Posted in FanFiction NC 17+

Great Ambition – Chapter 7

Title: The Great Ambition

Author :Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Jo Eunmi [OC],Oh Sehun [EXO],Oh Jiyoung [OC],Lee Howon [INFINITE]

Kim Yura [Girls day], Jung Hyojung [Tale of two siblings],Wu Zhongren/Kai [EXO]

Wu Yifan [EXO], Wu Hanbyul/Hyojin [Tale of two siblings],Kim Joonmyeon [EXO]

Genre :Melodrama,Horror and Romance

Length :Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

<< Previous Chapter

Next Chapter>>

7

Shattering

 

Sehun menatap kearah layar ponselnya, dari tadi ponselnya sudah hidup bebeapa kali dan nama Yura tertera dilayar ponselnya. Dia merasa sedikit bersalah karena sudah mengacuhkan lima belas panggilan kekasihnya itu, dia memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat mengatakan kalau dia sedang meeting bersama klien-kliennya mungkin berbohong sedikit tidak akan membuat Yura khawatir.

Mendengar tawa yang tidak asing membuat Sehun mendongak dan dia melihat Jiyoung tertawa dan bertepuk tangan saat lumba-lumba yang ada didepan mereka menghitung dengan degan bel yang instruktur mereka berikan, Jiyoung berseru memberikan semangat pada lumba-lumba pintar itu dan melambaikan tangannya dengan ceria.

Tanpa Sehun sadari sudut bibirnya terangkat dan dia tersenyum, wajah yang dia lihat sekarang mungkin wajah Eunmi namun tingkah dan suara wanita itu benar-benar mirip dengan Jiyoung. Sehun menyentuh tangan Jiyoung dan meremasnya, Jiyoung yang merasakan sentuhan Sehun melirik kearah tangan mereka dan tersenyum.

“Kau terlihat sangat cantik hari ini.” Ucap Sehun, Jiyoung memukul pelan lengan Sehun dan tersenyum malu.

“Kau terlihat tampan.” Jiyoung memberi pujiannya.

“Aku tahu.” Jawab Sehun penuh percaya diri membuat Jiyoung mencubit pipi Sehun lalu mereka berdua tertawa.

Taklama setelah interaksi itu akhirnya pertunjukan lumba-lumba mereka selesai sehingga mereka harus berdiri dan berjalan keluar dari gedung pertunjukan, setelah menonton Jiyoung meinta ijin untuk pergi ke toilet mungkin untuk membenarkan make upnya. Sehun mengangguk mengerti lalu dia duduk disalah satu bangku yang ada diluar, dia menghidupkan kembali ponselnya dan dia mendapatkan tiga pesan dari Yura.

“Baiklah jika kau sedang meeting, bisakah kita bertemu besok?”

“Aku merindukanmu…aku hanya khawatir.”

“Telepon aku jika meetingnya sudah selesai.”

Sehun semakin merasa bersalah saat dia membaca tiga pesan dari Yura, dia tahu Yura pasti merindukannya karena mereka tidak bertemu selama satu minggu. Apalagi akhir minggu sekarang dia menghabiskannya dengan Jiyoung, dia tidak bisa terus begini ini hanya untuk satu hari saja karena besok Jiyoung mungkin tidak akan ada disisinya lagi jadi dia harus menikmati hari ini.

Sehun menatap kearah aquarium besar yang ada didepannya dan dia bisa melihat ikan-ikan kecil yang warna-warni, ikan kecil itu terlihat indah sekali dia berdiri dan menyentuh kaca aquarium itu namun ikan-ikan itu langsung berkumpul saat dan menjauh dari sentuhan Sehun.

“Apa yang sedang kau perhatikan?”

Sehun hampir menjerit saat dia mendengar suara Jiyoung yang mengagetkannya, dia mengelus dadanya dia bisa merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Sedangkan Jiyoung tertawa melihat ekspressi terkejut Sehun, Sehun langsung menarik Jiyoung dan menggelitiki wanita itu.

“Hahahah Sehun hentikan!” Jiyoung tertawa sampai akhirnya Sehun berhenti menggelitikinya.

“Kau puas?” Tanya Sehun yangmenatap kearah Jiyoung , wanita itu masih tertawa.

“Maafkan aku, kau yang melamun.” Jiyoung membela diri, dia lalu melingkarkan tangannya dilengan Sehun.

“Sebaiknya kita makan, aku lapar.” Jiyoung menarik Sehun kedalam restoran yang terletak tidak jauh dari mereka.

Sehun tersenyum saat dia melihat ekspressi memelas Jiyoung dan akhirnya menuruti keingin wanita itu, dia mengikuti Jiyoung dari belakang. Jiyoung memesankan makanan mereka sedang Sehun duduk disebuah meja kosong, dia melirik kearah jendela restoran dan terkejut saat dia melihat sosok Howon.

Sehun bisa melihat Howon sedang mengobrol dengan seseorang orang, seperti biasanya lelaki itu selalu membawa kamera digitalnya. Tidak aneh dia bekerja sebagai fotografer tentu saja kamera adalah alat utama dia, Sehun menunduk menyembunyikan wajahnya saat dia melihat Howon melirik kearahnya.

Taklama kemudian Sehun berdiri dan menarik Jiyoung yang sedang memasan makanan, Jiyoung kebingungan karena Sehun tiba-tiba saja menariknya dengan kasar bahkan dia bisa merasakan tangannya digenggam kuat oleh Sehun. Sehun keluhatan sangat panik Jiyoung bisa melihat itu dari ekspressinya, Jiyoung menarik tangannya sehingga akhirnya tangannya terlepas dari genggaman kuat Sehun.

“Kau kenapa?! Aku sednag memesan makanan tadi.” Ucap Jiyoung kesal.

“Aku melihat Howon tadi, sebaiknya kita pergi kepantai saja sekarang.” Sehun menjawab singkat.

“Howon? Apa yang dia lakukan disini?”

“Entahlah, sepertinya dia sedang bekerja.” Sehun menjelaskan, dia tidak ingin membuang waktunya disini dan mengambil resiko Howon melihat dia dan Eunmi bersama.

Howon tentu akan berpikir jika wanita yang ada bersamanya ini Eunmi  bukan Jiyoung karena wajah mereka sama, Jiyoung yang mengerti akhirnya mengikuti keinginan Sehun dan mereka berjalan menuju parkiran mobil.

“Eunmi?!” Suara Howon terdengar.

Jiyoung dan Sehun melirik kearah belakang mereka dan menemukan Howon berdiri tak jauh dari mereka, Howon langsung mendekat kearah Jiyoung dan menarik wanita itu kedalam pelukannya. Jiyoung kebingungan dia tidak tahu harus berbuat apa, Sehun yang melihat itu tentu saja marah namun dia mencoba untuk dewasa.

“Kenapa kau ada disini? Oh jadi kau ingin bersama Sehun? Itu alasanmu kabur dari rumah sakit?” Tanya Howon geram, lelaki itu sangat marah.

“Howon…aku bisa menjelaskannya.” Jiyoung berkata.

“Kau tak usah menjelaskannya, sekarang kau harus pulang denganku orangtuamu dan Eunhee khawatir sekali.”

“Tapi Howon..”

Howon tidak mendengarkan perkataan Jiyoung dia malah menarik paksa Jiyoung dan Jiyoung melirik kearah Sehun penuh kecemasan. Sehun yang tidak menerima perlakuan itu segera berjalan menyusul Jiyoung dan Howon, dia melepaskan genggaman Howon dari tangan Eunmi.

“Dia bilang dia tidak ingin ikut denganmu.” Sehun melawan.

Malang sekali bagi Sehun karena sebelum dia bisa melindungi dirinya sendiri Howon sudah memukulnya sehingga dia terjatuh ketanah dengan bibir berdarah, Jiyoung yang melihat itu mendorong Howon menjauh dan berjongkok didepan Sehun untuk membantu lelaki itu bangun.

“Sehun, bibirmu berdarah..” Jiyoung panik, dia membuka tas kecil yang dia bawa dan mengelap bibir berdarah Sehun dengan tissue yang dia bawa.

“Eunmi kita pulang!” Howon menyuruh.

“Tidak! Aku tidak mau mendengar perintahmu! Kau jahat sekali memukul Sehun begitu saja!” Jiyoung membentak, dia membantu Sehun untuk berdiri.

“Eunmi-ya..” Howon memelas.

“Tidak Howon, jangan bicara padaku sampai besok.” Jiyoung membentak dengan kasar, dia bahkan mengacuhkan Howon yang masih kebingungan.

Sehun melirik kearah Howon, dia tahu Howon pasti kebingungan mungkin Eunmi yang sebenarnya bisa menjelaskan semua ini besok Sehun berharap seperti itu. Dia tidak ingin menjadi orang yang menjelaskan semuanya pada Howon, dia tahu lelaki itu pasti akan memukulnya lagi jika mereka kembali bertemu.

“Sehun, kau tidak apa-apa?”

Jiyoung menyentuh luka disudut bibir Sehun, Sehun meringis kesakitan namun dia memaksakan senyuman pada Jiyoung dia tidak ingin Jiyoung merasa khawatir. Seharusnya merek abersenang-senang hari ini, lalu kenapa Howon harus datang dan menghancurkan semuanya? Sehun mengutuk dalam pikirannya.

Mereka berdua akhirnya sampai didepan mobil Sehun dan memutuskan untuk diam sebentar didalam mobil Sehun, Sehun menghela nafasnya lelah dan menyandarkan kepalanya pada jok mobil sedannya.

“Kau lelah? Sebaiknya kita pulang saja.” Jiyoung engajak namun Sehun mengelengkan kepalanya.

“Tidak, hari ini hari terakhir kita bersama Noona aku ingin menghabiskanya denganmu dan membuat senang.” Sehun berkata membuat Jiyoung tersenyum kearahnya.

“Kau tidak berubah sama sekali, terimakasih Sehun.” Jiyoung mendekat dan mencium pipi Sehun.

“Aku tidak pernah berubah noona, aku selalu menjadi Sehun kecilmu.” Sehun tersenyum mendengar perkataannya sendiri.

