Posted in FanFiction (semua umur)

Infinite Chances

Infinite Chances

Title:  Infinite Chances

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast : Leo [VIXX], Lee Yeon Ha [OC],  Hak Yeon/ N [VIXX], Hong Bin [VIXX]

Genre : Fantasy and Romance

Length : Oneshoot

Rating: PG 17

One Chance and Millions

Lee Yeon Ha, wanita berumur 20 tahun yang sedang berdiri di stasiun kereta api menunggu keretanya datang dengan resah namun senyum terulas di wajah cantik dan mudanya. Jaket hitamnya terasa hangat memeluk tubuh langsingnya, hari ini adalah hari tepat dimana dia genap berumur dua puluh tahun dan dia tersenyum mengingat janji manis kedua orangtuanya untuk merayakan ulangtahun nya dengan liburan ke luar negeri.

Sudah lama sekali Yeon Ha ingin pergi ke Amerika, dia ingin melihat betapa indahnya negara itu,membuktikan setiap rumor yang dia dengar tentang orang-orang Amerika. Dia ingin tahu segalanya karena begitulah Yeon Ha, selalu penasaran pada apapun yang menarik perhatiannya.

Saat keretanya sampai di stasiun dia langsung masuk, dia melirik kesekitar gerbong kereta api namun tidak ada banyak orang di gerbong kereta api itu sehingga dia akhirnya memilih duduk di bangku paling depan. Gerbong kereta sangat sepi sekali bahkan ketukan suara sepatunya terdengar saat dia meregangkan kakinya, aneh sekali Yeon Ha pikir dia pikir kereta api yang dia tumpangi tidak akan pernah kosong.

Setelah kuliah selama beberapa tahun di Seoul kereta api yang dia tumpangi selalu penuh. Yeon Ha tidak terlalu memikirkannya sehingga dia hanya menyandar pada jendela kereta api dan menatap kearah orang-orang yang sedang sibuk menunggu kereta mereka datang diluar, matanya menyebar kearah jajaran orang-orang yang menunggu sampai akhirnya sebuah sosok menarik perhatiannya.

Seorang lelaki, memakai pakain serba hitam dan dia tersenyum kearah Yeon Ha seakan lelaki itu mengenalnya sudah lama. Yeon Ha menatap balik kearah lelaki itu dan entah mengapa jantungnya berdetak kencang sekali, keringat dingin keluar dari pelipisnya dan dia segera memalingkan wajahnya dari jendela.

“Apa kursi ini kosong?”

Yeon Ha menarik nafasnya terkejut dan menatap kearah lelaki itu, bukankah lelaki itu adalah lelaki yang tadi dia lihat diluar? Mata hitamnya menatap lurus kearah Yeon Ha seakan dia menunggu jawaban wanita itu. Yeon Ha hanya bisa mengangguk dan menggeser sedikit kesamping meninggalkan tempat yang lebih luas untuk di duduki lelaki itu.

“Terimakasih, kau baik sekali Yeon Ha.”

Yeon Ha terkejut mendengar namanya keluar dari bibir lelaki itu, dia cukup yakin dia belum pernah menemui nya sebelum hari ini lalu darimana dia mengetahui namanya? Semua ini cukup mengejutkan bagi Yeon Ha.

“Kau mungkin terkejut dan bertanya-tanya kenapa aku tahu namamu, apa aku benar?”

Lelaki asing itu berucap, lidah Yeon Ha terasa beku walaupun dia ingin menjawab. Dia mencengkram pegangan tangan pada bangkunya, dia tidak suka lelaki ini, dia kelihatannya bukanlah lelaki normal yang biasa dia temui. Ataukah dia pasien rumah sakit jiwa yang kabur? Dia harus segera menelepon atau memanggil petugas keamanan.

“Aku tidak gila sayangku Yeon Ha,setidaknya tidak dalam konteks yang kau pikirkan.”

Seringai lelaki itu begitu jahat, Yeon Ha hanya ingin kabur dan berlari jauh dari lelaki ini sekarang namun sama seperti lidahnya kakinya pun seakan enggan untuk bergerak.

“Aku punya sesuatu untukmu.” Ucap lelaki itu.

Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya dan menunjukannya kearah Yeon Ha, Yeon Ha menatap tajam kearah lelaki itu penuh kecurigaan namun dia segera menghela nafasnya lega saat yang dia lihat ada ditelapak tangan lelaki itu adalah sebuah jam kecil berwarna emas dan terdapat ukiran-ukiran antik  pada samping jam kecil itu.

Tangan Yeon Ha segera menyentuh jam itu, kulit tangannya menyentuh dinginnya besi jam dan tiba-tiba saja segala yang ada disekitarnya berubah menjadi hitam. Yeon Ha menutup matanya berharap jika dia hanya bermimpi dan sekarang dia akan bangun dari tidurnya, Yeon Ha tidak yakin tetapi dia memutuskan untuk membuka matanya secara perlahan.

*****

“Mama!”

Tubuh Yeon Ha terdorong kebelakang saat seorang anak kecil memeluknya dengan erat, Yeon Ha kebingungan namun dia menyentuh kepala anak lelaki itu dan mengusapnya. Anak lelaki itu mendongak kearahnya dan menunjukan senyum lucunya, Yeon Ha tidak bisa menahan dan membalas senyum anak lelaki itu.

“Sayang, aku pulang!”

Suara lelaki terdengar dari lantai bawah diikuti dengan suara pintu yang di tutup, anak lelaki yang memeluknya langsung berlari menuju tangga yang berjarak tidak jauh darinya sambil berteriak memanggil ayahnya penuh antusias. Yeon Ha masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia berjalan mengikuti langkah anak lelaki tadi menuruni tangga dengan hati-hati.

Yeon Ha terkejut saat dia melihat sosok lelaki yang sekarang mengendong anak lelaki yang tadi memanggilnya mama, lelaki itu tinggi memiliki rambut hitam dan menggunakan jas formalnya. Dia melirik kebelakang mungkin menyadari kehadiran Yeon Ha, lelaki itu tersenyum lebar kearahnya dan menurunkan anak lelakinya.

“Kau sudah pulang rupanya, aku kira kau masih bekerja.”

Yeon Ha hanya terdiam, dia tidak mengerti dengan apa yang lelaki itu katakan dia hanya menatap kearah lelaki itu masih tidak percaya. Dia tidak percaya dengan wajah yang sekarang ada dihadapannya, semua ini seperti lelucon yang tidak lucu sama sekali bagaimana semua ini bisa terjadi? Yeon Ha ingin menjerit.

“Sayang, kau baik-baik saja? Apa kepalamu sakit lagi?”

Lee Hong Bin, Yeon Ha cukup yakin jika lelaki yang sekarang ada didepannya adalah Lee Hong Bin teman kuliahnya mereka bahkan masih saling bertegur sapa dengan canggung kemarin lalu kenapa sekarang dia menyapanya dengan panggilan sayang yang intim? Kenapa anak lelaki yang sekarang berdiri disamping Hong Bin memanggilnya dengan sebutan papa? Yeon Ha benar-benar terkejut.

“Pa, apa mama baik-baik saja?” Anak lelaki yang berdiri disamping Hong Bin menarik lengan baju lelaki itu.

“Iya Jun Ho,bermainlah dulu papa akan menyusul.” Hong Bin menjawab dengan lembut lalu Junho segera berlari menuju lantai atas.

Hong Bin menyentuh pipi Yeon Ha membuat Yeon Ha segera mundur beberapa langkah masih tidak percaya dengan apa yang dia alami dan lihat. Hong Bin menatap sedih kearah Yeon Ha, Yeon Ha tidak suka ini kenapa dia merasa dadanya sesak setiap dia melihat kearah Hong Bin.

“Yeon, ada apa denganmu? Apa kau marah padaku?” Mata Hong Bin menatap kearahnya khawatir.

“Aku…bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku tidak mengerti.” Yeon Ha bergumam dan langsung pergi kelantai atas mengabaikan panggilan Hong Bin.

Yeon Ha bisa melihat pajangan foto-foto dia dan Hong Bin di lantai atas, dia juga melihat foto-foto Jun Ho, dia melihat cermin yang ada di dinding dia segera berlari kearah cermin itu dan terkejut saat dia melihat bayangannya yang sangat berbeda dengan apa yang dia harapkan.  Rambutnya dipotong pendek dan wajah terlihat lebih dewasa dari sebelumnya, dijari manis kanannya dia melihat sebuah cinci emas melingkar dengan pas seakan cincin itu sudah lama terpasang pada jari manisnya.

