Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 15]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin/Hanbyul              Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng               [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                  [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                        [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                  [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                          [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                           [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

Author Note:

  • oh iya, sebagian reader’s pasti bertanya-tanya kenapa sekarang Hyojin di panggil Hanbyul, soalnya dia udah menganti namanya secara legal jadi sekarang Hyojin itu Hanbyul dan nama Lawrence dia dapatkan dari orang tua Cecil, Cecil itu sahabat Hyojin saat dia masih di amerika, dia berperan sedikit kok di episode pertama, ada adegan dia sama Hyojin mengobrol di Cafe soal Hyojung dan kepergian dia dari amerika buat ngurus Hyojung di korea
  • Sebagian reader’s juga mungkin bertanya-tanya kenapa Yifan belum juga mati kekeke <– author sadis!  itu karena Minho selau ngasih obat penahan rasa sakit dan sepertinya Yifan menjaga kesehatannya cukup baik sehingga gumpalan darah di otaknya berkembang sedikit lambat aku juga pernah baca di internet kalau gumpalan darah di otak itu berkembangnya emang lama oleh karena itu Yifan kadang gak sadar kalau dia lagi sakit
  • Untuk para reader’s yang udah gatel pengen cerita ini cepert tamat, tenang aja kok setelah epsode ini ada dua episode lagi jadi cerita ini akan tamat di episode 17

Chapter:

1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7, 8, 9 , 10 , 11 , 12 , 13 ,14

15

Play Pretend

 

“Darimana saja kau?” Luhan bertanya, dia kelihatan sangat khawatir.

“Batre handphoneku habis.” Hyojin menjawab dengan singkat.

“Bagaimana keadaan Yifan ge, apakah dia baik-baik saja?” Luhan bertanya dan Hyojin hanya diam, dia mengangguk lemah lalu berjalan kearah kamarnya.

“Hyojin, kau baik-baik saja?” Tanya Luhan, dia menatap aneh kearah kekasihnya yang sekarang duduk diranjang wajahnya tertutup oleh kedua tangannya.

“Tidak apa-apa, aku hanya lelah.” Hyojin menjawab dan dia berdiri dari duduknya, Luhan tentu saja tidak percaya dengan perkataan Hyojin karena ekspressi wajah dan perkataannya sama sekali tidak cocok.

“Bohong, apa sesuatu terjadi pada Yifan ge?” Luhan mendekat dan dia menyentuh pingang Hyojin, Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah bilang dia baik-baik saja Luhan, kau tak usah khawatir.” Hyojin menjawab dan dia mencium bibir Luhan sekilas.

Luhan tidak bisa menyangkal perkataan itu dan diapun memutuskan untuk tidak melanjutkan bertanya, dia tidak ingin bertengkar dengan Hyojin sekarang. Luhan bisa melihat Hyojin melepaskan sepatu hak tingginya dan menyimpannya di rak sepatu, gadis itu membuka blazer orange nya dan menyimpannya digantungan baju kamarnya.

Luhan memutuskan untuk duduk diranjang Hyojin dan berpikir sejenak, dia tidak mengatakan apapun hanya diam dan memperhatikan Hyojin yang mengganti bajunya dengan cuek didepan Luhan.

Luhan tersenyum dia sedikit senang karena seperti Hyojin sudah nyaman bersamanya, gadis itu sudah tidak malu lagi untuk menunjukan tubuhnya didepan Luhan.

“Hyojin-ah, bagaimana kalau kau tinggal di apartemenku saja hari ini? Choco kesepian tanpamu.” Luhan berkata, namun nada suaranya lebih terdengar seperti memelas.

“Aku tidak bisa Luhan, bagaimana kalau seseorang curiga? Semuanya akan hancur jiga mereka tahu kalau aku dan kau berhubungan.” Hyojin berkata dan dia berjalan kearah kamar mandi untuk mencuci mukanya dari make up yang dia gunakan.

“Aku melihat kau dan Yifan ge sedikit akrab tadi, bahkan kau dengan senang hatinya mengantarkan Yifan ge kerumah sakit.” Luhan mengungkit dan Hyojin yang sedang menyeka wajahnya dengan handuk melirik kearah Luhan.

Hyojin tersenyum saat dia melihat Luhan memasang ekspressi muramnya, lelaki itu sedang merajuk lagi sepertinya. Hyojin berjalan mendekat dan dia mencium bibir Luhan, lelaki itu terkejut namun dia menyentuh leher Hyojin menarik wanita itu agar lebih dekat padanya. Tangannya melingkar di pinggang gadis itu dan Hyojin menyentuh dada Luhan mengelusnya, Luhan membaringkan Hyojin sehingga Hyojin berbaring diranjangnya.

Luhan melepaskan ciuman mereka dan tersenyum saat dia melihat Hyojin menatap kearahnya, tangan Hyojin menyentuh pipi Luhan dan mengelusnya. Luhan mencium telapak tangan Hyojin, dan dia mendekat untuk mengecup dahi gadis itu.

“Kau tak usah cemburu, aku milikmu.” Hyojin berbisik dan Luhan tersenyum lebar.

“Aku tahu.” Luhan menjawab sekarang menyeringai licik.

“Bagaimana keadaan Eunjo, apakah dia baik-baik saja?” Tanya Hyojin dan Luhan mengangguk.

“Ya, dia sedang sibuk ujian sekarang.” Luhan memberitahu dan dia berbaring disamping Hyojin.

“Hm..katakan padanya untuk belajar yang rajin, jika aku punya waktu luang aku akan mengajaknya membeli bubble tea.” Hyojin berkata dan Luhan mengangguk.

“Aku akan mengatakannya.” Luhan menutup matanya, dia sedikit lelah setelah dia memantau kegiatan di pabrik tadi.

Hyojin melirik kearah Luhan dan dia tersenyum tipis saat dia melihat Luhan sudah tertidur, Hyojin berbalik kearah Luhan dan dia memeluk pinggang lelaki itu. Entah kenapa rasanya dia takut sekali kalau besok dia tidak bisa melihat Luhan lagi, entah kenapa dia merasa gugup tanpa alasan.

Hatinya terus mengatakan kalau semua ini tidak benar namun tetap saja logikanya mengatakan kalau Luhan adalah alasan dia masih hidup hari ini, jika Luhan tidak menyelamatkannya dia tidak akan pernah bisa ada disini sekarang.

Melepaskan pelukannya Hyojin turun dari ranjangnya dan pergi keruang tamunya, dia menutup pintu kamarnya dan membiarkan Luhan tertidur dengan nyenyak. Hyojin berjalan menuju lemari televisinya, dia membuka salah satu laci kecil yang ada dibawah televisi flatnya.

Hyojin mengambil sebuah foto yang ada didalam laci itu, dia tidak ingat bagaimana foto itu masih ada didalam laci lemari televisinya. Sebenarnya lemari televisi yang dia gunakan adalah bekas lemari televisi Zhongren dan Yifan dulu, lemari ini milik tuan Lee dan dia memberikannya pada Hyojin karena rumahnya terlalu sempit untuk sebuah lemari televisi yang cukup lebar ini.

Hyojin mengusap fotonya, dia menemukan foto itu kemarin saat dia membereskan rumahnya dia menemukan sebuah foto dia dan Yifan yang sedang duduk disofa sambil bersantai. Kedua tangan Yifan melingkar di bahunya memeluknya dengan hangat sedangkan Hyojin sedang tertawa dan mata dia tertutup, mata Yifan menatap kearahnya penuh dengan kekaguman.

Hyojin menatapi foto itu penuh dengan kesedihan, dia tidak bisa terus memandangi foto itu karena dia membencinya. Dia membenci lelaki yang ada didalam foto itu, dia benci bagaimana rasanya jatuh cinta dan bahagia karena pada kenyataannya dia tidak bisa merasakan rasa itu sekarang satu-satunya yang dia bisa rasakan hanya rasa pahit.

Dia sudah lupa bagaimana manisnya dan hangatnya kata-kata Yifan, janji-janji Yifan yang begitu menggoda. Hyojin meremas foto itu kuat-kuat, dia menahan airmatanya dan kembali memasukan foto itu kedalam lemari televisinya.

Ini bukanya saatnya bernostalgia, dia memiliki misi yaitu menghancurkan Wu Yifan dan merebut kembali perusahaannya. Sampai kapanpun Hyojin tidak akan menyerah dia tidak akan kalah lagi, kali ini dialah yang akan tersenyum dan Yifan akan berlutut dihadapannya meminta maaf itulah yang dia inginkan.

[Kediaman Keluarga Jung, Korea selatan 20:00PM]

   Zhongren menatap kearah gelas soju yang ada didepannya, dia menghela nafasnya saat dia mengingat pertengkarannya dengan Yifan. Sepasang tangan melingkar dibahunya dan Zhongren tersenyum, dia tahu tangan siapakah yang melingkar dibahunya itu.

“Oppa, bagaimana kalau kau tidur? Ini sudah malam.” Hyojung berkata dan dia mencium pipi Zhongren.

“Aku belum mengantuk.” Zhongren menjawab.

“Kau sudah minum cukup banyak, nanti kau mabuk.” Hyojung mengingatkan dan Zhongren tersenyum.

“Aku tidak akan mabuk, tidurlah bukankah besok kau ada ujian?” Zhongren berbalik kearah Hyojung.

“Aku sudah selesai belajar, tenang saja.” Hyojung tersenyum dan dia memeluk Zhongren.

“Kau kenapa Oppa? kau terlihat murung dari tadi sore.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya..aku bertengkar dengan Yifan Hyung.” Zhongren mengungkapkan.

“Kenapa? Kau dan Yifan Oppa jarang sekali bertengkar.” Hyojung duduk didepan Zhongren.

“Bukan apa-apa, kami hanya memiliki pendapat yang berbeda.” Zhongren meneguk kembali sojunya.

“Tentang apa? Aku mendengar kalau Yifan Oppa masuk rumah sakit lagi, kenapa dengan dia?” Hyojung bertanya, dia ingat Yifan sudah masuk kerumah sakit beberapa kali dalam tujuh bulan belakangan ini.

Yifan mengatakan kalau cuaca yang membuatnya seperti ini, Hyojung hanya bisa mengangguk dan mempercayai perkataan Yifan. Namun melihat betapa kurusnya Yifan dan pucatnya wajah lelaki itu Hyojung menjadi khawatir, dia sedikit tidak percaya dengan ucapan Yifan jika lelaki itu hanya sakit flu lalu kenapa dia seringkali melakukan check up kerumah sakit.

“Dia hanya keras kepala…aku bosan harus membujuknya.” Ucap Zhongren, dia menuangkan lagi soju yang ada dibotol kedalam gelasnya.

“Oppa, mungkin Yifan Oppa hanya butuh waktu…dia akan luluh pada akhirnya.” Hyojung menghibur dan dia menyentuh tangan Zhongren.

“Aku harap begitu, dia benar-benar keras kepala aku tidak tahu harus berbuat apa.” Zhongren mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

“Oh iya, besok kau sudah mulai magang iyakan?” Zhongren mengingat dan Hyojungmengangguk.

“Ya, aku sedikit gugup.” Hyojung berterus terang dan Zhongren menarik Hyojung agar gadis itu mengistirahatkan kepalanya dibahunya.

“Tak usah khawatir, aku akan mengantarkanmu.” Zhongren mengelus kepala Hyojung, Hyojung mengangguk.

“Terimakasih Oppa.” Hyojung menjawab dan dia tersenyum.

“Aku harap nanti aku bisa seperti Hyojin eonni.” Hyojung berkata dan Zhongren menganggukan kepalanya.

“Kau akan seperti dia Hyojung-ah, kau tidak usah khawatir.”

[Rumah sakit, Seoul – Korea selatan 20:30PM]

“Maaf aku baru bisa menjengukmu.” Taeyeon berkata, dia mengambil makanan yang ada dimeja kecil yang ada disampingnya.

“Kau belum makan dari tadi, makanlah Yifan.” Taeyeon melanjutkan dan dia mengaduk buburnya yang ada di mangkok.

“Aku tidak lapar.” Yifan menjawab singkat.

“Tapi kau belum makan, kau sakit Yifan.” Taeyeon membujuk dan dia mendekat menawarkan sesendok buburnya pada mulut Yifan.

“Aku sudah bilang aku tidak lapar Taeyeon.” Yifan berkata dan dia berbalik membelakangi Taeyeon.

“Yifan..aku mohon, bukankah kau ingin cepat sembuh?” Taeyeon duduk disamping Yifan, dia mengelus bahu Yifan.

“Aku ingin tidur, sebaiknya kau pulang.” Ucap Yifan, dia bahkan tidak melirik kearah Taeyeon saat dia mengucapkan kata-kata dingin itu.

Taeyeon menatap sedih kearah Yifan lalu dia menyimpan kembali mangkuk buburnya, dia menarik selimut Yifan sehingga kain hangat itu menutupi bahu lelaki itu. Tangan Taeyeon menyentuh rambut Yifan dan mengelusnya dengan lembut, tangan Taeyeon menepuk-nepuk bahu Yifan sampai lelaki itu menutup matanya.

Airmata Taeyeon menetes saat dia melihat betapa lemahnya Yifan, bahkan tubuh lelkai itu kurus sekarang. Lingkaran hitam terlihat dikantung matanya, bibirnya yang biasa berwarna pink kini terlihat pucat hampir berwarna putih.

“Yifan-ah cepat sembuh eoh? Jangan buat aku khawatir.” Taeyeon berkata dan dia berdiri meninggalkan ruangan Yifan.

Taeyeon menutup pintu ruangan Yifan dan dia tersenyum saat dia melihat sosok seorang dokter berdiri didepannya, dokter itu masih muda dan dia cukup tinggi karena Taeyeon harus sedikit mendongak untuk menatap mata dokter itu.

“Apakah anda nona Hanbyul Lawrence?” Dokter itu bertanya dan Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Maaf bukan,aku Taeyeon tapi aku tahu dia.” Taeyeon berkata dan dokter itu tersenyum.

“Oh begitu ya, anda saudara tuan Wu Yifan?” Tanya dokter itu lagi, Taeyeon mengangguk.

“Ya, aku saudaranya.” Taeyeon berbohong.

“Oh bagus kalau begitu, bisakah kita berbincang untuk beberapa menit?” Doker itu meminta dan Taeyeon mengangguk.

“Ya tentu saja.” Taeyeon menyutujui, dia melirik kearah plat nama yang ada di saku kiri dokter itu plat nama itu bertuliskan ‘Choi Minho’.

Taeyeon mengikuti langkah dokter muda itu kearah katin rumah sakit, kantin rumah sakit sedikit sepi mungkin karena ini sudah malam. Dokter Choi mengambilkan segelas kopi untuk Taeyeon dan Taeyeon menerimanya dengan senyuman, Taeyeon melingkarkan tanganya disekitar gelas plastik yang berisi kopi dan dia menunggu dokter Choi memulai percakapannya.

“Sebenarnya aku sudah ingin membahas ini dari dulu, tapi aku belum sempat bertemu dengan saudara tuan Yifan.” Minho memulai.

“Ada apa dokter?apakah Yifan baik-baik saja?” Tanya Taeyeon.

“Sebenarnya..Taeyeon-shi, aku harap kau bisa diandalkan.” Minho berkata dan Taeyeon mengangguk.

“Katakan saja dokter, apa yang kau butuhkan?”Ucap Taeyeon, Minho kelihatan ragu namun akhirnya dia mengumpulkan keberaniannya.

“Tuan Wu Yifan dalam masa kritis sekarang, dia memiliki gumpalan darah di otaknya, dan gumpalan darah itu menganggu saraf-saraf tubuhnya aku sangat khawatir jika tuan Yifan akan lumpuh atau yang lebih membahayakan lagi dia bisa meninggal.” Ungkap Minho dan Taeyeon menutup mulutnya tidak percaya.

“Aku tahu ini sedikit membuatmu shock karena tuan Yifan merahasiakannya padamu iyakan Taeyeon-shi?”

