Posted in FanFiction NC 17+

Whispering Love [Chapter 2]

Whispering Love

Title:  Whispering Love

Author : AutumnBreeze @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast : Seo Na Young [OC], Kim Myung Soo [INFINITE],Lee Ho Won [INFINITE], Kim Da Som [SISTAR]

Genre : Angst,drama and romance

Length : Chaptered

Rating:PG 17

Chapter:

Chapter 1, Chapter 2,Chapter 3,Chapter 4

Two

Agreement

Pagi ini aktivitas Na Young dimulai dengan sarapan pagi bersama keluarganya, ayahnya kelihatan senang bisa berkumpul lagi dengan keluarganya karena lelaki paruh baya itu tidak berhenti bercerita tentang suksesnya proyek perusahaan di Cina. Na Young yang mendengar kisah itu hanya mengangguk malas, dia tidak terlalu suka membicarakan bisnis di meja makan apalagi mulai sekarang dia harus bekerja kekantor.

Walaupun Na Young bisa di katakan baru saja lulus dari kuliahnya wanita itu sudah memegang jabatan tinggi sebagai direktur di perusahaan Infinite group terimakasih pada pengaruh besar ayahnya sebagai pemegang saham terbesar.

Na Young tersenyum kearah ibu Myung Soo yang datang membawakan jus jeruk yang segar, dia dan ibu Myung Soo memang cukup dekat bahkan pelayan itu lebih seperti ibunya dibandingkan seseorang yang bekerja dirumah. Ibunya yang duduk disamping Na Young berdehem mungkin mengingat jika mereka berdua hanyalah pembantu dan majikan.

Mendengar ibunya berdehem Na Young segera menghilangkan senyumnya dia tidak ingin mendengar ceramah ibunya pagi ini karena dia akan sibuk seharian, banyak sekali laporan yang harus dia periksa apalagi dia juga harus pergi ketempat pembangunan cafe baru perusahaan ayahnya.

“Aku dengar kau belum mendapatkan sekretaris pribadi apa itu benar?” Ayahnya bertanya saat lelaki itu selesai memakan sarapannya.

“Ya, tapi aku punya sekertaris sementara, Appa tidak usah khawatir.” Na Young menjawab setelah dia menenguk jus jeruk yang ibu Myung Soo bawakan tadi.

“Tidak bisa,kau sudah resmi menjadi direktur sekarang.”Ucap ayahnya. “Aku akan menyuruh Myung Soo untuk datang kekantormu, aku sudah punya cukup banyak sekertaris.”

Mendengar itu Na Young merasa senang sekali dia akhirnya bisa bekerja bersama sahabatnya namun Na Young mencoba untuk terlihat tenang dan dewasa. Dia akhirnya hanya mengangguk lalu menyelesaikan sarapannya juga, ibunya seperti biasa mengantarkan mereka berdua sampai pintu depan, mulai hari ini suami dan anaknya meninggalkan dia dirumah membuat dia sedikit kesepian.

“Jangan pulang terlalu malam.” Ibunya berkata sebelum Na Young masuk kedalam mobil sedan hitamnnya.

“Iya Eomma,aku akan pulang cepat.” Na Young menjawab, supir mereka menutup pintu mobil untuk Na Young dan ayahnya setelah ayahnya mencium mesra pipi ibunya.

Mereka berdua masih sempat untuk terlihat mesra padahal umur mereka sudah mencapai lima puluh tahun apalagi jika Na Young mengingat kalau orangtuanya sudah menikah lebih dari dua puluh tahun, Na Young terkadang berharap jika pernikahannya dengan calon suaminya nanti akan seperti itu.Membayangkan itu Na Young tersenyum sampai akhirnya ayahnya sekarang duduk disampingnya, keberadaan ayahnya mengembalikan Na Young pada realita.

“Na Young-ah, bagaimana hubunganmu dengan Ho Won? Apa kalian semakin dekat?”

Pertanyaan itu membuat Na Young sedikit terkejut, dia tidak tahu jika ayahnya begitu tertarik pada hubungannya dengan Ho Won. Dia dan Ho Won bertemu setahun yang lalu, ayahnya dan ayah Ho Won merencanakan pertemuan mereka, sebenarnya hubungan mereka bisa dibilang perjodohan namun perbedaannya kedua orangtua mereka tidak pernah memaksakan kehendak mereka.

Ho Won memang lelaki yang baik namun Na Young hanya menganggap dia sebagai rekan bisnis dibandingkan dengan pasangan. Na Young menghela nafasnya, bertemu dengan Ho Won berarti bisnis itulah alasan kenapa mereka tidak pernah bertemu diluar jadwal pekerjaan mereka walaupun begitu mereka berhasil membuat kedua orangtua mereka salah sangka tentang hubungan mereka.

“Baik, Ho Won sedikit sibuk jadi kami jarang bertemu.” Na Young menjawab malas, sebenarnya dia tidak ingin membahas Lee Ho Won.

“Bersikap baiklah padanya, dia bisa menjadi rekan bisnis yang menguntungkan untuk keluarga kita.”

Ayah Na Young mengelus kepala putri tunggalnya itu dengan lembut, Na Young hanya tersenyum tipis kearah ayahnya. Dia harap kalau Ho Won hanya rekan bisnis juga tetapi kenyataan nya mereka terjebak dalam situasi dimana dia dan Ho Won harus lebih dari rekan kerja.

*****

Sun Jong tersenyum melihat sosok Myung Soo yang baru saja muncul dilantai kantor bos mereka, dia baru saja mendapatkan perintah dari Seo Hoejang-nim untuk memberitahu Myung Soo jika dia akan menjadi sekertaris pribadi Na Young putri tunggalnya. Sun Jong tahu hubungan Myung Soo dan nona muda itu dekat sehingga dia turut senang saat menerima berita itu walaupun dia sedikit sedih karena sekarang dia tidak bisa bekerja lagi dengan Na Young.

Sun Jong menikmati waktunya sebagai sekertaris sementara Na Young karena wanita itu sangat baik padanya, dia juga mengagumi etos kerja Na Young yang luar biasa dan membayangkan dia bekerja lagi dengan Seo Hoejang-nim yang menyeramkan membuat dia iri pada Myung Soo.

Hyeong ,aku punya berita baik untukmu.” Sun Jong mengungkapkan, dia memberikan map hijau yang ada ditangannya pada Myung Soo.

“Apa ini?” Tanya Myung Soo sambil membuka map itu.

