Posted in FanFiction NC 17+

But He’s Gay! [Chapter 5]

Title: B-but He’s Gay!

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Ask Fm: http://ask.fm/Seven941

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Choi Taeri [OC],Jung Taekwoon [Leo VIXX], Jung/Cha Hakyeon [N VIXX], Lee Hongbin

[Hongbin VIXX],Jung Krystal [Krystal F(x)], Oh Hayoung [Hayoung Apink]

Genre : Comedy, romance and angst

Length : Chaptered

Rating : PG 17

WARNING!! CONTAINING YAOI!! MEANING BOYXBOY

<<Previous Chapter                   Next Chapter>>

 5

  Those Kind of Feeling

Airmata tidak berhenti membasahi pipinya dan dia akhirnya berhenti berlari saat dia sadar kalau dia sekarang ada ditaman kota. Taekwoon duduk disalah satu bangku taman itu, dia menatap kosong kearah bunga mawar yang masih dia pegang.

“Kalian kejam sekali…” Taekwoon bergumam, dia meremas bunga mawar itu sehingga bunga itu hancur dan kelopaknya rontok.

“Kau pasti senang sekali mempermainkan perasaanku Cha Hakyeon.”

Taekwoon merenung sejenak, dia menghidupkan ponselnya dan dia sedikit kecewa karena tidak ada satupun pesan atau telepon dari Hakyeon untuknya. Taekwoon membuka folder kontaknya dan entah kenapa nama Taeri langsung muncul dalam pikirannya, dia mencari nomor kontak Taeri dan menatapnya sejenak.

Dia ragu jika dia harus menghubungi wanita itu, dia takut jika dia mengganggunya. Tapi dia benar-benar membutuhkan kehadiran wanita itu, hanya Taeri-lah yang bisa dia ajak bicara tentang Hakyeon. Entah kenapa Taekwoon percaya jika Taeri akan mendengarkannya, mungkin dia percaya karena selama ini Taeri selalu mendengarkan ceritanya hanya wanita itulah yang mau mendengarkan ceritanya tentang resep kue dan perjalanan hidupnya di Paris.

Taekwoon akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi Taeri, dia menunggu beberapa detik sampai akhirnya teleponnya diangkat oleh Taeri.

“Taekwoon-shi? Ada apa?”

“Taeri-shi apa aku menganggumu?”

“Tidak juga,apa ada masalah Taekwoon-shi?” Taekwoon bisa menebak jika Taeri khawatir dari nada bicara wanita itu.

“Bisakah kau menemuiku di taman kota? Aku ingin minum, maukah kau menemaniku?” Taekwoon mendongak menatap kearah langit Seou menahan airmatanya yang akan mengalir kembali.

“Minum? Baiklah, aku kesana sebentar lagi.”

Taekwoon sedikit lega saat mendengar jawaban Taeri, rasanya ingin sekali dia berterimakasih namun Taeri sudah menutup teleponnya. Taekwoon akhirnya berjalan menuju sebuah bar yang ada diseberang jalan, dia mengirimkan pesan pada Taeri sebelum dia berjalan masuk kedalam bar itu.

Didalam bar tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang bercengkrama, Taekwoon langsung duduk disalah satu bangku bar dan memesan satu gelas vodka pada bartender lelaki yang sedang sibuk melayani kostumer yang lain. Mungkin dengan minum vodka dia bisa melupakan rasa sakit dihatinya, walaupun sesaat dia tidak keberatan.

 Malam ini dia hanya ingin melupakan apa yang baru saja dia lihat tadi, dia ingin menghapus memori yang dia lihat tadi.

   Taeri masuk kedalam bar dan dia bisa melihat sosok Taekwoon duduk disalah satu bangku bar, Taeri bisa melihat Taekwoon menunduk dan jelas sekali Taeri bisa melihat airmata membasahi kedua pipi lelaki itu. Taeri terkejut ini pertamakalinya dia melihat lelaki itu menangis, Taeri langsung berlari kearah Taekwoon.

Taekwoon bisa merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya dia bisa melihat sosok Taeri menatap kearahnya penuh kekhawatiran. Airmatanya tidak bisa terbendung lagi saat dia melihat Taeri, dia langsung memeluk wanita itu,Taeri terkejut dengan pelukan Taekwoon namun dia membalas gesture itu dengan lembut dia mengelus kepala Taekwoon.

“Apa yang terjadi Taekwoon-shi?” Taeri bertanya, Taekwoon tidak menjawab dia hanya memeluk erat Taeri.

Taeri akhirnya melepaskan pelukan Taekwoon dan menyeka kedua pipi lelaki itu, Taekwoon terlihat rapuh sekali ditangannya dan Taeri merasa marah. Siapa yang berani melukai Taekwoon? Dia tahu Taekwoon adalah lelaki yang tangguh lalu siapakah yang bisa menghancurkan Taekwoon sampai seperti ini?

“Ayo kita pulang.” Taeri mengajak, Taekwoon akhirnya mengangguk dia sedikit mabuk namun cukup sadar untuk bisa berjalan dan membayar minumannya.

Sekarang disinilah Taekwoon dan Taeri berjalan di trotoar sambil berpegangan tangan, mungkin jika orang asing melirik kearah mereka orang itu akan menyangka jika Taekwoon dan Taeri pasangan yang baru pulang makan malam. Taeri membuka pintu mobilnya dan membantu Taekwoon masuk kedalam mobil, lalu dia masuk kedalam mobil dan menghidupkan mobilnya.

“Bisakah kita tidak pulang? Aku tidak ingin menangis dikamar sendirian.” Taekwoon berkata dan itu membuat Taeri terkejut.

“Kau ingin pergi kemana?”

“Kemana saja, aku tidak peduli.” Taekwoon menjawab.

Taeri hanya mengangguk, dia tahu tempat yang cocok untuk Taekwoon mungkin mereka bisa menghabiskan banyak waktu disana dan bersenang-senang.

Perjalanan mereka tidak memakan banyak waktu, Taeri berhenti didepan sebuah villa yang ada didekat pantai. Dia membawa kantong plastik hitam yang berisi bir dan beberapa cemilan kecil yang tadi dia beli di mini market, Taekwoon membantu Taeri membawa kantong itu dan Taeri membuka pintu villa pribadinya sedangkan Taekwoon mengikuti langkah Taeri dari belakang dan terkejut dengan betapa nyaman dan besarnya Villa pribadi Taeri.

“Aku mendapatkan Villa ini dari hadiah buku best seller pertamaku, ayahku membelikannya untuk aku beberapa tahun yang lalu.” Taeri menjelaskan lalu dia membuka pintu belakang villa yang langsung terhubung kepantai dan dia bisa melihat laut malam yang cukup tenang walaupun mereka masih mendengar deburan ombak.

“Disini nyaman sekali, kita harusnya sering kesini.” Taekwoon berkata, dia menyimpan kantong plastik yang dia bawa dan duduk disalah satu sofa yang ada diruang tengah villa.