Yeon Ha tidak percaya ini, dia harap semua ini hanya mimpi buruk dan dia akan segera bangun, dia menutup mata dan telinganya lalu menjerit dengan keras.

*****

“Bukankah kau seharusnya berterimakasih padaku.”

Yeon Ha membuka matanya saat dia mendengar suara lelaki tadi, Yeon Ha menyentuh wajahnya dan segera melirik kearah tangan kanannya dan dia merasa lega sekali saat dia melihat di jari manisnya tidak ada cincin apapun. Dia kembali ada di gerbong kereta api dan dia bisa merasakan kereta mulai berjalan dia melihat seorang petugas kereta api mulai memungut tiket dari para penumpang.

“Siapa kau?” Yeon Ha bertanya pada lelaki yang sekarang dengan santainya duduk disampingnya.

“Manusia biasanya memanggilku malaikat kematian, tapi aku lebih suka kau memanggilku dengan panggilan Sung Rok.”

Mendengar itu Yeon Ha ingin tertawa sekaligus menangis, dia ingin tertawa karena Sung Rok terlihat sangat percaya diri saat dia mengatakan bahawa dia malaikat kematian dan dia juga ingin menangis karena dia takut jika sekarang pikirannya mulai mempermainkannya menampilkan halusinasi yang kuat dan bahkan hampir nyata, apakah ini tandanya dia mulai gila?

“Sung Rok-shi, maaf tapi aku tidak cukup percaya jika kau adalah seorang malaikat kematin.”

“Apa yang aku tunjukan tadi tidak cukup untukmu?”

Yeon Ha tidak bisa menjawab apapun pada pertanyaan Sung Rok, dia hanya ingin tahu apa tujuan Sung Rok untuk mendatanginya hanya itu saja. Pikiran yang menyeramkan langsung terlintas di otaknya untuk sesaat, apakah dia akan meninggal? Apakah itu sebabnya Sung Rok mendatanginya untuk mengambil jiwanya?

“Aku akan memberikan hadiah untukmu Yeon Ha, aku berbaik hati hari ini.”

“Apa yang kau inginkan?!”

Yeon Ha membentak marah, dia tidak memiliki waktu untuk bermain dengan seorang malaikat kematian yang dia inginkan hanyalah kembali kerumah nya dan merayakan ulangtahunnya bersama kedua orangtuanya dan saudara-saudaranya seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sung Rok tidak mengatakan apapun saat dia mendengar bentakan Yeon Ha, dia malah menarik meja plastik lipat yang ada didepan kursi mereka dan mengeluarkan dua benda dari saku mantelnya. Benda yang pertama ada sebuah kalung berlian yang mewah dan sebuah bunga mawar.

“Kau bisa memilih salah satu dari kedua hadiah ini.” Sung Rok memberitahu, Yeon Ha tidak berani menyentuh kembali barang-barang yang Sung Rok keluarkan.

“Apa maksud dari semua barang ini.”

“Aku akan memberikanmu hadiah terindah Yeon Ha, aku tahu kau menginginkan sesuatu.” Sung Rok menyeringai kembali. “Aku harap kau memilih yang terbaik.” Ucapnya sebelum dia berdiri dari kursinya dan pergi entah kemana.

Yeon Ha mengigit bibirnya gugup, dia masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sung Rok. Segala hal tentang lelaki itu tidak masuk akal dari awal Yeon Ha pikir dia seharusnya tidak berharap jika lelaki itu akan memberikannya petunjuk saat dia kebingungan seperti orang pada biasanya.

Lelaki itu bahkan mengaku sebagai malaikat kematian, dia sudah jelas tidak normal. Namun saat Yeon Ha melirik kearah bunga mawar yang ada didepannya entah kenapa tangannya terasa begitu gatal untuk menyentuh bunga itu dan menghirup harumnya, bahkan dari kejauhan dia sudah bisa menebak jika bunga mawar itu harum sekali.

Yeon Ha mengutuk sifat segala ingin tahunya, dia ingin sekali mengurangi intensitas sifat itu pada dirinya namun pada akhirnya dia selalu kalah karena sekarang tangannya sudah mencapai bunga mawar itu dan menghirup harumnya.

*****

“Selamat pagi Yeon Ha-ku.”

Sebuah tangan menyentuh pinggangnya dan mengusapnya dengan lembut, mata Yeon Ha terbuka dan dia bisa melihat sosok lelaki yang tidur disampingnya. Yeon Ha tersenyum kearah lelaki itu walaupun dia tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba saja tersenyum, Lelaki itu mencium bibirnya sekilas dan bangkit dari posisi tidurnya.

“Selamat pagi juga.” Yeon Ha akhirnya membalas.

Cahaya matahari  yang masuk lewat jendela kaca dibelakang sosok lelaki itu menusuk mata Yeon Ha dia bahkan menyipitkan matanya untuk menghindari silaunya cahaya tersebut.  Saat dia akan bangun dari posisi terbaringnya dia baru sadar jika dia telanjang dibalik selimutnya, Lelaki yang tadi tidur bersamanya sudah pergi keluar dari kamar dan Yeon Ha sibuk mencari pakaiannya yang berserakan dilantai.

Aroma kopi tercium saat dia baru saja melangkahkan kakinya kedalam dapur, dia bisa melihat lelaki tadi sedang menyeduh dua gelas kopi. Yeon Ha akhirnya memutuskan untuk melihat kesekitar apartemen luas mereka, dia bisa melihat beberapa penghargaan musik dipajang dilemari kaca yang ada disamping televisi.

Foto dia dan lelaki yang tadi tidur bersamanya bertengger manis dimeja kecil tepat disamping telepon, Yeon Ha mengambil foto itu dan melihat tulisan tangannya disudut foto tersebut yang bertuliskan ‘Yeon Ha & Leo’ didalam foto itu dia kelihatan sangat senang sekali dan Leo mencium pipinya dengan mesra.

“Sampai kapan kau akan menatapi foto itu Yeon?”

Suara Leo membuat Yeon Ha terkejut dan melirik kebelakang, dia menemukan Leo membawa dua mug ditangannya. Dia memberikan mug yang berwarna merah pada Yeon Ha dan meneguk kopinya yang ada didalam mug hitam, Yeon Ha ingat dia selalu menyukai warna merah rasanya senang sekali memiliki orang yang mengingat detail kecil itu.

“Aku senang sekali kau akhirnya kembali padaku.”

Leo melingkarkan tangannya dipinggang Yeon Ha setelah dia menyimpan gelas mugnya, Yeon Ha hanya bisa membalas perkataan itu dengan senyum tipis. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tidak seperti Hong Bin tadi Yeon Ha benar-benar tidak mengenal siapa lelaki ini, dia tidak pernah bertemu dengan Leo sebelumnya jadi dia tidak bisa menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi antara dia dengan lelaki ini.

“Terimakasih sudah kembali, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu.”

Leo dengan mesranya mencium leher Yeon Ha, Yeon Ha merasa geli dan akhirnya terkikih menahan tawanya. Melihat reaksi itu Leo mengelitiki pinggangnya membuat Yeon Ha mencoba kabur dari pelukan lelaki itu dan dia berhasil, Yeon Ha berlari menuju kamar dan dengan semangatnya Leo mengejarnya membuat Yeon Ha memekik mencoba menghindari pelukan Leo.

Mereka berlarian sebentar Yeon Ha mencoba kabur dan Leo mencoba menangkap sampai akhirnya Leo menang dan dia mengangkat tubuh Yeon Ha dibahunya lalu memukul pantat Yeon Ha membuat Yeon Ha mengerang kesal namun akhirnya tertawa juga. Leo membaringkan Yeon Ha diranjang lalu dia berbaring disamping wanita itu, mengelus pipi Yeon Ha dan Yeon Ha mendekat menikmati sentuhan lembut Leo.

Saranghae Lee Yeon Ha, aku sangat mencintaimu… jangan pernah tinggalkan aku lagi.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan ada disini bersamamu.”

