Posted in FanFiction NC 17+

Great Ambition – Chapter 4

Title: The Great Ambition

Author : Seven94 @https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB:https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter:https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Jo Eunmi [OC],Oh Sehun [EXO],Oh Jiyoung [OC],Lee Howon [INFINITE]

Kim Yura [Girls day], Jung Hyojung [Tale of two siblings],Wu Zhongren/Kai [EXO]

Wu Yifan [EXO], Wu Hanbyul/Hyojin [Tale of two siblings],Kim Joonmyeon [EXO]

Genre : Melodrama,Horror and Romance

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

<< Previous Chapter

Next Chapter >>

4

Childhood

 

Zhongren menunggu dengan cemas, dia berbalik kekanan dan kiri menatap cemas kearah pintu ruangan dokter. Dia sudah menunggu sekitar satu jam lebih dan dia mulai khawatir, apakah sesuatu terjadi pada Hyojin? Kenapa pemeriksaan Hyojin begitu lama.

Dia sudah menghubungi Yifan dan Hyojung, dia mengatakan kalau Hyojin tiba-tiba saja sakit dan dia membawanya kerumah sakit. Yifan bersihkukuh ingin kerumah sakit namun sepertinya Hyojung mencegahnya karena dia harus memimpin meeting penting dengan para pemegang saham, dia sudah terlalu lama absen.

Zhongren menghela nafasnya, kopi ditangannya terasa sudah hambar dan dia hanya mulai merasa jenuh. Dia menghidupkan handphonenya namun tak ada satupun kabar yang dia dapatkan, suara jam yang berdenting terdengar sedikit menyeramkan apalagi dia hanya sendirian diruang tunggu rumah sakit.

Entah kenapa rumah sakit hari ini sedikit sepi, dia hanya melihat beberapa pasien dan suter yang melewatinya. Zhongren langsung mendongak saat dia melihat seorang dokter keluar dari ruangannya, dokter itu tersenyum kearah Zhongren.

“Zhongren-shi?” Tanya dokter itu dan Zhongren mengangguk.

“Ya dokter, bagaimana keadaan Hanbyul noona?” Tanya Zhongren khawatir.

“Selamat tuan Zhongren, kakak anda sedang mengandung..kandungannya masih sangat muda jadi saya mohon agar anda menjaga kakak anda dengan baik.” Dokter berkata dan Zhongren tersenyum bahagia, Yifan pasti sangat bahagia saat dia mendengar ini.

“Benarkah dokter? Terimakasih..” Ucap Zhongren.

“Tapi tuan Zhongren, keadaan mental nyonya Hanbyul sedang tidak stabil sebaiknya dia dirawat dirumah sakit agar dia mendapatkan perawatan intensif dia kelihatannya memiliki banyak halusinasi mungkin karena stress berat, apakah kakak anda pernah mengalami kejadian yang tragis belakangan ini?” Tanya sang dokter, Zhongren menggelengkan kepalanya.

“Tidak dokter,setahu aku Hanbyul noona baik-baik saja.” Ungkap Zhongren.

“Hm..aneh sekali, dia mengatakan kalau dia sering melihat sosok wanita dan dia juga mengatakan kalau dia terkadang kehilangan kesadarannya secara tiba-tiba.” Dokter itu memberitahu.

“Dokter apa kakak saya bisa disembuhkan?” Zhongren benar-benar khawatir.

“Kami akan berusaha Zhongren-shi, untuk sekarang sebaiknya nyonya Hanbyul tidak sendirian dulu mungkin anda bisa membawanya berlibur dia mungkin hanya butuh tempat yang nyaman dan tenang.” Dokter berkata, Zhongren mengangguk dan dia bisa melihat Hyojin berjalan keluar bersam seorang suster yang membantunya berjalan.

“Noona..” Panggil Zhongren, Hyojin melirik kearah Zhongren dia kelihatan sudah baikan.

“Zhongren-ah.” Hyojin berkata, dia tersenyum sambil menyentuh perutnya.

“Selamat noona, Yifan hyung pasti sangat bahagia mendengar berita ini.” Zhongren berkata, dia sekarang membantu Hyojin berjalan.

“Aku tidak sabar, ingin menyampaikan ini pada Yifan oppa.” Ungkap Hyojin, setidaknya wnaita itu terlihat lebih ceria sekarang.

“Aku juga noona, oh iya noona apa kau mau berlibur?” Tanay Zhongren membuat Hyojin menatap kearah Zhongren.

“Memang kenapa?” Tanya Hyojin.

“Tidak, aku hanya ingin berlibur juga..aku sudah bosan terus bekerja seperti tahun kemarin aku ingin beristirahat.” Zhongren mengungkapkan, dia sebenarnya tidak berbohong dia sendiri ingin berlibur.

“Entahlah Zhongren, aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk berlibur..” Hyojin menjawab dia tersenyum penuh rasa sesal kepada Zhongren.

“Hm..begitu ya, tidak apa-apa bagaimana kalau setelah noona baikan?” Zhongren menawarkan lagi.

“Kita lihat saja nanti.” Hyojin mengelus tangan Zhongren, Zhongren tersenyum.

Dalam pikirannya dia berdoa agar Hyojin baik-baik saja dia tidak ingin melihat kakaknya dan Hyojin bersedih lagi, dia harap untuk sekarang Yifan dan Hyojin bahagia cukup dengan segala masalah yang harus mereka hadapi.

******

Joonmyeon menutup file yang Zitao berikan padanya, Joonmyeon menyeringai dan menatap kearah Zitao yang berdiri tegak didepannya. Joonmyeon mendekat dan menumpu dagunya dengan kedua tangannya, Zitao melirik kearahnya seakan lelaki itu bertanya dengan tatapan matanya.

“Kau yakin, ini informasi yang bisa kau kumpulkan tentang Oh Sehun dan Daeguk?” Tanya Joonmyeon, Zitao mengangguk.

“Hm..cukup bagus, aku hanya butuh detail kecil..apakah kau tahu kenapa Oh Jiyoung meninggal?” Tanya Joonmyeon, Zitao menggelengkan kepalanya dia benar-benar lupa tentang skandal bunuh diri Jiyoung.

“Zitao..Zitao..kau mungkin kuat tapi sayang kau ceroboh.” Ucap Joonmyeon, Zitao menunduk malu dengan pekerjaannya yang ceroboh.

“Lainkali lihatlah hal-hal yang lebih detail..kau mungkin melewatkan beberapa informasi tentang Sehun yang mungkin berguna untukku.” Joonmyeon memainkan bolpointnya.

“Maaf tuan Joonmyeon, saya akan kembali menyelidiki tentang Oh Sehun.” Zitao menunduk sembilan puluh derajat kearah Joonmyeon.

“Tidak usah minta maaf, biarkan aku yang mencari penyebabnya lagipula aku yakin kau tidak akan mendapatkan sumber yang terpercaya selain dari Oh Sehun sendiri iyakan?” Joonmyeon mengangkat alisnya, Zitao mengangguk.

“Kau boleh pulang, oh iya..Feiyoung mengatakan kalau dia akan memulai kerja magang nya minggu depan, dia harap kau bisa menghubunginya.” Joonmyeon menyampaikan, Zitao tersenyum.

“Terimakasih tuan Joonmyeon.” Ucap Zitao.

“Ya..ya aku bosan mendengar kata-kata itu dari mulutmu, sebaiknya kau lebih teliti mulai dari sekarang.” Joonmyeon menjawab.

“Soal Zhongren, bagaimana dengan dia?”

Zitao mengambil sesuatu dari saku mantel hitamnya dan memberikannya pada Joonmyeon, Joonmyeon bisa melihat dua buah foto Zhongren bersama Hyojin yang baru turun dari mobil yang diparkirkan di halaman sebuah rumah sakit internasional di Seoul.

“Rumah sakit eh? Apakah tuan putri kita sedang sakit?” Joonmyeon mengambil salah satu foto yang Zitao bawa.

“Sepertinya begitu tuan Joonmyeon.” Ucap Zitao.

“Hm..menarik, setelah dia menghinaku seperti kemarin..” Joonmyeon bergumam.

“Zitao,kau boleh pergi sekarang.” Joonmyeon menyuruh dan Zitao mengangguk, lelaki itu keluar dari ruanagn Joonmyeon.

Joonmyeon berdiri dari duduknya dan menatap kearah jendela ruangan kantornya yang lebar menatap kearah pemandangan kota seoul yang sibuk, dia ingin sekali mengetahui alasan kenapa Hyojin menghinanya kemarin namun yang lebih membuat dia shock adalah suara Hyojin terdengar seperti ibu tirinya dan itu membuat Joonmyeon sedikit ketakutan.

“Tidak dia sudah mati..aku sudah menyingkirkan dia.” Joonmyeon berkata, dia memukul kaca jendela kantornya dengan keras.

Sosok Boyoung menatap kearah Joonmyeon, arwah itu terlihat sangat marah lalu Boyoung menghilang meninggalkan Joonmyeon.

“Boyoung-shi, kau sudah mati sebaiknya kau tetap seperti itu.” Joonmyeon berbisik, dia melirik kearah ponselnya saat dia mendengar ponselnya bergetar.

Joonmyeon mengambil ponselnya dan menghidupkannya dia terkejut saat dia melihat foto pernikahan ayahnya dan Boyoung tertera dilayar ponselnya, Joonmyeon langsung membantingkan handphonenya karena dia terkejut.

“Hwajang-nim?” Joonmyeon mendengar sekertarisnya mengetuk pintu ruangannya, Joonmyeon menghela nafasnya dan mengammbil handphonenya yang tergeletak dilantai.

“Aku baik-baik saja, kau sebaiknya kembali bekerja.” Joonmyeon menjawab.

“Baiklah Hwajang-nim.” Sekertarisnya menjawab, Joonmyeon menatap kearah handphonenya namun foto yang tadi dia lihat tidak ada.

“Kim Boyoung..” Joonmyeon menggeram kesal, dia mencengkram handphonenya.

Joonmyeon menyeringai, dia mencari nomor kontak Zhongren dan menghubungi nomor Zhongren. Dia menunggu sampai teleponnya tersambung, arwah Boyoung muncul kembali dan dia berjalan kearah Joonmyeon.

“Berhenti menganggu putraku!” Boyoung berteriak mencoba menyentuh Joonmyeon namun usahanya gagal.

Joonmyeon menyandar kearah mejanya, dia tersenyum saat mendengar suara Zhongren mengangkat teleponnya.

“Zhongren-ah..ini aku.” Joonmyeon berkata, Boyoung panik saat dia mendengar suara Zhongren dari speaker ponsel Joonmyeon.

“Oh Hyung..ada apa? Tumben sekali kau menghubungiku siang bolong seperti ini.” Zhongren mengungkapkan dan Joonmyeon tersenyum.

“Tidak apa-apa Zhongren, aku hanya khawatir soal Hanbyul-shi.” Joonmyeon mengungkapkan.

“Oh Hanbyul noona, tolong maafkan dia hyung dia tidak bermaksud untuk mencaci makimu.” Zhongren berkata, Joonmyeon tersenyum.

“Tidak apa-apa, apa dia baik-baik saja sekarang?” Joonmyeon bertanya, Boyoung menatap tajam kearah Joonmyeon jika dia bisa menyentuh Joonmyeon dia sudah mencekik lelaki itu sampai mati.

“Ya dia baik-baik saja, sebenarnya dia sedang hamil sekarang.” Zhongren menyampaikan, senyum diwajah Joonmyeon langsung menghilang.

“Oh hamil?”

