Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 14]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                             Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng            [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                 [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                        [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                    [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                          [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                           [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

Author Note:

Wajib Baca!

Sebelumnya seven mau bahas dulu sesuatu nih, seven ngerasa sedikit terganggu dengan beberapa komen para reader’s aku tapi tenang aja seven enggak marah kok sama kalian, seven cuman mau jelasin beberapa hal dalam fanfic seven ini agar para reader’s ku tersayang lebih ngerti cerita seven yang emang rada rumit ini baiklah dibawah ini adalah daftar penjelasannya:

  •  Hyojin bukan cewek yang biasa-biasa seperti cewek asia lainnya, dia udah lama tinggal di Amerika oleh karena itu sifat dan perilakunya terkadang seperti orang barat, seperti minum- minuman keras dan seks bebas.
  • Aku sedikit terganggu dengan komen seorang reader beberapa minggu yang lalu entahlah aku enggak inget kapan, dia bilang kalau Hyojin murahan dan salah satu readers juga bilang kalau Hyojin sebaiknya jangan minum-minum soalnya dia kayak cewek yang gak baik-baik. disini aku cuman mau memberikan karakter yang nyata aja, kalian udah tahukan kalau Hyojin udah lama tinggal di Amerika dan Hyojin tidak beragama jadi kalian tahu bagaimana pengaruh kebudayaan barat untuk seorang Jung Hyojin yang notabene adalah gadis yang liar dan bebas.
  • Karakter Hyojung di fanfic ini adalah gadis muda yang pemalu, penurut dan sedikit tertutup jadi dia agak susah untuk berlaku ‘nakal’ seperti kakaknya, karena Hyojung itu adalah kebalikan dai Hyojin oleh sebab itu aku sedikit enggak nyaman buat bikin love scene antara Zhongren dan Hyojung
  • Dicerita ini Hyojung dan Zhongren punya perbedaan umur yang cukup jauh, kalau misalnya Zhongren ‘tidur’ sama Hyojung sekarang dia ngerasa kalau dia seorang pedophille tapi jika Hyojung sudah cukup umur Zhongren mungkin akan memikirkan untuk tidur dengan Hyojung
  • Aku udah kasih rating di cerita ini yaitu PG 17 yang artinya kalian harus hati-hati dengan konten didalam ceritaku jika kalian belum tujuh belas tahun, itu sebabnya aku gak mau anak kecil yang belum benar-benar mengerti seluk beluk kehidupan agar tidak menilai cerita ini dengan cepat.
  • Karakter di cerita aku tidak picisan, jadi kalian harus bersiap untuk menerima kekurangan dan kelebihan karakter yang aku buat, aku cuman bosen aja dengan semua fanfic yang karakternya sempurna baget tanpa cacat karena aku pikir karakter seperti itu kayak karakter dalam dongeng anak kecil aja.
  • Fanfic aku membuka kenyataan dalam dunia yang pahit, aku suka membawa reader’s aku buat berfantasi namun aku tidak mau membuat mereka buta dengan penderitaan dan kesusahan  di dunia nyata, aku cuman mau semua reader’s aku bersyukur dengan apa yang mereka punya dan tidak muluk-muluk.

Fuih…cape juga yah cuap-cuap, ya begitulah onek2 aku sebagai penulis aku harap semua reader’s membaca note ini karena note ini penting banget aku pengen kalian lebih mengerti karakter2 di cerita aku, segitu aja cuap2 nya makasih udah baca  :D 

Chapter:

1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7, 8, 9 , 10 , 11 , 12 , 13

14

Do You Remember?

“Zitao-shi, maaf membuatmu menunggu.” Hyojin berkata dan Zitao hanya tersenyum.

“Tidak apa-apa, gadis cantik sepertimu pasti butuh waktu yang lama untuk berdandan.” Zitao berkata dan Hyojin tertawa.

“Ah Zitao-shi, kau bisa saja.” Mereka berdua berjalan.

“Maaf aku langsung menanyakan ini, jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Zitao bertanya saat mereka berdua berjalan menulusuri taman yang cukup ramai.

“Euh..anu..soal Wu Yifan,apa kau tahu dia?” Tanya Hyojin dan Zitao menghentikan langkahnya.

“Kenapa kau ingin tahu dia?” Tanya Zitao dan Hyojin hanya menunduk.

“Entahlah, semua orang disekitarku mencegahku untuk bertemu dengan dia.” Hyojin mengungkapkan dan Zitao mengangguk, tentu saja keluarga Luhan akan mencegah gadis itu tahu segalanya.

“Karena kau yang pertama berani mengungkit nama Wu Yifan didepanku, aku pikir kau tidak punya masalah untuk menceritakan Wu Yifan padaku.” Hyojin melanjutkan.

“Alasan yang masuk akal Hyojin-shi,jadi apa yang kau ingin ketahu tentang lelaki ini?” Zitao bertanya dan mereka melanjutkan berjalan.

“Seperti apa Wu yifan? Apakah dia tinggi? Apakah dia memiliki rambut coklat atau hitam?” Tanya Hyojin penuh dengan keingin tahuan.

“Wu Yifan..coba aku ingat-ingat.” Zitao menyentuh dagunya.

“Dia tinggi, tinggi sekali..dia memiliki kulit putih dan matanya sipit.” Zitao mulai mendeskripsikan.

“Hidungnya mancung, bibirnya sedikit tebal diatas dan dia memiliki rambut pirang.” Zitao mengungkapkan dan Hyojin langsung berhenti berjalan menatap kearah Zitao terkejut.

Rambut pirang Zitao bilang?apakah mungkin lelaki yang sering dia lihat didalam mimpinya adalah Yifan bukan Luhan? Pertanyaan itu membuat dia sangat ketakutan, bagaimana jika selama ini Luhan berbohong padanya? Luhan tidak pernah terbuka pada Hyojin tahu itu dan Hyojin curiga jika lelaki itu menyembunyikan banyak hal darinya.

“Pirang? Apakah kau tahu hubungan aku dengan Yifan apa? Apakah kami teman? Atau mungkin hanya kenalan.” Hyojin bertanya tidak sabar dengan jawaban Zitao.

“Kalian berkencan, selama satu tahun.”

“Benarkah?” Hyojin beranya tidak percaya.

“Ya, kalian terlihat serasi bersama aku juga tidak mengerti kenapa kau memilih bersama Luhan.” Zitao mengungkapkan dan dia menyeringai saat dia melihat Hyojin kebingungan.

“Kenapa Luhan tidak mengatakan semua ini padaku..” Hyojin bergumam.

“Hyojin-ah, Luhan bukanlah lelaki yang baik…sebaiknya kau berhati-hati.” Zitao mempengaruhi.

“Tidak, dia lelaki yang baik..dia mengobatiku dan merawatku sejak aku mengalami kecelakaan.” Hyojin berkata.

“Oh benarkah? Mungkin dia hanya merasa bersalah, kau tahu sendiri kalau dia menyembunyikan banyak hal darimu.” Ujar Zitao membuat Hyojin menunduk.

“Aku tidak akan mempengaruhimu atau semacamnya Hyojin-shi, kau tidak usah percaya padaku aku akan memberikanmu bukti.” Ucap Zitao.

Zitao mengodok saku kemejanya dan dia memberikan Hyojin selembar kartu nama, Hyojin menatap kearah kartu nama itu dan disana tertulis nama Yifan dengan sebuah alamat rumah yang ada di Ilsan.

“Kau tak usah langsung menghubungi Yifan, aku takut dia panik …sebaiknya kau pergi kerumahnya yang di Ilsan aku akan menghubungi pemilik rumah itu dan membiarkan kau masuk.” Zitao berkata.

“Kenapa aku harus kesana?” Tanya Hyojin.

“Hyojin-ah, kau akan mengingat banyak..mengingat kau dan Yifan bukan Luhan.” Zitao menyentuh poni panjang Hyojin dan menyelipkannya ditelinga gadis itu.

“Aku sekarang mengerti kenapa Yifan dan Luhan berebut perhatianmu, kau sangat lugu dan rapuh..siapapun ingin melindungimu.” Zitao berkata dan dia pergi meninggalkan Hyojin.

“Zitao-shi kau akan pergi kemana?” Tanya Hyojin, Zitao tidak menjawab dan dia hanya mengangkat tangannya melambai kearah Hyojin tanpa berbalik.

Hyojin menatap kearah kartu namanya daerah ilsan cukup jauh dari tempat dia sekarang, Hyojin mungkin akan pergi jika dia sudah di ijinkan untuk keluar sendiri. Hyojin bahkan harus berbohong pada Luhan kalau dia suntuk dirumah dan ingin membeli bubble tea, Hyojin berbalik dan dia memanggil taksi untuk membawanya kerumah.

Hyojin menaiki taksi yang berhenti didepannya dia mengatakan alamat yang dia tuju lalu melirik kearah jendela, dia menatap kearah kartu nama yang dia dapatkan dari Zitao. Dia ingin sekali menghubungi nomor Yifan, dia ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi sebelum kecelakaan.

Dia benar-benar kehilangan semua memorinya sebelum kecelakaan dia bahkan lupa pada namanya sendiri dan kapan dia lahir, dia hanya mengingat wajah Luhan dan itu sangat aneh sekali kenapa dia hanya mengingat Luhan bukan orang lain ataupun hal lain yang lebih detail dari Luhan.

Memori yang selama ini dia ingat semenjak kecelakaannya hanyalah suara rem mobilnya dan benturan keras yang dia alami, dia mengingat Luhan menarik tubuhnya keluar dari mobil dan mengangkat tubuhnya lalu berlari menjauh dari mobilnya yang meledak.

Dia masih mengingat suara Luhan yang berteriak memanggil namanya dan memeluknya dengan erat tidak peduli dengan kemejanya yang sudah berlemuran darah, dia ingat hangatnya tangan Luhan melindungi tubuhnya yang penuh dengan luka dan darah.

Agasshi, anda sudah sampai.” Suara supir taksi mengagetkanya, dia tidak tahu berapa menit dia melamun dan diapun tersenyum lalu membayar taksi.

Hyojin turun dari mobil taksi dan dia langsung disambut oleh Eunjo, Eunjo kelihatan kesal dan Hyojin menghela nafasnya mendekat kearah Eunjo yang sudah menyilangkan tangannya. Itu adalah pose khususnya jika dia sedang marah, Hyojin sadar itu setelah tinggal bersama gadis itu beberapa bulan.

“Eunjo-ya..”

“Eonni,aku mencarimu kemana-mana..apa yang akan aku katakana pada Luhan Oppa jika kau menghilang?” Eunjo berkata dan aku menghela nafasku.

“Aku tidak hilangkan?aku ada disini berdiri didepanmu.” Hyojin berkata dan Eunjo menghela nafasnya.

“Tapi Eonni..tetap saja.”

“Eunjo, aku sudah sembuh sekarang dan aku bukan anak kecil yang gampang tersesat.” Hyojin berkata dia menyentuh pipi Eunjo.

“Kau tak usah khawatir ok? Aku akan baik-baik saja.” Hyojin menenangkan dan Eunjo sepertinya mengalah.

“Lainkali suruh saja aku mengantarmu eonni.” Eunjo berkata dia mendekat dan memeluk Hyojin.

“Aku khawatir sekali.”

“Maaf, tadi aku buru-buru..aku lupa padamu.” Hyojin mengelus kepala Eunjo.

“Eonni kau harus janji tidak menghilang seperti tadi lagi?” Eunjo berkata dan Hyojin mengangguk.

“Ya, aku janji..kalau begitu bisakah kau mengantarkan aku ke Ilsan?” Hyojin meminta.

“Ilsan?mau apa kesana?” Eunjo bertanya seingat dia Hyojin tidak punya siapapun di Ilsan.

“Aku punya urusan, kau mau tidak mengantarkan aku?” Hyojin bertanya dan Eunjo mengangguk.

“Baiklah, kapan?”

“Besok, sekarang sebaiknya kita menyiapkan makan siang..apa kau lapar?” Hyojin menarik Eunjo masuk.

“Ya,aku lapar apa kit aakan makan spageti kimchi lagi?” Tanya Eunjo dan Hyojin mengangguk, kedua gadis itupun masuk kedalam rumah.

[Perjalanan menuju perusahaan Guangde group 13:00PM]

  Yifan memukul setirnya saat dia mengingat sosok wanita yang mirip Hyojin, dia sangat curiga pada Luhan karena lelaki itu menyembunyikan sesuatu darinya semenjak kematian Hyojin.

Semenjak kematian Hyojin, Luhan pindah kerumah Siwon dan setelah itu lelaki itu juga tiba-tiba saja menghilang dari Seoul selama beberapa bulan.Yifan mengambil ponselnya, dia menghubungi nomor Luhan dan menunggu lelaki itu mengangkat teleponnya.

Ge ada apa? Aku sedang sibuk sekarang.” Luhan berkata.

“Temui aku didepan studiomu.” Yifan berkata.

“Aku tidak bisa Ge, kau tahu aku sedang bekerja sekarang.”

“KALAU BEGITU KAPAN?” Yifan marah dan dia bisa mendengar Luhan menarik nafasnya terkejut.

Ge, ada apa denganmu?” Tanya Luhan.

“Jawab saja, kapan kau punya waktu?” Yifan bertanya lebih tenang sekarang.

“Mungkin nanti malam, kau bisa datang ke studioku aku akan menunggu.” Luhan menjawab.

“Baiklah, aku akan datang nanti malam.” Yifan menutup teleponnya, dia menghela nafasnya.

Dia benar-benar marah pada Luhan, dia mengatakan kalau Hyojin sudah meninggal namun pada kenyataannya ada kemungkinan kalau dia menyembunyikan Hyojin. Yifan sekarang yakin kalau wanita yang dia lihat tadi ditaman adalah Hyojin, awalnya dia ragu karena Hyojin memiliki penampilan yang berbeda dan rambut yang pendek dan dia sudah lama tidak melihat Hyojin tentu saja dia akan sedikit lupa.

Yifan menghidupkan mobilnya dia tidak tahu kemana dia ingin pergi, dia hanya ingin kabur dari realita dia senang karena dia berhasil menemukan Hyojin. Namun disisi lain dia sedih, dia tidak tahu harus melakukan apa jika Hyojin mengenalinya atau jika dia bertemu lagi dengan wanita itu.

Bagaimana dengan Taeyeon dan perusahaan group barunya? Yifan pasti akan terancam jika Hyojin kembali keperusahaannya, banyak sekali halyang harus Yifan pikirkan dan dia benci dengan kenyataan kalau dia dan Hyojin tidak mungkin bisa seperti dulu lagi semuanya sudah hancur sekarang walaupun mereka bersama lagi Yifan tahu dia akan mengorbankan banyak hal.

Yifan membelokan mobilnya menuju jalan tol, entah kenapa tiba-tiba saja dia merindukan rumah lamanya di Ilsan entah kenapa dia tiba-tiba sjaa rindu kehangatan dan keceriaan yang biasa dia rasakan ketika dia masih bersama dengan Hyojin dan semuanya masih terasa begitu indah.

Ponsel Yifan berdering dan dia bisa melihat nama Taeyeon tertera di ponselnya, Yifan menolak panggilang Taeyeon dan dia mematikan ponselnya. Dia tidak ingin berurusan dengan orang lain sekarang, dia sedang marah dan dia hanya ingin sendirian menenangkan pikirannya.

[Ilsan, Korea selatan – 14:00PM]

   Yifan memarkirkan mobilnya didepan rumahnya yang dulu, dia bisa melihat plang ‘rumah ini dijual’ didepan halamannya dan Yifan tersenyum tipis. Sebenarnya dia belum mengambil semua barangnya dirumah ini, dia masih memeliki beberapa barang yang besar seperti sepeda dan beberapa perabotan.

Yifan mengambil kunci rumahnya dan membuka kunci rumah itu, dia langsung disambut oleh ruangan yang gelap dan sedikit berdebu. Yifan membuka tirai rumahnya dan sinar matahari masuk kedalam rumahnya yang sepi, Yifan menyentuh piano hitam milik Zhongren dia ingat kalau adiknya itu mendapatkan piano ini dengan harga yang murah karena pemilik toko musik yang adiknya itu kunjungi adalah penggemar Zhongren.

Tangan Yifan mengelus plastik yang menutupi piano itu dia ingat kalau dulu dan Hyojin suka sekali duduk didepan piano ini hanya iseng menekan beberapa tuts piano, Yifan sebenarnya tidak terlalu bisa bermain piano namun dia pernah belajar di panti asuhan bersama Zhongren.

“Kenapa kau tidak mau berpisah dengan wanita itu?” Zhoumi bertanya.

“Baba, aku..aku tidak bisa.”

“Kau mulai lembek Yifan!”

“Baba..”

“Bodoh! Apa susahnya membuang seorang gadis dari pikiranmu?!”

   Yifan mencengkram plastik itu dan dia membantingkan plastik itu kelantai, dia marah sekali dia marah pada takdirnya, dia marah pada Tuhan dan dia marah pada dirinya sendiri yang bertingkah seperti pecundang.

“Karena hatiku sakit! Sangat sulit untukku..aku rindu padanya rasanya hidupku seperti sampah!”

     Nafas Yifan terengah-engah dia menahan tangisnya namun airmata terus menurun menetes kelantai, dia berlutut dan menangis. Yifan memukul lantai kayu rumahnya dia benar-benar benci jika dia sudah merasakan ini, dia merasa dadanya sesak dan hatinya terasa sakit dia benci menjadi lemah seperti ini karena Jung Hyojin dia jadi seperti ini.

“Hyojin-ah..mianhae..Jeongmal mianhae, aku memang bodoh! Aku pecundang..” Yifan berkata ditengah tangisnya.

[Kediaman keluarga Choi, Seoul – Korea selatan 14:30PM]

“Eonni!” Eunjo berteriak saat dia melihat Hyojin hampir menjatuhkan piring dia dia pegang.

Hyojin terkejut dan diapun akhirnya menjatuhkan piring yang dia pegang, suara piring pecah terdengar sangat keras menggema didapur. Seorang pelayan datang dan terkejut saat dia melihat tangan Hyojin berlumuran darah, tangan gadis itu sepertinya terkena pecahan piring.

“Eonni, kau tidak apa-apa?” Tanya Eunjo, mata Eunjo melebar saat dia melihat darah menetes dari tangan Hyojin.

Omo! Eonni, ayo kita obati lukamu.” Eunjo berkata dan Hyojin hanya mengangguk, dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi karena dia shock.

Eunjo membawa Hyojin keruang tengah dia langsung mengambil kotak obat yang ada di laci dupet ruang tengah, mata Hyojin menatap kearah tv kebetulan mereka sedang menonton acara berita dan dia bisa melihat kerumunan wartawan yang meminta keterangan dari sanga selebriti yang mereka kejar.

