Posted in FanFiction (semua umur)

But He’s Gay! [Chapter 1]

BHG

 

Title: But He’s Gay!

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

WARNING!! CONTAINING YAOI!! MEANING BOYXBOY

Cast :

Choi Taeri [OC],Jung Taekwoon [Leo VIXX], Jung/Cha Hakyeon [N VIXX],Lee Hongbin [Hongbin VIXX],Jung Krystal [Krystal F(x)],Oh Hayoung [Hayoung Apink]

Genre : Comedy, Romance and Angst

Length : Chaptered

Rating : PG 17/ NC 17

1

Forced

Pernahkah kau bangun dari tidurmu dan menemukan seseorang tiba-tiba saja memaksamu untuk tinggal dirumahmu? Well, setidaknya itu yang terjadi padaku.

Aku Choi Taeri, penulis disebuah perusahaan penerbitan yang cukup populer di Seoul. Aku berumur 23 tahun sekarang dan sedang mengerjakan buku novel terbaruku, kalian pasti kagumkan? Di umurku yang masih muda ini aku sudah menyelesaikan buku novel yang kepopulerannya hampir sama seperti buku Twilight atau Hunger games.bahkan novel-novelku sudah diangkat menjadi drama dan sukses, aku bertemu dengan banyak artis yang membintangi drama novelku.

Ya..ya..kalian tidak usah iri padaku, hidupku tidak sempurna seperti yang kalian bayangkan, mungkin awalnya..namun semenjak lelaki bernama Jung Taekwoon datang dalam kehidupanku semuanya benar-benar kacau.

Cukup membahas kehidupanku dan karirku, aku disini akan bercerita tentang pertemuanku dengan Jung Taekwoon.

Aku masih ingat hari itu aku baru bangun dari tidurku, seperti biasa aku selalu mandi dan membereskan tempat tidurku. Hah…hidup yang membosankan.  Aku tahu itu, tapi aku menyukainya aku tidak pernah suka hal yang ribet dan kompleks semakin simple hidupku semakin senangnya aku.

Aku berjalan kebawah menuruni tangga rumahku,dengan penghasilan buku best sellerku aku sudah bisa membeli rumah sendiri lengkap dengan mobil dan beberapa barang mewah lainnya.Aku membuka kulkasku dan mengambil sebotol susu dan sekotak cereal yang ada di rak dapurku, sepertinya pagi ini akan seperti pagi biasanya aku menghela nafas.

Tingnong..Tingnong..

Suara bel rumahku terdengar, aku segera berdiri dan merapikan penampilanku. Oh tuhan jangan bilang kalau orang yang memencet bel itu adalah editorku, Lee Hongbin karena jika itu dia aku akan mati sekarang!

Aku belum bisa menyelesaikan ceritaku bahkan aku belum sempat menulis chapter pertama sedikitpun, aku menarik nafas dan mencoba untuk tenang. Namun sekali lagi aku mendengar bel rumahku berbunyi, aisshh..sial!sial! itu pasti Hongbin oppa, dia pasti kesini untuk meminta draft yang aku janjikan.

Aku berlari kearah pintu depan rumah, aku menarik nafasku dan menghembuskannya lalu aku membuka pintu depan rumahku. Bersiap untuk mendapatkan ceramah dan kemarahan Hongbin oppa, namun anehnya saat aku membuka pintu sosok Hongbin oppa tidak ada dihadapanku.

Annyeoung haseyo, apakah ini rumah Jung Hakyeon?”

Ternyata orang yang berdiri didepan rumahku adalah seorang lelaki yang bertubuh tinggi dengan rambut coklat, dia mengenakan baju yang cukup stylish dengan topi fedora yang sangat cocok dengan jaket merah garis-garis hitam yang dia kenakan. Mata sipitnya menatap kearahku mungkin menunggu jawaban, aku mengerutkan keningku..Jung Hakyeon? Aku belum pernah mendengar nama itu.

“Jung Hakyeon? Bukan..ini rumahku.” Aku menjawab penuh percaya diri, tentu saja aku percaya diri aku sudah menempati rumah ini selama hampir dua tahun sekarang.

“Huh?kau yakin? Apa kau tidak mengenal Hakyeon?” Lelaki jangkung itu bertanya lagi padaku, aku mengelengkan kepalaku.

“Aneh sekali, tapi aku yakin kalau ini rumahnya..” Lelaki itu bergumam.

“Mungkin kau salah alamat Ahjusshi.” Aku berkata dan lelaki itu menatap karahku tajam, sebenarnya apa masalah lelaki ini sih?

