun dia mengurungkan niatnya saat dia melihat sosok Taekwoon masuk kedalam dapur, Himchan dan Daehyun langsung pergi keluar dari Onew juga Kyungsoo pura-pura membereskan kue-kue yang selesai mereka hias tadi.

“Taekwoon-ah, kalau boleh tahu siapa wanita yang datang tadi?” Onew bertanya tanpa mengabaikan tatapan tajam Kyungsoo yang melarangnya untuk mengatakan apapun.

Oh dia pemilik rumah yang aku sewa.” Jawab Taekwoon singkat, lelaki itu kembali membuat adonan kue yang tadi dia tinggalkan.

“Pemilik rumah?!” Onew terkejut, bahkan suara petir tiba-tiba saja terdengar dari luar ruangan.

“Iya, kenapa kau terlihat sangat terkejut?” Taekwoon melirik malas kearah Onew yang masih membatu sambil menutup mulutnya.

“T-tapi Onew Hyeong bilang sentuhan kalian sangat intim…” Kyungsoo berbisik.

“Setelah aku selesai membuat adonan ini, pekerjaanku bereskan Hyeong? Bolehkah aku pulang lebih dulu?”

Taekwoon bertanya mengacuhkan Kyungsoo dan Onew yang kelihatan masih shock dengan jawaban lurus Taekwoon, kelihatannya Pâtissier itu tidak menyadari apa yang sedang terjadi di cafe. Semua orang histeris dan penasaran dengan hubungan dia dan Taeri mengingat Taekwoon tidak pernah bersikap manis dan ramah pada semua orang yang dia temui di cafe.

Bahkan pada Hayoung-pun Taekwoon terkadang sedikit kasar namun entah apa yang Taeri miliki lelaki itu begitu baik padanya, sehingga semua orang penasaran. Bahkan Daehyun dan Himchan sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan investigasi yang akan mereka lontarkan pada Taekwoon dan Taeri jika mereka berdua memiliki kesempatan untuk melakukannya.

“Ya, lagipula shift mu akan berakhir sebentar lagi.” Ucap Onew, dia tidak tertarik lagi dengan gosip Himchan dan Daehyun karena sekarang kelihatannya Taeri hanyalah pemilik rumah yang disewa Taekwoon.

Ditempat lain Himchan sudah menyiapkan strategi agar dia bisa menanyakan beberapa hal pada Taeri, setelah dia selesai mengantarkan pesanan kostumer dia memutuskan untuk menghampiri Taeri.

“Selamat datang di cafe kami, apa Anda siap memesan?” Himchan bertanya dengan senyum ramahnya yang sangat terang, Taeri bahkan merasa silau saat dia melihat gigi putih Himchan yang dia pamerkan.

“Eh..aku..ini pertamakalinya aku kesini.” Ungkap Taeri, dia hanya menatap kosong kearah menu yang dia pegang bingung untuk memilih makanan mana yang akan dia pesan.

“Kami memiliki menu dessert and drinks yang menarik, jika anda suka makanan manis saya sangat merekomendasikannya.” Himchan menawarkan.

Himchan cukup baik untuk membukakan menu Taeri sehingga Taeri menatap kearah jajaran menu makanan manis dan minuman. Saat Taeri sedang memilih makanannya Himchan memperhatikan penampilan wanita itu dari kaki sampai ujung kepalanya, Taeri memang cantik namun dia benar-benar sederhana tidak ada yang menakjubkan dari wanita itu.

“Maaf nona, aku hanya penasaran…sebenarnya apa hubunganmu dengan Taekwoon?” Himchan berbisik saat dia sadar jika dia memiliki kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Taeri.

“Oh Taekwoon? Dia hanya orang yang menyewa kamar dirumahku.”

Mendengar jawaban itu Himchan terkejut, bahkan petir sekali lagi datang secara tiba-tiba dari luar cafe. Himchan yang merasa kecewa dengan jawaban Taeri yang sangat membosankan hanya menghela nafasnya, sepertinya Taekwoon memang menyukai lelaki dia hanya berspekulasi terlalu cepat.

“Aku pesan lemon tea dan cheese cake saja.” Taeri akhirnya memesan.

“Terimakasih atas pesanannya, pesanan anda akan segera kami antarkan…” Himchan menjawab dengan nada suara yang malas berbeda sekali dengan tadi saat dia menyapanya.