“Ya, aku juga terkejut.” Zhongren berkata, Boyoung yang mendengar itu terkejut apakah itu alasannya kenapa Hyojin bisa melihatnya? Boyoung bertanya pada dirinya sendiri.

“Wah itu bagus, sebaiknya aku membelikan Hanbyul hadiah nanti.” Joonmyeon berkata.

“Tak usah repot-repot Hyung, mampirlah jika kau ada waktu.” Zhongren menawarkan dengan baik hati.

“Aku akan mampir Zhongren, jika aku punya waktu luang.” Joonmyeon menyeringai.

Dia menutup teleponnya setelah berpamitan pada Zhongren, Joonmyeon kelihatan tidak senang dengan berita yang baru saja dia dengar.

“Bagus, kerikil lain yang harus aku hancurkan.” Joonmyeon bergumam dengan nada sarkastiknya.

*******

Howon menekan bel apartemen Woohyun, dia menunggu didepan apartemen model itu sedikit gugup karena dia ingat pekataan Woohyun kemarin malam. Woohyun mengatakan kalau Jiyoung meninggalkan sesuatu untuknya sebelum wanita itu meninggal, Howon mengigit bibirnya sampai akhirnya Woohyun datang dan membuka pintu apartemennya.

“Howon! Masuklah..kau datang tepat waktu.” Woohyun berkata, Howon masuk kedalam apartemen Woohyun dan apartemen Woohyun berantakan sekali dia bisa melihat koper dan baju lelaki itu dimana-mana bahkan dilantai yang akan dia injak.

“Apa maksudmu aku datang diwaktu yang tepat?” Tanya Howon, dia melirik kearah Woohyun yang tersenyum malu.

“Hehehe karena kau sepupuku yang paling baik, aku maukan membantuku untuk membersihkan semua ini?” Woohyun bertanya dan Howon menatap kearah Woohyun tidak percaya.

“Yang benar saja! Bukankah kau kaya? Kau bisa menyuruh cleaning service disini.” Howon menolak dan Woohyun menatap kearahnya dengan tatapan sedih.

“Tidak..tatapan itu tidak akan merubah keputusanku.” Howon berkata dan melirik kearah lain.

“Tapi Howon..” Woohyun membujuk.

“Woohyun, aku kesini untuk mengambil barang Jiyoung dan itu saja aku tidak akan menjadi pembantumu kali ini.” Howon berkata, dia ingat dia sering sekali menjadi korban Woohyun, dia selalu berakhir mencuci pakain dalam model itu dan membereskan apartemen Woohyun sendirian sedangkan tuannya sibuk bermain bersama teman-temannya.

“Tapi Howon kali ini aku janji aku akan membantu, kau tahukan aku sangat sibuk..” Woohyun menatap kearah Howon penuh harap.

“Woohyun jika kau masih bersikeras aku akan keluar sekarang.” Howon mengancam.

“Baiklah kalau begitu, kau tidak akan mendapatkan pesan dari Jiyoung.” Woohyun balik mengancam, Howon bersumpah dia ingin menarik rambutnya sampai rontok semua karena dia kesal sekali pada Woohyun.

“WOOHYUN! Aku tidak punya waktu untuk bermain permainan kekana-kanakanmu sebaiknya kau berikan pesan Jiyoung padaku sebelum aku mengambil pisau dan menusukannya kejantungmu!” Howon mengancam, namun Woohyun bukanya ketakutan dia malah tertawa terbahak-bahak.

Howon menatap aneh kearah sepupunya yang sekarang tertawa berguling-guling dilantai sambil menyentuh perutnya, Woohyun memang aneh Howon mengakui itu.

“Hahahaha ya ampun, apa kau sudah tertular virus vampir sekarang?apa kau juga ingin menjadi vampir dan menghisap darah perawan?” Tanya Woohyun masih tertawa, Howon hanya menatap kearah Woohyun dan menghela nafasnya percuma dia tidak akan menang dalam debat ini.

“Kau akan memberikannya atau tidak? Aku harus mengedit foto-fotoku.” Howon mengetuk-ngetukan kakainya dilantai apartemen Woohyun.

“Baiklah..baiklah..” Woohyun akhirnya bangun dari lantai apartemennya dan berjalan kearah lemari kamarnya.

Taklama kemudian Woohyun keluar dan memberikan Howon sebuah kotak hitam yang dia kenal, dia tahu percis apa isi kotak hitam itu. Woohyun memberikan kotak itu pada Howon, Howon hanya menatap kearah kotak itu membuat Woohyun semakin penasaran dia sebenarnya gatal sekali ingin membuka isi kotak itu namun dia sudah berjanji pada Jiyoung untuk tidak membukanya sebelum Howon.

“Apa kau akan memandangi foto itu sepanjang hari?” Tanay Woohyun, dia duduk disofanya lalu Howon mengikuti Woohyun dan duduk disamping model tampan itu.

“Jiyoung memberikan kotak ini padaku seminggu sebelum dia meninggal, dia tiba-tiba saja menghubungiku dan mengatakan kalau dia harus mengembalikan ini padamu.” Ungkap Woohyun.

“Aku kira Jiyoung tidak akan pergi secepat ini,jadi aku menyimpanya dulu karena aku harus pergi ke Paris.” Woohyun melanjutkan, Howon menatap sedih kearah kotak yang ada ditangannya.

“Jiyoung masih menyimpan kalung ini..” Howon tersenyum pahit, dia ingat ekspressi Jiyoung saat wanita itu pertamakali menerima kalung ini.

“Dia sangat menyukai kalung ini dan sellau memakainya, namun sepertinya dia tidak membutuhkannya lagi.” Howon berkata, dia akhirnya membuka kotak hitam itu.

Howon dan Woohyun bisa melihat sebuah surat dan kalung emas putih dengan bandul sepasang sayap malaikat yang cantik, Howon mengambil surat yang ada didalam kotak itu dan membukanya dia bisa melihat tulisan Jiyoung.

Aku tahu aku bukan malaikatmu lagi, itulah kenapa aku mengembalikannya temukanlah malaikatmu yang sesungguhnya Lee Howon

Oh Jiyoung

Howon meremas surat itu, matanya sedikit berkaca-kaca, dia mencoba menahan airmatanya dan Woohyun tahu itu. Dia tahu Howon sangat mencintai Jiyoung, lelaki itu tidak bisa melupakan Jiyoung sampai akhir ternyata, namun Woohyun lega karena setidaknya Howon mencoba sekarang.

“Ini semua yang terbaik Howon, sebaiknya kau temui wanita yang ada di foto itu..dia kelihatanya baik.” Woohyun memberi usul.

“Tidak semudah itu Woohyun, aku hanya takut jika aku tetap mencintai Jiyoung dan mebuat Eunmi kecewa dia memang wanita yang baik.” Howon berkata.

“Kau bisa Howon, kau tidak bisa terus bergantung pada Jiyoung..dia sudah jelas bukan jodohmu.” Ucap Woohyun, Howon berharap dia bisa setuju dengan perkataan Woohyun namun hatinya kecilnya tetap menjerit menginginkan Jiyoung.

“Aku tahu itu Woohyun,kau tak usah mengingatkannya.” Howon berdiri dari duduknya.

“Kau tidak akan memabntuku untuk membereskan semua ini?” Tanya Woohyun dia menunjuk kearah kopernya yang terbuka.

“Aishh! Baiklah..aku akan membantu tapi kau harus berjanji padaku kau akan membereskannya juga.” Howon memberi persyaratan, Woohyun mengangguk penuh antusias.

ASAAA!” Dia bersorak dan melingkarkan tangannya dibahu Howon.

“Kau memang sepupu yang baik Howon.” Woohyun tertawa dan Howon hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu bagaimana dia dan Woohyun bisa menjadi sepupu mereka begitu berbeda.

*********

Sehun kecil memegang tangan ibunya dengan erat, ini pertamkalinya dia menghadiri sebuah acara dimana terdapat banyak sekali orang. Dia bisa mendangar tawa dan percakapan semua orang yang ada diruangan besar itu, kakak tirinya Jiyoung sudah pergi entah kemana meninggalkan dia bersama ibunya, sesekali teman ibunya melirik kearahnya dan tersenyum.

Sehun mengigit jarinya gugup dia tidak pernah menyukai tempat yang ramai seperti tempat ini, terlalu banyak orang dan berisik dia hanya ingin kabur dan kembali kerumahnya yang sepi dan tenang.

“Sehun-ah..” Panggil ibunya dengan lembut dan Sehun kecil melirik kearah ibunya,

“Nde Eomma?” Tanya dia.

“Kenalkan ini paman Jung Yunho dan tante Boa.” Ibu Sehun mengenalkan kedua sosok yang ada dihadapannya.

“Hello Sehunnie, aku paman Yunho.” Seorang lelaki tinggi berjongkok dihadapannya dan tersenyum kearahnya, Sehun hanya menatap kearah Yunho dia sedikit takut karena lelkai itu begitu tinggi.

“Aigoo lucu sekali, Sehunnie aku tante Boa.” Wanita disamping Yunho berkata, dia tersenyum kearah Sehun dan mengulurkan tangannya kepada Sehun.

“Oh Sehun..” Sehun mengenalkan dirinya dan menjabat tangan Boa, Boa tersenyum dan mencubit pipi Sehun.

“Minji-ya anakmu lucu sekali.” Boa berkata dan ibunya tersenyum kearah Boa.

“Dimana Hyojin dan Hyojung?” Tanya Minji, dia tidak melihat sosok kedua anak pasangan yang satu ini dan dia penasaran.

“Oh Hyojung tidak ikut, dia tidak suka acara pesta seperti ini.” Boa menjawab.

“Hyojin sedang bermain dengan Jiyoung, terakhir aku melihat mereka sedang mengobrol.” Yunho mengungkapkan, dia melirik kesekitarnya mencari sosok anak perempuannya.

“Eomma, aku ingin pulang..” Sehun mendekat kearah ibunya dan menarik gaun ibunya dengan gugup, dia bisa meraskaan beberapa pasang mata memperhatikannya dan itu membuat Sehun tidak nyaman.

“Sehunnie, sebentar lagi ya? Eomma dan Appa masih punya urusan.” Ibunya membujuk, dia mengelus kepala Sehun dan Sehun memajukan bibirnya kesal.

“Sehunnie,bagaimana kalau kau bermain dengan paman? Ayo..” Yunho mengelurkan tangannya pada Sehun, Sehun melirik kearah ibunya sekaan meminta ijin.

“Pergilah, kau pasti bosan.” Ibunya berkata dan Sehun mengangguk, dia menyambut uluran tangan Yunho dan pergi bersamanya.

Yunho ternyata cukup menyenangkan, dia mengendong Sehun seakan Sehun adalah anaknya sendiri dan itu membuat Sehun merasa aman. Beberapa tamu pesta bertanya pada Yunho jika Sehun adalah anaknya dan Yunho hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Sehun melirik kearah semua patung yang ada diruangan pesta dia tersenyum.

Patung itu terbuat dari es ternyata, Sehun tidak pernah melihat patung seperti itu. Yunho yang melihat perhatian Sehun tertuju pada patung es tersenyum, dia mendekat kearah patung itu membuat Sehun terkejut.

“Patungnya bagus bukan?” Tanya Yunho dan Sehun mengangguk setuju.

“Kau mau menyentuhnya?” Yunho bertanya, Sehun menatap kearah Yunho sebentar lalu dia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?kau takut?” Tanya Yunho dan Sehun mengangguk.

Yunho menyentuh patung itu dan Sehun mencengkram kerah baju Yunho ketakutan, Yunho hanya tertawa melihat ekspressi panik Sehun. Sehun benar-benar menggemas Yunho berpikir, dia terlihat terlalu lucu untuk seorang anak laki-laki.

