Posted in FanFiction (semua umur)

Love Thrist 2 [Part 1]

Title: Love Thrist 2

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Wu Yifan/Kris [Exo],  Kim Hyebin/ Choi Gina [Oc],Kim Jongin/Kai [Exo], Aaron Kwak [Nu’est],Choi Sulli [F(x) , Hwang Minhyun [ NU’est], Ren [ NU’est]

Another supportive character..

Genre : Romance, Angst, Fantasy, VampireAu!

Length : Twoshoot

Rating : PG

Annyeoung reader’s maaf Seven balik lagi bukan bawa Ff Great Ambition tapi malah bawa sequel Ff Love Thrist, soalnya banyak yang minta sequel  kata  dongsaengku kekeke ^^ ini nih Eonni bikinin sequelnya tapi maaf yah Sulli sama Minhyunnya dikit. oh iya bagi belum baca yang pertama bisa baca disini –> Link  sebelumnya maaf kalau ada ketidak cocokan dengan keadaan yang sebenarnya waktu dulu. Soalnya Seven bukan orang Cina atau Korea jadi Seven gak tau dah gimana kedua negeri itu waktu dulu , gak lucu bangetkan kalau Seven bikin Ff ini nurutin tempat Indonesia waktu jaman dulu pas kerajaan Majapahit (Emangnya pelem nenek lampir?!) selain itu.. Enjoyy!! oh iya bagi readers yang mau curhat-curhatan atau sekedar iseng pengen nanya bisa nemuin Seven di Ask.Fm ini linknya —> ask.fm/Seven941 gak usah takut aku gak gigit kok hehhehe ….kecuali kalau kamu mau nyulik aku, yah.. terpaksa aku harus mengigit dan mengkarate mu (Kayak yang bisa aja?) segitu aja cuap-cuap Seven Enjoyy!!

1

Korea selatan 1814…

    Musik terdengar melantun cukup menghibur dan Yifan tersenyum melihat beberapa baris wanita menari dengan lincahnya dihadapan dia, kedua orangtuanya terlalu sibuk mengobrol dengan tamu lain daripada memperhatikan wanita-wanita yang menari menghibur mereka berdua. Sepertinya hanya Yifanlah yang cukup baik memberikan wanita –wanita itu perhatian karena tamu yang lainnya bertingkah dengan dengan orang tuanya, mereka lebih suka berdiskusi tentang bisnis dan kekayaan yang mereka miliki.

Yifan tidak pernah menyukai tuxedo, pakaian itu membuat dia merasa tercekik, sesekali dia membenarkan dasi yang dia kenakan dan melonggarkannya sedikit. Dia lebih suka memakai pakaian normalnya dari tuxedo yang dia kenakan sekarang, dia mengambil gelas wine yang ada didepannya dan menatap kembali kearah penari-penari yang masih sibuk mengikuti lantunan musik klasik.

Ini bukan pertamakalinya dia menghadiri acara di kerajaan Korea, namun entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang berbeda dipesta yang satu ini. Yifan berpikir apa mungkin makanannya? Minuman? Ataukah tamu yang dia temui? Yifan tidak tahu, dia tidak terlalu peduli karena pikirannya sekarang melayang kerumahnya di Cina yang nyaman dan tenang.

Banyak sekali tamu yang berdatangan dan itu membuat Yifan sedikit cemas, dia tidak pernah suka keramaian. Menghela nafasnya dia memutuskan untuk memperhatikan kembali tarian tradisional Korea yang ratu Sulli persembahkan untuk semua tamunya, sepertinya hari ini keberuntungan Yifan benar-benar jelek karena akhirnya musik berhenti dan para penari yang dia tonton kembali masuk kedalam belakang panggung meninggalkannya dengan beribu-ribu orang di aula kerajaan yang sangat besar.

Yifan mengerang kesal dia akhirnya berdiri dan melangkah kearah ayah dan ibunya yang sedang berbincang dengan seorang wanita, Yifan tersenyum saat dia mengenali sosok wanita itu dan dia berjalan menuju ketiga orang itu.

“Yifan! Darimana saja kau? Aku mencarimu.” Ibu Yifan berkata dan Yifan hanya memberikan senyum tipisnya.

“Maaf ma, aku lupa kalau dipesta ini ada yang mulia ratu Sulli.” Yifanberkata dan melirik kearah Sulli yang berdiri disamping ayahnya.

“Yang mulia, senang akhirnya bisa bertemu dengan anda lagi.” Yifan berkata dan dia mencium tangan Sulli membuat wanita itu tersenyum malu.

“Pangeran Kris, senang bisa bertemu dengan anda juga.” Sulli berkata, Yifan tersenyum akan ungkapan gadis itu.

“Bagaimana kalau kalian berdansa? Aku dan suamiku masih memiliki urusan yang lain.” Ibu Yifan berkata dan mendorong Yifan untuk mendekat kearah Sulli.

“Sampai jumpa lagi ratu Sulli.” Ibu Yifan dan ayahnya berpamitan dan meninggalkan Sulli dan Yifan sendirian.

“Jadi…apakah kau mau berdansa?” Yifan yang pertama memecahkan keheningan diantara mereka.

“Maaf Pangeran Yifan, tapi aku tidak bisa berdansa dengan baik.” Ratu Sulli berkata dia tersipu malu.

“Oh kau terlalu rendah hati ratu, aku yakin kau bisa berdansa dengan baik.” Yifan membujuk dan Sulli terlihat tidak nyaman dengan keadaan mereka.

“Yang mulia!”

Suara seorang lelaki terdengar dan Sulli tersenyum lebar saat dia mendengar panggilan itu, Yifan melirik kebelakang dan dia bisa melihat seorang lelaki yang memakai kostum berjalan kearah mereka. Lelaki itu terlihat seperti penghibur namun dia memang cukup tampan Yifan menilai, Sulli langsung mengabaikan dia dan berjalan kearah lelaki itu.

Yifan sekali lagi sial, sekarang dia harus terjebak sendirian karena ratu Sulli kelihatan lebih tertarik pada lelaki penghibur tadi dibandingkan dia. Yifan berjalan keluar dari aula dan memutuskan untuk menghirup udara segar diluar, Korea cukup dingin malam itu dan Yifansedikit mengigil.

Dia berjalan menulusuri taman kerajaan yang sangat luas dan indah, dia berpikir apakah dia sebaiknya pulang saja? Namun jika dia pulang kedua orang tuanya akan marah sekali dan dia tidak mood untuk mendengar ceramah kedua orang tuanya.

Saat dia sedang melamun tiba-tiba saja dia mendengar seseorang bersenandung, suara itu terdengar saat lembut. Suara itu seperti suara seorang wanita, atau lebih tepatnya seorang gadis muda dan Yifan penasaran dia berjalan mengikuti suara itu.

Pendengaran Yifan sangatlah baik, dia merupakan vampir dengan darah yang murni karena kedua orang tuanya vampir juga dan itu memberikan banyak keuntungan untuk Yifan salah satunya adalah pendengaran super yang sangat tajam. Dia melangkah dengan cepat secepat kilat dan akhirnya berhenti dibelakang sebuah pohon, dia bisa melihat punggung seorang gadis menunduk menatap kearah air mancur yang ada didepannya.

Gadis itu kelihatan cemas karena dia terus berjalan bolak-balik dan sesekali duduk sambil bersenandung, tangan gadis itu mencapai kearah bunga – bunga kecil yang ada dibawah kakinya dan mencabutnya. Yifan sedikit tidak suka dengan sikap gadis itu, kenapa dia harus mencabut bunga-bunga itu? Apakah dia tahu kalau tanaman adalah mahluk hidup juga? Mereka mungkin kesakitan saat gadis itu mencabut bunga-bunga indah itu.

Yifan baru sadar saat dia melihat pakaian yang gadis itu kenakan, dia mengenali pakaian gadis itu. Bagaiamana tidak? Dia menatap kearah pakaian itu beberapa menit yang lalu, gadis itu pasti salah satu penari yang tadi tampil.

Yifan sebenarnya penasaran kenapa juga gadis itu ada disini sendirian? Tanpa berpikir panjang akhirnya dia memutuskan untuk berjalan mendekati gadis itu, namun gadis itu mengacuhkan Yifandan terus menatap kearah bunga-bunga kecil yang ada ditelapak tangannya.

“Apa kau sendirian?” Suara Yifan terdengar sedikit keras karena ditaman kerajaan sedikit sepi berbeda sekali dengan aula.

“Ya.” Gadis itu menjawab dengan singkat, bahkan tidak melirik kearah Yifan membuat Yifan sedikit kesal.

“Sepertinya kau benar-benar tidak tertarik untuk mengobrol.” Yifan meledek dan memutuskan sebaiknya dia menganggu gadis ini daripada dia mati karena bosan.

“Jika kau tahu itu bukankah sebaiknya kau pergi?” Gadis itu akhirnya melirik kearahnya.

Yifan tersenyum mendengar jawaban ketus gadis itu entah bagaimana sikap gadis itu mengingatkan dia pada dirinya sendiri, dingin dan tidak sopan.

“Aku bosan, apa kau tidak bosan terus berdiri disini? Kau menunggu siapa?” Yifan bertanya dan dia bisa mendengar helaaan nafas gadis itu.

“Bukan urusanmu, kenapa kau ingin tahu?” Tanya gadis itu, mata coklatnya menatap kearah Yifan penuh tanya.

Yifan menatap kembali gadis itu dan entah kenapa jantungnya berdetak sedikit cepat saat dia sadar kalau gadis yang ada disampingnya itu sangat menarik, mata coklatnya terlihat bening, bibir merah alaminya sedikit kering namun tetap terlihat menggoda.

