Posted in FanFiction (semua umur)

But He’s Gay! [Chapter 3]

BHG

Title: B-but He’s Gay!

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Ask Fm: http://ask.fm/Seven941

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Choi Taeri [OC],Jung Taekwoon [Leo VIXX], Jung/Cha Hakyeon [N VIXX], Lee Hongbin               [Hongbin VIXX],Jung Krystal [Krystal F(x)], Oh Hayoung [Hayoung Apink]

Genre : Comedy, romance and angst

Length : Chaptered

Rating : PG 17

<< Previous Chapter                                         Next Chapter>>

3

Wreck

Taekwoon mematikan mesin mobilnya lalu berlari menuju rumah Lee ahjumma, dia bisa melihat sepasang sepatu putih yang ada didalam rumah. Dia tersenyum bahagia sepertinya usahanya tidak sia-sia saat dia masuk kedalam dia bisa melihat sosok Hakyeon sedang mengobrol dengan Lee ahjumma, Taekwoon merasa bermimpi sata dia melihat sosok Hakyeon berdiri tak jauh darinya.

Hyeong…”

Panggilan itu membuat Hakyeon melirik kearah sumber suara, dia pasti terkejut sekali karena Hakyeon langsung menjatuhkan gelas yang dia genggam. Suara gelas pecah terdengar memenuhi ruangan, mata Hakyeon menatap kearah Taekwoon dan Taekwoon merasa ingin menangis.

“Taekwon-ah…”

Mendengar kembali suara Hakyeon meyakinkan Taekwoon kalau dia tidak bermimpi, tanpa ragu dia langsung berlari kearah Hakyeon dan mnarik lelaki itu kedalam pelukannya. Hakyeon terlalu terkejut untuk bergerak dia hanya diam didalam pelukan Taekwoon, akhirnya diapun menangis sama seperti Taekwoon.

Lee ahjumma yang melihat kedua saudara itu saling bertemu kembali hanya tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berdua, dia tahu jika Taekwoon sangat merindukan Hakyeon.

Hyeong, aku senang kau kembali.” Bisik Taekwoon.

“Taekwoon-ah…” Hakyeon melepaskan pelukan Taekwoon.

Hyeong, kau kemana saja? Eomma sangat khawatir.” Ungkap Taekwoon namun Hakyeon hanya tersenyum tipis.

“Taekwoon-ah maaf aku, seharusnya aku tidak kabur waktu itu…”

“Aku mengerti hyeong, kau pasti terkejut.”

Hakyeon menunduk malu, tangan Taekwoon menangkup wajah Hakyeon dia senag sekali bisa melihat wajah kakaknya kembali. Rasanya ingin sekali dia berteriak dan berjingkrak-jingkrak karena perjuangannya tidak sia-sia, dia memang memiliki firasat kalau inilah jalan terbaik untuk bertemu kembali dengan Hakyeon.

Walaupun senang Taekwoon tetap menyadari perbedaan pada kakaknya itu, rambut Hakyeon sekarang menjadi coklat terang dan pipinya terlihat masih mulus seperti dulu. Dia terlihat lebih kurus sekarang, itu membuat Taekwoon merasa sedikit sedih.

Hyeong, apa kau masih marah padaku karena masalah itu?” Tanya Taekwoon ragu.

“Taekwoon-ah, aku tidak tahu…”

Hyeong, aku benar-benar mencintaimu aku mohon…pikirkanlah perkataan itu saat itu.”

Pikiran Hakyeon terlalu kacau sekarang dia tidak bisa memikirkan apapun, dia terlalu terkejut dengan kedatangan Taekwoon. Hakyeon tidak menjawab, dia menyayangi Taekwoon seperti adik kandungnya, tapi dia tidak yakin jika dia bisa mencintai Taekwoon seperti seorang lelaki.

“Aku tahu kau pasti berpikir kalau aku sangat menjijikan sekarang..” Ucap Taekwoon.

“Tidak, kau tidak pernah menjijikan untukku Taekwoon-ah kau adikku.” Jawab Hakyeon dia terlalu menyayangi adiknya, tidak mungkin dia menganggap Taekwoon menjijikan.

“Kau kabur karena akukan? Karena kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan…karena kau tidak bisa menerima kenyataan kalau aku mencintaimu lebih dari sebagai kakak.”

Hakyeon tidak menjawab, karena dia sendiri tidak bisa berbohong sebagian darinya tidak bisa menerima jika Taekwoon mencintainya lebih dari sebagai kakak. Hakyeon menelan ludahnya menahan semua airmata yang siap membasahi pipinya kembali, dia harus lebih tegar sekarang.

“Taekwoon-ah, kenapa kau mencintaiku?”

Taekwoon tersenyum mendengar perkataan itu.

“Aku tidak punya alasan hyeong, aku hanya mencintaimu.”

Hakyeon melirik kearah lain, dia tidak sanggup lagi melihat mata Taekwoon karena dia takut. Dia takut kalau sekarang dia kalah dan menerima Taekwoon, apa kata orang nanti? Mereka mungkin bukan saudara kandung tapi tetap saja mereka masih memiliki ikatan keluarga karena ibu Taekwoon masih menikah dengan ayahnya.

Hakyeon menjauh dari Taekwoon dia memasang senyum palsunya dan mengelus kepala Taekwoon, bahkan Taekwoon sudah lebih tinggi darinya sekarang. Mereka sudah lama tidak bertemu, terakhir kali mereka bertemu adalah saat kelulusan SMA Taekwoon.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar Hakyeon tahu itu, namun dia tidak menyangka kalau Taekwoon masih mencarinya dan mengatakan hal yang sama seperti saat mereka baru bertemu lima tahun yang lalu.