“Itu jadwal Seo sangmeo-nim, kau akan bekerja dengan dia mulai hari ini.”

Myung Soo terkejut mendengar ucapan Sun Jong, apa dia tidak salah mendengar? Dia senang sekali jika apa yang Sun Jong katakan benar tetapi mengingat sifat teman dekat nya yang satu ini dia takut jika Sun Jong hanya bercanda.

“Seo sangmoo-nim? Apa yang kau maksud Na Young?”

“Iya,siapa lagi..kau pasti senang sekali.” Sun Jong menyikut lengan Myung Soo sambil menaik turunkan alisnya.

“Urggh kau kenak-kanakan sekali Sun Jong.” Myung Soo berkata sambil mengacak-ngacak rambut Sun Jong walaupun sekarang dia tersenyum lebar.

Myung Soo membuka map hijau yang Sun Jong berikan padanya, dia bisa melihat jadwal Na Young untuk hari ini. Ternyata Na Young cukup sibuk juga karena wanita itu harus menghadiri beberapa meeting bersama para pemegang saham hari ini, apalagi Infinite group sedang mencoba membuka usaha baru yang diusulkan oleh Na Young.

Myung Soo melihat beberapa daftar nama yang dia kenali tetapi dia sedikit kebingungan saat melihat jadwal makan siang dengan seseorang yang bernama Lee Ho Won, dia tidak mengenal siapa lelaki itu apalagi disamping jadwal itu tertulis kata penting.

“Sun Jong-ah,apa kau tahu siapa Lee Ho Won?” Myung Soo bertanya membuat sekretaris muda yang ada dipinggirnya melirik kearahnya.

“Oh Lee Ho Won? Dia tunangan Sangmoo-nim dia sangat menyebalkan sekali karena dia selalu meminta aku untuk mengingatkan Sangmoo-nim jika mereka punya janji.” Sun Jong mengungkapkan, lelaki itu sekarang sibuk membereskan dokumen yang ada dimeja nya.

“Oh apa itu alasan kau menulis kata penting disampingnya?”

Sun Jong mengangguk namun lelaki itu kelihatan terkejut dan langsung berdiri dari duduknya, melihat reaksi itu Myung Soo berbalik dan menemukan sosok Seo Hoejang-nim sudah berdiri dibelakang mereka bersama anak perempuanya Na Young.

“Apa kalian punya waktu untuk mengobrol? Jika iya sebaiknya kalian cepat bereskan pekerjaan kalian.” Seo Hoejang-nim berkata membuat Sun Jong meminta maaf dan langsung membukakan pintu kantor Seo Hoejang-nim untuk lelaki paruh baya itu dengan panik.

“Oh iya, Myung Soo-ya mulai sekarang kau bekerja dengan Na Young meskipun kalian dekat aku tidak akan mentolelir kemalasan.” Seo Hoejang-nim memberi peringatan.

Algeseumnida Hoejang-nim.” Myung Soo membungkuk hormat kearah Seo Hoejan-nim.

Seo Hoejang-nim menepuk punggung Myung Soo dan pergi masuk kedalam ruangannya bersama Sun Jong yang sudah membawa dokumen-dokumen yang harus di periksa oleh bosnya, Sun Jong menutup pintu kantor dan mengacungkan jempolnya kearah Myung Soo memberi semangat pada temannya.

“Kim Biseo, bisakah kau ikut denganku ada beberapa hal yang ingin aku bahas.” Na Young berkata dengan nada professionalnya.

Myung Soo belum terbiasa dengan sikap professional Na Young sehingga dia menahan tawanya meskipun pada akhirnya dia menjawab dengan nada bicara yang sama lalu mengikuti langkah Na Young masuk kedalam lift. Mereka tidak dapat mengobrol saat mereka sampai di lift karena direktur Kang dan sekertarisnya ikut masuk kedalam lift mereka, Na Young menyapa direktur itu dengan ramah dan mengobrol beberapa saat sampai mereka sampai dilantai kantor Na Young.

Na Young melirik kearah sekitarnya memastikan tidak ada karyawan yang melewati daerah kantornya lalu berhenti ditengah ruangan kantor itu dan tiba-tiba saja memukul lengan Myung Soo membuat Myung Soo sangat terkejut.

Sangmoo-nim kau tidak bisa memukul pegawaimu begitu saja.” Myung Soo bercanda sambil mengelus lengannya.

“Kau seharusnya tidak tertawa saat aku bersikap professional! Ini lingkungan kantor.” Na Young memajukan bibirnya kesal, melihat ekspressi itu membuat Myung Soo semakin ingin tertawa.

Agasshi,jika kau cemberut seperti itu aku akan benar-benar tertawa.” Myung Soo mengancam membuat Na Young menganti ekspressinya.

“Mulai hari ini kau sekretarisku, jika kau bertingkah macam-macam aku tidak ragu untuk memukulmu lagi.”

Na Young memberikan isyarat ‘aku memperhatikanmu’pada Myung Soo sebelum akhirnya wanita itu masuk kedalam ruangannya, melihat itu Myung Soo mengangguk dan duduk dikursinya. Dia membuka kembali jadwal Na Young yang ada ditangannya, dia masih merasa resah dengan nama Lee Ho Won yang ada di jadwal itu.

Myung Soo ingin sekali menanyakan kebenaran berita yang dia terima dari Sun Jong tadi, jika Ho Won benar tunangannya lalu kenapa Na Young tidak mengatakan apapun padanya? Myung Soo sedikit kecewa, dia kira mereka sangat dekat sehingga Na Young tidak akan lupa untuk memberi tahu berita yang sepenting ini.

Baru saja Myung Soo memulai pekerjaannya dia bisa melihat sosok yang tidak asing keluar dari lift berjalan menuju kantor Na Young, Myung Soo yang melihat itu segera berdiri dan menyambut sosok wanita yang sekarang ada didepannya. Wanita itu tinggi dan berambut coklat, blush coklatnya terlihat sangat kontras dengan kulit pucatnya, Kim Da Som wanita itu tidak pernah Myung Soo lupakan.

“Jadi semua rumor itu benar, kau bekerja untuk Na Young sekarang?” Da Som bertanya dengan nada sinisnya.

Nde, agasshi.” Myung Soo menjawab dengan tenang walaupun dia ingin wanita itu segera pergi dari hadapannya.

“Apa paman Seo tahu semua ini?!”

“Tentu saja.” Myung Soo menjawab singkat, dia sedikit kesal karena Da Som menaikan nada bicaranya walaupun Myung Soo mencoba untuk tidak berisik.