“Aku terkadang kesini jika aku bosan.” Taeri mengungkapkan.

“Kau bisa datang kesini juga, aku akan memberikan kunci cadangannya padamu.”

Mendengar itu Taekwoon tersenyum lalu mengangguk, jarang sekali Taeri melihat senyum Taekwoon dan itu membuat Taeri senang setidaknya Taekwoon terlihat tidak terlalu sedih sekarang. Taekwoon mulai membuka kaleng bir yang ada di kantong plastik dan meminumnya dengan satu tegukan, Taeri langsung menarik kaleng bir kedua yang akan Taekwoon minum.

“Kita kesini bukan untuk minum saja, aku ingin bermain permainan.” Ungkap Taeri, dia mengambil botol kosong yang ada di rak bukunya.

Melihat botol itu mengingatkan dia jika dulu dia sering sekali bermain permainan ini dengan Jongin. Namun sekarang Jongin bahkan tidak ada disini untuk bergabung dengan permainan kesukaannya, Taeri duduk didepan Taekwoon lalu meletak botol itu diantara mereka.

“Aku akan memutar botol ini dan jika botol ini menunjuk kearahku aku akan melakukan apapun atau mengatakan apapun dengan jujur sesuai yang kau inginkan.” Taeri menjelaskan permainannya.

“Oh aku tahu permainan ini, ini permaian spin the bottle kan? Baiklah Choi Taeri aku akan mengikuti permainan kekanak-kanakanmu.” Taekwoon berkata sambil menggosokan kedua tangannya bersiap untuk memutarkan botol yang sudah di simpan oleh Taeri.

“Baiklah, tapi jangan menangis jika kau kalah.” Taeri berkata sedikit angkuh lalu dia membiarkan Taekwoon memutar botol yang ada diantara mereka.

Botol itu berputar untuk sesaat dan jujur saja Taeri maupun Takeowon sedikit gugup sampai pada akhirnya putaran botol itu semakin melambat dan berhanti tepat didepan Taeri. Taekwoon langsung tertawa senang sambil bertepuk tangan bahagia, dia sudah menyiapkan seribu pertanyaan yang sangat memalukan untuk Taeri.

“Ini hanya keburuntungan pemula!” Bantah Taeri tidak terima karena dia kalah.

“Kau tak usah membantah, aku menang jadi aku punya hak untuk melakukan apapun padamu Choi Taeri.” Taekwoon berkata sambil menyeringai jahat, Taeri hanya menghela nafasnya dan siap menerima hukumannya.

“Baiklah, aku punya satu pertanyaan…siapakah cinta pertamamu?” Taekwoon melirik kearah Taeri dan dia bisa melihat pipi Taeri bersemu merah sekarang.

“K-kenapa kau ingin tahu? Itu tidak penting…”

“Kau sudah berjanji! Kau harus menjawabnya dengan jujur!” rengek Taekwoon dan Taeri menghela nafasnya mengalah.

“Baiklah, Jongin…dia bukan pacar pertamaku tapi dia cinta pertamaku.” Taeri menjawab,mendengar itu senyum Taekwoon langsung hilang apakah ini alasan kenapa Taeri tidak bisa melepaskan Jongin?

“Oh…apa kau masih mencintai dia?” Taekwoon bertanya lagi.

“Hey! Hanya satu pertanyaan saja jika kau ingin menanyakan itu kau harus memutar kembali botolnya.” Taeri berkata lalu sekarang dialah yang memutar botol.

Botol itu beberapa kali mengarah pada arah lain dan Taeri kesal lalu dia memutarkan kembali botol itu sampai akhirnya botol itu berhenti berputar dan mengarah pada Taekwoon.

“Kau curang! Kau sengaja memutarkan botol itu kearahku!” Taekwoon protes dan Taeri hanya menjulurkan lidahnya tidak peduli, lagipula mereka hanya memainkan permainan ini berdua tidak ada korban lain selain Taekwoon.

“Tidak, botol itu memang mengarah kearahmu kau hanya mencoba mengelak.” Taeri membela dirinya sambil tersenyum senang saat dia melihat wajah putus asa Taekwoon.

“Urgghhh baiklah apa yang kau inginkan?” Taekwoon mengalah.

“Ikuti aku.” Taeri berdiri dari duduknya dan menarik tangan Taekwoon, lelaki itu awalnya bingung namun dia akhirnya mengikuti langkah Taeri yang berjalan menuju pantai dibelakang villa.

Taeri lalu berhenti saat kaki mereka mulai tersentuh oleh air laut dan membuka sepatunya lalu melipat celana jeans nya sampai diatas mata kakinya Taekwoon yang melihat itu langsung mengetahui apa yang Taeri inginkan, Taekwoon mencoba kabur namun Taeri menariknya dan lelaki itu protes namun akhirnya tertawa dan mengalah membiarkan celana jeansnya terkena air laut yang dingin.

“Arrrgghh dingin!!” Taekwoon mengerang dan dia akhirnya membalikan posisi mereka dan mendorong Taeri agar baju wanita itu basah, Taeri tertawa walaupun dia masih melawan mencoba mempertahankan posisinya agar bajunya tidak basah.

Taekwoon akhirnya mengangkat tubuh Taeri dan berjalan lebih jauh kedalam pantai sehingga akhirnya baju mereka basah, air laut terasa sangat dingin malam itu namun tawa keduanya tidak berhenti. Mereka bahagia walaupun sekujur tubuh mereka akhirnya basah karena ombak cukup besar malam itu, Taeri melingkarkan tangannya dileher Taekwoon dan Taekwoon berlari keluar dari pantai berusaha menghindari ombak yang akan datang namun usahanya gagal karena ombak lagi-lagi menghantam mereka dan mereka tertawa untuk sekian kalinya.

tumblr_mnxselWQ3T1rum7cgo1_500

Karena lelah mereka akhirnya berbaring di pasir menghiraukan angin malam yang cukup dingin malam itu, Taekwoon melirik kearah Taeri dan Taeri memberikan Taekwoon senyum paling lebarnya.

“Kau wanita gila Choi Taeri.” Ucap Taekwoon, orang macam apa yang ingin bermain dipantai pada malam hari seperti ini? Apalagi udara sedang dingin.

“Kau suka wanita gila ini.” Jawab Taeri pintar, Taekwoon yang mendengar itu hanya mendengus.

“Tapi aku senang, kau akhirnya tersenyum juga.” Taeri berkata, mendengar itu Taekwoon tersenyum lembut pada Taeri dia tahu Taeri hanya kasihan padanya temannya itu hanya ingin menghilangkan rasa sakit yang dia rasakan.

“Terimakasih, aku tidak tahu harus berbuat apa jika kau tidak datang Taeri.” Taekwoon menjawab dengan tulus, Taeri yang mendengar itu hanya tersenyum bahagia dan berdiri.

“Disini dingin sekali, ayo kita ganti baju aku punya beberapa baju ganti di Villa.”