“Aku masih muda dan Ini!” Lelaki berkata dan dia memberikanku secarik kertas dan aku melihatnya, didalam kertas itu tertulis alamat rumahku.

“Alamat ini benarkan?” Dia bertanya padaku.

“Ya benar ini alamat rumahku, tapi disini tidak ada yang namanya Hakyeon.” Aku menjawab.

“Jangan bohong padaku, apakah dia ada didalam?” Lelaki itu bertanya ketus, dia melipatkan tanganya didepan dadanya.

Yak! kenapa aku harus bohong?” Aku mengangkat sebelah alisku, namun kelihatanya dia tidak percaya.

“Ck..Hakyeon Hyeong menyuruhmu untuk berbohong,iyakan?” Lelaki itu mendekat, wajahnya dekat sekali membuatku sangat gugup.

A-aniyo..” aku menjawab terbata-bata, wajah lelaki ini terlalu dekat!

“Apakah aku harus berteriak agar dia keluar?” Lelaki itu mengancam.

“Apa? Ahjusshi, sudah kubilang kau salah alamat..ini bukan rumah Jung Hakyeon atau siapapun yang kau cari!” aku naik pitam, kenapa lelaki ini keras kepala sekali lagipula kenapa aku harus menyembunyikan kakaknya yang bernama Hakyeon itu.

Lelaki itu menghela nafasnya, dia mendorongku sehingga aku hampir terjatuh kelantai dan dia berjalan masuk begitu saja kerumahku. Tidak sopan sekali!siapa juga lelaki ini? Aku segera bangkit dan mengikuti dia.

HYEONG! HAKYEON HYEONG!” lelaki itu berteriak didalam rumahku sambil berjalan kesana kemari mencari sosok yang dia panggil Hakyeon.

Hyeong! Ini aku..Taekwoon! apa kau lupa?!” Lelaki itu berteriak lagi, oh jadi namanya Taekwoon ya? Kurang ajar sekali, sebaiknya aku melaporkan ini pada polisi.

Yak! Taekwoon-shi! Kau tidak bisa seenaknya masuk kerumah orang lain.” Aku berkata sambil berkacak pinggang.

Taekwoon berbalik menatapku dan dia berjalan kearahku, dia mencengkram kedua bahuku membuatku takut. Lelaki ini memang menyeramkan namun aku tidak bisa menyangkal dia cukup tampan apalagi dia memiliki bibir pink dan hidung yang mancung, aku menatap kearah matanya dan dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

“Katakan padaku, dimana Hakyeon Hyeong?” dia bertanya, nada suaranya terdengar lebih tenang sekarang namun sedikit mengancam.

“Entahlah..aku tidak tahu.” Aku menjawab sedikit gemetaran, cengkraman Taekwoon mulai terasa sakit.

Aisshh!” Taekwoon mengutuk, dia melepaskan cengkaramannya. Dia mengodok saku nya dan mengeluarkan handphonenya, dia menghubungi sebuah nomor namun sepertinya nomor yang dia hubungi tidak aktif.

“Kemana dia pergi?!” Taekwoon bergumam.

“Maaf Taekwoon-shi, sebaiknya kau keluar dari rumahku sekarang sebelum aku menelepon polisi.” Aku mengancam dan Taekwoon kelihatannya terkejut saat mengatakan kata ‘polisi’.

“Tenang dulu agasshi, aku hanya sedang mencari kakakku yang kabur.” Taekwoon mengungkapkan.

“Kabur?” Aku bertanya.

“Ya, kau tidak usah tahu kenapa yang jelas aku harus menemukan dia sekarang.” Taekwoon berkata, dia kelihatan khawatir dan cemas juga aku merasa sedikit kasihan.

“Jika kau ingin mencari orang, bagaimana kalau kau Tanya Lee ahjumma? Dia adalah orang yang menjual rumah ini padaku.” Aku memberi usul.

“Apa kau bisa menghubunginya?” Tanya Taekwoon.

“Ya, tunggu sebentar.” Aku berjalan ketelepon rumahku, kutekan nomor Lee ahjumma dan beberapa menit kemudian dia mengangkat teleponku.

Nde Taeri-ya, ada apa?” Suara Lee ahjumma terdengar diseberang telepon.

Ahjumma, euh..aku hanya ingin bertanya beberapa hal, bisakah kau datang kerumahku sebentar?” aku meminta.

“Oh tentu saja, tunggu saja ok? Aku akan kesana.” Lee ahjumma menyetujui, akupun berterimakasih dan menutup telepon.

“Lee Ahjumma, akan kesini kenapa kau tidak duduk dulu?” aku berkata, Taekwoon mengangguk dan menunduk kearahku berterimakasih lalu duduk.