Taklama setelah percakapan itu sosok Na Young keluar dari kantornya, dia kelihatan kesal sekali dan berjalan mendekat kearah Myung Soo dan Da Som. Myung Soo bisa merakan atmosphere yang sangat tegang saat kedua wanita itu saling berhadapan, dia tahu Da Som dan Na Young sudah bersaing semenjak mereka masih sekolah bahkan sampai sekarang mereka kelihatan belum menghentikan persaingan itu.

“Apa kau memiliki masalah dengan pemindahan Kim biseo Da Som-shi?” Na Young bertanya, walaupun nada suaranya rendah Myung Soo bisa merasakan sarkasme dari kata-kata yang diucapkan Na Young.

“Apa kau tahu jika perusahaan ini belum menjadi milikmu? Kau tidak bisa seenaknya menyuruh pegawai untuk mengikuti keinginanmu, bukankah kau seharusnya mengkonsultasikan hal ini pada divisi HRD terlebih dahulu?” Da Som berkacak pinggang, wanita itu kelihatan marah sekali.

Mendengar alasan yang Da Som ungkapkan Na Young hanya mendengus, dia tahu jika sepupunya itu hanya mencari masalah agar dia bisa merebut posisinya saat rapat dengan pemegang saham nanti. Na Young tidak memiliki waktu untuk meladeni usaha payah Da Som dalam menyudutkannya.

Wanita itu akhirnya mengambil telepon yang ada di meja Myung Soo lalu menekan nomor divisi HRD, membuat Da Som kebingungan apa sebenarnya yang Na Young rencanakan? Beberapa menit berlalu seseorang mengangkat teleponnya.

Yobuseyo? Divisi HRD? Aku hanya ingin melaporkan jika Kim Myung Soo asisten pribadi Seo Hoejang-nim akan bekerja sebagai sekertaris Seo Na Young mulai hari ini, tolong buatkan laporan tentang itu jika perlu bagikan laporan itu pada seluruh pegawai kantor.” Na Young langsung menutup teleponnya.

Dia bisa melihat Da Som mengepalkan tangannya kesal dan berbalik pergi menuju lift kantor Na Young bahkan sebagain pegawai melirik kearah sosok Da Som yang kelihatan marah sekali, dia sedikit malu karena dia tidak menyadari beberapa staff kantor sudah berdiri didepan lift sambil membawa dokumen mereka.

Para pegawai itu langsung menunduk kearah Na Young meminta maaf karena sudah menganggu percakapannya dengan Da Som meskipun mereka sebenarnya tidak bersalah, Na Young tidak mengatakan apapun dan masuk kedalam ruangannya. Myung Soo tersenyum canggung kearah rekan kerjanya sekarang, dia harap mereka tidak memulai gosip apapun tentang Na Young dan Da Som.

“Kalian pasti staff yang akan membantu Seo sangmoo-nim? Ayo masuk,apa kalian ingin teh?” Myung Soo mencoba mencairkan suasana tetapi para staff itu kelihatan masih terkejut dengan sikap Da Som tadi.

Myung Soo tidak meyangka jika hari pertama dia bekerja akan secanggung ini, setelah dia mengantar para staff yang akan membantu Na Young untuk membangun cafe baru Infinite group keruangan Na Young dia pergi untuk menyeduh teh di kantin kantor. Sun Jong kelihatan sedang sibuk menjawab telepon, dia kelihatannya masih membahas soal pekerjaannya.

Sun Jong yang melihat Myung Soo sedang menyeduh teh tersenyum kearahnya sekilas lalu mengakhiri teleponnya setelah dia selesai, Sun Jong menghela nafasnya dan menepuk punggung Myung Soo. Kelihatannya temannya itu tahu apa yang baru saja terjadi, Myung Soo sendiri ingin mengeluh namun dia tidak punya waktu untuk itu.

Hyeong,apa kau baik-baik saja?” Sun Jong kelihatan sangat khawatir sekali saat dia melihat ekspressi lelah Myung Soo.

“Aku baik-baik saja, kau tak usah khawatir.” Myung Soo menjawab dan mengambil beberapa gelas teh yang akan dia berikan pada staff yang sedang mempresentasikan konsep cafe pada Na Young.

“Kau kelihatan lelah, Inikan hari pertamamu bekerja di kantor utama Hyeong  kau seharusnya kelihatan senang.” Sun Jong tersenyum kearah Myung Soo berharap senyumnya menghibur lelaki itu.

Myung Soo hanya membalas senyum Sun Jong sekilas sebelum akhirnya dia pergi membawa beberapa gelas teh yang sudah dia seduh tadi. Sun Jong mengerti keadaan yang di hadapi Myung Soo, dia pasti merasa canggung karena Da Som mempermasalahkan jabatannya yang sekarang berubah menjadi sekertaris Na Young wanita itu sebenarnya sudah mempertanyakan kemampuan lelaki itu semenjak dia datang ke perusahaan ini.

Da Som bukanlah orang yang senang untuk berhadapan dengan Myung Soo, wanita itu kelihatan tidak bersimpati padanya padahal Myung Soo selalu sopan dan bersikap baik padanya. Terkadang Myung Soo tidak mengerti dengan persaingan yang Da Som dan Na Young geluti sejak dulu, orang kaya memang memiliki kehidupan yang berbeda pikir Myung Soo.

Saat Myung Soo sampai diruangan Na Young dia tidak menemukan staff yang tadi sedang berbicara dengan Na Young, dia hanya menemukan direktur itu sedang menatap kosong kearah sketsa konsep yang ada ditangannya. Na Young kelihatan serius sekali bahkan Myung Soo merasa ragu untuk mengetuk pintu dan mengumumkan keberadaannya, Myung Soo hendak berbalik namun pandangan Na Young sekarang tertuju padanya.

“Oh Myung Soo-ya, maaf aku menyuruh para staff untuk pergi.” Na Young berkata dan Myung Soo hanya tersenyum.

Lelaki itu tahu Na Young sedang sibuk, dia menyimpan satu gelas teh yang dia bawa untuk Na Young membuat wanita itu tersenyum senang. Myung Soo duduk disamping Na Young sampai wanita itu meneguk habis teh yang Myung Soo bawakan untuknya, seperti Na Young masih menyukai teh karena itulah minuman satu-satunya yang dapat menenangkannya selain alkohol.

