Posted in FanFiction (semua umur)

But He’s Gay! [Chapter 4]

Title: B-but He’s Gay!

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Ask Fm: http://ask.fm/Seven941

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Choi Taeri [OC],Jung Taekwoon [Leo VIXX], Jung/Cha Hakyeon [N VIXX], Lee Hongbin               [Hongbin VIXX],Jung Krystal [Krystal F(x)], Oh Hayoung [Hayoung Apink]

Genre : Comedy, romance and angst

Length : Chaptered

Rating : PG 17

WARNING!! CONTAINING YAOI!! MEANING BOYXBOY

<<Previous Chapter                   Next Chapter>>

4

The Unexpected

Taeri hanya berdiri menatap kearah lelaki yang sekarang ada dihadapnnya, dia memakai jas tuxedo berwarna putih dan rambut coklatnya disisir rapih. Lelaki itu terlihat tampan dan gagah dalam baju jas tuxedonya, bibir penuhnya tersenyum kearah Taeri namun Taeri terlihat tidak senang dengan senyuman itu.

“Taeri-ya..” Panggilnya.

Oppa  kau tidak seharusnya ada disini.”

Mata lelaki itu akhirnya melirik kearah Taekwoon yang berdiri disamping Taeri, wajah lelaki itu kelihatan sangat kecewa. Taekwoon sendiri penasaran, siapa lelaki ini? Taeri bahkan memanggilnya oppa pasti mereka cukup dekat.

“Maaf apa aku menganggu? Apa dia suamimu?” lelaki itu bertanya, Taekwoon menatap kearah Jongin memperhatikan lelaki itu.

“Bukan, dia bukan suamiku.” Jawab Taeri.

Jongin kelihatan lega saat dia mendengar jawaban Taeri, dia tersenyum dan menyentuh tangan Taeri. Taekwoon ingin sekali membentak namun dia mencoba menjadi orang yang dewasa disini, mungkin saja lelaki ini saudara Taeri.

“Bisakah aku masuk?” Pintanya, Taeri kelihatan ragu namun akhirnya dia mengangguk.

“Tentu saja.”Taeri mundur membiarkan Jongin masuk kedalam rumahnya, Taekwoon sedikit curiga pada lelaki ini dia kelihatannya bukanlah berita bagus.

Taeri membawa dua gelas kopi untuknya dan lelaki tadi, sedangkan Taekwoon memutuskan untuk berdiri disamping Taeri menjaganya jika sesuatu terjadi. Taekwoon sudah mendapatkan firasat buruk tentang lelaki ini, Taeri akhirnya memcahkan hening diantara mereka.

“Jongin oppa , bukankah kau seharusnya menikah besok?” Tanya Taeri, mendengar nama Jongin, Taekwoon terekejut.

Ternyata lelaki inilah yang membuat Taeri menangis, pantas saja dia cukup tampan Taekwoon menilai. Tapi sayang dia bukan tipenya, dia lebih suka lelaki seperti Hakyeon atau lebih tepatnya dia hanya menyukai Hakyeon.

“Taeri, aku salah..” Ucapnya, dia kelihatan cemas dan gugup bahkan suaranya sedikit gemetar.

“Apa maksudmu oppa ?”

Jongin melirik kearah Taekwoon yang ada disamping Taeri, dia merasa cangung sekali karena lelaki itu terus menatapnya seakan dia itu pencuri atau semacamnya.

“Bisakah kita mengobrol berdua saja?” Jongin berkata dan Taeri melirik kearah Taekwoon.

Taekwoon mengerti, dia langsung berbalik kearah kamarnya meninggalkan Taeri dan Jongin sendirian. Walaupun dia khawatir dia tidak bisa menganggu privasi Taeri karena dia sudah berjanji, dia akhirnya menutup pintu kamarnya dengan berat hati.

“Siapa lelaki itu? Apa dia sepupumu?” Tanya Jongin setelah Taekwoon pergi masuk kedalam kamarnya.

“Oh bukan, dia menyewa kamar dirumahku.” Taeri menjawab, Jongin sepertinya terkejut karena matanya melebar saat mendengar jawaban Taeri.

“Oh begitu, aku lega mendengarnya…aku kira dia suamimu.”

Taeri hanya bisa tersenyum tipis, bagaimana bisa dia menikah jika dia masih mencintai lelaki yang sekarang duduk didepannya ini? Apakah Jongin tidak sadar itu? Apakah Jongin tidak pernah tahu kalau selama ini dia menangisi hubungan mereka yang berakhir tragis? Ataukah Jongin kesini hanya untuk menaburkan garam pada lukanya?

Oppa  ini sudah malam, bukankah sebaiknya kau kembali?”

Jongin menggelengkan kepalanya, dia menarik tangan Taeri kedalam tangannya lalu dia menciumnya penuh dengan perasaan. Taeri segera menarik tangannya, dia tidak akan membiarkan Jongin menggodanya lagi.

“Aku tidak akan menikah, aku membatalkan semuanya.”

Taeri tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak menyangka kalau Jongin akan membatalkan pernikahannya dan kembali kesini. Apakah dia hanya ingin kabur dari komitmen?

“Aku membatalkan pernikahanku dengan Sulli, aku…aku sadar kalau aku hanya mencintaimu Taeri-ya.”

Oppa  aku…”

“Aku tahu, kau pasti membenciku karena aku memutuskan hubungan kita tapi aku serius Taeri.”

Jongin menatap kearah Taeri sedangkan Taeri hanya bisa menunduk, dia tidak tahu harus senang atau sedih. Dia senang karena Jongin ternyata masih memiliki perasaan padanya namun dia sedih karena dibalik kesenangannya, seseorang menangis sekarang.

Oppa  kau gila, sebaiknya kau pulang…calon istrimu pasti khawatir sekarang.” Taeri berdiri dari duduknya.

“Ya aku gila! Aku gila karena kau Taeri, apa kau tahu selama ini aku selalu ingin berlari dan memelukmu?!” Jongin bertanya, dia ikut berdiri.