Aku mengambil dua cangkir dan mengisinya dengan kopi dan aku mengambil beberapa cemilan juga, lalu aku simpan dimeja ruang tamuku. Taekwoon sepertinya sedang melamun atau memikirkan sesuatu, entah kenapa lelaki itu terlihat sangat cemas sekali akupun jadi penasaran.

“Sejak kapan kakakmu hilang? Apa sudah lama?” Aku bertanya.

Taekwoon tidak kunjung menjawab, dia hanya mengangguk lalu diam kembali. Lelaki itu sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri membuatku bertanya-tanya, kenapa juga dia mencari seseorang yang jelas-jelas sudah hilang sejak dulu?

“Apa kau benar-benar tidak tahu siapa Hakyeon?” Taekwoon kembali bertanya padaku, matanya memancarkan kesedihan dan kekhawatiran yang dalam.

Aku mencoba mengingat sesuatu tentang lelaki yang bernama Hakyeon, aku menggali setiap memori yang berhubungan dengan rumah ini namun aku tetap tidak tahu siapa Hakyeon. Nama Hakyeon tidak pernah aku dengar selama aku tinggal disini, dan aku tidak pernah melihat apapun yang bisa berhubungan dengan lelaki itu.

Aku menggelengkan kepalaku Taekwoon kelihatannya sangat kecewa mungkin dia benar-benar ingin bertemu dengan kakaknya itu, aku bersimpati pada lelaki ini namun aku tidak bisa membantu banyak aku harap Lee ahjumma mengenal siapa Hakyeon.

Setelah menunggu beberapa menit Lee ahjumma datang, dia langsung masuk kedalam rumahku dan aku menyapanya dengan ramah.

“Taeri-ya, apa yang ingin kau tanyakan?” Tanya Lee ahjumma.

Ahjumma, apa kau mengenal lelaki bernama Hakyeon?” Aku bertanya, tubuh Lee ahjumma seakan beku saat aku mengatakan nama Hakyeon.

Taekwoon yang melihat reaksi Lee ahjumma langsung mendekat kearahku.

“Aku mohon! Jika kau tahu Hakyeon, tolong beritahu dimana dia berada!” Taekwoon berkata penuh dengan antusias.

“Hakyeon…dia sudah pergi.” Lee ahjumma menjawab dengan sedih.

“Kau tahu siapa Hakyeon, ahjumma?” aku bertanya terkejut dan Lee ahjumma mengangguk.

“Dia adalah penghuni rumah ini sebelum kau Taeri-ya,dia lelaki yang ramah dan sopan.” Lee ahjumma melanjutkan.

“Biasanya dia selalu mengunjungiku jika dia tidak sibuk, tapi sekarang dia sudah pergi entah kemana.” Lee ahjumma mengungkapkan.

“Apa dia tidak menitipkan sesuatu padamu?” Taekwoon bertanya dan Lee ahjumma mengangguk.

“Dia sebenarnya menitipkan pesan padaku, kalau tidak salah..coba aku ingat-ingat.” Lee ahjumma mencoba mengingat.

“Oh iya, dia bilang begini ‘Jangan tunggu dia, dia bilang kau tak usah mencari dia karena dia mungkin tidak akan kembali.’ Kalau tidak salah itu yang dia katakan.” Lee ahjumma berkata.

Taekwoon mengepalkan tangannya, dia kelihatannya marah sekali saat dia mendengar pesan yang Lee ahjumma sampaikan.

“Tapi tenang saja, dia bilang mungkin..jika dia merubah pikirannya dia akan kembali kesini,aku cukup yakin biasanya Hakyeon mengunjungiku jika dia sedang merindukan rumah ini.” Lee ahjumma mengungkapkan dan Taekwoon menatap kaget kearah Lee ahjumma.

“Dia mengatakan padaku kalau dia sangat suka tinggal didaerah ini.” Lee ahjumma melanjutkan.

“Benarkah?” Taekwoon bertanya, matanya berkaca-kaca seakan dia menahan tangis.

“Ya, dia tersenyum tipis dan mengatakan kalau seseorang yang bodoh akan mengkuti dia kesini nanti.” Lee ahjumma mengungkapkan lalu dia tertawa begitu juga aku.

Taekwoon melotot kearahku dan Lee ahjumma membuat kami berdua berhenti tertawa, tatapan Taekwoon benar-benar sangat menyeramkan.

“Terimakasih atas informasinya, aku rasa aku sudah cukup tahu aku mohon jika kau bertemu lagi dengan Hakyeon hyeong, hubungi aku.” Taekwoon berkata dan menyodorkan sebuah kartu nama pada Lee ahjumma setelah itu dia kembali duduk tidak bersemangat.