“Kenapa kau menyuruh para staff pergi?” Myung Soo bertanya penasaran, jika mereka akan membahas tentang bisnis baru waktu beberapa menit saja tidak mungkin cukup.

“Konsep mereka kacau,apalagi mereka kelihatan belum siap.” Na Young menjawab sambil menghela nafasnya kesal.

Myung Soo hanya mengangguk, Na Young dan ayahnya memang mirip jika soal standar pekerjaan mereka berdua sangat ketat dan perfectsionis. Myung Soo sebenarnya ingin kembali bekerja namun ingatannya soal Na Young yang sudah bertunangan sangat menganggunya, dia ingin sekali menanyakan kebenaran tentang berita itu.

“Aku dengar kau sudah memiliki tunangan, apa itu benar?” Myung Soo memberanikan diri untuk bertanya.

Mendengar pertanyaan itu Na Young hampir tersedak, darimana Myung Soo tahu jika dia sudah memiliki tunangan? Dia kira rahasia itu bisa dia simpan lebih lama, dia sendiri tidak yakin jika Ho Won pantas dia panggil tunangannya. Dia dan Ho Won bahkan tidak pernah berkencan, mereka hanya berpura-pura memiliki hubungan khusus didepan kedua orangtua mereka.

“Aku sebenarnya tidak yakin…” Na Young menjawab sambil memainkan jarinya gugup.

“Maksudmu?”

“Ini semua ide kedua orangtua aku dan dia Myung Soo-ya, aku tidak pernah berkencan dengan dia.”

Na Young menghela nafasnya, seharusnya dia menceritakan semua ini sebelum Myung Soo mendnegar dari oranglain. Lelaki itu pasti merasa dikhianati sekarang, Na Young ingin sekali memukul didirinya sendiri karena sudah menyembunyikan hal ini hampir setahun dari Myung Soo yang merupakan sahabatnya.

“Jadi kalian dijodohkan?”

“Bisa dibilang seperti itu, kita hanya ingin mempertahankan posisi kita di perusahaan Myung Soo kau tahu posisiku disini sangat rentan.” Na Young menjawab dengan sedih.

Mendengar itu membuat Myung Soo sedikit kecewa, dia kira Na Young tidak akan melakukan hal selicik itu untuk mempertahankan posisinya diperusahaan. Myung Soo tidak bisa mengatakan apapun lagipula Na Young pantas untuk mempertahankan posisinya, mengingat dia anak tunggal pemilik perusahaan ini sudah sepantasnya dia ingin posisinya bertahan.

Walaupun kecewa Myung Soo hanya bisa menunduk penuh kesedihan, jika Na Young benar-benar akan menikahi Lee Ho Won dia tidak tahu harus berbuat apa. Alasan dia tetap bekerja dengan keluarga Seo adalah Na Young, jika Na Young tidak akan ada disisinya lagi Myung Soo kehilangan alasan untuk tetap bekerja diperusahaan ini.

“Apa kau serius soal Lee Ho Won? Apa kau akan menikahi dia?” Myung Soo terkejut dengan nada suaranya sendiri, dia benar-benar mulai terdengar seperti seorang pacar yang cemburu.

“Tentu saja tidak! Aku bahkan tidak menyukai Lee Ho Won, kami melakukan ini hanya untuk bisnis.”

Na Young menjawab dengan tegas, bahkan terlalu tegas menurut Myung Soo. Entah mengapa melihat reaksi Na Young seperti itu membuat Myung Soo senang, dia melirik kearah sekitarnya dan akhirnya memberanikan diri untuk menggengam tangan Na Young dengan erat.

“Kau tidak akan meninggalkan aku kan?” Myung Soo bertanya, bahkan hampir memelas.

“Tidak Myung Soo-ya,aku akan selalu ada disisimu seperti yang aku janjikan.”

Mendengar itu Myung Soo sangat senang sekali, dia menarik Na Young kedalam pelukannya dan dia bisa merasakan kedua tangan Na Young menyentuh punggung nya juga. Myung Soo tersenyum saat dia merasakan sentuhan Na Young, dia ternyata sangat merindukan wanita itu lebih dari yang dia kira.

Tanpa Na Young dan Myung Soo sadari ibu Na Young sudah berdiri diambang pintu kantor Na Young, dia sangat terkejut sekali saat dia melihat Myung Soo dan Na Young berpelukan dengan mesra. Kedua pipinya memanas penuh amarah, kakinya terasa lemas jika dia tidak menyanda kearah tembok pintu dia bisa jatuh.

apakah ini alasan kenapa Na Young tidak pernah menerima semua lamaran lelaki yang datang meminta dia untuk menjadi istrinya? Selama ini ibunya mengira jika Myung Soo dan Na Young sudah seperti adik dan kakak dan dia menyayangi Myung Soo seperti dia menyayangi Na Young namun melihat interaksi mesra ini pikiran ibu Na Young berubah, dia harus menghentikan semua kegilaan ini sebelum anak perempuannya terlibat lebih jauh dengan Kim Myung Soo.

*****

Na Young berhenti meneguk kopinya saat dia melihat sosok Ho Won masuk kedalam cafe dimana mereka biasa bertemu, lelaki itu kelihatan cemas karena dia berjalan dengan langkah yang cepat. Melihat bahasa tubuh Ho Won Na Young merasa sedikt khawatir, jika lelaki itu cemas itu artinya ada berita buruk yang akan dia sampaikan.

Ho Won duduk didepannya dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, ternyata dia membawa sebuah dokumen resmi. Na Young tidak mengerti kenapa Ho Won membawa dokumen itu? Bukankah mereka kesini untuk membahas tentang proyek perusahaan mereka.

“Kita dalam situasi yang jelek sekarang.” Ho Won akhirnya mengatakan sesuatu.

“Maksudmu?” Na Young bertanya.

Ho Won menghela nafasnya dan menyodorkan dokumen yang dia bawa pada Na Young. Na Young membaca isi dokumen itu dan seketika kening Na Young berkerut penuh dengan ketidak percayaan, sebenarnya apa maksud Ho Won membuat dokumen ini?

“Perjanjian pernikahan? Kenapa kita butuh ini?” Na Young menyimpan kembali dokumen itu.

Dia tidak pernah memiliki niat untuk menikah dengan Ho Won mengingat hubungan mereka hanyalah sandiwara agar mereka bisa mempertahankan posisi mereka. Ho Won kelihatan sama tidak senangnya dengan dokumen yang dia bawa, dia membuka dokumen itu dan menandatangani nya.