*****

Yeon  Ha membuka matanya, dia merenung sejenak berbeda dengan skenario yang tadi dia alami untuk skenario tadi dia merasa senang. Dia bahagia bersama Leo walaupun dia tidak tahu siapa lelaki itu sebenarnya, dia tidak pernah bertemu dengan Leo dan dia penasaran dimanakah mereka bertemu? Bagaimana bisa mereka terlibat dalam hubungan percintaan seperti tadi? Pertanyaan itu terus berputar-putar dipikiran Yeon Ha.

Takut, itulah yang Yeon Ha rasakan setelah dia sadar dari lamunannya. Dia takut jika semua ini hanyalah trik yang Sung Rok lakukan padanya, dia takut jika Sung Rok hanya memberikan harapan yang belum tentu akan terjadi padanya dan ini membuat Yeon Ha takut untuk menyentuh semua hadiah yang Sung Rok berikan.

“Nona, bisa tolong tunjukan tiket anda?” Petugas kereta api sudah ada didepannya sekarang menatapnya penuh tanya.

“Oh iya, tunggu sebentar.”

Yeon Ha mengambil tiketnya yang ada disaku jeansnya lalu memberikannya pada petugas kereta api, petugas kereta api itu melirik kearah meja plastik yang ada didepannya dan menunjukan ekspressi yang tidak senang.

“Nona saya harap anda membawa semua barang-barang itu, jika tidak silahkan buang ke tong sampah saat anda sampai tujuan.” Petugas itu mengingatkan dan Yeon Ha mengangguk sambil meminta maaf.

Semua skenario aneh ini membuat dia lupa pada aturan pertama didalam kereta api, dilarang membuah sampah sembarangan atau meninggalkan barang-barang pribadi. Yeon Ha akhirnya mengambil kalung dan bunga mawar yang ada dimeja plastik itu namun belum sempat dia menyimpannya kedalam tas sosok Sung Rok kembali dan duduk disampingnya.

“Ternyata kau memilih bunga mawar huh? Benar-benar pilihan yang tidak aku sangka.” Sung Rok berkata sambil melipatkan kakinya lalu menyandar pada kursi.

“Apa maksud dari semua ini Sung Rok-shi? Kenapa kau menunjukan pria-pria ini dan masa depan yang mungkin saja tidak aku miliki.”

Yeon Ha hanya ingin jawaban dan dia harap Sung Rok akan memberikan jawaban yang dia inginkan, bukanlah teka-teki yang dari tadi dia berikan padanya.

“Masa depan yang kau lihat mungkin tidak akan kau miliki, tapi aku memberikan kesempatan padamu Yeon Ha.” Jawab Sung Rok.

“Apa? Jadi aku ingin aku memilih masa depanku sekarang?”

“Kalau tidak sekarang kapan Yeon Ha? Satu tahun lagi? Atau mungkin tiga tahun? Aku tidak yakin kau akan punya waktu untuk permainan kecilku ini, saat itu kau sudah sibuk merancang masa depanmu sendiri.”

Yeon Ha benci mengakui jika Sung Rok benar namun dia tidak bisa membantah ucapan Sung Rok, dia tahu dirinya sendiri dengan baik. Dia seorang perancana yang cermat, dia tidak akan membiarkan takdir mengatur hidupnya, setidaknya dia membiarkan dirinya sendiri untuk mempercayai itu dia ingin menyusun hidupnya serapih mungkin sama seperti cara dia menyusun data-datanya didalam komputer.

“Yeon Ha, kau manusia kau tidak bisa mengatur segala hal yang akan terjadi pada kehidupanmu contohnya seperti ini.”

Tanpa Yeon Ha sadari Sung Rok sudah memasangkan kalung berlian yang tadi ada dimeja pada lehernya.

*****

Jalanan ramai sekali dan sepatu hak tinggi Yeon Ha mulai terasa menusuk telapak kakinya, dia rasa sebentar lagi kakinya akan kram sehingga dia memutuskan untuk duduk disalah satu bangku kosong yang ada di taman. Dia baru saja menyelesaikan interview pekerjaannya beberapa menit yang lalu, dia harap dia bisa lolos sampai babak akhir dan mulai bekerja diperusahaan Dae Guk seperti yang selalu dia harapkan.

Yeon Ha mengambil botol minuman dingin yang tadi dia beli sebelum interview dan meneguknya sampai setengah dari botol itu kosong, dia harus menghilangkan rasa hausnya dan beristirahat sejenak sepertinya pilihan yang bagus.

“Lee Yeon Ha!”

Panggilan itu membuat Yeon Ha melirik kearah sekitarnya dan dia akhirnya menemukan lelaki yang memakai jas abu-abu turun dari mobil sedannya dan berlari kearahnya, Yeon Ha terkejut saat dia mengenali lelaki itu. Lelaki yang berlari kearahnya adalah teman SMA nya, Cha Hak Yeon.

Dia tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan lelaki itu kembali apalagi sekarang Hak Yeon tiba-tiba saja memeluknya membuat dia terkejut. Yeon Ha akhirnya memeluk kembali Hak Yeon, dia tidak bisa berbohong jika dia juga senang bertemu dengan Hak Yeon kembali mereka adalah teman yang baik atau bisa dibilang lebih.

“Aku tidak menyangka akhirnya aku menemukanmu, aku kira..” Hak Yeon tidak menamatkan kalimatnya, lelaki itu hanya tersenyum dan menatap kearah wajah Yeon Ha. Yeon Ha yang penasaran hanya diam, menunggu perkataan Hak Yeon sampai selesai lelaki itu malah tersenyum lagi masih mencoba mengumpulkan nafasnya karena dia tadi berlari. “Ya tuhan, kau masih cantik seperti dulu.”

Mendengar ucapan itu Yeon Ha hanya tersenyum, Yeon Ha tahu jika dia adalah cinta pertama Hak Yeon. Hak Yeon mengatakan itu padanya saat mereka masih berkencan dulu, Yeon Ha tidak tahu jika Hak Yeon masih mencintainya seperti dulu namun rasanya canggung untuk kembali dekat dengannya setelah hampir lima tahun tidak bertemu.

“Wow..aku tidak tahu harus berkata apa, kemana saja kamu? Aku dengar kau masuk universitas terkenal.” Hak Yeon memulai percakapan.

“Kau berlebihan, tapi ya… aku masuk universitas yang cukup bagus.”

Mereka berdua tertawa, Hak Yeon kebetulan melihat map biru yang Yeon Ha bawa dia bisa melihat ijazah dan beberapa sertifikat dari celah map tersebut. Hak Yeon menyimpulkan jika Yeon Ha pasti sedang mencari pekerjaan dilihat dari pakaian formal yang dia kenakan Yeon Ha juga terlihat memakai make up lengkap mulai dari eyeshadow sampai lipstik.

“Apa kau sedang mencari pekerjaan? Aku kebetulan membutuhkan sekertaris pribadi.” Hak Yeon menawarkan dan Yeon Ha menatap kearah Hak Yeon tidak percaya.

“Benarkah? Dimana kau bekerja?”

“Dae Guk, aku yang menciptakan alat-alat elektronik dari perusahaan itu kau mungkin memakai handphone ciptaan aku juga sekarang.”

“Apa? Jangan bohong padaku Cha Hak Yeon!”

“Aku serius, datanglah ke Dae Guk besok dan jangan lupa berdandan.”

Hak Yeon memberikan kartu namanya pada Yeon Ha lalu pergi meninggalkan wanita itu masuk kedalam mobilnya. Yeon Ha masih terkejut saat dia melihat kartu nama Hak Yeon, dia masih tidak percaya ini dia harus berlari kerumahnya dan menyampaikan berita yang bagus ini pada orangtuanya.

*****

“Hi sayang, ini aku…maaf aku tidak bisa pulang malam ini aku dan Hyuk sibuk mengerjakan beberapa desain televisi dan kami harus menyelesaikannya sampai besok aku harap kau mengerti, love you.”

Yeon Ha menghela nafasnya saat dia mendengar pesan suara yang Hak Yeon tinggalkan beberapa menit yang lalu, dia duduk diranjang besar mereka dan meletakkan ponselnya dimeja kecil samping ranjang. Dia berjalan kearah meja cermin yang berjarak tidak jauh dari ranjangnya, Yeon Ha mulai melepaskan anting dan kalung berliannya lalu menyimpannya dalam kotak perhiasan yang sudah hampir penuh karena Hak Yeon selalu membelikannya perhiasan.

Semuanya sia-sia, dia berencana untuk mengejutkan Hak Yeon dengan makan malam yang sudah dia siapkan. Tapi sepertinya rencana itu gagal karena Hak Yeon lebih memilih diam dikantor dibandingkan pulang kepada istrinya.

