Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 17/Last episode]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                             Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng                [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                   [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                         [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                   [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                           [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                           [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

Chapter:

1, 2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16

17

Last Chance

Hanbyul dan Yifan berjalan kedalam rumah sakit sambil bergandengan tangan, Hanbyul Tidak megatakan apapun dan membiarkan Yifan menggenggam tangannya dan sesekali Yifan melirik kearahnya mungkin khawatir jika dia masih menangis entahlah Hanbyul tidak terlalu peduli.

Mereka berjalan dengan pelan rasanya Yifan tidak ingin perjalanan mereka berakhir, dia ingin terus seperti ini berjalan bersama Hanbyul dan menggengam tangan wanita itu selamanya. Namun Yifan kecewa saat dia sadar kalau sekarang mereka sudah ada didepan ruangannya, Hanbyul melepaskan tangannya dari genggaman Yifan.

“Sebaiknya kau istirahat, aku akan pulang.” Hanbyul berkata sambil menunduk.

“Kau yakin kau tidak apa-apa?” Yifan menyentuh pipi Hanbyul namun Hanbyul menjauh dari sentuhan Yifan.

“Aku baik-baik saja.” Hanbyul menjawab dan dia berbalik meninggalkan Yifan.

Entah kenapa rasanya berat sekali membiarkan Hanbyul pergi, jika bisa dia ingin memeuk gadis itu semalaman untuk mengobati rasa rindunya selama ini. Yifan ingin sekali memanggil Hanbyul namun entah kenapa lidahnya terasa kelu, dia berperang dengan dirinya sendiri memilih antara memanggil Hanbyul atau tidak sampai akhirnya hatinya menang.

“Hanbyul!” Yifan memanggil dan Hanbyul melirik kearah Yifan.

Yifan berlari dan segera memeluk Hanbyul, kali ini pelukannya begitu erat dan hangat walaupun Hanbyul terkejut dia tidak mendorong Yifan dia tahu lelaki itu tidak merindukannya.

“Bagaimana kalau kau bersamaku malam ini?aku mohon..” Yifan meminta, atau mungkin lebih tepatnya memelas karena suaranya terdengar sangat putus asa.

“Aku bukan boneka yang bisa kau mainkan kapan saja Yifan-shi.” Hanbyul menjawab dan Yifan menghela nafasnya, apakah dia gila? Tentu saja Hanbyul tidak akan menerima tawarannya.

“Aku mohon..hanya malam ini.” Yifan berkata dia memeluk Hanbyul dengan erat.

“Lepaskan aku Yifan-shi..” Hanbyul mendorong.

“Aku tidak bisa, jika aku melepaskanmu kau akan pergi lagi dariku..” Yifan menolak.

“Yifan-shi, semua orang menatap kearah kita..” Hanbyul berbisik.

“Biarkan saja, biar semua orang tahu betapa kejamnya kau.” Yifan berkata dan Hanbyul menghela nafasnya, dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Yifan.

“Yifan..Hanbyul..”

Suara itu mengagetkan Yifan dan Hanbyul, keduanya berbalik dan melihat Luhan berdiri dibelakang mereka lelaki itu kelihatan kebingungan. Hanbyul segera mendorong Yifan dan pergi meninggalkan Luhan, tanpa mengatakan apapun bahkan gadis itu tidak melirik sedikitpun kearah Luhan dan itu membuat Yifan penasaran.

Luhan menatap kearah Yifan seakan lelaki itu mengatakan pada dirinya untuk menjauh dari Hanbyul, Yifan tidak mengerti kenapa Luhan menatap seperti itu kearahnya sampai akhirnya Luhan mendekat.

“Sebaiknya kau menjauh dari Hyojin.” Luhan memberi peringatan, Yifan terkejut saat mendengar nama Hyojin keluar dari mulut Luhan.

“Maksudmu?” Tanya Yifan.

“Kau benar, Hyojin masih hidup..” Luhan akhirnya mengaku, Yifan marah sekali dia langsung menarik kerah baju Luhan.

“Aku tahu! Selama ini aku tahu kau berbohong padaku!” Yifan membentak dan Luhan melepaskan tangan Yifan dari kerah bajunya.

“Cukup ge!” Luhan membentak dia keliahtan sangat marah, Yifan mencoba menahan emosinya.

“Masuklah, sebaiknya kita membahas ini didalam.” Yifan membuka pintu ruangannya untuk Luhan, Luhan berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada disamping ranjang Yifan.

“Aku tidak akan lama disini, kau tak usah menyiapkan apapun.” Luhan berkata saat dia melihat Yifan menyeduh teh.

“Tidak apa-apa, bagaimanapun kau tamuku.” Yifan akhirnya menuangkan teh nya kedalam dua gelas.

Dia membawa teh itu dan menyimpannya diatas meja, Luhan tersenyum tipis kearah Yifan lalu meneguk teh yang Yifan berikan padanya.

“Jadi, kau kesini hanya untuk mengatakan jika Hanbyul adalah Hyojin?” Yifan bertanya dan Luhan menggelengkan kepalanya.

“Kau pikir aku akan mundur begitu saja?” Luhan bertanya dan Yifan menatap kearah Luhan penuh tanya.

“Aku kesini untuk mengatakan agar kau tidak mendekati Hanbyul lagi.”Luhan menyimpan gelasnya kembali.

“Berhenti mengharapkan dia ge, dia tidak akan pernah kembali padamu..kau pikir dengan semua yang telah kau lakukan padanya dia akan memaafkanmu?” Luhan menatap tajam kearah Luhan.

“Kau tidak tahu apa-apa Luhan..kau bukan Hyojin.” Yifan menjawab namun Luhan menyeringai.

“Kau benar-benar menyedihkan, dulu Hyojin mungkin mencintaimu ge itu karena dia tidak tahu yang sebenarnya tapi sekarang, aku rasa cukup berbeda Hyojin sudah tahu semua kebusukan mu.” Luhan mengungkapkan, Yifan meremas gelasnya.

“Mundurlah, kau tahu Hanbyul tidak menyukaimu Hyojinlah yang menyukaimu dan dia sudah mati sekarang berhentilah berharap dan ikuti jejak wanita itu.”

“Beraninya kau mengatakan ini padaku, apa kau begitu percaya diri jika Hanbyul menyukaimu?” Yifan bertanya.

“Mungkin untuk sekarang tidak, namun aku cukup percaya diri untuk menjaganya dan mencintainya, aku tidak akan menyakiti Hanbyul seperti kau aku akan selalu ada disampingnya di saat dia sedih ataupun senang aku cukup percaya diri jika aku bisa membahagiakan Hanbyul.” Luhan mengungkapkan dengan yakin, Yifan menghela nafasnya.

“Kau yakin bisa membahagiakan dia? Walaupun itu artinya kau harus mengorbankan dirimu sendiri apakah kau tetap akan bersama dia?” Tanya Yifan dan Luhan mengangguk.

“Cukup ge, kau tidak akan menang…kau sudah kalah saat kau melukai Hyojin.”Ucap Luhan.

“Lepaskan dia ge, dia layak mendapatkan cinta dan kebahagiaan dia sudah cukup menderita selama ini.”

Yifan menutup matanya menahan airmatanya yang akan keluar, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan rasa sakit di hatinya. Luhan benar, selama ini dia hanya bisa menyakiti Hyojin dia tidak pernah bisa membahagiakan gadis itu dan itu membuat Yifan semakin tersiksa.

“Haruskah aku melepaskan dia?” Yifan bertanya.

“Aku mohon ge, cukup…lepaskan Hyojin agar dia bisa bahagia dan tenang.” Luhan memohon, lelaki itu langsung berdiri dari duduknya.

“Sebaiknya kau pikirkan baik-baik perkataanku, bukankah kau mencintai Hyojin? Jika kau benar-benar mencintainya kau ingin yang terbaik untuk dia bukan? Aku berjanji padamu aku akan menjaga dia dan membahagiakan dia.” Luhan akhirnya berjalan menuju pintu.

“Luhan!” Yifan memanggil dan Luhan berbalik menatap kearah Yifan.

“Jika kau benar-benar mencintai Hyojin, jangan pernah tinggalkan dia..” Yifan berkata dan Luhan mengangguk.

“Aku tidak akan ge, aku akan selalu ada disisinya.”

[New York, Amerika 10:00 AM]

  Hyojung dan Zhongren berdiri didepan pintu apartemen Cecil, Hyojung kelihatan ragu namun Zhongren tersenyum kearah Hyojung menenangkan gadis itu. Dia tidak ingin kembali lagi ke Korea dengan tangan kosong, mereka berdua harus terbang kesini 14 jam lebih mereka tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan itu.

Zhongren bahkan masih bisa merasakan kalau punggungnya sakit karena bangku pesawat bukanlah tempat yang bagus untuk tidur, Hyojung menghela nafasnya sejenak lalu menekan bel yang ada disamping pintu apartemen Cecil.

Who is it?!”
“Siapa itu?”

Hyojung bisa mendengar seorang wanita berteriak dibalik pintu apartemen, Hyojung menebak kalau suara itu adalah suara Cecil.

“It’s Hyojung!” Hyojung menjawab dan dia bisa mendengar langkah kaki yang cepat mendekat kearah pintu.

Pintu apartemen Cecil langsung terbuka dan dia bisa melihat seorang wanita dengan rambut pirang dan bermata biru menatap kearahnya terkejut, wanita itu bahkan tidak mengedipkan matanya dan menatap kearah Hyojung.

Are you Cecil Lawrence?”
“Apakah kau Cecil lawrence?” Hyojung bertanya, Zhongren hanya bisa diam dia tidak terlalu mengerti bahasa inggris jadi sebaiknya dia membiarkan Hyojung yang berkomunikasi dengan Cecil.

“Hyojung-ah, kenapa kau kesini?” Tanya Cecil, Hyojung dan Zhongren terkejut ternyata Cecil lancar sekali berbicara bahasa Korea.

“Apakah kau Cecil? Kau teman Hyojin Eonni iyakan?” Tanya Hyojung, Cecil mengangguk.

“Kau benar, masuklah kau pasti lelah.” Cecil membuka pintu apartemennya lebih lebar dan membiarkan Zhongren dan Hyojung masuk.

Hyojung langsung disambut oleh foto Cecil dan Hyojin di dinding apartemen Cecil, Cecil segera membawa tiga cangkir the untuk mereka dan menyuruh merka untuk duduk. Hyojung tidak duduk dia malah berjalan kearah foto yang ada diatas meja kecil, foto itu menunjukan Luhan dan seorang wanita yang mirip sekali dengan kakaknya sedang tersenyum dipinggir merka ada Cecil dan mungkin kedua orangtua Cecil Hyojung tidak mengenal sosok kedua orang itu.

“Itu foto Hanbyul.” Cecil menjelaskan dan Hyojung berbalik kearah Cecil.

“Dia mirip sekali dengan kakakku.” Hyojung berkata dan Cecil menghela nafasnya, dia kelihatan ingin mengatakan sesuatu namun dia ragu.

“Duduklah, aku akan menjelaskan semuanya.” Cecil menyuruh, Hyojung menurut dan dia duduk disamping Zhongren yang sedang meminum teh yang Cecil berikan padanya.

“Aku tahu kau datang kesini pasti untuk menanyakan tentang kakakmu.” Cecil menebak dan Hyojung mengangguk.

“Aku tidak pernah percaya jika eonni sudah meninggal, aku tahu Hyojin eonni masih hidup …aku bisa merasakannya.” Hyojung menjawab.

“Aku tahu Hyojung.” Cecil tersenyum pahit kearah Hyojung.

“Kau tidak bisa menyembunyikan kakakku lagi Cecil-shi, aku tahu kau bekerjasama dengan dia.” Hyojung menuduh, dia membuka tasnya dan menunjukan semua bukti yang sudah dia kumpulkan.

Cecil mengambil bukti-bukti yang Hyojung kumpulkan, dia bisa melihat laporan uang di akun bank Hyojin juga beberapa foto yang membuktikan jika Cecil terlibat dengan kakaknya. Cecil tersenyum melihat semua bukti yang Hyojung kumpulkan, dia tiak tahu jika Hyojung bisa sepintar ini.

“Kau benar, aku membantu kakakmu.” Cecil akhirnya mengaku dan Hyojung menyeringai.

“Katakan, dimana kakakku sekarang?” Tanya Hyojung.

“Aku tidak bisa menjawab itu Hyojung.” Cecil menjawab dia menunduk menatap teh yang ada ditangannya.

“Kenapa? Apakah Eonni tidak ingin bertemu denganku?” Hyojung bertanya, airmatanya mengancam untuk mengalir dan Cecil menggelengkan kepalanya.

“Semuanya terllau rumit Hyojung, aku rasa jika Hyojin sudah siap dia akan menemuimu.” Cecil berkata dan Hyojung mengepalkan tangannya marah.

“kenapa? Kenapa eonni berbohong padaku? Selama ini aku kira..” Hyojung tidak menamatkan kalimatnya dan menangis, Zhongren melingkarkan tangannya dibahu Hyojung.

“Aku tahu kau pasti marah Hyojung, tapi Hyojin melakukan ini demi kebaikan kalian…keadaannya terlalu rumit sekarang, Jika Hyojin muncul semuanya akan kacau.” Cecil menjelaskan.

“Tapi kenapa? Kenapa eonni tidak menemuiku?” Tanya Hyojung dan Cecil menghela nafasnya.

“Dia ingin menemui Hyojung-ah, dia mengatakan padaku kalau dia khawatir dengan keadaanmu.” Ucap Cecil.

“Kalau boleh tahu, apakah Hyojin noona baik-baik saja? Apakah dia sudah kembali ke Korea?” Tanya Zhongren dan Cecil mengangguk.

“Dia sudah sembuh total sekarang, kalian bisa tenang.” Jawab Cecil.

“Aku lega, setidaknya dia baik-baik saja.” Zhongren berkata lalu dia mengelus punggung Hyojung.

“Aku mohon jangan membenci Hyojin, Hyojung-ah..Hyojin benar-benar menyayangimu dia tidak bisa kembali padamu karena keadaan.” Cecil menjelaskan dan Hyojung mengangguk.

“Aku yakin, jika keadaan sudah tenang Hyojin akan datang kepadamu.”

Hyojung berhenti menangis dan menyeka airmatanya, dia sedikit malu karena dia harus menangis dihadapan Cecil namun sepertinya Cecil mengerti karena dia tersenyum dengan lembut kearahnya.

“Kalian mungkin berbeda, tapi kau tahu? Hyojin benar-benar menyayangimu Hyojung-ah.” Cecil melirik kearah fotonya dengan Hyojin dan tersenyum.

“Aku harap kalian bisa bertemu secepatnya dan dia bisa menyelesaikan masalahnya.” Cecil berkata dan Hyojung mengangguk.

“Aku harap begitu, aku benar-benar ingin brtemu dengan eonni.” Hyojung mengungkapkan.

“Dia akan kembali Hyojung-ah, kau hanya harus menunggu.” Zhongren menghibur dan Hyojung tersenyum.

“Aku akan menunggunya, aku akan menunggu eonni untuk kembali.” Ucap Hyojung.

“Maaf Hyojung-ah aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, Hyojin membuatku bersumpah jadi aku tidak bisa..”

“Aku mengerti Cecil-shi..aku tidak akan memaksa, jika eonni mengatakan dia akan kembali aku akan menunggu.” Hyojung tersenyum tipis, walaupun gadis itu tersenyum Cecil tetap merasa bersalah.

“Aku akan mengatakan itu padanya jika dia menghubungiku, jagalah dirimu baik-baik Hyojung-ah.” Cecil berkata dan Hyojung mengangguk.

Rasanya beban yang selama ini ada di dadanya menghilang setelah dia tahu Hyojin masih hidup, setidaknya dia memiliki alasan untuk menunggu hari-hari baru datang. Dia tidak sabar untuk bertemu lagi dengan kakaknya, dia penasaran apakah Hyojin masih seperti dulu ataukah dia sudah berubah? Pertanyaan itu membuat Hyojung tersenyum.

[Pemakaman,Seoul – Korea selatan 11:40 PM]

  Hanbyul menyimpan bunga lily putih yang dia bawa di depan makan Yunho dan Boa, dia menatap kearah foto kedua orangtuanya dengan sedih. Dia merindukan kedua orangtuanya hari ini, dia ingin sekali bertemu dengan mereka berdua dan berbincang seperti biasanya ingin sekali dia mencurahkan semua masalah yang dia miliki agar beban dipundaknya ini terasa lebih ringan.

“Appa,Eomma… bagaimana kabar kalian disana?” Hanbyul mengelus makam kedua orangtuanya dengan lembut.

“Aku sedikit kesepian tanpa kalian.” Hanbyul berbisik menahan airmatanya.

“Appa, apa yang harus aku lakukan? Aku begitu kebingungan.” Hanbyul berlutut didepan makan ayahnya dan menatap kearah foto ayahnya.

“Aku..aku tidak bisa menjaga perusahaanmu maafkan aku..” Hanbyul menunduk dan menangis.

“Aku benar-benar gagal, maafkan aku Appa aku tidak pantas menjadi anakmu.” Hanbyul meremas tangannya kuat-kuat dan airmatanya menetes.

“Aku..aku terlalu bodoh untuk mencintai Yifan Appa..aku tidak tahu kalau dia jahat aku benar-benar naïve dan bodoh.” Hanbyul menyalahkan dirinya, dia merasa sangat putus asa dan marah pada dirinya sendiri karena mempercayai Yifan.

Hatinya sudah hancur sekarang, dia tidak yakin jika dia bisa mencintai lagi lelaki lain bayangan Yifan akan selalu menghantuinya dia tidak akan percaya lagi pada cinta dan ketulusan. Dia tidak ingin disakiti lagi dia tidak ingin menjadi boneka yang di mainkan seenaknya oleh laki-laki, dia tidak pernah mau mempercayai setiap perkataan yang keluar dari mulut lelaki lagi.

Hati Hanbyul sudah tertutup sekarang dia tidak ingin mencintai lagi, sudah cukup baginya dia tidak akan menyerahkan hatinya pada siapapun.

“Appa, aku..aku tidak tahu harus bagaimana Appa..” Hanbyul berbisik.

Saat Hanbyul sedang menangis tiba-tiba saja angin berhembus sangat kencang dan bunga lily yang dia simpan didepan makan kedua orang tuanya terbang tertiup oleh angin yang sangat kencang. Hanbyul berbalik hendak memungut bunga-bunga itu namun dia terkejut saat dia melihat sosok Luhan dibelakangnya, lelaki itu tersenyum kearahnya.

“Luhan?”

“Hi..maaf aku mengikutimu tadi..” Luhan mengambil bunga lily yang ada ditanah dan membantu Hanbyul merangkainya kembali diatas makam Yunho dan Boa.

“Tidak apa-apa..” Hanbyul menjawab lemah, dia menyeka airmatanya.

“Kau merindukan ayah dan ibumu?” Tanya Luhan dan Hanbyul mengangguk.

“Ya, aku ingin mengobrol dengan mereka.” Hanbyul mengelus batu nisan makam ibunya.

“Kau tahu, kau bisa mengobrol denganku kapan saja…aku sahabatmu bukan?” Luhan bertanya dan Hanbyul hanya tersenyum tipis.

“Aku tidak bisa Luhan..” Hanbyul menghela nafasnya.

“Hanbyul, apa kau benar-benar tidak bahagia denganku?” Luhan melirik kearah Hanbyul, Hanbyul menngigit bibirnya.

“Tidak, aku bahagia denganmu.” Hanbyul menjawab dan Luhan tersenyum, dia lega sekali mendengar itu.

“Lalu, apakah kau ingin pertunangan kita benar-benar batal?” Luhan bertanya sekali lagi, jantungnya berdetak cepat sekali saat dia menunggu jawaban dari Hanbyul.

“Aku..aku tidak tahu Luhan.” Hanbyul menjawab, gadis itu kelihatan benar-benar binggung.