“Sudah kubilang, aku bosan nona.” Yifan menjawab dan gadis itu tiba-tiba saja tertawa membuat Yifankebingungan.

“Hahaha..apakah kau baru saja memanggilku nona?” Gadis itu tertawa dan Yifan tidak bisa menahan tawanya juga, dia akhirnya ikut tertawa dengan gadis misterius disamping nya.

“Apa salah?” Yifan bertanya, bahasa Korea nya memang tidak terlalu baik karena dia hanya mempelajari bahasa itu beberapa bulan yang lalu.

“Tidak, aku  hanya tidak terbiasa dengan panggilan itu.” Gadis itu menjawab dan dia menatap kearah langit gelap, dia tersenyum tipis dan kembali menunduk.

“Hi, aku Yifan.” Yifan mengulurkan tangannya kearah Gadis disampingnya, Gadis itu menatap kearah tangan Yifansesaat sampai akhirnya dia menjabat tangan Yifan.

“Hyebin.” Gadis itu berkata dan Yifan tersenyum kearahnya.

“Nama yang unik, apa kau tinggal disini?” Tanya Yifan dan Hyebin mengangguk.

“Ya, aku penari kerajaan.” Hyebin menjawab, dia menyelipkan rambutnya ketelinganya.

“Aku melihat tarianmu tadi, sangat bagus..aku menyukainya.” Yifan memuji dan Hyebin tersenyum.

“Terimakasih.” Hyebin membalas malu-malu.

Yifan menatap kearah Hyebin dia tidak mengerti kenapa dia begitu menyukai Hyebin gadis itu tidak special atau sangat cantik namun matanya tidak bisa berhenti memperhatikan setiap fitur yang ada diwajah Hyebin, Hyebin melirik kearah Yifan dan Yifan segera melirik kearah lain karena terkejut.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?apa ada sesuatu diwajahku?” Tanya Hyebin dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Tidak, kau..kau hanya cantik.” Yifan berkata jujur dan Hyebin tertawa.

“Yifan kau benar-benar penggoda ulung.” Hyebin berkata dan Yifan hanya tersenyum tipis.

“Aku beri tahu kau, aku tidak mengatakan seseorang cantik jika aku tidak serius.” Yifan berkata dan Hyebin hanya memutar matanya, gadis itu kelihatannya tidak percaya.

“Lelaki seperti kau pasti punya banyak pacar, aku tahu tipe kau.” Hyebin berkata dia lalu menjilat lidahnya yang sedikit kering.

Perkataan Hyebin benar, dia memiliki banyak kekasih namun tak ada satupun gadis yang mampu merebut hatinya hanya dalam hitungan menit seperti Hyebin.  Selama ini Yifan berkencan hanya untuk menghabiskan waktunya dan mungkin sesekali memenuhi hasrat birahinya, tak ada yang lebih dari itu termasuk ketertarikannya pada ratu Sulli dia hanya ingin membuat kedua orang tuanya bahagia.

“Ouch..perkataanmu sedikit tajam.” Yifan berkata pura-pura tersinggung.

“Oh ayolah! Kau lelaki dewasa, kau bukan anak kecil.” Hyebin meledek dan Yifan tersenyum.

“Kau benar, Oh ya..kau belum menjawab pertanyaanku tadi, sedang apa kau disini?” Yifan bertanya lagi.

“Aku menunggu kakakku.” Hyebin menjawab, dia kelihatan murung saat dia menjawab pertanyaan itu.

“Oh, aku kakakmu penari juga?” Tanya Yifan dan Hyebin menggelengkan kepalanya.

“Dia pengawal kerajaan.” Jawab Hyebin singkat.

Sepertinya Hyebin hanyalah orang biasa-biasa, Yifan menyimpulkan namun dia tidak keberatan Hyebin hanyalah satu-satunya orang yang berani mengobrol dengannya secara kasual. Dia bosan dengan sebutan ‘yang mulia’ atau ‘pangeran’ yang selalu dia dengar dari semua mulut orang yang berbicara dengannya, terkadang dia ingin mendengar namanya disebut dan cara Hyebin menyebut namanya terdengar sangat unik.

“Hyebin-ah!” Seseorang memanggil Hyebin dan Hyebin langsung berdiri melihat sesosok pengawal berlari kearahnya.

“Oppa!” Hyebin tersenyum dan Yifan langsung berdiri saat dia mendengar Hyebin memanggil lelaki itu dengan sebutan ‘Oppa’.

“Maaf, aku terlambat..tadi aku disuruh oleh mama Jung untuk menjaga pintu utama.” Pengawal itu berkata dan Hyebin menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa Oppa, aku tahu kau sibuk.” Hyebin berkata dan dia melirik kearah Yifan yang berdiri dibelakangnya.

“Oppa, kenalkan ini Yifan.” Hyebin memperkenalkan Yifan namun pengawal itu langsung menunduk hormat kearah Yifan saat dia mengenali wajah Yifan.

“Yang mulia! Apa yang anda lakukan disini?” pengawal itu bertanya dan Yifan tersenyum.

Hyebin yang kebingungan segera ditarik oleh kakaknya, kakaknya memaksa dia untuk menunduk. Mendengar kakaknya memanggil Yifan dengan sebutan ‘yang mulia’ Hyebin menurut dan menunduk kearah Yifan, mungkin Yifan adalah seseorang yang sangat penting.

“Tak usah formal denganku, aku senang bisa mengobrol dengan adikmu.” Yifan berkata dan pengawal itu juga Hyebin berhenti menunduk.

“Tapi yang mulia..”

“Tidak apa-apa, siapa namamu?” Yifan bertanya.

“Jongin, Kim Jongin.” Jongin menjawab dan Yifan tersenyum.

“Senang bertemu dengan kau Jongin, kau juga Hyebin.” Yifan tersenyum dan dia mengelus kepala Hyebin, Hyebin menunduk malu karena dia ingat betapa tidak sopannya dia tadi.

“Jika aku punya waktu, aku ingin megobrol denganmu lagi..apa kau tidak keberatan Hyebin?” Tanya Kris, Hyebin hanya diam tidak yakin untuk menjawab sampai akhirnya Kai menyiku lengan nya.

“Ya, yang mulia..saya tidak keberatan.” Hyebin menjawab, nada suaranya terdengar lebih formal dan kaku.

“Jangan panggil aku seperti itu, kita teman bukan? Panggil aku Yifan.” Yifan menyuruh dan Hyebin mengangguk.

“Baiklah yang mu— maksud saya Yifan.” Hyebin menjawab.

“Baiklah, sampai bertemu lagi Hyebin.” Yifan berbalik dan berjalan masuk kedalam aula kerajaan lagi.

Shanghai, Cina 2013…

    Kris menatap kearah lukisan yang ada didepannya lalu menunduk, dia meremas gelang hitam yang ada ditangannya lalu dia menghela nafasnya dalam-dalam menenangkan dirinya sendiri lalu menatap kembali kearah sosok gadis yang ada didalam lukisan.

“Hyebin-ah, nǐhǎo ma?” Kris berbisik namun gadis dalam lukisannya itu hanya diam membisu, senyuman gadis itu selamanya terpantri dalam lukisan.

*“wǒ hěn hǎo, wo hao xiang ni.” Kris berkata dan dia tersenyum tipis kearah lukisan itu.
*“Aku baik-baik saja,aku merindukanmu.”

Mata Kris menatap kearah sosok gadis yang ada didalam lukisan, gadis itu memakai pakaian tradisional Korea dengan rambutnya yang di biarkan tergerai sangat panjang. Gadis itu tersenyum sambil memegang bunga, sangat cantik sekali Kris berpikir bahkan setelah 200 tahun berlalu kecantikan gadis itu tidak pernah tertandingi oleh wanita manapun untuk Kris.

“Berapa lama lagi kau akan berdiri disana?”

Suara Kai mengagetkan Kris dan dia melirik kearah Kai yang menyandar diambang pintu menatap kearahnya malas, Kris memasukan gelang yang dia pegang kedalam saku jasnya.

“Maaf, apa aku membuatmu menunggu lama?” Kris bertanya dan Kai menggelengkan kepalanya.

“Kris, bukankah sebaiknya kau melupakan adikku?” Tanya Kai dan Kris menggelengkan kepalanya.

“Aku rasa aku tidak bisa Kai.” Kris menjawab, dia berjalan mendekati Kai.

“Bukankah kita harus pergi sekarang? Kau bilang Sulli sudah berenkarnasi.” Kris berkata dan Kai mengangguk.

“Kau yakin kau ingin kembali ke Korea? Bukankah kau bilang kau tidak ingin kembali kesana?” Kai menatap kearah Kris penuh kekhawatiran.

“Ini sudah 200 tahun lebih Kai, aku rasa aku akan baik-baik saja.” Kris menjawab dan dia berjalan meninggalkan Kai.

Kai hanya menghela nafasnya, dia sendiri tidak yakin jika dia bisa kembali ke Korea. Terlalu banyak kenangan yang menyedihkan disana, dia tidak yakin jika dia tidak akan mengingat kesedihan dan kepedihan yang dulu dia rasakan.

“Hyebin-ah, apa yang harus aku lakukan?” Kai berbisik dan menatap kearah lukisan adiknya.

Korea selatan 1814…

      Hyebin berlari dengan cepat, gadis itu kelihatan sangat panik dan pucat namun dia tidak berhenti berlari dan terus berlari takut jika seseorang berhasil menyusulnya. Hyebin bersembunyi dibalik pohon pinus yang sangat tinggi dan dia bisa mendengar puluhan langkah kaki mengikutinya, Hyebin menahan nafasnya sampai akhirnya puluhan langkah kaki yang mengikutinya pergi meninggalkan diri.

