Posted in FanFiction NC 17+

Great Ambition – Chapter 5

Title: The Great Ambition

Author :Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Jo Eunmi [OC],Oh Sehun [EXO],Oh Jiyoung [OC],Lee Howon [INFINITE]

Kim Yura [Girls day], Jung Hyojung [Tale of two siblings],Wu Zhongren/Kai [EXO]

Wu Yifan [EXO], Wu Hanbyul/Hyojin [Tale of two siblings],Kim Joonmyeon [EXO]

Genre :Melodrama,Horror and Romance

Length :Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

<<Previous Chapter

Next Chapter >>

5

Boundaries

 

“Katakan padaku satu hal..” Sehun melirik kearah Eunmi yang duduk disampingnya.

“Apa kau masih mengingat semua ini?” Tanya Sehun, dia tersenyum kearah Eunmi, Eunmi mengangguk dan dia menatap kearah pemandangan indah yang ada didepannya.

“Aku tidak mengira kau masih ingat bukit ini, kita kesini saat kita masih SD benarkan?” Eunmi mengingat.

Eunmi tidak pernah lupa saat Sehun kecil saat itu menarik tangannya dan membawanya kebukit kecil yang tak jauh dari rumahnya, Eunmi menangis saat itu dan Sehun mencoba menghiburnya dengan membawanya ketempat ini.

“Apa kau masih senang melihat semua pemandangan ini?” Sehun berdiri dan membuka tanganya mengeliat, Eunmi hanya tersenyum tipis menatap kearah punggung Sehun.

“AKU BEBASSS!!” Sehun berteriak membuat Eunmi tertawa.

“Kenapa kau tertawa? Ayo katakan itu bersamaku.” Ajak Sehun, Eunmi menggelengkan kepalanya malu.

“Oh ayolah, apa kau masih pemalu seperti dulu?” Sehun menggoda dan akhirnya Eunmipun berdiri dan mendekat kearah Sehun.

“AKU JUGA BEBASS!!” Eunmi berteriak.

“WOOHOO!” Sehun ikut berteriak, mereka tertawa karena mereka merasa konyol namun mereka bahagia.

“Sudah lama sekali aku tidak datang kesini..” Sehun bergumam, Eunmi menatap aneh kearah Sehun dia kira Sehun sering datang kesini karena dulu Sehun bilang kalau tempat ini adalah tempat kesukaannya.

“Kenapa? Bukankah ini tempat dimana kau merasa nyaman?”

Sehun menggelengkan kepalanya, dia menyentuh pipi Eunmi membuat jantung Eunmi berdetak sangat cepat dia bahkan bisa merasakan pipinya memanas. Entah kenapa jika dia sedang bersama Sehun dia merasa menjadi gadis kecil kembali, dia merasa lemah didepan Sehun apalagi sekarang mata Sehun menatap kearahnya seakan tatapannya itu mencoba membaca pikirannya.

“Tempat ini bukan apa-apa jika kau tidak bersamaku.” Sehun menjawab.

Untuk sekilas Eunmi mengira kalau Sehun serius namun dia segera memukul lengan Sehun, dia tahu Sehun tidak mungkin serius lelaki itu hanya menggodanya seperti saat mereka masih kecil.

“YA! Sudah berapa gadis kau goda seperti itu?!” Tanya Eunmi membuat Sehun tertawa.

“Ah..akhirnya Eunmi yang dulu kembali juga.” Sehun tersenyum, membuat Eunmi menunduk malu.

“Kau atasanku sekarang, aku tidak bisa bertingkah seperti dulu..” Ungkap Eunmi.

“Tidak apa-apa Eunmi, selama kita tidak ada dikantor kita bisa seperti dulu.”

“Aku tidak tahu kenapa kita bisa berpisah dulu, apa kau ingat?”

Sehun tidak menjawab, dia hanya melingkarkan tangannya dibahu Eunmi.

“Aku tidak peduli, asalkan kau sekarang menjadi temanku lagi.” Jawab Sehun.

Eunmi tersenyum mendengar jawaban itu, dia tahu Sehun hanya menganggapnya sebagai teman namun entah kenapa Eunmi selalu berharap jika suatu hari Sehun akan melihatnya sebagai wanita bukan teman masa kecilnya. Waktu sudah berlalu sangat cepat dan mereka sudah dewasa sekarang tapi hubungan dia dan Sehun tidak pernah berubah, Eunmi menunduk sedih dia tahu dia selamanya akan menjadi teman Sehun dan itu tidak akan berubah.

“Aku dengar kau punya pacar sekarang, siapa namanya? Oh iya..Kim Yura.” Eunmi berkata dan Sehun melirik kearah Eunmi.

“Oh iya, aku sudah berkencan selama satu tahun dia gadis yang baik.” Sehun menjawab.

“Bagus kalau begitu, aku harap kau bahagia dengan dia.” Ucap Eunmi, Sehun mengangguk dia kelihatan tidak nyaman untuk membicarakan Yura didepan Eunmi.

“Bagimana denganmu? Kau punya pacar sekarang?” Sehun menatap kearah Eunmi penuh keingin tahuan.

“Hm..sebenarnya ada seseorang yang ingin menjadi pacarku, tapi aku belum yakin..” Eunmi berterus terang.

“Siapa? Mungkin aku bisa menilai dia untukmu.” Sehun tersenyum.

“Untuk apa?! Kau bukan ayahku..” Eunmi membalas.

“Baiklah..aku hanya menawarkan diri.”

Mereka berdua menatap kearah pemandangan indah didepan mereka, walaupun tangan Sehun sekarang ada dipundaknya Eunmi tidak senang. Dia hanya ingin kembali kekantor, dia tidak mengingat kalau cintanya untuk Sehun akan selalu bertepuk sebelah tangan.

*****

Hyojin meraa baikan hari ini dia bahkan merasa senang, semenjak dia mengetahui dia hamil dia tidak pernah merasa kesepian karena dia tahu kalau dia selalu ditemani oleh jabang bayinya yang ada dalam kandungannya. Dia berjalan kekamar mandi dan membasuh wajahnya, mungkin dia harus pergi keperusahaan Guangde dan mengunjungi suaminya untuk mengantarkan bekal makan siang.

Hyojin yang baru selesai membasuh mukanya menatap kearah cermin kamar mandi, matanya melebar sata dia melihat sosok seorang wanita yang tiba-tiba saj amuncul dibelakangnya. Hyojin melirik kebelakang namun dia tidak menemukan siapapun, dia melirk lagi kearah cermin kamar mandi namun sosok wanita itu sudah menghilang.

Menghela nafasnya Hyojin mengelap wajahnya dengan handuk yang dia disamping wastafel, dia berjalan keluar dari kamar mandi kamarnya dan duduk dimeja riasnya. Hojin menunduk resah, bayangan wanita yang sering dia lihat semakin jelas sekarang dan itu membuat dia cemas dan takut.

Dia takut jika sosok wanita itu ingin mencelakai jabang bayinya, Hyojin mengelus perutnya dan tersenyum.

“Tenang saja sayang…Eomma akan melindungimu.” Hyojin bergumam.

Hyojin terkejut saat dia mendengar ketukan pintu kamarnya, Hyojin membuka kamarnya dan seorang pmbantu mengataka bahwa Joonmyeon ada dilantai bawah menunggunya. Hyojin kebingungan, tumben sekali Joonmyeon datang untuknya biasanya lelaki itu kesini hanya ingin bertemu dengan Zhongren adiknya.

Setelah bersiap-siap, Hyojin turun kebawah dan dia tersenyum melihat sosok Joonmyeon yang sudah menunggunya lelaki itu terlihat sangat dewasa dengan baju formalnya.

“Joonmyeon-shi?” Hyojin memanggil membuat Joonmyeon melirik kearah Hyojin.

“Oh Hanbyul-shi, aku senang melihatmu sudah baikan.” Joonmyeon berkata dan Hanbyul tersenyum mendapatkan pujian itu.

“Ada apa Joonmyeon-shi? Apa aku bisa membantumu?” Tanya Hyojin.

“Sebenarnya aku hanya ingin mendiskusikan sesuatu denganmu jika kau tidak keberatan.” Joonmyeon mengungkapkan.

“Ya tentu saja, apa yang ingin kau bahas Joonmyeon-shi?”

Joonmyeon kelihatan ragu untuk menyampaikan maksudnya dan itu membuat Hyojin cemas, dia harap Joonmyeon tidak membawa berita yang buruk.

“Sebenarnya aku penasaran, apakah Hyojung dan Zhongren serius?” Tanya Joonmyeon.

Hyojin sedikit lega karena ternyata Joonmyeon kesini bukan untuk menyampaikan berita yang buruk.

“Tentu saja Joonmyeon-shi, apa kau tidak melihat cincin pertunangan mereka?” Hyojin bertanya, Joonmyeon kelihatannya sedang mengingat-ngingat.

“Oh begitu ya, bagus kalau begitu.” Joonmyeon akhirnya berkata.

“Memang ada apa Joonmyeon-shi?” Tanya Hyojin penasaran.

“Sebenarnya aku ingin mengajak Zhongren bermain dalam drama terbaru yang aku sponsori.”Joonmyeon menjelaskan.

“Oh itu bagus, Zhongren pasti senang mendengarnya.” Hyojin berkata.

“Aku tahu Hanbyul-shi, tapi drama ini sedikit intense dan penuh dengan cerita pecintaan jadi aku sedikit khawatir jika Hyojung dan Zhongren tidak bisa menjaga hubungan mereka.” Ungkap Joonmyeon.

“Oh begitu ya, tapi aku cukup yakin Hyojung dan Zhongren memiliki hubungan yang kuat Zhongren sudah sering bermain dramakan? Tapi aku tidak pernah mendengar Hyojung protes.” Hyojin tersenyum menenangkan Joonmyeon, Joonmyeon membalas senyumnya.

“Bagus kalau begitu, aku akan mengajak Zhongren unuk bertemu sutradara dan penulis naskah nanti sore.” Joonmyeon tersenyum.

“Aku harap drama barumu sukses Joonmyeon-shi.”

“Terimakasih Hanbyul-shi, aku harap kandunganmu baik-baik saja.”

Keduanya tersenyum, Hyojin menykai sikap Joonmyeon lelaki itu begitu sopan dan ramah penuh senyuman membuat siapapun nyaman bersamanya. Pantas saja Zhongren langsung menyukai lelaki ini, Zhongren sudah seperti perangko yang menemukan amplopnya saat dia bertemu dengan Joonmyeon.

Walaupun Hyojin sedih karena suaminya tidak lagi dekat dengan Zhongren dia sedikit bahagia, karena Zhongren memang harus dekat dengan Joonmyeon. Bagaimanapun Joonmyeon adalah kakak biologis Zhongren berbeda dengan suaminya, Zhongren terkadang datang pada Yifan hanya untuk mengobrol sebentar lalu mereka kembali pada aktivitas mereka masing-masing.

“Oh iya, kau terlihat rapih sekali apa kau akan pergi keluar?” Pertanyaan Joonmyeon menyadarkannya dari lamunan.

“Kau benar, aku akan pergi ke Guangde untuk mengantar makan siang.” Hyojin menjawab.

“Begitu ya, bagaimana kalau aku mengantarkanmu?” Joonmyeon menawarkan.

“Apa kau yakin ingin mengantarkanku? Kau pasti sibuk.” Hyojin menolak dengan halus.

Dia tahu suaminya akan marah jika dia datang bersama lelaki lain, apalagi Yifan bisa dibilang lelaki yang gampang sekali cemburu dan Hyojin tidak mood untuk bertengkar dengan Yifan.

“Aku yakin, aku akan menunggu jika kau mau.” Joonmyeon menjawab dia tersenyum ramah kepada Hyojin.

Melihat senyum itu Hyojin merasa bersalah, dia tidak bisa menolak tawaran Joonmyeon karena lelaki itu terlalu baik.

“Baiklah, bisakah kau menunggu sebentar? Aku akan mengambil bekalnya.”