“Taekwoon-ah kita tidak bisa bersama, berhentilah mengatakan kalau kau mencintaiku.” Ucap Hakyeon.

“Tapi hyeong…”

“Aku dan kau hanya adik dan kakak, kita tidak bisa saling mencintai.”

Hakyeon melangkah menuju pintu rumah Lee ahjumma namun Taekwoon langsung mencegahnya, dia memeluk Hakyeon dari belakang membuat Hakyeon berhenti melangkah. Airmata Hakyeon mengancam untuk turun namun dia menahannya, dia tidak bisa terlihat lemah dihadapan Taekwoon.

“Kau bohong,aku tahu kau menyukaiku juga.”

Hakyeon menelah ludahnya mendengar perkataan Taekwoon, dia menggelengkan kepala Taekwoon dan melepaskan tangan Taekwoon dari pinganggnya.

“Aku tidak pernah menyukaimu seperti itu.”

“Kalau begitu kenapa kau lari dariku?”

“Karena aku ingin kau melupakan aku!”

Hakyeon membentak dengan kasar, matanya melebar penuh amarah. Taekwoon sedikit terkejut dengan bentakan Hakyeon, ini pertamakalinya Hakyeon marah kepadanya dan itu membuat dia sangat terkejut.

“Berhenti mengikutiku, kau hanya bayangan menakutkan untukku kau tidak pernah mencintaimu!” Hakyeon marah dan keluar dari rumah Lee ahjumma.

Mendengar itu Taekwoon merasa terluka, selama ini dia hanyalah bayangan bagi Hakyeon tidak pernah lebih dari itu. Hakyeon yang kelihatan masih marah berlari keluar dari rumah Lee ahjumma, Taekwoon hanya bisa menatap kearah punggung Hakyeon yang menjauh darinya sebelum akhirnya airmatanya menetes.

Dada Taekwoon terasa sesak saat dia mendengar kata-kata kasar Hakyeon, namun yang lebih menyakitkan adalah dia masih mencintai kakaknya itu. Dia masih ingin memeluk Hakyeon dan bersamanya, tidak peduli berapa ratus kali Hakyeon menyakitinya didalam hatinya Hakyeon tetap nomor 1.

Langkah lemasnya terlihat sangat menyedihkan saat dia keluar dari rumah Lee ahjumma, Lee ahjumma kelihatannya tahu apa yang terjadi karena wanita itu menatap kearahnya penuh shock. Taekwoon tidak ingin menjelaskan apapun, dia hanya membungkuk sekilas kearah Lee ahjumma sebelum dia berbalik kembali menuju rumah Taeri.

“Taekwoon-ah.” Lee ahjumma memanggil namun Taekwoon mengacuhkan panggilan wanita paruh baya itu.

Taekwoon masuk kedalam rumah dan menutup pintu, dia menghela nafasnya dan mencoba menahan airmata yang akan jatuh lagi. Dia tidak ingin membuat Taeri khawatir dan berusaha untuk tersenyum, dia berjalan kearah ruang tengah rumah namun dia terkejut saat dia melihat Taeri menangis sambil menatapi undangan pernikahan ditangannya.

“Taeri-shi..” Panggilnya.

Taeri mengacuhkan panggilan Taekwoon, dia masih menangis. Melihat Taeri yang menangis entah kenapa Taekwoon merasa sedikit kasihan, gadis itu terlihat sangat rapuh saat dia menangis.

Tangan dan bibirnya gemetaran dan kedua mata beningnya kini merah karena menangis, airmatanya membasahi pipi wanita itu dan menetes pada karpet. Dengan langkah yang pelan dia mendekat kearah Taeri, lalu dia berjongkok didepannya.

Taeri mengingatkannya pada saat dia ditinggalkan oleh Hakyeon untuk pertamakalinya, Taekwoon tidak tahu harus bagaimana ini pertamakalinya dia melihat seseorang menangis dihadapannya. Dia tidak pernah bagus dalam kata-kata, apalagi menghibur, ragu-ragu Taekwoon mengangkat tangannya.

Dia ingin mengelus kepala Taeri namun dia menarik lagi tangannya, Taeri masih menangis dan itu membuat dia semakin risih. Akhirnya dia memaksakan diri untuk mengelus kepala Taeri, Taeri membuka kedua tangannya dan dia langsung melirik kearah Taekwoon.

Gwenchana…jika kau ingin menangis, menangislah.” Taekwoon berkata.

Taeri hanya menatap kearahnya wanita itu tidak mengatakan apapun, Taekwoon mengelus kembali kepala Taeri dan Taeri menutup wajahnya dengan kedua tangannya kembali menangis.

Choi Taeri, apa yang membuatmu menangis seperti ini?

*****

Taeri menatap kosong kearah susu panas yang ada didalam mugnya, Taekwoon berdiri didepannya melakukan hal yang sama namun bedanya Taekwoon mencoba mencari topik untuk mereka bicarakan.

“Taeri-shi, apa kau baik-baik saja?” Akhirnya Taekwoon memberanikan diri untuk bertanya.

Taeri hanya tersenyum tipis lalu mengangguk, dia sebenarnya masih malu karena kepergok sedang menangis oleh Taekwoon. Undangan pernikahan Jongin masih ada ditangannya, dia meremasnya kuat-kuat mengingatkan dirinya alas an kenapa dia menangis tadi.

“Jika kau menceritakannya…”

“Tidak usah, aku harus bekerja sekarang…maaf sudah menganggumu.”

Taeri langsung pergi menuju kamarnya, Taekwoon sedikit khawatir namun dia tidak punya hak apapun untuk memaksa Taeri agar menceritakan deritanya. Taekwoon hanya bisa menunggu sampai Taeri siap, dia sendiri tidak baik-baik saja hatinya masih sakit saat dia mengingat perkataan Hakyeon tadi siang.