Mereka berdua akhirnya masuk kembali kedalam villa, Taeri masuk kedalam kamar villanya dan membuka lemari mencari baju yang cukup cocok untuk Taekwoon. Dia jika dia memiliki kaos yang cukup besar dan akhirnya menemukannya ditumpukan paling bawah, dia masih ingat kaos itu adalah pemberian dari Jongin.

Taeri langsung mengambil kaos itu dan celana training nya yang cukup besar, saat Taeri melangkah keluar dari kamar dia terkejut saat dia melihat Taekwoon sedang membuka bajunya. Taeri langsung memalingkan wajahnya dan sepertinya Taekwoon menyadari kehadiran Taeri.

“I-ini bajumu, aku akan mengganti baju juga.” Taeri berkata dengan gugup, pipinya langsung berubah merah padam apalagi saat dia melihat otot perut Taekwoon.

“Ya, terimakasih.” Taekwoon menjawab dengan polos, dia bahkan tidak tahu jika Taeri malu.

Taeri hanya mengangguk dan menutup pintu kamarnya, dia menyandar pada pintu itu dan menghela nafasnya. Dia bahkan bisa mendnegar detak jantungnya yang sangat keras, Taeri langsung menggelengkan kepalanya menyadarkan dirinya sendiri jika Taekwoon tidak suka wanita lalu kenapa dia harus gugup? Taekwoon tidak akan melakukan hal-hal yang buruk padanya.

“Dia tidak suka wanita..dia tidak suka wanita..” Taeri mengulang-ngulang ucapan nya itu seperti mantra lalu dia mengganti bajunya.

Saat Taeri selesai mengganti bajunya dia bisa melihat Taekwoon menyalakan perapian, dia bahkan belum pernah menyalakan perapian di Villanya semenjak dia membeli Villa ini. Taekwoon melirik kearah Taeri saat dia mendengar langkah kakinya, Taekwoon menarik Taeri agar wanita itu duduk disampingnya.

“Hangat?” Tanya Taekwoon dan Taeri mengangguk.

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku menangis tadi.” Mendengar itu Taeri mengangguk, dia tidak bisa membantah dia sendiri sedikit penasaran.

“Kau tahu aku tidak suka wanitakan? Dan kau juga tahu kenapa aku bersikeras untuk tinggal bersamamu dirumah itu.”  Taeri mengangguk.

“Aku mencintai kakak tiriku, aku mencintai Hakyeon Hyeong…apa kau sudah jijik padaku sekarang?” Taekwoon mengepalkan tangannya bersiap untuk cacian atau mungkin amarah Taeri.

“Oh…itu masuk akal sekarang.” Taeri berkata dan Taekwoon terkejut saat dia mendengar respon Taeri, dia kira Taeri akan kabur seperti temannya yang lain saat dia mengungkapkan hal ini.

“Apa kau tidak jijik padaku?”

“Kenapa?kau manusia biasa sama sepertiku Taekwoon, cintamu hanya berbeda dari kebanyakan orang.”

Taekwoon tidak pernah merasa selega ini, sepanjang hidupnya orang-orang selalu menganggapnya kotor dan tidak normal hanya teman-teman di perancisnya lah yang cukup menerimanya. Mendengar ungkapan ini dari Taeri memberikan harapan pada Taekwoon jika suatu hari dia akan menemukan orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan Taeri.

“Terimakasih, kau tidak tahu betapa berharganya ucapanmu itu untukku.” Taekwoon berkata dan Taeri menyentuh bahu Taekwoon dengan lembut.

“Taekwoon-shi, tidak semua orang akan jahat padamu…masih banyak kebaikan di dunia ini.”

Taekwoon mengangguk, dia menyentuh tangan Taeri namun wanita itu langsung menariknya.

“Ini sangat canggung, bisakah kita mengganti topik pembicaraan.” Ucap Taeri sedikit gugup dan Taekwoon mengangguk setuju.

*****

Sulli menatap kearah gaun pengantinnya dengan penuh kesedihan, setelah menunggu semalaman akhirnya dia menyerah juga dan membatalkan pernikahannya dengan Jongin. Lelaki itu sudah menghilang entah kemana, Sulli mengambil sebuah surat yang ada dimeja cerminnya dia mengenali tulisan tangan itu.

Jongin, ya tulisan yang ada disurat itu adalah tulisan tangan Jongin calon suaminya. Sulli membaca surat itu sejenak lalu meremasnya keras-keras, dia mencoba menahan airmata. Mudah sekali Jongin mengatakan maaf? Dia hanya menulisakan maaf di surat itu tanpa ada penjelasan apapun yang dapat meleraikan amarah Sulli.

“Sulli!” Seseoranag memanggilnya dan Sulli berbalik, dia menemukan temannya Victoria berdiri diambang pintu.

“Ya?”

“J-jongin..dia ada dibawah.” Ucap Victoria sedikit panik, mendengar itu Sulli langsung keluar dan berlari menuju tangga rumahnya.

Sulli benar-benar marah saat dia melihat sosok Jongin berdiri tak jauh dihadapannya, ekspressi lelaki itu menunjukan penyesalan yang besar. Tanpa ragu Sulli berjalan kearahnya dan menampar wjah lelaki itu cukup keras, tangannya bahkan sedikit perih setelah menampar Jongin.

“Kau puas?mempermalukan aku dihadapan banyak tamu..apa yang akan mereka katakan nanti?!” Sulli membentak.

“Maafkan aku,aku..aku tidak yakin jika aku ingin menikah denganmu.”

“Apa?! Lalu kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu? Lalu kenapa kau melamarku? Apa aku senang mempermainkan perasaan orang?!” Sulli masih marah bahkan kedua pipinya memerah sekarang.

“Aku tahu! Aku minta maaf..aku tidak bermaksud mempermalukanmu.” Jongin menjawab.

Sulli melepaskan cincin tunangan yang ada di jari manisnya dan melemparkannya kearah Jongin, Jongin bahkan tidak mencoba menangkap cincin itu saat cincin itu jatuh kelantai.

“Jangan pernah muncul lagi dihadapanku, jangan harap perusahaan orangtuaku akan bekerjasama dengan perusahaan orangtuamu juga!” Sulli berbalik dengan airmata yang mulai membasahi pipinya.

Victoria yang melihat pertengkaran Sulli dan Jongin hanya menghela nafasnya, dia menghampiri Jongin dan menyentuh bahu lelaki itu.

“Apa sebenarnya yang ada dipikiranmu Jongin?” Victoria bertanya dan Jongin hanya menggelengkan kepalanya.

“Apa kau masih mencintai Taeri?”

Mendengar nama Taeri disebut Jongin langsung menggelengkan kepalanya lagi, dia harus melindungi Taeri kali ini dia tidak akan membiarkan siapapun memisahkan dia dengan Taeri sekarang. Victoria menyeringai dia tahu Jongin masih mencintai wanita itu, bahkan Victoria masih melihat Jongin menyimpan foto Taeri dikantornya saat dia menyampaikan berita tentang perencanaan pernikahan Jongin dan Sulli.