Hyojin berlari kearah dapur untuk membawa kotak makanan, Joonmyeon menunggu dengan sabar sambil melirik kearah sekitarnya. Dia bisa melihat foto pernikahan Yifan dan Hyojin yang dipajang diruang tamu, Hyojin terlihat cantik dengan gaun putihnya Joonmyeon mendekat menatap kearah foto itu.

Dia bisa melihat foto Hyojung dan Zhongren juga yang berdiri disamping kedua mempelai, Joonmyeon menyeringai saat dia melihat foto itu.

Aku akan merebut semua milikmu Zhongren, seperti kau merebut semua kebahagiaanku

“Joonmyeon-shi?”

Mendengar suara Hyojin Joonmyeon melirik kearah sosok Hyojin yang ada disampingnya sekarang.

“Foto pernikahanmu bagus sekali.” Puji Joonmyeon.

“Terimakasih, apakah kita akan pergi sekarang?”

“Ya tentu saja, mari..” Joonmyeon mengikuti langkah Hyojin dari belakang.

Sepertinya Hyojin sudah sehat, wanita itu terlihat bersemangat dan raut wajahnya juga lebih cerah dari kemarin. Joonmyeon menjadi penasaran, apakah Hyojin tahu sesuatu tentang Boyoung ibu tirinya? Karena dia masih ingat beberapa minggu yang lalu Hyojin menanyakan soal kabar ibu kandungnya.

“Oh iya, Hyojin-shi apakah kau mengenal ibuku?”

Joonmyeon membukakan pintu mobil sedannya untuk Hyojin, Hyojin berpikir sejenak lalu wanita itu menggelengkan kepalanya.

“Maaf Joonmyeon-shi tapi aku tidak pernah bertemu dengan ibumu, aku hanya tahu tentang ayahmu tapi itu juga hanya sedikit..” Hyojin menjawab.

“Oh begitu ya, aneh sekali..saat kita pertama bertemu kau menanyakan kabar ibuku dan kau mulai memarahiku..” Joonmyeon berkata.

“Aku tidak tahu Joonmyeon-shi, maafkan aku..aku tidak sadar waktu itu mungkin aku hanya mengatakan sesuatu yang tak masuk akal.” Ucap Hyojin.

Walaupun Joonmyeon tidak puas dengan jawaban Hyojin dia memutuskan untuk tidak membahasnya dan masuk kedalam mobilnya bersama Hyojin menyuruh supirnya untuk pergi menuju perusahaan Guangde.

*****

Zhongren baru saja menyelesaikan pemotretannya, dia duduk dikursi yang sudah disediakan oleh staff. Dia mengambil handphonenya dan tersenyum saat dia melihat sebuah pesan dari Hyojung, gadis itu selalu meninggalkan pesan yang mesra untuknya membuat dia merasa sangat special.

“Zhongren, apa kau sudah selesai?” Yongjae managernya bertanya dan Zhongren mengangguk.

“Ya, hyung aku sudah beres..apakah kita harus pergi sekarang?” Zhongren berdiri saat dia melihat managernya.

“Tidak usah, kau tidak punya jadwal sampai nanti sore.” Yongjae menjawab emmbuat Zhongren kembali duduk.

“Akhirnya…aku sedikit lelah hari ini.” Zhongren mengeluh, dia mengusap wajahnya.

“Aku tahu, kau sudah bekerja keras belakangan ini.” Yongjae menepuk bahu Zhongren.

“Ada apa hyung?apa kau butuh sesuatu?” Tanya Zhongren, dia penasaran karena dia melihat ekspressi Youngjae yang berbeda.

“Sebenarnya aku menerima pesan dari asisten Kim Joonmyeon, dia bilang dia ingin bertemu denganmu.” Youngjae mengungkapkan.

Zhongren terkejut mendengar perkataan Youngjae, kenapa juga kakaknya itu mengirimkan asistennya? Kenapa dia tidak datang sendiri? Oh mungkin dia sibuk mengingat dia adalah direktur utama perusahaan sebesar perusahaan K&T.

“Oh memang dia ingin apa?” Tanya Zhongren mencoba menyembunyikan ekspressi paniknya, dia tidak bisa membiarkan Youngjae tahu hubungan dia dengan Joonmyeon yang sebenarnya.

“Dia ingin kau bermain dalam drama terbarunya, kau tahu Kim Joonmyeon adalah produser drama yang sukses.”

Mendengar itu Zhongren tidak bisa menahan rasa bahagianya, dia tersenyum sedikit dia tidak menyangka jika kakak tirinya itu cukup perhatian untuk mengajaknya dalam sebuah proyek bersama tentu saja Zhongren akan menyutujuinya tidak peduli karakter apa yang harus dia mainkan.

“Baiklah, aku akan menemuinya.. kapan dia ingin bertemu denganku?” Zhongren melirik kearah managernya.

“Hm..mungkin besok setelah kau membereskan jadwalmu.” Yongjae menjawab dia sedang mengecheck jadwal Zhongren.

“Bagus kalau begitu, kita bisa lebih leluasa..” Ucap Zhongren.

“Zhongren kau yakin ingin menemuinya?” Yongjae malah bertanya lagi.

Entah kenapa managernya itu kelihatan tidak setuju dengan keputusannya,biasanya Youngjae selalu mendukung keputusannya namun sekarang sepertinya managernya itu meragukannya.

“Kenapa hyung? Kau tidak mau aku menemuinya?”

Yongjae menggelengkan kepalanya, tentu saja tidak. Zhongren akan memiliki kesempatan menjadi artis yang lebih tenar dengan bertemu Joonmyeon namun entah kenapa instingnya mengatakan kalau bertemu dengan produser itu bukanlah ide yang bagus, Youngjae tersenyum kearah Zhongren dan mengelus kepalanya.

“Tidak, hati-hati saja…kau harus melihat situasi sebelum mengambil keputusan ok?”

Zhongren mengangguk, Youngjae berbalik untuk pergi meninggalkan Zhongren dia tidak ingin menganggu Zhongren disaat dia harus istirahat.

*****

“Terimakasih sudah mengantarku.” Hyojin berkata dan tersenyum kepada Joonmyeon.

“Sama-sama Hanbyul-shi.” Jawab Joonmyeon.

“Aku harus pergi dulu, sampai jumpa lagi Joonmyeon-shi.” Hyojin berpamitan dan pergi meneju lift terdekat.

Joonmyeon tersenyum sampai akhirnya pintu lift Hyojin tertutup, senyum nya langsung hilang dan dia berjalan disekitar lobi perusahaan Guangde mengamati perusahaan besar itu dia sedikit kagum dengan desai interior kantor itu karena terlihat sangat mewah namun professional juga.

“Joonmyeon Oppa?”

Suara itu mengagetkan Joonmyeon membuat Joonmyeon melirik kebelakang dia melihat Hyojung berdiri tidak jauh darinya bersama Taeyeon. Dia mengenal wanita itu dari rambut pirang panjangnya, Joonmyeon tersenyum ramah kearah Hyojung.

“Oh Hyojung-ah, senang bertemu denganmu.” Joonmyeon berkata.

“Apa yang kau lakukan disini? Jangan bilang kau punya proyek bersama Guangde.” Hyojung berkata dan Joonmyeon menggelengkan kepalanya.

“Maaf Hyojung tapi tidak, aku kesini mengantar Hanbyul-shi.” Joonmyeon menjelaskan.

“Oh apa Hanbyul sudah sembuh sekarang?” Taeyeon bertanya.

“Sepertinya begitu, dia terlihat lebih bersemangat sekarang.”Jawab Joonmyeon.

“Bagus kalau begitu.” Taeyeon tersenyum lega.

“Apa kau sedang sibuk? Jika kau tidak sibuk bagaimana kalau kita minum kopi bersama?” Joonmyeon menawarkan, Hyojung mengangguk setuju.

“Taeyeon Eonni, bisakah kau mengantarkan dokumen ini kebagaian marketing? Aku akan keluar sebentar.” Hyojung meminta dan Taeyeon mengangguk.

“Baiklah, aku akan mengantarkannya.” Taeyeon menyetujui, dia lalu pergi meninggalkan Hyojung dengan Joonmyeon.

“Ayo, aku tahu café terdekat.” Hyojung mengajak, Joonmyeon mengikuti langkah Hyojung.

“Hyojung-ah…” Joonmyeon memanggil saat mereka melangkah keluar dari kantor Guangde.

“Ya Oppa?” Hyojung melirik kearah Joonmyeon.

“Kau terlihat sangat dewasa dan cantik saat kau memakai baju formal.” Puji Joonmyeon.

Hyojung yang mendengar itu langsung tersipu malu, bagaiman bisa lelaki itu memujinya dengan wajah tanpa dosa seperti itu? Bahkan Joonmyeon mengatakannya tanpa berkedip.

“T-terimakasih Oppa.” Hyojung menjawab gugup.

“Eh?kenapa pipimu merah? Apa kau sakit?” Tanya Joonmyeon.

Hyojung segera menggelengkan kepalanya, Hyojung muali berpikir apakah Joonmyeon sedang menjahilinya? Lelaki itu tidak tahu kalau dia malu atau hanya berakting bodoh?

“Tidak apa-apa Oppa.” Hyojung berkata, Joonmyeon menyeringai saat dia melihat reaksi Hyojung.

Setelah mereka berjalan beberapa menit dari perusahaan Guangde mereka akhirnya sampai disebuah Café yang kecil dan sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang sedang meminum kopi mereka dengan tenang saat Joonmyeon dan Hyojung masuk.

“Kau mau pesan apa?” Tanya Hyojung saat mereka berdua akhirnya duduk dikursi paling sudut dekat jendela.

“Kopi saja.” Jawab Joonmyeon.

“Satu kopi dan satu lemon tea.” Hyojung memesan pada seorang pelayan yang berdiri disamping mereka.

“Kau suka minuman teh?” Joonmyeon bertanya dan Hyojung mengangguk.

“Hm..itu berarti kau mandiri dan suka kebersihan apa aku benar?” Joonmyeon menebak membuat Hyojung tersenyum.

“Mungkin, darimana kau punya tebakan itu?” Tanya Hyojung.

“Aku peramal…aku tahu segalanya.” Joonmyeon menunjuk kearah kepalanya dan tersenyum.

Hyojung hanya menggelengkan kepalanya.Dia tidak tahu kalau Jonmyeon sekonyol ini, dia kira Joonmyeon lebih dewasa dan serius tapi dia salah mungkin peribahasa ‘jangan menilai buku dari sampulnya’ sangat cocok untuk Joonmyeon.

“Kau pasti menanyakan itu dari Zhongren Oppa,apa dia menceritakan sesuatu yang memalukan tentang aku juga?” Tanya Hyojung.

“Tidak juga, dia jarang sekali membicarakanmu denganku.” Jawab Joonmyeon.

Walaupun Hyojung sedikit kecewa dia hanya tersenyum tipis, mungkin Zhongren belum merasa nyaman dengan Joomyeon.

“Bagaimana kalau hari ini kita juga tidak membicarakan Zhongren? Aku khawtair dia akan bersin saat dia syuting.” Ucap Joonmyeon membuat Hyojung tertawa.

“Kau benar Oppa.”

“Jadi..kau sedang sibuk apa? Bagaimana pekerjaanmu di Guangde?” Joonmyeon bertanya.

“Ya aku sedikit sibuk, Guangde ingin meluncurkan produk baru jadi aku harus menilai beberapa konsep dan desain.” Ungkap Hyojung, taklama kemudian pesanan mereka datang.

“Guangde cukup aktif belakangan ini, pantas saja kau dan Yifan jarang ada dirumah.”

Joonmyeon meneguk kopinya, Hyojung hanya mengangguk setuju dia sendiri sedikit sedih dengan kesibukannya karena sekarang dia tidak bisa menghabiskan waktu yang banyak dnegan Zhongren. Mereka berdua terlalu sibuk dnegan pekerjaan, bahkan mereka sekarang jarang sekali mengobrol walaupun pada pagi hari dia bangun disamping Zhongren mereka tidak pernah sempat untuk mengobrol seperti dulu.