Memang benar, dia akan selalu menjadi Sehun yang manja untuk Jiyoung dia akan selalu menjadi Sehun kecil yang menurut pada segala perintah Jiyoung. Mencintai Jiyoung dan tetap menatap kearahnya tidak peduli apa yang terjadi, itulah Oh Sehun yang sesungguhnya dia selalu merasa menjadi dirinya sendiri disekitar Jiyoung.

Dia tidak usah memakai topeng didepan Jiyoung, Jiyoung sudah tahu segalanya tentang Sehun jadi Sehun tidak usah takut karena noona nya pasti akan melindunginya. Jiyoung mengelus pipi Sehun, dia bisa melihat airmata mengumpul disudut mata Sehun dan itu benar-benar membuatnya sangat sedih dia tahu Sehun tidak ingin dia pergi.

“Kamu satu-satunya untukku Sehun.” Jiyoung memeluk Sehun dengan erat.

Sehun memeluk kembali Jiyoung dan airmatanya akhirnya jatuh menetes pada punggung Jiyoung, Sehun menyembunyikan wajahnya diceruk leher Jiyoung mencium aroma tubuh Jiyoung. Jika bisa dia ingin menghentikan waktu agar dia dan Jiyoung bisa bersama selamanya, dia tidak ingin menghadapi esok hari.

Dia sebenarnya takut, karena besok dia tidak akan bisa bersama Jiyoung lagi dia tidak akan bisa memeluk dan mengobrol kembali dengan Jiyoung seperti sekarang.

“Noona, aku sangat mencintaimu…sangat mencintaimu.” Sehun berbisik.

Jiyoung mengangguk dia tahu itu walaupun Sehun tidak pernah mengatakannya dengan keras Jiyoung tahu betapa besar cinta Sehun untuknya, Jiyoung ingin membalas perkataan Sehun namun tenggorokannya terlalu sakit untuk berbicara karena dia menahan tangisnya.

Dia tidak ingin perpisahan diantara mereka menyedihkan, dia ingin perpisahan mereka menjadi perpisahan yang indah untuk diingat. Jiyoung melepaskan pelkannya dan menyeka airmata Sehun, Sehun menyandar pada sentuhan Jiyoung masih sedih mengingat Jiyoung akan meninggalkannya besok.

“Setelah aku pergi, berbahagialah dengan Yura ok? Kau sebaiknya ceat menikah dengan dia.” Jiyoung melirik kearah lain, dia tidak ingin terlihat sedih saat dia mengatakan itu.

“Noona..”

“Oh iya, jika kau punya anak perempuan bagaimana kalau kau menamakan dia Jiyoung? Oh tunggu itu akan aneh…” Jiyoung menggaruk kepalanya canggung membuat Sehun akhirnya tersenyum.

“Noona,kau berpikir terlalu jauh..” Sehun berkata.

Jiyoung melirik kearah Sehun yang menatap kearahnya lalu tersenyum, dia tidak tahu apa yang Sehun maksud bukankah seharusnya Sehun menyetujui keinginannya?

“Aku tidak yakin aku akan bertahan lama tanpamu.”

“Apa yang kau katakan Sehun? Kau akan baik-baik saja.”

Sehun menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan apa yang Jiyoung katakan. Dia tidak pernah baik-baik saja, selama ini semuanya hanya topeng. Dia sebenarnya sangat menderita saat dia bersama Yura, dia tidak pernah benar-benar mencintai Yura karena hatinya terlalu penuh oleh Jiyoung.

“Aku menderita tanpamu noona, aku tidak bisa terus berbohong dan berpura-pura untuk bahagia didepan semua orang.”

Mendengar itu Jiyoung semakin tidak ingin meninggalkan Sehun, dia khawatir dengan keadaan Sehun namun dia sendiri tahu kalau dia harus mengakhiri semua ini. Dia tidak bisa terus berada didalam tubuh Eunmi selamanya, itu tidak adil bagi Eunmi apalagi setelah dia tahu kalau Eunmi memiliki perasaan pada Sehun.

“Sehun-ah, dengarkan aku.” Jiyoung menangkup wajah Sehun.

“Apapun yang terjadi kau harus berjanji padaku untuk tetap hidup.”

Sehun hendak memprotes namun Jiyoung segera menggelengkan kepalanya tidak menerima alasan apapun dari Sehun, Jiyoung menyentuh dada Sehun membuat Sehun kebingungan.

“Aku tidak akan hilang selama kau ada, selama kau hidup dan bernafas..aku akan selalu hidup didalam hatimu.”

“Noona.”

“Tidak apa-apa jika aku harus menunggu lama untukmu, aku tahu pada akhirnya kita akan bertemu juga iyakan? Berhentilah berputus asa.”

Mendengar perkataan Jiyoung Sehun mengangguk, dia sedikit merasa baikan setelah dia mendnegar perkataan Jiyoung. Mungkin sekarang Jiyoung mengerti,walaupun menyakitkan Sehun tahu dia harus melepaskan Jiyoung pada akhirnya.

****

Howon menyimpan kameranya dimeja kantor, dia benar-benar kebingunga dengan sikap Eunmi yang begitu dingin padanya. Berbeda sekali saat dia sadar, Howon lebih kaget saat dia sadar kalau Eunmi pergi bersama Sehun padahal setahu dia Eunmi dan Sehun hanya teman biasa.

Howon mengambil ponselnya, dia menghubungi nomor Eunhee saudara kembar Eunmi. Dia menunggu beberapa menit sampai akhirnya Eunhee mengangkat teleponnya.

“Howon-shi? Ada yang bisa aku bantu?” Eunhee mengangkat teleponnya.

“Ya, Eunhee apakah Eunmi sudah pulang kerumah?” Tanya Howon.

“Oh iya, dia sudah pulang kerumah kemarin dia bilang dia ingin pergi bersama Sehun kepantai.” Eunhee menjelaskan.

“Oh…apakah mereka biasa dekat seperti itu?”

Howon tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Ya, mereka sahabat sejak kecil Appa dan Eomma sudah tidak asing dengan Sehun.”

Mendengar jawaban Eunhee dia semakin cemburu pada Sehun, dia mencengkram ponselnya.

“Begitu ya, baiklah aku rasa aku tidak usah khawatir jika mereka sudah dekat sejak dulu.” Howon berkata.

“Howon-shi, aku tahu kau mungkin cemburu tapi tenang saja Sehun dan Eunmi hanya sahabat dia akan kembali padamu lagi besok.”

Eunhee mungkin mencoba menenangkan dirinya namun Howon sama sekali tidak merasa tenang, dia tidak ingin orang yang dia cintai direbut kembali oleh orang lain tidak untuk kedua kalinya.

“Terimakasih Eunhee-shi, bisakah kau menghubungiku jika Eunmi pulang?”

“Tentu saja, aku akan menghubungi.”

“Terimakasih.”

Howon menutup teleponnya, dia menatap kearah foto dirinya dan Eunmi yang dia pajang dikantor. Foto itu diambil saat mereka sedang berjalan-jalan ke mall, Howon mengingat kembali ekspressi muka Eunmi saat dia melihat Howonmemukul Sehun.

Entah kenapa aura Eunmi berbeda sekali saat tadi mereka bertemu, Howon merasa kalau tadi dia tidak bertemu dengan Eunmi kekasihnya. Dia merasa kalau Eunmi hanyalah orang asing yang tidak dia kenal, dari sorot matanya pun dia terlihat sangat berbeda.

“Ada apa denganmu Eunmi?” Howon bergumam.

Melihat Howon yang bersedih arwah Eunmi hanya bisa menatap kearah kekasihnya itu, dia tahu Howon pasti sangat kebingungan sekali dengan segala perubahaannya. Sebaiknya dia cepat kembali dan menjelaskan semuanya.

“Maafkan aku Howon-shi..” Eunmi berbisik ditelinga Howon.

Howon yang merasakan hawa yang dingin melirik kebelakang namun dia tidak menemukan siapapun, dia memegang lehernya yang terasa dingin. Enah kenapa hari ini kantornya terasa lebih dingin dari biasanya padahal jendela dikanornya sudah dia tutup, Howon memutuskan untuk keluar dari kantornya dan pergi pulang.

*****

Hyojung langsung turun dari mobil Joonmyeon saat dia melihat lapangan golf yang sangat luas didepannya, dia merasa bebas sekali berada di tempat yang luas seperti ini. Joonmyeon tersenyum saat dia melihat betapa bahagianya Hyojung, dia tidak pernah melihat gadis itu tersenyum selebar itu.

Hyojung melirik kearah Joonmyeon yang sekarang berdiri disampingnya, wanita itu menarik tangan Joonmyeon dan mereka berlari menulusuri lapangan golf yang sangat luas. Tidak jauh dari mereka ada sebuah danau yang cukup besar, Hyojung keihatan tertarik untuk meihat danau itu kerena dia langsung menarik Joonmyeon menuju danau itu.

“Wah…airnya jernih sekali.” Hyojung memuji.

Dia berlutut disamping danau itu dan menyentuh air danau lalu memainkan jarinya didalam air itu, Hyojung kelihtan seperti anak kecil jika dia bertingkah seperti ini. Namun entah kenapa Joonmyeon tidak keberatan sama sekali, biasanya dia lebih menyukai wanita yang dewasa namun setelah dia bertemu dengan Hyojung sepertinya seleranya sedikit berubah.

Joonmyeon duduk disamping Hyojung dan memperhatikan gadis itu yang masih asik memainkan air jerni danau, Joonmyeon tidak mengatakan apapun dia mebiarkan Hyojug menikmati keindahan lapangan golf milik keluarganya.

“Terimakasih oppa sudah membawaku kesini.” Hyojung tersenyum kearah Joonmyeon.

“Sama-sama, kau tidak usah berterimakasih padaku aku suka membuatmu senang.” Joonmyeon mengelus kepala Hyojung.

“Kau terlalu baik oppa, aku jadi merasa tidak enak.” Hyojung menunduk malu.