“Kau bilang kau tidak mencintaiku lagikan? Lalu kenapa aku harus mempercayaimu lagi sekarang?”  Taeri membalas, dia berjalan menuju pintu utama rumahnya dan membukanya lebar-lebar.

“Aku tidak ingin membuang waktuku dengan pembohong sepertimu Kim Jongin-shi jadi aku mohon, silahkan pergi.” Ucap Taeri, Jongin yang mendengar itu hanya diam karena terkejut.

“Taeri-ya aku tahu aku melukai hatimu, tapi itu karena aku takut..aku takut jika kau tidak mencintaiku.” Jongin menjelaskan.

Mendengar itu Taeri hanya terdiam, dia meremas pegangan pintunya berusaha untuk tidak menatap Jongin karena dia tahu. Dia akan akan kalah jika dia menatap kearah mata coklat Jongin, dia akan memberikan segalanya pada lelaki itu seperti semula.

“Itu tidak penting sekarang, kita sudah berpisah.” Jawab Taeri dingin.

Jongin marah saat dia mendengar perkataan Taeri, dia berjalan kearah Taeri dan menarik Taeri lalu menciumnya penuh hasrat. Taeri awalnya menolak, dia mendorong tubuh Jongin sekuat tenaga namun hasilnya nihil karena Jongin terlalu kuat untuknya.

Entah sudah berapa lama dia tidak merasakan kehangatan ini, bibir Jongin terasa begitu cocok dengannya dan Taeri tidak bisa melawan lagi. Dia merindukan Jongin, selama ini dia selalu merindukan lelaki itu.

Taeri akhirnya mengalah, dia membiarkan Jongin menciumnya bahkan dia menutup matanya dan menangis. Dia bahagia karena akhirnya Jongin kembali kdalam pelukannya, dia melingkarkan tangannya dipundak Jongin dan memeluk lelaki itu lebih dekat.

Akhirnya Jongin melepaskan ciumannya, dia menatap kearah Taeri dan mencium dahi wanita itu dengan mesra.

“Apakah kau memberikan kesempatan lagi padaku?” Tanya Jongin, Taeri hanya diam dia tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku tahu kau masih ragu, tapi aku mohon…biarkan aku menunjukan kalau aku benar-benar mencintaimu Taeri.” Jongin akhirnya menariknya kedalam pelukannya.

Taeri memeluk kembali Jongin dan dia bisa melihat Taekwoon berdiri tak jauh diambang pintu dapur menatap kearah mereka. Taeri hendak berkata sesuatu pada Taekwoon namun Taekwoon segera berbalik masuk kedalam kamarnya, entah kenapa Taeri merasa sedikit bersalah saat dia melihat ekspressi terkejut Taekwoon.

*****

“Taekwoon-ah!” Hakyeon memanggil dengan riang, dia senang sekali saat dia melihat kekasihnya muncul diambang pintu ruangannya.

Hyeong…kau terlalu ceria dipagi hari seperti ini.” Ucap Taekwoon, dia memberikan sebuket bunga penuh dengan bunga mawar dan baby breath membuat Hakyeon tersenyum.

“Terimakasih, aku tidak menyangka kau akan mulai membelikan aku bunga.” Ucap Hakyeon bercanda, walaupun wajahnya masih pucat Taekwoon lega saat dia melihat senyum menghiasi wajah Hakyeon.

“Sama-sama hyeong, apapun untukmu.” Ucap Taekwoon, dia duduk disamping Hakyeon.

“Bukankah kau seharusnya bekerja? Jangan sampai kau dipecat karena terlambat.” Hakyeon kelihatan khawatir, dia mengelur pipi Taekwoon dengan lembut membuat Taekwoon tersenyum bahagia.

“Tak usah khawatir,aku sudah bilang pada Hayoung kalau aku akan menjengukmu dulu hari ini.” Jawab Taekwoon.

“Bagaimana tanganmu? Apa sudah baikan?” Taekwoon melirik kearah tangan Hakyeon yang masih dibalut oleh perban.

“Aku baik-baik saja, kau tak usah khawatir.” Hakyeon menjawab, dia tidak ingin membuat Taekwoon lebih khawatir.

“Dokter bilang kau sudah bisa pulang besok, apa kau ingin aku mengantarmu ke apartemenmu?” Taekwoon menawarkan.

“Tentu saja, oh..iya Jaehwan bilang kau tinggal di rumahku yang dulu sekarang?” Hakyeon bertanya dan Taekwoon mengangguk.

“Ya, apa kau keberatan?”

Hakyeon mengelengkan kepalanya, dia mendekat kearah Taekwoon dan mengistirahatkan kepalanya dipundak Taekwoon. Taekwoon tersenyum dan menyandar kearah Hakyeaon sambil melingkarkan tangannya dipundak lelaki itu, Taekwoon bisa melihat bayangan Hakyeon yang tersenyum dari kaca yang ada di dinding dan itu membuatnya bahagia rasanya dia bermimpi sekarang.

“Oh iya, aku inga Lee ahjumma mengatakan kalau rumahku sudah dihuni oleh seorang wanita apa kau tinggal bersamanya juga?” Hakyeon kembali bertanya.

“Aku menyewa kamar yang ada dibawah, jika kau mau aku akan pindah.” Taekwoon menjawab, dia mencium kepala Hakyeon.

“Tidak usah, jika kau sudah membayarnya lebih baik kau tinggal disana saja.” Balas Hakyeon.

Mereka tidak mengatakan apapun lagi setelah itu, hanya menikmati keheningan yang mnyelimuti mereka. Taekwoon sudah cukup bahagia dengan keadaan sekarang dan dia berharap jika keadaan akan lebih baik sekarang, dia ingin membuka halaman baru bersama Hakyeon.

“Apa kau bahagia?” Suara lemah Taekwoon terdengar, suaranya terdengar sedikit gemetaran dan itu membuat Hakyeon khawatir.

“Tentu saja, aku bisa bersamamu sekarang.” Hakyeon melirik kearah Taekwoon dan mencium bibir lelaki itu sekilas.