“Apa yang sedang au pikirkan? Kau terlihat murung..”

Suara Joonmyeon membangunkan Hyojung dari lamunanya.

“Bukan apa-apa Oppa, bagaimana dengan perusahaan K&T? aku dengar kau mulai merambah kedunia entertainment apa kau akan membuat agensi?” Tanya Hyojung.

“Aku sedang mempertimbangkannya, aku sudah menjadi produser cukup lama mungkin jika aku punya cukup modal aku akan membuat sebuah agensi.” Joonmyeon menjawab.

Hyojung hanya mengangguk, Joonmyeon menyadari Hyojung sedang melamun lagi dan itu membuatnya penasaran.

“Apa kau sedang bertengkar dengan Zhongren?”

Mendnegar pertanyaan itu Hyojung menatap kearah Joonmyeon dan diapun menggelengkan kepalanya lalu menunduk, ekspressi Hyojung langsung berubah menjadi murung membuat Joonmyeon kasihan pada gadis itu.

Dia berdiri dari duduknya dan berjongkok didepan Hyojung yang menunduk dengan ekspressi murungnya, Joonmyeon lalu mencubit pipi Hyojung.

“Katakan padaku ada apa? Aku janji mulutku terkunci untukmu.” Ucap Joonmyeon.

“Aku hanya..” Hyojung tidak menamatkan kalimatnya.

“Apa kau ingin pergi ketempat yang lebih sepi?” Tanya Joonmyeon.

“Aku tidak tahu Oppa..”

“Kau adikku juga Hyojung, jika kau punya masalah kau bisa mengatakannya padaku.” Bujuk Joonmyeon, Hyojung tersenyum pada Joonmyeon.

“Aku ingin mengobrol denganmu lebih jauh tapi aku harus bekerja sekarang.” Hyojung berkata.

“Tidak masalah,aku akan menjemputmu setelah kau selesai bekerja jika kau mau.” Joonmyeon menawarkan dengan baik hati.

“Kau yakin?”

“Ya, aku tidak sibuk sekarang aku bisa menjemputmu kapan kau pulang bekerja?”

“Aku pulang sekitar jam 2 siang jika tidak ada meeting.” Jawab Hyojung.

“Baiklah aku akan datang lagi kesini sekitar jam 2 siang.” Joonmyeon menyetujui.

“K-kau serius Oppa?” Tanya Hyojung ragu-ragu.

“Ya,aku sedang bosan..daripada au diam aku lebih baik menghabiskan waktu denganmu.” Joonmyeon berkata dan Hyojung mengangguk.

“Terimakasih Oppa, kau baik sekali.” Hyojung memuji, Joonmyeon berdiri dan dia mengelus kepala Hyojung.

“Sebaiknya kita kembali kekantor mu bukankah kau harus bekerja?” Joonmyeon mengelurkan tangannya pada Hyojung, Hyojung menyambut tangan Joonmyoen dan berdiri dari duduknya.

Mereka berdua membayar pesanannya setelah itu merekapun pergi kekantor Hyojung dengan senyum dan tawa, entah kenapa Hyojung merasa nyaman sekali bersama Joonmyeon seakan lelaki itu orang yang sudah lama dia kenal.

*****

“Joonmyeon mengantarkanmu?” Tanya Yifan saat dia duduk dikursi kantornya, Hyojin mengangguk.

“Ya, dia baik sekali untuk mengantarkan aku..” Hyojin tersenyum, dia membuka kotak makanan yang dia bawa.

“Iya dia memang baik, tapi kau yakin dia tidak memiliki motif lain?” Yifan menatap curiga kearah Hyojin, Hyojin tersenyum dan mengelus pipi Yifan.

“Oppa kau terlalu paranoid, aku tidak akan berselingkuh denganmu.” Hyojin berkata dengan senyumnnya, Yifan tersenyum dan mencium pipi istrinya dengan mesra.

“Lebih baik seperti itu, kalau tidak aku harus menyingkirkan Joonmyeon.” Ancam Yifan.

“Sudah..sudah..makanlah lebih dulu, waktu istirahatmu singkat bukan?” Hyojin mengelap sumpit yang dia bawa sampai bersih dan memberikannya pada Yifan.

“Bagaimana kandunganmu? Apa kau ingin aku mengantarmu kedokter?” Yifan menawarkan.

“Baik-baik saja Oppa, aku mungkin kedokter lagi setelah umur kandunganku genap satu bulan.” Jawab Hyojin.

“Hm..bagus, aku tidak sabar melihat si kecil ini tumbuh.”

Yifan menyentuh perut Hyojin dan mengelus perut Hyojin dengan lembut, Hyojin menyentuh tangan Yifan yang ada diperutnya.

“Aku juga Oppa, aku tidak sabar ingin melihat wajah dia seperti apa.” Hyojin berkata, Yifan menyentuh pipi Hyojin.

“Terimakasih kau sudah memberikanku banyak kebahgiaan Jung Hyojin.” Yifan berkata.

Airmata Hyojin tidak bisa terbendung lagi dan menetes, Hyojin benci semenjak dia hamil dia sangat sensitif sekali bahkan adegan klise yang ada didrama korea membuatnya menangis padahal dulu sebelum dia hamil dia bukan wanita yang sensitif sama sekali.

“Omo! Kau menangis? Apa yang aku lakukan?” Yifan panik sata melihat airmata Hyojin tidak berhenti.

“Kau jahat!” Hyojin memukul dada Yifan dan Yifan tertawa.

“Kenapa kau harus mengatakan hal sentimental seperti itu? Aku jadi menangis..” Hyojin mengeluh.

Yifan menarik Hyojin kedalam pelukannya dan mengelus punggung istrinya itu, Yifan tertawa mungkin ini hanyalah efek kehamilan Hyojin. Dia menyukainya karena biasanya Hyojin hanya mengulurkan lidahnya jika dia menggodanya tapi sekarang istrinya itu menangis seperti aktris-aktris difalam drama korea, Yifan jadi ingin tertawa.

“Maaf..maaf.. aku kira aku tidak sesensitif ini yeobo.” Yifan menggoda lagi dan kali ini Hyojin tersenyum.

“Tidak apa-apa..aku hanya sangat sensitif belakangan ini.” Hyojin menyeka airmatanya, Yifan memberikan istrinya itu selembar tissue yang ada dimeja kantornya.

Yifan hanya tersenyum dia mulai memakan makan siangnya dengan Hyojin, walaupun mereka tidak mengobrol lagi Yifan merasa nyaman dengan keheningan antara dia dan Hyojin.

“Oh iya aku hampir lupa, kau tahu Sehun menawarkan kerjasama pada kita apa menurutmu kita harus menerimanya?” Tanya Yifan, dia mengambil dokumen yang ada dimejanya.

Hyojin mengambil dokumen itu dan membukanya ternyata isinya adalah surat proposal untuk bekerjasama dalam sebuah produk makanan. Hyojin bangga sekali saat dia melihat nama Sehun didalam dokumen itu, dia tidak menyangka jika Sehun akan sesukses sekarang ini padahal saat Sehun kecil dia sangat pemalu dan pendiam.

“Daeguk benar-benar sedang maju, kenapa tidak? Aku cukup yakin Sehun bisa menangani proyek besar.” Hyojin berkata.

“Aku sudah mengobrol dengannya kemarin, dia bilang kalau kau dan Hyojung adalah teman maa kecilnya apa itu benar?” Yifan bertanya.

“Iya, kami lupa soal itu karena kami sudah lama tidak bertemu…dulu kami sering bermain bersama karena dulu rumah keluarga Oh tidak jauh dari rumahku.” Hyojin menjelaskan.

“Oh sayang sekali, apakah itu alasannya kau dan Jiyoung menjadi renggang juga?”

Hyojin mengangguk sedih.

“Setelah keluarga Sehun pindah aku jarang sekali bertemu dengan Jiyoung dan Sehun, apalagi Jiyoung sering berlibur keluar negeri.” Jawab Hyojin.

“Begitu ya.” Yifan mengangguk.

“Oh iya Oppa ngomong-ngomong aku baru sadar kalau kau dan Zhongren sedikit renggang sekarang ada apa? Apa kalian bertengkar?” Hyojin melirik kearah suaminya dengan khawatir.

Yifan hanya tersenyum tipis.

“Tidak, aku rasa Zhongren hanya terlalu sibuk belakangan ini aku tidak ingin menganggu dia.” Yifan menjawab.

“Zhongren juga terlihat renggang dengan Hyojung, apa kau sadar? Mereka jarang sekali berkomunikasi sekarang.” Yifan mengungkapkan.

“Oh begitu,aku kira mereka baik-baik saja.” Hyojin bergumam sedih.

“Sebaiknya kita tidak mencampuri urusan mereka,aku yakin setelah Zhongren mendapat liburan dia akan kembali bersama Hyojung seperti biasanya.” Yifan menenangkan Hyojin yang kelihatan khawatir.

“Aku harap begitu, pekerjaan Zhongren memang sangat menyita waktu.” Ucap Hyojin.

Yifan melingkarkan tangannya dibahu Hyojin dan mencium dahi istrinya untuk menenangkan Hyojin ang kelihatan cemas, mereka melanjutkan makan siang mereka walaupun mereka sedikit khawatir dengan hubungan Hyojung dan Zhongren.

*****

Ini sudah sore, Eunmi baru sadar dia melirik kearah jam dinding dikantornya dan terkejut saat dia melihat wkatu sudah menunjukan pukul setengah tiga sore. Dia melirik kesekitarnya ternyata sebagian rekan kerjanya sudah pulang, diapun mengambil tasnya namun saat dia hendak pergi handphonenya bergetar.

Nama Howon tertera dilayar ponselnya, Eunmi penasaran tidak biasanya Howon menghubunginya pada waktu sore.

“Yobuseyo, Howon-shi ada apa?”

“Eunmi-shi! Aku hanya ingin bertanya apa kau sudah pulang dari kantormu?” Howon bertanya, lelaki itu kedengaran terburu-buru.

“Belum, memang ada apa?” Tanay Eunmi.

“Bagus kalau begitu, aku akan menjemputmu sekarang untuk aku dilobi perushaaan Daeguk.” Howon berkata dengan cepat dan menutup teleponnya, Eunmi bahkan tidak sempat membalas perkataan Howon.

“Hallo? Howon-shi..” Eunmi memanggil namun Howon benar-benar sudah menutup teleponnya.

Eunmi menghela nafasnya, dia tersenyum tipis setidaknya hari ini dia bisa menghabiskan waktu dengan Howon. Eunmi masuk kedalam lift, dia menunggu sampai liftnya sampai dilantai bawah perusahaan Daeguk setelah menunggu beberapa menit diapun keluar dari lift banyak sekali orang yang berlalu-lalang masuk dan keluar dari lobi perusahaan Daeguk.

Eunmi bisa melihat sosok yang dia kenal, ternyata Howon sudah menunggunya lelaki itu berdiri tidak jauh dari pintu utama perusahaan melirik kesekitarnya mencari sosok Eunmi. Howon terlihat tampan sekali dengan baju kasualnya, Howon terlihat sangat fashionable dengan jaket abu-abu dan celana hitam.

“Howon-shi!” Eunmi memanggil, Howon Yang mendengar namanya dipanggil melirik kearah Eunmi.

“Eunmi-shi!”

Dia tersenyum kearah wanita itu.

“Maaf,apa kau menunggu lama?” Tanya Eunmi.

“Tidak aku kebetulan lewat keperusahaanmu, jadi..apa kau ingin pulang sekarang?” Howon bertanya Eunmi mengangguk mereka berduapun berjalan keluar dari perusahaan Daeguk.

“Eunmi-ya!”

Saat Eunmi hendak masuk kedalam mobil Howon dia bisa mendengar suara Sehun, Eunmi melirik kebelakang dan melihat sosok Sehun mendekatinya.

Sajang-nim..”

“Eunmi apa kau akan pulang?’ Tanya Sehun dan Eunmi mengangguk.

“Iya sajang-nim, apa kau akan pulang juga?”

Sehun menggelengkan kepalanya.