Hyojin menatap lurus kearah para wartawan yang sibuk memotret dan mencoba mendapatkan keterangan selebriti itu, entah kenapa pemandangan yang dia lihat begitu sangat familiar.

*****

Hyojin membuka pintu ruangan konferensi pers,seketika suara riuh para wartawan yang sibuk memanggil namanya membuat Hyojin terkejut. dia menutup matanya melindungi mata sensitivenya dari jempretan cahaya lensa kamera para wartawan.

Seorang lelaki langsung menghalangi para wartawan yang ingin mendekat kearah Hyojin, dia menuntun Hyojin menuju meja yang sudah disiapkan untuknya. Hyojin duduk di kursi yang sudah disiapkan dengan tangan yang sedikit gemetar dia mengambil mic yang sudah disiapkan di depannya, tak menunggu lama diapun langsung berbicara.

“Selamat siang, para dewan direktur dan saudara-saudara wartawan yang saya hormati. Juga para pegawai lainnya yang menyempatkan waktu kalian untuk datang keacara konferensi pers ini.” Hyojin memulai, dia menarik nafasnya melanjutkan pidatonya.

 “Tujuan saya hari ini berdiri disini, ingin mengkonfirmasi tentang status perusahaan yang ayah saya, Jung Yunho pimpin.” Hyojin melanjutkan, semua wartawan dengan riuh menanyakan berbagai pertanyaan dan itu membuat Hyojin semakin gugup.

Dia terdiam sejenak mencoba menenangkan dirinya sendiri, pertanyaan para wartawan berhasil membuatnya semakin gugup.

“Saya disini menyatakan, kalau saya memutuskan untuk mengambil alih perusahaan.” Hyojin mengatakan dan dia langsung bisa mendengar sebagian pegawai bersorak senang.

*****

“Eonni?kenapa kau melamun?” Tanya Eunjo, suara gadis itu menyadarkan Hyojin.

“Huh?tidak apa-apa.” Hyoji berkata dan dia meringis saat Eunjo meneteskan obat antiseptik pada luka Hyojin.

“Kau baik-baik saja Eonni?kau terlihat sering melamun belakangan ini.” Eunjo bertanya lagi.

“Aku hanya sedikit pusing, Eunjo bisakah kau mengantarkan aku kekamar?” Hyojin meminta dan Eunjo mengangguk.

Eunjo membantu Hyojin untuk berjalan dan Hyojin bisa merasakan dunia disekitarnya berputar, dia menahan rasa pusing itu dan berjalan bersama Eunjo. Mereka berdua akhirnya sampai dikamar Hyojin, Hyojin berbaring dan Eunjo menyelimuti tubuh Hyojin.

“Eonni apa kau ingin aku mengantarkan spagettinya?” Eunjo bertanya dan Hyojin mengelengkan kepalanya.

“Tidak usah Eunjo, sebaiknya kau makan..aku ingin tidur.” Hyojin berkata dia tersenyum kearah Eunjo yang menatapnya khawatir.

“Eonni, kau akan baik-baik sajakan?” Tanya Eunjo dan Hyojin mengangguk.

“Ya, aku akan baik-baik saja.” Hyojin berkata dan Eunjo menggengam tangan Hyojin dengan erat.

“Eonni jangan sakit lagi eoh? Kalau Eonni sakit lagi aku akan sedih.” Eunjo berkata dan Hyojin mengangguk.

“Aku akan baik-baik saja Eunjo-ya.” Hyojin berkata dan diapun menutup matanya.

Eunjo masih menunggu sampai Hyojin tertidur, Eunjo menyentuh pipi Hyojin dia benar-benar khawatir dengan keadaan kakaknya itu.

“Eonni cepat sembuh ya?” dia bergumam dan diapun melepaskan tangan Hyojin dari genggamannya.

[Perusahaan Guangde group, Korea – 16:30PM]

“Kau tidak tahu kemana Yifan pergi?” Tanya Taeyeon kearah Yuri.

“Maafkan aku sajang-nim, tidak..Wu Hwajang-nim hanya mengatakan kalau dia ada urusan jadi dia ingin semua jadwalnya diundur sampai besok.” Yuri menjelaskan dan Taeyeon menghela nafas, padahal dia sengaja membawa kotak makan siang untuk Yifan.

“Baiklah, terimakasih Kwon biseo-nim.” Taeyeon menunduk kearah Yuri.

Nde sajang-nim.” Yuri menunduk juga dan Taeyeonpun pergi menuju lift.

Taeyeon menunduk sedih saat pikiran kalau Yifan sepertinya kabur darinya melintas, dia mencengkram kotak makan siangnya dengan erat. Dia tidak bisa berpikir negatif dulu mungkin Yifan sedang sibuk, mungkin lelaki itu sedang mencari rekan kerja baru untuk membuat produknya lebih bagus atau semacamnya.

Taeyeon mendongak saat dia merasakan bayangan seorang lelaki berdiri didepannya, dia bahkan tidak sadar kalau pintu lift sudah terbuka.

“Taeyeon-shi.” Suara lelaki itu terdengar dan Taeyeon terkejut saat dia sadar siapakah lelaki yang ada dihadapannya.

“Yongguk-shi.” Taeyeon tersenyum melihat sosok lelaki itu.

“Sudah lama kita tidak bertemu.” Yongguk berkata dan Taeyeon keluar dari lift.

“Oh..iya kau benar,apa kau perlu sesuatu?” Tanya Taeyeon dan Yongguk mengangguk.

“Ya, aku ingin bertemu dengan Yifan.” Yongguk menjawab.

“Maaf Yongguk-shi, tapi Yifan sedang tidak ada di kantornya..tadi aku sudah menanyakannya.” Taeyeon memberi tahu.

“Oh sayang sekali, padahal aku hanya ingin mengantarkan makanan ini.” Yongguk berkata dia menunjukan kotak makanan yang dia bawa.

“Oh kau akan makan siang juga? Oh tunggu ini sudah sore..” Yongguk berkata dan dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Hahaha Yongguk-shi, kau lucu.” Taeyeon tertawa saat dia melihat ekspressi Yongguk.

“Apa kau mau menemaniku makan sore? Aku bisa berbagi kotak makananku.” Taeyeon menawarkan dan Yongguk tersenyum.

“Kau yakin Taeyeon-shi? Aku tidak mau menganggu.” Yongguk berkata dan Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak menganggu Yongguk-shi, aku kebetulan membawa terlalu banyak.” Taeyeon memberi alasan dan Yonggukpun tidak bisa menolak tawaran Taeyeon.

“Baiklah, dimana kita akan makan?” Tanya Yongguk dan Taeyeon menunjuk kearah bangun kantin yang tidak jauh dari lobi.

“Bagaimana kalau kantin?” Tanya Taeyeon dan Yongguk mengangguk.

[Studio Luhan, Seoul – Korea selatan 19:00PM]

“Terimakasih atas kerjasamanya.” Luhan berkata kepada empat orang anggota band yang ada didepannya.

Keempat anggota band itu tersenyum dan membungkuk kearah Luhan mengaakan kalau mereka berterimakasih atas lagu yang Luhan ciptakan untuk mereka, Luhan tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan anggota band dan akhirnya keempat anggota band itu pamit untuk pulang.

Luhan menghela nafasnya lega, lagu yang dia ciptakan akhirnya terjual juga dan dia bisa bersantai sekarang. Dia memasukan tab Samsung dan handphonenya kedalam tas ransel hitamnya, dia melirik kearah buku note yang selalu dia bawa dan dia tersenyum saat dia melihat foto Hyojin dan dirinya tertera didepan buku yang berlapis kulit itu.

“Apa dia yang menyimpan foto ini?” Luhan bertanya, dia masih ingat kalau buku itu dia dapatkan dari Hyojin saat dia berulang tahun sebulan yang lalu.

Luhan menghirup harum buku note itu dan dia masih bisa mencium harum tangan Hyojin di buku note itu, dia mengelengkan kepalanya mana mungkin harum tubuh seseorang bisa bertahan di sebuah buku selama itu dia hanya berimajinasi.

Melirik kearah jam waktu masih menunjukan pukul tujuh malam, dia bisa membelikan makanan untuk Eunjo dan Hyojin kedua gadis itu pasti bosan dirumah. Luhan berjalan keluar dari studionya dengan langkah cepat, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Hyojin kekasihnya dia sudah merindukan gadis itu sejak tadi pagi.

“Kau akhirnya keluar.” Suara Yifan terdengar saat dia hampir menaiki mobil SUV nya.

“Oh ya, kau menyuruhku untuk menunggu.” Luhan berkata dia lupa dengan janjinya bersama Yifan.

“Ada apa ge?” Luhan bertanya.

“Dimana Hyojin sekarang?” Tanya Yifan dan mata Luhan melebar.

“Apa maksudmu? Tentu saja dia ada dipemakaman.” Luhan menjawab mencoba tidak terdengar panik karena dia berbohong.

“Bohong!” Yifan membentak dan Luhan melangkah menjauh dari Yifan, dia hanya ingin kabur dari Yifan sekarang.

Yifan menyeret Luhan menjauh dari mobilnya, Luhan memberontak mencoba melepaskan genggaman kuat Yifan di jaketnya. Yifan akhirnya melepaskan genggamannya setelah mereka cukup jauh dari mobil Luhan, Yifan mendorong Luhan membuat lelaki itu hampir terjatuh ke trotoar jalan.

“Hentikan!” Yifan membentak,Luhan mengacuhkan bentakan Yifan dan dia berjalan mendekat menuju mobilnya lalu Yifan menahannya lagi dan mendorong Luhan.

“Kau mau mati?” Yifan mengancam dan Luhan mengacuhkan ancaman kakaknya itu dan pergi.

Yifan marah dia menarik tangan Luhan membuat lelaki itu melirik kebalakang.

“Sadarlah!” Yifan berkata seraya memukul pipi Luhan dengan tinjunya.

Luhan yang merasakan bibirnya berdarah menyentuh bibirnya, dia marah sekali saat dia melihat darah di jarinya. Pipinya berdenyut sakit dan emosinya langsung naik, dia menatap kearah Yifan dan melayangkan tinjunya yang sukses mengenai pipi Yifan.

“Brengsek!” Yifan berkata dan dia menonjok Luhan lagi dan lelaki itu terkena tonjokan Yifan lagi.

Luhan mengangkat tangannya hendak membalas namun Yifan menangkap tangannya dan mendorong tubuh Luhan sehingga Luhan terjatuh ketanah dan Yifan berada diatas Luhan, mencegah lelaki itu agar tidak bisa bergerak lagi. Yifan mencekik leher Luhan dan Luhan berontak mencoba memukul Yifan, Yifan menyeringai karena usaha Luhan benar-benar tidak berguna dia sudah menang dengan posisi ini.

“Katakan padaku dimana dia?” Tanya Yifan.

“Sampai aku matipun aku tidak akan mengatakannya!” Luhan menjawab dan dia meludah kearah Yifan.

Yifan menyeka ludah Luhan dari wajahnya dan dia menonjok lagi Luhan, bibir Luhan dan pipi Luhan langsung menunjukan memar ungu dipermukaan kulit putih bersihnya. Yifan puas sekali saat dia mendengar Luhan merintih dan mengerang kesakitan, Yifan mencengkram kerah baju Luhan.

“Katakan sebelum aku sendiri yang menggeledah rumahmu.” Yifan mengancam.

“Kau tidak akan berani.” Luhan menjawab terengah-engah.

“Oh Luhanku sayang,aku bisa melakukan apapun.” Yifan menjawab dan dia menarik rambut pirang Luhan dengan kasar.

“Katakan, atau aku sebaiknya aku melukai wajah tampanmu ini.” Yifan mengodok saku jaketnya dan dia menunjukan pisau belati yang tajam pada Luhan, mata Luhan melebar dan dia mencoba kabur dari pisau yang tajam itu saat Yifan mendekatkan pisau dingin itu kepipinya.

“Hahaha model sepertimu pasti takut sekalikan dengan segores luka dari pisau ini.” Yifan berkata dan dia membalikan pisau belati itu sehingga bagian tumpul pisau itu menyentuh pipi Luhan lalu dengan pelannya dia menarik pisau itu kebawah pipi Luhan seakan dia akan memotong pipi Luhan.

Ge, hentikan..kau gila.” Luhan berkata.

“Hahaha gila? Luhan kau yang gila.” Yifan membalas.

“Cepat katakan,aku bisa melakukan game ini semalaman.” Yifan mengungkapkan, matanya menatap kearah Luhan penuh kebencian.

“Bunuh saja aku, aku tidak takut..” Luhan menantang dan Yifan menarik lagi rambut Luhan membuat Luhan tertarik kebelakang dan dia mengerang kesakitan, cengkraman Yifan di rambutnya terasa sangat menyakitkan rasanya kulit kepalanya juga akan lepas.

“KATAKAN! Aku tidak akan berhenti.” Yifan memaksa dan Luhan mencoba melepaskan rambutnya dari gengaman Yifan.

Gege, aku mohon..jangan lakukan ini padaku..” Luhan berkata dan Yifan menatap kearah Luhan.

Yifan melepaskan cengkramannya dari rambut Luhan, dia lupa kalau Luhan lebih muda darinya dia lupa jika dia menyakiti adiknya. Yifan duduk disamping Luhan dan dia mengusap wajahnya penuh dengan keputus-asaan, Luhan melirik kearah Yifan dia masih takut jika kakak tirinya itu akan menghajarnya lagi.

“Kenapa kau berbohong padaku?” Tanya Yifan.

“Aku ingin melindunginya.” Luhan menjawab dan Yifan melirik kearah Luhan.

“Jadi..”

“Ya, aku menyembunyikan Hyojin dan sebaiknya kau tidak menganggu hidupnya lagi..kau cukup membuat hidupnya menderita.” Luhan berkata dan dia menyeka darah dibibirnya.

“Kenapa kau menyembunyikan Hyojin?! Kau membahayakan dirimu sendiri dan Hyojung..apa kau tahu bagaimana perasaan Hyojung saat dia tahu kakaknya meninggal?” Tanya Yifan dan Luhan mengangguk.

“Aku tahu..aku tahu..tapi Ge, aku juga tahu kalau kau akan menghabisi Hyojin karena dia menolak permintaanmu.” Luhan menjawab dan Yifan mengepalkan tangannya.

“Benarkan? Aku tahu semuanya ge.” Luhan berdiri.

“Sebaiknya kau tidak mengusik hidup dia lagi, kau memiliki semua yang kau inginkan sekarang kau hanya harus melupakan Hyojin, tenang saja dia tidak akan kembali keprusahaan aku akan mencegahnya.” Luhan berkata dan Yifan membuang mukanya.

“Kau tidak bisa melakukan itu..”

“Kenapa? Karena kau mencintai dia?”

“Aku..”

Luhan menghela nafasnya.

Ge, aku mencintai Hyojin dan aku yakin itu.. aku tidak ingin membahayakan hidupnya dan aku akan melindungi dia sampai kapanpun.” Luhan menjelaskan dan Yifan mengusap rambutnya.

“Sedangkan kau? Kau bahkan tidak yakin kalau kau mencintai Hyojin iyakan? Kau hanya aktor yang sangat bagus ge, kau hanya aktor yang tenggelam dalam dramamu sendiri.” Luhan berkata dan dia meninggalkan Yifan sendirian.

Yifan menatap kearah Luhan punggung Luhan, dia ingin membalas perkataan Luhan dia ingin mengatakan betapa besarnya cinta dia untuk Hyojin namun ego dia mencegahnya. Dia tidak bisa mengatakan kalau dia mencintai Hyojin tidak, jika dialah yang menjadi sumber kesakitan dan penderitaan gadis itu.

“Luhan!” Yifan memanggil dan Luhan berbalik.

“Aku mungkin tidak mencintai Hyojin seperti kau mencintainya, tapi setiap hari aku selalu merindukannya dan hatiku sakit setiap aku mengingat kalau dia tidak disisiku lagi lalu aku selalu mengingat senyumnya kearahku, selalu mendengar suara manisnya untukku dan hangat peluknya..apa itu cinta?” Tanya Yifan dan Luhan mengepalkan tangannya.

“Kau hanya egois ge, kau hanya mengambil segalanya tanpa memberi..apa yang sudah kau lakukan untuk Hyojin?” Tanya Luhan dan Yifan menunduk, Luhan benar dan itu sangat menyakitkan rasanya.

Luhan pergi menaiki mobilnya, badanya terasa sakit saat dia menggerakan kakinya untuk menginjak pedal gas mobilnya. Dia masih bisa melihat Yifan menunduk menyembunyikan wajahnya, Luhan menghela nafasnya dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan yang jelas dia ingin menjauhkan Hyojin dari Korea dan Yifan sekarang.

“Bodoh..” Luhan bergumam dan dia membelokan mobilnya pergi menuju kediaman keluarganya menyakinkan dirinya kalau Hyojin baik-baik saja.

[Kediaman keluarga Choi, Seoul – korea selatan 20:00PM]

  Luhan menutup pintu mobilnya, dia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kenapa wajahnya babak belur dan berdarah. Dia menghela nafasnya dan masuk, saat dia masuk dia langsung disambut oleh Siwon yang terkejut saat dia melihat wajah putranya babak belur.

“Luhan,kau kenapa? Siapa yang berani memukulmu?” Tanya Siwon, dia mendekat dan menyentuh wajah putranya.

“Aku baik-baik saja Appa.” Luhan berkata dia melepaskan tangan Siwon dari wajahnya.

“Katakan padaku, aku akan mengurus dia.” Siwon berkata nada suaranya terdengar marah sekali dan Luhan menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah mengurusnya, semuanya baik-baik saja.”Luhan menenangkan.

Sosok Eunjo muncul menuruni tangga dan dia sama terkejutnya dengan Siwon saat dia melihat wajah Luhan kakaknya babak belur, gadis itu langsung berlari kearah Luhan dan menyentuh wajah Luhan.

“Oppa, apa yang terjadi?” Tanya Eunjo.

“Tidak apa-apa, dimana Hyojin? Apa dia sudah pulang dari jalan-jalannya?” Tanya Luhan dan Eunjo mengangguk.

“Tadi sore tangannya terluka, dia sedikit merasa pusing tapi sepertinya sekarang dia sudah baikan.” Eunjo menjelaskan.

“Kenapa?apa dia sudah diobati?”

“Sudah, dia ada dikamarnya Oppa.” Eunjo menjawab.

“Terimakasih Eunjo-ya, kau baik sekali.” Luhan meyentuh bahu Eunjo dan tersenyum.

