Posted in FanFiction NC 17+

Great Ambition – Chapter 3

Title: The Great Ambition

Author : Seven94 @https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB:https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter:https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Jo Eunmi [OC],Oh Sehun [EXO],Oh Jiyoung [OC],Lee Howon [INFINITE]

Kim Yura [Girls day], Jung Hyojung [Tale of two siblings],Wu Zhongren/Kai [EXO]

Wu Yifan [EXO], Wu Hanbyul/Hyojin [Tale of two siblings],Kim Joonmyeon [EXO]

Genre : Melodrama,Horror and Romance

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

<< Previous Chapter

Next Chapter >>

3

Haunted

Eunmi turun dari mobil Howon, dia tersenyum kearah Howon dan melambaikan tangannya kearah mobil Howon yang sudah menjauh. Eunmi tersenyum saat dia mengingat percakapan mereka diperjalanan tadi, Howon memang lelaki yang baik Eunmi mulai menyukainya namun dia tidak ingin terburu-buru dia ingin mengetes apakah Howon benar-benar menyukainya.

Eunmi sudah bertemu banyak lelaki yang tidak baik itulah alasan kenapa dia sedikit pemilih jika soal pendamping hidup dia berbalik dan berteriak saat dia melihat sesosok wanita tiba-tiba saja ada dibelakangnya, ternyata wanita yang ada dibelakangnya itu Eunhee saudara kembarnya.

“Kau darimana saja? Eomma ingin bertemu denganmu.” Eunhee bertanya, Eunmi hanya mengangguk dia berjalan menjauh dari Eunhee.

“Eunmi..” Eunhee memanggil.

“Ya?” Eunmi merespon.

“Apa kau masih marah padaku soal kemarin?” Tanya Eunhee, Eunmi tidak menjawab dia berjalan menjauh dari Eunhee membuat Eunhee kecewa sekali.

Eunmi membuka pintu rumahnya dan dia langsung disambut oleh ibunya, ibunya tersenyum kearah Eunmi dan menyuruh Eunmi untuk duduk.

“Eunmi-ya,kau darimana saja? Aku sudah menunggumu dari tadi.” Ibu Eunmi berkata, dia mendekat kearah Eunmi.

“Ada apa Eomma?aku ingintidur..aku lelah.” Eunmi mengeluh dan ibunya tersenyum.

“Tentu saja kau lelah, kau sudah bekerja..Eomma hanya ingin bertanya tentang sesuatu.” Ibunya berkata sambil memijat bahunya, Eunmi hanya memutar matanya dia tahu ibunya menginginkan sesuatu.

“Aku dengar kau dekat dengan Lee Howon sepupunya pengacra Shim Changmin apa itu benar?” Tanya Ibunya.

“Tidak juga,kami hanya bertemu beberapa kali.” Jawab Eunmi malas.

“Aigoo..kalian seharusnya bertemu dengan dia lebih sering, apa kau tahu? Keluarga Lee kaya sekali bukankah itu bagus? Kau bisa membantu usaha ayahmu.” Ibunya membujuk dan Eunmi menghela nafasnya, tentu saja ibunya akan mengatakan hal seperti ini.

“Eomma aku lelah, lagi pula Howon sepertinya tidak tertarik padaku.” Eunmi berbohong, tentu saja Howon tertarik padanya lelaki itu selalu mencuri pandang kearahnya setiap kali mereka mengobrol.

“Mwo? Tidak tertarik? Apa dia gay?” Tanya ibunya dan Eunmi mendengus.

“Eomma tidak semua lelaki menyukai aku,ok? Mereka punya tipe sendiri.” Eunmi menjelaskan membuat ibunya mengangguk.

“Tapi aneh sekali…biasanya kebanyakan lelaki menyukaimu iyakan Eunmi? Apa dia buta atau semacamnya..” Ibunya bergumam.

“Eomma berhentilah,aku tidak secantik yang kau kira..dan berhenti mencoba menjodohkanku dengan pemuda kaya aku muak dengan sikap mereka.” Eunmi berkata dengan ketus dan berjalan menaiki tangga.

“Oh Eunmi kau sudah pulang?” Ayahnya menyambut.

“Appa, ya aku baru pulang.” Eunmi tersenyum kearah ayahnya.

“Bagaimana pekerjaanmu di Daeguk? Apa Sehun baik padamu?” Tanya ayahnya dan Eunmi menatap kearah ayahnya penasaran.

“Apa kau mengenal Sehun Appa?” Tanya Eunmi dan ayahnya mengangguk.

“Tentu saja direktur Oh Sangwoo rekan kerja ayah kalian biasa bermain bersama saat kalian masih kecil.” Ayahnya berkata dan Eunmi mengangguk.

“Oh begitu ya, aku bertemu dengan Sehun namun Sehun sepertinya tidak mengenaliku.” Eumi mengeluh dan ayahnya tertawa.

“Tenang saja Eunmi, besok aku yakin dia akan mengenalimu.” Ayahnya tersenyum, Eunmi membalas senyuman ayahnya itu dan pergi kekamarnya.

“Aku lelah, aku tidur dulu Appa.” Eunmi pamit sedangkan ayahnya hanya membalas dengan anggukan lalu ayahnya pergi kelantai bawah mungkin ingin berbincang dengan ibu Eunmi.

Eunmi membuka pintu kamarnya dan dia menutupnya, dia melirik kearah cermin yang ada dihadapannya dicermin itu ada sebuah foto dan Eunmi mengambil foto itu dia bisa melihat lima anak kecil berjajar menghadapan kearah kamera mereka tertawa penuh kebahagiaan. Eunmi tersenyum tipis mengingat masa lalunya bagaimana dia lupa pada teman masa kecilnya, dia masih mengingat Hyojung teman sebayanya juga kakaknya Hyojin lalu Jiyoung dan tentu saja Oh Sehun.

Eunmi menyimpan kembali foto itu, ternyata kehidupan benar-benar merubah segalanya dulu dia akrab dengan semua orang itu namun sekarang Sehun bahkan sudah tidak mengenalinya.

“Oh Sehun..apa kau benar-benar melupakan aku?” Eunmi bergumam, dia berbalik menuju kamar mandi.

Dari jendela kamar Eunmi sosok Jiyoung menatap kearahnya, Jiyoung menembus masuk kedalam kamar Eunmi dan foto yang ada dicermin Eunmi langsung terjatuh dan cermin Eunmi langsung pecah membuat Eunmi terkejut dan berlari keluar dari kamar mandi.

Eunmi terkejut melihat cerminya pecah dia berjalan mendekat kearah cerminnya dan dia bisa melihat serpihan cermin tersebar dilantai kamarnya, dia mundur menghindari pecahan kaca itu namun pecahan kaca itu tiba-tiba saja melayang membuat Eunmi terkejut dia melangkah menjauh dari pecahan kaca itu namun pecahan kaca itu malah mendekat kearahnya lebih cepat.

Jiyoung menatap tajam kearah Eunmi,Eunmi ketakutan sekali saat melihat pecahan kaca itu melayang-layang hendak menusuknya dia menjerit dan menutup matanya berharap pecahan kaca itu menghilang. Tiba-tiba suara pintu dibuka terdengar, Ayah Eunmi langsung berlari kearah putrinya yang menjerit sambil menutup kedua mata dan telinganya.