“Perusahaan kita akan digabungkan, ayahku dan ayahmu berencana untuk membuat corporation baru dan kau tahu keluargaku akan ikut campur.”

Mendengar itu Na Young kesal sekali dia mengepalkan tangannya penuh emosi, jika perusahaan Ho Won bergabung dengan Infinite group ada kemungkinan oranglain dapat merebut posisinya. Tetapi kenapa dia harus menikah dengan Ho Won? Dia hanya harus menunjukan keahlian dia agar dia bisa tetap menjadi direktur.

“Lalu apa tujuanmu memberikan aku dokumen ini? Kenapa kau ingin membuat perjanjian? Kita bisa membatalkan perjodohan ini.” Na Young bertanya sambil menatap penuh tanya kearah Ho Won.

“Kau benar, tapi kau lupa dengan Kim Da Som…bukankah dia sepupumu? Dia akan merebut posisimu sebelum kau bisa mengedipkan matamu jika kau tidak menikah denganku.” Jawab Ho Won dengan seringainya.

“Aku hanya ingin membantumu dan kau juga akan membantuku, Jika kita akan melakukan pernikahan palsu ini kita butuh peraturan.”

Ho Won mengambil pulpen yang ada di meja dan menawarkannya pada Na Young, tangan Na Young terasa berat saat dia hendak mengambil pulpen itu. Dia tidak ingin menandatangani dokumen itu, apalagi saat dia membaca segala peraturannya jika dia menandatangi nya dia akan kesusahan untuk bertemu dengan Myung Soo.

Dia bahkan harus tinggal dirumah Ho Won, keluarga Ho Won bukanlah keluarga yang harmonis. Dia tahu itu dari cerita Ho Won, lagipula keluarga Ho Won sudah sering menjadi gunjingan didunia bisnis mengingat kehidupan keluarga mereka penuh dengan konflik, mulai dari kasus perselingkuhan sampai perebutan jabatan.

“Aku bisa menangani Da Som.” Ucap Na Young, mendengar itu Ho Won tertawa licik.

“Ya kau bisa, tapi sayang para pemegang saham lebih percaya padaku daripada kau.” Jawab Ho Won penuh percaya diri.

“Kenapa kau begitu percaya diri? Aku bisa membutikan kemampuanku.” Na Young berkata penuh dengan tekad.

“Bisnis tidak seperti itu Nona Seo, mereka menginginkan keuntungan bukan kerja keras.”

Perkataan Ho Won memang benar, pemegang saham pasti menginginkan seseorang yang berkontribusi pada perusahaan mereka. Apalagi perusahaan mereka sedang dalam krisis sekarang itulah alasan kenapa ayahnya ingin mengabungkan Infinite group dengan perusahaan keluarga Lee dan membiarkan ayah Ho Won membeli sebagian sahamnya, Na Young tahu jelas dimana tempatnya.

Ho Won masih menggengam pulpen nya dan meyodorkan pulpen itu lebih jauh pada Na Young, menghela nafas Na Young mengambil pulpen itu. Dia tidak punya banyak pilihan walaupun dia berjuang sekuat tenaga dia masih baru didunia bisnis,jika ayahnya bukan pemegang saham terbesar di Infinite group dia tidak akan memiliki kesempatan untuk menjadi direktur.

Jika dia ingin mempertahankan posisi itu dan membuat ayahnya bangga inilah jalan satu-satunya, dia percaya pada Ho Won mengingat dia lebih berpengalaman darinya. Na Young akhirnya menandatangani dokumen itu dengan berat hati, dia harap Myung Soo akan mengerti tentang keputusannya.

“Aku sendiri benci melakukan ini Na Young, tapi kau satu-satu jalan agar aku bisa mempertahankan posisiku dari Sung Gyu Hyeong.”

Na Young hanya mengangguk lemas, dia tahu Ho Won terpaksa melakukan ini juga mereka hanya harus menikah untuk satu tahun setelah itu mereka bisa bebas membuat keputusan setelah keadaan perusahaan lebih tenang dan stabil.

“Aku tahu kau menyukai orang lain, sampaikan perminta maafanku padanya.”

Senyum tipis terulas dibibir Na Young, Ho Won memang lelaki yang baik namun dia tidak akan pernah mencintai Ho Won seperti dia mencintai Myung Soo. Hatinya belum pernah berubah selama dua puluh tahun, dia cukup yakin kali ini semuanya akan sama juga.

“Kau benar, aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya.”

Cinta bukanlah hal yang harus mereka khawatirkan sekarang, mereka akan menghadapi perang dingin sebentar lagi. Sebaiknya mereka mencari teman dan mencoba menarik banyak simpati dari para pemegang saham mulai sekarang, Na Young tahu dia harus lebih berhati-hati pada Da Som karena sekarang wanita itu memiliki kesempatan untuk merebut jabatannya.

“Aku akan menikahimu Ho Won-shi, tapi apakah aku bisa mempercayaimu?”

Na Young menatap kearah Ho Won, dia ingin tahu apakah Ho Won bisa dia percaya mungkin dengan melihat kearah matanya Na Young bisa yakin jika Ho Won akan membantunya. Ho Won tersenyum, berbeda dengan senyum yang biasa dia berikan pada Na Young senyum ini terlihat tulus.

“Kau tak usah khawatir, aku akan mengurus segalanya kau hanya harus percaya padaku.” Ucap Ho Won.

*****

Ibu Na Young meneguk wine yang ada digelasnya, adegan yang tadi siang dia lihat tidak juga kunjung hilang dari otaknya membuat dia benar-benar merasa muak. Melihat tangan Myung Soo yang memeluk anak perempuannya dengan mesra membuat dia semakin khawatir, dia tidak pernah mengijinkan Myung Soo memiliki hubungan semacam itu dengan Na Young.

Dia membesarkan Na Young penuh dengan kasih sayang dan memanjakan anak perempuannya itu dengan harta nya membuat Na Young pribadi yang pintar dan cantik. Dia tidak akan menyerahkan Na Young pada seorang anak pembantu yang tidak jelas asal usulnya, Na Young di takdirkan lebih dari itu.

Suara ketukan pintu membuat Nyonya Seo terkejut dan dia melirik kebalakang menyahut ketukan pintu itu, sosok Myung Soo muncul dari balik pintu. Melihat sosok pemalu Myung Soo membuat hati nyonya Seo menciut, dia tidak ingin membuat Myung Soo ketakutan dengan ancamannya.