“Sama-sama Oppa, Hyojin Eonni baik padaku jadi aku tidak keberatan menjaganya.” Eunjo menjawab dan Luhanpun mengangguk lalu dia pergi masuk kedalam kamar Hyojin.

Saat Luhan datang Hyojin sedang menyisir rambutnya Luhan baru sadar kalau itu kebiasaan Hyojin, Hyojin selalu menyisir rambutnya sebelum dia tidur. Hyojin berbalik saat dia mendengar Luhan menutup pintu, Hyojin menarik nafasnya terkejut saat dia melihat wajah Luhan babak belur.

“Kau berkelahi dengan siapa?” Hyojin bertanya dan Luhan duduk diranjang Hyojin.

“Bisakah kau duduk dulu, ada yang ingin aku bahas.” Luhan berkata dan Hyojin menurut, gadis itu berdiri dan duduk di ranjangnya.

“Ada apa Luhannie?” Tanya Hyojin khawatir.

“Kau ingin tahu siapa Yifankan?” Luhan melirik kearah Hyojin dan Hyojin menunduk.

“Aku mengerti, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu sekarang..aku rasa kau sudah siap.” Luhan menyentuh tangan Hyojin, tangan gadis itu terasa sangat dingin untuknya dan dia khawatir saat dia melihat perban putih melingkar ditangan Hyojin.

“Yifan adalah pacarmu, kalian berkencan selama satu tahun dan kalian berdua bahagia.” Luhan menjelaskan, Hyojin menatap kearah Luhan tidak percaya.

“K-kenapa kau berbohong?” Tanya Hyojin dia kelihatan merasa di khianati saat dia mendengar pengakuan Luhan.

“Kau putus dengannya, lalu kau datang padaku..kita tidur bersama malam itu dan..semuanya begitu kacau aku tidak tahu harus melakukan apa.” Luhan berkata dia mengusap rambutnya penuh dengan kegelisahan.

“Keadaan saat itu genting, kau kecelakaan bersama dia..dia selamat tapi kau terluka parah aku membawamu kerumah sakit Gwangju dimana Kyungsoo bekerja, aku memaksa dia untuk memalsukan identitas salah satu mayat kecelakaan yang kebetulan tidak diketahui identitasnya.” Luhan berkata dan Hyojin menahan nafasnya terlalu shock dengan semua berita yang dia terima.

“Aku tidak ingin membahayakanmu Hyojin, banyak sekali orang yang akan memanfaatkanmu jika mereka tahu kalau kau hilang ingatan.” Luhan menyentuh pipi Hyojin dan Hyojin hanya bisa memejamkan matanya.

“Aku mencintaimu Hyojin, aku hanya ingin melindungimu..kau satu-satunya yang aku pedulikan saat itu, aku tahu aku sangat egois tapi aku tidak punya pilihan lain aku tidak bisa membiarkan Yifan memanfaatkanmu lebih jauh.” Luhan mengungkapkan dan Hyojin melirik kearah Luhan.

“Yifan memanfaatkanku?” Tanya Hyojin.

“Ya, aku tahu..aku sudah curiga dari dulu, Yifan ingin menguasai perusahaan ayahmu Hyojin dan dia ingin merebut semua kekayaanmu.” Luhan berkata.

“Apa dia berhasil?”

“Maafkan aku..dia bergerak sangat cepat dan kau masih belum sehat saat itu aku takut aku membuatmu terkejut dan kembali sakit.”

“Luhannie..” Hyojin memanggil dan dia memegang erat tangan Luhan.

“Hyojin-ah, tolong jangan marah padaku..aku sudah berbohong padamu aku tahu itu salah tapi aku melakukan itu karena aku mencintaimu dan aku tidak ingin kau terluka.” Luhan memeluk Hyojin, Hyojin menyentuh punggung Luhan dan dia menghela nafasnya.

“Aku akan memberikanmu pilihan sekarang, aku akan membiarkanmu kembali pada keluargamu mungkin aku harus menjelaskan beberapa hal atau kau ingin tetap bersamaku? Kita bisa menikah, memiliki keluarga seperti yang kau inginkan.” Luhan berkata dia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Hyojin.

“Luhannie..aku tidak tahu.”

“Aku tidak akan memaksa, aku akan menunggu keputusanmu..aku hanya ingin jujur padamu.” Luhan menunduk dan Hyojin tersenyum lemah.

“Terimakasih kau sudah jujur padaku.” Ucap Hyojin dan dia menyentuh tangan Luhan.

“Kau tidak usah berterimakasih, aku sudah berbohong padamu.”

“Kau melakukannya karena kau mencintaiku, aku mengerti.” Hyojin mendekat dan dahi mereka bersentuhan.

“Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu..aku mencintaimu Luhan.” Hyojin mengungkapkan dan Luhan tersenyum lalu dia mencium sekilas bibir Hyojin.

“Bagaimana kalau kita obati dulu lukamu, kau terlihat sangat menyedihkan.” Hyojin berkata dia bangkit dari ranjangnya dan Luhan tertawa.

“Kau benar.” Luhan menyetujui.

Hyojin mengambil kotak obat dan mulai mengobati Luhan, Luhan mengerang kesakitan setiap kali Hyojin membersihkan lukanya dan mengoleskan obat antiseptik pada sudut bibir Luhan. Hyojin menyentih pipi Luhan yang babak belur dan dia menghela nafasnya, dia sangat khawatir saat dia melihat luka Luhan.

“Hyojin-ah, kau tak usah khawatir..aku baik-baik saja.” Luhan tersenyum walaupun sudut bibirnya sakit.

“Luhannie, ceritakan padaku..bagaimana semua ini bisa terjadi.” Hyojin meminta dan Luhan hanya mengangguk.

“Berbaringlah,aku akan menceritakannya.” Luhan menyuruh dia menarik Hyojin agar Hyojin berbaring, Luhan melingkarkan tangannya dipingang Hyojin dan Hyojin memeluk pingang Luhan.

“Semuanya dimulai setahun yang lalu, saat kedua orang tuamu meninggal Hyojin-ah.” Luhan memulai.

Hyojin bisa merasakan jari Luhan memainkan rambutnya, dia menyukai itu apalagi saat dia mendengar suara Luhan yang begitu manly dan rendah. Hyojin memejamkan matanya, dia masih mendengar apa yang Luhan ceritakan namun dia hanya ingin menikmati kehangatan lelaki itu.

[Apartemen Yifan, Korea selatan 23:30PM]

  Yifan membuka pintu apartemennya dan dia bisa melihat sosok Taeyeon menunggunya di sofa, gadis itu menyinglangkan tangannya penuh dengan kekesalan. Yifan menghela nafasnya dan dia menutup pintu apartemennya mengacuhkan Taeyeon yang sudah menatap kearahnya, Taeyeon lalu berdiri.

“Wu Yifan, darimana saja kau?” Tanya Taeyeon.

“Kau tak usah peduli, kenapa kau ada disini? Bukankah kau seharusnya di apartemenmu?” Tanya Yifan dan dia masuk kedalam kamarnya.

“Yifan, apa kau mabuk?” Tanya Taeyeon, dia curiga karena Yifan berjalan sempoyongan.

“Lalu?!” Bentak Yifan, dia membuka jasnya dan melemparkannya kesembarang arah, Yifan melepaskan dasinya juga.

“Yifan, kau kenapa? Apa ada maslaah dengan perusahaan?” Tanya Taeyeon, dia lalu duduk disamping Yifan dan melipat jas Yifan.

“Aku lelah, bisakah kau diam dan berhenti bertanya.” Yifan bergumam dan dia menutup matanya.

Taeyeon hanya diam, dia mengantungkan jas dan dasi Yifan dia juga melepaskan kaos kaki Yifan dan menyelimuti lelaki itu. Taeyeon berjalan keluar dari kamar Yifan, dia duduk dikuri meja makan lalu dia menuangkan wine yang dia buka. Sedikit demi sedikit Taeyeon menuangkan wine itu kedalam gelas, dia lalu meneguk minuman itu langsung menghela nafasnya karena minuman itu terasa sedikit panas di tenggorokannya.

Taeyeon menatap lurus kearah gelasnya dan akhirnya airmatapun mengalir membasahi pipinya, dia mengepalkan tangannya dan mengigit bibirnya dia mencoba untuk tidak menangis namun airmatanya terus turun. Taeyeon tidak tahu kepada siapakah dia harus berpaling, hidupnya terasa sangat berat sekarang apalagi dengan sikap Yifan.

Ponsel Taeyeon bergetar dan dia mendapatkan sebuah pesan dari Yongguk, Yongguk mengatakan terimakasih karena Taeyeon sudah mengajaknya makan siang. Taeyeon membalas singkat pesan itu dan dia mematikan lagi ponselnya, Taeyeon menuangkan lagi winenya sampai gelasnya penuh.

Dia hanya ingin melupakan bentakan Yifan padanya, rasanya sakit sekali saat lelaki itu marah padanya dan mabuk-mabukan seperti sekarang. Taeyeon padahal sudah menunggu Yifan, dia sengaja menyewa kaset dvd film yang mungkin akan Yifan sukai namun semua harapannya hancur saat dia melihat Yifan mabuk seperti tadi.

Taeyeon menyeka airmatanya lalu dia kembali meminum winenya, dia hanya ingin melupakan kejadian hari ini sehingga besok dia bisa ceria lagi. Taeyeon menatap kearah ponselnya, dia menghidupkan ponselnya lagi dan dia menatap kearah sms terakhirnya yang dia terima yaitu pesan dari Yongguk.

Taeyeon membuat pesan baru untuk Yonggu, lelaki itu tadi belum tidur tapi dia tidak yakin jika sekarang dia masih bangun. Taeyeon melirik kearah jam dan waktu menunjukan pukul sebelas malam, Taeyeon mengurungkan niatnya dan menyimpan lagi ponselnya.

[Ilsan, Korea selatan 10:00AM]

“Eonni kau yakin akan masuk kesana?” Tanya Eunjo, dia khawatir sekali saat dia melihat bangunan rumah yang ditunjuk oleh Hyojin.

“Tenang saja, aku akan kembali sebentar lagi.” Hyojin berkata dan dia turun dari mobil Eunjo.

“Eonni jika ada apa-apa hubungi aku ok?” Eunjo meminta dan Hyojin tersenyum.

“Iya aku akan menghubungimu.” Hyojin menjawab dan diapun berlari menuju bangunan rumah yang dia tuju.

Seorang lelaki tua sudah menunggunya ternyata, dia mengatakan kalau Zitao menghubunginya untuk membiarkan Hyojin masuk. Lelaki itu berkata kalau rumah ini akan dijual jadi jika Hyojin tertarik dia bisa menghubungi pemilik rumah itu untuk membeli rumah ini, Hyojin hanya tersenyum dan berterimakasih.

Dia membuka pintu rumah yang bernomor sebelas itu, didalam rumah itu gelap sekali sehingga Hyojin harus membuka tirai jendela rumah itu. Didalam rumah sangat berdebu sekali dan dia bisa melihat sebuah kursi sofa dan beberapa lemari yang belum diambil oleh penghuni sebelumnya, Hyojin menyentuh piano klassik hitam yang ada disudut ruangan.

Hyojin melirik kesekitarnya entah kenapa rumah itu terasa tidak asing baginya, dia berjalan menulusuri ruang tamu rumah itu. Dia duduk di sofa yang di balut oleh plastik yang sedikit berdebu namun dia tidak peduli, dia duduk disana dan memejamkan matanya.

Sebuah adegan muncul dihadapannya, dia bisa melihat dirinya dan seorang lelaki bercanda didepan televisi mengacuhkan tayangan kartun di televisi itu dan terus mengobrol. Lelaki pirang yang biasa dia lihat tersenyum, dia tahu kalau lelaki itu bukanlah Luhan dan adegan itu langsung menghilang dihadapannya.

Hyojin melirik kearah dapur lalu dia bisa melihat empat orang termasuk dirinya duduk disebuah meja makan, dia tertawa sambil memakan bulgoginya dan seorang wanita berambut hitam meledeknya namun dia tidak peduli. Mereka berempat tidak tahu sedang berbincang apa Hyojin hanya menatap kearah mereka, Hyojin berdiri dan mencoba mendekat kearah mereka dan dirinya sendiri.

Dia bagaikan seorang pemeran figuran yang hanya datang kedalam adegan itu ketiga orang yang bersamanya mengacuhkan Hyojin bergitu juga dirinya sendiri yang masih tertawa, adegan kembali berubah sekarang dia bisa melihat dirinya dan lelaki pirang itu berjalan sambil tertawa.

Lelaki itu menariknya dan dahi mereka bersentuhan, Hyojin bisa melihat bibirnya bergerak namun dia tidak ingat apa yang dia katakan. Hyojin mendekat dan dia mulai bisa mendengar percakapan dirinya dengan lelaki itu, lelaki itu menyentuh pipinya dengan lembut dan dia tersenyum manis kearah lelaki itu.

“Bagaimana jika kita berpisah?” Tanya dirinya sendiri pada lelaki itu, lelaki itu mengecup dahinya.

“Apa kau akan menciumku lagi?” Hyojin menantang dan lelaki itu tersenyum padanya.

“Kalau begitu, ingatlah aku..ingatlah semua ini.” Lelaki itu berkata dan mereka berdua berciuman penuh dengan kemesraan dan hasrat.

Lelaki itu mengangkat tubuh Hyojin dan dia tertawa, mereka berdua berjalan menuju kamar yangberjarak tidak jauh dari dapur, Hyojin mengikuti adegan itu namun saat dia membuka kamar yang mereka tuju kamar itu kosong.

Hyojin panik dia berbalik kekanan dan kekiri mencari petunjuk, kenapa dia tidak ingat saat bagian ini. Didalam kamar itu hanya ada sebuah rangkai ranjang tanpa kasur dan sebuah lemari yang terlihat sanga usang, Hyojin membuka lemari itu dan dia terkejut saat dia melihat lemari itu berisi beberapa aksesoris yang tidak dipakai dan beberapa alat dekorasi rumah seperti bingkai foto dan kotak-kotak kecil yang biasa digunakan sebagai hiasan.

Hyojin menemukan sebuah album didalam lemari itu dan dia mengambilnya, dia membuka album foto itu dan dia terkejut saat dia melihat di album itu terisi dengan foto-foto dia dengan seorang lelaki pirang.

“Apakah ini kau Yifan?” Hyojin bergumam dan dia menatap kearah foto lelaki yang ada disampingnya.

“Arghh!” Hyojin mengerang saat dia merasakan kepalanya berdenyut sakit,sepertinya otaknya bekerja terllau keras untuk mengingat semuanya namun dia tidak bisa berhenti.

Semua adegan dalam kehidupannya berputar dipikirannya mulai dari hari pertama dia bekerja di perusahaan Jung, dia mengingat pesta ulang tahu Hyojung adiknya dan semuanya rasanya kembali lagi. Hyojin langsung ambruk kelantai mencengkram kepalanya, semua memorinya langsung kembali, dia mengingat orang tuanya, dia mengingat rumah dan jalan menuju kerumahnya.

Dia ingat kematian kedua orang tuanya, hari-harinya selama dia bekerja dan kuliah di New York dia juga mengingat pertemuan pertamanya dengan Yifan dan Luhan. Hyojin memejamkan matanya dan semuanya berhenti, otaknya kembali normal dan dia membuka matanya karena sakit dikepalanya sudah hilang.

Hyojin mengepalkan tangannya saat dia mengingat semuanya, airmatanya langsung jatuh dan dia menangis memeluk kedua kakinya. Dia ingat perkataan Luhan kemarin malam, dia tidak percaya selama setahun ini Yifan memanfaatkannya.

Yifan ingin menguasai perusahaan ayahmu Hyojin
dan dia ingin merebut semua kekayaanmu

Hyojin memasih mengingat perkatan Luhan, dia mencengkram foto album yang dia pegang lalu dia merobek foto dirinya dengan Yifan.

“Lihat saja Wu Yifan, aku akan datang dan menghantuimu.” Hyojin berbisik dan dia bangkit untuk keluar dari rumah Yifan dan Zhongren.

*****

“Eunjo-ya, bagaimana kalau kau mengantarkan aku ke studio Luhan?” Hyojin bertanya saat mereka sudah sampai di Seoul.

“Tapi Eonni, apa kau tidak lelah?” Tanya Eunjo.

“Tidak apa-apa, aku ingin membahas sesuatu dengan Luhan.” Hyojin menjelaskan dan Eunjo menurut, dia mengganti jalur dan menuju kawasan Gangnam dimana kakaknya bekerja.

Eunjo melirik kearah Hyojin sekilas, gadis itu terlihat berbeda semenjak dia keluar dari rumah itu. Hyojin kelihatan lebih murung dan melamun, sejak tadi Hyojin hanya menatap kearah jendela mobil dan mematikan radio saat lagu kesukaannya dimainkan biasanya Hyojin selalu bernyanyi bersamanya jika radio memutar lagu kesukaannya.

Eunjo ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi namun dia takut saat dia melihat ekspressi serius Hyojin, semenjak Hyojin keluar dari rumah itu ekspressinya berubah 180 derajat dia menjadi lebih serius bahkan tidak mengatakan apapun.

Eunjo akhirnya sampai didepan studio Luhan, Hyojin yang melamun langsung sadar saat dia merasakan Eunjo menghentikan mobil.

“Terimakasih Eunjo-ya, aku akan pulang sendiri nanti kau tak usah menunggu.” Hyojin berkata dan dia turun dari mobil Eunjo tidak menunggu jawab dari Eunjo.

“Ada apa dengan dia? Kenapa dia berubah seperti itu?” Tanya Eunjo pada dirinya sendiri, dia bisa melihat Hyojin memasuki studio Luhan.

Hyojin berjalan dengan langkah cepat mencari Luhan di studionya sampai akhirnya dia bisa melihat Luhan sedang menulis sesuatu dibuku notenya, sepertinya dia sedang menuliskan nada-nada yang dia buat dengan gitar yang dia pegang.

“Luhan.” Hyojin memanggil dan Luhan yang mendengar namanya dipanggil mendongak menatap Hyojin.

“Ah Hyojin-ah, kenapa kau kesini? Apa Eunjo tidak bisa menemanimu hari ini?” Luhan bertanya dia menyimpan gitarnya dan mendekat.

Hyojin hanya diam tidak menjawab, Luhan menarik tangannya dan hendak mencium bibirnya namun Hyojin langsung menampar Luhan. Luhan terkejut dan menyentuh pipinya yang terasa sakit karena tamparan Hyojin cukup keras, Hyojin menatap kearah Luhan dengan mata berkaca-kaca.

“Aku ingat semuanya sekarang, beraninya kau! Kau berbohong padaku..” Hyojin berkata.

“Hyojin, aku sudah menjelaskannya..kau tahu alasannya.”

