Posted in FanFiction NC 17+

Destined

Title:  Destined

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Ask fm: http://ask.fm/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast : Lee Jae Hwan/ Ken (VIXX),  Han So Eun (OC), Lee Hongbin (VIXX), Lee Hye Ri (Girls Day) and other supportive cast…

Genre : Fantasy,Romance,angst

Length : Oneshoot,

Rating:PG 17/NC 17 (Bahasa kasar dan kekerasan)

Untuk yang dibawah umur dilarang membaca! mengandung konten seksual!

Warning! legenda dalam cerita ini palsu dan maaf jika ada hal yang tidak sesuai dengan sejarah korea karena aku enggak belajar sejarah korea/ mitologi korea

1

Let’s start everything

  Legenda mengatakan bahwa pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang siluman naga yang menguasai hampir seluruh daerah Cina dan Korea. Banyak sekali biksu yang mencoba mengalahkannya karena kekejaman nya, dia dengan kejamnya menghancurkan banyak desa dan kuil hanya untuk keuntungannya sendiri.

Siluman itu amat sakti sehingga tak ada satupun yang berhasil mengalahkannya, bahkan biksu paling kuatpun kewalahan menanganinya. Hatinya sudah dikuasai oleh kegelapan sehingga dia kehilangan sisi kemanusiaannya, dia menjadi serakah dan haus darah dia bahkan tidak memiliki rasa kasihan dan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya.

Siluman itu sangatlah tampan jika dia dalam wujud manusianya sehingga dia dengan mudah menggoda para gadis cantik untuk menjadi korbannya, dia sangat menyukai darah gadis karena itu membuatnya semakin kuat dan abadi.

Namun dibalik kekejamannya itu tidak pernah ada yang tahu bahwa hati yang terluka bersembunyi dibalik jubah hitam yang dikenakan siluman itu. Dia hanya ingin diterima oleh manusia dan menjadi bagian dari mereka, dia hanya ingin hidup dengan tenang dan berhenti diburu oleh para biksu yang mencoba mengusirnya.

Bertahun-tahun berlalu semua manusia hidup dalam ketakutan ancamannya sampai suatu hari seorang biksu agung meramalkan kematiannya. Mendengar ramalan itu dia murka dan pergi untuk menghancurkan kuil biksu agung itu, dengan kejamnya dia membantai semua biksu yang ada dikuil itu tanpa menyisakan satupun dan membakar habis pedesaan yang ada dibawah kuil itu.

Melihat amukan siluman naga itu saudaranya Hye Ri mencoba menghentikannya, namun tidak disangka dia malah menjadi korban juga karena ternyata Jae Hwan mencoba membunuh kekasihnya yang merupakan seorang manusia biasa.

“Lepaskan dia!” Hye Ri membentak, dia menatap tajam kearah sosok lelaki yang ada dihadapannya. Amarahnya mulai memuncak apalagi saat dia melihat cakar tajam lelaki itu mengancam untuk merobek kulit leher kekasihnya.

“Kenapa Hye Ri-ya? Kau takut sekarang?padahal tadi kau membentak dan menyerangku.” Lelaki itu bertanya dengan nada sinis, dia lalu melepaskan cakarnya dari leher kekasih Hye Ri. “Kau tahu siluman sepertimu tidak bisa jatuh cinta apalagi pada mahluk rendahan seperti manusia.” Ucap lelaki itu sambil tertawa jahat mata merah menyalanya terlihat sangat menakutkan sekarang.

“Bukan urusanmu! Sudah kubilang jangan campuri urusanku brengsek!” Hye Ri berlari kearah lelaki itu dan mencoba memukul wajah tampan lelaki yang ada dihadapannya, namun lelaki itu cukup cepat untuk menghindari pukulan Hye Ri.

“Ckckck…aku tidak ingin membuang tenagaku untuk menghabisimu Hye Ri-ah,sebaiknya kau pergi dari sini atau kau ingin menjadi pelayanku?”

“Tidak pernah! Aku tidak akan pernah meninggalkan kuil ini dan menjadi pelayanmu Jae Hwan!” Ucap Hye Ri berapi-api.

“Oh kalau begitu maaf jika aku harus membunuh kekasihmu yang lemah ini.” Jae Hwan dengan kejamnya menusukan cakarnya pada leher lelaki yang dia sandera tadi.

Darah merah memuncrat mewarnai tangan pucat Jae Hwan dan lantai kuil dengan sempurna, Hye Ri hanya bisa terdiam saat dia melihat kekasihnya sekarat. Hye Ri menjerit penuh kesedihan, dia segera memeluk tubuh kekasihnya yang mulai mendingin.

“Tidak…Hong Bin-ah! Tidak…jangan tinggalkan aku.” Hye Ri menguncangkan tubuh Hong Bin yang mulai kaku.

“Hye Ri-ya,mianhae…” Ucapnya serak sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Jae Hwan hanya melihat adegan sedih itu seperti orang yang bosan, dia bahkan tidak peduli saat Hye Ri menangis dan memeluk erat tubuh Hong Bin yang sudah tidak bernyawa. Hye Ri melirik kearah Jae Hwan yang berdiri tidak jauh darinya, dia menutup matanya dan tiba-tiba langit menjadi gelap dan petir menyambar mengeluarkan suara yang nyaring.

“Lee Jae Hwan aku kutuk kau agar tidak pernah bisa bersatu dengan orang yang kau cintai selamanya!” Ucap Hye Ri sebuah petir menyambar ketika dia mengatakannya, mata Jae Hwan melebar saat dia mendengar kutukan Hye Ri.

Jae Hwan tahu Hye Ri cukup kuat untuk membuat kutukan sama seperti para penyihir, Jae Hwan marah dan mencoba menyerah Hye Ri namun sosok Hyeri langsung menghilang bersama jasad Hong Bin. Jae Hwan mencoba untuk mengejar Hye Ri namun seseorang memanggilnya.

“Lee Jae Hwan! Kau akan mati ditanganku!” Seorang biksu berdiri dibelakangnya dengan seorang rekannya.

“Oh kalian akhirnya menemukanku juga, apa kalian tidak bosan mengejarku terus?” Jae Hwan berkata sedikit kesal karena dua biksu ini selalu mengikutinya kemanapun dia pergi,mereka mulai terlihat seperti virus yang sangat susah untuk dibasmi.

“Kami tidak akan berehenti sebelum kau mati!” Biksu itu membentak penuh emosi, dia menghunuskan pedangnya kearah Jae Hwan.

Mendengar itu Jae Hwan malah tertawa, kekuatan dua biksu ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kesaktian yang dia miliki itulah bukti kesombongan seorang Lee Jae Hwan.

“Jika kau ingin membunuhku sebaiknya kalian memanggil teman kalian yang lain, dan tolong bawa senjata yang lebih ampuh kalau tahu pedang tidak akan cukup untuk membunuhku.” Jae Hwan berkata penuh kesombongan.

Biksu itu menyeringai, sepertinya Jae Hwan belum tahu jika pedang mereka bukanlah pedang biasa. Pedang mereka telah direndam dalam air suci yang sudah diberi doa di kuil, tentu saja pedang ini bisa membunuhnya seketika.

“Mari kita lihat seberapa kuat kau.” Sang biksu berkata dan dia langsung menyerang Jae Hwan.

Jae Hwan dengan mudah menghindar dari serangan itu, biksu itu cukup cepat dan kembali menyerang sampai akhirnya dia berhasil melukai lengan kanan Jae Hwan. Jae Hwan mengerang saat dia merasakan sesuatu membakar kulitnya, biasanya dia bisa sembuh dalam hitungan detik namun lukanya kali ini malah terasa sangat menyakitkan bahkan darah tidak berhenti mengalir dari lengannya.

“Jadi kau tidak sekuat yang kau kira Jae Hwan.” Biksu itu menyeringai saat dia melihat Jae Hwan berlutut sambil mencengkram lengannya.

“Pedang apa itu?!” Jae Hwan membentak.

“Ini adalah pedang yang sudah di rendam dalam air doa di kuil, kami tahu kau lemah pada barang-barang suci Jae Hwan.”

“Brengsek!” Jae Hwan mengutuk dia akhirnya menghilang meninggalkan dua biksu itu terkejut.

*****

Entah dimana ini, Jae Hwan hanya bisa mendengar suara air mengalir dan suara burung-burung yang berkicau. Lengan kanannya terasa sangat sakit dan dia tidak bisa menggerakannya,matanya terasa sangat berat untuk dibuka sampai akhirnya dia mendengar suara langkah kaki.

“Hey…tuan? apa anda baik-abaik saja?” Tanya seseorang, Jae Hwan bisa merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya. “Ya ampun! Anda terluka tuan.”  Dari suaranya Jae Hwan tahu kalau orang itu adalah seorang wanita, dia akhirnya memaksakan untuk membuka matanya dan dia melihat wajah cantik berjongkok didepannya.

“T-tolong..” Jae Hwan hanya cukup kuat untuk mengatakan itu sebelum akhirnya dia pingsan kembali. Wanita itu terkejut dan akhirnya memanggil pelayannya untuk membantunya mengangkat Jae Hwan, Jae Hwan hanya bisa berharap jika wanita ini cukup bodoh dan tidak menyadari kalau dia adalah seorang siluman.

Jae Hwan kembali sadar, dia tidak tahu berapa lama dia pingsan. Dia menyentuh kepalanya yang sedikit berdenyut sakit sebelum akhirnya membuka matanya. Dia terkejut saat dia sadar jika dia berada disebuah kamar, kamar ini sepertinya kamar seorang gadis karena dia bisa meliha meja cermin yang rapih didepannya dia juga melihat bajunya digantung dengan rapih disamping meja cermin itu.

Dia mencoba bangun namun lengannya kembali terasa sakit membuat dia mengerang dan taklama kemudian sesosok wanita datang,wanita itu kelihatan senang sekali saat dia melihat Jae Hwan sudah sadar. “Kau akhirnya sadar!” ucapnya riang, dia langsung menyuruh pelayannya untuk membawa secangkir teh herbal untuk Jae Hwan.

“Tuan, apa anda sudah baikan? Luka dilenganmu sudah sedikit menutup tapi belum sembuh total sebaiknya kau tidak banyak bergerak.” Ucap wanita itu, Jae Hwan hanya menatap kearah wanita itu masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada wanita itu, dari aroma wanita itu Jae Hwan tahu kalau wanita itu hanya manusia biasa. Sepertinya darah wanita ini cukup untuk menyembuhkannya dia bisa kembali sembuh seperti semula dan pergi dari sini, Jae Hwan menyentuh dagu wanita itu membuat wanita itu terkejut.

“Tuan?” Ucap wanita itu dan Jae Hwan segera menggelengkan kepalanya saat dia sadar kalau dia menyentuh dagu wanita itu,  melihat tatapan khawatir wanita itu Jae Hwan memutuskan untuk mengurungkan niatnya.

Wanita itu sudah cukup baik untuk menolongnya, dia bisa cukup berbaik hati dan membiarkan wanita ini hidup. Lagipula dia tidak sejahat apa yang orang-orang kira, dia hanya serakah,sombong dan haus kekuasaan saja.