“Aku tahu kau pasti sangat kebingungan sekarang, tapi..aku benar-benar mencintaimu Hanbyul..aku tidak bisa melepaskanmu.” Luhan mencapai tangan Hanbyul dan menggengamnya dengan erat.

“Aku tidak ingin melihatmu sedih seperti ini..berhentilah menangis.” Luhan menyeka airmata Hanbyul, Hanbyul menyentuh tangan Luhan.

“Terimakasih Luhan, kau sangat baik.” Hanbyul melepaskan tangan Luhan dari pipinya.

“Apakah kau sudah makan? Makan sianglah denganku, aku tahu restoran steak yang enak disekitar sini.” Luhan mengajak dan Hanbyul mengangguk.

“Berdirilah..” Luhan berdiri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya pada Hanbyul, Hanbyul menyambut tangan Luhan dan Luhan bisa melihat plester yang menutupi telapak tangan Hanbyul.

“Kenapa dengan tanganmu?” Tanya Luhan dan Hanbyul langsung menarik tangannya.

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Hanbyul menyembunyikan tangannya, Luhan tersenyum dan dia berjalan duluan.

Luhan tahu tidak ada gunanya memaksa Hanbyul untuk mengatakan apa yang terjadi, dia tahu gadis itu terlalu keras kepala untuk menjawab pertanyaannya. Luhan sedikit khawatir namun dia memutuskan untuk tidak menunjukan betapa khawatirnya dia, Hanbyul tidak lemah dia tahu itu.

Luhan membuka pintu mobilnya untuk Hanbyul dan Hanbyul masuk kedalam mobil Luhan, mereka berdua tidakmengatakan apapun selama diperjalanan sampai akhirnya Hanbyul merasakan tangan Luhan menyentuh tangannya.

“Kau yakin kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat.” Luhan bertanya dan melirik kearah Hanbyul, Hanbyul tersenyum tipis.

“Aku yakin, kau tak usah khawatir.” Hanbyul menjawab singkat, dia melirik kearah jendela mobil menyembunyikan ekspressi sedihnya.

Luhan mengenggam tangan dingin Hanbyul, walaupun Hanbyul bersikap dingin padanya dia tidak bisa berhenti menatap kearah gadis itu dan mencintainya seperti saat dulu diabertemu dengannya.

“Kau masih ingat saat kita pertama bertemu?” Luhan bertanya lagi, Hanbyul mengangguk tentu saja dia mengingatnya.

“Aku memintamu untuk mengobatiku, kau cukup baik hati menuruti keinginanku.”Luhan berkata dia tersenyum mengingat masa lalunya, dia tidak pernah menyangka dia akan tergila-gila pada Hyojin sampai sekarang.

“Aku merasa bersalah, apakah kau menyukaiku semenjak kita bertemu?” Hanbyul melirik kearah Luhan.

“Ya, aku selalu menyukaimu..bahkan sampai sekarang.” Luhan mengungkapkan dan dia melirik kearah Hanbyul tatapan mereka bertemu sesaat lalu mereka berdua melirik kearah lain.

“Eunjo menanyakanmu, dia mengatakan kalau dia ingin bertemu denganmu.” Luhan memberitahu dan Hanbyul mengangguk.

“Ya, dia mengirimkan pesan padaku.” Hanbyul menjawab.

Meeka berdua terdiam sesaat, Hanbyul tidak tahu apa yang harus dia katakan sepertinya Luhan belum mengatakan pada Siwon dan Eunjo tentang pembatalan pertunangan mereka. Hanbyul memainkan jarinya gugup, dia tidak ingin bertemu dengan Siwon ataupun Eunjo jika dia bertemu dengan kedua orang itu dia cukup yakin kalau dia tidak akan tega untuk membatalkan pertunangannya dengan Luhan.

“Apa yang kau pikirkan? Kau terlihat cemas.” Luhan membelokan mobilnya dan berhenti didepan restoran yang dia bicarakan tadi.

“Bukan apa-apa.”

“Kita akan makan sekarang, berhentilah berpikir…kau bisa berpikir lagi nanti setelah kita makan.” Luhan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Hanbyul.

Hanbyul tidak menjawab, bagaimana dia bisa berhenti berpikir sekarang dia akan makan siang dengan mantan tunangannya dan kelihatannya Luhan masih menikmati kedekatan mereka. Dia tidak marah ataupun membenci Hanbyul, lelaki itu masih baik hati dan lembut kepadanya seperti Luhan yang biasa dia temui sehari-hari.

Hanbyul dan Luhan duduk disalah satu meja restoran dan mereka memesan makanan mereka, Hanbyul memilih steak yang paling kecil dan murah dia tidak mau merepotkan Luhan namun Luhan marah dan memesankan dia steak yang lebih besar dan cukup mahal.

“Kau tak usah memesan steak yang besar.” Hanbyul berkata.

“Tidak apa-apa, kau terlihat kurus..aku tidak suka.” Luhan menjawab dengan senyumnya.

Hanbyul merasa sedikit bersalah mendengar itu, Luhan selalu baik padanya dan memperlakukan dia seperti seorang putri yang special namun masalahnya Hanbyul tidak butuh itu. Karena dia hanya wanita biasa dia tidak ingin Luhan memperlakukannya seperti ini, dia sudah menyakiti Luhan dan dia tidak bisa lagi menerima semua kebaikan Luhan.

“Berhenti bersikap baik padaku Luhan..” Hanbyul berkata dan Luhan menatap kearah Hanbyul penuh kekhawatiran.

“Kenapa?apa kau tidak menyukainya?” Tanya Luhan dan Hanbyul mengangguk.

“Aku menyakitimu..kenapa kau masih baik padaku?” Hanbyul menatap kearah Luhan penuh tanya.

“Itulah cinta sejati Hanbyul, tidak peduli apapun yang kau lakukan padaku..aku tetap mencintaimu.” Luhan menjawab, airmata Hanbyul mengancam untuk turun saat dia mendengar jawaban Luhan.

“Kenapa kau mencintaiku? Aku tidak layak untuk kau cintai.” Ucap Hanbyul dan Luhan hanya tersenyum, dia menyentuh tangan Hanbyul.

“Mencintai seseorang bukanlah sesuatu yang manusia bisa kontrol Hanbyul, hati kita yang memilih.” Ungkap Luhan, Hanbyul menunduk.

“Kau benar..” Hanbyul berkata dia tersenyum pahit.

Perkataan Luhan mengingatkan dia pada dirinya sendiri, dia sadar kalau dia mencintai Yifan dan dia tidak pernah ingin melepaskan Yifan. Karena hatinya yang memilih, bukan logikanya dia tidak pernah mengerti kenapa dia harus jatuh cinta pada Yifan padahal lelaki itu menipunya hubungan mereka didasari oleh sebuah kebohongan namun kenapa Hanbyul dengan bodohnya masih mencintai lelaki itu.

“Sebenarnya aku datang kesini untuk mengatakan sesuatu padamu.” Luhan berkata dan Hanbyul kembali menatap kearah Luhan.

“Ada apa?” Tanya Hanbyul penasaran.

“Ibuku mengatakan kalau dia butuh bantuanku, dia ingin mengajakku ke Paris untuk mengurus bisnis fashionnya disana.” Luhan menjelaskan dan Hanbyul mengangguk.

“Oh..apa kau akan pergi?” Entah kenapa nada suaranya terdengar sedih, sekaan gadisitu tidak ingin Luhan untuk pergi.

“Haruskah aku pergi?” Luhan kembali bertanya.

“Itu pilihanmu Luhan, aku tidak bisa mencampuri urusanmu.” Hanbyul menjawab dan seorang pelayan akhirnya datang mengantarkan pesanan mereka.

“Aku tahu, aku hanya ingin tahu apakah kau masih membutuhkan aku atau tidak.” Ungkap Luhan dan lelaki itu mulai memakan steaknya.

“Aku..aku tidak bisa memutuskan itu, aku tidak layak meminta apapun darimu.” Kata Hanbyul, setelah mendengar Luhan akan pergi ke Paris tiba-tiba saja selera makannya hilang.

“Kalau begitu, apa kau masih menginginkanmu?apakah kau mencintaiku selama ini?”

Pertanyaan Luhan sangat susah sekali untuk dijawab, Hanbyul bingung apakah dia harus jujur pada Luhan atau tidak. Dia ingin melepaskan Luhan, Luhan layak mendapatkan kebahagiaan dan dia tidak ingin memberikan penderitaan lagi pada Luhan sudah cukup dia tidak ingin menjadi beban bagi siapapun.

Namun dia sisi lain dia memang menyukai Luhan, dia ingin dekat dan tumbuh tua bersama Luhan menjaga hubungan baik mereka namun Hanbyul tahu itu sangat egois. Bagaimana bisa dia membiarkan Luhan menunggunya sedangkan dia masih mencintai Yifan,  dia tidak bisa menutup kemungkinan Luhan bisa bahagia dia tidak akan menghalangi lagi jalan Luhan.

“Pergilah, jika kau mau…aku akan baik-baik saja.” Hanbyul tersenyum kearah Luhan, Luhan menatap kearahnya sedih.

“Apa itu artinya kau benar-benar tidak akan kembali padaku?” Luhan bertanya, suaranya gemetaran mungkin menahan tangis.

“Ya, aku tidak akan kembali…aku mencintai Yifan Oppa.” Hanbyul mengungkapkan dan Luhan melepaskan tangannya dari tangan Hanbyul.

“Oh..aku mengerti,kau benar-benar melepaskanku?”

“Maafkan aku Luhan..”

Luhan menghela nafasnya dan dia mengepalkan tangannya menahan emosinya, dia menunduk menatap kearah steaknya. Hanbyul benar-benar ingin menghilang dari hadapan Luhan sekarang, namun satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menunduk penuh malu dan kesedihan.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan, tapi aku masih memberimu kesempatan…sebaiknya kau memikirkannya baik-baik aku akan memberikanmu waktu dua hari.” Luhan mengodok sakunya dan cincin pertunangan Hanbyul sekarang ada didepannya.

“Jika kau tidak akan kembali padaku, berikanlah cincin ini padaku setelah dua hari tapi jika kau memutuskan untuk kembal padaku pakailah cincin ini saat kau bertemu denganku.”

Luhan menarik tangan Hanbyul dan dia menyimpan cincin yang pertunangannya dengan Hanbyul ditelapak tangan gadis itu, Hanbyul hanya bisa menatap kosong kearah cincin berlian yang ada di telapak tangannya dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan cincin itu.

[Rumah sakit, Seoul – Korea selatan 16:00PM]

   Yifan baru saja selesai menulis sesuatu, dia melipatkan kertas yang dia pegang dan memasukannya kedalam amplop berwarna biru yang ada disampingnya. Dia menatap kearah amplop itu sejenak, dia bingung harus dia tulis untuk siapakah surat ini? Pada Jongin? Hyojung? Atau mungkin Hanbyul? Yifan tidak tahu.

Mendengar pintu ruangannya diketuk Yifan segera menyembunyikan suratnya kedalam laci, dia bisa melihat sosok Taeyeon dan Yongguk memasuki ruangannya. Yifan sedikit terkejut saat dia melihat Yongguk, tidak biasanya dia dan Taeyeon menjenguknya dalam waktu yang sama apalagi dia bisa melihat Yongguk membawa beberapa bungkusan.

“Yifan-ah kau bangun.” Taeyeon berkata dia memamerkan senyumnya pada Yifan.

“Ya, aku baru bangun.” Yifan berbohong, sebenarnya satu jam yang lalu dia sudah bangun.

“Aku tadi kesini tapi kau tidur, aku memutuskan untuk membelikanmu makanan.” Taeyeon berkata dan Yongguk menunjukan semua makanan yang Taeyeon belikan untuk Yifan.

“Terimakasih, kau tak usah repot-repot.” Yifan berkata, selama ini Taeyeon selalu membelikannya makanan.

“Tidak apa-apa, aku suka mengurusmu..kau terlihat kurus aku jadi khawatir.” Taeyeon menyentuh kepala Yifan dan mengelusnya dengan lembut.

Yifan hanya bisa tersenyum, melihat Taeyeon dan Yifan yang dekat sperti entah kenapa Yongguk merasa menjadi penganggu diantara mereka. Yongguk pura-pura batuk dan Taeyeonpun melepaskan tangannya dari kepala Yifan, dia melirik kearah Yongguk yang sibuk menyimpan makan yang cepat basi kedalam kulkas.

“Yongguk juga membantuku, tanpa dia aku tidak bisa membawa semua belanjaan itu.” Taeyeon mengungkapkan.

“Terimakasih Yongguk.” Yifan berkata dan Yongguk hanya mengangguk puar-pura tidak peduli padahal saat dia berbalik dia tersenyum.

“Oh ya, apakah Hanbyul sudah menjenguk hari ini? Dia tidak masuk kerja..” Taeyeon bertanya dan Yifan langsung melirik kearah Taeyeon.

“Benarkah? Kenapa dia..aku akan menghubunginya.” Yifan mencapai kearah ponselnya yang ada dimeja namun Taeyeon mencegahnya.

“Bisakah kita membicarakan sesuatu?” Pinta Taeyeon dan Yifan menatap kearah Taeyeon penuh tanya.

“Ada apa?”

“Bukan apa-apa, Yongguk-shi bisakah kau keluar sebentar?” Taeyeon melirik kearah Yongguk yang berdiri tak jauh darinya.

“Tapi..”

“Hanya sebentar, aku ingin membahas masalah pribadi dengan Yifan.” Taeyeon menjelaskan dan dengan berat hati Yongguk menurut.

“Baiklah, aku akan menunggu diluar.” Yongguk berbalik.

“Terimakasih Yongguk-shi.” Taeyeon berkata dan Yongguk mengangguk lalu menutup pintu ruangan Yifan.

“Jadi apa yang ingin kau katakan?” Tanya Yifan dan Taeyeon menghela nafasnya.

“Apa kau tahu siapa sebenarnya Hanbyul?” Taeyeon bertanya dan Yifan mengangguk.

“Ya, aku tahu..” Yifan menjawab.

“Kau tahu dia bertunangan dengan Luhan?”

Mendengar pertanyaan itu Yifan sangat terkejut, bagaimana dia tidak pernah mendengar soal ini? Kemanakah saja dia selama ini? Yifan hanya menunduk mencoba mencerna perkataan Taeyeon, dia berdoa jika dia hanya salah dengar.

“Hanbyul bertunangan dengan Luhan, Yifan sebaiknya kau melepaskan dia..”

“Kenapa? Apa Hanbyul bahagia dengan Luhan?” Tanya Yifan, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarahnya dia ingin sekali pergi dan menonjok Luhan.

Bagaimana Luhan tidak pernha mengatakan hal ini padanya, Luhan membiarkan dia terus berharap jika Hyojin akan kembali kedalam pelukannya lagi dia bahkan mulai mempertimbangkan untuk menjalani operasi yang Minho anjurkan padanya namun mendengar ini harapannya langsung hancur.

“Mereka akan menikah Yifan, sadarlah..kau tidak akan mendapatkan Hanbyul.” Taeyeon menyentuh tangan Yifan.

“Aku mengatakan ini bukan karena aku masih mencintai, aku mengatakan ini karena aku takut kau terluka.” Taeyeon menjelaskan.

“Kau tak usah khawatir, aku sudah terluka..tidak ada gunanya untuk perasaanku.” Yifan menjawab dan dia melepaskan tangannya dari Taeyeon.

“Yifan..”

“Jika itu alasanmu untuk datang kesini, sebaiknya kau pulang dan bawa semua makanan yang kau beli.” Yifan berbaring kembali dan membelakangi Taeyeon.

“Yifan berhentilah bertingkah seperti anak kecil! Kau sebaiknya melupakan Hanbyul..kau bisa memiliki masa depan yang cerah tanpa dia.” Taeyeon berkata dan Yifan menutup matanya tidak ingin mendengar Taeyeon.

“Sebenarnya apa yang membuatmu begitu cinta pada wanita itu? Huh? Apakah dia lebih cantik dariku? Aku mengenalmu lebih lama darinya dan aku mengurusmu sampai sekarang tapi gadis itu! Gadis itu bahkan tidak datang sekarang!” Taeyeon membentak marah.

“Apa yang membuatmu begitu menyayangi dia? Apakah aku tidak cukup untukmu? Apa yang harus aku lakukan agar kau melupakan dia? Katakan padaku..” Taeyeon akhirnya menangis dan Yifan berbalik menatap kearah Taeyeon.

“Apa kau tahu betapa lelahnya aku? Aku…aku sangat lelah Yifan jadi aku mohon sekali ini dengarkan apa yang aku inginkan!”

Yifan hanya diam melihat Taeyeon yang menangis, dia tidak tahu harus bicara apa selama ini dia tidak pernah tahu bagaimana perasaan Taeyeon. Hanbyul benar, dia memang egois ini dia tidak pernah memperdulikan Taeyeon yang selalu ada disampingnya dia tidak pernah melirik kearah wanita itu sedikitpun sampai sekarang.

“Maafkan aku…” Yifan berkata dan Taeyeon langsung memeluknya.

“Kau tak usah minta maaf Yifan-ah..aku mohon sekali ini dengarkan apa yang aku inginkan.” Taeyeon berkata, Yifan mengangguk dan memeluk Taeyeon kembali.

“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, aku tidak akan meminta apapun darimu..” Ucap Taeyeon, dia melepaskan pelukannya dari Yifan.

“Aku mohon, jangan dekati Hanbyul lagi..dia bukan Hyojin Yifan, mereka dua orang yang berbeda.” Taeyeon berkata, Yifan hanya diam dia tidak bereaksi sedikitpun pada perkataan Taeyeon.

“Aku akan mencoba.” Yifan akhirnya menjawab dan Taeyeon tersenyum.

[Sebuah restoran, New York – Amerika 17:00PM]

“Sehun-ah!” Hyojung melambaikan tangannya pada Sehun saat dia melihat sosok Sehun memasuki restoran, seorang gadis cantik mengikutinya dari belakang dan Hyojung bisa menebak siapakah gadis itu.

“Apakah ini pacarmu?” Tanya Hyojung saat Sehun dan gadis itu mendekat.

“Ya, kenalkan ini Yura.” Sehun mengangguk dia mendorong Yura dengan lembut untuk berjabat tangan dengan Hyojung.

“Aku Hyojung, senang bertemu denganmu Yura.” Hyojung tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Yura.

Yura membalas senyuman Hyojung dan menjabat tangannya, Yura benar-benar cantik Hyojung baru sadar. Gadis itu memiliki senyum yang manis dan dan kulit putih yang mulus, rambut coklatnya bergelombangnya dia ikat kebelakang memamerkan lehernya.

“Senang bertemu denganmu juga Hyojung, aku banyak tentangmu dari Sehun.” Yura berkata dan Sehun tersipu malu.

“Ya! Kau tak usah menceritakan itu padanya.” Sehun berbisik dan Yura tersenyum.

“Maaf sayang,aku lupa.” Yura berkata dan menutup mulutnya, Hyojung hanya tersenyum melihat interaksi Yura dan Sehun.

“Oh iya, kenalkan ini Wu Zhongren..dia tunanganku.” Hyojung mengenalkan Zhongren yang berdiri dibelakangnya.

“Ah! Kau benar-benar Zhongren..aku kira Sehun berbohong saat dia bilang kalau dia mengenalmu.” Yura terlihat sangat senang saat dia melihat Zhongren yang berdiri dibelakang Hyojung.

“Ah nde, senang bertemu denganmu Yura-shi.” Zhongren menyapa dan Yura tersenyum bahagia lalu mengangguk.

“Sehunnie, bagaimana kalau kau memesan makanan untuk kita? Aku akan menunggu disini.” Yura berkata dan Sehun mengangguk.

“Aku akan memesan makanan dulu.” Sehun berkata dan pergi meninggalkan Yura dan Hyojung juga Zhongren.

“Aku harus kekamar mandi dulu, kalian mengobrol saja.” Zhongren pergi juga dan Hyojung mengangguk.