Ahjumma terimakasih.” Aku tersenyum dan Lee ahjumma mengangguk.

“Tidak apa-apa, jika aku melihat Hakyeon kembali aku akan menghubungi kalian.” Lee ahjumma berkata, setelah itu dia berpamitan.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?” aku berbalik kearah Taekwoon setelah aku mengantar Lee ahjumma sampai pintu depan.

Taekwoon melirik kearahku penuh dengan ketidakyakinan, dia seakan ingin mengungkapkan sesuatu namun dia ragu. Dia mengigit bibirnya, dia kelihatan sangat gusar sekali mungkin ada sesuatu yang menganggunya.

“Apakah kau menyewakan rumah ini?” Taekwoon bertanya.

“Apa? Tentu saja tidak, aku sudah tinggal disini cukup lama.” Aku menjawab.

“Aku akan menggantinya, kau bisa tinggal di apartemenku yang lebih mewah.” Taekwoon menawarkan dan aku menggelengkan kepalaku.

Orang macam apa yang ingin menukarkan sebuah rumah dengan apartemen? Aku tidak bodoh Taekwoon. Lagipula aku suka tinggal disini, aku tidak ingin pindah karena selain repot aku juga harus menghubungi semua kerabatku untuk mengabari mereka.

“Tidak terimakasih, kau bisa pergi sekarang Taekwoon-shi.” Aku menjawab dan membuka pintu rumahku agar dia keluar.

“Aku mohon!” Taekwoon berkata dia langsung mendekat kearahku.

“Apa yang kau mau? Rumah baru? Mobil? Uang?” Taekwoon bertanya.

“Taekwoon-shi! Kau pikir aku orang yang seperti apa? Maaf..aku tidak akan menyewakan atau membiarkan kau membeli rumah ini.” Aku berkata dengan tegas dan mendorong lelaki itu menuju pintu utama rumahku.

“Aku mohon!” Taekwoon berbalik kearahku membuat aku berhenti mendorongnya.

Tiba-tiba saja Taekwoon membungkuk didepanku, aku terkejut dan langsung menyuruhnya untuk berdiri namun dia bersikeras untuk membungkuk.

“Aku mohon, biarkan aku tinggal disini bersamamu, aku bukanlah orang jahat..aku bisa membantumu membayar listrik dan semacamnya jika kau mau aku akan menyewa sebuah kamar dirumah ini.” Taekwoon membujuk.

Semua tawaran yang Taekwoon katakan sangat menggoda sekali, andai saja kalau dia perempuan mungkin aku sudah mengijinkannya untuk tinggal disini.

“Aku bisa mencuci, memasak dan membersihkan rumahmu aku mohon agasshi…kau juga tak usah khawatir aku orang yang baik.” Taekwoon membujuk lagi.

“Maaf Taekwoon-shi tapi aku tidak bisa.” Aku berkata dan mendorong dia keluar dari rumahku.

Aggashi, aku mohon..aku ak—“

Sebelum Taekwoon bisa menamatkan kalimatnya aku menutup pintu rumahku, aku masih bisa mendengar Taekwoon mengetuk pintu rumahku namun aku mengabaikannya. Mungkin setelah beberapa menit lelaki itu akan menyerah dan pergi, aku berjalan menuju tangga namun aku mendengar Taekwoon berteriak menyuruhku untuk membuka pintu.

Aku segera menutup telingaku dan berlari keatas menuju kamarku, aku mencabut kabel bel rumahku karena Taekwoon terus menekannya.

Dasar orang gila, dia pikir aku akan begitu saja menyetujuinya? Bagaimana kalau dia hanya penipu ulung yang ingin menguasai rumahku? Aku sendiri tidak percaya kalau Hakyeon benar-benar akan kembali kesini mendengar dari pesan yang dia sampaikan pada Lee ahjumma.

Tok..Tok..Tok..

            Suara itu terdengar dari jendela dikamarku dan aku berjalan kearah jendela kamarku, aku bisa melihat Taekwoon melemparkan kerikil kecil kejendela kamarku. Sepertinya lelaki itu tidak akan berhenti mengangguku, aku membuka jendela kamarku.

“Taekwoon-shi sudah kubilang aku tidak bisa! Pergilah!” Aku berteriak namun Taekwoon malah memohon lagi padaku.

Aku menutup jendelaku dan menghidupkan komputerku, aku menghela nafasku dan menghidupkan musik dikomputerku cukup keras sehingga aku tidak bisa mendengar celotehan Taekwoon diluar.

