Posted in FanFiction NC 17+

Great Ambition – Chapter 1

Title: The Great Ambition

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

                                            FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

                              Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

Jo Eunmi [OC],Oh Sehun [EXO],Oh Jiyoung [OC],Lee Howon [INFINITE]

Kim Yura [Girls day], Jung Hyojung [Tale of two siblings],Wu Zhongren/Kai [EXO]

Wu Yifan [EXO], Wu Hanbyul/Hyojin [Tale of two siblings],Kim Joonmyeon [EXO]

Genre : Melodrama,Horror and Romance

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

                                                     << Previous chapter 

                                   Next Chapter   >>   

1

White Wedding

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, dia sudah terlihat cantik dengan gaun putih dan make up yang lengkap. Rambut panjang coklatnya disanggul rapih, Hyojin menatap kearah bayangannya yang ada di cermin dia kelihatan senang namun sedih juga di waktu yang sama banyak sekali pikiran yang memenuhi otaknya tapi sepertinya untuk saat ini dia harus fokus pada pernikahannya.

Dia sepertinya harus memikirkan jika Yifan sekarang menunggunya di altar dan ini bukan waktu yang tepat untuk menangis karena dia sudah memakai make up, Hyojin menghela nafasnya dia membuka dompetnya dan dia bisa melihat foto kedua orangtuanya.

“Eomma,Appa..aku akan menikah sekarang.” Hyojin berbisik.

Hyojin harap kedua orang tuanya ada disini menyaksikan dia menikah namun sayang kedua orangtuanya itu harus pergi meninggalkannya terlalu cepat, bibirnya sudah sedikit sakit karena dia sudah berfoto dengan puluhan orang tadi dia terpaksa harus tersenyum karena banyak sekali orang yang ingin berfoto dengannya.

“Eonni..apakah kau sudah siap?” Suara Hyojung terdengar dan Hyojin melirik kearah sumber suara lalu tersenyum saat dia melihat betapa cantiknya Hyojung yang menggunakan gaun pink.

“Ya, apakah Yongguk oppa sudah siap?” Tanya Hyojin dan Hyojung mengangguk.

“Dia sudah menunggu,sebaiknya kita cepat ke altar.” Hyojung mengajak dan dia membantu Hyojin melangkah.

Hyojung melirik kearah Hyojin dan Hyojin tersenyum kearah adiknya, dia bisa melihat mata Hyojung berkaca-kaca mungkin terharu melihat akhirnya kakaknya menikah juga dan itu membuat Hyojin ingin menangis juga.

“Kau sebaiknya tidak menatapku seperti itu.” Hyojin berkata dan Hyojung tertawa.

“Maaf Eonni, kau terlihat cantik sekali..” Hyojung menjawab dan Hyojin mengelus pundak Hyojung.

Mereka berdua akhirnya sampai didekat altar dia bisa melihat Yongguk masih merapikan tuxedo yang dia kenakan, namun dia berhenti saat dia melihat Hyojin berdiri disampingnya dia langsung tersenyum dan menawarkan lengannya agar Hyojin melingkarkan tangannya disana.

“Wah..aku benar-benar iri pada Yifan.” Yongguk berbisik pada Hyojin dan Hyojin memukul lengan Yongguk pelan.

“Oppa, Taeyeon-shi ada disini…dia bisa mencekik aku jika dia tahu kau memujiku seperti itu.” Hyojin membalas dan Yongguk tertawa.

“Tenang saja, dia terlalu sibuk mengurus katering.” Ucap Yongguk, Hyojin hanya bisa tersenyum tipis.

“Apa kalian benar-benar akan pindah ke Busan?” Tanya Hyojin, dia melirik kearah Yongguk.

“Sepertinya begitu, kami ingin memulai hidup baru disana.” Yongguk menjelaskan, mereka terkejut saat mereka mulai mendengar musik dimulai.

Yongguk dan Hyojin mulai berjalan masuk ke altar, semua tamu yang sudah menunggu langsung berdiri dan melirik kearah dia dan Yongguk. Hyojin tersenyum kearah Cecil yang melambai kearahnya begitu juga kedua orangtuanya, dia bisa melihat Sehun dan pacarnya Yura duduk tak jauh dari Cecil dan terakhir dia menatap kedepan.

Disanalah berdiri pujaan hatinya, Yifan terlihat tampan sekali dengan tuxedo putih dan bunga mawar kuning disaku kemejanya rambut pirangnya di sisir rapih dan dia tersenyum kearah Hyojin membuat Hyojin yang gugup menjadi tenang. Dia melirik kesamping Yifan dia bisa melihat Zhongren yang mengacungkan kedua jempolnya, lalu Hyojung datang dan membantunya berjalan karena gaunnya terlalu panjang.

   Dia sekarang berdiri didepan Yifan, rasanya semuanya seperti mimpi dia ingin sekali mencubit dirinya sendiri namun dia yakin ini semua nyata karenaYifan menyentuhnya dan dia bisa merasakan hangatnya tangan Yifan.

“Para hadirin, hari ini kita bersyukur karena tuhan yang sudah mengijinkan kita berkumpul disini.” Pastor yang berdiri diantara mereka mulai berpidato, Hyojin dan Yifan tidak terlalu mendengarkan karena mereka terlalu sibuk saling melirik.

Bahkan mereka bisa melihat Zhongren tertawa dibelakang Yifan, dia mulai membisikan sesuatu yang aneh kepada Hyojung yang berdiri dibelakang Hyojin. Hyojinbersumpah jika dia sedang tidak menikah dia akan mencubit Zhongren sampai Zhongren berhenti berbisik-bisik dengan Hyojung, Yifan menyentuh tangan Hyojin lebih erat dan dia bisa melihat Yifan juga sangat gugup sama sepertinya.

Hyojin memegang kembali tangan Yifan dan Yifan kelihatannya sedikit tenang karena dia memberikan Hyojin senyuman, rasanya pidato sang pastor tidak pernah selesai karena dia terus berbicara setelah beberapa menit berlalu akhirnya dia menyuruh Yifan dan Hyojin untuk mengucapkan janji mereka.

“Aku Wu Yifan, menerimamu Hanbyul Lawrence sebagai istriku dalam keadaan sehat maupun sakit, disaat kaya ataupun miskin dalam bahagia maupun sedih dan hanya kematian yang bisa memisahkan kita.” Yifan mengucapkan dengan lancar, Hyojin tersenyum dan tanpa sadar dia menangis.

