Posted in FanFiction (semua umur)

But He’s Gay! [Chapter 2]

BHG

 

Title: But He’s Gay!

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

WARNING!! CONTAINING YAOI!! MEANING BOYXBOY

Cast :

Choi Taeri [OC],Jung Taekwoon [Leo VIXX], Jung/Cha Hakyeon [N VIXX],Lee Hongbin [Hongbin VIXX],Jung Krystal [Krystal F(x)],Oh Hayoung [Hayoung Apink]

Genre : Comedy, Romance and Angst

Length : Chaptered

Rating : PG 17/ NC 17

 

2

Old Flame

 

“Hakyeon pernah mengatakan padaku kalau dia memiliki adik.”

Lee ahjumma berkata dan dia meneguk teh yang sudah dibuatkan oleh Taekwoon, dia tersenyum puas saat dia melihat berbagai kue dan cemilan kecil ada dihadapannya. Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya, Lee ahjumma rela datang kerumahku untuk di interview seperti ini oleh Taekwoon hanya demi sebuah kue kecil dan cemilan lainnya.

“Apa Hakyeon Hyeong pernah mengatakan tempat dimana dia ingin tinggal sebelum dia pindah?” Taekwoon bertanya, nada suaranya kedengaran penuh dengan keingin tahuan.

Aku menguap saat aku mendengarkan celotehan Taekwoon dan Lee ahjumma, mereka kelihatannya anteng membahas soal Hakyeon.

“Tidak Taekwoon-shi, aku sudah bertanya beberapa kali karena aku khawatir namun dia hanya menjawab dengan senyuman tipisnya, aku juga tidak tahu kemana dia pergi.” Lee ahjumma berkata dia kelihatan sedih.

“Aku hanya khawatir, ini sudah hampir lima tahun dia hilang..aku sudah mencari dia kemana-mana namun dia selalu tahu kemana aku pergi.” Taekwoon berkata penuh kesedihan, Lee Ahjumma menyentuh tangan Taekwoon.

“Taekwoon-ah, kau tenang saja..aku rasa Hakyeon cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri.” Lee Ahjumma menghibur dan Taekwoon tersenyum tipis.

“Terimakasih Ahjumma,apakah kau mau kue-kue ini di bungkus?” Taekwoon menawarkan dan Lee ahjumma mengangguk.

Aigoo Taeri-ya, kau beruntung sekali bisa tinggal dengan Taekwoon-ah.” Lee ahjumma berkata dan aku hanya memutar mataku tidak peduli.

Ahjumma, kau sebaiknya tidak memberikan harapan yang besar pada Taekwoon.” Ucapku dan Lee ahjumma mengangguk.

“Ya, aku tahu itu Taeri-ya.”Lee ahjumma menjawab dan dia tersenyum saat dia melihat Taekwoon datang dengan sebuah bungkusan.

“Ini ahjumma, terimakasih atas informasinya.” Taekwoon berkata dan Lee ahjumma menggelengkan kepalanya.

“Ah..itu bukan apa-apa, terimakasih untuk kuenya Taekwoon-ah.” Lee ahjumma berkata dan dia melambai kearah aku dan Taekwoon lalu pergi.

“Jadi..apa kau sudah punya petunjuk dimana Hakyeon?” Tanyaku dan Taekwoon menggelengkan kepalanya.

“Aku akan menunggu, aku harus bekerja aku mungkin akan pulang sore.” Taekwoon mengambil jaketnya dan dia melambai kearahku, aku tersenyum dan Taekwoonpun pergi meninggalkan rumahku sedikit terburu-buru.

Saat Taekwoon masuk kedalam mobilnya aku bisa melihat Krystal baru saja turun dari taksi yang dia naiki, Krystal menatap kearah Taekwoon sejenak sampai akhirnya sosok lelaki itu menghilang masuk kedalam mobil sedan Hyundai nya. Krystal langsung berjalan kearah pintu rumahku, aku menelan ludah bersiap untuk dibanjiri pertanyaan oleh Krystal.

“Ok Taeri, apa kau tidur dengan lelaki tadi?” Krystal berdiri didepanku dengan kedua tangannya yang disilangkan.

“Krystal, biarkan aku menjelaskannya dulu.” Aku berkata dan Krystal menggelengkan kepalanya.

No..no..no! kau pasti mengelak.” Krystal berkata dan dia mendekat kearahku menangkup wajahku.

“Lihat kau,pantas saja kau terlihat lebih bercahaya.” Krystal berkata dan aku melepaskan kedua tangan Krystal dari wajahku.

“Aku tidak tidur dengan dia ok?” Aku berdiri dari dudukku dan menyimpan laptopku.

“Oh yang benar saja, Dia tampan.” Krystal berpendapat dan dia duduk disofaku, menyilangkan kedua kakinya.

“Aku bukan kau Krystal.” Aku menjawab dengan malas.

“Oh ayolah! Ini sudah satu tahun setelah kau putus dengan Jongin, apakah kau tidak bisa melupakan dia?” Krystal bertanya, aku melirik kearah Krystal lalu menggelengkan kepalaku.

“Bukan seperti itu, aku hanya belum menemukan yang tepat saja.” Aku mengungkapkan, aku mengambil dua pasang cangkir yang ada di kabinet dapurku dan mulai menyeduh kopi untuk aku dan Krystal.

“Hm..begitu ya, kalau begitu bagaimana dengan Hongbin oppa? dia kelihatannya menyukaimu.”

“Krystal, dia editorku.” Jawabku.

“Lalu? Aku rasa tidak ada masalahnya kau mengencani dia.”Ucap Krystal, dia menyentuh dagunya kelihatan berpikir.

“Itu tidak professional Krystal.”

“Tapi kau menyukai dia juga, iyakan?” Krystal mengangkat alisnya menggoda, aku tersenyum tingkah Krystal terkadang cukup lucu.

“Sedikit, dia baik padaku.” Aku menjawab dan Krystal tertawa.

“Oh ya? Aku rasa kau sangat menyukainya.” Krystal mengambil cangkir berisi kopi yang aku bawa, dia langsung meniup kopinya dan meneguk kopi itu.

“Oh Krystal kau selalu berlebihan..aku sudah menganggap dia seperti kakakku sendiri tanpa dia aku tidak pernah bisa menerbitkan cerita pertamaku.” Ungkapku dan Krystal hanya mengangguk.

“Ya..ya inilah sebabnya kau tidak pernah mendapatkan pacar baru lagi, kau tidak pernah sadar dengan perasaanmu sendiri.” Krystal menasehati dan aku hanya mengangkat bahuku.