Hyebin menghela nafasnya penuh dengan kelegaan dan dia berjalan menuju rumahnya dengan langkah yang lemah, tangannya terasa sakit dan dia mencabut panah ditangannya. Dia mengerang penuh kesakitan namun menahannya, dia berhasil mencabut panah ditangannya dan membuangnya.

“Sial!” Hyebin mengutuk, dia menyeka bibirnya yang penuh dengan darah.

“Hyebin, kau benar-benar bodoh!” Suara itu membuat Hyebin terkejut, dia mendongak dan mendapati Jongin berdiri didepannya.

“Sudah aku bilang kau tidak boleh berburu didesa ini.” Jongin memberi peringatan dan dia membantu Hyebin untuk berjalan.

“Maaf Oppa, aku sangat lapar…aku tidak tahu.” Hyebin berkata, dia menyandarkan tubuhnya pada kakaknya, Jongin mengangkat tubuh Hyebin dengan mudah.

“Bodoh, jika kau lapar katakan padaku..aku akan berburu untukmu.” Jongin menyuruh dan dia berjalan.

“Aku tahu Oppa, tapi kau lelah..aku tidak ingin merepotkanmu.” Hyebin menjawab, dia menutup matanya mengantuk saat dia merasakan betapa hangatnya tubuh kakaknya.

“Kau tak usah khawatir, kau adikku aku akan melakukan apapun untukmu Hyebin-ah.”

Jongin menutup matanya dan tiba-tiba saja mereka sudah ada didepan kamar Hyebin, Jongin menidurkan adiknya itu dan menyelimutinya. Hyebin menyentuh tangan kakaknya dengan erat, Jongin menghela nafasnya dia tahu kalau adiknya itu takut dia bisa meraskaan tangan Hyebin gemetaran.

“Tenang saja, mereka tidak akan menyakitimu Hyebin-ah..aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh mu.” Jongin berkata dia mencium dahi Hyebin dan Hyebin tersenyum.

“Oppa, jangan tinggalkan aku.” Hyebin berbisik walaupun matanya sudah tertutup.

“Tenang saja, aku akan disini sampai kau tidur.” Jongin menenangkan, dia memegang tangan Hyebin.

Hyebin akhirnya tenang, Jongin menatap khawatir kearah adiknya. Adiknya itu masih sangat muda namun dia dipaksa untuk hidup seperti ini, Jongin tidak tahu sudah berapa ratus tahun dia berumur 20 tahun. Kedua orangtua mereka sudah meninggal dan mereka berdualah yang dikutuk untuk hidup selamanya dengan haus darah yang tidak pernah berakhir.

Jongin melangkah keluar setelah dia yakin jika Hyebin tidur, dia terkejut saat dia mendengar seseorang sedang berbincang. Jongin melangkah mendekat kearah sumber suara dan dia terkejut saat dia mengenali suara yang dia dengar, Mata Jongin melebar saat daia melihat Sulli dan Minhyun sedang berbincang.

Jongin berhenti dari langkahnya dan berbalik kearah tembok untuk bersembunyi, dia melirik kearah Sulli dan Minhyun lagi. Sulli kelihatannya menangis namun Jongin tidak tahu alasan kenapa ratunya menangis seperti itu, Minhyun hanya menatap sedih kearah Sulli kelihatannya dia ingin memeluk Sulli namun dia ragu.

“Aku akan menikah bulan depan..” Jongin bisa mendengar Sulli berkata dan wanita itu kembali menangis.

“Yang mulia, selamat..aku harap kau bahagia.” Minhyun berkata namun dia kelihatan tidak senang, dia hanya menunduk.

“Apa kau akan melepaskan aku begitu saja? Kau tidak akan mencoba menahanku?” Tanya Sulli, gadis itu terdengar terluka dengan ucapan Minhyun.

“Yang mulia..”

“Aku kira kau mencintai aku.” Sulli mengungkapkan dan Minhyun menghela nafasnya.

“Yang mulia, aku mencintaimu tapi aku tidak egois…aku tahu keadaan ekonomi kerajaan kita.” Minhyun menjawab dan Sulli menyeka airmatanya.

“Jadi kau akan menerima begitu saja?” Sulli bertanya, dia menatap kearah Minhyun.

“Kau seorang ratu yang mulia, kau harus memikirkan rakyatmu juga.” Minhyun membalas.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan.” Sulli kelihatan marah dia berbalik dan melangkah menjauh.

Minhyun panik saat dia melihat Sulli melangkah menjauh darinya, dia langsung menyusul Sulli dan menarik tangan wanita itu cukup kuat sehingga Sulli tertarik kearahnya dan Minhyun langsung mencium bibir gadis itu. Jongin yang terkejut menarik nafasnya, dia menutup mulutnya berharap Sulli dan Minhyun tidak mendengarnya.

Apakah Minhyun dan Sulli memiliki hubungan khusus? Jongin tidak tahu yang jelas dia tahu kalau ratunya memang sangat menyukai permainan musik Minhyun.

Hyebin bangun dari tidurnya, luka dia yang kemarin sudah benar-benar hilang inilah salah satu kelebihan menjadi seorang vampir kau bisa sembuh dari luka apapun tanpa meninggalkan bekas. Hyebin yang merasa baikan langsung turun dari ranjangnya, seperti biasa dia menyanggul rambut panjangnya dan berjalan keluar untuk menyapa teman-temannya.

“Hyebin!” Seorang gadis dengan rambut hitam panjang berlari kearahnya, gadis itu kelihatan terburu-buru namun Hyebin tidak tahu kenapa.

“Hyebin baguslah kalau kau bangun, apakah kau sudah mendengar berita tentang ratu kita?” Tanya gadis itu.

“Ada apa Naeun? Apa yang terjadi pada ratu Sulli?” Hyebin bertanya.

“Ratu Sulli akan menikah dengan pangeran Yifan, kau masih ingat? pangeran tampan yang tempo hari kau ceritakan.” Naeun berkata dan Hyebin mengangguk.

Tentu saja dia ingat Yifan, Yifan selalu datang ke istana hanya untuk menemuinya namun belakangan ini Yifan jarang menemuinya mungkin inilah alasannya. Entah kenapa hatinya terasa sedikit sakit saat dia mendengar berita itu dari Naeun, selama ini dia selalu berharap jika Yifan dan dirinya bisa lebih menjadi teman.

Sepertinya Hyebin lupa diri untuk sesaat karena Yifan selalu baik padanya, apakah dia bodoh? Yifan jelas-jelas seorang pangeran dia tidak mungkin menyukai penari istana rendahan seperti dia. Hyebin hanya bisa tersenyum tipis mendengar penjelasan Naeun, dia lalu permisi untuk pergi mandi.

“Hyebin-ah, kau baik-baik saja?” Naeun bertanya saat dia melihat ekspressi Hyebin yang berubah murung.

“Ya, tentu saja..kenapa?” Hyebin melirik kearah Naeun sesaat dan Naeun menggelengkan kepalanya.

“Tidak, sebaiknya kau cepat bersiap-siap mama Jung ingin kita berlatih gerakan yang baru.” Naeun memberitahu dan Hyebin tersenyum.

Seoul,Korea selatan 2013..

Malam ini entah kenapa jalanan yang biasanya ramai dia lewati menjadi sepi, apalagi sekarang sudah malam Sulli sedikit merasa paranoid dan dia langsung berlari berharap dia langsung sampai di Kossan nya.

“Kenapa buru-buru?” Tanya seorang pria yang memakai kemeja hitam, rambut coklatnya sedikit panjang.

“S-siapa kamu?” Sulli bertanya, dia tahu kalau lelaki yang ada dihadapnya itu sangat mencurigakan, dia pasti bukanlah orang yang baik-baik.

“Aku hanya ingin mengecheck kebenaran.” Lelaki itu berkata dan berjalan mendekat kearah Sulli, Sulli mundur namun punggungnya langsung membentur sesuatu yang keras.

“Sudah lama tidak bertemu denganmu Sulli.” Suara lelaki itu sangat menyeramkan, Sulli berbalik dan mendapati lelaki yang tinggi berdiri didepannya.

“Kris,sebaiknya kau tidak menakuti dia.” Lelaki yang memiliki rambut coklat panjang berkata pada lelaki tinggi itu.

“Hm..aku sedih, sepertinya dia tidak mengingat kita Kai.” Kris berkata dan Sulli hanya bisa menatap aneh kearah kedua lelaki tampan tapi menyeramkan itu.

“Ternyata rumor itu benar, Sulli yang kuat dan berkuasa sekarang hanya manusia lemah yang ketakutan.” Kai berkata dia menyentuh helai rambut Sulli dan menciumnya.

“Pergi! Aku bisa berteriak dan semua orang akan mengejarmu.” Sulli mengancam dan Kai tertawa sedangkan Kris hanya menyeringai dengan licik.

“Berteriaklah sesuka mu sayang, tak akan ada yang mendengar.” Kris berkata dan menarik lengan Sulli.

Sulli yang lemah langsung jatuh kepelukan Kris dan Kris menyentuh dagunya membuat tatapan dia dan Kris bertemu.

“Kau akan menjadi ratuku lagi seperti dulu…” Kris berbisik dan mendekat kearah Sulli bibir mereka hampir bersentuhan.

Sulli menutup matanya karena dia terhipnotis oleh mata hitam Kris yang sangat menggoda, namun tiba-tiba saja sesuatu menariknya membuat Sulli kembali sadar dan membuka matanya.

“Minhyun!” Kai membentak kesal, dia mengepalkan tangannya bersiap menyerang lelaki itu kapan saja.

“Dia tidak ingin menjadi ratumu Kris.” Minhyun berkata dan Kris menatap penuh benci kearah Minhyun.

“Dia milikku.” Minhyun berkata dan langsung mencium Sulli, Kai yang hendak mencegah Minhyun untuk mencium Sulli namun dia langsung dicegah oleh Kris.