Suara bel rumah Taeri mengagetkan Taekwoon, dia berlari untuk membuat pintu rumah namun dia terkejut saat dia melihat sosok wanita tinggi yang menggunakan jeans. Gadis itu kelihatan sama kagetnya dengan dia, dia menatap kearah Taekwoon seakan Taekwoon itu hantu.

“S-siapa kamu?” Tanya wanita itu.

“Aku Jung Taekwoon.” Jawabnya.

“Bukan…maksudku kenapa kau disini?” Wanita itu masih menatap kearah Taekwoon.

“Oh..aku menyewa kamar disini, kau siapa?”

Wanita itu sekarang kelihatan lebih kebingungan, bukanya menjawab dia malah berlari menuju tangga dan berteriak memanggil Taeri. Taekwoon yang sama bingungnya hanya bisa melihat gadis itu berlari lalu masuk kekamar Taeri.

*****

Airmataku masih belum kering, aku tidak percaya jika akhirnya Jongin akan meninggalkan aku selamanya. Seharusnya aku tidak pernah mengharapkan Jongin untuk kembali padaku, bagaimanapun juga Jongin sudah tidak mencintaiku lagi.

Terlalu bodoh, itulah aku. Seharusnya aku melupakan Jongin dari dulu bukanya menunggu dia seperti gadis yang tidak bisa melakukan apapun, seharusnya aku membuangnya setidaknya aku tidak akan terluka seperti sekarang.

Undangan pernikahan Jongin yang ada ditanganku langsung aku lempar dan aku meringkuk kembali diranjangku, saat aku menangis aku mendengar suara pintu kamarku terbuka. Aku bisa merasakan seseorang duduk disampingku, dia mengelus kepalaku aku tahu siapa dia.

“Krystal.”

“Aku disini, berhentilah menangis.”

Mendengar itu aku langsung memeluknya dan menangis kembali, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Krystal lah yang tahu betapa aku mencintai Jongin, dia tahu bagaimana hancurnya aku saat aku dan Jongin putus.

Krystal mengelus kepala dan aku memeluknya semakin erat, aku seperti anak-anak sekarang biasanya akulah yang menghibur Krystal namun sekarang sebaliknya.

“Kau harus melupakan Jongin sekarang.” Ucapnya.

Aku tidak bisa menjawab, tenggorokanku sakit karena aku menahan tangisku. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku pelan, aku bisa mendengar helaan nafas Krystal dia pasti khawatir padaku.

Aku melepaskan pelukanku,dan Krystal menyeka airmataku dengan tangannya. Dia memberikanku tissue, aku menyeka airmataku walaupun aku masih ingin menangis aku mencoba menahannya.

“Aku mendengarnya dari Baekhyun oppa ,aku langsung datang kesini karena aku tahu kau pasti menangis.” Ungkap Krystal, aku tersenyum.

Krystal memang bisa membacaku, aku cukup yakin dari awal dia tahu kalau aku masih mengharapkan Jongin itulah kenapa alasan aku tidak pernah bisa berkencan lagi dengan lelaki lain. Karena tidak peduli berapa banyak lelaki yang ada didepanku, yag aku inginkan tidak pernah bisa aku miliki sekarang.

“Apa kau ingin datang? Aku mengerti jika kau tidak mau…” Krystal sepertinya penasaran.

“Entahlah…”

“Tidak apa-apa Taeri, aku tak usah memaksakan.”

Krystal mengelus bahuku, aku tidak tahu  Krystal. Aku ingin bertemu dengan Jongin namun bukan dalam keadaan seperti ini, aku ingin kembali bertemu dengan Jongin seperti dulu lagi tersenyum penuh dengan kebahagiaan.

“Oh iya! Aku bertemu dengan lelaki yang bernama Taekwoon dibawah, siapa dia?” Krystal menatapku penuh kecurigaan.

“Dia hanya seseorang yang menyewa kamar dibawah.”

“Oh benarkah? Dia lumayan, apa kalian…”

Aku memukul bahu Krystal, mana mungkin aku dan Taekwoon seperti itu dia tidak pernah menyukai wanita.

“Dia berbeda.” Jawabku.

“Taeri, semua laki-laki sama.” Jawab Krystal santai.

“Bukan itu maksudku… dia tidak suka wanita.”

Mata Krystal melebar saat dia mendengar perkataanku, jika dia sedang minum air mungkin dia akan tersedak.

“Kau yakin? Wah..sayang sekali, dia cukup tampan.” Krystal berkata.

“Dia mengatakannya padaku sebelum dia pindah, dia ingin tinggal disini untuk bertemu kakaknya yang sudah lama tidak dia temui.” Aku menjelaskan.

“Begitu ya, tapi kenapa disini? Aku pikir dia bisa membeli rumah lain atau semacamnya.” Krystal berpendapat.

“Entahlah, mungkin dia malas mencari rumah baru apalagi belakangan ini harga rumah sedang melambung.” Ucapku.

“Memang dia bekerja sebagai apa? Apa dia seorang model atau semacamnya? Dia sangat tinggi.” Krystal menebak.

“Tidak, dia seorang..aku lupa lagi apa namanya yang jelas dia seperti koki lagi namun dia khusus membuat kue-kue.” Jawabku.

“Koki? Seharusnya dia yang ada didepan kasir aku yakin banyak sekali wanita yang membeli kue nya.”

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Sebaiknya kau tidak menggodanya, ngomong-ngomong bagaimana kencanmu dengan Hongbin oppa ?”

“Jangan bahas itu, aku tahu Hongbin oppa tidak menyukaiku karena sudah jelas dia lebih menyukaimu.” Jawab Krystal.

“Hey, jangan seperti itu Hongbin oppa sedikit pemalu mungkin kau harus mngenalnya lebih dekat.” Aku mengusulkan.