Taeyeon hanya bisa mengangguk lemah.

“Aku mohon Taeyeon-shi, bujuklah dia untuk operasi.” Minho kelihatan sangat khawatir.

“Tapi dokter selama ini dia terlihat baik-baik saja.” Taeyeon beralasan.

“Itu karena dia selalu memintaku untuk memberikannya obat penahan rasa sakit, aku sudah memberikan tuan Yifan dosis yang cukup tinggi, aku tidak akan memberikannya lagi jika dia memintanya oleh sebab itu..aku mohon Taeyeon-shi.” Ucap Minho dan Taeyeon mengangguk.

“Terimakasih atas sarannya dokter Choi, aku benar-benar tidak tahu..”

“Tidak apa-apa Taeyeon-shi, aku hanya tidak ingin melihat tuan Yifan menyia-nyiakan hidupnya begitu saja..aku tidak mengerti kenapa dia kukuh tidak ingin dioperasi.” Minho tersenyum pahit.

“Aku sering sekali melihat pasien yang berjuang keras untuk hidup saat mereka mengetahui kalau mereka memiliki penyakit fatal, namun tuan Yifan..dia sepertinya tidak peduli jika besok dia mati sekalipun.” Minho menatap kearah gelas kopinya.

“Dokter Choi, anda menanyakan tentang nona Hanbyul, apakah kau mengenalnya?” Taeyeon bertanya, mengingat kalau dokter muda itu menanyakan Hanbyul.

“Oh soal itu..nona Hanbyul yang mengantarkan tuan Yifan kesini dan aku kira kalau nona Hanbyul adalah kekasih tuan Yifan.” Minho menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tuan Yifan kelihatan sangat menyukai nona Hanbyul, bahkan tuan Yifan memanggil nama nona Hanbyul saat dia sadar, lalu nona Hanbyul juga menunggu tuan Yifan sampai dia siuman tadi sore jadi aku berkesimpulan kalau mereka memiliki hubungan yang special.” Minho menjelaskan dan Taeyeon mengepalkan tangannya marah, bibirnya tertutup rapat menahan emosi.

“Hanbyul yang membawa Yifan kerumah sakit?”

“Ya, dia ikut kedalam ambulan saat ambulan membawa tuan Yifan.” Minho menjawab

[Kediaman Keluarga Jung,Korea selatan – 07:00AM]

  Hyojung mengikat rambut panjangnya kebelakang, dia memasangkan anting mutiaranya pada daun telingnya lalu dia membenarkan sedikit poninya. Dia mengulaskan sedikit lipstik merah pada bibirnya lalu dia memolesnya dengan ligloss agar bibirnya terlihat lebih cerah dan bersinar, dia tersenyum saat dia puas dengan make up yang kenakan.

Hyojung mengambil blazer biru mudanya dan merapikan pakaian itu, dia berputar sedikit untuk melihat bagian belakang blazer biru itu lalu dia tersenyum dengan puas. Kemeja putih yang dia kenakan cocok sekali memeluk tubuhnya, sepatu hitam yang dia bawa dari koleksi fashion Hyojin bertengger manis didepannya.

Sebenarnya Hyojung sedikit ragu untuk memakai sepatu itu, karena dia cukup yakin jika Hyojin masih hidup dia tidak akan pernah mengijinkan Hyojung untuk menyentuh sepatu itu. Hyojin sangat menyukai koleksi fashion nya sehingga dia selalu merawatnya, bahkan dia tidak mengijinkan pelayan untuk membereskan lemarinya tanpa pengawasannya.

“Wow..kau cantik sekali.” Mendengar suara Zhongren, Hyojung berbalik dan dia memamerkan penampilannya pada Zhongren.

“Oppa, bagaimana? Kau suka?” Hyojung meminta pendapat dan Zhongren mengangguk.

“Kau terlihat cantik.” Zhongren mendekat dan dia melingkarkan tangannya dipinggang Hyojung.

Hyojung menatap kearah bayangan mereka berdua dicermin, Zhongren mencium lehernya membuat Hyojung tertawa geli.

“Kau seksi sekali, sama seperti Hyojin noona.” Zhongren berbisik di telinga Hyojung.

“Oh ya? Apa pikir Hyojin eonni seksi?” Hyojung berbalik dan menatap kearah Zhongren penuh kecurigaan.

“Errr..sedikit, kau masih lebih seksi.” Zhongren berkata dan Hyojung tertawa lalu memukul dada Zhongren.

“Ya, terserah kau saja..”

“Oh ayolah, jangan seperti itu..kau tahu aku lebih mencintaimukan?” Zhongren menggoda.

“Ya,ya aku tahu..kau mengatakannya setiap hari membuatku mual.” Hyojung memakai sepatunya dan mengambil tasnya.

“Apa kau gugup?” Zhongren bertanya dan Hyojung mengangkat kedua bahunya.

“Menurutmu?” Tanya Hyojung kembali, Zhongren tersenyum dan dia menggengam tangan Hyojung.

“Tak usah khawatir, aku akan mengantarkanmu.” Zhongren menenangkan dan dia menarik tangan Hyojung untuk keluar dari kamarnya.

[Perusahaan Guangde group, Korea selatan 09:30AM]

   Yuri melangkah keluar dari lift dan dia bisa melihat Hanbyul sedang sibuk mengetik, gadis itu berhenti saat dia mendengar langkah kaki Yuri mendekat kearahnya.

“Ini dokumen yang harus direktur Li tanda tangani, oh iya Wu Hwajang-nim tidak akan masuk beberapa hari, jadi aku harap direktur Li bisa membantu memberikan usulan untuk proyek fashion yang baru.” Yuri mengumumkan dan Hanbyul mengangguk.

“Aku akan menyampaikan itu pada direktur Li, terimakasih sudah mengantarkan dokumennya.” Hanbyul tersenyum dan Yuri mengangguk.

“Oh iya apa kau sudah mendengarnya?” Yuri tiba-tiba saja bertanya.

“Mendengar apa?” Hanbyul bertanya balik.

“Adik Jung hwajang-nim akan magang disini, dia akan menjadi asisten sekaligus wakil dari Wu hwajang-nim, aku dengar dia memiliki nilai yang bagus dikampusnya.” Yuri menjelaskan dan Hanbyul mengepalkan tangannya dengan gugup.

“Kenapa kau? Ekspressimu aneh sekali.” Yuri berkata dan tertawa.

“Maaf,aku sedikit tidak enak badan.” Hanbyul berbohong, sebenarnya dia tidak berbohong sepenuhnya karena dia sendiri merasa tidak enak bada saat tadi pagi.

“Cuaca sekarang cukup ekstrim, sebaiknya kau menjaga kesehatanmu Hanbyul-shi.” Yuri memberi nasihat dan Hanbyul mengangguk.

Nde, terimakasih atas sarannya Yuri-shi.” Hanbyul tersenyum.

“Aku harus pergi, jika kau ingin menyapa adik Jung Hwajang-nim sebaiknya kau kekantorku.” Yuri berkata dan Hanbyul mengangguk.

“Aku akan kesana jika dia sudah datang.” Hanbyul menjawab.

“Aku harus pergi, aku masih harus mengurus beberapa dokumen.” Yuri berpamitan dan Hanbyul mengangguk membiarkan Yuri pergi masuk kedalam lift menuju lantai atas.

Setelah melihat Yuri pergi Hanbyul segera mengambil handphonenya dan mengetik nomor Luhan, dia menunggu beberapa menit sedikit panik. Dia berdiri dari duduknya dan mengigit jarinya masih menunggu Luhan mengangkat teleponnya, hari ini Luhan tidak datang kekantor karena dia harus mengurus beberapa lagu barunya.

“Hyojin-ah, ada apa?” Tanya Luhan akhirnya mengangkat teleponnya.

“Jangan panggil aku dengan nama itu.” Hanbyul berkata.“Itu masa laluku.”

“Maaf, aku sudah terbiasa..ada apa? Apa ada dokumen yang harus aku tanda tangani?” Luhan bertanya.

“Tidak, ada ha yang lebih buruk.” Hanbyul berkata dan dia menghela nafasnya.

“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?”

“Hyojung magang diperusahaan Guangde, apa kau tahu soal ini?” Hanbyul bertanya.

“Apa?tidak..aku bahkan tidak mendapat pemintaan ijin dari Hyojung ataupun Yifan.” Luhan mengungkapkan.

“ Aneh sekali…darimana dia mendapatkan ijin.” Hanbyul bergumam.

“Mungkin dari Yifan, kau tahu Hyojung dan Yifan cukup dekat.” Luhan berpendapat dan Hanbyul hanya diam, memikirkan bagaimana jika dia harus bertemu dnegan adiknya itu.

Haruskah dia berpura-pura untuk tidak mengenalnya? Itu akan sangat menyakitkan Hanbyul tahu itu, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang dia sedang berperan sebagai Hanbyul Lawrence bukan Jung Hyojin.

“Hanbyul-ah, apa kau ingin aku kesana sekarang?’ Luhan menawarkan.

“Tidak usah, aku akan kembali bekerja.” Hanbyul menjawab dan dia menutup teleponnya.

Dia menatap kosong kearah jendela disamping pintu kantor Luhan, dia memegang kepalanya dan menghela nafasnya berat.

“Maaf apakah anda Hanbyul-shi?”

Hanbyul terdiam saat dia mendengar suara yang tidak asing itu, Hanbyul bisa merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya dan diapun terpaksa untuk bebalik. Dia bisa melihat sosok Yongguk ada dihadapannya, dia tidak percaya ini dia kira Yongguk sudah pergi setelah lelaki itu tahu kalau Hyojin meninggal namun sepertinyatidak.

Lelaki itu sama seperti dulu, masih tinggi dan berotot kulitnya masih coklat seperti yang terakhir dia ingat. Yongguk tersenyum kearah dirinya, mungkin lelaki ini tidak mengenalnya dengan penampilannya yang baru.

“Ya?”

“Maaf, aku harus mengantarkan ini.” Yongguk memberikan Hanbyul sebuah amplop coklat yang cukup besar.

“Tadi Taeyeon-shi menitipkan amplop ini padaku tapi dia memiliki urusan yang penting jadi dia memintaku untuk mengantarkan ini padamu.” Yongguk menjelaskan.

“Oh..terimakasih.” Hanbyul berkata dan dia mengambil amplop yang Yongguk pegang.

“Sama-sama, aku dengar kau pegawai baru disini.” Yongguk berkata dan Hanbyul mengangguk.

“Ya, aku baru bekerja disini.” Hanbyul menunduk menyembunyikan wajahnya, dia tidak ingin Yongguk menyadari kemiripannya dengan Hyojin.

“Oh begitu ya, sepertinya rumor itu benar..” Ujar Yongguk, dia mendekat kearah Hanbyul.

“Kau benar-benar mirip dengan Hyojin.” Yongguk berkata dan jantung Hanbyul rasanya berhenti sejenak saat dia mendnegar perkataan Yongguk.

“Kalian tentu saja berbeda, namun fitur wajah kalian hampir sama.” Yongguk menjelaskan dan dia tersenyum kearah Hanbyul.

“Aku harus pergi, senang bertemu denganmu Hanbyul-shi.” Yongguk berkata dan dia berbalik untuk pergi.

Hanbyul hanya diam seperti orang bodoh saat dia melihat Yongguk pergi, entah kenapa dia sangat sedih sekali melihat sosok Yongguk. Ingin sekali dia memeluk lelaki itu mengatakan kalau dia adalah Jung Hyojin.

Hanbyul baru sadar kalau dia benar-benar merindukan keluarganya, keluarganya yang dulu selalu ada disampingnya. Hanbyul tidak pernah merasa begitu sendirian sampai saat ini, hari ini dia merasakan kalau dia benar-benar sendirian tanpa ada seorangpun disampingnya.

[Rumah Sakit, Seoul – Korea selatan 11:00AM]

     Menghabiskan waktu dirumah sakit Yifan merasa hidupnya begitu hampa, terimakasih pada surat dokter yang Zhongren bawa kekantornya dia tidak bisa kembali bekerja. Dia sekarang terjebak didalam ruangan serba putih dan berbau obat dan alkohol.

Ruangannya begitu hening sekali dia bahkan bisa mendengar suara nafasnya sendiri, suara jam dinding yang ada didepannya begitu meledek mengatakan betapa tidak bergunanya dia.

Waktu menunjukan pukul sebelas siang, jika dia bekerja dia pasti sedang makan siang sekarang. Yifan menghela nafasnya, dia tidak bisa berbohong dia merindukan keramaian kantornya dan candaan Yuri sekertarisnya.

Sebuah ketukan pintu terdengar dan itu membuat Yifan senang, setidaknya dia tidak akan sendiri lagi.

“Masuk..” Dia memerintah dengan suara lemahnya, dia tidak tahu kalau tenggorokannya terasa kering sampai sekarang.

Seseorang membuka pintu ruangannya dan dia terkejut saat dia melihat seorang wanita dengan rambut coklat terang masuk kedalam ruangannya, wanita itu memakai blazer coklat dengan kemeja yang senada dan sepatu hak tinggi yang unik namun terkesan elegan.

“Hwajang-nim..” Sosok itu berkata, dia tersenyum lembut kearah Yifan.

“Hanbyul-shi..”

“Apa aku mengganggu?” Wanita itu bertanya dan dia menunjukan sebuah bingkisan buah-buahan dan sebuket bunga.

“Tidak…sebenarnya aku senang kau datang.” Yifan menjawab sedikit bersemangat.

“Bagus kalau begitu, maaf aku baru bisa menjenguk mu sekarang.” Hanbyul berkata dan dia duduk disamping ranjang Yifan.

“Tidak apa-apa, kau tak usah repot datang kesini..” Yifan menjawab.

“Tidak apa-apa, direktur Li sangat khawatir dengan keadaanmu tapi dia sibuk jadi dia mengirimkan aku datang kesini.” Hanbyul menjelas.

“Oh..katakan, aku berterimakasih padanya.”

Yifan sedikit kecewa dia kira Hanbyul kesini karena dia benar-benar peduli namun sepertinya tidak, gadis itu hanya melakukan tugasnya sebagai asisten pribadi Luhan.

“Hwajang-nim..jika aku boleh tahu, bagaimana keadaanmu?” Hanbyul bertanya, suaranya sopan namun Yifan bisa membaca dari ekspressi gadis itu kalau dia khawatir.

“Menurutmu?” Yifan menggoda.

Hanbyul hanya terdiam menunduk, dia melirik kearah jam tangan kuning dipergelangan tangan rampingnya.

“Maaf jika aku lancang, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu..” Hanbyul menjawab.

Yifan ingin tertawa saat dia melihat betapa paniknya Hanbyul saat dia tidak menjawab pertanyaannya, Yifan ingin sekali menyentuh pipi Hanbyul yang sekarang bersemu merah karena malu.

“Aku rasa..aku baik-baik saja, kau tak usah khawatir kau tidak lancang.”Ucap Yifan.

Ada keheningan sejenak diantara mereka,entah kenapa keadaan tiba-tiba saja berubah menjadi sangat canggung diantara mereka dan itu membuat Yifan sedikit tidak nyaman.

Yifan melirik kearah bingkisan buah yang ada disamping ranjangnya dan dia menyeringai saat sebuah ide bagus melintasi dipikirannya, terkadang dia bersyukur karena dia sedikit licik.

“Aku sedikit lapar, bisakah kau mengupas jeruk yang ada dibingkisan itu?”Yifan meminta Hanbyul terkejut,kedua mata melebar.

“Tapi Hwajang-nim..”

“Tolonglah, aku tidak ingin memanggil suster..mereka pasti sedang sibuk.” Yifan beralasan dan dia menatap kearah Hanbyul penuh dengan harapan.

“Baiklah, tunggu sebentar.” Hanbyul membuka bingkisan Luhan dan mengambil sebuah jeruk dan mulai mengupasnya untuk Yifan.