“Lihat Sehun..paman baik-baik saja, coba sekarang kau yang menyentuhnya.” Yunho berkata dan Sehun menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, coba saja.” Yunho menenangkan, Sehun yang penasaran akhirnya memutuskan untuk menyentuh patung es itu walaupun dia ragu-ragu.

Tangan kecilnya akhirnya menyentuh patung es itu dan matanya melebar saat dia merasakan sensasi dingin dipermukaaan kulitnya, Yunho tersenyum melihat Sehun yang akhirnya berani menyentuh patung itu lalu akhirnya Sehun tertawa karena dia merasa konyol karena sudah takut pada sebuah ukiran Es yang bahkan tidak bergerak.

“Appa!” Mendengar panggilan itu Yunho melirik kesumber suara dan dia bisa melihat sosok dua gadis kecil yang berdiri tak juah darinya.

“Ah Hyojin-ah.” Panggil Yunho, kedua gadis itu berlari kearah Yunho.

Sehun mengintip sosok gadis yang memanggil Sehun dan dia bisa melihat sosok Jiyoung kakak tirinya berjalan bersama Hyojin, dia tersenyum melihat betapa cantiknya kaka tirinya itu dengan balutan gaun pink dan pita yang cantik melingkar dipinggang gaun Jiyoung.

“Appa, aku mencarimu, Jiyoung bilang dia ingin melihat kapal terbang yang kau buat dari kertas Appa.” Gadis kecil disamping Jiyoung berkata, gadis itu berambut pendek dia memakai gaun ungu yang anggun.

“Oh kau ingin melihat itu Jiyoung-ah?”Yunho melirik kearah Jiyoung yang berdiri disamping Hyojin, Jiyoung kecil tersenyum dan mengangguk.

“Aku tidak pernah melihatnya paman Yunho, maukah kau menunjukanya? Aku punya kertas lipatnya.” Jiyoung menunjukan kertas yang dia bawa dari meja resepsionis.

“Hm..boleh, ayo kita cari tempat duduk.” Yunho mengajak, Sehun hanya menatap kearah Jiyoung dari gendongan Yunho, dia memeluk leher Yunho saat tatapannya dengan Jiyoung bertemu.

Dia takut pada tatapan kakak tirinya itu, Jiyoung menatap kearah lain tidak ingin melihat Sehun baginya Sehun adalah musuh terbesarnya karena ibu Sehun sudah menggantikan posisi ibunya. Yunho membawa mereka keluar dari aula pesta, mereka sekarang ada dihalaman belakang aula, Yunho berhenti menggendong Sehun dan menyuruh Sehun untuk duduk disampingnya. Sehun selalu menurut dan duduk disamping Yunho, dia memperhatikan Yunho yang sedang membuat kapal terbang kertas. Dia melirik kearah Hyojin yang ada disampingnya, dia menyukai Hyojin karena Hyojin terlihat cukup ramah berbeda dengan Jiyoung yang bisa sangat kasar padanya.

“Hi aku Hyojin.” Hyojin akhirnya mengenalkan dirinya dan Sehun tersenyum.

“Aku Sehun.” Sehun mengenalkan dirinya juga.

“Sehun? Jiyoung-ah bukankah dia adikmu?” Hyojin melirik kearah Jiyoung yang melipatkan kedua tangannya, gadis itu kelihatan tidak senang.

“Dia bukan adikku, dia adik tiriku.” Jiyoung menjawab dengan ketus, Hyojin melirik kearah Jiyoung yang kelihatan tidak senang dengan kehadiran Sehun.

“Bukankah dia lucu? Kau bilang dia menyebalkan.” Hyojin berkata dia mendekat dan duduk disamping Sehun.

“Hyojin! Jangan duduk disampingnya!” Jiyoung menarik Hyojin, Sehun menunduk sedih karena perlakuan Jiyoung.

“Jiyoung kau sangat menyebalkan, Sehun akan menangis jika kau bersikap seperti itu.” Hyojin marah dan Jiyoung cemberut.

“Kau pasti sebaya dengan adikku Sehun-ah, adikku Hyojung sama sepertimu..dia sedikit pendiam.” Hyojin bercerita dan Sehun tersenyum mengangguk.

“Hyojin, jika kau ingin bermain dengannya aku pergi.” Jiyoung mengancam, Hyojin menghela nafasnya Hyojin cukup dewasa walaupun umurnya tidak jauh dari Jiyoung.

“Jiyoung-ah dia adikmu kenapa kau tidak menyukainya? Sehun anak yang baik, iyakan?” Tanya Hyojin, dia menyentuh kepala Sehun dan mengelusnya.

“Iya Noona, Sehunnie anak yang baik.” Sehun berkata dan Hyojin tertawa.

“Kau benar-benar mirip dengan adikku.” Hyojin berkata, melihat itu Jiyoung marah dia mengepalkan tangannya dan melirik kearah lain tidak ingin melihat Hyojin dan Sehun menjadi akrab.

Yunho yang sudah selesai melipat kapal terbang kertasnya memperhatikan interaksi Hyojin, Jiyoung dan Sehun dia bisa melihat Jiyoung menjaga jaraknya dari Sehun berbeda sekali dengan anak Hyojin yang duduk disebelah Sehun. Yunho mendekat dan dia menerbangkan salah satu kapal terbang kertasnya sehingga kertas itu jatuh didepan Sehun, Jiyoung dan Hyojin menatap kearah kapala terbang kertas itu.

“Ini, kapal terbang kalian sudah selesai.” Yunho berkata memberikan dua kapal terbang lainnya yang ada ditangannya.

“Wah.. Appa terimakasih.” Hyojin berkata dia berlari dan mencium pipi Yunho membuat Yunho tertawa.

“Paman terimakasih.” Jiyoung berkata dan mulai memainkan kapal terbang kertasnya, Sehun hanya menatap kosong kearah kapal terbang kertasnya.

“Bagaimana kau menyukainya?” Yunho bertanya dan Sehun menatap kearah Yunho.

“Kau memainkannya seperti ini.” Yunho mengambil kapal terbang kertas Sehun dan melemparkannya sehingga kertas itu melayang sebentar lalu jatuh ketanah.

Sehun yang melihat itu tersenyum dia turun dari bangku taman yang dia duduki dan berlari untuk mengambil kapal terbang kertasnya, sayang dia terlalu ceroboh dan akhirnya jatuh. Sehun yang terjatuh langsung menangis dan menyentuh lututnya yang berdarah.

Hyojin yang melihat itu terkejut dan hendak menolong Sehun namun langkahnya terhenti saat dia melihat Jiyoung berlari kearah Sehun, Jiyoung langsung berlutut didepan Sehun yang menangis karena lututnya terasa sakit.

“Tenang saja Hyojin-ah, Jiyoung menyayangi Sehun.” Yunho menyentuh pundak anaknya.

“Bagus kalau begitu, aku kira Jiyoung benar-benar memebenci Sehun.” Hyojin tersenyum saat dia melihat Jiyoung meniup luka Sehun dan Sehun berhenti menangis.

Sehun bangun dari tidurnya, dia tidak tahu sejak kapan dia tertidur di sofa apartemennya, ini sudah sore Sehun baru sadar dia tersenyum mengingat mimpinya yang terasa begitu nyata. Sehun mengusap wajahnya dan berjalan kearah kamar mandi untuk mencuci mukanya, sepertinya bertemu dengan Eunmi membuatnya mengingat masa kecilnya dia berpikir.

Setelah mencuci mukanya Sehun berjalan menuju dapur, ponselnya berdering dan dia bisa melihat foto Yura dilayar ponselnya dia tersenyum lalu mengangkat panggilan Yura.

“Ya, Yura ada apa?” Dia bertanya.

“Sehun, aku hanya ingin bertanya…apa kau akan datang ke acara makan malam hari ini? Kau janji akan bertemu dengan ibuku.” Yura berkata.

“Oh iya makan malamnya hari ini? Aku kira besok..” Sehun berkata dan dia bisa mendengar Yura menghela nafasnya.

“Kau benar-benar tidak ingin bertemu dengan ibuku, iyakan?” Yura menebak.

“Bisakah kita tidak bertemu dengan ibumu? Aku lebih suka ayahmu.” Sehun berkata jujur.

“Sehunnn…kita sudah membicarakan inikan? Ibuku menyukaimu dia hanya tidak bisa memperlihatnya padamu.” Yura menjawab dan Sehun tersenyum, entah kenapa sifat ibu Yura mengingatkannya pada seseorang.

“Baiklah..baiklah..aku akan datang.” Sehun mengalah, mungkin saja ibu Yura bisa lebih ramah kepadanya sekarang.

“Bagus kalau begitu, jangan lupa bawa bunga mawar ibuku menyukai bunga itu.” Yura mengingatkan.

“Iya, aku tidak akan lupa.” Balas Sehun.

“Bagus kalau begitu, aku harus pergi sekarang..aku sedang ditengah-tengah pemotretan.” Yura mengungkapkan.

“Baiklah, jangan lupa kau sebaiknya memberikanku ‘hadiah’ saat kita pulang nanti.” Sehun meminta dan Yura tertawa.

“Hahaha you wish!” Yura menjawab dan menutup teleponnya, Sehun tersenyum dan memasukan ponselnya kedalam saku celananya.

Sebaiknya dia membeli bunga untuk ibu Yura dan memilih jas yang akan dia kenakan, Ibu Yura sangat pemilih jika soal pakaian dia tidak ingin memberikan kesan yang buruk lagi karena ibu Yura sudah tidak menyukainya dari awal sebaiknya dia bersikap baik dan berpenampilan stylish untuk ibu Yura.

********

Howon membuka pintu apartemennya, dia sebenarnya sedikit gugup karena pertamakalinya Eunmi mengunjungi tempat tinggalnya. Dia sudah emmbersihkan apartemennya sejak dari tadi pagi, meskipun dia tidak harus membersihkan banyak hal karena dia sendiri terhitung lelaki yang rapih berbeda sekali dari sepupunya Woohyun.

“Ini apartemenku.” Howon berkata, Eunmi yang berdiri dibelakangnya mengintip kedalam dan gadis itu kelihatan menyukai apartemennya.

“Wah..apartemenmu besar sekali.” Eunmi memuji, dia melangkahkan kakinya kedalam apartemen Howon setelah dia melepaskan sepatunya.

“Ya, sedikit besar untuk seseorang yang tinggal sendirian.” Howon menggaruk kepalanya canggung.

“Hm..iya kau benar.” Eunmi menjawab dan gadis itu melirik kearah foto-foto yang ada di dinding apartemen Howon, Eunmi kelihatan tertarik pada fotografi karena Eunmi langsung tersenyum senang melihat foto-foto yang Howon pajang.

Howon hanya bisa mengikuti Eunmi dari belakang, gadis itu terlalu sibuk mengagumi foto Howon dibandingkan pemiliknya. Eunmi kelihatan terkejut saat dia melihat foto dirinya sendiri yang Howon pasang, Eunmi menyentuh fotonya itu dan tersenyum tipis.

“Kau memasang fotoku?” Tanya Eunmi dan Howon mengangguk.

“Apa kau menyukainya? Aku paling suka foto yang ini..” Ungkap Howon, dia sendiri sekarang menatap kearah foto Eunmi.

Eunmi dalam foto itu terlihat sangat cantik meskipun wanita itu memakai make up yang gelap dan pakaian gaun hitam, ekspressi Eunmi terlihat dingin namun anggun diwaktu yang sama tidak banyak model yang bisa menyampaikan ekspressi wajah seperti itu kecuali Eunmi.