“Tidak aku masih punya urusan.” Jawab Sehun dia melirik kearah sosok yang ada disamping Eunmi.

“Oh apa ini pacarmu?” Tanya Sehun, Eunmi menggelengkan kepalanya lalu tersipu malu.

“I-ini temanku, dia Lee Howon.” Eunmi mengenalkan.

“Lee Howon.”

Howon mengulurkan tangannya pada Sehun, Sehun lalu menjabat tangannya.

“Oh Sehun.”

Mata Howon melebar saat dia mendengar nama Sehun, ternyata inilah adik tiri Jiyoung yang selama ini dia cari-cari.

“Senang bertemu denganmu.” Howon berkata lalu dia melepaskan jabatan tangannya dari Sehun.

“Aku rasa aku pernha melihatmu Howon-shi..oh iya, kau fotografer Yura apa aku benar?” Sehun bertanya dan Howon mengangguk.

“Kau masih mengingatnya.”

“Tentu saja, Yura selalu menyukai karyamu dia bilang kau sangat berbakat.” Sehun memuji.

“Terimakasih,aku masih harus banyak belajar.” Howon tersenyum.

“Oh iya, bukankah kalian akan pergi? Maaf aku menganggu.” Sehun baru ingat jka Eunmi dan Howon akan pulang.

“Tidak apa-apa sajang-nim, kalau begitu kami pergi duluan.” Eunmi menunduk kearah Sehun.

“Sampai jumpa lagi Sehun-shi.” Howon berpamitan dan membiarkan Eunmi masuk kedalam mobilnya.

Sehun melambaikan tangannya saat mobil Howon mulai meninggalkan parkiran perusahaan Daeguk.

“Aku menemukan kau Lee Howon.” Sehun bergumam dan menyeringai, dia berbalik untuk masuk kedalam perusahaan Daeguk.

*****

Hyojung terlihat kaget saat dia melihat rumah kaca yang sekarang ada didepanya, dia langsung turun dari mobil Joonmyeon dan berlari untuk mengamati rumah kaca itu lebih dekat.

“Kau menyukainya? Aku selalu datang kesini jika aku ingin menghirup udara segar.” Joonmyeon berkata, Hyojung melirik kearah Joonmyeon.

“Ya oppa, aku menyukainya.” Hyojung menjawab.

“Bagus kalau begitu, ayo kita naik kelantai dua pemandangan dilantai dua lebih indah.” Joonmyeon melangkah mendahului Hyojung.

Hyojung melirik kesekitarnya ternyata villa keluarga Kim sangat bagus sekali walaupun sedikit sederhana villa keluarga Kim terasa sangat nyaman dan sejuk. Dia bisa melihat beberapa pegawai yang mengurus villa ini, mereka tersenyum pada Hyojung membuat Hyojung merasa disambut.

“Naiklah keatas,aku akan membawakan teh untukmu.” Joonmyeon menyuruh, Hyojung mengangguk.

Hyojung menaiki tangga kayu yang ada didepannya dia bisa melihat empat buah kursi kayu dan satu meja kecil ditengah, cuaca sangat cerah dan berangin sore itu namun Hyojung menyukainya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan angin sejuk menyenuh kulitnya, dia ingin sekali berlibur naun melihat betapa sibuknya Zhongren Hyojung mengurungkan niatnya.

Hyojung berjalan menuju pagar besi lantai dua, dia menghirup udara disekitar dan tersenyum bahagia. Joonmyeon yang baru sampai dilantai dua tersenyum melihat Hyojung yang kelihatan sudah ceria lagi sekarang, dia tersenyum tipis dan menyimpan teh yang dia bawa.

“Bagaimana apa kau menyukai pemandanganya?” Tanya Joonmyeon, Hyojung melirik kearah Joonmyeon dan tersenyum.

“Iya, disini tenang sekali Oppa.” Ucap Hyojung.

“Aku tahu…tempat ini adalah tempat kesukaanku saat aku sedih.” Ungkap Jonmyeon, dia menunduk mengingat semua kenangan yang dia punya dirumah ini.

“Oh..apa kau juga sedang sedih sekarang?” Tanya Hyojung khawatir.

“Tidak, kau tenang saja…aku hanya ingat ibuku jika aku disini.” Jawab Joonmyeon.

“Ibumu?”

“Ibuku sedang ada di Cina sekarang, dia sedang mengurus cabang perusahaan K&T disana.” Joonmyeon menjelaskan.

“Wow..ibumu pasi sangat pintar.”

“Begitulah, sepertinya itulah satu-satunya alasan kenapa ayahku menikahinya.”

Joonmyeon kelihatan sedih saat dia mengatakan itu, Hyojung menyentuh lengan Joonmyeon membuat Joonmyeon melirik kearah gadis itu penuh tanya.

“Oppa, kau tak usah sedih jika kau merindukannya kau bisa menghubunginya.” Hyojung mengusulkan.

“Hubunganku dengan ibuku sedikit rumit Hyojung, aku tidak bisa menghubungi dia begitu saja.” Ungkap Joonmyeon.

“Rumit? Kenapa?”

“Katakan saja kalau ibuku tidak terlalu menyukaiku..”

“Bohong,tidakmugkin ibum tidak menyukaimu kau sangat baik oppa.” Hyojung tersenyum kearah Joonmyeon, Joonmyeon hanya menatap kearah Hyojung.

Dia tidak tahu kenapa Hyojung terlihat begitu lugu dan rapuh, dia seperti kaca yang bisa dia pecahkan kapan saja. Namun Hyojung terlalu cantik untuk dipecahkan dia tidak suka itu, Joonmyeon tersenyum tipis kearah Hyojung menyembunyikan ekspressi sedihnya.

“Bukankah kau yang sedang sedih? Katakan padaku..apa masalahmu?”

Hyojung kelihatan ragu-ragu namun akhirnya gadis itu membuka mulutnya.

“Aku hanya merasa Zhongren tidak mencintaiku lagi.” Ungkap Hyojung.

Mendengar itu Joonmyeon ingin tertawa, sepertinya Tuhan benar-benar sedang berada dipihaknya.

“Hyojung aku rasa kau salah paham.. Zhongren kelihatan sangat mencintaimu.” Joonmyeon berkata.

Hyojung hanya menunduk dan memainkan cincin pertunagannya dengan Zhongren, Hyojung lalu mengegelengkan kepalanya.

“Entahlah Oppa, apakah karena kami bertunangan terlalu lama? Apa menurutmu dia bosan padaku?” Hyojung sekarang terlihat seperti gadis kecil yang cemas.

“Hyojung, kau terlalu serius..mungkin kau hanya butuh istirahat.” Ucap Joonmyeon.

“Kau hanya butuh istirahat dari hubunganmu dengan Zhongren, apa kau punya hobi? Atau kita bisa pergi menonton konser atau semacamnya..aku yakin kau sudah lama tidak shopping.” Joonmyeon menebak membuat Hyojung mengangguk.

“Oppa kenapa kau tahu semua itu? Kau benar-benar mengerti aku..” Hyojung berkata membuat Joonmyeon tersenyum bangga.

“Sudah kubilang,aku peramal.” Canda Joonmyeon.

“Pacarmu pasti beruntung sekali Oppa.”

Mendengar perkataan itu Joonmyeon mengangkat alisnya.

“Kenapa?”

“Kamu baik, perhatian dan tampan..kau juga sukses bukankah kau sempurna?” Hyojung memuji membuat Joonmyeon tertawa.

“Aku senang kau berpikir seperti itu, tapi aku jauh dari sempurna Hyojung aku punya banyak kelemahan juga.” Joonmyeon berkata.

“Aku tidak keberatan menerima kekuranganmu, lagipula kau sudah menutupi kekuranganmu dengan sikap baikmu.” Balas Hyojung.

“Kau masih naïve Hyojung, terkadang sifat asli seseorang tidak pernah bisa kita lihat seelum kita mengenalnya dengan baik.” Joonmyeon mengelus kepala Hyojung.

“Tapi aku percaya kau orang yang baik Oppa.” Hyojung tetap bersikeras.

“Kau benar-benar lucu Hyojung-ah..sekarang aku tahu kenapa Zhongren menyukaimu.” Joonmyeon tertawa begitupun Hyojung.

****

“Howon-shi..kau akan membawaku kemana?” Eunmi bertanya, dia tidak bisa melihat apapun karena matanya ditutup olehtangan Howon.

“Jangan dulu membuka matamu,aku ingin menunjukan sesuatu padamu.” Suruh Howon, Eunmi berjalan dengan pelan mengikuti petunjuk yang Howon berikan padanya.

“Awas,didepanmu ada tangga.” Howon berkata, Eunmi bisa merasakan nafas hangat Howonmenyentuh telinganya.

Eunmi menaiki tangga itu satu – persatu berharap dia tidak terjatuh karena tersandung slah satu tangga itu namun sepertinya Eunmi cukup ceroboh karena dia hampir terjatuh dan berteriak, beruntung baginya Howon menahan tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh mebuat mereka berdua tertawa.

“Hati-hati Eunmi-shi.” Howon berbisik ketelinganya membuat Eunmi tersipu malu.

Setelah bejalan beberapa menit Howon menyuruh Eunmi untuk diam dan tidak membuka matanya, Eunmi benar-benar snagat gugup sebenarnya apa yang ingin Howon tunjukan padanya? Eunmi memainkan tangannya sampai akirnya dia bisa merasakan sesuatu cerah mendekatinya.

“Howon-shi apa itu?” Tanya Eunmi dengan cemas.

“Kau bisa membuka matamu sekarang.”

Mendengar perintah itu Eunmi membuka matanya perlahan, dia merasa silau karena sebuah cahaya yang ada didepannya. Pengelihatannya sedikit kabur saat pertamakali dia membuka mata namun perlahan-lahan semakin jelas, dia bisa melihat fotonya dipajang dnegan ukuran yang cukup besar dengan lampu disekitarnya membuat fotonya menjadi foto yang paling menarik diantara jajaran foto yang lainnya.

“Bagaimana? Apa kau menyukainya? Aku akan memasang foto ini untuk pameran fotografiku minggu depan.”

“Wow..indah sekali, apa kau yakin? Aku bukan model professional..” Ucap Eunmi.

“Tidak apa-apa, fotomu bagus aku rasa banyak orang akan menyukainya.” Howon berpendapat.

“Kau yakin?” Eunmi melirik kearah Howon.

“Ya, sangat yakin.” Howon menjawab dengan senyumnya.

Eunmi membalas senyuman Howon lalu menatap kearah fotonya, dia tidak mengenali wanita yang ada difoto itu. Eunmi tahu jika wanita dalam foto itu dirinya karena wajah wanita itu mirip dengannya atau mungkin Eunhee karena mereka kembar, tapi uara yang wanita itu berikan sangat berbeda dengan dirinya yang asli.

Eunmi terkejut saat dia merasakan tangan Howon menyentuh tangannya, Eunmi melirik kearah Howon namun Howon tetap menatap kearah foto Eunmi yang ada didepannya. Eunmi menggengam tangan Howon juga, jantungnya berdetak sedikit cepat tapi dia tidak keberatan dia menyukai Howon.

“Eunmi..” Howon memanggil.

Eunmi melirik kearah Howon lagi namun Howon malah menariknya agar mendekat, tangan Howon mendorong kepalanya sehingga bibir mereka akhirnya bertemu. Eunmi yang terkejut melebarkan matanya namun menutupnya perlahan saat dia merasa bibir hangat Howon mencium bibirnya dengan mesra, Eunmi membiarkan Howon menciumnya beberapa menit sampai akhirnya Howon melepaskan ciumannya.

“Apakah kau sudah memikirkan tentang hubungan kita?” Tanya Howon.

“Huh?”

“Minggu lalu kau bilang kau ingin memikirkannya terlebih dahulu.” Jawab Howon.

Oh benar, minggu lalu Howon mengungkapkan perasaanya pada Eunmi gadis itu baru ingat sekarang. Eunmi mengigit bibirnya ragu, entah kenapa susah sekali bagi dia untuk mengatakan iya.