“Eunmi!Eunmi!” Panggil ayahnya, Eunhee dan ibunya tidak lama menyusul.

“Appa..tadi..tadi pecahan kaca itu melayang!” Eunmi mengadu, dia melirik kearah kaca cerminya namun anehnya kaca cerminya baik-baik saja tidak ada tanda kalau kaca itu tadi pecah.

“Apa maksudmu Eunmi? Kaca cermin mu baik-baik saja.”Ayahnya menjawab, Eunmi mendongak dan menatap kearah kaca cerminya penuh dengan keheranan.

Eunmi berdiri dan mendekat dan menyentuh cerminya, ayahnya benar cerminya masih utuh bahkan foto dia dan teman masa kecilnya masih ada ditempat semulam, Eunmi menyentuh foto itu namun tiba-tiba saja semua mata didalam foto itu berubah menjadi merah membuat Eunmi melemparkan foto itu kelantai.

“Appa!” Eunmi memeluk ayahnya ketakutan.

“Eunmi kau hanya lelah.” Ayahnya menenangkan, dia mengelus kepala anaknya itu.

“Tidurlah, ok? Jangan terlalu memikirkan pekerjaanmu.” Ucap ayahnya.

“Eunmi-ya, apa kau ingin tidur bersamaku? Aku bisa tidur dikamaramu.” Eunhee menawarkan, Eunmi menggelengkan kepalanya dia selalu tidur sendirian.

*****

“Apa kau tahu kenapa kau tersesat?” Tanya Boyoung, dia melirik kearah Jiyoung yang berdiri disampingnya gadis itu menatap kearah pemandangan kota Seoul dengan mata yang sedih.

“Karena aku tidak ingin mati? Aku menyesali keputusanku..banyak sekali alasannya.” Jiyoung menjawab dia menghela nafasnya.

“Bukan, hal kecil seperti itu mudah dilupakan.”Boyoung menyanggah dan Jiyoung menatap kearah wanita yang ada disampingnya.

“Jadi menurutmu?” Jiyoung bertanya dan Boyoung memukul kepala Jiyoung, karena mereka berdua hantu tentu saja Boyoung bisa menyentuh Jiyoung dengan leluasa.

“Kau seharusnya memanggilku eommoni! Aku lebih tua darimu.” Boyoung berkata dan Jiyoung menyentuh kepalanya.

Memang membingungkan, Boyoung terlihat hampir sebaya dengannya namun dia jelas-jelas lebih tua dari Jiyoung dan Jiyoung seharusnya lebih menghormat kepada Boyoung. Namun sekali lagi Boyoung sama mudanya dengan dia tidak ada kerutan di wajah Boyoung ataupun tanda-tanda kalau dia lebih tua, mungkin inilah keuntungan untuk menjadi hantu kau tidak akan terlihat tua mungkin kecuali saat kau mati dalam usia tua.

“Baiklah eommoni, menurutmu apa yang menyebabkan aku tersesat selama tiga tahun ini?” Jiyoung memperbaiki perkataannya, Boyoung tersenyum puas mendengar perkataan Jiyoung yang lebih sopan.

“Kau memiliki banyak amarah dan dendam Jiyoung, aku bisa melihatnya…tadi kau hampir membunuh gadis itu.” Boyoung mengungkapkan, dia melirik kearah Jiyoung yang kelihatan tidak senang karena Boyoung mengungkit masalah Eunmi.

“Dia mencoba mendekati Sehun, Eommoni kau tahu aku mencintainya.” Jiyoung membela diri, entah kenapa jika dia membahas soal Sehun dia selalu menjadi sangat sensitif.

“Jiyoung kau dan dia sudah ada didunia yang berbeda, kenapa kau tidak merelakannya?” Tanya Boyoung.

“Aku tidak bisa menjelaskannya Eommoni,aku hanya tidak ingin berpisah denganya.” Jiyoung menjawab, mata Jiyoung memancarkan kesedihan yang mendalam dan Boyoung bisa melihat itu.

“Kau tahu? Aku merasakan apa yang kau rasakan…aku juga mencintai suamiku Taehyun dia ayah dari Jongin atau kau lebih mengenalnya dengan panggilan Zhongren.” Boyoung bercerita.

“Apa yang terjadi Eommoni? Bagaimana kau bisa tersesat sepertiku?” Jiyoung bertanya, Boyoung hanya tersenyum tipis penuh misteri.

“Aku tidak bisa menceritakannya sekarang,semuanya terlalu rumit untuk kau mengerti.” Boyoung menjawab, suaranya terdengar sedikit serak mungkin karena dia menahan tangisnya.

“Lalu kenapa kau merasuki Hyojin? Apa dia mengetahui sesuatu?” Tanya Jiyoung lagi, dia duduk disamping Boyoung.

“Tidak, aku tidak tahu..dia hanya lemah dan itu membuatku lebih mudah untuk merasukinya.” Jawab Boyoung sambil menyelipkan rambut panjangnya ketelinganya.

“Aku tidak pernah tahu bagaimana cara merasuki seseorang, apa kau bisa mengajariku?” Pinta Jiyoung, dia akan senang sekali jika dia bisa merasuki seseorang dan mungkin berlari pada Sehun.

“Kau masih muda Jiyoung, aku takut kau mencoba merasuki Eunmi dan membunuhnya.” Boyoung berspekulasi dan Jiyoung memajukan bibirnya kesal, dia tahu Boyoung pasti memikirkan keputusan untuk mengajarinya merasuki seseorang.

“Jika aku bisa mengontrol emosiku, apa kau akan mengajariku?” Tanya Jiyoung penuh harap.

“Kau harus belajar sendiri Jiyoung, itulah jalan yang lebih tepat setidaknya kau akan lebih mengerti konsepnya.” Boyoung menjelaskan, Jiyoung tersenyum tipis.

“Kau terdengar seperti dosen Eommoni.” Ucap Jiyoung.

“Aku dulu seorang dosen, aku tidak bermaksud menyombongkan diri..hanya sebagai informasi.” Boyoung menjelaskan dan Jiyoung mengangguk.

“Aku mengerti, itu bagus..Zhongren ternyata memiliki ibu yang pintar.” Jiyoung berkata, dia berdiri dari duduknya.

“Kau mau kemana?”Tanya Boyoung.

“Aku..aku hanya ingin melihat seseorang.” Jawab Jiyoung dan sosok Jiyoung menghilang dari hadapan Boyoung, Boyoung hanya bisa menghela nafasnya.

“Taehyun..kemana kau? Apa kau sudah tenang disana?” Tanya Boyoung, dia menatap kearah langit Seoul yang gelap.

****

Yura membuka matanya, dia bisa merasakan tangan Sehun masih melingkar dipundaknya nafas hangat Sehun menyentuh rambutnya dan Yura tersenyum. Dia senang, dia senang karena Sehun mngejarnya dan memaksanya untuk kembali,Yura bangun dari posisinya dan menatap kearah wajah Sehun.