“Aku harus pergi, teh herbal yang kau berikan padaku tidak akan membantu.” Jae Hwan bangun dari posisinya namun wanita itu mencegahnya.

“Kau tidak bisa pergi kemana-mana setidaknya sampai lukamu sembuh.” Ucap wanita itu tegas, dia mendorong Jae Hwan untuk kembali berbaring.

Jae Hwan tidak suka itu, selama hidupnya tidak ada yang berani menyuruhnya semua siluman bertekuk lutut padanya lalu bagaimana wanita kecil yang ada dihadapannya ini begitu beraninya memerintah dia.

“Apa kau tahu siapa aku?!” Jae Hwan membentak marah.

“Tidak, bisakah kau memperkenalkan dirimu?” Jawab wanita itu santai, dia bahkan tidak takut akan bentakan Jae Hwan.

“Aku Lee Jae Hwan,aku siluman naga penguasa gunung Jirisan!” Jae Hwan berkata dengan bangga, wanita itu malah menatap kearahnya diam dan akhirnya tertawa terbahak-bahak membuat Jae Hwan kebingungan.

“Hahaha apa?siluman? jangan bercanda tuan..di dunia ini tidak ada siluman hahaha.” Wanita itu tertawa.

Jae Hwan marah, dia merasa dipermainkan oleh wanita yang satu ini dia akhirnya bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan menuju meja cermin wanita itu untuk mengambil bajunya. Saat dia melangkah tiba-tiba kakinya menjadi lemah dan dia terjatuh, dia bisa merasakan dua tangan menahannya dan membantunya untuk berdiri.

“Sudah aku bilang kau terlalu lemah tuan, jika kau benar-benar seorang siluman kau akan sembuh dalam waktu yang singkat.” Ucap wanita itu sambil membantu Jae Hwan untuk kembali berbaring di tempat tidurnya.

“Aku terluka parah, seorang biksu menusukku dengan pedang dari kuil! Apa kau tidak percaya?!” Jae Hwan menjelaskan, masih berharap jika wanita itu percaya pada kata-katanya.

“Ya..ya..kau bisa mengatakan itu sekarang, aku dan pelayanku sudah menyiapkan makanan untukmu.” Wanita itu berkata.

Seorang pelayan masuk dan memberikan sebuah nampan pada wanita itu, nampan itu berisi semangkuk bubur dan secangkir air putih dan beberapa lauk pauk yang disimpan dalam mangkuk kecil.

“Sebaiknya kau makan dulu Jae Hwan-shi, aku yakin kau ingin cepat sembuh dan pergi dari sini seperti yang kau katakan tadi.” Wanita itu berkata dan Jae Hwan terpaksa mengikuti keinginan wanita itu.

“Namamu..siapa namamu?” Tanya Jae Hwan sebelum wanita itu mengaduk buburnya.

“Aku? Hm..haruskah aku memberitahu mu?” Wanita itu tersenyum jahil dan Jae Hwan mengerang kesal.

“Han So Eun.” Akhirnya wanita itu menjawab. “Namaku Han So Eun, Jae Hwan-shi.” Wanita itu tersenyum dan entah kenapa pipi Jae Hwan memanas saat dia melihat betapa manisnya senyum wanita itu.

*****

Jae Hwan dan So Eun semakin dekat setiap hari, dia baru tahu jika So Eun adalah putri seorang pedagang kaya. Ayahnya selalu berdagang sehingga dia jarang dirumah karena dia sibuk mengelilingi Cina dan Jepang sehingga dia hanya tinggal bersama ibunya dan beberapa pelayannya yang setia menemaninya, walaupun So Eun anak seorang pedagang kaya dia kelihatan cukup dekat dengan pelayan nya.

So Eun selalu rajin merawatnya, terkadang So Eun menceritakan tentang ayahnya juga. Dia sudah terbiasa untuk merawat orang yang sedang sakit karena ayahnya sering sakit setelah dia pulang dari perjalanan jauhnya, dia juga menceritakan betapa keras kepalanya ayahnya itu saat sakit.

“Aku dan ibuku terkadang sangat kesal pada sifat keras kepala ayahku.” Gadis itu mengungkapkan dengan nada bercanda, Jae Hwan hanya bisa tersenyum dia tidak memiliki cerita tentang ayahnya ataupun ibunya dia berbeda dari So Eun dia tidak pernah memiliki keluarga.

Satu-satunya hal yang mengingatkan dia bagaimana rasanya memiliki keluarga hanyalah saat dia dan So Eun juga ibunya makan bersama. Untuk pertamakalinya dalam beratus-ratus tahun dia tidak makan sendirian, bahkan ibu So Eun sudah menganggap Jae Hwan seperti anak lelakinya sendiri karena wanita paruh baya itu selalu memberikan daging yang banyak pada mangkuknya sambil berkata kalau dia harus makan banyak jika ingin sembuh.

Dari sana dia tahu rasanya memiliki ibu,dia baru tahu betapa hangatnya sebuah keluarga itu.pantas saja So Eun tumbuh begitu baik dan lembut karena dia tumbuh dalam kehangatan dan kasih sayang yang berlimpah dari ibunya berbeda sekali dengannya yang dari kecil sudah diasuh oleh kekejaman dan hukum rimba.

Suatu hari saat Jae Hwan sudah pulih dan cukup sehat untuk berjalan-jalan dia bisa melihat So Eun sedang merawat bunga-bunga yang tumbuh dihalaman belakang rumahnya, wanita itu kelihatan senang sekali saat dia menyiram bunga-bunga indah didepannya.

“Apa kau suka bunga?” Jae Hwan bertanya membuat So Eun terkejut.

“Jae Hwan! Kau membuatku terkejut.” Balas So Eun.

“Kau kelihatan senang sekali saat kau menyiram bunga-bunga ini.” Jae Hwan mendekat kearah So Eun dan menyentuh bunga-bunga So Eun yang sedang bermekaran. Jae Hwan baru sadar kalau sekarang sudah musim semi, itu artinya dia sudah tinggal disini kurang lebih dua bulan.

“Ya, aku sangat menyukai bunga-bunga ini.” So Eun menjawab dan dia kembali menyirami bunga-bunganya.

“Aku tahu tempat yang sangat indah, tapi tempat itu terlalu jauh dari sini.” Jae Hwan bergumam, dia kelihatan sedih karena dia tidak bisa membawa So Eun kesana.

“Oh ya?dimana itu?”

“Gunung Jirisan, disana banyak sekali bunga-bunga indah apalagi sekarang musim semi pasti bunga-bunga itu sudah mekar sekarang.” Jae Hwan tersenyum, dia ingat jika dia sedang bosan biasanya dia tidur siang dihamparan hijau padang rumput gunung jirisan yang sangat luas disana juga terdapat hamparan bunga-bunga liar yang indah.

“Oh iya, kau penguasa gunung jirisan bukan? Kau pasti tahu seluk beluk gunung itu.” So Eun meledek dan Jae Hwan melirik kearah wanita itu dengan tatapan tidak senang.

“So Eun, apa kau masih tidak percaya dengan siluman?” Tanya Jae Hwan, mendengar itu So Eun berhenti menyiram bunganya.

“Aku orang yang tidak pernah percaya tahayul, jika aku tidak melihatnya aku tidak mempercayainya.” Jawab So Eun, dia akhirnya berjalan masuk kedalam rumah sedangkan Jae Hwan hanya menatap kosong kearah bunga-bunga yang ada didepannya.

Bagaimana dia bisa mengatakan yang sebenarnya pada So Eun? Bagaimana jika wanita itu akhirnya tahu yang sebenarnya? Dia tidak bisa bersembunyi selamanya disini. Jika begitu dia akan membahayakan keluarga So Eun. Mungkin dia harus pergi besok, dia tidak ingin menjadi beban untuk keluarga So Eun ibu So Eun sudah cukup baik membiarkan dia tinggal dirumah mewah itu sampai dia sembuh.

Esok harinya Jae Hwan memutuskan untuk pergi, dia sudah berpamitan pada ibu So Eun dan wanita paruh baya itu memberikan banyak bekal makanan padanya. So Eun kelihatan sedih saat dia melihat Jae Hwan, dia bahkan menghindar saat Jae Hwan ingin mengucapkan salam perpisahannya.

“Kenapa kau harus pergi?bisakah kau tinggal disini?” So Eun ternyata mengejarnya sampai gerbang utama saat Jae Hwan sudah berjalan cukup jauh.

Jae Hwan berhenti berjalan saat dia mendengar perkataan So Eun dan berbalik kearah wanita itu, Jae Hwan tersenyum dan menggelengkan kepalanya memberikan jawaban untuk pertanyaan So Eun.

“Kalau begitu kau akan pergi kemana? Gunung Jirisan?” So Eun bertanya lagi kali ini Jae Hwan mengangguk.

“Disana berbahaya Jae Hwan! Aku mendengar dari ayahku kalau digunung itu banyak sekali binatang buas, Kau tidak bisa pergi kesana!” So Eun menarik lengan Jae Hwan, mencegah lelaki itu untuk kembali berjalan.

“So Eun, aku penguasa gunung Jirisan bukan? Aku tahu jalanku.” Jae Hwan mengelus kepala So Eun namun So Eun enggan melepaskan genggaman tangannya.

“Tidak, kau akan terluka lagi kau cukup beruntung aku menemukanmu di kaki gunung waktu itu bagaimana jika nanti saat kau terluka lagi aku tidak ada disana? Bagaimana jika kau akhirnya sekarat dan mati?” Mata So Eun berkca-kaca saat dia mengatakan itu.

“Aku akan baik-baik saja, aku cukup ceroboh waktu itu tapi aku belajar sekarang…kau tak usah khawatir.” Jae Hwan melepaskan tangan So Eun dari lengannya dan pergi menjauh dari wanita itu.

“Lee Jae Hwan!” Panggil So Eun dan sekali lagi Jae Hwan menghentikan langkahnya.

“Kau bilang kau siluman naga, kau sudah sembuh sekarang buktikan padaku jika kau benar-benar siluman.” So Eun berkata, sebenarnya dia tidak terlalu ingin membuktikan hal itu tapi dia hanya ingin menghabiskan waktu yang lebih bersama Jae Hwan.

“Kau yakin?”

“Sangat yakin.”

*****

    So Eun kebingungan saat Jae Hwan mengajaknya pergi kesebuah danau, danau itu luas sekali dan sangat indah namun So Eun sedikit ketakutan karena danau itu pasti sangat dalam ada kemungkinan juga hewan-hewan buas muncul dari danau itu. Jae Hwan tersenyum saat dia melihat So Eun ketakutan, wanita itu bahkan menggengam lengannya dengan kuat, Jae Hwan tahu So Eun bukanlah tipe wanita yang suka berjalan-jalan kegunung.

“Apa kau akan terus memegang lenganku seperti ini?” Jae Hwan berkata dan So Eun langsung melepaskan genggamannya.

“K-kenapa kau membawaku kesini?” So Eun melirik kearah sekitar danau.