“Arrggh aku menyerah, Hongbin oppa  dan aku tidak akan pernah cocok.” Ucap Krystal, dia berbaring disampingku sambil memeluk gulingku.

“Kau yakin? Kau bahkan belum mencoba.”

“Taeri-ya, kenapa tidak kau saja yang pergi bersama Hongin oppa ? dia kelihatannya sangat menyukaimu.” Krystal mengusulkan.

“Tidak! Aku tidak menyukai dia seperti itu..dia sudah seperti kakakku.” Jawabku sambil menunduk malu.

“Ck! Kau memang pemalu pantas saja Hongbin oppa  menyukaimu.” Ledek Krystal.

Yak! Aku bukan pemalu!” Aku mengelitiki Krystal, Krystal hanya tersenyum dan membalasku.

Aku berbaring disamping Krystal sambil tertawa, aku tahu Krystal selalu berhasil menghiburku itulah alasan kenapa kami masih bersahabat sampai sekarang.

*****

Taekwoon hendak mengetuk pintu kamar Taeri namun dia mengurungkan niatnya saat dia mendengar Taeri dan Krystal tertawa, Taekwoon yang mendengar tawa Taeri dan Krystal tersenyum juga.

Akhirnya dia menyimpan kue yang sudah dia buat didepan pintu Taeri, mungkin setelah mereka mengobrol Krystal dan Taeri akan memakannya. Taekwoon kembali menuruni tangga dan dia melirik kearah jendela yang ada ditangga, langit sudah berubah menjadi orange dan matahari mulai terbenam.

Walaupun hatinya masih sakit dia harus tetap tersenyum, dia bukanlah Jung Taekwoon yang dulu. Dia sudah dewasa sekarang, dia akan menahan rasa sakitnya sampai akhir dia tidak akan menyerah karena setidaknya dia tidak kehilangan kesempatannya seperti Taeri.

Dia tidak ingin kehilangan Hakyeon dan dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Hakyeon.

“Dia mencintamu Taekwoon, Hakyeon hanya tidak bisa menerimanya.”

Taekwoon tersenyum saat dia mengingat perkataan Jaehwan beberapa tahun yang lalu, jika Taeri memiliki Krystal. Hakyeon memiliki Jaehwan, itulah alasannya kenapa Taekwoon percaya pada perkataan lelaki itu.

Hyeong aku akan mendapatkanmu, aku akan membuatmu sadar kalau kau mencintaiku juga.” Hakyeon bergumam lalu dia menatap kearah matahari yang terbenam.

Ponsel Taekwoon bergetar saat dia baru saja masuk kekamarnya, dia berlari kearah meja belajarnya dan melihat nama Jaehwan tertera dilayar ponselnya.

“Ya Jaehwan?”

“Taekwoon gawat!”

“Ada apa?!” Tanya Taekwoon.

“Hakyeon..dia mencoba bunuh diri.” Suara Jaehwna masih panik.

“APA? Dimana dia sekarang?” Taekwoon langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari.

“Aku ada dirumah sakit Youngnam, sebaiknya kau cepat kesini.” Jaehwan berkata.

“Aku akan kesana, tunggu saja.”

Taekwoon langsung menutup teleponya dan berlari keluar dari kamarnya, namuan saat dia sudah diluar dai bertemu dengan Taeri dan Krystal.

“Taekwoon-shi kau akan pergi kemana?” Tanya Taeri.

“Maaf aku harus pergi, aku akan kembali.” Ucapnya asal, dia langsung naik kedalam mobilnya menuju rumah sakit Youngnam.

Taekwoon tidak sadar jika dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diata rata-rata, didalam pikirannya adalah Hakyeon. Dia tidak peduli dengan polisi yang mungkin melihatnya dan menilangnya, dia langsung membelokan mobilnya menuju jalan rumah sakit Youngnam.

Tangannya sedikit gemetar, jika sesuatu terjadi pada Hakyeon semuanya salahnya. Taekwoon akhirnya sampai didepan rumah sakit Youngnam, dia turun dari mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah sakit yang cukup ramai sore itu.

Dia bertanya pada seorang suster yang ada dimeja resepsionis dan menanyakan dimana ruangan Hakyeon, ternyata Hakyeon masih ada ruang UGD karena dia baru saja baju beberapa menit yang lalu.

Taekwoon berlari menuju ruang UGD dan dia bisa melihat Jaehwan duduk didepan ruang UGD bersama kedua orangtuanya.

“Taekwoon-ah..” Ibunya memanggil, wanita itu sudah menangis dan memeluk Taekwoon.

Eomma…”

“Hakyeon-ah, dia…dia memotong nadinya sendiri.” Ucap ibunya dan Taekwoon hanya bisa menunduk.

Ayahnya yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa menatap tajam kearah Taekwoon, seakan dia menyalahkan semua ini pada Taekwoon.

Eomma, sudah jangan menangis mari kita berdoa semoga hyeong baik-baik saja.” Ucap Taekwoon, dia membantu ibunya untuk duduk kembali.

Jaehwan mendekat kearahnya dan mengajaknya untuk meninggalkan ruang UGD karena dia tahu ayah Hakyeon pasti marah padanya, mereka memutuskan untuk duduk di kantin rumah sakit.

“Apa dia memotong nadinya karena aku?” Taekwoon bertanya saat Jaehwan meletakan satu kaleng minuman dingin di depannya.

“Aku tidak tahu Taekwoon.” Jawabnya singkat.

“Ini semua karena aku, seharusnya aku tidak mengejarnya..” Taekwoon mencengkram tangannya membuat kulit tangannya merah.

“Taekwoon, berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Jaehwan menyentuh tangan Taekwoon.