Joonmyeon menyeringai saat dia mendengar perkataan Hyojung, sepertinya Hyojung sudah jatuh dalam perangkap sempurnanya sekarang. Joonmyeon menyentuh pipi Hyojung membuat Hyojung menatap kearahnya, mata Hyojung terlihat bening sekali dia baru tahu jika warna mata Hyojung adalah coklat terang.

“Oppa?”

Joonmyeon mengacuhkan panggilan Hyojung dan dia mendekat untuk mengecup bibir Hyojung, Hyojung yang merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Joonmyeon terkejut namun gadis itu tidak bergerak dan menerima ciuman Joonmyeon.

Tangan Joonmyeon yang ada dipipi Hyojung turun kebawah menyentuh leher Hyojung dan menarik gadis itu agar lebih dekat dengannya, Hyojung tidak tahu harus bagaimana dia terlalu bingung untuk memikirkan apapun. Bibir hangat Joonmyeon membuat pikirannya kosong bahkan dia melupakan Zhongren untuk sesaat dan mencium kembali Joonmyeon.

Joonmyeon menjilat bibir bawah Hyojung meminta ijin untuk mencium Hyojung lebih dalam, Hyojung membuka mulutnya dan membiarkan Joonmyeon menjelajahi mulutnya menggoda lidahnya. Tangan Hyojung meremas kemeja Joonmyeon, dia benar-benar tidak tahu harus mendorong Joonmyeon atau tidak.

Beberapa menit berlalu Joonmyeon melepaskan ciumannya, Hyojung masih terengah-engah mengumpulkan nafasnya. Dia tidak pernah merasakan sensasi seperti ini saat dia dan Zhongren berciuman, Joonmyeon masih berada didekatnya menyandar pada dahi Hyojung sehingga dahi mereka bersentuhan.

Bibir Hyojung masih merah dan basah oleh saliva mereka, Joonmyeon tersenyum dan mencium bibir Hyojung sekilas.

“Maaf…kau pasti kaget.” Joonmyeon berkata.

Hyojung tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya, dia sebaiknya segera pulang dan tidak bertemu lagi dengan Joonmyeon. Semua ini terlalu berbahaya, dia tidak bisa berselingkuh dari Zhongren ini tidak adil.

“Oppa, aku..”

“Aku tahu, kau tidak usah membahasnya.”

Joonmyeon berdiri dari duduknya diikuti oleh Hyojung yang masihmerasa canggung, Joonmyeon tiba-tiba saja mengulurkan tangannya pada Hyojung membuat Hyojung kebingungan.

“Aku mencintaimu Jung Hyojung, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dan mengurusmu…aku tahu kita baru bertemu beberapa bulan tapi aku yakin kalau aku mencintaimu.” Joonmyeon berkata.

Hyojung yang mendengar itu tidak bisa berkata apapun, ini pertamakalinya dia mendapatkan pengakuan cinta dari seorang lelaki secara terang-terangan seperti ini. Zhongren bukanlah tipe lelaki yang biasa mengatakan cintanya lewat kata-kata seperti Joonmyeon dia menggambarkan cintanya lewat sentuhan dan pandangan, Hyojung jarang sekali mendengar ungkapan cinta dari Zhongren.

“Hyojung, tinggalkanlah Zhongren..aku tahu kau tidak bahagia bersama dia.” Joonmyeon membujuk.

Hyojung tidak mengatakan apapun dia hanay menatap kosong kearah tangan Joonmyeon, dia benci mengakui ini namun perkataan Joonmyeon benar. Dia tidka bahagia seperti dulu lagi, dia dan Zhongren tidak pernah kencan lagi dan percakapan mereka selalu terasa hambar tidak ada lagi api cinta yang membara seperti dulu diantara dirinya dan Zhongren.

Sedangkan dengan Joonmyeon dia merasakan ketertarikan yang kuat, dia menyukai segala tentang Joonmyeon lelaki didepannya ini bisa mencuri hatinya dalam hitungan detik. Hyojung semakin bimbang, dia benar-benar tergoda untuk menerima cinta Joonmyeon tapi dia juga tidak bisa menolak cinta Joonmyeon begitu saja.

Begitu banyak sekali kemungkinan yang ada didalam pikirannya, bagaimana jika Joonmyeon lah jodohnya? Bagaimana jika Zhongren hanyalah api yang lewat untuk sementara? Bagimana jika dia menyesali keputusannya untuk meninggalkan Zhongren dan memilih Joonmyeon?

“Hyojung aku tidak akan memaksamu,apapun pilhanmu aku menghargainya.” Ucap Joonmyeon lembut.

Hyojung semakin bingung, Joonmyeon begitu lembut dan baik dia takut jika dia akan melewatkan berbagai hal yang baik dari Joonmyeon. Tanpa sadar Hyojung akhirnya menyambut uluran tangan Joonmyeon, Joonmyeon terkejut namun dia tersenyum dan menggengam kembali dengan erat tangan Hyojung.

“Bisakah kau memberikan waktu untukku? Aku ingin menjelaskan semuanya terlebih dahulu pada Zhongren oppa.” Hyojung meminta dan Joonmyeon mengangguk.

“Tentu saja Hyojung,aku akan memberikanmu waktu.” Joonmyeon tersenyum dan dia memeluk Hyojung.

Pelukan Joonmyeon terasa sangat menenangkan baginya, mungkin keputusannya untuk bersama Joonmyeon tidak salah mungkin Joonmyeonlah yang terbaik untuknya. Hyojung tersenyum dan memeluk Joonmyeon kembali, dia bisa tersenyum sekarang tapi setelah ini dia tidak tahu jika dia bisa menyampaikan semua ini pada Zhongren.

Joonmyeon melepaskan pelukannya, dia mencium dahi Hyojung membuat Hyojung menutup matanya. Mungkin ini cara Joonmyeon berterimakasih, Hyojung menyukai itu dia menyukai segala tentang Joonmyeon.

“Apa kau sudah makan siang? Aku sedikit lapar.” Joonmyeon memecahkan hening diantara mereka.

“Ya, mari kita makan siang.” Hyojung tertawa saat Joonmyeon menariknya menuju mobil, sepertinya lelaki itu benar-benar lapar.

*****

Zhongren memainkan gelas minumannya dimeja, dia menatap kosong kearah jendela menatap kearah kru film yang sibuk mempersiapkan lokasi adegan untuk pemain lain. Dia baru beristirahat selama sepuluh menit namun dia tidak merasa nyaman juga, entah mengapa pikirannya selalu tertuju pada Hyojung.

Dia ingin sekali bertemu dengan Hyojung dan mengobrol dengan kekasihnya itu, dia sadar beberapa bulan belakangan ini dia melupakan Hyojung karena jadwal syuting dirinya yang sangat padat.

Tanpa Zhongren sadari gelas yang dia pegang jatuh dan pecah membuat semua kru melirik kearahnya karena suara nyaring yang ditimbulkan oleh kaca gelas yang pecah, Zhongren langsung melirik ke bawah tidak menyadari kalau tangannya juga terluka.

“Zhongren-shi! Kau baik-baik saja?” Tanya Yura.

Wanita itu bahkan berdiri dari duduknya, Zhongren tidak menjawab apapun dia kelihatan seperti sedang shock. Yura mengahampiri Zhongren dan menyentuh bahu lelaki itu, Zhongren tidak berkata apapun dan menatap kearah tangannya yang berdarah.

“Zhongren-shi! Tanganmu berdarah..”

Yura menyentuh tangan Zhongren, Zhongren tidak mengatakan apapun membuat Yura semakin khawatir. Dia menyuruh asistennya untuk mengambil obat dan perban untuk tangan Zhongren, Yura yang menatap mata Zhongren bisa membaca apa yang lelaki itu rasakan.

“Zhongren-shi, apa kau sedang memikirkan Hyojung?” Tanya Yura, Zhongren segera menggelengkan kepalanya.

Dia berbohong pada Yura, sebenarnya dia sedang memikirkan kekasihnya itu entah kenapa dia mendapatkan firasat yang sangat buruk sekali dibenaknya. Dia mencoba mengacuhkan perasaan itu namun pertanda buruk seperti ini terlalu meyakinkan untuk di acuhkan, Zhongren akhirnya menatap kearah Yura.

“Apa lukanya dalam?” Tanya Zhongren.

“Sedikit, aku akan membalutnya dengan perban kau tenang saja.” Yura memberikan senyum termanisnya pada Zhongren.

Zhongren menghargai itu, Yura selalu menjadi teman dan rekan kerja yang baik untuknya dia bersyukur kalau dia bisa bertemu orang sebaik Yura dalam kehidupannya. Dia sudah belajar betapa susahnya mencari orang yang jujur dan tulus seperti Yura, tidak semua orang sebaik Yura tulus padanya namun dia tahu wanita ini berhati lembut dia tidak mungkin jahat.

“Ini akan sedikit perih, kau sebaiknya menahannya.”

Perkataan Yura menyadarkan dia dari lamunannya, Zhongren bersiap merasakan perih saat alkohol yang Yura teteskan pada lukanya menyentuh kulitnya. Zhongren meringis saat dia merasakan perih yang dia tunggu, Yura tersenyum kearahnya dan langsung meneteskan obat antiseptic setelah luka Zhongren bersih taklama Zhongren menunggu tangannya sudah rapih dibalut oleh perban putih.

“Sebaiknya kau berhati-hati, sekarang kau sedang syutingkan? Tidak enak jika para fans melihat lukamu di televisi mereka akan khawatir.” Yura mengelus tangan Zhongren.

“Terimakasih Yura-shi, kau baik sekali.” Zhongren tersenyum kearah Yura dan kembali menatap kearah jendela.

“Sama-sama.”

Yura ingin sekali menanyakan kenapa Zhongren kelihatan tidak fokus seperti itu, dia tahu ada sesuatu yang menganggu rekan kerjanya itu. Namun dia tidak ingin terlihat seperti orang yang selalu ingin tahu sehingga dia mengurungkan niatnya untuk bertanya, dia berbalik lalu pergi kekursinya.

