Posted in FanFiction (semua umur)

Locked Heart

Locked Heart

Title:  Locked Heart

Author : AutumnBrezee @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast : Han Yejin [OC], Kim Jongin [EXO],Park Chanyeol [EXO], Park Sooyoung/ Joy [Red Velvet]

Genre : Angst,Melodrama

Length : Oneshoot

Rating:PG 17

Broken

Kehidupan Yejin berakhir saat dokter memvonis dia tidak akan pernah bisa berjalan lagi, saraf dikakinya sudah tidak berfungsi lagi dan dan dia akan tetap dikursi roda untuk seumur hidupnya. Han Yejin berharap hidupnya tamat saja,dia lebih baik mati daripada harus diam dikursi roda ini selamanya.

Yejin memiliki banyak mimpi dan cita-cita tetapi semua itu harus dia pendam karena sekarang dia tidak bisa memenuhi semua cita-cita itu. Mimpinya ini selamanya akan menjadi mimpi karena sekarang dia bahkan tidak bisa berjalan apalagi menari seperti dulu, hidupnya terkutuk sekarang itu yang Yejin pikirkan.

Adiknya Joy hanya bisa menatap sedih kearah kakaknya itu, malam itu dia mengantar kakaknya untuk check up dan tidak menyangka jika dokter yang menangani kakaknya akan menyampaikan berita buruk ini. Yejin tidak menangis saat itu tetapi Joy tahu dunia kakaknya itu sedang runtuh tempat dihadapannya.

Perjalanan kerumah terasa lebih berat dari biasanya, Joy menyentuh tangan kakaknya dengan rasa simpati. Dia menyayangi kakaknya lebih dari apapun,melihat betapa sedih kakaknya Joy hanya bisa menangis.

“Kenapa kau menangis bodoh, aku yang harus menangis.” Kakaknya itu berkata, Joy selalu mengagumi kakaknya yang selalu tegar.

Eonnie, Apa kau tidak akan menangis? Kau mendengar apa yang dokter katakan.” Joy berkata dan Yejin hanya mengangguk.

“Aku tahu, aku tidak akan menangis sebelum akau mengatakan ini pada Eomma dan Appa.” Yejin menjawab.

Rumah mereka cukup besar untuk empat orang dan memiliki dua lantai namun saat Joy dan dia masuk kedalam rumah mereka berdua terkejut dengan kedatangan seorang lelaki. Orangtua Yejin dan Joy kelihatan sedang membahas sesuatu dengan lelaki itu, ibunya kelihatan sangat sedih sekali sedangkan ayahnya kelihatan marah namun mereka segera menghentikan pembicaraan mereka saat sosok Yejin yang ada dikursi roda datang bersama Joy.

“Kau sudah pulang.” Ibunya menyambut sambil menyeka airmatanya, mungkin wanita tua itu merasa sakit saat melihat anaknya yang dulu sehat sekarang harus duduk dikursi roda.

Lelaki yang duduk dikursi ruang tamu rumah mereka melirik kearah Yejin, lelaki menunduk penuh penyesalan saat melihat sosok Yejin yang pucat dan kurus. Yejin tidak mengenali lelaki itu namun ibunya segera mendorong kursi rodanya menuju kamarnya, Yejin sekali lagi mengintip sosok lelaki itu karena dia penasaran karena sebelumnya dia belum pernah bertemu dengan lelaki itu.

“Yejin-ah,ayo kita kekamarmu.” Ibunya berkata dengan nada suara yang riang walaupun Yejin tahu ibunya itu sudah menangis.

Eomma,siapa lelkai yang tadi ada diruang tamu?” Yejin bertanya.

Ibunya tidak menjawab langsung menjawab dan itu membuat Yejin semakin resah, sebenarnya siapa lelaki tadi? Kenapa dia terlihat begitu sedih saat dia menatapnya? Pertanyaan itu memenuhi kepala Yejin.

“Bukan siapa-siapa.” Ibunya menjawab singkat.

Yejin tidak mengatakan apapun lagi, dia sendiri memiliki berita buruk yang akan dia smapaikan setelah ibunya selesai membantu dia duduk diranjangnya.ibunya itu terlihat sangat gelisah saat mereka baru saja sampai dikamar Yejin.

Eomma,aku…aku ingin membicarakan sesuatu.” Yejin memulai saat ibunya berjalan menjauh dari sosoknya.

“Ada apa Yejin-ah?” Tanya ibunya.

Yejin menahan sekuat tenaga airmatanya yang mengancam turun, dia tidak tahu bagimana cara menyampaikan berita yang sangat buruk ini pada ibunya. Dia tidak ingin ibunya menangis dan histeris, dia tidak tahu bagimana caranya membuat ibunya kuat menghadapi berita ini karena dia sendiri rapuh.

Dia sendiri belum sekuat apa yang dia pikirkan, jika bisa dia juga ingin menjerit dan menangis mengutuk hari dimana kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang berunjung dengan hancurnya hidup Yejin, dia selalu berdoa pada Tuhan jika semua ini hanyalah mimpi buruk tetapi semua ini adalah kenyataan begitulah kenyataan selalu pahit.

Eomma,dokter bilang aku tidak bisa disembuhkan…aku selamanya akan duduk dikursi roda ini.” Ucap Yejin.

Ibunya kelihatan sangat terkejut dengan apa yang Yejin sampaikan, wanita itu akhirnya menangis dan menangis lagi melihat ibunya bersedih Yejin hanya bisa menunduk menangis pula. Dia tidak pernah merasa tidak berguna seperti ini dalam hidupnya, ibunya segera memeluk anak perempuannya itu dan mengatakan berbagai kalimat yang sedikit menyembuhkan luka menganga hatinya.

Ibunya itu segera berdiri setelah dia menangis, sekarang ekspressi sedihnya berganti dengan marah. Dia berjalan dengan cepat keluar dari kamar Yejin membuat gadis itu terkejut, Yejin dengan susah payah duduk kembali dikursi rodanya dan mengikuti langkah ibunya.

Baru juga dia sampai dilorong kamarnya dia sudah mendengar rontaan ibunya, suara Joy juga terdengar mencoba menenangkan ibunya. Yejin akhirnya sampai diruang tamu dan dia melihat ibunya menampar keras pipi lelaki yang tadi duduk diruang tamu, wanita paruh baya itu memukul-mukul dada lelaki itu sambil menjerit dan menangis.

“Bagaimana anakku bisa hidup bahagia eoh?! Dia bahkan tidak bisa berjalan selamanya! Katakan padaku brengsek!” Ibunya berkata masih memukul lelaki itu.

Ayah Yejin menarik istrinya dari lelaki itu, ini pertamakalinya Yejin melihat sosok ayahnya yang kuat menangis juga begitu juga dengan Joy. Adiknya itu sama lemasnya dengan ibunya tetapi dia segera membawa ibunya yang kelihatan sudah lelah kekamarnya sedangkan ayah Yejin hanya bisa memandang kosong kearah lelaki yang ada dihadapannya.

“Kim Jongin, kau sudah menghancurkan hidup putri sulungku.” Ayahnya berkata.

Mendengar itu mata Yejin melebar, apakah lelaki tinggi yang ada didepannya ini adalah orang yang telah tega menabraknya?

*****

Yejin menatap kearah pemandangan diluar rumah barunya, dia tidak terlalu menyukai rumah barunya karena interornya sangat terang apalagi cat rumahnya berwarna biru membuat Yejin meringis. Tapi dia mengakui rumah barunya sangat indah, dia menyentuh roda kursi rodanya dan mendorongnya sehingga dia lebih dekat kejendela.

Hari sudah sore dan langit sudah berubah menjadi oranye,matahari sudah mulai terbenam sehingga cahayanya mulai redup. Sebuah tangan menyentuh bahu Yejin membuat wanita itu melirik kepinggir, dia menemukan sosok ibunya membungkuk disampingnya.