“Biarkan saja.” Kris berkata dan Kai diam.

“Kenapa kau membiarkan dia kabur?!” Kai membentak dan Kris hanya diam, dia tahu Kai pasti sangat marah sekarang.

“Kau ingin apakan Sulli? Kau sudah melihatnya kan? Dia manusia biasa sekarang.” Kris membalas dan Kai menarik rambutnya penuh dengan frustasi.

“Kris! Minhyun bersamanya aku yakin Minhyun akan merubah Sulli menjadi vampir juga.” Kai menjelaskan, Kris kelihatan tidak peduli dia berbalik dan meninggalkan Kai.

“Ya! Wu Yifan!” Kai membentak dan matanya langsung berubah menjadi merah.

Kris yang mendengar nama aslinya disebut langsung marah dan berbalik menatap kearah Kai, sejak kapan anak buahnya itu berani memanggilnya seperti itu? Haruskah dia memberikan pelajaran pada Kai dan menunjukan siapa pemimpin disini?

“Kau sebaiknya jaga mulutmu, kau mungkin kakak Hyebin tapi aku bisa membunuhmu kapan saja.” Kris mengancam dan tubuhnya langsung menghilang dari hadapan Kai entah kemana.

“Aisshh! Brengsek!” Kai mengutuk.

Beijing,Cina 1814

“Bagaimana Yifan? Kau setuju?” Ibunya bertanya, wanita itu terlihat senang saat dia membaca surat yang Sulli kirimkan untuk dia.

“Dia bilang dia bersedia menikahi aku?” Yifan bertanya dan ibunya mengangguk.

“Sudah kubilang Sulli hanya malu padamu saat itu.” Ayahnya tiba-tiba saja muncul dan berjalan mendekati Yifan.

“Kau tahu jika kau menikah dengan Sulli, kita bisa menguasai sektor pertanian dan perdangan mereka.” Ayahnya sebagai raja Cina tentu saja hanya peduli pada keuntungan yang akan mereka terima,tidak ada sedikitpun pemikiran tentang bagaimana perasaan Yifan.

“Tapi baba..”

“Ayolah, kau sudah besar apalagi yang kau tunggu? Kau tidak bisa terus bermain-main dengan semua gadis yang kau temui..” Ayahnya menyemangati dan ibunya sepertinya mendukung.

“Apa tidak ada jalan lain? Apakah aku harus menikah dengan Sulli?” Yifan bertanya dan ibunya mengangkat alisnya, Yifan kelihatan tidak keberatan beberapa bulan yang lalu saat dia bertemu dengan Sulli.

“Kenapa? Apakah kau menyukai orang lain?” Ayahnya bertanya, nada suaranya terdengar tidak senang.

Yifan hendak menjawab ‘ya’ namun dia tidak bisa, dia tahu jika dia mengatakan yang sebenarnya wanita yang dia sukai benar-benar akan dalam masalah. Yifan cukup pintar dalam memilih keputusan dengan tidak memutuskan untuk berbohong lalu menggelengkan kepalanya, Ayah dan ibunya kelihatan legas sekali saat Yifan menggelengkan kepalanya.

“Bagus, ini bukan waktunya untuk bermain-main dengan cinta Yifan…sebaiknya kau datang ke Korea besok dan bawalah hadiah yang banyak untuk ratu Sulli.” Ayahnya menyuruh.

Yifan hanya bisa menurut dia tahu dia baru saja berbohong, selama ini hidupnya dia tidak pernah berani berbohong pada kedua orang tuanya namun untuk hal ini dia harus menyembunyikannya. Dia tidak bisa membiarkan Hyebin dalam bahaya, dia tidak akan bisa membanyangkan jika keluarganya akan melakukan sesuatu yang buruk pada Hyebin.

Baba, jika kau sudah menguasai pertanian dan perdangan mereka..apakah aku bebas melakukan apapun?” Tanya Yifan dan Ayahnya mengangguk.

“Ya tentu saja nak, kau boleh melakukan apapun.” Ayahnya menepuk bahu Yifan lalu pergi meninggalkan Yifan bersama ibunya.

Seoul, Korea selatan 2013

   Hari ini cuaca cukup mendung namun Kris malah menemukan dirinya berjalan keluar dari apartemennya, entah kenapa dia tiba-tiba saja merasa ingin keluar dari apartemen mewahnya. Dia memanfaatkan cuaca yang buruk untuk keluar dari rumahnya, matahari sepertinya lebih suka bersembunyi karena langit Seoul terlihat kelam sekali namun Kris menyukainya dia tidak pernah suka cuaca yang cerah.

Tentu saja dia tidak suka cuaca cerah, dia vampir jika dia terkena sinar matahari dia akan langsung hangus dan berubah menjadi abu. Kris berjalan menyebrangi jalanan Seoul yang cukup sepi, dia menghirup udara segar yang berhembus menyentuh kulit putih pucatnya.

Kris membenarkan jaket coklatnya, dia sadar beberapa wanita yang melewatinya berbisik mengatakan kalau dia sangat tampan Kris menyeringai dia sudah mendengar pujian itu dari banyak wanita.  Kris mungkin bisa menjadi arrogan sesaat setiap kali dia mendengar pujian itu, Egonya semakin besar saja setiap kali dia melirik kearah wanita dan wanita itu langsung menunduk malu lalu pipi mereka akan langsung memerah itulah reaksi yang biasa dia dapatkan setiap kali dia tidak sengaja melakukan kontak mata dengan mereka.

Lamunan nya harus berhenti saat dia mendengar suara lembut seorang gadis, Kris merasa tidak asing dengan suara gadis itu sehingga dia melirik kearah sumber suara. Dia bisa melihat seorang gadis sedang duduk di bangku taman, gadis itu kelihatannya sedang mendengarkan lagu di handphonenya dan tidak sadar kalau dia menyanyi sedikit keras.

Kris tidak keberatan, dia suka suara gadis itu walaupun suara gadis itu bukanlah suara yang paling bagus namun suara gadis itu lembut sekali. Kris tanpa sadar berhenti dan mendengarkan gadis itu menyanyi, dadanya bergemuruh saat dia mendengar suara gadis itu entah kenapa suara itu terdengar sangat familiar untuknya.

Gadis yang duduk di kursi taman itu mendongak mungkin dia merasakan tatapan Kris, Mata Kris melebar saat dia melihat wajah gadis itu. Gadis itu tersenyum kearahnya, Kris tidak mengerti apakah dia benar-benar tersenyum padanya? Apakah gadis itu adalah gadis yang selama ini dia pikirkan.

Wanita itu berdiri dari duduknya dan melangkah kearahnya, Kris bisa merasakan jantungnya berdetak dengan cepat dengan langkah yang pelan dia melangkah maju kearah gadis itu. Gadis itu tersenyum lebar dan membuka tangannya seakan dia akan memeluk Kris dia benar-benar bingung sekarang haruskah dia memeluk gadis itu? namun tiba-tiba dari belakang seorang lelaki berlari dan memeluk gadis itu lalu memutarkan tubuhnya.

“Oppa!” Gadis itu menjerit saat lelaki yang muncul dari belakang Kris memutarkan tubuhnya.

“Gina-ya!” Lelaki itu memanggil dan melepaskan pelukannya.

Kris yang melihat itu segera berbalik dan menyembunyikan wajahnya, dia merasa bodoh sekali memikirkan gadis itu akan memeluknya.Dia bodoh sekali untuk berpikir bahwa wanita tadi adalah kekasihnya yang sudah lama meninggal, ingin sekali dia membenturkan kepalanya karena pikiran bodoh itu.

Wanita yang dia cintai tidak mungkin kembali kepelukannya lagi, gadis itu sudah lama meninggal tidak mungkin dia kembali lagi secara tiba-tiba seperti ini. Tidak, Kris tidak ingin jatuh cinta lagi dia hanya akan menyakiti dirinya sendiri jika dia mencintai seseorang lagi dia monster dia tidak layak mendapatkan cinta yang hangat dan lembut.

“Bagaimana keadaan pacarku ini?”

Kris bisa mendengar perkataan lelaki yang tadi memeluk Gina, pendengaran nya yang tajam membuat dia tidak sengaja bisa mendengar percakapan antara dua kekasih itu. Kris bisa mendengar Gina tertawa seakan gadis itu benar-benar bahagia, Kris melirik kearah Gina dan pacarnya dan Gina kelihatan sedang melingkarkan tangannya dilengan kekasihnya dengan manja.

“Baik, bagaimana dengan Oppa?” Tanya Gina kembali.

“Baik juga, aku merindukanmu..New York sangat membosankan tanpamu.” Lelaki itu menjawab dan mengelus kepala Gina.

“Aaron Oppa, bagaimana kalau kita makan di restoran itu saja.” Gina menunjuk kearah restoran steak yang ada diseberang jalan.

“Ya tentu saja, kebetulan aku belum sarapan.” Aaron berkata, dia menarik Gina menuju restoran itu.

Kris hanya menatap kearah mereka berdua penuh dengan keingin tahuan, entah apa yang Kris pikirkan namun dia memutuskan untuk mengikuti gadis itu dengan Aaron. Dengan langkah yang sangat hati-hati Kris mengikuti sepasang kekasih itu berjalan, sekali-kali Aaron akan mencuri ciuman dari Gina dan Gina memukul lengan Aaron karena malu.

Kris mendengus kesal, Aaron terlalu kekanak-kanakan dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi dan kuat. Namun kelihatannya Gina sangat menyukai sikap itu karena Gina tertawa setiap kali lelaki itu melontarkan lelucon yang menurut Kris benar-benar tidak lucu, Kris memutar matanya saat dia melihat Aaron melingkarkan tangannya dibahu Gina.