Apa karena dia masih mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin bersama Sehun? Eunmi bertanya pada dirinya sendiri. Namun mengingat Sehun sudah memiliki Yura dia tahu dia tidak akan pernha memiliki Sehun, Eunmi menatap kearah Howon dan menyentuh pipi lelaki itu.

“Baiklah,aku akan berkencan denganmu.” Jawab Eunmi, Howon kelihatan senang sekali dia langsung memeluk Eunmi.

“Aku senang sekali, terimakasih Eunmi.” Ucap Howon.

Eunmi hanya tersenyum tipis,dia memeluk kembali Howon. Dia tidak senang namun setidaknya dia membuat Howon senang, mungkin dengan berjalannya waktu dia berharap dia bisa melupakan Sehun dan mencintai Howon seperti lelaki itu mencintainya.

Jiyoung menatap sedih dari kejauhan, dia mengepalkan tangannya penuh emosi saat dia melihat Howon memeluk Eunmi dengan erat. Howon terlihat sangat bahagia sekali namun Eunmi tidak, dia benar-benar marah pada Eunmi bagaimana bisa wanita itu mempermainkan perasaan Howon seperti itu.

“Jiyoung, dia menyukai Sehun..” Boyoung berkata.

“Aku tahu Eommoni.” Jawab Jiyoung.

“Apa kau sudah memutuskan untuk merasukinya?” Tanya Boyoung kembali.

“Aku yakin sekarang, Eommoni apa yang harus aku lakukan?” Jiyoung melirik kearah Boyoung yang berdiri disampingnya.

“Kau harus membuat dia tidak sadarkan diri, lebih bagus jika kau membuat dia koma.” Boyoung berkata.

“Jika sebuah tubuh kosong, kau bisa merasukinya lebih mudah.” Boyoung melanjutkan.

“Baiklah,aku rasa aku punya banyak cara untuk membuat wanita ini tidak sadarkan diri.” Jiyoung menyeringai.

“Ingat Jiyoung, jika kau merasuki tubuhnya terlalu lama itu bisa membahayakan Eunmi kau tidak bisa serakah bagaimanapun kau harus meminta ijin pada Eunmi terlebih dahulu.” Boyoung memberi peringatan.

“Eommoni, cukup kau tak usah menceramahiku.” Jiyoung langsung menghilang dari hadapan Boyoung membuat Boyoung kesal.

“Dasar anak muda jaman sekarang..” Boyoung menggelengkan kepalanya lalu menghilang pergi meninggalkan Eunmi dan Howon yang masih bermesraan.

*****

“Sehun..”

“Sehun!”

Sehun langsung melirik kearah Yura yang duduk disampingnya saat dia mendengar wanita itu memanggil, Sehun memberikan senyum manisnya pada kekasihnya itu dan mencium dahinya dengan mesra.

“Kau kenapa? Belakangan ini kau sering melamun.” Yura bertanya, dia menyandarkan kepalanya dibahu Sehun.

“Aku hanya sedikit lelah, pekerjaanku cukup banyak hari ini.” Sehun menjawab.

“Hm..begitu ya,kau bilang tadi kau bertemu dengan Howon kau bertemu dengan dia dimana?” Yura bertanya, Sehun baru ingat kalau dia sedang mengobrol tentang Howon tadi.

“Oh aku bertemu dengan dia didepan kantor, dia sepertinya sedang berkencan dengan Eunmi.” Sehun menjawab.

“Eunmi? Siapa dia?”

“Dia teman masa kecilku, dia juga bekerja di Daeguk.” Sehun menjelaskan.

Yura mengangguk mengerti, dia melingkarkan tangannya dipinggang Sehun membuat Sehun mengelus kepala Yura dengan lembut. Inilah kebiasaan mereka saat mereka sedang lelah, bermesraan ditempat tidur.

Sehun tidak ingin kapan terakhir dia dan Yura bersama seperti ini, mereka snagat sibuk seklai belakangan ini sehingga mereka tidak memiliki waktu yang banyak untuk berkencan atau bertemu tapi hari ini mereka cukup beruntung karena jadwa mereka tidak terlalu banyak sehingga mereka bisa bertemu.

“Aku merindukanmu..kau sibuk sekali belakangan ini.” Yura berkata dengan manja.

“Maaf, kau tahu aku juga merindukanmu.” Sehun mengelus punggung Yura membuat Yura tersenyum puas.

“Eomma bilang dia meminta maaf karena kemarin dia tidak sopan padamu.” Yura memberitahu, senyum Sehun langsung hilang saat dia ingat ibu Yura yang sedikit menyeramkan.

“Apa kau memaksa ibumu untuk meminta maaf lagi?”

“Tidak, dia memang meminta maaf..dia bilang dia sedang dalam mood yang jelek kemarin.” Yura menjelaskan.

“Tidak apa-apa,aku tahu ibumu tidak menyukaiku..” Ucap Sehun.

“Aku tidak mengerti kenapa Eomma tidak menyukaimu..kau baik padanya.” Ungkap Yura, Sehun mengelengkan kepalanya.

“Entahlah..tidak semua orang harus menyukaiku Yura.” Jawab Sehun.

Yura bangun dari posisi tidurnya dia baru ingat kalau dia memiliki kabar baik untuk Sehun, Sehun menatap kearahnya penuhnya tanya.

“Kau tahu tadi pagi aku mendapatkan berita bagus.” Yura berkata membuat Sehun penasaran.

“Berita apa?” Tanya Sehun.

“Kim Joonmyeon ingin aku bermian didalam drama terbarunya.” Yura menjawab lalu gadis itu langsung memeluk Sehun dengan erat.

“Kau tahukan aku selalu ingin bermain dalam drama? Aku bahagia sekali saat aku menerima suratnya.” Yura berkata dan Sehun tersneyum.

“Selamat Yura, aku harap kau mendapat peran yang bagus.” Sehun berkata dan Yura mengangguk.

“Aku harap begitu, semoga saja aku bisa mendapatkan peran utama walaupun aku tidak terlalu berharap apalagi jika aku harus casting..aku semakin gugup.” Ungkap Yura.

“Kau pasti bisa Yura,aku yakin..kau menginginkan ini bukan? Berusalah gapailah mimpimu.” Sehun menyemangati.

“Terimakasih Sehun-ah, kau memang pacarku yang paling perhatian.” Yura mencium pipi Sehun dan mencubit pipi lelaki itu membuat Sehun tertawa.

“Kau mencintaiku atau ingin menyakitiku, cubitanmu sakit sekali.” Sehun mengelus pipinya yang Yura cubit.

“Maaf,kau sangat menggemaskan.” Yura tersenyum dan mengelus pipi Sehun yang tadi dia cubit.

******

Hyojin mendengar mesin mobil berhenti didepan rumahnya, dia berjalan kearah jendela dan mengintip siapa yang datang. Hyojin bisa melihat sedan Joonmyeon berhenti didepan rumahnya membuat dia kebingungan kenapa Joonmyeon datang lagi kerumahnya? Hyojin berpikir, namun dia terkejut saat dia melihat sosok adiknya keluar dari mobil Joonmyeon.

Hyojin tidak tahu jika adiknya itu dekat dengan Joonmyeon, Hyojung melambaikan tangannya pada Joonmyeon dan tersenyum bahagia sampai akhirnya dia masuk kedalam rumah saat mobil Joonmyeon meninggalkan halaman rumah.

Hyojung membuka pintu rumah dan menutupnya kembali dia merasa sedikit baikan setelah membicarakan masalahnya dengan Joonmyeon, dia tersenyum saat diamelihat sosok kakaknya diruang tengah.

“Eonni, kau sedang apa?” Hyojung bertanya manja, dia duduk disamping Hyojin.

“Kau pergi bersama Joonmyeon kemana?” Tanya Hyojin tiba-tiba.

“Oh Joonmyeon Oppa menjemputku dari kantor, kami mengobrol sebentar.” Hyojung menjawab.

“Sudah berapakali dia menjemputmu?” Hyojin melirik kearah adiknya dan menutup buku tentang kehamilan yang baru dia beli tadi.

“Hanya hari ini, dia kebetulan tidak sibuk.” Jawab Hyojung.

“Apa kal—“ Sebelum Hyojin bisa menamatkan kalimatnya dia mendengar suara pintu rumah mereka terbuka, Hyojung melirik kearah pintu rumah dan melihat Yifan baru pulang dari kantor.

Annyeoung Oppa!” Hyojung menyapa membuat Yifan tersenyum.

“Annyeoung Hyojung, dan kau juga sayang.” Yifan berjalan kearah Hyojin dan mencium istrinya sekilas.

“Eww kalian benar-benar..apa kalian sadar aku ada disini?” Hyojung berkata dan dia berdiri dari sofa.

“Aku ingin mandi dulu, melihat kalian membuatku merasa lengket.” Hyojung meledek, Hyojin dan Yifan hanya tersenyum.

“Kau sebaiknya menelepon Zhongren dan menyuruhnya untuk menciummu juga.” Yifan menggoda namun Hyojung menutup telinganya tidak mau mendengar ucapan kakak iparnya.

“Hyojung masih lucu seperti dulu, apa aku benar?” Yifan melirik kearah istrinya.

“Ya, dia masih kekanak-kanakan seperti kau.” Hyojin mencubit hidung Yifan.

“Apa? Aku dewasa..sebentar lagi aku akan menjadi ayahkan?” Yifan memeluk Hyojin, Hyojin tersenyum dan memeluk Yifan kembali.

Mata Hyojin melebar saat dia melihat sosok wanita yang berdiri tidak jauh dari Yifan, Hyojin langsung melepaskan pekukannya membuat Yifan terkejut.

“Ada apa Hanbyul?” Tanya Yifan.

“Bukan apa-apa, ayo sebaiknya kita kekamar.” Hyojin mengajak, dia berdiri dari sofanya dna mengambil bukunya dari meja.

Hyojin melirik kembali kepada sosok wanita yang dia lihat wanita itu berbisik namun Hyojin tidak membaca apa yang wanita itu ingin katakan padanya, Hyojin meunduk dan mengikuti langkah suaminya.

Hyojin bisa mendengar shower dikamar mandinya hidup itu artinya Yifan sudah mulai mandi, Hyojin keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar tengah masih berharap jika wanita yang dia lihat tadi ada disana. Hyojin harus kecewa karena wanita itu sekarang tidak ada, dia melirik kesekitarnya mencari sosok wanita itu karena dia sangat penasaran.

“Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?” Seorang pembantu mengagetkan Hyojin.

“Tidak apa-apa,kau bisa bekerja lagi.” Hyojin berkata dia berjalan menuju halaman belakang untuk menghirup udara segar.

Ayunan yang biasa keluarganya duduki masih ada dihalaman belakangnya, Hyojin duduk disana dan menatap kearah langit yang mulai berwarna jingga karena matahari terbenam. Hyojin tersenyum tipis dia tidak tahu kenapa dia sangat merindukan ayah dan ibunya, dia rindu mengobrol dengan orang tuanya dan bercanda bersama mereka.

Hyojin duduk di ayunan itu sedikit melamun, dia menatap kosong kearah langit dan menutup matanya menikmati angin sore.

“Apa kau mencariku?”

Suara seorang wanita terdengar, Hyojin membuka matanya dan sosok yang dia cari sekarang berdiri didepannya. Hyojin terkejut lalu dia berdiri menjauh dari sosok wanita itu, wanita itu tersenyum tipis padanya.

“Tak usah takut..aku tidak akan menyakitimu ataupun bayimu.” Wanita itu berkata namun Hyojin masih takut.

“Apa yang kau mau?kenapa kau selalu menganggu aku?” Hyojin bertanya dan wanita itu menunduk kelihatannya dia kelihatannya sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.

“Aku hanya butuh bantuanmu Hyojin,aku mohon…” Wanita itu memelas membuat Hojin merasa iba.

“Apa yang bisa aku bantu?”

“Aku ingin kau menjauh dari Kim Joonmyeon, Zhongren dan adikmu Hyojung dalam bahaya..dia mencoba merebut perusahaan kalian.” Ucap wanita itu.