“Kau bilang kau ingin melihat bukti kalau aku silumankan?” Jae Hwan melangkah kedepan So Eun.

“Ya, tapi kenapa kau membawaku ke danau? Jangan bilang kau akan..” So Eun menatap curiga kearah Jae Hwan namun Jae Hwan malah tertawa.

“Tenang saja tuan putri, aku tidak akan tega melakukan hal yang jahat padamu.” Jae Hwan menjawab, dia melangkah menjauh dari So Eun dan menutup matanya.

So Eun terkejut saat tiba-tiba angin berhembus dengan kencang dan langit mendadak menjadi sangat gelap, So Eun terlalu takut sehingga dia menutup matanya sampai akhirnya semuanya kembali normal. So Eun perlahan membuka matanya dan dia terkejut saat dia melihat seekor naga hitam ada disampingnya, naga itu sangat besar sekali dan menyeramkan namun So Eun tidak menjerit karena dia tahu itu Jae Hwan.

“Jae Hwan..apa itu kau?” Mendengar itu naga besar itu menundukan kepalanya sehingga kepala besarnya sejejar dengan wajah So Eun.

Walaupun So Eun ketakutan So Eun menyentuh naga itu, sisik hitam Jae Hwan terlihat bercahaya saat sinar matahari menyentuhnya. So Eun tersenyum dan memeluk naga itu dia tahu naga itu adalah Jae Hwan, dia bisa merasakannya naga itu tidak buas sama sekali dan dia tidak takut lagi saat dia merasakan kepala naga itu mendekat kearahnya seakan naga itu mencoba memeluknya kembali.

“Jadi selama ini kau mengatakan yang sebenarnya? Maafkan aku..aku tidak penah mempercayaimu.” So Eun berkata dia mengelus kepala naga itu penuh dengan kasih sayang.

“Kau bilang, kau tahu tempat indah di gunung Jirisan maukah kau mengantarku kesana?” So Eun meminta, dia menatap kearah mata merah naga Jae Hwan.

Naga Jae Hwan hanya mengangguk dan merendahkan tubuhnya sehingga So Eun bisa menaikinya, So Eun dengan senang nya duduk di punggung naga itu dan berpegangan erat saat sayap Jae Hwan melebar dan mereka melesat terbang ke langit.

So Eun bisa melihat hamparan bunga liar digunung Jirisan dari langit, dari kejauhan saja hamparan bunga-bunga itu terlihat sangat indah apalagi dari dekat. Jae Hwan akhirnya mendarat dipuncak hamparan bunga-bunga liar itu dan membiarkan So Eun turun dari punggungnya, taklama kemudian dia berubah kembali menjadi sosok manusia.

“Sudah kubilang bunga disini indahkan?” Jae Hwan berbicara, So Eun melirik kearah Jae Hwan dan mengangguk.

“Maaf aku tidak percaya pada kau saat kau mengatakan kalau kau siluman.”

“Aku tidak menyalahkanmu, aku tahu itu hal yang tidak masuk akal.”

Mereka berdua tersenyum kearah satu sama lain sampai akhirnya So Eun duduk dihamparan rumput, dia menutup matanya dan menarik nafas. Udara digunung Jirisan berbeda sekali dengan udara di desanya,selama ini dia menyangka jika gunung Jirisan hanyalah gunung yang berbahaya dan dipenuhi oleh mahluk buas dan bandit ternyata dia salah.

“Apa kau ingin memetik bunga-bunga indah itu?aku akan memetiknya untukmu.” Jae Hwan menawarkan dan So Eun mengangguk penuh antusias, dia ingin mencoba menanam bunga-bunga ini di halaman belakang rumahnya.

Jae Hwan lalu pergi untuk memetik beberapa bunga yang menurutnya indah sedangkan So Eun memperhatikan lelaki itu, So Eun tersenyum saat dia melihat Jae Hwan kelihatan kebingungan. So Eun baru menyadari betapa tampannya Jae Hwan, dia ingat sekali saat dia pertama kali melihat lelaki itu.

Dia ingat betapa dinginnya tangan Jae Hwan saat dia menyentuh tangannya, dia benar-benar khawatir saat dia melihat betapa pucatnya Jae Hwan saat itu. Apalagi darah tidak berhenti keluar dari lengan kanannya, Jae Hwan cukup beruntung karena dia langsung membalut luka Jae Hwan dengan kain bajunya walaupun pada akhirnya dia tidak bisa menggunakan *hanbok kesukaannya lagi karena sudah dia robek.

Namun dia tidak pernah menyesalinya, dia lebih baik kehilangan salah satu hanboknya dibandingkan kehilangan lelaki yang sedang sibuk memetik bunga untuknya sekarang. So Eun tidak tahu sejak kapan dia merasakan perasaan ini terhadap Jae Hwan, dia tidak tahu kapan dia jatuh cinta pada lelaki itu.

Mungkin ditengah-tengah saat mereka saling bertukar informasi tentang tanaman, Jae Hwan tahu banyak tentang tanaman herbal ternyata. Atau mungkin saat mereka saling menggoda dan meledek satu sama lain seperti anak kecil, mungkin saat Jae Hwan tertawa pada leluconnya seperti anak kecil atau mungkin So Eun sudah jatuh cinta pada lelaki itu dari awal? So Eun tidak bisa memastikan.

“Apa semua ini cukup?” Jae Hwan menunjukan sebuket bunga yang dia ikat dengan rumput liar kehadapan So Eun.

“Wah..aku rasa ini terlalu banyak.” So Eun berkata namun dia menerima buket bunga itu.

“Apa kau akan menanamnya di halaman belakang?” tanya Jae Hwan dan So Eun mengangguk.

“Aku akan menanamnya, aku harap bunga-bunga ini bisa tumbuh dihalaman belakang mereka indah sekali.” So Eun menyentuh bunga liar itu.

“Aku harap kau menjaga bunga-bunga itu dengan baik.” Jae Hwan berkata dan So Eun mengangguk, tentu saja dia akan menjaga bunga itu dengan baik karena bunga itu adalah kenang-kenangan dari Jae Hwan untuknya.

“Aku punya pertanyaan,bisakah aku menjawabnya dengan jujur?” Jae Hwan bertanya, mendengar itu entah kenapa jantung So Eun berdetak lebih kencang.

“Bertanya soal apa?”

“Kenapa kau menyelamatkanku So Eun? Aku seharusnya mati saja..aku layak untuk mati, aku bukan siluman yang baik.” Jae Hwan menunduk.

“Jae Hwan,kau mungkin jahat tapi itu dulu…itu masa lalumu dan kau masih memiliki masa depan kau masih bisa berubah Jae Hwan.” So Eun menyentuh pipi Jae Hwan, Jae Hwan tersenyum tipis dan menyentuh tangan hangat So Eun.

“Kau tidak tahu hal-hal buruk yang pernah aku lakukan, apa kau akan membenciku jika kau tahu hal-hal buruk itu?” Jae Hwan menatapa kearah So Eun, So Eun menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak akan membencimu selama kau tidak mengulanginya, apa yang sudah terjadi biarlah terjadi kau adalah Jae Hwan yang baru sekarang.” So Eun berkata, Jae Hwan tidak pernah menemukan seorang yang menaruh kepercayaan yang besar padanya seperti So Eun.

“So Eun, jika aku mengatakan aku mencintaimu apakah kau akan menerimanya?”

So Eun terkejut mendengar itu, dia tersenyum dan mengangguk. Tak ada kata yang keluar dari mulut So Eun namun melihat senyuman itu Jae Hwan tahu wanita ini sangat mencintainya, tatapan mata So Eun sangat menenangkan bagi Jae Hwan selama ini dia tidak pernah merasa setenang ini.

“Aku tidak tahu kenapa kita tidak bertemu lebih awal, tapi aku membenci diriku sendiri karena tidak menemuimu lebih awal.” Jae Hwan berkata dan dia memeluk So Eun dengan erat.

“Aku juga Jae Hwan,aku ingin bertemu denganmu lebih awal jika aku bisa memutar waktu.” Ucap wanita itu.

*****

Musim Semi beralih menjadi musim dingin, musim dingin tahun ini adalah musim dingin yang sangat kejam. Suhu sangat rendah dan susah sekali bagi warga untuk mencari makanan, tetangga So Eun kemarin meninggal karena hipotermia dan warga yang lain mulai panik mencari solusi untuk menghangatkan diri mereka.

Ayah So Eun yang mendengar berita miring tentang musim dingin di kampung halamannya khawatir dan langsung pulang kerumah meninggalkan bisnisnya, dia datang membawa banyak makanan dan perlengkapan yang bisa membantu keluarga kecilnya dirumah.

So Eun terlalu senang melihat ayahnya kembali sehingga dia tidak terlalu peduli pada barang-barang yang ayahnya bawa dan berlari memeluk lelaki paruh baya itu dengan erat, ayah So Eun senang sekali saat dia mendapat sambutan hangat dari putri tunggalnya.

Abeoji, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” So Eun menarik ayahnya kearah halaman belakang rumahnya dan dia bisa melihat seorang pemuda yang sedang duduk bersama istrinya, mereka berdua kelihatan akrab.

“Jae Hwan, kenalkan ini ayahku.” So Eun memperkenalkan ayahnya, Jae Hwan segera berdiri dan membungkuk hormat kearah ayah So Eun.

Annyeong hasimmnika  aku Lee Jae Hwan, senang bertemu dengan anda paman.” Jae Hwan mengenalkan dirinya dan ayah So Eun tersenyum.

“Senang bertemu denganmu juga nak.” Ayah So Eun berkata. “Kalian kelihatannya cukup akrab, bisa kau jelaskan sudah berapa lama kalian saling mengenal?” ayah So Eun melirik kearah anak perempuan dan istrinya.

Yeobo, dia teman So Eun dialah yang membantu kami untuk mencari kayu bakar kau tahu disini dingin sekali kami mungkin sudah mati karena kedinginan jika Jae Hwan tidak membantu.” Ibu So Eun memuji dan So Eun mengangguk setuju.

“Benarkah? Terimakasih nak, sepertinya kau anak yang baik.” Ayah So Eun menepuk pundak Jae Hwan dan Jae Hwan hanya bisa tersenyum malu-malu, So Eun ingin sekali menggoda Jae Hwan soal itu nanti.

“Oh iya, aku membawa banyak barang dan makanan diluar bisakah kau membantuku?” Ayah So Eun berkata dan Jae Hwan menurut, dia mengikuti langkah ayah So Eun dan membantu lelaki itu mengangkat barang-barang yang dia bawa didalam kereta kuda yang dia kendarai.

“Awww!” Jae Hwan mengerang saat dia merasakan tangannya terbakar, dia menjatuhkan pedang yang dia bawa. “Jae Hwan kau tidak apa-apa?!” So Eun segera menghampiri Jae Hwan saat wanita itu mendengar erangan Jae Hwan.

“Nak, kau baik-baik saja?” ayah So Eun ikut menghampiri lelaki itu.