“Jadi..bagaimana pertunaanmu dengan Zhongren?” Yura bertanya dan Hyojung hanya tersipu malu.

“Oh ayolah, ceritakan padaku?” bujuk Yura.

“Kami baik-baik saja, bagaimana dengan kau dan Sehun?” Tanya Hyojung kembali dia meneguk teh yang sudah dia pesan.

“Oh aku dan Sehun masih tahap percobaan, kau tahu..aku baru berkencan dengan selama tiga bulan.” Yura menjelaskan.

“Kalian kelihatan senang..” Hyojung berkomentar.

“Ya, hanya saja..belakangan ini Sehun selalu mimpi buruk.” Yura mengungkapkan, alis Hyojung terangkat penasaran.

“Kenapa?apa yang dia mimpikan?”

“Apa kau tahu wanita yang bernama Jiyoung?” Tanya Yura dan Hyojung terkejut, dia tidak tahu harus berkata jujur atau tidak.

“Dia selalu memanggil nama wanita itu setiap kali dia mengigau, aku hanya penasaran..apa kau tahu dia?” Yura bertanya, gadis itu kelihatan sangat khawatir.

“Jiyoung adalah kakak Sehun, kau tak usah khawatir Yura..Jiyoung Eonni meninggal secara tidak wajar jadi Sehun mungkin masih trauma.” Hyojung berkata dan Yura mengangguk.

“Oh begitu ya, aku lega..aku kira Jiyoung adala mantan pacarnya.” Ucap Yura dan Hyojung tersenyum.

“Tenang saja Yura, Sehun lelaki yang baik dan kelihatannya dia benar-benar menyukaimu dia tidak pernah menurut jika aku yang menyuruhnya.” Hyojung mengungkapkan dan Yura tersenyum.

“Benarkah? Sehun selalu penurut padaku..”

“Kau benar, dia seperti anjing kecil yang mengikuti majikannya didepanmu.” Hyojung berkata dan Yura tertawa mendnegar ungkapan gadis itu.

“Siapa yang seperti anjing kecil?” Tiba-tiba saja Sehun muncul.

“Bukan siapa-siapa, kau sudah memesan makananya?” Yura bertanya dan Sehun mengangguk, namun ellaki itu melirik kearah Hyojung dan Yura penuh kecurigaan.

“Kenapa kau menatap kami seperti itu?” Tanya Hyojung.

“Sebaiknya kalian tidak bergosip soal aku.” Sehun memberi peringatan dan Yura tertawa.

“Oh sayang kau terlambat, aku dan Hyojung sudah membicarakanmu dari tadi.” Yura berkata dan Hyojung mengangguk.

Taklama setelah Sehun duduk Zhongren kembali duduk namun ada yang aneh pada wajah Zhongren, lelaki itu kelihatan shock dan mukanya sangat pucat sekali. Hyojung juga Yura penasaran sekali, sebenarnya apa yang membuat lelaki itu pucat seperti itu bahkan saat Hyojung menyentuh tangan Zhongren lelaki itu gemetaran.

“Oppa, kau kenapa?” Tanya Hyojung khawatir.

“Zhongren-shi? Apa kau baik-baik saja?” Yura ikut bertanya, Sehun hanya bisa diam menatapi ekspressi shock Zhongren.

“T-tadi..tadi..aku bertemu dengan seorang lelaki.” Zhongren berkata.

“Lalu?” Hyojung meminta penjelasan.

“Dia mengatakan..dia mengatakan kalau dia kakakku, aku tidak tahu siapa dia tapi dia mengatakan kalau aku adalah anak Kim Taehyun.” Zhongren menceritakan, Yura dan Sehun menarik nafasnya terkejut.

“Apa? Hyung…jika kau anaknya kau benar-benar kaya.” Yura yang mendengar itu segera memukul lengan Sehun.

“Ya! Ini bukan waktunya memikirkan materi!” Yura mengomel dan Sehun hanya mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu, dia memberikanku sebuah kartu nama dan menyuruhku untuk datang kepadanya.” Zhongren menunjukan kartu nama yang dia pegang.

“Wah..daebak! ini benar-benar alamat rumah Kim Taehyun.” Sehun berkata dia menunjukan kartu nama yang dia pegang pada Yura.

“Oppa..apa kau akan datang kesana?” Tanya Hyojung dan Zhongren menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu.” Zhongren menjawab.

“Hyung jika kau ingin harta dia kau bisa datang kesana, Kim Taehyun sudah meninggal beberapa bulan yang lalu mungkin itulah alasan kenapa mereka mencarimu.” Sehun menjelaskan dan Zhongren hanya tertegun.

“Mungkin mereka sedang membagikan harta warisan, aku tidak hanya mengatakan ini karena warisan hyung tapi jika kau ingin lebih tahu apa yang terjadi pada keluargamu bukankah sebaiknya kau datang?” Sehun menyarankan.

“Benar apa yang Sehun katakan Zhongren-shi, meskipun kau tidak ingin harta Kim Taehyun kau bisa datang kesana hanya untuk mengucapkan bela sungkawa.” Yura mendukung.

Hyojung tidak mengatakan apapun, dia hanya memengang tangan Zhongren dan mencoba menenangkan lelaki itu dia masih bisa merasakan tangan Zhongren gemetaran.

“Jika kau tidak mau kau tidak usah kesana Oppa, hidupmu akan baik-baik saja tanpa mereka..lihat kau sekarang kau sukses tanpa bantuan mereka.” Hyojung berkata dan Zhongren mengangguk.

“Aku tahu Hyojung-ah,tapi..” Zhongren tidak menamatkan kalimatnya.

“Aku butuh waktu untuk berpikir, sebaiknya kita makan.” Zhongren mengganti topik.

Hyojung,Yura juga Sehun mengerti, Zhongren pasti masih terkejut ketika seseorang tiba-tiba saja mendekatinya dan mengatakan kalau dia adalah kakaknya. Sangat aneh sekali, Sehun berpikir apakah keluarga Kim Taehyun merencanakan sesuatu? matanya melirik kearah kerumunan pelanggan restoran dan matanya menangkap seseornag yang familiar.

Seorang lelaki dengan kulit putih dan rambut hitam, lelaki itu berbadan tegap dan memakai jas yang sangat rapih taklama kemudian pandangan Sehun dan lelaki itu bertemu. Lelaki itu menyeringai kearah Sehun dan melambai, Sehun mengepalkan tangannya penuh emosi sata dia melihat seringai yang mencemooh itu.

“Kim Joonmyeon..apakah itu lelaki yang kau temui hyung?” Tanya Sehun dan Zhongren mengangguk.

“Darimana kau tahu?” Tanya Zhongren heran.

“Aku tahu siapa dia..” Sehun menjawab singkat.

“Dia direktur dari perusahaan K&T, dia pernah mengajak Daeguk untuk bekerja sama namun aku menolaknya.” Sehun menjelaskan.

“Oh apakah dia direktur yang kau ceritakan beberapa hari yang lalu?” Tanya Yura dan Sehun mengangguk.

“Hyung, kau harus berhati-hati..dia orang yang licik.” Sehun memberi peringatan dan Zhongren mengangguk.

“Apapun motifnya aku yakin Kim Joonmyeon merencanakan sesuatu.”Ucap Sehun.

[Kediaman Hanbyul, Ilsan – Korea selatan 18:30PM]

  Hanbyul menghela nafasnya saat dia mendengar penjelasan Cecil melalui skype, dia sudah mendengar celotehan Cecil selama lima belas menit sekarang dia bahkan tidak yakin jika dia masih ingin mendengar perkataan sahabatnya.

“Intinya, sebaiknya kau segera menemui Hyojung, dia sangat sedih..aku tidak tega melihat dia.” Cecil berkata dan Hanbyul hanya terdiam.

“Menurutmu apa sebaiknya aku mengaku saja?” Hanbyul bertanya dan Cecil mengangguk.

“Hyojin, kau tidak bisa terus bersembunyi pada akhirnya semua orang akan tahu.” Cecil berkata.

“Tidak akan ada yang tahu jika kau tetap tutup mulut, kau mengatakan semuanya pada Hyojung?” Hyojin terlihat sangat marah, wanita yang sekarang ada dihadapannya adalah Jung Hyojin bukan Hanbyul.

“Aku tidak mengatakan semuanya Hyojin, aku hanya mengatakan jika kau masih hidup.” Cecil membela diri dan Hyojin mengepalkan tangannya kesal.

“Itu masih sama saja, kau memberikan Hyojung harapan!” Hyojin membentak.

“Kalau aku tidak mengatakan itu sampai kapan?! Sampai kapan Hyojin? Apa kau akan selamanya membohongi semua orang mengtaakan kalau kau Hanbyul lawrence padahal pada kenyataan nya kau Hyojin?!” Cecil membentak balik.

“Kenapa? Apa kau keberatan membiarkan aku menggunakan nama keluargamu?” Tanya Hyojin dan Cecil segera menggelengkan kepalanya.

“Bukan seperti itu Hyojin, aku peduli padamu juga Hyojung..aku mohon sebaiknya kau jujur Hyojin.” Cecil berkata.

“Kau tidak bisa terus hidup dalam kebohongan, bagaimana dengan Yifan? Aku rasa kau sudah cukup menghukumnya…dia pasti shock saat dia melihatmu lagikan? Cukup Hyojin, kau sudah keterlaluan.” Cecil berkata dan Hyojin hanya diam.

“Aku akan berbicara denganmu lagi nanti.” Ucap Hyojin dan dia langsung menutup laptopnya.

Hyojin melirik kearah foto yang ada dimejanya, dia bahkan tidak punya waktu untuk membuang semua foto dirinya dengan Luhan. Hyojin menatap kearah jari manisnya, dia mengodok saku jeansnya dan mengeluarkan cincin pertunagannya dengan Luhan dia menatap kearan cincin berlian itu lalu mencengkramnya.

Ini bukan saatnya untuk memikirkan Luhan, dia berdiri dan mengambil ponselnya saat dia mendengar ponselnya berdering sangat keras. Dia bisa melihat nama Yifan tertera dilayar handphonenya, Yifan jarang sekali menghubunginya namun entah apa yang membuat lelaki itu menghubunginya sekarang.

“Hallo?” Hyojin mengangkat teleponnya.

“Hyojin-ah, bisakah kau datang kerumah sakit? Aku bosan disini sendirian..” Yifan berkata, mendengar  suara Yifan yang sangat lemah Hanbyul langsung luluh.

“Aku akan kesana.” Hanbyul menjawab.

“Aku menunggu.”

Hanbyul dan Yifanpun akhirnya menutup sambungan telepon mereka, Hanbyul menggigit bibirnya khawatir. Kesehatan Yifan benar-benar menurun sekarang, bahkan pengelihatannyapun semakin memburuk sehingga dia harus menggunakan kacamata yang sedikit tebal sekarang.

Hanbyul mengambil tasnya dan pergi mengunci rumahnya, sebaiknya dia mengontrol keadaan Yifan dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Yifan saat dia tidak ada.

****

“Apa kau langsung kesini saat aku menelepon?” Tanya Yifan, lelaki itu menggunakan jaketnya dan berdiri dihadapan Hanbyul dengan tas ditangan kanannya.

“Kenapa kau berkemas?” Tanya Hanbyul.

“Aku ingin pulang, apa tidak boleh?” Tanya Yifan sambil mengangkat alisnya dan Hanbyul memutar matanya.

“Kau belum sembuh.” Hanbyul berkata dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak akan sembuh, kau tahu itu.” Yifan menjawab dan dia berjalan mendekat kearah Hanbyul.

“Maukah kau berjanji padaku satu hal?” Tanya Yifan dan Hanbyul kelihatan terkejut mendengar permintaan Yifan.

“Apa yang kau mau?” Tanya Hanbyul, gadis itu menatap kearah Yifan penuh tanya.

“Maukah kau menemaniku seharian besok, aku ingin kau melupakan semua masalah kita lupakan Luhan dan Taeyeon..hanya kau dan aku disana aku ingin kau menikmati perjalanan kita ke Mokpo dan setelah itu kita kembali ke Seoul,kau bebas melakukan apapun setelah kita pulang darisana.”

Hanbyul menatap kearah Yifan, ia tidak mengerti kenapa Yifan ingin pergi ke Mokpo bersamanya. Dia tidak tahu jika menghabiskan waktu yang lama bersama Yifan adalah ide yang bagus, dia mencoba melupakan lelaki itu mencoba menghapus perasaannya agar dia bisa melepaskan Yifan dengan tenang tanpa ada penyesalan dan kesedihan.

“Apa jawaban mu Hanbyul-shi?apakah kau ikut denganku?” Yifan bertanya dan dia mencapai tangan Hanbyul.

“Baiklah, tapi kenapa kau mau ke Mokpo? Apa kau punya saudara disana?” Tanya Hanbyul, dia membantu Yifan membawa tasnya.

“Bisa dibilang seperti itu, aku tumbuh disana.” Yifan menjelaskan dan Hanbyul mengingat perkataan Zhongren beberapa tahun yang lalu.

Dalam ingatannya masih terdengar jelas kalau Zhongren mengatakan panti asuhan dimana dia dan Yifan tumbuh ada di daerah Mokpo, Hanbyul tidak ingat apa nama panti asuhannya.

“Oh…mau apa kau kesana? Kau sedang tidak sehat Yifan-shi.” Ungkap Hanbyul dan Yifan hanya tersenyum tipis.

“Kau tak usah khawatir, aku akan baik-baik saja.” Ucap Yifan dan Hanbyul hanya bisa menatap kearah Yifan.

“Aku akan baik-baik saja jika kau ada bersamaku.” Yifan melanjutkan dan dia memegang tangan Hanbyul.

“Percayalah padaku kali ini, aku tidak bohong.” Yifan membujuk, Hanbyul mengangguk lalu merekapun keluar dari ruangan Yifan.

Hanbyul membukakan pintu mobil sedannya untuk Yifan, dia menyimpan tas Yifan di bangku belakang sedangkan Yifan sekarang duduk disampingnya. Entah mengapa Hanbyul merasa sedikit gugup saat dia sadar kalau dia akan duduk disamping Yifan untuk beberapa jam, sesekali dia melirik kearah Yifan yang kelihatannya sedang asik melamun.

“Dulu aku sering sekali bermain dipantai.” Yifan memulai, Hanbyul melirik kearahnya dan dia bisa melihat senyum Yifan.

“Aku suka sekali pantai, jika aku mati..maukah kau menyebarkan abuku dipantai mokpo?” Yifan akhirnya melirik juga kearah Hanbyul.

“Kau tidak akan mati.” Ucap Hanbyul.

“Kenapa kau begitu yakin?” Tanya Yifan.

“Aku tidak akan membiarkannya, kau puas?” Hanbyul menjawab.

Senyum Yifan melebar, dia kembali melirik kearah jendela mobil namun senyumnya langsung hilang dan pengelihatannya tiba-tiba saja menjadi tidak jelas. Kepalanya terasa sangat sakit seakan seseorang memukulnya dengan palu, Yifan mencoba menahannya dan menutup matanya.

“Aku akan tidur, bangunkan aku jika kita sudah sampai di mokpo.” Yifan memberitahu, dia bahkan tidak bisa melihat sosok Hanbyul yang ada disampingnya karena sekarang matanya hanya bisa melihat kegelapan.

[Café, Seoul – Korea selatan 19:00PM]

“Kau tidak bisa melakukan itu!” Joonmyeon membentak.

“Kenapa? Sudah kubilang aku akan pergi ke Paris.” Luhan menjawab dan Joonmyeon mengepalkan tangannya.

“Kau berjanji padaku, kau bilang kau akan menjual sahammu kepadaku!” Joonmyeon membentak dan Luhan menyeringai.

“Aku tidak bisa menjualnya, aku membutuhkan saham itu untuk perusahaan ibuku.” Luhan menjawab dengan santai.

“Apa kau ingin bermain kasar dengan perusahaan K&T Luhan?” Joonmyeon mendekat dan menarik kerah baju Luhan.

“Kau akan bermain kasar? Baiklah, tunggu saja berita tentang Zhongren di koran kalau begitu.” Luhan balik mengancam dan Joonmyeon melepaskan genggamannya dari kerah baju Luhan.

“Cih! Dasar pengecut!” Joonmyeon menghardik dan Luhan hanya tersenyum tipis.

“Maksudmu kau yang pengecur Joonmyeon-shi?” Luhan merapikan kerah bajunya lagi.

“Bisakah kau tidak membuatku marah? Kau tahu aku bisa menyingkirkanmu kapan saja.” Joonmyeon berkata dan Luhan mendengus meremehkan.

“Oh silahkan, aku tidak punya kerugian apapun jika aku mati…tapi kau Joonmyeon,kau akan kehilangan segalanya.” Luhan berbisik ketelinga Joonmyeon.

“Apa yang kau rencanakan? Kenapa kau harus pergi ke Paris?” Tanya Joonmyeon dan Luhan mengangkat bahunya.

“Aku hanya mengubah rencanaku, kau tahu…manusia tidak pernah tahu tentang masa depan.” Luhan menjelaskan.

“Kau datang padaku karena kau tahu aku kakak tiri Zhongren, apa itu benar?” Joonmyeon melirik kearah Luhan dan Luhan mengangguk.

“Ya, aku tahu kau akan kehilangan semuanya jika media tahu kalau Zhongren adalah adikmu.” Ungkap Luhan.

“Dia bukan adikku! Ayahku mengatakan kalau aku adalah pewaris utamanya, dia tidak berhak mendapatkan sepeserpun!” Joonmyeon marah.

“Kau yakin? Bukankah ayahmu menyuruhmu untuk menemukan Zhongren sebelum dia meninggal?” Luhan mengangkat alisnya.

“Ayahku hanya kasihan pada dia! Ayahku bahkan tidak menganggap dia ada selama belasan tahun kenapa ayahku ingin memberikan sebagian perusahaannya pada anak itu?” Joonmyeon menjelaskan dan Luhan menyeringai.

“Kau benar-benar pewaris tunggal Kim Taehyun, Joonmyeon-shi bahkan sifat kalian sama kejamnya.” Luhan menyindir dan dia meminum teh yang sudah dia pesan.

“Lalu bagaimana dengan kau? Kau kalah dalam perang Luhan-shi, Yifan bahkan merebut segalanya dari kau.” Joonmyeon balik menyindir dan genggaman tangan Luhan pada gelas tehnya semakin erat.

“Setidaknya aku tidak akan membunuh seseorang seperti kau.”

“Oh kau akan Luhan, jika kau membiarkan iblis yang ada didalam dirimu untuk keluar..kau akan lebih kejam dariku.” Joonmyeon berbisik, dia menyimpan sejumlah uang dimejanya dan pergi meninggalkan Luhan.

Iblis itu ada didalam dirimu Luhan, kau hanya harus melepaskannya…

[Panti asuhan white lily, Mokpo- Korea selatan 20:37PM]

  Hanbyul mematikan mesin mobilnya dan dia melirik kearah Yifan yang tertidur, Hanbyul mencapai bahu Yifan namun dia mengurungkan niatnya untuk membangunkan lelaki itu. Yifanterlihat sangat tenang sekali saat dia tertidur, wajah Yifan mengarah kearahnya kedua matanya masih tertutup namun bibirnya terbuka sedikit.

Bibir Yifan terlihat sangat pucat sekali, tanpa Hanbyul sadari dia menyentuh bibir Yifan dan mengelusnya. Hanbyul melirik kearah sabuk pengaman Yifan, mungkin jika dia melepaskan sabuk pengaman Yifan lelaki itu akan bangun.

Hanbyul melepaskan sabuk pengaman Yifan namun dia terkejut saat tubuh Yifan malah menyandar kearahnya, kepala Yifan bersandar di pundaknya membuat Hanbyul tidak bisa bergerak. Dia bisa merasakan nafas lembut Yifan menyentuh kulit lehernya, Hanbyul menelan ludahnya mengutuk pada dirinya sendiri.

“Em..apa kita sudah sampai?” Tiba-tiba saja Yifan terbangun dan Hanbyul segera menjauh.