“Aku Hanbyul Lawrence, menerimamu Wu Yifan sebagai suamiku dalam keadaan sehat maupun sakit, disaat kaya ataupun miskin dalam bahagia maupun sedih dan hanya kematian yang bisa memisahkan kita.” Hyojin mengatakan janjinya dan Yifan menggengam tangannya lebih erat.

“Silahkan kalian bertukar cincin.” Pastor menyuruh dan Hyojung langsung datang mengantarkan cincin mereka berdua.

Yifan pertamakali yang mengambil cincin dan dia memasangkannya pada jari Hyojin, Hyojin mengambil cincin untuk Yifan dan dia memasangkannya dijari Yifan. Hyojin lega sekali saat dia sadar jika cincin Yifan pas sekali di jari lelaki itu, dia sebenarnya sedikit takut jika cincin itu terlalu kecil atau besar.

“Kau boleh mencium pengantin wanita.” Pastor berkata, semua orang mulai bersorak.

Yifan mendekat dan dia melingkarkan tangannya dipinggang Hyojin mencium wanita itu penuh dengan hasrat, Hyojin tersenyum dalam ciuman mereka namun wanita itu membalas ciuman Yifan. Mereka bisa mendengar para tamu masih bersorak sampai akhirnya mereka berdua melepaskan ciuman mereka, Yifan tersenyum dan menarik Hyojin untuk keluar dari gereja semua tamu melemparkan bunga yang sudah mereka genggam dari tadi.

Hari begitu cerah saat mereka melangkah keluar, Taeyeon yang sudah menunggu diluar memberikan sebuah buket bunga kepada Hyojin seperti tradisi yang biasa dilakukan Hyojin harus melemparkan bunga itu dan semua tamu wanita maupun laki-laki berkumpul berharap jika merekalah yang menangkap buket bunga Hyojin.

Hyojin tertawa saat dia melihat Yongguk dan Zhongren berebut posisi untuk mendapatkan bunganya, Hyojin berbalik dan bersiap-siap untuk melembarkan bunganya. Hyojin menutup matanya dan dalam hitungan ketiga dia melemparkan buket bunganya, semua tamu riuh mencoba menangkap buket bunganya namun ternyata buket bunganya mendarat di tangan Yongguk.

“Yeah! Aku menang Zhongren!” Yongguk menjulurkan lidahnya pada Zhongren, Zhongren marah dan menginjak kaki Yongguk membuat Yongguk mengerang kesakitan.

“YA! Dasar anak tidak sopan!” Yongguk mengutuk, Taeyeon datang dan menghiburnya.

Hyojin tertawa melihat tingkah Zhongren dan Yongguk, dia terkejut saat dia merasakan sepasang tangan melingkar dipinggangnya.

“Bukankah ini saatnya kita pergi? Mobil kita sudah menunggu.” Yifan berbisik kepada Hyojin dan Hyojin mengangguk.

“Baiklah, ayo pergi.” Hyojin setuju dan mereka berdua bisa melihat sedan hitam yang sudah menunggu mereka dengan tulisan ‘Just Married’ dikaca belakang mobil.

“Sampai jumap Eonni! Jangan lupa telepon aku jika kalian sudah sampai di Jeju!” Hyojung berteriak dan Yifan juga Hyojin mengangguk.

“Semoga kalian menikmati bulan madu kalian!” Taeyeon berteriak juga, Yongguk melingkarkan tangannya di pinggang Taeyeon.

“Awas kau Yifan! Kau sebaiknya menjaga Hanbyul jika sesuatu terjadi padanya kau tidak akan selamat!” Yongguk mengancam dan Hyojin tertawa begitu juga Yifan.

“Tenang saja, aku akan menjaganya!” Yifan membalas.

Yongguk mengangguk, lelaki itu kelihatanya percaya pada ucapan Yifan. Yifan dan Hyojin akhirnya masuk kedalam mobil mereka dan mereka melambaikantangan mereka untuk terakhirnya sebelum mobil mereka melaju menjauh dari gereja, semua tamu melambai kearah mereka melepaskan mereka untuk pergi berbulan madu.

“Aku benar-benar iri…” Taeyeon berkata dan Yongguk melirik kearahnya.

“Kenapa?kau ingin menikah juga?” Tanya Yongguk dan Taeyeon mengangguk.

“Baiklah,aku akan melamarmu setelah kita sampai di Busan.” Yongguk berkata dengan nada yang polos dan Taeyeon memukul lengan Yongguk cukup keras.

“AW! Kenapa kau memukulku? Apa salahku?” Tanya Yongguk sambil mengelus lengannya yang sakit.

“Kau benar-benar tidak romantis!” Taeyeon berkata dan berlalu menyambut tamu lainnya.

“Aisshh dasar wanita aneh.” Yongguk bergumam namun dia tersenyum saat dia melihat betapa cantiknya Taeyeon dalam balutan gaun pink yang dia kenakan.

“Tapi walaupun aneh dia tetap cantik.” Yongguk melanjutkan, dia memutuskan untuk bergabung dengan Taeyeon menyambut semua tamu yang datang.

“Eonni kelihatan bahagia sekali.” Hyojung berkata masih menatap keara foto yang dia ambil tadi pagi bersama Hyojin.

“Wah..Hyojin Eonni memang cantik.” Zhongren memuji dan Hyojung mengangguk.

“Jadi kapan kita akan menyusul mereka?” Tanya Hyojung.

“Entahlah Chagi,kau tahukan aku sibuk sekarang.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk.

“Aku menegrti,lagipula aku baru lulus..aku akan bekerja dulu.” Hyojung berkata dan Zhongren mencium Hyojung sekilas.

“Ya! Banyak orang disini!” Hyojung marah dan Zhongren hanya tersenyum nakal.

“Habis, kau juga cantik sekali..aku tidak bisa menolak untuk menciummu.” Zhongren mengungkapkan dengan polos, Hyojung hanya mendengus dan mencubit pipi Zhongren.

“Hentikan Wu Zhongren, kau membuatku malu.” Hyojung berkata dan Zhongren tertawa.

“Tenang saja, jika kau malu kau bisa bersembunyi dibelakangku.” Zhongren berkata dan Hyojung tersenyum. Zhongren mendekt lagi dan mencium Hyojung.