“Oh ayolah Taeri! Kau cantik, pintar dan menyenangkan oh tunggu itu aku.. tapi intinya apalagi yang kurang darimu? Kemana Taeri yang selalu berhasil membuat lelaki berlutut didepannya? Apakah kau masih menerima hadiah-hadiah dari pengemar-pengemar mu?” Krystal bertanya penasaran dan aku mengangguk malas.

Aigoo, lihat kau! Banyak sekali yang ingin mendapatkanmu kenapa kau harus menutup dirimu eoh? Lelaki seperti apa yang kau inginkan?”

“Apa kau akan menjodohkanku lagi?” Aku bertanya penuh kecurigaan aku tahu sekali gelagat Krystal.

“Menurutmu?” dia melirik kearahku penuh dengan misteri, aku benci jika dia sudah mulai bertingkah seperti ini.

“Krystal, aku tidak butuh bantuanmu..aku tahu kau berniat baik untuk mencarikanku lelaki yang cocok tapi aku benar-benar tidak ingin berkencan sekarang.” Ucapku dan Krystal hanya mengangguk, sepertinya perkataanku hanya angin lalu untuk dia.

Taklama kami berbincang bel rumahku berbunyi, aku berdiri dan membuka pintu rumahku aku sedikit terkejut melihat Hongbin oppa sudah berdiri didepanku dengan sebuah bungkusan ditangan kanannya.

“Maaf aku datang mendadak, aku hanya khawatir.” Hongbin oppa berkata dia tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku, dia memberikan bungkusan yang dia bawa padaku.

“Oh oppa..masuk, kebetulan sekali Krystal ada disini.” Aku berkata sambil mengintip isi bungkusan yang dia bawa.

Hongbin oppa melangkah masuk kedalam rumahku, dia kelihatan tidak senang saat dia melihat Krystal sedang asik membaca majalah di sofaku. Seperti biasanya Hongbin oppa berdiri dihadapan Krystal dengan tangan yang dilipat, dia menatap tajam kearah Krystal namun sepertinya Krystal tidak terlalu peduli.

“Hi..” Krystal menyapa Hongbin oppa seakan-akan mereka teman yang akrab.

“Jangan bilang Hi padaku, aku bukan temanmu apa kau kesini untuk menganggu Taeri lagi?” Hongbin oppa bertanya dan Krystal hanya tertawa.

“Oh..oppa, kenapa kau sangat jahat padaku? Kau baik pada Taeri.” Krystal berkata pura-pura tersinggung, sangat tipikal sekali dari Krystal.

“Setidaknya Taeri tidak membuat kepalaku sakit.” Hongbin oppa berkata dan dia melirik kearahku tersenyum.

“Terimakasih oppa, sebaiknya kau duduk dulu kau mau minum apa?” Aku bertanya dan Hongbin menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, kau sebaiknya melanjutkan draftmu aku akan mengambil minumku sendiri.” Hongbin oppa berkata, dia mendorongku untuk duduk.

Aku bisa mendengar Krystal menahan tawanya, menurut dia sepertinya lucu aku di perlakukan seperti ini. Aku melirik kearah Krystal dan aku melotot kearahnya, Krystal pura-pura tidak melihatku dan sibuk meminum kopinya walaupun dia bertingkah begitu aku tahu dia pasti tertawa didalam batinya dasar krystal menyebalkan! Aku mengutuk.

Aku membuka laptopku dan membuka draft ceritaku, Hongbin oppa pergi kedapur dan mengambil minumnya. Hongbin oppa sudah sering datang kerumahku dia bahkan lebih tahu letak-letak barangku daripada aku sendiri aku merasa aneh apakah dia seorang cenayang atau semacamnya? Setiap kali aku kebingungan mencari barang atau skrip yang sudah lama disimpan Hongbin oppalah yang selalu berhasil menemukannya.

Yak! Lihat..Hongbin oppa benar-benar cocok untukmu bahkan dia bisa menyeduh kopinya sendiri.” Krystal menengok kearah dapurku dan tersenyum saat dia melihat Hongbin Oppa sibuk menyeduh kopi.

“Shuutt..Krystal, aku harus melanjutkan pekerjaanku.” Ucapku dan aku mulai mengetik melanjutkan pekerjaanku.

“Aku serius Taeri, jika kau tidak mengencaninya aku akan merebutnya darimu apa kau mau?” Tanya Krystal, aku melirik kearah Krystal sejenak.

“Kau tidak akan berani..” Aku meledek dan Krystal hanya menyeringai, sepertinya dia menganggap ledekanku sebagai tantangan.

Aku kembali menghadap kearah laptopku saat aku melihat Hongbin oppa keluar dari dapur, aku baru sadar kalau dia memakai jas coklat kesukaannya. Hongbin oppa memang tidak pernah lepas dari jasnya, dia selalu terlihat rapih bahkan aku seorang wanita kalah rapihnya dengan dia.

Hongbin oppa duduk disampingku dia mengintip kearah layar laptopku dia kelihatan tidak senang saat dia melihatnya.

“Apa kau membuat cerita tentang melodrama lagi?” Tanya Hongbin oppa.

“Ya, apa kau tidak suka dengan ceritanya?” Aku bertanya khawatir, Krystal yang mendengar itu segera mendekat dan ikut menatap kearah layar laptopku.

“Taeri-ya, kau sudah membuat terlalu banyak cerita yang seperti ini.” Hongbin oppa mengeluh dan aku cemberut.

“Lalu apa yang harus aku tulis? Aku tidak terlalu suka komedi romantis..kau tahu itu.”Kataku dan Hongbin oppa menghela nafasnya.

“Kau bukan tidak menyukainya tapi tidak memahaminya Taeri, bagaimana kalau aku membawakanmu beberapa contoh novel komedi romantis? Aku hanya khawatir, para pembacamu sudah mulai komplain kau tahu?” Tanya Hongbin oppa dan aku menggelengkan kepalaku.

“Aku tidak tahu, memang mereka mengatakan apa?” Tanyaku penasaran.

Hongbin oppa kelihatan ragu-ragu, mungkin dia takut jika perkataannya menyakitiku aku Hongbin oppa memang orang yang sensitive jika soal perasaan. Dia selalu memilih kata-kata yang lembut, bahkan kritikan yang pedaspun tidak terlalu menyakitkan jika Hongbin oppa yang menyampaikannya.