“Kenapa kau menyukai foto ini?” Eunmi bertanya, dia tidak bisa menemukan sesuatu yang special dari fotonya.

“Hm..banyak sekali alasannya, mungkin karena ekspressimu? Kau terlihat sangat cantik di foto ini.” Howon menjawab, Eunmi melirik kearah Howon.

“Benarkah? Aku kira aku foto ini biasa-biasa saja.” Eunmi berkata.

“Apa kau meragukan penilaianku?” Howon melipatkan tangannya dan memasang ekspressi kecewa lalu dia menunduk sehingga wajahnya dengan wajah Eunmi sejajar, Eunmi menggelengkan kepalanya bagaimana dia bisa meragukan penilaian seorang professional seperti Howon.

“Maaf..bukan begitu..aku hanya..” Eunmi tidak menamatkan kalimatnya.

“Kau lucu Eunmi-shi, kau tahu itu?” Tanya Howon.

“Eh?” Eunmi mendongak membuat tatapannya dengan Howon bertemu dia sedikit malu namun Eunmi menutup rasa malunya dan menyeringai kearah Howon.

“Howon-shi, apa kau mulai menyukaiku?” Tanya Eunmi, Mata Howon melebar dia berhenti menunduk didepan Eunmi dan tersenyum.

“Hahaha apa yang kau katakan Eunmi-shi? Kau benar-benar lucu.” Howon menjawab, dia melirik kearah lain menyembunyikan wajahnya yang sedikit merah karena malu.

Eunmi hanya tersenyum dia kembali mengamati fotografi Howon dan Howon melirik kearah Eunmi memperhatikan sosok gadis itu, dia bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat dan dia merasa senang sekali setiap kali dia melihat sosok wanita itu. Rasanya dia ingin menjerit sampai dia lelah untuk menghilangkan rasa senang yang dia rasakan sekarang, Howon tersenyum dan mengikuti langkah Eunmi mungkin dia bisa mengatakan perasaanya pada Eunmi suatu hari nanti.

“Eunmi-shi, bagaimana kalau kau duduk dulu? Aku akan membuat minuman untukmu..kau mau apa Teh?kopi?” Howon menawarkan, lelkai itu berjalan kearah dapurnya.

“Teh saja, aku tidak suka kopi.” Eunmi menjawab dan dia duduk disofa, dia bisa melihat beberapa majala fotografi ada dimeja ruang tengah Howon.

Karena penasaran Eunmi mengambil salah satu majalah fotografi itu dan membukanya sambil menunggu Howon selesai membawa minumannya, Eunmi terkejut saat dia melihat sebuah foto yang ada dihalaman depan majalah itu. Foto itu berjenis polaroid Eunmi berpikir, wajah yang ada difoto itu tidak asing baginya, Eunmi menarik nafasnya terkejut saat dia mengenali wajah wanita yang ada didalam foto polaroid itu.

Wanita yang ada didalam foto itu adalah Jiyoung, Eunmi mencengkram foto itu dia bertanya-tanya kenapa Howon memiliki foto Jiyoung didalam majalahnya? Eunmi langsung memasukan kembali foto itu saat dia mendengar langkah kaki Howon.

“Maaf menunggu lama,apa kau bosan?” Howon membawa tehnya lalu menyimpannya dimeja.

“Tidak, kau cepat.” Eunmi menjawab dia langsung mengambil minuman tehnya, dia masih terkejut dengan apa yang dia lihat tadi.

“Oh iya, kita kesini untuk menonton film bukan? Kau mau menonton film apa?” Howon berdiri dari duduknya, dia menghidupkan televisinya dan mencari kaset film yang mungkin Eunmi suka.

“Apa saja boleh, aku ingin tahu selera filmmu.” Eunmi berkata, Howon melirik kearah Eunmi dan tersenyum, dia kembali mencari kaset.

Eunmi menatap kearah Howon, dia mencengkram gelas teh yang masih dia pegang, sebenarnya dia ingin sekali bertanya apa hubungan Howon dengan Jiyoung namun dia tidak yakin jika dia pantas untuk bertanya soal itu. Seingat dia Jiyoung memang pernah dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang fotografer namun dia tidak menyangka jika fotografer itu adalah Howon, dia sekarang menjadi sedikit cemas dia tidak ingin mengencani Howon jika Howon ternyata masih memiliki perasaan untuk Jiyoung.

“Howon-shi..” Eunmi memanggil, Howon yang sedang menghidupkan DVD nya berhenti dan melirik kearah Eunmi.

Nde?” Dia merespon.

“Apa kau mengenal Oh Jiyoung?” Tanya Eunmi, dia mengigit bibirnya karena cemas.

“Oh Jiyoung? Ya, aku mengenalnya.” Jawab Howon, Eunmi langsung menunduk saat dia mendengar jawaban Howon.

Howon khawatir, dia berjalan kearah Eunmi dan duduk disamping gadis itu.

“Tenang saja Eunmi-shi, aku dan Jiyoung hanya mantan..kami berkencan selama 2 tahun tapi sekarang aku sudah melupakan dia.” Howon menjelaskan, Eunmi tidak menjawab apapun dia mencengkram gelas tehnya.

“Itu bukan urusanku bukan? Kenapa kau harus berkata seperti itu..” Eunmi menjawab, nada suaranya terdengar sedikit sedih.

“Aku tahu..aku hanya ingin menjelaskan saja.” Howon membalas, dia menunduk.

“Apa kau mengenal Jiyoung?” Howon bertanya lalu lelaki itu melirik kearah Eunmi, Eunmi mengangguk.

“Dia…aku dan dia dulu adalah teman masa kecil.” Eunmi menjawab singkat, Howon mengangguk mengerti.

“Jika kau mengenal dia, apakah kau mengenal Oh Sehun?” Howon kembali bertanya, Eunmi sekarang menatap kearah Howon.

“Sehun? Ya tentu saja, aku mengenal dia.” Eunmi mengakui.

“Apa kau tahu bagaimana sifat Sehun?” Howon melirik kearah Eunmi, Eunmi mengangguk.

“Sedikit, kami sudah lama tidak bertemu.” Eunmi mengungkapkan, Howon tersenyum tipis dia menyentuh tangan Eunmi.

“Apapun yang ada dipikiranmu sekarang, aku ingin kau tahu kalau aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Jiyoung..dia hanya masa lalu tapi kau, aku bisa melihat masa depan bersamamu.” Ungkap Howon, Eunmi tersenyum.

“Jadi aku benar, kau menyukaiku ternyata..” Ucap Eunmi penuh percaya diri.

“Awalnya aku akan menunggu sampai kau merasa nyaman denganku, tapi sepertinya kau cukup pintar untuk menyadari perasaanku padamu.” Howon berkata, Eunmi tersenyum tipis dia menyentuh tangan Howon.

“Apa itu salah? Apa kau ingin menunggu?” Eunmi menatap kearah Howon, Howon tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku hanya belum yakin..apakah kau menyukaiku?”

Eunmi mengigit bibirnya ragu, dia tidak tahu harus menjawab apa Howon memang sangat baik padanya beberapa minggu belakangan ini. Mereka menghabiskan banyak waktu, pergi keberbagai tempat bersama dan berbagi cerita masa lalu mereka Howon selalu ada disampingnya dan menghiburnya disaat dia bosan.

Haruskah dia membuka hatinya untuk Howon? Haruskah dia menjalian hubungan dengan lelaki yang sekarang menatapnya penuh harap? Eunmi tidak tahu, dia bahkan belum pernah berpikir kalau hubungannya dengan Howon bisa menjadi seperti ini rasanya dia baru kemarin bertemu dengan Howon.

“Apa kau sudah punya pacar?” Suara Howon menyadarkan lamunan Eunmi, Eunmi langsung menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku tidak punya pacar hanya saja..” Eunmi tidak menamatkan kalimatnya, dia melirik kearah lain.

“Kenapa?apa kau tidak menyukaiku?”

Tidak, Eunmi menyukai Howon…dia suka candaan konyol lelaki itu dia suka senyum dan tatapan hangat Howon namun entah kenapa hatinya tetap ragu untuk menerima cinta seorang Lee Howon. Rasanya berat sekali mengatakan kata ‘iya’ pada Howon padahal dia tahu jika dia menyukai lelaki itu, apakah mungkin karena Howon adalah mantan kekasih Jiyoung? Apakah itu alasan utama kenapa dia tidak bisa menerima Howon? Eunmi tidak tahu.

“Howon-shi…bisakah kau memberikanku waktu? Aku ingin berpikir dulu.” Eunmi berkata dia berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya.

“Kau mau kemana?” Tanya Howon.

“Aku..aku akan memikirkannya terlebih dahulu, apa kau tidak keberatan?” Eunmi mengungkapkan, Howon terlihat sangat kecewa meskipun lelaki itu tidak mengatakan apapun.

“Baiklah, aku antar kau sampai rumah.” Howon setuju, Eunmi menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku akan pulang sendiri maaf..tapi aku butuh waktu sendirian.” Eunmi berkata, dia berbalik dan pergi keluar dari apartemen Howon terburu-buru.

Howon yang melihat sosok Eunmi menghilang di balik pintu menghela nafasnya, dia menunduk kecewa. Mungkin merebut hati Eunmi tidak semudah yang dia kira, Eunmi memang berbeda dari wanita biasanya Howon tahu itu.

Howon melirik kearah foto Jiyoung yang ada disudut dinding apartemennya, dia berjalan kearah foto itu dan melepaskan bingkai foto itu dari dinding apartemennya. Mungkin ini sudah saatnya untuk melupakan Jiyoung, dia tidak bisa terus menangisi Jiyoung dia tahu itu dan hari ini dia akan mulai menjalani hidupnya tanpa bayangan mantan kekasihnya itu.

Arwah Jiyoung tersenyum saat dia melihat Howon melepaskan fotonya yang ada di dinding apartemen, Jiyoung bisa melihat Howon memeluk fotonya sebentar lalu menyimpan fotonya didalam laci meja ruang tengah apartemen.

“Maaf Jiyoung-ah..aku harus melupakanmu.” Howon berkata, Jiyoung mengangguk lalu menghilang dari apartemen Howon.

********

“Sehun!” Yura memanggil saat dia melihat kekasihnya berjalan masuk kedalam restoran, Sehun yang mendengar namanya dipanggil langsung melirik kearah sumber suara dan menemukan Yura yang duduk dikursi yang ada ada disudut ruangan restoran.

“Yura..” Sehun berjalan kearah Yura dan dia bisa melihat sosok ibu Yura, wanita paruh baya itu kelihatan tidak senang saat dia melihat sosok Sehun.

Annyeoung haseyo eommoni.” Sehun langsung menyapa ibu Yura dan menunduk hormat kearah wanita itu.

Annyeoung Sehun-shi.” Ibu Yura menyapa kembali namun nada suaranya terdengar malas.

“Aku membeli bunga ini untuk Eommoni, aku harap Eommoni menyukainya.” Sehun berkata, dia menunjukan sebuket bunga mawar merah yang dia beli tadi.

“Terimakasih Sehun-shi, tapi aku bukan kekasihmu..bukankah tidak pantas memberikan bunga ini padaku? Kau seharusnya memberikannya pada Yura.” Ibu Yura berkata dengan ketus, dia bahkan tidak menerima bunga yang sudah Sehun beli.

Eomma, Sehun sudah repot-repot membelikannya untukmu setidaknya terimalah.” Yura berbisik pada ibunya, Ibu Yura akhirnya menerima bunga yang Sehun bawa.