“Apa?kau gila..dia baik sekali pada keluargaku.”

“Itu hanya kedok dia Hyojin, dia mencoba membunuh Zhongren dia ingin menghancurkan Zhongren!!” Wanita itu sekarang terdengar panik.

“Kenapa aku harus percaya padamu? Siapa kau?” Hyojin menatap aneh kearah wanita itu, dia melirik kebawah dan terkejut saat dia melihat kaki wanita itu tidak menyentuh tanah.

“Aku Boyoung, Kim Boyoung..aku ibu Zhongren.”

Mendengar pengakuan wanita yang ada didepannya Hyojin terkejut setengah mati, dia tahu jika ibu Zhongren sudah mati saat dia masih kecil tidak mungkin wnaita itu bangkit dari kubur dan menemuinya sekarang.

“Ibu Zhongren sudah mati…apa kau bercanda?” Hyojin tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa percaya pada wanita yang asing yang selalu menganggunya.

“Aku arwahnya, jika kau tidak percaya tanya pada Zhongren…tanya semuanya tentang aku dia pasti tahu.” Boyoung menyuruh.

“Kau gila! Kau benar-benar gila!” Hyojin berbalik dan berlari menuju rumah dengan panik.

Boyoung hendak memanggil Hyojin namun sosok Hyojin sudah menghilang dibalik pintu, dia menunduk sedih tentu saja Hyojin tidak akan percaya padanya. Orang macam apa yang percaya pada hantu? Boyoung tidak punya pilihan lain selain membuktikannya pada Hyojin sampai wanita itu percaya padanya.

Hyojin menutup pintu kamarnya, dia masih terengah-engah karena dia berlari dari lantai bawah dia menggigit bibirnya khawatir apakah yang dia lihat tadi benar arwah ibu Zhongren? Lalu kenapa dia bisa melihatnya dengan jelas? Ini pertamakalinya dia bisa melihat hantu dan itu menyeramkan.

Taklama kemudian Yifan keluar dari kamar mandi, lelaki itu menatap kearah istrinya penuh tanya karena istrinya hanya berdiri sambil menyandar kearah pintu kamar mereka.

“Hyojin kau baik-baik saja?” Tanya Yifan.

“Ya, aku akan menyiapkan makan malam.” Hyojin keluar dari kamarnya dan berjalan kebawah menuju dapur.

Namun saat dia hendak berjalan menuju dapur dia melihat sosok Zhongren turun dari mobil van nya, Hyojin ingat jika tadi Boyoung menyuruhnya untuk bertanya pada Zhongren. Hyojinpun memutuskan untuk berjalan mendekati Zhgongren, Zhongren tersenyum saat dia melihat kakak iparnya.

“Oh Noona, kau sudah baikan sekarang?” Zhongren berkata.

“Ya, Zhongren-ah bisakah kita duduk sebentar? Aku ingin bertanya sesuatu.” Hyojin menarik tangan Zhongren dan menyuruh lelaki itu duduk disofa.

Zhongren kelihatan penasaran diapun menurut dan duduk disofa.

“Ada apa Noona? Apa kau mau meminta tanda tanganku?” Canda Zhongren.

“Hahaha kau lucu Zhongren.” Jawab Hyojin dengan sarkasme nya.

“Lalu kenapa? Oh aku tahu..pasti ada rumor kencan dimajalah tentang aku lagi? Aku janji Noona aku tidak berselingkuh.” Zhongren berkata dan Hyojin menghela nafasnya.

“Tidak Zhongren bukan itu, aku..aku ingin menanyakan soal ibumu.” Ugkap Hyojin, ekspressi Zhongren langsung berubah saat dia mendengar ibunya disebut oleh Hyojin.

“Kenapa Noona? Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu tentang ibuku?” Zhongren menatap kearahnya heran.

“Katakan saja, apa yang kau ingat tentang ibumu..apa kau sudah lupa?”

Zhongren menggelengkan kepalanya, bagaimana dia lupa dengan wajah ibunya dia selalu mengingat wajah ibunya dengan jelas karena dia meiiki foto ibunya. Zhongren mengambil dompetnya yang ada disaku celananya dan mengambil sebuah foto yang ada didalam dompetnya lalu memberikannya pada Hyojin, Hyojin mengambil foto itu dan tangannya langsung gemetaran saat dia melihat wajah difoto itu.

“A-apa nama ibumu Kim Boyoung?” Hyojin melirik kearah Zhongren.

“Ya,bagaimana kau tahu? Apa kau mencariku di internet lagi Noona?” Tanya Zhongren, Hyojin hanya menunduk dia masih shock dengan apa yang dia baru saja alami.

“Noona?apa kau baik-baik saja?” Zhongren menyentuh bahu Hyojin.

“Aku harus pergi, Zhongren-ah bisakah kau memanggil Yifan oppa dan Hyojung kebawah makan malam hampir selesai.” Hyojin berkata dan wanita itu berjalan menuju dapur.

Zhongren yang kebingungan hanya mengangguk dan pergi menuju lantai dua untuk mengganti bajunya, dia berjalan menuju kamarnya dengan Hyojung dan dia tersenyum saat dia melihat Hyojung sedang mengobrol dengan seseorang lewat telepon.

“Kau sedang menelepon siapa?” Zhongren memeluk Hyojung dari belakang, kekasihnya itu terkejut dan langsung melirik kebelakang.

“Aku menelepon lagi nanti.” Hyojung langsung menutup teleponnya.

“Oppa, kau sudah pulang bagaimana pemotretan hari ini?” Tanya Hyojung.

“Membosankan,aku merindukanmu.” Zhongren mencium kepala Hyojung dan pergi kekamar mandi untuk mencuci mukanya.

“Oppa, aku mendengar dari Joonmyeon Oppa kalau kau akan bermain dalam dramanya apa itu benar?” Tanya Hyojung.

“Oh soal itu..entahlah aku masih mempertimbangkannya aku akan bertemu dengan Joonmyeon hyung besok setelah jadwalku beres.” Jawab Zhongren, dia mengelap wajahnya dengan handuk yang ada disamping wastafel.

“Kenapa, apa kau tidak mau bermain dalam drama Joonmyeon Oppa?” Tanya Hyojung, dia mendekat dan melingkarkan tangan dileher Zhongren.

“Aku ingin sekali bermain dalam dramanya Hyojung, tapi aku juga punya jadwal lain selain bermain drama.”

Hyojung tersenyum lalu melepaskan tangan dari leher Zhongren.

“Oh iya makan malam sudah hampir siap, jika kau sudah lapar kau bisa turun kebawah.” Zhongren berkata.

“Aku akan kebawah.” Hyojung berkata dia keluar dari kamarnya.

Hyojung menghela nafasnya saat dia keluar dari kamarnya, dia melirik kearah kananya dan dia bisa melihat Yifan berdiri disampingnya.

“Hyojung, kau baik-baik saja?” Tanya Yifan.

“Ya,aku baik-baik saja.” Hyojung menjawab lalu dia pergi menuruni tangga.

Yifan tahu adik iparnya itu tidak baik-baik saja, dia bisa membacanya dari ekspressi wajah Hyojung gadis itu kelihatannya memiliki beban yang berat walaupun dia mengatakan kalau dia baik-baik saja Yifan tidak percaya itu.

*******

Mobil Howon berhenti tepat didepan rumah Eunmi, Howon tersenyum kearah Eunmi menggengam tangan wanita itu dengan erat. Eunmi menyentuh tangan Howon dan mencoba melepaskan tangan Howon dari tangannya, Howon menolaknya dia ingin memegang tangan Eunmi untuk beberapa menit lagi.

“Aku harus pulang Howon-shi.” Eunmi berkata dan Howon tersenyum.

“Aku tahu, tapi bisakah kau diam disini sebentar..” Howon meminta, Eunmi akhirnya menurut dan mengangguk.

“Apa besok kau sibuk? Kita bisa pergi kencan jika kau mau.” Howon bertanya dan Eunmi tersenyum.

“Bagaimana kalau hari minggu saja?”

“Baiklah hari minggu.” Howon menyetujui.

“Baiklah,aku pulang dulu.” Eunmi akhirnya melepaskan tangan Howon dari tangannya.

Eunmi melambaikan tangannya pada Howon dari luar dan Howon membalasnya, dia menunggu sampai Eunmi masuk kedalam rumahnya lalu dia menghela nafasnya tersenyum. Dia bahagia sekali, dia bahkan lupa kapan terakhir kali dia tersenyum seperti ini dia sudah lama tidak berkencan dia bahkan lupa bagaimana rasanya gugup didepan seorang wanita yang dia sukai.

Namun semenjak kedatangan Eunmi dia mulai merasakan cinta lagi, dia mulai belajar untuk peduli kembali seperi dulu saat dia masih berkencan dengan Jiyoung. Howon menghidupkan kembali mesin mobilnya namun tiba-tiba radio mobilnya hidup, Howon terkejut karena dia mendengar lagu TVXQ- Before you go terdengar melantun dari radio mobilnya.

Howon langsung mematikan radio mobilnya, dia bisa merasakan bulu kuduknya langsung berdiri karena dia masih ingat jika lagu itu adalah lagu kesukaan Jiyoung.

“Jiyoung?” Howon memanggil dia melirik kearah kanan dan kirinya, dia segera menginjak gas mobilnya dan pergi dari halaman rumah keluar Jo.

Eunmi membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk dia langsung disambut oleh ayahnya yang sedang membaca koran diruang tengah rumah mereka, Eunmi tersenyum melihat sosok ayahnya dan berjalan untuk mencium pipi ayahnya.

“Kau pulang terlambat lagi Eunmi, darimana saja kamu?” Tanya ayahnya.

“Maaf Appa,aku punya urusan lain.” Eunmi menggaruk kepalanya canggung, dia tidak pernah bisa berbohong pada ayahnya.

“Hm..urusan? apa Sehun membuatmu bekerja lembur ?” Tanya ayahnya.

“Tidak bukan seperti itu appa, aku hanya punya urusan pribadi.” Jawab Eunmi malu.

“Oh..katakan apa ‘urusan’ ini? Apa kau sudah berkencan lagi?” Tanya ayahnya menggoda dan Eunmi tersenyum.

“Itu rahasia..” Eunmi berkata dan berbalik menuju tangga rumahnya.

Dia bisa melihat saudara kembarnya Eunhee berdiri diujung tangga, saudara kembarnya itu kelihatan tidak senang namun Eunmi tidak peduli. Dia berjalan melewati Eunhee namun Euhee menarik tangannya sehingga dia berhenti berjalan, Eunmi mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Eunhee namun Eunhee mencengkram tangannya.

“Kau kenapa?! Lepaskan aku!” Eunmi menghardik dengan kasar.

“Kau berkecan dengan Lee Howon apa aku benar?” Tanya Eunhee dia akhirnya melepaskan tangan Eunmi.

“Ya lalu kenapa?kau iri?” Tanya Eunmi sinis.

“Apa kau melakukannya agar Eomma menyukaimu?” Tanya Eunhee lagi, Eunmi menatap kearahnya.

“Tidak, untuk apa aku melakukan itu..aku tidak butuh disukai oleh Eomma.” Eunmi menjawab.

“Bohong! Kau hanya sangat putus asa karena kau ingin Eomma menyukaimu benarkan? Hanya memanfaatkan Howon agar Eomma akhirnya menyayangimu seperti dia menyayangiku.” Eunhee berkata, Eunmi mengepalkan tangannya kesal.

“Eomma mungkin lebih menyayangimu daripada aku tapi Appa jelas-jelas lebih menyukai aku daripada kamu!” Eunmi membentak dia berbalik berjalan kearah kamarnya.

“Menyedihkan! Kau bahkan berani memanfaatkan seseorang untuk kasih sayang.” Eunhee meledek.

Eunmi yang hendak masuk kedalam kamarnya langsung berbalik kearah Eunhee, Eunmi mengangkat tangannya dan menampar Eunhee cukup keras sehingga pipi saudara kembarnya itu merah.