“Eww…mereka menjijikan.” Sehun berkata saat dia melihat Hyojung dan Zhongren berciuman, Yura hanya tertawa.

“Jadi kau tidak suka jika aku menciummu juga?” Yura melingkarkan tangannya dilengan Sehun.

“Kau berbeda,aku menyukaimu.” Sehun berkata dan Yura tersenyum, mereka berjalan dan mengambil pudding yang ada dimeja makan.

“Sehun, kitakan sudah lulus..apakah kau ingin menyusul Hanbyul Eonni dan Yifan Oppa juga?” Yura bertanya, Sehun tersenyum dan menyentuh pipi Yura.

“Percayalah, aku ingin menikah juga..aku rasa aku belum siap kau tahu Daeguk baru saja dibuka dan aku akan sibuk.” Sehun memberi alasan dan Yuara tersenyum tipis, dia menyentuh tangan Sehun yang ada dipipinya.

“Aku mengerti, lagipula aku juga ingin melakukan pemotretan yang banyak sebelum menikah.” Yura mengungkapkan dan Sehun kelihatan tiak setuju karena dia cemberut.

“Baiklah tapi ingat! Tidak ada bikini dan model lelaki.” Sehun memberi peringatan dan Yura tertawa.

“Kenapa?apa kau cemburu?” Yura mengangkat alisnya dan Sehun dengan berat hatinya harus mengangguk setuju.

“Apakah itu sudah jelas?” Sehun bertanya dan Yura menyandarkan kepalanya dipundak Sehun, dia bisa merasakan Sehun mencium kepalanya.

“Aku tahu,aku tidak akan memakai bikini dan aku juga tidak akan berpose bersama model laki-laki.” Yura menurut dan dia bisa mendengar Sehun tertawa.

“Bagus kalau begitu, kau tenang saja..aku janji setelah Daeguk seimbang aku akan menikahimu.” Sehun menyentuh tangan Yura dan Yura mengangguk walaupun dia sedikit kecewa.

******

  Ini sudah sore Yongguk dan Taeyeon memutuskan untuk pulang, mereka berjalan di trotoar sambil berjalan kaki walaupun mereka berjalan kaki namun Taeyeon senang karena Yongguk bisa memegang tangannya dan tangan Yongguk terasa hangat di musim gugur seperti ini cuaca sepertinya dingin.

“Bagaimana perasaanmu saat kau melihat Yifan menikah dengan Hyojin?” Tanya Yongguk dan dia melirik kearah kekasihnya yang kelihatannya sedikit melamun.

“Senang, setidaknya aku bisa melihat Yifan tersenyum lagi.” Taeyeon menjawab dan Yongguk memberikan kekasihnya itu senyum tipis.

“Bagaimana denganmu? Aku tahu kau masih menyukai Hyojin.” Taeyeon berkata dan Yongguk mengangguk.

“Aku mencoba melupakannya, aku punya kau sekarang.” Yongguk mencubit pipi Taeyeon.

“Rasanya kita benar-benar harus melepaskan mereka berdua.” Taeyeon mengusulkan dan dia menyandar kelengan Yongguk, Yongguk melingkarkan tangannya dipundak Taeyeon dan mencium kepala Taeyeon.

“Aku sudah melepaskan Hyojin saat aku melihat dia begitu bahagia saat melihat Yifan yang berdiri di ujung altar.” Yongguk menjawab.

“Aku juga, aku melepaskan Yifan saat aku melihat betapa sengsaranya Han— oh bukan maksudku Hyojin menangisi Yifan saat dia berhenti bernafas.” Taeyeon membalas.

“Sepertinya mereka memang cocok untuk satu sama lain, aishh mereka membuatku iri.” Yongguk mengutuk dan Taeyeon tersenyum.

“Kau punya aku sekarang! Kenapa kau iri?” Tanya Taeyeon melirik kearah Yongguk dan Yongguk tersenyum.

Yongguk mendekat dan mencium bibir Taeyeon sekilas membuat Taeyeon tertawa, merekapun pulang keapartemen Taeyeon masih bergandengan tangan dan senyum lebar tidak lepas dari bibir mereka walaupun pipi mereka terasa kaku karena terlalu banyak tersenyum namun itulah yang mereka rasakan mereka bahagia untuk saat ini dan mereka menikmatinya.

*****

  Sehun mendorong Yura masuk kedalam apartemennya, Sehun segera mengunci pintu dan berbalik kearah Yura yang sudah menunggunya dia tersenyum kearah Sehun dengan mata yang setengah tertutup karena mabuk. Sehun menyeringai dan menarik Yura yang sudah bersandar di tembok karena kakinya sudah terlalu lelah menahan berat tubuhnya, bibir Sehun mencium leher Yura dan Yura mengeluh nakal.

Tangan Yura meremas rambut Sehun dan Sehun melepaskan jaket Yura lalu melemparkannya kelantai, Sehun berhenti menciup leher Yura dan pindah kebibir gadis itu sehingga lipstik merah gadis itu menempel di bibirnya juga menodai bibir pink pucatnya.

Yura menarik dasi Sehun dan melepaskannya dengan kasar, Sehun tidak peduli yang jelas misinya sekarang adalah mengangkat tubuh Yura menuju kamar apartemennya. Sehun menarik kaki Yura namun Yura melawan dan tertawa saat dia mendengar Sehun mengerang kesal percis seperti anak kecil yang kehilangan lolipopnya, Yura menyentuh bibir Sehun dan Sehun menciumi jari Yura.

“Ck…tidak bisa menunggu?” Tanya Yura dengan ekspressi menggodanya dan Sehun menyeringai.

“Apa aku kelihatan speerti orang yang sabar?” Tanya Sehun kembali dia mendorong Yura menuju kamarnya dan Yura melingkarkan tangannya dipundak Sehun.

PRANGGG!!!

  Mendengar suara itu Sehun dan Yura langsung berhenti berciuman, mereka melirik kearah ruang tengah apartemen Sehun. Mereka dia sebentar karena masih terkejut, Sehun hendak mengatakan sesuatu namun Yura mendahuluinya.

“Suara apa itu Sehun?” Tanya Yura dan Sehun melirik kearah ambang pintu kamarnya.

“Kau diam disini,aku akan melihatnya.” Sehun berkata dan Yura mengangguk.