Eomma dan Appa akan pulang sekarang, Eomma sudah membereskan kamarmu dan menyiapkan makan malam untukmu kau tinggal makan saja ok?” Ibunya memberikan instruksinya dan Yejin mengangguk.

Ibunya itu tersenyum dan memeluk anak sulungnya dengan erat, ibunya itu bahkan masih mencium pipinya meskipun sekarang Yejin sudah besar atau lebih tepatnya dewasa. Sosok ayahnya sudah berdiri diambang pintu dan melambaikan tangannya, Yejin memaksakan senyumnya dan melambaikan tangannya pula pada ayahnya.

“Hati-hati disini, kau bisa menelepon Eomma jika kau butuh apa-apa.” Ibunya berkata dan akhirnya pergi bersama ayahnya.

Yejin tersenyum untuk terakhir kalinya saat dia melihat kedua orangtuanya masuk kedalam mobil. Setelah mobil orangtuanya sudah pergi menjauh dari halaman rumah barunya senyum Yejin langsung hilang, dia menghela nafasnya dan memutuskan untuk pergi menuju kamarnya.

Setelah dia divonis cacat seumur hidup, kegiatan Yejin sangat terbatas dia hanya bisa membaca buku seharian dan terkadang dia akan merajut. Dia baru sadar jika ternyata cukup berbakat merajut juga, dia mencoba untuk berbaring diranjangnya dan mengambil buku novel yang ada dimeja kecil disamping ranjang.

Yejin sudah tidak ingat novel berapa ratus novel yang sudah dia baca dalam kurun waktu lima bulan ini, dia pembaca yang cepat sehingga dia butuh banyak novel untuk dibaca. Yejin membaca chapter pertama dari novel yang dia beli tadi sebelum mereka pergi kerumah baru ini.

Belum juga Yejin menyelesaikan chapter pertama novel itu dia sudah mendengar mesin mobil yang mendekat kerumah, Yejin melirik kearah jam dan ternyata waktu menunjukan jam enam sore. Itu artinya lelaki itu datang dari pekerjaannya, Yejin tidak ingin berhadapan dengan sosok itu hari ini namun dia tahu lelaki itu pasti datang kekamarnya seperti hari-hari biasanya.

Tebakan Yejin benar karena dia bisa mendengar langkah kaki mendekat kekamarnya dan pintu kamarnya akhirnya terbuka, sosok lelaki tinggi yang berkulit coklat muncul dibalik pintu itu. Dia masih memakai pakaian jasnya dan tersenyum riang kearah Yejin.

“Yejin-ah, apa kau sudah makan? Aku melihat banyak sekali makanan dibawah.” Lelaki itu berkata.

“Aku tidak lapar Jongin-shi.” Yejin menjawab singkat, matanya bahkan tidak melirik kearah Jongin.

“Ayolah,kau pasti lapar? Apakah aku harus membawakan makan malammu kesini?” Jongin menawarkan, lelaki itu duduk disamping Yejin.

Yejin tidak menjawab pertanyaan itu dan berharap Jongin menyerah sehingga dia bisa meninggalkan Yejin untuk membaca novelnya. Namun bukannya pergi Jongin malah mendekat kearah Yejin membuat Yejin semakin tidak nyaman dengan kehadiran lelaki itu.

“Kenapa? Apa kau sakit?” Jongin mencoba menyentuh dahi Yejin tetapi wanita itu menepis tangannya menjauh dengan kasar.

“Jangan sentuh aku!” Yejin berkata dengan kasar membuat Jongin menarik kembali tangannya.

“Maaf,apa aku menganggumu lagi?” Jongin bertanya dengan sedih.

“Seperti yang kau lihat.” Yejin pura-pura membaca novelnya padahal dia sudah membaca alinea dihalaman novel itu beberapa kali.

“Baiklah,jika kau lapar panggil aku saja mengerti?” Jongin tersenyum kearahnya lalu berdiri meninggalkan Yejin sendirian.

Melihat sosok Jongin yang sudah pergi Yejin menutup novelnya, dia tidak mengerti kenapa lelaki itu memperlakukan dia seperti tadi? Dia tidak butuh perlakuan khusus dari Jongin dia hanya ingin lelaki itu menjauh dari kehidupannya karena lelaki itu hanya mengingatkan dia pada masa lalunya yang pahit.

Merasa kesal Yejin melemparkan buku novel kepintu kamarnya penuh dengan emosi, tanpa Yejin sadari sebenarnya Jongin masih menyandar kepintu kamarnya. Lelaki itu mengigit bibirnya menahan emosinya, dia tahu Yejin masih membencinya karena dia merenggut masa depan wanita itu dalam hitungan detik.

Yejin bisa membencinya Jongin tidak keberatan dia memang pantas menerima perlakuan ini, dia bahkan tidak berani menatap lurus kearah kedua orangtua Yejin ataupun kedua orangtuanya. Dia tidak tahan melihat pandangan kecewa dari ibu dan ayahnya, jika dia bisa mengulang waktu dia ingin melakukan itu sehingga dia tidak melakukan hal bodoh seperti menabrak Yejin.

*****

Agasshi.apakah anda terlalu sering datang kesini?”

Yejin terkejut dan melirik kesampingnya, dia menemukan sosok tampan yang berambut hitam berdiri disampingnya. Lelaki itu sangat tinggi bahkan tangannya bisa mencapai rak buku yang paling atas, Yejin harus mendongak jika dia ingin menatap kearah sepasang mata lelaki itu.

“Siapa?”

“Oh kenalkan, aku Park Chanyeol.”

Lelaki itu mengulurkan tangannya kearah Yejin, walaupun wanita itu ragu-ragu akhirnya dia menjabat tangan Chanyeol. Tangan Chanyeol terasa dingin, apakah lelaki itu kedinginan? Mengingat hari ini adalah hari pertama musim dingin.

“Han Yejin.” Yejin memperkenalkan dirinya.

“Han Yejin-shi, aku sering sekali melihatmu ditoko buku ini apakah kau tinggal disekitar sini?”

Yejin hanya mengangguk, dia tidak tertarik untuk mengobrol dengan orang lain karena dia sedang asik memilih novel yang akan dia baca. Apalagi dia melihat banyak sekali novel yang baru, dia sudha tidak sabar membaca sinopsis semua novel baru itu.

“Ohh ternyata kau suka novel romantis…” Chanyeol bergumam.

Yejin mencapai sebauh novel tebal yang ada dirak kedua toko buku, dia kesusahan untuk mengambilnya namun akhirnya Chanyeol mengambilkan novel tebal itu untuk Yejin. Senyum Chanyeol terlalu lebar untuk seseorang yang baru saja membantu Yejin pikir namun wanita itu membalas senyum Chanyeol.

“Aku suka novel itu, aku juga sedang membacanya dirumah.” Chanyeol mengungkapkan.

“Tapi novel ini sangat tebal…” Yejin bergumam, dia bisa menebak novel itu pasti memeliki lima ratus halaman atau bahkan lebih.

Tulisan ‘Tale of Two Siblings’ tertera dibuku novel itu, Yejin membalikan novel itu untuk membaca sinopsis ceritanya. Setelah membaca sinopsisnya Yejin kelihatan puas dan memutuskan untuk membeli novel ini, lagipula dia punya banyak waktu membaca novel tebal ini.

“Jika kau tidak keberatan aku ingin kita membahas novel itu bersama-sama bagaimana? Aku baru saja pindah kedaerah ini jadi aku belum kenal banyak orang.” Chanyeol berbicara lagi.

“Baiklah.” Yejin menjawab singkat, dia bahkan tidak memikirkan konsikuensi dari jawabannya lalu berbalik meninggalkan Chanyeol untuk mencari novel lain.

Yejin agak kesusahan dengan roda kursinya karena lorong toko buku cukup sempit sampai akhirnya seseorang mendorong kursi rodanya dari belakang. Yejin menoleh kebelakang dan menemukan Chanyeol lah yang mendorongnya, Yejin hendak menolak pertolongan Chanyeol namun lelaki itu malah mengajaknya mengobrol.