“Aku…aku seharusnya tidak egois.” Airmata Taekwoon mengancam untuk menetes lagi.

“Taekwoon, kau mencintai Hakyeon wajar saja jika kau mengejar dia.” Jaehwan mencoba menghibur sahabatnya.

“Tapi..”

“Semua ini pilihan Hakyeon, Dia bisa tidak memotong nadinya namun dia memilih untuk melakukannya.”

Taekwoon terdiam saat dia mendengar itu, bagaimanapun alasannya Taekwoon masih merasa bersalah.

“Apa dia mengatakan sesuatu padamu sebelum dia memotong nadinya?” Taekwoon menatap kearah Jaehwan.

“Dia meminta maaf padaku, aku panik dan mengejarnya ke hotel lalu aku menemukan dia di bathtub berlumuran darah.” Jaehwan berkata, dia kelihatan sangat sedih sekali.

“Aku harap hyeong baik-baik saja.”

“Aku juga Taekwoon.”

Ponsel Taekwoon bergetar, dia bisa melihat nama Taeri dan akhirnya mengangkat panggilan wanita itu.

“Taekwoon-shi apa kau baik-baik saja?”

Suara Taeri entah kenapa bisa sedikit menenangkan perasaannya.

“Aku baik-baik saja, maaf aku pergi tanpa penjelasan.” Ucap Taekwoon.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau buru-buru.” Jawab Taeri.

“Aku akan pulang sebentar lagi bisakah kau tidak mengunci pintumu dulu?” Pinta Taekwoon.

“Tentu saja, aku akan menunggu.”

“Terimakasih Taeri-shi.”

Taekwoon menutup teleponya dan Jaehwan menatap kearahnya, sepertinya lelaki itu mencurigainya.

“Kenapa?” Tanyanya.

“Tidak, siapa Taeri?” Jaehwan bertanya, dia meneguk minuman dinginnya.

“Dia adalah orang yang membeli rumah Hakyeon hyeong.” Balas Taekwoon.

“Oh dia seorang wanita? Siapa nama lengkapnya?” Jaehwan bertanya.

“Choi Taeri, dia penulis terkenal apa kau tahu dia?” Taekwoon bertanya dan Jaehwan mengangguk.

“Ya, namanya tidak asing apa kau serumah dengan dia sekarang?” Jaehwan ingat kalau Taekwoon mengatakan sekarang dia tinggal dirumah Hakyeon yang dulu.

“Ya, dia menerimaku untuk tinggal disana.” Taekwoon menjawab dengan senyum tipis, dia bangga dengan pencapaiannya.

“Apa? Bagaimana…apa dia tahu?” Jaehwan terkejut.

“Ya, aku mengatakan semuanya padanya dia bilang tidak apa-apa asalkan aku tidak mengangguk privasinya.” Taekwoon menjelaskan, Jaehwan mengangguk mengerti.

“Taekwoon, aku rasa kau sebaiknya menyerah…kau sudah menemukan orang yang cocok untukmu.” Jaehwan berkata.

“Apa maksudmu?”

Jaehwan hanya tersenyum dan menghabiskan minumannya.

“Bukan apa-apa, ayo kita kembali.”

Jaehwan dan Taekwoon berdiri dari duduk mereka menuju keruang UGD, Taekwoon melirik kearah Jaehwan yang masih tersenyum. Dia tidak mengerti apa yang Jaehwan maksud tadi yang jelas dia ingin tahu, mungkin dia akan mengerti nanti.

*****

“Wah…aku bisa gendut karena kue lezat ini.” Ucap Krystal, dia kembali memakan kue coklat yang ada didepannya.

“Taekwoon memang genius, aku harus belajar membuat kue darinya.” Krystal memuji.

“Hm..kau benar, aku iri sekali.” Aku membalas, dia sendiri sibuk dengan kue strawberryku.

“Wah, Taeri aku rasanya Taekwoon juga perhatian padamu.” Krystal mengedipkan matanya padaku.

“Krystal dia hanya bersikap baik padaku karena aku mengjinkan dia tinggal disini, dia bahkan bersujud padaku untuk tinggal disini.” Ucapku, dia memakan kuenya kembali.

“Oh iya, aku lupa kalu dia tidak suka wanita tapi tidak apa-apa setidaknya kau kenyang dengan kue buatannya.” Krystal tertawa dan aku memutar matanya.

“Ngomong-ngomong dimana Taekwoon bekerja? Aku mungkin membeli kue-kue ini untuk acara disekolah.” Krystal bertanya.

“Aku belum tahu, aku belum sempat pergi ke toko kuenya tapi Taekwoon bilang toko kuenya ada didaerah Gangnam.”

“Oh Gangnam, disanakan banyak sekali toko kue mahal.” Ungkap Krystal.

“Benarkah? Pantas saja dia banyak uang.” Aku kembali memakan kueku.

Jinja! Kenapa dia harus seperti itu…” Krystal kelihatan kesal dan aklu tertawa.

“Cukup mengkhayal soal pangeranmu Krystal-ah, kau tidak akan menemukannya.” Aku menepuk punggungnya.

Shut up! I’ll find him someday.” Balasnya, dia menjulurkan lidahnya padaku dan aku membalasnya.

“Ngomong-ngomong soal pangeran, kenapa kau tidak menelepon Hongbin oppa  saja? Aku yakin dia pasti senang jika kau meminta dia untuk menemanimu kepesta.”Krystal menaik turunkan alisnya jahil.

“Kenapa aku harus membawa Hongbin oppa ?”

“Aissh! Kau penulis tapi kau tidak pernah mengerti drama.” Ledek Krystal, dia mendekat kearahku.

“Begini, jika kau datang dengan Hongbin oppa Jongin pasti akan cemburu dia pasti menyesal sudah meninggalkanmu bagaimana?”