“Oppa, bagaimana New York?apakah kau sudah bertemu dengan temanmu?” Tanya Gina dan Aaron mengangguk.

“Ya, dia berubah sekarang.” Aaron menjawab, namun lelaki itu kelihatannya tidak ingin membahas kepergiannya ke Amerika.

“Oh apakah kau membeli banyak souvenir?” Gina melirik kearah Aaron dan Aaron mengangguk.

“Aku membelikanmu beberapa souvenir.” Aaron menjawab dan akhirnya mereka sampai didepan restoran.

Kris duduk disalah satu meja yang berjarak sedikit jauh dari meja Gina dan Aaron, mereka kelihatan sedang sibuk memilih makanan. Kris hanya bisa memandangi wajah Gina yang kelihatan bingung, sesekali dia memanggil Aaron untuk bertanya steak mana yang paling enak. Kris menatap dalam-dalam kearah Gina dia mengedipkan matanya beberapa kali takut jika dari tadi dia hanya melihat ilusi, namun saat dia membuka matanya Gina masih ada disana duduk bersama Aaron.

Kris tidak mengerti mengapa Gina bisa begitu mirip dengan kekasihnya bagaimana mungkin dua orang yang berbeda bisa memiliki wajah yang sama, Gina yang sedang tertawa tiba-tiba saja melirik kearah Kris dan Kris segera menutup wajahnya dengan menu. Kris masih bisa merasakan tatapan Gina dia bisa mendengar Aaron bertanya kepada Gina.

“Ada apa sayang?” Tanya Aaron dan dia melirik kesekitar mencari sesuatu yang merebut perhatian kekasihnya itu.

“Tidak Oppa, aku rasa aku hanya salah lihat.” Gina menjawab dan dia kembali memilih menu steak yang akan dia pesan.

Kris dengan perlahan menurunkan menu yang dia pegang dan kembali menatap kearah Gina, dia tersenyum tipis saat dia melihat Gina tersenyum kearah Aaron dan Aaron kelihatannya sedang menceritakan sesuatu karena tangan lelaki itu tidak bisa diam. Kris baru sadar kalau dia benar-benar merindukan kekasihnya, dia rindu tawa dan candaan kekasihnya sudah lama sekali dia tidak bisa tersenyum seperti ini.

Airmata menetes membasahi pipinya tanpa Kris sadari dia menangis hanya karena dia melihat seseorang yang mirip dengan kekasihnya, dia segera menyeka airmatanya dan pergi dari mejanya berlari keluar menyembunyikan wajahnya Gina yang melihat itu mengikuti sosok Kris yang berlari keluar.

“Ada apa dengan dia?” Gina bergumam.

“Gina, apa kau mendengarkan ceritaku?” Aaron bertanya dan Gina melirik lagi kearah kekasihnya.

“Oh iya Oppa, aku mendengarkan..” Gina menjawab namun matanya masih mengikuti sosok Kris.

Entah kenapa lelaki itu terasa sangat familiar sekali, rasanya dia sering sekali melihat Kris namun dia tidak tahu dimana dia bertemu dengan lelaki tinggi itu.

Seoul, Korea selatan 1814

“Hyebin!” Yifan memanggil dan mencoba menyusul gadis yang berjalan didepannya, gadis itu kelihatan sangat marah dan Yifan mencoba menarik tangannya.

“Hyebin, ada denganmu?!” Yifan membentak dan akhirnya dia berhasil menyentuh Hyebin dan memaksa gadis itu untuk mengahadap kearahnya.

“Kau akan menikah dengan ratu Sulli, berhentilah mengikuti aku!” Hyebin balik membentak dan dia kembali berjalan menuju taman istana.

“Kenapa? Bukankah kita teman? Kau bilang kita teman..” Yifan berkata dan kembali berlari menyusul Hyebin.

“Kita memang teman, tapi teman tidak selalu berduaan kan? Kau akan membuat seluruh orang di istana curiga.” Hyebin menjelaskan.

“Kau konyol Hyebin, semua orang tahu kita teman.” Yifan membalas dan Hyebin menghela nafasnya.

“Aku tidak ingin membuat masalah, aku cukup beruntung ratu Sulli baik kepadaku aku tidak ingin mengecewakannya.” Hyebin melepaskan tangannya dari genggaman Yifan dengan kasar.

“Hyebin-ah!” Yifan memanggil dan Hyebin berlari masuk kedalam ruangan kesenian di istana.

Yifan menjenggut rambutnya kesal, dia tidak mengerti kenapa Hyebin berubah menjadi seperti ini kemarin Hyebin masih bersikap normal gadis itu menyapanya dengan manis namun sekarang Hyebin terlihat lebih murung dan tertutup. Yifan berbalik dan dia bisa melihat Sulli yang berdiri dibelakangnya, wanita itu menatap tajam kearahnya dan berbalik masuk kedalam istana.

Yifan berlari secepat kilat dan dia langsung muncul didepan Sulli, Yifan tanpa ragu menarik tangan Sulli membuat Sulli mengerang kesakitan namun Yifan tidak peduli dia menatap tajam kearah calon istrinya itu.

“Apa yang kau katakan pada Hyebin?!” Yifan membentak dan Sulli hanya menunduk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

“Katakan padaku..” Yifan meminta dengan nada yang lebih lembut dan Sulli menatap kearahnya.

“Yifan, kau akan menikah denganku apakah tidak aneh jika kau menghabiskan waktu dengan penari itu dibandingkan aku?” Tanya Sulli dan mata Yifan langsung berubah menjadi merah.

“Bukan urusanmu! Sebaiknya kau berhenti mengancam Hyebin..dia temanku.” Yifan melepaskan tangan Sulli dan menghilang dari hadapan Sulli percis seperti asap.

*****

   Yifan menatap kearah taman istana yang sepi sekali, dayang-dayang yang mengikutinya sudah pergi karena dia tidak ingin diganggu. Cuaca hari itu sedikit mendung namun Yifan tersenyum, dia tahu kalau Hyebin pasti menyukai cuaca hari ini karena gadis itu mengatakan padanya kalau dia suka sekali jika cuaca mendung.

“Yang mulia, kau memanggilku.” Suara Hyebin terdengar dan Yifan berbalik kebelakang, dia bisa melihat Hyebin berdiri dibelakangnya menggunakan gaun yang Yifan berikan padanya tadi.

“Kau cantik sekali saat kau memakai gaun itu.” Yifan tersenyum dan Hyebin membalas senyuman Yifan.

“Terimakasih atas hadiahnya yang mulia.” Hyebin berkata.

“Apa kau menyukainya, kau terlihat cocok menggunakan gaun berwarna merah.” Yifan memuji dan dia mendekat kearah Hyebin.

“Ya, aku sangat menyukainya yang mulia.” Hyebin menjawab.

“Bagus kalau begitu, apakah kau ingin aku membelikannya lagi untukmu?” Yifan menawarkan namun Hyebin menggelengkan kepalanya.

“Tidak yang mulia, gaun ini sudah cukup untukku.” Hyebin memamerkan senyumnya pada Yifan.

Mereka berdua berjalan menulusuri taman istana yang sangat luas sesekali Yifan bertanya tentang Jongin kakaknya dan Hyebin kelihatannya sangat mengagumi kakaknya, Hyebin menceritakan bagaimana beraninya Jongin saat melawan musuh dan dia juga menceritakan kalau Jongin selalu ada disampingnya dan mengurusnya sampai dia besar.

Yifan selalu gugup setiap kali dia melihat betapa cantiknya Hyebin, dia berpikir bagaimana seorang wanita bisa secantik ini? Kenapa dia begitu menyukai Hyebin? Tanpa sadar Yifan menyentuh rambut Hyebin yang panjang menariknya sedikit agar dia bisa menghirup harumnya rambut Hyebin.

Hyebin terkejut dia menatap kearah Yifan, tangan Yifan mengelus rambut coklat Hyebin lalu dia melepaskan rambut Hyebin.

“Rambutmu bagus sekali.” Puji Yifan.

Hyebin tersenyum mendengar pujian itu, dia tidak ingin menaruh harapan kalau Yifan menyukainya. Pangerannya akan menikah dengan orang lain besok, antara dia dan Yifan tidak akan pernah lebih dari sebatas teman.

Shanghai, Cina 2013

“Bagaimana, kau ingat?” Minhyun berkata dia menatap kearah Sulli yang berdiri didepannya, Sulli tidak menjawab dia hanya menatap lurus kearah lukisan yang ada didepannya.

“Lukisan ini…bagaimana lukisan ini bisa sampai kesini?” Tanya Sulli, dia berbalik kearah Minhyun yang berdiri dibelakangnya.

“Kri—ah bukan maksudku Yifan, dia yang membawanya kesini.” Minhyun menjawab dan tatapan Sulli kembali menuju kearah sosok gadis yang ada dilukisan itu.

“Ck..apakah dia belum bisa melupakan wanita jalang ini?” Suara Sulli terdengar tidak senang dan Minhyun hanya diam.

“Aku tidak tahu..”Minhyun akhirnya menjawab.

“Bukankah itu tidak penting? Kau ada disini bersamaku.” Minhyun mendekat.

Lelaki itu memeluk Sulli dari belakang, Sulli menyeringai dia menyentuh tangan Minhyun dia bisa merasakan kulit putih lelaki itu sangat dingin namun Sulli tidak peduli. Sekarang dia sama dinginnya dengan Minhyun, matanya langsung berubah menjadi merah saat dia menatap kearah wajah cantik gadis yang ada didalam lukisan itu.

“Sebaiknya kita menemukan dia, kau bilang dia sudah bereinkarnasi?” Sulli melepaskan tangan Minhyun dari pinggangnya.

“Kenapa?” Minhyun bertanya kebingungan.