“Aku baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir.” Jae Hwan berkata, So Eun membuka telapak tangan Jae Hwan yang Jae Hwan kepalkan dia tidak ingin So Eun melihat betapa parahnya luka ditangannya namun So Eun memaksa dan dia terkejut saat dia melihat tangan Jae Hwan terluka sangat parah bahkan tanganya kelihatan terbakar.

So Eun langsung mengobati luka Jae Hwan dan menyuruh ibunya untuk membantu ayahnya, ayah So Eun memungut pedang yang dijatuhkan oleh Jae Hwan dan dia baru ingat jika pedang itu dia beli dari sebuah kuil. Ayah So Eun merasa sedikit janggal, bagaimana pedang itu bisa membakar kulit Jae Hwan? Jika merobek kulitnya mungkin masuk akal tapi dia bisa melihat jelas luka yang ada ditangan Jae Hwan adalah luka bakar.

Yeobo? Sampai kapan kau akan berdiri disana.” Istrinya mengomel dan ayah So Eun segera membantu istrinya.

****

Hak Yeon dan Sang Hyuk berjalan menulusuri pedasaan, mereka lega sekali karena akhirnya mereka menemukan sebuah pedesaan setelah mereka mengelilingi gunung Jirisan untuk mencari siluman yang ingin mereka bunuh. Sang Hyuk memutuskan untuk datang kesebuah tempat makan untuk membeli makanan, dia duduk disalah satu bangku kosong dan memesan makanan untuk dirinya dan Hak Yeon.

Saat dia baru saja meminum air putihnya seorang wanita cantik duduk disampingnya, Sang Hyuk tidak mengenal wanita itu namun wanita itu tersenyum kearahnya seakan dia mengenal Sang Hyuk.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan, ‘apakah aku mengenal wanita ini?’itukan yang kau pikirkan.” Wanita itu berkata dan Sang Hyuk mengangguk.

“Aku Hye Ri, Lee Hye Ri.” Hye Ri mengulurkan tangannya dan Sang Hyuk menjabat tangan wanita itu.

“Aku tahu kau dan temanmu mencari siluman naga yang bernama Jae Hwan apa aku benar?” sekali lagi Sang Hyuk mengangguk.

Hye Ri menyeringai dan mendekat kearah Sang Hyuk lalu membisikan sesuatu pada lelaki itu.

“Aku tahu dimana dia.” Hye Ri berbisik lalu pergi meninggalkan Sang Hyuk yang terkejut.

“Tunggu! Siapa kau?” Tanya Sang Hyuk, Hye Ri melirik kearah Sang Hyuk dan tersenyum.

“Katakan saja aku temanmu, aku akan memberitahu dimana dia berada tapi aku punya tugas khusus untukmu. Jika kau dan temanmu setuju temui aku disini besok.” Perintahnya sebelum dia pergi menghilang diantara orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan.

*****

Mereka ada dikamar So Eun sekarang dan So Eun baru saja selesai mengobati luka Jae Hwan, Jae Hwan bisa melihat jika kekasihnya itu khawatir sehingga dia menarik tangan So Eun saat wanita itu akan pergi. So Eun melirik kearah Jae Hwan dan memberikan lelaki itu senyum tipisnya.

“Tak usah khawatir, luka ini akan sembuh.” Jae Hwan berkata memecah hening diantara mereka.

“Aku tahu, hanya saja…bagaimana jika kedua orangtuaku tahu kau bukan manusia biasa Jae Hwan?” So Eun bertanya, mendengar itu Jae Hwan ikut khawatir tidak semua orang bisa menerima keadaannya itu sebabnya dia tinggal dipuncak gunung Jirisan.

“Orangtuamu tidak usah tahu.”

“Lalu sampai kapan kita menyembunyikannya?”

Hening kembali tumbuh diantara mereka, So Eun mengigit bibirnya gugup dia tidak tahu harus berbuat apa. Ayahnya pasti tidak akan senang jika dia tahu So Eun berpacaran dengan Jae Hwan, ayahnya itu sangat religius dia bahkan tidak pernah lupa datang ke kuil untuk berdoa.

Mendengar anaknya mencintai seorang siluman yang tidak suci tentu saja ayahnya akan murka tapi So Eun tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia ingin hidup bersama Jae Hwan menjadi istrinya dan memiliki anak seperti bagaimana dua manusia normal yang saling mencintai.

“Aku akan membawamu pergi, jika mereka mengancammu aku akan membawamu pergi bagaimana? Apa kau mau pergi bersamaku?” Jae Hwan menyentuh pipi So Eun dan So Eun tidak bisa menolak ajakan itu.

Dia ingin sekali pergi namun bagaimana dengan orangtuanya? Dia sangat menyayangi kedua orangtuanya, jika dia pergi dia tahu kedua orangtuanya pasti sangat sedih dan khawatir. Apalagi keadaan ibunya yang sudah tua bisa memburuk, siapa yang akan mengurusnya nanti? So Eun menghela nafasnya berat dan menggelengkan kepalanya menolak ajakan Jae Hwan.

“Aku tidak bisa pergi Jae Hwan, kau tahu aku sangat menyayangi ibuku…jika aku pergi siapa yang akan mengurusnya? Aku tidak percaya pada pelayan disini.” So Eun berkata sedih, dia menggengam tangan Jae Hwan dengan kuat.

“Tapi jangan salah paham, aku mencintaimu Jae Hwan…hanya saja..”

“Aku mengerti.” Jae Hwan memotong perkataan So Eun dan langsung mengecup bibir gadis itu dengan lembut.

So Eun mengecup kembali bibir Jae Hwan dan mereka berdua tersenyum, Jae Hwan tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa So Eun, dia baru menyadari betapa kesepiannya dia dulu. Sekarang So Eun selalu mewarnai hidupnya dan itu membuat Jae Hwan takut kehilangan wanita ini, dia tidak pernah ingin melepaskannya walaupun nyawanya yang menjadi taruhan.

Jae Hwan akhirnya melepaskan ciuman mereka dan membiarkan So Eun pergi untuk menyimpan perban yang dia bawa. Saat mereka berdua turun kebawah untuk membantu mengangkat barang-barang ayah So Eun ayahnya malah menyuruh mereka untuk makan dan minum teh, ayahnya mengatakan kalau dia ingin mengenal Jae Hwan mereka berdua tidak bisa menolak dan mengikuti langkah ayahnya menuju ruang makan rumah keluarga Han yang sangat besar.

“Jadi Jae Hwan, kau tinggal dimana? Bagaimana dengan orangtuamu?” Ayah So Eun bertanya saat mereka sedang makan malam, So Eun yang duduk disamping Jae Hwan gugup dia tahu Jae Hwan pasti kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu.

“Jae Hwan tinggal dikaki gunung Jirisan ayah, kedua orangtuanya sudah meninggal saat dia masih kecil  iyakan Jae Hwan?” So Eun menjawab pertanyaan itu untuk Jae Hwan dan lelaki itu hanya bisa mengangguk.

“Oh kau yatim piatu, bagaimana dengan pekerjaan?” Ayahnya melanjutkan, So Eun tidak bisa menjawab semua pertanyaan ayahnya jika dia melakukan itu ayahnya pasti curiga sehingga dia membiarkan Jae Hwan yang menjawab.

“Aku berburu binatang dan menjual kulitnya.” Jae Hwan menjawab, So Eun menghela nafasnya lega saat mendengar jawab Jae Hwan.

“Oh..kau seorang pemburu? Itu pasti sangat menyenangkan, aku terlalu takut untuk menjadi pemburu itulah sebabnya aku berdagang.” Ayah So Eun tertawa begitu juga ibunya, So Eun mencoba tertawa walapun dia bisa merasakan tangannya dingin karena gugup.

Jae Hwan melirik kearahnya dan menggengam tangannya dibawah meja, dia mencoba membuat So Eun lebih tenang. Dia bersyukur jika kedua orangtua So Eun tidak mencurigainya, dia akhirnya bisa pulang dengan tenang.

*****

So Eun baru saja selesai mandi, dia menyisir rambutnya didepan cermin dengan wajah muram. Dia bahagai ayahnya kembali namun dia merasa resah karena dia takut jika ayahnya mengetahui rahasia Jae Hwan, entah kenapa sejak kedatangan ayahnya hati So Eun tidak kunjung tenang dia selalu khawatir dan memikirkan jalan keluar untuk masalahnya.

Saat So Eun baru saja selesai menyisir rambutnya tiba-tiba saja dia mendengar ketukan pada jendela kamarnya, dia berjalan menuju jendela kamarnya dan dia melihat Jae Hwan ada dibawah rumahnya tersenyum kearahnya seperti anak kecil yang lugu. So Eun membalas senyum itu dan menyandar kejendela agar dia bisa melihat Jae Hwan lebih jelas.

“Apa yang kau lakukan disini malam-malam?” Tanya So Eun dan Jae Hwan hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku ingin membawa berjalan-jalan.” Jae Hwan berkata dan So Eun menggelengkan kepalanya.

“Tidak bisa, ayahku ada dibawah dia tidak akan mengijinkan.” Jawab So Eun sedikit berbisik karena dia takut jika ayahnya mendengar percakapannya dengan Jae Hwan.

“Tenang saja,aku bisa mengatasinya.” Jae Hwan berkata dan dengan ajaibnya dia bisa melayang mendekat kearah jendela kamar So Eun membuat So Eun terkejut.

“Bagaimana??”

“Sudah aku bilang, aku bukan manusia biasa So Eun-ah.” Jae Hwan berkata, dia menarik tangan So Eun agar wanita itu mendekat kearahnya dan dengan mudahnya Jae Hwan mengangkat So Eun kedalam pangkuannya dan mereka terbang menjauh dari rumah So Eun.

“Kemana kau akan membawaku?” So Eun bertanya ditengah perjalanan mereka.

“Ketempat paling indah yang pernah aku tahu.” Jae Hwan menjawab.

Ternyata Jae Hwan membawa So Eun ke danau tempat dimana Jae Hwan untuk pertamakalinya menunjukan sosok naganya pada So Eun, dia bahkan masih ingat betapa terkejutnya So Eun saat wanita itu melihat sosok aslinya. Namun yang membuat Jae Hwan senang wanita itu sama sekali tidak takut padanya, berbeda dengan orang kebanyakan yang langsung berlari penuh ketakutan saat mereka melihat sosok naganya.

So Eun malah mendekat dan menyentuhnya, untuk pertamakalinya Jae Hwan merasa normal dia merasa nyaman saat tangan hangat gadis itu menyentuh kulit sisiknya. Jae Hwan akhirnya menurunkan So Eun saat mereka sampai dipinggir danau, kedatangan mereka bahkan disambut oleh kunang-kunang yang berkeliaran bahkan salah satu dari mereka hinggap dirambut coklat So Eun.

Jae Hwan menangkap kunang-kunang itu dan memberikannya pada So Eun, So Eun tersenyum dan membiarkan kunang-kunang itu bebas terbang bergabung bersama teman-temannya yang lain.

“Kenapa kau membawaku kesini?” So Eun bertanya dan Jae Hwan mengajaknya duduk disampingnya.