“Terimakasih, maaf aku merepotkanmu.” Yifan berkata dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa Hwajang-nim.” Hanbyul menjawab dan dia mengupas kembali jeruknya.

Yifan menatap kearah Hanbyul yang sedang mengupas jeruk, entah kenapa adegan ini terasa seperti deja vu. Dia ingat beberapa tahun yang lalu dia juga berbaring seperti diranjang rumah sakit memakai piyama rumah sakit juga, namun yang berbeda saat ini hanyalah wanita yang ada disampingnya bukanlah Jung Hyojin.

Wanita yang ada disamping nya terasa asing namun familiar juga diwaktu yang sama, wajah Hanbyul begitu sama dengan Hyojin namun sifat dan gelagat mereka benar-benar berbeda.

“Hanbyul-shi?” Yifan memanggil dan Hanbyul mendongak menatap kearahnya.

“Apakah kau membutuhkan uang? Apa kau ingin sesuatu?” Yifan bertanya dan Hanbyul kelihatan sedikit tersinggung.

“Maaf Hwajang-nim..maksud anda apa?” Hanbyul bertanya, Yifan tersenyum lemah kearahnya.

“Aku hanya ingin memberikanmu hadiah,apa itu salah?” Tanya Yifan.

“Aku tidak butuh apa-apa Hwajang-nim.” Hanbyul membalas dan dia kembali mengupas jeruk.

Yifan kembali menutup mulutnya, dia tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dia tidak bisa terus seperti ini diam dan mengikuti skenario yang Hyojin atau Hanbyul ciptakan untuknya, dia ingin melawan seperti yang biasa dia lakukan.

Berbagai strategi muncul di dalam pikirannya, dia mencari cara untuk bisa mencengkram Hanbyul agar dia terus ada disampingnya. Dia ingin memiliki lagi gadis itu, setidaknya sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya karena dia tahu waktunya tidak banyak.

“Aku sebenarnya ingin menawarkanmu pekerjaan.” Yifan mengungkapkan, alis Hanbyul terangkat menandakan kalau gadis itu tertarik.

“Kau tak usah khawatir, pekerjaan yang aku tawarkan cukup fleksibel.” Yifan menjelaskan dan Hanbyul akhirnya selesai mengupas jeruk Yifan.

“Hwajang-nim, jeruk anda sudah saya kupas sebaiknya saya pergi.” Hanbyul memberikan jeruk yang dia pegang pada Yifan dan berdiri hendak pergi namun tangan Yifan menahannya.

“Aku sekarat!” Yifan berkata dan Hanbyul terkejut saat dia mendengar apa yang Yifan katakan.

Entah kenapa saat dia melihat wajah Hanbyul Yifan bisa membaca ekspressi kepanikan diwajah Hanbyul, tangannya meremas tangan Hanbyul dia benar-benar terlihat sangat putus asa dan menyedihkan dia tahu itu. Yifan setahun yang lalu tidak akan melakukan ini, dia masih memiliki harga diri dan ego yang kuat namun Wu Yifan yang sekarang tidak, dia sudah kehilangan banyak hal didalam hidupnya sehingga dia hanyalah tubuh kosong yang hidup.

Hanbyul membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun Yifan memegang kuat tangan Hanbyul, airmata mengancam untuk jatuh saat dia sadar kalau Hanbyul mencoba melepaskan genggaman nya.

“Aku mohon..bisakah kau menuruti keinginan terakhirku?” Yifan memelas dan hati Hanbyul hancur berkeping-keping saat dia melihat airmata Yifan akhirnya menetes.

“Apa yang kau inginkan?” Hanbyul bertanya.

Yifan tersenyum saat dia akhirnya berhasil membujuk Hanbyul.

“Bisakah kau…” Yifan sedikit ragu dengan permintaannya dan itu membuat Hanbyul semakin gugup.

“Bisakah kau menjadi Jung Hyojin untukku? Hanya sampai aku mati, setelah itu kau bebas.” Yifan mengungkapkan.

Hanbyul terkejut mendengar permintaan Yifan, bagaimana dia harus berpura-pura menjadi dirinya sendiri. Dia bukanlah aktris yang pintar menyembunyikan emosi, bagaimana jika dia kembali tenggelam dalam buaian Yifan? Dia tidak akan pernah bisa selamat lagu jika itu terjadi.

“Maaf Hwajang-nim, tapi aku tidak bisa..bagaimana aku bisa berpura-pura menjadi gadis itu jika aku tidak tahu dia.” Hanbyul berbohong, entah sudah berapakali dia berbohong pada Yifan namun seperti lelaki itu tetap yakin dengan pendiriannya.

Yifan menatap kearahnya seakan dia adalah sesuatu yang menarik untuk ditonton, lelaki itu pasti sedang membaca emosinya dan itu membuat Hanbyul tidak nyaman.

“Aku akan menjelaskannya padamu, kau tak usah khawatir..aku akan mengajarimu kau hanya harus menerima tawaranku.” Yifan menenangkan dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Hwajang-nim, aku benar-benar tidak bisa..permintaanmu tidak masuk akal sebaiknya kau beristirahat.” Hanbyul berkata.

“Apa kau ingin melihat aku mati?” Yifan bertanya saat Hanbyul berbalik untuk pergi.

Hanbyul terdiam, tangan dan kakinya terasa beku saat dia mendengar kata ‘mati’ dari mulut Yifan, hatinya terasa sakit saat dia mendengar kata yang menyeramkan itu keluar dari mulut Yifan. Dadanya sesak dan nafas terasa sangat dangkal, entah rasa apa yang dia rasakan sekarang namun dia tahu kalau dia tidak ingin melihat Yifan mati, jika Yifan mati apa yang akan dia lakukan?

“Hwajang-nim..”

“Jangan panggil aku seperti itu, aku tahu setiap kau memanggilku seperti itu kau merasa harga dirimu turun.” Yifan berkata, entah darimana lelaki itu mendapatkan kesimpulan itu, namun Yifan benar.

Yifan sangat benar, dia merasa setiap kali dia memanggil Yifan dengan sebutan itu harga dirinya terasa turun semakin harinya. Dialah yang harus dipanggil seperti itu bukanlah Yifan, dialah yang membangun perusahaan Jung sehingga bisa besar dan sukses namun lelaki itu merebut semuanya dari dia.

“Panggil aku Yifan, aku bukan bosmu saat kita ada diluar kantor.”Ucap Yifan.

“Yifan-shi,aku tetap tidak bisa menuruti apa yang kau inginkan.”

“Jangan berpura-pura lagi kalau begitu cukup Hyojin..aku tahu ini kau.” Yifan menatap kearah Hanbyul dan wanita itu hanya diam seribu kata.

Hanbyul berjalan mendekat kearah Yifan dan Yifan menarik nafasnya terkejut saat dia merasakan tangan dingin Hanbyul menyentuh sisi kanan wajahnya.

“Kalau begitu bagaimana dengan Guangde group, maukah kau memberikan semua assetmu padaku?” Hanbyul bertanya, suaranya terdengar lebih rendah dan penuh dengan misteri.

Dia mengenal suara itu, dia tahu suara siapakah yang dia dengar sekarang. Wanita yang ada dihadapannya sekarang bukanlah Hanbyul Lawrence yang dia tahu, wanita didepannya adalah Jung Hyojin.

“Apapun..aku akan memberikan segala.” Yifan menjawab mantap, tak ada keraguan didalam suaranya.

“Bodoh..kau memang bodoh Wu Yifan.” Hanbyul berbalik dan pergi meninggalkan Yifan dengan seribu pertanyaan dikepalanya, apakah gadis itu menyutujui tawarannya?

*****

  Hanbyul melangkah keluar dari ruangan Yifan saat dia berjalan dia bisa melihat sosok Taeyeon, wanita itu kelihatan sedikit melamun dan murung entah apa yang terjadi padanya Hanbyul tidak terlalu peduli. Taeyeon seperti biasanya terlihat rapih dengan blazer hitam dan kemeja putihnya, Taeyeon mendongak dan tatapan dia dan Hanbyul bertemu untuk sesaat.

Taeyeon yang melihat Hanbyul  akhirnya berjalan mendekat kearah wanita itu , melihat Taeyeon mendekat kearahnya Hanbyul menunduk dan menyapa Taeyeon dengan hormat padahal jika dia masih menjadi Jung Hyojin keadaan akan sebaliknya.

“Kim Sajang-nim.” Hanbyul menyapa dan Taeyeon kelihatan tidak senang melihat sosoknya.

“Apa yang kau lakukan pada Yifan?”

Hanbyul mengernyitkan dahinya, dia suka sekali melihat ekspressi panik Taeyeon karena gadis itu terlihat sanat sengsara. Dia pasti khawatir setengah mati saat mendengar kalau Yifan pingsan, apalagi orang yang mengantarkan lelaki itu kerumah sakit adalah dia seseorang yang mirip dengan Jung Hyojin.

“Maksud anda ap—“

Sebelum Hanbyul bisa menamatkan kalimatnya tangan Taeyeon sudah mendarat dipipinya menamparnya dengan keras, Hanbyul menyentuh pipinya yang berdenyut sakit karena tamparan Taeyeon.

“Aku peringatkan, jangan pernah mendekati Yifan lagi!” Taeyeon membentak dan wanita itu berjalan masuk kedalam ruangan Yifan.

Hanbyul mengepalkan tanganya kesal, dia benar-benar marah saat Taeyeon dengan beraninya menamparnya selain dia merasa sakit dia juga malu karena ternyata sebagiaan orang dirumah sakit melihat dia ditampar oleh Taeyeon.

Taeyeon benar-benar sudah mempermalukan dia di depan banyak orang dan dia sangat kesal sekali dengan tingkah Taeyeon, Hanbyul mengepalkan tangannya dan menahan emosinya lalu dia berjalan lagi keluar dari rumah sakit.

[Perusahaan Guangde group, Korea selatan – 14:36PM]

   Hyojin berjalan masuk kedalam perusahaan, dia sedikit terburu-buru karena dia terlambat untuk masuk kekantor lagi. Hanbyul menghentikan langkahnya saat dia melihat sosok Hyojung sedang berbincang dengan Taeyeon, Hanbyul terkejut dia tidak bisa melakukan apapun kecuali diam ditempatnya.

Pandangan Hyojung akhirnya berpaling dari Taeyeon dan menatap kearah sosoknya yang berdiri tidak jauh dari meja resepsionis, Hanbyul mencoba tenang lalu dia dengan acuhnya berjalan menuju lift.

“Eonni!” Hanbyul berhenti berjalan saat dia mendengar panggilan itu, namun dia melanjutkan berjalan.

“Eonni! Hyojin Eonni!”

Hanbyul bisa mendengar lagi panggilan itu, dia tahu jelas siapakah yang memanggilnya namun dia tetap acuh melangkah menjauh dari meja resepsionis. Suara derap langkah kaki mendekatinya dan dia merasakan sebuah tangan akhirnya berhasil menyentuh bahunya, dia terpaksa harus berhenti dan berbalik.

Hyojung langsung memeluknya membuat Hanbyul terkejut, dia bisa merasakan kedua tangan adiknya itu melingkar dilehernya dan memeluknya dengan erat. Hanbyul menyentuh bahu Hyojung, dia mencengkram bahu Hyojung ingin sekali dia memeluk kembali Hyojung namun dia tidak bisa.

Semua mata tertuju padanya jika dia memeluk Hyojung kembali, semua orang akan curiga kalau dia memang benar-benar Jung Hyojin. Hyojin mendorong Hyojung menjauh, Hyojung terlihat sangat kecewa sekali saat dia sadar kalau Hanbyul mendorongnya menjauh.

“Maaf tapi kau salah orang, aku bukan Hyojin.” Hanbyul berkata.

“Apa maksudmu Eonni? Ini jelas-jelas kau..aku mengenalimu, Eonni..ayo kita kembali kerumah.” Hyojung berkata dan matanya berkaca-kaca menahan tangis, hati Hanbyul langsung hancur saat dia melihat betapa sedihnya Hyojung.

“Maaf tapi kau benar-benar salah orang.” Ucap Hanbyul dan dia berbalik untuk masuk kedalam Lift.

“Eonni! Kau mau kemana? Eonni..” Hyojung memanggil namun dia ditahan oleh Taeyeon.

“Hyojung-ah, kau benar-benar salah orang..dia Hanbyul.” Taeyeon menjelaskan.

Dengan berat hati Hanbyul menekan tombol lift sehingga pintu lift tertutup dan seketika setelah pintu lift tertutup Hanbyul menyandarkan dirinya kedinding lift, Hanbyul menangis dia begitu sedih melihat ekspressi Hyojung.

Hyojung kelihatan sedikit kurus dari yang dia ingat saat mereka berdua bertemu, adiknya itu mpastimenderita setelah kepergiannya dan itu membuat Hyojin semakin merasa bersalah. Andai dia memiliki pilihan lain dia ingin kembali kemasa lalu dan tidak mengamali tabrakan yang mengubah hidupnya. Dia ingin melewatkan momen itu dan tidak datang kekantor polisi untuk diintrogasi, dia benar-benar menyesal karena dia sudah ceroboh waktu itu.

Jika dia lebih berhati-hati mungkn kehidupannya tidak akan seperti ini, jika dia tidak egois mungkin dia masih ada disamping Hyojung. Airmata terus menetes membasahi pip Hanbyul dan dia tidak bisa menahan isak tangisnya yang memilukan, tenggorokannya terasa kering karena dia menahan isak tangisnya dan nafasnya terasa dangkal karena dadanya sesak.

Adiknya itu benar-benar kelihatan kecewa saat dia mendorong tubuhnya menjauh, Hanbyul merasa berdosa saat dia harus berbohong padanya. Hanbyul tahu kalau Hyojung akan mengenalinya, bagaimana tidak? Mereka suadara kandung dan orang mengatakan darah lebih kental dari air.Tentu saja Jung Hyojung akan selalu mengenali Jung Hyojin, mereka sudah hidup bersama sejak kecil tidak mungkin Hyojung begitu saja tertipu oleh penampilan Hyojin yang berbeda.

Tidak peduli jika dia berapa ratus kali dia mengatakan kalau dia adalah Hanbyul bukan Hyojin, dia tahu kalau dia tidak bisa menipu Hyojung karena dia tahu kalau adiknya itu memiliki insting yang kuat.

****

“Eonni, aku yakin sekali Hanbyul itu Hyojin eonni.” Hyojung bersikeras, dia melirik kearah Taeyeon yang duduk disampingnya.

“Hyojung-ah didunia ini banyak sekali kembaran..Hanbyul tidak mungkin Hyojin karena semua orang tahu kalau Hyojin sudah meninggal.” Taeyeon beralasan dan Hyojung menghela nafasnya ellah untuk menjelaskan apa yang ada dipikirannya.

“Eonni, jasad Hyojin eonni tidak jelas saat itu…bagaimana kalau ternyata jasad itu adalah jasad orang lain?” Tanya Hyojung.

“Hyojung bukankah kau bilang kau menemukan dompet dan handphone Hyojin didalam baju mayat itu? Bukankah itu bukti yang cukup jelas?” Taeyeon berkata dan Hyojung mengigit bibirnya.

“Tapi Eonni..”

“Sudah sebaiknya kau mulai bekerja, ini hari pertamamu magang..jangan buat aku dan Yifan kecewa.” Taeyeon berkata dia menyelipkan rambut Hyojung ketelinga gadis itu.

“Baiklah, sebaiknya aku membaca dokumen yang Kwon biseo-nim berikan padaku.” Hyojung berkata dia berjalan kearah mejanya.

“Bagus, aku akan mendampingi disini sampai kau mengerti semuanya.”Taeyeon berkata dan dia mengambil map biru yang ada didepannya.

“Terimakasih sudah mau membingbingku Eonni.” Hyojung berkata dan Taeyeon mengangguk.

“Tidak usah berterimakasih, aku senang bisa mengajarimu kau sudah seperti adikku sendiri.” Taeyeon berkata dan Hyojung tersenyum.