Sehun masih tertidur lelap dan Yura menyentuh pipi Sehun dia tersenyum melihat Sehun yang tertidur, wajahnya terlihat begitu tenang tidak seperti biasanya Sehun terlihat lebih tampan jika dia tertidur dan diam seperti ini dia terlihat bahagia tidak panik seperti tadi.

Yura melepaskan tangannya dari Sehun dan hendak berdiri, namun dia merasakan tangan Sehun memeluk pinggangnya mencegahnya untuk pergi.

“Apa kau sudah bangun?” Tanya Yura namun Sehun tidak menjawab, lelaki itu tetap diam dan tertidur.

“Sehun..jika kau sudah bangun, buka matamu dan lepaskan tanganmu.” Yura menyuruh, Sehun tetap keras kepala tidak ingin melepaskan pelukannya.

“Sehun..” Yura memanggil, Sehun malah tersenyum dan Yura akhirnya mengalah dia kembali tidur disamping Sehun.

“Aku senang, kau kembali.” Sehun bergumam, meskipun kedua matanya masih tertutup.

“Aku juga, aku tidak melihat semua foto Jiyoung Eonni..kau benar-benar membuangnya?” Tanya Yura dan Sehun mengangguk, dia akhirnya membuka matanya.

“Dulu Jiyoung noona sering menyimpan fotonya disini aku lupa untuk menyimpannya.” Sehun menjawab, Yura tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, aku tahu..” Yura berkata, nada suaranya terdengar sedih dan itu membuat Sehun semakin merasa bersalah.

“Maaf aku memang pacar yang payah..” Ucap Sehun, Yura menangkup wajah Sehun dan mencium lelaki itu sekilas dan itu membuat Sehun tersenyum.

“Kau bukan satu-satunya, tapi kau beruntung aku menyukaimu..” Yura menjawab dan menjulurkan lidahnya.

“Hm..kau menyukaiku?” Tanya Sehun mengangkat alisnya, Yura tersenyum.

“Kau tahukan kalau aku mencintaimu juga?aku hanya takut Sehun.” Yura menjelaskan dan Sehun menarik Yura kedalam pelukannya.

“Kenapa?aku ada disini..” Sehun mengelus punggung Yura, Yura memeluk erat Sehun.

“Aku takut jika kau masih mencintai Jiyoung Eonni.” Yura menjawab dan Sehun berhenti mengelus punggung Yura.

“Kau tidak usah takut soal itu.” Sehun menyentuh pipi Yura.

“Bisakah kau melupakan Jiyoung Eonni dan membuang semua barangnya yang masih ada disini?” Pinta Yura.

“Jika kau mau aku akan pindah apartemen, ayahku punya banyak apartemen.” Sehun menurut, Yura menggelengkan kepalanya.

“Tidak usah, aku tahu kau suka apartemen ini..hanya saja aku tidak ingin melihat barang-barang Jiyoung Eonni ataupun fotonya.”Yura menjelaskan, dia mengambil foto yang berada dimeja kecil ranjang Sehun.

“Di apartemen ini satu-satunya jejakku hanyalah foto ini.” Yura menatap kearah fotonya dengan Sehun saat mereka berkencan di amerika.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita mengambil banyak foto dan memajangnya disini? Aku bisa membawa foto digitalku dan kita pergi kemanapun yang kau mau.” Sehun memberi inisiatif.

“Kau serius?” Yura tersenyum sangat lebar, dia senang sekali karena seperti Sehun benar-benar ingin melupakan Jiyoung.

“Ya, kenapa tidak? Bagaimana weekend nanti? Aku sedang tidak sibuk.” Sehun menyentuh lengan Yura, Yura mengangguk dan memeluk Sehun dengan erat.

Sehun memeluk kembali Yura, senyumnya langsung hilang dan ekspressinya berubah menjadi ekspressi yang sangat sedih. Dia tidak ingin melupakan Jiyoung, namun dia juga tidak ingin terjebak dalam belenggu masa lalunya yang suram mungkin dengan cara ini Sehun bisa bebas dari Jiyoung dan melupakan wanita itu.

*****

Howon mengusap wajahnya, ini sudah jam sembilan malam dan dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya semua foto yang dia ambil kemarin terjajar rapih didepannya semua foto terlihat bagus sesuai dengan keinginan Howon.

Pintu kantornya tiba-tiba saja terbuka dan dia menemukan sepupunya Woohyun berdiri didepan ambang pintu, lelaki tinggi itu melambaikan tangannya dan tersenyum kearah Howon sepertinya dia baru saja selesai pemotretan karena Howon bisa melihat sedikit make up yang tertinggal disudut mata Woohyun.

“Yo! Sudah lama tidak bertemu.” Woohyun berkata dan Howon tersenyum lalu memeluk sepupunya itu sekilas.

“Bagaimana Paris? Kau bertemu banyak model cantik?” Tanya Howon, Woohyun memukul lengan Howon.

“Sepertinya satu-satunya yang kau pedulikan hanya model cantik Lee Howon-shi.” Woohyun berkata dan Howon mengangkat bahunya.

“Oh iya, aku dengar kau akan membuka pameran fotografi lagi?” Tanya Woohyun.

“Ya kau benar, aku mengajak beberapa temanku untuk mempartisipasikan karyanya.” Howon menjelaskan, matanya kembali fokus pada foto-foto yang berjejer didepanya dia masih binggung menentukan foto mana yang akan dia pajang di pameran nanti.

“Wah..kau mengambil tema vampir?” Woohyun mengambil salah satu foto yang ada dimeja Howon.

“Ya,aku bosan dengan tema alam atau semacamnya..aku mencoba mengambil konsep yang unik dan baru.”Howon mengungkapkan.

“Oh! Apa dia model baru? Wow dia cantik sekali.” Woohyun mengambil salah satu foto Eunmi, Howon segera merebut foto itu dari tangan Woohyun.

“Dia milikku!” Ucap Howon dan Woohyun tertawa.

Aigoo apa dia pacarmu?” Woohyun melingkarkan tangannya dipundak Howon, Howon memutar matanya tidak peduli untuk menjawab pertanyaan Woohyun.

“Baguslah kalau begitu, aku kira kau tidak akan melupakan Jiyoung.” Ucap Woohyun, Howon hanya menunduk sedih.

“Aku tidak melupakan dia..aku hanya menyerah.” Howon membalas, Woohyun hanya bisa menatap sedih kearah sepupunya itu.

“Apa kau tahu? Dia meninggal tiga tahun yang lalu.” Woohyun menyampaikan, Howon mengangguk.

“Aku tahu, dia bunuh diri.” Jawab Howon, Woohyun mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikannya pada Howon.

“Apa ini?” Tanya Howon.

“Jika kau ingin tahu lebih tentang Jiyoung sebaiknya kau menemui dia, dia adik tiri Jiyoung…mungkin kau bisa mendapatkan beberapa informasi darinya.” Woohyun menjelaskan.