“Kau tahu, gadis ini..dia suka sekali membuat kekacauan apakah kau ingin aku berakhir seperti dulu lagi?” Sulli menghadap kearah Minhyun, tangannya merapikan jas yang Minhyun gunakan.

“Tapi Sul—“ Minhyun tidak melanjutkan kalimatnya, jari telunjuk Sulli sudah ada didepan bibirnya.

“Shutt..Minhyunnie, kau tahu betapa aku membenci gadis itu aku tidak ingin melihat dia lagi.” Sulli mengungkapkan dan Minhyun merapatkan bibirnya.

“Kenapa?apa kau takut dia bertemu lagi dengan Yifan?” Minhyun menatap curiga kearah Sulli namun Sulli hanya tersenyum penuh misteri.

“Kau cemburu Minhyunnie? Oh Minhyunnie ku sayang..aku tidak pernah menyukai Yifan.” Sulli melingkarkan tangannya dileher Minhyun.

“Aku hanya ingin membuat Yifan merasakan apa yang kau rasakan selama ini, menunggu begitu lama untuk aku agar datang kembali.” Sulli mendekat.

“Aku yakin setiap hari kau akan menatap kearah fotoku dan kau akan mengunjungi makamku..kau terkadang menangis karena kau merindukanku, apakah aku benar?” Sulli mengangkat alisnya dan Minhyun tersenyum.

“Kau benar.” Minhyun menjawab.

Minhyun mendekat dan tanpa ragu dia mengecup bibir Sulli, Sulli terseyum dalam ciuman mereka dan Minhyun mendorong Sulli kearah tembok yang paling dekat. Minhyun menarik Sulli kearahnya sehingga tubuh mereka begitu dekat tanpa ada jarak, tangan Sulli melingkar dileher Minhyun menarik lelaki itu agar menciumnya lebih dalam dan penuh hasrat.

“Ini sudah waktunya, sebaiknya kalian berhenti bermesraan dan segera pergi.”

Suara Ren mengagetkan Minhyun dan Sulli, Minhyun melepaskan ciumanya dan tersenyum kearah Sulli mengelus pipi gadis itu lalu menuntun kekasihnya keluar dari musium yang sepi.

Seoul, Korea selatan 1814

“Apa kau sudah puas?” Yifan bertanya kearah Hyebin yang berdiri dibelakangnya.

“Kau seharusnya bersama ratu Sulli yang mulia, kau sudah menikah dengannya.” Hyebin menjawab dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena dia baru selesai menari.

Semua penari yang ada diruangan segera pergi saat mereka melihat Yifan melotot kearah mereka seakan mereka sangat menganggu, Yifan menghela nafasnya dan mencoba untuk sabar lalu dia menyentuh lengan Hyebin namun Hyebin dengan kasar menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.” Hyebin berkata, walaupun dia menggunakan nada suara yang sopan entah kenapa hati Yifan terasa sakit.

“Hyebin-ah..” Yifan memelas dan Hyebin membelakanginya.

“Hyebin-ah aku mohon jangan seperti ini..” Yifan menyentuh bahu Hyebin dan dia bisa mencium harum sampo penari muda itu.

“Cukup yang mulia..” Hyebin berkata.

“Aku tidak bisa..” Yifan mendekat dan dia melingkarkan tangannya dipinggang Hyebin, dia bisa mendengar Hyebin menarik nafasnya.

“Yang mulia..” Hyebin menarik tangan Yifan namun Yifan memeluk Hyebin lebih erat.

“Aku mohon..aku tidak bisa jika kau seperti ini..” Yifan berbisik dan dia mengistirahatkan kepalanya diceruk leher Hyebin.

“Orang lain melihat kita.” Hyebin mengingatkan.

“Apa kau tahu semua orang membenciku karena kau seperti ini? Aku mohon yang mulia, hentikan semua ini.” Suara Hyebin gemetaran, Yifan melepaskan pelukannya dan dia membalikan tubuh Hyebin.

Hyebin menangis, Yifan bisa melihat airmata gadis itu menetes membasahi pipinya dan gadis itu segera menyekanya namun Yifan mencegahnya. Dia sendiri yang menyeka airmata Hyebin, Hyebin menunduk menyembunyikan wajahnya dan Yifan memeluknya dengan erat lalu mencium pucuk kepala gadis itu.

“Maafkan aku..aku tidak tahu.” Yifan mengungkapkan.

“Tapi Hyebin-ah,aku tidak bisa jika kita seperti ini.” Yifan melepaskan pelukannya.

“Aku tidak bisa jauh darimu, aku mencintaimu Hyebin-ah.” Yifan menatap kearah Hyebin dan Hyebin kelihatannya terkejut.

“Dari pertama kita bertemu, aku selalu mengagumimu.. aku menyukai segalanya tentangmu caramu berbicara, menari dan tertawa..aku menyukaimu.” Yifan mengungkapkan Hyebin bisa melihat pipi Yifan sedikit bersemu merah.

“Yang mulia..”

“Aku tidak pernah menyukai Sulli, aku menikahinya agar aku bisa bertemu denganmu setiap hari, agar aku bisa lebih dekat denganmu.” Yifan berkata dan Hyebin menatap kearah Yifan.

“Yang mulia, aku tidak bisa..” Hyebin menjauh dari sentuhan Yifan dan Yifan mencoba menarik Hyebin lagi.

“Kenapa?bukankah kau menyukaiku juga?” Tanya Yifan.

“Tidak seperti ini Yang mulia..” Hyebin menjawab berbohong.

Dia langsung berlari keluar membuat hati Yifan hancur berkeping-keping, dia marah dan sedih saat dia melihat Hyebin semakin menjauh darinya. Mengapa wanita itu terasa begitu jauh darinya? Padahal mereka sering bertemu dan bertatap muka namun hati mereka terasa jauh sekali, Yifan ingin mencapai Hyebin namun dia tidak tahu bagaimana.

“Jadi semua rumor itu benar.”

Suara Jongin membuat Yifan terkejut, dia melirik kearah Jongin yang berdiri tidak jauh darinya. Ekspressi muka Jongin tidak senang, dia berlari kearah Yifan dan memukul lelaki itu sampai Yifan tersungkur ketanah dan bibirnya berdarah.

“Brengsek! Apa kau tahu Hyebin menderita karena kau?! Hyebin di kucilkan oleh semua temannya karena kau, kau tahu itu?!” Jongin membentak, dia menarik kerah baju Yifan dengan kasar.

“J-jongin..dengarkan aku..”

“Aku tidak mau mendengar omong kosong mu!”

Yifan tidak bisa bernafas genggaman tangan Jongin di kerah bajunya membuat dia susah bernafas, mata Jongin bersinar merah sekarang dan taringnya muncul siap menyakiti Yifan kapan saja. Yifan terkejut karena selama ini dia kira Jongin adalah manusia biasa tapi ternyata dia adalah Vampir sama seperti dirinya, Yifan menutup matanya dan matanya juga berubah menjadi merah menyala.

Jongin melepaskan tangannya saat dia melihat taring Yifan muncul, dia tidak mengira kalau Yifan sama sepertinya mereka mungkin terlalu bodoh untuk menyadari kesamaan mereka. Yifan menyentuh lehernya yang terasa sakit, dia bisa bernafas kembali dan lebih tenang sekarang dan matanya kembali menjadi coklat.

“Aku sama denganmu, Sulli juga…itulah alasan kenapa kedua orang tuaku ingin aku menikah dengan Sulli.” Ucap Yifan.

“Lalu? Itu tidak mengubah apapun, kau tetap menyakiti adikku!”

Yifan menghela nafasnya, dia tahu Jongin marah dan benci padanya sekarang. Dia mendekat kearah Jongin dan menyentuh bahu lelaki itu, Jongin menatap kearah Yifan.

“Aku benar-benar mencintai Hyebin, kau tidak bisa memisahkan aku dengan dia.” Yifan berkata lalu dia berlalu.

Jongin hanya berdiri disana termenung, bagaimana bisa Yifan dengan percaya dirinya mengatakan itu? Dia bisa memisahkan Yifan dan Hyebin dengan jentikan jarinya. Lagipula Hyebin adiknya, dia akan menurut segala keinginannya.

Seoul, Korea selatan 2013

    Gina merasakan tangannya sangat perih dan sesuatu yang dingin melingkari pergelangan tangannya, dia bisa melihat sesosok lelaki didepannya menunduk menatap kearah kakinya. Kedua tangan lelaki itu dirantai dan tubuh putihnya penuh dengan luka, dilihat dari luka nya sepertinya lelaki itu sudah di cambuk.

Rambut panjang coklatnya menutupi sebagian wajahnya namun Gina tahu kalau lelaki itu tampan sekali. Hidung lelaki itu mancung dan dia memiliki garis rahang yang kuat, alisnya tebal dan bibirnya terlalu sensual untuk seorang lelaki.

Lelaki itu akhirnya bergerak dan mengangkat kepalanya perlahan, dia tersenyum lemah kearah Gina membuat Gina kebingungan. Dia masih merasakan perih ditangannya, dia menatap kebawah ternyata kedua kakinya di ikat oleh rantai yang sangat kuat.

Gina panik dia mencoba memberontak melepaskan rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya namun semakin dia berontak dia semakin merasakan perih, dia mengerang kesakitan dan airmata menetes dari matanya.

“Hyebin..”

Suara serak lelaki itu terdengar, Gina tidak mengenal nama itu namun lelaki yang ada didepannya menatap kearahnya.

“Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu Hyebin-ah..”

Suara lelaki itu begitu menenangkan, entah kenapa dia merasa tenang sekarang lalu diapun berhenti memberontak. Dia melirik kesekitarnya, mereka sepertinya ada didalam penjara karena ruangan yang mereka tempati sekarang gelap sekali dan kosong.