“Hati-hati..”Ucap Yura, dia dengan berat hati melepaskan tangan Sehun dan membiarkan Sehun pergi keruang tengah apartemennya.

Sehun menghidupkan lampu ruang tengah dan dia terkejut saat dia melihat seekor burung hantu ada dijendelanya, Sehun melirik kearah lemari televisinya dan dia bisa melihat semua foto dia dan Jiyoung ada dilantai. Sehun yang melihat itu segera mendekat namun dia terkejut saat melihat darah keluar dari fotonya dengan Jiyoung, darah itu mengalir dan menyebar kelantai apartemen Sehun.

Sehun terlalu terkejut untuk bereaksi, dia menatap kearah darah yang mengalir mendekati kakinya dia terus menatap pada darah itu.

“Sehun!” Sehun mendengar Yura memanggil, Sehun melirik kebelakangnya dan dia melihat  Yura bediri dibelakangnya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Yura khawatir, dia mendekat dan menyentuh tangan Sehun.

Sehun melirik lagi kearah lantainya namun darah yang tadi mengalir sudah menghilang, dia melirik kearah jendela apartemennya dan burung hantu yang tadi menatap tajam kearahnya sudah tidak ada.

“Oh..fotomu semuanya jatuh.” Yura menatap kearah bingkai foto yang berserakan dilantai.

“Tidak apa-apa, aku akan membersihkannya sebaiknya kau menjauh.” Sehun menarik Yura untuk menjauh dari pecahan bingkai foto.

“Aku akan membawa sapu.” Yura mengatakan, dia berjalan menuju dapur dan dia membawa sapu juga dust pan berwarna coklat yang dimiliki oleh Sehun.

Yura melihat Sehun menyapukan semua pecahan kaca itu dan memasukannya kedalam dust pan, setelah Sehun selesai Yura mengambil bingkai foto yang pecah namun matanya melebar saat dia melihat foto Sehun dan Jiyoung. Sepertinya Sehun benar-benar belum bisa melupakan Jiyoung, dia bahkan masih memajang foto wanita itu di apartemennya dan itu sedikit membuat Yura cemburu.

“Kau masih menyimpan foto Jiyoung Eonni?” Yura bertanya, dia berbalik kebelakang dan menemukan Sehun terdiam ditempatnya.

“Aku..”

“Tidak usah menjelaskannya.” Yura berkata dia berjalan menuju pintu apartemen dan mengambil jaketnya.

“Yura, tunggu aku bisa menjelaskannya.” Sehun mencegah Yura untuk pergi dan menarik lengan gadis itu.

Yura marah sekali dia berbalik dan melepaskan tangan Sehun dengan kasar, ia tidak mendengar panggilan Sehun dan terus berlari keluar apartemennya. Airmatanya mulai membasahi pipinya dan dia menangis, dia benci merasakan perasaan ini dia benci untuk menjadi nomor dua di hati Sehun.

Walaupun Sehun bersamanya sekarang dia tahu jika didalam hatinya Sehun masih mencintai Oh Jiyoung, kekasih gelapnya dan itu membuat Yura semakin membenci dirinya sendiri karena walaupun begitu hatinya masih menginginkan Sehun. Dia terlanjur mencintai pemuda itu,sekarang sudah terlambat baginya untuk melupakan semuanya karena Yura tahu dia sudah mencintai Oh Sehun.

Sehun mengerang kesal, dia menjengut rambutnya dengan frustasi dia berjalan masuk ke apartemennya dan membantingkan pintu. Dia melirik kearah foto Jiyoung yang ada diatas televisinya, Jiyoung sangat cantik sekali dan dia tersenyum kearahnya namun entah kenapa Sehun hanya ingin membantingkan foto itu karena dia sangat marah.

“Apa kau senang?! Mempermainkanku seperti ini Oh Jiyoung?!” Sehun membentak kearah foto Jiyoung, namun Jiyoung tetap diam dan tersenyum kearahnya.

“Aku benci kau!kenapa kau harus mati dan menyiksaku seperti ini!” Sehun membentak lagi, namun heninglah yang menemaninya tak ada suara apapun selain suara denting jam di apartemennya.

******

“Bagaimana denganmu Eunmi? Sekarang kau bekerja dimana?” Seorang wanita paruh baya bertanya pada Eunmi, Eunmi yang sedang melamun langsung menatap kearah wanita itu.

“Oh..aku bekerja diperusahaan Daeguk tante.” Eunmi menjawab dan tersenyum, ketiga teman ibunya yang sekarang ada didepannya hanya tersenyum tipis.

“Oh bagus kalau begitu, setidaknya kau tidak penganguran.” Salah stu teman ibunya berkata, namun perkataannya itu sedikit terdengar meremehkan.

“Oh iya, bagaimana denganmu Eunhee-ya? Apa kau sudah diterima diperusahaan besar yang kau lamar bulan kemarin?” Wanita itu sekarang melirik kearah adik kembarnya, Eunhee hanya tersenyum tipis.

“Iya, tante..” Eunhee menjawab singkat dan Eunmi hanya bisa meremas gelas yang dia pegang.

“Wah.. Eunhee memang sangat pintar dan berbakat, pantas saja kau di terima di perusahaan besar.” Semua teman itu ibunya memuji, mereka bahkan tidak melirik sedikitpun kearah Eunmi.

“Ah tante itu bukan apa-apa, Eunmi lebih pintar dariku..dia bahkan mendapatkan rekomenasi untuk bekerja di Daeguk.” Eunhee menyentuh pundak Eunmi, Eunmi hanya tersenyum tipis malas untuk merespon pada pujian Eunhee.

“Aigoo, Eunhee-ya kau memang rendah hati.” Teman ibunya menyentuh Eunhee dan Eunhee tersenyum.

“Aku akan mengambil minum lagi,permisi.” Eunmi berkata dan dia berjalan menjauh dari Eunhee, dia bisa merasakan kalau Eunhee melirik kearahnya penuh dengan kekhawatiran.

Tentu saja dia tahu, mereka kembar mereka lahir pada waktu yang hampir sama wajah merekapun hampir sama yang membedakan mereka hanyalah tahi lalat kecil yang ada di mata kanan Eunmi karena Eunhee tidak memilikinya. Walaupun mereka kembar sifat mereka benar-benar sangat berbeda, Eunhee lebih ceria dan pintar dia selalu menjuarai lomba-lomba dan populer sedangkan Eunmi…dia sama populernya dengan Eunhee namun dia lebih populer dikalangan siswa lelaki.