“Melodrama memang keahlianmu Taeri-ya, tapi tidak salahkan jika kau mencoba genre lainnya? Hanya untuk percobaan, kau selalu terlihat sedih jika kau menulis melodrama.” Hongbin oppa mengungkapkan dan dia mengelus kepalaku.

“EHM!” Krystal berdehem mengumumkan kalau dia masih disini dan dia merasa tidak nyaman dengan interaksiku dengan Hongbin oppa.

Hongbin oppa melepaskan tangannya dari kepalaku, aku bisa melihat Hongbin oppa melotot kearah Krystal dan Krystal hanya tersenyum kepadanya seakan dia tidak memiliki kesalahan.

Oppa..” Krystal memanggil dengan manja membuat Hongbin melirik kearah Krystal.

“Ya Krystal?” Hongbin oppa menjawab namun nada suaranya terdengar datar.

Oppa apa yang kau lakukan minggu ini?” Tanya Krystal, aku memutar mataku jangan bilang kalau Krystal akan mengajak Hongbin oppa kencan!

“Aku akan mengedit beberapa draft dari penulis lain, aku akan sibuk.” Hongbin Oppa menjawab.

Aku mengerutkan keningku kebingungan, bukankah Hongbin oppa editor khusus untukku? Aku berpikir lalu aku melirik kearah Hongbin oppa penuh tanya. Hongbin oppa menggelengkan kepalanya menandakan kalau dia tidak ingin pergi berurusan dengan Krystal, aku menyeringai sepertinya menjahili dia cukup asik setidaknya aku bisa balas dendam karena dia membuatku harus mengulang ceritaku dari awal.

Oppa, bukankah kau editor khusus untukku? Kim Sajang-nim mengatakan itu padaku.” Aku berkata dan aku bisa melihat wajah panik Hongbin oppa.

Oppa, apa kau bohong padaku?” Krystal bertanya dan dia terdengar sangat sedih.

“Baiklah, aku tidak sibuk minggu ini.” Hongbin oppa mengalah.

“Kalau begitu maukah kau pergi denganku? Aku punya tiket film terbaru.” Krystal meminta, dia menatap kearah Hongbin penuh dengan harapan.

“Hm..tapi Taeri kelihatannya butuh bantuanku untuk proyek yang baru ini.” Hongbin oppa memberi alasan.

“Benarkan Taeri-ya? Aku akan membawakan banyak contoh novel komedi romantis untukmu.” Hongbin oppa berkata dan aku hanya mengangkat bahu, Krystal kelihatan sangat kecewa.

Oppa, aku melihat contohnya di internet pergilah bersenang-senang kau kelihatan sangat lelah.” Aku berkata mencoba menahan tawaku saat aku melihat ekspressi panik Hongbin oppa.

“ Taeri-ya, kau tak udah membujuknya…Hongbin oppa memang tidak mau pergi denganku.” Krystal berkata, dia terdengar benar-benar sedih dan dia berdiri dari duduknya.

“Aku harus mengajar hari ini, aku akan datang lagi jika aku punya waktu.” Krystal berpamitan dan dia mengambil tasnya.

“Krystal..” Hongbin memanggil.

“Tidak apa-apa oppa, aku tahu kau sibuk.” Krystal berkata ketus pada Hongbin oppa.

Hongbin oppa kelihatan merasa bersalah, tidak salah lagi sebentar lagi dia pasti mengejar Krystal yang sudah mulai menjauh berjalan menuju pintu utama rumahku. Ternyata firasatku benar Hongbin oppa langsung berdiri dan mengejar Krystal, aku tahu Hongbin oppa memang orang yang baik bahkan terlalu baik.

Krystal terlihat tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya mereka berdua berpisah, aku hanya menggelengkan kepalaku. Krystal memang pintar untuk menciptakan drama, seharusnya dia menjadi aktris daripada guru bahasa Inggris.

“Kau senang? Sekarang aku terjebak dengan Krystal.” Hongbin oppa berkata, aku hanya tertawa masih menatap kearah laptopku.

Hongbin oppa membuka tasnya dan membuka buku jurnal coklat yang selalu dia baa kemana-mana, ini pertanda buruk apakah sekarang ada lagi majalah yang ingin menginterview aku? Ugh..aku tidak suka menjadi pusat perhatian karena itu membuatku sangat canggung.

“Taeri-ya, sepertinya belakangan ini novelmu  populer lagi aku mendapatkan telepon dari beberapa majalah yang ingin menginterviewmu.” Hongbin oppa berkata sambil menulis sesuatu di jurnalnya.

Oppa bisakah kita menolaknya, aku tidak ingin pergi ke interview manapun.” Jawabku, Hongbin menggelengkan kepalanya tidak setuju.

“Taeri-ya novelmu boleh populer tapi jika kau tertutup seperti itu fansmu akan berpikiran negatif, kau jarang sekali mengadakan fans sign juga bukankah kau tidak bosan terus duduk dirumah ini?” Hongbin oppa melirik kearahku, aku menghela nafasku karena perkataan Hongbin oppa benar sekali.

“Baiklah, mungkn beberapa interview tidak apa-apa, tapi jangan terlalu lama.” Aku mengalah dan Hongbin oppa mengangguk.

“Baiklah, itu baru Choi Taeri yang aku kenal.” Hongbin oppa mengelus lagi kepalaku, aku hanya mengerang sepertinya Hongbin oppa datang hanya untuk menyampaikan berita buruk ini.

“Oh iya, majalah Star One ini mengambil fotomu juga. tenang saja kau akan bekerja dengan fotografer professional jadi kau tidak usah khawatir fotomu pasti bagus.” Hongbin oppa dengan santainya berkata seakan memasang fotoku di dalam majalah nasional bukanlah hal yang besar.

Oppa! tapi aku tidak suka jika fotoku ada di majalah!” aku mengeluh dan Hongbin tertawa, mungkin dia pikir aku hanya bercanda.

“Ah.. wae? Kau cantik.”

“Tidak! Pokoknya batalkan jadwal itu..”

“Tidak bisa Taeri, majalah Star One selalu mempromosikan novelmu pemasaran novelmu bagus karena mereka. sebaiknya kau menuruti keinginan mereka atau penjualan novelmu menurun.” Ancam Hongin oppa.

Aku akhirnya menunduk,aku merasa terkhianati bagaimana Hongbin oppa tega sekali membiarkanku di potret oleh orang lain? Apalagi fotoku akan tersebar keseluruh Korea sekarang.

“Oh iya jika kau penasaran siapa yang akan memotretmu kau bisa mencarinya di google, dia cukup terkenal..kalau tidak salah namanya Cha Hakyeon.” Hongbin oppa berkata.