“Aku juga bisa menciummu tanpa ragu sekarang.”

Taekwoon tertawa melihat tingkah lucu Hakyeon, dia mengelus pipi Hakyeon dan Hakyeon menyentuh tangannya.

“Aku lega, aku tidak ingin memaksamu hyeong jika kau tidak mencintaiku kau bisa pergi sekarang.” Taekwoon menunduk, Hakyeon yang melihat ekspressi sedih Taekwoon sedikit khawatir.

“Kau tidak memaksaku Taekwoon, aku hanya terlambat untuk menyadari perasanku padaku.” Hakyeon menghibur.

Taekwoon tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis. Walaupun Hakyeon berbicara seperti itu, tetap saja hati kecilnya masih khawatir. Bagaimana jika Hakyeon tidak benar-benar mencintainya? Bagaimana jika selama ini Hakyeon normal dan menyukai seorang wanita? Pertanyaan itu benar-benar sangat menakutkan untuk Taekwoon.

*****

Aku baru sadar kalau Jongin menatap kearahku saat aku memakan sarapan, dia tersenyum setiap kali aku membalas melirik kearahnya. Aku masih tidak percaya kalau sekarang dia ada disini bersamaku, namun pengangan tangan hangatnya mengingatkanku kalau semua ini nyata, aku tidak lagi bermimpi dan dia benar-benar ada disampingku sekarang.

Jongin terlihat lucu karena dia memakai celana dan kaos Taekwoon yang terlalu besar untuknya, Taekwoon cukup baik membiarkan Jongin meminjam bajunya.

“Apa spagettiku masih enak seperti dulu?” Tanya Jongin, aku mengangguk sambil memakan spagettiku.

“Bagus kalau begitu, aku sudah lama tidak memasak.” Dia mengelus kepalaku.

Oppa …bagaimana dengan pernikahanmu?” Aku bertanya, bagaimanapun aku tidak bisa mengacuhkan masalah Jongin.

Jongin tidak menjawab, dia menggengam tangaku lebih erat. Dia kelihatannya tidak ingin membahas masalah itu namun kali ini aku tidak akan mengalah, bagaimanapun juga Jongin harus menyelesaikan masalah ini sebelum dia benar-benar bisa bersamaku lagi.

“Apa kau tidak akan memberikan penjelasan pada Sulli?” Aku bertanya lagi.

“Apa aku harus? Aku hanya akan membuat dia semakin hancur.”

Mendengar itu aku sendiri tidak bisa menjawab apapun, Jongin benar jika Sulli tahu kalau Jongin meninggalkan dia karena aku pasti dia akan sedih dan hancur. Aku tidak ingin membuatnya sedih namun aku juga tidak ingin masalah ini menjadi besar, aku ingin menyelesaikannya.

“Setidaknya kau memberikan dia alasan, dia tidak akan bertanya-tanya mengapa kau lari darinya.” Aku berkata, Jongin tersenyum dan mengelus pipiku.

“Aku akan mengatakannya setelah keadaan tenang.” Jongin menjawab, dia mencium bibirku sekilas dan pergi untuk mencuci piring yang baru saja aku gunakan.

Aku sebenarnya khawatir, bagaimana aku bisa menjelaskan semua ini pada Krystal dan Hongbin oppa ? mereka pasti marah padaku. Apalagi jika mereka tahu kalau Jongin membatalkan pernikahannya karena aku, aku berjalan menuju ruang tengah rumahku dan duduk didepan laptop.

Didepanku hanya ada halaman kosong, aku tidak bisa menulis apapun sekarang apalagi dengan masalah Jongin yang belum beres. Aku melirik kearah ponselku dan menghubungi nomor Taekwoon, aku harus berterimakasih karena dia sudah mengerti dan meminjamkan bajunya untuk Jongin.

“Taekwoon-shi ini aku, aku hanya ingin berterimakasih karena kau sudah meminjamkan bajumu untuk Jongin.” Ucapku saat Taekwoon mengangkat teleponku.

“Oh Taeri-shi, tidak apa-apa..aku mengerti.” Jawabnya.

“Baiklah, aku harus mengetik kembali ceritaku sampai jumpa dirumah.” Aku hendak menutup teleponku namun aku bisa mendengar Taekwoon memanggil namaku lagi.

“Taeri-shi…aku tahu kau mencintai Jongin, aku bisa melihat itu dari matamu dan cara kau memperlakukan dia tapi, lelaki itu…bukankah seharusnya dia menikah?”

Mendengar itu aku sedikit terkejut, aku tersenyum tipis mencoba menenangkan diriku sendiri. Apa kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu seua ini salah, tapi ini adalah pilihan Jongin dan aku tidak bisa mengubah apapun karena pada kenytaannya aku ingin Jonginbersamaku.

“Mungkin aku terdengar sangat egois Taekwoon-shi tapi…aku ingin dia bersamaku.” Aku berkata, airmataku mengancam untuk menetes  namun aku menahannya.

“Aku tahu itu, tapi bagaimana dengan wanita yang akan dia nikahi? Bukankah semua ini tidak adil untuknya? Mungkin sekarang dia panik mencari pengantin lelakinya..aku mohon Taeri-shi sebaiknya kau pikirkan semua ini dengan baik-baik.” Taekwoon berkata lalu dia menutup sambungan teleponya.

Aku benci perkataan itu, aku benci karena aku tahu kalau Taekwoon benar. Aku melirik kearah Jongin dan dia masih sibuk mencuci piring-piring dan gelas kotor yang ada di wastafel, aku memandanginya sesaat lalu kembali menatap kearah laptopku.

Oppa apa kau yakin ingin kembali bersamaku?” aku bergumam, meskipun aku tahu Jongin tidak bisa mendengarku.

*****

Krystal memandangi poster iklan buku Taeri yang terbaru yang ada dimeja kantor Hongbin, dia sepertinya sangat serius sekali karena dia tidak menyadari kalau Hongbin datang dan sekarang berdiri disampingnya. Hongbin yang penasaran dengan apa yang Krystal perhatikan mengikuti arah pandangan wanita itu, Hongbin tersenyum saat dia melihat ekspressi Krystal.