Bagaimana tidak? Kulit mulus,badanya yang lansing dan parasnya yang sangat cantik menggoda setiap mata lelaki yang melihatnya. Setiap hari dia selalu mendapatkan pujian tentang parasnya, ada yang mengatakan dia seksi,lucu dan menggemaskan namun masalahnya didalam keluarga Eunmi semua itu tidak pernah berarti karena yang selalu menjadi sorotan adalah Eunhee.

Eunmi menyimpan gelasnya dimeja dan berjalan menuju taman belakang rumah besarnya, ayahnya terlihat sedang mengobrol dengan rekan kerjanya. Lelaki tua itu tertawa sesekali dan akhirnya tatapan Eunmi dan ayahnya bertemu, Eunmi tersenyum kearah ayahnya dan ayahnya membalas senyuman itu.

“Eunmi-ya!” Ayahnya memanggil dan Eunmi tersenyum, dia berjalan kearah ayahnya.

“Eunmi-ya, kenalkan ini rekan kerja ayah direktur Kim Dongwoon dan pengacara Shim Changmin.” Ayahnya berkata, Eunmi langsung menyapa dua lelaki yang ada didepannya dengan sopan.

“Aigoo,kau tidak bohong saat kau bilang anakmu cantik.” Dongwoon berkata, dan ayah Eunmi tersenyum dengan bangga.

“Tentu saja, anakku yang satu ini sangat cantikkan? Dia kebangganku.” Ayah Eunmi menyentuh bahu Eumi, Eunmi hanya bisa tersenyum malu mendengar pujian ayahnya.

“Oh Iya,apa kau sudah bekerja Eunmi-ya?aku mendengar dari ayahmu kau baru lulus kuliah.” Pengacara Shim bertanya dan Eunmi mengangguk.

“Aku sudah bekerja paman, aku bekerja di perusahaan Daeguk.” Eunmi menjawab.

“Oh..perusahaan itu? Aku dengar perusahaan itu masih baru.” Pengacara Shim mengungkapkan.

“Benar, tapi perusahaan Daeguk mulai berkembang sekarang paman.” Eunmi menjelaskan, kedua teman ayahnya itu mengangguk.

“Aku dengar pemimpin perusahaan Daeguk adalah anak dari direktur Oh Sangwoo? Apa itu benar?” Tanya Teman ayahnya.

“Entahlah Dongwoon-shi, mungkin saja.” Ayah Eunmi menjawab.

“Itu lebih bagus, direktur Oh Sangwoo sangat berbakat dia bahkan bisa menyelamatkan krisis perusahaan Guangde.” Seorang lelaki yang berdiri disamping Dongwoon berkata.

“Ya, belakangan ini Guangde mendapatkan banyak masalah mungkin karena pemimpin baru mereka.” Pengacara Shim membahas, Eunmi bisa melihat Ayahnya dan Dongwoon mengangguk.

“Ya, sebaiknya mereka segera meliris barang yang baru….pasaran sekarang sedang bagus.” Ayah Eunmi memberi usulan.

“Pendapat yang bagus, bagaimana denganmu Eunmi? Apa menurutmu perusahaan Guangde harus meluncurkan produk baru?” Pengacara Shim melirik kearah Eunmi dan Eunmi mengangguk.

“Ya tentu saja, apalagi sekarang pasar sedang bagus sebaiknya mereka meluncur model baru dan mempromosikannya segera sebelum pasar kembali stabil  apalagi mereka perusahaan fashionkan? Mereka harus terus mengikuti perkembangan.” Eunmi menjawab dan dia bisa melihat kedua teman ayahnya mengangguk kagum.

“Bagus Eunmi, kau sebaiknya cepat-cepat mendapatkan promosi di Guangde.” Ayahnya mengelus kepalanya.

Eunmi tersenyum bahagia, dia memang selalu menyukai ayahnya dari dulu karena sepertinya hanya ayahnyalah yang menyukainya dia tidak pernah memiliki chemistry yang baik dengan wanita dia selalu di kelilingi oleh lelaki seperti ini.

“Paman! Aku mencarimu kemana-mana!” Tiba-tiba saja suara seorang lelaki terdengar.

Eunmi yang mendengar panggilan itu meliriknya dan dia mendapati seorang lelaki tinggi yang menggunakan jas putih dengan kemeja biru berdiri tak jauh darinya, lelaki itu tampan sekali dengan rambut coklatnya yang dipotong rapih, Lelaki itu mendekat dan berjalan kearah pengacara Shim.

“Oh..Howon, maaf aku lupa membalas pesanmu.” Pengacara Shim berkata.

“Tidak apa-apa paman.” Howon menjawab dan tersenyum tipis, dia melirik kearah Eunmi yang berdiri disamping ayahnya.

“Oh iya, kenalkan..ini temanku direktur Kim Dongwoon dan ini Direktur Jo Jihoon dan anaknya Jo Eunmi.” Pengacara Shim mengenalkan.

“Senang bertemu dengan anda direktur Jo, Direktur Kim.” Howon berjabat tangan dengan ayah Eunmi dan direktur Kim lalu dia menatap kearah Eunmi sejenak.

“Kau juga, Jo Eunmi-shi.” Howon menjabat tangan Eunmi, Eunmi hanya tersenyum lalu dia menarik kembali tangannya.

“Dia sepupuku, jika kalian suka photografi wajahnya tidak asing lagi.” Pengacara Shim berkata.

“Oh apa kau seorang model?” Eunmi bertanya dan Howon tersenyum walaupun dia menggelengkan kepalanya.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu Jo Eunmi-shi?” Tanya Howon dan Eunmi mengangkat bahunya.

“Kau tinggi, kau juga tidak jelek.” Eunmi menjawab dan Howon tertawa mendengar jawaban Eunmi begitu juga ayahnya.

“Terimakasih nona Jo Eunmi, apakah itu pujian?” Howon bertanya sambil mengangkat alisnya.

“Aku hanya mencoba bersikap sopan.” Ungkap Eunmi sambil menyeringai.

“Aku seorang fotografer Jo Eunmi-shi.” Howon menjelaskan dan Eunmi mengangguk.