Nde, kau tertidur setelah kau memberitahu aku jalan menuju panti asuhan.” Hanbyul menjelaskan dan Yifan mengangguk.

“Maaf, belakangan ini aku gampang sekali lelah.” Yifan berkata dan Hanbyul hanya bisa diam.

“Ayo turun, mama Wu pasti sudah menunggu didalam.” Yifan terlihat sangat bersemangat, Hanbyul hanya bisa mengikuti lelaki itu dari belakang.

Panti asuhan yang Yifan masuki cukup besar dan bagus, Hanbyul bisa melihat beberapa ayunan dan tempat bermain anak-anak di bagian kanan bangunan panti asuhan. Didepan bangunan panti dia bisa melihat tulisan ‘Panti Asuhan White Lily’ terpampang jelas, Hanbyul tersenyum tipis membayangkan jika Yifan kecil dulu sering bermain disini.

“Yifan!”

Suara seorang wanita mengagetkan Hanbyul, dia bisa melihat seorang wanita tua berjalan kearah Yifan dan Yifan segera memeluk wanita itu. Wanita itu tertawa penuh kebahagiaan begitu juga dengan Yifan, Yifan melepaskan pelukannya dan melirik kearah Hanbyul yang berdiri dibelakangnya.

“Hyojin-ah, ini mama Wu..mama Wu kenalkan ini Jung Hyojin.” Mama Wu tersenyum kepadanya dan Hyojin membalas senyum manis wanita tua itu.

“Senang bisa bertemu denganmu Hyojin-ah, Yifan menceritakan tentangmu tadi siang saat dia menelepon.” Mama Wu berkata dan Yifan hanya tersipu malu.

“Ma..bisakah kita tidak membahas itu?” Yifan berkata malu.

Wae? Kau terdengar sangat senang saat menceritakan Hyojin.” Mama Wu bertanya dan Hyojin tersenyum melihat interaksi Yifan dan mama Wu.

“Ma..kau membuatku malu.”Yifan berkata dan mama Wu tersenyum.

Arraseo,arraseo…ini sudah malam ayo masuklah.” Mama Wu mengajak, wanita itu membuka pintu  panti.

Yifan tersenyum kearah Hyojin dan dia mengulurkan tangannya pada gadis itu, Hyojin hanya menatap kearah tangan Yifan sampai akhirnya Yifan menarik tangannya dan memaksa dia untuk masuk kedalam bangunan panti.

“Maaf belakangan ini panti sedang sepi, aku tidak tahu harus senang atau sedih soal itu.” Mama Wu berkata.

“Bukankah itu bagus ma? Setidaknya tidak ada anak yang senasib denganku dan Zhongren.” Ucap Yifan dan mama Wu mengangguk setuju.

“Kau benar Yifan, tapi aku sedikit kesepian disini..apalagi kau dan Zhongren jarang sekali menemuiku.” Mama Wu mengeluh dan dia membuka pintu menuju ruang makan yang cukup besar.

“Maaf ma, aku sibuk.” Yifan menjawab dan mama Wuhanya tersenyum dengan lembut kearah Yifan.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau pengusaha sukses sekarang.” Ucap Mama Wu.

“Duduklah, aku akan memanggil Eunjung dia masih memaak didapur sepertinya.” Mama Wu menyuruh Yifan dan Hanbyul duduk.

Yifan dan Hanbyulpun menurut dan duduk di kursi meja makan, setelah mama Wu menghilang dari ruang makan mungkin mencari Eunjung.

“Kenapa kau mengenalkanku sebagai Hyojin?” Hanbyul bertanya sedikit kesal.

“Kenapa?apa ka ingin aku memperkenalkanmu sebagai Hanbyul?” Tanya Yifan dan Hyojin hanya diam.

“Aku Hanbyul,bukan Hyojin.” Hanbyul berkata dan Yifan menghela nafasnya.

“Menurutku kau Hyojin, berhentilah mengeluh.” Yifan mengakhiri diskusi mereka, Hanbyul melirik kearah inding ruang makan dan dia bis amelihat beberapa lukisan dipajang di dinding ruangan.

Hanbyul berdiri dan dia berjalan mendekati pajangan lukisan yang ada di ruang makan, selain lukisan Hanbyul bisa melihat foto juga. Hanbyul tersenyum saat dia mengenali salah satu wajah anak kecil yang ada didalam foto yang di pajang, dia menyentuh foto itu dan dia bisa mendnegar langkah kaki mendekat kearahnya.

“Itu aku, saat aku masih berumur sepuluh tahun, anak yang berdiri dipinggir Zhongren…apa kau mengenali dia juga?” Yifan bertanya dan Hanbyul mengangguk.

“Zhongren tidak berubah banyak, tapi kau…kau berubah.” Hanbyul mengungkapkan lalu dia melirik kearah Yifan.

“Benarkah? Mungkin benar, dulu aku sering main diluar jadi kulitku sedikit coklat.” Yifan tersenyum saat dia berbicara.

“Apa kau senang tinggal disini?”

“Ya, setidaknya disini semua orang menyayangiku.” Yifan mengelus foto yang ada di dinding.

Hanbyul menunduk, entah kenapa airmatanya mengancam untuk turun dan dia berusaha dengan keras menahannya dia tidak bisa menangis sekarang.

“Yifan-shi, apa kau merindukan teman-temanmu?” Hanbyul kembali bertanya, dia bisa melihat ekspressi sedih terpampang diwajah tampan Yifan.

“Ya, terkadang aku ingin bertemu dengan mereka..aku penasaran apakah mereka tumbuh dengan baik? Apakah mereka memiliki pekerjaan yang layak sekarang? Atau mungkin mereka sudah menikah, siapa yang tahu..” Yifan mengungkapkan.

“Bagaimana denganmu, Hanbyul apakah kau merindukan seseorang?” Yifan melirik kearahnya dan Hanbyul hanya tersenyum tipis penuh misteri.

“Menurutmu?” Hanbyul balik bertanya.

“Aku mendengar dari Taeyeon, Taeyeon bilang kau bertunangan dengan Luhan.”Ungkap  Yifan, Hanbyul langsung beku ditempatnya.

“Apa itu benar?” Yifan menunggu jawab dari hanbyul, rasanya dia harus menunggu setahun untuk mendapatkan jawaban dari Hanbyul.

“Ya, Taeyeon benar..” Hanbyul menjawab, hati Yifan langsung hancur berkeping-keping saat dia mendengar jawaban itu.

“Oh..begitu ya, aku pikir Taeyeon berbohong.” Yifan menunduk.

“Taeyeon-shi benar, aku bertunangan dengan Luhan.” Hanbyul mejelaskan dan dia melirik kearah lain, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

“Apa kau bahagia? Luhan kelihatannya lelaki yang baik.” Yifan berkata dan Hanbyul mencengram ujung mantel coklatnya.

“Ya..dia lelaki yang baik, aku bahagia bersamanya.” Hanbyul menjawab, dia menahan isak tangis yang akan keluar dari mulutnya.

“Selamat kalau begitu, aku harap kau dan Luhan selalu bahagia.” Ucap Yifan, suaranya terdengar lemah namun dia terdengar sangat tulus mengatakan itu.

Airmata Hanbyul langsung menetes, dia sudah berhasil menghancurkan hati Yifan namun kenapa dia tidak merasa puas dia malah merasa bersalah. Airmatanya terus keluar menetes namun dia menyembunyikannya dari yifan, dia menahan tangisnya sekuat mungkin sehingga tenggorokannya terasa sangat kering.

Yifan yang melihat bayangan Hanbyul di kaca jendela terkejut, dia bisa melihat Hanbyul menangis dia tidak mengerti sebenarnya untuk apa airmata itu. Kenapa Hanbyul menangis? Yifan mencapai bahu Hanbyul dan akhirnya dia memeluk Hanbyul dari belakang, Hanbyul terkejut sata dia meraskaan tangan Yifan melingkar di bahunya.

“Kenapa?kenapa kau menangis?bukankah kau bahagia?” Tanya Yifan, dia mengistirahatkan kepalanya dipundak Hanbyul, dia bisa mencium harum shampo gadis itu.

Hanbyul tidak menjawab dia menyentuh lengan Yifan, dia berhenti menangis namun dia menutup matanya lalu menghela nafasnya seakan dia melepaskan semua beban yang ada dipundaknya.

Mama Wu dan Eunjung yang membawa makan untuk Yifan dan Hanbyul berhenti di ambang pintu saat dia melihat Yifan dan Hanbyul berpelukan, Mama Wu tersenyum dan dia menyuruh Eunjung untuk kembali kedapur.

“Sebaiknya kita tidak menganggu mereka.” Mama Wu berkata pada Eunjung, Eunjung hanya bisa mengangguk dan meninggalkan ruang makan.

[Apartemen Luhan, Seoul – Korea selatan 21:00PM]

“Bagaimana keadaanmu di Korea? Cuaca disana pasti dingin.” Mendnegar perkataan ibunya Luhan tersenyum.

“Ma, kau tak usah khawatir..aku baik-baik saja.” Luhan berkata, dia berjalan menuju lemari es yang ada di dapurnya dan mengambil salah satu botol air mineralnya.

“Aku tahu Luhan, tapi tetap saja…apa kau sudah menerima suratku dari Tao?” Tanya Ziyi.

“Ya, dia mengantarkannya padaku.” Luhan menjawab dan dia meneguk air mineralnya.

“Jadi…bagaimana apakah kau ingin pergi bersamaku?” Tanya Ziyi.

“Entahlah ma, Appa tidak ingin aku pergi.” Luhan mengungkapkan, dia masih ingat ekspressi tidak setuju yang Siwon tunjukan padanya sata dia mengatakan kalau dia ingin pergi ke Paris.

“Lalu? Luhan..ini kesempatanmu untuk membuka usahamu sendiri..kau tidak bisa terus bergantung pada perusahaan Guangde.” Ziyi berkata, nada suaranya terdengar kesal.

“Ma, ini bukan soal uang..aku punya cukup uang dari hasil menciptakan lagu dan mengarasemen lagu.” Luhan berkata.

“Tapi sayang, kau tidak pantas bekerja seperti itu..kau lebih pantas bekerja di kantor dan memiliki banyak asisten.” Ziyi berkata dan Luhan tertawa.

“Ma, aku suka pekerjaanku memiliki asisten atau tidak itu tidak jadi masalah untukku.” Luhan berkata.

“Tapi tetap saja, kau anakku Luhan..aku mengkhawatirkanmu.” Ziyi berkata dan Luhan tersenyum.

“Terimakasih Ma,aku akan baik-baik saja kau tak usah khawatir ok?apa kau tidak takut jika wajahmu keriput karena terus mengkhawatirkan aku?” Luhan menggoda.

“Oh yang benar saja! Keriput diwajahku bisa hilang dengan operasi, tapi kau..kau tidak ada gantinya Luhan.” Suara Ziyi terdengar sedikit serak.

“Ma..aku juga sayang mama, aku janji jika aku sudah siap aku akan ke Paris.” Luhan berjanji.

“Mama juga sayang kamu, ingat jangan lupa makan dan tidur yang cukup mengerti? Mama akan menunggumu di Paris.”

“Hati-hati ma, have a safe flight.” Luhan berkata dan dia tertawa diakhir kalimatnya.

Okay sweetie, see you soon.” Ziyi menjawab, akhirnya merekapun mengakhiri percakapan mereka.

Luhan menatap kearah jendela apartemenya, entah kenapa perasaanya sedikit tidak enak dari tadi rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya namun entah apa itu Luhan kebingungan.

[Hotel, New York – Amerika serikat 23:20PM]

   Zhongren tidak bisa tidur, bayangan lelaki yang tadi dia temui di restoran terus menghantuinya dia masih bisa mengingat rambut hitam lelaki itu, kulit putih pucatnya dan senyum manis lelaki itu membuatnya benar-benar gila. Bagaimana dia bisa muncul begitu saja dihadapannya dan mengatakan kalau dia adalah kakak tiri Zhongren? Manusia macam apa lelaki itu sebenarnya?

Zhongren bangun dari tidurnya dan menatap kearah langit-langit kamar hotelnya, Hyojung tertidur lelap disampingnya. Zhongren mengecup dahi Hyojung dan melepaskan tangannya dari pundak gadis itu, dia mengambil bungkus rokok yang ada disamping meja ranjangnya.

Membuka pintu balkon hotelnya Zhongren disambut oleh angin malam yang cukup dingin, dia menyulut ujung rokoknya dengan korek yang dia bawa. Dia bisa merasakan zat nikotin mulai memenuhi paru-parunya, dia tahu merokok tidak sehat namun untuk sekarng dia benar-benarmembutuhkan rokok untuk melepskan stress nya.

“Datanglah ke alamat ini, katakan kalau kau ingin menemuiku…namaku Kim Joonmyeon.”

  Perkataan Joonmyeon masih tergiang-ngiang ditelinganya dan itu membuat dia gila, dia tidak tahu apa yangharus dia lakukan. Satu sisi dia ingin mengetahui identitas aslinya dan mengetahui tentang ayahnya yang selama ini menghilang, namun disisi lain dia masih marah pada ayahnya karena menelantarkan dia selama belasa tahun.

Aku kakak tirimu Zhongren,kita hanya memiliki ibu yang berbeda…walaupun begitu aku masih menganggapmu saudaraku dan aku ingin kau mendapatkan apa yang ayahku titipkan.”

  Haruskah dia mempercayai lelaki asing itu? Dia bahkan tidak mengenali sedikitpun wajah Joonmyeon, Zhongren menghisap lagi rokoknya dan dia menatap kearah langit gelap New york.

“Eomma? Apakah kau mendengarku?” Zhongren berbisik.“Eomma, apa yang harus aku lakukan?”

Tak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya, dia hanya sendirian hanya angin malam sepertinya yang sudai menemaninya. Hyojung tertidur lelap diranjang, dia tidak bisa membuat kekasihnya itu khawatir ia tahu Hyojung akan mendukung setiap pendapatnya tapi bukan itulah yang Zhongren butuhkan.

“Zhongren-ah, kau sebaiknya datang aku akan menunggumu. oh iya aku punya sedikit informasi untukmu…nama aslimu bukan Zhongren, kau adalah Kim Jongin anak kedua dari Kim Taehyun.”

  Zhongren menyeringai saat dia mengingat nama aslinya, nama aslinya itu terdengar sangat asing dibibirnya namun sangat familiar didalam ingatannya.

“Kim Jongin..aku Kim Jongin..” Zhongren menyeringai penuh misteri.

[Panti asuhan White lily, Mokpo – Korea selatan 07:00AM]

  Entah bagaimana Hanbyul tidak mengingat, namun dia sekarang menemukan dirinya tidur bersama Yifan dengan kedua tangan Yifan memeluknya. Mereka tidak bercinta, hanya tidur bersama karena mereka masih memakai baju lengkap mereka hanya sepatu mereka yang lepas dan Hanbyul membuka matanya perlahan.

Yifan masih tertidur lelap memeluknya, Hanbyul tersenyum dan dia menyandarkan kembali kepalanya didalam pelukan Yifan. Dia tidak ingin bangun kembali dia hanya ingin seperti ini, selamanya dalam pelukan hangat Yifan.

Dia tersenyum saat dia akhirnya mengingat kenapa dia berakhir tertidur dalam pelukan Yifan, kemarin dia menangis dan Yifan mencoba menghiburnya. Pada akhirnya mereka harus menolak tawaran makan malam mama Wu, dia dan Yifan mengobrol sebentar diranjang Yifan dan akhirnya dia ketiduran.

“Apa kau sudah bangun?” Tanya Yifan, walaupun kedua matanya masih tertutup.

“Hm..aku sudah bangun.” Hanbyul menjawab.

“Bagaimana kalau hari ini kita pergi kepantai?” Yifan bertanya dan Hanbyul mengangguk.

“Baiklah,kita akan kesana nanti..” Hanbyul menjawab.

“Kalau begitu bangunlah..” Yifan menggoda, dia tahu Hanbyul masih mengantuk.

“Aku bilang nanti..” Hanbyul berkata dan Yifan tersenyum.

“Baiklah, tidur lagi aku akan menunggu.” Yifan mengelus kepala Hanbyul.

“Bisakah kau terus seperti ini?disampingku selamanya Jung Hyojin?” Yifan berbisik dan Hanbyul bisa merasakan Yifan mencium kepalanya.

“Aku tidak ingin melepaskanmu…” Mata Hanbyul terbuka saat dia merasakan cairan hangat menyentuh kulit kepalanya.

“Aku tidak pernah bisa melepaskanmu,aku mencintaimu Jung Hyojin.”

Hanbyul bia mendengar isakan tangis Yifan, dia hanya bisa memeluk Yifan dia sendiri harus menahan airmatanya. Walaupun Yifan sering sekali mengatakan kalau dia mencintai Hyojin, Hanbyul tidak pernah mengerti kenapa.

Kenapa Wu Yifan begitu mencintai Jung Hyojin?

 [Perusahaan K&T, Seoul – Korea selatan 10:00AM]

  Joonmyeon masih sibuk membaca beberapa proyek baru perusahaannya, ide-ide yang dia baca benar-benar tidak berguna. Joonmyeon membantingkan semua laporan yang dia terima, tidak ada satupun proyek yang membuatnya tertarik apalagi dengan publik korea yang memiliki banyak tuntutan.

Telepon Joonmyeon berdering dan dia mengangkat telepon itu dengan sedikit kasar, namun sekertarisnya mengatakan jika seseorang bernama Zhongren menghubunginya. Joonmyeon langsung tersenyum bahagia, dia segera menyuruh sekertarisnya untuk menghubungkannya dengan Zhongren.

“Ah…Zhongren-ah Senang kau akhirnya menghubungiku.” Joonmyeon berkata dengan sopan.

“Joonmyeon-shi..”

“Ah tidak,tidak..panggil aku Hyung.” Joonmyeon menyuruh.

“Baiklah Hyung, aku ingin membahas soal keluarga kita apakah kau punya waktu?” Tanya Zhongren dan Joonmyeon menyeringai.

“Tentu Zhongren-ah, tapi aku sudah pulang ke Korea sekarang…bagaimana kalau kita bertemu setelah kau pulang dari amerika?” Tawar Joonmyeon.

“Oh begitu ya, baiklah..aku akan menemuimu setelah aku pulang dari amerika.” Zhongren setuju.

“Bagus kalau begitu,aku akan menunggu.” Joonmyeon berkata dan dia mengakhiri sambungan teleponnya dengan Zhongren.

Joonmyeon menyeringai, dia menghubungi sebuah nomor asing.

“Urus Luhan,aku tidak butuh dia.” Joonmyeon berkata dan dia menutup teleponnya.

[Jalanan, Seoul – Korea selatan 10:15AM]

 Luhan menutup teleponnya saat dia mendengar suara operator menyambutnya setiap kali dia menghubungi nomor Hanbyul, Hanbyul tidak masuk kerja hari ini dan dia sangat khawatir. Dia berjalan menuju toko bunga yang ada didepannya dan dia tersenyum saat dia melihat sosok Eunjo sudah menunggunya, Eunjo melambaikan tangannya kearah Luhan.

“Oppa!” Panggil Eunjo manja dan Luhan mengelus kepala Eunjo.

“Apa kau menunggu lama?” Tanya Luhan dan Eunjo menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku sedang memilih bunga untuk Eomma.” Eunjo menjawab, gadis itu kelihatan serius menatap kearah berbagai bunga yang ada didepannya.

“Apa bunga lily putih lebih cocok?” Tanya Luhan dan Eunjo menggelengkan kepalanya.

Ani..itu terlalu biasa,aku ingin sesuatu yang berbeda.” Eunjo menjelaskan.

Mata Luhan memperhatikan beberapa bunga yang ada didepannya, tidak ada bunga yang mencuri perhatiannya semuanya hampir terlihat sama. Lagipula Luhan tidak pernah memperhatikan bunga, dia melirik kearah lain namun sebuah bunga yang ada disudut ruangan mencuri perhatiannya.