“Apa yang sedang kau perhatikan?” Tanya Hongbin.

“Buku novel Taeri benar-benar gelap, aku membaca bukunya yang terbaru dan menangis.” Ungkap Krystal.

“Apa yang kau bicarakan Krystal? Apa kau mabuk?” Hongbin menatapi wajah wanita itu.

Oppa  apa kau sudah mendengar kalau Jongin akan menikah hari ini?” Krystal melirik kearah Hongbin, dia mengacuhkan pertanyaan Hongbin tadi.

“Jongin? Maksudmu Kim Jongin mantan pacar Taeri?” Hongbin bertanya, dia ingat Krystal dan Taeri menceritakan tentang lelaki itu padanya beberapa kali.

“Ya dan kau tahu pernikahannya hari ini dibatalkan, berita itu tersebar diberbagai majalah dan koran karena Jongin adalah anak pemilik perusahaan besar di Korea bahkan pesta pernikahannya sangat besar sayang sekali..mereka harus membatalkannya.” Krystal berkata, Hongin yang mendengar itu terkejut.

“Apa maksudmu mengatakan ini padaku?”

Krystal tertawa saat dia melihat ekspressi Hongbin, ekspressi lelaki itu sangat menghiburnya. Lee Hongbin yang biasa terlihat dewasa dan pintar sekarang terlihat kebingungan seperti anak kecil yang tersesat di super market.

“Apa kau tidak berpikir kalau Taeri ada hubungannya dengan pembatalan pernikahan Jongin?”

Mata Hongbin langsung melebar saat dia mendengar itu, lelaki itu langsung berbalik meninggalkan Krystal sendirian dikantornya. Krystal hendak memanggil Hobin namun dia mengurungkan niatnya, dia menghela nafasnya dan memandang kearah poster buku Taeri lagi.

“Bahkan dia mengacuhkanku, Krystal sudahlah…kau tak usah berharap Hongbin lebih menyukai Taeri dibanding kau.” Krystal berkata pada dirinya sendiri.

Krystal mencoba tersenyum namun pada akhirnya airmatanya menetes pada poster buku Taeri, bagaimanapun juga hatinya sakit saat dia melihat Hongbin berlari dengan mudahnya meninggalkan dia demi Taeri. Mungkin dari awal dia seharusnya tidak pernah berharap, tidak peduli berapa kali dia mencoba untuk dekat dengan Hongbin pada akhirnya Hongbin sellau menyukai Taeri daripada dia.

Dia hanya terlalu bodoh untuk menyadari itu, dia mungkin berkata pada Taeri kalau dia sudah menyerah untuk menyukai Lee Hongbin namun hatinya tetap saja berharap kalau suatu hari nanti Hongbin akan melirik kearahnya.

Krystal akhirnya berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kantor Hongbin, diaterkejut saat dia melihat Hongbin ternyata meunggunya didepan lift. Krystal segera menyeka airmatanya dan berjalan kearah Hongbin yang menyandari ditembok.

“Kenapa kau masih disini? Bukankah kau seharusnya pergi kerumah Taeri?” Dia bertanya namun Hongbin hanya diam tertunduk.

“Haruskah aku kesana? aku takut jika aku menganggu Taeri.” Ucapnya.

“Baiklah, bagaimana kalau kita kesana bersama? Kau penasaran bukan?” Krystal bertanya dan Hongbin mengangguk.

Krystal menekan tombol lift dan pintu lift terbuka secara otomatis, Hongbin menekan tombol basement dan lift tertutup. Krystal tidak mengatakan apapun namun Hongbin tiba-tiba saja menawarkan sarung tangannya pada Krystal.

“Aku tahu kau khawatir juga pada Taeri, kau memang teman yang baik Jung Krystal.” Hongbin memuji, mendengar itu Krystal melirik kearah Hongbin.

Oppa  aku ingin bertanya.” Ucap Krystal.

“Tentang apa?” Tanya Hongbin.

“Antara aku dan Taeri, siapa yang kau sukai?”

Hongbin sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, Hongbin akhirnya tersenyum dan mengacak-ngacak kepala Krystal.

“Kau konyol sekali Krystal,kau mungkin cerewet dan rewel tapi percaya atau tidak aku menyukaimu juga sama seperti aku menyukai Taeri.” Jawabnya, Krystal tersenyum lalu melingkarkan tangannya dilengan Hongbin.

Oppa  kalau begitu bagaimana kalau kita kencan lagi?” ajak Krystal.

“Ck… aku sudah bilang kau cerewet dan rewel aku tidak mau pergi kencan bersamamu lagi.”

“Tapi aku janji aku akan menjadi gadis kecil yang baik.”

“Tidak, tidak..aku sibuk sekarang.”

Oppa !” Krystal mengeluh dan Hongbin menutup telinganya tidak mau mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Krystal.

*****

Taekwoon menatap kosong kearah oven yang menyala, dia masih menunggu rotinya matang Onew tidak pernah melihat rekan kerjanya itu sangat serius seperti sekarang. Itu membuatnya setengah penasaran,Onew bukanlah orang yang biasa mencampuri urusan oranglain namun jika soal Taekwoon dia selalu penasaran karena lelaki itu tidakpernah mengatakan apapun yang bersifat pribadi padanya.

Hyeong jika kau menatapi oven seperti itu matamu  akan kering.” Ucap Jinkin, Taekwoon langsung melirik  kearah Jinki seketika.

“Oh Jinki-ya, sejak kapan kau disini?” Tanya lelaki yang lebih tua darinya.

“Aku sudah ada disini sejak kau memandangi oven itu Hyeong, ada apa? Kau kelihatan gelisah.”

Mendengar itu Taekwoon hanya menggelengkan kepalanya, apakah bear dia terlihat gelisah? Aneh sekali, dia tidak pernah segelisah ini saat memikirkan seseorang selain Hakyeon. Taekwoon hanya tersenyum tipis pada Jinki dan mengusap kepala Jinki, dia tahu junior nya itu pasti khawatir.