“Oh begitu, sepertinya jawabanku salah.” Eunmi berkata.

“Tidak sepenuhnya, aku dulu seorang model saat aku kecil.” Howon berkata.

Eunmi menatap kearah Howon lalu dia menunduk malu, tanpa Howon sadari dia menatap kearah Eunmi mengacuhkan pamannya dan ayah Eunmi yang sedang mengobrol.

“Appa, aku harus pergi.” Eunmi menyentuh lengan ayahnya dan ayahnya mengangguk.

Eunmi melirik sekilas kearah Howon seakan gadis itu menyuruh Howon untuk mengikutinya, Howon menyeringai dan dia langsung berpamitan pada pamannya dan pergi mengikuti langkah Eunmi.

“Eunmi-shi!” Howon memanggil saat mereka sudah jauh dari pamannya dan juga ayah Eunmi sekarang mereka ada dikoridor rumah. Tak ada seorangpun disana hanya ada Eunmi dan Howon, Eunmi melirik kearah Howon.

“Ya, Howon-shi?” Tanya Eunmi.

“Hm..aku..apa kau mau melihat koleksi fotografiku?” Howon menawarkan.

“Fotografi? Maaf Howon-shi, tapi aku rasa aku tidak terlalu mengerti fotografi.” Eunmi berkata, dia bisa melihat ekspressi kecewa diwajah Howon dia tahu jika Howon menginginkannya.

“Kalau begitu aku akan menjelaskannya, siapa tahu kau akan menyukainya.” Howon mengusulkan, dia terdengar sangat putus asa dan itu membuat Eunmi ingin tertawa.

“Baiklah, jadi kapan aku harus melihat koleksimu?” Tanya Eunmi.

“Ini,hubungilah aku…aku akan menjemputmu.” Howon mengedipkan matanya, Eunmi tersenyum dan mengambil kartu nama yang Howon berikan padanya.

Eunmi menatap kearah sosok Howon yang menjauh, lelaki itu melambai kearahnya dan Eunmi membalasnya, Eunmi terkejut saat sebuah tangan menyentuh bahunya dan dia melirik kebelakang.

“Kartu nama siapa itu?” Tanya Eunhee yang melihat karu nama ditangan kembarannya.

“Lee Howon.” Eunmi membalas, dia meremas kartu nama itu dan berbalik menjauh dari Eunhee.

“Eunmi!” Eunhee memanggil dan Eunmi berhenti berjalan.

“Apa kau marah?” Tanya Eunhee dan Eunmi hanya menyeringai.

“Menurutmu?” Dia kembali bertanya lalu pergi menuju lantai atas rumah mereka, Eunhee menatap kearah Eunmi dia tidak pernah mengerti kakak kembarannya itu.

*****

“Hwajang-nim, ada telepon dari tuan Wu Zhongren.” Joonmyeon bisa mendengarkan sekertarisnya berkata di speaker telepon.

“Sambungkan aku.” Joonmyeon menjawab malas, dia berhenti menandatangani dokumennya dan mengambil gagang telepon.

“Zhongren-ah! Apa kabar?” Tanya Joonmyeon dengan riang.

“Hyung, maaf aku menganggu tapi aku hanya ingin memberitahu kalau kami akan mengadakan acara makan malam.” Zhongren menyampaikan.

“Makan malam?”

“Ya, Hanbyul noona dan Yifan hyung akan kembali nanti sabtu aku hanya ingin bertanya jika kau tidak sibuk.” Zhongren berkata.

“Oh tentu saja, hari sabtu ya? Aku rasa aku bisa datang.” Joonmyeon menyetujui.

“Bagus kalau begitu, aku harap kau datang Hyung.” Zhongren terdengar senang sekali.

“Ya, tunggu saja aku eoh? Aku akan datang.” Joonmyeon menjawab.

“Maaf kalau menganggu Hyung, aku hanya ingin kau datang karena kau adalah keluargaku satu-satunya.” Zhongren mengungkapkan dan Joonmyeon menyeringai.

“Tentu saja Zhongren, tidak apa-apa kau tidak menganggu.” Joonmyeon berkata, dia menutup teleponnya setelah Zhongren berpamitan.

Dia tersenyum puas dan melirik kearah foto keluarga yang ada dimejanya, ayah dan ibunya terlihat rapih sekali dengan baju formal mereka begitu juga dirinya. Masih terlihat sangat lugu dan muda, dia tidak ingat kapan dia mengambil foto ini karena dia terlihat masih kecil difoto itu ibu dan ayahnya juga masih muda dan segar berbeda sekali dengan sekarang.

“Abeoji, sepertinya anakmu yang satu ini lebih bodoh dariku.” Joonmyeon berkata.

“Lalu kenapa kau ingin aku membagi perusahaan ini dengan dia?” Joonmyeon menatap kearah foto ayahnya yang hanya tersenyum pada dia, dia menutup foto itu.

Joonmyeon melirik kearah pintu kantornya saat dia mendengar ketukan pintu, Joonmyeon merespon dengan perkataan singkat dan dia bisa melihat sosok Changmin berdiri tak jauh darinya.

“Oh..pengacara Shim.” Joonmyeon langsung berdiri saat dia melihat sosok pengacara keluarganya itu.

“Joonmyeon-ah, maaf menganggu aku tahu kau sibuk.” Changmin meminta maaf dan Joonmyeon menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa pengacara Shim, sebenarnya ada apa? Kau biasanya menemuiku dirumah.” Tanya Joonmyeon dan dia membiarkan Changmin untuk duduk di terlebih dahulu.

“Aku hanya ingin menanyakan soal Jongin..apa kau sudah menemukan dia?” Tanya Changmin dan Joonmyeon menggelengkan kepalanya.

“Maaf pengacara Shim, aku sudah pergi kebeberapa panti asuhan yang ada di mokpo aku tidak menemukannya.” Joonmyeon berbohong, dia menunduk menunjukan ekspressi sedihnya.

“Joonmyeon-ah, tidak apa-apa…kau sudah berusaha.” Changmin menyentuh bahu Joonmyeon penuh dengan simpati.

“Aku mungkin akan mencarinya di panti asuhan lain, dia pasti tidak jauh..” Ucap Joonmyeon.

“Aku akan membantu jika kau mau..” Changmin menawarkan, Joonmyeon segera menggelengkan kepalanya.