Howon membuka tangannya dan dia bisa melihat selembar kartu nama dengan nama ‘Oh Sehun’ yang tertera sangat jelas, Howon meremas kartu nama itu dan memasukan nya kedalam saku celananya. Mungkin dia akan menemui Oh Sehun jika dia ada waktu, dia benar-benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Jiyoung mantan kekasihnya yang masih dia cintai.

“Oh iya, Jiyoung juga menitipkan sesuatu padaku sebelum dia meninggal aku lupa membawanya sebaiknya kau datang ke apartemenku jika ada waktu.” Woohyun mengungkapkan.

Hown sedikit terkejut, sbeenarnya apa yang mungkin Jiyoung titipkan pada Woohyun? Dia sedikit takut. Dia takut jika dia melihat barang peninggalan Jiyoung dia akan kembali jatuh cinta pada mantan kekasihnya itu, dia takut jika dia tidak bisa melupakan semua kenangan manis yang mereka bagi bersama-sama selama dua tahun.

“Aku tidak mengerti, sebenarnya apa alasan Jiyoung memutuskanmu..kalian terlihat serasi dan bahagia.” Woohyun memajukan bibirnya kelihatan kebingungan.

“Dia bilang padaku dia tidak mencintaiku lagi.” Howon menjawab dengan nada suara lemah.

“Oh maaf Howon aku tidak bermaksud..” Woohyun kelihatan menyesal sudah mengungkit masalah Jiyoung.

“Tidak apa-apa, itu masa lalu.” Howon tersenyum.

“Baguslah, aku harap kau mendapatkan yang lebih baik..gadis ini terlihat cukup baik.” Woohyun melambai-lambaikan foto Eunmi didepan Howon.

“Hentikan! Kau akan merusak fotonya.” Howon berkata dan Woohyun tersenyum.

“Karena kau sibuk sebaiknya aku pulang, mampirlah kapanpun kau mau..pintu apartemenku selalu terbuka untukmu.” Woohyun menyentuh pundak Howon sebelum dia pergi meninggalkan Howon sendirian.

Howon menghela nafasnya, dia menyimpan semua foto yang ada dihadapannya kembali kedalam laci meja kantornya. Sial! Gara-gara Woohyun dia tidak bisa fokus lagi, dia berjalan keluar dari kantornya, studionya sangat sepi sekali saat malam karena mungkin hanya ada dirinya dan beberapa pegawai yang masih membereskan properti bekas pemotretan tadi siang.

Howon berjalan menaiki tangga yang ada diujung lorong studio, dia membuka pintu ketiga yang ada dilantai dua studio besarnya. Howon menghidupkan lampu ruangan itu, banyak sekali foto yang berjajar ditembok ruangan itu berbagai ekspressi terpampang dan tergambarkan dalam foto-foto yang Howon ambil namun hanya ada satu foto yang selalu mencuri perhatiannya.

Howon berjalan mendekat kearah foto itu,dia bisa melihat sosok Jiyoung didalam foto gadis itu tersenyum sambil memegang cup starbuck kesukaannya. Howon tersenyum pahit menatap kearah foto itu, airmatanya tiba-tiba saja turun membasahi pipinya.

Arwah Jiyoung berdiri disamping Howon, dan menatap sedih kearah Howon yang menangisinya ini sudah kesekian kali Jiyoung mendengar panggilan Howon semenjak kematiannya hanya Howonlah yang selalu memanggilnya dan itu membuat Jiyoung tersiksa.

“Howon…berhentilah aku tidak layak menerima airmata tulusmu.” Jiyoung berbisik, Howon tidak bisa mendengar perkataan Jiyoung karena dia terus menangis sambil menyentuh foto Jiyoung.

“Jiyoung-ah kenapa?kenapa kau meninggalkanku eoh?” Howon meratap, Jiyoung hanya bisa menatap kearah sosok Howon dia ingin menangis namun tak ada sedikitpun airmata yang menetes dan itu membuat Jiyoung semakin tersiksa.

****

   Waktu sudah menunjukan jam dua belas malam namun mata Sehun tidak bisa tertutup juga, Yura sudah tertidur lelap disampingnya dan Sehun tidak tega untuk mengangguk wanita itu. Sehun tahu Yura sangat sibuk belakangan ini, wanita itu sudah berada dipuncak kariernya sama seperti dirinya sendiri.

Banyak sekali dokumen yang harus dia selesaikan dan dia memutuskan untuk bangun dari ranjang dan berjalan menuju dapur karena tenggorokannya terasa kering, apartemennya begitu hening hanya suara denting jam saja yang bisa Sehun dengar.

“Sehun..”

Sehun mendengar sebuah suara, dia melirik kearah kanan dan kirinya namun dia tidak bisa menemukan siapapun. Sehun mengacuhkan panggilan itu dan mengambil air putih di dapur, walaupun dia merasa tidak nyaman dia mencoba bertingkah normal dan meminum airnya setelah dia meneguk airnya dia menyimpan gelas di meja counter dapur.

Dia menghela nafasnya dan mengusap rambutnya, hari ini terasa sangat lama bagi Sehun jika bisa dia mempercepat waktu dia melirik kearah foto-foto yang ada dirak lemari apartemennya lalu dia berjalan dan membukanya. Foto-foto Jiyoung dan dirinya masih seperti dahulu tidak ada perubahan sedikitpun, dia pun mengambil semua foto itu dan memasukannya kedalam laci begitu juga dengan beberapa barang-barang milik Jiyoung.

Pandangan Sehun terfokus pada sebuah buku yang ada didalam laci, dia tidak mengenali buku jurnal itu namun Sehun mengambil buku itu dan membukanya. Tulisan tangan Jiyoung langsung menyapanya, didalam buku jurnal itu ada sebuah foto, Sehun yang melihat foto itu langsung marah dan meremas foto itu sehingga foto itu kusut.

“Lee Howon…” Sehun bergumam, dia masih mengingat jelas lelaki yang sudah menjadi saingannya sejak dulu.

Sehun memasukan kembali foto yang dia remas kedalam buku jurnal itu lalu dia menyimpan buku itu kembali dilaci, Sehun berjalan menuju ruang kerjanya yang berjarak tak jauh dari dapur dia duduk dikursi dan menghidupkan laptopnya.

Sesaat setelah laptopnya hidup dia melamun, Sehun membuka sebuah folder didalam laptopnya dan disana dia bisa melihat beberapa file video. Sehun ragu untuk membuka file video itu namun melihat wajah Jiyoung yang ada didalam video itu membuatnya sangat penasaran, dia merindukan tawa dan senuman manis Jiyoung.

Sehun menutup kembali folder itu, dia harus melupakan Jiyoung dia sudah berjanji pada Yura dia tidak ingin membuat Yura kecewa lagi. Sehun akhirnya membuka salah satu data kantornya dan mulai membaca, dia bisa melihat laporan tentang stock barang perusahaannya dan beberapa laporan keuangan juga.

Untuk beberapa menit Sehun tenggelam dalam pekerjaannya sampai akhirnya dia mengingat sesuatu, ayahnya tadi siang menghubunginya dan mengatakan kalau dia harus menyapa salah satu anak dari rekan bisnis ayahnya dia masih ingat ayahnya mengatakan kalau nama anak rekan kerjanya itu Jo Eunmi.