Airmata Yeon Ha langsung menetes saat dia membersihkan make up yang dia pakai, tidak ada gunanya bagi dia untuk berdandan secantik dulu toh suaminya lebih suka bekerja dengan mesin dibandingkan bertemu dengan dia.Tidak ada gunanya lagi bersikap manis pada suaminya karena suaminya hanya akan ada dirumah untuk beberapa menit sebelum dia kembali sibuk diperusahaan. Yeon Ha menangis, dia sudah menangis seperti ini semenjak beberapa bulan yang lalu dia benci merasakan lemah dan tidak dibutuhkan seperti ini.

Dia marah dan kesal, dia akhirnya mengambil botol parfum mahalnya yang Hak Yeon belikan untuknya sebagai hadiah ulang tahun beberapa bulan yang lalu. Yeon Ha menatap kearah botol parfum itu dan melemparkan botol itu kelantai membuat botol parfum itu pecah berkeping-keping.

“Arggghhh!!!”

Yeon Ha menjerit dan mengacak-ngacak semua make up yang ada dimeja cerminnya. Amarahnya masih tidak hilang juga setelah dia menghancurkan hampir semua make up nya, dia lalu berdiri dan berlari menuju ruang makan dimana dia sudah menyiapkan makanan kesukaan Hak Yeon dengan kasarnya dia memecahkan piring-piring yang masih berisi makanan lalu dia mengacak-ngacak makanan yang ada dimeja makan tersebut menjerit seperti orang yang kesakitan.

Yeon Ha menarik rambutnya sendiri, masih menangis dan menendang kursi yang ada diruang makan sehingga kursi itu terjungkir kelantai. Yeon Ha akhirnya merasa lelah dan badannya ambruk kelantai, dia memeluk kedua kakinya masih menangis tersedu-sedu.

Dia benci merasakan kesendirian, dia merasa hidup sendirian bagaikan burung yang ada didalam sangkar emas. Dia kehilangan suaminya, suaminya yang mencintai dia sekarang dia hanya tidur bersama orang asing yang dia sebut suaminya bukanlah Cha Hak Yeon yang dia cintai atau setidaknya pernah dia cintai.

“Apa kau masih mencintaiku?”

“Tentu saja, Yeon Ha…aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Yeon Ha hanya mendengus kesal, mudah sekali Hak Yeon menjawab seperti itu setelah dia bekerja tanpa hentinya diperusahaan dan hanya pulang saat akhir minggu saja. Hak Yeon yang terlalu lelah tidak memiliki waktu untuk makan malam bersamanya dan memutuskan untuk mandi lalu tidur seperti yang biasa dia lakukan namun malam ini entah kenapa Hak Yeon tidak bisa menutup matanya, dia memutuskan untuk menatap kearah Yeon Ha istrinya yang sedang sibuk memakai krim kecantikannya.

“Bagaimana proyekmu? Apa sudah beres?”

“Ya, Dae Guk akan meluncurkan produkku dan Hyuk bulan depan.”

Yeon Ha menggengam botol krimnya lebih erat, dia tahu jika produk Hak Yeon akan dilucurkan itu artinya akan ada banyak promosi dan jika ada promosi itu artnya dia dan Hak Yeon harus menghadiri beberapa acara resmi seperti beberapa tahun yang lalu saat mereka baru saja menikah.

Terkadang Yeon Ha merasa mereka lebih seperti partner kerja dibandingkan suami istri, tentu saja Hak Yeon masih memberikan hadiah-hadiah mewah bahkan Hak Yeon tidak ragu untuk memberikan black card padanya dan membiarkan dia membeli apapun yang dia inginkan dengan kartu itu. Sayangnya, Yeon Ha tidak butuh semua kemewahan itu dia hanya ingin suaminya kembali pada pelukannya seperti saat mereka pertamakali menikah.

“Oh iya, untuk promosi tahun ini Dae Guk akan menyewa Leo sebagai model iklan produkku, aku tahu kau suka dia bukan? Kau bisa meminta tanda tangannya nanti saat acara peluncuran karena dia akan datang.”

“Oh baiklah.”

Yeon Ha tidak terlalu tertarik, mungkin jika dia mengatakan ini beberapa tahun yang lalu Yeon Ha akan senang sekali namun untuk sekarang dia tidak memiliki ketertarikan apapun. Dia hanya berpura-pura untuk hidup padahal kenyataannya dia merasa mati.

****

Suara musik menganggu tidur Yeon Ha dia mengerang dan menyentuh punggung Hak Yeon berharap suaminya menghentikan suara musik itu namun Hak Yeon tidak juga bergeming. Dia menguncangkan punggung suaminya beberapa kali namun tidak ada respon sampai akhirnya dia memaksa untuk membuka matanya dan berkata.

“Hak Yeon bisakah kau matikan musik itu?”

“Sayang, siapa Hak Yeon?”

Yeon Ha langsung membuka matanya dan dia terkejut mendapati bahwa Hong Bin-lah yang tidur disampingnya, Hong Bin menatap curiga kearahnya dan Yeon Ha segera bangun dari posisi tidurnya. Semua ini sangat membingungkan, dia mengusap kepalanya, suara musik yang dia dengar benar-benar sangat menganggu sampai akhirnya Hong Bin mematikan jam alarm radio yang ada meja sampingnya.

Sepasang tangan menyentuh bahunya dan Yeon Ha menyentuh salah satu tangan Hong Bin, taklama kemudian Hong Bin memeluk Yeon Ha dari belakang dan mencium pipinya dengan lembut.

“Bagaimana sakit kepalamu? Apa sudah mendingan?” Hong Bin bertanya, dia ingat terakhir kali mereka bertemu Hong Bin menanyakan jika kepalanya sakit. Yeon Ha mengelengkan kepalanya dan berdiri dari ranjangnya, entah apa yang menuntunnya dia tiba-tiba saja keluar dari kamarnya pergi menuju kamar yang ada diujung lorong rumahnya.

Yeon Ha membuka pintu kamar itu dan menemukan Jun Ho anaknya tertidur pulas, dia menghampiri ranjang anaknya dan mengelus pipi anak lelakinya itu. Jun Ho terbangun karena sentuhannya dan anak lelaki itu langsung memeluk Yeon Ha. Yeon Ha tersenyum dan memeluk erat kembali Jun Ho, sesuatu yang basah menyentuh kulit punggung Yeon Ha dan Yeon Ha melepaskan pelukannya dari Jun Ho.

“Mama, orang-orang bilang kau sakit apa itu benar?”

Jun Ho menangis, anak lelakinya menangis.

“Jun Ho-ya…”

“Mama tidak boleh sakit, aku janji jika mama sembuh aku akan menjadi anak yang baik. Aku akan melipat semua pakaianku, aku akan tidur tepat waktu dan makan yang banyak seperti yang Papa katakan.”

Yeon Ha hanya terseyum dia menahan airmatanya, Jun Ho begitu lucu dan tampan dia pasti akan melakukan banyak hal yang mengagumkan saat dia besar nanti. Hatinya hancur melihat anak satu-satunya menangis seperti ini sebenarnya apa yang sedang dia alami sehingga Jun Ho mengatakan kalau dia sakit? Yeon Ha tidak tahu namun dia mencoba tenang dan dia mengantar Jun Ho kekamar mandi untuk bersiap pergi kesekolah.

Seperti keluarga pada biasanya mereka memakan sarapan pagi bersama, untuk pertamakalinya dalam seminggu ini Yeon Ha keluar dari kamarnya dan dia merasa sedikit lebih baik daripada kemarin. Dia mengantarkan Hong Bin dan Jun Ho sampai pintu depan dan mencium anak dan suaminya dengan mesra sebelum mereka pergi.

Setelah suami dan anaknya pergi Yeon Ha masuk kedalam kamarnya dan membuka laci meja cerminya, dia menemukan selembar foto Hak Yeon dan mengambilnya. Dia membelai foto lelaki itu menahan tangis yang mengancam keluar, dia menatap kearah foto itu penuh dengan kesedihan dan memeluk foto itu.

Dia menyesal, menyesal untuk meninggalkan Hak Yeon hanya untuk membuat ibunya bahagia. Dia merasa begitu bodoh, bagaimana mungkin dia menyerahkan cintanya begitu saja hanya untuk kebahagiaan orang lain? Apa yang dia pikirkan saat dia mengatakan iya pada lamaran Hong Bin?  Yeon Ha memukul kepalanya merasa marah pada dirinya sendiri.