“Aku tidak yakin soal itu, dia akan menikah Krystal.”

“Siapa tahu saja, ini kesempatan terakhirmu Taeri.”

Aku menunduk memikirkan rencana Krystal, mungkin saja rencana Krystal berhasil namun aku cukup yakin Jongin tidak peduli padaku lagi itulah alasan kenapa dia mengundangku. Jika dia masih memiliki perasaan padaku mungkin sekarang dia sudah ada didepan pintuku memintaku untuk kembali padanya, aku tahu itu mustahil.

“Tidak Krystal, aku tidak ingin berurusan dengan Jongin lagi mungkin aku dan dia memang tidak jodoh.” Ucapku dan Krysta kelihatan kecewa.

“Ck! Jika kau pemeran utama drama kau akan menjadi pemeran utama yang paling membosankan.” Ujar Krystal.

“Aku beruntung karena aku bukan pemeran utama drama iyakan?” Aku melingkarkan tanganku dipundak Krystal lalu tertawa.

“Terserah kau! Tapi jika aku jadi kau aku mungkin sudah gila dan berlari kerumah Jongin untuk merebut dia.”

“Aku tidak berani sepertimu Krystal, aku terlalu malu itu melakukan itu.” Aku tersenyum tipis.

Terkadang aku benci diriku sendiri, kenapa aku tidak pernah berani melakukan sesuatu yang gila untuk sekali saja? Kenapa aku harus menata rapih kehidupanku? Terkadang aku ingin seperti Krystal. Melakukan sesuatu yang aku inginkan, sesekali menjadi egois tidak salahkan? Tapi kenapa aku tidak bisa seperti itu?

Begitu susah bagiku untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, aku selalu memakai topeng untuk menyembunyikan perasaanku dan aku sangat baik untuk berakting kalau aku baik-baik saja.

“Terkadang kau harus melawan untuk mendapatkan cintamu Taeri, kau tidak bisa terus mengalah.” Krystal mengelus kepalaku.

“Aku tahu itu…”

*****

“Apa dia sudah sadar?” Jaehwan bertanya dan ibu Taekwoon mengangguk.

“Taekwoon-ah, jenguklah kakakmu.” Ibunya berkata, dia berjalan keluar bersama ayah Hakyeon.

Mungkin ibunya tahu kalau ayah Hakyeon masih membencinya karena seksualitasnya, lelaki tua itu kelihatan tidak senang saat dia melihat wajahnya apalagi saat dia tahu alas an kenapa anak lelakinya ingin bunuh diri. Taekwoon sedikit ragu, dia hanya berdiri diambang pintu sedangkan Jaehwan dibelakangnya mencoba mendorongnya, dia tahu kalau Taekwoon ingin sekali menjenguk Hakyeon.

Suara pendeteksi detak jantung Hakyeon terdengar sangat menyeramkan bagi Taekwoon, dia takut jika dia ada disamping Hakyeon detak jantung lelaki itu akan berhenti seketika. Jaehwan yang melihat kecemasan Taekwoon hanya bisa tersenyum dan berjalan kearah Hakyeon, Hakyeon kelihatan sedih saat dia melihat sosok Jaehwan.

Tidak ada kata yang bisa Taekwoon ucapkan sekarang saat dia melihat wajah pucat Hakyeon, pergelaran tangan kakannya diperban dan bibirnya terlihat sanga pucat. Taekwoon ingin meminta maaf namun kata-katanya tertahan oleh tangisnya, dia tidak bisa melihat Hakyeon dalam keadaan seperti ini.

Keadaan Hakyeon terlalu menyedihkan, dia takut jika Hakyeon akan marah padanya jika lelaki itu melihat dia kembali.

“Hakyeon-ah, bagaimana? Apa kau merasa baikan?” Jaehwan menyentuh bahu Hakyeon, Hakyeon hanya mengangguk kecil.

“Hakyeon-ah kau tahu bunuh diri bukan jawabannya.” Jaehwan berkata, Hakyeon hanya terdiam menahan tangisnya.

“Taekwoon ingin bertemu denganmu, apa kau ingin bertemu dengannya? Dia khawatir sekali.” Jaehwan bertanya, Hakyeon hanya mengangguk dan dia bisa mendengar langkah kaki Taekwoon.

Taekwoon duduk disampingnya dan menyentuh tangan Hakyeon, Jaehwan tersenyum kearah Taekwoon dan Hakyeon lalu dia pergi meninggalkan mereka berdua.

Hyeong aku mengerti, aku tidak akan mengatakan kalau aku mencintaimu lagi.” Ucap Taekwoon.

“Apa kau masih mencintaiku sekarang?” Hakyeon akhirnya melirik kearah Taekwoon, Taekwoon hanya diam.

“Jawab aku, apa kau masih mencintaiku sekarang?”

Taekwoon terpaksa harus menggelengkan kepalanya, dia tahu Hakyeon akan marah jika dia mengatakan yang sejujurnya.

“Brengsek, kau bilang tadi kau mencintaiku dan sekarang kau menggelengkan kepalamu?”

Taekwoon hanya diam, dia menggengam tangan Hakyeon lebih kuat dia tidak ingin Hakyeon meninggalkan dia kembali.

“Kau berbohong? Iyakan? Kau masih mencintaiku.”

Taekwoon tidak tahu harus menjawab apapun, benar dia tetap mencintai Hakyeon berapa kalipun Hakyeon bertanya jawabannya akan sama.

“Aku juga Taekwoon, aku juga mencintaimu.” Hakyeon berkata dan mata Taekwoon melebar saat dia mendengar itu.

Hyeong..”

“Aku kabur karena aku takut.”