Dia hanya ingin memberi peringatan pada lelaki itu, bagaimanapun dia sudah menganggap Myung Soo seperti anaknya sendiri mengingat dia selalu menginginkan seorang putra. Dia merasa terperangkap jika dia membahas masalah ini dengan Myung Soo, biasanya mereka bercengkrama dengan akrab namun sekarang entah mengapa dia merasa sedang berperang dengan lelaki muda itu.

Sameo-nim,aku mendengar dari Eomma jika Anda memangilku.”

Nyonya Seo mengangguk, dia duduk kembali dikursinya, Myung Soo yang melihat melirik kearah meja kecil yang ada disampingnya. Dia kelihatan terkejut melihat botol wine yang ada dimeja itu, dia tahu Nyonya Seo tidak pernah minum alkohol namun melihat botol itu menandakan jika Nyonya besarnya itu sedang dalam tekanan yang berat.

“Duduklah Myung Soo-ya.” Nyonya Seo menyuruh, suara wanita itu terdengar sangat lemas membuat Myung Soo khawatir.

Sameo-nim, apakah semuanya baik-baik saja?” Myung Soo bertanya, Nyona Seo ingin sekali menjerit dan mengatakan semuanya kacau namun dia menahannya.

“Myungsoo-ya, kau tahu aku menyukaimu kan? Kau sudah seperti anakku sendiri.” Nyonya Seo memulai.

Mendengar perkataan itu entah kenapa perasaan Myung Soo tidak enak, berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu saat Nyonya Seo mengatakan hal itu untuk pertamakalinya. dia bisa melihat ekspressi khawatir dan sedih terpancar diwajah wanita paruh baya itu, Haruskah dia menjawab pertanyaan Nyonya Seo? Dia bergelut dengan batinnya Myung Soo akhirnya mengangguk.

Nyonya Seo menyimpan sebuah foto yang dia ambil tadi siang di meja, foto itu menunjukan dirinya yang memeluk Na Young mesra. Sekarang dia tahu kenapa Nyonya Seo menyuruhnya datang kesini dia seharusnya bersiap-siap untuk situasi seperti ini.

Sejujurnya Myung Soo tidak terlalu terkejut dengan semua ini, dia tahu cepat atau lambat dia akan menghadapi situasi seperti ini. Walaupun dia menghadapi ini dia tidak akan mengubah perasaannya pada Na Young, dia mencintai Na Young jika dia harus menghadapi hal ini dia akan menghadapinya dengan berani.

“Tentu saja Nyonya, aku tidak pernah lupa semua jasamu dan Tuan.” Myung Soo menjawab.

“Bagus kalau begitu, Na Young bukanlah wanita biasa Myung Soo-ya dia ditakdirkan untuk memimpin perusahaan suatu hari nanti dan tentu saja dia membutuhkan lelaki yang sepadan dengan dia apa aku benar Myung Soo-ya?”

Myung Soo hanya bisa diam, perkataan Nyonya Seo benar namun bukankah Na Young juga layak untuk mendapatkan lelaki yang mencintai dia sepenuh hati? Hati Myung Soo menciut saat dia mendengar saat Nyonya Seo mengatakan jika Na Young membutuhkan lelaki yang lebih sepadan dengannya, Myung Soo mungkin cukup egois untuk mencintai Na Young namun hatinya tidak pernah berbohong.

Dia mencintai wanita itu semenjak mereka masih kecil, mereka tumbuh bersama dan tidak ada orang lain yang mengenalnya dengan baik kecuali Na Young begitupun sebaliknya. Jika ibu Na Young ingin dia melupakan perasaan cintanya yang dia sudah pendam selama dua puluh tahun dia tidak akan pernah bisa melakukan itu.

Sameo-nim, maafkan aku…tapi bukankah pilihan itu ada ditangan Na Young?”

Nyonya Seo kelihatan marah saat dia mendengar jawaban Myung Soo, dia memukul meja yang ada didepannya membuat gelas yang ada dimeja itu jatuh dan pecah. Myung Soo sedikit terkejut namun dia tidak gentar, dia tahu cintanya pada Na Young tidak akan hilang hanya karena ibu Na Young tidak menyetujuinya.

“Beraninya kau! Apakah semua ini masuk akal?! Kalian memiliki dunia yang berbeda, apakah kau sadar dimana tempatmu?!” Nyonya Seo akhirnya melepaskan semua amarahnya.

Hati Myung Soo terasa sakit saat dia mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Nyonya Seo, selama ini dia menghormati Nyonya Seo dan sudah menganggap wanita itu seperti keluarganya. Namun mendengar kata-kata itu membuat dia Myung Soo merasa begitu rendah, selama ini dia kira Nyonya Seo tidak pernah memandangnya seperti itu.

“Aku mengerti sameo-nim,aku hanyalah anak seorang pelayan tetapi aku dengan tulus menyayangi Na Young.” Jawab Myung Soo.

Sebuah tamparan melayang kepipi Myung Soo membuat Myung Soo terkejut, dia menatap nanar kearah Nyonya Seo sambil memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan wanita itu.

“Enyahlah dari hadapanku!” Nyonya Seo membentak lagi, tangannya menunjuk kearah pintu.

Sameo-nim..” Myung Soo mencoba menjelaskan semuanya namun ibu Na Young sudah berbalik menutup dirinya dari Myung Soo.

Melihat reaksi itu Myung Soo kecewa, dia langsung berbalik keluar dari ruangan itu namun sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan itu Myung Soo berbalik kembali menatap punggung ibu Na Young.

“Aku tahu aku bukanlah anak seorang yang kaya seperti Lee Ho Won sameo-nim, namun apakah anda tidak adil padanya dengan memaksakan kehendak anda?”

Ibu Na Young menahan airmatanya saat dia mendengar itu, jika Myung Soo memiliki masa depan seperti Ho Won mungkin dia akan lebih senang mendengar itu. Bagaimanapun Na Young dan Myung Soo bukanlah dua orang yang harus bersama, takdir mereka tidak akan pernah baik.

“Pergilah,jangan ganggu Na Young soal ini.” Nyonya Seo berkata, nada suaranya lebih tenang.

Myung Soo tidak menjawab dan pergi meninggalkan Nyonya Seo lalu menutup pintu ruangan baca rumah besar itu, Myung Soo menghela nafasnya dan berjalan menuju dapur dimana ibunya sudah menunggu.