“Waktunya bekerja..” Aku berkata dan mulai mengetik untuk cerita baruku.

Aggasshi!aggasshi~

Sial! Aku masih bisa mendengar suara Taekwoon memohon padaku, aku membesarkan volume musikku dan akhirnya akupun bisa fokus pada pekerjaanku. Aku sedikit merasa bersalah apalagi aku melihat wajah memelasnya tadi, tapi aku tidak bisa menerimanya.

Apa kata orang nanti kalau dia tinggal disini? Bisa-bisa aku di keroyok oleh semua tetanggaku karena mereka berpikir aku wanita murahan. Aku juga tidak suka jika seseorang mengangguku saat aku menulis, aku tidak pernah nyaman tinggal bersama orang lain itulah alasan kenapa aku membeli rumah ini.

*****

            Aku sedikit lelah dan akhirnya aku berhenti mengetik, aku baru bisa menghasilkan  dua puluh halaman lebih untuk draftku, mungkin itu cukup sebaiknya aku melanjutkannya nanti malam. Aku sudah tidak mendengar lagi suara Taekwoon saat aku mematikan musik, aku cukup lega sepertinya lelaki itu sudah menyerah.

Aku turun kebawah bermaksud untuk menyeduh kopi, kopi adalah satu-satunya minuman yang selalu berhasil membuatku bersemangat. Walaupun sedikit lelah aku tidak ingin tidur entah kenapa pikiranku melayang pada Taekwoon apakah dia sudah benar-benar pergi? Aku melirik kesampingku dan aku terkejut setengah mati.

“ARGGH!!” Aku menjerit saat aku melihat Taekwoon menatap kearahku dari jendela.

Aggasshi..aku mohon!” Taekwoon berteriak dia membawa secarik kertas yang bertuliskan ‘Ijinkan aku tinggal disini’ dia menempelkan kertas itu dijendelaku sambil mengetuk kaca jendela.

Aigoo..laki-laki ini memang gila!” Aku bergumam, Taekwoon sepertinya tidak akan berhenti sebelum aku mengabulkan apa yang dia inginkan.

Aku akhirnya mengalah dan membuka pintu rumahku, Taekwoon langsung datang dan bersujud dihadapanku seakan. Benar-benar canggung, aku melirik kearah sekitarku memastikan tetanggaku tidak menatap kearahku dengan aneh.

“Aku mohon agasshi yang baik hati, aku akan melakukan apapun untukmu..aku berjanji tidak akan mengintip atau melakukan apapun yang bisa membahayakan privasimu, lagipula aku tidak suka wanita jadi kau bisa tenang.” Taekwoon memohon-mohon lagi.

Aku terkejut saat aku mendengar perkataan Taekwoon, apa aku tidak salah dengar? Dia bilang kalau dia tidak suka wanita? Tunggu..tunggu apakah telingaku tidak salah dengar ya? Mana mungkin lelaki setampan Taekwoon seperti itu.

“Kau tidak suka wanita?” aku bertanya dan Taekwoon mendongak menatap kearahku, dia mengangguk penuh keyakinan walaupun dia kelihatannya sedikit malu.

“Apa? J-jadi..kau gay?” aku bertanya lagi memastikan, Taekwoon kelihatan malu dan dia mengangguk.

Mendengar kalau dia seperti itu entah kenapa semua keraguan yang aku miliki hilang, apalagi Taekwoon terlihat sangat menyedihkan. Dia sepertinya benar-benar ingin bertemu dengan kakaknya, aku bahkan tidak tega melihat wajah sedih Taekwoon.

“Euh..kau yakin ingin tinggal disini?” aku bertanya lagi dan Taekwoon mengangguk lagi.

“Ya tuhan.. kau pasti sangat putus asa dan ingin bertemu dengan kakakmu eoh?” Aku memegang kepalaku yang berdenyut sakit.

“Aku mohon agasshi, aku akan melakukan apapun…ya kau benar aku benar-benar ingin bertemu dengan Hakyeon Hyeong…jika aku tidak tinggal disini aku tidak akan bertemu dengannya rumah ini adalah satu-satunya petunjuk yang aku punya tentang Hakyeon Hyeong.” Taekwoon masih memeluk kakiku.

“Aku sudah mencari dia kemana-mana, bahkan aku pergi keluar negeri untuk mencarinya namun aku tidak menemukan dia juga. Aku mohon agasshi, rumah ini adalah satu-satunya harapanku agar aku bisa bertemu dengan Hakyeon Hyeong.” Taekwoon melanjutkan, dia benar-benar terdengar sangat putus asa aku bahkan berpikir kalau sebentar lagi dia akan menangis.