Dia menangis, dia ingin menjerit dan kabur dari kenyataan ini. Dia tidak ingin menjalani hidup ini lagi dia benci pada dirinya sendiri dan benci pada rantai yang mengikatnya sekarang, dia ingin bebas seperti dulu melakukan apapun yang dia inginkan dan pergi bersama Hak Yeon dia ingin semuanya seperti dulu.

Kenyataan yang dia miliki sekarang bukanlah yang dia inginkan, dia menikahi lelaki yang tidak dia cintai dan menjadi seorang ibu dari anak lelaki yang berumur enam tahun  baru saja keluar dari pekerjaan nya sebagai guru sekolah dasar. Dia tidak ingin menjalani hidup yang membosankan ini, dia mempunyai mimpi yang besar dan cinta sejati yang menemaninya bagaimana dia bisa berakhir disini? Dia benci harus menjawab pertanyaan itu karena semuanya adalah hasil dari pilihan bodohnya.

Sore hari tiba dan Yeon Ha mendengar suara pintu dibuka, langkah kaki kecil terdengar mendekat kearahnya dan suara Hong Bin juga Jun Ho terdengar memecahkan keheningan rumah. Jun Ho membuka pintu kamar Yeon Ha dan terdiam saat anak lelaki itu melihat ibunya berbaring lemas ditempat tidur mengabaikan keberadaannya.

“Sayang, kami pulang.” Hong Bin mengumumkan keberadaannya dengan riang namun ekspressinya berubah saat dia melihat apa yang Jun Ho lihat. Ekspressi Hong Bin menunjukan kesedihan yang mendalam, dia menghela nafasnya namun mencoba untuk terlihat baik-baik saja saat anaknya Jun Ho menatap balik kearahnya dengan ekspressi yang sama.

“Mama mungkin lelah Jun Ho, bermainlah kerumah Jae Hwan ok? Aku akan menjemputmu.”

Jun Ho mengangguk lemah sebelum akhirnya melirik sekilas kearah ibunya dan pergi menuju rumah Jae Hwan. Hong Bin menutup pintu kamar mereka dan duduk disamping Yeon Ha yang berbaring masih menangis, Hong Bin menatapnya dan menyelipkan rambut coklat Yeon Ha ketelinga wanita itu.

“Apa kau mencintaiku?”

“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Yeon Ha menangis mendengar itu, Hong Bin menghapus airmata Yeon Ha dan tersenyum manis kearah nya membuat hati Yeon Ha lebih sakit. Apa sebenarnya yang dia rencanakan tadi? Dia baru saja berpikir untuk meninggalkan Hong Bin, dia benar-benar akan meninggalkan Hong Bin dan Jun Ho.

“Kau tidak boleh mencintaiku Hong Bin.”

“Tapi aku sudah mencintaimu, semenjak kita masih kuliah..aku selalu menyukaimu Yeon Ha.”

“Jika kau bersamaku, kau tidak akan bahagia Hong Bin lihat aku!”

Yeon Ha bangun dari posisi terbaringnya, mata Hong Bin menatap sejenak kearahnya sampai akhirnya lelaki itu menggelengkan kepalanya. Dia mencapai wajah istrinya dan dengan lembutnya dia elus pipi Yeon Ha, dia selalu memperlakukan Yeon Ha dengan baik dan lembut seperti Yeon Ha adalah kristal yang rapuh dan bisa pecah kapan saja.

“Kau cantik, masih cantik seperti dulu.”

“Aku berantakan Hong Bin,aku bukan Yeon Ha yang kau cintai…lihat aku! Aku begitu jelek.”

Hong Bin langsung memeluk Yeon Ha, dia memeluk wanita itu dengan erat walaupun Yeon Ha memberontak dan mencoba lepas dari pelukannya. Dia tahu istrinya tidak bahagia karena sesuatu dan dia tahu jelas apa itu, dia hanya membodohi dirinya agar Yeon Ha tidak pernah bisa mengungkitnya dia tidak ingin kehilangan Yeon Ha dia mencintai wanita itu untuk waktu yang lama dan perasaannya tidak akan pernah berubah bagaimanapun keadaan istrinya.

“Aku tidak pantas menikah denganmu Hong Bin, kau terlalu baik.”

Yeon Ha berkata ditengah tangis histerisnya, Hong Bin hanya dapat mengelus punggung istrinya sampai akhirnya beberapa menit berlalu dan Yeon Ha terlalu lelah untuk menangis. Hong Bin menidurkannya diranjang memeluknya dengan hangat Hong Bin menatap kearah wajah istrinya penuh cinta mereka saling menatap kearah satu sama lain untuk beberapa saat.

Hong Bin mendekat dan mencium bibir Yeon Ha penuh dengan hasrat, segalanya selalu terasa seperti pertamakalinya bersama Hong Bin. Hong Bin selalu lembut dan baik hati padanya berbeda sekali dengan Hak Yeon, Cha Hak Yeon yang meninggalkannya dengan hati yang terluka dan janji palsu yang menghantui.

“Tidurlah..” Bisik Hong Bin pelan, Yeon Ha tersenyum tipis dan menyentuh bibir Hong Bin entah berapa kali dia mencium bibir itu jantungnya tidak pernah berdetak cepat, temperatur tubuhnya masih sama dia tidak pernah merasakan kegugupan yang dia rasakan bersama Hak Yeon.

Entah sudah berapa kali Yeon Ha berharap jika dia akan jatuh cinta pada Hong Bin seperti dia jatuh cinta pada Hak Yeon, dia ingin mencintai lelaki ini dengan hasrat seperti dia mencintai Hak Yeon. Betapa indahnya itu Yeon Ha berpikir, hidupnya akan tentram jika dia jatuh cinta pada Hong Bin betapa tenangnya…

*****

Suara riuh para penggemar yang menonton Leo bernyanyi terkadang membuat Yeon Ha kesal, dia bahkan mendengar ucapan-ucapan pujian para fans tentang kekasihnya. Diantara mereka ada yang merencanakan untuk mengajak Leo berkencan namun Yeon Ha hanya bisa tertawa dalam batinnya, meminta maaf pada para gadis itu jika Leo sudah menjadi miliknya sekarang.

Pandangan Yeon Ha sekarang tidak lagi tertuju pada fans Leo namun kearah penyanyi terkenal itu, dia tersenyum saat dia melihat tangan Leo menunjuk kearahnya dan semua gadis yang ada dijajaran kursinya berteriak histeris menyangka jika idola mereka menunjuk kearahnya. Semua wanita bisa berfantasi soal Leo namun Yeon Ha bisa merasakan yang sebenarnya, Yeon Ha hanya menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya kearah Leo.

Beberapa lagu sudah Leo nyanyikan dan dia berpamitan kepada seluruh fansnya karena konsernya hari ini sudah selesai,semua fans yang menonton keluar dari gedung konser namun Yeon Ha segera berlari menuju belakang panggung. Semua staff yang bekerja bersama Leo tahu jika dia kekasihnya sehingga dia dijinkan untuk masuk kekamar ganti Leo dan menyambut superstar itu dengan sebotol minuman dengan handuk untuk menyeka semua keringatnya.

“Hallo superstar, kau tampil luar biasa tadi.”

Yeon Ha menyambut saat sosok Leo masuk keruangan ganti, lelaki itu tersenyum dan mengambil botol minuman dingin yang Yeon Ha tawarkan dan meninumnya. Yeon Ha membantu Leo untuk menyeka keringat yang membasahi sebagain wajah dan lehernya, Leo sangat energetik sekali saat dipanggung dia pasti lelah.

“Apa kau suka lagu baru yang aku nyanyikan tadi?”

“Yang mana? Aku suka semua lagumu, bahkan aku memasangnya untuk nada dering ponselku.”

Leo menyeringai dan menarik Yeon Ha dalam pelukannya, Yeon Ha sedikit terkejut namun dia merasa tenang dalam pelukan Leo. Dia mengelap dahi Leo yang masih basah karena keringat namun Leo malah merebut handuk yang dia pegang dan melemparkannya entah kemana, Yeon Ha menatap kesal kearah Leo dia selalu melakukan apapun yang dia inginkan Yeon Ha mengomel dalam batin.