“Kemarin aku belum waras! Aku masih gila! Aku tidak mengerti apa yang aku pikirkan kemarin!” Hyojin membentak dia menarik rambutnya penuh dengan frustasi.

“Hyojin-ah..” Luhan menarik tangan Hyojin mencegah gadis itu melukai dirinya sendiri.

“Hentikan! Aku harus kembali..bagaimana dengan Hyojung-ah? Aku tidak akan membiarkan si brengsek Zhongren menyentuh adikku!” Hyojin panik dan Luhan mencengkram bahu Hyojin.

“Hyojin! Sadarlah..kau tidak bisa panik sekarang.” Luhan berkata dan Hyojin menatap kearah Luhan.

“Kenapa kau berbohong? Sekarang aku tidak bisa kembali pada Hyojung.” Hyojin berkata.

“Hyojin-ah, kau bisa kembali kau hanya butuh waktu saja.” Luhan menjelaskan namun Hyojin mendorong Luhan.

“Kenapa kau melakukan ini?! Kau menghancurkan semuanya..sekarang aku tidak kembali pada keluargaku mereka semua akan ketakutan karena mereka menganggap aku sudah mati.” Hyojin marah dan Luhan menghela nafasnya.

“Kau ingin kembali pada mereka? Baiklah, aku akan mengantarkanmu sekarang.” Luhan menarik tangan Hyojin.

“Bodoh! Tidak sekarang..mereka pasti panik saat mereka melihatku.” Hyojin berkata dan dia melepaskan tangan Luhan.

“Lalu apa yang kau mau? Apa kau akan marah padaku sekarang?” Tanya Luhan dan Hyojin terdiam.

“Aku ingin balas dendam.” Hyojin akhirnya berkata dan Luhan menatap kearahnya.

“Balas dendam?”

“Ya, kau harus membantuku untuk menghancurkan Wu Yifan.” Hyojin berkata dan Luhan menatap aneh kearah Hyojin.

“Bagimana caranya?”

“Kau harus membantuku, kau satu-satunya senjataku.” Hyojin berkata dan Luhan menghela nafasnya, sepertinya Jung Hyojin yang sebenarnya sudah kembali dan dia penuh dengan amarah dan dendam.

[7 Bulan kemudian..]

“Kenapa kau ingin kembali?” Tanya Yifan geram, dia menatap kearah Luhan yang duduk didepannya.

Dia marah sekali karena dia sepetinya orang terakhir yang mendengar kalau Luhan memutuskan untuk kembali keperusahaan, dia sendiri tahu dari Yuri. Yuri mengatakan kalau berita tentang Luhan yang akan kembali keperusahaan sudah menyebar kepada semua dewan direksi dan pegawai,  setelah mendengar itu Yifan langsung menghubungi Luhan dan menyeret adik tirinya itu ke Café terdekat.

“Ya, aku bosan dengan dunia musik aku akan kembali keperusahaan tapi aku tidak menjamin kalau aku akan ada disana setiap saat jadi sebaiknya kau mencarikan asisten untukku.” Luhan berkata dan dia meneguk cappucinonya.

“Oh kau pikir karena kau bosan kau bisa begitu saja kembali, aku benar-benar tidak habis pikir dan aku sangat kesal! Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau akan mengadakan rapat dengan para dewan direksi?” Yifan membentak, Luhan hanya menyeringai.

“Kau sibuk ge, aku tidak mau menganggu.” Luhan berkata santai, Yifan menatap kearah Luhan lelaki itu kelihatan sedikit mencurigakan.

“Kenapa kau tiba-tiba ingin kembali?” Tanya Yifan lagi dan Luhan mengangkat bahunya.

“Aku hanya bosan ge, aku ingin sedikit keramaian didalam hidupku.” Luhan tersenyum.

“Apa ini soal Hyojin?” Yifan menatap kearah Luhan dan Luhan menyeringai.

“Yifan ge, wanita itu sudah mati.” Luhan berkata sambil tersenyum lalu dia berdiri dari duduknya dan melemparkan sejumlah uang di meja.

“Aku harus pergi, sebaiknya kau melupakan Hyojin.” Luhan tersenyum lalu dia pergi meninggalkan Yifan dengan seribu pertanyaan.

Yifan membayar pesanannya dan Luhan lalu dia pergi keluar, dia membuka kunci mobilnya lalu masuk kedalam mobilnya. Yifan duduk sebentar mengingat perkataan Luhan tadi, dia bilang dia bosan dengan musik? Sangat aneh..setahu dia Luhan tidak bisa hidup tanpa musik dia tahu Luhan menrencanakan sesuatu namun dia tidak bisa menyingkirkan Luhan begitu saja.

Menurut surat warisan Zhoumi Luhan masih memiliki lima belas persen saham diperusahaan Li, itu membuat Luhan menduduki jabatan sebagai salah satu direktur penting diperusahaan group Guangde juga. Yifan menghidupkan mobilnya ini sudah tiga bulan namun dia tidak mendapatkan kabar dari Zitao, lelaki itu selalu menghilang dan muncul seenak jidatnya saja.

Yifan membelokan mobilnya menuju daerah Gangnam menuju apartemennya namun saat dia melihat tanggal dikalendernya dia ingat kalau hari ini adalah hari ini adalah hari peringatan kematian Hyojin, dia tidak lupa dia hanya ingin melupakan namun dia tetap tidak bisa, dia terus ingat.

Dia selalu ingat hari kelam dimana dia harus kehilangan Hyojin, dia berhenti disalah satu toko bunga yang ada dipinggir jalan. Pada akhirnya dia membeli sebuket bunga lily putih untuk makam Hyojin, dia menaiki mobilnya lagi dan kali ini ponselnya bergetar nama Hyojung tertera diponselnya.

“Hyojung-ah, ada apa?” Tanya Yifan.

“Oppa, ini hari peringatan kematian Eonni..apa kau sudah kemakamnya?” Hyojung bertanya.

“Ya aku akan kesana, bagaimana dengan kau dan Zhongren?” Yifan bertanya.

“Aku sudah kesana tadi, aku sedikit sibuk sekarang karena aku harus mengerjakan skripsi jadi kami tidak bisa lama-lama disana.” Hyojung berkata.

“Oh..tidak apa-apa, semoga skripsimu sukses.” Yifan menyemangati.

Nde, terimakasih oppa.” Hyojung menjawab dengan ceria.

“Aku harus pergi sekarang, aku akan mampir jika aku ada waktu.” Yifan berkata, mampir kerumah keluarga Jung sudah menjadi kebiasaan dia sekarang.

“Aku dan Zhongren oppa menunggu.” Hyojung berkata dan merekapun menutup telepon mereka bersamaan.

Yifan menghidupkan mesin mobilnya dan dia mengambil arah menuju pemakaman, dia sedikit melamun saat dia mengingat perkelahiannya dengan Luhan beberapa bulan yang lalu. Luhan belum mengakui kalau dia benar-benar menyembunyikan Hyojin dan semenjak perkelahian mereka dia meminta Zitao untuk menghubungi Hyojin lagi agar mereka bertemu namun sayang Zitao kehilangan jejak Hyojin, Hyojin sepertinya menghilang begitu saja.

Zitao mencoba memata-matai kediaman keluarga Cho namun hasilnya nihil, dia tidak pernah melihat sosok Hyojin keluar lagi dari kediaman keluarga itu. Zitao juga mencoba mencari informasi namun semua tetangga keluarga Cho mengatakan kalau mereka belum pernah melihat sosok Hyojin, Zitao dan dirinya benar-benar kehilangan Hyojin mereka berdua tidak tahu kemana gadis itu pergi.

Yifan menghentikan mobilnya didepan pemakaman Seoul lalu dia membawa buket bungannya, dia cukup yakin kalau makam yang ada didepannya bukanlah makan Hyojin. Dia yakin kalau gadis itu masih hidup dan dia harus menemukannya, Yifan menyimpan bunga lily yang dia bawa didepan makam itu.

“Siapapun kau, aku turut berduka cita atas kematianmu.” Yifan bergumam dan dia menatap kosong kearah makam Hyojin atau setidaknya semua orang mengira kalau itu makam Hyojin.

Yifan melirik kearah kanannya dan dia terkejut saat dia melihat seorang wanita yang memakai selendang hitam dan kacamata hitam berdiri cukup jauh darinya, wanita itu membawa sebuah tas ungu dan dia tersenyum kearah Yifan sekilas. Yifan menunduk kearah wanita itu, mungkin dia juga sedang mengunjungi makam kerabatnya.

Yifan kembali fokus pada makam Hyojin namun dia sedikit penasaran untuk melihat kemana wanita itu pergi, dia terkejut saat dia melihat wanita itu menunduk didepan makam Jung Yunho dan Jung Boa. Tanpa pikir panjang Yifan mendekat kearah wanita itu namun sayang saat dia melangkah wanita itu sudah pergi menjauh dari Yifan, Yifan mencoba mengejar namun langkah gadis itu sangat cepat.

“Hey! Kau!” Yifan memanggil namun wanita itu mengacuhkan panggilannya.

“Jung Hyojin!” Yifan memanggil lagi dan gadis itu terdiam sesaat, Yifan berhenti juga dia penasaran apakah gadis itu adalah orang yang dia sangka.

Gadis itu tidak merespon dan segera berjalan lagi menjauhi dia, Yifan ingin memanggil lagi namun wanita itu menghilang masuk kedalam mobil sedan fords hitamnya. Yifan mencoba mengejar mobil gadis itu namun gagal, dari sosoknya Yifan yakin kalau tadi adalah Hyojin dia tahu gadis itu masih hidup dia cukup yakin.

“Kenapa kau menghindar dariku Hyojin-ah?” Yifan bergumam, dia menatap kearah mobil fords hitam yang berlalu keluar dari pemakaman.

Ponsel Yifan berdering, nama Yuri terlihat di layar ponselnya apakah sekertarisnya itu membutuhkan sesuatu? Yifan akhirnya mengangkat panggilan Yuri.

“Ya, ini aku.”

“Hwajang-nim, tuan Hong sudah ada di kantor anda beliau kembali lagi.” Yuri memberitahu, suaranya Yuri terdengar sedikit aneh.

“Kenapa dia kembali?” Tanya .

“Dia mengancam akan menyusul anda Hwajang-nim, sebaiknya anda kembali kekantor.” Yuri berkata suaranya terdengar gemetar.

“Baiklah aku akan kembali, tunggu saja.” Yifan menutup teleponnya diapun berlari kearah mobilnya.

[Ilsan, Korea selatan – 16:00PM]

“Kau yakin akan membeli rumah ini nona?” Tanya lelaki tua yang berdiri disamping Hyojin dan Hyojin mengangguk.

“Ya, aku suka dengan desain rumahnya.” Hyojin menjawab dan tersenyum kearah lelaki yang berdiri disampingnya.

“Baiklah, aku akan mengurus datanya besok.” Lelaki itu tersenyum dengan penuh semangat.

“Tuan Lee, apa kau bisa mengurusnya lebih cepat? Aku ingin segera tinggal disini.” Hyojin berkata dan tuan Lee mengangguk.

“Tentu saja nona, tapi aku butuh nama anda siapakah nama anda nona?” Tanya tuan Lee dan Hyojin tersenyum.

“Aku Hanbyul, Hanbyul Lawrence.” Hyojin menjawab dan tuan Lee menuliskan namanya didalam sebuah kertas yang seperti sebuah surat.

“Aku akan mengirimkan surat-surat rumah ini secepatnya nona Lawrence, aku akan menghubungimu jika kau sudah bisa tinggal disini.” Tuan Lee berkata dan Hyojin menunduk berterimakasih pada lelaki tua itu.

“Bisakah aku diam sendiri disini? Aku akan mengunci pintunya nanti.” Hyojin berkata.

“Baiklah, selamat menikmati rumah baru anda nona Lawrence.” Tuan Lee berkata dan dia meninggalkan Hyojin sendirian didalam rumah barunya, atau lebih tepatnya rumah bekas Yifan dan Zhongren.

Hyojin mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomer, dia menunggu orang itu untuk mengangkat teleponnya.

“Hyojin, bagaimana? Apa kau sudah membeli rumahnya?” Tanya orang yang dia hubungi.

“Sudah, terimakasih Cecil kau sudah membantuku aku tidak tahu harus berkata apa.” Hyojin berkata dan dia bisa mendengar Cecil tertawa.

“Oh Hyojin, kau sudah seperti saudaraku aku tidak keberatan.” Cecil berkata.

“Bagaimana kalau kau datang ke Korea?aku akan mengajakmu berlibur nanti.” Hyojin mengajak.

“Aku akan ke Korea musim dingin nanti, kita bisa pergi ski.” Cecil mengusulkan.

“Baiklah, aku akan menunggu kedatanganmu.” Ucap Hyojin.

“Oh iya, sampaikan salamku pada ayah dan ibumu, aku benar-benar berterimakasih karena kalian mengijinkanku memakai nama keluarga kalian.” Hyojin berkata.

“Tenang saja, aku akan menyampaikannya ibu dan ayah bilang mereka merindukanmu kau sudah lama tidak mengunjungi kami di New York.” Cecil mengungkapkan.

“Maaf, aku harus mengurus beberapa hal di Korea aku tidak sempat kesana.”

“Tidak apa-apa, jika kau ada waktu datanglah kunjungi mereka berdua.”

“Ya, pasti.”

Mereka berbincang beberapa menit lalu akhirnya berpamitan, Hyojin menutup teleponnya dan dia menghela nafasnya. Setelah menunggu beberapa bulan dia akhirnya bisa mengganti namanya dan mendapatkan uang depositnya yang dia simpan di amerika, Hyojin bersyukur sekali dia memiliki rekening bank pribadi yang tidak pernah orang lain ketahui kecuali Cecil dan keluarganya di Amerika.

Hyojin duduk disofa yang masih di bungkus oleh plastik, dia menyentuh sofa itu dan dia mengepalkan tangannya kesal. Dia ingat lagi saat pertamakali dia dan Yifan memadu kasih, mereka sering sekali duduk di sofa ini saat dulu dan sekarang yang ada di sofa ini tinggal kenangan saja.

Masih banyak sekali barang yang Yifan tidak bawa, Hyojin mendengar dari tuan Lee kalau Zhongren sekarang tinggal bersama Hyojung adiknya.dia bersumpah dia ingin menyusul kerumahnya dan menendang Zhongren, mulutnya gatal ingin mengungkapkan semua kebohongan Yifan dan Zhongren selama ini.

Hyojin memutuskan untuk pulang ini sudah sore sebaiknya dia pulang, dia tidak ingin tunangannya itu marah jika dia terlalu lama dirumah ini. Hyojin membuka pintunya dan berjalan keluar dari rumah, dia membuka pintu mobilnya namun dia terkejut saat dia melihat sosok Zhongren baru turun dari mobil SUV nya.

Hyojin segera menunduk dan mengunci pintu mobilnya, dengan cepat dia menghidupkan mesin mobilnya lalu kabur. Dari kaca spionnya dia bisa melihat Zhongren masuk kedalam rumahnya yang dulu, sepertinya tuan Lee menghubungi Zhongren untuk mengambil semua barang yang ditinggalkan olehnya karena seseorang sudah membeli rumah itu.

Melirik kearah langit yang berwarna Jingga Hyojin tersenyum pahit, dia sudah bertunangan dengan Luhan namun entah kenapa hatinya masih tidak tenang. Dia masih merasa gelisah dan gugup, itu membuat pikirannya kacau apalagi jika dia sudah mendengar nama Yifan.

Dia sangat benci nama itu, nama itu terasa sangat pahit dilidah dan hatinya. Hyojin mempercepat laju mobilnya, sebaiknya dia tidak memikirkan Yifan saat dia mengemudikan mobil atau dia akan menambrakan mobil itu seperti dulu lagi membuat dirinya sekarat.

Terkadang Hyojin berpikir kalau dia sebaiknya terus tertidur selamanya dan tidak pernah bangun kembali, dia harap dia tidak pernah sadar dan melupakan Yifan. Meluapkan semua kenangan yang dia habiskan bersama lelaki itu dan menghapus kebahagiaan yang pernah dia rasakan karena Yifan, dia hanya ingin mengulang semuanya dari awal.

[Apartemen Luhan,Seoul – Korea selatan 18:00PM]

  Hyojin membuka kunci apartemennya saat dia berbalik dia berteriak saat dia melihat seekor anjing kecil menyapanya didepan pintu, anjing kecil itu menggonggong kearahnya dengan lucunya seakan anjing itu mengajak dia bermain.

“Luhan! Kenapa ada anjing disini?!” Hyojin berteriak dan dia menjauh dari sosok anjing kecil yang ada dihadapannya.

“Hyojin, kau sudah pulang?” Luhan muncul dari ruang kerjanya dan dia tersenyum saat dia melihat Hyojin mencoba mengusir anjing kecil yang ada dihadapannya masih menggonggong mengajak Hyojin bermain.

“Luhan! Aku sudah bilangkan aku tidak suka anjing..” Hyojin mengeluh dia berlari menjauhi anjng itu tapi anjing itu malah mengikuti langkahnya.

“Maaf, Myungsoo sedang berlibur jadi dia menitipkan anjingnya padaku.” Luhan berkata dan Hyojin melotot kearah lelaki itu.

“Oh jadi karena Myungsoo? Aishh! Aku akan membunuh lelaki itu saat dia pulang.” Hyojin berkata geram namun dia menjerit saat anjing Myungsoo mendekatinya dan mengikuti Hyojin yang berlari kedapur ketakutan.

“Luhan! Hentikan kegilaan ini! Shoo..shoo aku benci kau!” Hyojin berkata dan Luhan tertawa melihat Hyojin yang panik karena anjing Myungsoo mengikutinya.

“Choco! Choco..kesini anak baik..” Luhan memanggil dan Choco melirik kearah Luhan lalu dia berlari kearah Luhan.

“Aissh..berapa hari dia akan berlibur?” Tanya Hyojin.

“Sekitar lima hari.” Luhan menjawab dan dia mengelus bulu coklat Choco.

“Apa? Lima hari? Tidak bisa! Kau sebaiknya menitipkan anjing itu di tempat lain.” Hyojin berkata panik.

“Oh Hyojin, dia tidak akan menggigit, coba lihat dia..lucu sekalikan?” Luhan mengangkat tubuh kecil choco dan membalikan tubuh anjing itu agar Hyojin bisa melihat sosok Choco dengan jelas.

“Lihat, lucu sekalikan? Iyakan Choco, kamu sangat lucu?” Luhan tertawa saat Choco mengonggonggong setuju.

“Mama Hyojin..aku mohon..ijinkan aku tinggal disini.” Luhan merubah suaranya dan menggerak-gerakan kaki Choco membuat seakan Chocolah yang berbicara pada Hyojin dan Hyojin cemberut.