Nama Jo Eunmi sendiri tidak asing baginya, apalagi ibunya menatakan kalau mereka sering bermain saat mereka masih kecil itu membuat Sehun semakin penasaran. Mungkin besok dia akan menyuruh sekertarisnya untuk mencari Eunmi, mungkin dia akan menyapa gadis itu hanya untuk formalitas setelah itu dia tidak terlalu peduli tentang gadis itu.

Setelah menyelesaikan setengah pekerjaannya Sehun mematikan laptopnya, dia mengusap matanya yang terasa lelah. Dia menatap kearah layar laptopnya yang sudah mati namun ada sesuatu yang janggal dilayar laptopnya, dia melihat sosok wanita dengan pakain putih berdiri dibelakangnya.

Sehun melirik kebelakang namun dia tidak menemukan apapun, dia melirik lagi kearah layar laptopnya dan bayangan wanita itu sudah menghilang. Bagus dia sepertinya terlalu stress sehingga dia mulai berimajinasi, Sehun berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamarnya mungkin dia harus beristirahat agar semua imajinasinya hilang.

Saat Sehun berjalan keluar arwah Jiyoung duduk dikursinya menatap sedih kearah Sehun, namun pintu ruang kerja Sehun mulai tertutup dan sosok Sehun menghilang dibalik pintu. Jiyoung menatap kearah laptop Sehun, dia mencoba menyentuh laptop itu namun tangannya menembus laptop itu membuat Jiyoung mengepalkan tangannya dengan kesal dia ingin menjerit namun dia tidak bisa.

Yura yang mendengar langkah kaki Sehun membuka matanya, dia bisa melihat lelaki itu menggunakan kemejanya dan menyisir rambutnya. Yura tersenyum dan bangun dari tidurnya, Sehun yang melihat Yura terbangun melirik kebelakang.

“Apa aku membangunkanmu?” Tanya Sehun, dia berjalan mendekat dan mengecup bibir Yura sekilas.

“Tidak..aku harus pulang sekarang, mamaku akan datang dia pasti panik saat dia tahu kalau aku tidak pulang kerumah.” Yura turun dari ranjang Sehun.

“Sebaiknya kau mandi dulu, aku akan menyiapkan sarapan untukmu.” Sehun berkata, Yura tersenyum.

“Aw..kau manis sekali, terimakasih sayang.” Yura menjawab, dia mencium pipi Sehun sekilas lalu berjalan menuju kamar mandi.

Sehun membuka lemarinya dan dia bisa melihat jajaran dasi miliknya, dia menyentuh salah satu dasi yang berwarna hitam lalu dia tersenyum. Dia ingat dasi itu adalah dasi pertama yang Jiyoung belikan untuknya, dia menyentuh dasi itu dan mengambilnya.

Sehun mulai mengenakan dasi itu, bayangan tentang Jiyoung yang dulu mengajarinya memakai dasi kembali muncul. Dia bisa kembali merasakan tangan Jiyoung yang lembut memasangkan dasinya, wanita itu tersenyum kearahnya dan Sehun akan mencium dahi Jiyoung berterimakasih karena wanita itu mau memasangkan dasi untuknya.

Menatap kearah kaca didepannya bayangan Jiyoung langsung menghilang,kenyataan memukulnya dengan keras. Jiyoung tidak ada lagi disisinya, wanita itu sudah meninggal dan tak akan kembali lagi mulai sekarang dia harus memasangkan dasinya sendiri seperti orang dewasa lainnya.

Setelah selesai menggunakan dasinya Sehun membuat sandwhich untuk dirinya sendiri dan Yura,dia membuat kopi dan menunggu sampai kopi itu selesai. Yura yang sudah selesai berjalan keluar dari kamarnya, wanita itu terlihat lebih rapih dan cantik sekarang.

“Sarapan sudah siap tuan putri.” Sehun berkata dan memberikan Yura sandwhich dan secangkir kopi yang sudah dia buat.

“Terimakasih pangeranku.” Yura menjawab membuat Sehun tersenyum puas, Yura duduk dikursi meja makan dan mulai meminum kopinya.

“Apa hari ini kau sibuk?” Tanya Yura, Sehun yang sedang meneguk kopinya menggelengkan kepalanya.

“Tidak juga, aku hanya akan menghadiri beberapa meeting dan pergi keperusahaan Guangde untuk mengurus beberapa berkas.” Sehun menjelaskan.

“Oh begitu ya, bagaimana kalau kau menemui ibuku? Dia baru datang dari New york pagi ini dia pasti ingin bertemu denganmu.” Yura mengusulkan.

“Kau yakin? Aku kira ibumu tidak menyukaiku.” Sehun mengusap lehernya, dia masih ingat tatapan tajam yang ibu Yura berikan untuknya saat mereka pertamakali bertemu.

“Oh tenang saja, ibuku memang seperti itu…dia tidak menyukaimu dia hanya belum terbiasa.” Yura menjawab dan Sehun mengangguk.

“Baiklah, apa yang harus aku bawa agar ibumu menyukaiku?” Tanya Sehun, Yura hanya tersenyum.

“Bawa saja makanan tradisional, dia suka itu…dan tersenyumlah lebih banyak kau terlihat tampan saat tersenyum.” Yura memuji dan Sehun mengangguk.

“Ya, aku harap ketampananku bisa meluluhkan hati ibumu.” Sehun bercanda dan Yura tertawa.

“Ya, aku harap begitu juga..” Yura menjawab, dia memakan sandwhichnya.

“Aku sedikit tidak mengerti, ayahmu kelihatan menyukaiku tapi ibumu dia berbeda.” Sehun bergumam, Yura hanya mengangkat bahunya dia sendiri tidak mengerti kenapa ibunya tidak menyukai Sehun.

******

Hyojung berjalan menuju kamar Yifan dan Hyojin, dia berdiri disana sekitar lima menit yang lalu ragu untuk mengetuk pintu didepannya karena dia takut jika dia menggangku kedua kakanya itu. Dia mengusap tangannya yang sedikit berkeringat karena gugup lalu mengetuk pintu itu, setelah dia mengetuk beberapa kali pintu kamar Hyojin terbuka dan dia bisa melihat sosok Yifan yang membuka pintu.

“Oh Hyojung, apa kau ingin melihat kakakmu?” Tanya Yifan, Hyojung mengangguk dan Yifan membiarkan gadis itu untuk berjalan masuk kedalam kamar.

Hyojung bisa melihat kakaknya masih terbaring lemah diranjang, Hyojung benar-benar khawatir saat dia melihat betapa pucatnya wajah Hyojin wanita itu terlihat sangat lemah sekali.

“Eonni..” Panggil Hyojung, Hyojin membuka matanya dan tersenyum kearah Hyojung walaupun kakaknya tersenyum Hyojung tahu Hyojin tidak enak badan.

“Hyojung-ah, kemarilah…” Hyojin memanggil dengan suara seraknya, Hyojung berjalan dan duduk disamping Hyojin.