Mendengar semua penjelasan itu entah kenapa aku merasa sangat kasihan sekali,aku berjongkok dihadapan Taekwoon dan tersenyum pada lelaki itu. Mungkin sebaiknya aku memberi dia kesempatan, lagipula segala hal yang dia tawarkan cukup menggiurkan aku memiliki pembantu baru sekarang jadi aku bisa lebih fokus pada pekerjaanku.

“Baiklah,kau boleh tinggal disini.” Aku menyetujui dengan berat hati, mari kita berdoa jika semua tetanggaku tidak datang kesini sambil membawa pedang untuk menghabisi aku dan Taekwoon.

Taekwoon menatap kearahku penuh dengan rasa terimakasih, aku bersumpah aku melihat matanya berkaca-kaca menatapku seakan aku ini pahlawan.

“Terimakasih agasshi!” dia berseru dan segera berdiri.

“Kapan kau akan pindah? Aku akan menyiapkan kamar tamu yang ada dibawah untukmu.” Aku membuka pintu rumahku lebih lebar, menandakan kalau aku menerima dia dirumahku.

“Sebenarnya, aku akan pindah sekarang.” Taekwoon menunjuk kearah mobilnya yang sudah diparkirkan diluar.

“Apa? Tapi aku belum menyiapkan apapun untukmu..” Aku berkata.

“Tidak apa-apa, kau diam saja..aku akan membereskan nya sendirian.” Taekwoon mendorongku untuk duduk diruang tamu, dia keluar dari rumahku dan berjalan menuju mobilnya.

Aku hanya bisa terdiam saat aku melihat Taekwoon berlari keluar untuk mengeluarkan semua kopernya, dia menarik kopernya itu dan aku tersenyum saat melihat dia sedikit kewalahan aku akhirnya berdiri dan memutuskan untuk membantunya.

Entah apa yang aku pikirkan orang ini bisa saja seorang kriminal atau yang lebih buruk pembunuh berantai namun dengan penjelasan nya dan penjelasan Lee ahjumma aku berharap dia tidak berbohong soal Hakyeon, Hakyeon sepertinya memang seseorang yang sangat berarti untuk Taekwoon bahkan lelaki itu tidak malu untuk memelas dan bersujud dihadapanku.

Dia membuang semua harga dirinya hanya agar aku mengijinkan dia untuk tinggal dirumahku, dia hanya bergantung pada harapan yang kosong. Bagaimana jika Hakyeon tidak pernah datang kesini?bagaimana jika lelaki itu memutuskan untuk melupakan rumah ini? Pertanyaan itu memenuhi pikiranku.

****

Sangat canggung, itulah yang mendeskripsikan kami berdua. Taekwoon menunduk serius dengan masakan soup nya, dia terlihat lucu menggunakan apron pink milikku dia terkadang melirik kearahku aku bisa merasakannya karena setiap aku melirik kearahnya dia pasti panik dan menunduk lagi menatapi soupnya.

Lucu sekali, Aku memutuskan untuk melanjutkan ceritaku aku sebenarnya tidak tahu harus bagaimana memulai cerita ini, aku benar-benar terkena writer block. Ceritaku yang terakhir menjadi best seller lagi mungkin sebaiknya aku istirahat dulu dan tidak menulis apapun, Aku menutup laptopku dan meminum teh yang ada disampingku.

Aku melepaskan kacamataku dan memijat keningku yang terasa sedikit sakit, aku menutup mataku sejenak karena mataku rasanya sedikit perih.

“Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?” Tanya Taekwoon dan aku melirik kearahnya.

“Aku belum punya ide.” Aku menjawab singkat dan menghela nafas.

“Aku sudah selesai memasak, makan malamlah dulu.” Taekwoon menyuruh, sebenarnya aku sedikit penasaran dengan apa yang dia masak.

Aku berbalik dan rahangku langsung terbuka lebar, dia memasak berbagai makanan yang sangat banyak dan bervariasi. Dia bagaikan chef yang sudah ahli, Taekwoon tersenyum saat dia melihat ekspressi kagetku.

“Apa kau baru melihat makanan seperti ini?” Taekwoon bertanya dan aku sadar dari lamunanku.

“Tidak..aku hanya tidak menyangka kau bisa memasak sebanyak ini.” Ucapku sambil menggaruk leherku yang tidak gatal.

“Ayo makanlah, nanti ikannya dingin.” Taekwoon mengajak dan aku berjalan kearah meja makan dan duduk.