Mendengar nama Hakyeon mataku melebar, entah kenapa nama itu terasa familiar. Aku hanya mengangguk dan melanjutkan membuar draft untuk novel terbaruku, sepertinya aku harus mulai mencari inspirasi yang baru.

*****

Hyeong, sebaiknya kau kembali hari ini kau tahu minggu depan kau akan memotret penulis terkenal itu..”

Mendengar perkataan itu Hakyeon hanya menghela nafasnya, dia benci jika semua orang mulai menghubunginya dan menyuruhnya untuk kembali ke Korea. Dia masih sibuk di Paris memotret model-model cantik yang siap berpose untuknya kapanpun, Hakyeon menyuruh model-model yang sudah selesai berpose untuk kembali karena hari ini dia sudah selesai megambil potret yang dia butuhkan.

“Bisakah kau berhenti mengatakan itu? Aku tahu.” Jawab Hakyeon, dia berjalan menuju komputernya dan mulai melihat semua hasil potretannya.

“Aku akan berhenti mengomel jika kau mendengarkan aku Hakyeon.” Jawab lelaki yang sekarang berdiri disampingnya sambil berkacak pingang tidak senang.

“Jaehwan, akan kembali kau tak usah khawatir.” Hakyeon menyentuh bahu temannya itu lalu melepaskan kamera yang melingkar dilehernya.

“Oh ya? Terakhir kali kau bilang itu kau pergi ke Paris tanpa mengatakan apapun padaku.” Jaehwan menjawab.

“Jaehwan..”

“Aku tahu kau mengindari Taekwoon, apa aku benar?”

Mendengar nama Taekwoon wajah Hakyeon langsung menegang, Jaehwan tahu kalau dia benar semuanya terlihat jelas dari ekspressi Hakyeon.

“Bisakah kita tidak membahas dia?”

“Kenapa? Kau merasa bersalah?”

Hakyeon marah dan menarik kerah baju Jaehwan dengan kasar,matanya menatap tajam kearah Jaehwan namun Jaehwan malah menyeringai tidak takut sedikitpun.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang aku dan Taekwoon, kau sebaiknya tidak ikut campur.”

Hyeong, kau hanya berbohong pada dirimu sendiri…aku tahu kau mencintainya.”

“Tidak, dia hanya adikku dan aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya.” Jawab Hakyeon sebelum fotografer itu menghilang keluar dari studio.

Jaehwan hanya mendengus, dia tahu sekali gelagat sahabatnya itu. Hakyeon jelas-jelas tidak mau kembali ke Korea. Namun kali ini Jaehwan tidak akan membiarkan Hakyeon untuk kabur, dia harus belajar untuk menyelesaikan masalahnya seperti orang dewasa dengan Taekwoon.

Dia tahu Taekwoon sudah mencari Hakyeon kemana-mana dan dia merasa bersalah karena dia hanya bisa menyaksikan Taekwoon kewalahan mencari kakaknya sedangkan dia tahu jelas dimana Hakyeon berada.

Dia bahkan tidak tahan melihat betapa sedihnya Taekwoon setiap kali dia harus berbohong pada lelaki itu, dia sudah bosan mengatakan semua kebohongan yang dia janjikan pada Taekwoon sekarang waktunya dia mengatakan semua kebenaran yang sudah dia tahan diujung mulutnya selama bertahun-tahun.

*****

“Taekwoon oppa!” Hayoung memanggil dia kelihatan senang sekali saat dia melihat kakak sepupunya itu berjalan masuk kedalam tokonya.

“Oh Hayoung-ah, kau sudah datang.” Taekwoon tersenyum tipis kearah sepupunya itu.

“Ya, aku menunggumu…aku dengar kau pindah ke daerah Daechi-dong apa aku benar?” Hayoung bertanya, Taekwoon mengangguk entah kenapa dia tidak terkejut klau Hayoung tahu dimana dia tinggal sekarang.

“Kau tahu darimana?”

“Hm..katakan saja kalau burung kecil mengatakannya padaku kemarin.” Hayoung mengedipkan matanya pada Taekwoon.

“Coba kutebak burung kecil ini Eommaku, apa aku benar?”

Hayoung hanya tersenyum dan berjalan masuk kedalam kantornya, Taekwoon hanya menggelengkan kepalanya. Dia sedikit menyesal karena sudah menghubungi ibunya kemarin, tapi dia tidak bisa membuat ibunya khawatir meskipun ayahnya melarangnya untuk pulang Taekwoon tahu ibunya masih menyayanginya dan khawatir padanya oleh karena itu ibunya selalu menghubungi secara diam-diam.

Taekwoon mengganti bajunya degan cepat dia lalu masuk kedapur dan langsung disapa oleh rekan kerjanya,Jinki atau lebih dikenal sebagai Onew dan Kyungsoo yang sedang membuat adonan kue.

“Kau terlambat lagi Taekwoon hyeong.” Ucap Kyungsoo, Kyungsoo mungkin paling muda diantara ketiga pâtissieritu namun jelas kalau dialah yang paling rajin dan dewasa.

“Kyungsoo kau tahu Taekwoon baru saja pindah mungkin dia harus membereskan rumahnya dulu.” Jinki membela sambil memberikan senyum ramahnya pada Taekwoon.

“Maaf Kyungsoo, lainkali aku tidak akan terlambat lagi.” Ucap Taekwoon, dia langsung membantu Kyungsoo untuk membuat adonan kue.

Hyeong, bagaimana ruman barumu? Apa nyaman? Aku dengar harga rumah di daerah Daechi-dong mahal sekali..” Jinki bertanya.

“Ya cukup mahal, tapi aku menyukainya.” Jawab Taekwoon singkat, dia tidak ingin mengingat kalau sekarang dia tinggal bersama seorangwanita dirumah itu.

Annyeong yeorobun!!”

Suara keras itu mengagetkan Kyungsoo dan Taekwoon mereka berdua melirik kebelakang dan melihat sosok Himchan dan Daehyun masuk kedalam dapur. Taekwoon terkadang tidak suka pada Himchan, lelaki itu terlalu berisik ini masih pagi tapi Himchan sepertinya sudah bersemangat membuat dia sedikit iri andai dia punya energi seperti itu.

“Himchan, bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Banyak orang yang masih tidur.” Jinki memberi peringatan untuk yang sekian kalinya.

“Opps..” Himchan menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan lucunya, sedangkan Daehyun yang berdiri disampingnya hanya memutar matanya kesal.