*****

Yongguk mematikan mesin mobilnya, mereka akhirnya sampai didepan rumah sakit jiwa Pyeonghwa. Rumah sakit jiwa itu sangat besar sekali dan terlihat cukup tua, Hyojin memperhatikan bangunan yang ada di depannya sampai akhirnya dia memutuskan untuk turun dari mobil Yongguk.

Di depan bangungan rumah sakit itu terlihat papan bertuliskan ‘Rumah Sakit Jiwa Pyeonghwa.’ Yang sangat besar, tulisan itu mulai luntur mungkin termakan oleh usia dan musim disini. Yifan ikut turun bersama Hyojin, dia berjalan tepat dibelakang Hyojin, Hyojin menatap khawatir kearah pintu depan rumah sakit itu.

Hyojin merasa takut untuk masuk, aura rumah sakit itu terasa sangat gelap sekali apalagi dengan gaya arsitektur Eropa kuno yang memberikan kesan antik dan misterius pada bangunan itu. Hyojin sedikit gemetaran karena cuaca seidkit mendung sore itu, dia merasa tenang saat Yifan menyentuh kedua bahunya.

“Hyojin, kau yakin ini rumah sakitnya?” Tanya Yifan, Hyojin melirik kearah Yifan dan mengangguk.

Sentuhan hangat Yifan memang selalu membuatnya tenang,Hyojin akhirnya cukup berani untuk masuk. Dia membuka pintu rumah sakit, dia disambut oleh dua orang suster yang duduk dimeja resepsionis yang tersneyum kearahnya dengan ramah.

Ternyata ruangan dalam rumah sakit itu tidak kalah menyeramkan dengan penampilan luarnya, apalagi didalam rumah sakit itu terdapat banyak lukisan kuno yang di pajang di dinding membuat Hyojin semakin takut untuk melangkah kedalam. Lampu didalam rumah sakitpun sedikit redup, rumah sakit ini benar-benar menggambar rumah sakit kuno pada jaman dahulu.

“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” Tanya salah satu suster dengan ramah.

“Ya, aku ingin bertemu dengan pasien yang bernama Cha Mira.” Jawab Hyojin.

Mendengar perkataan Hyojin entah kenapa kedua suster itu kelihatan sedih dan khawatir, apakah sesuatu terjadi pada Cha Mira? Kenapa kedua suster itu kelihatan ketakutan juga?  Keingin tahuan mulai memenuhi pikiran Hyojin.

“Maaf nyonya tapi pasien yang bernama Cha Mira sangat berbahaya, beberapa tahun belakangan ini tidak ada yang berani mengunjunginya.” Jawab suster itu.

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar.” Hyojin berkata.

“Hyojin…” Yifan menyentuh lengan Hyojin, dia tahu Yifan pasti tidak setuju dengan ide Hyojin.

Bagaimana mungkin Yifan mengijinkan istrinya yang sedang hamil dalam satu ruangan dengan seseorang yang memiliki penyakit jiwa dan berbahaya, hanya lelaki bodoh yang membiarkan istrinya melakukan itu.

“Oppa, aku harus bertemu dengannya.” Hyojin tetap kukuh.

“Aku mengerti, tapi aku tidak akan membiarkan kau sendirian disana aku akan ikut masuk.” Yifan berkata.

“Jika kalian benar-benar ingin bertemu dengannya, aku akan membawanya keruang jenguk.” Suster ramah itu berkata.

“Terimakasih banyak suster.” Yifan berterimakasih, suster itu mengagguk lalu pergi.

“Silahkan menunggu, setelah Cha Mira siap saya akan memberitahu kalian.” Suster yang satu lagi berkata dan Hyojin mengangguk.

Dia dan Yifan akhirnya duduk di barisan kursi ruang tunggu, rumah sakit jiwa Pyeonghwa sangat sepi sekali hari itu. Hyojin hanya bisa melihat beberapa orang yang akan menjenguk keluarganya dan beberaap dokter dan suster yang sibuk.

Hyojin yang bosan melirik kearah kananya , dia melihat sesosok wanita berdiri tak jauh darinya. Wanita itu terlihat sangat misterius dan menyeramkan, kulitnya putih sekali dan rambut coklatnya tergerai kedepan menyembunyikan sebagian wajahnya. Wanita itu hanya diam menuduk menatap kearah kakinya,

Hyojin memalingkan pandangannya kearah Yifan namun dia terkejut saat melihat sosok wanita itu berdiri tak jauh darinya, wanita itu berjalan perlahan kearahnya namun tidak ada seorangpun yang melihat wanita itu karena orang-orang disekitarnya mengacuhkan sosok wanita itu dan terus berjalan.

Ketakutan, Hyojin langsung menunduk dia bisa merasakan tangannya gemetar dan temperatur tubuhnya langsung turun. Yifan yang duduk disampingnya menyadari perubahan sikap istrinya itu, dia menyentuh lengan Hyojin untuk menenangkan istrinya.

“Hyojin,kau baik-baik saja?”

Mendengar pertanyaan itu Hyojin terpaksa harus melirik kearah Yifan, dia terkejut sekali saat dia mendapati wanita itu sudah berdiri dibelakang Yifan melotot kearahnya dengan pupil mata abu-abunya dan mukanya penuh dengan luka dan darah segar.

“Akkkh!!” Hyojin langsung menjerit.

Hyojin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak ingin melihat kembali sosok seram itu.

“Hyojin? Hyojin ada apa?” Tanya Yifan panik.

Hyojin menunjuk kearah belakang Yifan dengan tangan gemetarnya, Yifan melirik kebelakang namun dia tidak menemukan apapun.

“Tidak apa-apa Hyojin, aku tidak melihat apapun.” Ucap Yifan membujuk.

Hyojin langsung memeluk Yifan menyembunyikan wajahnya didada suaminya, dia benar-benar ketakutan sekali. Wajah menyeramkan wanita itu akan terus tertanam di otaknya,setelah beberapa menit akhirnya Hyojin berani membuka matanya kembali.

“Kau melihat apa Hyojin?” Tanya Yifan, suaminya itu menangkup wajahnya dan mengelus pipinya dengan lembut.

“T-tadi..ada seorang wanita aneh dibelakangmu..dia menyeramkan sekali.” Hyojin menjelaskan.

“Wanita?tapi aku tidak melihatnya..” Yifan melirik kearah sekitarnya.

“Aku bersumpah Oppa! Tapi aku melihatnya..” Hyojin masih panik, dia bahkan kelihatan ketakutan sekali.

“Kau mungkin kelelahan, apa kau ingin teh?aku akan membelikan minuman untukmu jika kau mau.” Yifan menawarkan, Hyojin langsung menggelengkan kepalanya.

Suster yang tadi menyambutnya akhirnya datang, dia mengatakan kalau Cha Mira sudah menunggunya diruang jenguk. Hyojin dan Yifgan sedikit gugup saat mereka berjalan dikoridor rumah sakit yang sanagt panjang ternyata jarak ruang jenguk dan lobi rumah sakit cukup jauh, mereka akhirnya berhenti disebuah ruangan yang cukup besar dan dia langsung bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang berambut pendek.

Wanita itu kelihatan rapih untuk seorang pasien rumah sakit jiwa, Hyojin dan Yifan lalu duduk dikursi yang sudah ada didepan mereka. Suster itu menutup kembali pintu ruangan jenguk membiarkan Yifan dan Hyojin berinteraksi dengan Cha Mira.

Hyojin tidak tahu dimana dia harus memulai, dia hanya menatap dan memperhatikan wanita paruh baya yang ada didepannya. Wajah Cha Mira benar-benar mirip dengan wanita yang ada di foto keluarga Joonmyeon, apakah wanita ini benar-benar ibu kandung Joonmyeon?

“Aku sudah tahu kau, Boyoung memberitahu aku.” Ucap Cha Mira.

“Eommoni,kau bisa melihat dia juga?” Tanya Hyojin.

“Ya,aku bisa melihat yang lainnya juga.”

Hyojin tidak tahu harus berkata apa, mungkin selama ini semua orang salah paham tentang Cha Mira dia tidak gila, namun dia memiliki indra keenam yang sangat kuat.

“Hyojin, kau sebaiknya tidak ikut campur.”

“Tapi Eommoni, Boyoung Eommoni bilang Zhongren dan Hyojung dalam bahaya.”

“Kau tidak bisa berbuat apapun, Joonmyeon bukanlah orang yang ingin kau jadikan musuh.” Cha Mira berbisik.

Yifan tidak mengerti dengan percakapan antara Hyojin dan Cha Mira, dia hanya mendengarkan saja dan diam. Mungkin setelah istrinya selesai dia bisa menanyakannya secara detail, walaupun sebenarnya dia ingin sekali meminta penjelasaan setelah dia mendengar nama Zhongren dan Hyojung disebut.

“Kau hanya akan membahayakan keluargamu dan jabang bayimu Hyojin, ingat..Joonmyeon selalu tahu cara menghancurkanmu.” Cha Mira memberi peringatan, dia terdengar sangat serius.

“Eommoni, aku tidak bisa membiarkan kedua adikku dalam bahaya bagaimana jika dia mencoba membunuh Zhongren dan Hyojung? Aku tidak memaafkan diriku sendiri.” Ucap Hyojin.

Mendengar itu Cha Mira kelihatan tersentuh, dia tentu saja mengerti perasaan Hyojin. Dulu dia ada diposisi Hyojin, dia tidak pernah menyangka kalau dia akan membesarkan seorang monster yang kejam seperti Joonmyeon apalagi dengan wajah tampan itu tidak ada seorangpun yang akan menyangka kalau hati anaknya itu busuk.

“Kau tahu kenapa aku disini sekarang?”

Hyojin menggelengkan kepalanya namun dia benar-benar ingin tahu, dia ingin tahu latar belakang kenapa seorang Cha Mira bisa berakhir disebuah rumah sakit jiwa yag snagat terpencil.

“Karena aku mencoba menyelamatkan suamiku, karena aku mencintai dia…aku mencoba menyelamatkan Boyoung juga walaupun aku sempat membenci wanita itu.” Ungkap Cha Mira.

“Aku gagal menyelamatkan Boyoung, tapi aku bahagia melihat Jongin sekarang sudah tumbuh besar.” Cha Mira tersenyum pahit.