“Kau tidak bisa berbohong Jongin, aku bisa melihat dari ekspressimu kau masih mencintai wanita itu.” Victoria berkata dan Jongin hanya bisa terdiam.

“Sebaiknya kau kembali padanya dan jangan pernah temui Sulli lagi, kau sudah cukup membuatnya menderita.” Victoria berbicara dengan nada yang dingin lalu dia menaiki tangga menyusul Sulli.

Jongin terkejut saat dia melihat kedua orangtuanya berdiri tidak jauh darinya, dia tidak bisa menjelaskan apapun saat dia melihat wajah ayahnya. Lelaki tua itu sepertinya sama emosinya dengan Sulli, dia berjalan mendekat kearah Jongin dan Jongin bersiap untuk mendapatkan tamparan lagi namun tamparan itu tak kunjung datang juga.

“Mulai dari sekarang, jangan pernah temui Choi Taeri atau aku hancurkan karir wanita itu kau tahu aku cukup berpengaruh!” Bentak ayahnya dan Jongin menatap terkejut kearah ayahnya.

“Kau tak bisa melakukan itu! Aku yang salah..aku yang tidak bisa melupakan Taeri! Aku mohon jangan sakiti dia, aku akan pergi dari rumah jika kau mau apapun asalkan jangan sakiti Taeri.” Jongin memohon.

“Kau gila?! Setelah ini apalagi yang akan kau lakukan huh? Jika kau ingin menghancurkan perusahaanku kenapa kau tidak bakar saja?! Bunuh saja aku!” Ayah Jongin membentak lalu lelaki tua itu berjalan keluar dari rumah Sulli.

Jongin menunduk menahan airmatanya, dia bisa merasakan pelukan ibunya dan dia memeluk kembali ibunya. Setidaknya ibunya masih peduli padanya, dia merasa seperti sampah sekarang.

“Mari kita pulang, kakakmu sudah menunggu dirumah..dia akan sedikit marah tapi kau harus menghadapinya.” Ibunya menangkup wajah Jongin dan Jongin mengangguk lemah.

*****

Oppa ?” Krystal membuka pintu ruangan kerja Taeri, dari kemarin Hongbin menunggu Taeri untuk pulang namun wanita itu tidak kunjung pulang juga.

“Tae—“ Hongbin menghentikan panggilannya saat dia melihat Krystal yang sekarang berdiri didepannya bukan Taeri.

“Taeri tidak pulang semalaman, kau tertidur dan aku tidak tega membangunkanmu.” Ungkap Krystal, dia tersenyum sedih.

“Oh begitu ya?sudah jam berapa ini?” Hongbin akhirnya berdiri dari duduknya, rambut hitamnya sedikit berantakan bahkan Krystal bisa melihat kantung mata Hongbin menghitam karena dia kurang tidur.

“Ini baru jam enam, aku sudah membuat kopi dan sarapan untukmu sebaiknya kau makan dulu.” Krystal menyuruh lalu dia berbalik untuk pergi.

Taklama kemudian Hongbin muncul didapur saat Krystal menikmati kopinya, Hongbin duduk disalah satu kursi meja makan dan mulai memakan sarapannya. Hongbin berhenti memakan sarapannya saat dia mengingat jika Taeri tidak pulang, dia sangat khawatir sebenarnya kemana wanita itu pergi?

“Apa kau mendapat kabar dari Taeri?” Hongbin bertanya dan Krystal menggelengkan kepalanya.

“Kemana dia pergi..seharusnya dia menyelasikan draft yang sudah dia buat.” Hongbin berkata lalu dia berdiri setelah dia meneguk kopi yang Krystal buat.

“Kau mau kemana Oppa ?”

“Aku harus mencari Taeri.” Jawab Hongbin.

“Tapi kau belum sarapan, sarapan dulu saja ok?aku akan membantumu.” Krystal membujuk.

“Aku tidak bisa ok? Aku tidak tenang..bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?”

“Bisakah satu menit saja kau tidak memikirkan Taeri?!” Krystal kehilangan kesabarannya, dia bahkan tidak sadar jika dia baru saja membentak Hongbin.

Hongbin terkejut dengan bentakan Krystal, dia bisa melihat mata Krystal berkaca-kaca dia hendak menyentuh bahu Krystal namun Krystal berbalik menyembunyikan wajahnya dari Hongbin.

“Aku tahu kau menyukai Taeri, tapi bisakah kau tidak menunjukannya padaku? Kau tidak tahu itu sangat menyakitkan untuk aku.” Krystal berkata, airmata akhirnya mengalir membasahi pipinya.

“Krystal..”

“Pergilah, aku tahu kau lebih mementingkan Taeri.”

Hongbin mendekat kearah Krystal dan dia melingkarkan tangannya dibahu Krystal memeluknya dari belakang.

“Maaf.” Hongbin berbisik namun Krystal tidak menjawab.

“Aku..aku hanya khawatir padanya kau tahu Taeri terkadang bisa sangat ceroboh dan aku takut jika sesuatu terjadi padanya aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah.” Hongbin menjelaskan, dia mengeratkan pelukannya.

Krystal yang mendengar penjelasan Hongbin hanya dia dan menyentuh tangan Hongbin,Krystal tersenyum tipis dia sedikit bahagia karena Hongbin meminta maaf padanya namun hatinya masih sakit setiap kali dia sadar kalau sampai kapanpun Taeri selalu nomor satu dihati Hongbin dan dia selalu menjadi nomor dua.

“Pergilah, aku juga khawatir padanya.” Krystal melepaskan pelukan Hongbin.

“Carilah Taeri, aku akan menunggu disini.”

Mendengar itu Hongbin sedikit ragu, dia tidak ingin Krystal menangis lagi lalu dia menyeka airmata wanita itu dengan lembut seakan dia meminta maaf dengan sentuhannya. Krystal tersenyum tipis walaupun dalam matanya Hongbin masih melihat kesedihan, Hongbin akhirnya mengambil jaketnya lalu pergi keluar dari rumah Taeri.

Krystal mengantar Hongbin sampai mobilnya lalu lelaki itu mengelus kepalanya sebelum dia pergi. Krystal melambaikan tangannya kearah mobil Hongbin dan menunggu mobil itu sampai menghilang ditikungan jalan, Krystal hendak kembali kedalam rumah namun dia menemukan sesosok lelaki yang berdiri tidak jauh didepan rumah Taeri sambil menatap kearah rumah.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Krystal menghampiri lelaki itu, lelaki itu kelihatan terkejut dengan kehadiran Krystal.

“A-apa kau Choi Taeri?” Lelaki itu bertanya dan Krystal menggelengkan kepalanya.

“Aku temannya Krystal, siapa anda?”

Lelaki itu itu tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya pada Krystal.