Chogiyo..” Luhan memanggil pelayan toko bunga.

“Kalau boleh tahu, bunga apa yah yang ada disana?” Luhan menunjuk kearah bunga yang dia sukai.

“Oh itu mawar kuning, apa kau menyukainya tuan?” Tanya pelayan itu, dia langsung membawa bunga itu dan menunjukannya pada Luhan.

Luhan menyentuh bunga mawar kuning itu, bunga itu kelihatan indah sekali dari dekat.

“Bunga ini melambankan awal baru dan kegembiraan tuan,bunga ini sangat bagus bukan? Bunga ini jarang sekali tumbuh, namun entah kenapa belakangan ini bunga ini tumbuh dengan subur.” Sang pelayan menjelaskan.

“Bisakah aku mendapatkan satu buket bunga ini?” Luhan bertanya dan sang pelayan mengangguk.

“Sebentar tuan,saya akan membuat buketnya untuk ada.” Sang pelayan itu mengambil bunga yang Luhan pilih dan mulai merangkainya.

“Untuk siapa bunga itu?apakah untuk Hanbyul eonni?” Eunjo bertanya dan dia menyikut lengan kakaknya.

“Untuk siapa lagi? Aku akan bertemu dengannya hari ini.” Luhan berkata.

“Bagus kalau begitu, aku sudah lama tidak bertemu dengannya..Oppa apakah kau dan Hanbyul eonni bertengkar?” Eunjo melirik kearah Luhan.

Wae?”

Ani…waktu itu aku menelponnya dan aku menanyakan sesuatu tentangmu dan Hanbyul eonni kelihatannya tidak mau membahasnya.” Eunjo mengungkapkan.

“Oh kami memang bertengkar.” Luhan berkata jujur dan Eunjo kelihatan terkejut.

“Apakah kalian sudah baikan sekarang?” Tanya Eunjo khawatir dan Luhan hanya bisa mengangkat bahunya.

“Entahlah Eunjo-ya, aku rasa pertunangan kami akan batal.” Luhan berkata dengan sedih, Eunjo menyentuh bau Luhan penuh simpati.

“Oppa…Hanbyul eonni menyukaimu, kau tenang saja.” Eunjo mencoba menghibur dan Luhan menyentuh tangan Eunjo yang ada dibahunya.

“Aku harap begitu Eunjo-ya.” Luhan tersenyum tipis.

Aigoo apa ini alasannya kau selalu terlihat murung setiap kali Appa bertanya soal pernikahan?” Ucap Eunjo.

“Eunjo-ya, jika aku membatalkan pertunangan ini apakah aku akan membuat Appa kecewa?”

“Oppa! jangan berkata seperti itu, aku tahu kau sangat menyukai Hanbyul eonni kau bahkan rela membayar semua biaya perawatannya.” Eunjo menjawab.

[Pantai, Mokpo – Seoul korea selatan 11:00PM]

  Yifan dan Hanbyul berjalan dipesisir pantai, mereka menatap kearah pantai biru yang ada dipinggir mereka. Sesekali Yifan akan melirik kearah Hanbyul dan tersenyum, tanpa Hanbyul sadari Yifan memegang tangannya dengan erat lalu lelaki itu tersenyum penuh kebahagiaan.

Hanbyul tidak mengerti kenapa Yifn terlihat begitu bahagia semenjak tadi pagi, apakah karena dia sekarang ada di kampung halamannya? Hanbyul berpikir. Mama Wu sangat baik sekali pada mereka, wanita itu bahkan menyiapkan sarapan yang lengkap untuk mereka keadaan panti memang sepi sekarang Hanbyul baru sadar.

Di panti asuhan White lilly hanya ada beberapa anak kecil,kebanyakan anak perempuan bahkan salah satu dari mereka mengajak Hanbyul bermain. Hanbyul tidak pernah akrab dengan anak kecil jadi dia sedikit canggung saat anak-anak panti mengajaknya bermain, berbeda sekali dengan Yifan yang kelihatannya langsung akrab dengan anak-anak.

Hanbyul berpikir jika mereka mempunyai anak Yifan pasti menjadi ayah yang sangat baik untuk anak mereka, Hanbyul segera menggelengkan kepalanya bagaimana dia memikirkan soal itu sekarang? Hanbyul memarahi dirinya sendiri.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Yifan bertanya dan Hanbyul melirik kearahnya.

“Bukan apa-apa.”Hanbyul menjawab.

“Setelah kita kembali ke Seoul, apakah kau akan menikah dengan Luhan?” Tanya Yifan, pertanyaan itu mendadak sekali dan itu membuat Hanbyul terkejut.

“Entahlah…aku belum tahu apa yang ingin aku lakukan.” Hanbyul mendongak menatap langit biru diatasnya.

“Kau bilang kau bahagia dengan Luhan, bukankah kau sebaiknya kembali padanya?”

Yifan menggengam erat tangan Hanbyul, hatinya tidak rela saat dia membayangkan Luhan dan Hanbyul menikah. Namun jika itu satu-satunya hal yang bisa membuat Hanbyul, mau tidak mau dia harus merelakannya dia harus belajar melupakan dan melepaskan Hanbyul wanita yang dia cintai.

“Haruskah aku kembali? Luhan kelihatannya sangat menyukaiku, dia selalu membantuku dan mengurusku.” Hanbyul menggoda dia ingin tahu apa jawab Yifan, apakah lelaki itu akan benar-benar melepaskannya begitu saja?

Hanbyul sangat kecewa saat dia melihat Yifan mengangguk, lelaki itu bahkan tidak menunjukan sedikitpun ekspressi cemburu.

“Jika itu membuatmu bahagia, aku tidak keberatan.” Yifan menjawab dan Hanbyul marah, dia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Yifan.

Heol! Kau bahkan bisa membohongiku sampai akhir.” Hanbyul marah dan berbalik menjauhi Yifan.

“Hyojin!” Yifan memanggil.

“Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu!” Hanbyul menjawab.

“Aku benar-benar mencintaimu, tapi kau tidak bahagia denganku kan?!” Yifan berteriak dan Hanbyul berbalik kearahnya.

“Kau…aku hanya akan menyakitimu, seperti dulu aku akan menyakitimu.” Yifan berkata dan Hanbyul bisa melihat airmata Yifan menetes.

“Aku..aku tidak berguna, aku hanya..aku hanya mencintaimu Hyojin.”Yifan menunduk dan menutup wajahnya.

“Tidak peduli apapun yang aku lakukan, pada akhirnya aku selalu menyakitimu…aku merasa bodoh dan marah terhadap diriku sendiri bagaimana aku selalu menyakiti wanita yang selalu mencintaiku dan menyayangiku dengan tulus? Bagaimana aku bisa merubah gadis itu menjadi wanita yang dingin seperti ini? Kenapa..kenapa aku bisa menghancurkan hidup wanita yang aku cintai.” Yifan berkata dan Hanbyul hanya bisa menatap kearah Yifan.

“Kenapa kau berbohong?” Hanbyul bertanya.

“Kenapa selama ini kau berbohong padaku, jika kau jujur padaku mungkin aku bisa memaafkanmu…kenapa kau terus berbohong padaku?” Hanbyul bertanya dan Yifan hanya diam, menahan airmatanya yang terus  keluar.

“Aku tidak tahu Hyojin,aku tidak tahu kenapa…mungkin karena aku begitu busuk dan jahat aku takut kau lari dariku jika kau tahu siapa aku sebenarnya.” Yifan mengungkapkan, dia menatap kearah Hanbyul berharap jika wanita itu berhenti berlari dan memeluknya.

“Kau memang jahat dan kejam, kau berbohong padaku selama ini…mengatakan kalau kau mencintaiku dan tidak bisa melupakanku,pada kenyataannya kau hanya memanfaatkanku apakah kau senang? Melihat hidupku hancur seperti ini? Aku bahkan tidak bisa kembali pada keluargaku.” Akhirnya airmata Hanbyul menetes.

“Aku..aku tidak pernah bermaksud seperti itu.”

“Diam! Kau tidak pernah mengerti perasaanku..aku hanya cukup bodoh untuk mempercayai semua janji kosongmu.” Hanbyul berbalik dan berlari, Yifan hendak mengejarnya namun akhirnya dia berhenti karena dia tahu walaupun dia mengikuti Hanbyul dia tidak akan membuat gadis itu tenang.

[Pemakaman, Seoul – Korea selatan 11:30PM]

“Oppa maaf aku harus mengajakmu ke makam Eomma, tapi Appa benar-benar sibuk jadi dia tidak punya waktu untuk menemaniku.” Eunjo berkata dan Luhan mengangguk.

“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan mengantarkan adikku yang manja ini.” Luhan berkata dan Eunjo tersenyum.

“Kau kakakku yang paling keren!” Eunjo melingkarkan tangannya dilengan Luhan.

“Tentu saja aku keren.” Luhan berkata dengan arrogan dan Eunjo hanya tersenyum.

Omo..omo..lihat kepalamu sekarang semakin besar.” Eunjo bercanda dan Luhan tertawa.

“Apa maksudmu? Kepalaku baik-baik saja.” Luhan berkata dan mereka menaiki tangga menuju pemakaman.

Setelah mereka sampai dipemakaman Eunjo berjalan kearah makam ibunya, gadis itu tersenyum saat dia akhirnya menemukan makam ibunya. Dia menyimpan sebuket bunga yang dia bawa lalu menyimpannya didepan foto ibunya, Eunjo mengelus foto ibunya gadis itu kelihatan sedih sekali Luhan tidak pernah melihat Eunjo sedih.

Ini pertamakalinya dia melihat wajah serius Eunjo, gadis itu menatap kearah foto ibunya penuh dengan kesedihan dan matanya berkaca- kaca.

“Eomma,aku datang lagi..Eomma kau pasti belum mengenal Luhan Oppa.” Eunjo berkata dan dia melirik kearah Luhan.

“Senang bertemu denganmu Eommoni.” Luhan menunduk dihadapan makam ibu Eunjo.

“Eomma, dia adalah kakak yang baik..kau tak usah khawatir sekarang aku tidak sendirian jika Appa sibuk.” Eunjo berkata dan gadis itu tersenyum lebar.

Luhan menyentuh bahu Eunjo, dia tahu Eunjo pasti merindukan ibunya dia mendnegar dari Siwon kalau ibu Eunjo sudah meninggal sejak Eunjo kecil. Itu artinya dia tidak memiliki banyak kenangan dengan ibunya, Luhan mengerti perasaan Eunjo dia cukup beruntung karena kedua orang tuanya masih hidup sekarang.

“Walaupun kami tidak memiliki darah yang sama, aku merasa kalau Luhan Oppa menyayangiku seperti adik kandungnya.” Eunjo melanjutkan dan Luhan tersenyum lalu memeluk bahu Eunjo.

“Eommoni kau bisa tenang disana, mulai sekarang aku akan menjaga Eunjo.” Luhan berkata dan Eunjo memukul dada Luhan pelan.

“Eommoni, Eunjo memang sedikit manja tapi dia tumbuh dengan baik dia pintar sekali bahkan nilai dia selalu bagus.” Luhan memuji dan Eunjo tersipu malu.

“Eomma kau tahu alasan menjadi dokter adalah, agar aku bisa menyelamatkan seseorang yang memiliki penyakit sepertimu.” Eunjo mengungkapkan dan dia mengelus batu nisan makam ibunya.

“Kau akan menjadi dokter yang hebat Eunjo.” Ucap Luhan.

“Aku harap begitu Oppa, aku tidak ingin melihat seseorang yang memiliki penyakit seperti Eomma tidak selamat seperti Eomma.” Eunjo menghela nafasnya.

“Saat Eomma meninggal aku terpukul sekali, hanya ada Appa disisiku saat itu aku masih ingat aku selalu menangis dan Appalah yang selalu menghiburku.” Eunjo tersenyum pahit mengingat masa lalunya.

“Appa bilang, jika aku menangis Eommapun akan menangis di surga jadi mulai saat itu aku berusaha untuk tersenyum dan terus bahagia…karena aku ingin Eomma bahagia disana.” Eunjo berkata, dia melirik kearah Luhan.

Luhan memberikan senyumnya kepada Eunjo dan mengelus kepala adiknya itu, Eunjo ternyata lebih kuat dari yang Luhan kira. Gadis itu masih bisa bahagia dan ceria walaupun dia kehilangan ibunya, Luhan begitu iri dia sendiri selalu bersedih karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

“Apa kau sudah selesai? Ini sudah siang,aku harus kembali kekantor.” Luhan berkata dan Eunjo mengangguk.

“Sampai jumpa lagi Eomma, aku menyayangimu.” Eunjo berpamitan dan merekapun berbalik untuk meninggalkan makam ibu Eunjo.

Saat mereka berjalan menuju mobil tiba-tiba saja ponsel Luhan berdering, Luhan berhenti berjalan dan mengaktifkan teleponnya dia bisa melihat nama Joonmyeon tertera di ponselnya. Dia kelihatan resah, dia melirik kearah sekitarnya dan dia menemukan sebuah mesin penjual minuman otomatis yang ada tak jauh dari mobilnya.

“Eunjo, bisakah kau belikan aku minuman? Aku haus, tapi aku harus mengangkat telepon ini.” Luhan berkata dia memberikan Eunjo sejumlah uang.

“Baiklah, kau ingin meninuman apa?” Tanya Eunjo.

“Apa saja.” Luhan menjawab singkat, Eunjopun mengangguk dan pergi meninggalkan Luhan.

Luhan yang melihat Eunjo sudah cukup jauh langsung mengangkat teleponnya, saat dia mengangkat teleponnya dia bisa mendengar suara tawa yang familiar.

“Hallo Luhan, senang bisa berbicara denganmu lagi.” Joonmyeon berkata.

“Apa yang kau mau? Sudah aku bilangkan, aku tidak akan menjual sahamku.” Luhan berkata dengan tegas dan Joonmyeon tertawa lagi.

“Oh tenang saja Luhan, aku tidak butuh sahammu sekarang.” Joonmyeon mengungkapkan.

“Karena aku punya kejutan untukmu.” Joonmyeon melanjutkan, mata Luhan melebar saat dia merasakan sesuatu dibelakang kepalanya.

“Sampaikan salamku pada Yixing, Luhan..” Joonmyeon akhirnya menutup teleponnya, Luhan mencoba melirik kebelakang namun lelaki yang menodongkan pistol kearahnya bersembunyi.

“Haruskah aku menembak kepalamu, atau mungkin langsung kejantungmu?” Tanya lelaki itu, dia bisa merasakan pistol yang lelaki itu pegang berpindah dipunggungnya.

“Zitao..kenapa kau?” Tanya Luhan marah, saat dia mengenali suara lelaki itu.

“Maaf ge, aku melakukan ini karena hanya Joonmyeon yang bisa menyelamatkan adikku dari tuan Zhoumi.” Zitao berkata.

“AKKKKHH…” Tiba-tiba saja mereka berdua mendengar Eunjo berteriak.

Zitao yang terkejut langsung menembakan pistolnya dan peluru dari pistolnya menembus punggung Luhan, Luhan langsung ambruk kelantai dengan dada dan mulut yang berdarah. Eunjo berteriak lagi dan Zitao kabur menggunakan mobil yang sudah dia sewa, Eunjo langsung berlari dan berlutut didepan Luhan.

“Oppa!Oppa..” Eunjo menjerit, Luhan mencoba mengatakan kalau Eunjo harus tenang dia mencoba menyentuh wajah Eunjo namun kesadarannya lambat laun langsung menghilang.

[Pantai,Mokpo – Korea selatan 12:00PM]

  Yifan mentap kearah pantai yang mendung, dia tidak kunjung menemukan Hanbyul entah kemana gadis itu pergi Yifan tidak tahu. Dia menatap kearah kalung berbandul bunga mawar yang dia beli beberapa tahun yang lalu untuk Hyojin, kalung itu masih sama seperti dulu tidak ada perubahan sedikitpun.

Dia berharap jika Hyojinlah yang seperti itu, dia berharap jika Hyojin maish mencintainya seperti dulu dia ingin kembali bersama Hyojin dan bahagia. Yifan menghela nafasnya, dia mengusap wajahnya.

Angin berhembus kencang dan dia menatap kosong kearah lautan, sepertinya jika dia bisa disini selamanya rasanya akan nyaman. Disini adalah tempat dia mana dia tumbuh menjadi lelaki, disini banyak sekali kenangan indah antara dia, Zhongren dan Taeyeon dimana semuanya masih tenang dan damai.

Dia masih ingat dulu dia dan Taeyeon sering bermian kesini sepulang sekolah, Zhongren biasnaya bergabung dan mereka akan bermain bola disini. Yifan masih bisa melihat dia dan Taeyeon memakai seragam SMA dan tertawa karena mereka melihat Zhongren yang jatuh, Zhongren marah dan mengejar mereka.

Suara tawa mereka masih bisa Yifan ingat,begitu lepas tanpa beban sedikitpun mereka masih melakukan hal-hal konyol dan bodoh tapi tetap tersenyum seperti seorang idiot. Terkadang Yifan rindu momen-momen seperti itu, dimana dia masih bisa tersenyum pada kesalahannya karena orang disekitarnya ada untuk membantunya.

Yifan berdiri, dia menatap kearah ombak yang mengamuk didepannya sepertinya akan ada badai namun Yifan tidak memiliki niat untuk kembali kepanti atau mencari Hanbyul. Dia berjalan perlahan kearah pantai, dia memegang erat kalung Hyojin dan melangkah lagi perlahan namun pasti.

Dia takut, takut sekali…namun dia lebih takut untuk kehilangan Hyojin dan dia sudah kehilangan wanita itu sekarang dia tidak memiliki apapun didunia ini hanya kehampaan dan penyesalan yang mendalam.

Air laut mulai menyentuh kakinya dan dia bisa merasakan air itu dingin sekali,Yifan tidak peduli dia masih tetap berjalan lebih jauh kedalam pantai dan segain kakinya mulai tenggelam dalam air laut. Ombak yang besar mulai menghantam tubuhnya hampir membuatnya terjatuh namun Yifan cukup kuat menahannya, dia masih terus berjalan sampai kakinya akhirnya tenggelam dalam lautan.

Sosoknya perlahan-lahan menghilang masuk kedalam pantai, dia menutup matanya sampai akhirnya seluruh tubuhnya termakan oleh air laut yang asin ia membiarkan tubuhnya tenggelam terus kebawah sampai dia kehilangan oksigen untuk bernafas.

“YIFAN!!!”

“YIFAN-SHI!!”

Yifan mendengar panggilan Hanbyul, taklama kemudian diapun kehilangan kesadaran karena dia sudah tidak bisa bernafas lagi. Namun dia bisa mendengar seseorang masuk berenang kedalam pantai dan menarik tangannya, Yifan tidak tahu siapakah yang menyelamatkannya yang jelas dia tidak ingin diselamatkan.

****

    Luhan tidak tahu dimana dia sekarang, dia hanya bisa melihat warna putih kemanapun dia melirik dia hanya bisa melihat warna putih. Luhan tidak ingat apa yang terjadi dia hanya bangun dalam ruangan yang tidak berujung ini, dia memegang kepalanya yang sedikit pusing dan bangun dari posisi terlentangnya.

Udara diruangan itu dingin sekali dan Luhan memeluk dirinya sendiri mencoba mencari kehangatan, dia melangkah mencari sesuatu atau seseorang yang bisa memberikan petunjuk kepadanya.

“Hallo? Apakah ada orang disini?!” Luhan berteriak, namun satu-satunya suara yang membalasnya hanya gema suaranya sendiri.

Luhan panik dan dia berlari mencari apapun yang jelas dia tidak ingin diam selamanya didalam ruangan ini, dia berlari dan terus berlari namun sepertinya ruangan ini tidak ada batasnya karena dia tidak bisa menemukan apapun.

“Dimana aku?” Tanya Luhan, dia mengusap wajahnya kebingungan.

“Oppa..bangun Oppa!”