“Eommoni apa yang terjadi? Kenapa kau ada disini sekarang?”

Mendengar pertanyaan itu Cha Mira mengepalkan tangannya penuh emosi, ekspressi marah terlihat jelas menghiasi wajah tuanya. Cha Mira menatap kearah Hyojin membuat Hyojin semakin penasaran.

“Kau tahu suamiku meninggal benarkan?”

“Ya, aku tahu Eommni.”

“Bajingan itu…Bajingan itu membunuh suamiku! Dia bukan anakku! Dia hanya monster yang ambisius.”

“Eommoni..” Hyojin menyentuh tangan Cha Mira.

“Siang itu aku mengantarkan makan siang untuk Taehyun, dia mengatakan kalau dia sedang tidak enak badan dan ingin makan sup buatanku.” Cha Mira mulai bercerita.

“Aku pergi sebentar untuk memasak saat itu, aku kira Joonmyeon sedang pergi kekantor namun saat aku kembali aku melihat Joonmyeon menyuntikan sesuatu pada Taehyun. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang Joonmyeon berikan pada suamiku, tapi setelah dia selesai menyuntikan cairan itu…Taehyun langsung kejang-kejang dan akhirnya detak jantungnya berhenti seketika.”

Airmata Cha Mira langsung menetes mengenang kejadian tragis itu, dia masih mengingat ekspressi kesakitan Taehyun saat dia sekarat. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu jika dia mencoba menolong Joonmyeon akan memburunya dan mungkin akan melakukan hal yang sama padanya.

“Dia begitu kejam sekali…Taehyun meronta-ronta meminta tolong padanya namun dia hanya berdiri disana dengan senyum gilanya, dia membiarkan ayahnya sendiri meninggal dan berpura-pura panik sambil menelepon nomor darurat.”

Mendengar cerita itu Hyojin semakin khawatir, Joonmyeon bisa dengan mudah membunuh ayahnya sendiri seperti itu dia pasti tidakakan ragu membunuh Hyojung dan Zhongren juga. Yifan menyentuh tangan Hyojin, dia tahu istrinya itu sangat khawatir sekali dengan keadaan Zhongren dan Hyojung.

“Apakah ada jalan untuk menghentikan Joonmyeon? Aku mohon…” Hyojin memohon dan Cha Mira hanya menggelengkan kepalanya.

“Satu-satunya jalan untuk menghentikan Joonmyeon hanyalah membunuhnya, aku tahu kau tidak akan mampu kau terlalu lemah Hyojin.” Cha Mira menjawab.

Mendengar kata ‘Membunuh’ keluar dari mulut Cha Mira membuat Hyojin gemetar penuh ketakutan, mana mungkin dia bisa membunuh seseorang? Dia bahkan tidak berani untuk menyakiti seseorang.

“Ini adalah kenyataan yang pahit Hyojin, kau harus belajar menerimanya.”

“Tapi Eommoni..”

“Hyojin-ah, jika kau tidak ingin mengorbankan sesuatu jangan bermain api dengan Joonmyeon kecuali kau cukup berani menghadapi segala konsikuensi.”

Hyojin mengangguk saat dia mendengar penjelasan Cha Mira, dia tahu wanita paruh baya itu tidak ingin dia dalam bahaya itulah kenapa dia menyuruh Hyojin untuk mundur. Namun Hyojin tidak bisa mundur, dia tidak bisa membiarkan kedua adiknya dalam bahaya sedangkan dia bersenang-senang dengan Yifan.

“Sebaiknya kalian pulang, aku tidak ingin mendengar tentang Joonmyeon lagi.” Cha Mira langsung berdiri dan seorang suster yang ada diluar membawanya kembali keruangannya.

Hyojin hanya termenung, dia menatap kosong kearah sosok Cha Mira yang perlahan-lahan menjauh darinya. Hatinya terasa berat saat dia melihat Cha Mira semakin menjauh darinya, didalam hatinya dia masih berdoa agar Cha Mira menemukan jalan untuk menghentikan Joonmyeon dia ingin semua ini berhenti.

“Jadi, apa kau akan menuruti nasihat Cha Mira?” Yifan bertanya saat mereka berjalan keluar di koridor rumah sakit.

“Aku tidak bisa tinggal diam Oppa.”

“Tapi Hyojin..”

“Aku tidak akan tinggal diam Oppa, apakah kau tidak khawatir pada Zhongren?apakah kau tidak peduli pada Hyojung? Aku tidak akan senang jika mereka berdua dalam bahaya.” Hyojin berkata membuat Yifan menutup mulutnya.

Dia tahu istrinya itu sangat menyayangi Zhongren dan Hyojung, Yifan menghargai itu namun dia sendiri ketakutan. Dia sendiri takut kehilangan istrinya dan calon jabang bayinya, dia tahu ini bukan saatnya untuk egois tapi dia tidak ingin kehlangan kebahagiaan yang selama ini dia tunggu-tunggu.

“Aku mengerti Hyojin, tapi kau harus memperhatikan anak kita juga…bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Aku tidak ingin anak kita dalam bahaya.” Yifan mengungkapkan.

Mendengar itu Hyojin tersenyum lembut pada Yifan, dia menangkup wajah suaminya itu dia tidak pernah melihat betapa rapuhnya Yifan sekarang dia terlalu sibuk memikirkan hal lain sehingga dia tidak sadar dengan emosi suaminya. Yifan menyentuh tangan Hyojin, dia menutup matanya dan mendekat kearah Hyojin membuat dahi mereka bersentuhan.

“Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya, aku hanya ingin kita bahagia.” Yifan mengungkapkan, suaranya terdegar seperti memelas.

“Kau tidak akan kehilanganku Oppa, kita akan bersama.” Hyojin berkata meyakinkan Yifan.

“Aku tahu itu, tapi dengan ancaman Joonmyeon aku tidak yakin.” Yifan menjawab.

“Kita bisa melewatinya, Oppa kau tidak ingin Zhongren terluka iyakan?”

Yifan mengangguk, Hyojin benar dia menyayangi Zhongren dia tidak melihat adiknya menderita bagaimanapun juga Zhongren adalah orang yang selalu setia mengikutinya saat mereka masih susah dulu. Dia tidak akan membiarkan Joonmyeon menyakiti adiknya, Yifan tersenyum kearah Hyojin lalu dia mencium dahi Hyojin.

“Aku akan menangani Joonmyeon, kau mengawasi Zhongren dan Hyojung apa kau setuju?” Yifan bertanya, mendengar itu Hyojin tersenyum.

“Setuju.” Jawabnya dan merekapun berpelukan.

Yifan memeluk Hyojin dengan erat dan mencium leher istrinya itu menghirup aroma tubuh istrinya berharap kalau mereka akan baik-baik saja.

Yongguk yang baru selesai berjalan-jalan masuk kedalam rumah sakit, dia melihat Hyojin dan Yifan berpelukan di koridor rumah sakit. Yongguk tersenyum, Hyojin dan Yifan terlihat sangat serasi dia baru menyadari itu karena dulu dia terlalu sibuk untuk cemburu pada Yifan karena dia masih mencintai Hyojin cinta yang mereka miliki membuat Yongguk sangat iri dia harap dia dan Taeyeon bisa seperti Hyojin dan Yifan.

Tidak peduli apapun yang terjadi Hyojin dan Yifan pada akhirnya akan kembali pada satu sama lain dan Yongguk ingin dia dan Taeyeon seperti itu, menjadi pasangan yang memiliki ikatan kuat dan dekat penuh kehangatan dan kepercayaan untuk pasangan.

*****

Joonmyeon menghentikan mobilnya tepat didepan rumah keluarga Jung, dia melirik kearah Hyojung yang masih duduk disampingnya dan tidak mengatakan apapun. Mungkin Hyojung sedang memikirkan sesuatu, dia tahu apa yang wanita itu sedang pikirkan dia pasti sedang melatih dirinya untuk meminta hubungan antara dirinya dengan Zhongren berakhir.

“Kau tak usah memikirkannya, jujurlah padanya.” Joonmyeon berkata membuat Hyojung melirik kearahnya.

“Aku tidak ingin menyakitinya Oppa.”

“Bagaimanapun caramu mengatakannya dia akan terluka, sebaiknya kau jujur.” Joonmyeon memberi nasihat.

“Aku tahu itu…”

Hyojung menunduk sedih, Joonmyeon mengenggam tangan Hyojung dan mencium tangan Hyojung membuat Hyojung tersenyum padanya penuh dengan kelembutan. Joonmyeon menyeringai saat dia melihat cinta yang terpancar dalam mata wanita itu, dia benar-benar mendapatkan Hyojung hatinya dan raganya.

Dia sedikit bangga dengan pencapaiannya dia kira menggoda Hyojung akan sedikit lebih susah namun sepertinya dia salah, wanita ini terlalu kesepian untuk bermain jual mahal padanya.

“Aku mencintaimu Hyojung, apapun yang terjadi aku akan selalu ada disampingmu.” Joonmyeon menenangkan Hyojung yang kelihatan panik.

“Ya, aku tahu itu Oppa..aku juga mencintaimu.” Jawab Hyojung.

Hyojung mendekat dan Joonmyeon mencium bibir Hyojung sekilas lalu mereka berpisah, Hyojung turun dari mobil Joonmyeon setelah itu dia melambaikan tangannya untuk terakhir kalinya lalu masuk kedalam rumah. Ponsel Joonmyeon bergetar saat Hyojung baru masuk kedalam rumahnya, Joonmyeon bisa melihat dilayar ponselnya tertulis nama Seohyun dia terkejut dan segera mengangkat telepon itu.

“Ada apa?apa seseorang menjenguk Cha Mira?” Tanya Joonmyeon.

“Ya tuan, dua orang bernama Wu Hanbyul dan Wu Yifan datang menjenguknya.” Jawab Seohyun.

“Oh mereka..baiklah, terus awasi Cha Mira beritahu aku jika ada orang lain yang menjenguknya.” Joonmyeon memberi komando.

“Baik tuan.”