“Aku baik-baik saja, apa kau sudah menghias kue coklat mousse yang tadi?”

“Ya semuanya beres, lagipula ini sudah siang kau bisa istirahat aku bisa membungkus roti-roti itu untukmu.”  Jinki berbaik hati berkata, Taekwoon menggelengkan kepalanya.

Dia tidak ingin beristirahat, karena jika dia beristirahat bayangan Taeri dan Jongin yang berciuman kemarin malam akan menghantuinya. Taekwoon sebenarnya tidak pernah tertarik dengan ciuman siapapun, dia bahkan pernah melihat ibunya mencium ayah Hakyeon dengan mesra namun dia tidak terlalu peduli dan naik keatas kedalam kamarnya.

Namun saat dia melihat Taeri dan Jongin berciuman entah kenapa adegan itu terus berputar di pikirannya seperti kaset film yang rusak, Taekwoon benar-benar kebingungan sekali. Ada sesuatu tentang Jongin dan Taeri yang membuat dia merasa iri, mungkinkah karena dia dan Hakyeon belum sempat berciuman seperti Jongin dan Taeri?

Taekwoon menggelengkan kepalanya, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan Hakyeon walaupun dia ingin sekali berlari menuju kekasihnya itu sekarang. Taekwoon lega sekali saat dia mendengar kalau Hakyeon akan pulang ke apartemennya besok, meskipun mereka belum bisa tinggal bersama Taekwoon masih bahagia.

Setidaknya kali ini Hakyeon tidak akan pergi begitu saja seperti dulu, dia tidak usah khawatir lagi karena kekasihnya itu tidak akan pergi meninggalkannya.

Oppa! Bisakah kita bicara sebentar?”Taekwoon mendongak saat dia mendengar panggilan Hayoung.

“Oh Hayoung-ah tentu saja, tunggu sebentar.” Taekwoon menjawab, dia melepaskan apron putihnya dan menyuruh Jinki untuk menjaga rotinya.

Hayoung kelihatan gugup saat akhirnya dia melihat sosok Taekwoon mengikutinya, wanita itu mengigit kukunya dan menatap kearah Taekwoon dengan tatapan sedih.  Hayoung akhirnya berjalan kearah Taekwoon dan memeluk lelaki itu dengan erat,Taekwoon kebingungan sekali namun dia tidak menolak pelukan Hayoung.

“Aku tahu dari Jaehwan Oppa kalau kau dan Hakyeon Oppa …”

“Apa kau akan mengusirku?” Taekwoon memotong perkataan Hayoung.

“Tidak! Tentu saja tidak, kau saudaraku Oppa…aku hanya terkejut.” Hayoung menjawab.

Dia masih ingat perkataan Jaehwan kemarin malam, Jaehwan sepertinya tahu tentang perasaan dia kepada Hakyeon. Jaehwan tahu alasan kenapa Hayoung tidak bisa menerimanya karena dia masih mencintai Hakyeon, dia masih mengharapkan kalau lelaki itu akan menjadi miliknya.

Saat Jaehwan mengatakan kalau Hakyeon sudah menerima cinta Taekwoon hati Hayoung sedikit terluka, namun dia sadar kalau ini kesempatannya untuk melupakan Hakyeon. Dia tidak ingin terus berharap, dan sepertinya untuk kali ini dia tidak akan berharap lagi karena dia tahu siapa yang paling Hakyeon sukai diantara mereka berdua.

“Aku bahagia untukmu, aku tahu Hakyeon Oppa selalu menyukaimu di bandingkan aku.” Ucap Hayoung, dia ingin terdengar tulus walaupun sebenarnya dia ingin menangis.

“Hayoung-ah..”

“Tenang saja, aku sudah menyerahkan? Aku sudah menyerah sejak dulu…itulah kenapa aku berkencan dengan Jaehwan Oppa dulu.” Hayoung tersenyum tipis.

“Apa kau dan Jaehwan akan kembali bersama?” Taekwoon bertanya.

“Tidak Oppa, aku tidak bisa bersamanya lagi…”

“Kenapa? Dia sangat mencintaimu Hayoung, aku yakin Jaehwan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kau berikan.” Taekwoon membujuk.

“Bukan itu masalahnya Oppa, kau tidak akan mengerti.” Hayoung menghela nafasnya, dia tidak bisa mengungkapkan kenyataan yang sudah dia pendam pada Taekwoon.

“Baiklah, kau hanya belum dapat menerima kenyataan Hayoung…aku tahu kau menyukai dia.” Taekwoon membalas, dia membalikan badannya menuju pintu dapur.

“Oh iya, jangan terlalu lama berpikir atau kau akan kehilangan kesempatanmu.” Ucap Taekwoon, mendengar perkataan itu Hayoung hanya mengangguk.

Kenapa dia harus takut? Kesempatannya sudah hilang sejak dulu, dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki apa yang sebenarnya dia inginkan. Jaehwan hanya masa lalu yang tidak bisa dia lupakan, bukan sesuatu yang dia inginkan dan perjuangkan.

Oppa , andai kau tahu.” Hayoung bergumam.

Dia melirik kearah jendela toko dan dia melihat sosok yang familiar, siapa lagi kalau bukan Jaehwan. Hayoung tidak senang melihat sosok itu dan diapun memanggil Daehyun menyuruhnya untuk mengusir Jaehwan, dia harap kali ini Jaehwan tidak menyebabkan masalah dan keributan lagi seperti saat itu.

“Tuan, maaf tapi bos Hayoung ingin kau pergi dari sini.”

Daehyun dengan santai berkata, dia bahkan bosan mengatakan itu beberapa hari belakangan ini karena Hayoung selalu menyuruhnya untuk mengusir Jaehwan. Jaehwan membuka kacamatanya dan menyodorkan Daehyun selembar uang lima puluh ribu won, Daehyun mendengus.

“Kau pikir uang lima puluh ribu bisa membuatku menuruti semua keinginanmu?” Daehyun menantang.