“Apa kau ingin mencari novel lainnya? Apa kau suka novel fantasi? Kau pernah membaca novel Harry potterkan?”

Yejin hanya mengehela nafasnya sambil menggangguk, dia tidak tahu jika dia akan terjebak dengan lelaki cerewet seperti Chanyeol. Lelaki itu terlalu banyak bertanya, dia bahkan bingung harus menjawab pertanyaan Chanyeol yang mana.

“Oh lihat! Ada Maze Runner…aku mendengar dari temanku jika buku ini bagus.” Chanyeol mengambil dua buku sample yang tidak dibungkus.

Chanyeol kelihatan senang sekali dan membaca beberapa halaman dari novel itu sedangkan Yejin kelihatan tidak tertarik. Mungkin dia suka membaca beberapa novel fantasi tapi dia lebih suka Twilight dibandingkan buku semacam Maze Runner, dia suka betapa sempurnanya cerita cinta dalam novel itu jauh dari cerita cintanya yang penuh dengan rasa pahit dan kekejaman hidup.

“Yejin-ah!”

Yejin tidak pernah lega selega ini sebelumnya saat dia mendengar namanya dipanggil namun kali ini dia bersyukur, dia berbalik dan melihat sosok Jongin berlari kearahnya. Lelaki itu terburu-buru dan akhirnya berhenti didepan dia dan Chanyeol, Jongin melirik kearah Chanyeol yang masih memegang novel Maze Runner ditangannya.

“Yejin-ah siapa dia?” Jongin bertanya.

“Oh kenalkan, ini Park Chanyeol, Chanyeol-shi ini Kim Jongin.” Yejin memperkenalkan mereka berdua.

Chanyeol seperti biasanya bersikap ramah dan mengulurkan tangannya kearah Jongin, lelaki itu menatap sejenak kearah Chanyeol dan akhirnya menjabat tangannya.

“Jongin-shi, bisakah kita pulang sekarang? aku sudah selesai memilih buku.”

Jongin mengangguk dan mendorong kursi roda Yejin sedangkan Chanyeol hanya bisa berdiri disana dengan canggung. Dia ingin sekali menanyakan nomor telepon Yejin namun dia tidak bisa mengatakan itu, dia tidak ingin Yejin menganggapnya orang aneh atau semacamnya dia hanya bisa melambaikan tangannya kearah Yejin saat wanita itu melirik kebelakang sekilas.

*****

Makan malam dengan Jongin sangatlah canggung, apalagi mereka harus bertatap muka. Malam ini entah kenapa ekspressi Jongin lebih muram dari biasanya. Lelaki itu bahkan menusuk-nusuk makanannya, Jongin biasanya memuji makasakan ibunya tapi kali ini tidak.

Yejin tidak mengatakan apapun,dia memakan ayam gorengnya berharap dia segera selesai makan sehingga dia bisa menghindari suasana canggung ini. Jongin meneguk air putih yang ada disampingnya lalu menatap kearah Yejin yang sedang asik menikmati makan malamnya.

“Yejin-ah.” Jongin memanggil.

Yejin mengabaikan panggilan lelaki itu dan terus makan, dia memakan makanannya lebih cepat dari biasanya. Melihat itu Jongin tahu Yejin hanya ingin menghindari percakapan dengannya, jika Jongin tidak memaksa gadis itu untuk makan malam bersamanya mereka tidak akan pernah makan di satu meja seperti ini.

“Yejin-shi.” Jongin memanggil lagi berharap dia mendapatkan respon, tetapi sayang hasilnya nihil.

“Han Yejin!” Jongin akhirnya kehabisan kesabarannya dan membentak membuat Yejin terkejut dan berhenti makan.

“Apa kau tidak mendengarku? Berapa kali aku harus memanggil namamu agar kau merespon?” Tanya Jongin.

“Bisakah kita tidak bicara?” Yejin akhirnya menyimpan kedua sumpitnya dan meneguk air minumnya.

“Kenapa? Apa aku menjijikan bagimu? Itu kenapa kau selalu menghindariku?”

Mendengar itu Yejin menatap kearah Jongin, dia bisa melihat Jongin marah akan tetapi mata lelaki itu merah seakan dia menahan tangis. Yejin memalingkan pandangannya dengan membalikan kursi rodanya sehingga punggungnya yang menghadap Jongin sekarang.

“Kau tidak tahu, apa kau tahu betapa aku membencimu?! Jika bisa aku ingin membunuhmu sekarang!” Yejin berkata sambil mengepalkan tangannya.

Dia bisa mendengar Jongin mendengus kesal, lelaki itu pergi kedapur untuk mengambil sesuatu lalu taklama kemudai dia kembali dnegan sebuah pisau. Jongin membuka tangan Yejin dan menyimpan pisau itu ditelapak tangan wnaita itu dan mengepalkannya kembali, dia mengarahkan pisau itu kelehernya.

“Bunuh aku, jika membunuhku bisa membuatmu senang.” Jongin berkata, dia bahkan tidak takut saat ujung pisau dapur yang tajam menyentuh kulit lehernya.

Mendengar itu Yejin mencengkram pisau itu dan dia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi sekana dia akan menusuk Jongin. Yejin mengayunkan pisau itu sehingga Jongin menutup matanya, Jongin sudah mengantisipasi rasa sakit yang akan datang akan tetapi rasa sakit itu tak kunjung datang.

Dia bisa mendengar suara sebuah benda dilempar jauh-jauh, Jongin membuka matanya dan dia bisa melihat Yejin menangis. Tangan gadis itu bahkan gemetaran, melihat betapa rapuhnya Yejin dia segera memeluk wanita itu dan mengelus punggungnya.

Mianhae..mianhae…aku hanya emosi.” Jongin mencoba menenangkan Yejin yang masih gemetaran.

*****

Seminggu berlalu setelah dia bertemu dengan Chanyeol, Yejin memutuskan untuk kembali ke toko buku dengan diantar oleh Joy. Adiknya mungkin sedang sibuk sekolah namun dia selalu rela mengantarkan Yejin menuju toko buku yang ada didekat kantor Jongin mengingat dia harus menunggu Jongin pulang dari kantor sebelum dia bisa pulang kerumah. Toko buku hari itu sangatlah sepi hanya ada beberapa orang yang sedang memilih buku dibeberapa lorong. Yejin suka itu jika toko buku kosong maka dia bisa memilih novel lebih leluasa.

Beberapa menit berlalu Yejin merasa bosan karena ternnyata tidak ada buku novel yang bisa menangkap ketertarikannya. Dia akhirnya memutuskan untuk menunggu Jongin diluar sampai akhirnya dia kembali namun niat itu dia urungkan saat dia bertemu dengan sosok jangkung yang tidak asing lagi.

“Yejin-shi!”

Ya, Park Chanyeol muncul kembali dihadapannya. Entah keberuntungan apa yang lelaki itu miliki namun dia kelihatan senang melihat sosok Yejin yang memasang muka terkejut. Seperti kemarin lelaki itu masih terlihat ceria, namun kali ini dia memakai setelan jas membuat Yejin sedikit penasaran.

“Park Chanyeol-shi..”

“Senang bertemu denganmu lagi Han Yejin-shi.” Ucap Chanyeol dengan riang.

“Sebagai seorang pekerja kau terlalu sering kesini.” Yejin berkata dan itu membuat Chanyeol menyeringai, Yejin kelihatannya mulai terbuka padanya.

“Aku memiliki waktu luang yang cukup banyak.” Chanyeol menjawab singkat, dia lalu memutarkan kursi roda Yejin kembali menuju lorong buku membuat Yejin penasaran. Kemanakah lelaki itu akan membawanya? Pertanyaan itu terjawab saat Chanyeol menuntunnya menuju lorong komik.