Setelah percakapan singkat mereka Joonmyeon menutup teleponnya, dia menatap tajam kearah jendela keluarga Jung.

“Hm..sepertinya seseorang ingin bermain permainan denganku.” Joonmyeon menyeringa jahat, dia menghidupkan mesin mobilnya mengarahkan mobilnya keluar dari halaman rumah keluarga Jung.

Hyojung berjalan menuju kamarnya, entah kenapa hari ini rumahnya sangat sepi. Oh iya dia baru ingat kalau kakaknya dan Yifan pergi ke Busan untuk mengunjungi Yongguk dan Taeyeon, dia sedikit bersyukur mungkin dengan absennya Hyojin dan Yifan dia bisa putus dengan Zhongren secara baik-baik dan tenang.

Kaki Hyojung sedikit gemetar saat dia menaiki tangga, dia berdoa jika Zhongren bisa menerima keputusannya. Dia sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, dia sudah tidak bahagia dengan Zhongren karena mereka perlahan-lahan semakin menjauh dia merasa kalau Zhongren sudah berubah menjadi orang asing yang tidak dia kenal dia sekarang Zhongren hanyalah seseorang yang tidur bersamanya dan terkadang menciumnya dengan malas.

Peran Zhongren dalam hidupnya sudah berubah sejak lama, mereka mungkin kelihatan bahagia dulu namun beberapa bulan ini Zhongren dan dirinya tidak bahagia. Cinta yang biasa mereka miliki sekarang hancur dan mulai menghilang, Zhongren kelihatan bosan padanya dan Hyojung takut jika dia hanyalah beban untuknya.

Membuka pintu kamarnya dia bisa melihat Zhongren sedang duduk diranjang mereka, dia tersenyum saat dia melihat Hyojung memasuki kamar mereka. Zhongren berdiri dan memeluk Hyojung dengan erat, membuat Hyojung terkejut.

“Aku khawatir sekali, darimana saja kau? Aku menelepon kantormu tapi sekertarismu bilang kau sudah pulang sejak tadi.” Zhongren melepaskan pelukannya.

“Oh..aku makan malam dulu bersama Joonmyeon oppa tadi.” Jawab Hyojung, dia sedikit merasa bersalah saat dia menyebutkan nama Joonmyeon didepan Zhongren.

“Begitu ya, belakangan ini kau dekat dengan dia.” Ucap Zhongren, dia terdengar sedikit curiga.

Hyojung hanya tersenyum, dia mengurungkan niatnya untuk putus dengan Zhongren sekarang. Zhongren kelihatan lelah dia tidak ingin mengangguk lelaki itu, Hyojung mengangkat bahunya tidak menjawab pertanyaan Zhongren dan pergi menuju kamar mandi dikamar mereka.

Melihat Hyojung yang mengacuhkannya Zhongren semakin curiga, entah kenapa rasanya ada balon yang akan pecah didadanya. Dia memiliki prasangka yang sangat buruk, dia mencoba mengacuhkan perasaan itu mungkin dia hanya paranoid.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku Hyojung.” Zhongren berjalan menuju kamar mandi.

Dia bisa melihat Hyojung mencuci mukanya, kekasihnya itu hanya tersenyum tipis kearahnya dan melepaskan blazer coklat yang dia gunakan lalu menggantung nya dilemari mereka.

“Kau benar, aku dan dia dekat lalu? Aku lelah..pekerjaan kantor banyak sekali jadi aku harus bangun pagi-pagi.” Hyojung menghindar dari Zhongren dan segera mengganti bajunya mengacuhkan Zhongren yang masih berdiri diambang pintu kamar mandi.

“Apa kau marah padaku?” Zhongren bertanya.

“Tidak oppa, tidurlah ini sudah malam.”

Hyojung berbaring diranjang mereka setelah dia selesai mengganti bajunya, dia pura-pura memejamkan matanya dan tertidur. Dia bisa mendengar Zhongren menghela nafasnya dan berjalan entah kemana lalu akhirnya dia mendnegar pintu kamar mereka ditutup, Hyojung akhirnya membuka matanya dan airmatanya langsung menetes.

Hubungan dia dan Zhongren benar-benar hancur sejak dulu lalu kenapa saat dia mencoba melepaskan dirinya dari Zhongren rasanya sakit sekali? Kenapa airmatanya langsung menetes saat dia mendengar desahan nafas Zhongren yang penuh dengan beban?

Zhongren mengambil botol wine putih yang ada didalam kulkas dapur, dia duduk disalah satu kursi meja makan kecil yang ada didapur. Dia menuangkan wine putihnya kedalam gelas yang sudah dia bawa dan dia meneguknya sekaligus, dia meringis saat dia merasakan cairan beralkohol itu sedikit asam di lidahnya.

Zhongren merasa bodoh sekali bagaimana dia tidak menyadari kalau dia dan Hyojung semakin menjauh setiap harinya, walaupun mereka berting kalau mereka baik-baik saja Zhongren tahu mereka mulai hancur. Semua cinta yang biasa mereka rasakan perlahan hilang berganti menjadi rasa bosan, mereka tidak pernah bahagia lagi seperti dulu mereka berubah menjadi orang asing yang tidur di ranjang yang sama.

Zhongren terlalu sibuk dengan drama barunya sedangkan Hyojung sibuk dengan pekerjaannya, tak ada lagi komunikasi yang biasa mereka punya. Sekarang mereka hanay bertukar salam dan pergi pada aktivitas mereka masing-masing, tidak ada pelukan atau ciuman hangat seperti dulu.

Gelas wine ditangan Zhongren terasa dingin, mungkin dia memasukan terlalu banyak es batu entahlah Zhongren tidak peduli. Pikirannya terlalu terfokus pada Hyojung, dia rasanya ingin memuntahkan semua keresahannya namun dia tidak tahu pada siapa.

Yifan sekarang terlalu sibuk dengan keluarga kecilnya, jika dia bercerita pada Hyojin tentu saja kakak iparnya itu akan membela Hyojung karena dia adik kecilnya. Zhongren menghela nafasnya, dia berharap Yongguk masih tinggal disini, mungkin jika lelaki itu masih disini dia bisa mengobrol dengannya lebih leluasa karena dia tahu Yongguk tidak memihak pada siapapun.

Ponsel Zhongren bergetar membuat Hyojung membuka matanya, sepertinya Zhongren lupa membawa ponselnya. Hyojung bangun dari tidurnya dan mencapai ponsel Zhongren yang ada di meja cermin, dia bisa melihat nama Yura tertera di layar ponsel kekasihnya itu.

Hyojung membuka pesan yang Yura kirimkan untuk Zhongren, dia bisa melihat tulisan didalam pesan singkat itu.

Zhongren-shi bagaimana tanganmu? Apa sudah baikan? Ada apa denganmu tadi siang? Kau terlihat tidak fokus dan sedih.

Membaca pesan itu tangan Hyojung gemetaran, pakah Zhongren sudah mengetahui tentang dia dan Joonmyeon? Tidak mungkin. Dia dan Joonmyeon sebaiknya lebih berhati-hati namun apa poin nya? Hyojung ingin meninggalkan Zhongren, haruskah ia bersyukur jika Zhongren sudah tahu?

Hyojung memutuskan untuk turun kebawah , dia bisa melihat Zhongren meminum wine putih dimeja dapur dia kelihatan sedang melamun.

“Ehm..” Hyojung berdehem dan Zhongren mendongak, dia tersenyum saat melihat sosok Hyojung.

Hyojung benci senyuman itu, senyuman Zhongren yang penuh kasih sayang untuknya. Hyojung tahu dia tidak layak mendapatkan senyum itu, Zhongren seharusnya marah dan mengutuknya karena dia sudah berselingkuh dengan kakaknya sendiri namun Hyojung hanya menunduk dan duduk disamping Zhongren.

“Kau mau minum juga?”

“Tidak usah.”

Keheningan sejenak menyelimuti mereka, entah mengapa mereka sangat canggung sekali sekarang mereka merasa kalau mereka kembali lagi pada titik awal hubungan mereka.

“Kau mendapat pesan dari Kim Yura, aku rasa kau dan dia sangat dekat.” Hyojung berkata membuat Zhongren sedikit tegang.

“Kami hanya teman Hyojung, kau tak usah khawatir…” Zhongren menenangkan, Hyojung hanya tersenyum tipis.

“Apa kau menyukainya?”

“Tidak, aku menyukaimu.”

Hati Hyojung terasa ditusuk oleh seribu pisau, dia benar-benar merasa bersalah karena dia tidak berpiir seperti itu. Dulu mungkin, namun sekarang rasanya tidak ada lagi cintanya yang tersisa untuk Zhongren.

“Dia seperti wanita yang baik, dia bahkan mengkhawatirkan mu.”

“Hyojung kau tak usah cemburu, kau satu-satunya untukku.”

Zhongren mencapai tangan Hyojung dan meremasnya menyakinkan Hyojung kalau perkataannya benar, Hyojung bisa melihat tangan Zhongren yang diperban. Bagaimana dia tidak menyadari itu? Mungkin dia terlalu banyak memikirkan soal Joonmyeon.

“Aku tidak cemburu, aku hanya…jika kau menyukai Yura kau bisa pergi padanya.”

Mendengar perkataan Hyojung hati Zhongren seakan hancur berkeping-keping, apakah Hyojung baru saja melepaskannya? Kemana Hyojung yang posesif yang dia cintai?kemana gadis tujuh belas tahun yang tergila-gila padanya sampai menangis? Kemana Jung Hyojung yang dia cintai?

“K-kenapa?”

“Maafkan aku oppa, aku tidak bisa bersamamu lagi.”

Mendengar itu Zhongren melepaskan tangannya dari tangan Hyojung, airmatanya mengancam untuk turun dan menetes namun dia menahannya membuat tenggorokannya terasa kering.

“Oh..jadi kau ingin putus denganku?”

“Oppa, kau tahu kita tidak bahagia..”

“Kenapa? Begitu mudah sekali…”

“Aku tidak tahu, mungkin kita memang bukan jodoh.”