Taekwoon tersenyum dan mencium tangan Hakyeon, dia bahagia sekali saat dia mendengar perkataan Hakyeon.

“Apakah aku melakukan hal yang salah? Apa aku menodaimu? Bagaimana orangtua kita? Aku takut Taekwoon.” Hakyeon berkata, Taekwoon tersenyum.

“Kau tak usah takut hyeong, aku akan selalu ada disampingmu sekarang kau tidak sendirian.” Taekwoon mengelus pipi Hakyeon.

“Kau berjanji akan selalu ada disampingku?”

“Tentu saja, selama kau ingin aku ada disampingmu aku tidak akan pergi kemanapun.”

Taekwoon mendekat kearah Hakyeon dan mengecup dahi Hakyeon, Hakyeon tersenyum walaupun pada akhirnya dia menangis. Dia menangis karena bahagia, walaupun mereka akan menghadapi banyak rintangan Hakyeon tahu kalau dia bisa mengandalkan Taekwoon.

Dia sudah lelah untuk bersembunyi, dia tidak bisa berbohong lagi klaau dia memiliki perasaan yang sama dengan Taekwoon. Mungkin semenjak mereka pertamakali bertemu, Taekwoon terlihat lucu sekali saat itu dan Hakyeon hanya ingin melindungi adik kecilnya.

Namun sekarang adik kecilnya itu sudah tumbuh menjadi lelaki yang kuat dan penuh tanggung jawab, dia takut jika Taekwoon tidak membutuhkannya lagi. Tapi dia salah, pada kenyataannya Taekwoon selalu membutuhkannya dan sekarang dia tidak takut lagi.

“Aku mencintaimu Hyeong…” Taekwoon berkata dan mereka berdua tersenyum bersama.

Jaehwan yang melihat Taekwoon dan Hakyeon tersenyum ikuat senang juga, dia tahu ini salah namun dia tidak sanggup melihat betapa menderitanya mereka tanpa satu sama lain.

“Cinta memang benar-benar buta ternyata.” Jaehwan bergumam, dia berjalan berbalik menuju pintu utama rumah sakit.

Saat dia berjalan kearah lobi langkahnya terhenti saat dia bertemu dengan sosok yang familiar, sosok yang selama ini ingin dia temui.

“Hayoung-ah.”

Hayoung yang melihat sosok Jaehwan langsung berbalik menghindari lelaki itu, Jaehwan yang melihat Hayoung menjauh langsung menyusul gadis itu. Jaehwan akhirnya bisa menyusul wanita itu membuat Hayoung berhenti berjalan, Hayoung berbalik dan sebuah tamparan keras mendarat dipipi Jaehwan.

“Berhenti mengikutiku dan memanggilku! Kau bukan siapa-siapa bagiku.” Ucap Hayoung kasar.

Jaehwan yang terkejut dengan tamparan Hayoung hanya bisa menyentuh pipinya, dia melirik kearah Hayoung yang mulai berjalan lagi menjauh darinya. Jaehwan muak dengan semua alasan Hayoung, bagaimanapun dia ingin masalah anatar dia dan Hayoung selesai.

Dengan kasar dia menarik tangan Hayoung, Hayoung terkejut dan berteriak meminta Jaehwan untuk melepaskan genggaman tangannya namun lelaki itu mengacuhkannya. Jaehwan akhirnya mengajak Hayoung menuju atap rumah sakit, dia butuh tempat sepi dimana tidak ada orang lain yang menganggu mereka.

Beberapa menit kemudian dia mendorong Hayoung dan menghalangi tubuh Hayoung dengan tubuhnya sehingga Hayoung terjepit anatar tembok dan tubuh Jaehwan, Hayoung menatap tajam kearah Jaehwan.

“Pergi dariku! Apa yang kau mau?!” Bentak Hayoung mendorong tubuh Jaehwan menjauh darinya namun Jaehwan menahan tangan Hayoung.

“Aku ingin masalah kita selesai Hayoung.”

“Masalah kita?! Ini semua salahmu, kau yang harus menyelesaikannya!”

Jaehwan menahan emosinya, dia mencoba tenang walaupun dia sebenarnya marah juga. Dia harus mengerti kalau Hayoung jauh lebih muda darinya, dialah yang paling dewasa dianatar keduanya.

“Aku minta maaf, seharusnya aku mengatakan kalau akau akan pergi ke Perancis.”

“Oh tidak usah repot-repot, aku sudah tahu!” Hayoung mendorong kembali tubuh Jaehwan dan kali ini dia berhasil menjauh dari lelaki itu.

Jaehwan menghela nafasnya, dia kembali menarik tangan Hayoung dan tanpa ragu dia mencium gadis itu tepat di bibirnya membuat Hayoung terkejut. Dia memberontak mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Jaehwan.

Sebuh taparan kembali mendarat dipipi Jaehwan setelah bibir mereka akhirnya berpisah, keduanya terengah-engah karena lelah.

“Apa kau gila?! Kita sudah putus bukan? Jangan pernah muncul lagi didepanku!”

Saranghae!” Jaehwan berteriak membuat Hayoung melirik kearah lelaki itu.

“Oh Hayoung, Saranghae  !” Teriaknya kembali.

Hayoung menatap kearah Jaehwan penuh kebingungan, airmatanya langsung mengumpul disudut matanya.

“Aku tahu kau marah karena aku belum sempat engatakan itu padamu, aku tidak bohong Hayoung saat aku engatakan kalau aku mencintaimu.”

Hayoung hanya menyeringai saat dia mendengar itu seakan gadis itu tidak percaya dengan perkataan Jaehwan.

“Lucu sekali, kau mengatakan itu setelah lima tahun berlalu.” Hayoung membals lalu wanita itu pergi eninggalkannya.