“Maaf, aku pasti membuatmu khawatir.” Hyojin berkata, Hyojung menggelengkan kepalanya kenapa juga Hyojin harus meminta maaf? Itu sudah kewajibannya mengkhawtairkan kakaknya.

“Tidak apa-apa Eonni, bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?” Tanya Hyojung lembut, dia menyentuh dahi kakaknya.

“Aku sudah baikan kau tak usah khawatir..” Hyojin berkata, dia melirik kearah Yifan yang berdiri dibelakang Hyojung.

“Yifan oppa menjagaku dengan baik.” Hyojin tersenyum kearah suaminya, Yifan tersenyum walaupun dia ingin tetap tinggal seharian di rumah dia harus kembali bekerja.

“Aku harus pergi bekerja dulu, ini sudah siang…aku akan kembali Hyojin.” Yifan mendekat dan mencium dahi Hyojin.

“Hati-hati di jalan.” Hyojin berkata dan Yifan mengangguk, lelaki itu meninggalkan Hyojung dan Hyojin.

“Eonni, apa kau sadar saat kau mengamuk kemarin?” Tanya Hyojung, dia mengelus-elus tangan Hyojin.

“Entahlah Hyojung, aku hanya mengingat sebagian…aku ingat kalau aku marah pada Joonmyeon.” Hyojin mengungkapkan.

“Zhongren oppa mengatakan kalau kau terlihat berbeda saat kau marah, apa kau tahu apa sebabnya?” Hyojung bertanya lagi, Hyojin hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku sendiri tidak mengerti Hyojung.” Hyojin menjawab, kakaknya itu menatap kearah Hyoung dan Hyojung hanya bisa menunduk khawatir.

“Eonni, sebaiknya kau tidak banyak melamun…apa kau akan kembali lagi keperusahaan? Guangde selalu terbuka untukmu.” Ucap Hyojung, Hyojin tersenyum dan mengangguk.

“Tentu saja Hyojung, aku akan kembali kesana setelah aku merasa baikan aku akan kembali kesana.” Hyojin berkata.

“Noona..” Suara Zhongren terdengar, Hyojung dan Hyojin melirik kearah sumber suara mereka berdua tersenyum saat mereka melihat sosok Zhongren berdiri diambang pintu percis seperti anak kecil yang pemalu.

“Zhongren-ah, masuklah.” Hyojin menyuruh, Zhongren masuk kekamar dan dia duduk disamping Hyojung.

“Bagaimana keadaanmu noona? Aku khawatir sekali.” Zhongren menyentuh kaki Hyojin, Hyojin tersenyum.

“Aku baikan sekarang, kalian tidak usah khawatir..pergilah bekerja bukankah kalian sibuk?” Tanya Hyojin, Hyojung mengangguk dan berdiri dari duduknya.

“Aku juga harus pergi, maaf Eonni…aku akan pulang lebih cepat kau tak usah khawatir.” Ungkap Hyojung , Hyojin tersenyum dan mengangguk.

“Aku pergi dulu Eonni.” Hyojung pamit dan meninggalkan Hyojin bersama Zhongren.

Setelah sosok Hyojung menghilang dibalik pintu Hyojin melirik kearah Zhongren, Zhongren menunduk dia seakan ingin menanyakan sesuatu namun dia kelihatan ragu.

“Apa yang ingin kau katakan Zhongren?” Tanya Hyojin, Zhongren menatap kearah Hyojin lalu menunduk lagi.

“Apa kau takut?” Tanya Hyojin lagi, dia menyentuh tangan Zhongren dan Zhongren menyentuh tangan Hyojin dengan erat.

“Noona, apa kau tahu apa yang kau katakan pada Joonmyeon hyung?” Zhongren menatap kearah Hyojin, Hyojin hanya diam lalu dia menggelengkan kepalanya.

“Kau mengatakan padanya kalau dia menyembunyikan sesuatu, kau juga menghinanya dengan sbeutan pembohong dan brengsek.” Zhongren mengungkapkan, Hyojin terlihat terkejut.

“Aku mengatakan itu?” Hyojin bertanya, dia sama sekali tidka ingat apa yang dia katakan dia hanya ingat wajah terkejut Zhongren dan Joonmyeon yang menatap kearahnya lalu dia kehilangan kesadarannya.

“Noona kau benar-benar tidak ingat?” Zhongren bertanya, Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Zhongren aku tidak tahu, tapi aku punya firasat sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengan Joonmyeon kita belum tahu siapa dia sebenarnya.” Hyojin mengungkapkan, Zhongren mengangguk.

“Aku mengerti noona,cepat sembuh eoh? Yifan hyung khawatir sekali.” Zhongren meberikan Hyojin senyum manisnya, Hyojin tersenyum kembali namun tiba-tiba saja seseorang berbisik ketelinganya.

“Noona? Ada apa?” Zhongren terkejut saat dia melihat Hyojin menutup kedua telinganya, Zhongren menyentuh tangan Hyojin dan Hyojin menepis sentuhannya.

“Zhongren, jangan pergi..aku takut.” Hyojin berkata, dia menangis membuat Zhongren panik.

“Noona, kau kenapa? Siapa yang menakutimu?” Tanya Zhongren, Hyojin menggelengkan kepalanya dia menutup telinganya dan menangis.

“Noona..” Zhongren memanggil, Hyojin tetap menunduk menutup kedua telinganya seakan wanita itu tidak ingin mendengar apapun.

Joonmyeon berbahaya, jangan biarkan Zhongren mendekatinya..

Hyojin bisa mendengar bisikan itu berkali-kali, Hyojin benar-benar panik dia kira dia mulai gila karena dia tidak bisa melihat seseorang yang membisikan kata-kata itu. Suara itu sepertinya hanya ada didalam pikirannya dan itu membuatnya semakin ketakutan, dia tidak pernah tahu kalau dia akan ada dalam keadaan seperti ini.

“Zhongren, bawa aku ke psikolog..kemana saja..asalkan aku bisa menghilangkan suara ini.” Hyojin mencengkram tangan Zhongren.

“Noona, apa maksudmu? Apa kau mendengar seseorang berbicara padamu selain aku?” Tanya Zhongren, Hyojin mengangguk ekpressi wajahnya menunjukan ketakutan yang sangat jelas.

Kau satu-satunya yang bisa menolongku,aku mohon…

Hyojin mendengar lagi bisikan itu, dia melirik kearah kanan dan kirinya seakan gadis itu mencari sesuatu. Zhongren mengikuti pandangan Hyojin namun dia tidak menemukan apapun, sepertinya Zhongren benar-benar harus membawa Hyojin ke psikolog atau jika mungkin dia akan membawa kakak iparnya itu ke psikiater.

“Baiklah, ayo kita pergi noona.” Zhongren membantu Hyojin berdiri, tubuh Hyojin sangat lemah dia bahkan terjatuh saat mencoba berdiri.

“Noona!” Zhongren memanggil panik, Zhongren akhirnya mengangkat tubuh Hyojin.

Zhongren membawa keluar Hyojin, dia panik saat melihat ekspressi Hyojin yang sangat ketakutan wanita itu bahkan meremas kemejanya. Zhongren memasukan Hyojin kedalam mobilnya dan memasangkan sabuk pengaman untuk Hyojin, dia berlari dan duduk dikursi pengemudi.