Jaehwan mengodok kembali saku celananya dan sekarang dia memberikan Daehyun seratur ribu membuat Daehyun menelan ludahnya, dengan uang itu dia bisa membeli makanan apapun yang dia mau hari ini.

Ahjusshi, maaf tapi aku tidak bisa menerima uang ini.” Daehyun menolak dengan berat hati.

Jaehwan melirik kearah Daehyun dan tersenyum kearah lelaki itu membuat Daehyun menatap kearahnya penuh kecurigaan.

“Daehyun-ah, katakan berapa yang kau mau?” Jaehwan berkata.

“Hm…bagaimana kalau kau keluar?” Daehyun meminta dan dia membukakan pintu toko kue untuk Jaehwan.

“Baiklah, sepertinya aku tak ush khawatir…Hayoung memiliki pegawai yang setia seperti kau.”

Jaehwan memutuskan untuk menurut dan berjalan menuju pintu utama toko, dia menyentuh bahu Daehyun sekilas dan pergi masuk kedalam mobilnya. Hayoung yang melihat Jaehwan sudah pergi keluar dari kantornya dan menatap kearah meja dimana Jaehwan tadi duduk, sepertinya Jaehwan masih memesan menu kesukaannya.

Sebuah chocolate mousse dan segelas teh, kedua makanan itu adalah tanda jika Jaehwan disini. Hayoung hanya menatap kosong kearah meja itu, dia menghela nafasnya sebelum dia  menyuruh Himchan untuk membersihkan meja itu.

“Bos Hayoung sangat keras kepala sekali, aku tahu dia juga menyukai lelaki tadi.” Ungkap Himchan saat dia menyimpan piring dan kue bekas Jaehwan.

“Itulah wanita, mereka akan mengusir kita saat kita masih mencintai mereka tapi mereka akan menyesal saat kita sudah dimiliki oleh orang lain.” Sahut Jinki.

Taekwoon hanya menggelengkan kepalanya saat dia mendengar percakapan Jinki dan Himchan, dia terlalu sibuk menghiasa kue untuk mendengarkan percakapan Jinki dan Himchan.

“Kau benar sekali Jinki-ya, aku rasa bos harus memikirkan perasaannya yang sebenarnya.” Himchan akhirnya menyandari di counter dapur sambil mengelus-elus dagunya.

Hyeong, kau tidak tahu apa-apa sebaiknya kau tidak sok tahu.” Kyungsoo datang dan dia mulai mencuci piring dan gelas yang kotor.

“Kyungsoo-ya, kau meremehkan instingku.” Ucap nya dan Kyungsoo hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Sudah cukup,kalian sebaiknya bekerja daripada membahas Hayoung dan Jaehwan!” Taekwoon sedikit membentak membuat Himchan dan Kyungsoo sedikit takut dan mereka langsung kembali pada pekerjaan mereka.

Jinki sama takutnya dengan kyungsoo dan Himchan, namun dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Taekwoon. Belakangan ini seniornya terlihat gelisah dan murung, itu membuat Jinki bertanya-tanya kemana perginya Taekwoon yang selalu professional dan serius? Biasanya lelaki itu bisa mengontrol emosinya saat dia bekerja namun hari ini kelihatannya dia sedang dalam mood yang buruk.

Roti yang tadi dia panggang saja hampir hangus, lalu krim untuk kue moka mereka juga terlalu manis tadi. Untung Jinki cukup teliti untuk mencicipi adonan krim Taekwoon jika tidak, reputasi restoran mereka akan turun karena kue moka mereka yang terlalu manis.

Hyeong kau terlihat murung dan gelisah dari tadi pagi, sebenarnya ada apa?” Jinki menyentuh bahu Taekwoon.

Taekwoon tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis kearah Jinki membuat Jinki kebingungan, sebenarnya ada apa dibalik senyum itu?

*****

“Sampai kapan kau akan bersembunyi Oppa ?” Taeri melirik kearah Jongin yang duduk disampingnya.

“Sampai keadaan tenang Taeri, sampai Sulli tenang dan kedua orang tuaku juga.” Jongin menjawab sambil menghela nafasnya.

Taeri yang melihat wajah sedih Jongin tidak tega, bagaimanapun Jongin menjadi seperti ini karena dia. Karena lelaki itu mencintainya, Taeri tahu kedua orangtua Jongin tidak akan senang saat Jongin kembali kerumah mereka apalagi jika Jongin memutuskan untuk membawa dia bertemu kedua orangtuanya.

Taeri menyentuh tangan Jongin dan menggengamnya dengan erat, gestur itu dibalas dengan senyum oleh Jongin. Dia menarik Taeri mendekat dan melingkarkan tangannya dibahu wanita itu, Taeri masih merasa khawatir namun dia memutuskan untuk memeluk kembali lelaki itu.

“Setelah semuanya tenang, aku akan membawamu kerumahku dan aku akan menikahimu.” Jongin mengungkapkan.

Taeri tidak menjawab itu, dia hanya tersenyum. Haruskah dia bahagia? Selama ini dia memimpikan lamaran itu,lalu sekarang kenapa dia malah ketakutan dan ingin lari dari situasi ini?

“Bagaimana kalau besok? Mari kita pergi kerumahmu besok?” Taeri berkata.

“Entahlah…mereka masih akan marah.” Jongin menjawab.

“Setidaknya hubungilah mereka, aku yakin mereka khawatir.” Taeri mengambil ponselnya dan memberikannya pada Jongin, Jongin awalnya kelihatan ragu namun akhirnya dia mengambil ponsel Taeri.

“Baiklah, tapi jika aku diomeli kau harus bertanggung jawab.” Jongin mengancam lalu mencium Taeri sekilas membuat Taeri tersipu malu.

Jongin langsung menekan tombol diponsel Taeri mencoba menghubungi ibunya, dia menunggu sesaat sampai akhirnya ibunya mengangkat teleponnya dengan suara yang sedikit serak.

Eomma , ini aku…” Ucap Jongin.