Ibu Myung Soo kelihatan sibuk sedang menyiapkan sesuatu dia adalah salah satu pelayan yag tinggal dirumah besar ini, ibunya kelihatan senang saat melihat sosok Myung Soo. Ibunya memanggil Myung Soo membuat Myung Soo berjalan kearah wanita paruh baya itu sambil mengintip apa yang ibunya sedang siapkan, saat dia melihat isi piring yang ibunya berikan padanya Myung Soo tersenyum dan memeluk ibunya.

Pancake adalah salah satu makanan kesukaan Myung Soo dan Na Young, dia ingat jika mereka berdua sedih ibunya selalu memasakan makanan manis itu untuk mereka. Ibunya itu bahkan tidak lupa untuk memberikan sirup maple diatas pancakenya, Myung Soo ingat jika Na Young lebih suka sirup strawberry.

“Makanlah,kau pasti lelah setelah seharian bekerja.” Ibunya berkata sambil mengelus punggung Myung Soo dengan lembut.

Myung Soo memakan pancakenya, walaupun makanan itu terasa manis dilidahnya hatinya masih terasa sakit. Dengan percakapannya tadi dengan Nyonya Seo dia tidak akan bisa mengunjungi ibunya lebih sering, dia tidak ingin ibunya khawatir sehingga dia harus berbohong dan tersenyum saat ibunya menanyakan apa yang nyonya Seo dan dirinya bicarakan tadi.

“Hanya soal pekerjaan.” Myung Soo menjawab datar sambil meminum air putih yang ada didepannya.

“Apa dia marah?aku mendengar suara gelas pecah.” Ibunya bertanya lagi.

“Ya,kau tahu bagaimana Nyonya Seo Eomma.” Myung Soo menjawab lagi dengan senyum tipis.

Walaupun Myung Soo tersenyum ibunya bisa menangkap wajah resah yang Myung Soo tunjukan saat dia menatap kearah pancakenya, Ibunya hanya bisa mendukung Myung Soo karena dia tidak mengerti apapun soal perusahaan atau pekerjaan yang Myung Soo geluti.

“Sabarlah, anggap saja semuanya pengalaman.” Ibu Myung Soo berkata.

“Ya,aku mengerti…Eomma aku sepertinya tidak bisa berkunjung kesini sesering mungkin, kau tahu aku sibukkan? Bagaimana kalau kau berhenti bekerja dan tinggal bersamaku?” Myung Soo menawarkan, berharap jika ibunya itu menurut padanya kali ini.

“Tidak Myung Soo-ya, aku tidak bisa diam lagipula aku suka bekerja disini…kau tak usah khawatir ada Na Young yang akan menemaniku. Aku akan berknjung setiap hari libur,lagipula aku tidak ingin menganggu pacarmu jika dia berkunjung.” Ibunya menggoda membuat Myung Soo akhirnya tertawa.

Eomma,kau lebih berharga dari pacarku jika dia marah karena kau ada dirumahku aku akan memutuskannya.” Ungkap Myung Soo.

“Itu tidak penting sebaiknya kau cepat menemukan wanita yang baik dan menikah, Na Young bahkan sudah punya pacar sekarang.” Ibu Myung Soo menghela nafasnya mengingat jika seorang lelaki bernama Lee Ho Won sering mengirimkan wanita muda itu bunga.

Mendengar perkataan itu Myung Soo hanya diam, dia ingin sekali mengatakan jika dia mencintai Na Young namun dia tahu ibunya pasti akan marah, ibunya pasti akan mengatakan hal-hal yang sama dengan Nyonya Seo. Kata-kata yang menyakitkan dan meredahkan,Myung Soo hanya ingin melupakan kata-kata itu.

Eomma jika aku mencintai Na Young, apakah kau akan marah?”

Pertanyaan itu membuat ibu Myung Soo terdiam, Myung Soo bisa melihat wajah ibunya menegang dia seharusnya tidak berharap hal yang lebih dari ibunya. Myung Soo akhirnya tertawa berpura-pura jika dia hanya bercanda tadi, ibunya yang menyangka Myung Soo hanya bercanda akhirnya ikut tertawa.

Yak! Aku kira kau serius tadi.” Ibu Myung Soo memukul lengan Myung Soo dan Myung Soo hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Eomma,aku tidak mungkin mencintai Na Young.” Ucap Myung Soo.

Mendengar pintu dapur terbuka senyum Myung Soo dan ibunya menghilang saat mereka melihat sosok Na Young sudah berdiri diambang pintu dapur, wanita itu masih menggunakan baju formalnya mungkin baru sampai dari kantor. Na Young menatap kearah Myung Soo dan ibunya dengan tatapan sedih, Myung Soo panik apakah Na Young mendengar seluruh percakapannya tadi?

Ahjumma, bisakah kau menyiapkan gaun merahku besok? Aku harus pergi kepesta.” Na Young berkata singkat.

“Aku akan menyiapkannya agasshi.” Ibunya menunduk penuh hormat kearah Na Young.

Pandangan Myung Soo dan Na Young bertemu sesaat namun Na Young segera memalingkan pandangannya dan pergi kelantai dua menuju kamarnya, Myung Soo yang melihat itu langsung mengejar langkah Na Young. Ibu Myung Soo yang kebingungan mengejar Myung Soo dan melihat anaknya mengikuti Na Young kelantai atas.

Melihat itu ibu Myung Soo merasa sangat khawatir, apakah yang anaknya katakan tadi benar? Ibu Myung Soo segera menggelengkan kepalanya. Na Young dan Myung Soo tidak akan bisa bersama, mereka tidak akan pernah diijinkan untuk mencintai satu sama lain seperti seorang wanita dan lelaki lain mereka berbeda.

Na Young berjalan dengan langkah yang cepat menuju kamarnya, dia tahu Myung Soo mengejarnya dan sebuah tangan berhasil mencegahnya untuk masuk kedalam kamarnya. Na Young memutarkan tubuhnya dan dia melihat Myung Soo yang menatap kearahnya penuh dengan keseriusan, Na Young dengan kasarnya melepaskan gengaman Myung Soo dari lengannya.

“Apakah lucu membuat lelucon seperti itu?” Tanya Na Young dengan mata berkaca-kaca.

“Na Young-ah, aku hanya bercanda…kenapa kau marah?” Myung Soo memberi alasan namun Na Young kelihatannya tidak menerima alasan itu.

“Oh baiklah, lagipula semuanya seperti lelucon untukmu.”