“Aku Hakyeon, kakak Taekwoon.” Dia berkata dan mata Krystal langsung melebar.

“Kakak Taekwoon? Ya ampun! Ayo masuklah kau pasti lelah.” Krystal menarik Hakyeon masuk kedalam rumah walaupun Hakyeon sedikit terkejut dia mengikuti langkah Krystal.

Krystal langsung membuatkan kopi untuk Hakyeon walaupun Hakyeon mengatakan tidak usah, dia langsung menyuruh Hakyeon untuk duduk lalu kabur kedapur karena dia panik. Dia tidak menyangka orang yang selama ini Taekwoon cari langsung datang kesini, pantas saja Taekwoon sangat bersikeras untuk tinggal disini.

Krystal melirik sekilas kearah Hakyeon sebelum akhirnya dia mencoba menghubungi Taeri, dia menunggu beberapa menit sampai akhirnya sambungan teleponnya terputus karena Taeri tidak mengangkatnya. Krystal bingung harus bagaimana namun dia mencoba untuk tenang, sebaiknya dia menghibur Hakyeon sampai lelaki itu lupa waktu dan diam disini sampai Taeri dan Taekwoon muncul.

Dua kopi hangat dia sajikan didepan Hakyeon, Hakyeon tersenyum ramah padanya dan Krystal membalasnya.

“Aku tahu kau pasti terkejut bertemu denganku.” Hakyeon memulai dan Krystal hampir tersedak kopinya, perkataan Hakyeon tepat sekali.

“Ya sedikit, apa kau tahu Taekwoon-shi sudah mencarimu kemana-mana?” Krystal bertanya dan Hakyeon menganggukan kepalanya.

“Maaf aku pasti merepotkan kalian.”

“Tidak…hanya saja aku harap kau bisa bertemu dengan Taekwoon-shi.”

Hakyeon kelihatan sedih saat Krystal mengatakan itu, sebenarnya apa yang lelaki ini tutupi? Krystal bertanya dalam batinnya.

“Aku rasa Taekwoon tidak akan senang bertemu denganku sekarang.”

Mendengar itu hanya membuat Krystal semakin kebingungan, apalagi saat dia melihat pergelangan tangan kanan Hakyeon dibalut oleh perban. Apa mereka berdua bertengkar? Krystal menebak-nebak.

“Tidak mungkin, Taekwoon-shi sangat ingin bertemu denganmu dia pasti senang melihatmu.” Krystal mencoba menghibur namun sepertinya perkataan nya itu tidak dihiraukan oleh Hakyeon.

“Aku datang karena aku menjelaskan sesuatu, aku kira Taekwoon akan ada disini apakah kau tahu kemana Taekwoon pergi?” Hakyeon melirik kearah Krystal, dia meminum kopi yang Krystal buatkan lalu menyimpan kembali gelasnya.

“Taeri dan Taekwoon sedang pergi, mereka belum kembali sejak kemarin.” Krystal menjawab dan dia bisa melihat ekspressi terkejut Hakyeon.

“Oh..begitu.”

“Maaf tapi aku tidak bisa membantu banyak, jika kau ingin menitip pesan aku akan menyampaikannya.” Krystal menawarkan dengan baik hati.

“Tidak terimakasih, sebaiknya aku menunggu saja.” Jawab Hakyeon, dia terlihat sangat resah karena dia memainkan jarinya lalu menghela nafasnya.

*****

Taeri membuka matanya, cahaya sinar matahari benar-benar menyilaukan, dia bisa merasakan sesuatu yang berat melingkar dipinggangnya. Dia menyentuh sesuatu itu dan menemukan ternyata itu adalah tangan Taekwoon, Taeri langsung bangung dari tidurnya dan dia lega saat dia menyadari kalau pakaian mereka masih lengkang tak ada satupun yang terlepas.

Dia melirik kesamping dan menemukan Tekwoon masih tertidur lelap, Taeri tersenyum saat dia melihat betapa tenangnya Taekwoon saat lelaki itu tidur. Dia tidak ingat kapan dia tertidur, karena hal terakhir yang dia ingat hanya suara Taekwoon yang bercerita tentang keluarganya.

“Urgghh..Kau sudah bangun?” Taekwoon berkata dia memegang kepalanya, dia ingat Taekwoon kemarin mabuk.

“Apa kau masih mabuk?kau berantakan sekali.” Taeri meledek dan Taekwoon hanya tertawa kecil, kepalanya masih berdenyut sakit.

“Sebentar, aku akan membawakanmu air minum.” Taeri bangkit dari duduknya, dia lalu mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih yang ada di teko gelas.

Taekwoon bangun dari tidurnya dan mengusap matanya, pengelihatannya masih buram namun sakit kepalanya perlahan menghilang mungkin dia mulai sadar. Taeri memberikan gelas yang dia bawa pada Taekwoon dan lelaki itu meminum air itu dengan sekali teguk, Taeri mengelus punggung Taekwoon.

“Taeri, jam berapa ini?” Taekwoon bertanya dengan suara seraknya.

“Ini sekitar jam..” Taeri melirik kearah jam dinding yang ada di Villanya. “Sembilan pagi.”

“Sebaiknya kita pulang, kau harus bekerjakan?” Taekwoon mencoba berdiri walaupun dia masih merasa pusing.

“Baiklah, ayo kita pergi.”

Taeri berdiri juga namun saat Taekwoon akan melangkah sakit kepalanya muncul lagi dan badannya hampir ambruk namun beruntung Taeri cukup cepat menahan tubuh Taekwoon.

“Taekwoon-shi!” Taeri terkejut namun dia menahan tubuh Taekwoon dan Taekwoon memegang bahu Taeri.

“Aku tidak apa-apa.” Taekwoon berbohong.

“Kau yakin?”

Belum sempat Taekwoon menjawab pintu villa Taeri terbuka dan muncullah sosok Hongbin, Hongbin yang melihat Taekwoon dan Taeri yang sangat dekat marah. Dia langsung berjalan kearah Taekwoon dan menarik kerah baju Taekwoon dengan kasar, melihat itu Taeri menjerit dan menyuruh Hongbin untuk melepaskan gengamannya.

“Brengsek! Apa yang kau lakukan bersama Taeri?!” Hongbin membentak, Taekwoon masih terkejut dia bahkan tidak bisa menjawab apapun.

“Hongbin oppa ! cukup! Taekwoon tidak salah, aku yang mengajaknya kesini.” Taeri menarik tangan Hongin dari Taekwoon.

Mendengar itu Hongbin melepaskan gengamannya.

“Kenapa kau ada disini? Sudah aku bilangkan aku ingin sendirian!” Taeri marah.

“Aku khawatir Taeri, kau tidak pulang semalaman dan aku kira kau sendirian dan aku takut jika kau…” Hongbin tidak melanjutkan kalimatnya dan memeluk Taeri, Taeri terkejut namun dia luluh dalam pelukan Hongbin.