“Apa kalian sudah membereskan meja-meja dan kursi didepan?” Taekwoon bertanya.

Nde..kami akan membereskannya sekarang Hyeong.” Daehyun menjawab, dia berlari keluar dari dapur setelah dia selesai mengganti bajunya menjadi seragam pelayan.

Himchan kelihatannya mulai membereskan meja kasir juga, Kyungsoo yang sedang mengocok adonan kuenya menatap kearah jendela dapur dan dia tersenyum membuat Taekwoon penasaran. Kyungsoo jarang sekali tersenyum lalu kenapa hobaenya ini tersenyum sekarang, Taekwoon mengikuti arah tatapan Kyungsoo dan dia melihat seorang gadis melewati toko roti mereka.

Ternyata Kyungsoo sedang mengagumi seseorang, ingin sekali dia menggoda Kyungsoo namun dia tahu kalau dia menggoda Kyungsoo rekan kerjanya itu tidak akan segan memukulnya. Walaupun tubuh Kyungsoo kecil kekuatan tangannya tidak bisa diremehkan, dia sudah merasakan pukulan Kyungsoo saat mereka sedang bercanda dulu dan Taekwoon yakin dia tidak ingin mendapatkan pukulan dari rekan kerja mungilnya ini.

“Jika kau menyukainya kenapa kau tidak menyapanya?” Tanya Taekwoon, walaupun begitu matanya masih fokus pada adonan kue yang dia buat.

“Huh?” Kyungsoo kebingungan dengan pertanyaan Taekwoon.

“Kau menyukai gadis yang tadi lewat, apa aku benar?”

A-aniyoo..” Jawab Kyungsoo gelagapan, Taekwon ingin sekali tertawa melihat exspressi panik Kyungsoo.

“Eh..aneh sekali, lalu kenapa kau tersenyum?”

Kyungsoo tidak menjawab dia malah pergi untuk mengambil beberapa bumbu yang dia butuhkan untuk membuat kue coklat, Taekwoon hanya menggelengkan kepalanya. Kyungsoo mengingatkannya pada dirinya sendiri saat dia masih muda, rasanya ingin sekali dia kembali pada waktu dimana dia dan Hakyeon masih bersama.

Setelah selesai mengaduk adonan kuenya Taekwoon memutuskan untuk memanaskan coklat untuk kue nya nanti. Pandangan Taekwoon teralihkan dari pekerjaannya saat dia melihat seseorang yang tidak asing masuk kedalam toko, wajah itu sangat familiar membuat Taekwoon berlari keluar dari dapur toko.

“Jaehwan!” Panggil Taekwoon membuat Himchan dan beberapa pelanggan melirik kearahnya mungkin heran, Taekwoon selalu dingin namun sekarang dia terlhat bersemangat dan tersenyum.

Jaehwan tersenyum melihat betapa antusiasnya Taekwoon saat lelaki itu melihatnya, Taekwoon langsung memeluk Taekwoon sesaat walaupun lelaki itu masih canggung dengannya. Padahal mereka sudah mengenal satu sama lain cukup lama, sepertinya Taekwoon memang sedikit susah untuk terbiasa dengan orang lain.

“Bagaimana? Apa kau menemukan Hakyeon hyeong?”

Jaehwan hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kecewa, dia lelah terus berbohong seperi ini padahal dia ingin seklai mengatakan dimana keeradan Hakyeon pada leaki malan ini. Namun dia harus menemukan waktu yang tepat, dia tidak bolehceroboh dalam mengambil keputusan.

“Taekwoon-ah bagaimana kalau kita duduk dulu? Kita akan membahas Hakyeon.” Ungkap Jaehwan dengan suara tenangnya, dia tidak boleh terlihat panik jika begitu Taekwoon akan tahu kebohongannya.

Taekwoon mengangguk, dia menunjuk kearah meja yang ada diujung toko jauh dari costumer yang masih ada didalam toko. Jaehwan akhirnya duduk dan Taekwoon memberikannya segelas the dan kue kering, setelah itu diapun duduk didepan Jaehwan dengan tatapan antusiasnya.

“Aku bertemu dengan Hakyeon.” Jaehwan memulai.

“Apa dia baik-baik saja? Dimana kau bertemu dengan dia?” Taekwoon langsung melemparkan pertanyaan pada Jaehwan.

“Tenang saja, kakak kesayanganmu itu baik-baik saja. Kami bertemu disuatu tempat, dia bilang dia belum siap untuk bertemu denganmu.”

Mendengar itu Taekwoon langsung menunduk sedih, dia tahu alasan kenapa Hakyeon tidak ingin bertemu dengannya lagi karena semua ini salahnya. Seharusnya dia lebih bisa mengontrol perasaannya saat itu.

“Aku mengerti…”

Jaehwan tahu jika Taekwoon sangat sedih namun dia tidak bisa mencampuri urusan Hakyeon dengan Taekwoon, dia ingin sekali membantu namun dengan keadaanya sekarang dia tidak bisa berbuat apapun. Jaehwan bukanlah orang yang mudah merusak janji dan dia sudah berjanji pada Hakyeon untuk tidak mengatakan apapun pada Taekwoon, Jaehwan hanya bisa menyentuh lengan Taekwoon penuh simpati.

“Aku yakin, jika Hakyeon sudah tenang dia akan menemui.”

“Sampai kapan Jaehwan? Aku lelah menunggu.”

“Aku mengerti, aku akan mencoba membujuknya kau tahu dia keras kepala seperti ibunya.” Jawab Jaehwan.

“Ya, kau benar..dia seperti eomma.” Taekwoon tersenyum pahit mengingat kakaknya.

Saat mereka sedang mengobrol mata Jaehwan melirik kearah sosok wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka, wanita itu terlihat sangat terkejut sata melihat sosok Jaehwan. Jaehwan bahkan berdiri saat dia melihat wajah wanita itu, airmatanya mengancam untuk turun saat Jaehwan mengenali wajah cantik itu.

“Hayoung..”

Taekwoon melirik kebelakangnya dan melihat Hayoung berdiri tidak jauh dari Jaehwan, Hayoung langsung memalingkan wajahnya tidak ingin Jaehwan melihat ekspressi terkejutnya.

“Jaehwan oppa, apa yang kau lakukan disini? Aku kira kau ada di Paris.” Hayoung bertanya, dia akhirnya memberanikan diri untuk menatap kearah Jaehwan.

“Aku baru pulang kemarin,aku datang karena aku ingin bertemu Taekwoon.” Ucap Jaehwan.