Na Young berbalik menuju kamarnya namun Myung Soo mendorong sosok wanita itu pada tembok lorong rumah membuat wanita itu memekik terkejut. Tangan kuat Myung Soo menjebak tangan Na Young sehingga dia tidak bisa pergi kemanapun, Na Young mencoba berontak tetapi genggaman Myung Soo terlalu kuat untuk dia lepaskan.

“Apa yang kau lakukan?!” Na Young membentak.

“Aku tidak pernah menganggap kau lelucon Seo Na Young.” Myung Soo berkata penuh dengan keseriusan.

“Aku tidak peduli.” Na Young membalas.

Myung Soo menyentuh dagu Na Young sehingga dia menatap lurus kearah matanya, Myung Soo mendekat hendak mencium bibir gadis.

“Kau berani?” Ucap Na Young membuat Myung Soo menghentikan niatnya.

Na Young menatap tajam kearah lelaki itu membuat Myung Soo melepaskan sentuhannya dan menjauh dari Na Young. Nona muda itu akhirnya pergi dan masuk kedalam kamarnya meninggalkan Myung Soo yang tertunduk sedih, dia harap dia bisa mengatakan yang sejujurnya tentang perasaannya pada Na Young.

*****

Da Som melirik kearah ambang pintu kantornya, dia bisa melihat sosok Ho Won berdiri disana sambil menenteng sebuah bungkus makanan. Da Som biasanya menyambut lelaki itu dengan senyum manis dan pelukannya hangatnya, tetapi kali ini wanita itu hanya menatap kosong kearah Ho Won dan duduk dikursinya.

Ho Won yang melihat reaksi itu mendekat dan menyimpan makanan yang dia bawa dimeja Da Som, dia tahu wanita itu sedang tidak dalam mood yang baik. Da Som bahkan menghela nafasnya dan meniup-niup poni rambut coklat tuanya dengan kesal.

Melihat itu Ho Won tersenyum dan memutarkan kursi Da Som membuat wanita itu menghadap kearahnya, wajah Da Som begitu muram dan itu membuat Ho Won sedikit khawatir. Apakah wanita itu marah karena dia mengatakn jika dia dan Na Young akan menikah tadi siang? Da Som tidak merespon perkataannya tadi siang dan menutup telepon secara mendadak.

“Apakah kau marah karena aku memutuskan untuk menikah dengan Na Young?” tanya lelaki itu.

“Kau bilang kau hanya bermain-main dengan dia.” Da Som membalas.

“Da Som-ah, kau tahu posisiku bagaimana.”

Da Som tidak bisa berdebat lagi soal itu, dia tahu Ho Won dalam keadaan yang tidak baik sekarang mengingat kakak tirinya Sung Gyu akan dicalonkan sebagai pemimpin perusahaan ayahnya. Jika Ho Won tidak bertindak dengan cepat dan menempati tepat tinggi diperusahaan ayahnya kakak tirinya itu bisa dengan mudah menendang dia dan ibunya.

Keadaan keluarga Ho Won tidak pernah bagus Da Som mengetahui itu dari dulu, keluarga Ho Won terkadang seperti dua kubu yang memperebutkan satu istana. Ho Won kelihatan lelah dengan keadaan keluarganya ini namun dia sendiri tidak bisa kabur dari keadaan ini begitu saja mengingat ibunya memiliki obsesi yang besar dan pengharapan yang banyak terhadap anak tunggalnya ini.

“Apa kau lelah harus hidup seperti ini?” Da Som berdiri dari duduknya sambil membuka bungkus makanan yang Ho Won bawa penasaran dengan makanan yang lelaki itu beli.

“Kadang, tapi aku tidak punya tempat lain untuk berpaling.” Ho Won melipat tangannya dan menyandarkan tubuhnya pada meja kerja Da Som.

“Apakah menikah dengan Na Young adalah satu-satunya solusi?” Da Som melirik kembali kearah sahabatnya dengan tatapan sedih.

Ho Won hanya mengangguk, dia tidak memiliki solusi lain untuk mengamankan posisinya dalam perang dingin ini. Ayah sudah mengatakan jelas jika Ho Won tidak bertindak Sung Gyu akan mengusirnya dari perusahaan, Ho Won tahu kakak tirinya itu tidak pernah menyukai dia dan ibunya sejak pertamakali mereka bertemu.

Walapun begitu Ho Won tidak menyalahkan Sung Gyu karena jika dia ada ditempat Sung Gyu dia juga akan membenci dirinya dan ibunya, apalagi ibu Sung Gyu jatuh sakit setelah dia mengetahui jika suaminya berselingkuh dan memiliki anak dari wanita lain.

“Ho Won-ah,kau bisa bertahan tanpa menikah dengan Na Young…kau tahu ayahku cukup berpengaruh.” Da Som beralasan, menikah dengan Na Young bukanlah jawaban yang tepat untuk masalah ini meskipun memang efektif.

“Da Som-ah,kita berdua tahu sejauh mana pujian ayahmu akan sampai ditelinga para pemegang saham.”

Ho Won benar, jika mereka hanya mengandalkan pujian dari ayah Da Som semuanya tidak akan berhasil. Namun Da Som masih tidak rela karena sahabatnya sekarang harus menikah dengan musuh bebuyutannya, dia sudah tidak menyukai Na Young semenjak mereka masih kecil.

Na Young adalah benteng besar yang menghalangi Da Som dan dia harap dia bisa menghancurkan benteng itu. Dia sudah lelah menjadi nomor dua, dia ingin menjadi nomor satu sekarang.

“Jadi kapan kau akan mengumumkan pernikahanmu dengan Na Young?” Da Som bertanya lagi, walaupun sebenarnya dia tidak ingin membicarakan masalah ini.

“Aku akan melamarnya dihadapan semua orang besok, di pesta ulang tahunku.”

Mendengar itu Da Som terkejut, kenapa Ho Won ingin melamar wanita yang tidak dia cintai dihari ulang tahunnya? Da Som ingin menangis namun dia menutupinya dengan mengangguk.

“Kau sebaiknya tidak ditolak oleh dia.” Da Som berkata sebelum dia akhirnya mendekat kearah Ho Won dan memeluk lelaki itu dengan erat.

“Kau tak usah khawatir.” Ho Won tersenyum.

To Be Continue…

Don’t Forget The Comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

3 thoughts on “Whispering Love [Chapter 2]

  1. hadeh hadeh….
    Begitu rumit hidup mereka -_-
    status sosial, harta, kedudukan….
    Ckckck membuat kehidupannya nantang banget. Extrim😀

    seru dehh…
    Nantang banget ceritanya
    lanjut ya Thor🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s