“Aku baik-baik saja oppa ,kau tak usah khawatir.” Taeri menenangkan Hongbin, dia lalu melepaskan pelukan Hongbin.

“Ayo kita pulang, aku harus menyelesaikan draft yang aku janjikan bukan?” Taeri tersenyum kearah Taekwoon dan Hongbin, akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan villa.

Selama diperjalanan Hongbin dan Taekwoon selalu bertukar tatapan dingin terhadap satu sama lain, Taerilah yang harus mencairkan suasana karena kedua lelaki itu kelihatannya tidak memiliki maksud untuk menyapa satu sama lain atau memulai percakapan.

Oppa apa Krystal masih ada dirumah?”

“Ya, dia masih menunggumu. Handphonemu tidak aktif kenapa? Aku mencoba menghubungimu beberapa kali.” Hongbin melirik kearah Taeri, dia kelihatannya masih kesal.

“Oh ponselku habis batrenya.” Taeri beralasan padahal dia sengaja mematikan ponselnya karena dia tidak ingin seorangpun mengganggunya tadi malam.

“Lainkali jangan ceroboh lagi ok? Aku benar-benar khawatir.” Hongbin menyentuh pipi Taeri dan Taeri tersenyum.

“EHEM!” Taekwoon berdehem, dia merasa canggung saat dia melihat interaksi mesra Hongbin dan Taeri.

“Maaf menganggung moment romantis kalian, tapi bisakah kalian tidak membuatku muntah?” Taekwoon berkata dan Taeri tertawa kecil saat dia mendengar itu sedangkan Hongbin melemparkan tatapan tajam pada Taekwoon.

“Taekwoon-shi bisakah kau jelaskan bagaimana kau bisa bersama Taeri? Dan siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.” Hongbin berkata dengan ketus, Taeri tidak senang dengan tingkah Hongbin.

“Oh aku lupa, kenalkan namaku Jung Taekwoon dan aku tinggal bersama Taeri hanya itu saja yang butuh kau ketahui.” Taekwoon menjawab dan Hongbin terkejut, dia langsung menginjak rem mobil membuat Taeri dan Taekwoon terdorong kedepan Taeri bahkan hampir saja membenturkan kepalanya ke dashboard.

“Tinggal bersama?” Hongbin melotot kearah Taeri.

Oppa  aku bisa menjelaskannya.” Taeri sedikit takut saat dia melihat amarah Hongbin.

“Oh tentu saja kau sebaiknya menjelaskannya!” Bentak Hongbin,Taekwoon hanya menyeringai saat dia melihat betapa marahnya Hongbin.

“Taekwoon-shi sudah menyewa kamar dibawah, dia sangat membutuhkan tempat tinggal tapi dia baru pindah dari perancis jadi dia belum sempat menemukan rumah yang dekat dengan tempat kerjanya lalu dia juga ingin bertemu dengan kakaknya yang sudah lama tidak dia temui.” Taeri mulai menceritakan.

“Kau sebaiknya cepat pergi dari rumah Taeri setelah kau mendapatkan tepat tinggal yang baru.” Hongbin memberi tatapan tajamnya pada Taekwoon, namun lelaki itu hanya mengangkat bahunya acuh.

“Bagaimana ya…aku suka tinggal dengan Taeri,iyakan Taeri-ya?” Tanya Taekwoon manja dan Taeri memutar matanya.

“Yak! Kau…” Hongbin kelihatannya marah sekali namun dia menahannya.

“Taekwoon-shi,aku mohon jangan memperkeruh keadaan.” Taeri meminta dan Taekwoon akhirnya mengangguk menurut, seperti anak kecil yang dinasehati oleh ibunya.

“Apapun untukmu Taeri-ya.” Jawab Taekwoon dengan ceria, dia bahkan menarik pipi Taeri membuat Taeri terkejut.

Hongbin benar-benar cemburu saat dia melihat Taekwoon dengan bebasnya menyentuh Taeri, bahkan tadi saat di villa dia melihat lelaki itu memeluk Taeri. Hongbin akhirnya memalingkan pandangannya dan mulai menghidupkan kembali mesin mobil, Taekwoon menyeringai saat dia melihat Hongbin yang masih kesal.

“Taeri, jangan bilang kau tidur dengan dia tadi malam?”

Mendengar perkataan itu Taeri terkejut dan langsung tertawa sedangkan Taekwoon sama terkejutnya dengan Taeri, walaupun dia kecewa dengan reaksi Taeri yang seakan dia tidak menganggap kejantanan nya.

“Tidak mungkin,aku dan Taekwoon-shi hanya teman lagipula dia menyukai oranglain.” Taeri berkata disela-sela tawanya.

“Oh ya? Lalu kenapa kau dekat sekali dengan dia?” Hongbin melirik kearah Taekwoon.

“Aku dan Taeri sangat dekat, kau bahkan tidak tahu betapa dekatnya kami aku bahkan tahu siapa cinta pertama dia.” Taekwoon pamer, Hongbin mencengkram setir mobil nya dengan kesal.

“Apa itu benar?” Hongbin dengan ketus bertanya.

“Tidak seperti itu, aku dan Taekwoon taruh—“

Sebelum Taeri bisa menyelesaikan ucapannya Taekwoon menutup mulutnya.

“Kau sebaiknya mengalah Hongbin-shi, aku lebih dekat dengan Taeri dibanding kau.” Taekwoon tersenyum, dia senang sekali menjahili Hongbin, Taeri melepaskan tangan Taekwoon dan memukulnya.

“Kau mungkin tahu siapa cinta pertama Taeri, tapi aku lebih tahu gelagat dia dan hobinya.” Hongbin tidak mau kalah.

“Sudah cukup! Kalian tidak udah bertengkar lagi.” Taeri marah dan menutup telinganya kesal.

“Dia yang memulai!” Taekwoon dan Hongbin berbicara dalam waktu yang sama, Taeri tertawa mendnegar itu.

“Lihat, kalian cukup kompak seharusnya kalian berteman baik.” Taeri mengelus kepala Taekwoon dan Hongbin secara bersamaan.

Taekwoon dan Hongbin kelihatan tidak senang dan memalingkan pandangan mereka dari satu sama lain. Taeri hanya menggelengkan kepalanya, Taekwoon dan Hongbin kelihatan konyol dengan sikap kekanak-kanakan mereka, padahal mereka berdua lebih tua dari Taeri mungkin pepatah boys always be boys memang benar.

Memakan waktu lebih dari setengah jam mereka akhirnya sampai dirumah, Hongbin langsung membukakan pintu mobilnya untuk Taeri sedangkan Taekwoon mengutuk kesal. Taekwoon melirik kearah pintu rumah dan dia terkejut saat melihat sosok Hakyeon dan Krystal.

“Taekwoon-ah.” Panggil Hakyeon.

Taeri yang melihat sosok Hakyeon terkejut, dia belum pernah bertemu dengan lelaki itu tapi dia bisa menebak kalau lelaki itu adalah Hakyeon dari ekspressi Taekwoon.