Jaehwan menghela nafasnya, dia tahu kalau Hayoung tidak akan pernah percaya padanya sekarang. Hubungan mereka sudah hancur, jika mereka ingin membangunnya kembali itupun harus memakan waktu yang lama.

*****

Taekwoon melirik kearah jam dinding dirumah Taeri, waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam. Dia masih merasa tidak enak karena membuat Taeri menunggu hampir empat jam lamanya, ruang tamu rumah Taeri gelap namun lampu dihalam belakang rumah gadis itu menyala.

Saat Taekwoon sampai dihalaman belakang dia bisa melihat Taeri duduk diberanda sedang menyanyi sambil mendengarkan musik yang ada di handphonenya, wanita itu kelihatannya tidak sadar kalau Taekwoon sudah berdiri diambang pintu sampai akhirnya dia selesai menyanyi dan Taekwoon bertepuk tangan.

“Taekwoon-shi!” Panggil Taeri terkejut.

“Kau punya suara yang bagus, apa kau pernah ikut paduan suara?” Taekwoon bertanya dan Taeri menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak pernah mengikuti paduan suara.” Ungkapnya.

“Maaf aku sudah membuatmu menunggu lama.” Taekwoon akhirnya duduk disamping Taeri.

“Tidak apa-apa, jika aku boleh tahu tadi kau pergi kemana?” Tanya Taeri.

“Oh aku pergi kerumah sakit, Hakyeon hyeong sakit.” Dia menjelaskan.

“Oh Hakyeon? Bukankah Hakyeon adalah kakakmu yang hilang?”

“Ya, dia benar-benar datang kesini.” Taekwoon tersenyum tipis.

Ini pertamakalinya dia melihat Taekwoon tersenyum, Taekwoon bisa tidak memiliki ekspressi dia adalah lelaki yang dingin setahu Taeri. Bahkan saat dia melihat hal yang lucu lelaki itu tidak pernah tersenyum, namun sekarang dia tersenyum walaupun tipis.

“Wah..kau pasti senang sekali.” Ucap Taeri.

“Tentu saja, aku sudah menunggu dia datang selama lima tahun.” Jawabnya, dia menatap kearah langit Seoul yang gelap.

“Bagus kalau begitu, tapi kenapa dia sakit?”

“Dia..dia mencoba membunuh dirinya sendiri.”

Mendengar itu Taeri menarik nafasnya terkejut, sekarang dia sedikit menyesal karena menanyakan terlalu banyak pertanyaan.

“Maaf, aku seharusnya tidak bertanya terlalu banyak…”

“Tidak apa-apa, sudah kubilangkan sekarang kau tuan rumah disini jadi aku berhak menanyakan apapun padaku selama itu membuatmu nyaman tinggal bersamaku.” Taekwoon berkata.

“Aku sedikit iri.”

Taekwoon melirik kearah Taeri.

“Kau sudah mencapai keinginanmu, sedangkan aku…aku kehilangan kesempatan untuk mendapatkan apa yang aku mau.” Taeri menunduk menatap kearah kakinya.

“Memang apa yang kau mau Taeri-shi? Bukankah hidupmu sudah sempurna?”

Taeri memukul lengan Taekwoon pelan dan Taekwoon pura-pura meringis kesakitan membuat Taeri mendengus.

“Hidupku tidak sempurna, mungkin kelihatannya…tapi sebenarnya hidupku itu seperti lemari yang besar.”

Taekwoon mengangkat alisnya tidak mengerti.

“Aku hanya punya baju yang sedikit namun lemariku sangat besar sehingga banyak sekali tempat yang kosong.” Taeri menjelaskan.

“Aku mengerti perasaan itu, hidupku seperti itu juga saat Hakyeon hyeong meninggalkanku.”

Taeri melirik kearah Taekwoon penuh kecurigaan.

“Sebenarnya aku penasaran.”

“Kenapa?”

“Aku ingin menjawab pertanyaanku dengan jujur, sebenarnya apa hubunganmu dengan Hakyeon-shi?”

Taekwoon mengangkat bahunya meninggalkan misteri untuk Taeri, Taeri meajukan bibirnya kesal karena Taekwoon tidak menjawab pertanyaan nya.

“Kau bilang kau akan menjawab semua pertanyaanku!” Taeri menuntut dan Taekwoon hanya menggelengkan kepalanya.

“Kemarilah, aku akan membisikannya.” Taekwoon menyuruh Taeri mendekat.

Taeri akhirnya menurut dan mendekat kearah Taekwoon.

“Bukan.urusan.kamu!” Bisik Taekwoon dan Taeri marah.

“Aku bertanya serius!” Taeri memukul Taekwoon namun Taekwoon kabur dan Taeri mengejar lelaki itu.

Mereka tertawa dan saling mengejar, Taeri akhirnya berhasil menangkap Taekwoon dan memukulnya beberapa kali sambil memaksa lelaki itu untuk mengatakan hubungannya dengan Hakyeon yang sesungguhnya. Taekwoon tetap tidak mau mengalah dan mengangkat tubuh Taeri dan berputar membuat Taeri berteriak sampai tertawa.

Tawa mereka berhenti saat mereka mendengar bel rumah Taeri akhirnya berbunyi, Taekwoon menurunkan Taeri dan mereka berlari meuju pintu utama untuk melihat siapakah tamu yang datang malam-malam seperti ini.

Taeri yang membuka pintu membatu saat dia melihat sosok yang ada didepannya, Taekwoon yang melihat ekspressi kaku Taeri melirik kearah sosok yang ada didepan Taeri.

Oppa ? Apa yang kau lakukan disini?”

To Be Continue…

Don’t Forget The Comment❤

Oh iya hayooo siapa yang bisa tebak siapa yang Taeri lihat??

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

One thought on “But He’s Gay! [Chapter 3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s