“Luhan, itu tidak akan berhasil.” Hyojin berkata dan Luhan mengangkat Choco membawa anjing itu mendekat kearah Hyojin.

“Luhan! Jangan mendekat..” Hyojin ketakutan namun Luhan mengacuhkan perkataan gadis itu.

Setelah mereka cukup dekat Luhan menarik tangan Hyojin dengan paksa, walaupun gadis itu protes Luhan menarik tangan Hyojin dan memaksa Hyojin untuk menyentuh bulu coklat Choco yang halus. Anjing itu menatap kearah Hyojin dengan mata hitamnya yang besar sekali,Choco terlihat sangay lucu dan itu membuat hati Hyojin luluh ingin sekali dia mencium anjing itu namun dia takut.

“Lihat, dia tidak menggigitkan? Dia anjing yang baik.” Luhan berkata dan Hyojin menghela nafasnya.

“Baiklah dia boleh tinggal disini, tapi Myungsoo harus segera mengambilnya setelah lima hari.” Hyojin berkata dan Luhan mengangguk.

“Kau tak usah khawatir sayang, aku janji setelah Myungsoo pulang aku akan menyuruh dia untuk mengambil Choco.” Luhan berjanji dan dia mencium pipi Hyojin, lelaki itu melepaskan Choco dan mengajak Choco bermain, anjing itu kelihatan senang sekali dan berlari mengejar Luhan.

Hyojin tersenyum, mungkin tidak apa-apa jika tidak terlalu dekat dengan Choco lagipula Choco hanya anjing kecil berjenis pomeranian dia tidak akan segalak anjing lainnya. Hyojin berjalan kearah kamar dirinya dan Luhan, untuk mengganti bajunya.

Entah sejak kapan Hyojin memiliki kebiasaan untuk berdiri di balkon kamar aaprtemnnya, dia selalu menatap kosong kearah langit biru yang cerah tidak peduli pagi hari atau malam hari dia menyukai aktivitas itu. Otaknya yang terasa mumet selalu berhasil tenang setiap kali dia merasakan hembusan angin dari balkon, dia menghela nafasnya lega saat dia merasakan angin berhembus menyentuh kulitnya.

Ini musim panas dan diluar sangat panas namun Hyojin tidak peduli, dia menyukai sinar matahari dan dia menikmatinya. Baju tipisnya mengembung sedikit saat angin musim panas berhembus lagi dan Hyojin tersenyum merasakan angin yang sejuk, matahari bersinar diatas kepalanya namun dia tidak peduli.

“Kebiasaanmu belum hilang juga.” Suara Luhan terdengar dari belakang dan Hyojin tersenyum kearah Luhan.

“Kebiasaan apa?” Tanya Hyojin.

“Berjemur, kau selalu diam diluar saat matahari sedang panas.” Luhan menjawab dan dia melingkarkan tangannya dibahu Hyojin memeluk gadis itu dari belakang.

“Kau ingin bergabung denganku?” Tanya Hyojin dan Luhan tertawa.

“Kulitku tidak akan coklat jika aku berjemur, tapi kulitku menjadi merah.” Luhan mengeluh dan Hyojin tersenyum.

“Kasian, lagipula kau lebih tampan seperti ini..aku tidak bisa membayangkan kau memiliki kulit coklat.” Hyojin berkata dan Luhan tertawa.

“Yeah..aku akan terlihat aneh.” Mereka berdua tertawa.

“Apa kau sudah membeli rumah itu?” Luhan bertanya, suaranya sekarang terdengar lebih serius.

“Ya, aku akan pindah kesana secepatnya.” Hyojin berkata.

“Aku akan merindukanmu, apa kau akan merindukanku?” Luhan bertanya dan dia mencium leher Hyojin.

Hyojin tersenyum dia menarik lengan Luhan dan menuliskan sesuatu di telapak tangan Luhan membuat Luhan tertawa dan memeluk Hyojin lebih erat.

“Aku juga Hyojin, aku juga mencintaimu.” Luhan menjawab tulisan yang Hyojin tulis ditangannya.

[Perusahaan Guangde group, Korea – 18:45PM]

  Tuang Hong dan asisten pribadinya sudah duduk dikursi kantor  Yifan yang sudah siapkan, Yifan tersenyum kearah Tuan Hong saat dia masuk kedalam kantornya. Tuan Hong segera berdiri, ekspressi wajahnya kelihatan tidak bahagia dan itu membuat Yifan sedikit gugup sebenarnya apa yang membuat anak sulung direktur Hong yang sebelumnya ini ingin katakan padanya.

“Tuan Yifan, akhirnya kau datang juga.” Tuan Hong berkata dan Yifan tersenyum.

“Maaf aku memiliki urusan pribadi tadi, jadi aku terlambat.” Yifan berkata dan Tuan Hong mengangguk.

“Tidak apa-apa, lagipula ini salahku karena aku tidak menghubungimu terlebih dahulu.” Ucap Tuan Hong.

“Tidak apa-apa tuan Hong, pintu kantor saya selalu terbuka untuk anda.” Yifan tersenyum dan mereka berdua berjabat tangan lalu duduk kembali.

“Kalau boleh tahu, apa yang ingin anda bahas tuan Hong?” Tanya Yifan.

“Aku sudah mendnegar beritanya, aku dengar Luhan anak dari Li Zhoumi akan masuk kembali di perusahaan.” Tuan Hong berkata dan Yifan mengangguk.

“Benar sekali tuan Hong.” Yifan menyetujui.

“Oh ternyata berita itu benar, apa itu berarti dia yang akan memimpin sekarang?” Tanya tuan Hong, Yifan marah sekali saat dia mendengar pertanyaan itu dia mengepalkan tangannya menahan emosinya.

“Ah soal itu tidak tuan Hong, dia sudah lama hengkang dari dunia bisnis..aku sedikit khawatir dengan kinerjanya.” Yifan menjawab sesopan mungkin walaupun dadanya bergemuruh penuh kemarahan, dia bilang anak Li Zhoumi?! Satu-satunya anak Li Zhoumi adalah dirinya yang duduk didepannya.

“Aneh, aku sendiri kebingungan kenapa anak muda itu keluar dari dunia bisnis..dia sangat berbakat jika kau bertanya padaku aku rasa kinerjanya akan baik-baik saja.” Tuan Hong mengungkapkan dan Yifan hanya bisa tersenyum tipis.

“Tapi melihat kinerjamu kamu lebih baik dari Luhan, Mungkin Luhan hanya butuh pengalaman lebih.” Tuan Hong berkata saat dia menyadari ekspressi kecewa Yifan.

“Terimakasih tuan Hong, aku berusaha.” Yifan menjawab.

“Oh iya, aku kesini hanya ingin memberi saran.” Tuan Hong menyuruh asistennya untuk mendekat dan asistennya itu memberikan sebuah map kuning kepada tuan Hong.

“Aku dengar Luhan membutuhkan asisten, aku punya seorang kenalan dia lulusan NYU dia di besarkan di amerika dan dia memiliki banyak pengalaman diperusahaanku.” Tuan Hong berkata dia memberikan map kuning itu pada Yifan.

Yifan mengambil map itu dan dia membukanya, matanya melebar saat dia melihat foto Hyojin didalam map itu, wajah gadis itu begitu mirip dengan Hyojin yang membedakan gadis itu dengan Hyojin hanyalah warna kulit dan rambutnya.

Hyojin memiliki rambut lurus sedang gadis yang mirip dengannya memiliki rambut bergelombang dan berwarna coklat terang, kulit gadis itu kecoklatan namun sangat pas sekali untuknya bentuk wajahnya lonjong begitu cantik dan manis. Senyumnya hampir sama dengan Hyojin namun senyum Hyojin dan gadis itu benar-benar berbeda, gadis itu terlihat ramah dan menyenangkan berbeda dengan Hyojin yang serius dan mengintimidasi.

Yifan melirik kearah data yang ada disamping foto gadis itu, dia bisa melihat nama Hanbyul Lawrance tertera didalam ijazah universitas beberapa data penting dan informasi kontaknya. Yifan menghela nafasnya entah bagaimana bisa wanita ini begitu mirip dengan Hyojin, apakah ini yang disebut doppelganger.

“Berapalama dia sudah bekerja di perusahaan anda tuan Hong?” Tanya Yifan.

“Sekitar dua tahun, kau bisa melihat surat rekomendasiku disana..dia mengatakan kalau dia ingin bekerja denganmu tuan Yifan aku rasa kau harus menerimanya.” Tuan Hong menyarankan.

“Ini sudah sore, aku harus pergi aku akan kembali ke Cina besok.” Tuan Hong berdiri dan Yifan mengikuti gesture lelaki itu.

“Terimakasih atas rekomendasinya Tuan Hong.” Ucap Yifan dan Tuan Hong tersenyum lalu pergi setelah dia berpamitan.

Setelah tuan Hong pergi meninggalkan ruangannya Yifan meremas datang yang dia punya, perkiraannya benar Luhan akan membawa Hyojin kedalam kehidupannya lagi. Lelaki itu pasti merencanakan untuk merebut kekuasaannya, Yifan melihat nomor handphone Hanbyul yang tertera disebelah ijazahnya dan Yifan tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Yifan mengambil ponselnya dari saku celananya dan dia mengetik nomor telepon Hanbyul, dia menghubungi nomor itu dan menunggu sampai seseorang mengangkatnya.

Yobuseyo, ini dengan siapa?” suara seorang wanita itu mengangkat teleponnya dan Yifan menarik nafasnya terkejut saat dia mendengar suara Hyojin.

“A-apakah ini dengan ponsel nona Hanbyul Lawrence?” Tanya Yifan.

“Ya benar, ini dengan siapa?” wanita itu bertanya, Yifan kecewa sekali saat dia mendnegar pertanyaan itu.

“Aku Wu Yifan, direktur dari perusahaan Guangde.” Yifan menjawab.

“Oh Annyeoung haseyo Hwajang-nim.” Hanbyul langsung menyapa dan Yifan mencengkram ponselnya, dia benci suara itu karena suara gadis itu begitu mirip dengan Hyojin.

“Aku sudah membaca CV yang tuan Hong kirimkan untukku, aku sedikit tertarik dengan bakat yang kau miliki apakah kau bisa datang keperusahaanku untuk interview?” Yifan menawarkan dan dia bisa mendengar Hanbyul tersenyum senang.

“Ya tentu saja, Hwajang-nim saya akan datang pagi-pagi.” Hanbyul menjawab.

“Bagus kalau begitu, datanglah kekantorku jam tujuh pagi akan menyuruh sekertarisku mengantarkanmu.” Yifan berkata.

Nde, terimakasih banyak Hwajang-nim.” Hanbyul berkata dia benar-benar terdengar bahagia.

“Tidak usah beterimakasih, bersiaplah untuk interview besok.” Yifan berkata dia berpamitan lalu menutup teleponnya.

Yifan menghela nafasnya dan menutup matanya, apakah semua ini mimpi? Apakah Hanbyul adalah sosok baru untuk Hyojin? Namun kedua wanita itu berbeda sekali dan itu membuat Yifan kebingungan, Yifan masih ingat kalau Luhan mengatakan dia menyembunyikan Hyojin namun lelaki itu tidak pernah mengatakan dimana keberadan Hyojin.

Yifan mengusap rambutnya, kepalanya akan pecah jika dia terus memikirkan teka-teki yang Luhan berikan untuknya.semua ini membuat kepalanya pusing, Yifan emmbuka pintu kantornya dan melihat Yuri sedang membereskan dokumen-dokumen.

“Kwon biseo-nim, besok ada seorang pegwai baru yang akan aku interview nama dia Hanbyul Lawrence suruh dia keruanganku jika dia datang besok.” Yifan memberi tahu dan Yuri mengangguk.

“Baik Hwajang-nim.”

“Sebaiknya kau pulang, ini sudah malam.” Yifan berkata.

“Sebentar lagi Hwajang-nim, anda tidak usah khawatir.” Yuri tersenyum dan pergi mengambil dokumen yang ada dimejanya.

Yifan berjalan menuju lift dan dia menekan tombol lantai lobi kantornya, dia menunggu beberapa menit sampai akhirnya lift sampai dilantai lobi. Yifan berjalan keluar namun dia bertemu dengan sosok Yongguk, lelaki itu kelihatannya sedang menunggu seseorang membuat Yifan penasaran diapun memutuskan untuk bersembunyi ditembok dekat lift.

“Yongguk-shi!” Taeyeon tiba-tiba saja muncul dari lift yang ada diseberang lift Yifan.

Wanita itu terlihat senang sekali melihat sosok Yongguk, Taeyeon kelihatan membawa beberapa kaset ditangannya namun Yifan tidak bisa menebak kaset apa itu. Yongguk tersenyum saat dia melihat Taeyeon berlari kearahnya, Taeyeon akhirnya berhenti dan dia memberikan kaset yang ada ditangannya pada Yongguk.

Yifan ingin sekali mendekat dan menguping pembicaraan Taeyeon dengan Yongguk namun dia terlalu jauh, dia bisa melihat Yongguk mengatakan sesuatu pada Taeyeon. Taeyeon mengangguk dan tersenyu kearah Yongguk, Yifan melirikkearah lain dia menghela nafasnya.

Haruskah dia melepaskan Taeyeon dan membiarkan dia bersama Yongguk?

[Apartemen Luhan,Seoul- Korea selatan 06:00AM]

  Luhan mengerang saat dia erasakan sinar matahari menyilaukan matanya, ini sudah pagi dan Luhan tidak senang dengan sinar matahari yang terasa panas menyentuh kulit putihnya. Luhan berbalik kekanan menghindari sinar matahari, tangannya merayap berharap menemukan sosok Hyojin yang tidur disampingnya namun hasilnya nihil.

Luhan mengerang kesal dan membuka matanya, ternyata sosok Hyojin sudah bangun gadis itu sedang berdandan didepan meja cermin. Gadis itu sedang memakai lipstick merahnya dan dia tersenyum saat dia melihat Luhan sudah bangun, Hyojin berbalik dan Luhan memberikan gadis itu senyum malasnya.

“Bangun tuan tukang tidur, ini sudah siang.” Hyojin berkata dan Luhan turun dari ranjang lalu menguap.

“Aku benci pagi hari.” Luhan berkata, rambut pirangnya kelihatan acak-acakan.

“Itu karena kau selalu tidur larut malam.” Hyojin menjawab dia menyemprotkan sedikit parfum pada blazernya dan dia merapikan kemeja putihnya dan celananya.

“Kau terlihat cantik dan rapih sekali, kau akan pergi sepagi ini?” Tanya Luhan, dia mendekat dan melingkarkan tangannya dipingang Hyojin.

“Ya, aku harus naik bus jadi aku tidak ingin telat.” Hyojin menjelaskan dan dia mengambil tas hitamnya yang ada di meja cermin.

“Naik bus? Kenapa? Kau bisa memakai mobil sedanku.” Luhan mengusulkan.

“Bodoh, nanti dia curiga.” Hyojin berkata dan Luhan memutar matanya.

“Oh iya, aku lupa.” Luhan menjawab.

“Sebaiknya kau mandi, bukankah kau bilang kau ingin mengajak Choco jalan-jalan?” Hyojin mendorong Luhan menuju kamar mandi.

“Iya..iya..”Luhan menjawab malas dan Hyojin tersenyum.

Hyojin berjalan kedapur dan dia menyeduh kopi dan membuat sarapan untuk Luhan, Hyojin terkejut saat dia mendengar suara gonggongan Choco, anjing itu kelihatan senang saat dia melihat Hyojin yang baru selesai memasak.

“Shutt… Choco kau berisik.” Hyojin berkata namun anjing itu malah menggonggong lagi membuat Hyojin menghela nafasnya.

“Kau ingin bermain lagi?” Tanya Hyojin, dia ingat jika Luhan selalu memberikan mainan tulang berwarna ungu untuk membuat anjing itu tidak berisik.

Hyojin mencari mainan itu dan dia menemukan mainan itu diatas televisinya, Hyojin mengambilnya dan memberikan mainan itu pada Choco walaupun dia ketakutan dan langsung menjauh dari sosok anjing lucu itu.

“Aww..lihat yang sedang berusaha untuk dekat dengan Choco.” Luhan tiba-tiba saja muncul dia sudah menggunakan jeans dan kaosnya.

“Dia berisik.” Hyojin memberi alasan dan akhirnya dia memberikan roti sandwhich yang sudah dia buat tadi pada Luhan.

“Apa kau akan pulang sore nanti?” Luhan bertanya dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Entahlah, aku hanya akan menerima interview.” Hyojin menjawab dan dia meneguk kopi yang dia buat dan dia menambahkan krim dan sedikit gula di kopinya.

“Begitu ya, mungkin kita bisa berkencan setelah kau pulang.” Luhan mengusulkan.

“Kencan? Kemana?” Tanya Hyojin.

“Bagaimana kalau kita pergi kepantai saja? Kau suka pantaikan? Lagipula aku ingin pergi ketempat yang sepi, otakku rasanya sudah mumet.” Luhan menjelaskan dan dia memakan roti sandwhich nya.

“Baiklah, aku akan menghubungimu jika aku pulang lebih cepat.” Hyojin berkata, dia melirik kearah jam dan waktu sudah menunjukan jam enam lebih.

“Aku harus pergi, sampai ketemu nanti.” Hyojin berkata dan dia mendekat kearah Luhan mencium lelaki itu sekilas lalu pergi.

Luhan tersenyum dia hanya bisa memandangi punggung wanita itu menghilang dibalik pintu, Luhan berhenti memakan rotinya saat Hyojin sudah menghilang. Dia mencengkram tangannya sendiri khawatir dengan interview Hyojin, dia akan bertemu dengan Yifan lagi lalu bagaimana jika perasaan gadis itu untuk Yifan kembali? Dia tidak bisa kehilangan Hyojin.

Luhan melirik kearah Choco yang menatapnya dan Luhan tersenyum.

“Choco, kau tahu bagaimana perasaanku?” Tanya Luhan dan anjing itu hanya diam menatap kearahnya seakan dia adalah orang aneh.

[Perusahaan Guangde group, Korea selatan 07:30AM]

   Hyojin menatap kearah gedung perusahaannya yang dulu, dia sedih sekali saat dia melihat plang Guangde group terpasang diatas perusahaannya. Dulu ini adalah gedung kebangaan ayahnya namun sekarang semua kebangaan itu hilang direbut oleh seorang yang bernama Wu Yifan, hati Hyojin selalu bergejolak setiap kali dia mengingat nama itu.