“Oh..begitu ya, maaf aku harus pergi sekarang.”

Hayoung berjalan menuju pintu utama toko namun Jaehwan menarik lengan Hayoung membuat Hayoung berhenti berjalan, dia melirik kearah Jaehwan penuh tanya.

“Bisakah kita bicara?” Pinta Jaehwan.

“Tidak ada yang bisa kita bicarakan oppa.” Jawab Hayoung ketus, dia melepaskan tangan Jaehwan dengan kasar sebelum pergi meninggalkan lelaki itu.

“Hayoung sepertinya masih marah.” Taekwoon berkata Jaehwan berbalik dan menghela nafasnya.

“Bukankah itu jelas? Sepertinya aku benar-benar kehilangan kesempatan untuk kembali bersamanya.”

“Tidak Jaehwan, dia masih sendiri.”

Mendengar jawaban Taekwoon mata Jaehwan melebar, setelah berpisah lebih dari lima tahun bagaimana wanita cantik seperti Hayoung masih sendiri?

“Bagaimana..”

“Dia hanya pergi berkencan dengan teman laki-lakinya, mereka tidak pernah serius paling lama hanya dua minggu atau mungkin satu bulan. Setelah itu dia akan menemukan yang lain, Himchan dan Daehyun bahkan membuat taruhan berapa lama Hayoung akan berkencan dengan teman laki-lakinya..” Taekwoon menjelaskan, dia meneguk the manisnya.

“Oh..begitu.”

Suara Jaehwan terdengar sangat kecewa, dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah Hayoung sekarang. Dia sendiri yang menyebabkan Hayoung bertingkah seperti itu, andai saja dia tidak menghancurkan hati Hayoung lima tahun yang lalu mungkin mereka masih bersama sampai sekarang.

“Tidak usah kecewa seperti itu, sebaiknya kau memberi waktu untuk Hayoung bagaimanapun dia masih mencintaimu.” Ungkap Taekwoon membuat Jaehwan melebarkan matanya terkejut.

“Apa? Kau yakin?”

“Ya, jika dia sudah melupakanmu dia mungkin sudah menikah sekarang.” Taekwoon meneguk tehnya.

Jaehwan tersenyum mendengar itu, dia senang sekali saat dia mendengar ucapan Taekwoon. Taekwoon tidak pernah berbohong oleh karena itu Jaehwan selalu percaya pada sahabatnya ini, tidak peduli betapa pahitnya kenyataan Taekwoon selalu mengatakan yang sebenarnya pada Jaehwan.

“Kau pikir begitu?”

“Ugh…apa kau bisa melihat tatapan cinta Hayoung padamu? Aku sudah bosan melihatnya.” Taekwoon mengerang.

“Mungkin, aku tidak tahu..aku berharap Hayoung bisa lebih ramah padaku.” Jaehwa mengungkapkan.

Taekwoon tidak bisa mengatakan apapun soal itu karena semuanya tergantung pada Hayoung, dia meghela nafasnya dan berdiri dari duduknya saat dia melihat Kyungsoo dan Jinki kewalahan menghias chocolate mousse mereka.

“Aku harus kembali bekerja, kau minumlah dulu tehnya.” Taekwoonmenyuruh namun Jaehwan menolak.

“Maaf,aku harus mengurus sesuatu mungkin sebaiknya aku juga pulang.” Jaehwan berkata, dia berdiri dari duduknya.

“Istirahatlah dulu, aku tahu kau lelah.”

Ucapan Taekwoon mungkin manis namun tidak ada ekspressi sedikitpun yang mendukung perkataannya, Jaehwan hanya menggelengkan kepalanya. Mereka sudah berteman lebih dari sebelas tahun namun Taekwoon tidak pernah berubah masih dingin dan tanpa ekspressi seperti dulu saat dia pertama bertemu dengannya.

“Tidak apa-apa, kau sebaiknya cepat bekerja.” Jaehwa melirik kearah dapur toko roti, kebetulan toko roti Hayoung memiliki open kitchen.

“Aku antar kau.” Taekwoon mendorong Jaehwan menuju pintu utama.

“Taekwoon,aku bukan anak kecil…” Jaehwan protes.

“Iya kau memang bukan anak kecil, tapi kelakuakan percis seperti anak kecil.” Jawab Taekwoon, Jaehwan hanya memutar matanya kesal namun akhirnya dia tersenyum juga saat dia melihat Taekwoon membukakan pintu toko untuknya.

“Ow..terimakasih, tuan Chef.” Ucap Jaehwan bercanda.

“Aku bukan Chef! Aku pâtissier pâtissier!” Timpal Taekwoon kesal, Chef dan pâtissier benar-benar sangat berbeda.

“Ok..ok..kau tak usah marah-marah, aku tidak tahu perbedaannya.” Jaehwan akhirnya masuk kedalam mobilnya.

 Taekwoon melambai kearah mobil Jaehwan saat mobil Jaehwan sudah menjauh, dia kecewa karena seperti biasa Jaehwan hanya membawa berita yang buruk. Dia tidak tahu harus menunggu sampai kapan lagi untuk bertemu dengan Hakyeon, dia benar-benar merindukan sosok kakak tirinya itu.

“Taekwoon-ah siapa tadi?” Suara Himchan terdengar membuat Taekwoon terkejut, ternyata lelaki itu sudah berdiri dibelakang Taekwoon.

“Himchan Hyeong! Kau mengagetkan aku!” Taekwoon berkata sambil mengusap dadanya.

Aigoo, jangan bilang kalau dia pacar barumu?” Himchan mengangkat alisnya menggoda, dia sudah tahu soal Taekwoon dari Hayoung.

  Sebenarnya semua pegawai sudah tahu kalau Taekwoon tidak suka wanita, mereka sepertinya tidak keberatan karena mereka tidak menjauh ataupun memandang rendah Taekwoon. Taekwoon merasa beruntung memiliki rekan kerja yang baik dan menghargainya tidak seperti sebagian orang yang dia temui, menjadi seseorang dengan seksualitas yang berbeda terkadang cukup melelahkan.

  Kau akan mendapatkan celaan dan kritikan yang tidak penting dari banyak orang, sebagian orang akan memandang jijik padamu dan itulah yang Taekwoon alami. Kecuali saat dia sedang berada di Perancis atau negara Eropa yang lainnya, mungkin karena mereka sudah mulai mengerti dan terbiasa.

“Bukan hyeong, dia teman masa kecilku…kenapa kau selalu berasumsi kalau semua orang yang bicara denganku adalah pacarku?!”