“Beraninya kau berkata seperti itu! Aku mungkin tidak pernah merasakan perhatian Eomma karena dia selalu fokus padamu karena kamu pintar dan sempurna tapi aku tidak akan pernah memanfaatkan seseorang seperti yang kau katakan!” Eunmi akhirnya menangis dan dia menyeka airmatanya.

Eunmi langsung berbalik dan membantingkan pintu kamarnya, dia menyandar dipintu kamarnya dan menangis hatinya sakit sekali saat dia mengingat perkataan Eunhee. Dia tidak mungkin memanfaatkan Howon karena kasih sayang, dia menyukai Howon itulah alasan yang jelas kenapa dia menerima Howon sebagai kekasihnya.

Eunhee menyentuh pipinya yang berdenyut sakit, dia juga ikut menangis karena sebenarnya dia hanya iri karena selama ini lelaki yang dia sukai selalu lebih menyukai Eunmi daripadanya dirinya dan itu membuat dia sangat kesal.

“Eunhee-ya, apa kau baik-baik saja?” Ibunya muncul dari kamar.

“Aku baik-baik saja.” Eunhee menjawab singkat dia pergi menuruni tangga.

Eunmi menghidupkan shower dikamar mandinya, dia mennggu sampai air yang mengalir dari showernya memenuhi bathtub nya. Dia mencuci muka dan menggosok giginya terlebih dahulu, dia kelihatan pucat setelah make up yang dia pakai luntur karena sentuhan air bahkan kantung matanya terlihat jelas menandakan kalau dia kurang tidur.

Belakangan ini dia memang tidak bisa tidur, entah kenapa dia selalu bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang tidak menunjukan wajahnya mereka hanya berdiri berdampingan namun Eunmi tidak pernah bisa melihat sosok wanita yang ada disampingnya.

Setelah bathtubnya penuh dia mulai merendam tubuhnya didalam bathtub, Eunmi tersenyum merasakan hangatnya air menyentuh kulitnya. Dia menggosok tangannya dan bahunya membiarkan oto-otot ditubuhnya lebih rileks, untuk sesaat dia menutup matanya.

Tanpa Eunmi sadari sepasang tangan menyentuh bahunya dan menariknya kedalam bathtub, Eunmi yang terejut mencoba berontak namun sepasang tangan itu menariknya sangat kuat. Dia bisa merasakan air mulai memasuki hidungnya dan dia terbatuk-batuk masih mencoba menyelematkan diri, tanganya menggapai kesekitar mencari sesuatu yang bisa dia pegang untuk terlepas dari tanagn misterius yang mencoba menenggelamkannya.

Akhirnya Eunmi menemukan tirai penutup bathtubya dan menariknya sekuat tenaga, dia akhirnya terlepas dari kedua tangan itu dan dia langsung keluar dari bathtub masih terbatuk-batuk. Tiba-tiba saja lampu dirumahnya mati, Eunmi panik dan langsung mengambil handuknya lalu berlari keluar drai kamar mandi.

Dia mencari lampu senter yang dia punya didalam laci meja setelah dia menemukannya dia menghidupkan lampu itu, dia berbalik hendak pergi keluar dari kamarnya namun dia terkejut saat sesosok wanita menyeramkan berdiri dibelakangnya.

“AAAKKKHH!!” Eunmi menjerit dan dia berlari keluar dari kamarnya namun dia menabrak seseorang.

“Eunmi! Kau kenapa?” Suara ayahnya terdengar, dia lega seklai saat dia melihat sosok ayahnya lalu dia memeluk ayahnya.

“Appa dikamarku..ada hantu.” Jawab Eunmi.

“Eunmi, kau yakin?” Tanya ayahnya dan Eunmi mengangguk.

Ayahnya membuka pintu kamar Eunmi namun Eunmi mencegahnya karena dia takut, Ayahnya tetap bersi keras untuk membuka pintu kamar Eunmi namun sata ayahnya membuka pintu kamar Eunmi tidak ada apapun disana.

“Eunmi kau hanya berimajinasi..aku tahu kau taku pada kegelapan.” Ayahnya berkata namun Eunmi menggelengkan kepalanya.

Dia yakin sekali tadi dia melihat sosok wanita yang sangat menyeramkan berdiri dibelakangnya.

“Appa aku yakin sekali, tadi wanita itu ada dibelakangku.” Jawab Eunmi gemetaran.

“Eunmi,kau sebaiknya tidur bersama Eunhee kau mengalamai banyak paranoid belakangan ini.” Ayahnya berkata dengan khawatir.

“Tapi Appa..aku tidak bohong.” Eunmi berkata.

“Sebaiknya aku mengantarkan kekamar Eunhee.” Ayahnya menuntun Eunmi menuju kamar Eunhee.

“Eunhee-ya..” Ayahnya memanggil saat mereka sampai didepan kamar Eunhee.

“Ya Appa..” Eunmi bisa mendengar Eunhee menyahut panggilan ayahnya., taklama kemudian sosok Eunhee membuka pintu kamarnya.

“Sepertinya Eunmi mengalami paranoid lagi, bisakah kau menemaninya untuk tidur malam ini?” Ayahnya berkata dan Eunhee mengangguk.

“Eunmi masuklah.” Eunhee mebuka pintu kamarnya lebih lebar agar Eunmi masuk kedalam.

Walaupun keberatan Eunmi akhirnya masuk kedalam kamar Eunhee , dia bisa mendnegar ayanya mengatakan pada Eunhee untuk menghiburnya namun dia tidak ingin di hibur dia snagat ketakutan. Dia berbaring diranjang unhee mencoba menutup matanya, taklama kemudian dia bis meraskaan Eunhee duduk diranjangnya.

“Eunmi-ya, apa kau sudah tidur?” Eunmi bisa mendengar Eunhee bertanya.

Eunmi hanya diam, dia tidak ingin mendengar ceramahan Eunhee lagi, dia juga masih marah dengan perkataan kasar Eunhee tadi.

“Aku tahu kau masih marah, maafkan aku..aku tidak bermaksud seperti itu..” Eunhee menyentuh bahu Eunmi.

“Aku rasa aku hanya iri…kau selalu mendapatkan pacar baru sedangkan aku,aku canggung sekali dengan lelaki,kau selalu membuat lelaki menyukaimu walapun kau tidak berdandan ataupun memakai baju yang bagus kau juga selalu berhasil membuat mereka tertawa dan terhibur aku bahkan terlalu malu untuk menyapa lelaki yang sudah lama aku sukai.” Eunhee tersenyum pahit.

Mendengar pengakuan itu Eunmi merasa kasihan pada Eunhee, dia tahu kalau Eunhee memang sangat canggung dengan lawan jenis. Saudara kembarnya itu jarang sekali berkencan berbeda sekali dengan dia, Eunmi membuka matanya dan melirik kearah Eunhee dia bisa melihat Eunhee duduk diujung ranjangnya.

“Kau tidak akan tidur?” Tanya Eunmi.

“Mungkin sebentar lagi, aku belum mengantuk.” Jawab Eunhee, dia tersenyum tips kearah Eunmi lalu dia berjalan menuju meja cerminya untuk menghidupkan lampu cadangan yang dia punya.

“Aku tahu kau takut kegelapan, aku akan menghidupkan lampu ini sampai kau tidur.” Eunhee berkata.

“Terimakasih.” Eunmi berkata, dia berbaring kembali dan mencoba menutup matanya.

****

“Eunmi..”

“Jo Eunmi.”

“Kemarilah..aku membutuhkanmu.”

Suara itu terdengar sangat jelas ditelinga Eunmi, dia membuka matanya dan dia bisa melihat sebuah cahaya didepannya. Dia berlari mencoba mengejar cahaya itu, namun cahaya itu begitu menyilaukan membuat mata Eunmi sakit, Eunmi akhirnya sampai didepan cahaya dan diapun mausk menembus cahaya itu.

“Eunmi..ikutlah denganku.”

Saat dia sudah berhasil menembus cahaya yang tadi dia kejar dia bertemu dengan seorang gadis cantik, gadis itu tersenyum kearahnya dan mengulurkan tangannya pada dia. Eunmi kebingungan, dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti gadis itu, dia menyambut tangan gadis itu dan gadis itu menariknya menuju sebuah taman yang indah.

Mereka sampai ditaman yang indah ditaman itu banyak sekali bunga-bunga yang cantik dengan berbagai warna dan bentuk, Eunmi berjalan menulusuri jalan setapak yang ada ditaman itu sedangkan gadis yang tadi menuntunya hilang entah kemana.

“Eunmi-ya.” Seseorang memanggilnya dan dia berbalik menatap kearah sumber suara yang dia dengar.

“Jiyoung eonni..” Panggil Eunmi.

“Eunmi-ya,aku membutuhkanmu..maukah kau membantuku?” Tanya Jiyoung dengan sedih, Eunmi kelihatan kebingungan.

“Tapi eonni bukankah kau sudah tidak ada..”

“Aku masih ada Eunmi,aku hanya butuh bantuanmu.” Jiyoung meminta.

“Apa yang kau butuhkan eonni?” Tanya Eunmi.

“Aku hanya butuh ragamu…hanya beberapa hari.” Jiyoung menjawab, mata Eunmi melebar.

“Tapi eonni..”

“Aku mohon Eunmi,aku sangat merindukan Sehun..aku hanya ingin bertemu dengannya dan meminta maaf padanya.” Jiyoung menyentuh tangan Eunmi.

Hati Eunmi langsung terbakar oleh kecemburuan saat dia mendengar niat Jiyoung, selama ini Jiyounglah yang selalu merebut Sehun dari sisinya dia tidak mungkin mengijinkan wanita itu merebut Sehun dari sisinya lagi. Bilang saja Eunmi serakah dan egois dia tidak peduli, Sehun sudah pergi meninggalkannya karena jIyoung dan Eunmi tidak akan membiarkan itu terjadi untuk yang kedua kalinya.

“Maaf eonni,aku tidak bisa…” Eunmi melepaskan tangan Jiyoung.

“Kenapa? Bukankah kita dekat saat kita masih kecil? Apa kau tidak kasihan padaku Eunmi?” Tanya Jiyoung, wanita itu menatap kearahnya penuh harap.

“Eonni..”

“Aku mohon Eunmi, hanya satu hari setelah itu aku akan keluar dari ragamu aku hanya ingin bertemu dengan Sehun.” Jiyoung memelas.

“Eonni kau sudah pergi, sebaiknya kau tenang disana dan tidak menganggu Sehun kau dan dia sudah memiliki dunia yang berbeda.”Eunmi menyentuh tangan Jiyoung.

Jiyoung yang mendengar itu marah, dia langsung melepaskan gengaman tangan Eunmi dengan kasar. Jiyoung menatap tajam kearah Eunmi, dia benar-benar sangat marah saat dia mendengar perkataan Eunmi.

“Kau benar-benar menyukai Sehun,iyakan?! kau ingin merebut sehun dariku apa aku benar?!” Jiyoung menuduh dengan kasar.

“Eonni aku..”

“Kau menyukai Sehun selama ini, dasar wanita tidak tahu diri! Asal kau tahu..Sehun milikku dia mencintaiku!” Jiyoung membentak dan Eunmi mencengkram tangnnya enahan emosinya.

“Kenapa Eunmi? Dari semua lelaki didunia ini kenapa kau harus menyukai Sehun? Jawab aku!” Jiyoung menguncagkan bahu Eunmi, Eunmi hanya menangis dia tidak tahu cinta bukanlah sesuatu yang bisa kau atur.

“Kenapa Eunmi-ya?kenapa harus Sehun..”

“Eonni maafkan aku…”

Sosok Jiyoung langsung menghilang dari hadapan Eunmi membuat Eunmi panik, dia melirik kesekitarnya mencari Jiyoung namun Jiyoung benar-benar sudah menghilang dari hadapannya.

“Eunmi-ya,Eunmi..”

Eunmi membuka matanya, dia bisa merasakn pipinya basah lalu dia segera bangkit dari posisi tidurnya. Dia menghela nafasnya dan mengusap wajahnya, dia beruntung sekali kalau tadi mimpi jika itu nyata dia tidak tahu harus berbuat apa.