“Hyebin-ah aku mencintaimu..” lelaki itu berkata, Gina menatap kebingungan kearah lelaki itu entah kenapa bibirnya tidak bisa bergerak.

Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia katakan namun bibirnya tidak kunjung terbuka untuk bertanya, dia malah menatap kearah lelaki tampan itu dan airmatanya tidak bisa berhenti mengalir dan menetes membasahi pipinya.

“Yifan..aku juga, aku sangat mencintaimu.”

Mulutnya tiba-tiba saja bergerak sendiri, dia tidak mengerti siapa Yifan ini? Dia tidak mengenal lelaki ini. Airmata akhirnya menetes dari mata lelaki itu, dia mencoba melepaskan tangannya dari rantai yang mengikat tangannya namun dia tidak bisa mungkin lelaki itu mencoba mencapai tangannya.

Mereka berhenti bergerak saat mereka mendengar pintu ruangan dibuka, dia bisa melihat sesosok lelaki dan wanita masuk kedalam ruangan.

“Aku kecewa sekali pada Yifan.” Lelaki yang baru masuk berkata, lelaki itu menatap tajam kearah Yifan.

Baba aku mohon..maafkan aku.” Yifan menunduk, dia tahu apa yang dia lakukan salah.

“Jangan panggil aku seperti itu! Kau bukan anakku lagi, kau benar-benar mempermalukan semua keluargamu Cina kau tahu itu?! Dasar anak durhaka!” Ayahnya membentak dengan kasar, seorang wanita yang berdiri disamping lelaki itu menyentuh dada lelaki itu.

“Li Jun..” Wanita itu mungkin mencoba menenangkan suaminya.

“Berhenti, aku tidak akan memaafkan dia.” Lelaki itu berkata.

“Tapi dia anak kita satu-satunya!” Wanita itu membentak.

“Aku tidak pernah punya anak seperti bajingan ini! Pangeran macam apa kau? Kau kira kau bisa melakukan apapun seenaknya? Kau pikir kau bisa kabur dariku?!” Bentak Li Jun.

“Terlebih lagi, kau kabur bersama wanita murahan seperti dia?! Dia hanya penari rendahan Yifan! Apa yang kau pikirkan?!”

“Baba! Dia mungkin hanya penari, tapi dia berhati mulia…tidak seperti menantu kesayanganmu Sulli!” Bentak Yifan balik.

Gina menunduk tidak berani menatap kearah Li Jun yang melotot kearahnya penuh amarah, Gina tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.

“Oh…dia berhati mulia? Katakan padaku Yifan, jika dia berhati mulia maukah dia mengorbankan nyawanya untukmu?” Tanya Li Jun, mata Gina langsung melebar saat dia mendengar itu.

Baba..”

“Hei kau! Siapa namamu?”

Gina akhirnya mengangkat kepalanya, dia bisa merasakan tangannya gemetar dan jantungnya berdetak terlalu cepat sehingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Entah kenapa dia merasa begitu gugup, kenapa dia tidak ingin menyebutkan namanya?

“Hyebin..” Suaranya kecil namun ruangan yang mereka tempati kosong sehingga suaranya menggema.

“Hyebin huh? Hyebin aku akan memberikanmu pilihan sekarang, hanya akan ada satu orang yang selamat.” Li Jun menjelaskan.

Gina menatap kearah Yifan penuh kepanikan, dia tidak bisa mengontrol apapun seakan semuanya sudah diatur dan dia hanyalah boneka yang akan menyaksikan segalanya terjadi.

Baba! Kau tidak bisa melakukan ini!”

“Diam Yifan, kau bilang Hyebin berhati mulia bukan? Kita lihat apakah perkataanmu benar.” Li Jun menyeringai.

“Hyebin, aku memberikanmu pilihan apakah kau akan menyelamatkan dirimu sendiri, atau kau akan menyelamatkan Yifan? Kau pilih yang mana?” Tanya Li Jun.

“Aku..”

“Hyebin,aku tidak punya waktu banyak.”

Li Jun menepukan kedua tangannya dan seseorang mulai membuka atap ruangan mereka, sinar matahari yang cerah mulai masuk kedalam ruangan gelap itu membuat Yifan dan Hyebin semakin panik.

“Kau harus selamat Hyebin, pergilah..” Yifan menyuruh.

“Tapi Yifan..”

“Hyebin! Jangan bodoh..”

“Aku tidak bisa hidup tanpanmu..”

“Kau akan baik-baik saja..” Yifan tersenyum kearah Gina.

Entah mengapa senyuman Yifan selalu membuat dirinya tenang, dia tidak mengerti semua ini kenapa dia merasa aman dan nyaman bersama lelaki bernama Yifan ini.

“Cepat Hyebin!” Li Jun berteriak.

“Selamatkan dirimu sendiri, pergilah ke pulau Nami seperti yang kita rencanakan…lakukanlah apapun yang kau mau, kau bebas sekarang.” Ucap Yifan, Gina menunduk menahan airmatanya.

Dia tidak ingin pergi ke pulau Nami tanpa Yifan, dia tidak ingin bersenang-senang jika tidak ada Yifan disampingnya. Dia tidak ingin tersenyum ataupun tertawa jika Yifan tidak ada bersamanya, dunia tanpa Yifan hanyalah dunia yang kosong,hampa dan gelap karena Yifan selalu menjadi bulannya dan dia adalah bintang yang selalu menunggu bulannya.

“Selamatkan Yifan.” Ucap Gina.

Mendengar itu Yifan sangat terkejut dia menggelengkan kepalanya dan mencoba memberontak, dia ingin sekali melepaskan rantai ditangannya namun dia terlalu lemah untuk itu.

“Pilihan yang bagus Hyebin, kau memang berhati mulia.” Ucap Li Jun, dia tersenyum licik sesaat lalu pergi meninggalkan Hyebin dan Yifan.

Atap ruangan mereka mulai terbuka secara perlahan dan Gina menunggu sinar matahari membakarnya, airmatanya tidak bisa berhenti mengalir. Dia menyerah, dia tidak akan selamat dia hanya akan menunggu sampai malaikat kematian menjemputnya.

“Tidak! Hyebin! Selamatkan dirimu lepaskan rantai di kedua tanganmu dan kakimu!” Yifan membentak dia memberontak dengan sekuat tenaganya.

“Aku mencintaimu Wu Yifan..” Hyebin berbisik saat dia merasakan sinar matahri mulai mendekat kearahnya.

“Tidak! Kau tidak bisa pergi meninggalkan aku! Tidak!” Yifan berteriak.

Gina menutup matanya dan sinar matahari langsung membakar tubuhnya, bahkan wanita itu tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh Yifan untuk terakhir kali karena sekarang tubuhnya sudah hangus. Yifan yang melihat itu langsung berteriak dan menangis meratapi tubuh hangus kekasihnya, dia menunduk menangis dia membenci dirinya sendiri karena dia tidak bisa menyelamatkan kekasihnya dia terlalu lemah dan ceroboh.

*******

 “Argggh!” Gina berteriak, dia langsung bangun dari tidurnya dan menyentuh tubuhnya.

Gina turun dari tempat tidurnya dan menatap bayangannya yang ada di cermin lemarinya, dia menghela nafasnya saat dia melihat tubuhnya masih utuh dan tidak ada luka bakar sedikitpun. Gina maish bisa merasakan perihnya pergelangan tangannya, dia masih bisa merasakan beratnya rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya.

Dia menyentuh dadanya, entah kenapa hatinya juga terasa sakit seakan seseorang baru saja menyakiti perasaannya. Lelaki itu..Wu Yifan, dia yakin dia mengingat wajah lelaki itu dengan jelas dia tahu wajah itu.

“Gina, kau baik-baik saja?”

Suara Aaron terdengar, Gina melirik kearah Aaron dan tersenyum manis kearah kekasihnya itu.

“Ya, hanya mimpi buruk.” Ucap Gina.

“Sudah kubilangkan? Berhenti menonton film horror.” Aaron duduk disampingnya.

“Aku tidak menonton film horror, aku hanya sedang mimpi buruk saja.” Ucap Gina, dia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

“Wu Yifan..” Gina berbisik,dia masih ingat nama dan sosok lelaki yang dia lihat dalam mimpinya.

****

“Kau bisa mencium aromanya?” Tanya Sulli.

“Ya, Kim Hyebin ada disekitar sini aku bisa merasakannya.” Ren menjawab, dia berjalan menuju sebuah taman.

“Dia kesini tadi pagi, aromanya sudah sedikit menghilang tapi aku yakin itu Kim Hyebin.” Ren menjelaskan, Sulli menyeringai.

“Sebaiknya kita secepatnya memusnahkan dia, aku tidak ingin dia sampai bertemu dengan Yifan kembali.” Ucap Sulli, dia berjalan mengikuti Ren.

“Baik yang mulia.” Ren menurut, dia lalu pergi menghilang dari hadapan Sulli untuk mencri keberadaan Kim Hyebin yang mereka cari-cari.

“Sulli bukankah sebaiknya kita berhenti mencari Hyebin? Aku tidak yakin kalau Hyebin akan berenkarnasi kembali.” Minhyun berpendapat.

“Kau tidak tahu apa-apa Minhyun.”

“Kau selalu mengatakan itu padaku,pada kenyataan kaulah yang tidak tahu apa-apa.” Balas Minhyun.

Sulli tidak menjawab, dia mengambil sesuatu dari saku mantel coklat mudanya dan sebuah sapu tangan bisa Minhyun lihat. Dia mengenal sapu tangan itu, kalau tidak salah sapu tangan itu milik Hyebin kenapa kekasihnya itu memilikinya? Bagaimana bisa?

“Aku cukup beruntung bisa mendapatkan ini.” Sulli menyeringai.