  Taekwoon kesal dan berjalan masuk kedalam toko, Himchan hanya mengangkat kedua bahunya dan mengikuti langkah Taekwoon.

*****

  Taeri baru saja menyelesaikan sebuah chapter buku komedi romantisnya, dia menguap karena merasa lelah dan Hongbin yang masih sibuk membaca draft  Taeri menyadari itu. Hongbin tersenyum saat dia melihat Taeri menggosok matanya percis seperti anak kecil, Taeri memang lucu Hongbin selalu menyukai sisi kekanak-kanakan Taeri.

“Apa kau lelah? Kau bisa istirahat, aku suka dengan draft yang ini mungkin sebaiknya kau ubah alur ceritanya menjadi sedikit cerah.” Hongbin berkomentar, dia menutup laptop Taeri.

“Baiklah, terimakasih oppa..kau tak usah datang kesini aku tahu kau sibuk mengurus pemasaran buku aku yang kemarin.” Ucap Taeri, dia melepaskan kacamata yang dia gunakan.

“Tidak apa-apa, aku editormu aku harus memastikan kalau penulisku sehat dan aman.” Hongbin memamerkan senyum halusnya.

“Oh iya, soal kencanku dengan Krystal tak usah dianggap serius…aku tidak tertarik padanya.” Hongbin berkata saat dia bangkit dari duduknya.

“Kenapa? Dia cantik dan baik.” Ucap Taeri, dia membenarkan kacamatanya.

“Apa menurutmu itu satu-satunya alasan kenapa lelaki menyukai seorang wanita?” Hongbin melipatkan tangannya.

“Aku rasa begitu..” Taeri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Taeri,Taeri..kau terlalu naïve.” Hongbin mengusap kepala Taeri.

Taeri hanya memanjukan bibirnya, dia selalu merasa menjadi anak kecil setiap kali dia berbicara dengan Hongbin rasanya dia hanya anak Tk sedangkan Hongbin adalah guru dia. Dia benci perasaan itu, Taeri bukan lagi gadis yang berumur belasan tahun dia sudah dewasa namun sepertinya Hongbin masih memperlakukan dia seperti adik kecilnya.

“Aku tidak naïve!” Taeri membalas dengan tegas.

“Ok,ok..aku hanya bercanda kau tak usah tersinggung.” Hongbin tersenyum melihat wajah marah Taeri yang terlihat lebih lucu dibandingkan menyeramkan.

“Aku tidak tersingung..” Bantah Taeri.

“Baiklah, aku harus kembali kekantor sebaiknya kau kirimkan draftmu jika sudah kau ubah aku menunggu.”

Setelah berkata itu Hongbin pergi keluar dari rumah Taeri meninggalkan Taeri sendirian, dia menghela nafasnya dan menatap kearah laptopnya yang ada dimeja. Hongbin mungkin benar, dia mungkin terlalu naïve itulah alasannya kenapa Jongin meninggalkannya dulu mungkin itulah alasannya kenapa Jongin lebih menyukai wanita yang lebih tua dibandingkan dia.

Dia sering dibilang naïve dan pelupa, dia mendapatkan itu dari teman-temannya namun Taeri tidak pernah menganggapnya serius sampai sekarang. Sampai akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut seorang Kim Jongin, mungkin teman-temannya benar dia terlalu naïve dan pelupa.

Mungkin karena itu dia tidak berusaha dengan keras untuk menjaga Jongin dalam gengamannya, Taeri melipatkan kakinya dan memeluknya. Dia mungkin masih bisa mengatakan kalau dia baik-baik saja pada Krystal, namun pada kenyataanya dia tidak pernah baik-baik saja dia selalu di hantui oleh rusaknya hubungan dia dengan Jongin.

Dia mencintai Kim Jongin dan hanya Kim Jongin, lalu kenapa mereka harus hancur seperti sekarang? Apakah sebenarnya yang terjadi? Pertanyaan itu selalu menghantui Taeri.

Taeri mengusap wajahnya mungkin sebaiknya dia tidak memikirkan soal itu, dia melirik kearah jam dinding yang ada dibelakang televisinya, waktu sudah menunjukan jam dua siang. Dia sebaiknya beristirahat dulu dan makan siang.

Taeri berjalan menuju dapurnya dan dia terkejut saat dia melihat sosok Jongin berdiri didapurnya sedang memasak sambil menggunakan apron pink miliknya, Taeri kaget sekali dia bahkan tidak bergerak.

Chagiya..apa yang ingin kau makan hari ini?”

Taeri hanya terdiam, dia tersenyum pahit saat dia melihat senyum cerah Jongin. Sepertinya senyum itu akan selalu dia ingat sampai akhir.

“Apapun yang kau mau.” Jawabnya dengan suara yang gemetar.

“Hmmm…bagaimana kalau spagetti kimchi? Aku tahu kau suka itu.” Jawab Jongin.

Taeri hanya mengangguk menatap kearah sosok Jongin, dia merindukan sosok itu bahkan rasanya nafasnya habis saat dia melihat sosok Jongin mulai memotong kimchinya. Namun tiba-tiba sosok Jongin menghilang dari dapur Taeri, ternyata semua itu hanya bayangannya saja Kim Jongin tidak pernah kembali padanya.

Airmata menetes pada pipi Taeri dan akhirnya dia ambruk kelantai tidak bisa menahan tangisnya, dia harus menerima kenyataan kalau Kim Jongin tidak akan pernah kembali padanya sampai kapanpun.

*****

  Suara klik kamera terdengar cukup keras dan Hakyeon tersenyum saat dia melihat hasil potretnya yang cukup bagus, dia menarik topi hitam yang dia kenakan agar menutupi wajahnya. Dia tidak ingin bertemu dengan seseorang yang mungkin mengenalnya ditempat ini, dia hanya rindu pada rumah kesukaannya.

Lee ahjumma mengatakan kalau rumah dulunya sekarang sudah ditempati oleh orang lain, Hakyeon percaya itu karena halaman depan rumahnya tidak kotor dan terlihat lebih terurus sekarang.

Hakyeon memutuskan untuk berjalan menuju rumah Lee ahjumma, dia udah lama tidak mengunjungi wanita paruh baya itu dan dia sedikit merindukan celotehannya. Hakyeon memasukan kameranya kedalam mobilnya kembali sebelum dia mengunci mobilnya, dia berjalan menuju rumah Lee ahjumma masih menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Hakyeon-ah?”