Luhan bisa mendengar suara Eunjo namun dia tidak bisa menemukan sosok gadis itu, dia berlari dan mencari sosok Eunjo.

“Eunjo!” Luhan memanggil namun Eunjo tidak membalas.

“Maaf nona, anda tidak bisa masuk sebaiknya anda menunggu disini.”

Luhan bisa mendengar seorang wanita berkata pada Eunjo namun dia tidak bisa melihat apapun, Luhan berlari dan mengikuti suara yang dia cari.

“Percuma, kau tidak akan menemukan apapun.”

Sebuah suara mengejutkan Luhan, dia melirik kebelakang dan dia menemukan Yifan berdiri dibelakangnya. Dia menggunakan pakaian yang sama dengannya, kaos putih dan celana yang sama warnanya.

“Kenapa kau disini?” Luhan bertanya.

“Kita sekarat Luhan, kita ada didunia arwah.” Yifan menjelaskan dan Luhan tertawa mendengar penjelasan Yifan yang tidak masuk akal sama sekali.

“Apa? Dunia arwah? Jangan konyol ge..” Luhan masih tertawa, Yifan hanya bisa menatap kearah Luhan penuh kekhawatiran.

“Luhan..”

Ge..apa kau membenturkan kepalamu terlalu keras? Ayolah aku tidak percaya tahayul seperti itu..” Luhan melanjutkan masih tertawa dan menyentuh perutnya.

“LUHAN! Aku serius!” Yifan membentak dan Luhan berhenti tertawa.

“Lihat sekitarmu, kau pikir kita dimana?” Tanya Yifan dan darisana Luhan mau tidak mau harus mengakui pendapat Yifan.

“Kenapa kita ada disini?” Tanya Luhan menatap khawatir kearah Yifan.

“Sudah kubilang Luhan, kita sekarat.” Yifan menjawab dengan serius.

*******

“Oppa sudah ada di ruang gawat darurat, aku tidak tahu apa yang terjadi..aku melihat tiba-tiba saja seseorang menebaknya.” Eunjo menjelaskan, gadis itu pucat sekali dan tangannya gemetaran.

“Apa yang Eonni lakukan disini? Aku mencoba menghubungimu kemarin.” Eunjo bertanya heran kearah Hanbyul dan Hanbyul hanya bisa menunduk.

“Aku…aku bersama Yifan, dia juga mengalami insiden.” Hanbyul tidak ingin menjelaskan bagaimana Yifan mencoba membunuh dirinya sendiri dipantai.

“Oh…Eonni aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, tapi Luhan Oppa mengatakan kalau kau akan membatalkan pertunangan apa itu benar?” Tanya Eunjo dan Hanbyul hanya terdiam.

“Aku tidak tahu Eunjo, hubunganku dengan Luhan sedikit rumit untuk kau mengerti.” Hanbyul menjawab dengan suara lemahnya.

“Baiklah, tapi Eonni..aku mohon pikirkan lah baik-baik Luhan Oppa sudah mengorbankan segalanya untukmu dia merawatmu sata kau sakit dia juga yang selalu ada disaat kau sedih dan aku cukup yakin Luhan Oppa akan selalu ada disisimu.” Eunjo menyentuh tangan Hanbyul.

“Aku mengatakan ini karena aku tahu Luhan Oppa sangat mencintaimu bahkan dia membelikan mu sebiah bunga yang indah.” Eunjo berbalik sebentar dan memberikan buket bunga mawar kuning yang Luhan beli.

“Aku tidak tahu harus menyimpannya dimana tadi, jadi aku membawanya kesini.” Eunjo tersenyum karena dia merasa konyol.

“Luhan membelikanku ini?” Tanya Hanbyul, dia menyentuh buket bunga yang Eunjo berikan kepadanya.

“Bunga ini memiliki arti awal baru dan kebahagiaan.” Eunjo mnejelaskan.

“Aku rasa, itu yang Luhan Oppa inginkan darimu Eonni…awal baru dan kebahagiaan.”Eunjo menyentuh bahu Hanbyul dan Hanbyul hanya bisa menatap kearah bunga mawar yang ada di tangannya.

“Hyojin-ah!”

Mendengar nama aslinya dipanggil Hanbyul melirik dan dia menatap kearah mama Wu yang sudah berlari bersama Eunjung, mama Wu kelihatan khawatir sekali dan dia berlari kearah Hanbyul. Eunjo yang mendengar nama asli Hanbyul dipanggil menatap aneh kearah mama Wu, semenjak kecelakaan tidak ada yang berani memanggil Hanbyul dengan nama itu kecuali wanita tua yang ada didepannya.

“Mama, kau sudah datang.” Hanbyul berkata dan Mama Wu mengangguk.

“Bagaimana keadaan Yifan? Apa sudah baikan?” Tanya mama Wu khawatir.

“Maaf ma, tapi dokter bilang Yifan oppa harus di operasi secepatnya namun Yifan Oppa belum sadar mereka harus menunggu.” Hanbyul menjelaskan dan mama Wu langsung menangis.

“Aigoo, dasar anak bodoh..bagaimana dia bisa tenggelam dipantai?” Mama Wu menangis dan Eunjung langsung menyentuh bahu mama Wu penuh simpati.

“Ma..mama sebaiknya melihat dia dulu, aku sudah menunggu sekitar setengah jam tadi mungkin dia akan sadar jika dia mendengar suaramu.” Hanbyul berkata dan mama Wu mengangguk.

“Aku akan melihatnya, kamu sebaiknya datang lagi dia pasti ingin melihatmu juga saat dia sadar.” Mama Wu berkata dan Hanbyul mengangguk.

Eunjo melirik kearah Hanbyul saat mama Wu sudah pergi meninggalkan mereka berdua,dia tidak tahu siapa wanita yang Hanbyul panggil mama Wu namun mendengar dari namanya sepertinya wanita itu adalah keluarga dari Yifan.

“Dia orangtua angkat Yifan Oppa.” Hanbyul menjelaskan.

“Kenapa dia memanggil Eonni dengan nama Hyojin?” Eunjo bertanya lagi namun Hanbyul hanya tersenyum, dia mengelus kepala Eunjo.

“Aku akan menjelaskannya nanti.” Hanbyul berkata dan dia menatap kearah pintu ruangan unit gawat darurat karena seorang dokter dan beberapa suster keluar dari ruangan itu.

“Apa anda keluarga dari tuan Luhan?” Dokter itu bertanya dan Hanbyul juga Eunjo mengangguk.

“Bagaimana keadaannya dokter?” Tanya Hanbyul.

“Maaf nona, tapi peluru yang ada didada Luhan menebus sedikit lapisan jantungnya dan itu membuat jantung mengalami pendarahan, kami tidak bisa menjanjikan apapun sebaiknya anda berdoa untuk keselamatan tuan Luhan.” Sang dokter menyampaikan dan Eunjo langsung menangis.

Hanbyul memeluk Eunjo dan berterimaksih kepada sang dokter, airmatanya juga langsung menetes dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Bagaimana jika dia tidak memiliki kesempatan untuk menagtakan apa yang ingin dia katakan pada Luhan? Bagaimana jika dia tidak sempat untuk meminta maaf pada Luhan? Hanbyul hanay bisa menunduk penuh dengan kesedihan.

“Kami akan memindahkan tuan Luhan keruang ICU, kami akan melakukan sebisa kami untuk menyelamatkannya.” Dokter yang menangani Luhan berkata dan dia berlalu bersama suster yang mendampinginya.

“Eonni..apa yang harus aku katakan pada Appa?” Eunjo berbisik dan Hanbyul hanya bisa memeluk Eunjo lebih erat.

“Tak usah khawatir, aku akan mengatakannya pada Appa.”

*****

“Aku bosan!” Luhan mengerang kesal, dia berjalan kekanan dan kekiri percis seperti setrika dan itu membuat Yifan semakin marah.

“Kau pikir aku tidak? Kita hanya butuh suatu petunjuk.” Yifan berkata dia berdiri dari duduknya.

“Petunjuk apa Yifan? Yang kita bisa temukan hanyalah tembok putih dan lantai putih.” Luhan membalas.

“Sepertinya kalian kebingungan, ada yang bisa aku bantu?”

Mendengar suara itu Luhan dan Yifan melirik kearah sumber suara, mata Luhan dan Yifan melebar saat mereka melihat sosok Yixing berdiri dibelakang mereka. Dia tersenyum kearah kedua teman lamanya yang sekarang menatap kearahnya dengan aneh, Luhan langsung berlari kearah Yixing dan memeluk Yixing tanpa ragu sedangkan Yifan hanya terdiam masih terkejut dengan apa yang dia lihat.

“Yixing!” Luhan memanggil dan Yixing tertawa.

“Ya, ini aku Luhan.” Yixing menjawab dan dia melirik kearah Yifan yang dengan sedihnya berdiri dibelakang Luhan.

“Hi..apa kau tidak akan kesini dan memelukku?” Tanya Yixing bercanda namun Yifan hanya menunduk.

“Aku..maafkan aku Yixing, saat itu aku tidak sempat menyelamatkanmu.” Yifan berkata dan Yixing memebrikan Yifan sneyum lembutnya.

“Tidak usah murung seperti itu, aku tahu jika kau ada disampingku saat itu kau akan membantuku.” Yixing berkata dan Yifan tersenyum tipis.

“Kemarilah.” Yixing menyuruh dan Yifan akhirnya mendekat kearahnya lalu memeluk Yixing sebentar.

“Yixing, dimana kita? Apa yang terjadi?” Luhan bertanya.

“Tenang, kalian hanya ada di dunia bawah sadar kalian.” Yixing menjelaskan.

“Dunia bawah sadar? Apa itu artinya kami pingsan atau semacamnya?” Tanya Luhan dan Yixing mengangguk.

“Kalian berdua kehilangan kesadaran kalian bukan? Di dunia inilah kalian akan menentukan kehidupan kalian.” Yixing berkata.

“Tunggu, jadi hidup dan mati kita ditentukan disini?” Yifan bertanya penuh dengan keingin tahuan.

“Bisa dibilang begitu, itu semua tergantung pada kalian.” Yixing menjawab dan dia menepuk bahu Luhan.

“Lalu apa yang harus kami lakukan Yixing? Apa yang harus kami lakukan agar kami sadar kembali?” Tanya Yifan.

“Jawabannya ada disana, kalian pergilah kesana.” Yixing menunjuk sebuah pintu merah yang tiba-tiba saja muncul dibelakang mereka.

“Bagaimana pintu itu ada disana?!” Luhan keheranan, dia berlari kearah pintu merah itu dan memegang pintu itu seakan pintu itu adalah sesuatu yang sangat aneh.

“Masuklah kesana, takdir kalian ada dibalik pintu itu.” Yixing berkata dan Luhan mengangguk dia membuka pintu itu dan sebuah sinar yang terang bisa dia lihat.

Yifan hanya bisa menyaksikan Luhan menghilang masuk kedalam pintu itu, entah kenapa langkahnya begitu ragu dan namun Luhan akhirnya masuk sepenuhnya kedalam pintu itu dan Yifan menyaksikannya penuh dengan kekaguman dan kebingungan di waktu yang sama.

“Kenapa Yifan?kau takut?” Tanya Yixing.

“Tidak..aku hanya tidak mengerti.” Yifan membalas.

“Banyak hal yang tidak kita mengerti sebagai manusia Yifan.” Yixing tersenyum penuh misteri.

“Apa kau akan mengikuti Luhan?” Tanya Yixing, dia berjalan dan membuka pintu merah yang ada didepannya.

Cahaya itu begitu terang sehingga Yifan tidak bisa melihat apapun, dia sedikit takut sebenarnya apa yang menunggu dia dibalik pintu itu? Apa sebanarnya takdirnya? Apakah dia akan hidup kembali? Pertanyaan itu muali bermunculan di pikirannya dan Yixing tersenyum kearahnya seakan dia tahu apa yang Yifan pikirkan.

“Masuklah, semuanya akan baik-baik saja.” Yixing berkata dan dengan berat hati Yifan menurut dan melangkahkan kakinya menuju ambang pintu merah yang ada dihadapannya.

“Yixing aku..”

“Tak usah khawatir, semua orang memiliki takdirnya sendiri…Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan sempurna.” Yixing mendorong Yifan masuk kedalam pintu dan Yifan menutup matanya terkejut.

“APPA!”

Mendengar suara seorang anak kecil Yifan membuka matanya, dia bisa melihat seseorang yang sangat mirip dengan dirinya berlari memeluk anak kecil yang menyambutnya dengan senang. Anak kecil itu langsung memeluk sosok yang mirip dengannya dan sosok itu memeluk kembali anak itu penuh dengan kesenangan, anak itu tertawa lalu melepaskan pelukannya.

Yifan menatap kearah lelaki itu, lelaki itu benar-benar mirip dengannya namun dia kelihatan lebih bahagia dan sehat. Lelaki itu memakai jas kantoran Yifan bisa mengenali pakaian itu karena dia sering memakai nya untuk kekantor, Yifan tersenyum mungkinkah ini sosok dia saat dia sudah punya anak nanti?

“Appa, Appa tidak lupakan hari ini hari apa?” Anak itu bertanya dan Yifan tersenyum.

“Tentu saja Appa tidak lupa, hari inikan hari ulang tahun uri Hyunsik..” Yifan berkata dan Hyunsik tersenyum.

“Jadi Appa, mana hadiahku?” Hyunsik membuka tangannya.

“Yeobo, kau sudah pulang?” Tiba-tiba saja Hanbyul muncul dari dapur, dia masih menggunakan celemek dan rambutnya di ikat kebelakang.

“Yeobo, kau memasak lagi?” Tanya lelaki itu, dia mendekat kearah Hanbyul dan mencium Hanbyul membuat Hanbyul memukul lengannya.

“Ya! Disini ada Hyunsik.” Hanbyul berkata dan dia melirik kearah anaknya.

“Hyunsik-ah, bagaimana kalau kau membantu Eomma untuk menyusun  sendok dan garpu untuk Tante Hyojung dan paman Zhongren?” Tanya Hanbyul, dia memberikan satu set sendok juga garpu pada Hyunsik.

Nde, Eomma..Appa jangan lupa hadiah eoh?” Hyunsik mengancam dan Yifan mengangguk.

“Bagaimana kata dokter? Apakah kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya?” Yifan bertanya, dia mengelus perut Hanbyul dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Belum yeobo, mungkin beberapa bulan lagi.” Hanbyul menjawab.

Yifan yang melihat betapa bahagianya dia tersenyum, dia merasa sangat aneh sekali berdiri didepan dirinya sendiri dan menonton kehidupannya.  Yifan berjalan kearah ruang tengah rumahnya dan dia bisa melihat Hyunsik sibuk membereskan sendok dan garpu untuk paman dan tantenya.

Yifan melirik kearah dinding yang ada dibelakang Hyunsik dan dia bisa melihat foto pernikahannya dengan Hanbyul, Hanbyul terlihat cantik sekali didalam foto itu. Dia memakai gaun putih modern yang memeluk tubuh langsingnya dengan pas, sedangkan dia sendiri memakai jas berdiri disamping Hanbyul dengan senyum lebarnya.

Belum sempat Yifan menyentuh foto itu dia mendengar bel pintu berbunyi, dia melirik kearah pintu utama rumahnya.

“Hyunsik-ah!buka pintunya Eomma sedang memasak!”

Hanbyul memanggil dan Hyunsik segera berdiri dan membuka pintu rumah, dia bisa melihat sosok Hyojung dan Zhongren. Zhongren langsung menggendong Hyunsik dan memberikan keponakannya kado yang sangat besar membuat Hyunsik bersorak bahagia, dia berlari kedalam rumah memanggil ibunya.

“Eomma! Paman Zhongren dan tante Hyojung sudah datang!” dia berteriak, Hanbyul langsung muncul dari dapur sambul membawa masakannya lalu menyimpannya di meja makan.

“Omo! Kalian cepat sekali, aku kira kalian akan datang telat.” Hanbyul berkata dan dia memeluk Hyojung lalu Zhongren.

“Aku ingin cepat bertemu dengan keponakanku, lagipula kami sudah selesai bekerja.” Hyojung berkata.

“Masuklah, Hyunsik Appa sedang mandi.” Hanbyul berkata dan Zhongren tertawa mendengar nama panggilan baru Yifan.

“Aku masih ingin tertawa setiap kali aku sadar kalau Yifan hyung sekarang sudah punya anak.” Zhongren berkata dan Hyojung menyikut lengan suaminya itu cukup keras membuat Zhongren mengerang.

“Oppa!” Hyojung memarahi namun Hanbyul hanya tersenyum.

“Aku juga tidak percaya Zhongren, aku rasa aku sedang bermimpi sekarang.” Hanbyul berkata dan Zhongren tersenyum kearah kakak iparnya itu.

“Aku lega sekali karena kau memutuskan untuk bersama Yifan hyung.”Ucap Zhongren, Hanbyul hanya tersenyum.

“Oh Zhongren, Hyojung…kalian sudah datang.” Yifan muncul dari kamarnya dan Zhongren tersenyum lebar kearah kakaknya itu.

“Hyung! Aku merindukanmu!” Zhongren berkata dia membuka tangannya lebar-lebar mencoba memeluk Yifan dan Yifan malah menoyorkan kepalanya.

“Ya tuhan kau sudah besar Zhongren, hentikan tingkah konyolmu itu.” Yifan memberi nasihat namun Zhongren hanya tersenyum nakal.

“WOW! Keren!”

Perhatian Yifan dan Zhongren beralih kearah Hyunsik kecil yang baru saja membuka hadiah yang dia terima dari Zhongren, Yifan yang penasaran mendekat dan dia bisa melihat mainan mobil-mobilan dengan remote control yang sedang dia pegang oleh Hyunsik.

“Appa,lihat!” Hyunsik menunjuk kearah mainan barunya.

“Zhongren, mainan itu terlalu mahal..” Yifan berkata dan melirik kearah Zhongren.

“Tidak apa-apa, Hyunsik keponakanku satu-satunya aku ingin memanjakannya.” Zhongren berkata dia mengusap kepala Hyunsik.

“Iya tapi aku tidak suka jika kau memanjakannya, dia harus belajar untuk mandiri.” Ungkap Yifan dan Zhongren memutar matanya.

“Oh ayolah Hyung, kau memanjakan Hyunsik lebih dari aku.” Zhongren membalas.

“Aku tidak memanjakan dia.” Yifan menyangkal.

“Oh ya? Lalu siapa yang berlari penuh dengan kepanikan saat Hyunsik sakit demam?” Zhongren mengangkat alisnya.

Yifan mengerutkan keningnya setahu dia Zhongren tidak ada saat Hyunsik sakit, Yifan melirik kearah Hanbyul yang sedang mengobrol dengan Hyojung. Dia cukup yakin kalau Hanbyul yang menceritakan ini pada Zhongren, Hanbyul yang mengerti tatapan Yifan hanya tersenyum kearahnya Yifan ingin marah namun melihat senyuman itu akhirnya dia luluh.

“Dia anak pertamaku Zhongren, aku sedikit panik.” Yifan akhirnya mengakui dan Zhongren mengangguk penuh pengertian.

“Aku mengerti Hyung, kau ayah yang baik.” Zhongren menepuk bahu Yifan dan dia berlari kearah Hyunsik saat Hyunsik mengajaknya untuk bermain.

Yifan hanya bisa tertawa melihat Zhongren dan Hyunsik yang berlari kehalaman belakang untuk mencoba mainan mobil-mobilan baru Hyunsik, Yifan memperhatikan Hyunsik dan Zhongren dari jendela rumah dan diapun menghela nafasnya.

“Eonni, aku akan menemani Zhongren Oppa dan Hyunsik.” Hyojung berkata dan dia berjalan kearah halaman belakang meninggalkan Hanbyul dan Yifan berdua.

“Hyunsik Appa..” Hanbyul memanggil dan Yifan melirik kearah Hanbyul.