“Tidak pengacara Shim, kau sangat sibuk aku tidak mau menganggu waktumu lagipula ini masalah keluargaku, aku akan menyelesaikannya sendiri.” Joonmyeon menjawab dan dia menyentuh tangan pengacara Shim.

“Pengacara Shim terimakasih banyak, kau sudah membantu sangat banyak dan aku rasa aku tidak bisa meminta lebih darimu.” Joonmyeon memberikan Changmin senyumnya, Changmin ikut tersenyum.

“Taehyun benar-benar sudah mendidikmu dengan baik, tidak aneh jika dia ingin kau menjadi direktur utama perusahaan ini.” Changmin memuji.

“Apapun untuk abeoji, aku akan menurutinya pengacara Shim..aku hanya ingin abeoji tenang disana.” Ungkap Joonmyeon.

“Oh..soal itu kau tak usah khawatir, jika aku memiliki anak sepertimu Joonmyeon-ah aku akan tenang disana, kau dewasa dan bisa diandalkan, kau juga tampan dan pintar apalagi yang kurang darimu eoh?” Changmin tertawa dan Joonmyeon hanya bisa tersenyum malu.

“Pengacara Shim kau membuatku malu, aku tidak seperti itu.” Joonmyeon menyangkal.

Pengacara Shim tertawa dan akhirnya dia berhenti dan menatap kearah Joonmyeon penuh dengan kebanggaan, dia tersenyum saat dia sadar kalau Joonmyeon mengingatkannya pada sahabatnya Taehyun.

“Lihat kau, sekarang kau sudah besar padahal aku rasa aku baru saja mendengar berita kalau ibumu melahirkan kemarin, waktu benar-benar berjalan sangat cepat sekarang aku sudah tua dan beruban.” Changmin bercanda.

“Pengacara Shim, kau belum tua…kau hanya sudah dewasa sekarang.” Joonmyeon menghibur.

“Joonmyeon..Joonmyeon..kau tak usah berbohong untuk membuatku senang, lainkali datanglah kerumahku jika kau ada waktu kita bisa bermain catur atau golf.” Changmin mengundang.

“Aku akan datang jika aku ada waktu, tapi pengacara Shim..bagaimana jika aku tidak menemukan Jongin? Apa yang akan terjadi?” Tanya Joonmyeon khawatir.

“Joonmyeon…jika kau tidak menemukan Jongin tidak apa-apa, kau tak usah khawatir perusahaan ini akan menjadi milikmu.” Changmin memberitahu, Joonmyeon mengangguk dia ingin sekali tersenyum namun dia harus menjaga ekspressinya sekarang karena dia ada disekitar Changmin.

******

   Langit sudah menjadi jingga dan matahari perlahan terbenam, suara angin yang berhembus terdengar sangat menenangkan namun Yifan kelihatan tidak tenang. Dia menatap kearah buku tabungan yang mama Wu berikan padanya sebelum mereka pergi ke pulau Jeju, dia tidak mengerti kenapa mama Wu memberikan buku tabungan ini padanya sampai akhirnya dia membukanya.

Didalam buku tabungan itu tertulis beberapa transaksi yang Zhoumi kirimkan ke akun bank mama Wu dan didalam buku tabungan itu dia juga menemukan secarik kertas, didalam kertas itu berisi tulisan tangan Zhoumi.

Gunakanlah uang ini untuk Jiaheng, sekolahkan dia sampai dia menjadi sarjana jangan katakan apapun tentang semua ini pada Jiaheng setidaknya sampai aku tidak ada.

Li Zhoumi

Yifan meremas surat itu dan airmatanya langsung mengalir, kenapa dia baru tahu sekarang? Kenapa dia begitu bodoh mempercayai kalau semua uang yang dia terima selama ini hanya sumbangan dari orang asing?! Dia marah sekali.

Dia marah sekali pada dirinya yang tidak pernah mengatakan terimakasih pada ayahnya apalagi sekarang Zhoumi sudah tidak ada, dia benci karena dia tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Zhoumi jika dia tahu tentang ini mungkin dia tidak akan mengutuk dan membenci Zhoumi seperti sekarang.

Mungkin jika dia tahu semua ini dia akan menyayangi ayahnya dan ada disisinya sampai ayahnya itu menghembuskan nafas terakhirnya, mungkin dia akan berdoa dimakan Zhoumi dan memaafkan semua kesalahannya.

Hyojin menatap kearah punggung suaminya yang berlutut sambil menangis, Hyojin menelan ludahnya menahan airmatanya saat dia mendengar isak tangis Yifan dia tahu bagaimana perasaan Yifan namun dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa berdiri disana menjadi saksi kesedihan Yifan, Hyojin berjalan mendekat dan dia berlutut disamping Yifan.

Suaminya itu benar-benar menangis, airmatanya membasahi buku tabungan yang dia pegang dan tangannya meremas kuat-kuat surat dari Zhoumi. Hyojin memeluk Yifan dengan erat dan Yifan melingkarkan tangannya dipunggung Hyojin, Hyojin bisa merasakan cairan hangat menyentuh bahunya.

“Shutt..Oppa..ini semua bukan salahmu,kau tidak tahu Oppa.” Hyojin menghibur dan mengelus kepala Yifan.

“Selama ini…aku mengutuknya..aku membencinya..” Yifan berkata ditengah isak tangisnya.

“Selama ini aku berharap kalau dia menghilang.” Yifan melanjutkan, walaupun dia mencoba menahan tangisnya dia tidak bisa berhenti menangis.

“Aku anak yang durhaka..” Ungkap Yifan.

“Tidak Oppa, kau hanya tidak tahu semua ini hanya salah paham..” Hyojin melepaskan pelukannya dan dia menyeka airmata Yifan.

“Sudahlah, besok kita akan pulang dan semuanya akan baik-baik saja…kau bilang kau ingin bertemu dengan Zhongren dan Hyojungkan? Kau tidak bisa terlihat sedih jika kau ingin bertemu mereka nanti mereka khawatir.” Hyojin tersenyum, Yifan yang melihat Hyojin tersenyum ikut tersenyum juga.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tanpamu.” Yifan menyentuh tangan Hyojin dan Hyojin mendekat membuat dahi mereka bersentuhan.

“Kau tenang saja, aku akan ada disisimu…sampai kapanpun.” Hyojin berbisik dan Yifan mencium bibir Hyojin sekilas.