“Duduklah, aku tidak berencana untuk menatap mukamu disana semalaman.” Ibu Yura berkata masih dengan nada ketus,Sehun mengangguk dan duduk didepan Yura.

“Aku dengar Eommoni baru pulang dari New York, bagaimana cuaca di New York sekarang?” Sehun mencoba berbasa-basi.

“Aku tidak peduli dengan cuaca, aku pikir cuacanya biasa-biasa saja.” Ibu Sehun menjawab dan Yura menghela nafasnya.

“Eomma,apa kau tahu? Sehun sekarang sudah membuka perusahaannya dia sekarang resmi menjadi CEO perusahaan Daeguk.” Yura mengumumkan, Sehun menggelengkan kepalanya berharap kalau Yura tidak membahas topik itu.

“Oh bagus, setidaknya kau punya karir.” Ibu Yura berkata dengan dingin, Yura menunduk sepertinya percuma membujuk ibunya agar menyukai Sehun.

“Bagaimana dengan bisnis Eommoni? Apakah semuanya berjalan lancar?” Sehun bertanya dengan senyum sopannya.

“Tak usah khawatir, kami tidak butuh bantuanmu..kau masih amatir.” Ibu Yura menjawab lalu wanita itu mulai meminum wine yang sudah tersedia didepannya.

Sehun hanya tersenyum dia mengerti kenapa ibu Yura berkata seperti itu dia sendiri tidak pernah berpikir kalau dia adalah seorang yang sudah professional, biarkan Ibu Yura menganggapnya seperti itu jadi dia tidak memiliki beban yang lebih. Yura menatap kearah Sehun seakan gadis itu meminta maaf namun Sehun hanya tersenyum, dia tahu Yura merasa bersalah.

Taklama menunggu pesanan mereka datang, Sehun memakan makan malamnya sedikit canggung walaupun makanan yang ada didepannya mungkin lezat Sehun tidak bisa merasakan apapun karena dia terlalu gugup. Yura sendiri tidak bisa memperbaiki keadaan antara ibunya dan Sehun, berbeda sekali saat Sehun bertemu dengan ayah Yura lelaki tua itu menyambutnya dengan senyum dan kata-kata bijak membuat Sehun merasa aman.

Dia sendiri tidak terlalu dekat dengan ayahnya sehingga saat dia bertemu dengan ayah Yura dia merasa menemukan figur seorang ayah, Sehun mengambil gelas minumnya dan menyeka mulutnya setelah dia selesai makan malam.

Ibu Yura sepertinya tidak ingin lama-lama bersama Sehun karena wanita paruh baya itu segera berdiri dan pamitan untuk pulang, Sehun dan Yura mengantarkannya sampai wanita itu naik kedalam mobil dan berlalu membuat Sehun merasa lebih lega sekarang meskipun dia sedikit kecewa karena perlakuan ibu Yura tidak berubah sedikitpun.

“Maaf, mamaku memang sedikit lancang tadi..aku akan berbincara padanya nanti.” Yura berkata setelah mobil ibunya menghilang dari pandnagan mereka, Sehun mneyntuh pundak Yura.

“Tidak apa-apa, setidaknya ayahmu menyukaiku.” Sehun tersenyum, Yura tidak tersenyum karena dia khawatir.

“Sehun..”

“Sudah sebaiknya kita pulang, apa kau mau menginap lagi di apartemenku?” Sehun menawarkan, Yura menggelengkan kepalanya.

“Maaf besok aku ada jadwal pemotretan, mungkin kita bisa bertemu setelah kau bekerja.” Yura mengungkapkan, Sehun mnegangguk menurut.

“Kalau begitu ayo, aku antarkan kau kedalam mobil.” Sehun menggengam tangan Yura dan mengantarkan gadis itu sampai kedalam mobil sedan Yura.

“Sampai jumpa besok, jangan tidur terlalu malam.”Ucap Yura, Sehun mendekat dan mencium bibir Yura sekilas membuat gadis itu tersenyum.

“Tak usah khawatir, pulanglah.” Sehun menyuruh, Yura akhirnya menghidupkan mesin mobilnya.

Sehun melambaikan tangannya saat mobil Yura berlalu meninggalkan parkiran restoran, senyumnya langsung hilang saat mobil Yura sudah jauh dan dia tidak bisa melihatnya lagi. Sehun kelihatan murung dia berbalik menuju mobilnya lalu menghidupkan mesin mobilnya, Sehun terkejut saat radio dimobilnya tiba-tiba saja hidup dan lagu TVXQ- Before You Go terdengar.

Suara Changmin terdengar lembut namun kuat seperti biasa, namun entah kenapa lagu itu membuat Sehun ketakutan setengah mati lalu dia akhirnya memutuskan untuk mematikan radionya. Dia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri, Sehun mencengkram setir mobilnya tangannya sedikit gemetaran karena lagu itu adalah lagu kesukaan Jiyoung.

Dia masih ingat kakka tirinya itu selalu memutar lagu itu setiap kali mereka sedang berduaan didalam mobil, Sehun melirik kesekitarnya diia berdoa jika dia tidak lagi menemukan sosok menyermkan dibelakang mobilnya seperti tempo hari.

“Tidak Sehun..Jiyoung noona sudah pergi.” Sehun bergumam pada dirinya sendiri.

Arwah Jiyoung sebenarnya duduk disampingnya, Jiyoung menatap sedih kearah Sehun dia berharap jika Sehun bisa melihatnya dia berharap jika dia bisa menyentuh lelaki itu seperti dulu lagi saat dia masih hidup. Namun bagaimana bisa Jiyoung mencapai Sehun jika lelkai itu begitu menginginkan melupakan Jiyoung, bagaimana dia bisa berkomunikasi jika Sehun selalu ketakutan setiap kali dia mencoba menunjukan wujudnya.

“Sehun-ah…” Jiyoung memanggil, Sehun bahkan tidak melirik kearahnya karena Sehun fokus menatap kearah jalanan didepannya.

“Saranghae..” Jiyoung berbisik lalu arwahnya pergi menghilang dari kursi penumpang, Sehun yang merasakan hawa dingin melirik kearah kursi disampingnya dan menatap kosong kearah kursi itu sesaat.

Dia masih bisa merasakan kalau Jiyoung ada disampingnya namun dia tidak bis amelihat sosok kakaknya itu, Sehun hanya ingin memiliki satu kesempatan untuk memutar waktu sehingga dia bisa menyelamatkan Jiyoung.

“Maafkan aku Noona..” Sehun menahan armatanya, dia tidak ingin mengingat kejadian hari itu, kejadian dimana dia kehilangan Jiyoung orang yang sangat dia cintai.

*******

Eunmi membuka lemari bukunya, dia bisa melihat beberapa aris buku yang sudah disusun rapih namun berdebu karena sudah lama tidak digunakan. Entah kenapa dia tiba-tiba saja ingin mencari buku jurnalnya saat dia masih kecil, Eunmi mencari bukunya dari barisan paling atas sampai bawah berharap kalau dia tidak membuang buku jurnal berwarna hitam merah itu karena didalam buku itu banyak sekali kenangan masa kecilnya.

Setelah mencari sekitar lima belas menit, Eunmi akhirnya menemukan buku jurnalnya di barisan paling bawah diapun langsung menarik buku itu dan membersihkan debu yang mengotori buku tua itu.

Eunmi tersenyum saat dia melihat tulisan tangannya saat dia masih kecil masih terlihat sedikit aneh dan tidak rapih, Eunmi membuka buku jurnal itu dan dia disambut oleh foto kedua orangtuanya tersenyum manis. Eunmi membuka kembali halaman buku jurnal itu dan sekarang dia disambut oleh foto Eunhee adik kembarnya yang memakai gaun berwarna putih Eunhee masih ingat klau foto itu diambil saat mereka berdua merayakan ulang tahun mereka yang kelima.

Eunmi membuka lagi halama lain dan dia bisa melihat tulisannya, Eunmi menulis kalau dia mendapatkan hadiah kotak musik dari ayahnya saat ulang tahun mereka. Eunmi tersenyum tipis dia sudah tidak memiliki kotak musik itu lagi, mungkin sudah tersimpan didalam gudang atau semacamnya.

Lembaran demi lembaran dia buka sampai akhirnya dia berhenti membuka lembaran buku jurnalnya saat dia menemukan sebuah bungkus permen yang dia tempel, dia menyentuh bungkus permen itu dan tersenyum pahit. Dia masih ingat dari siapa permen itu, permen itu dari Oh Sehun tentunya anak lelaki pendiam yang sangat baik padanya.

“Apakah dia masih mengingat soal ini?” Eunmi bertanya pada dirinya sendiri.

“Eunmi! Apa yang kau lakukan digudang?” Suara Eunhee terdengar, Eunmi langsung menutup buku jurnalnya.

“Eunmi-ya, apa yang kau lakukan digudang malam-malam seperti ini?” Eunhee adik kembarnya berdiri diambang pintu gudang menatap kearahnya penuh tanya, Eunmi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Bukan apa-apa, aku hanya ingin mencari buku yang dulu aku simpan disini.” Eunmi menjawab.” Dia menyembunyikan buku jurnalnya dibelakang punggung.

“Baiklah, Eomma bilang makan malam sudah siap sebaiknya kau turun kebawah untuk makan.” Eunhee memberitahu, Eunmi mengangguk.

Eunhee sedikit curiga karena kakak kembarnya itu kelihatan aneh namun dia memutuskan untuk pergi keluar dari gudang, Eunmi yang sudah melihat Eunhee pergi segera berlari keluar dari gudang dan menutup pintu gudang lalu berjalan kekamarnya.

Eunmi menyimpan buku jurnalnya diatas meja belajarnya, dia sebenarnya ingin kembali membaca buku jurnalnya namun dia tidak ingin melewatkan makan malamnya karena dia tidak ingin mendengar omelan ibunya yang sangat mengganggu. Dengan terpaksa Eunmi keluar dari kamarnya menuju lantai bawah rumah mewahnya, dia bisa melihat beberapa pelayan menyapanya dan Eunmi hanya tersenyum sekilas tidak peduli.

Di ruang makan dia bisa melihat kedua orang tuanya juga Eunhee sedang bercengkrama, Eunmi akhirnya duduk disamping Eunhee yang sudah duluan makan. Eunmi bisa mendengar sedikit potongan pembicaraan antara Eunhee dan ayahnya namun dia terkejut saat dia mendengar kata Hyojin keluar dari mulut Eunhee.

“Hyojin? Maksudmu Jung Hyojin? Anak dari Jung Yunho?” Tanya Eunmi tiba-tiba, ayahnya dan Eunhee melirik kearahnya aneh.

“Iya, kau benar…oh iya dulu kau sering bermain dengan dia iyakan?” Eunhee bertanya dan Eunmi menggangguk.

“Ada apa dengan Hyojin Eonni?” Tanya Eunmi.

“Entahlah sepertinya dia mengalami depresi, aku melihat dia pergi menuju ruang psikolog dirumah sakit tadi siang.” Eunhee menjelaskan.

“Kenapa kau kerumah sakit?” Ibunya bertanya.

“Aku kesana untuk menemui Kyungsoo, dia bilang dia akan menjadi dokter tetap di rumah sakit Seoul.” Eunhee menjelaskan.

“Oh begitu ya, aku sudah lama tidak berbicara pada Hyojin eonni mungkin aku akan menemuinya.” Ungkap Eunmi, dia sebenarnya ingin sekali kembali berkomunikasi dengan Hyojin namun dia tidak tahu bagaimana.

“Oh iya, aku juga lupa..bagaimana dengan Sehun? Apa kau sudah bertemu dengan dia?” Ayahnya bertanya.