“Aku ingin berhenti menjadi penyanyi, aku ingin menikah denganmu.”

Mata Yeon Ha melebar seketika saat mendengar ungkapan itu, dia ingin berjingkrak-jingkrak penuh kebahagiaan namun dia juga takut jika Leo hanya bercanda. Yeon Ha melepaskan pelukan Leo membuat Leo merasa sedih, dia berpikir jika Yeon Ha akan menolak lamarannya.

“Apa kau yakin? Kau tidak bercandakan?”

“Yeon! Aku mencintaimu,bagaimana bisa aku bercanda soal ini?!”

Yeon Ha mengigit bibirnya cemas, jika ini benar apakah Leo akan melamarnya? Akankah lelaki itu menikahinya seperti yang dia impikan? Yeon Ha harap semua jawaban untuk pertanyaan itu adala iya. Kedua tangan Leo menyentuh pundaknya dan lelaki itu akhirnya memutarkan tubuh Yeon Ha, Leo berlutut didepannya sambil menunjukan sebuah cincin kearahnya.

“Lee Yeon Ha, maukah kau menikah denganku?”

Yeon Ha tidak bisa menahan airmatanya dan dia langsung menangis membuat Leo sedikit khawatir, apakah kekasihnya itu menangis karena bahagia atau sedih? Leo hendak bertanya namun sebelum dia sempat mengatakan apapun Yeon Ha mengambil cicin yang ada ditangannya.

“Ya, aku akan menikah denganmu Leo.”

Mendengar itu Leo langsung berdiri dan memasangkan cincinnya di jari manis Yeon Ha, mereka berdua tersenyum sebelum akhirnya berciuman. Bibir hangat Leo menyentuh bibirnya dan untuk sekejap Yeon Ha ingin waktu berhenti sehingga mereka bisa seperti ini dalam keabadian namun Yeon Ha tahu ada satu hal yang paling dia ingin lihat selain ini yaitu  pernikahan mereka.

Setelah konser selesai dan Leo berganti baju Yeon Ha dan Leo memutuskan untuk pulang, mereka ingin makan bulgogi kesukaan Yeon Ha yang kebetulan berjarak tidak jauh dari gedung konser. Leo seperti biasa harus memakai topi dan kacamata hitamnya dan berharap orang-orang yang ada diluar gedung konsernya tidak mengenalinya, lagipula dia sudah terbiasa dengan penyamaran dia tidak terlalu canggung.

Yeon Ha melakukan hal yang sama namun dia hanya memakai kacamata saja, dia tidak terkenal seperti Leo identitasnya tidak terlalu mencolok. Mereka berdua ditawari oleh kendaraan oleh manager Leo namun Yeon Ha kukuh ingin berjalan kaki karena udara malam cukup bagus malam itu dan dia ingin menghirup udara segar.

Leo memutuskan untuk menuruti keinginan kekasihnya itu dan berjalan keluar dari gedung konser lewat pintu belakang, mereka bergandengan tangan dan mengobrol tentang beberapa hal. Perjalanan menuju restoran bulgogi tidak terlalu jauh namun terkadang Yeon Ha merasa was-was saat dia berjalan bersama Leo.

Dia takut jika seseorang mengenali kekasihnya dan mulai mengambil foto mereka namun sepertinya jalanan sepi dan Yeon Ha merasa sedikit lega. Saat mereka akhirnya hampir sampai direstoran bulgogi mereka bertemu seorang wanita yang berdiri didepan mereka, wanita itu memakai jaket dan masker wajah membuat Yeon Ha dan Leo sedikit curiga.

“Leo, aku tahu itu kau.”

Yeon Ha dan Leo langsung terdiam saat dia mendengar wanita itu berkata. Leo menatap kearah wanita itu mencoba untuk mengenalinya namun sepertinya mereka belum pernah bertemu, melihat tatapan wanita itu entah kenapa Yeon Ha merasa sesuatu tidak beres dan jantungnya berdetak kencang.

“Oh..aku kira tidak akan ada yang mengenaliku dengan memakai kacamata dan topi ini, apa kau fans juga?”

Wanita itu hanya mendengus mendengar pertanyaan Leo, itu bukanlah respon yang bagus jika dia seorang fans dia pasti sudah sibuk meminta foto dan tanda tangan Leo seperti fans lainnya yang sering Leo temui.

“Sayang sekali, sekarang aku lebih benci kau dibandingkan suka.”

Wanita itu mengambil sesuatu dari sakunya, mata Yeon Ha melebar saat dia melihat bahwa pistol-lah yang wanita itu todongkan sekarang. Leo dan Yeon Ha langsung mundur beberapa langkah, orang-orang yang ada didalam restoran terkejut saat mereka melihat pistol yang wanita itu bawa.

“Kenapa Leo? Kau bilang kau tidak punya pacar, kau bilang kau tidak akan berhenti menyanyi! Apa yang terjadi pada perkataan mu?!”

Yeon Ha menarik Leo agar menjauh dari wanita itu namun Leo tetap berdiri ditempatnya, dia menatap kearah wanita itu penuh rasa bersalah. Perkataan wanita itu benar, dulu seluruh hidupnya dia abdikan pada menyanyi namun setelah dia bertemu dengan Yeon Ha rasanya tidak ada yang penting selain wanita itu.

“Tenang dulu nona, aku akan menjelaskannya padamu jadi aku mohon…” Leo mencoba membujuk namun wanita itu menangis dan menggelengkan kepalanya sampai akhirnya tatapannya bertemu dengan sosok Yeon Ha yang berdiri disamping Leo. Wanita itu melotot kearahnya dan akhirnya menodongkan pistolnya kearah Yeon Ha, Leo yang melihat itu segera melindungi Yeon Ha.

“Apa dia pacarmu? Jadi rumor itu benar? Kau punya pacar?!”

“Nona, ini masalah antara kita sebaiknya kita membahasnya berdua.”

Wanita itu malah mencengkram pistolnya lebih erat sambil tertawa sinis, dia kelihatannya benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia tertawa dan terus tertawa membuat Leo dan Yeon Ha semakin takut, mereka tidak tahu harus berbuat apa begitu juga dengan orang-orang yang ada direstoran.

Wanita itu menodongkan pistolnya kearah orang-orang yang ada di dalam restoran membuat mereka ketakutan juga, dia lalu mengancam membunuh siapapun yang berani menghubungi polisi membuat semua orang di restoran khawatir pada nyawa Leo dan Yeon Ha yang jelas-jelas bisa melayang kapan saja jika wanita itu menarik pelatuk pistolnya.

“Katakan padaku Leo! Kenapa? Kenapa kau berbohong?!

“Nona kita bisa membahas ini, bisakah kau letakan pistol itu terlebih dahulu?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya dan dia mulai menangis, tangannya gemetaran masih menodongkan pistolnya pada Yeon Ha.

“Aku tidak akan pergi sebelum aku membunuh wanita itu, Leo sebaiknya kau pergi sekarang.” Wanita itu mengancam.

“Nona aku mohon, lepaskan dulu pistolmu kita bisa membahas ini baik-baik!”

Wanita itu menggelengkan kepalanya dan akhirnya menebakkan peluru yang ada dipistolnya, Yeon Ha yang melihat itu mendorong Leo kesampingnya sehingga peluru dari pistol wanita itu menembak dadanya. Semua orang berteriak saat melihat itu, mata Leo melebar saat dia melihat darah muncul dari dada Yeon Ha dan wanita itu akhirnya ambruk dari posisinya namun Leo cukup cepat untuk menangkapnya.

Suara sirine mobil polisi terdengar dan wanita itu langsung dikepung oleh polisi, beberapa petugas paramedis datang dan mencoba menolong Yeon Ha. Yeon Ha masih sadar saat itu walaupun dia tidak bisa melihat jelas wajah-wajah yang mengerumuninya dia hanya bisa mendengar suara Leo yang menyuruhnya untuk tetap sadar.

Tangan Leo menekan lukanya mencegah perdarahan namun cepat atau lambat kesadaran Yeon Ha mulai hilang dan hal terakhir yang dia dengar hanyalah suara tangis Leo.

*****

Hak Yeon tidak  berbohong saat dia mengatakan jika Leo akan ada di acara peluncuran produk elektroniknya. Penyanyi itu terlihat sangat rapih dengan baju tuxedonya dan rambut hitamnya disisir kebelakang membuat dia terlihat lebih gagah dari biasanya, dia tidak terlalu banyak bicara namun ini kesekian kalinya tatapan Yeon Ha bertemu dengan tatapan penyanyi itu.