Walaupun dia cukup yakin kalau Hanbyul dan Hyojin adalah orang yang sama dia harus menghapus pikiran itu sekarang, sebaiknya dia fokus bekerja danmungkin setelah dia selesai dia bisa menyelidiki tentang Hanbyul Lawrence sendirian.

[Cafe, Korea selatan – 16:00PM]

“Maaf memanggilmu tiba-tiba.” Taeyeon tersenyum kearah Yongguk dan duduk didepan lelaki itu.

“Tidak apa-apa, aku tidak sibuk.” Yongguk menjawab.

“Jadi,ada apa? Kenapa kau memanggilku?” Tanya Yongguk.

“Ini, film yang kau inginkan.” Taeyeon menyodorkan dua buah kaset film yang dia keluarkan dari tas hijaunya.

“Terimakasih, tapi aku tidak meminta kau untuk menyewakannya untukku.” Yongguk tersenyum.

“Tidak apa-apa, aku tidak sengaja melihatnya jadi aku menyewakannya untukmu.” Taeyeon membalas.

Yongguk menatap kearah cover dua film aksi yang dia inginkan, dia tersenyum bahagia ingin segera menonton film itu, Yongguk mendongak melihat kearah Taeyeon namun gadis itu terlihat sangat murung dan itu membuat Yongguk khawatir.

“Taeyeon-shi?” Yongguk menyentuh tangan Taeyeon, Taeyeon menatap kearah Yongguk.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Yongguk.

“Huh? Oh iya, aku baik-baik saja.” Taeyeon menjawab dan dia menarik tangannya jauh dari tangan Yongguk.

“Kau yakin?” Yongguk khawatir dan Taeyeon mengangguk.

“Ya, tentu saja.” Taeyeon menjawab singkat, keadaan begitu canggung sekali diantara mereka.

“Eh..apakah kau mau memesan sesuatu?” Yongguk menawarkan dan Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana kalau kita pergi ketaman saja?” Taeyeon mengajak.

“Kau yakin Taeyeon-shi?” Yongguk bertanya.

“Ya, ayo..” Taeyeon berdiri dari duduknya dan dia menarik tangan Yongguk.

Yongguk yang merasakan tangan Taeyeon yang dingin sedikit khawatir namun juga malu di waktu yang sama, Taeyeon menariknya keluar dan Taeyeon tersenyum saat dia melihat Yongguk menatap kearahnya seperti orang bodoh. Taeyeon melambaikan tangannya didepan wajah Yongguk membuat Yongguk akhirnya berkedip, Taeyeon tersenyum kearah Yongguk.

“Apa kau sedang melamun?” Tanya Taeyeon mereka berdua berjalan menulusuri trotoar jalan yang cukup ramai.

“Tidak..” Yongguk menjawab singkat.

“Bagaimana keadaan Zhongren, apakah dia baik-baik saja?” Tanya Taeyeon dan Yongguk mengangguk.

“Ya, dia baik-baik saja namun dia sibuk dengan pekerjaannya sekarang.” Yongguk menjawab.

“Oh iya, aku dengar dia sekarang menjadi MC baru acara musik,apakah aku benar?”

“Ya, dia sekarang sangat sibuk.” Yongguk menjawab dia sebenarnya sedikit iri, Taeyeon kelihatannya lebih tertarik membicarakan Zhongren daripada dia.

“Bagaimana denganmu Taeyeon-shi? Apakah kau sibuk bekerja juga?” Yongguk melirik kearah Taeyeon.

“Ya, sedikit..” Taeyeon menjawab dia menyelipkan rambutnya ketelinganya, membuat Yongguk bisa melihat pipi mulusnya.

“Soal Yifan, apakah dia baik-baik saja? Aku dengar dia masuk rumah sakit.” Yongguk bertanya dan Taeyeon hanya diam.

“Apa dia sakit parah?” Yongguk bisa menebak dari ekspressi Taeyeon kalau Yifan sepertinya dalam bahaya.

“Yongguk-shi, aku kira dia tidak akan bertahan lama..” Taeyeon mengungkapkan.

“Apa yang terjadi? Dia sakit apa?” Yongguk penasaran.

Taeyeon hanya diam, dia melanjutkan berjalan menuju taman kota yang sedikit sepi mungkin karena sebagian orang sudah ada dirumah mereka sekarang. Taeyeon duduk disalah satu kursi kosong yang ada ditaman, dia menunggu Yongguk untuk disampingnya sampai akhirnya dia mulai berbicara.

“Yifan sakit parah…kesempatan hidupnya hanya 60% itu yang dokter katakan.” Ungkap Taeyeon.

“Kenapa dia?aku lihat dia baik-baik saja..”

“Ada gumpalan darah diotaknya, gumpalan darah itu menganggu semua saraf ditubuh Yifan dan dokter bilang Yifan bisa lumpuh dan yang lebih buruknya lagi gupalan darah itu bisa membuat Yifan meninggal.” Taeyeon berkata airmatanya mulai mengumpul akan jatuh.

“Taeyeon-shi..” Yongguk berkata dia menyentuh tangan Taeyeon.

“Aku ingin sekali membujuknya untuk melakukan operasi, tapi aku tahu dia tidak akan mendengarkan aku..aku tidak tahu harus melakukan apa Yongguk-shi.” Taeyeon akhirnya menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Yongguk menghela nafasnya dan dia menarik kepala Taeyeon untuk menyandar kebahunya, Taeyeon terus menangis dan airmata gadis itu menetas pada kemeja hitamnya. Dia tidak peduli,dia lebih khawatir dengan keadaan Taeyeon yang begitu rapuh.

“Aku akan membantumu Taeyeon-shi, kau tenang saja..” Yongguk berbisik dan dia memeluk erat bahu Taeyeon.

[Ruangan Yifan, Rumah sakit Seoul – Korea selatan 16:30PM]

“Anda sudah menatap kearah jendela itu dari tadi pagi tuan Yifan.” Suara Minho mengejutkan Yifan, Yifan berbalik dan tersenyum kearah dokter muda itu.

“Dokter Choi.”

“Hari ini, apa kau menunggu lagi gadis itu?” Minho menyentuh bahu Yifan, Yifan hanya tersenyum tipis.

“Gadis yang mana dokter?” Yifan bertanya dan Minho mendengus.

“Tentu saja yang kau sukai, jangan bilang kau menyukai dua-duanya.” Minho menggoda dan Yifan tersenyum.

“Maksudmu Hanbyul?” Yifan bertanya dan Minho mengangguk.

“Ya, nona Hanbyul Lawrence.” Minho berkata.

“Aku tidak yakin dia akan datang sekarang.” Yifan menatap kosong kearah jendela ruangannya.

“Tuan Yifan, apakah kau yakin tidak akan mengambil jalan operasi?” Minho bertanya dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Tuan Yifan, apakah anda tidak ingin hidup? Bagaimana dengan nona Hanbyul? Dia pasti sedih melihat anda dalam kead—“

“Dokter anda tidak tahu apa-apa, lagipula wanita yang aku cintai sudah mati beberapa tahun yang lalu..aku tidak punya alasan lagi untuk hidup.” Yifan menjelaskan dan Minho menutup mulutnya.

“Tapi tuan Yifan..”

“Maaf, aku tidak akan mengubah keputusanku dokter.” Yifan memotong dan Minho menghela nafasnya.

“Apa kau akan diam saja seperti ini sampai waktumu tiba?”

Yifan hanya tersenyum kearah Minho, entah kenapa dalam senyumanya itu tersimpan begitu banyak kesedihan dan keperihan Minho bisa melihatnya. Minho tidak tahu sebenarnya apa yang Yifan sudah alami sehingga pasiennya yang satu ini tidak ingin memperjuangkan hidupnya, sebgaai dokter yang setiap hari berurusan dengan orang yang sakit hanya Yifanlah yang sepertinya begitu tabah menerima kenyataan kalau hidupnya tidak akan lama lagi.

“Apa kau merasakan sakit dibagian tubuhmu?apa kau mengalami kesemutan?” Tanya Minho,sebenarnya dia datang kesini hanya untuk mengecheck keadaan Yifan.

“Sedikit dok, terimakasih sudah mengecheck keadaaanku.” Yifan menjawab dan dia kembali diam melamun menatap kearah jendela.

Minho tidak pernah mengerti apa sebenarnya yang diinginkan oleh Yifan, lelaki itu kelihatan seperti anak kecil yang tersesat. Minho dan Yifan terkejut saat dia mendengar ketukan pintu, Minho berjalan dan membuka pintu ruangan Yifan.

“Ah…anda pasti nona Hanbyul?” Minho tersenyum saat dia melihat sosok Hanbyul yang berdiri didepannya.

Nde, annyeoung haseyo..” Hanbyul membungkuk kearah Minho dan Minho membalas sapaan Hanbyul.

“Masuklah, Tuan Yifan sudah menunggu anda.” Minho berkata dan dia mengedipkan matanya penuh dengan misteri lalu pergi.

Hanbyul melangkah masuk kedalam ruangan Yifan, dia bisa melihat sosok tinggi Yifan menatap kearah jendela sambil duduk di kursi rodanya. Hanbyul menyimpan tasnya dan berjalan mendekat kearah Yifan yang sepertinya tidak berniat untuk menyapanya atau menganggapnya ada, lelaki itu menghindari tatapan Hanbyul saat Hanbyul menatap kearahnya,

“Sekarang kau marah padaku?” Hanbyul bertanya.

“Untuk apa aku marah? Kau tidak peduli..” Yifan menjawab dingin.

“Bukankah seharusnya kau senang aku datang?” Hanbyul berjongkok didepan Yifan, dia menyentuh tangan dingin Yifan.

“Kau akan menolak tawaranku,iyakan?” Yifan menebak dan Hanbyul menyeringai.

“Apa kau kecewa?”

Yifan terdiam,dia sangat kecewa jika Hanbyul memang akan menolak tawarannya namun dia memutuskan untuk tidak mengatakan itu. Dia lebih baik menyembunyikan apa yang dia rasakan dia tidak ingin Hanbyul mengetahui betapa sengsaranya dia, Yifan terlalu takut untuk kalah bagaimana jika Hanbyul benar-benar tidak menerima tawarannya?

“Kau bilang kau sekarat, memangnya kau sakit apa?” Hanbyul bertanya, matanya menatap kearah Yifan meminta perhatian dari lelaki itu.

“Aku mengalami kecelakaan, kepalaku terbentur cukup keras dan sekarang ada gumpalan darah yang menganggu saraf-saraf ditubuhku.” Yifan mengungkapkan,Yifan menunduk menatap kearah Hanbyul yang ada didepannya.

“Yifan, kenapa kau tidak mau dioperasi? Gumpalan darah seperti itu gampang sekali untuk dihilangkan.” Hanbyul berkata dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak ingin hidup lagi..aku tidak ingin seseorang membuka kepalaku seenaknya saja,aku bukan boneka eksperimen.” Yifan memberikan alasan.

“Bodoh…mereka hanya ingin mengeluarkan darah itu agar kau sehat kembali.”

“Untuk apa aku sehat? Aku bahkan tidak ingin hidup lagi..untuk apa aku hidup dan sehat jika seseorang yang selama ini menjadi alasanku untuk tetap hidup sudah mati?” Yifan bertanya dan Hanbyul mencengkram tangan Yifan.

“Yifan..”

“Aku lelah Hanbyul, aku tidak ingin hidup seperti ini…semuanya kacau! Aku pikir dengan menuruti keinginan ayahku aku akan bahagia, aku pikir dengan memimpin perusahaan besar dan memiliki uang yang banyak aku bisa bahagia..” Yifan berkata dan Hanbyul menatap kearah Yifan penuh dengan kesedihan.

“Aku salah, kebahagiaan seperti ini…bukan apa-apa untukku karena aku tidak merasa bahagia walaupun semua yang kuinginkan dapat terpenuhi, aku merasa hampa dan kosong.”

Hanbyul menghela nafasnya, entah mengapaa dadanya terasa sesak sekali ingin dia menangis dan memeluk Yifan melihat lelaki itu sekarang begitu lemah dan rapuh. Yifan bahkan terlihat sedikit kurus sekarang, tak ada cahaya kehidupan didalam matanya dia bagaikan mayat hidup menurut Hanbyul.

“Soal perusahaan Guangde..apa kau benar-benar akan memberikannya padaku jika aku setuju dengan tawaranmu?” Tanya Hanbyul dan Yifan menyeringai.

“Tentu saja wanita sepertimu menginginkan perusahaanku.” Yifan berkata meledek.

“Ya,aku akan memberikannya padamu setelah aku mati…semuanya milikmu.” Yifan berkata dan Hanbyul mengangguk.

“Baiklah, karena kau setuju aku ingin kau menandatangi surat ini.” Hanbyul berdiri sejenak mengambil tasnya lalu mengeluarkan sebuah surat perjanjian.

“Aku ingin berjaga-jaga jika kau merubah pikiranmu.” Hanbyul mengungkapkan dan dia menyodorkan sebuah surat pada Yifan dan tidak lupa dia juga memberikan Yifan sebuah pulpen.

Yifan menatap kearah surat perjanjian itu dan dia membacanya, dia mengambil pulpen yang Hanbyul berikan padanya dan mulai menandatangani surat itu. Yifan memberikan lagu surat itu kepada Hanbyul, Hanbyul tersenyum senang saat di amelihat tanda tangan Yifan diatas kertas surat itu.

“Senang bekerja sama denganmu Wu Yifan-shi.” Hanbyul berkata.

“Sekarang kau Hyojin, dan aku harus menuruti semua perkataanku.” Yifan berkata dia menarik tekuk Hanbyul.

Hanbyul terkejut dia bahkan tidak bisa menolak ciuman Yifan, bibir Yifan terasa hangat walaupun sedikit kering. Hanbyul menutup matanya dan membiarkan Yifan menciumnya, tangan lelaki itu menarik tekuk Hanbyul agar lebih dekat, lidah Yifan menjilat bibir bawah Hanbyul meminta ijin agar gadis itu membuka mulutnya.

   Hanbyul membuka mulutnya membiarkan Yifan memasukan lidahnya kedalam mulutnya, mereka berciuman cukup lama sampai akhirnya Hanbyul melepaskan ciuman mereka karena dia harus bernafas.

“Cukup..” Hanbyul berkata namun Yifan malah menarik Hanbyul kedalam pelukannya.

“Aku merindukanmu Hyojin-ah..” Yifan berkata.

Hanbyul menyentuh punggung Yifan, dia menahan airmatanya walaupun dia ingin membalas perkataan Yifan entah mengapa lidah nya menjadi kaku. Setelah beberapa menit berpelukan mata Hanbyul melebar, dia terkejut saat dia merasakan cairan hangat menetes kebahunya.

“Yifan..” Hanbyul melepaskan pelukan Yifan dan dia terkejut saat dia melihat hidung Yifan berdarah, lelaki itu kelihatan pucat sekali dan darah keluar dari hidungnya mengalir seperti air dari keran.

“Yifan kau berdarah!” Hanbyul panik, dia segera mengambil tissue yang ada dimeja dan dia mengelap hidung Yifan yang terus mengeluarkan darah.

“Aku akan memanggil dokter.” Hanbyul berkata namun Yifan mencegahnya.

“Tidak usah, aku baik-baik saja..” Yifan berkata dan dia menarik Hanbyul agar gadis itu berjongkok lagi didepannya.

“Aku tidak butuh dokter, aku butuh kau.” Ucap Yifan, dia menyentuh pipi Hanbyul dan Hanbyul menekan tissue dihidung Yifan mencegah darah lelaki itu menetes.

“Yifan kau tidak bisa egois, biarkan aku memanggil dokter.” Hanbyul khawatir saat tissue yang dia pegang sekarang sudah basah oleh darah Yifan.

“Kau tak usah khawatir, aku sudah biasa mimisan seperti ini.” Yifan menenangkan dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Tetap saja! Kau sedang tidak sehat Yifan.”