“Aku baik-baik saja Eomma, maaf aku tidak bisa menikahi Sulli.”

Mendengar percakapan Jongin dengan ibunya membuat Taeri khawatir, dia tahu jika ibu Jongin marah sekali. Dia bisa melihat ekspressi Jongin menjadi masam setiap kali dia menjawab perkataan ibunya yang ada diseberang telepon.

Taeri tidak tahu harus berkata apa, dia tidak bisa membela Jongin karena dia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan Jongin dan Sulli sebelumnya. Dia hanyalah pihak ketiga dan dia tidak bisa berkata apapun dalam hal ini.

Jongin akhirnya menutup teleponnya setelah beberapa menit, dia menghela nafasnya lalu memberikan ponsel Taeri pada pemiliknya. Taeri tersenyum tipis, mencoba menghibur Jongin yang kelihatannya sangat sedih.

“Bagaimana?”

“Seperti yang kita prediksikan, ibuku dan keluargaku marah besar.” Jawab Jongin.

Oppa  aku tahu ini susah, tapi bukankah sebaiknya kau pulang dan jelaskan semuanya?” Taeri memberi saran.

“Kau tak usah khawatir seperti itu, nanti kau cepat keriput jika kau mengerutkan dahimu seperti itu.” Jongin malah menggoda Taeri membuat Taeri langsung memegang dahinya.

“Kau masih lucu seperti dulu.” Jongin mengungkapkan dia mendekat dan mengusap pipi Taeri.

“Aku bodoh, seharusnya aku tidak mendengarkan kedua orangtuaku waktu itu.” Jongin bergumam.

Taeri hendak membalas namun dia mendengar pintu rumah yang dibuka, dia melihat Hongin dan Krystal memasuki rumahnya membuat dia segera berdiri dan menjauh dari Jongin.

“Hongin Oppa ? apa yang kau…”

Sebelum Taeri bisa menamatkan kalimatnya Hongbin sudah menarik kerah baju Jongin membuat lelaki itu berdiri, dia sendiri terkejut melihat sosok Hongbin dan Krystal.

“Sekarang juga, sebaiknya kau pergi!” Ucap Hongbin dengan kasar.

“Kenapa? Kau bukan siapa-siapa Taeri!” Jongin membentak kembali membuat Hongbin semakin marah dan meremas kerah baju Jongin lebih erat.

“Dengar brengsek! Kau membahayakan nama baik keluargamu dan Taeri sekarang, dia penulis dan publik figur jika publik tahu kau disini bersama Taeri karir Taeri akan hancur apa kau mau itu?!”

Mendengar itu ekspressi wajah Jongin langsung berubah, dia melepaskan tangan Hongbin dari kerah bajunya. Lalu lelaki itu melirik kearah Taeri, Taeri hanya bisa diam dan menunduk dia sendiri tidak tahu harus berkata apa pada Jongin karena perkataan Hongbin benar.

“Aku akan pergi sekarang, kau tak usah khawatir.” Jawab Jongin, dia berbalik kelantai atas menuju kamar Taeri untuk mengganti bajunya.

Oppa ! kau memperkeruh keadaan!” Taeri marah dan mengikuti langkah Jongin, Hongbin kebingungan dan hanya menatap kearah punggung Taeri yang menjauhinya.

“Biar aku yang mengatasinya.” Krystal menyentuh punggung Hongbin sebelum akhirnya dia mengikuti langkah Taeri.

“Taeri-ya..” Krystal memanggil dan Taeri mengacuhkannya.

“Taeri dengarkan aku.” Krystal menghalangi jalan Taeri sebelum gadis itu sampai dilantai dua.

“Apa Krystal? Kau akan menyuruhku untuk mengusir Jongin juga?” Taeri mununggu jawab Krystal.

“Taeri-ya…”

“Kau tak usah membujuk aku, aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

Taeri menyentuh bahu Krystal dan masuk kedalam kamarnya, Krystal tidak bisa ikut campur sekarang.bagaimanapun ini memang masalah antara Taeri dan Jongin, dia hanyalah pihak luar yang tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan mereka.

Taeri bisa melihat Jongin duduk diranjang kamarnya, dia tahu Jongin pasti sedih sekali sekarang. Taeri memeluk Jongin dari belakang dan dia bisa merasakan tubuh Jongin sedikit relax daripada tadi.

“Aku akan pergi, Hongbin benar…aku membahayakan karirmu.” Jongin berkata, mendengar itu Taeri tersenyum.

“Kau akan pergi kemana?apa kau akan pergi ke Apartemenmu?”

“Ya, aku akan pergi kesana…aku tahu orangtuaku pasti mengawasi apartemenku sekarang.”

“Maafkan aku Oppa , aku tidak bisa membantu banyak.” Ungkap Taeri, dia menunduk sedih.

“Kau sudah membantu banyak Taeri, terimakasih.” Balas Jongin, dia mencium tangan Taeri yang melingkar di bahunya.

Walaupun berat Taeri akhirnya membiarkan Jongin pergi, Krystal dan Hongbin menatap tajam kearah Jongin saat lelaki itu melambaikan tangannya pada mereka. Taeri sedikit sedih dengan reaksi kedua sahabatnya itu, bagaimanapun dia masih mencintai Jongin dan sejujurnya Taeri bahagia saat dia melihat Jongin datang kepadanya kembali.

Sebut saja Taeri kejam tapi dia memang bahagia, dia bahagia sudah bisa kembali merasakan pelukan dan ciuman Jongin yang sudah sangat dia rindukan. Tanpa sadar Taeri tersenyum sendirian, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Jongin kembali besok.

“Apa yang kau pikirkan Taeri? Kenapa kau membiarkan Jongin masuk kerumahmu?!” Bentak Hongbin.

Oppa  dia butuh bantuan, aku tidak meninggalkan dia diluar.” Jawab Taeri.

“Kau tahu dia hanya memanfaatkan mu! Dia hanya takut pada komitmen Taeri!” Hongbin berkata dan Taeri mengacuhkan Hongbin dengan masuk kedalam rumah.