Yeon Ha bisa merasakan tatapan tajam Leo tidak meninggalkan sosoknya saat dia mengobrol bersama beberapa rekan kerja suaminya namun dia mencoba mengabaikannya. Lagipula tidak ada gunanya memulai percakapan dengan penyanyi itu, Hak Yeon suaminya menyuruhnya untuk menyapa istri pemilik perusahaan Dae Guk dan seperti biasanya Yeon Ha memasangkan senyum palsunya yang paling manis saat dia melihat sosok wanita paruh baya berdiri disamping tuan Oh Sehun pemilik dari perusahaan Dae Guk.

“Senang bertemu dengan anda Nyonya Oh.” Yeon Ha menunduk sekilas menunjukan rasa hormatnya, walaupun sebenarnya itu palsu.

“Ah..Nyonya Cha, ternyata Hak Yeon tidak bohong saat dia mengatakan jika kau cantik.”

Istri tuan Oh Se Hun menyapa dan Yeon Ha hanya tersenyum manis kearahnya dia melirik kearah Hak Yeon yang sudah sibuk berbincang dengan tuan Oh tentang proyek-proyeknya yang selalu sukses. Yeon Ha ditinggalkan bersama istrinya, dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini setidaknya dia harus meninggalkan kesan yang baik untuk nyonya Oh.

“Aku dengar kau lulusan universitas Seoul apa itu benar?”

“Iya nyonya Oh, anda benar.”

“Wah..kau pasti sangat pintar.”

Yeon Ha hanya tersenyum dan dia terdiam sejenak saat tatapannya kembali bertemu dengan Leo, Leo mengacungkan gelas Champange nya kearah Yeon Ha seakan lelaki itu menyuruhnya untuk menikmati pesta. Yeon Ha hanya bisa tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali mengobrol dengan istri tuan Oh Se Hun, semua orang dipesta kelihatannya hanya tertarik pada bisnis seperti apa yang Yeon Ha kira karena pertanya-pertanyaan nyonya Oh berhubungan dengan bisnis anatara suaminya dan Oh Se Hun.

Setelah bercakap-cakap dengan banyak orang Yeon Ha akhirnya kelelahan, dia akhirnya memilih untuk keluar dari aula pesta dan pergi menuju taman yang ada diluar. Dia duduk disalah satu bangku taman yang kosong, dia menghela nafasnya mencoba untuk menenangkan diri dia merasa sedikit pusing mendengar percakapan diantara para tamu yang tidak pernah berhenti.

“Apa yang wanita cantik seperti anda lakukan disini?”

Mendengar pertanyaan itu Yeon Ha terkejut dan membalikan tubuhnya kebelakang, dia menemukan sosok Leo berdiri tidak jauh darinya. Lelaki itu tersenyum kearahnya lalu menyodorkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya dengan sopan, Yeon Ha tersenyum dan akhirnya menjabat tangannya juga.

“Aku tahu siapa kau.”

Leo kelihatan terkejut saat dia mendengar ucapan Yeon Ha, dia kira wanita sibuk seperti Yeon Ha tidak akan tahu nama seorang selebriti seperti dia lagipula dia lebih populer diantara gadis-gadis SMA dibandingkan wanita dewasa.

“Wow, aku tersanjung mendengar wanita sibuk seperti anda mengenalku.”

“Kau lebih terkenal dari yang kau kira tuan Leo.”

“Aku harap begitu, senang bertemu dengan anda nyonya Cha Yeon Ha.”

“Senang bertemu dengan anda juga tuan Leo.”

*****

Yeon Ha membuka matanya dan dia bisa melihat beberapa orang muulai berdiri dari kursi mereka, kereta yang dia tumpangi sudah berhenti. Dia sekarang sudah ada distasiun Busan kampung halamannya. Dia melirik kesamping dan masih menemukan Sung Rok duduk disampingnya lelaki itu memainkan sebuah dadu, Yeon Ha merasa aneh karena Sung Rok tidak kunjung berdiri.

“Apakah kau akan turun dari kereta?”

“Yeon Ha, apa kau sudah memutuskan untuk memilih siapa?”

Yeon Ha menghela nafasnya berat, dia tidak bisa memilih begitu saja. Masa depan yang dia lihat bukanlah masa depan yang dia inginkan, dia tidak ingin menjalani hidup seperti yang sudah dia jalani tadi. Dia tidak ingin memilih jalan yang gelap dan penuh kesedihan, dia hanya ingin bahagia walaupun itu sulit dia akan mencobanya.

“Aku tidak bisa memilih,aku benci untuk menghilangkan kesempatan yang mungkin aku dapatkan di dunia ini Sung Rok-shi.”

Sung Rok menyeringai, dia akhirnya berdiri dari kursinya dan membiarkan Yeon Ha untuk lewat, Yeon Ha tersenyum kearah Sung Rok sebelum akhirnya dia berlari menuju pintu keluar kereta api namun sebelum dia sempat melangkah keluar Sung Rok memanggil namanya membuat dia menghentikan langkahnya.

“Yeon Ha, semua ini tidak nyata kau sedang koma dan kau butuh untuk bangun sekarang.”

Ucapan Sung Rok membuat Yeon Ha terkejut dan dia bisa merasakan tanah yang dia injak bergetar dan bangunan stasiun kereta api langsung rubuh membuat orang-orang yang baru keluar dari kereta api menjerit mencari pertolongan. Yeon Ha mengenggam ambang pintu gerbong kereta dan kembali masuk kedalam kereta sebelum akhirnya dia terdorong oleh orang-orang yang mencoba keluar.

Yeon Ha terjatuh dia segera berdiri menghindari tanah yang terbelah, dia bisa mendengar semua orang berteriak histeris dan Yeon Ha menutup matanya saat dia melihat sebuah papan iklan akan menimpanya dia berharap apa yang dikatakan oleh Sung Rok benar jika semua ini tidak nyata dan dia hanya koma.

*****

“Yeon Ha…Lee Yeon Ha..”

Mendengar namanya dipanggil Yeon Ha membuka matanya, dia menemukan sosok Sung Rok didepannya namun untuk sekarang entah kenapa ttapan Sung Rok tidak terlihat jahat atau licik. Dia terlihat sangat baik dan lembut, Sung Rok tersenyum kearahnya saat akhirnya dia membuka matanya sepenuhnya.

Yeon Ha melirik kearah samping Sung Rok dan dia menemukan sosok kedua orangtuanya dan adiknya Yeon Hee, ibunya menangis saat dia melihat Yeon Ha dan langsung mendekat kearahnya mengelus kepala wanita itu dengan lembut.

“Keadaan Yeon Ha sudah lebih stabil sekarang, karena Yeon Ha sudah sadar saya cukup yakin penyembuhannya tidak akan memakan waktu lama.”

Sung Rok berkata pada ayahnya, lelaki itu melirik sekilas kearahnya dan Yeon Ha terkejut saat dia sadar jika lelaki itu memakai pakain dokter lengkap dengan id card yang menggantung disaku jas putihnya.

“Yeon Ha-shi, lainkali berhati-hatilah dalam menyetir.” Sung Rok berkata sebelum akhirnya dia meninggalkan Yeon Ha dengan keluarganya.

Eonnie! Kau tahu betapa aku dan Eomma khawatir?! Kau hampir membunuh dirimu sendiri kau tahu itu?! Tapi aku senang kau akhirny sadar.” Yeon Hee memeluknya, walaupun Yeon Ha kebingungan dia memeluk kembali adiknya.

“Apa kau ingin minum?”

Ibunya menawarkan segelas air putih kepadanya, dia mengangguk dan meminum air putih yang ibunya tawarkan saat dia sedang meminum airputihnya dia tiba-tiba saja tersedak saat dia melihat sosok Leo masuk kedalam ruangan.

“Yeon Ha!”

Leo langsung berlari kearahnya dan memeluknya erat, Yeon Ha masih kebingungan namun dia mengelus punggung lelaki itu saat dia merasakan sesuatu hangat dan basah menyentuh bahunya. Leo pasti menangis, dia bisa menebak itu dari nafas lelaki itu.

“Aku kira kau tidak akan pernah sadar, aku sangat khawatir.” Leo berkata.