“Kau menangis dalam tidurmu, apa kau baik-baik saja?” Eunhee saudara kembarnya bertanya, Eunmi melirik kearah Eunhee dan mengangguk.

“Sudah jam berapa ini?” Tanya Eunmi.

“Ini sudah jam setengah lima pagi.” Jawab Eunhee.

“Aku sebaiknya bersiap-siap.” Eunmi bangun dari ranjang Eunhee, namun tiba-tiba Eunhee menyentuh lengannya.

“Eunmi, apa kau baik-baik saja? Aku melihat memar didadamu.” Eunhee berkata.

Eunmi langsung berlari menuju cermin dan dia terkejut saat dia melihat memar didadanya, memar yang ada didadanya itu percis berbentuk telapak tangan seorang wanit. Ternyata Eunmi tidak berhalusinasi, kemarin memang ada seseornag yang mencoba menenggelamkannya namun Eunmi berpikir siapa? Apakah mungkin Jiyoung?

“Eunmi?” Panggil Eunhee.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Eunmi singkat diapun pergi meninggalkan kamar Eunhee.

“Aneh sekali..” Eunhee bergumam.

“Apakah dia dan Howon sudah..” Eunhee menebak-nebak namun dia langsung menggelengkan kepalanya.

Eunmi menatap kearah luka memar di dadanya, dia menutupi luka memar itu dngan blazernya dan baju kemeja lengan panjangnya. Memarnya terlihat sangat jelas sekali dikulitnya membuat dia merasa tidak nyaman, walaupun memar itu tidak sakit tapi tetap saja memar itu akan menimbulkan pertanyaan bagi orang yang melihatnya.

Eunmi turun kebawah untuk sarapan, dia melihat kedua ornag tuanya juga Eunhee sudah menunggunya dimeja makan.

“Selamat pagi Appa,Eomma.” Eunmi menyapa.

“Pagi Eunmi, bagimana? Kau tidur nyenyak?” Tanya ayahnya.

“Nde,appa aku tidur nyenyak.” Jawab Eunmi dengan sneyumnya, walaupun dia merasa tidak sehat dia harus memaksakan senyum untuk ayahnya gar ayahnya tidak khawatir.

“Bagus kalau begitu Eunmi-ya, bagaimana kalau hari ini kau membawa mobil saja?” Ayahnya tiba-tiba saja berkata.

“Eh?tapi kenapa appa?”

“Kau kelihatan ellah seklai kemarin, mngkin jika kau membawa mobil kau bisa pulang lebih cepat.” Ayahnya menjelaskan, dia memberikan Eunmi kunci mobilnya.

“Tapi bagaimana dengan appa?”

“Aku akan memakai mobil cadangan saja lagipula aku sedang tidak sibuk sekarang.” Ayahnya berkata dan Eunmi tersenyum.

“Terimakasih appa.”Eunmi mengambil kunci mobil ayahnya.

Merekapun mulai memakan sarapan, tatapan Eunmi dengan tatapan Eunhee bertemu sejenak dan Eunmi tersenyum pada Eunhee membuat Eunhee membalas senyumnya. Eunmi mungkin harus mencoba mendekati saudara kembarnya itu, dia tidak bisa terus menjauh darinya karena bagaimanapun mereka saudara apalagi mereka kembar.

*****

Joonmyeon mendengar pintu kantornya diketuk, dia mendongak untuk melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya. Dia tersenyum saat dia melihat sosok Yura lah yang datang, dia sudah menunggu model itu dari tadi pagi.

“Yura-shi akhirnya kau datang juga.” Joonmyeon menyambut dan Yura tersenyum sopan padanya.

“Maaf Joonmyeon-shi,aku punya jadwal pemotretan tadi pagi jadi akubisa menemuimu sekarang.” Yura menjelaskan.

“Tidak apa-apa aku tahu model sepertimu sibuk,ayo silahkan duduk.” Joonmyeon mempersilahkan.

Yura akhirnya duduk disofa ruangan kantor Joomyeon.

“Jadi ada keperluan apa anda memanggilku Joonmeon-shi?” Tanya Yura.

“Seperti yang asistenku katakan, aku ingin kau bermain dalam dramaku yang terbaru drama ini sedikit intense tapi aku pikir kau bisa menanganinya karena karakter yang ada didalam drama ini cocok seklai denganmu.” Joonmyeon menjelaskan.

“Oh begitu ya, memang apa genre dari drama ini Joonmyeon-shi?”

“Aksi dan romansa, kau bisa bermain sebagai karakter wanita utama.” Joonmyeon berkata dia melirik kearah naskah yang ada disampingnya dan memberikannya pada Yura.

“Itu adalah contoh naskahnya, naskah bisa diubah kapan saja tapi tenang saja aku akan memberikan informasinya oh iya..apa kau sudah tahu siapa yang akan menjadi lawan mainmu?” Tanya Joonmyeon, Yura menggelengkan kepalanya.

“Kau akan bermain drama dengan Wu Zhongren, apa kau senang sekarang?”

Yura menarik nafasnya terkejut saat dia mendengar nama Zhongren disebut, Zhongren bia dibilang aktor yang paling sukses tahun ini banyak sekali aktris yang ingin bermain drama dengan dia. Yura merasa beruntung sekali, wlaaupun dia dan Zhongren pernah bertemu dia tidak terlalu akrab dengan aktor itu.

“Apa kau tidak bercanda Joonmyeon-shi?”

“Ya,aku serius..dia akan datang sebentar lagi jadi kalian bisa berdiskusi tentang adegan-adegan yang akan kalian lakukan.” Joonmyeon berkata dan Yura tersenyum penuh semangat.

“Aku tidak sabar bertemu dengannya.” Ungkap Yura.

Yura mulai membuka naskah dramanya baru juga dia membaca beberapa menit dia bisa mendengar pintu kantor Joonmyeon terbuka lalu diabisa melihat sosok Zhongren masuk kedalam ruangan Joonmyeon, Zhongren tersenyum kearah Joonmyeon dan Yura.

Joonmyeon dan Yura langsung berdiri saat mereka melihat sosok Zhongren.

“Oh maaf apa aku terlambat?” Tanya Zhongren.

“Tidak Zhongren, kenalkan ini Kim Yura lawan main mu nanti.” Joonmyeon mengenalkan.

“Oh! Aku tahu kau, kau pacar Sehun apa kau benar?” Zhongren tersenyum kearah Yura.

“Kau masih mengingatnya? Iya kau benar.” Yura dan Zhongren akhirnay berjabat tangan, melihat keakraban Zhongren dan Yura Joonmyeon menyeringai.

“Senang bisa bekerja sama denganmu.” Zhongren berkata dan Yura mengangguk.

“Baguslah kalau kalian sudah mengenal, sebaiknya kalian bersikusi aku harus mengurus beberapa urusan.” Joonmyeon berpamitan.

Zhongren dan Yura menyetujuinya dan Joonmyeon pergi meninggalkan Zhongren dan ura yang mulai berdiskusi, Joomyeon menyeringai senang dia mengambil ponselnya yang dia simpan disaku jasnya dan dia menghubungi kontak Hyojung.

“Hallo Oppa? Ada apa?”

Joonmyeon bisa mendengar suara Hyojung dari seberang teleponnya.

“Hyojung-ah apa kau punya waktu luang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Joonmyeon menawarkan.

“Baiklah, kapan kau akan kesini?”

“Sekitar beberapa menit lagi, aku menunggu di café yang kemarin.” Joonmyeon menjawab.

“Baiklah sampai jumpa nanti Oppa.”

“Sampai jumpa.”

Joonmyeon menutup teleponnya dan berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, dia tidak menyangka menggoda Hyojung bisa semudah ini.

****

Eunmi menghentikan mobilnya saat dia melihat lampu merah didepannya, Eunmi menunggu sampai lampu merah itu berubah karena bosan dia menghidupkan radio mobilnya namun entah kenapa radio mobilnya tiba-tiba saja tidak berfungsi, Eunmi mengehla nafasnya kesal.

Eunmi melirik kearah kanan dan kirinya, aneh sekali jalanan terlihat sangat sepi sekali hari ini padahal hari ini adalah hari sabtu. Saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau Eunmi menginjak gas mobilnya dan mobilnya melaju kembali, dia merasa sedikit paranoid karena kejadian kemarin dia benar-benar ketakutan.

Apalagi setiap kali dia mengingat sosok menyeramkan yang berdiri dibelakangnya dia berharap dia bisa melupakan sosok itu, sehingga dia bisa tidur nanti malam.

Dia menyentuh dadanya yang masih memar, dia masih ingat dengan jelas saat dia berendam seseorang menariknya masuk kedalam air. Dia tidak berhalusinasi seperti yang ayahnya katakan, dia yakin sekali yang menariknya adalh sepasang tangan manusia.

Eunmi kembali fokus memandang pada jalanan namun dia terkejut saat dia melihat sosok perempuan berdiri didepan mobilnya, Eunmi langsung membanting setirnya dan mobilnya langsung menabrak trotoar dengan keras kaca depan mobil Eunmi langsung pecah dan tubuh Eunmi terhentak keluar.

Eunmi bisa merasakan pipinya menyentuh aspal yang panas namun dia tidak bisa melakukan apapun karena badanya tiba-tiba saja kaku.

“Apa yang terjadi?” Pikir Eunmi, dia bisa melihat sepasang kaki mendekati nya.

Eunmi menatap kearah kaki itu lalu sosok pemilik kaki itu berjongkok didepannya membuat Eunmi bisa melihat wajah sosok itu, Eunmi terkejut saat dia melihat wajah sosok itu ternyata yang berjongkok dihadapannya adalah Jiyoung.

“Maaf Eunmi-ya, ini semua salahmu.” Ucap Jiyoung.

“Eonni..” Eunmi memanggil namun dia langsung kehilangan kesadarannya.

To Be Continue…

Don’t forget the comment🙂

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

22 thoughts on “Great Ambition – Chapter 5

  1. Thor daebak. Aku mohon thor biarkan pada akhirnya sehun bersama eunmi, aku lebih suka eunmi dari yura. Dari namanya saja aku suka eunmi.

  2. kereenn kereenn kereenn ceritanya thor,,makin seru,,,kyaaaa hyojungnya bner” percaya sama junma tuhh,,,aku masi blom percaya uri junma perannya jahaaatt hhahaahahaa,,,,
    kasian eunminya d gangguin jiyoung terus,,kira” jiyoung bneran mau rasukin eunmi yahh,,pasti makin seru nihh next part,,
    d tunggu yah thor kelanjutannya😀

  3. Halooo kak seven :))
    maaf baru bsa baca😦
    ga nyangka joonmyeon sejahat itu. Itu si eunmi ntar jangan2 lama2 suka sm Sehun beneran. Ga tau knp setiap baca, agak ga rela sehun sm yura *peace_V* :p

    Ditunggu chapter 6nya kak :))
    Keep writing!

  4. wah wahh, joonmyoen sudah memulai rencananya. Aku juga makin penasaran apa yg bakal dilakukan jiyoung ditubuh eunmi .. Semangat kak lanjutin ceritanya😀

  5. wah junmyeon licik bgt. . . . .

    wah jiyoung mw ngerasukin eunmi ya???????
    knp eunmi gk pernah ramah sma eunhee ?????

    wah ky.a seru nnti tubuh eunmi yg dktin sehun sbg jiyoung. . . .

    thor q dah minta pw chap 6 d email aku yg kimasshiyffa@gmail.com tp gk d bls .bls donk. . . .

  6. aku udah baca nih dari chapter 1 dan aku mikir dunia ff ini begitu sempit thor(?) wkwk
    itu suho kok jahat banget sama semua orang -___-
    dan bingung itu jiyoung sebenernya baik atau jahat sih gak ngerti aku ._.
    wkwk tapi rame kok ceritanya thor!
    oh iya thor aku mau minta pw buat chapter 6 dong, ini email aku sarah.infinite7@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s