“Ya? Hyunsik Eomma?” Yifan merespon dan Hanbyul tersenyum, lalu dia mendekat dan Yifan melingkarkan tangannya dipinggang Hanbyul.

“Apa kau bahagia?” Tanya Hanbyul dan Yifan tersenyum lebar.

“Lebih dari bahagia…aku bahkan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk perasaanku.” Yifan mendekat sehingga dahi dia dan Hanbyul bersentuhan.

“Aku tidak pernah menyangka kita bisa seperti ini…semua ini seperti mimpi indah yang tidak pernah berakhir.” Ungkap Hanbyul, dia menangkup wajah Yifan.

“Walaupun begitu, aku masih memiliki banyak penyesalan.” Yifan berkata dia tersenyum pahit dan Hanbyul hanya bisa menatap sedih kearah suaminya itu.

“Apa penyesalanmu? Katakan padaku…”Pinta Hanbyul dan Yifan menghela nafasnya.

“Banyak sekali, namun penyesalan terbesarku adalah berbohong padamu…aku berharap kalau aku bisa mengatakan semuanya padamu sehingga kau tidak usah membenci aku dan kau bisa tetap menjadi Jung Hyojin.” Yifan mengungkapkan dan Hanbyul tersenyum lemah.

“Jika kau bisa memutar waktu, apakah kau akan tetap mencintaiku?” Yifan bertanya, Hanbyul mengelus pipi Yifan dia menatap dalam-dalam kearah suaminya itu.

“Walaupun aku bisa memutar waktu seratus kali, aku akan tetap mencintaimu dan kita akan bertengkar lalu dengan bodohnya aku akan membencimu tanpa sadar betapa besarnya cintamu dan aku…aku akan kembali padamu Yifan, bagaimanapun caranya aku akan tetap memilihmu.” Ucap Hanbyul dan airmata Yifan langsung menetes.

“Maaf, aku bukan lelaki yang baik…aku sudah menyakitimu.” Yifan berkata penuh sesal, Hanbyul menyeka airmata Yifan.

“Kau yang terbaik untukku Yifan, aku mencintaimu…aku tidak peduli jika kau sudah menyakitiku karena aku juga menyakitimu, kita seimbang sekarang.” Hanbyul berbisik dan Yifan menangkup wajah Hanbyul.

“Aku mencintaimu Wu Hanbyul.” Yifan berbisik.

“Aku juga, aku juga mencintaimu Wu Yifan.”

Yifan menarik Hanbyul dan mencium istrinya tepat dibibirnya, mereka berdua tersenyum dalam ciuman mereka lalu setelah beberapa menit mereka berpisah.

“Bagaimana kalau kita bergabung dengan Hyunsik dihalaman belakang?” Tanya Hanbyul dan Yifan mengangguk mereka berjalan kearah pintu halaman belakang.

Yifan yang melihat sosok duplikatnya dengan Hanbyul berjalan kehalaman belakang penasaran dan diapun mengikuti kedua sosok itu, namun cahaya yang menyilaukan kembali datang dan saat dia membuka matanya dia sudah ada ditempat yang lain.

Yifan merasa kepalanya pusing dia langsung terjatuh ketanah sambil mencengkram kepalanya yang sakit, dia bisa mendengar suara Yixing memanggilnya lalu sebuah tangan membantunya untuk berdiri.

“Yifan! Kau baik-baik saja?” Tanya Yixing dan Yifan bisa melihat ekspressi Yixing.

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing.” Yifan berkata.

“Dimana Luhan?” Tanya Yifan dan Yixing melirik kearah samping, Yifan mengikuti tatapan Yixing.

Luhan berdiri cukup jauh darinya, membelakangi dia dan Yixing. Entah apa yang Luhan lihat namun lelaki itu kelihatan sangat murung sekali, rasa pusingnya sudah hilang sekarang dan dia bisa berdiri tegak.

Dia baru sadar kalau sekarang dia ada disebuh bukit, bukit itu indah sekali ada sebuah pohon yang rindang didepannya dan beberapa tanaman ilalang yang cukup tinggi dan angin berhembus lembut menggoda rambutnya. Dibawah kakinya dia bisa melihat rumput yang sangat hijau sekali, tak pernah seumur hidupnya dia melihat rumput yang begitu subur dan sehat.

Pandangan Yifan akhirnya menatap kearah punggung Luhan, lelaki itu sesekali mengusap rambut pirangnya dan mengepalkan tangannya seakan-akan dia marah dan kesal. Yifan tidak tahu kenapa Luhan bertingkah seperti itu, dia ingin mendekat namun Yixing masih membantunya untuk berjalan.

“Apa yang dia lihat Yixing?” Tanya Yifan dan Yixing hanya menggelengkan kepalanya.

“Dia tidak menjawab semua pertanyaanku, dia hanya diam disana menatap kosong kearah langit.” Yixing menjawab.

“Apa yang kau lihat Yifan?” Yixing kembali bertanya.

“Banyak, aku tidak bisa menjelaskannya.” Yifan menjawab dan Yixing kelihatannya tidak puas dengan jawab Yifan.

“Ajak Luhan mengobrol, mungkin dia akan terbuka padamu.” Yixing menyuruh lalu dia berhenti membantu Yifan berjalan.

“Tugasku sudah selesai sekarang, semua keputusan ada ditanganmu dan Luhan.” Yixing berkata dan Yifan mengangguk.

“Terimakasih Yixing, kau benar-benar membantu.” Ucap Yifan.

Yifan berjalan kearah Luhan, Luhan bahkan tidak melirik kearahnya saat dia menyentuh pundak lelaki itu. Luhan mengusap wajahnya dan menghela nafasnya, dia kelihatan sangat sedih sekali dan itu membuat Yifan semakin penasaran.

“Apa yang kau lihat tadi?” Tanya Yifan, Luhan tidak menjawab.

“Apa kau akan terus seperti ini?” Tanya Yifan dan Luhan melirik kearah Yifan.

“Pergi dariku! Aku membencimu!” Luhan membentak marah dia mendorong Yifan sehingga lelaki itu terjatuh.

“Luhan!” Yixing memanggil saat Luhan pergi, Yifan kebingungan dia hanya bisa menatap kearah sosok Luhan yang menjauh darinya.

*****

   Hanbyul duduk disamping ranjang Yifan, gadis itu menatap khawatir kearah Yifan lalu dia menggengam tangan Yifan. Airmatanya menetes saat dia melihat betapa pucatnya wajah Yifan, bibirnya bahkan masih sedikit biru mungkin karena dia merasa kedinginan.

Suara pendeteksi detak jantung Yifan berbunyi lemah menandakan detak jantung Yifan benar-benar pelan, Hanbyul menutup matanya tidak kuat melihat kondisi Yifan yang sangat menyedihkan ini.

“Kau harus selamat Yifan, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika kau mati sekarang.” Hanbyul berbisik, dia memegang tangan Yifan dengan erat berharap lelaki itu membuka matanya.

“Aku..aku tidak akan memaafkanmu jika kau meninggalkanku begitu saja.” Hanbyul berkata, isakan tangisnya mulai terdengar diruangan namun dia tidak peduli.

“Aku tidak akan melepaskanmu, kau harus tertap bersamaku kau dengan itu!” Hanbyul membentak namun Yifan tetap menutup matanya, lelaki itu tidak memberikan respon apapun padanya dan itu membuat Hanbyul semakin putus asa.

Hanbyul berdiri dan melepaskan gengaman tangannya, dia berlari keluar dan menangis, dia duduk dilantai sambil menutup wajahnya dan menangis. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit dan dadanya sesak, dia merasa kalau dia adalah orang yang paling menderita didunia ini dia terus merasa gugup dan ketakutkan.

Dia takut jika detak jantung Yifan berhenti begitu saja dan lelaki itu akan menghilang dari hadapannya selamanya, jika itu terjadi Hanbyul tidak tahu apakah dia akan bertahan atau tidak.

Suara langkah kaki bisa Hanbyul dengar, dia tidak tahu langkah kaki siapakah itu dia bahkan tidak peduli untuk melirik kearah sumber suara dan terus menunduk menyembunyikan wajahnya. Namun suara langkah kaki itu berhenti dan sebuah bayangan lelaki ada didepannya, mata Hanbyul melebar saat dia melihat sosok Yifan tiba-tiba saja ada didepannya.

Hanbyul bahkan tidak sadar jika mulutnya terbuka sedikit karena kaget, dia hanya dia dan sosok Yifan yang ada didepannya tersenyum.

“Yifan-shi…” Hanbyul akhirnya memanggil dan Yifan mengangguk, Hanbyul berdiri dan menyentuh pipi Yifan namun tangannya tidak bisa menyentuh Yifan.

“Yifan-shi..apa yang terjadi?” Tanya Hanbyul dan Yifan hanya menatap sedih kearahnya.

“Maafkan aku Hanbyul.” Yifan berkata dan airmata Hanbyul langsung keluar membasahi pipinya kembali.

“Apa maksudmu?kenapa kau meminta maaf?” Tanya Hanbyul dan Yifan hanya tersenyum kearahnya.

“Aku mencintaimu.” Yifan berkata dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Tidak..tidak..kau tidak bisa meninggalkanku, apa kau akan pergi?” Tanya Hanbyul, Yifan menunduk tidak menjawab.

“Kau tidak bisa meninggalkanku, tidak! Ini semua tidak adil…” Hanbyul berkata dan airmatanya mulai menghalangi pandangannya.

Yifan tidak mengatakan apapun dia hanya menyentuh pipi Hanbyul, sentuhannya terasa begitu dingin dan sosoknya langsung menghilang tertiup angin yang kencang dari jendela koridor rumah sakit.

Andwae! Yifan-shi!” Hanbyul berteriak namun sosok Yifan sudah menghilang dari hadapannya.

Andwae! Oppa..Yifan Oppa..” Hanbyul menjerit tubuhnya langsung ambruk kelantai menangisi sosok Yifan yang menghilang.

Mama Wu yang melihat Hanbyul menangis segera berlari menghampirinya, dia langsung berlutut didepan Hanbyul dan memeluk Hanbyul yang menangis.

“Ma..Yifan Oppa akan meninggalkanku! Dia akan pergi..” Hanbyul berkata dan mama Wu hanya bisa menghiburnya dengan pelukan yang erat.

Eunjo yang melihat Hanbyul menangis seperti itu kebingungan, dia menghampiri mama Wu dan Hanbyul yang masih duduk dilantai.

“Ada apa Eonni?” Tanya Eunjo dan mama Wu menyuruh Eunjo untuk diam dan tidak bertanya.

[Pantai Eurwangni, Seoul – Korea selatan 05:00AM]

    Matahari masih bersembunyi dibalik awan-awan putih namun Hanbyul sudah berdiri didepan pantai dengan kardigan abu-abunya, dia menatap kosong kearah pantai yang masih sangat sepi satu-satunya suara yang menemaninya hanyalah deburan ombak yang cukup keras dan itu membuat Hanbyul tersenyum.

Dia merindukan pantai ini, sudah lama sekali dia tidak memiliki waktu untuk mendatangi tempat seperti ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan barunya sekarang. Dia menatap kearah langit yang masih sedikit gelap lalu dia mengodok saku kardingannya, dia mengeluarkan sebuah cincin indah dan menatap kearahnya sekilas lalu dia mulai berjalan.

Dia berjalan menulusuri pantai sendiri, memeluk dirinya sendiri sampai akhirnya Luhan datang dan dia menyentuh pundak Hanbyul. Hanbyul tidak mengatakan apapun namun dia merasa lebih hangat saat Luhan melingkarkan tangannya dibahunya, Dia tersenyum dan melirik kearah Luhan.

“Bagaiamana keadaanmu?” Tanya Hanbyul dan Luhan hanya tersenyum tipis.

“Aku baik-baik saja.” Luhan menjawab, Hanbyul tidak bertanya apa-apa lagi dan gadis itu melirik kearah lautan yang ada didepannya.

“Hari ini, lautan terlihat biru sekali.” Hanbyul mengungkapkan dan Luhan mengikuti tatapan Hanbyul lalu mengangguk setuju.

“Indah sekali..” Luhan tersenyum.

“Maafkan aku Luhan.” Hanbyul menunduk dan Luhan menyentuh pndak Hanbyul dengan erat.

“Tak usah meminta maaf,bagaimanapun aku tetap mencintaimu Hanbyul.” Luhan berkata dan Hanbyul menatap kearah Luhan.

“Apapun yang kau lakukan, jika itu membuatmu bahagia…aku juga bahagia.”Luhan mengungkapkan.

Hanbyul menatap kearah cincin yang ada ditangannya, dia mencium cincin itu lalu dia menghadapan kearah lautan yang luas sekali dia menghela nafasnya masih ragu dengan keputusan yang akan dia ambil. Ombak hari itu cukup besar namun Hanbyul tidak takut, dia berjalan menuju pantai hingga air laut menyentuh kakinya perlahan.

Air pantai terasa sedikit dingin saat kaki Hanbyul akhirnya masuk kedalam air, dia mencengkram cincin itu lalu dia menutup matanya hatinya terasa berat dia hanya ingin berlari keluar dari pantai.

“Lakukanlah, tak usah ragu…” Luhan berbisik,Hanbyul mengangguk.

Hanbyul akhirnya yakin dan dia melemparkan cincin yang ada ditangannya sejauh mungkin, dia langsung berteriak yang cincin yang ada ditangannya menghilang ditengah lautan.

“LUHAN!Aku harap kau tenang disana…Aku..aku menyayangimu.” Hanbyul berteriak, hanya suara ombaklah yang menjawabnya dan Hanbyul langsung menangis.

“Aku mencintaimu Hanbyul…” Luhan berbisik dan sosoknya menghilang dari belakang Hanbyul.

Hanbyul bersumpah dia bisa mendengar suara Luhan, dia melirik kearah kanan dan kirinya namun dia tidak menemukan siapapun bersamanya. Hanya angin yang berhembus kencang membuat airmatanya kering, airmatanya masih berlinang namun dia merasa semua beban yang ada dipundaknya hilang setelah dia membuang cincin pertunangannya dengan Luhan.

“Hanbyul!”

Mendengar namanya dipanggil Hanbyul melirik, dia bisa melihat Yifan berlari kearahnya sambil membawa handuk. Hanbyul tersenyum melihat Yifan yang panik dan langsung melingkarkan handuk yang dia bawa ditubuh basahnya, Yifan emnangkup wajahnya dan menyelipkan poni panjangnya dibalik telinganya.

“Apa yang kau lakukan disini? Aku mencarimu kemana-mana!” Yifan marah dan Hanbyul hanya tersenyum lemah.

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada Luhan.” Hanbyul menjawab dan Yifan tersenyum.

“Bukankah kau sudah melakukannya kemarin? Saat kau dan aku menyebarkan abunya disini?” Tanya Yifan dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Aku lupa kalau aku ingin mengatakan sesuatu padanya.” Ungkap Hanbyul, mereka berdua akhirnya berjalan menjauh dari pantai.

“Kau basah kuyup sekarang…” Yifan mengelap rambut Hanbyul dan Hanbyul tersenyum.

Wae? Kenapa kau tersenyum?” Tanya Yifan dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya senang.” Hanbyul berkata dan dia mendekat kearah Yifan, Yifan tersenyum lalu mencium gadis itu penuh dengan hasrat.

Yifan menarik Hanbyul lebih dekat sehingga ciuman mereka lebih dalam, Hanbyul membuka mulutnya membiarkan Yifan untuk menjelajahi mulutnya dengan lidahnya. Tangan Hanbyul mengelus rambut Yifan dan tangan Yifan memeluk pinggang Hanbyul dengan erat, dia takut jika semua ini hanya mimpi indah dia takut jika dia bangun dari tidurnya dan dia menemukan kalau dia sendirian.

Hanbyul melepaskan ciumannya, dahinya dan dahi Yifan masih bersentuhan lalu Hanbyul mencium kembali Yifan dan Yifan tersenyum. Yifan melepaskan pelukan mereka, dia mengambil sesuatu dari saku celananya membuat Hanbyul gugup.

Yifan langsung berlutut didepan Hanbyul dan Hanbyul tertawa walaupun matanya sudah berkca-kaca, dia bisa melihat kotak hitam kecil ditangan Yifan dan Hanbyul sudah tahu apa isi dari kotak kecil itu. Yifan membuka kotak kecil itu dan dia bisa melihat sebuah cincin yang cantik didalamnya, cincin itu tidak besar ataupun mewah namun sangat berarti sekali untuk Hanbyul.

“Jung Hyojin, maukah kau menikah denganku?” Yifan melamar dan Hanbyul tersenyum sambil menangis, dia merasa sangat konyol sekali sekarang.

“Ya, Wu Yifan..aku akan menikahimu.” Hanbyul berkata dan Yifan berdiri lalu mencium Hanbyul kembali.

“Terimakasih,terimakasih karena kau ingin menikahiku.” Yifan berkata saat dia melepaskan ciumannya.

“Apapun untukmu Oppa..” Hanbyul menjawab, Yifan menarik tangan Hanbyul dan dia memasangkan cincinnya dijari manis gadis itu.

“Maaf aku tidak bisa membelikan cincin yang lebih bagus, tapi setelah kita menikah aku berjanji aku akan membelikan cincin yang lebih bagus.” Yifan berkata dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak butuh cincin Oppa, yang aku butuhkan hanya kau.” Hanbyul berkata dan Yifan mencium dahi Hanbyul.

“Kalau begitu kau tak usah khawatir, aku akan selalu ada sisimu.” Yifan berkata dan Hanbyul mengangguk.

“Jangan pergi lagi, aku kira aku akan kehilanganmu saat kau mendatangiku dirumah sakit…” Hanbyul berbisik dan dia memeluk Yifan.

“Aku kira kau benar-benar akan meninggalkanku, aku begitu panik saat dokter mengatakan kalau kau sudah tidak bernafas lagi tapi kau kembali taklama kemudian kau kembali bernafas dan sekarang kau ada disini bersamaku.” Hanbyul menatap kearah Yifan dan dia mencium hidung Yifan, Yifan menyentuh pipi Hanbyul dan memberikan Hanbyul senyuman yang begitu lembut dan tatapan yang penuh dengan kekaguman.

“Aku tidak akan pergi, aku akan kembali padamu…bagaimanapun caranya, aku akan kembali padamu Jung Hyojin.”Yifan mencium kepala Hanbyul.

“Kau tahu, saat aku koma aku bertemu dengan Luhan.” Yifan mengungkapkan dan Hanbyul menatap aneh kearah Yifan.

“Aku tahu itu kedengaran tidak masuk akal, tapi aku benar-benar bertemu dengan dia.” Yifan melanjutkan.

“Apa yang dia katakan?apakah dia marah padaku?” Tanya Hanbyul dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Tidak, dia tidak akan pernah bisa marah padamu Hanbyul…dia sangat mencintai, bahkan aku harus mengakui itu.” Yifan menjelaskan dan dia mengelus pipi Hanbyul.

“Lalu kenapa dia tidak kembali? Kenapa dia memutuskan untuk pergi?” Tanya Hanbyul, Yifan hanya menatap sedih kearah Hanbyul.

“Saat aku dalam keadaan koma, aku datang kemasa depan…aku melihat kalau kita memiliki keluarga.” Yifan mulai menceritakan.

“Kau dan aku begitu bahagia, aku sendiri tidak percaya kalau aku mengingat ini tapi memori tentang masa depanku denganmu tertanam kuat di ingatanku.” Hanbyul tersenyum, mendengarkan cerita Yifan selalu membuatnya senang.

“Kita akan punya anak, dan kau semakin cantik setiap harinya…aku bahkan tidak bisa melirik kearah lain jika kau ada didepanku.” Yifan tertawa begitu juga dengan Hanbyul.

“Gombal!” Hanbyul berkata dan dia memukul dada Yifan walaupun pipinya bersemu merah, senyum Yifan langsung hilang setelah dia mengatakan itu.

“Tapi Luhan, dia melihat hal yang lain.” Yifan kelihatan sangat sedih.