Chanyeol mengambil sebuah komik yang bercover seorang wanita dan lelaki, anehnya wanita didalam komik itu lebih tinggi dari lelaki disana. Judul dari komik itu adalah ‘Lovely Complex’ Yejin penasaran dan membuka komik itu, Chanyeol yang melihat Yejin mulai membaca komik itu tersenyum dia senang jika Yejin menerima rekomendasinya.

“Aku tidak suka manga itu tetapi sepupuku tergla-gila dengan series ini, dia bilang ini salah satu manga yang romantis.” Ucap Chanyeol.

Yejin hanya mengangguk dan membuka kembali halaman lain manga itu, mungkin dia harus berterimakasih pada Chanyeol soal ini.dia tidak pernah tertarik pada Manga sebelumnya karena dia mengira manga hanya untuk laki-laki saja, dia ingat teman SMA Junhyong sering membaca manga saat jam pelajaran.

“Jadi Yejin-shi, sebenarnya kenapa kau selalu mengunjungi toko buku ini?” Chanyeol bertanya, dia bahkan duduk dilantai lorong manga tanpa rasa malu.

“Aku? Aku hanya suka toko buku ini…toko buku ini cukup besar dan memiliki banyak buku.” Yejin memberi alasan dengan malas.

“Oh..begitu ya, lalu lelaki yang kemarin??” Chanyeol bertanya penasaran, dia masih ingat tatapan sadis Jongin. Membuat dia sedikit ketakutan, sebenarnya siapa lelaki itu? Apakah mungkin pacar Yejin?

“Jongin? Dia…dia hanya teman.” Yejin menjawab sedikit malu, dia tidak mungkin menceritakan hubungan dia dan Jongin yang sebenarnya.

Sebelum Chanyeol bisa menanyakan lebih jauh ponsel Yejin berdering dan wanita itu langsung mencari ponselnya yang ada ditas kecil abu-abu yang dia bawa. Dia bisa melihat nama Jongin tertera dilayar ponselnya, ini pertamakalinya dia lega karena Jongin meneleponnya.

“Jongin-shi, oh iya..aku sudah ditoko buku.” Yejin menjawab teleponnya dan berbalik menjauh dari Chanyeol.

“Baiklah,aku akan menunggu.”

Chanyeol mencoba menguping pembicaraan antara Yejin dan Jongin. Yejin mengatakan jika Jongin hanyalah temannya namun mendengar percakapan mereka, mereka kelihatan tidak akrab seperti biasanya walaupun Jongin menggunakan bahasa yang lebih santai dengan Yejin tetapi Yejin menggunakan bahasa formal membuat Chanyeol tidak percaya jika mereka berdua hanyalah seorang teman.

Setelah percakapan telepon Yejin dan Jongin berakhir Chanyeol langsung mengambil salah satu manga dan berpura-pura sibuk membaca manga itu sampai akhirnya Yejin kembali didepannya.

“Aku suka manganya, mungkin aku akan membeli beberapa seriesnya.” Yejin berkata membuat Chanyeol mengangguk.

*****

Jongin baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dokumen yang tadi menumpuk dimejanya sudah hilang dan dia bisa pulang mengingat waktu sudah menunjukan jam lima sore. Jongin segera bangkit dari duduknya, walaupun dia lelah dia harus menjemput Yejin yang sudah menunggunya ditoko buku. Dia dengar tadi siang akan ada acara dance yang akan diadakan di taman kota, dia tersenyum mengingat itu.

Yejin selalu menyukai acara musikal, dia pasti menyukainya. Jongin mengambil jasnya dan tasnya lalu keluar dari kantornya. Dia pergi meninggalkan gedung perusahaannya dengan perasaan senang, dia tidak sabar menyampaikan berita itu pada Yejin meskipun wanita itu biasanya mengajawab dengan jawaban datar Jongin tahu dia menikmati setiap acara musikal yang mereka lihat.

Senyum Jongin tidak bertahan lama, saat dia masuk kedalam toko buku dia bisa melihat sosok Yejin sedang tertawa terbahak-bahak dengan seorang lelaki. Wanita itu bahkan berani memukul lengan lelaki tinggi yang berjongkok disampingnya, mereka terlihat sangat akrab dan entah kenapa rasa cemburu langsung membakar hati Jongin.

Dengan langkah yang cepat dia menghampiri dua sosok yang sedang tertawa itu membuat Yejin dan lelaki yang disampingnya berhenti tertawa. Yejin yang melihat sosok Jongin melirik kearah lelaki itu, senyum manisnya langsung hilang saat dia melihat Jongin menatap tajam kearah sosok Chanyeol.

“Yejin-ah,apa kau akan pulang sekarang?” Jongin bertanya dan Yejin hanya mengangguk.

“Kim Jongin-shi, senang bertemu dengan anda kembali.” Chanyeol menyapa, dia kelihatan sedikit gugup mungkin karena ekspressi marah yang terpancar dari wajah tampan Jongin.

“Jongin-shi,bisakah kita pulang sekarang? Aku lelah.” Yejin berkata mencoba mencairkan keadaan.

Jongin tidak langsung menjawab dia menatap tajam kearah Chanyeol untuk terakhir kalinya dan ekspressinya langsung berubah saat dia melirik kearah Yejin untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Jongin mendorong kursi roda Yejin menuju kasir dan membayar manga yang Yejin ingin beli.

Chanyeol melambaikan tangannya saat dia melihat Yejin tersenyum kearahnya sambil mengisyaratkan untuk meneleponnya. Chanyeol mengaktifkan ponselnya dan tersenyum saat dia melihat nomor Yejin sudah tersimpan dimemori ponselnya, dia memutuskan untuk mengirimkan sebuah pesan singkat pada Yejin.

Jongin membuka pintu mobilnya dan membantu Yejin untuk masuk kedalam mobilnya dengan membopong wanita itu, Yejin memalingkan mukanya menjauh dari Jongin setiap kali tatapan mereka bertemu. Yejin selalu menolak kontak intim antara mereka, Jongin tahu itu sejak pertama mereka bertemu.

Sebenarnya Jongin tidak ingin mengingat bagaimana mereka pertamakali bertemu, semuanya terlalu menyedihkan dan menyakitkan untuk mereka berdua. Jongin segera memasangkan sabuk pengaman untuk Yejin setelah dia mendudukan wanita itu di jok depan mobilnya lalu masuk kedalam mobil.

“Aku dengar malam ini akan ada acara dance, di taman kota apa ingin menontonnya?” Jongin menawarkan, dia melirik sekilas kearah Yejin dan dia bisa melihat mata Yejin melebar.

“Malam ini?”

“Ya,jika kau mau kita bisa menontonya dan mungkin jalan-jalan sebentar.”

Yejin tidak menjawab pada tawaran Jongin namun wanita itu mengangguk, Jongin tersenyum dia tahu Yejin tidak akan pernah menolak acara musikal seperti itu. Jongin akhirnya mengarahkan mobil menuju taman kota, berharap hari ini  Yejin juga bisa tersenyum seperti bagaimana dia tersenyum kepada Chanyeol tadi.

Perjalanan menuju taman kota tidak memakan banyak waktu, sekarang Jongin dan Yejin sudah ada ditengah taman kota begitu juga beberapa orang yan tertarik untuk melihat acara dance itu. Suara musik terdengar sangat keras membuat gendang telinga Jongin sakit namun dia bisa melihat Yejin kelihatan lebih senang dari biasanya karena wanita itu mencoba melihat penari-penari yang sedang menari dengan lincahnya.

Beberapa orang bersorak sambil bertepuk tangan saat mereka melihat betapa lincahnya para penari itu, Yejin bahkan ingin bertepuk tangan saat dia mendengar suara musik hip hop dan beberapa pasang penari datang menari hip hop dengan lihai.

Waktu terus berjalan sehingga tanpa disadari acara itu akan berakhir, semua orang mulai berdiri hendak pergi namun seorang penari tiba-tiba saja muncul dan menyuruh semua penonton untuk tidak pergi lebih dahulu.