Yeon Ha mencoba tersenyum namun senyumnya terhenti saat dia melihat dua sosok lelaki yang berdiri dibelakang Leo. Hong Bin dan Hak Yeon menatap kearahnya, kedua lelaki itu kelihatan sama leganya dengan ayahnya namun dia tidak mengerti bagaimana ketiga lelaki itu bisa datang kesini.

“Yeon Ha kenapa? Kenapa kau terlihat terkejut?”

Pertanyaan Leo mencuri perhatiannya, Yeon Ha menggelengkan kepalanya dia sendiri masih bingung dengan semua situasi ini. Dia tidak ingat sama sekali dengan apa yang terakhir terjadi, satu-satunya moment yang bisa dia ingat hanyalah saat dia dan Sung Rok didalam kereta api.

Beberapa hari berlalu dan Yeon Ha akhirnya bisa bertemu lagi dengan Sung Rok, dokter muda itu mengatakan jika dia ingin mengecheck kemampuan kognitif Yeon Ha karena dia khawatir sesuatu terjadi setelah kecelakaan yang dialami Yeon Ha. Sung Rok menanyakan beberapa hal seperti tanggal dan tahun lalu dia menunjukan Yeon Ha beberapa gambar hewan dan huruf membuat Yeon Ha bosan setengah mati.

Dia bukan lagi anak TK yang masih senang melihat gambar-gambar lucu yang Sung Rok tunjukan, dokter itu akhirnya menyerah setelah dia melihat Yeon Ha menguap.

“Apakah aku sangat membosankan?” tanya dokter itu dan Yeon Ha hanya bisa mengangkat kedua bahunya.

“Soal yang aku katakan di kereta, aku serius Yeon Ha kau harus memilih.”

Mendengar itu semua kantuk Yeon Ha langsung hilang, dia menatap kearah dokter muda itu lalu menggelengkan kepalanya. Pemikiran tentang masa depannya sudah muncul semenjak dia sadar, dia masih bingung dengan keputusannya ketiga pria yang muncul di masa depannya merupakan individual yang baik mereka sangat perhatian dan romantis bagaimana mungkin dia bisa memilih ketiga pria itu sesuka hatinya? Itu rasanya tidak adil.

“Bagaimana aku tahu siapa yang terbaik untukku?”

Sung Rok menyeringai mendengar itu, dia lalu mengambil sesuatu dari saku jas putihnya dan memberikannya pada Yeon Ha. Yeon Ha menatap kearah dadu yang ada ditangannya sekarang, dia menatap kearah Sung Rok penuh tanya.

“Apa maksudnya?”

“Takdir, biarkan takdir menentukannya untukmu.”

“Takdir? Jangan bercanda Sung Rok-shi.”

“Kau akan tahu siapa yang terbaik, hatimu akan menemukan jawabannya.”

Sung Rok akhirnya berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruangan Yeon Ha dengan seribu misteri. Yeon Ha menggengam dadu itu sampai akhirnya dia mendengar pintu ruangannya dibuka, sosok ibunya muncul membawa sebuah kantong plastik yang berisi obat ibunya lalu duduk diranjangnya setelah dia menyimpan kantong plastik yang dia bawa.

“Yeon Ha-ya, Eomma sudah berpikir kau sudah cukup dewasa untuk menikah bukan? Aku dan ayahmu tidak akan selalu ada disampingmu nak, kami sudah tua dan kami sangat khawatir…kau tahu Hong Bin adalah lelaki yang baik dia selalu mengunjungimu saat kau koma.”

Yeon Ha menghela nafasnya saat mendengar itu, dia tahu jika ibunya selalu menyukai Hong Bin. Ibunya selalu tersenyum saat dia melihat Yeon Ha dan Hong Bin berbincang, walaupun begitu dia tidak pernah menyukai Hong Bin seperti itu dia menganggap Hong Bin seperti seorang sahabat.

Eomma aku tidak tahu…Hong Bin baik tapi aku..”

“Kau tidak menyukainya? Dengarkan Eomma Yeon Ha, cinta akan datang pada akhirnya yang terpenting kalian saling mengenal dan mempercayai satu sama lain.”

Eomma! Eomma tidak mengerti,aku tidak bisa melakukan itu pada Hong Bin.”

Ibunya terdiam saat dia mendengar itu, mungkin perkataan anak perempuannya benar namun dia sangat mempercayai Hong Bin dibanding lelaki lain yang dekat dengan anak perempuannya itu. Ibunya tersenyum lalu mengelus rambut anak perempuannya dengan lembut.

“Baiklah, pilihlah yang terbaik untukmu.”

Setelah bercakap-cakap dengan ibunya Yeon Ha memutuskan untuk pergi keluar, walaupun kakinya masih terasa kaku tetapi dia berusaha untuk berjalan. Ayahnya membantunya untuk berjalan sampai akhirnya mereka berdua sampai ditaman rumah sakit, Yeon Ha duduk di bangku taman sambil menatap kearah langit sore.

Ayahnya berpamitan untuk pergi sebentar meninggalkan Yeon Ha sendirian, Yeon Ha tidak keberatan dia memang ingin sendirian untuk beberapa saat. Dia bisa merasakan angin sore yang berhembus sedikit kencang, dia menggigil sedikit namun tiba-tiba seseorang melingkan sebuah selimut dipundaknya.

“Terimakasih App—“

Sebelum Yeon Ha bisa menyelesaikan kalimatnya dia terkejut saat dia melihat Leo, Leo duduk disampingnya dan dia menyandar pada bangku.

“Aku tahu kau akan mengatakan jika kau tidak tertarik padaku.”

Yeon Ha mengerutkan dahinya mendengar itu, kapan dia mengatakan jika dia tidak tertarik pada Leo? Dia tidak ingat itu.

“Jangan bertingkah bodoh, aku tahu kau menyukai Hak Yeon.”

“Hak Yeon?”

“Ya, kau baru saja bercerai dengannya tapi aku tahu kau masih memiliki perasaan untuknya.”

Yeon Ha tidak menjawab, dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dia rasaka. Hak Yeon hanyalah teman SMA nya dulu dia tidak mengingat apapun tentang Hak Yeon selain itu, dia sendiri tidak tahu kapan dia dan Hak Yeon menikah.

Dia melirik kearah jari manis tangan kanannya dan dia melihat sebagian kulitnya lebih putih menandakan jika dulu ada sebuah cincin yang melingkar dijarinya. Ini membuat dia semakin bimbang, haruskah dia memilih?

“Aku tahu, tidak gampang melupakan seseorang yang kau nikahi selama tiga tahun tapi aku yakin aku bisa membuat kau melupakan dia.” Ucap Leo penuh dengan kepercayaan diri.

“Kenapa kau sangat percaya diri, kau tidak tahu aku.”

“Aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan.”

Jawaban Leo membuat Yeon Ha tersenyum dan dia membiarkan Leo menggengam tangannya saat matahari mulai terbenam. Yeon Ha menyandarkan kepalanya kebahu Leo dan menutup matanya.

“Mungkin aku harus memilihmu.” Yeon Ha bergumam dan dia mendapat balasan ciuman dari Leo.

1416251069-d91841a3ea123976aa2a0c668e9ba989-600x398

~The end~

Don’t Forget The Comment❤

Ps: Untuk reader di twitter yang minta dibuatin Fanfic NastyNasty maaf ya, hehehe aku belum familiar sama group itu jadi aku belum dapet feel nya, maybe next time ya (-__^)

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

5 thoughts on “Infinite Chances

  1. Ww daebakkk thor…
    Ceritany berliku liku..
    Keren lah pokokny..
    Sampe ak mikir.. author buat ceritany kaga kebingungan yh..wkowko..
    Awalny ak agak bgung tp lama lama ikutin alur dah baru dpet feel ny hehe
    Daebak la thor🙂

  2. annyeong author… aku baru nemu blog ini di ffindo padahal aku udh lama baca ff di ffindo._. ikut baca2 ff nya ya thor =))
    ngomong2 ini ceritanya cukup bikin aku bingung nih thor, bikin penasaran juga, tapi pas tau endingnya akhirnya kebingungan aku terjawab sudah wkwk
    daebak banget pokoknya thor😀

  3. KEREN!!
    Woahhh ceritanya nga nyangka banget, berliku2 dan bikin penasaran tapi tetep bisa di mengerti😀

    keren banget deh, dan pada akhirnya Leo_lah yg dipilih😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s