Mereka berdua termenung, bertahun-tahun bersama melewati segala rintangan bukanlah jaminan untuk kelanggengan mereka. Mereka tidak pernah menyangka hubungan mereka akan berakhir disini, mereka kira mereka akan selamanya sampai mati memisahkan mereka namun sepertinya itu hanya fantasi yang indah bagi mereka sekarang.

“Baiklah jika itu yang kau mau.” Zhongren berdiri dari duduknya, dia mengambil jaketnya dan kunci mobil.

“Kau mau kemana? Ini sudah malam?” Tanya Hyojung.

“Menjauh darimu.” Jawab Zhongren dengan dingin.

“Oppa!”

Hyojung memanggil mencoba mencegah Zhongren untuk keluar namun dia terlambat karena Zhongren sudah membanting pintu rumah didepan wajahnya, Hyojung menyentuh pintu rumah dan dia ambruk kelantai menangis.

“Maafkan aku oppa..” Hyojung berbisik ditengah tangisnya, dia tahu ini semua salahnya.

Joonmyeon benar, tidak peduli bagaimanapun dia menyampaikannya Hyojung pada akhirnya kan meyakiti perasaan Zhongren. Dia tidak bisa menghindari itu, namun Hyojung sudah lelah dia tidak ingin berbohong lagi pada dirinya sendiri dia sudah tidak mencintai Zhongren mereka sudah rusak sejak lama mereka hanya takut menghadapi kenyataan.

******

Jiyoung dan Sehun berjalan dipantai, mereka menatap kearah langit malam yang gelap tak ada bintang namun bulan bersinar sangat terang. Mereka menimati suara ombak yang terdengar sangat jelas, kaki mereka terkubur dalam pasir namun mereka tidak peduli selama mereka memiliki satu sama lain semuanya tidak penting.

“Sehun…” Jiyoung berkata dan dia melepaskan tangannya dari lengan Sehun.

“Iya noona?”

“Ini saatnya aku pergi.”

Sehun tahu itu, saat dia mendengar apa yang Jiyoung katakan dia membantu wanita itu untuk berdiri. Jiyoung melirik karah kanannya dan menatap kearah Eunmi yang sudah ada disampingnya siap mengambil alih tubuhnya kembali, Jiyoung tersenyum kearah Eunmi seakan dia mengatakan terimakasih banyak dengan senyumnya itu.

“Maafkan aku Sehun, aku tidak bisa terus ada disampingmu sekarang..ini sudah waktunya aku mengembalikan tubuh Eunmi.” Jioung terdengar sangat sedih saat dia mengatakan itu, Sehun sekuat tenaga menahan airmatanya dan tersenyum.

“Aku mengerti noona.” Suaranya terdengar sedikit gemetar namun itu tidak membuat Jiyoung curiga kalau dia akan menangis.

“Jaga dirimu baik-baik, aku menyayangimu Sehun.” Jiyoung berbisik sebelum dia mengecup pipi Sehun membuat Sehun semakin kesusahan untuk menahan airmatanya.

“Ya, kau tak usah khawatir noona aku bukan anak kecil.” Ucap Sehun, Jiyoung tersenyum lalu mengangguk.

“Bagus kalau begitu, aku mengandalkanmu Sehun.” Jiyoung akhirnya melagkah menjauh dari Sehun.

“Aku akan menunggumu, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.”

“Ya noona, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.”

Walaupun berat Sehun tahu dia harus melepaskan Jiyoung, ini yang terbaik untukmu mereka dan Sehun tahu itu dia bukanlah remaja yang naïve dan egois sekarang. Dia sudah tumbuh dewasa menjadi lelaki yang lebih kuat dan tegas, apapun keputusanyang Jiyoung buat dia akan menerimanya.

Meskipun itu artinya dia harus menunggu waktu yang lama untuk bersama Jiyoung kembali dia akan melakukan itu, karena dia tahu Jiyoung menginginkan yang terbaik untuknya. Sehun hanya bisa berdoa semoga Jiyoung tenang disana, semoga dia tidka berkelaran lagi didunia yang kelam ini.

“Noona, aku mencintaimu.”

Mendengar itu airmata Jiyoung langsung menetes, dia tidak bisa menahan rasa sakit yang ada di dadanya saat dia melihat betapa menyedihkannya Sehun. Oh..andaikan dia bisa tetap disamping Sehun kecilnya dia ingin sekali, namun takdir kejam dia tidak bisa tetap ada didalam tubuh Eunmi.

“Aku juga Sehunnie, selamat tinggal.”

“Selamat tinggal noona.”

Sehun tersenyum, dia tersenyum bikan karena dia bahagia namun dia tidak ingin kenangan terakhir antara dia dan Jiyoung hanyalah aimata dan sakit hati.

Dia ingin momen terakhirnya dengan Jiyoung indah dan penuh dengan senyuman, Sehun mendekat kearah Jiyoung dia menyeka airmata Jiyoung.

“Jangan menangis, aku ingin melihat kau tersenyum noona.”

Mendengar itu Jiyoung berhenti menangis, dia menahan sekuat tenaga airmatanya agar tidak menetes. Dia juga ingin meninggalkan kenangan yang indah bukan kenangan pahit yang kelam, dia ingin mengingat wajah bahagia Sehun untuk terakhir kalinya.

Jiyoung menyentuh hidung Sehun, jarinya menyentuh kulit kulit halus hidung Sehun lalu turun menuju bibir lelaki itu. Sehun menyentuh tangan Jiyoung, mereka tahu inilah perpisahan mereka.

Sehun menarik Jiyoung dan menciumnya, Jiyoung tidak membalas ciumannya karena dia sekarang sudah keluar dari tubuh Eunmi. Sehun terkejut saat tubuh Eunmi ambruk dan dia menahannya, airmatanya langsung keluar saat dia sadar kalau Jiyoung sekarang benar-benar sudah pergi dan dia tidak akan kembali.

“Aku akan merindukanmu noona.” Sehun berbisik.

Arwah Jiyoung duduk disamping Sehun dan menyentuh pipi Sehun, Sehun yang merasakan hawa dingin di pipinya melirik kearah kanannya. dia tersenyum, dia tahu jika itu adalah Jiyoung.

“Pergilah noona,aku akan baik-baik saja.”

Mendengar itu Jiyoung merasa lega, saat dia melirik kearah laut dia melihat cahaya putih yang sangat terang. Jiyoung tersenyum, sepertinya urusannya sudah selesai disini, saat dia melirik kearah belakang dia bisa melihat arwah Boyoung tersenyum kearahnya.

“Pergilah, ini sudah waktunya.” Boyoung berkata.

“Terimakasih Eommoni, untuk semuanya.”

“Sama-sama, semoga kau tenang disana.”

Jiyoung mengangguk lalu berbalik kearah cahaya putih itu, dia melangkah perlahan menuju cahaya itu dan akhirnya seluruh tubuhnya menghilang di balik cahaya putih yang sanga terang itu. Boyoung tersenyum namun dia menangis, dia bahagia untuk Jiyoung tapi dia juga akan merindukan temannya itu.

“Selamat tinggal Jiyoung.”

Tak menunggu lama Eunmi mulai membuka matanya, dia mencoba menggerakan tangan dan kakinya secara perlahan. Dia bisa melihat sosok Sehun menatap kearahnya, Sehun tersenyum kearah Eunmi dan membantunya berdiri.

“Jadi sekarang kau Eunmi?” tanya Sehun.

“Ya, aku Eunmi.” Eunmi menjawab.

“Terimakasih Eunmi, untuk segalanya.” Ucap Sehun, lelaki itu mungkin tersenyum namun Eunmi bisa melihat jika dia masih sedih dengan kepergian Jiyoung.

“Soal Jiyoung Eonni, aku turut berduka cita.”

“Tak usah, dia memang harus pergi.” Sehun membalas.

Eunmi hanya bisa menunduk, dia tidak tahu apa yangharus diakatakan namun dia tidak bisa melihat Sehun sdih seperti ini.

“Oh iya, kemarin aku dan Jiyoung noona bertemu dengan pacarmu, Lee Howon sebaiknya kau menjelaskan apa yang terjaid padanya.”

“Oh soal itu, ya aku akan mengurusnya besok.”

Sehun mengangguk lalu dia membuka pintu mobilnya untuk Eunmi, dia membiarkan Eunmi untuk masuk. Eunmi merasa canggung sekali, dia sadar kalau perubahan sikap Sehun jelas sekali sekarang, dia bahkan tidka melirik kearahnya setelah Jiyoung keluar dari tubuhnya.

Setidaknya mungkin semuanya akan kembali normal walaupun begitu entah kenapa Eunmi merasa tidak nyaman, dia tidak ingin semuanya kembali normal. Dia ingin memiliki Sehun, sama seperti Jiyoung dia ingin bersama Sehun.

Bukan sebagai teman melainkan sebagai wanita, dia ingin Sehun mencintai seperti bagaimana Sehun mencintai Jiyoung. Eunmi melirik kearah Sehun, Sehun sama sekali tidak menunjukan emosi sekarang pandangannyapun terfokus pada jalanan.

“Apa setelah Jiyoung eonni pegi kau akan melupakannya dia?” Eunmi akhirnya memecahkan hening.

“Huh? Oh soal itu..aku tidak tahu Eunmi.” Jawab Sehun ragu.

“Bahkan sampai akhir sepertinya kau tetap menyukai Jiyoung eonni.” Eunmi bergumam, Sehun melirik kearah Eunmi.

Wajah sahabatnya itu terlihat sangat menyedihkan sekarang, Sehun tahu Eunmi ingin Sehun melanjutkan hidupnya dan melupakan semua tentang Jiyoung. Namun itu bukanlah Oh Sehun, dia tidak bisa melupakan Oh Jiyoung begitu saja, mereka melewati banyak hal bersama dan kenangan itu sangat berharga bagi Sehun.

Sehun tidak membalas perkataan Eunmi, dia hanya ingin kembali ke rumahnya dan mungkin tidur jika dia bisa. Eunmi tiba-tiba saja menyentu lengannya, Sehun melirik dan dia melihat Eunmi tersenyum kearahnya.