“Darimana kau mendapatkan itu?” Minhyun kebingungan.

“Aku menyimpannya ditempat rahasiaku, aku tidak akan mengatakannya padamu.” Sulli menjawab.

Sulli melanjutkan langkahnya namun tiba-tiba saja dua sosok yang tidak ingin dia temui muncul, Yifan dan Jongin kedua vampir itu selalu saja menghalangi setiap rencananya. Minhyun langsung berdiri didepan Sulli melindungi kekasihnya, dia menatap tajam kearah Yifan dan mendesis menunjukan kedua taring tajamnya Jongin membalasnya.

“Tenang Jongin.” Yifan mencegah Jongin yang akan menyerang Minhyun.

“Pangeran Yifan, senang bertemu denganmu lagi.”

Sulli tersenyum kearah Yifan namun Yifan tidak mood untuk beramah –tamah dengan Sulli, dia hanya ingin tahu kenapa Sulli ada disini didaerahnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau tahu ini daerahku walaupun aku jarang ada disini.” Ucap Yifan dan Sulli mengangguk.

“Tentu saja aku tahu, aku yang memberikan daerah ini untukmu.” Jawab Sulli.

“Kalau begitu bukankah kau sebaiknya pergi?!” Jongin membentak.

“Kim Jongin! Kau tidak boleh berbicara seperti itu pada ratu!” Minhyun balas membentak membuat Jongin mendengus.

“Ratu?! Ratu macam apa yang tega membunuh orang yang tidak bersalah!”

“Aku tidak membunuh adikmu! Adikmu yang membunuh aku!”

Semua orang terdiam saat mereka mendengar perkataan Sulli, Yifan menunduk menatap kearah kakinya dia tahu lambat atau laun semua rahasia yang dia tutupi dari Jongin akan terbuka satu- persatu. Jongin melirik kearah Yifan dengan panik, Minhyun hanya terdiam sedih dia tidak ingin mengingat semuanya kenangan pahit saat dia kehilangan Sulli.

“Adikmu dan Yifan membunuhku, mereka menusukku dari belakang apa sekarang kau masih marah padaku?” Suara Sulli kedengaran sedikit gemetar mungkin karena dia mencoba dengan keras menahan airmatanya.

Mata Yifan melirik kearah Sulli, Sulli menatapnya kembali mata wanita itu memancarkan kesakitan dan pengkhianatan mengingatkan Yifan pada dosanya selama ini.

“Apa itu benar?” Jongin bertanya.

“Jongin…”

“Aku tanya apa itu benar?!”

Jongin menarik kerah baju Yifan walaupun Yifan lebih tinggi darinya Jongin tidak kelihatan takut sama sekali.

“Maafkan aku Jongin, kami tidak punya pilihan lain.” Ucap Yifan dengan jujur.

“Apalagi yang kau sembunyikan dariku?” Tanya Jongin, matanya berkaca-kaca dia tidak percaya jika Yifan menyuruh adiknya yang lugu membunuh.

“Hyebin sudah berenkarnasi, dia ada disekitar sini aku cukup yakin Yifan sudah menemuinya apakah dia sudah menceritakannya padamu?” Ungkap Sulli.

Mata Yifan melebar saat dia mendengar itu dia melirik kearah Sulli seakan Sulli mengatakan sesuatu yang tidak mungkin, Sulli menyeringai licik.

“Apa kau belum tahu pangeranku? Kekasihmu sudah berenkarnasi.”

Jongin melepaskan gengaman tangannya dari kerah baju Yifan.

“Dimana dia sekarang?” Tanya Jongin.

“Aku tidak yakin ingin mengatakan itu padamu, kau harus mencarinya sendiri.”

Sulli dan Minhyun berbalik meninggalkan mereka lalu mereka menghilang seperti asap, Jongin kelihatan marah sekali pada Yifan dia pergi meninggalkan Yifan sendirian. Yifan melirik kearah belakangnya saat dia mendnegar langkah kaki seseorang.

Dia bisa melihat sosok Ren, Ren melangkah mundur ketakutan saat dia melihat sosok Yifan.Yifan langsung berlari kearah Ren dan mencekik leher Ren, Ren mencoba melepaskan tangan Yifan dari lehernya namun usahanya percuma.

“Katakan padaku dimana Hyebin?!” Bentak Yifan matanya berubah menjadi merah menyala.

“D-dia..ekh..ada disana.” Ren menunjuk kearah gedung apartemen yang berjarak tidak jauh dari taman.

Yifan melepaskan tangannya dari leher Ren, dia bisa mencium aroma tubuh Hyebin saat angin malam berhembus sepertinya Ren tidak berbohong. Yifan langsung pergi menghilang meninggalkan Ren yang terbatuk-batuk, Ren menyentuh leherny yang berdarah karena cakar Yifan lalu luka itu taklama kemudian menghilang dan leher Ren seperti semula kembali.

“Dia tidak berubah sedikitpun.” Ren bergumam dia menghela nafasnya.

*****

  Yifan berdiri didepan jendela kamar apartemen yang ditunjuk oleh Ren, dia bisa melihat sosok yang mirip dengan Hyebin tertidur didalam apartemen itu. Yifan tersenyum tipis, Hyebin terlihat sangat tenang saat dia tertidur dia sama sekali tidak berubah masih seperti dulu.

Yifan menyentuh jendela Hyebin dan jendela itu langsung terbuka mengijinkan Yifan untuk masuk dan duduk disamping tubuh Hyebin yang terlelap tidur. Tangan Yifan ragu untuk menyentuh pipi Hyebin namun dia ingin sekali menyentuh lagi kekasihnya, dia ingin kembali mencium dan mencumbu Hyebin seperti dulu saat mereka bersama.

“Hyebin..” Panggil Yifan.

Gina yang mendengar suara Yifan terkejut, dia bisa merasakan kehadiran seseornag disampingnya namun dia terlalu takut untuk membuka matanya. Dia tahu suara yang memanggil nama Hyebin itu bukan Aaron karena Aaron sudah pulang sejak tadi, Gina meremas selimutnya mencoba menyembunyikan ekspressi paniknya.

“Hyebin ini aku Yifan..” Yifan berkata, Gina menahan nafsnya saat dia merasakan tangan dingin Yifan menyentuhnya.

Gina akhirnya membuka matanya perlahan dan dia bisa melihat sosok tampan Yifan ada didepannya, dia memakai baju hitam dan celana hitam. Rambutnya sekarng pirang bukan coklat gelap seperti yang dia ingat saat dia bermimpi, Yifan tersenyum kearahnya dan membantu Gina untuk bangun.

“Dengarkan aku, kau dalam bahaya sekarang.” Yifan menjelaskan dan Gina hanya bisa menatapnya kebingungan.

“Kau harus ikut denganku.” Yifan berkata namun Gina segera menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia mempercayai lelaki yangbaru saja dia temui? Dia bukan anak remaja yang bodoh atau naïve.

“Siapa kamu? Aku tidak tahu kamu, kenapa aku harus ikut denganmu?!” Ucap Gina, dia menjauh dari Yifan membuat Yifan sedikit sedih.

“Ini aku Hyebin, Wu Yifan..kekasihmu.” Yifan mencoba menjelaskan, Gina menggelengkan kepalanya.

“Apa kamu bilang? Aku tidak tahu kau, lagipula kekasihku Aaron.” Gina menjawab.

“Tidak, siapa Aaron? Kau Hyebin apa kau mengingatku? Haruskah aku mengingatkan mu?” Yifan bertanya.

“Aku bukan Hyebin! Berhenti memanggilku dengan nama itu, aku Gina..Choi Gina!” Gina marah dan turun dari ranjangnya.

“Sebaiknya kau pergi, atau aku akan menghubungi polisi.” Gina mengancam.

“Tapi Hye—“

“Cukup! Sudah kubilang aku bukan Hyebin aku Gina.”

Melihat ekspressi marah itu mau tidak mau Yifan harus pergi, dia melangkah keluar dari kamar Gina dan dia melirik kebelakang sekilas melihat Gina menatap kearahnya mungkin masih mencoba untuk mengenalinya.

“Jika kau merubah pikiranmu, aku selalu ada di taman yang biasa kau datangi.” Ucap Yifan, Gina tidakmenjawab wanita itu hanya diam dan menunduk.

Yifan tersenyum tipis dan tubuhnya menghilang begitu saja membuat Gina menarik nafasnya terkejut, apakah dia sedang bermimpi? Tapi semuanya kelihatan nyata sekali bahkan sentuhan dingin Yifan masih terasa dipipinya.

    To Be Continue….

Don’t forget the comment  :)

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

8 thoughts on “Love Thrist 2 [Part 1]

  1. wah seneng deh thor ms bikin ff dgn main castnya kris. aku kira nanti gk ada. . . .
    ini gmn cerita.a jujur agak bingung, tp keren lah bikin penasaran. . .
    ayo next sekalian yg great ambition. . . .

  2. cerita nya menarik bkin penasaran…sulli koq jahat sih muka dua bgt di dpn minhyuk…moga hyebin bsa sma yifan lgi….blh minta pw yg part 2 nya gk? .

  3. whooaaahhh,,daebakkk,,ceritanya flash back juga,,jdi ngga bingung awalnya,,aahh untung aku baca dulu love thirst nya klo ngga,,pasti bengooong hhahaaa,,
    tpi aku penasaran..emang bneran hyebin sama yifan yg bunuh sulli,,??gmn tuh ceritanyaa,,

    serasa aku ada d cerita ini,,soalnya namaku yg jadi reinkarnasi hyebin,,,seneng bgt deh bsa d pasangin sama yifan ahahahaa,,,*apasih-_-

    author seven…ttep semangat yaahh writingnyaa,,,
    aku suka semua ceritanyaa,,,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s