“Kami ingin mengadakan dance battle bagi yang berhasil mengalahkan kami, akan kami berikan hadiah yaitu empat tiket gratis masuk Lotte World.” Penari itu berkata sambil menunjukan empat buah tiket gartis yang dia acungkan.

Semua penonton langsung bersorak, beberapa bahkan sudah berani maju kedepan untuk melawan para penari itu. Namun Yejin terkejut saat dia melihat Jongin maju kedepan juga bersama beberapa penonton, Yejin ingin menahan tawanya namun dia gagal.

“Jongin-shi, berjuanglah!” Yejin menyemangati saat dia melihat Jongin sudah ada didepan nya bersama keempat kontestan lain yang terpilih.

Suara musik mulai terdengar dan musik itu tidak asing, mereka ternyata harus menari menurut dari lagu boyband yang diputar. Beberapa penari sudah mulai menggerakan tubuh mereka mengikuti irama, beberapa kontestan kebingungan dan mencoba mengingat tarian yang sebenarnya sering mereka lihat emngingat lagu-lagu yang diputar berasal dari boyband yang terkenal.

Yejin khawatir dan dia melirik kearah Jongin, ajaibnya lelaki itu kelihatan tidak kesusahan untuk mengingat tarian lagu-lagu yang diputar meskipun dia lupa sebagian gerakan namun secara garis besar dia mengingat banyak tarian dan berhasil mengalahkan tiga kontestan lainnya dalam waktu yang cepat.

Jongin memiliki tubuh yang cukup flexibel ternyata, dia juga kelihatan lihai dalam menari Yejin tidak pernah menyadari itu. Otot-otot tubuh Jongin terlihat sekarang karena lelaki itu melepaskan jasnya dan menggunakan kemeja putihnya saja yang tangan panjangnya dia lipat sampai siku, melihat Jongin seperti itu Yejin benci mengakui jika Jongin memang cukup tampan.

Musik berhenti dan sudah jelas pemenang dari dance battle itu adalah Jongin, seorang penari datang dan langsung memberikan tiket lotte world yang mereka janjikan pada Jongin. Jongin bersorak begitu juga beberapa penonton yangbertepuk tangan kagum dengan kemampuan menari Jongin, Yejin begitu bangga pada Jongin sehingga dia juga ikut bertepuk tangan.

Jongin langsung berlari kearah Yejin dan memeluk wanita itu tanpa sadar, dia kelihatan sangat senang sekali. Yejin yang terkejut hanya tersenyum tipis dan memeluk kembali Jongin, dia senang jika lelaki itu senang juga.

“Bagaimana kalau kita pergi minggu ini?” Jongin akhirnya melepaskan pelukannya dan memberikan tiket lotte world yangbaru saja dia menangkan pada Yejin.

“Boleh, tapi tiket ini ada empat.” Yejin menatap kearah tiket yang ada ditangannya.

“Kita bisa mengajak Joy, jika tidak kita bisa mengajak kedua orangtuamu.” Jongin memberi usul.

“Tidak, orangtuaku tidak akan menyukai Lotte World mereka terlalu tua untuk taman bermain…” Yejin berkata, dia menatap kearah tiket itu dan memikirkan siapa yang kira-kira ingin pergi bersama mereka ke Lotte World.

“Oh! Aku ada ide, apakah aku boleh mengajak temanku?” Yejin meminta.

“Tentu saja, ajak temanmu.” Jongin menyetujui dengan senyum manisnya.

*****

Jongin menyesali keputusannya tadi malam, dia ingin sekali membenturkan kepalana saat dia ingat jika kemarin malam dia mengijinkan Yejin untuk mengaknya temannya. Dia sekarang harus berdampingan dengan Park Chanyeol, lelaki itu bahkan dengan santainya merebut perhatian Yejin.

Entah apa yang membuat Yejin begitu terbuka pada Chanyeol, Jongin sendiri masih bertanya-tanya soal itu. Wanita itu terlihat kebih santai bersama Chanyeol dibandingkan dengan dirinya dan itu membuat Jongin semakin was-was pada kehadiran Chanyeol, Joy adik Yejin kelihatan sibuk dengan makanan yang baru saja dia beli.

Siswa SMA itu masih menggenakan seragamnya dan dengan cueknya berfoto dengan beberapa badut yang ada disana meninggalkan Jongin bertiga dengan Chanyeol dan Yejin yang sibuk mengobrol. Dari percakapan yang Jongin dengar mereka berdua sepertinya sedang membahas sebuah novel, Jongin tidak tahu-menahu soal sastra.

Selain karena dia seorang pembisnis dia tidak pernah menyukai sastra, sastra selalu menjadi subjek asing baginya saat dia disekolah. Dia lebih suka pelajaran matematika atau fisika karena kedua pelajaran itu yang menarik perhatiannya, Jongin selalu bagus dalam mengkalkulasikan sesuatu itulah kenapa dia sukses di usia yang muda.

Jongin menatap tajam kearah Chanyeol dan berharap jika lelaki itu mengerti arti tatapannya karena dia sekarang ingin mengobrol juga dengan Yejin. Belum sempat Jongin mengatakan apapun, Yejin melirik kearahnya.

“Jongin-shi,kau bisa pergi jika kau bosan duduk disini.” Yejin berkata dan Jongin bersumpah hatinya menciut saat dia mendengar perkataan itu.

“Tapi Yejin-ah…”

“Apa kau ingin menaik wahana bersama Joy? Aku yakin dia senang.” Chanyeol bergabung dalam percakapan.

Jongin bersumpah dia bisa melihat seringai licik dibibir Chanyeol, Jongin hanya menghela nafasnya dan berbalik menuju kearah Joy yang sedang mengantri untuk naik sebuah wahana. Jongin sendiri tidak terlalu tertarik saat dia menaiki wahana, Joy menjerit dan tertawa karena wahana yang mereka naiki adalah roller coster sedangkan Jongin hanya duduk disamping Joy menatap kearah kehampaan.

Setelah mereka puas untuk bermain di Lotte World mereka memutuskan untuk makan disebuah restoran terdekat, Chanyeol dan Yejin masih asik mengobrol bahkan lelaki itu berani membenarkan syal yang Yejin kenakan. Melihat adegan itu Jongin seperti kebakaran jenggot saja, muka dia sudah memanas karena marah bahkan Joy yang ada disampingnya hanya menggelengkan kepalanya.

Oppa,jika kau tidak berbuat apa-apa Eonnie aku akan menjadi istri Chanyeol bukan kau.” Joy berkata mengompori, dia senang sekali saat dia melihat wajah panik Jongin.

Jongin akhirnya memutuskan untuk mengambil aksi dan menghampiri Yejin, mengambil kontrol pada kursi rodanya membantu wanita itu memilih makanan. Chanyeol akhirnya duduk bersama Joy melihat Jongin yang berinteraksi dengan Yejin, mereka kelihatannya berdebat soal makanan apa yang harus mereka pesan apalagi antrian cukup panjang.

“Mereka terlihat serasi bukan?” Chanyeol melirik kearah Joy membuat Joy mengerutkan keningnya pada Chanyeol kebingungan. “Jangan melihatku seperti itu, bukankah jelas mereka suka satu sama lain?”  Joy hanya tersenyum canggung, jika Chanyeol tahu masa lalu kakaknya dengan Jongin lelaki itu tidak akan berpikir seperti itu.

“Jadi apa yang kalian pesan?” Joy bertanya saat sosok kakaknya dan Jongin sampai dimeja mereka.

“Oh..kami hanya memesan ayam, kakakmu tidak ingin makan yang berat-berat.” Jongin menjawab dengan nada kecewa.

“Aku tidak ingin makan sup, kau tahukan kalau airnya akan menetes kemana-mana apalagi kau makan seperti orang kerasukan.” Yejin menyindir membuat Jongin menatapnya tidak percaya.

“Kau juga makan seperti anak kecil, bahkan kau selalu makan es krim belepotan kau tahu itu menjijikan?” Jongin membalas ledekan.