“Apa yang kau lakukan disini?bukankah kau seharusnya bersama Hayoung?” Ucapnya sarkastik lalu dia berjalan melewati Hakyeon dan sengaja menyengol pundak Hakyeon membuat Hakyeon mundur sedikit.

Hakyeon langsung mengejar Taekwoon mengikuti lelaki itu kekamarnya. Setelah mereka berdua sampai dikamar Taekwoon Hakyeon segera mengunci pintu kamar kekasihnya itu, Taekwoon mengacuhkan keberadaan Hakyeon dan duduk diranjangnya.

“Taekwoon kau harus mendengarkan penjelasan aku ok? Aku dan Hayoung tidak berpecaran kami hany—“

“Aku tidak peduli Hyeong, kau sudah mengkhianati aku…aku kira kau mencintaiku.” Taekwoon memotong perkataan Hakyeon.

“Hayoung hanya ingin ciuman perpisahan dariku, dia menyukaiku dan dia sedih saat aku mengatakan kalau aku dan kau bersama sekarang.” Hakyeon menjelaskan namun Taekwoon hanya tersenyum sinis tidak percaya.

“Kau tak usah berbohong Hyeong…” Ucap Taekwoon, mendengar itu Hakyeon marah dan berlutut didepan Taekwoon.

“Tatap mataku, apa aku kelihatan berbohong?!” bentak Hakyeon, dia mencengkram kedua lengan Taekwoon.

“Aku mencintaimu Taekwoon-ah, apa cintaku begitu lemah dimatamu?”

Mendengar itu Taekwoon mulai luluh, dia sangat mencintai Hakyeon tidak peduli berapa belas tahun waktu yang dia habiskan dia tidak pernah bisa melupakan Hakyeon. Hanya Hakyeon yang ada dalam hatinya, hangat sentuhan dan suaranya yang selalu Taekwoon rindukan.

“Lalu kenapa kau mengijinkan dia menciummu?”

“Karena aku ingin dia menyerah! Aku tidak akan pernah menyukainya selama kau ada disampingku.” Hakyeon menjawab lembut, dia menyentuh pipi Taekwoon.

“Aku mohon maafkan aku, aku tahu aku salah tapi aku tidak ingin memberikan harapan pada Hayoung..aku ingin dia kembali pada Jaehwan aku tahu Jaehwan sangat mencintainya.”

Mendengar penjelasan itu hati Taekwoon luluh, dia tidak pernah tahu jika Hayoung menyukai Hakyeon. Mungkin itulah alasan kenapa wanita itu enggan kembali pada Jaehwan, mungkin karena dia mencintai Hakyeon.

“Aku masih marah soal ciuman itu.” Taekwoon akhirnya luluh dan dia memegang tangan Hakyeon, walaupun Hakyeon terkejut dia tersneyum dan menggengam kembali tangan Taekwoon.

“Kau tidak bisa marah padaku selamanya.” Hakyeon berkata dengan senyum liciknya, Taekwoon hanya membalas senyuman itu karena Hakyeon benar.

*****

Mereka berlima akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama dirumah Taeri, walaupun wanita itu tidak terbiasa dengan keramaian dia tidak keberatan mendengar obrolan Krystal dan Hakyeon. Dia tidak menyangka mereka bisa seakrab sekarang, Taeri akhirnya pergi menuju dapur dan melihat Hongbin dan Taekwoon yang masih berdebat saat mereka memasak spaghetti.

“Kau harus menggunakan saus jamur, Taeri menyukainya.” Hongbin berkata dan mendorong Taekwoon yang sedang memasak saus spaghetti.

“Tidak ada salahnya mencoba saus lainkan?” Taekwoon membalas.

“Tidak,tidak..aku memasak untuk Taeri bukan untukku kau!” Jawab Hongbin ketus.

“Kalau begitu kau diam saja aku yang memasak!” Taekwoon marah, kesabaran lelaki itu ternyata sangat tipis Taeri baru menyadarinya.

“Hei! Kalian sedang memasak apa?” Taeri mencoba mencairkan suasana antara Hongbin dan Taekwoon, jika dia tidak datang Taekwoon dan Hongbin mungkin sudah berperang.

“Taeri!” seru mereka berdua kompak, akhirnya mereka melotot kearah satu sama lain tidak senang.

“Kami berdua sedang memasak spaghetti kesukaanmu tapi Taekwoon mencoba menghancurnya.” Ucap Hongbin sambil melirik sebal kearah Taekwoon dan Taekwoon hanya memutarkan bola matanya kesal.

“kau tidak keberatan jika aku membuat saus bolognese kan? Kau suka daging sapi?” Taekwoon bertanya, Taeri mengangguk setuju dia tidak keberatan mencoba rasa baru.

“Hmmm..kedengarannnya enak.” Ucap Taeri, saat mendengar itu Hongbin melotot kearah Taekwoon namun lelaki itu tidak peduli.

“Kau tak usah khawatir, rasanya pasti enak aku sering memasaknya saat aku di Perancis dulu.” Taekwoon berkata, Taeri akhirnya menghampiri Taekwoon yang sibuk memasak saus spaghetti mereka dan mulai memotong beberapa sayuran untuk dicampurkan dengan spaghetti nanti.

Hongbin akhirnya harus mengikuti keinginan Taeri, dia mengaduk spaghetti yang sudah mulai lulu dalam panci . sesekali dia melirik kearah Taeri dan Taekwoon yang sedang asyik berbincang,entah knapa dia merasa sangat cemburu sekali sata dia melihat Taekwoon dengan mudahnya membuat Taeri tersenyum.

Selama dia bekerja bersama Taeri dia belum pernah melihat wanita itu tersenyum selebar sekarang, biasnaya wanita itu murung atau sibuk dengan novel barunya. Hongbin baru melihat sisi baru Taeri hari ini dan dia semakin jatuh cinta pada Choi Taeri yang baru.

Oppa apa spaghettinya sudah matang?” Taeri akhirnya bertanya membuat Hongbin sadar dari lamunannya.

“Ya sebentar lagi.” Hongbin menjawab.

Makan malam hari ini rasanya sangat ramai sekali, Taeri cukup senang. Dia duduk disamping Krystal dan seperti biasa wanita itu memuji masakan Hongbin, Hongbin hanya tersenyum dan mengelus kepala Krystal sedangkan Taekwoon hanya mendengus.

Dia juga membantu memasak namun sepertinya Krystal tidak peduli karena yang dia puji hanyalah Hongbin. Hakyeon disisi lain menikmati makanannya, lelaki itu mengobrol soal proyek barunya yang akan dia mulai bulan depan setelah tangannya sembuh.

Walaupun Taekwoon dan Hakyeon menyembunyikan hubungan mereka Taeri bisa melihat tatapan cinta antara Taekwoon dan Hakyeon, sesekali jika Krystal dan Hongbin terlalu sibuk mengobrol Taekwoon akan menyentuh tangan Hakyeon secara diam-diam dibawah meja.