“Tenang noona, aku akan membawamu ke tempat yang aman.” Zhongren berkata, dia menghidupkan mesin mobilnya dan mobil sedan Zhongrenpun segera menjauh dari rumah.

******

Eunmi menatap bayangannya dikaca toilet, dia menghela nafasnya dan menyeka wajahnya yang basah karena dia sudah mencuci mukanya. Dia mulai memakai make up nya lagi dengan perlahan dia memakai pupur dan mengoleskan lipstik dibibirnya yang sedikit pucat, sebenarnya dia merasa tidak enak badan namun dia tidak ingin bolos dia hanya pegawai baru disini.

Setelah selesai memakai make up nya dia berjalan keluar dari toilet, dia tersenyum kearah rekan kerjanya yang menyapanya. Semua orang diperusahaan Daeguk cukup baik dan Eunmi mulai terbiasa untuk bersosialisasi dengan rekan kerjanya, walaupun dia terkadang sedikit merasa tidak nyaman karena rekan kerjanya selalu menggoda dia.

Eunmi terkejut saat dia merasakan ponselnya bergetar disaku celananya, dia mengambil ponselnya dan nomor yang asing muncul dilayar ponselnya. Eunmi ragu-ragu untuk mengangkatnya, dia membiarkan ponselnya terus berdering namun ponselnya tidak kunjung juga mati sehingga dia terpaksa mengangkatnya.

Yobuseyo?” Eunmi mengangkat teleponnya dengan nada suara yang sedikit ketus, ini sudah siang dan Eunmi ingin segera pulang.

“Apa ini dengan Jo Eunmi-shi?” Tanya seseorang diseberang telepon.

“Oh iya benar, ini dengan siapa?” Tanya Eunmi kembali, suaranya sedikit familiar namun dia tidak bisa mengingat wajah orang ini.

“Ini aku Oh Sehun..apa kau masih mengingatku?” Sehun berkata, mendnegar nama Sehun mata Eunmi melebar.

Oh..hwajang-nim..

“Jangan panggil aku seperti itu, kita teman bukan? Jika kau tidak keberatan maukah kau datang ke atap perusahaan? Maaf jika merepotkan, tapi aku ingin bertemu ditempat yang lebih tenang.” Sehun mengungkapkan.

“Oh baiklah, aku akan datang.” Eunmi menjawab.

“Aku tunggu kedatanganmu, Jo Eumi-shi.” Ucap Sehun, dia menutup teleponnya.

Eunmi menutup teleponnya juga, dia tersenyum sepertinya ayahnya benar Sehun sekarang mengingatnya. Dengan senyum lebarnya Eunmi berjalan menuju lift, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Sehun dan bercakap-cakap lagi dengannya seperti saat mereka masih kecil dulu.

Eunmi akhirnya sampai di atap gedung kantor, dia melirik kesekitarnya mencari sosok Sehun sampai akhirnya dia bisa menemukan sosok tinggi yang memakai jas abu-abu. Sosok itu akhirnya melirik kearahnya dan tersenyum, Eunmi membalas senyuman lelaki itu dan berjalan kearahnya.

“Apa kau sudah menunggu lama Sehun-shi?” Tanya Eunmi, Sehun menggelengkan kepalanya.

“Tidak, kau cepat sekali.” Sehun berkata dan Eunmi tersenyum.

“Aku selalu tepat waktu Sehun-shi, itulah alasan kenapa Daeguk membutuhkanku.” Jawab Eunmi, Sehun tersenyum mendengar jawaban cerdas Eunmi.

“Wow, aku beruntung memiliki pegawai sepertimu Eunmi-shi.” Ucap Sehun.

“Jadi apa yang ingin anda bicarakan Sehun-shi?” Eunmi bertanya, namun tiba-tiba angin berhembus kencang membuat rambutnya menutupi sebagain wajahnya dan Eunmi harus menyelipkan rambut panjangnya ketelinganya.

Entah apa yang merasuki Sehun namun Sehun terpesona, dia tidak bisa berhenti menatap kearah Eunmi dan jantungnya berdetak seidkit cepat dari biasanya namun dia segera membuang perasaan itu jauh-jauh dia sudah memiliki Yura.

“A-aku hanya ingin minta maaf, kemarin aku tidak mengenalimu.” Ucap Sehun, Eunmi mengangguk mengerti.

“Tidak apa-apa, kita sudah lama tidak bertemu bukan? Ini sudah hampir 10 tahun..aku juga mulai lupa padamu.” Ungkap Eunmi, dia menatap kearah Sehun mengingat wajah tampan lelaki itu.

“Benarkah? Aku rasa begitu..aku harap kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti dulu lagi kau teman yang baik Eunmi.” Sehun memuji, Eunmi hanya tersenyum tipis lalu menunduk.

“Aku yang seharusnya mengatakan itu, kau teman yang baik Sehun.” Eunmi berkata, entah kenapa Sehun merasa sedikit tersentuh dengan perkataan Eunmi walaupun mereka sudah lama tidak bertemu kehadiran Eunmi didalam hidupnya terasa familiar.

“Ngomong-ngomong darimana kau mendapatkan nomorku? Coba aku tebak..ayahku yang memberikannya?” Eunmi bertanya, Sehun menggelengkan kepalanya.

“Kau salah, sekertarisku yang memberikannya.” Sehun menyanggah, dia mengangguk mengerti sebenarnya jawaban itu lebih masuk akal.

“Aku dengar kau kuliah di amerika.” Jiyoung berkata dan Sehun mengangguk.

“Hanya tiga semester..ayahku memanggilku kembali ke Korea karena dia membutuhkan bantuanku untuk membangun Daeguk.” Sehun menjelaskan.

“Oh jadi kau melanjutkan kuliahmu disini?” Tanya Eunmi.

“Sepertinya begitu, aku tidak keberatan karena aku bisa bertemu denganmu.” Sehun menggoda dan Eunmi tersenyum.

“Masih seperti dulu ternyata, mulutmu itu manis sekali Sehun sayang kau terkadang pintar berbohong.” Eunmi mengungkapkan.

“Setidaknya aku tidak berbohong padamu sekarang.” Sehun membela diri, Eunmi mendengus dia tahu Sehun adalah penggoda ulung walaupun dia kelihatan seperti pendiam.

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Jiyoung Eonni sangat dekat denganmu bukan?” Eunmi menatap kearah Sehun.

Dia mencari sesuatu di ekspressi wajah Sehun, namun Sehun seakan membangun sebuah tembok yang tinggi diantara mereka karena Eunmi tidak bisa melihat ekspressi Sehun yang sebenarnya lelkai itu tetap diam dengan tenang.

“Aku baik-baik saja, aku tidak bisa mengatakan seperti itu..kau tahu Jiyoung noona membenciku.” Sehun menjawab.

“Sebenarnya apa yang terjadi Sehun?”