“Urggh apa kau tahu kau selalu makan seperti kakek-kakek? Kau selalu mengunyah makananmu dengan bunyi itu sangat menganggu.” Timpal Yejin.

“Apa? Kau yang makan seperti nenek-nenek!” Jongin menjawab percis seperti anak kecil yang marah.

Mereka akhirnya memalingkan wajah mereka kesal tidak ingin menatap kearah satu sama lain, Joy dan Chanyeol hanya tersenyum geli. Joy tidak percaya jika kedua orang yang ada didepannya ini jauh lebih tua darinya karena mereka bertengkar percis seperti anak SD, Joy kira kakaknya dan Jongin sudah bisa akrab mengingat mereka sudah tinggal bersama.

Eonnie,kita makan saja oke? Tidak baik makan dalam suasana hati yang jelek.”Joy mencoba mencairkan suasana, dia mendekat kearah kakaknya dan mengelus lengan Yejin menenangkan kakaknya itu.

Chanyeol mendekat kearah Jongin membuat Jongin menatap kesal kearahnya, dia masih menyangka jika Chanyeol adalah saingannya dia kira Chanyeol akan menari diatas penderitaannya namun anehnya lelaki itu malah menyandar dan membisikan sesutau ditelinganya.

“Kau seharusnya tidak menganggap serius Yejin,selera humor Yejin memang seperti itu.” Ujar Chanyeol dengan senyum jahilnya.

*****

Jongin baru saja selesai mengeluarkan semua barang yang mereka beli di Lotte World tadi namun Yejin kelhatannya masih murung dan enggan turun dari mobil, Jongin menghela nafasnya dan membuka pintu mobil menyuruh Yejin untuk keluar dari mobil. Wanita itu hanya mendengus kesal dan melipatkan tangannya, padahal Jongin sudah menyimpan kursi roda Yejin dikamar gadis itu.

“Apa kau akan terus diam disini?” Jongin membuka kedua tangannya berharap Yejin menggapai kedua tangannya sehingga dia bisa mengantar wanita itu kekamarnya.

Yejin melirik kearahnya dan akhirnya menyambut uluran tangan Jongin, dia membiarkan lelaki itu mengangkat tubuhnya menuju kamarnya. Yejin tidak mengatakan apapun saat Jongin mendudukannya diranjang kamar, Jonginpun demikian hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka sampai akhirnya Yejin memegang tangan Jongin.

“Aku mungkin terlalu kasar, maafkan aku.” Yejin berbisik namun bisikannya itu pelan sekali jika Jongin tidak berdiri disamping wanita itu mungkin dia tidak bisa mendengarnya. “Lagipula kau seharusnya tahu kalau aku hanya bercanda, Chanyeol biasanya tertawa saat aku meledeknya.” Yejin melanjutkan dan menarik tangannya kembali.

Jongin mencegah itu, dia menggengam tangan Yejin ditangannya yang lebih besar. Yejin bisa mendengar suara jantungnya yang berdetak sangat kencang saat tangan hangat Jongin menggengam erat tangannya, rasanya jantungnya itu akan melompat keluar dari tulang rusuknya.

“Hari ini aku menyadari sesuatu.” Jongin mengungkapkan membuat Yejin menatap kearah lelaki itu penuh dengan penasaran. “Aku baru sadar betapa berbedanya kita,aku rasa selama ini itulah yang membuat kita membenci satu sama lain tentu saja selain fakta aku menghancurkan masa depanmu.” Jongin menunduk penuh sesal, Yejin tahu Jongin selalu menyesali hari dimana dia menabrak nya.

“Aku mendengar dari polisi jika kau mabuk saat kau menabrakku,sebenarnya kenapa kau mabuk?” Yejin memberanikan diri bertanya dan genggaman Jongin ditangannya semakin erat.

Jongin kelihatannya menahan airmatanya sekuat tenaga, dia mengingat kembali hari itu hari dimana tunangannya meninggalkan dia di altar. Dia akhirnya memulai ceritanya dia menceritakan bagaimana dia sudah menunggu berjam-jam digereja berharap kekasihnya itu kembali untuk menikahinya tetapi sosok wanita itu tidak kunjung datang juga membuat Jongin putus asa.

Alkohol adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal untuk Jongin saat itu, dia pergi ke club dan menari lalu minum seperti dia tidak akan hidup lagi besok. Dia tidak berpikir jernih saat itu dan segera mengendarai mobilnya berharap dia kecelakaan dan mati ditempat, dia tidak bisa lagi menanggung rasa malu dan patah hatinya.

“Aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapapun, apalagi kau.” Jongin akhirnya mengakhiri ceritanya saat itu.

Dia berhasil menahan airmatanya walaupun hatinya sakit mengingat hari itu, dia tersenyum tipis kearah Yejin yang menatap kearahnya dengan tatapan sedih. Yejin selama ini membenci Jongin dan seluruh keluarganya, dia membenci Jongin karena dia menghancurkan mimpinya untuk bekerja disebuah perusahaan yang terkenal dan dia membenci keluarga Jongin karena mereka tidak pernah peduli pada keadaannya.

Han Yejin membenci segala tentang Kim Jongin. Tetapi hari ini semua itu berubah, dia mengerti bagaimana perasaan Jongin dia melihat Jongin sengsara bersamanya dia mendengar tangisan Jongin dirumah sakit dan sekarang dia tahu betapa rapuhnya Kim Jongin.

Sepasang tangan Yejin akhirnya memeluk Jongin membuat lelaki itu terkejut namun airmatanya sekarang tidak bisa terbendung lagi, dia menangis dan memeluk kembali Yejin. Selama ini dia hanya ingin dimaafkan, selama ini dia hanya ingin menebus dosanya namun Yejin tidak pernah memberikan itu sampai sekarang dan dia tidak bisa mendeskripsikan betapa bahagianya dia saat ini.

“Maafkan aku Jongin-shi,aku begitu egois…selama ini aku hanya memikirkan perasaanku dan masa depanku, aku tidak pernah tahu jika kau juga terluka sama seperti aku.” Yejin berkata dan mengelus punggung Jongin.

Jongin tidak bisa menjawab apapun, dia hanya bisa mengangguk dia lega sekali jika Yejin mengerti posisi dia saat itu. Mereka berdua akhirnya melepaskan pelukan mereka, Yejin tersenyum saat dia melihat Jongin menangis sedangkan lelaki itu menyeka airmatanya berharap Yejin tidak menyadari jika dia sudah menangis dia terlihat jelek sekali jika sedang menangis.

“Entah kenapa aku tiba-tiba saja emosional seperti ini.” Jongin berkata sambil menyeka airmatanya.

Yejin hanya menggelengkan kepalanya, Jongin benar-benar terlihat seperti anak kecil saat dia menyeka airmatanya. Yejin membantu lelaki itu menyeka airmatanya membuat Jongin terkejut, ini pertamakalinya Yejin menyentuh wajahnya dan itu membuat Jongin malu tangan Yejin terasa lembut sekali dikulitnya walaupun sedikit dingin.

“Aku memaafkanmu, aku mengerti sekarang lagipula semua ini kecelakaan tidak ada seorangpun yang menginginkan tabrakan itu terjadi…aku rasa kau bisa mengantarkanku pulang kerumahku.” Yejin berkata, mendengar itu Jongin panik.

“T-tapi kenapa?”

“Aku tahu kau ingin menikahiku karena kau merasa bersalah, kau tidak pernah mencintaiku.”

Jongin melepaskan tangan Yejin dari pipinya, dia kecewa sekali saat dia mendengar jika Yejin ingin kembali. Dia bodoh sekali saat dia berpikir jika Yejin mugkin bisa menerimanya dan setuju untuk menikahinya, bahkan selama tiga tahu pendekatannya padaYejin hati wanita itu sepertinya tidak pernah luluh.