Taeri tidak keberatan, mereka terlihat serasi.lagipula Taekwoon terlihat sangat bahagia, menurut Taeri semuanya baik-baik saja hidup hanya sekali dan Taeri yakin semua orang pasti ingin menghabiskan hidupnya dengan keceriaan dan kegembiraan orang-orang hanya memiliki jalan yang berbeda untuk mencapai itu begitupun Taekwoon dan Hakyeon.

“Aku benci mengatakan ini tapi aku harus pergi.” Hakyeon berkata saat mereka semua sudah selesai membereskan meja makan.

“Oh kau harus pulang Hyeong?” Taekwoon bertanya.

“Ya,aku harus membawa baju-baju dirumah aku juga belum membereskan apartemenku.” Hakyeon mengungkapkan, dia melirik kearah jam dinding cemas.

“Apa kau ingin aku membantu?” Taekwoon menawarkan diri.

“Tidak usah, kau pasti lelah…ada Eomma yang akan membantu aku harus pulang saja.” Ucapnya, dia melirik kearah Taeri.

“Taeri terimakasih untuk makan malamnya, jaga bayi besar ini untukku.” Hakyeon mencubit pipi Taekwoon dan Taekwoon menggerang kesal.

Hyeong!”

Taeri tersenyum dan mengangguk, dia tidak mengikuti Hakyeon dan Taekwoon saat mereka berdua keluar dari rumahnya. Dia tidak mau menjadi roda ketiga untuk mereka, saat dia kembali kedapur dia melihat Hongbin masih sibuk merapikan gelas dan piring.

Oppa kau tidak usah merapikannya,aku akan melakukannya.” Taeri menyentuh lengan Hongbin.

Hongbin berhenti merapikan piring dan gelas yang ada dirak, dia melirik kearah Taeri dan tiba-tiba saja lelaki itu memeluknya dengan erat. Mata Taeri melebar, dia terkejut dengan pelukan Hongbin.

“Aku kira kau tak akan pernah kembali.” Hongbin memeluk erat Taeri,bahkan Taeri bisa merasakan nafas hangat Hongbin menyentuh pundaknya. “Maafkan aku,aku tidak bermaksud menghinamu kemarin…aku hanya marah dan aku kehilangan kontrol pada ucapanku.” Hongbin berkata.

“Tidak apa-apa oppa ,aku memaafkanmu.” Taeri tersenyum dan dia membalas memeluk Hongbin.

Krystal yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut menemukan ruang makan sudah bersih, dia berjalan menuju dapur mungkin semua orang sedang sibuk mencuci piring pikirnya. Saat dia sampai diambang pintu dapur dia bisa melihat Hongbin dan Taeri berpelukan, Krystal menunduk menahan airmatanya.

Dia senang karena Taeri dan Hongbin kembali berbaikan namun hati kecilnya menjerit, dia menyukai Hongbin dan melihat Hongbin yang memeluk Taeri dengan mesra seperti itu benar-benar melukai hatinya.

Krystal memutuskan untuk pergi, dia tidak mau menjadi penganggu antara Hongbin dan Taeri. Diapun mengambil tasnya yang ada di sofa dan berjalan keluar, saat dia diluar dia bertemu dengan Taekwoon yang hendak masuk kedalam.

“Oh Krystal,kau mau pulang?” Taekwoon bertanya.

“Ya,aku mau pulang…” Saat Krystal mendongak entah kenapa airmatanya tiba-tiba saja turun membasahi pipinya membuat Taekwoon terkejut.

“Krystal kau baik-baik saja?” Taekwoon memegang bahu wanita itu, Krystal hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi berlari meninggalkan Taekwoon yang kebingungan.

“Krystal!” Panggil Taekwoon namun wanita itu malah mengacuhkannya.

“Kenapa dia?” Taekwoon bertanya pada dirinya sendiri.

Saat Taekwoon masuk kedalam rumah, dia menemukan Taeri dan Hongbin sedang mengobrol lalu Hongbin memakai jasnya mungkin dia hendak pulang. Tebakannya benar karena akhirnya Hongbin berjalan menuju pintu rumah, dia mengelus kepala Taeri sebelum akhirnya pergi masuk kedalam mobilnya.

“Kau dan dia ternyata cukup dekat.” Taekwoon berkomentar saat akhirnya mobil Hongbin meninggalkan halaman depan rumah.

“Tentu saja kami dekat, dia sudah menjadi editorku sejak aku debut.” Taeri menjawab, dia tersenyum masih menatap kearah mobil Hongbin yang semakin menjauh.

“Hm..aku iri, apa Taeri yang dulu lebih lucu dari Taeri yang sekarang?” Taekwoon membungkuk sehingga wajah mereka sejajar.

“Ck! Kau tidak usah tahu.” Taeri akhirnya berbalik masuk kedalam rumah.

“Hey! Aku benar-benar penasaran!” Taekwoon berseru dan menyusul langkah Taeri.

To Be Continue..

Don’t Forget The Comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

32 thoughts on “But He’s Gay! [Chapter 5]

  1. wahhh aku baca dari chap 1. aigooo….greget lohh. heheee
    aku suka bngt sama neo couple. gomawo udah buat neo couple bersatu di ffmu thor.

    btw dilanjut ya. aku penasaran endingnya lohh ^^

  2. wahhh aku baca dari chap 1. aigooo….greget lohh. heheee
    aku suka bngt sama neo couple. gomawo udah buat neo couple bersatu di ffmu thor.

    btw dilanjut ya. aku penasaran endingnya lohh ^^

    aku banyak belajar dari penggunaan kalimat yg baik diff ini. gomawo yaa

  3. aku udah baca dari chapter 1 dan sumpah rame banget ini ceritanyaaa, padahal biasanya aku gak terlalu suka baca ff yaoi, apalagi waktu tau cast nya itu leo, gak kebayang soalnya kalau dia yaoi sama N😱
    lanjut ya thor! penasaran nih!😀

  4. Selama ini jadi siders hehehe maafkan ya 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

    udah baca dari chapter 1, nunggu nunggu chapter 6 tadi di pass 😢😢

    bolehkan minta passnya??
    😁😁😁

    btw aku suka banget ceritanya agak susah di tebak alurnya jadi seru bacanya 👍🏽👍🏽❤️❤️❤️

    1. Gak apa2 chingu tapi kalau bisa jangan jadi siders ya, soalnya komen itu semangat buat para author buat nulis lagi. oh boleh chingu tapi chingu udah cukup umur belum soalnya yang di password itu NC

      1. Iya aku juga merasakannya terkadang, mulai sekarang aku berusaha ngga jadi siders lagi wkwkwkwk.

        udah dong kalo belom mana berani baca hehhee

  5. Uwa thor begitu nemu ff ini langsung aku read dari chap 1.Bikin penasaran banget sumpah.Daebak thor.Thor boleh minta pw chap 6?Gumawo.Fighting thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s