“Ya, dia masih seperti dulu.” Eunmi tersenyum, Eunhee yang melihat senyuman Eunmi menatap curiga kearah kakak kembarnya itu.

“Apa kau masih menyukai Sehun?” Eunhee menggoda dan menyikut lengan kakaknya itu membuat Eunmi menggerang.

“Eunhee! Aku dan Sehun hanya teman.” Eunmi menyangkal, Eunhee hanya tersenyum saat dia melihat ekspressi panik Eunmi.

“Benar kata Eunmi, sebaiknya kau dan Sehun tetap berteman..Sehun sudah memiliki pacar.” Ibu mereka berkata, entah kenapa hati Eunmi sedikit terluka saat dia mendengar perkataan ibunya.

“Oh..siapa pacarnya?” Tanya Eunhee, Eunmi tidak ingin mendengar itu dia menunduk menatap kearah makananya.

“Kim Yura, dia adalah anak teman Eomma dia cantik sekali kalau tidak salah dia bekerja sebagai model.” Ibunya menjelaskan.

“Wow..daebak, Sehun pasti menjadi tampan sekali sekarang.” Eunhee menebak.

“Cukup, aku ingin makan bukan mengobrol.” Eunmi mengungkapkan membuat semua orang kembali fokus untuk makan.

Eunhee yang melihat perubahan sikap Eunmi menjadi khawatir, dia tahu kakak kembarnya itu masih menyukai Sehun. Mungkin dia akan mengajak Eunmi mengobrol setelah mereka selesai makan malam, Eunmi bahkan kelihatan tidak bersemangat untuk memakan makan malamnya karena gadis itu hanya memainkan makananya.

Setelah selesai makan Eunmi berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi kekamarnya, Eunhee segera mengejarnya Eunmi dan menarik tangannya membuat Eunmi berhenti berjalan.

“Aku ingin mengobrol denganmu sebentar.” Eunhee berkata, Eunmi menatap kearahnya penuh tanya namun dia menurut.

Eunmi mengikuti langkah Eunhee menuju halaman belakang, dia tidak tahu apa yang ingin Eunhee bicarakan walaupun dia sudah sedikit mengantuk sebaiknya dia mendengarkan dulu apa yang Eunhee ingin katakan.

“Bagaimana Sehun sekarang? Apa dia tinggi?” Eunhee bertanya saat mereka berdua akhirnya duduk dikursi halaman belakang.

“Sehun? Ya dia sudah dewasa sekarang.” Eunmi menjawab singkat, dia tidak ingin membahas soal Sehun sekarang.

“Kau kelihatan sedih sekarang, padahal kau senang saat kau membicarakan Sehun tadi.” Eunhee menatap kearah saudara kembarnya dengan tatapan ingin tahu, Eunmi memalingkan mukanya tidak ingin membocorkan perasaannya pada Eunhee.

“Aku tidak sedih, kenapa aku harus sedih?” Eunmi menjawab, sedikit panik.

“Eunmi kau tidak bisa bohong padaku, aku adik kembarmu..aku tahu kau.” Eunhee membalas, Eunmi menghela nafasnya dan melirik kearah Eunhee.

“Aku bosan dengan alasan itu, kau tidak tahu aku Eunhee jadi berhentilah bertingkah seperti cenayang!” Eunmi membentak dan berdiri dari duduknya.

“Eumi-ya..”

“Cukup, aku tidak ingin membicarakan Sehun lagi.” Eunmi berbalik dan masuk kedalam rumah, Eunhee hanya bisa menatap sedih punggung kakak kembarnya itu.

Dia tidak mengerti kenapa Eunmi selalu bersikap seperti ini padanya, dari mereka kecil mereka tidak pernah dekat seperti saudara kembar yang lainnya dan itu membuat Eunhee sedih. Eunhee menahan airmatanya, dia tidak ingin menangis namun dia tidak bisa menyangkal hatinya sakit sekali saat dia mendengar perkataan Eunmi tadi.

Eunmi dan dirinya memang sangat berbeda walaupun mereka memiliki wajah yang hampir sama, mereka selalu hidup didalam dunia yang berbeda dan memiliki opini yang berbeda juga. Terkadang Eunhee merasa kalau dia sendirian, dia tidak pernah merasakan kalau dia memiliki kembaran karena Eunmi tidak pernah ada disisinya.

“Eunhee..” Mendengar namanya yang dipanggil Eunhee melirik kearah sumber suara, dia melihat ibunya berdiri diambang pintu halaman belakang dan tersenyum kepadanya.

“Masuklah, ini sudah malam.” Ibunya mengajak, Eunhee hanya mengangguk menurut.

Eunmi menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara ibunya mengajak masuk Eunhee, Eunmi yang kesal langsung melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam kamarnya lalu melirik kearah buku jurnal yang ada dimeja belajarnya.

Eunmi duduk di kursi meja belajarnya, dia membuka kembali buku jurnalnya dan menatap kembali bungkus permen yang Sehun pernah berikan kepadanya. Dia mengelus bungkus permen itu dan tersenyum tipis, dia masih mengingat bagaimana Sehun memberikan kedua permen itu untuknya.

*******

Semua orang terlihat sedang sibuk mengobrol mereka sedang membahas tentang bisnis dan keuntungan perusahaan mereka, Eunmi kecil tidak pernah mengerti kenapa orang-orang disekitarnya selalu terobsesi dengan uang dan jabatan padahal mereka belum tentu bahagia dengan kedua hal tersebut. Ayahnya tersenyum kearah Eunmi saat pandangan mereka berdua bertemu, ayahnya mengelus kepalanya lalu kembali mengobrol dengan rekan kerjanya yang ada didepannya menjelaskan tentang proyek usahanya dengan antusias.

Eunmi kecil menghela nafasnya, saudara kembarnya Eunhee sudah menghilang entah kemana mungkin bertemu dengan teman-teman membosankannya. Eunmi tidak pernah menyukai teman-teman Eunhee, mereka terlalu sopan dan kutu buku Eunmi lebih menyukai orang yang mudah bergaul dan menyenangkan.

“Direktur Jo!” Mendengar panggilan itu ayah Eunmi dan Eunmi melirik kearah sumber suara.

“Direktur Jung! Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu.” Ayah Eunmi berkata, dia langsung berjabat tangan dengan lelaki yang dia panggil direktur Jung.

“Baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Direktur Jung kembali bertanya.

“Aku juga, dimana Hyojin dan istrimu?” Tanya ayah Eunmi dan Yunho melirik kesekitarnya.

“Oh Hyojin sedang bermain dengan anak yang lain, Istriku sepertinya menghilang entah kemana.” Direktur Jung tertawa begitu juga dengan ayahnya.

Eunmi kecil tentu saja tidak mengerti percakapan ayahnya dengan direktur Jung, Eunmi hanya bisa memegang erat tangan ayahnya karena dia merasa terancam dengan orang dewasa yang mengerumuninya. Eunmi yang bosan berhenti memegang tangan ayahnya dan berjalan menuju halaman belakang aula pesta, dia bisa melihat sekumpulan seorang anak lelaki sedang memainkan kapal terbang dari kertas.

Anak lelaki itu tersenyum bahagia sambil berlari menangkap kapal terbang kertas yang dia melemparkan, Eunmi tersenyum dia juga ingin memainkan kapal terbang itu pasti sangat menyenangkan dia belum pernah melihat mainan seperti itu.

Anak lelaki itu berhenti bermain dan melirik kearahnya, tatapan dia dan Eunmi bertemu membuat Eunmi menunduk malu. Tiba-tiba saja sebuah kapal kertas yang Sehun mainkan terjatuh didepannya, Eunmi terkejut dia berjongkok untuk mengambil kapal kertas itu namun sebuah tangan mendahuluinya dia mendongak dan melihat sosok Sehun sudah ada didepannya.

“Hi..aku Sehun.” Sehun berkata dan Eunmi tersenyum malu.

“A-aku Eunmi.” Eunmi kecil menjawab, dia menunduk malu tidak berani menatap kearah Sehun.

“Hi Eunmi, apakah kau mau bermain denganku?” Sehun mengajak, dia menunjukan kapal terbang kertasnya kepada Eunmi.

Eunmi mengangguk dan menyentuh kapal terbang kertas Sehun, Sehun menarik tangan Eunmi dan mengajak Eunmi untuk bermain dihalaman bellakang aula pesta bersama dia. Taklama setelah mereka bermain bersama Hyojin dan Jiyoung datang menemuinya, Sehunlah yang memperkenalkan Eunmi pada Hyojin dan Jiyoung mereka berempat langsung akrab setelah bertemu.

“Eunmi-ya! Eunmi..” Suara ayahnya terdengar memanggil Eunmi.

Eunmi yang sedang asyik bermain dengan Sehun mencari sumber suara dan dia bisa menemukan ayahnya, Eunmi kecil langsung berlari kearah ayahnya dan ayahnya menganggakat tubuh Eunmi.

“Kau darimana saja? Appa mencarimu.” Ayahnya berkata, lelaki itu kelihatan khawatir.

“Aku bermain bersama Sehun, Jiyoung Eonni dan Hyojin Eonni.” Eunmi menjawab, ayahnya menatap kearah sosok Sehun kecil yang berdiri tidak jauh darinya.

“Oh kau pasti Sehun?” Tanya ayah Eunmi, Sehun kecil mengangguk.

“Nde, aku Oh Sehun paman.” Sehun menjawab.

“Aku Hyojin dan ini temanku Oh Jiyoung kakak Sehun.” Hyojin tiba-tiba saja bergabung dalam percakapan mereka, Ayah Eunmi tersenyum.

“Oh hallo semuanya, aku ayah Eunmi Joo Jiho.” Ayah Eunmi memperkenalkan dirinya, Hyojin tersenyum ramah seperti biasa sedangkan Jiyoung tidak terlalu peduli dia hanya berdiri menatap kosong kearah ayah Eunmi.

“Terimakasih sudah mengajak Eunmi bermain, Eunmi sedikit pemalu.” Ayah Eunmi berkata, Hyojin mengangguk begitu juga Sehun.

“Eunmi-ya kita harus pulang, bagaimana kalau kau mengucapkan selamat tinggal pada temanmu dulu?” Jiho berkata dan Eunmi mengangguk.

“Jiyoung Eonni annyeong.” Eunmi melambaikan tangannya kearah Jiyoung dan Jiyoung membalas gesture Eunmi sekilas.

“Hyojin Eonni annyeong.” Eunmi berpamitan pada Hyojin.

“Annyeong Eunmi-ya.” Hyojin membelas.

Eunmi lalu melirik kearah Sehun dan akhirnya gadis itu tersenyum kearah Sehun.

“Sehun-ah, annyoung.” Dia berkata namun Sehun tidak membalas, dia mengodok saku celana pendaknya dan memberikan Eunmi sesuatu.

“Ini anggap saja ini hadiah dariku karena kau sudah menjadi temanku.” Sehun kecil berkata, dia menyimpan dua buah permen ditelapak tangan Eunmi.

“Wah…terimakasih Sehun-ah.” Eunmi berkata, Jiyoung yang melihat itu menatap kearah lain dia tidak suka adegan yang dia lihat sekarang.

“Sama-sama Eunmi-ya, aku harap kita bertemu lagi.” Sehun berkata dan dia melambaikan tangannya kepada Eunmi saat ayahnya menggendong Eunmi lalu berjalan menjauh dari Sehun.