Hanbyul mengambil tissue yang lebih banyak dan dia menyuruh Yifan untuk mendongak agar darah dihidungnya tidak menetes kelantai, Hanbyul benar-benar khawatir saat dia melihat darah Yifan tidak juga berhenti keluar dari hidung lelaki itu.

“Yifan, aku mohon..ijinkan aku untuk memanggil dokter.” Hanbyul berkata namun perkataannya terdengar seperti permohonan.

Yifan menatap kearah Hanbyul, dia tidak mengerti kenapa wanita itu ingin sekali menyelamatkan dia. Apalagi mata Hanbyul terlihat berkca-kaca sekarang seakan gadis itu akan menangis, Yifan menatap kearah Hanbyul dan dia sangat yakin kalau ekspressi yang Hanbyul tunjukan sekarang adalah ekspressi yang sangat menyedihkan.

“Kenapa?kenapa kau ingin menyelamatkanku? Bukankah kau sebaiknya bahagia karena aku akan cepat mati?” Yifan bertanya.

Hanbyul menatap kearah Yifan dia berhenti menekan tissue di hidung Yifan, airmatanya akhirnya jatuh dan dia berbalik berlari hendak keluar dari ruangan Yifan. Yifan menatap kearah punggung Hanbyul yang menjauh darinya, dia ingin menyusul namun Hanbyul terlalu cepat untuknya.

Yifan mencoba berdiri namun dia malah terjatuh dan akhirnya dia kehilangan kesadarannya, Hanbyul yang mendengar tubuh Yifan terjatuh terkejut dan dia segera menekan tombol darurat yang ada diatas ranjang rumah sakit Yifan. Hanbyul dengan paniknya mengangkat tubuh Yifan dan menidurkan kepala Yifan dipangkuannya, Hanbyul menepuk-nepuk pipi Yifan berharap kalau lelaki itu merespon namun hasilnya nihil.

“Yifan!Yifan!bangun..” Hanbyul berkata, airmata menetes pada pipinya.

Jantung Hanbyul berdetak sangat cepat dia benar-benar ketakutan, bagaimana jika Yifan tidak bangun lagi? Bagaimana jika Yifan menghembuskan nafas terakhirnya? Hanbyul memeluk tubuh Yifan dengan kuat, dia menangis dan berbisik ketelinga Yifan agar lelaki itu bangun.

Taklama kemudian dokter Choi dengan seorang suster masuk keruangan Yifan, mereka membantu menidurkan Yifan diranjang. Hanbyul langsung menjauh membiarkan dokter Choi dan susternya memeriksa Yifan, dokter Choi membuka piyama Yifan dan memeriksa detak jantung lelaki itu dia juga mengontrol pupil mata Yifan melihat apakah Yifan masih merespon dengan rangsangan yang dia berikan.

Hanbyul hanya diam melihat dokter Choi memeriksan Yifan, dia tidak bisa melihat adegan ini semuanya terlalu menyakitkan untuk Hanbyul. Dia berlari keluar dari ruangan Yifan membuat dokter Choi menatap khawatir kearah gadis itu, dia tahu Hanbyul pasti panik menghadapi situasi ini.

Hanbyul berhenti berlari dan duduk disalah satu bangku kosong yang ada dihalaman belakang rumah sakit, dia duduk disana dan menyeka airmatanya dengan tangannya. Nafasnya masih sedikit sesak karena dia berlari, dia menghela nafasnya saat akhirnya dia tenang dan berhenti menangis.

Hanbyul mencengkram tangannya, ingatan yang selama ini ingin dia hapus dari otaknya muncul kembali. Dia ingat saat Yifan tertembak karenanya, dia masih ingat darah Yifan yang terasa hangat ditangan dinginnya, dia ingat beratnya tubuh Yifan ambruk dipangkuannya dia ingat betapa paniknya semua orang saat mereka melihat Yifan tertembak.

Sekarang dia harus mengalami itu lagi dan itu membuat Hanbyul trauma, dia tidak ingin mengingat semua ini. Semua ini terlalu menyakitkan untuknya, dia tidak ingin mengingat betapa pucatnya wajah Yifan dan betapa rapuhnya tubuh lelaki itu.

“Kau sudah tenang?” mendengar suara itu Hanbyul mendongak dan dia bisa melihat sosok Zitao didepannya.

“Zitao-shi..”

“Kau sudah ingat sekarang? Kau ingin menghancurkan Yifan?” Zitao bertanya dan Hanbyul hanya terdiam, enggan menjawab pertanyaan Zitao.

“Hyojin…atau Hanbyul untuk sekarang, kau hanya membuang waktumu.” Zitao berkata dia memberikan sebuah tissue pada Hanbyul.

“Hanbyul, sebaiknya kau kembali…dia sangat mencintaimu.” Zitao berkata dan Hanbyul mengambil tissue yang Zitao tawarkan.

“Aku tidak mau.”

“Kenapa? Dari yang kulihat kau jelas-jelas masih mencintai Yifan.” Zitao menghisap rokoknya dan memainkan asap yang keluar dari mulutnya.

“Karena dia sudah mengahancurkan hidupku.” Hanbyul menjawab.

“Hahaha..apa? dia menghancurkan hidupmu?” Zitao tertawa dan Hanbyul melirik sinis kearah Zitao.

“Maaf Hanbyul-shi, aku rasa kau tidak mengerti…” Zitao berkata. “ Kau yang menghancurkan hidup Yifan, dia tidak pernah bisa melupakanmu semenjak kau ‘meninggal’ didalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu, dia bahkan sakit sekarang padahal dia sedang berada dipuncak.” Zitao melanjutkan.

“Kau tidak tahu apa-apa Zitao-shi.” Hanbyul marah.

“Oh ya? Aku tahu semuanya Hyojin, aku hanya tidak mencampuri urusan kalian.” Zitao membalas dan Hanbyul langsung menampar Zitao dengan keras.

“Jangan panggil aku Hyojin! Aku bukan Hyojin lagi..wanita itu sudah mati!” Hanbyul membentak dan Zitao menyeringai.

“Kau tidak bisa kabur dari masa lalu Jung Hyojin, berapa ratus kali kau mengatakan kalau kau bukan Jung Hyojin, kau tetap Jung Hyojin selama darah dari ayah dan ibumu masih mengalir dalam tubuhmu, selama kau masih bernafas.. kau tetap Jung Hyojin.” Ucap Zitao.

Hanbyul hanya terdiam saat dia mendengar ucapan Zitao, dia tidak tahu harus mengatakan apa dia sangat marah karena perkataan Zitao benar. Seberapa jauh dia mencoba untuk kabur dari masa lalu dia tidak akan pernah bisa, tidak peduli jika dia mengubah nama dan identitasnya dia tetap Jung Hyojin karena dia dilahirkan seperti itu.

“Hyojin-ah, mari berhenti berperang…kalian sudah menghancurkan satu sama lain sekarang tidak ada gunanya untuk terus berperang.” Zitao membujuk dan Hanbyul melirik kearah lain, menghindari tatapan Zitao.

“Aku tidak bisa memaafkan dia, dia sudah menghancurkan perusahaan ayahku dan dia juga sudah melukaiku dengan berbohong jika kau ada diposisiku apa kau bisa memaafkan dia?” Hanbyul bertanya.

Zitao menghela nafasnya, dia mengerti posisi Hanbyul dan dia mengerti Hanbyul pasti merasa di khianati setelah dia mengetahui semua perbuatan Yifan.

“Tapi dia mencintaimu, kau lihat sendirikan? Dia bahkan rela memberikan semua assetnya untukmu.” Zitao mengodok saku jasnya dan dia menunjukan sebuah surat wasiat kepada Hanbyul.

Hanbyul bisa melihat namanya didalam surat wasiat itu, ternyata Yifan tidak bermain-main saat dia mengatakan kalau dia akan memberikan semua assetnya kepada Hanbyul. Hanbyul meremas surat wasiat itu, matanya berkaca-kaca dia kembali ingin menangis namun airmatanya sudah kering dia tidak bisa menangis lagi sehingga hanya dadanya yang terasa sakit.

“Apa itu sudah cukup? Apalagi yang kau inginkan? Nyawa Yifan? Aku cukup yakin dia akan memberikannya padamu juga.” Zitao berdiri dan dia berjalan menjauh meninggalkan Hanbyul yang masih menatapi surat wasiat yang Zitao berikan padanya.

“Sebaiknya kau menghabiskan waktu bersama Yifan sekarang, dia tidak memiliki banyak waktu lagi..dokter bilang gumpalan darah yang ada di otaknya mulai menekan jaringan otaknya.” Zitao mengungkapkan.

“Dokter bilang kemungkinan dia hanya akan bertahan selama dua minggu, kau sebaiknya ada disisinya saat waktunya tiba.” Zitao melanjutkan dan lelaki itu menghilang masuk kedalam rumah sakit.

[Perusahaan Guangde group, Korea selatan 19:00PM]

“Nona Hyojung, apa anda akan pulang sekarang?” Tanya Yuri, dia menatap kearah Hyojung yang masih serius mengetik.

“Oh ini sudah malam ya? Aku tidak sadar…kau pulang saja Kwon biseo-nim, aku akan menyusul nanti.” Hyojung berkata dan Yuri mengangguk.

“Baiklah, jangan terlalu malam nona Hyojung besok anda harus mengadiri meeting.” Yuri mengingatkan dan Hyojung mengangguk.

“Tidak usah khawatir, aku akan datang pagi-pagi.” Hyojung menjawab dengan senyum.

“Baiklah, sampai besok nanti nona Hyojung.” Yuri berpamitan dan Hyojung mengangguk.

Yuri kembali menutup pintu kantor Hyojung, Hyojung langsung menutup folder laporannya dan membuka database tentang karyawan. Dia sudah tahu passwordnya karena dia menggunakan laptop kakaknya, Hyojin kelihatannya sedikit pelupa sehingga dia menuliskan semua password penting di akun emailnya sehingga Hyojung bisa dengan mudah membuka semua akses rahasia perusahaan Jung, atau sekarang menjadi Guangde.

Hyojung mengetikan password Hyojin kedalam folder rahsia perusahaan, sistem komputer perusahaan tentu saja mengenali ID Hyojin dan langsung memberikan ijin untuk membuka berkas-berkas rahasia.

Hyojung bisa melihat jajaran folder rahasia dan dia memilih folder yang bertuliskan ‘Karyawan’ setelah dia mengklik folder itu dia mulai mencari nama Hanbyul, dia sedikit tidak sabar karena banyak sekali pegawai yang memiliki nama awalan yang sama denga Hanbyul.

Setelah mencari beberapa menit dia akhirnya menemukan folder Hanbyul, dia membuka folder itu dan Hyojung bisa melihat foto yang percis dengan kakaknya dia tersenyum pahit. Dia membaca semua informasi yang ada tentang Hanbyul Lawrence, ternyata dia lahir di Amerika dia memiliki kedua orang tua angkat dia yaitu tuan George dan Lucy Lawrence dia juga mendapatkan rekomendasi dari tuan Hong pemilik perusahaan tekstil yang cukup sukses di Cina.

Dalam Cv nya Hanbyul mengungkapkan kalau dia berkuliah di universitas Yale jurusan bisnis management dan dia yang membuat Hyojung curiga adalah tahun lulusnya gadis itu, tahun lulus Hyojin dan Hanbyul sama dan itu membuat Hyojung semakin curiga. Dia melihat data Hanbyul yang lainnya seperti rekening banknya dan beberapa informasi lainnya, Hyojung tidak bisa mendapatkan informasi yang lebih detail.

Hyojung menutup folder itu, dia menghela nafasnya sepertinya firasatnya untuk kali ini salah karena Hyojin dan Hanbyul sepertinya orang yang sangat berbeda. Kesamaan yang mereka miliki hanyalah umur mereka, Hyojung membuka lagi laptop kakaknya dan dia menatap kearah foto kakaknya dan Yifan yang menjadi wallpaper laptop.

Hyojung rindu sekali dengan canda tawa kedua kakaknya itu, sekarang dia hanya sendirian terlalu sibuk untuk menjenguk Yifan. Zhongren sendiri tidak mengijinkan Hyojung untuk menjenguk Yifan, kekasih nya itu mengatakan kalau Yifan sakit parah sehingga dia tidak ingin Hyojung menganggunya.

Hyojung membuka folder-folder penting kakaknya, mungkin saja dia akan menemukan sesuatu yang sangat berguna. Dia merasa sedikit bersalah karena dia melanggar privasi kakaknya, namun dia sangat penasaran sehingga dia tidak ragu untuk mengklik dokumen rahasia kakaknya.

Mata Hyojung melebar saat dia melihat data yang dia buka, dia bisa membaca laporan keuangan yang masuk kedalam sebuah akun bank ternyata kakaknya memiliki akun bank rahasia yang dia simpan di amerika. Akun bank yang kakaknya itu berisi sekitar puluhan juta dolar, Hyojung membuka google dan dia mengunjungi website bank yang tertera didalam laporan keuangan yang Hyojin terima.

Hyojung mengetikan nama Hyojin didalam nama akun yang tertera disamping website bank itu, dia lalu membuka folder password kakaknya untuk menyalin password Hyojin. Dia berhasil masuk dan dia terkejut saat dia melihat ternyata uang di akun bank kakaknya diambil sekitar tujuh bulan yang lalu, melihat ini Hyojung terkejut sekali seingat dia kakaknya sudah meninggal setahun yang lalu.

Tidak mungkin kakaknya bisa bangkit kembali dari kubur dan mengambil uang di akun banknya, apalagi akun bank kakaknya itu ada di benua eropa yang sangat jauh dari tempat tinggalnya.

Dia penasaran sekali sebenarnya siapakah yang mengambil uang kakaknya? Tidak mungkin orang lainkan? Jika seorang perampok mungkin dia akan menguras habis uang kakaknya, namun orang itu hanya mengambil sekitar beberapa juta dollar dan tidak pernah lagi masuk kedalam akun bank kakaknya.

Hyojung penasaran, dia akhirnya mengambil gagang telepon dan menghubungi nomor telepon bank internasional dimana kakaknya menyimpan tabungannya.  Hyojung menunggu, dia tahu kalau dia menghubungi nomor internasional sehingga dia harus menunggu cukup lama sampai akhirnya seseorang mengangkat teleponnya.

Liberty bank, may I help you?”
“Dengan liberty bank, ada yang bisa saya bantu?”

Suara seorang wanita terdengar berbahasa inggris, Hyojung sedikit gugup karena ini pertamakalinya dia harus berbicara dengan orang asing asli.

“Yes, I’m Hyojung, My sister has an account in your bank I was just wandering could I have the latest financial report from my sister account?”
“Ya, aku Hyojung, kakakku memiliki akun di bank anda dan saya hanya berpikir bisakah saya mendapatkan laporan keuangan yang terbaru dari akun kakaknya saya?” Hyojung meminta.

“Oh please wait a minute miss, may I know the name of your sister bank account?”
“Oh tunggu sebentar nona, atas nama siapakah akun bank saudara anda?”  wanita itu bertanya.

“Jung Hyojin.” Hyojung menjawab, dia bisa mendengar operator mengetikan nama kakaknya di komputernyanya, dia menunggu sesaat sampai operator yang melayaninya kembali berbicara.

I found your sister account miss Hyojung, there’s not many activities but it seems your sister transferred two million dollar to another bank account seven months ago.”
“Aku menemukan akun saudara anda nona Hyojung, tidak ada banyak aktivitas tapi sepertinya kakak anda mentransferkan dua juta dollar kepada akun bank orang lain tujuh bulan yang lalu.”

Operator itu menjelaskan dan Hyojung menarik nafsnya terkejut, ternyata uang kakaknya tidak diambil namun kakaknya sendiri yang memberikan uang yang banyak itu.

“Oh I see, can I get the account number? The one which my sister send money to.”
“Oh begitu ya, bisakah aku mendapatkan nomor akun yang kakakku kirimkan uang?”Hyojung meminta.