Dengan langkah yang santai dia berjalan masuk kedalam perusahaan, seperti biasanya perusahaan begitu ramai dengan pegawai dan beberapa klien yang masuk dan keluar dari perusahaan.

Hyojin mengenali sosok Eunbi yang masih bekerja sebagai resepsionis, wanita itu tersenyum saat dia melihat sosok Hyojin. Dia bertanya-tanya apakah Eunbi bisa mengenali dirinya yang baru? Namun sepertinya tidak karena gadis itu bersikap normal sekali padanya.

“Selamat datang diperusahaan Guangde group, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Eunbi, mendnegar nama baru perusahaan Hyojin benar-benar ingin marah.

Nde, aku ada janji interview dengan Direktur Wu Yifan.” Hyojin berkata.

“Ah..anda pasti nona Hanbyul Lawrence?” Tanya Eunbi dan Hyojin mengangguk.

“Kau benar.” Hyojin menjawab dan memasang senyum palsunya.

“Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Kwon biseo-nim.” Eunbi berkata, dia menghubungi Kwon biseo-nim sedangkan Hyojin menunggu sampai dia mendapatkan konfirmasi.

“Kwon biseo-nim sudah menunggu, anda tinggal pergi kelantai paling atas.” Eunbi memberi tahu, Hyojin tersenyum dan menunduk kearah Eunbi berterimakasih dan Eubi membalas gesturenya itu.

Hyojin berjalan kearah lift namun langkahnya terhenti saat dia melihat sosok Taeyeon, dia bisa melihat Taeyeon sedang mengobrol dengan beberapa orang. Entah apa yang dia obrolkan namun kelihatannya wanita itu sangat sibuk sekali, dia membawa beberapa berkas di tangannya dan seseorang disampingnya menunjukan Taeyeon sesuatu.

Mata Taeyeon akhirnya bertemu dengan tatapannya saat mereka berpapasan, jantung Hyojin terasa berhenti saat dia melihat Taeyeon berhenti berjalan saat dia berjalan melewati wanita itu.

“Jung Hwajang-nim?” Taeyeon memanggil, Hyojin mengacuhkan panggilan itu dan terus berjalan lurus kearah lift.

“Hyojin! Jung Hyojin!” Sekali lagi Hyojin mendengar suara Taeyeon memanggil, Hyojin mengepalkan tangannya mengacuhkan panggilan namannya lalu dia masuk kedalam lift.

Hyojin bisa mendengar langkah Taeyeon mendekat kearahnya dan akhirnya tangan wanita itu berhasil menggapai pundaknya, Hyojin menyeringai dan dia berbalik melihat Taeyeon yang panik menatap kearahnya.

“Jung Hwajang-nim, kau masih hidup?” Tanya Taeyeon dia ternegah-engah dan semua orang di lobi menatap kearah Taeyeon seakan gadis itu gila.

“Maaf anda siapa?” Tanya Hyojin pura-pura bodoh, tentu saja dia mengingat siapa sosok didepannya.

“Aku Taeyeon, Kim Taeyeon..aku bekerja untukmu.” Taeyeon mengingatkan dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Maaf tapi aku tidak mengenali anda, lagipula namaku Hanbyul bukan Hyojin.” Hyojin berbohong dengan sempurnanya, dia bisa melihat kebingungan yang mendalam dimata Taeyeon.

“Tidak mungkin tapi kau..”

“Maaf saya terlambat, saya harus menemui Wu hwajang-nim, permisi.” Hyojin berkata dan dia berbalik memasuki lift.

Hyojin senang sekali saat dia melihat ekspressi terkejut Taeyeon, dia kelihatan benar-benar shock saat melihat sosoknya. Hyojin menghela nafasnya dia lega sekali karena sepertinya Taeyeon tidak mengikutinya, beberapa menit dalam lift akhirnya pintu lift terbuka dan dia bisa melihat Yuri sudah menunggunya.

Sekertaris itu terlihat sama seperti dulu hanya potongan rambut dan bajunyalah yang berbeda, Hyojin tersenyum mengenang betapa baiknya sekertaris itu padanya. Yuri yang menyadari keberadaan Hyojin tersenyum kearah wanita itu, dia berjalan mendekat kearahnya.

“Kau pasti Hanbyul-shi?”

“Iya, aku disini untuk interview.” Hyojin menjawab, dia lega sekali saat dia melihat Yuri tidak mengenalinya.

“Masuklah, Wu hwajang-nim ada didalam beliau sudah menunggu kedatangan anda.” Yuri berkata dan Hyojin menunduk kearah Yuri beretrimakasih.

“Hanbyul-shi?” Yuri memanggil lagi membuat Hyojin melirik kearahnya.

“Ya?”

“Kau mirip dengan bos kami yang dulu, jadi jangan heran jika beberapa orang menganggp kalau kau dia.” Yuri berkata dan Hyojin tersenyum.

“Apakah itu nilai plus untukku? Apakah aku bisa diterima bekerja disini sekarang?” Hanbyul bertanya dan Yuri hanya tersenyum.

“Mudah-mudahan seperti itu.” Yuri menjawab dan Hanbyul hanya bisa membalas jawaban itu dengan senyum tipis.

Hyojin membuka pintu kantor Yifan dan dia bisa melihat sosok lelaki itu berdiri membelakanginya, jantunya berdetak sangat kencang saat dia melihat sosok tinggi didepannya itu dia sudah bersiap untuk bertemu dengan musuh terbesarnya sekarang dan dia tidak akan kalah untuk kedua kalinya.

Yifan berbalik dan dia tersenyum kearah Hyojin saat dia melihat sosok gadis itu, Hyojin benci akan senyum itu namun dia harus memainkan peran barunya dan dia membalas senyum Yifan.

“Kau pasti Hanbyul Lawrence?” Yifan bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Senang bisa bertemu anda tuan Wu Yifan, aku mendengar banyak tentangmu.” Hyojin berkata dan dia sedikit terkejut saat Yifan berjalan kearahnya.

Yifan berhenti tepat didepan Hyojin, entah kenapa tiba-tiba Yifan menyentuh pipi Hyojin membuat Hyojin terkejut dan segera melepaskan tangan Yifan dari pipinya.

“Apa yang anda lakukan Hwajang-nim?” Tanya Hyojin.

“Huh? Hwajang-nim? jangan berpura-pura Hyojin-ah..aku tahu ini kau.” Yifan berkata dan Hyojin menatap kearah Yifan ketakutan.

Bagaimana lelaki itu bisa mengetahui dirinya, padahal dia sudah merubah total penampilannya satu-satunya yang dia tidak ubahnya hanyalah fitur wajahnya.

“Kemana saja kau? Aku menunggumu..” Yifan berbisik dan Hyojin mendorong Yifan menjauh.

“Apa yang anda bicarakan Hwajang-nim, saya kesini hanya untuk interview.” Hyojin berkata dan dia menatap marah kearah Yifan.

“Berhenti bermain drama didepanku! Aku tahu ini kau Hyojin-ah, aku yakin sekali..” Yifan berkata dan dia menarik tangan Hyojin sehingga wajahnya dan wajah Hyojin hanya berjarak beberapa centi.

“Kwon biseo-nim mengatakan kalau aku mirip dengan direktur yang lama, tapi aku bukan dia Hwajang-nim..aku bahkan tidak mengetahui siapa dia.” Hyojin berbohong dan dia melirik kearah lain malu karena wajah Yifan terlalu dekat.

“Oh ya? Lalu apa tujuanmu datang kesini?” Tanya Yifan.

“Aku ingin bekerja diperusahaan ini, tuan Hong mengatakan kalau Guangde group mencari asisten pribadi untuk salah satu direkturnya.” Hyojin menjawab, dia masih ingat dengan rencana yang sudah dia susun dengan Luhan.

“Oh, kau ingin bekerja untuk Luhan?”

“Iya, anda benar jadi saya harap anda bersikap professional disini sebelum saya menuntut anda.” Hyojin mengancam dan Yifan melepaskan tangannya dari lengan Hyojin.

“Apa ini rencanamu? Mendatangiku dan berbohong padaku?” Tanya Yifan dan Hyojin mengehela nafasnya.

“Berapakali saya harus menjelaskan tuan Wu Yifan, saya disini untuk bekerja jika anda tidak tertarik pada saya, saya bisa mencari kerja diperusahaan lain.” Hyojin berbalik hendak pergi dan dia melangkah menjauh dari sosok Yifan.

Yifan tidak menyusulnya dan itu membuat Hyojin sedikit khawatir namun dia mencoba untuk berjudi dengan takdir, dia berhitung sampai tiga dan akhirnya pada hitungan ketiga Yifan memanggilnya.

“Hanbyul-shi..” Yifan memanggil dan Hanbyul melirik kearah Yifan.

“Ya?”

“Maafkan aku,aku mungkin salah..kau benar-benar mirip dengan dia dan aku..aku hanya sedikit kebingungan.” Yifan berkata dia terdengar putus asa saat dia berbicara dan itu membuat hati Hyojin sedikit sakit.

Dia tidak pernah melihat Yifan begitu gugup dan berantakan seperti ini, sosok Yifan yang dia tahu adalah lelaki yang penuh dengan kepercayaan diri dan kuat namun dia dia lihat sekarang hanya lelaki yang gugup dan kebingungan.

Sosok Yifan terlihat sangat lemah dibawah pandangannya dan itu membuat Hyojin senang namun sedih diwaktu yang sama, dia senang karena Yifan bisa dengan mudah dia hancurkan namun dia juga sedih karena dia tidak yakin kalau dia bisa dengan teganya merusak sesuatu yang sudah hancur pada awalnya.

Yifan sudah hancur, dia bukanlah Yifan yang Hyojin kenal Yifan yang sekarang berdiri dihadapannya serasa seperti orang lain dari gelagat hingga karakter Hyojin tidak mengenal lelaki ini.

“Hanbyul-shi, apa kau memaafkan aku?” suara Yifan menyadarkannya.

Nde? Ah..ya tidak apa-apa aku memaafkanmu Hwajang-nim.” Hyojin berkata dan dia menunduk menatap kearah sepatunya.

“Hanbyul-shi, bisakah kau duduk bukankah kita akan memulai interview kita?” Yifan berkata dan Hyojin mengangguk.

Nde, hwajang-nim.” Hyojin mengangguk dan duduk.

*****

“Rapat hari ini sampai disini saja, terimakasih atas kerjasama kalian.” Taeyeon berkata dan dia langsung keluar dari ruang rapat membuat sebagian pegawai berbisik melihat ekspressi muram dan wajah pucat Taeyeon.

Tangan Taeyeon gemetaran saat dia sampai di kantornya, dia mengusap rambutnya dan duduk dikursinya. Entah kenapa dia begitu panik saat dia melihat sosok yang mirip Hyojin memasuki perusahaan tadi, Taeyeon menghela nafasnya apakah mungkin dia hanya paranoid?

Taeyeon cukup yakin sosok yang dia lihat tadi mirip sekali dengan Hyojin, walaupun gadis itu memiliki rambut yang bergelombang dengan kulit yang lebih gelap dari Hyojin namun Taeyeon cukup yakin kalau gadis itu mirip sekali dengan Hyojin.

Yang membuat Taeyeon semakin panik adalah kenyataan kalau gadis itu akan bertemu dengan Yifan, dia tidak bisa membiarkan gadis itu terlalu dekat dengan Yifan. Apalagi Yifan belum sepenuhnya melupakan Hyojin, dia tidak bisa membiarkan Yifan lepas dari tangannya untuk yang kedua kalinya.

Taeyeon menghela nafasnya lagi, dia tidak tahu harus melakukan apa biasanya selalu ada Yixing yang bisa membantunya namun sekarang lelaki itu sudah pergi. Taeyeon tidak bisa menyangkal terkadang dia merindukan Yixing, dia dengan gelak tawa lelaki itu dan sentuhan hangatnya yang selalu berhasil membuat dia tenang.

Beberapa bulan ini hubungan dia dan Yifan sedikit monoton, mereka kembali pergi berkencan dan melakukan beberapa hal bersama namun entah kenapa semuanya hampa. Dia dan Yifan mungkin tersenyum dan saling menghibur namun semua tidak seperti dulu, terkadang Taeyeon mendapati dirinya melamun dan merasa bersalah.

Dia merasa bersalah karena dia harus merebut posisi Hyojin, bagaimanapun dia seorang manusia yang memiliki hati nurani dan hati nuraninya mengatakan kalau dia bersalah atas kehancuran Hyojin dan Yifan.

Taeyeon mengambil ponselnya, dia bisa melihat dua pesan baru dari Yongguk dan dia membuka kedua pesan itu.

Film yang kau berikan kemarin sangat seru, lainkali beritahu aku juga kau punya film yang baru aku menontonnya dengan Hyojung dan Zhongren (^_^)

  Taeyeon tersenyum melihat pesan dari Yongguk, lalu dia membuka pesan yang satunya lagi namun pesan yang satunya lagi dari Yifan.

Datanglah keruanganku, aku ingin membahas sesuatu.

  Taeyeon meremas ponselnya saat dia melihat pesan Yifan, dia berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Dia terkejut saat dia melihat Yifan sudah ada dilobi bersama sosok yang mirip dengan Hyojin, mereka kelihatannya berbincang-bincang dan hati Taeyeon langsung terbakar api cemburu.

Taeyeon berlari kearah sosok mereka berdua, sosok yang mirip Hyojin tersenyum kearahnya saat Taeyeon sudah berjarak dekat dengan mereka.

“Ah, anda lagi..senang bisa bertemu lagi.” Gadis itu berkata dan Taeyeon hanay tersenyum tipis.

“Hwajang-nim, aku mendapatkan pesanmu.” Taeyeon berkata pada Yifan.

“Perkenalkan, dia Hanbyul Lawrence dia akan menjadi asisten sekaligus wakil direktur Luhan.” Yifan memperkenalkan dan Taeyeon menatap kearah Hanbyul.

“Senang bertemu dengan anda.” Hanbyul berkata dan Taeyeon mengangguk.

“Aku Kim Taeyeon, aku CEO diperusahaan ini.”

Ah..gueraesso sajang-nim.” Hanbyul berkata dan Taeyeon mengangguk.

“Taeyeon-shi bisakah kau mengantar Hanbyul-shi kekantornya? Kau sudah tahukan dimana kantor baru Luhan?” Yifan bertanya.

“Ya, mari Hanbyul.” Taeyeon menunjukan jalan menuju kantor Luhan.

“Kalau begitu sampai jumpa lagi, Wu hwajang-nim.” Hanbyul berkata dan Yifan tersenyum kearah gadis itu, senyum begitu tulus membuat Taeyeon sedikit cemburu.

“Ya, sampai jumpa lagi Hanbyul-shi.” Yifan berkata.

Hanbyul dan Taeyeonpun berjalan menuju lift menuju lantai dua puluh lantai dimana kantor baru Luhan sedang disiapkan, Luhan akan mulai bekerja besok jadi semua pegawai menyiapkan ruangannya serapih mungkin.

Hanbyul menyentuh meja yang sudah disiapkan untuknya, dia masih ingat kalau dulu kantor ini adalah kantor manajer namun sepertinya sekarang kantor manajer ini sudah diubah menjadi lebih bagus dan luas.

“Mulai besok kau bekerja dilantai ini, aku tidak tahu jika direktur Luhan akan masuk kerja atau tidak besok, tapi aku harap kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik.” Taeyeon menasehati dan Hanbyul atau lebih tepatnya Hyojin mengangguk.

Dia ingin tertawa mendengar nasihat Taeyeon, dia sudah tahu semua sistem laporan diperusahaannya dia tidak akan kesusahan untuk menjalankan tugasnya sebagai asisten Luhan.

“Iya sajang-nim,aku akan bekerja dengan baik.” Hanbyul berkata.

“Oh iya, kau terlihat dekat dengan Wu hwajang-nim..darimana kau mengenal dia?” Tanay Taeyeon, dia tidak bisa menolak rasa penasarannya.

“Oh Wu hwajang-nim hanya ingin memperlihatkan perusahaan barunya..aku belum tahu tempat-tempat d kantornya jadi dia mengantarkanku untuk berkeliling.” Hanbyul menjawab dan Taeyeon mengangguk.

“Sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengan dia, aku tidak suka.” Ucap Taeyeon sinis dan diapun meninggalkan Hanbyul sendirian.

Hanbyul menyeringai saat dia melihat betapa marah Taeyeon, tentu saja Hanbyul tahu kalau wanita itu masih memburu Yifan. Dia hanya harus memainkan perannya dengan baik dan wanita itu akan hancur begitu juga dengan Wu Yifan, dia akan membalas setiap luka yang ditinggalkan Yifan dan Taeyeon dihatinya dia akan mengkhianati mereka berdua seperti mereka berdua mengkhianati dirinya.

[Kediaman Keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 12:00 PM]

  Hyojung turun dari mobilnya dan dia berlari kedalam rumah, entah apa yang membuat gadis itu begitu senang dan tidak sabar. Zhongren yang sedang duduk santai diruang tamu terkejut mendengar langkah kaki Hyojung yang cepat, dia keluar dan dia langsung disambut oleh pelukan hangat gadis itu.

“Hyojung-ah! Kau mengagetkan aku.” Zhongren berkata namun Hyojung tidak memperdulikan pernyataan lelaki itu karena dia sekarang sibuk membuka tasnya.

Hyojung memberikan sebuah kertas kepada Zhongren dan Zhongren membaca kertas itu, mata Zhongren melebar saat dia membaca kalau Hyojung mendapatkan beasiswa dan dia di ijinkan untuk magang disalah satu perusahaan pilihan dari universitas dan salah satunya adalah perusahaan Guangde group.

“Wah Hyojung-ah selamat!” Zhongren berkata dan Hyojung tersenyum penuh kebanggan.

“Oppa, aku ingin magang diperusahaan Guangde group apakah boleh?” Tanya Hyojung dan Zhongen mengangguk.

“Tentu saja, kenapa tidak? Aku akan menyuruh Yifan Hyung menempatkanmu sebagai asisten pribadinya.” Zhongren berkata dan Hyojung tersenyum.

“Aku senang sekali saat aku mendaptkan surat ini, aku tidak menyangka kalau mereka mengijinkan aku untuk magang.” Hyojung berkata.

“Kau terlalu pintar Hyojung-ah, oleh karena itu mereka membiarkanmu untuk lebih awal.” Zhongren memuji dan Hyojung hanya tertawa mendengar pujian dari kekasihnya itu.

“Ya, aku tahu..aku memang pintar.” Hyojung berkata dan Zhongren mendengus sekarang.

“Ya! Sekarang kau besar kepala.” Zhongren meledek dan Hyojung hanya mengangkat bahunya.

Zhongren mengelus kepala Hyojung penuh dengan kasih sayang.