Taekwoon memberikanku satu mangkok nasi dan aku mengambilnya, aku mulai memakan makan malamku dan aku senang sekali saat aku merasakan betapa enaknya masakan Taekwoon. Sudah lama sekali aku tidak merasakan masakan rumahan, aku terlalu sibuk untuk memasak beberapa bulan belakangan ini karena aku harus menyelesaikan novelku.

“Bagaimana?enak?” Tanya Taekwoon, dia kelihatan khawatir.

“Ya, darimana kau belajar semua ini?” Tanyaku kagum.

“Aku tinggal sendirian sejak aku SMA, aku belajar memasak dari Hakyeon Hyeong.” Taekwoon menjawab dan tersenyum, sepertinya Hakyeon memang seseorang yang penting untuknya.

“Oh begitu ya, kau sangat dekat dengan Hakyeon?” Tanyaku dan Taekwoon mengangguk.

“Dia yang selalu mengurusku dan menjagaku saat aku kecil.” Taekwoon menjelaskan, dia terlihat senang sekali setiap dia menyebutkan nama Hakyeon, aku semakin penasaran sebenarnya seberapa dekat mereka berdua.

“Hm..soal kau, tentang..kau tahu gay, apakah orang tuamu sudah tahu?” Aku bertanya dan Taekwoon kelihatan sedih ketika aku mengungkit itu.

“Ah! Bodohnya aku, sebaiknya kau tak menjawab itu.” Aku berkata dan Taekwoon menatap kearahku.

“Tidak apa-apa, kau akan tinggal bersamaku kan? Setidaknya kau harus tahu sedikit tentang aku” Taekwoon berkata dan aku hanya bisa tersenyum, sebenarnya terkadang aku benci pada sifatku yang ingin serba tahu.

“Ya, kedua orang tuaku sudah tahu..mereka mengusirku dan tidak menganggapku sebagai anak mereka lagi, bahkan mereka menghapus namaku dari surat warisan.” Taekwoon menjawab seakan semua itu adalah hal yang sepele, aku tahu Taekwoon sedih aku bisa melihat itu dari matanya.

“Setidaknya kau tidak harus berbohongkan? Kau jujur pada dirimu sendiri.” Aku mencoba menghibur.

“Aku…apa kau tidak jijik padaku? Semua teman-temanku menjauhi aku setelah mereka tahu aku suka pada lelaki.” Taekwoon bertanya dengan suara pelannya, sepertinya Taekwoon orang yang sedikit pemalu.

“Tidak, asalkan kau tidak berciuman dengan pacarmu dihadapanku sepertinya aku baik-baik saja.” Aku menjawab tidak yakin.

“Hahaha kau lucu, tentu saja tidak..walaupun aku menyukai wanita aku tidak akan mencium pacarku didepan orang lain.” Taekwoon menjawab dan kedua pipinya langung berubah merah.

Taekwoon terlihat sangat lucu saat dia malu, aku tersenyum sambil menatap nasiku.

“Aku baru ingat, kita belum berkenalan secara formal..aku Taekwoon, Jung Taekwoon.” Taekwoon mengulurkan tangannya padaku.

“Taeri, Choi Taeri.” Aku menjabat tangannya dan tersenyum.

“Kau bekerja sebagai penulis? aku membaca sedikit hasil kerjamu saat aku membereskan kamarku tadi.” Taekwoon mengungkapkan, kamar Taekwoon sebenarnya adalah gudang untuk skrip ceritaku yang gagal.

“Ya, aku sudah bekerja sebagai penulis sejak aku berumur Sembilan belas.”

“Bagaimana denganmu Taekwoon-shi? Apa pekerjaanmu?” Aku bertanya lagi.

“Aku bekerja di sebuah Toko roti di cheomdam-dong, aku seorang pâtissier sepupuku yang memiliki toko itu jadi dia mengijinkan aku untuk bekerja disana.” Taekwoon menjelaskan dan aku mengangguk.

“Wah, pantas saja kau pintar memasak.” Aku memuji dan Taekwoon malah menunduk malu menyembunyikan wajahnya dariku.

“Aku lebih suka membuat kue daripada memasak, tapi sepertinya keahlianku dalam memasak aku dapatkan dari pengalaman.” Ujar Taekwoon.

“Aku akan mengunjungi toko roti sepupumu jika aku ada waktu, jika itu tidak apa-apa.” Ucapku dan Taekwoon menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, disana banyak orang yang baik kau tak usah khawatir.” Ungkap Taekwoon.

Saat kami sedang makan malam teleponku berdering, aku segera berlari dan mengangkat teleponku.

“Taeri-ya, ini oppa.” Aku bisa mendengar suara Hongbin oppa.