“Apa kau akan berkencan dengan Chanyeol? Itu sebabnya kau ingin pulang kerumah orangtuamu? Kau akan membuangku begitu saja setelah kau bosan padaku?” Jongin marah membuat Yejin terkejut.

“Apa maksudmu? Aku dan Chanyeol hanya teman.” Yejin mencoba menjelaskan namun Jongin marah dan pergi dari kamar Yejin sambil membantingkan pintu.

“Hah! Aku tidak percaya aku baru saja memeluk dia!” Yejin kesal dan berbaring ditempat tidurnya dengan perasaan kesal.

*****

Dua minggu berlalu namun Jongin belum juga mengatakan apapun pada Yejin membuat wanita itu sebenarnya sedikit kesepian, biasanya Jongin akan menganggu dia saat dia membaca novel atau merajut tetapi lelaki itu sekarang hanya datang padanya jika dia meminta bantuan dan mengantarkan makan malam kekamarnya.

Yejin tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki hubungan dia dengan Jongin, dia mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Jongin yang dingin. Mungkin dia harus pulang saja kerumah orangtuanya mengingat ibunya sudah merindukan dia meskipun kemarin wanita paruh baya itu mengunjunginya, dia tersenyum mengingat percakapan dia dan ibunya kemarin.

Ibunya menanyakan tentang hubungannya dengan Jongin, topik itu selalu menjadi topi kesukaan ibunya karena dia selalu penasaran dengan sikap Jongin padanya. Yejin hanya mengatakan jika mereka sudah memaafkan satu sama lain, dia tidak menceritakan pada ibunya kalau sebenarnya mereka sekarang bertengkar lagi dia tidak ingin membuat ibunya khawatir.

Yejin mengambil ponselnya dan menghela nafasnya saat dia melihat tidak ada satupun pesan dari Joy ataupun teman-temannya, dia sudah bosan harus diam dirumah sendirian. Dia ingin sekali pergi ketoko buku tetapi dia tidak berani meminta Jongin untuk mengantarkannya seperti biasa mengingat lelaki itu tidak berbicara padanya, Yejin akhirnya membuka kontak ponselnya dan mencari kontak seseorang yang mungkin bisa menemaninya.

Nama Chanyeol muncul dikontaknya dan Yejin sedikit ragu-ragu untuk menghubungi lelaki itu, dia tidak ingin menganggunya namun dia kesepian sekali. Yejin akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi Chanyeol dan lelaki itu mengangkat panggilannya dengan cepat.

“Yejin-ah, ada apa? Tumben sekali kau menghubungiku duluan.” Suara ceria Chanyeol terdengar membuat Yejin lega.

“Chanyeol-ah, apa kau sibuk?” Yejin bertanya.

“Tidak, dikantor sedang santai inikan hari Jumat.” Chanyeol menjawab.

“Begitu ya,apa kau mau main denganku? Aku bosannn~” Yejin mengeluh dengan aegyo-nya.

Yejin bisa mendengar Chanyeol tertawa diseberang telepon membuat Yejin menggelengkan kepalanya.

“Baiklah,aku tidak bisa menolak permintaan tuan putri.” Chanyeol menyetujui.

Mereka mengakhiri telepon mereka setelah Yejin memberikan alamat rumahnya, dia tidak sabar menunggu Chanyeol untuk datang. dia bisa gila jika hari ini dia tidak berbicara dengan siapapun lagi, Yejin akhirnya turun dari ranjangnya dan duduk dikursi rodanya berniat untuk menunggu Chanyeol diruang tamu rumah.

Setelah menunggu satu jam lebih Yejin bisa mendengar suara mesin mobil berhenti didepan rumahnya dan dia tersenyum senang saat melihat sosok Chanyeol masuk kedalam rumah, Chanyeol kelihatan membawa sebuah kantong kresek putih dan beberapa buku novel ditangan kanannya.

“Aku ingin membunyikan bel tapi aku ingat kau sedang dikursi roda jadi..”

“Tidak apa-apa,ayo masuk.” Yejin berkata dengan ceria.

Chanyeol menyimpan kantung kresek yang dia baw adan emmbukanya membuat Yejin berseru bahagia melihat cemilan yang Chanyeol beli, bahkan lelaki itu tidak lupa membelikan coklat kesukaan Yejin.

“Chanyeol-ah gomawo.” Yejin berkata dan memeluk Chanyeol membuat lelaki itu tertawa.

“Oh iya, bisakah aku menyalakan radio?” Chanyeol meminta dan Yejin mengangguk membiarkan lelaki itu menyalakan radio yang ada disamping televisi.

Suara lagu yang lembut terdengar ditelinga Yejin, Yejin mengenali suara penyanyi itu siapalagi kalau bukan Frank Sinatra. Dia pernah menyebutkan kalau jika dia menyukai suara Frank Sinatra tetapi dia tidak menyangka jika Chanyeol benar-benar peduli sehingga dia merequest lagi ini disebuah acara radio.

Lagu Can’t Take My Eyes Off You adalah salah stau lagu yang sangat dia sukai dari Frank Sinatra dan melihat Chanyeol menyukainya membuat Yejin senang.

“Kau merequest lagu ini untuk ku?” Yejin menatap penuh dengan ketidak percayaan kearah Chanyeol dan Chanyeol tertawa sambil menganggukan kepalanya.

“Aku tahu kau suka lagu ini,aku menemukan lagu ini di handphonemu waktu itu.” Chanyeol mengungkapkan.

Yejin hanya tertawa, Chanyeol lalu berpura-pura menyanyi seperti Frank Sinatra dan menari mengikuti irama dari radio. Yejin hanya tertawa dan bertepuk tangan melihat Chanyeol mengambil botol minuman yang ada dimeja dan berpura-pura menyanyi sambil mengedipkan matanya pada Yejin.

Chanyeol akhirnya menarik Yejin untuk menari bersamanya namun Yejin menggelengkan kepalanya, Chanyeol akhirnya membantu Yejin untuk berdiri dan Yejin menjerit saat dia hampir jatuh untung saja Chanyeol cukup kuat untuk menahan beban tubuhnya dan tubuh Yejin secara bersamaan.

Tangan Yejin akhirnya melingkar dileher Chanyeol dan wanita itu memeluknya dengan erat takut jika dia jatuh, Chanyeol membiarkan kaki Yejin menginjak kakinya sehingga dia bisa mengikuti gerakan dansa yang Chanyeol lakukan.

Mereka berdua tertawa merasa sangat konyol namun tawa mereka segera berakhir saat mereka berdua mendengar sesuatu pecah, Yejin menatap kearah ambang pintu dan dia bisa melihat sosok Jongin berdiri disana dan botol wine yang dia bawa sudah pecah berkeping-keping didepannya.

“Jongin-shi!” Yejin mencoba menghampiri lelaki itu namun Jongin malah berbalik dan pergi meninggalkan rumah.

“Jongin-shi!” Yejin mencoba melangkah namun dia terjatuh kelantai.

“Jongin!” Yejin masih memanggil berharap lelaki itu mendengarnya.

“Aku akan mengejarnya.” Chanyeol berkata setelah dia membantu Yejin untuk duduk kembali dikursi.

Yejin ingin sekali menangis saat dia melihat ekspressi Jongin, dia ingin segera menjelaskan semuanya namun dia tidak bisa berlari dan menyusul lelaki itu. Dia benci keadaan ini, dia benci kedua kakinya yang tidak berfungsi lagi, dia benci dengan kecacatan yang dia miliki dia benci karena sekarang dia harus diam disini seperti seorang idiot.

Mianhae Jongin-ah…” Yejin akhirnya menangis.

*****

“Jongin-shi!” Chanyeol menyusul Jongin, lelaki yang ada dihadapnnya itu hanay berjalan keluar dari halaman rumahnya sambil tidak mengatakan apapun.

Chanyeol sudah memanggil nama lelaki itu untuk beberapa kali tetapi Jongin tak kunjung menoleh juga, dia hanya ingi menjauh dari Chanyeol dan Yejin sekarang. Dia hanya ingin melupakan bagimana bahagianya Yejin saat dia bersama Chanyeol, dia ingin menghapus memori itu.