“Dia mengatakan padaku jika dia melihatmu, dia melihatmu tenggelam dipantai percis sepertiku dipantai ini.” Yifan mengungkapkan, senyum Hanbyul langsung hilang.

“Kau membunuh dirimu sendiri disini dan Luhan tidak bisa menyelamatkanmu karena dia terlambat, Luhan ketakutan dan dia langsung menutup matanya dia tidak bisa melihat kau tenggelam.” Yifan melanjutkan dan Hanbyul terlihat sangat terkejut.

“Aku..aku akan mati disini jika aku bersama Luhan?” Hanbyul bertanya dan Yifan tidak menjawab.

“Entahlah Hanbyul, tapi itu yang Luhan lihat.” Yifan menjawab, Hanbyul menghela nafasnya.

“Mungkin semua ini yang terbaik.” Balas Hanbyul.

“Sebenarnya, Luhanlah yang seharusnya selamat…namun dia menukarkan tempatnya denganku karena dia ingin kau bahagia, ck..Luhan bahkan masih memikirkanmu walaupun dia sendiri dalam bahaya.” Yifan berkata dan Hanbyul memukul lengan Yifan.

“Kalau begitu jika kau ada diposisi Luhan, apa kau akan melakukan yang sama?” Tanya Hanbyul.

“Aku egois, aku mungkin membiarkan Luhan untuk pergi.” Yifan bercanda dan tertawa membuat Hanbyul cemberut.

“Kau memang jahat! Aku tidak tahu kenapa aku mencintaimu.” Hanbyul berkata dan Yifan mencium Hanbyul sekali lagi.

“Aku bercanda, tentu saja aku akan melakukan hal yang sama…aku akan melakukan apapun agar kau bahagia, karena kau layak untuk bahagia aku hanya cemburu padanya.” Yifan tersenyum dan Hanbyul tertawa saat dia melihat ekspressi Yifan.

“Kenapa?”

“Karena dia berkorban untukmu, dia selalu berkorban untukmu.” Yifan menjawab dan Hanbyul mengangguk setuju.

“Aku harap dia tenang disana, dia pasti menjadi malaikat disana.” Hanbyul menatap kearah langit begitu juga Yifan.

“Aku harap begitu, semoga saja dia menjadi malaikat disana dan bahagia.” Yifan membalas.

“Arrghh..baju ini terasa lengket, aku mau menggantinya.” Hanbyul berlari kearah Villa yang mereka sewa.

“Hei! Tunggu aku!” Yifan mengejar Hanbyul namun Hanbyul hanya menjulurkan lidahnya, Yifan tertawa dan mengangkat tubuh Hanbyul membuat Hanbyul memekik terkejut.

Hanbyul tertawa dan melingkarkan tangannya dileher Yifan, Yifan mengangkat tubuh Hanbyul sampai mereka akhirnya masuk kedalam villa. Tawa Hanbyul bisa terdengar begitu juga tawa Yifan, mereka berdua sudah lama sekali tidak tertawa seperti ini dan mereka harap mulai dari hari ini tawa mereka tidak akan hilang.

[Lobi hotel, Seoul – Korea selatan 06:30PM]

   Zhongren masuk kedalam lift hotel, walaupun dia masih sedikit menggantuk dia mencoba untuk terlihat segar. Sebenarnya dia sedikit gugup karena kakak tirinya, Joonmyeon tiba-tiba saja menghubunginya pagi-pagi sekali entah apa yang akan Joonmyeon katakan namun Zhongren benar-benar khawatir.

Dia membenarkan topi dan kacamata hitam yang dia kenakan, semenjak dia menjadi seorang MC di program musik dia mulai dikenal oleh publik apalagi sekarang dia akan bermain drama kepopulerannya semakin meningkat saja setap harinya.

Pintu lift akhirnya terbuka dan dia melangkah keluar menuju lobi, dia bisa melihat Joonmyeon dengan santainya meminum tehnya dan membaca koran. Zhongren tersenyum, kakak tirinya itu benar-benar terlihat sangat berwibawa apalagi Joonmyeon sekarang memakai kacamata, dia benar-benar terlihat seperti soerang pembisnis yang sangat sukses dan berkarisma.

Walaupun banyak sekali orang di yang ada lobi kakak tirinya itu berhasil terlihat sangat menonjol, dengan karisma dan wajah tampannya tidak susah bagi Zhongren untuk menemukan sosok kakak tirinya itu.

“Hyung..” Zhongren memanggil dan Joonmyeon menurunkan korannya.

“Zhongren-ah, kau datang..” Joonmyeon menyambut dengan hangat.

“Duduklah, aku sudah menunggumu..” Joonmyeon menyuruh dan Zhongren segera duduk didepannya.

“Ada apa Hyung? Kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu yang penting..” Zhongren bertanya dan Joonmyeon tersenyum.

“Oh benar, sebenarnya ini tidak terlalu penting tapi aku lelah mendengarnya dari orang lain dan televisi.”Joonmyeon memainkan tangannya, lelaki itu kelihatan ragu-ragu.

“Oh..apa yang ingin kau tanyakan Hyung?” Zhongren bertanya, melihat ekspressi ragu Joonmyeon, Zhongren menjadi sedikit simpati pada lelaki itu Joonmyeon sepertinya orang yang menghormati privasi orang lain.

“Kau tak usah ragu Hyung, kau bilang kita keluargakan?” Zhongren berkata dan Joonmyeon kelihatan terkejut namun akhirnya dia tersenyum.

“Baiklah,jika kau tidak keberatan belakangan ini aku mendengar kalau kau sudah melamar Jung Hyojung, apa itu benar?” Joonmyeon menatap kearahnya menunggu jawabn dan Zhongren mengangguk.

“Iya Hyung, kau benar…” Zhongren menjawab dengan malu dan Joonmyeon tersenyum.

“Baguslah kalau begitu, aku pikir kalian sangat cocok.” Joonmyeon memuji lalu dia tersenyum dengan manisnya, Zhongren tidak tahu jika Joonmyeon bisa tersenyum seperti itu jika dia seorang perempuan dia pasti sudah jatuh cinta pada Joonmyeon.

“Terimakasih, tidak banyak orang mengatakan kalau kami cocok.” Zhongren menggaruk kepalanya canggung.

“Benarkah? Kalau begitu mereka buta.” Joonmyeon berkata dan Zhongren tertawa.

“Kau berlebihan Hyung, tapi sepertinya oranglain benar..terkadang aku merasa kalau aku dan Hyojung benar-benar berbeda.” Zhongren berkata menunduk menatap kearah kakinya.

“Oh sedikit perbedaan memang normal, bukankah begitu?” Joonmyeon bertanya dan Zhongren mengangguk.

“Sebaiknya kalian tidak usah menikah dulu, aku dengar Hyojung masih sangat muda…bukankah dia maish kuliah?” Tanya Joonmyeon.

“Tenang saja Hyung, kami akan menunggu sampai Hyojung lulus.” Zhongren mengungkapkan dan Joonmyeon kelihatannya puas dengan jawaban Zhongren.

“Itu baru adikku.” Joonmyeon berkata dan Zhongren tersenyum lebar, Joonmyeon dan dia mungkin belum terlalu dekat namun Zhongren sudah menyukai Joonmyeon.

“Ngomong-ngomong, dimana Hyojung?apakah dia masih tidur?” Tanya Joonmyeon dan Zhongren menggelengkan kepalanya.

“Dia masih mandi, dia akan datang beberapa menit lagi.” Zhongren menjawab.

“Bagaimana keadaan Hyojung? Dia baik-baik saja?”Tanya Joonmyeon dan Zhongren mengangguk.

“Ya, dia sedikit sedih soal kakaknya tapi dia baik-baik saja.” Zhongren menjelaskan dan Joonmyeon kelihatan sedih mendnegar jawab Zhongren.

“Oh iya, kematian Jung Hyojin benar-benar tragis…aku turut berduka cita.” Joonmyeon mengungkapkan.

“Terimakasih Hyung, Hyojung akan baik-baik saja kau tak usah khawatir..”Zhongren berkata dan Joonmyeon mengangguk.

Mereka berdua berhenti berbincang sebenarnya suasa diantara mereka sedikit canggung karena ini hanya kedua kalinya dia dan Joonmyeon bertemu, saat pertamakali mereka bertemu Zhongren terlalu shock untuk mengatakan apapun.

“Zhongren!” Mendengar namanya dipanggil Zhongren melirik kearah sosok Yifan dan Hanbyul yang berdiri tidak jauh dari mereka.

“Hyung..” Zhongren berkata dia berdiri begitu juga dengan Joonmyeon.

“Hyung, kau datang terlalu pagi aku sudah bilangkan jam tujuh pagi.” Zhongren berkata namun Yifan hanya tersenyum lalu mengelus kepala adiknya.

“Aku tahu, aku hanya tidak sabar untuk bertemu denganmu dan Hyojung.” Yifan menjelaskan.

“Ah..Hanbyul-shi, kau juga datang.” Zhongren melirik kearah Hanbyul dan Hanbyul mengangguk.

“Seang bertemu dneganmu lagi Zhongren-ah.” Hanbyul berkata dan Zhongren tersenyum.

“Sebaiknya kau memanggilnya Noona sekarang, kau tahukan aku dan dia akan menikah.” Yifan berkata dan Zhongren menganguk.

“Oke kapten!” Dia memberi hormat kepada Yifan membuat Yifan tersenyum lalu mengacak-ngacak rambutnya.

“EHM!” Joonmyeon berdehem, dia sedikit merasa dilupakan karena dari tadi Zhongren dan Yifan mengobrol.

“Oh iya, aku lupa Hyung..ini Kim Joonmyeon dia kakak tiriku.” Zhongren mengenalkan Joonmyeon.

“Zhongren-ah, kau bisa mengenalkanku sebagai kakakmu saja.” Joonmyeon berkata lembut, Yifan melirik kearah Joonmyeon dan entah kenapa Yifan memiliki firasat buruk soal.

“Kenalkan aku Kim Joonmyeon.” Joonmyeon mengulurkan tangannya pada Yifan dan Yifan menyambut uluran tangan Joonmyeon.

“Wu Yifan.” Yifan mengenalkan dirinya.

“Aku tahu kau Wu Yifan-shi, kau sukses memimpin perusahaan Guangde aku sangat kagum padamu.” Joonmyeon berkata dan Yifan hanya bisa tersenyum.

“Terimakasih, aku berhasil memimpin perusahaan Guangde karena aku bekerja dengan direktur-direktur yang sangat kompeten.” Ucap Yifan.

“Oh kau terlalu rendah hati Yifan-shi, tanpa kau Guangde tidak akan sesukses sekarang.” Puji Joonmyeon, dia bisa melihat ekspressi yang tidak nyaman terpampang diwajah Hanbyul yang bediri disamping Yifan.

“Zhongren apa kau tidak akan mengenalkanku pada wanita cantik yang ada disampingmu?” Joonmyeon bercanda, mendengar itu Hanbyul langsung melirik kearah Joonmyeon.

“Oh ini Hanbyul, dia calon istri Yifan hyung.” Zhongren mengenalkan, Hanbyul tersenyum kearah Joonmyeon dan Joonmyeon membalas senyuman Hanbyul.

“Hm..ini aneh, tapi aku merasa Hanbyul-shi sangat mirip dengan nona Jung Hyojin apa aku benar?” Tanya Joonmyeon dan ekspressi Yifan dan Hanbyul langsung kaku.

“Tidak mungkin Hyung, itu hanya perasaanmu saja.” Zhongren berkata dan Joonmyeon kelihatannya mengalah.

“Benar, aku memang tidak bagus dalam hal mengingat wajah seseorang.” Joonmyeon berkata dan Yifan kelihatannya lega saat Joonmyeon mengatakan itu.

Mereka berempat akhirnya duduk dimeja Joonmyeon, Yifan memegang tangan Hanbyul dengan erat dan anehnya Hanbyul kelihatan gugup setiap kali Joonmyeon menatap kearah gadis itu. Joonmyeon kebingungan apa sebenarnya yang membuat Hanbyul begitu gugup dihadapannya, Joonmyeon semakin penasaran apalagi gadis itu sesekali berbisik kearah Yifan seakan mereka sedang mendiskusikan sesuatu.

Matanya melirik kearah lain dan dia bisa melihat sosok Hyojung baru keluar dari lift Zhongren langsung menyambut tunangannya itu, Hyojung kelihatan bahagia sekali saat dia melihat sosok Hanbyul.

“Eonni, kau datang.” Hyojung berkata dan Hanbyul mengangguk.

“Hyojung kenalkan, ini Kim Joonmyeon…dia kakak tiriku yang aku ceritakan tempo hari.” Zhongren berkata, Hyojung menatap kearah Joonmyeon dan tersenyum.

“Senang bertemu denganmu Joonmyeon-shi, aku Jung Hyojung.” Hyojung mengulurkan tangannya pada Joonmyeon.

“Senang bertemu juga denganmu nona Hyojung.” Joonmyeon menyeringai penuh misteri.

The End?

Don’t Forget The Comment!!🙂

PS:

Holla reader’s.. wah seven sedih banget series ini akhirnya tamat..well buat cerita Hyojin sama Yifan berakhir disini mungkin (?) aku bakalan nulis sedikit extra buat mereka juga Taeyeon dan Yongguk yang masih gantung hubungannya jadi di tunggu aja yah extranya😀 oh iya aku juga lagi ngerjain cerita soal Sehun dan Jiyoung yang sedikit banget keceritainnya di cerita ini ayo yang penasaran tentang hubungan Sehun sama Jiyoung angkat tangannya! oh iya alasan kenapa Jiyoung bunuh diri juga bakal di ungkapkan di cerita baru nanti, awalnya sih seven mau bikin cerita romcom tapi kayak seven mau lanjutin cerita tentang Sehun dulu ayo sipa yang bisa nebak genre cerita Sehun? yang jelas bukan romcom…😀

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

25 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 17/Last episode]

  1. kyaaahhh finnaly~~~~ aku kira bakal ama luhan akhirnyaaaa u,u
    duhhh thor kok gantung bgt ituuu junmyeon muncul dibelakang…..
    zzzzz pokokny harus bikin sequel zhongren hyojung nih,,, hihihi maksa…
    over all ak mnikmati ceritanya dr chap 1 smpe skrg…
    thanks udah kasi bacaan wajib yg kereeen n mnghibur..
    ditunggu tulusan2 yg lainny yaa^^

  2. Yehet~ udah keluar!!! Walau smpet kcewa gra2 part 16 aku gak bisa buka, jadi gak aku komen di blog lain tp aku baca kok.. .

    Ending??? Semuanya gantung antra yifan ama hyojin rasanya belum puas kalo blum smpe punya anak, masalah jongmyun zhongren kayak gimana jga blum jelas. . . . Rasanya bener2 masih penasaran ama semua tokohnya!!!

    Eonni, tuntaskan semuanya di extra ok!! Jangan smpe ada yg gntung lagi #ngancam

    buat sequel sehun ama jiyoung aku tunggu!

  3. Ff ini benar2 end yah😦 ahh rasanya masih gantung thor.. Soal joomyeon sepertinya dia masih punya niat jahat ama zhongren:/
    Tapi aku seneng banget karna hyojin ama yifan akhirnya bersatu lagi..
    Kasian sih ama luhan.. Tapi itu yg terbaik untuknya..
    Hmmm author emang benar2 jago buat FF ..#Kagum *_*
    ditunggu thor FF – FF selanjutnya😉

  4. Author tahu gk ? Saking lamanya nunggu2 FF ini , aku udah ngulang dari ep 1-16 sebanyak 3x loh😀
    trus tadi pas tahu udh ada lanjutannya aku loncat2 sambil ketawa2 gaje gitu #lebay -_- tapi ini benar loh thor..😀
    ahh aku senang🙂 oiya masih ada extranya yah .. Klo gtu aku nunggu extranya .. Jangan lama2 ya thor

  5. Awalnya aku kira yifan oppa bakalan meninggal soalnya arwah nya sempat jumpa ama hyojin pas dirumah sakit.. Trus kata2nya itu udh kayak org yg mau meninggal😦 tapi untunglah klo akhirnya yifan oppa masih hidup😀 ^_^
    mianhae author kayaknya komenan aku banyak banget -_-

  6. kyaaaa ini udah ending thor ???
    akhirnya yifan sama hyojin, kirain yifan ama luhan bakal mati, eh ternyata cuma luhan yang mati.
    tapi masih gantung banget thor, hubungan zhongren hyojung, sehun juga, trus taeyeon yongguk, zitao nya apa kabar?, dan apa yang sebenarnya junmyeon mau…
    di extra mesti tuntas dan jelas ya thor *maksa*

    pokoknyo ini adalah ff pualinggg baguss yang pernah aku baca thor (y)
    ditunggu ya thor karya selanjutnya🙂

  7. Hmmm akhirnya end juga…sesuatu banget pengorbanan luhan…tapi aq ga rela cerita ini tamat…masih penasaran sama joonmyeon dy itu baik atw jahat…masih gantung nih thor lanjut ya hehehe….

    Boleh deh tau knp jiyoung bunuh diri…terus apa ada hubungannya sama sehun??omooo masih banyak yang harus diperjelas…pokoke ditunggu selalu squelnya,,,fighting,,,

  8. ANDDDWWWWEEEEE. . .
    knp Luhan.a harus mati knp gk Luhan.a ttp hdp trus nemuin wanita lain trus bahagia.
    wlw d sini happy ending krn hyojin n yifan knbli tp bagiku ini sad ending krn luhan mati T.T
    huaaaa author seven jahat Luhan.a d matiin #shhrrruuuttt ngelap ingus

    gini ya ending.a?????
    hyojin ttp gk buka identitas.a??????
    hwaa you hard work thor, just one say JEONGMAL DAEBAK ^_^
    #sad krn Luhan.a mati😦

  9. aaaaaaa keren bgt endingnyaaa unn kayaknya ini ff bisa bikin banyak sequel deh kayak kelanjutan zhongren hyojung plus kakak tirinyaa zhongren si suho trus taeyeon yongguk waaahhhh
    semangat ya thor nice story
    i hope you will make another great story again hihihi😀

  10. Horee…..Hyojin sama Yifan. Sebenere q suka Luhan tpi kli di cerita ini q lebih suka hyojin sama yifan. Tpi kok soal zhongren n kluarganya ga di perjelas ya?

  11. yeah sneng akhirny happy ending… yifan ama han byul… q pkr awlny hanbyul bkl ma luhan untungny ttp ama yifan akhirny…

    itu endny bkin pnsrn, knp pas liat hyojung joonmyeon jd kyk gt… jgn blg joonmyeon suka lgi ama hyojung… pnsrn jg ama taeyeon ama yongguk…

    yah pokokny di tunggu lha extra dri crt neh

  12. Kyaaaaa..finally..yifan sama hyojin bakal nikah juga…ya walaupun luhannya meninggal.uhh.it’s so sad..
    Wahh ada junma oppa..kira” apa dya org jahat atau bukan yahh…

    Authorr..aku bner” suka alur ceritanya…daebakk..aku rasa cerita ini cocok klo d jadiin novel..huwaaaa..pasti seruu tu..byk konflik yg ngena bgt..jdi kek bner” nyata gtu..
    Ini blom end yahh apa nyambung sama ff selanjutnyaa????

    Ditunggu lanjutannya thor…love you author😀

  13. akhirny aku punya waktu buat baca endingny.
    makasih eonnie udah nyelesaiin endingny.
    senang akhirny yi fan dan hyojin bisa bersatu kembali.
    uh.. keren deh.

  14. Author saranghae, makasih… Udah buat yifan dan hyojin. Aku sedih aku kira… Dia bersama luhan. Meski aku sedih luhan bias ku mati,tp dsni aku pengn hyojin breng yifan. Q HunHan shiper dan bias ku masih bingung ampe sang adik, sehun atau sang kaka, luhan.

    Sepertinya suho jahat yah karakternya? Wah gmana ya tampang angel kyk suho licik, pasti kyk ular

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s