“Aku hanya ingin kau tahu jika aku sangat mencintaimu Han So Eun, kau menerangi hidupku seperti kunang-kunang yang menerangi danau ini.” Jae Hwan menjawab dan So Eun tertawa mendengar jawaban Jae Hwan.

“Kenapa kau sangat gombal Lee Jae Hwan? Apa kau mengatakan itu pada gadis yang lain?” So Eun menggoda, Jae Hwan tidak menjawab dia hanya menarik kepala So Eun agar wanita itu meletakan kepalanya dibahu lebarnya.

So Eun meletakan kepalanya dibahu Jae Hwan dan melingkarkan tangannya dipinggang Jae Hwan, jika dia bisa menghentikan waktu dia ingin melakukan itu. Sepertinya diam disini dalam keabadian bersama Jae Hwa bukanlah ide yang buruk, dia tidak ingin kembali kerumahnya walaupun dia akan merindukan kedua orangtuanya.

“Tidak ada gadis lain yang aku cintai selain kau, kau tak usah khawatir.” Ucap Jae Hwan, So Eun hanya mengangguk mempercayai kata-kata kekasihnya itu.

Udara malam itu cukup dingin namun mereka tidak menghiraukannya. Jae Hwan menyentuh dagu So Eun membuat So Eun melirik kearahnya, mata coklat wanita itu menatap kearahnya penuh cinta dan entah kenapa jantung Jae Hwan berdetak kencang sekali saat dia menatap kembali So Eun.

Dia selalu gugup setiap kali dia berdekatan dengan So Eun, apakah ini yang disebut dengan cinta? Jae Hwan tahu berbagai emosi dari sedih hingga dendam namun dia belum pernah merasakan cinta. Dia tidak pernah tahu jika cinta bisa memabukan seperti ini, kepalanya selalu terasa kosong setiap kali dia sudah menatap wajah cantik So Eun seakan satu-satunya yang dia tahu hanyalah betapa cantiknya mata,hidung dan bibir seorang Han So Eun.

“Jae Hwan..” Panggil So Eun kebingungan, Jae Hwan sudah menatapinya hampir lima menit dan itu membuat So Eun sedikit gugup.

“Han So Eun kau tidak tahu betapa cantiknya kau malam ini.” Jae Hwan bergumam dan So Eun tersenyum tipis mendengar itu. “Aku…aku ingin memilikimu selamanya, apa itu suatu yang salah?” lanjutnya, So Eun menggelengkan kepalanya tentu saja itu tidak jahat karena dia memiliki rasa yang sama.

“Aku juga Jae Hwan, aku ingin memilikimu selamanya.”

Mendengar ungkapan cinta itu segala kontrol didalam tubuh Jae Hwan lepas, dia segera mencium So Eun dengan penuh hasrat. Tak ada lagi ciuman yang lembut dan manis, ciuman Jae Hwan penuh dengan tekanan dan ketidak sabaran namun So Eun tidak keberatan dia sendiri merasakan hal yang sama.

Entah apa yang terjadi So Eun tidak bisa mencerna nya dengan jelas, semuanya terjadi begitu cepat dan sekarang tangan Jae Hwan membuka tali baju hanboknya secara perlahan. Jae Hwan lalu mencium punggungnya dengan lembut, So Eun tidak pernah tahu Jae Hwan bisa selembut ini. Tangan kekarnya melingkar dipinggang nya danSo Eun menyandar pada dada Jae Hwan.

Tidak pernah selama hidupnya dia merasa begitu lemah dibawah kekuasaan seseorang, namun sentuhan Jae Hwan begitu melumpuhkan. Tangan Jae Hwan meninggalkan jejak hangat dikulit dinginnya, dia tak bisa bernafas saat tangan Jae Hwan menyentuh dadanya dan dia melenguh tanpa sadar dia tidak tahu jika dia bisa menghasilkan suara yang kotor itu.

So Eun mencoba menutupi tubuhnya saat Jae Hwan memandang kearahnya, sangat memalukan dia pikir dia tidak pernah membiarkan oranglain memandangi tubuh telanjangnya. Jae Hwan menarik tangan So Eun sehingga wanita itu berhenti menutupi tubuhnya, malam ini Jae Hwan ingin mengingat setiap detail tubuh So Eun. Dia tidak pernah tahu kapan dia bisa melihat kembali wanita itu, masa depan yang mereka miliki tidak begitu cerah.

Jae Hwan membaringkan So Eun sehingga cahaya bulan menyinarinya tubuh wanita itu, begitu indah pikir Jae Hwan. Jae Hwan mencium perut So Eun membuat wanita itu menarik nafasnya terkejut, tangan So Eun seketika menyentuh kepalanya saat dia menciumi perut So Eun sampai pahanya dia sengaja melewatkan kemaluan So Eun hanya untuk menggoda wanita itu.

“Kau tak usah malu So Eun-ah.” Ucapnya dengan seringai yang sedikit licik, So Eun memalingkan wajahnya terlalu malu untuk menatap kearah mata Jae Hwan.

Jae Hwan kembali mencium So Eun dan So Eun dengan penuh hasrat melingkarkan tangannya dileher Jae Hwan, ciuman mereka jauh dari lembut ciuman mereka basah dan panas. Salah satu jari Jae Hwan menyentuh kewanitaan So Eun membuat So Eun melenguh dalam ciuman mereka, Jae Hwan sepertinya senang melihat reaksi So Eun.

So Eun ternyata sudah basah untuknya, dia tidak menyangka tubuh So Eun begitu siap untuknya menyambutnya dengan pelukan hangat. Jae Hwan akhirnya memasukan kejantanannya kedalam kemaluan So Eun dan reaksi yang dia terima benar-benar sangat erotis. Dia bisa melihat kedua pipi So Eun yang merah,bibir lembutnya dia gigit mungkin menahan rasa sakit yang dia terima.

Jae Hwan lupa pada kenyataan jika So Eun seorang perawan, dia tidak pernah bercinta dengan siapapun selain dia dan itu membuat Jae Hwan merasa bangga. Tidak pernah dia bercinta dengan seseorang yang selembut dan semurni So Eun dan itu membuat Jae Hwan merasa bersalah, dia merasa telah menodai kanvas putih dengan tinta hitam.

“Jae Hwan..aku..” Suara So Eun terdengar lebih lembut dari biasanya, dia bisa melihat So Eun merasa tidak nyaman.

“Apa kau ingin aku berhenti?” Tanyanya dengan lembut, dia mengusap pipi wanita itu dan So Eun menggelengkan kepalanya.

“Tidak, bergeraklah…aku ingin kau malam ini.” So Eun memeluk Jae Hwan dengan erat, Jae Hwan mencium kening So Eun dan mulai menggerakan pinggulnya membuat So Eun melenguh cukup keras.

So Eun segera menutup mulutnya saat Jae Hwan mendorong kembali pinggulnya kali ini lebih dalam, So Eun mencengkram lengan Jae Hwan saat Jae Hwan mempercepat gerakan pinggulnya dia tahu So Eun masih merasa sedikit sakit.

“So Eun lihat aku, kau tak usah menahanya…keluarkan suaramu.” Jae Hwan berkata, dia mencium bibir wanita itu mencoba menghiburnya dan So Eun mengangguk.

Untuk kesekian kalinya dia menggerak pinggulnya kali ini So Eun melingkarkan kakinya dipinggang Jae Hwan membuat Jae Hwan tidak khawatir lagi. Sepertinya So Eun sudah terbiasa dengan situasi ini bahkan lenguhan wanita itu semakin keras membuat Jae Hwan percaya diri dengan gerakan nya.

“Akh! Jae Hwan!” So Eun mencakar punggungnya saat lelaki itu mempercepat ritmenya dan dia bisa merasakan dia akan mencapai puncak.

“So Eun…” Panggil Jae Hwan dan akhirnya dia mencapai puncaknya, dia terengah-engah dan memeluk So Eun dengan erat dia bisa mendengar wanita itu menghela nafasnya mungkin sama lelahnya dengan dia.

*****

Pagi sudah menyongsong dan Jae Hwan melirik kearah tubuh So Eun yang dia selimuti dengan jubahnya. Kenangan malam kemarin masih jelas dalam ingatannya dan dia tersenyum puas, dia lalu mencium kening So Eun membuat So Eun akhirnya terbangun dari tidurnya.

“Jae Hwan, kita harus kembali.” Ucapnya sedikit serak.

“Kita akan kembali, kau tidur saja dulu ini masih pagi.” Jae Hwan menjawab, So Eun bangun dari posisi tidurnya dan memakai jubah besar Jae Hwan untuk menutupi bahun telanjangnya.

“Apa kau tidak kedinginan?” Tanya So Eun, dia mendekat kearah Jae Hwan dan memeluk lelaki itu.

“Tidak, aku siluman naga So Eun..aku punya suhu badan yang tinggi.” Jae Hwan menjelaskan, ucapan Jae Hwan memang benar karena saat kulitnya menyentuh kulit Jae Hwan dia bisa merasakan kehangatan.

“Pantas saja kau tidak pernah kedinginan.” Ucapnya, dia memeluk Jae Hwan lebih erat untuk mendapatkan kehangatan yang lebih dan Jae Hwan mencium pucuk kepalanya penuh kasih sayang.

“Musim salju akan berakhir, setelah musim salju berakhir aku akan melamarmu.” Ungkap Jae Hwan, dia menatap kearah So Eun menunggu jawaban wanita itu.

“Jae Hwan kau tak usa—“

“Tidak, aku ingin meminangmu So Eun..aku ingin bersamamu selamanya.” Jae Hwan berkata dan dia mencium bibir So Eun penuh hasrat.

“Baiklah, mari kita menikah.” So Eun menerima lamaran Jae Hwan dengan senyum yang lebar.

Mendengar Itu Jae Hwan senang sekali, dia tidak sabar untuk menunggu musim salju berakhir. Hanya tinggal satu minggu lagi dan So Eun akan menjadi istrinya, mereka bisa menghabiskan banyak waktu bersama dan mungkin memiliki banyak anak seperti apa yang selalu dia impikan.

Jae Hwan lalu mengambil sesuatu dari saku celananya, dia menunjukan sebuah liontin dengan bandul naga yang sangat indah. Melihat kalung itu So Eun sangat senang dia menyentuh kalung itu dan Jae Hwan memasangkannya dileher So Eun, dia sangat menyukai kristal merah yang ada ditengah-tengah ukiran naga kalung nya.

“Kapan kau membuat kalung ini?pasti sangat lama untuk mengukir kalung yang indah ini.” Tanya So Eun.

“Aku sudah memilikinya cukup lama, aku membuat kalung ini untuk diriku sendiri..kau tahu banyak sekali orang yang ingin membunuhku namun dengan kalung ini aku bisa bertahan hidup karena sebagian jiwaku ada didalam kristal ini.” Jae Hwan menjelaskan.

“Kenapa kau memberikannya padaku?bagaimana jika kau terluka?” So Eun melirik kearah Jae Hwan penuh kekhawatiran.

“Aku ingin kau memilikinya agar kau bisa hidup selamanya denganku So Eun.” Jae Hwan menjawab dan mencium kening So Eun.