Walaupun hari itu dia harus berpisah dengan Sehun dia bahagia karena dia tidak akan lupa pada Sehun, dia tidak lupa karena kenangan anak lelaki itu ada didalam gengaman tangannya dia berjanji tidak akan melupakan Sehun. Anak lelaki itu memang meninggalkan kesan yang mendalam bagi Eunmi, dia harap dia bisa lebih dekat dengan Sehun dan menghabiskan waktu bersamanya hanya dia dan Sehun.

*****

Eunmi tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya itu, dulu dia sering sekali bermain dengan Sehun dia juga tidak tahu kenapa dia dan Sehun tiba-tiba saja berhenti menjadi teman dia tidak ingat alasan itu. Eunmi berdiri dari kursi belajarnya dan berbaring diranjangnya, bayangan tentang Sehun tadi pagi membuatnya tersenyum.

Sehun terlihat sangat dewasa sekali dengan pakaian formalnya walaupun dia penasaran melihat Sehun dalam balutan seragam SMA nya, mereka tidak satu SMA Eunmi menyesali itu seharusnya dia mencari Sehun dan masuk ke SMA yang sama dengan teman masa kecilnya itu.

Eunmi mengambil boneka yang ada disampingnya, boneka teddy bear yang dia pegang sekarang adalah boneka teddy bear pemberian dari mantan kekasihnya dulu walaupun begitu dia masih menyimpannya karena boneka itu terlalu lucu untuk dibuang.

“Oh Sehun..aku tidak sabar ingin bertemu denganmu lagi.” Eunmi bergumam, dia memeluk boneka itu lalu memejamkan matanya sambil tersenyum.

Jiyoung menunduk sedih saat dia melihat betapa bahagianya Eunmi, dia berbalik namun dia terkejut saat dia menemukan Boyoung berdiri dibelakangnya. Jiyoung menghindari tatapan Boyoung dan melayang menjauh dari Boyoung, Boyoung yang melihat ekspressi kelam Jiyoung merasa iba dia tahu bagaimana rasanya menjadi hantu yang tidak berguna.

Dia tahu bagaimana rasanya menjadi Jiyoung, merasa lemah dan tidak berdaya hanya menjadi serang cameo didalam kehidupan orang-orang yang dulu dia cintai dan mencintainya Byoung tahu jelas perasaan itu.

“Jiyoung.” Boyoung memanggil, Jiyoung melirik kearah Boyoung.

“Ada apa?” Tanya Jiyoung malas, dia tidak ingin membicarakan apapun dengan Boyoung apalagi tentang perasaannya.

“Apa kau benar-benar ingin hidup kembali?” Tanya Boyoung, Jiyoung mengangguk.

“Ya, aku ingin hidup kembali.” Jiyoung menjawab dengan sedih.

“Baiklah, aku akan memberitahu bagaimana caranya merasuki seseorang.” Boyoung mengungkapkan, Jiyoung terkejut dan menatap kearah Boyoung dengan matanya yang lebar membuat Boyoung tertawa.

Eommoni, kau tidak bercanda?” Tanya Jiyoung.

“Kau terlihat sangat sengsara,aku muak melihatnya.” Ujar Boyoung dan Jiyoungpun tersenyum.

“Terimakasih Eommoni,aku bahagia sekali!” Ucap Jiyoung penuh antusias, dia bahkan memeluk Boyoung.

******

Yifan dan Hyojung baru saja pulang dari kantor, mereka terkejut saat mereka melihat rumah ramai sekali dia bisa melihat Yongguk dan Taeyeon yang sedang menyiapkan meja makan. Yifan tidak menyangka dia bisa melihat lagi sosok kedua orang itu, Joonmyeon juga ternyata ada karena lelaki itu sedang membantu Yongguk dan Taeyeon menyiapkan makanan.

“Oh Yifan! Kau sudah datang?” Tanya Yongguk, Yifan tersenyum dan mengangguk.

“Hyojung-ah!” Yongguk berkata, Hyojung berlari kearah Yongguk dan memeluk lelaki itu dengan erat.

“Oppa, kenapa kau tidak bilang akan datang?” Tanya Hyojung, dia memukul lengan Yongguk pelan.

“Aku kesini mendadak, Zhongren meneleponku dia bilang dia ingin aku dan Taeyeon datang kerumah.” Yongguk mengungkapkan, dia melirik kearah pacarnya yang maish sibuk menata sendok dan garpu.

“Zhongren juga menghubungiku, aku membawa bingkisan buah untuk Hyojin.” Joonmyeon bergabung dalam percakapan lelaki itu mulai menata piring yang dia bawa.

“Oh terimakasih, kau tak usah repot-repot.” Ucap Yifan, Joonmyeon tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, itu hanya hal kecil.” Jawab Joonmyeon.

“Terimakasih Joonmyeon Oppa, kau sangat baik.” Hyojung memuji, dia tersenyum kearah Joonmyeon membuat Joonmyeon senang.

“Tidak apa-apa, Hyojin juga keluargaku sekarangkan? Aku hanya ingin dia cepat embuh.” Joonmyeon mengungkapkan.

“Yifan, bagaimana kalau kau memanggil Hyojin? Makanannya akan matang sebentar lagi.” Taeyeon berkata, dia tersenyum kearah Yifan walaupun mereka maish canggung namun mereka mencoba untuk akrab lagi seperti dulu.

“Baiklah, kalian tunggu disini.” Yifan menurut, dia pergi menaiki tangga rumah dan berjalan kearah kamar Hyojin dan dirinya.

Yifan membuka pintu kamar dan dia menemukan istrinya sedang berkutat didepan cermin menyisir rambut coklatnya yang sekarang sudah panjang, Yifan tersenyum saat dia melihat Hyojin sudah baikan bahkan wajah Hyojin terlihat berseri-seri sekarang berebda dengan keadaanya tadi pagi.

“Hi..apa kau sudah baikan.” Yifan berjalan mendekat kearah Hyojin, Hyojin yang melihat bayangan Yifan dari cermin tersenyum.

“Ya, aku sudah baikan sekarang.” Hyojin berhenti menyisir rambutnya saat Yifan melingkarkan tangannya dipundak nya dengan mesra.

“Aku benar-benar khawatir..aku senang kau sekarang sudah baikan.” Yifan mencium sisi kepala Hyojin, Hyojin menutup matanya menikmati ciuman Yifan.

“Aku baik-baik saja Oppa.” Hyojin mengelus tangan Yifan yang ada dipundaknya.

“Kenapa Zhongren tiba-tiba mengundang semua orang?” Tanya Yifan pensaran, Yifan berhenti memeluk Hyojin dari belakang dan melepaskan jas putihnya lalu mengantungkanya didalam lemari.

“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Ungkap Hyojin, Yifan melirik kearah Hyojin menatap wanita itu penuh tanya.

“Ada apa? Katakan padaku.” Yifan meminta, dia membuka baju kemejanya dan menggantinya dengan baju santainya.

“Aku ingin mengatakannya nanti, setelah semua orang berkumpul dibawah.” Hyojin menjelaskan.

“Baiklah, sebaiknya kita kebawah secepatnya sepertinya semua orang sudah menunggu.” Yifan mengajak, dia mengulurkan tangannya kepada Hyojin.

Hyojin tersenyum dia menyambut tangan Yifan dan berjalan kelur dari kamarnya menuju lantai bawah rumah mewahnya, dibawah semua ornag sudah berkumpul dan bercengkrama. Hyojin tersenyum saat dia melihat sosok Yongguk dan Taeyeon juga Hyojung dan Zhongren dia terkejut saat melihat Joonmyeon namun dia tetap tersenyum.

“Terimakasih semuanya sudah hadir.” Hyojin memulai, semua orang mengangguk setuju.

“Maaf aku merepotkn kalian, aku memanggil kalian kesini karena kau merindukan kalian semua.” Hyojin berkata membuat Taeyeon dan Yongguk tersenyum begitu juga dengan Joonmyeon dan Zhongren.

Hyojung mendekat kearah kakaknya dan melingkarkan tangannya dipundak kakaknya itu, Hyojin tersenyum melihat orang-orang yang sudah dia anggap keluarga berkumpul dia tidak pernah se -emosional ini mungkin karena dia sedang hamil di amenjadi lebih sensitif.

“Noona ayo cepat katakan apa tujuan utamamu untuk memanggil mereka.” Zhongren mengingatkan membuat semua orang menjadi penasaran.

“Ada Hanbyul? Apa kau baik-baik saja?” Yongguk bertanya khawatir.

“Iya Hanbyul, ada apa?” Tanay Taeyeon, dia kelihatan sama khawatirnya dengan Yongguk.

Hyojin menggelengkan kepalanya menenangkan Yongguk dan Taeyeon.

“Aku baik-baik saja kalian tidak usah khawatir..aku memanggil kalian kesini karena aku..” Hyojin tidak melanjutkan perkataannya, dia malah menyentuh perutnya membuat semua orang menatap kearahnya penuh tanya.

“Aku memanggil kalian kesini karena aku ingin memberitahu kalau aku hamil.” Hyojin akhirnya mengumumkan, semua orang terkejut terutama Yifan yang berdiri disampingnya.

“Apa kau serius?” Tanya Yifan, dia kelihatan sangat senang.

“Ya, aku mengetahuinya saat aku pergi kerumah sakit bersama Zhongren.” Hyojin menjelaskan, Yifan tersenyum dan langsung memeluk Hyojin dengan erat.

“Oh terimakasih Tuhan..aku senang sekali Hanbyul.” Yifan melepaskan pelukannya, Hyojin tertawa dan akhirnya merekapun berciuman sesaat membuat Hyojung sedikit malu dan menjauh dari sepasang suami istri itu.

“Eww..kalian tidak usah berciuman disinikan?” Hyojung bertanya membuat Hyojin dan Yifan tertawa begitu juga Yongguk dan Taeyeon juga Zhongren dan Joonmyeon.

“Awww apa kau iri Hyojungie? Kau ingin aku menciummu juga?” Zhongren mendekat dan mencium bibir Hyojung sekilas.

“OPPA!” Hyojung marah namun dia tersenyum.

“Kalian membuatku iri, apakah aku disini sendirian yang single?” Tanya Joonmyeon membuat semua orang tertawa.

“Tenang hyung…kau tampan, kau akan menemukan wanita yang cocok untukmu sebentar lagi.” Zhongren melingkarkan tangannya dipundak Joonmyeon, Joonmyeon hanya tertawa walaupun begitu tangannya mengepal penuh emosi.

“Selamat Yifan, Hanbyul..semoga kalian memiliki anak yang sehat.” Taeyeon berkata membuat Hyojin dan Yifan tersenyum penuh rasa terimakasih.

“Terimakasih Taeyeon-shi.” Ucap Hyojin.

Aigoo, adikku sudah hamil sekarang..kau harus lebih hati-hati eoh? Jaga kehamilanmu dengan baik.” Yongguk mengelus kepala Hyojin, Hyojin mengangguk.

“Kau, Yifan jaga istrimu baik-baik ok?” Yifan mengangguk juga, dia melingkarkan tangannya dipundak Hyojin dengan mesra.

“Bagus kalau begitu, tenang saja Hanbyul-ah aku akan sering mampir.” Yongguk berkata membuat Hyojin tersenyum.

“Terimakasih Oppa.” Hyojin tersenyum, dia melirik kearah jendela dan terkejut saat dia melihat sosok wanita yang menatap kearahnya.

Hyojin yang terkejut memegang tangan Yifan dengan kuat, Yifan melirik kearah Hyojin karena dia merasakan tangan Hyojin mencengkram tangannya membuat dia sendiri terkejut.

“Ada apa Hyojin?” Tanya Yifan, Hyojin menggelengkan kepalanya dia melirik kearah lain namun Yifan masih bisa melihat ekspressi panik Hyojin.