I’m so sorry miss Hyojung, but that’s very private information I can go to jail if anyone know I give you further information.”
“Maaf nona Hyojung, tapi informasi itu sangat rahasia aku bisa dipenjara jika seseorang tahu aku memberikanmu informasi yang lebih.” Operator itu berkata.

Hyojung menghela nafasnya tentu saja operator itu akan menolak, bank di eropa terkenal dengan jaminan privasi mereka dan hukum disana tidak main-main Hyojung berpikir sejenak dan dia menyeringai saat ide cemerlang melintas dipikirannya.

Please, I really need it..my sister is missing and it’s been one year I miss her so much this is the only way I can track her down.”
“Aku mohon, aku benar-benar membutuhkannya..kakaku sudah menghilang satu tahun dan aku merindukannya ini adalah jalan satu-satunya aku bisa melacak keberadaannya.” Hyojung memelas sambil pura-pura menangis, dia berdoa pada tuhan agar bujukannya berhasil dia sebenarnya beruntung karena operator yang melayaninya adalah wanita karena wanita biasanya lebih sensitif.

Miss Hyojung I’m so sorry to hear that..”
“Nona Hyojung, aku turut berduka cita mendengarnya..” operator itu sepertinya memakan umpannya.

It’s okay, but could you help me please? I promise I won’t tell anyone I don’t even know your name.
“Tidak apa-apa, tapi bisakah kau menolongku? Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun aku bahkan tidak tahu namamu.” Hyojung membujuk lagi.

Hyojung bisa mendengar operator yang melayaninya menghela nafasnya, dia tahu memberikan data rahasia bisa sangat beresiko tapi dia benar-benar menginginkan data ini sehingga dia bisa tahu siapakah orang yang kakaknya beri uang sebanyak itu apalagi dalam bentuk dollar amerika.

Fine, I’ll help you but you have to promise me you will delete it from your email account as soon as you accept it.”
“Baiklah, aku akan membantumu tapi kau harus segera menghapusnya dari akun emailmu secepatnya setelah kau menerimanya.”

Yes,ofcourse…”
“Ya tentu saja.” Hyojung menyetujui.

Fine, what’s your email address?”
“Baiklah apa alamat emailmu?” akhirnya operator itu menurut.

“JungHyojung@gmail.com” Hyojung menjawab.

Okay I’ll send it to you now, remember as soon as you copy it you should delete it.”
“Ok, aku akan mengirimkannya padamu sekarang, ingat setelah kau menyalinnya kau harus menghapusnya.” Operator itu berkata.

Yes, understood thank you so much for helping we I really appreciate it.”
“Ya, aku mengerti terimkasih banyak telah menolongku aku benar-benar menghargainya.”

No problem, remember don’t get yourself in trouble.”
“Tidak masalah, ingat jangan melibatkan dirimu sendiri dalam masalah.” Operator itu mengingatkan.

I won’t you can relax.”
“Tidak akan kau bisa tenang.” Hyojung menenangkan dan mereka langsung menutup telepon mereka masihng-masing setelah berpamitan.

Hyojung membuka alamat emailnya dan sepertinya operator itu tidak berbohong karena dia langsung mendapatkan sebuah email baru, dia membuka laporan transfer uang yang dilakukan kakaknya tujuh bulan yang lalu dan akhirnya Hyojung bisa melihat nomor rekening orang yang menerima uang dari kakaknya.

“Aku akan tahu siapa kau sekarang.” Hyojung bergumam dia menyalin nomor rekening yang operator kirimkan untuknya lalu menyimpannya di microsoft word, dia segera menghapus email itu.

Hyojung masuk kembali ke website bank Hyojin, dia mencari pengguna dengan nomor rekening yang dia dapatkan. Pecarian tidak memakan waktu lama karena akhirnya muncullah akun dengan nomor rekening yang sama, Hyojung mengerutkan dahinya saat dia melihat foto akun yang memiliki nomor rekening yang dia cari.

Cecil Lawrence, itulah nama akun yang dia temukan nama marga dia dan Hanbyul sama dan itu membuat Hyojung tersenyum.

“Aku menangkapmu Eonni, kau tidak bisa lari sekarang.” Hyojung menyeringai dia memutuskan untuk mencetak berkas keuangan dan bukti-bukti yang bisa menyudutkan Hanbyul.

[Apartemen Luhan, Seoul – Korea selatan 20:30PM]

  Luhan baru sampai di apartemennya dan dia menyimpan tasnya, dia menghidupkan lampu apartemen kecilnya dan dia merasa sedikit kesepian. Choco sudah dia pulangkan pada Myungsoo kemarin, padahal dia masih membutuhkan keberadaan anjing kecil itu setidaknya dia tidak sendirian seperti sekarang saat Choco ada.

Ponsel Luhan bergetar dan dia segera menekan tombol handphonenya, nama Hanbyul tertera didepan layar ponselnya dan dia tersenyum.

“Hanbyul-ah, ada apa?” Tanya Luhan dia membuka jaketnya dan duduk disofa apartemennya.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Hanbyul bertanya.

“Sedikit melelahkan, bagaimana keadaan Yifan ge? Apakah dia sudah baikan?” Luhan bertanya, dia tidak sabar ingin Yifan segera cepat sembuh karena dialah yang harus mengurus pekerjaan Yifan saat lelaki itu tidak ada.

“Yifan..keadaannya memburuk.” Hanbyul menjawab sedih.

“Apa?kenapa?” Tanya Luhan khawatir.

“Dia memiliki gumpalan darah di otaknya, dan gumpalan darah itu mempengaruhi saraf otaknya dia tetap tidak ingin mengambil operasi jadi keadaannya semakin memburuk.” Hanbyul menjelaskan, suaranya terdengar sangat lemah.

“Hanbyul…”

“Luhan, maaf aku tidak bisa menemanimu sekarang aku harus mengurus beberapa dokumen diperusahaan bagaimana kalau besok kita bertemu di café dekat kantor?” Hanbyul menawarkan.

“Ya tentu saja, kita sudah lama tidak berkencan.” Luhan mengungkapkan.

“Aku tahu, maaf..aku sibuk belakangan ini.” Hanbyul menjawab, suaranya terdengar menyesal.

“Tidak apa-apa, aku hanya berharap kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama…aku merindukanmu.” Luhan berkata dan dia bisa mendengar tawa lembut Hanbyul.

“Aku juga Luhan, aku merindukanmu.” Hanbyul berkata, namun entah mengapa Luhan merasa ada sesuatu yang berbeda dari suara Hanbyul.

“Apa kau menangis?” Luhan bertanya khawatir.

“Huh? Tidak..aku hanya sedikit mengantuk.” Hanbyul menjawab, walaupun Hanbyul berbicara seperti itu Luhan sedikit tidak percaya.

“Kenapa kau menangis? Kau dimana?aku akan menyusulmu.” Ucap Luhan sedikit panik.

“Aku baik-baik saja, Luhan..kau tak usah khawatir.” Hanbyul tertawa mendengar Luhan yang panik dan Luhan menghela nafasnya.

“Kau yakin?”

“Ya, aku bukan anak kecil..kau bisa tenang.” Hanbyul menenangkan Luhan.

“Kau belum pulang? Ini sudah malam.” Luhan bertanya.

“Aku sudah pulang, aku hanya harus menyelesaikan laporanku sekarang.” Hanbyul mengungkapkan.

“Jangan tidur terlalu malam, nanti kau sakit.” Luhan mengingatkan.

“Iya aku tahu Luhan,terimakasih sudah mengingatkanku.” Hanbyul berkata dan tersenyum.

“Bukan masalah, jika kau butuh sesuatu hubungi aku ok? Aku tidak bisa mengunjungimu ke Ilsan besok, bagaimana kalau kau menginap saja di apartemenku?” Luhan memberi usul.

“Hm..apa kau sibuk besok?”

“Ya, aku harus pergi ke Cina sebentar untuk mengurus pabrik yang ada disana.” Luhan memberi tahu, sebenarnya itu tuga Yifan namun Yifan sedang sakit sehingga dia yang menggantikan tugas lelaki itu.

“Baiklah,aku akan menginap di apartemenmu besok.” Hanbyul menyetujui.

“Bagus kalau begitu,maaf aku tidak bisa menemanimu malam ini…apa kau kesepian?” Luhan menggoda, dia berdiri dari sofa dan membuka kulkasnya.

“Sedikit, bagaimana denganmu? Apa aku kesepian tanpaku?” Hanbyul bertanya kembali dan Luhan menyeringai.

“Menurutmu?”

“Hm..aku kecewa dengan jawaban itu, apa artinya kau tidak kesepian tanpaku?” Hanbyul bercanda dan dia bisa mendengar tawa Luhan.

“Aku bercanda, tentu saja aku kesepian tanpa kau..aku sudah bilangkan aku merindukanmu.” Luhan berkata dia mengambil botol air putih didalam kulkasnya dan membuka tutup botol itu lalu meminumnya.

“Oh iya, bagaimana dengan Choco? Apa Myungsoo sudah mengambilnya?”

“Oh Choco, ya Myungsoo sudah mengambilnya kemarin.” Luhan menjawab dengan sedih.

“Kenapa kau terdengar sedih seperti itu?”

“Karena Choco anjing yang baik, dia selalu menemani aku jika kau terlalu sibuk.” Luhan bercanda.

Aigoo, aku sudah tergantikan oleh anjing?” Hanbyul pura-pura kecewa dan dia memajukan bibirnya.

“Setidaknya Choco tidak suka mengomel saat aku sedikit berantakan.” Luhan menggoda lagi.

“Oh kalau begitu ya sudah, ambil saja Choco dari Myungsoo dan jangan harap kau bisa melihatku datang lagi ke apartemenmu.” Hanbyul mengancam namun dia tidak serius karena akhirnya dia tertawa.

“Aaa..jangan, aku lebih baik mendengar omelanmu.” Luhan mengalah dan dia pura-pura panik, Hanbyul tertawa.

“Bagus kalau begitu, kau tahu aku tidak suka anjing.” Hanbyul berkata.

“Aku tahu, aku hanya bercanda.” Jawab Luhan.

“Aku harus bekerja lagi, sampai jumpa besok.” Hanbyul berpamitan.

“Ya, sampai jumpa besok…tidur yang nyenyak.” Luhan akhirnya menutup teleponya bersamaan dengan Hanbyul.

Luhan berjalan kekamarnya dan dia bisa melihat fotonya dengan Hanbyul tersimpan dimeja cerminya, foto dia dan Hanbyul saat mereka berdua bertunangan. Luhan tersenyum melihat betapa cantiknya Hyojin dalam balutan gaun berwarna pink pastel dan dirinya yang memakai jas hitam memeluk gadis itu dari belakang.

Dia masih ingat kalau ayahnya yang mengambil foto ini, pesta pertunangan mereka tidak terlalu ramai hanya didatangi beberapa tamu ayahnya dan teman Eunjo. Teman Luhan ada yang datang dan tamu Hanbyul hanya Cecil dan kedua orangtuanya yang bersedia mengangkat gadis itu menjadi putri mereka, nyonya Lawrence dan tuan Lawrence kelihatan senang saat dia diajak berbincang oleh Siwon.

Cecil yang sudah fasih berbicara korea lebih tertarik mengobrol dengan Eunjo saat itu, Luhan tidak akan pernah lupa hari pertunanganya dengan Hanbyul. Karena hari itu adalah hari yang sangat penting baginya, hari itu dia benar-benar merasakan kebahagiaan apalagi saat dia melihat cincin yang dia beli melingkar di jari manis Hanbyul atau lebih tepatnya Hyojin.

Luhan tersenyum memandangi foto dirinya dengan Hanbyul lalu dia menyimpan kembali foto itu, dia berjalan kekamar mandi untuk mencuci mukanya lalu tidur.

[Rumah sakit, ruangan Yifan 21:20PM]

“Hyojin-ah..” Yifan mengigau lagi, dia belum sadarkan diri dari semenjak sore dan itu membuat Hanbyul semakin khawatir.

Hanbyul menyentuh tangan Yifan, dia meremas tangan dingin lelaki itu dan mengelus dahi Yifan sehingga dahinya tidak mengkerut lagi. Yifan tersenyum saat dia merasakan hangatnya tangan Hanbyul menyentuh tangannya, Hanbyul hanya bisa menatap kearah Yifan yang terbaring diranjang rumah sakit.

Perkataan dokter Choi tertanam kuat dipikirannya, dokter Choi mengatakan kalau dia tidak bisa menangani Yifan lagi tidak ada obat yang bisa menyelamatkan Yifan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Yifan hanyalah dengan operasi.

Hanbyul tidak bisa memaksa Yifan untuk menjalani operasi karena bagaimanapun operasi yang di jalani Yifan harus atas persetujuannya karena seorang dokter tidak bisa melakukan operasi seenaknya saja, apalagi sekarang sudah ada hukum dan undang-undang yang mengatur semua itu.

Hanbyul benci karena dia tidak bisa berbuat apapun, dia hanya bisa menonton Yifan sekarat menyaksikan penderitaan lelaki itu tanpa bisa menolongnya. Dia tidak punya alasan kuat kenapa dia ingin Yifan hidup, namun bayangan Yifan dalam peti mati dan dikubur didalam tanah enar-bnar membuatnya ketakutan.

Tadi siang Zhongren menjenguk namun Yifan belum sadar, lelaki itu terlihat khawatir sekali dengan keadaan kakaknya seperti biasa lelaki itu selalu membelikan makanan untuk Yifan karena dia tahu kalau Yifan tidak menyukai makanan rumah sakit yang terlalu hambar.

Zhongren kelihatan curiga saat dia melihat Hanbyul yang dengan setia menemani Yifan, Zhongren bertanya beberapa pertanyaan padanya namun Hanbyul cukup pintar untuk tidak membuat Zhongren semakin curiga. Dia mengatakan kalau Luhanlah yang mengirimkannya untuk merawat Yifan, Zhongren hanya mengangguk tidak memberikan komentar yang lebih jauh.

Topik tentang Hyojung muncul diantara mereka dan Zhongren mengatakan kalau Hyojung sangat fokus pada pekerjaan barunya sehingga mereka jarang bertemu sekarang, Zhongren mengatakan kalau kariernya sudah lebih maju dari sebelumnya wajahnya sekarang sering muncul dibeberapa majalah dan iklan.

Gengaman tangan Yifan berubah lebih erat dan Hanbyul melirik kearah Yifan melupakan lamunannya sesaat, dia bisa melihat Yifan membuka matanya perlahan. Hanbyul tersenyum lega saat dia melihat Yifan membuka matanya, lelaki itu menggerakan tangannya dan mencoba menyentuh wajah Hanbyul.

“Hyojin-ah..” Panggil Yifan serak dan Hanbyul hanya tersenyum tipis kearahnya.

“Ya?” Dia merespon, nama Hyojin terdengar sangat asing sekali bagi Hanbyul setelah dia resmi mengganti namanya.

“Sudah berapa lama aku pingsan?” Tanya Yifan, dia menyentuh kepalanya yang sedikit pening.

“Cukup lama, apa kau ingin minum? Haruskah aku memanggil dokter?” Hanbyul bertanya dan Yifan tersenyum.

“Kau tak usah khawatir, aku baik-baik saja..mungkin satu gelas air putih bisa menyegarkanku.” Yifan berkata dan dia mengelus pipi Hanbyul, Hanbyul menatap kearah Yifan dan dia menyentuh tangan Yifan lalu menjauhkan tangan Yifan dari pipinya.

“Aku akan mengambilkanmu minum.” Hanbyul berkata dia berdiri dari ranjang rumah sakit dan mengambil segelas air minum untuk Yifan.

Entah kenapa Yifan merasa Hanbyul menolak sentuhannya tadi,seakan gadis itu tidak ingin dia sentuh dan itu membuat hati Yifan sakit. Selama ini dia merindukan Hyojin, dia ingin kembali memeluk dan mencium gadis itu namun sekarang adis itu menjauh darinya. Dia tidak bisa menyalahkan Hyojin, Yifan mengerti kenapa Hyojin menjaga jarak darinya.