Sehun melirik kearah lain, semua orang kelihatannya sangat ingin tahu alasan kenapa Jiyoung bunuh diri dan itu membuat Sehun sedikit kesal dia sendiri ingin menghapus kenangan pahit itu dari otaknya.namun bagaimana dia bisa melakukan itu jika semua orang selalu mengungkitnya, dari mulai acara infortainmen sampai di koran dia bisa melihat berita tentang kematian kakaknya yang cukup populer itu.

Sehun hanya tersenyum tipis, dia tidak ingin membahasnya dia tidak mau mengingat betapa tersiksanya dia saat dia melihat tubuh kakaknya tidak bernyawa lagi.

“Noona memutuskan untuk pergi, dia punya pilihan dan mengakhiri semuanya adalah pilihannya.” Sehun menjawab dengan misterius.

“Maksudmu?” Eunmi tidak mengerti.

“Eunmi, kau tidak usah mengerti..setidaknya kau tahu alasannya.” Ungkap Sehun, Eunmi menggangguk dia tidak ingin memaksa Sehun untuk menceritakan apapun tentang Jiyoung dia tahu kehilangan Jiyoung pasti merupakan pukulan yang keras bagi Sehun.

“Walaupun begitu kalian unik sekali, awalnya aku mengira kalian saling membenci tapi ternyata…Jiyoung Eonni sangat menyayangimu.” Eunmi mengungkapkan.

“Jiyoung noona memang wanita yang unik, kau tidak pernah bisa membaca apa yang ada dialam pikirannya.” Sehun membalas, Eunmi mengangguk setuju.

“Bagaimana kalau kita mengunjungi makamnya? Itu juga jika kau punya waktu senggang.” Eunmi mengajak, Sehun terlihat sedikit terkejut.

“Kau yakin?”

“Ya tentu saja, Jiyoung Eonni baik padaku saat aku masih kecil dia selalu bermain bersamaku.” Eunmi menjelaskan.

“Kau benar, Jiyoung noona dan Hyojin noona selalu bermain denganmukan?” Tanya Sehun, ingatan masa lalu mulai berdatangan kembali, Sehun kembali merindukan Jiyoung dan dia berharap Jiyoung ada disini bersamanya.

“Ya, Aku belum bertemu dengan Hyojin eonni aku dengar dia sudahmenikah sekarang.”

“Kau benar, dia sudah menikah mungkin kita bisa mengunjunginya nanti Hyojung pasti senang saat dia melihatmu.” Sehun tersenyum, namun Eunmi kelihatan tidak senang.

“Oh..siapa Hyojung?”

“Ya, apa kau ingat Hyojung? Dia adik Hyojin noona kau mungkin tidak tahu dia karena dia tidak suka bermain saat dia masih kecil, aku juga tidak mengenalnya sampai SMA.” Sehun menceritakan, Eunmi mengangguk.

“Baiklah kalau begitu, aku tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Hyojin eonni.” Eunmi menyetujui dengan nada suara cerianya.

Sehun hanya tersenyum melihat ekspressi senang Eunmi, Eunmi menatap kearah pemandangan yang ada didepannya.

Arwah Jiyoung berdiri dibelakang Sehun dan menatap tajam kearah Eunmi, dia mengepalkan tangannya penuh dengan emosi. Dia benar-benar mulai tidak menyukai Eunmi, andai saja dia masih hidup dia sudah mencekik gadis itu sampai mati beraninya dia menggoda Sehun seperti itu Sehun miliknya dan tidak akan ada wanita lain yang bisa merebutnya.

To Be Continue..

Jangan lupa komennya 😀

PS:

Reader’s maaf yah seven lambat banget updatenya belakangan ini, soalnya kompi seven lagi error biasa penyakitnya kambuh :'(  jadi seven bakalan telat ngepost tapi tenang seven bakal usahain soalnya Seven sekarang lagi pinjem laptop adek Seven mri kita berdoa aja semoga komputer seven cepet waras dan enggak error lagi, jadi reader’s kalau seven postnya agak lambat di maklum aja ya🙂

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

18 thoughts on “Great Ambition – Chapter 3

  1. konflik nya skrg fokus sehun-jiyoung-eunmi yaaa wkwkwkwk makin seru nih..
    tp zhongren-hyojung nya dikit bgt thor huhuhu…
    pengen ada kisah mereka jugaaa nih😦
    dan my fav couple hyojin-yifan juga cuma seiprit aduuhh banyakin dong thor…
    kekekek tp overall aku menikmati ceritanya..
    fighting buat next chap…

    1. hahaha maaf chingu soalnya cerita ini lebih fokus ke Sehun jadi deh tapi tenang aja mungkin di episode yang mendatang Zhongren-Hyojung nya di banyakin kalau soal Yifan-Hyojin kita liat aja ya..🙂

  2. akhirnya di post juga
    jadi penasaran kenapa jiyoung tersesat di dunia itu??
    apa sehun itu lama” bakalan suka eunmi??
    dan aq baru nyadar kalau howon itu mantannya jiyoung🙂
    aq penasaran ama kotak yg di titipin buwat howon ama vidionya jiyoung d laptopnya sehun apa itu masih ada hubungannya ama kematiannya jiyoung??
    ooh ya thor meskipun ceritannya horor bisa di kasih sedikit adegan romantisnya dong biar gk terlalu takut aq buwat baca… hehehe🙂
    next chapternya aq tunggu meskipun lama🙂
    mangat🙂

  3. Ternyata mereka semua memiliki hubungan ato lebih tepatnya semua oranh disini terikat sejak kecil.. Bener gk thor…
    Aku kasian ama hyojin jgn sampe yifan berpikiran kalo dia gila..
    Jiyoung nya pendendam banget sih.. Dia kan uda mati tapi masih aja gk rela sehun dekat ama yeoja lain.. Howon juga kasian.. Part ini edisi kasian… -_-
    next thor

  4. anyeong kak seven :))
    akhirnya ada part 3nya.
    kasian hyojin lagi😥
    aku tu penasaran kenapa si jiyoung arwahnya tersesat? :O
    kasian sih sebenere, tapi kok jadi agak jahat si jiyoung.

  5. makiinn seruu nihh ceritanya,,,eunmi udah ktmu sehun…ya walaupun jiyoung selalu menghantui,,,ga kebayang deh marahnya jiyoung pas sehun ktmu eunmi….
    yg kasian itu hyojin,,pasti ketakutan bgt,,,aiihhh,,,cerita cinta mereka cukup rumit,,sehun eunmi jiyoung sama howon,,,
    g sabar nunggu kelanjuntannya😀

  6. Keren banget thor,speechless Nich kaga bisa komen apa2,soalnya emang keren banget..
    di tunggu Next part ya thor..

  7. Hah~ bru bisa komen sekarang pdahal bacanya udah sminggu yg lalu!!!

    Sebelumnya kagak pernah bca ff horor, ini yg prtama! Soalnya selain gak percaya hantu juga kagak bkal takut. . . .eeh tp stelah baca ini jadi gimana gitu!! Tapi ttep aku kagak takuuutt ama hantu!! #curhatdikit

    aku lagi nunggu bget momen.nya eunmi ama sehun!! Dipart ini muncul,.. Udah liat trailernya yg k2 bikin penasaran!! Ayo cepetan post.! Jiayo!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s