“Ayo semuanya mari kita makan!” Suara Taeyeon terdengar dan semua orang bersorak bahagia tidak sabar untuk memakan hidangan makan malam mereka.

Berhati-hatilah..Jonnmyeon berbahaya

Hyojin bisa mendengar lagi bisikan seorang wanita, dia tidak menghiraukannya dan berjalan menuju meja makan bersama Yifan dan yang lainnya. Hyojin tidak mengerti kenapa dia menerima bisikan tentang Joonmyeon, apakah lelaki itu sangat berbahaya seperti yang dikatakan bisikan wanita yang sering dia dengar? Mungkin Hyojin harus mencari tahunya sendiri.

******

“Aku tahu ini salah, tapi Sehun..aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini.”

Suara Jiyoung terdengar dari speaker laptop Sehun, Sehun menatap sedih kearah layar laptopnya yang menampilkan Jiyoung sedang menangis dan berbicara dengan suara yang sedikit serak. Jiyoung mengusap airmatanya namun airmata baru kembali datang, Sehun mengepalkan tangannya melihat betapa menderitnya Jiyoung.

Setelah tiga tahun dia memutuskan untuk menonton lagi video Jiyoung hari ini,entah kenapa dia memutuskan untuk menonton video yang menyedihkan ini. Mungkin karena dia sangat merindukan Jiyoung, melihat wajah Jiyoung dan gerak-geriknya membuat Sehun sangat ingin melihat lagi mantan kekasihnya itu.

“Katakan padaku yang sejujurnya Sehun, apa kau benar-benar ingin meninggalkanku? Setelah apa yang kita lewati bersama?” Tanya Jiyoung, mata sendunya menatap kearah kamera namun entah kenapa Sehun merasa kalau gadis itu sedang menatapnya langsung.

“Aku harus pergi ke Shanghai minggu depan, jika kau memutuskan untuk ergi bersamaku temui aku di gedung tua yang biasa kita kunjungi.” Jiyoung meminta, wanita itu menyeka airmatanya lalu mengakhiri videonya.

Sehun mengusap wajahnya, dia menutup laptopnya dia tidak bisa lagi menahan airmtanya yang mengancam untuk turun kapan saja namun dia mencoba menahannya sekuat tenaga. Dia tidak ingin menangis karena dia tahu jika dia menangis, Jiyoung menang dia tahu jika dia menangis Jiyoung akan senang karena dia tahu Jiyoung ingin dirinya menderita seperti ini dia yakin itu.

Sajang-nim..” Suara sekretarisnya terdengar, Sehun langsung mendongak terkejut saat dia melihat sekretarisnya sudah berdiri diambang pintu.

“Maaf aku sudah mengetuk beberapa kali namun anda tidak merespon juga.” Sekretarisnya berkata.

“Tidak apa-apa, ada Miyoung?” Tanya Sehun.

“Nona Jo Eunmi sudah ada, bukankah anda memanggilnya?” sekertarisnya bertanya, Sehun mengangguk.

“Oh iya, suruh dia masuk.” Sehun menjawab, dia bisa melihat sekertarisnya pergi dan sosok Eunmipun datang.

Eunmi terlihat cantik hari ini dia menggunakan baju formal namun tetap stylish dia mengikat rambutnya kebelakang, Eunmi yang dia lihat sekarang berbeda sekali dengan Eunmi yang dulu dia kenal. Bagaimana dia tidak berbeda? Eunmi yang dia lihat sekarang sudah dewasa, bukan Eunmi kecil yang dulu sering bermain dengannya Eunmi yang melihat Sehun sedikit melamun tersenyum sampai dia akhirnya duduk didepan Sehun.

“Ada yang bisa sayang bantu sajang-nim?” Tanya Eunmi, Sehun langsung sadar dari lamunannya.

“Oh iya, aku memanggilmu karena aku ingin kau ikut denganku.” Sehun mengungkapkan, dia berdiri dari duduknya membuat Eunmi kebingungan.

“Ayo, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.” Sehun menarik tangan Eunmi, Eunmi langsung menunduk malu saat tangan Sehun menyentuhnya.

“Maaf, itu hanya refleks.” Sehun meminta maaf saat dia sadar kalau Eunmi malu, dia langsung melepaskan gengaman tangannya.

“Tidak apa-apa, sajang-nim.” Eunmi menjawab, dia tersenyum bahagia lalu mengikuti langkah Sehun yang sudah berjalan dibelakangnya.

******

“Noona!noona! aku punya berita bagus untukmu!” Manager Yura memanggil, membuat Yura melirik kearah managernya itu penuh tanya.

“Ada apa Himchan? Kau berisik sekali.” Yura berkata, Himchan tersenyum dan memberikan sebuah surat pada Yura.

Yura membuka surat itu dia membacanya sekilas lalu menatap kearah Himchan yang kelihatan sangat senang sekali, Yura tersenyum lalu gadis itu langsung berdiri dan memeluk Himchan lalu mereka berdua bersorak penuh kebahagiaan. Yura melepaskan pelukannya dan menatap kembali kearah surat yang dia pegang, dia masih tidak percaya kalau dia menerima surat ini.

“Apa kau yakin ini surat dari produser Kim Joonmyeon?” Tanya Yura dan Himchan mengangguk.

“Aku sendiri tidak percaya..tadi pagi aku mendapatkan telepon dari Huang Zitao, dia bilang dia adalah asisten pribadi Kim Joonmyeon dan dia ingin mendiskusikan sebuah peran untukmu dalam drama baru.” Himchan mengungkapkan, Yura tersenyum.

“Baiklah, aku akan datang kerumahnya sore nanti sebaiknya kau pastikan aku tidak punya jadwal.” Yura berkata dan Himchan mengangguk.

“Baiklah, Noona aku tidak sabar melihatmu bermain drama.” Himchan berat dan Yura mengangguk.

“Aku juga Himchan..” Yura bergumam, dia menatap penuh kagum pada surat yang dia pegang dia harap semua ini nyata bukan hanya mimpi.

*****

Zitao membuka pintu kantor Joonmyeon, dia bisa melihat Joonmyeon sedang membaca sebuah buku namun Zitao tidak bis amembaca judul buku itu. Zitao menunduk dihadapan Joonmyeon dan Joonmyeon menyadari kedatangan asistennya itu, dia menyimpan bukunya dan melepaskan kacamata yang dia pakai.

“Kau sudah mengirimkan suratnya?” Tanya Joonmyeon.

“Sudah tuan, manager Kim Yura sudah menerima surat anda dan mengkonfirmasi jika model itu akan datang sore ini.” Ungkap Zitao.

“Bagus, sepertinya rencana kita berjalan mulus.” Joonmyeon tersenyum puas.

“Mafa tuan, tapi kenapa anda ingin seorang model seperti Kim Yura bermain dalam drama anda? Bukankah anda mengeluarkan banyak uang untuk drama itu?” Zitao bertanya, Joonmyeon menyeringai mendengar pertanyaan Zitao.

“Zitao..Zitao..kau masih lambat seperti dulu.” Ejek Joonmyeon.

“Tentu saja untuk menghancurkan hubungan Zhongren dan Hyojung.” Joonmyeon menjawab, Zitao menatap kearah Joonmyeon masih kebingungan.

“Kenapa anda menginginkan hubungan Zhongren dan Hyojung hancur tuan?” Tanya Zitao lagi.

“Tentu saja agar aku bisa memiliki Guangde, perusahaan itu bisa menjadi pendorong kesuksesan perusahaan K&T benar?” Joonmyeon menjelaskan, Zitao mulai mengerti sekarang.

“Tapi..bukankah Yura kekasih Sehun tuan?”

“Itulah tujuan utamaku Zitao,jika Oh Sehun ingin balas dendam aku akan senang sekali membantu dia menyingkirkan Zhongren kapan saja tanpa harus mengotori tanganku sendiri.” Joonmyeon menjawab.

“Tuan Joonmyeon,aku pikir anda terlalu berlebihan..bagaimanapun dia tetap adikmu.” Zitao berkata dan Joonmyeon memukul meja kantornya dengan keras.

“Adikku?! Siapa bilang dia adikku?! Dia hanya sampah yangharus di buang! Dia menghalangi jalanku dan seperti kerikil kecil…aku akan menendangnya.” Ucap Joonmyeon penuh emosi.

“Kim Jongin…kau harus membayar semua dosa ibumu!” Joonmyeon berkata, dia mengepalkan kedua tangannya penuh emosi.

To Be Continue..

Jangan lupa komennya guy’s🙂

PS: reader’s maaf banget yah aku gak ngasih musik sama gif seperti biasanya di cerita ini soalnya komputer aku lagi ngadat jadi aku ngetiknya jug apake laptop adek hehehe makasih banget buat reader’s yang sudah sabar nunggu chapter ini kelar fuihh.. lega banget😀 untuk sementara chpater Great Ambition bakalan senderhana seperti ini dulu maaf ya reader’s😦

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

20 thoughts on “Great Ambition – Chapter 4

  1. Tidak apa2 author. Tapi q masih bingung yg bagian awal. D bilang Hyojin harus d rawat d rumah sakit tpi kok malah pulang. Tadi q sampai ngulang rada bingung hee…hee…

    1. Oh iya chingu soal itu bakal aku jelasin deh di next chap aku lupa mau ngejelasinnya soalnya laptopnya keburu di rebut sma ade jdi lpa lgi deh wkwkwk makasih udh ngasih tahu🙂 , di next chap bakal di jelasin deh kenapa hyojin mutusin pulang daripada di rawat di rumah sakit

  2. Ohhh .. Akhirnya keluar juga capt.4 nya..😀
    aku nunggu lama banget thor.. -_-
    ihhh.. Disini emosi banget sama joonmyeon .. Masak mau ngehancurin adik sendiri sih…
    Chukkae buat yifan anf hyojin🙂
    Ok segiti dulu deh ..
    Ditunggu capt. Selanjutnya
    Keep writing thor ^_^

  3. lalalaa yeyyyee akhirnya berita bahagia muncul… selamat hyojin yifan akhirnya mau punya baby hihihi..
    semoga enggak keguuran deh yaaa…
    ahhh junmen jahat amat yaak… mau hancurin zhongren ckckckck pdhal kalo kata aku sih sehun sebenernya gak terlalu peduli ntar ama masalah zhongren -yura. kan udah ada eunmi.. dan zhongren bakl ttp ama hyojung.. #readersoktau
    hahhaha
    keep writing thor
    fighting

  4. Kyyaaaaaa…..aku greget bgt sama junma..knp dia jahaaatt iiiihhh..kan kasian hyojung klo sampe hubungannya sama zhongren berantakan gegara yuraaa…aaaa bner” licikk…semoga aza dpet blsan dri ibunya zhongren…
    Eh tapi kira” jiyoung mau merasuki tubuh siapa yaaahhh..aaaaaaaaa penasaraaann…

  5. Mian baru ngsih komentar
    Kyaa, aku ikut senang akhirnya kris bakal jadi ayah yuhuuuu >__<
    Dan pasti lebih seru klu booyoung bisa nyentuh joonmyeon bakal lngsung dicabik2nya thu si joomyeon wkwkwk dan satu lagi aku suka bangett waktu sehun memegang patung es nya. hehehe

    Semangat terus kak lanjutin ceritanya😀

  6. kaya.a d sini yg terlihat terlalu berambisi junmyeon deh. kalo eunmi ky.a gk. . . . .

    wah ternyata eunmi suka sma sehun. . .

    untuk hyojin selamat hehehd🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s