“Apa kau lapar? Aku sedikit lapar..” Hyojin mengungkapkan membuat Yifan tertawa.

“Kau baru saja merusak moment romantis kita Nyonya Wu.” Yifan berkata dan Hyojin memutar matanya.

“Oh ayolah, kita bisa memiliki momen romantis yang lainnya nanti.” Ucap Hyojin dia berdiri begitu juga dengan Yifan.

“Bagaimana kalau kita makan jajangmyeon? Aku sedang ingin makan itu..” Hyojin menarik Yifan keluar dari villa.

Hyojin melingkarkan tangannya dilengan Yifan dan Yifan dengan senang hati menggandeng Hyojin, mereka mengobrol beberapa saat sampai akhirnya Hyojin tiba-tiba saja berhenti berjalan dia melirik kearah kanan dan kirinya membuat Yifan kebingungan istrinya itu terlihat sedikit aneh.

“Ada apa Hyojin?” Tanya Yifan dan Hyojin melirik kearah Yifan.

“Bukan apa-apa..” Hyojin menjawab sambil menunduk.

“Kau yakin? Apa kau tidak sakit?” Tanya Yifan, dia menyentuh dahi Hyojin dan Hyojin melepaskan tangan Yifan dari dahinya.

“Aku tidak apa-apa Oppa, kau tak usah khawatir..” Hyojin tersenyum.

‘Hyojin..ini aku!’

   Tiba-tiba saja Hyojin bisa mendengar suara itu, dia benar-benar panik namun dia mencoba untuk tenang dan memegang tangan Yifan. Dia bahkan tidak sadar jika tangannya gemetaran karena dia terus mendengar suara itu, suara itu sangat tidak asing baginya namun dia tetap tidak ingin menggubris suara yang terus memanggilnya.

“Hyojin..” Yifan memanggil.

“Oppa bisakah kita berjalan lebih cepat?” Hyojin bertanya dan Yifan mengangguk menuruti keinginan istrinya.

Tanpa Yifan dan Hyojin sadari sesosok wanita berdiri dibelakang mereka, wanita itu memakai baju putih dengan rambut coklatnya yang ikal. Wanita itu menatap sedih kearah Hyojin, sepertinya usahanya untuk berkomunikasi benar-benar gagal.

To Be Continue…

Jangan lupa komennya🙂

PS:

Tadaaaa!!! chapter pertama ada disini maaf yah buat chapter pertamanya sedikit pendek tapi tenang aja setelah chapter ini mungkin length nya akan edikit bertambah😀 gimana reader’s Yongguk sama Taeyeon so sweet banget kan? adegan horror nya masi pemanasan ini di tunggu aja deh adegan yang lebih menegangkannya ya! annyeoung! ^^//

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

27 thoughts on “Great Ambition – Chapter 1

  1. Wahhh daebak thor.. Akhirnya disini pernikahan yifan-hyojin tuntas😀
    sehun ama hyojin udh mulai dihantui tuh.. Sebenarnya apa sih penyebab jiyeong meninggal ?
    Lanjutt thoor😀
    jangan lama2 ya thor

  2. WAAAAAAAAAAAA AKHIRNYAAA. aduh aku senenh bangetttt sehun jadi pemeran utama nya>_< itu sehun nya sama yura</////3 aku lebih suka sehun-jiyoung daripada sehun-yura sih wkwkwk. eh itu yang manggil hyojin jiyoung bukan? OuO. gak sabarrr cepat lanjur author-nim'-')7

  3. kyaaakkkk ini makin seru ajaaa …
    udah mulai mistis nih,. hihihi
    duh junmyoun jahaat ahhh…
    semoga jongin gpp u,u
    banyakin moment hyojin yifan juga ya thor kekekek *obat kangen
    waah itu psti arwahny jiyoung yaa???
    ditunggu klnjutannya^^

  4. Huwaaaaa..pas part akhirnya merinding aku bacanyaaaa…horoorr bingit thorr..hhii…
    Keren lgi nihh ceritanyaaaa…..
    Hyojin sama yifan cpet punya bayi donkkk…hehee..
    Sehunn..kendalikan dirimu…tu kann yuranya marahhh..nah lohhh…malah nyalahin jiyoung lagi…hhuhuhuu…itu lagi pas bingkai fotony berdarah..horor juga hhahaa..

    Junma oppa..aku yakin kau punya rencana licik buat jongin…hhohohoo..
    Next chapter thor😀
    Semangaaaaattttt!!

  5. waaah, aku baru baca ini :O
    Bagus kak, soalnya sayang kalo orang seunyu sehun cuma ‘numpang lewat’ di ff kemarin :))
    Tidaaak. selamatkan hyojin. Kesian kemarin dia udah kayak gitu, eeh disini jugak, tapi gapapa deh :))
    keep writing kak seven :))

  6. Iaa kependekan nih hehehe….makin seru aja nih di tambah cast baru dan tentunya masalah baru…penasaran kalo emang yang manggil hyojin itu jiyong..mau apa ya ko ktmu hyojin??okelah pokoknya selalu menunggu part berikutnya…

  7. Hallo thor aku reader baru, salam kenal🙂 ff’a bagus thor cerita’a seru.. jadi penasaran pengen baca chap selanjut’a😀

  8. Ini lanjutan ff kamu yg kemarin y! Maaf lama gak updt ff kamu karena sibuk bgt… Tp tnang aja q te2p bkal ngkuti ff kamu trus kog. Semangat y!

  9. tbc datang disaat yg tidak tepat!! huuh….

    satu pertanyaan saya “Siapa hyojin??” mksdku dya manusia’kan????? awalnya dikit datar & kurang greget Mgkn Karena lom tau inti ceritany Ea #garukkepala

    hummmmz castny pake exo Ea, menarik meski a aku bukan fans exo tetep tergntng alur ceritany Dan kurasa ff Nie lmyn menghibur

    ok,segitu aja perknln dri saya mau lnjtn ke part selnjtny sblm tertinggl jauh
    anyeong kkalkaeyeo…

  10. mwoya?! jdi ini sequel

    aigoooo…pantes aja bnyk yg gk q ngerti.. gomawo chingu!!
    ok ,q bakal bc ff tale two siblingny…. tpi itu ceritany berkaitan kan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s