“Hyojin noona pasti sangat bangga padamu jika dia melihat ini.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk.

“Ya, aku harap dia ada disini dan melihat surat ini.” Hyojung mendekat kearah Zhongren dan dia memeluk Zhongren.

Zhongren memeluk Hyojung kembali, Zhongren tahu Hyojung pasti sangat sedih sekarang namun dia tidak bisa berbuat apapun. Zhongren bukanlah orang yang memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati, dia tidak bisa membuat Hyojin kembali hidup walaupun dia ingin sekali jika dia bisa.

“Aku akan mengantarmu besok keperusahaan, Yifan hyung pasti senang sekali.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk.

“Aku harap begitu.” Ucap Hyojung.

“Oh iya aku lupa, kau mendapat postcard dari Sehun.” Zhongren mengungkapkan dia mengambil sebuah amplop putih yang ada dimeja ruang tamu.

“Ini, aku belum membukanya tapi sebaiknya Sehun tidak meninggalkan pesan yang aneh-aneh untukmu jika dia melakukan itu aku akan menyusul dia ke amerika dan membakarnya hidup-hidup.” Zhongren mengancam.

“Oppa kau berlebihan, aku dan Sehun hanya saling bertukar kabar dan informasi.” Hyojung menjulurkan lidahnya pada Zhongren dan membuka postcard Sehun didepan Zhongren.

Dear Hyojung-ah

  Hi Hyojung-ah! Aku tidak tahu kalau di amerika sedang musim dingin, aku harus membeli banyak jaket dan baju baru disini. Aku akan memulai semester baru di New York, aku harap semester sekarang nilaiku bisa lebih bagus darimu hehehe ^^ oh iya, aku akan juga akan magang disalah satu perusahaan di New York aku,aku harap aku bisa selamat dari omelan bos aku yang baru karena dia sedikit menyeramkan.

   Sekian dariku, aku akan mengirimkan postcard lagi jika aku punya waktu. Sampaikan salamku pada Zhongren, aku tahu dia pasti membaca postcard ini juga.

Hyojung tersenyum dan dia memasukan postcard itu kedalam amplopnya, Zhongren menyentuh bahu Hyojung.

“Kau merindukan dia?” Tanya Zhongren.

“Sedikit, tapi aku lebih khawatir..aku takut jika dia melakukan sesuatu yang bodoh disana.” Hyojung mengungkapkan.

“Tak usah khawatir Hyojung-ah, Sehun tidak bodoh.” Zhongren menghibur.

“Ya aku tahu itu, tapi..Sehun sangat menyukai Jiyoung Eonni jadi aku sedikit khawatir.” Hyojung berkata dia menyimpan postcard itu didalam tasnya.

“Tak usah khawatir, bagaimana kalau kita pergi amerika setelah kau selesai magang? Mungkin kita berdua bisa menemuinya.” Zhongren mengusulkan.

“Mungkin, aku tidak ingin menganggunya.” Jawab Hyojung dan tersenyum kearah Zhongren.

“Kau sudah makan siang? Aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan untukmu.” Zhongren menarik Hyojung keruang makan.

“Hm..makan siang hari ini apa?” Hyojung bertanya.

“Entahlah, bagaimana dengan spaghetti kimchi saja? Aku bisa menyiapkannya untukmu.”

“Aku bosan dengan spaghetti bagaimana kalau kita membuat yang lain?” Hyojung memberi ususlan dan Zhongren mengangguk.

“Boleh juga, aku bisa membuat bibimbap.”

“Wah ide yang bagus.”

Zhongren dan Hyojung berjalan kedapur namun mereka berhenti saat mereka melihat sosok Yongguk tertawa sambil menatap kearah handphonenya, Hyojung dan Zhongren saling menatap kearah satu sama lain kebingungan. Yongguk tidak pernah tertawa sekeras itu dan dia kelihatan benar-benar senang, Hyojung ikut tertawa dan Zhongren mendekat kearah Yongguk lalu merebut ponsel lelaki itu.

“Aha! Kau sedang bertukar pesan dengan siapa?” Zhongren bertanya dan dia menyembunyikan ponsel Yongguk dibelakang punggung.

“Ya! Kembalikan handphoneku Zhongren!” Yongguk mengejar Zhongren yang berlari menjauh dari Yongguk.

“Coba aku lihat siapa pacar barumu ini.” Zhongren berkata namun Yongguk segera menutup layar ponselnya Zhongren melemparkan ponsel Yongguk pada Hyojung dan gadis itu menangkap ponsel Yongguk dengan sigap.

“Hyojung-ah! Jangan!” Yongguk mengeluh dan dia berlari kearah Hyojung mencoba merebut ponselnya kembali namun Hyojung melemparkan ponsel Yongguk pada Zhongren lagi dan Zhongren berhasil menangkapnya.

“Kalau kau mau ponselmu tangkap aku..” Zhongren menggoda dan berlari.

Yongguk mengerang kesal dan dia berlari kearah Zhongren, Zhongren menjulurkna lidahnya pada Yongguk dan berlari menuju halaman belakang. Tentu saja Hyojung mengikuti kedua lelaki yang kekanak-kanakan itu dengan penuh semangat, dia ingin melihat jika Yongguk berhasil mendapatkan ponselnya lagi.

Hyojung tertawa saat dia melihat Zhongren berlari ketakutan saat dia melihat Yongguk berhasil menyusulnya, Yongguk menarik kerah baju Zhongren dan Zhongren tertawa masih mencoba menyembunyikan ponsel Yongguk.

Pada akhirnya ponsel Yongguk bergetar dan nama Taeyeon langsung terlhat di layar ponsel Yongguk, Zhongren seketika berhenti tertawa dan diam saat melihat nama Taeyeon muncul dilayar ponsel Yongguk.

“Siapa yang menelepon?” Tanya Yongguk dan dia merebut ponselnya dari Zhongren.

Dia terkejut saat melihat nama Taeyeon, Yongguk mengangkat telepon Taeyeon dan pergi meninggalkan Zhongren yang masih terkejut. Hyojung yang penasaran mendekat dan Hyojung melambaikan tangannya didepan Zhongren, Zhongren akhirnya sadar dan dia memberikan senyuman tipisnya pada Hyojung.

“Siapa tadi yang menghubungi Yongguk oppa?” Tanya Hyojung dan Zhongren hanya menggelengkan kepalanya.

“Bukan siapa-siapa, bagaimana kalau kita mulai masak sekarang.” Zhongren mengalihkan topik.

“Tapi Oppa..”

“Aku akan mengatakannya nanti.” Zhongren menjawab dan dia pergi kedapur meninggalkan Hyojung dengan misteri.

[Ilsan, Korea selatan – 14:00PM]

   Hyojin membuka pintu rumah barunya, Tuan Lee sepertinya sudah membereskan rumah barunya karena Hyojin tidak menemukan barang-barang bekas Yifan dan Zhongren sekarang. Rumah barunya kosong dan sudah bersih, Hyojin membuka pintu lebar-lebar membantu Luhan dan Siwon yang membawa barang-barangnya masuk kedalam rumah.

Eunjo juga membantu gadis itu membawa bantal-bantal untuk sofanya dan beberapa barang yang tidak terlalu berat, Eunjo menyimpan barang-barang itu dilantai dan dia menghela nafasnya.

“Wah Eonni, bukankah rumah ini terlalu besar untukmu?” Tanya Eunjo.

“Tidak apa-apa, aku sudah biasa tinggal sendirian.” Hyojin menjawab dan dia membawa barang-barangnya yang lain dari mobil box yang ada diluarnya.

Beberapa pengawai yang membantu masuk kerumah untuk menyimpan barang-barang yang lebih berat seperti lemari dan televisi, Hyojin mengambil box yang berisi baju dan beberapa peralatan dapur dan berjalan lagi masuk kedalam rumahnya.

Keadaan rumah barunya terasa ramai sekali apalagi saat dia mendengar celotehan Eunjo dan Siwon, Hyojin tersenyum dan menggelengkan kepala sata dia mendengar Luhan dan Eunjo berdebattentang dimana posisi ranjang yang bagus untuk dirinya. Mungkin inilah rasanya memiliki keluarga seutuhnya, Hyojin tersenyum.

Mengingat keluarga entah kenapa dia merindukan Hyojung, dia khawatir sekali dengan keadaan adiknya itu. Dia berpikir apakah adiknya makan tepat waktu apakah Hyojung tidur dengan nyenyak? apakah gadis itu bersedih atau tidak? Semua pertanyaan itu memenuhi kepalanya.

Tuan Lee yang melihat keramaian dibangunan rumahnya tersenyum saat melihat Hyojin sudah menempati rumahnya yang di jual, Lelaki tua itu berjalan memasuki rumahnya yang sekarang sudah ditempati Hyojin.

“Ah..tuan Lee annyeoung haseyo.” Hyojin menyapa.

“Hanbyul-shi, kau benar-benar ingin pindah kesini secepat ini eoh?” Tanya tuan Lee tertawa dan Hyojin tersenyum.

“Nde, aku tidak ingin merepotkan keluargaku Tuan Lee.” Hyojin berkata.

“Siapa yang merepotkan Hanbyul-ah, aku senang kau tinggal dirumahku.” Siwon muncul dari kamarnya dan dia langsung bergabung dengan percapakan Hyojin dan Tuan Lee.

“Oh..apakah ini ayahmu?” Tanya tuan Lee.

“Eh..anu..beliau –“

“Aku ayah mertuanya,  dia akan menikah dengan anakku.” Siwon menjawab dan tuan Lee menganguk.

“Wah..aku tidak tahu kau akan menikah Hanbyul-shi.” Tuan Lee akhirnya menjabat tangan Siwon.

“Kau tidak bertanya Tuan Lee.” Hyojin menjawab dan sosok Luhan keluar dari kamar Hyojin diikuti oleh Eunjo.

“Dan anak muda ini pasti tunanganmu, benarkan Hanbyul-shi?” Tanya tuan Lee dan Hyojin mengangguk.

Nde, ini tunanganku namanya Luhan.” Hyojin mengenalkan dan Luhan menjabat tangan tuan Lee.

Aigoo Luhan-shi, kau beruntung sekali mendapatkan wanita secantik Hanbyul-shi.” Tuan Lee memuji dan Luhan tersenyum.

“Aku tahu tuan Lee, aku juga merasa beruntung.” Luhan berkata dan dia melingkarkan tangannya dibahu Hyojin, Hyojin mencubit pinggang Luhan membuat Luhan tertawa karena geli.

“Terimakasih sudah mengurus surat-suratnya dengan cepat Tuan Lee, oh iya..kemana semua barang yang dulu ada disini?” Tanya Hyojin penasaran.

“Oh semua barang itu disumbangkan ke panti asuhan Hanbyul-shi, memang kenapa?” Tanya tuan Lee.

“Oh begitu ya, tidak aku hanya penasaran.” Hyojin menjawab dan dia langsung pergi meninggalkan tuan Lee dan Luhan.

Luhan menatap kearah ekspressi Hyojin yang kelam dia tahu kenapa Hyojin bersedih, tuan Lee sebaliknya malah kebingungan.

“Kenapa dengan dia, apakah dia tahu siapa yang tinggal disini sebelumnya?” Tuan Lee bertanya pada Luhan.

Luhan menggelengkan kepalanya.

“Memang siapa yang tinggal disini sebelumnya tuan Lee?” Tanya Luhan.

“Dua bersaudara, mereka tinggal disini hanya untuk beberapa tahun sekitar dua tahun mungkin lalu mereka pindah.” Tuan Lee menjawab.

“Oh..kalau boleh tahu siapa nama mereka?” Luhan penasaran, karena dia ingat kalau Hyojin bersikeras ingin tinggal disini.

“Oh.. kalau tidak salah nama mereka adalah Wu Yifan dan Zhongren, mereka sepertinya berasal dari Cina, Zhongren cukup ramah dia sering menyapaku namun Yifan sangat dingin walaupun dia sebenarnya baik dan sopan.” Tuan Lee menjelaskan dan Luhan melirik kearah Hyojin yang membantu Eunjo menyimpan alat-alat masaknya.

Luhan menghela nafasnya sekarang dia tahu kenapa Hyojin bersikeras ingin tinggal dirumah ini, Luhan awalnya tidak mengerti kenapa Hyojin ingin tinggal didaerah Ilsan yang cukup jauh dengan Seoul apalagi dia harus bangun pagi-pagi sekali jika akan pergi kekantor.

“Oh begitu ya, terimakasih tuan Lee atas informasinya.” Luhan berkata dan tuan Lee mengangguk.

“Aku masih punya beberapa urusan, sebaiknya aku pergi tolong katakan pada Hanbyul-shi kalau dia membutuhkan aku dia bisa menghubungi aku.” Tuan Lee berpamitan dan Luhan mengangguk, dia mengantarkan lelaki itu sampai pintu depan rumah.

Pegawai yang membantu membereskan rumah Hyojin akhirnya pergi mereka senang sekali saat Siwon memberikan tip untuk mereka, mereka pulang dengan bekal nasi yang Eunjo buatkan untuk mereka.

Hyojin merasa tidak enak karena seharusnya dialah yang membayar namun Siwon menolak uangnya saat gadis itu memberikannya, Siwon bilang dia tidak keberatan untuk membayarnya dia lebih suka jika Hyojin menyimpan uang itu untuk pernikahannya dengan Luhan nanti.

Eunjo tertawa namun Luhan dan dirinya hanya bisa menunduk malu, Siwon sekarang sedang sibuk memasak popcorn dengan Eunjo mereka bilang mereka ingin merayakan pindahnya Hyojin kerumah yang baru. Luhan dan Hyojin terjebak dengan satu sama lain di ruang tamu, atmosphere diantara mereka begitu canggung entah kenapa, rasnaya mereka kembali ke titik awal hubungan mereka.

“Kau pindah kesini karena Yifan dan Zhongren?” Luhan memulai dan Hyojin menatap kearah Luhan.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Luhan bertanya, dia terdengar terluka dengan perlakuan Hyojin.

“Luhan..aku..” Hyojin mencoba menjelaskan namun Luhan menghela nafasnya.

“Apa kau masih mencintai Yifan itu sebabnya kau ingin kesini? Itu sebabnya kau terlihat kecewa saat tuan Lee mengatakan kalau barang-barang Yifan dan Zhongren disumbangkan pada panti asuhan?” Luhan mengintrogasi.

“Luhan semua ini tidak seperti yang kau pikirkan..” Hyojin berkata dan Luhan berdiri dari duduknya.

“Sebaiknya kita tidak usah bertunangan dulu, aku tahu kau masih menyukai Yifan.” Luhan berkata, nada suaranya dingin sekali dan itu membuat hati Hyojin sedikit sakit.

“Luhan, aku hanya ingin membuat Yifan ketakutan..” Hyojin memberi alasan.

“Terserah, aku tidak peduli.” Luhan menjawab dan dia mengambil jaket kulitnya yang ada di sofa.

“Luhan! Jangan kenak-kanakan..kau tahu rencanaku.”Hyojin menarik tangan Luhan mencegah lelaki itu untuk pergi.

“Aku lelah Hyojin, jika kau masih mencintai Yifan…kembali padanya.” Ucap Luhan, dia melepaskan tangan Hyojin dari tangannya dan melangkah menjauh.

“Luhan! Luhan..” Hyojin memanggil namun Luhan mengacuhkannya dan pergi.

Siwon dan Eunjo yang melihat Luhan dan Hyojin bertengkar terkejut, mereka hanya bisa diam sambil memegang mangkok yang berisi popcorn. Sepertinya rencana mereka untuk bersenang-senang harus batal, karena mereka bisa melihat Hyojin membantingkan pintu kamarnya.

“Appa, apa yang terjadi?” Eunjo bertanya.

“Entahlah..” Siwon menjawab sama bingungnya dengan Eunjo.

“Eonni..” Eunjo memanggil Hyojin.

“Luhan!” Siwon berjalan menyusul anaknya yang sudah naik mobil.

[Apartemen Yifan, Korea selatan 18:00PM]

  Yifan membuka pintu apartemennya dan dia tersenyum saat dia melihat Taeyeon sedang memasak didapur apartemennya, wanita itu kelihatan sangat serius karena kedua alisnya berkerut sambil membaca sebuah buku resep dan sesekali dia melirik kearah masakannya yang ada di panci.

Dengan langkah yang pelan Yifan masuk kedalam apartemennya dan dia melepaskan sepatunya agar Taeyeon tidak bisa mendengar dia mendekat, Yifan bersiap-siap untuk mengagetkan Taeyeon dan dia meletakan kedua tangannya sambil mengatakan ‘BOO’ dengan lantang membuat Taeyeon menjerit.

“Akkkh!!!” Taeyeon menutup matanya dan telinganya terkejut, Yifan tertawa melihat ekspressi Taeyeon.

“Ya! Kau hampir membuat jantugku copot.” Taeyeon marah dan dia memukul bahu Yifan.

“Habis, kau serius sekali.” Yifan berkata dan dia melirik kearah panci yang sedang Taeyeon perhatikan dari tadi.

“Kau sedang memasak daging?” Yifan bertanya dan Taeyeon mengangguk.

“Ya, aku menunggu dagingnya empuk.” Taeyeon menjawab dia mengambil garpu dan menusuk daging yang sedang dia rebus.

“Kau tidak bosan memasak terus?” Yifan bertanya dia bersandar pada counter dapur sambil menatap kearah Taeyeon.

“Tidak, aku hanya ingin membuang waktuku.” Taeyeon mengambil mangkuk dan beberapa bahan makanan untuk bumbu.

“Kenapa? Apa pekerjaan dikantor kurang menyibukanmu?” Tanya Yifan dan dia menyelipkan rambut Taeyeon ketelinga gadis itu.

“Tidak juga, aku ingin memasak untukmu saja.” Taeyeon menjawab dan dia tersenyum kearah Yifan.

Yifan mengelus pipi Taeyeon, Taeyeon benar-benar terlalu baik untuknya dan dia tidak bisa menerima itu.Yifan belum pernah melakukan apapun untuk Taeyeon, dia hanya diam dan membiarkan gadis itu melakukan apapun untuknya asalahkan Taeyeon bahagia.

“Aku sudah menyiapkan air panas untukmu, sebaiknya kau mandi.” Taeyeon berkata dia mengecup pipi Yifan dan melanjutkan memasak.

Yifan mengangguk dan dia pergi meninggalkan Taeyeon, Yifan melirik kearah kanannya dan dia terkejut saat dia melihat pianonya yang dulu ada disamping duvet televisinya.

“Taeyeon, kapan piano itu sampai?” Tanya Yifan dia melirik kearah Taeyeon.