“Jika kau butuh sesuatu, katakanlah aku akan membantu.” Ucap Eunmi dan Sehun mengangguk, sahabatnya yang satu ini memang bisa diandalkan.

Setelah beberapa menit diperjalanan mereka sampai didepan rumah Eunmi, Sehun mematikan mesin mobilnya.

“Masuklah, tidur dengan nyenyak.” Sehun menyuruh, dia mengelus kepala Eunmi.

“Iya, kau juga.” Jawab Eunmi, dia kahirnya turun dari mobil Sehun.

Belum juga mobil Sehun jauh dari pengelihatannya dia bia melihat Howon berdiri didepan pintu rumahnya sambil melipatkan tangannya. Eunmi menelan ludahnya, entah apa yang akan dia katakan pada Howon, dia tidak tahu apa yang harus ia jelaskan.

“Jadi, bagaimana? Kau sudah selesia berkencan dengan shabaatmu?” Howon bertanya dengan sinis.

“Howon-shi..”

“Kenapa? Apa kau hanya ingin mempermainakan perasaanku?” Howon bertanya, Eunmi mencoba menyentuh lengan Howon untuk menenangkan kekasihnya itu.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Bagaimana? Apa kau akan meninggalkanku untuk dia?”

“Kau tidak mendengarkan!” Eunmi akhir kehilangan kesabarannya, Howon menatap kearah Eunmi karena terkejut.

“Dengarkan aku, Sehun dalam keadaan tidak stabil dia baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti untuknya aku mencoba menghibur dia.” Eunmi menjelaskan dengan nada suara yang lebih lembut sekarang.

“Aku tahu, tapi kenapa Eunmi? Kenapa kau lebih membela dia dibandingkan aku?”

“Howon-shi, mengertilah aku sudah mengenal Sehun cukup lama…aku juga minta maaf aku tidak bermaksud untuk memilih pihak.” Eunmi menyentuh pipi Howon, Howon akhirnya luluh setelah Eunmi menyentuhnya.

“Kau tidak berbohong?”

“Kenapa aku harus berbohong Howon? Aku menyukaimu.”

Mendengar itu Howon menghela nafasnya lega, dia akhirnya memeluk Eunmi membuat Eunmi tersenyum lega. Namun saat dia memeluk Howon dia melihat ayahnya menatap kearah mereka, Eunmi hendak tersenyum namun ayahnya itu malah pergi meninggalkan mereka sepertinya dia tidak senang dengan apa yang dia lihat.

Eunmi kebingungan mungkin dia masih belum merestui hubungannya dengan Howon, Eunmi melepaskan pelukannya dan tersenyum kearah Howon.

“Pulanglah ini sudah malam.” Eunmi menyuruh.

“Baiklah, besok aku akan menjemputmu dan kau harus ada bersamamu seharian.” Howon berkata dan Eunmi mengangguk.

“Iya, kau tak usah khawatir besok aku akan ada bersamamu.”

Setelah Howon pamit akhirnya dia pulang, Eunmi menunduk merasa bersalah. Dia tidak bisa berbohong meskipun dia menyukai Howon dia tidak mencintainya. Tidak pernah merasa gugup saat dia bersama Howon beda seklai sata dia bersama Sehun, jantungnya tidak pernah berdebar-debar saat bibirnya dan bibir Howon bertemu namun dengan Sehun walaupun hanya sentuhan simpel jantungnya berdetak seakan-akan jantungnya itu akan meledak.

Eunmi masuk kedalam rumah dan dia langsung di sambut oleh Eunhee dan ibunya yang menunggu di ruang tengah rumah mereka. Eunmi tahu kedua wanita itu pasti akan memarahinya sekarang, mungkin Howon mengatakan apa yang terjadi kemarin.

“Aku dengar kau pergi bersama Sehun?” Ibunya bertanya.

“Eomma aku bisa menjelaskan…”

“Eunmi! Apa yang kau pikirkna?! Dia sudah punya tunangan, apa kau gila?” ibunya marah.

“Aku tahu itu Eomma.”

“Lalu kenapa kau pergi bersamanya?”

Eunmi mengigit bibirnya, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia tidak bisa mengatakan kalau kemarin dia kerasukan Jiyoung dan mengijinkan Jiyoung untuk bercinta dengan Sehun menggunakan tubuhnya, dia juga tidak bisa mengatakan kalau dia membenturkan kepalanya dan menjadi gila kemarin.

“Aku hanya ingin menghiburnya Eomma, dia sedang sedih.”

“Oh dengan mengacuhkan Howon?! Kau tahu Howon adalah anak direktur Lee jika dia tidak senang ayahmu dalam bahaya.”

“Cukup!”

Eunmi, Eunhee juga ibunya melirik kearah ayah Eunmi. Mereka terkejut sata melihat ayah Eunmi berjalan kearah Eunmi dan menyentuh bahu anak perempuannya itu, Eunmi sedikit tegang namun dia tidak mengatakan apapun.

“Aku tidak peduli pada Lee Howon ataupun keluarganya, kita punya masalah yang lebih serius.”

Ayah Eunmi berkata, dia duduk di kursi membuat Eunmi menatap khawatir kearah ayahnya. Dia akhirnya duduk disamping ayahnya begitu juga dengan Eunhye dan ibunya.

“Ada apa appa?” Eunmi bertanya penuh kekhawatiran.

“Eunmi, bagaimana kalau kau berhenti bertemu dengan Howon?

Mendnegar itu dunia Eunmi terasa hancur, kenapa ayahnya ingin dia berhenti bertemu dengan Howon? Apa ada sesuatu yang salah dengan Howon?

“Kenapa Appa?”

“Jika kau benar-benar anakku, kau harus menuruti perkataanku ini.”

Eunmi mengangguk.

“Perusahaan kita dalam bahaya, kita harus segera mencari bantuan dengan cepat dan aku tahu ini slaah tapi…kau harus menghancurkan Daeguk.”

“Apa?!”

“Daeguk hanyalah perusahaan yang baru tapi mereka sudah mencuri sebagian besar costumer perusahaan kita, saham perusahaan kita dalam bahaya Eunmi aku mohon bantulah perusahaan kita untuk bangkit lagi.” Ayah Eunmi menyentuh tangan Eunmi, dia bahkan tidak bisa mengatakan tidak pada ayahnya.

“Appa, aku yakin pasti ada jalan lain.” Eunhee berkata.

“Tidak Eunhee, kami sudah mencoba segalanya namun hasilnya nihil.”

“Tapi bagaimana Eunmi bisa menghancurkan Daeguk?! Dia bekerja disana.” Eunhee kelihatan marah sekarang.

“Eunmi kau tak usah menghancurkannya, kau bisa menguasainya dan mungkin setelah itu kau bisa membantu perusahaan kita.” Ayahnya memberi saran namun Eunmi terlalu kebingungan untuk menjawab ataupun berkata apapun sekarang.

“Tapi bagaimana Appa? Sehun sahabatku…” Ayah Eunmi menyeringai saat dia mendnegar nama Sehun.

“Aku tahu kau menyukai Sehun, jika kau berhasil menguasai Daeguk aku yakin Sehun juga akan berlutut padamu.”

Mendengar itu mata Eunmi melebar, darimana ayahnya tahu tentang perasaannya? Apakah ayahnya benar-benar memperhatikannya sehingga dia tahu detail sekecil itu? Ibu Eunmi yang mendnegar semua ini merasa terpukul.

Bagaimana dia tidak menyadari perasaan anak perempuannya sendiri, namun jika di ingat kembali perkatan suaminya itu mungkin benar.

“Baiklah Appa, aku akan berusaha.”

“Itu baru anak perempuanku.”

Eunmi tersenyum tipis, Eunhee dan ibunya hanya menatap khawatir kearah Eunmi. Eunmi tahu mulai besok hidupnya akan berubah, dia harus menyelamatkan perusahaan ayahnya yang akan hancur. Dia tahu betapa berartinya perusahaan ayahnya itu dan dia tidak ingin mengecewakan ayahnya karena selama ini hanya ayahnya lah yang percaya padanya dan menggandalkannya.

To Be Countinue….

Dont forget the comment😀

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

8 thoughts on “Great Ambition – Chapter 7

  1. aahhhh……sebel kesel bgt knp zhongren sma hyojung msti putus…tega bgt joonmyeon sumpah ksel bgt hyojun tega sma zhongren thor tar zhongren sma hyojung bkl bllik lgi kan???????

  2. Halooo kak seven :))
    Maaf ya aku muncul lamaaa banget😦 pake ga sempet komen lagi😦
    Aku baca dulu deh kak
    Keep writing kak :))

  3. wah hyojung jahat. kasian zhongren.a. . .
    hyojung kau masuk dalam perangkap junmyun. . . .
    junmyun kaya bukan org yg ambisius tp kaya psyco. . .

    wah eunmi😦

    thor aku minta pw d email loh. tp gk d bls!!!!!!!

  4. yaaa…. masax hyojung n zhongren pisah…. aku gak rela hicks…hickss….. untuk masalah Sehun n Eunmi daebak dah Eunmi bakal meninggalkan Howon? kasihan Howon… #Peluk Sunggyu Oppa hhee…. he ..

  5. aiishhh,jinjjaaa…kereenn bgt part ini,,,nyeseknya dapeeeeettt bgt,,zhongren sama hyojung putus,,,jiyoung sama sehun pisah,,junmen perdayain hyojung,,eunmi lagi d suruh kuasain perusahaannya sehun,,,wiihh daebakk,,aku suka bgt ceritanya,,byk konflik,,bner” bsa bkin suasana hati reader terbawa cerita,,,aaahhh pokonya daebak😀
    d tunggu banget kelanjutan kisahnyaaa

    author seven,,aku minta pw love thirst..pingin baca sequelnya tapi gtw awal ceritanya,, gwurry@gmail.com emailku,,jebal and gomawo🙂

  6. Sebel bngt ma joonmyeon,jahat bngt dia ngerusak hubungan zhongren sama hyojung..sedih pas baca part zhong-jung putus 😭😭,okay dech di tunggu lanjutanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s