*****

Hak Yeon dan Sang Hyuk menatap kearah sosok Hye Ri yang duduk didepan mereka dengan santainya meneguk minumannya, Hye Ri menyeringai saat dia melihat ekspressi penasaran yang muncul di wajah kedua pria yang ada didepannya ini. Dia tidak sabar untuk mengucapkan dimana keberadaan Jae Hwan sehingga dua pria ini bisa segera membunuh siluman jahat itu.

Hye Ri menatap sedih kearah gelasnya, dia masih ingat pada Hong Bin kekasihnya dan dia masih merindukan sosok lelaki itu. Darahnya selalu mendidih setiap kali dia mengingat bagimana dengan mudahnya Jae Hwan membunuh kekasihnya, dia masih ingat kata-kata terakhir Hong Bin dan setiap kali dia mengingatnya airmatanya mengancam untuk turun.

“Jadi apa yang kau inginkan? Bukankah kau bilang kau akan memberitahu kami dimana Lee Jae Hwan berada?” Hak Yeon akhirnya bertanya.

“Aku akan mengatakannya, kalian tidak usah khawatir…tapi aku ingin kalian berjanji untuk membunuhnya.” Ucap Hye Ri.

“Kau tak usah khawatir, siluman itu pasti mati ditangan kami.” Janji Sang Hyuk, dia meremas pedang yang ada dipinggangnya, dia tidak sabar untuk membunuh Jae Hwan.

“Kalau boleh tahu kenapa kalian memburu Jae Hwan? Aku kira dia tidak akan berurusan dengan biksu seperti kalian.” Hye Rin menatap kembali kearah kedua biksu itu.

“Dia sudah membunuh guru kami, dia bahkan menghancurkan kuil dan pedesaan kami.” Hak Yeon menjelaskan, dia kelihatan marah saat mengatakan itu.“Dia dengan kejamnya membunuh kedua orangtuaku, dia membunuh mereka didepan mataku dan aku tidak bisa melakukan apapun karena saat itu aku terlalu lemah.”

Mendengar itu Hye Ri sedikit bersimpati, Hak Yeon dan dirinya memiliki kesamaan. Kehilangan seseorang yang sangat berarti bukanlah hal yang enteng, dia bahkan masih memiliki mimpi buruk tentang Hong Bin sampai sekarang meskipun tubuh Hong Bin sudah tidak bernyawa bayangannya masih menghantuinya sampai sekarang.

“Lee Jae Hwan ada dirumah keluarga Han, kalian tidak bisa langsung menyeretnya dan membunuhnya tapi kalian bisa mempengaruhi Han Jae Wook dia seorang yang religius aku yakin dia akan mempercayai perkataan kalian.” Hye Ri memberitahu, dia langsung berdiri dari duduknya.

“Dia mungkin akan dilindungi oleh putri Jae Wook, Han So Eun karena dia adalah kekasihnya sebaiknya kalian berhati-hati, ibu So Eun memiliki simpati yang besar untuk Jae Hwan.” Lanjut Hye Ri, Sang Hyuk dan Hak Yeon mengangguk mengerti.

“Sekarang lakukanlah pekerjaan kalian, jika kalian butuh bantuan aku akan membantu.” Hye Ri berjalan menjauh sedangkan Hak Yeon dan Sang Hyuk memutuskan untuk pergi menuju kediaman Han.

*****

So Eun dan ibunya sedang sibuk memasak soup didapur walaupun sudah banyak pelayan yang membantu mereka So Eun dan ibunya kukuh ingin memasak untuk Jae Hwan dan ayahnya. Kedua lelaki itu baru saja datang dari hutan untuk mencari kayu bakar, belakangan ini mereka susah sekali untuk mendapatkan kayu bakar sehingga ayahnya dan Jae Hwan harus mencari kekaki gunung untuk mendapatkan kayu bakar.

Udara semakin dingin saja namun dengan kehadiran dua lelaki dirumah So Eun tetap merasa aman begitu juga ibunya, ibunya kelihatan senang sekali karena mungkin suaminya ada dirumah dan dia merasa lebih tenang.

“So Eun-ah, aku tahu kau dan Jae Hwan sangat dekat.” Ibunya berkata, mendnegar itu So Eun berhenti mengaduk soupnya.

“Lalu? Jae Hwan teman yang baik.” Balasnya, semburat merah muncul dipipinya.

“Apakah kau menyukainya? Ibu menyukai Jae Hwan…dia sangat sopan dan baik.” Ibunya memuji dan So Eun tersenyum setuju.

“Aku juga ibu, aku menyukai Jae Hwan.” So Eun berkata, Ibunya tertawa saat dia melihat betapa bahagianya So Eun.

“Kalian berpacaran iyakan? Jangan bohong padaku.” Ibunya menggoda dan So Eun hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan itu dia terlalu malu untuk menjawab pertanyaan ibunya.

“Bagaimana kalian menikah saja? Jae Hwan akan sangat membantu banyak disini.” Ibunya mengusulkan, So Eun hanya mengangguk setuju melihat ibunya setuju pada hubungannya dengan Jae Hwan membuat dia sedikit tenang.

“Kami pulang!”

Mendengar suara ayahnya So Eun segera berlari menuju ruang tengah rumahnya, dia bisa melihat ayahnya dan Jae Hwan berlumuran salju. So Eun langsung menyambut ayahnya dan membersihkan rambut ayahnya dan bahu ayahnya dari salju lalu memberikan ayahnya jubah baru agar dia tidak kedinginan, dia melirik kearah Jae Hwan dan dia tidak terkejut saat dia elihat Jae Hwan baik-baik saja dia bahkan tidak kelihatan kedinginan.

Namun untuk berpura-pura So Eun segera memeberikan lelaki itu jubah yang baru juga dan membantunya untuk menggunakannya, Jae Hwan tersenyum sambil mengucapkan terimakasih ingin sekali dia mengecup dahi wanita itu namun dia menahannya.

“Jae Hwan kuat sekali, dia bahkan bisa mengangkut kayu bakar yang banyak.” Puji ayahnya, dia menepuk bahu Jae Hwan.

“Tentu saja, dia selalu membantu kami saat kau pergi yeobo.” Ibu So Eun datang dari dapur membawa beberapa mangkuk makanan. “Kami berdua sudah menyiapkan sup untuk kalian, makan dulu biar aku dan So Eun yang menyimpan kayu bakar itu.” Ibu So Eun menyuruh.

“Tidak eommoni, biarkan aku membantu kayu-kayu itu sangat berat.”

“Tidak apa-apa Jae Hwan-ah kau pasti lelah.” Ibu So Eun berkata namun Jae Hwan bersikeras.

“Aku dan Jae Hwan saja yang menyimpan kayu-kayu itu, eomma dan appa saja yang makan.” So Eun berkata dia langsung mendorong Jae Hwan keluar dari rumah dan mereka langsung menutup pintu rumah.

Ibu dan ayah So Eun hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ayah So Eun sedikit lega dengan kehadiran Jae Hwan sepertinya lelaki itu membantu banyak anak dan istrinya.

Saat mereka sedang asyik makan tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah mereka, Ayah So Eun memutuskan untuk membuka pintu utama rumahnya dan dia sedikit terkejut melihat dua biksu berdiri didepannya.

“Selamat sore tuan Han Jae Wook maaf kami berdua menganggu.” Hak Yeon berkata membuat ayah So Eun tersenyum.

“Tidak apa-apa, jika boleh tahu kenapa dua biksu seperti kalian ada disini?” Tanya ayah So Eun penasaran, dia tidak pernah menyangka akan menemukan biksu di desanya yang jauh dari kuil.

“Maaf tuan Han Jae Wook tapi kami kesini untuk mencari seorang siluman yang sudah mengancam keamanan kuil kami.” Sang Hyuk melanjutkan dan Jae Wook terkejut mendengar itu.

“Siluman? Tapi maaf aku rasa disini tidak ada seorang siluman.” Jae Wook menjawab dan Hak Yeon menggelengkan kepalanya.

“Maaf tuan Han Jae Wook, apakah anda mengenal seseorang bernama Lee Jae Hwan?”

Mendengar nama Jae Hwan tertu saja Jae Wook mengangguk, dia sudah menghabiskan banyak waktu dengan pemuda itu. Bahkan istri dan putri tunggalnya sangat menyukai Jae Hwan, dia tidak percaya dengan perkataan kedua biksu ini.

“Kami tidak akan memaksa anda untuk percaya pada tuduhan kami, tapi kami akan membuktikan jika Jae Hwan adalah seorang siluman.” Sang Hyuk berkata.

“Tidak mungkin kalian pasti salah, dia terlihat normal.” Jae Wook masih tidak percaya.

“Itulah kenapa kami akan membuktikannya tuan Han Jae Wook.” Hak Yeon berkata, Jae Wook akhirnya menyuruh kedua biksu itu masuk kedalam rumahnya.

“So Eun-ah! Jae Hwan!” Panggil Jae Wook dan sosok So Eun dan Jae Hwan langsung datang menghampirinya.

Jae Hwan terkejut saat dia melihat sosok Hak Yeon dan Sang Hyuk yang berdiri didepannya, tentu saja dia mengenali kedua sosok itu.

“Lee Jae Hwan kita bertemu lagi.” Hak Yeon menyeringai saat dia melihat wajah panik Jae Hwan.

“Apa yang kau lakukan disini?” Jae Hwan melotot kearah Hak Yeon.

“Aku akan menghabisimu, tapi untuk itu aku akan membuktikan sesuatu  dulu pada semua orang disini.” Hak Yeon berkata.

“Apa yang ingin kau buktikan?” So Eun bertanya dengan kasar, dia berdiri didepan Jae Hwan untuk melindungi kekasihnya.

“Bahwa kekasihmu ini bukan manusia biasa nona Han So Eun.” Sang Hyuk berkata, dia membuka sebuah botol dan memberikannya pada ayah So Eun.

“Jika anda tidak percaya dengan tuduhan kami, anda bisa menyiramnya dengan air suci ini tuan Han Jae Wook.” Sang Hyuk berkata, mata So Eun melebar saat dia mendengar itu.

Jae Wook hanya menatap kearah botol yang ada ditangannya lalu melirik kearah So Eun dan Jae Hwan, lelaki itu bisa melihat putrinya sangat khawatir dan menggelengkan kepalanya seakan dia mengatakan untuk tidak menyiram Jae Hwan dengan air itu. Jae Wook meremas botol itu dan melirik kearah Sang Hyuk dan Hak Yeon.

“Aku tidak percaya dengan omong kosong kalian, sebaiknya kalian pergi.” Ayah So Eun mengusir, Hak Yeon dan Sang Hyuk kelihatan terkejut mendengar itu.

“Maaf tuan Han Jae Wook apa anda tidak ingin membuktikan dulu siapa Lee Jae Hwan sebenarnya?” Hak Yeon mencoba membujuk lelaki paruh baya itu namun Jae Wook mengelengkan kepalanya.