“Minumlah..” Hanbyul menyuruh dan dia membantu Yifan untuk bangun dari posisi terlentangnya.

Air yang menyentuh tenggorokan kering Yifan terasa sedikit dingin namun sangat menyejukan, rasanya tenggorokannya tidak sakit lagi dan suaranya tidak serak lagi setelah dia meminum setengah air yang ada digelas.

“Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur..aku akan pulang karena besok ada meeting yang sangat penting.” Hanbyul berkata dia mengambil tas dan blazernya yang ada di sofa ruangan Yifan.

“Ini sudah malam Hanbyul, bagaimana kalau kau menginap saja disini?” Yifan menawarkan dan Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa, maaf.” Hanbyul berkata dan dia berbalik hendak pergi.

“Hanbyul!” Yifan memanggil dan Hanbyul berbalik.

“Besok, bisakah kau datang kesini?” Yifan meminta dengan senyum.

“Mungkin, jika pekerjaanku tidak banyak.” Hanbyul menjawab dan gadis itupun menghilang dibalik pintu rumah sakit.

Yifan menatap sedih kearah pintu ruangannya, entah kenapa dia merasa kosong sekali saat Hanbyul meninggalkannya. Dia tidak mengerti kenapa dia tidak menghapus perasaan ini, dia hanya ingin melupakan Hyojin dan melanjutkan kehidupannya namun sepertinya usahanya itu sia-sia karena pada akhirnya Wu Yifan selalu melirik kearah Jung Hyojin.

Mereka berdua begitu sempurna untuk satu sama lain, dari cara mereka bercinta dan memadu kasih rasanya semuanya begitu natural. Walaupun mereka berdua memiliki cara komunikasi yang berbeda mereka bisa menyesuaikan diri, walaupun banyak kata-kata yang tersimpan dan tak sempat Yifan katakan pada Hyojin terkadang Yifan tahu kalau Hyojin mengerti.

Sekarang dia kehilangan wanita itu dan hidupnya kembali menjadi hitam dan putih kembali seperti film kuno yang sudah kumal, sangat membosankan dan tidak menarik. Tak ada lagi canda tawa ataupun sentuhan-sentuhan jahil Hyojin, tidak ada lagi kencan di akhir minggu dan acara menonton di bioskop.

Yifan sekarang sendirian dan dia harus mulai melepaskan Hyojin, karena pada kenyataannya Hyojin sudah lama melepaskan dia. Hyojin tidak pernah lagi berbalik dan menatap kearahnya, Hyojin sudah melupakannya dan melepaskan tali merah diantara mereka sekarang, Yifan dan Hyojin hanyalah dua orang manusia yang terjebak dalam situasi yang sama.

Karena Yifan tidak bisa melepaskan Hyojin, dia akan terus menarik gadis itu sehingga gadis itu kembali lagi pada pelukannya. Jika Hyojin tetap menolak dia akan tidak akan berusaha lagi, dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Hyojin sampai hembusan nafas terakhirnya yang dia yakini tidak akan memakan waktu lama.

 [Perusahaan Guangde group, Korea selatan 08:00AM]

   Hyojung menyandar kemeja Hanbyul, dia bisa melihat foto Hanbyul dengan kedua orang tua angkatnya dan seorang gadis disampingnya. Hyojung mengenal gadis pirang itu, gadis itu adalah Cecil teman dekat kakaknya, dia pernah bertemu dengan Cecil beberapa kali karena dia pernah ikut dengan Hyojin kakaknya ke Villa saat natal beberapa tahun lau sata dia masih bersekolah.

Mendengar langkah kaki mendekat kearahnya Hyojung melirik, dia menemukan Hanbyul sudah berdiri didepannya sedikit terkejut. Hyojung melirik kearah sampaing Hanbyul saat dia melihat seorang gadis dengan akrabnya menggandeng tangan Hyojin, gadis itu kelihatan sebaya dengannya namun dia terlihat sedikit lebih muda.

“Nona Hyojung, apa yang anda lakukan disini pagi-pagi?” Hanbyul bertanya dan Hyojung hanya menatap kearah gadis yang ada disamping Hanbyul.

“Euh..aku..siapa dia?” Hyojung bertanya dan menatap kearah gadis disamping Hanbyul.

“Oh ini Eunjo, dia adikku.” Hanbyul memperkenalkan dan Eunjo menunduk kearah Hyojung menyapa gadis itu.

Annyeoung haseyo, Choi Eunjo imnida.” Eunjo menyapa dan Hyojung membalas sapaan Eunjo.

“Aku rasa sebaiknya aku membahas ini nanti setelah kau tidak sibuk.” Hyojung berkata dan dia tersenyum kearah Hanbyul, gadis itu menyentuh bahu Hanbyul sesaat lalu pergi.

Bahu Hanbyul terasa sedikit dingin saat Hyojung menyentuhnya, ada sesuatu yang tersirat dari sentuhan Hyojung dan Hanbyul tidak tahu apa itu. Dia melirik mengikuti sosok Hyojung yang berjalan masuk kedalam lift, dia tersenyum tipis sata Hyojung melambaikan tangannya sampai akhirnya pintu lift tertutup.

“Eonni kau dekat dengan dia?” Eunjo bertanya saat sosok Hyojung sudah benar-benar hilang dari lantai kantor Luhan.

“Tidak, dia adik atasanku..” Hanbyul menjawab, dia ingin tertawa betapa ironinya itu dia harus berbohong soal Hyojung pada Eunjo.

“Oh..Eonni, bagaimana kalau kita pergi ke mall nanti? Aku ingin membeli tas baru.” Eunjo mengungkapkan, dia memasang wajah memelasnya kepada Hanbyul.

“Eunjo, bukannya kau sudah membeli tas minggu kemarin?” Hanbyul bertanya, dia masih mengingat Eunjo memamerkan tas barunya yang dia beli bersama Luhan.

“Aku butuh tas yang lebih besar..tas yang diblikan Luhan oppa terlalu kecil.” Eunjo menjawab dan dia tersenyum kearah Hanbyul.

Hanbyul hanya menggelengkan kepalanya, dia sangat menyukai fashion juga terutama sepatu dan baju namun dia tidak pernah membeli barang-barang itu terlalu banyak seperti Eunjo. Gadis itu bahkan memiliki segudang koleksi tas, mulai dari yang bermerk sampai dengan tas yang biasa dia lihat di emperan jalan.

“Eunjo kau terlalu sering membeli tas, sebaiknya kau tabungkan uangmu.” Hanbyul memberi nasihat dan Eunjo hanya mengangguk.

“Iya aku tahu itu Eonni, tapi hari ini ada sale besar-besaran..kau juga butuh mengganti tasmu itu.” Eunjo menunjuk kearah tas hitam yang Hanbyul pegang.

“Tidak terimakasih, tas-tasku masih bagus.” Hanbyul menolak.

“Oh eonni, kau tidak menyenangkan.” Eunjo mengeluh dan dia melirik kearah jam tangannya.

“Karena kau memutuskan untuk tidak menghiburku, sebaiknya aku  pergi kekampus ini sudah siang.” Eunjo berkata dan Hanbyul mengangguk.

“Hati-hati dijalan.” Hanbyul mengingatkan dan Eunjo memeluknya sekilas.

“Tak usah khawatir.” Ucap Eunjo, gadis itu pergi dan melambai kearah Hanbyul saat pintu liftnya mulai menutup.

Hanbyul tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Eunjo selalu padahal ini masihpagi sekali dia sangat terkejut melihat sosok Eunjo didepan rumahnya tadi pagi. Gadis itu bilang dia merindukan Hanbyul, sehingga mereka mengobrol sepanjang perjalanan menuju kantor Hanbyul.

Senyum Hanbyul menghilang saat wajah Yifan terlintas dipikirannya, dia menghela nafasnya lalu pergi mengambil dokumen-dokumen yang harus dia selesaikan didalam laci mejanya. Sebaiknya hari ini dia tidak memikirkan Yifan bisa-bisa dia gila jika dia terus memikirkan lelaki itu, Hanbyul menghidupkan komputernya lalu mulai mengetik dan memeriksa jadwal Luhan hari ini.

[Rumah sakit, Seoul – Korea selatan 08:40AM]

“Kau datang?” Yifan melepaskan kacamatanya,menyimpan buku yang dia baca dipangkuannya dan melirik kearah sosok tinggi yang berdiri disampingnya sambil memegang sebuket bunga.

“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?” Luhan bertanya dan akhirnya lelaki itu menyimpan bunganya didalam vas bunga.

“Aku baik-baik saja.” Yifan menjawab.

“Maaf aku baru bisa menjenguk sekarang, aku sibuk.” Luhan menjelaskan dan Yifan hanya mengangguk.

“Apa Zhongren dan Hyojung sudah menjenguk?” Luhan mencoba membuat percakapan dengan Yifan.

“Zhongren sudah, Hyojung..belum.” Yifan menjawab singkat, Luhan sedikit kesal dengan jawaban singkat Yifan namun dia mencoba menenangkan dirinya.

Ge, kau sakit apa? Apakah parah?” Luhan duduk dikursi yang ada disamping ranjang Yifan.

“Aku akan kembali jika aku sudah sembuh, kau tak usah khawatir.” Yifan menenangkan dan dia kembali membaca buku yang dia pegang.

Bonnie and Clyde, itulah buku yang Yifan baca Luhan merasa tidak asing dengan buku itu karena dia pernah melihat Hyojin membacanya saat mereka sedang mengobrol dan sekarang Yifan sedang membacanya juga.

“Darimana kau mendapat buku itu?”

Yifan berhenti membaca.

“Hyojin, novel ini tertinggal di rak bukunya saat aku membereskan kantornya.” balas Yifan.

Luhan mengangguk, dia menatap kearah sampul buku itu. Buku itu terlihat sudah cukup lama jika Luhan tidak salah mendengar Hyojin mengatakan kalau novel itu adalah novel kesukaannya karena cerita dalam buku itu penuh dengan intrik dan permasalahan namun romantis dalam waktu yang sama.

“Aku tidak tahu kau suka novel.” Luhan meledek dan Yifan hanya tersenyum tipis.

“Aku hanya penasaran, sampul buku ini terlihat sangat menarik apalagi sinopsisnya.” Yifan menjelaskan dia sekarang tidak mood untuk membaca lagi.

Ge, jika kau sakit kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kenapa kau selalu merahasiakan apapun dariku?” Tanya Luhan dan Yifan menyentuh kepala Luhan.

“Terimakasih sudah peduli padaku, aku tidak hanya ingin kau khawatir.” Ucap Yifan, dia melepaskan tangannya dari kepala Luhan.

Luhan tersenyum tipis entah kenapa saat dia melihat wajah pucat Yifan dia tahu kalau kakak tirinya itu sakit parah, dia bisa melihat dari kantung mata Yifan yang sedikit menghitam dan bibir Yifan terlihat sangat pucat sekali tulang pipinya sedikit menonjol menandakan kalau Yifan lebih kurus sekarang.

“Kau tidak akan menanyakan dimana Hyojin lagi?” Luhan bercanda dan tersenyum kearah Yifan.

“Aku tahu dimana dia.” Yifan menjawab tersenyum.

“Oh ya?” Luhan mengangkat alisnya.

“Ya, dia ada sisiku.” Yifan membalas, Luhan tersenyum tipis kearah Yifan.

“Bagaimana kau yakin kalau Hyojin ada disisimu?”

“Karena aku selalu merasakannya, aku selalu melihatnya dan mengingatnya.” Yifan tersenyum lemah.

“Yifan ge..”

“Bukankah aku benar? Meskipun dia tidak ada disisiku secara fisik aku bisa merasakan kehadirannya lewat batinku.” Yifan melirik kearah jendela ruangannya dan menatap kearah matahri yang bersinar cukup terang.

“Walaupun aku tidak bisa melihat dan mendengarnya lagi, aku bisa merasakan keberadaannya didalam hati dan pikiranku.” Yifan melanjutkan lalu dia tersenyum pahit mengingat wajah Hyojin, gadis itu pasti memeluknya penuh haru jika dia mendengar perkataan ini.

Ge, kenapa kau mencintai Hyojin? Bukankah kau hanya ingin perusahaan baba?” Luhan menyadarkan Yifan dari lamunannya.

“Pertanyaan yang cukup rumit, kau tahu saat kau memiliki banyak kekurangan kau sedikit takut untuk jatuh cinta iyakan?” Yifan melirik kearah Luhan dan Luhan mengangguk.

“Awalnya aku sendiri tidak yakin jika aku mencintai Hyojin, aku kira selama ini aku hanya aktor yang memainkan perannya dengan sangat baik.” Yifan memainkan jarinya.

“Tapi aku salah, aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Jung Hyojin…aku selalu memikirkan gadis itu dan ingin membahagiakannya setiap sentuhan darinya membuatku tenang, suara tawanya terdengar merdu memenuhi telingaku pujiannya selalu membuatku bahagia lebih dari apapun..aku rasa Hyojinlah yang membuatku merasakan cinta lagi.” Yifan menceritakan, senyum menghias wajah pucatnya.

“Maaf, aku pasti terdengar sangat menjijikan tadi.” Yifan tersenyum saat dia melihat Luhan menatap kearahnya seakan-akan dia orang yang gila.

“Tidak Ge,aku mengerti.” Luhan mengangguk. “Aku mengerti perasaanmu.”

“Bukankah kau sibuk? Apa yang kau lakukan disini pagi-pagi sekali.” Yifan menyindir dan Luhan hanya tersenyum.

“Aku akan pergi ke Cina sebentar, aku harus mengurus stock kain disana oh iya aku juga aku mengunjungi makam Yixing.” Luhan memberitahu.

“Sampaikan salamku pada Yixing.” Yifan berkata dan Luhan mengangguk.

“Sepertinya aku menganggu waktu membacamu, jika kau sudah baikan kembalilah keperusahaan, semua direktur menanyakan keberadaanmu.” Luhan menyentuh bahu Yifan.

“Aku akan kembali secepatnya.” Yifan menjawab dan Luhan berpamitan lalu pergi meninggalkan dia.

Keheningan kembali menyelimuti Yifan, dia melirik kearah kalendar yang ada disamping ranjangnya. Dia sudah dirumah sakit selama hampir satu minggu, mungkin sebaiknya besok dia kembali keperusahaan itu juga jika dia berhasil membujuk dokter Choi yang tidak mengijinkan dia pulang sebelum kondisi dia lebih baik.

[Perusahaan Guangde, Korea selatan 11:00PM]

“Ini sudah yang kedua kalinya, kemanakah  Wu Yifan? Bukankah seharusnya dia yang memimpin rapat ini?” salah seorang direktur berkata, dia terdengar sedikit kesal karena hari ini Hanbyul yang harus memimpin rapat.

“Maafkan saya direktur Wang, tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan itu ko—“

“Banyak alasan! Memangnya direktur Wu sakit apa? Bukankah seharusnya dia yang mengatur semua proyek baru ini?”Ucap direktur Kim yang berdiri tak jauh dari direktur Wang.

“Maaf tapi Wu hwajang-nim sedang tidak dalam kondisi yang baik, kalian bisa tenang.. jika beliau sudah baikan saya berjanji dia akan memimpin kembali rapat ini.” Hanbyul berkata dengan senyum tenangnya.

“Sebenarnya direktur Wu sakit apa? Kenapa dia tidak datang di meeting penting seperti ini?” Direktur Wang bertanya.

“Beliau sakit parah, jadi saya harap semua direktur mengerti keadaan beliau bukankah kita harus melanjutkan rencana promosi clothing line kita?” Hanbyul mengganti topik berharap semua direktur kembali fokus pada presentasinya.

“Hanbyul-shi, kau mengingatkanku pada seseorang.” Sebuah suara terdengar dan Hanbyul melirik kearah sumber suara itu.

“Apakah kau yakin namamu Hanbyul?”