Taeri sedikit kebingungan dengan perubahan sikap Himchan, dia tidak tahu apa niat Himchan namun lelaki itu kelihatannya tidak puas dengan jawaban yang dia berikan pada lelaki itu. Taeri menunggu tidak lama sampai akhirnya dia melihat sosok Taekwoon keluar dari dapur dengan pakaian kasualnya.

Taeri menghela nafasnya lega, dia tidak nyaman dengan situasi dicafe mengingat beberapa mata konsumen disana menatap kearahnya penuh dengan keingin tahuan. Taekwoon duduk didepannya dan tersenyum tipis kearahnya, Taeri membalas senyuman itu lalu dia membuka tasnya untuk menunjukan draft novel barunya pada Taekwoon.

“Aku sedang mengerjakan novel baru, salah satu karakter dalam novel ini sebenarnya berdasarkan karaktermu jadi aku rasa kau berhak membaca nya.” Taeri mengungkapkan.

Taekwoon sedikit terkejut dengan perkataan Taeri, dia membuka draft novel baru Taeri dan membaca beberapa alinea dalam draft itu bahkan alinea pertama itu sudah membuat Taekwoon tersenyum. Taeri memang berbakat dalam menulis, Taekwoon tidak pernah membaca buku karangan Taeri dan dia sedikit menyesal karena dia mungkin sudah melewatkan beberapa cerita Taeri yang bagus.

“Choi Taeri-shi!”

Suara seseorang memanggil Taeri dan itu membuat Taeri mendongak. Dia terkejut sekali saat dia melihat sekumpulan reporter dan cameraman yang datang ke cafe Hayoung dan memaksa masuk, bahkan sebagian reporter sudah masuk dan membanjirinya dengan berbagai pertanyaan.

“Apakah benar anda merebut Kim Jongin dari Choi Sulli?”

Salah seorang reporter lelaki bertanya kearahnya, Taeri terkejut dan menjauh dari reporter itu. Taekwoon yang melihatnya langsung mendorong jauh reporter itu dari Taeri, dia menarik tangan Taeri munuju dapur cafe.

“Taeri!”

“Choi Taeri!”

Panggilan-panggilan para reporter itu terdengar namun Taeri hanya ingin kabur, dia tidak ingin mendengar segala rumor negatif tentang dia. Taeri bahkan masih mendengar beberapa reporter meneriakinya mencoba merebut perhatiannya sampai akhirnya Taekwoon mendorongnya masuk kedapur dan lelaki itu mengunci pintu dapur berharap jika rekan kerjanya berhasil mengusir para reporter itu dari cafe Hayoung.

Taeri yang panik hanya bisa menutup telinganya, dia tidak ingin mendengar pertanya para reporter itu dia sudah merasa muak dengan tuduhan dan fitnah yang keluar dari mulut mereka. Dia juga terkejut dengan kehadiran mereka yang datang secara tiba-tiba, dia bisa merasakan tangan dan kakinya gemetaran namun dia mencoba untuk kuat.

“Taeri..” Taekwoon memanggil.

Wanita itu tidak merespon, Taeri terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri karena dia hanya ingin kabur dari situasi ini seharusnya dia tenang hari ini,seharusnya dia menikmati lemon tea dan cheese cake yang dia pesan tadi bukannya dikejar-kejar oleh para reporter yang siap menyakiti hatinya dengan perkataan tajam mereka.

“Choi Taeri!” Taekwoon akhirnya mendekat untuk menahan tubuh Taeri, ternyata Taeri hampir saja jatuh kelantai.

“Taekwoon-shi..” Taeri menatap kearah Taekwoon dengan mata berkaca-kacanya.

“Tenanglah,semuanya akan baik-baik saja.”

Taekwoon langsung menarik Taeri kedalam pelukannya, tangan Taeri yang dingin dan gemetaran hanya bisa memeluk kembali Taekwoon. Dia benar-benar membutuhkan seseorang yang kuat disampingnya, karena sekarang dialah yang paling lemah. Dia lemah karena dia mulai berpikir jika dia harus melepaskan Jongin, untuk pertama kalinya dalam benaknya dia memikirkan untuk melepaskan Kim Jongin lelaki yang dia cintai.

To Be Continue….

Don’t forget the comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

3 thoughts on “But He’s Gay [Chapter 7]

  1. Akhirnya keluar juga ini FF. q sudah menantinya lama. Memang sih di chapter ini agak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tapi perasaan suka mulai tumbuh di antara Taekwoon dan TAeri jadi semakin suka. ga sabar ma kelanjutannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s