“Jongin-shi!” Chanyeol akhirnya marah dan menarik lengan Jongin dengan kasar.

Jongin marah dan segera menonjok wajah Chanyeol sehingga lelaki itu tersungkur ketanah, Jongin bisa melihat darah muncul dibibir Chanyeol. Jongin ingin sekali melakukan itu dari pertamakali dia melihat lelaki itu berani menyentuh Yejin namun selama ini dia menahannya sampai sekarang, melihat Chanyeol meringis kesakitan sedikit melerai amarah Jongin.

“Apa yang kau lakukan?kau melukai wajahku.” Chanyeol berkata, dia menyeka darah yang ada dibibirnya.

“Jika kau ingin merebut Yejin dariku, selamat kau sudah berhasil dia milikmu sekarang.” Jongin berkata dan berbalik hendak pergi.

“Bodoh! Apa kau tidak sadar bagaimana perasaan Yejin padamu?”

Mendengar itu Jongin terdiam sesaat, bukankah Yejin menyukai Chanyeol? Mereka terlihat sangat bahagia saat bersama. Jongin bahkan belum pernah bisa membuat Yejin tertawa seperti dia tertawa dengan Chanyeol, apalagi mereka terlihat sangat serasi saat mereka sedang berdansa tadi.

“Apa maksudmu?”

Chanyeol tertawa saat dia melihat ekspressi kebingungan Jongin, dia tidak bisa menyalahkan lelaki itu. Yejin memang pintar sekali menyembunyikan perasaannya, mungkin selama ini Jongin berpikir jika Yejin membencinya namun dia tidak tahu jika Yejin sudah mulai membuka hatinya untuk Jongin.

“Yejin memaafkanmu kan?dia bercerita padaku waktu itu…dia membuka hatinya untukmu idiot!” Chanyeol membentak.

“Tapi…”

“Aku dan Yejin hanya teman, aku tahu tadi kitaterlalu dekat namun aku hanya ingin menghibur dia.” Chanyeol menjelaskan, bibirnya masih berdenyut sakit sehingga dia meringis. “Jika kau benar-benar suka padanya kembalilah, jika tidak aku akan merebut dia darimu.” Chanyeol mengancam.

Mendengar ancaman itu Jongin langsung pergi berlari meninggalkan Chanyeol yang masih duduk ditanah, Chanyeol mendengus saat dia melihat Jongin berlari terbirit-birit seperti orang yang dikejar anjing.

“Dasar brengsek.” Chanyeol mengutuk, diapun akhirnya berdiri.

Dirumah Yejin hanya bisa menangis di sofa, lagu Frank Sinatra sudah berakhir beberapa menit yang lalu dia sekarang hanya mendengarkan radio dengan tatapan kosong. Dia sesekali menyeka airmatanya, dia bodoh sekali untuk berpikir jika dia dan Jongin bisa bersama. Dari awal mereka memiliki takdir yang jelek, mereka tidak mungkin memiliki happy ending yang selalu orang-orang inginkan.

Suara langkah kaki terdengar mendekat keambang pintu rumah membuat Yejin mendongak, dia akhirnya menemukan sosok Jongin yang berdiri disana. Mulut Yejin hendak memanggil lelaki itu namun dia mengurungkan niatnya saat Jongin berlari kearahnya dan memeluknya dengan erat.

“Kenapa?kenapa kau tidak mengatakan apapun sata aku marah?” Jongin berkata sambil memeluk Yejin.

Yejin tidak menjawab, dia sendiri merasa bodoh karena tidak mampu mengungkapkan bagaimana perasaanya pada Jongin. Selama ini dia sudah memaafkan lelaki itu, dia hanya takut jika dia mengatakan itu Jongin akan meninggalkannya dan melupakannya.

“Maaf,aku..aku tidak ingin kau meninggalkanku.” Ucap Yejin dengan suara gemetarnya.

“Bodoh,kita sudah bersama selama tiga tahun…aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja.”

Jongin mendekatkan dahinya ke dahi Yejin, Yejin hanya bisa tersenyum dalam tangisnya dia tidak tahu kenapa dia bahagia sekali sata dia mendnear jika Jongin tidak akan meninggalkannya.

Jongin akhirnya mengangkat tubuh Yejin, dia membawa wanita itu kekamarnya dan menidurkan kembali Yejin diranjangnya seperti biasanya tetapi kali ini Jongin tidak pergi. Dia dengan lembutnya mengecup dahi Yejin, wanita itu menutup matanya membiarkan bibir hangat Jongin mencium dahinya.

Ciuman Jongin turun dari dahinya menuju hidungnya, lalu kedua pipinya dan akhirnya Jongin berhenti menciumnya membuat Yejin membuka matanya. Mata Jongin tidak pernah terlihat begitu indah, Yejin bahkan baru menyadari jika warna mata Jongin adalah coklat muda seperti kaos yang sekarang lelaki itu kenakan.

Dia tidak pernah sadar bibir Jongin begitu lembut dan sensual, rahangnya yang kuat dan gagah. Kulit coklatnya yang bersinar saat matahari menyentuhnya, betapa lembut dan kuatnya sentuhan tangannya Yejin baru menyadari semua itu dan dia jatuh cinta…dia jatuh cinta pada sosok Kim Jongin.

“Apa kau tahu kenapa aku ingin menikahimu?” suara lembut Jongin menyadarkan Yejin dari lamunanya.

“Kenapa?katakan padaku…”

“Karena aku jatuh cinta padamu, apa kau tahu betapa cantiknya kau saat kau tersenyum? Betapa lembutnya sentuhanmu padaku?” Jongin menyentuh tangan Yejin dan menciumnya. “Aku cinta segalanya tentang kau, betapa kuatnya kau saat terapi yang kau jalani tidak berhasil kau tidak pernah mengeluh walaupun aku tahu kau merasa frustasi dan putus asa.” Jongin melanjutkan.

“Jongin..”

“Kau tetap tersenyum didepan semua orang yang menjengukmu walaupun aku tahu kau merasa malu, aku mendengar kau selalu menangis semalaman tapi setiap pagi kau selalu menyempatkan untuk menyiapkan sarapan untukku.”

Yejin tersenyum pahit, kenangan itu mungkin pahit namun dia bahagia karena Jongin selalu ada disisinya. Dia ingat jika dia sudah menangis Jongin selalu datang dengan kue coklat yang biasa dia beli dari cafe dekat kantornya, dia ingat Jongin selalu rajin membelikan dia bunga dan bahkan rela menunggu dia berjam-jam di toko buku jika dia sedang libur.

“Han Yejin, aku mencintaimu…” Jongin akhirnya mengungkapkan perasaannya, jantungnya berdetak sangat kencang sekali dia bahkan gemetaran sekarang. Dia tidak tahu apakah dia harus tersenyum kearah Yejin atau hanya diam menunduk.

“Aku juga, mari kita menikah.”

Jawaban Yejin membuat Jongin terkejut, dia akhirnya tertawa mereka berdua sangat lucu sekali sekarang. Padahal beberapa tahun yang lalu Yejin membenci dia sampai wanita itu pernah melemparkan gelas kearah dia namun sekarang mereka tidak bisa membayangkan satu hari tanpa satu sama lain.

Begitulah lucunya takdir dan kehidupan, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Hidup adalah kumpulan benang yang kusut yang banyak dan besar, tapi itulah indahnya setiap kali kau menemukan cara untuk merapikannya kau akan merasa puas.

“Iya mari kita menikah.”

Jongin menangkup wajah Yejin dan akhirnya lelaki itu mencium bibir Yejin penuh dengan hasrat. Dia bahkan tidak peduli jika dunia berakhir hari ini, dia akhirnya mendapatkan Han Yejin dalam pelukannya.

The End
Don’t Forget The Comment❤❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

2 thoughts on “Locked Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s