Seorang lelaki dengan jas putih dan kemeja birunya menatap kearahnya, rambut coklatnya disisir kesamping dengan rapih. Matanya menatap kearah Hanbyul seakan lelaki itu meneliti setiap inci tubuh gadis itu, Hanbyul terkejut saat dia mengenali sosok lelaki itu.

“Oh Sehun..” Hanbyul bergumam.

“Apa kau yakin, kau bukan Jung Hyojin?” Lelaki itu bertanya dengan senyum sombongnya dan Hanbyul tersenyum, menyembunyikan ekspressi paniknya.

“Apakah anda direktur baru? Saya tidak pernha melihat anda disini..” Hanbyul bertanya.

“Aku Oh Sehun, anak dari  direktur Oh Sangwoo.” Sehun memperkenalkan dirinya.

“Aku menjadi wakil ayahku sebentar karena dia sedang tidak dalam kondisi yang baik juga.” Sehun menjelaskan dan seluruh direktur yang ada di ruangan menatap kearah Sehun, penuh kebanggaan beberapa direktur berbisik memuji Sehun.

“Senang bertemu denganmu tuan Oh Sehun, dan untuk menjawab pertanyaanmu yang tadi saya cukup yakin, saya Hanbyul Lawrence bukan Jung Hyojin.” Hanbyul menjawab tanpa keraguan.

“Maaf jika aku sedikit lancang, tapi kenapa nama keluarga mu Lawrence? Semua orang tahu kalau kau orang asia bukan orang eropa.” Sehun bertanya lagi.

“Aku diangkat oleh sepasang suami istri di amerika, mereka cukup baik mengijinkanku memakai nama keluarga mereka.” Hanbyul menjelaskan, dia berharap Sehun puas dengan jawabannya dan berhenti bertanya.

“Hm..aneh sekali, bagaimana wajah dan perilakumu bisa mirip seperti Hyojin noona? Aku mengenalnya cukup baik.” Sehun berkata membuat Hanbyul semakin cemas, apalagi saat beberapa direktur berbisik sambil melirik kearahnya.

“Maaf tuan Oh Sehun, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas soal itu bisakah kita kembali fokus pada topik rapat kita?” Hanbyul berbali kearah layar infocus, mendengar sebagian direktur masih berbisik Hanbyul meremas kertas yang dia pegang dengan kesal.

“Apa kau gugup Hanbyul-shi? Kau kelihatan tidak tenang.” Sehun kembali berbicara.

“Saya baik-baik saja.” Hanbyul menjawab dan dia menekan remote infocus lalu mulai menjelaskan tempat-tempat pemasaran yang tepat untuk produk pakaian mereka yang baru.

*****

   Rapat berjalan dengan lancar dan Hanbyul menghela nafasnya lega, dia bisa melihat Hyojung sedang bercengkrama dengan Yuri entah apa yang mereka bahas namun mereka berdua kelihatan serius. Hanbyul menghampiri mereka namun saat Hanbyul mendekat Yuri dan Hyojung segera berhenti mengobrol, mereka berdua bertingkah seakan maling yang baru saja tertangkap basah mencuri.

“Hanbyul-shi! Aku terkejut.” Yuri berkata dan dia memberikan Hanbyul senyum gugup.

“Yuri-shi, sedang apa anda disini? Nona Jung bukankah anda seharusnya ada di kantor?” Hanbyul bertanya.

“Kami hanya ingin membahas sesuatu.” Hyojung berkata dan dia mencengkram dokumen yang di balut map biru di tangannya.

“Hanbyul-shi, bisakah kau ikut denganku sebentar? Ada yang ingin aku bahas.” Hyojung meminta dan Hanbyul mengangguk.

“Tentu saja, apa ada yang salah?” Tanya Hanbyul sedikit cemas.

“Tidak, aku hanya ingin membahas sesuatu.” Hyojung menyatakan.

“Baiklah, dimana kau ingin membahasnya?” Hanbyul bertanya.

“Bagaimana kalau di kantorku saja?” Hyojung menawarkan dan Hanbyul menurut, Hyojung berpamitan pada Yuri dan Hanbyul mengikuti langkah Hyojung menuju lift.

“Bagaimana rapat dengan dewan direksinya? Apa lancar?” Hyojung berbasa-basi.

“Ya, aku sedikit gugup namun aku berhasil menyampaikan semua usul dan sepertinya para direktur menyukainya.” Hanbyul menjawab sedikit bersemangat.

“Ah..aku tahu, kau memang ahli dalam pemasaran iyakan Eonni?” Hyojung melirik kearah Hanbyul.

“Iya Hyojung-ah, aku sudah lama tidak memberikan presntasi seperti tadi.” Hanbyul menjawab, dia tidak sadar kalau dia baru saja memanggil Hyojung dengan namanya, bahkan dia tidak menyangkal saat Hyojung memanggilnya Eonni.

Hanbyul langsung menutup mulutnya saat dia sadar apa yang baru saja dia katakan, Hyojung menatap kearahnya penuh dengan tanya dan dia akhirnya menyeringai.

“Tunggu nona Jung, aku tidak bermaksud untuk memanggilmu seperti itu..aku..”

“Cukup, aku tidak butuh penjelasan lagi.” Hyojung berkata dan dia menarik Hanbyul keluar dari lift setelah pintu lift terbuka.

Hyojung mendorong Hanbyul untuk duduk dikursinya dan dia membuka dokumen yang dia pegang, Hanbyul terkejut saat dia melihat berkas-berkas yang Hyojung tunjukan padanya. Dia bisa melihat foto Cecil dengan dirinya dan foto orangtua Cecil, Hanbyul mnyentuh kedua foto itu lalu dia mengambil berkas laporan keuangan sebuah akun bank yang tidak asing baginya.

“Apakah bukti ini cukup untuk membuatmu mengaku kalau kau kakakku?” Hyojung bertanya.

“Nona Jung..”

“Jangan panggil aku seperti itu! Kau kakakku, iyakan? Kau Jung Hyojin!” Hyojung bersikukuh, dia menyentuh kedua bahu Hanbyul.

“Aku mohon, katakan padaku kalau kau kakakku..kau Jung Hyojin.” Hyojung berkata, matanya berkaca-kaca hendak menangis.

“Nona Jung, aku rasa anda salah orang..” Hanbyul menyentuh tangan Hyojung, dia melepaskan tangan Hyojung dari pundaknya.

Ani..kau kakakku! Aku yakin itu, kau kakakku Eonni! Sadarlah! Ini aku Hyojung..” Hyojung menguncangkan tubuh Hanbyul, Hanbyul menelan ludahnya dia tidak tahu harus kebohongan apalagi yang dia lontarkan agar Hyojung berhenti mencurigainya.

“Maaf Nona Jung, kau salah orang..kakak anda sudah meninggal dan aku jelas bukan dia tidak peduli betapa miripnya aku dengan dia.” Hanbyul menunduk kearah Hyojung.

“Maaf saya harus bekerja kembali.” Hanbyul berjalan keluar dari ruangan Hyojung.

“Eonni! Hyojin Eonni!” Hyojung mengejarnya namun Hanbyul mengacuhkan Hyojung dan berjalan masuk kedalam lift.

“Eonni!” Hyojung memanggilnya untuk terkahir kali dan Hanbyul bisa mendengar suara gadis itu gemetaran karena dia menangis.

Saat pintu lift tertutup sempurna Hanbyul langsung menutup matanya, airmata menetes membasahi pipinya saat dia melihat adiknya menangis seperti itu. Hati terasa di cabik-cabik saat dia melihat airmata Hyojung menetas,rasanya ingin dia berlari dan memeluk adik kecil itu mengatakan kalau dia ada disini bersamanya membantunya menguasai perusahaan yang sudah seharusnya menjadi miliknya.

*****

     Taeyeon membereskan dokumen-dokumen yang sudah selesai dia tanda tangani, dia terkejut saat dia mendnegar ponselnya bergetar. Taeyeon menyambar ponselnya, namun dia mengernyit saat dia melihat nama Luhan tertera didepan layar ponselnya lelaki itu jarang sekali menghubunginya.

Luhan biasanya menghubunginya jika ada sesuatu yang sangat penting, Taeyeon segera mengangkat telepon itu menunggu suara Luhan terdengar.

“Taeyeon-shi.” Suara Luhan akhirnya terdengar.

“Oh Luhan-shi, ada apa?” Tanya Taeyeon penasaran.

“Maaf menganggu Taeyeon-shi, aku butuh sedikit bantuan bisakah kau datang ke toko perhiasan tiffany? Kau tahu toko besar yang ada di samping gedung mall Coex?” Luhan bertanya.

“Oh toko perhiasan itu, iya tentu saja Luhan-shi..ada apa memang?” Taeyeon bertanya sambil menyimpan dokumennya di rak buku kantornya.

“Aku butuh pendapatmu sedikit, kau tahu..selera wanita selalu lebih bagus.” Luhan mengungkapkan dan Taeyeon tersenyum.

“Oh…kau ingin membelikan hadiah untuk pacarmu Luhan-shi?” Tanya Tayeon iseng dan dia bisa mendengar suara tawa Luhan.

“Ya, begitulah jadi kau bisa membantuku?” Tanya Luhan.

“Ya tentu saja, aku akan kesana sebentar lagi.” Taeyeon berkata dia melirik kearah jam tangannya dan waktu sudah menunjukan jam dua belas siang lebih.

“Bagus kalau begitu, aku akan menunggumu.” Luhan berkata dan mereka berdua menutup teleponnya.

Aigoo bahkan Luhan sudah bisa melupakan Hyojin, lalu kenapa Yifan tidak pernah bisa melupakan gadis itu?” Taeyeon bergumam dan dia melirik kearah foto dia dan Yifan yang ada di meja kerjanya.

“Yifan-ah, sadarlah! Wanita itu sudah mati!” Taeyeon berkata kearah foto Yifan.

To Be Continue

Don’t forget the comment😀

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

26 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 15]

  1. 1st??
    kyaaa kok nangis yaa baca part yifan hanbyul.. huhuu sediihhh bgt >,<
    udah deehh ah hanbyul jangan masang ego gede gituuu udah tau masih cinta ama yifan huhuhu
    fighting buat 2 chap terakhir thor^^ \
    aku slalu menikmati ff ini🙂

  2. Aku udh gak bisa ngomong apa2 lgi. . .setiap perkataan yifan selalu menyedihkan, hyojin udahlah cukup…cukup. ..cukup saya sudah tak tahan nangis terus nih, TToTT

    saya udah nyerahlah akhirnya gmana, pasrah. . Seven jjang 6(^.^)

  3. aishhh semakin kesini taeyeon semakin nyebelin
    ternyata hyojung pntar juga tp knp hyojin terus menyangkal
    apakah wu yifan akan meninggal
    setiap part akhir2 ini selalu penuh air mata
    semoga semua nya berjalan baik
    dan 4 jempol untuk feel nya
    coba dipublish ditempat lain author
    pasti banyak yg minat

    1. gak akh kalau banyak di publish di tempat lain takut nya ada yang plagiat chingu, kayaknya mending pake promosi aja jadi bnyak yang visit ke blog aku🙂

  4. duh.. aku pengen brebes deh baca part ini.
    ckckck.. yifan bener-bener keliatan menderita dan dia udah nda berharap lagi buat hidup.
    aku agak kesal nih sama hyojin yg masih gengsi buat maafin yifan.padahal yifan udah cinta mati bahkan mau memberikan segalany termasuk nyawany juga.
    aku masih lebih suka hyojin-yifan couple eonni ketimbang hyojin-luhan couple.nda rela aja hyojin sama luhan padahal khan hyojin udah lama berhubungan ma yifan.
    sebenarny bukanny kelihatan ya eon dari data yg udah d print hyojung kalo bukti it membuktikan hyojin it hanbyul?masih aj hyojin menyangkalny.ckckck..
    oh ya eon tdi ada typo kyk ny tulisanny harusny lagi malah jadi lagu.
    eon, ID ku sebelumny Wiwied_chan ya.hehehe.takutny kalo part selanjutny mau d protect.
    gomawo dan mianhae kalo komenku kepanjangan.🙂

  5. part ini sedihnya dpat bgt.
    yifan makin lama makin menyedihkan.
    dia g pnya smgt hidup, T.T
    sedih bacanya. knpa sih hyojin msh kekeh pngen blas dendam? gag kasihan sama yifan?
    hyojung cerdas ya, gag nyangka dia kepkrn buat nyelidikin sendiri.
    tp tetep aja kesel, hyojinnya g mau ngaku.
    udh mau end ya? ya udh deh, aku pasrah sama endingnya.
    mw yifan mati, atau hdp, mau happy end atau sad.
    mau hyojin bahagia atau g.
    thor, coba deh dipost ditmpt laing
    exofanfiction bs, atau dipage fb exo fanfiction. tmpt2 lain juga byk.
    coba ya thor, biar byk yg comment.
    aku gtw dulu bs nemu nih blog darimana.
    hehe
    aku seneng bs bc disini🙂

    1. heheehe makasih chingu,aku gak mau cerita ini di post di banyak tempat chingu soalnya aku takut ada yang plagiat mungkin promosi aja biar banyak yang visit🙂

  6. tambah bagus thor ceritanya..
    akhirnya hyojung tau kalau hanbyul itu eonni nya..
    udahlah.. hanbyul ngaku aja sama hyojung..
    kasihan hyojung udah menderita tanpa ada hyojin..
    kasihan yifan udah mau mati thor.. tapi luhan juga kasihan selama ini dapet cinta palsu dari hyojin..
    aaaaaaaahhhhh!!!!!! author pinter deh bikin konfliknya..

  7. Yahh kependekan thor… #heheheh ^_^v
    tuh si hyojin jahat banget sih..! Yifan oppa kan udh sekarat , tapi ttp mau ngehancurin yifan oppa -,-
    thor aku request scene nya hyojung ama zhongren dong ^/\^
    yeeyy sehun muncul lagi..
    Mwo ? Tinggal 2 ep lagi ? Mmm ditunggu ya thorr
    thor kabulin request-an ku dong😉
    fighting thorr

  8. Huaaa sedih bgt yifan yang lagi sekarat…sedih juga pas hyojung manggil eonni tapi hyojinnya malah pergi….

    Kaget juga ada sehun ikut meeting…apakah penyamaran hyojin bakalan cepet kebongkar???ditunggu ya thor next partnya..

  9. ninggalan jejak juga di sini😀
    dan sama kayak komen aku satunya, aku gak tau mau ngomen apa, gak bisa berkata apa-apa saking sukanya ama nih ff.
    chap selanjutnya cepetan di publish ya thor ^^

  10. Huwaaaaaaaaaaaaaaa…….makin keren aza nihh ceritanyaa thor…
    Kasian bgt hyojung..udahlah hyojin ngaku azaa sama semuanyaaa..kasian juga kan yifan udah sekarat gtu..

    Itu lgi knp tiba” nongol aza my baby sehun hehehee..makin seru aza nihh..dan yg pasti makin bkin penasaraaaaaannn…

    Authoorr ayoo semangaatt….pingin tau kelanjutannya..😀

  11. yeeeeaaay! sudah dipublish. Tapi aku telaat banget taunya.
    Aku baca dulu ya kak :)) soalnya baru aja buka.
    Keep writing kak seven😀
    Hwaiting!

  12. kalo q berada d posisi hyojin pasti q jg bingung bgt . . . .
    sehun bisa aja mau nyudutin hyojin

    hyojin dah terbukti kalo yifan bnr2 cinta. ampe dia mau ngasi smua asset perushaan.a. . . .

    wah makin keren ayo next thor n bikin kejutan2 lg yg lebih menghebohkan

  13. Chingu.. bneran , aku tuh smpet heran,, knapa bisa mendalami pembuatan ff ini sih?
    critanya bner bner menyentuh chingu, apa lagi dh dngerin lagunya hyorin Dricing me crazy,,,udah berucucuran airmata..
    smpe kapan ff ini bkal slesai chingu?,, sumpah penasaran…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s