“Oh..oppa, ada apa?” Aku berkata, Taekwoon melirik kearahku saat dia mendengar aku mengatakan kata ‘oppa’ dia kelihatannya penasaran.

“Aku hanya ingin menanyakan draftmu, apa sudah beres?” Hongbin oppa bertanya dan aku menggaruk kepalaku.

“Euh..oppa, sepertinya aku sedikit kena writer block hari ini mungkin besok aku akan mencari inspirasi.” Aku menjawab.

“Apa? Writer block? Bagaimana bisa? Aku akan kerumahmu besok.” Hongbin oppa berkata.

“Ah..tidak usah,tidak usah..aku akan baik-baik saja oppa, aku ingin sendiri dulu nanti aku akan menghubungi jika draft nya sudah selesai.” Aku berkata dan aku bisa mendengar Hongbin oppa menghela nafasnya.

“Kau yakin?”

“Iya oppa, kau tak usah khawatir..” Aku menjawab.

“Baiklah, hubungi aku jika kau butuh apapun.”

Nde, sampai nanti oppa.” Jawabku dan aku menutup telepon itu.

“Pacarmu?” Taekwoon bertanya saat aku kembali duduk.

“Bukan, dia editorku.” Aku menjawab dan kembali makan.

“Kalian terdengar intim.” Taekwoon menatap kearahku curiga.

“Tidak, dia lebih tua dariku jadi aku harus memanggil nya oppa.” Aku beralasan dan aku bisa mendengar Taekwoon mendengus.

“Ya,ya..kau bisa bilang itu sekarang.” Taekwoon tersenyum.

“Aku serius! Hongbin oppa hanya teman dia orang yang sangat baik.” Aku mengungkapkan dan Taekwoon hanya mengangguk.

“Ngomong-ngomong, apa kau pernah berkencan dengan wanita?” Aku mendekat dan Taekwoon berhenti makan.

“Menurutmu?” Dia mengangkat alisnya.

Yak! Aku serius..” Aku berkata dan Taekwoon mengangguk.

“Ya, aku sering berkencan dengan wanita saat aku SMA tapi tidak ada sedikitpun koneksi hanya kencan biasa saja.” Taekwoon menjawab dan aku mengangguk.

“Apa dari situ kau sadar kalau kau tidak suka wanita?” Aku bertanya dan Taekwoon mengangguk.

“Ya mungkin, selama aku berhubungan dengan wanita aku tidak pernah merasakan apapun..aku tidak pernah gugup ataupun salah tingkah didepan mereka, aku tidak pernah merasakan cinta pada mereka aku pikir.” Taekwoon menjelaskan.

“Apakah kau pernah berhubungan dengan lelaki sebelumnya?” Aku semakin penasaran dan Taekwoon malah menjentik kepalaku membuatku mengerang dan menyentuh dahiku yang terasa sakit.

“Kau terlalu tahu banyak, kau sebaiknya diam.” Taekwoon berkata dan dia kembali makan.

Aku cemberut masih mengelus dahiku yang sakit namun aku tersenyum, aku tidak tahu kalau Taekwoon bisa bercanda aku kira dia adalah lelaki yang serius.

Waktu sudah menunjukan pukul Sembilan malam, aku berbaring diranjangku dan menghidupkan jam alarmku aku sebenarnya sedikit tidak tenang. Ini pertamakalinya aku tinggal dengan seseorang, selama ini aku tinggal sendirian dan aku merasa seseorang masuk kedalam tempat amanku.

Namun aku ingat perkataan temanku Krystal, dia mengatakan jika aku tidak membuka diriku pada orang lain aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Sebenarnya aku memiliki masalah untuk terbuka pada seseorang bahkan Krystal harus mendekatiku terus agar aku menjadi sahabatnya, dia bilang dia penasaran dengan kepribadianku yang sebenarnya.

Aku tersenyum mengingat ungkapan sahabatku itu mungkin aku akan mengobrol banyak dengan dia besok, aku menutup mataku. Aku membuka lagi mataku saat aku ingat kalau aku belum menghubungi Krystal untuk menceritakan tentang Taekwoon, arghh! Sial dia pasti akan marah besok.

“Arggghh jugetta!jugetta!” Aku mengacak-ngacak rambutku sambil memukul-mukul bantal, aku benar-benar lupa untuk mengatakan tentang Taekwoon pada Krystal.

To Be Countinue……

Don’t forget the comment❤

Oh iya buat yang mau nanya-nanya seputar tulis menulis, ataupun tntang kpop atau Kdrama bisa  hubungi kau di ask.fm ini link nya –> ask.fm/Seven941

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

7 thoughts on “But He’s Gay! [Chapter 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s