“Jung Taeri! Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!” Hongbin mengikuti langkah Taeri dan masuk kedalam rumah.

Oppa , ini hidupku dan semuanya keputusanku kenapa kau harus ikut campur?!” Taeri marah.

“Aku peduli padamu Taeri, apa kata orang nanti jika mereka tahu kalau Jongin bermalam dirumahmu setelah dia kabur dari pernikahannya? Apa kau lupa kalau kau adalah penulis terkenal?!”

“Lalu kenapa? Apa kau takut jika semua buku karanganku tidak laku lagi jika aku punya skandal?!”

Krystal yang melihat Hongbin dan Taeri bertengkar sedikit panik, dia mencoba menenangkan keadaan dengan menarik Hongbin namun Hongbin mengacuhkan Krystal dan pergi menyusul Taeri.

“Jung Taeri! Aku tidak peduli soal itu, kau temanku dan aku tidak ingin kau dalam bahaya!” Ungkap Hongbin.

“Bahaya? Apa yang kau katakan Oppa ? aku akan baikpbaik saja.” Taeri membalas.

“Oh..jadi kau akan menerima Jongin begitu saja setelah dia meninggalkanmu dengan mudah? Dimana harga dirimu sebagai wanita Taeri? Wanita macam apa kau? Apakah kau tidak pernah berpikir jika Jongin hanya memanfaatkanmu?!” Hongbin membentak, mendengar itu Taeri kesal dan tanpa sadar dia menampar pipi Hongbin cukup keras.

“Taeri-ya!” Krystal mencoba mencegah tamparan Taeri namun usahanya gagal.

“Kau tidak berhak mengatakan apapun tentang Jongin, kau tidak tahu siapa dia.” Taeri berkata dnegan suara gemetarnya lalu berbalik pergi membantingkan pintu kamarnya.

Hongbin tertegun sejenak sambil menyentuh pipinya yang masih sakit karena tamparan Taeri, Dia hanya menatap kosong kearah pintu kamar Taeri masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Krystal yang berdiri dibelakang Hongbin mencoba menghibur Hongbin, dia menyentuh lengan Hongbin namun Hongbin dengan kasarnya menepis sentuhannya.

“Maaf Krystal,katakan pada Taeri aku tidak akan datang untuk sementara waktu.” Hongbin berkata lalu dia pergi.

Oppa  tapi…”

Krystal menghela nafasnya, Hongbin bahkan tidak mendengarnya karena lelaki itu langsung menuruni tangga lalu menutup pintu utama rumah Taeri. Krystal bingung harus mengejar Hongbin atau Taeri sampai akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Taeri sampai dia keluar dari kamarnya.

*****

Taekwoon berjalan menulusuri lorong rumah sakit, dia membawa cheese cake kesukaan Hakyeon ditangan kanannya dan bunga mawar ditangan kirinya. Dia sesekali tersenyum membayangkan wajah Hakyeon yang bahagia saat dia menunjukan kedua hadiah itu, dia mempercepat langkahnya karena dia tidak sabar untuk menemui kekasihnya itu.

Hyeong aku mem—“

Sebelum Hakyeon bisa menamatkan kalimatnya dia terkejut saat dia melihat Hayoung yang mencium Hakyeon. Hakyeon langsung melepaskan ciumanya saat dia melihat Taekwoon berdiri diambang pintu ruangannya, Hayoung yang heran melihat ekspressi Hakyeon melirik kebelakang dan dia sama terkejut nya dengan Hakyeon sata dia melihat sosok Taekwoon.

“Bagaimana..”

Oppa  aku bisa menjelaskannya.” Hayoung berkata.

“Omong kosong…”

“Taekwoon kau salah paham!” Hakyeon berkata.

“Kalian…kalian benar-benar brengsek!”

Taekwoon yang marah berbalik lalu membantingkan pintu ruangan Hakyeon, dia tetap berlari walaupun dia mendengar Hayoung memanggil namanya berkali-kali dan mungkin wanita itu mencoba mengejarnya.

Hati Taekwoon terlalu sakit untuk mendengarkan penjelasan sekarang, adegan saat Hakyeon dan Hayoung berciuman terus berulang kali muncul di pikirannya dan itu membuatnya semakin marah dan membenci kedua orang itu.

To Be Continue…

Don’t Forget The Comment❤

PS:

Hello Reader’s (^__^)// maaf ya Seven baru muncul lagi hari ini karena seven sedang sibuk sama pekerjaan Seven jadi Seven gak ada waktu buat nulis Fanfic tapi tenang kok Seven akan selalu mengusahakannya jadi tolong kasih Seven support ya hehehe😀 oh iya, Seven juga mau berterimakasih sama reader’s yang masih rajin buka blog Seven walaupun blog ini udah jarang banget di update makasih banget ya, kalian amazing wwkwkw oh iya buat yang minta passwordnya juga maaf yang Seven gak bisa bales dulu karena email Seven lagi ngadat jadi Seven mohon maklum ya, sepertinya itu aja cuap-cuap Seven dan aku harap kalian masih sabar menunggu cerita-cerita Seven di masa depan (^___^)// Annyoung chingu-ya!

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

13 thoughts on “But He’s Gay! [Chapter 4]

  1. Keren ceritanya bikin penasaran part selanjutnya. Jadi sebenarnya hayoung n haekyeon pacara atau gmn? Q penasaran buruan ya seven. Seven bukannya masih sekolah tho?

    1. aku udah kuliah aku kan kelahiran 93 tapi aku dapet tugas eksperimen dari dosen jadi yang bantu2 gitu deh..makanya sibuk juga sekarang gak ada waktu buat nulis, maaaf ya😥

  2. greget sama jonginnya elah, padahal dia bias tapi entah kenapa baca ff ini jadi sensi sama jongin huuu~ jongin mianhae authornim keep writing oke

  3. Ku kira yang datang itu Hongbin. Ternyata jongin. Itu jongin ama hakyeon bikin sakit hati dah. Di tunggu kelanjutannya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s