“Aku tahu siapa Jae Hwan, tidak peduli dia manusia atau bukan dia adalah lelaki yang baik dia layak untuk hidup bahagia.” Ayah So Eun berkata membuat Sang Hyuk dan Hak Yeon marah, kedua lelaki itu saling menatap sampai akhirnya Sang Hyuk memukul ayah So Eun dengan keras sehingga lelaki itu tidak sadarkan diri.

Ibu So Eun dan So Eun berteriak melihat itu namun Sang Hyuk dan Hak Yeon menyeringai bahagia, dia langsung menyerang Jae Hwan sambil menghunuskan pedangnya. Jae Hwan cukup cekatan dan menghindar dari serangan itu, Ibu So Eun yang marah mencoba menyerang Hak Yeon namun sayang dia kalah dan pingsan disamping suaminya.

Melihat keadaan Jae Hwan dan So Eun tersudutkan, mereka akhirnya kabur mencoba kabur dengan terbang namun sayang saat Jae Hwan hendak terbang bersama So Eun Sang Hyuk berhasil melukai punggung Jae Hwan dengan pedangnya.

Jae Hwan masih mencoba melawan meskipun dia tahu lambat laun kekuatannya akan menghilang, So Eun akhirnya menarik dia keluar dan mereka berlari menuju hutan menjauh dari Hak Yeon dan Sang Hyuk. So Eun dan Jae Hwan masih bisa melihat Hak Yeon dan Sang Hyuk mengejar mereka sehingga mereka mempercepat lari mereka.

Jae Hwan yang terluka tidak bisa lagi berlari dan akhirnya terjatuh, So Eun panik dan segera membantu Jae Hwan untuk berjalan. So Eun tidak sadar jika ternyata mereka berlari kearah danau dimana dia dan Jae Hwan kemarin berkencan, dia menyandarkan tubuh Jae Hwan disebuah batu yang sangat besar dan dia menyentuh wajah Jae Hwan.

“Jae Hwan..sadarlah.” dia berkata sambil menahan tangisnya, wajah kekasihnya itu sangat pucat sekali bahkan tangannya yang biasa terasa hangat mulai dingin sekarang.

“So..So Eun-ah.” Ucapnya, dia mencapai wajah So Eun dengan tangan gemetarnya.

“Jae Hwan, kau akan baik-baik saja..aku akan mencari bantuan.” So Eun berkata namun saat dia melihat darah terus mengalir dari punggung Jae Hwan dia semakin khawatir.

So Eun ingat tentang kalung Jae Hwan untung saja dia menggunakan kalung itu sekarang, dia langsung melepaskan kalung itu dan hendak memasangkannya pada leher Jae Hwan namun Jae Hwan menolaknya.

“Tidak!kau membutuhkannya..bagaimana jika kedua biksu itu menyakitimu?” Jae Hwan protes.

“Tidak Jae Hwan, aku akan baik-baik saja kau membutuhkannya.” So Eun berkata, dia lalu memasangkan kalung itu membuat kristal mereka yang ada dikalung itu menyala.

“Kau tunggu disini, aku akan mencari bantuan untuk lukamu.” So Eun berkata dia langsung berbalik meninggalkan Jae Hwan.

Baru saja dia berjalan sebentar dia sudah dicegat oleh seorang wanita cantik, wanita itu menatap tajam kearah So Eun membuat So Eun ketakutan.

“Maaf nona, tapi sekarang tidak ada jalan bagimu.” Hye Ri menyeringai saat dia melihat So Eun berbalik namun Hak Yeon dan Sang Hyuk menghalangi jalannya.

“Kau mau pergi kemana Han So Eun?” Sang Hyuk bertanya dengan seringai jahatnya.

“Apa yang kalian mau? Jae Hwan tidak bersalah…lepaskan dia!” bentak So Eun, mendengar itu Hak Yeon dan Sang Hyuk tertawa.

“Hahahah apa?tidak bersalah? Kau tidak tahu berapa banyak nyawa yang sudah dia renggut So Eun! Kau tidak tahu berapa banyak kesengsaraan yang dia ciptakan!” Hak Yeon membentak balik.

Hye Ri langsung menarik tangan So Eun dan dengan kasarnya dia menjambak rambut So Eun membuat wanita itu mengerang kesakitan.

“Sekarang katakan dimana Lee Jae Hwan?”

“Langkahi dulu mayatku!”

Mendengar itu Hye Ri marah dan dia mengeluarkan cakarnya hendak membunuh So Eun namun dia mengurungkan niatnya saat dia melihat sosok Jae Hwan sudah berada didepannya menatap kearahnya penuh amarah. Hye Ri akhirnya melepaskan So Eun membuat wanita itu tersungkur ketanah dan Hak Yeon menahan wanita itu saat dia akan berlari kearah Jae Hwan.

“Urusan kalian denganku bukan dengan So Eun, jadi lepaskan dia.” Jae Hwan berkata, meskipun dia maish lemah namun dia mencoba untuk berjalan dan berdiri dengan tegak.

“Oh Jae Hwan, aku kira kau pengecut dan kabur.” Sang Hyuk menyeringai saat dia melihat betapa lemahnya Jae Hwan.

“Kau ingin membunuh akukan? Lepaskan So Eun dan kau bisa membunuh aku.”

“Tidak!” So Eun berteriak memprotes.

“Hahaha apa kau benar-benar sangat mencintai wanita ini Jae Hwan? Kau bahkan ingin mati karena dia.” Hak Yeon menyentuh dagu So Eun membuat So Eun marah dan meludahi wajah Hak Yeon.

Hak Yeon marah sekali dan menampar So Eun dengan keras, melihat kekasihnya ditampar tentu saja Jae Hwan marah. Dia langsung berlari dan menyerang Sang Hyuk, Sang Hyuk dengan mudah bisa menghindar dari serangan payah Jae Hwan. Tubuh siluman itu masih dalam keadaan buruk sehingga dia tidak memiliki kekuatan untuk menyerang lagi dan akhirnya jatuh ketanah.

Melihat kesempatan ini Sang Hyuk langsung menghunuskan pedang nya hendak menusuk dada Jae Hwan. Melihat itu So Eun tidak bisa tinggal diam dan dia akhirnya berlari melindungi Jae Hwan, dia memeluk Jae Hwan dengan erat tanpa peduli jika pedang Sang Hyuk menusuk punggungnya.

Sang Hyuk baru sadar jika yang dia tusuk bukanlah Jae Hwan, dia sangat terkejut dan melepaskan pedangnya. Hye Ri dan Hak Yeon sama terkejutnya, mereka hanya bisa terdiam saat mereka melihat darah mulai memasahi pakain So Eun.

“So Eun-ah!” Jae Hwan memangku So Eun.

“J-Jae Hwan-ah…” So Eun memanggil, matanya berkaca-kaca dan Jae Hwan tahu dia pasti sangat kesakitan.

“Tidak..kau harus bertahan..kau tidak boleh meninggalkanku.” Jae Hwan memeluk erat So Eun dan So Eun tersenyum kearahnya.

“Jae Hwan-ah..mianhae…aku tidak bisa bersamamu selamanya.” So Eun berkata walaupun sedikit terbata-bata, dia batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

“Jangan bicara..aku akan memasangkan kalungku.” Jae Hwan berkata dia menarik kalungnya namun So Eun mencegah lelaki itu.

“Kau lebih membutuhkannya dariku..” Ucapnya lalu airmata mengalir membasahi pipinya.

“Tapi bagaimana dengan kau?aku tidak bisa hidup tanpa kau So Eun-ah.” Jae Hwan berkata, dia bahkan terlihat sangat lemah sekali.

“Semuanya akan baik-baik saja Jae Hwan, kau dan aku…kita akan bertemu lagi.” So Eun berkata, dia menghapus airmata dipipi Jae Hwan.

“Tidak,So Eun-ah…tidak! kau tidak bisa meninggalkanku!” Jae Hwan menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menerima kenyataan jika So Eun akan meninggalkanya sekarang.

Mata Jae Hwan melebar saat dia merasakan tangan So Eun melemah dan mendingin, dia menangis dan mencium tangan So Eun memegangnya erat-erat. Hye Ri yang berdiri didepan Jae Hwan hanya menunduk sedih, dia kira dengan membalaskan dendamnya pada Jae Hwan perasaannya akan baikan namun ternyata salah.

Melihat Jae Hwan yang menangisi So Eun mengingatkannya pada dirinya sendiri saat dia kehilangan Hong Bin. Dia kira dia akan gila saat dia kehilangan kekasihnya itu namun dia kuat, sampai sekarang dia masih berdiri disini dan waras.

Karena dia waras dia merasa sedih saat melihat betapa sedihnya Jae Hwan, lelaki itu bahkan memeluk erat mayat So Eun dan menangisinya. Hye Ri menghela nafasnya, dia tidak ingin melihat pemandangan ini, dia sudah muak.

“Sang Hyuk, Hak Yeon…sebaiknya kalian pergi.” Dia memerintah membuat kedua biksu itu melirik kearahnya.

“Tapi Jae Hwan masih hidup.” Hak Yeon protes.

“Bukankah sudah cukup? Kalian bilang kalian hanya ingin membalaskan dendam kematian guru kalian bukan? Guru kalian adalah orang yang berarti untuk kalian begitu juga dengan So Eun bagi Jae Hwan. Bukankah itu artinya kalian sudah membalaskan dendam kalian?” Hye Ri menatap kearah Hak Yeon.

Hak Yeon melirik kearah Jae Hwan dan melihat lelaki itu masih menangisi mayat So Eun. Hak Yeon menunduk malu, mereka seorang biksu namun entah kenapa dia merasa dia sama jahatnya dengan Jae Hwan saat dia membunuh gurunya.

“Jika aku kalian aku malu dan mungkin akan bunuh diri, jadi sebaiknya kalian pergi.” Hye Ri meninggalkan Hak Yeon dan Sang Hyuk lalu berjalan menuju Jae Hwan.

“Sampai kapan kau akan menangisinya? Dia sudah mati.”

Mendengar ucapan itu Jae Hwan marah, dia berdiri dan mencekik leher Hye Ri bahkan cakarnya menggores leher wanita itu.

“Ini semua karena kau! Kau yang merencanakan semua ini bukan?!” bentaknya marah dan Hye Ri hanya diam, semua itu benar dia tidak bisa membantahnya.

“Jika membunuhku membuatmu puas, bunuh aku.” Hye Ri berkata tanpa takut.

Jae Hwan merapatkan rahangnya dan mempererat cekikannya dia bisa melihat Hye Ri mulai kesusahan untuk bernafas, matanya berubah menjadi merah namun saat dia melihat Hye Ri dia mengingat So Eun sehingga dia akhirnya melepaskan cekikannya.

“Membunuhmu tak akan mengembalikan So Eun.” Ucapnya.

Luka dipunggung Jae Hwan sudah sembuh dan dia mengangkat tubuh So Eun lalu dia terbang entah kemana. Hye Ri hanya menyentuh lehernya, cekikkan Jae Hwan sangat keras tadi jika dia manusia biasa dia mungkin sudah mati.