Mendengar suara Lee ahjumma, Hakyeon tersenyum dia melambaikan tangannya pada Lee ahjumma dan wanita itu langsung berlari kearah Hakyeon tersenyum penuh degan kesenangan.

Annyeoung ahjumma!” Hakyeon menyapa dengan ramah.

Aigoo! Ini sudah lama sekali, kau kemana saja?” Lee ahjumma memutarkan tubuh Hakyeon mebuat Hakyeon tertawa, wanita itu kelihatannya sedang memperhatikannya.

“Aku pergi keluar negeri untuk pekerjaanku ahjumma, aku punya waktu luang jadi aku datang kesini.” Ungkap Hakyeon.

“Apa kau rindu pada rumah kesukaanmu? Maaf aku tidak bisa membawamu masuk disana ada seorang gadis yang menempati rumahmu.” Lee ahjumma menjelaskan, Hakyeon mengangguk mengerti.

“Tidak apa-apa, aku mengerti..oh iya ahjumma bagaimana kabarmu? kau terlihat lebih cantik sekarang.” Hakyeon memuji membuat Lee ahjumma tersipu malu dan memukul dada Hakyeon.

Aigoo,aku sudah tua kau masih bilang aku cantik..aku tahu kau mau makananku iyakan? Ayo masuk aku akan memasakanmu galbi! Aku tahu kau suka makanan itu.”

“Ah jinjja? Baiklah ayo..

  Lee ahjumma tertawa mendengar jawaban Hakyeon, dia tahu kalau Hakyeon tidak akan pernah bisa menolak masakan galbinya. Leeahjumma membiarkan Hakyeon masuk, dia menyuruh Hakyeon untuk menonton televisi dulu saat Hakyeon terlalu sibuk menonton Lee ahjumma langsung berjalan menuju kamarnya dan menghubungi Taekwoon.

Dengan cepat dia mengetik nomor Taekwoon, taklama berselang akhirnya Taekwoon mengangkat panggilannya.

“Yobuseyo, ini dengan siapa?”

“Taekwoon-ah ini aku, Lee ahjumma.”

“Oh Ahjumma,ada apa?

“Hakyeon ada dirumahku sekarang, apa kau ingin bertemu dengannya?”

Mendengar itu Taekwoon terkejut dia bahkan hampir saja menjatuhkan ponselnya, beruntung dia cekatan dan menangkap ponselnya tepat waktu sebelum ponsel itu jatuh kelantai.

“Aku akan kesana ahjumma,aku mohon tahan dia cukup lama.” Taekwoon berkata penuh dengan antusias, bahkan Jinki dan Kyungsoo yang sedang sibuk menghias kue tiramissu mereka melirik kearah Taekwoon.

“Baiklah, sebaiknya kau cepat kesini.”

Nde ahjumma.”

Setelah itu mereka menutup telepon mereka, Lee ahjumma melirik kearah Hakyeon yang sedang asik menonton bola. Dia merasa sedikit bersalah karena sudah menjebak Hakyeon, namun Lee ahjumma tahu kalau Taekwoon benar-benar ingin bertemu dengan Hakyeon bagaimanapun juga mereka adik dan kakak.

Taekwoon langsung melepaskan apronnya membuat Jinki dan Kyungsoo kebingungan, dia terlihat sangat buru-buru sekali. Daehyun yang menyapu lantai terkejut saat Taekwoon tiba-tiba menabraknya membuatnya hampir terjatuh.

Yak! Hyeong!” Daehyun membentak namun Taekwoon malah mengacuhkan amarah Daehyun berlari menuju parkiran mobil.

Taekwoon langsung menginjak gas mobilnya berdoa jika dia masih sempat untuk bertemu dengan Hakyeon, dia bahkan lupa untuk mengganti bajunya karena dia tidak punya waktu untuk itu. Jantungnya berdebar sangat kencang, dia tidak percaya setelah lima tahun lamanya dia akan kembali melihat Hakyeon orang yang sangat dia cintai.

*****

 Taeri mendengar bel pintu rumahnya berdering, gadis itu langsung berdiri dan mebuka pintu utama rumahnya. Dia menemukan sesosok lelaki yang asing berdiri didepannya, lelaki itu tersenyum kearahnya penuh dengan kesopanan.

“Maaf, apa ini rumah Choi Taeri?” Tanya lelaki itu, Taeri tersenyum dan menganggukan kepalanya.

“Ya, saya Choi Taeri.” Jawabnya.

“Oh Choi Taeri-shi, saya disini untuk mengantarkan undangan ini.”

Lelaki itu menunjukan sebuah undangan yang dibalut oleh pita emas didepan Taeri, Taeri mengambilnya. Dia terkejut saat dia melihat nama Jongin tertulis dalam undangan itu, dia membuka undangan itu dan ternyata undangan itu adalah undangan pernikahan Jongin.

Tangan Taeri langsung gemetar saat dia melihat isi undangan itu, didalam undangan itu ada foto Jongin dan seorang wanita cantik yang memakai gaun pengantin. Jongin terlihat masih sama seperti dulu, gagah dan tampan bahkan dia kelihatan lebih manly dengan jas hitamyang dia kenakan.

“Aku hanya akan mengantarkan itu,terimakasih semoga anda datang dipestanya nanti.” Lelaki itu berkata dan berpamitan pada Taeri.

Taeri langsung menutup pintu rumahnya, dia masih terkejut dengan apa yang dia terima. Airmatanya kembali turun membasahi pipinya dan kali ini hatinya benar-benar hancur, Jongin tidak akan pernah kembali padanya dia yakin dengan itu sekarang.

To Be Countinue…

Don’t forget the comment❤

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

6 thoughts on “But He’s Gay! [Chapter 2]

  1. hy hy thor .. hehe ..
    mav aku bru komen ckrg nih ..
    waaaa ini crita bru lg ..
    udh mulai kliatan mslh” nya .. seruuu ..
    lanjut thor .. fighting ..

  2. mianhae baru baca q sibuk bgt nih akhir2 ni. ceritanya seperti biasa selalu keren terus jadi penasaran apakah Taekwoon akan bertemu Hakyeon?
    oh ya da typo pasa bagian Taekwoon bertemu dengan Jaehwan d situ kmu tulis
    Taekwoon memeluk Taekwoon sesaat
    tapi aku tahu kok maksud author hee..hee…

  3. nggg,,,, btw mian ya eonni baru aku comment fanfictnya, bukannya ga mau tapi tiap mau comment jaringan error mulu, serius, ff lain pun begitu mian neee~ ini aku baru isi modem hehe ketahuan ya miskin kuota haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s