*****

Setelah kematian So Eun, Jae Hwan mengabdikan dirinya pada dewi Samshin, dewi kelahiran dan meninggalkan segala kejahatan dan masa lalunya. Dewi samshin menghukum Jae Hwan atas segala dosanya dan memberikan tugas untuk menjadi pelayannya dan menjaga lautan di Korea.

Hye Ri sesekali mengunjunginya, walaupun Jae Hwan dingin padanya Hye Ri masih tetap mengunjunginya dan sesekali dia membawa makanan mungkin suatu saat hati siluman itu akan luluh.

Beratus-ratus tahun berlalu dewi Samshin memanggil Jae Hwan ketempat peristirahatannya, dewi itu tersenyum manis kearah Jae Hwan emmbuat Jae Hwan sediki kebingungan. Dewi itu tidak pernah sekalipun tersenyum padanya sampai hari ini, apakah ada sesuatu yang aneh terjadi? Jae Hwan bertanya-tanya.

“Jae Hwan, selama ini aku bertanya-tanya kenapa kau ingin mengabdikan dirimu padaku.” Dewi Samshin berkata, dia berjalan dan mengelus kepala Jae Hwan yang menunduk tidak berani menatap mata dewi itu.

“Aku ingin menebus segala dosaku yang mulia dewi samshin.” Jawabnya.

“Aku tahu kau sudah melakukan banyak hal yang buruk,aku bahkan sangat marah sekali melihat segala kehancuran yang kau perbuat.” Dewi samshin berkata, Jae Hwan hanya bisa menelan ludahnya. Dia tahu perlakuannya dimasa lalu sangatlah buruk, dia tidak tahu kenapa dia bisa menjadi sejahat itu.“Tapi, aku akan berbaik hati padamu hari ini.” Lanjutnya dewi Samshin membuat Jae Hwan terkejut.

“Han So Eun, itu adalah nama wanita yang kau cintai bukan? Aku mendengar ceritanya dari Hye Ri…aku tidak menyangka hati yang keras seperti hatimu ternyata masih bisa luluh oleh cinta.” Dewi Samshin tersenyum saat dia melihat pipi Jae Hwan sedikit memerah.

“Mungkin ini sedikit terlambat untuk mengatakannya, tapi dia sudah bereinkarnasi.”

Mendengar itu Jae Hwan senang sekali, dia tidak pernah menyangka jika dia akan bertemu kembali dengan So Eun. Dia tidak pernah berharap untuk bertemu dengan So Eun karena dia tahu jika mereka bertemu lagi dia hanya akan membahayakan hidup wanita itu lagi namun mendengar langsung dari dewi Samshin jika kekasihnaya itu sudah bereinkarnasi dia sangat senang.

“Aku sangat senang yang mulia, tapi aku rasa aku tidak akan bertemu dengan dia lagi.” Jae Hwan tersenyum pahit.

“Kenapa?aku kira kau mencintainya.”

“Aku mencintainya yang mulia, tapi aku hanya akan membahayakan hidupnya jika kami bertemu lagi sama seperti dulu…” Jae Hwan masih ingat bagaimana So Eun menghembuskan nafasnya didalam pangkuannya.

“Jae Hwan,aku mengerti kau takut tapi kau bukanlah Jae Hwan yang dulu..kau siluman yang baik sekarang tak akan ada hal yang bisa membahayakan dia.” Dewi Samshin menyentuh dagu Jae Hwan sehingga siluman itu menatap lurus kearahnya sekarang.

“Pergilah anakku, jemput takdirmu.” Dewi Samshin memerintah dan dewi itu akhirnya pergi meninggalkan Jae Hwan yang masih termenung kebingungan.

Hye Ri yang melihat Jae Hwan masih kebingungan tersenyum, dia menghampiri Jae Hwan dan menyentuh bahunya membuat lelaki itu memilirik kearahnya.

“Aku sudah menarik kembali kutukanku, semua orang layak mendapatkan kesempatan kedua begitu juga kau Jae Hwan.” Ucapnya dengan senyum lebar.

“Aku..dia tidak akan mengenaliku Hye Ri.” Jae Hwan menunduk sedih.

“Bukankah itu bagus? Kalian bisa membuka lembar baru..percayalah padaku kalian memiliki takdir yang kuat.” Hye Ri mengedipkan matanya lalu pergi menghilang.

Mendengar itu Jae Hwan sedikit tenang, mungkin dia harus pergi kebumi dan menyamar menjadi manusia. Siapa tahu dia akan bertemu kembali dengan So Eun seperti apa yang dikatakan dewi Samshin dan Hye Ri.

*****

Jae Hwan melirik kearah jam alarmnya, ini masih jam lima pagi namun dia sudah tidak sabar untuk kebawah dan membuka toko bunganya. Dia akhirnya turun dari ranjangnya dan mandi, seperti pagi biasanya dia menemukan Hye Ri sedang sibuk memasak sarapan didapur dan dia tersenyum lalu mengambil roti panggang yang ada di piring membuat Hye Ri marah padanya.

“Jae Hwan! Sudah kubilang, jangan mengambil makanan sebelum makanan itu selesai aku masak!” Hye Ri mengomel dan Jae Hwan hanya menjulurkan lidahnya.

“Aku akan bersiap-siap membuka toko dah!” Jae Hwan berkata dan mengambil roti yang lain membuat Hye Ri memukul tangannya dengan sendok yang dia pegang.

Jae Hwan akhirnya sampai di toko bunganya, dia mulai membereskan bunga-bunga segar yang akan dia jual hari ini. Dia juga memutarkan tanda ‘buka’ dipintu tokonya. Bisnis toko bunganya tidaklah sesukses yang dia bayangkan namun dia masih memiliki beberapa pelanggan setia,kebanyakan wanita tentunya terimakasih pada wajah tampan Jae Hwan dia berhasil menggaet beberapa kostumer wanita yang mau membeli bunganya.

Beberapa anak SMA juga sering berkunjung ketoko bunganya, mereka tidak membeli banyak namun mereka biasanya mengajak dia mengobrol dan sesekali Jae Hwan menggoda mereka sampai mereka terlalu malu dan pergi.

Hari ini cuaca cerah dan seperti biasanya ahjumma  yang tinggal diseberang toko bunganya mampir untuk membeli satu buket bunga darinya. Dia tahu bunga itu ingin dia simpan di makam suaminya yang baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu, Jae Hwan selalu menghiburnya dengan menyelipkan setangkai bunga mawar merah diantara bunga tulip yang ahjumma itu pesan dan sebuah senyum akan mengembang dibibir tipisnya.

Melihat senyum itu membuat Jae Hwan lega, Jae Hwan mungkin tidak bisa menghibur ahjumma  itu setiap saat namun setidaknya dia mencoba.

Ahjusshi!”

Mendengar panggilan itu Jae Hwan melirik kebelakang dan dia menemukan seorang wanita muda berdiri didepan jajaran bunga yang dia pajang ditokonya.

“Ya nona cantik, apa anda butuh bantuan?” Jae Hwan seperti biasanya menyapa pelanggannya dengan manis.

“Apakah disini ada bunga yang berarti aku harap kau mati dan membusuk dineraka?”

Wanita itu akhirnya mendongak membuat Jae Hwan bisa melihat wajah wanita itu. Mata Jae Hwan melebar saat dia melihat wajah wanita itu, wajah wanita itu tidak asing baginya dan dia tersenyum pahit pada wanita itu.

“Aku rasa bunga tidak memiliki arti yang kejam seperti ini nona, semua bunga memiliki arti yang cantik seperti wujudnya.” Jae Hwan menjawab, dia masih tidak percaya sosok So Eun sekarang ada didepannya bahkan wanita itu tidak berubah sedikitpun masih cantik seperti terakhir kali dia melihatnya.

“Aissh! Apakah aku harus mengirimkan bunga bela sungkawa saja? Argghhh aku benci lelaki itu.” So Eun menjengut rambutnya frustasi.

“Han So Eun! Yak! So Eun!”

Tiba-tiba saja seorang lelaki masuk kedalam toko Jae Hwan, melihat wajah lelaki itu tentu saja Jae Hwan mengenalinya. Jika Hye Ri disini wanita itu pasti sangat senang, mungkin dia harus menceritakan soal ini padanya nanti saat dia pulang.

“Hong Bin? Apa yang kau lakukan disini?” So Eun kelihatan tidak senang dengan kehadiran Hong Bin.

“Maaf sepupuku ini baru saja putus dari pacarnya jadi dia agak ngaco.” Hong bin berbisik kepada Jae Hwan membuat Jae Hwan tertawa.

Yak! Kau kira aku tidak mendengarmu?!” So Eun memukul kepala Hong Bin dan Hong Bin mengusap kepalanya yang sakit.

“Tidak apa-apa, bagaimana bisa gadis secantik kau putus dengan pacarnya? Aku rasa pacarmu bodoh karena sudah memutuskanmu.” Jae Hwan berkata dan memberikan senyum manisnya pada So Eun namun So Eun malah mendengus.

“Semua lelaki sama keahlian kalian membual.” Ucap So Eun, dia berbalik untuk pergi namun Jae Hwan menarik So Eun sehingga wanita itu berbalik dan membentur dadanya.

Mata mereka sejenak bertemu dan entah kenapa So Eun merasa kalau mereka sudah bertemu disuatu tempat, dia merasa tidak asing dengan wajah Jae Hwan. Mata coklat indah Jae Hwan, bibir tebalnya dan hidung mancungnya rasanya semuanya tidak asing bagi So Eun bahkan tangan hangatnyapun terasa sangat familiar.

“Kau akan pergi begitu saja? Bagaimana kalau kita minum teh dulu dan kau bisa menceritakan soal mantan kekasihmu itu padaku.” Jae Hwan menawarkan, So Eun hanya diam masih kebingungan.

Oppa  kau lupa bekalmu!” Hye Ri yang terburu-buru masuk kedalam toko, dia menghentikan langkahnya saat dia melihat sosok Hong Bin yang berdiri tidak jauh dari Jae Hwan.

Hye Ri tersenyum manis kearah Hong Bin dan Hong Bin langsung tersipu malu dan menundukan kepalanya. Sudah jelas sekali lelaki itu menyukai Hye Ri, Jae Hwan bahagia melihat reaksi Hong Bin pada Hye Ri.

Mungkin mereka harus menghabiskan banyak waktu bersama-sama dan membangun kembali cerita mereka dengan akhir yang berbeda.

Who Knows Some lover are just meant to be…

The End

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

4 thoughts on “Destined

  1. akhirnya ada ff jaehwan.
    siluman naga ? wajahnya jaehwan kan konyol eon, lebih cocok jadi pelawak.
    kaya di boarding house 24 dramanya kocak tapi bikin nyesek.

    eonni semangat ya lanjutin semua ff’a.

  2. lebih bagus lagi kalo ada sequel nya sis , ini tuh ff terbaik yg prnh ku bc alur crt cintanya tuh udah biasa tp yg ini daebaaaakkk~ sequel ya ditinggu lho

  3. Kyaaaa Jaehwan uwaaa ga nyangka miris juga kaya gu family book. beruntung reinkarnasi.
    sempet kepikiran jangan2 nanti sama Hyeri kan unyu wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s