“Oh tadi sore, mereka mengatakan kalau barang yang lainnya sudah disumbangkan kepanti asuhan tapi untuk piano itu tuan Lee tidak yakin itu sebabnya dia membawanya kesini.” Taeyeon menjelaskan dan Yifan mengangguk.

Yifan berjalan kearah piano itu dan dia menyentuh tuts putih piano klassiknya, Yifan tersenyum lemah saat dia mendengar kalau piano itu masih berfungsi dengan baik. Yifan menyentuh sudut piano itu dan dia bisa melihat ukiran di piano itu yang berbentuk Y dan H dia ingat kalau dialah yang mengukir huruf itu, Yifan menyentuh ukiran itu dan menghela nafasnya.

Taeyeon yang melihat Yifan memandangi pianonya menunduk sedih, dia tahu kalau Yifan pasti ingat pada masa lalu lagi. Taeyeon mencoba tersenyum, dia tidak ingin terlihat lemah didepan Yifan.

“Bukankah kau akan mandi? Kau sudah menatapi piano itu selama sepuluh menit.” Taeyeon mengingatkan dan Yifan melirik kearahnya.

“Oh iya, aku lupa.” Yifan berkata dia mengusap rambutnya dan pergi kekamar.

Taeyeon berhenti memotong bawangnya saat dia melihat Yifan sudah masuk kekamar, dia  menatap tajam kearah piano itu. Bagaimanapun caranya dia harus menyingkirkan piano itu atau Yifan akan terus mengingat Hyojin, apalagi dengan kehadiran Hanbyul sekarang.

Wanita itu mirip sekali dengan Hyojin walaupun mereka berbeda dari beberapa poin, Hyojin lebih serius dan pendiam sedangkan Hanbyul lebih ceria dan ramah dia bahkan selalu memasang senyum setiap mereka berdua bertemu.

Taeyeon berhenti memasak, pikirannya kacau jika dia sudah memikirkan tentang Hyojin dan Yifan. Dua orang itu bagaikan paku di kulitnya yang tidak bisa dilepaskan, terus menyakitinya membuat dia lemah dan terinfeksi. Taeyeon mematikan api dikompor, dia menyimpan dagingnya yang sudah empuk kedalam tupperware dan memotong tipis-tipis daging itu sampai akhirnya daging yang tebal itu tipis.

Taeyeon melumuri daging itu dengan bumbu yang sudah dia buat dan menggorengnya, pikirannya sedikit tidak fokus namun dia berhasil menggoreng daging sapi yang dia masak dengan sempurna. Harum daging langsung menyeruak keseluruh apartemen dan akhirnya Yifan muncul dari kamarnya sudah memakai celana dan kaos santainya, dia berjalan mendekat kearah makanan dan mencoba menyentuhnya.

Taeyeon mencegah tangan nakal Yifan untuk menyentuh makanannya dan Yifan terdiam, Taeyeon kelihatan tidak senang jadi Yifan menarik kembali tangannya dibelakang punggungnya.

“Apa kau sudah selesai?” Tanya Yifan percis seperti anak kecil yang menunggu ibunya selesai memasak.

“Ya, sebaiknya kau duduk dulu.” Taeyeon menyuruh dan dia mengambil tempat nasi dan beberapa piring juga gelas untuk mereka berdua.

Yifan dan Taeyeon akhirnya duduk saling bersembrangan di meja makan, suasana begitu sepi hanya suara sendok dan garpu Yifan yang bergesekan terdengar. Bahkan suara dentingan jampun terdengar jelas di apartemen Yifan, Taeyeon menatap kearah Yifan dan dia berhenti makan.

“Apa kau dekat dengan pgawai baru itu? Siapa namanya..Hanbyul, Hanbyul Lawrence.” Taeyeon bertanya dan Yifan menatap kearah Taeyeon.

“Tidak, aku hanya ingin memperlihatkan dia baru perusahaan dia belum tahu tempat-tempat di kantorkan? Aku tidak mau dia tersesat.” Yifan memberi alasan dan Taeyeon mencengkram garpunya.

“Kau yakin? Dia mirip dengan Hyojin…” Taeyeon berkata dan dia bisa melihat Yifan membeku saat dia mendengar nama gadis itu disebutkan.

“Cukup Taeyeon, aku tidak ingin membicarakan dia.”

“Lalu kenapa?! Kenapa kau tidak bisa melupakan dia?” Taeyeon akhirnya marah, setelah beberapa bulan menahan dia akhirnya tidak tahan lagi.

“Aku mencobanya Taeyeon, kau yang mengatakan kalau kau bersedia membantuku untuk melupakan dia.” Yifan berhenti makan dia langsung kehilangan nafsu makanya.

“Aku tahu itu, tapi..tapi kau tidak pernah berusaha untuk melupakan Hyojin! Kau bahkan masih membawa kalung Hyojin kemanapun kau pergi, buku-buku miliknya masih ada dirak bukumu.” Taeyeon berkata dan Yifan menghela nafasnya.

“Kau ingin aku membuangnya? Baiklah.” Yifan berjalan keruang kerjanya dan dia mengambil semua koleksi novel yang Hyojin tinggalkan dikantornya.

Yifan membawa buku itu dan dia menyalakan perapian modern yang ada apartemennya, dia membuka kaca pelindung perapian itu dan menghidupkan apinya. Tanpa ragu Yifan melemparkan novel Hyojin kedalam perapian itu sehingga buku itu langsung tebakar hangus dilahap oleh api merah yang mengamuk, Taeyeon menatap terkejut kearah novel yang terbakar itu entah kenapa dia merasa semua ini tidak benar.

Dia memang ingin Yifan menyingkirkan semua jejak Hyojin dalam kehidupannya namun Taeyeon merasa kalau Yifan melakukan ini karena terpaksa, Yifan berjalan kekamarnya dan dia mengambil kalung Hyojin yang berbandul bunga mawar.

“Kau juga ingin aku membuang ini?” Tanya Yifan dan Yifan membuka pintu balkoni apartemennya namun Taeyeon segera berlari dan mencegah lelaki itu untuk membuang kalung Hyojin.

“Jangan! Cukup Yifan..” Taeyeon berkata dan Yifan berbalik kearah Taeyeon.

“Cukup..aku mengerti.” Taeyeon berkata dan airmatanya langsung mengalir.

“Aku, aku hanya merasa terancam dengan keadaan sekarang apalagi Hanbyul sekarang muncul dan dia mirip sekali dengan Hyojin.” Taeyeon berterus terang dan dia menyandarkan kepalanya didada Yifan.

Yifan memeluk Taeyeon, dia mengerti perasaaan Taeyeon namun dia sendiri tidak bisa menyangkal kalau dia juga merasa terancam dengan kehadiran Hanbyul. Yifan cukup yakin kalau gadis itu sangatlah mirip dengan Hyojin, namun Yifan tidak bisa melepaskan gadis itu begitu saja.

Dia tidak bisa berbohong dia masih berharap kalau Hyojin masih hidup sehingga dia bisa memohon perminta maafan pada gadis itu, walaupun dia harus bertekuk lutut dia tidak peduli yang jelas dia hanya ingin menebus dosanya.

“Taeyeon, sepertinya aku harus berpisah.” Yifan berkata dan dia melepaskan pelukannya dari Taeyeon.

“Aku tidak bisa membahagiakanmu, aku..aku tidak akan pernah bisa melupakan apa yang sudah kau lakukan padaku dimasa lalu.” Yifan beralasan dan dia bisa melihat Taeyeon menatap kearahnya penuh dengan kesedihan.

“Kenapa? Aku mencintaimu Yifan..”

“Taeyeon, kau membuangku seakan aku ini sampah..kau mengatakan kalau aku tidak akan pernah bisa membuatmu bahagia dan kenyataannya benarkan? Aku tidak bisa membuatmu bahagia.” Yifan mengungkapkan.

“Aku tidak ingin bahagia Yifan! Aku ingin kau, karena kau kebahagiaanku.” Taeyeon menyentuh pipi Yifan namun Yifan melepaskan tangan Taeyeon dari pipinya.

“Aku tidak bisa melakukan itu, kau layak mendapatkan kebahagiaan Taeyeon..kaulah yang harus melupakan aku.” Yifan berkata dia meremas kedua tangan Taeyeon.

“Aku.. maafkan aku Taeyeon, aku tidak bisa terus berpura-pura untuk bahagia bersamamu aku tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi.” Yifan mengungkapkan dan dia mencium dahi Taeyeon.

“Aku tidak akan mengusirmu, kau boleh datang keapartemenku kapan saja dan mengunjungiku kita bisa pergi kemanapun yang kau mau..tapi aku tidak bisa menjadi kekasihmu.” Yifan melepaskan gengaman tangannya dari Taeyeon dan masuk kembali keapartemennya membawa jaketnya.

“Aku butuh udara segar, jika kau sudah mengantuk tidurlah.” Yifan memakai jaketnya dan keluar dari apartemennya.

[Ilsan, Korea selatan – 20:00PM]

   Entah apa yang dia pikirkan yang jelas Yifan sudah mematikan mobilnya, dia berhenti tepat didepan rumahnya yang dulu. Dia melirik kearah jendela rumahnya yang dulu dan lampu rumah itu menyala dan dia tidak terkejut, dia sudah mendengar dari tuan Lee kalau seseorang sudah membeli rumahnya dan dia sudah menerima sejumlah uang dari orang yang membeli rumahnya.

Yifan menyandar kearah mobilnya hanya menatap kosong kearah bangunan rumahnya yang dulu, tidak ada perubahan yang signifikan dalam bangunan bekas rumahnya itu. Hanya sekarang halaman rumah itu lebih rapih dan di hiasi lampu, Yifan tersenyum lemah saat dia mengingat kalau dihalaman depan rumah itu dulu dia dan Hyojin pernah berciuman.

Mengambil bungkus rokoknya Yifan mengambil satu batang dari bungkus rokok itu, dia lalu menyulut ujung rokoknya sehingga dia bisa merasakan rasa manis nikotin dibibirnya. Tubuhnya terasa lebih hangat setelah dia merokok dia tersenyum lagi namun sekarang airmata mengancam untuk turun membasahi pipinya, entah kenapa dia begitu merindukan sosok Hyojin sekarang.

Dia ingin merasakan tangan Hyojin menyentuhnya, untuk sekali saja dia ingin bertemu lagi dengan gadis itu. Dia tidak bisa menyangkal kalau dia mencintai gadis itu lebih dari yang dia kira, dadanya terasa sesak setiap kali dia mengingat senyum hangat gadis itu dan candaan-candaanya yang sangat lucu.

“Hwajang-nim?”

Mendengar seseorang mengatakan itu Yifan mendongak dan dia mendapati sosok yang familiar berdiri didepannya sambil membawa kantong kresek yang mungkin berisi sampah, Yifan terkejut melihat sosok itu dan sosok itu tidak lain adalah Hanbyul, gadis itu memakai kaos abu-abu dengan jaket yang senada lalu celana santainya terlihat pas sekali memeluk kakinya.

Yifan segera mematikan rokoknya karena dia malu oleh Hanbyul, Yifan menginjak puntung rokoknya membuat rokoknya langsung mati.

“Hanbyul? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yifan dan Hanbyul tersenyum.

“Aku sedang membuang sampahku Hwajang-nim, aku tidak tahu kau tinggal disini.” Hanbyul berkata dan dia memasukan sampahnya kedalam tempat sampah besar yang berjarak cukup jauh dari mobil Yifan.

“Aku hanya sedang berjalan-jalan, bagaimana denganmu? Apa kau tinggal disini?” Tanya Yifan.

“Ya, aku tinggal disana.” Hanbyul menunjuk kearah rumah bekas Yifan dan Zhongren dulu dan Hanbyul menyeringai saat dia melihat ekspressi terkejut Yifan.

“Kau yang membeli rumahku?” Yifan bertanya dan Hanbyul kelihatan sama terkejutnya.

“Apa? Itu rumahmu Hwajang-nim?” Hanbyul bertanya dan Yifan mengangguk.

“Aku tinggal disini dulu, bersama adikku Zhongren.” Yifan mengungkapkan.

“Wah kebetulan sekali.” Hanbyul berkata.

“Ya, kebetulah sekali…darimana kau tahu rumah ini?” Yifan bertanya dia menatap kearah Hanbyul penuh dengan kecurigaan.

“Aku menemukannya dengan Cecil, dia saudaraku di Amerika.” Hanbyul menjawab penuh denga percaya diri.

“Oh ya? Cecil?kau yakin bukan Eunjo?”

Hanbyul mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu siapa Eunjo Hwajang-nim.” Hanbyul berkata dan Yifan hanya menatap kearah Hanbyul, entah kenapa tatapan Yifan terasa sangat mengintimidasinya.

“Benarkah? Aneh sekali..” Yifan bergumam dia tahu Hanbyul berbohong, dia tahu orang yang didepannya adalah Hyojin dia hanya bepura-pura bodoh membiarkan dirinya sendiri ikut kedalam drama yang Hyojin buat.

Luhan bilang dia adalah aktor yang baikkan? Tidak ada salahnya dia mengikuti skenario yang Hyojin buat untuk mereka, Yifan berjalan mendekat dan dia menyentuh rambut Hanbyul membuat Hanbyul menjauh terkejut.

“Ada debu dirambutmu.”Yifan berkata dan dia mengambil debu yang ada dirambut Hanbyul.

Yifan menunjukan debu itu pada Hanbyul dan membuangnya.

“Ini sudah malah Hwajang-nim, bukankah seharusnya anda ada dirumah?” Tanya Hanbyul dan Yifan hanya tersenyum tipis.

“Aku merindukan kekasihku.” Yifan menjawab dan Hanbyul kelihatan terkejut.

“Kekasihmu?” Tanya Hanbyul.

“Ya, namanya Jung Hyojin dia wanita yang sanat baik sekali walaupun terkadang dia bisa sedikit menyebalkan.” Yifan berkata dan Hanbyul hanya diam, gadis itu tidak menunjukan sedikitpun ekspressi.

“Hanbyul-ah, bolehkan aku memanggilmu seperti itu?” Yifan bertanya dan dia memberikan senyum manisnya pada Hanbyul.

Hanbyul membalas senyuman Yifan, gadis itu kelihatan ragu-ragu namun akhirnya dia mengangguk. Hanbyul menatap kearah langit dan dia melihat dua bintang yang sangat cerah, dia tersenyum kearah bintang itu membuat Yifan penasaran.

“Kenapa kau tersenyum?”

Hanbyul menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, ini pertamakalinya aku melihat bintang yang sangat cerah di Korea.” Hanbyul menjawab dan dia memeluk tubuhnya sendiri karena udara sedikit dingin.

Yifan yang melihat itu melepaskan jaketnya dan dia melingkarkan jaketnya dibahu Hanbyul, awalnya Hanbyul menolak namun Yifan tetap kukuh untuk memberikan jaketnya pada Hanbyul sehingga gadis itu tidak menolak.

“Masuklah, disini dingin aku akan pulang sebentar lagi.” Yifan berkata.

“Hwajang-nim..”

“Tak usah khawatir,aku kuat..aku tidak akan sakit.” Ucap Yifan bercanda dan Hanbyul tersenyum.

“Baiklah, aku masuk dulu terimakasih atas jaketnya..” Hanbyul melepaskan jaket Yifan namun Yifan mencegahnya.

“Aku akan mengambilnya besok, kau tak usah khawatir.” Kata Yifan, Hanbyul tertegun sebentar namun akhirnya dia mengangguk.

“Baiklah, aku masuk dulu Hwajang-nim.” Hanbyul menunduk hormat kearah Yifan dan pergi meninggalkan Yifan.

Beberapa langkah berlalu Hanbyul menoleh kearah Yifan lagi, wanita itu terlihat khawatir namun Yifan hanya memamerkan senyumnya dan melambaikan tangannya pada Hanbyul dan Hanbyul hanya tersenyum tipis lalu masuk kedalam rumahnya meninggalkan Yifan dengan kesunyian.

[Perusahaan Guangde, Korea selatan – 08:00AM]

   Sebuah sedan jaguar hitam berhenti didepan perusahaan, semua mata terfokus pada mobil mewah itu dan seorang supir membukakan pintu mobil sedan itu memamrkan sosok yang mengendarainya.

Luhan tersenyum kearah semua pegawainya saat dia baru turun dari mobil sedannya, semua orang berbisik penuh dengan kekaguman. Luhan memakai setelah Jas abu-abunya dengan dasi senada dan kemeja putih langkahnya tidak terburu-buru namun tidak lambat juga, rambut pirangnya sekarang lebih pendek dengan potongan yang lebih rapih.

Jam rollex hitam melingkar dipergelangan tangannya yang kekar, dia melangkah kearah lift dan dia langsung disambut oleh Hanbyul yang sudah membawa jadwalnya untuk hari ini. Luhan mengambil jadwal yang sudah Hanbyul siapkan untuknya, tangan mereka bersentuhan sesaat dan Hanbyul menunduk malu sedangkan Luhan hanya menyeringai.

Luhan suka sekali bermain drama seperti ini, berpura-pura kalau dia tidak mengenal Hanbyul padahal dalam kenyataannya dia adalah orang terdekatnya. Hanbyul dan Luhan masuk kedalam lift setelah pintu lift tebuka, tidak ada seorangpun yang berani menaiki lift bersamaan dengan Luhan.

Luhan melirik kearah Hanbyul atau lebih tepatnya Hyojin, gadis itu memakai kemeja putih dengan blazer coklat dan celana hitam yang pas memeluk kakinya yang jenjang sepatu hak tingginya terlihat sangat runcing dan itu membuat Luhan menggelengkan kepalanya. Bagaimana seseorang bisa berjalan dengan sepatu yang Hyojin gunakan, gadis itu memang benar-benar sudah terbiasa dengan sepatu hak tinggi.

“Apakah penampilanmu tidak terlalu mencolok nona Lawrence?” Luhan bertanya, nama amerika Hyojin terdengar sangat seksi jika Luhan yang mengucapkannya.

“Aku lebih suka berpenampilan mencolok daripada biasa direktur Li.” Hanbyul menjawab.

Luhan membuka jadwalnya dan dia bisa melihat ada beberapa meeting yang harus dia datangi, dia juga harus mengontrol pabrik textile perusahaan juga hari ini.

“Kau tidak marah padaku sekarang?” Hanbyul bertanya dan dia merapikan rambut pendeknya sedikit.

“Apa kau ingin aku terus marah?” Luhan bertanya balik, Hanbyul melirik kearah Luhan dan Luhan tersenyum padanya.

“Tenang saja, aku hanya emosi kemarin.” Ucap Luhan dan dia menunduk untuk mencium Hanbyul sekilas sehingga lipstik orange gadis itu menempel sedikit dibibirnya.

“Direktur Li, kau seharusnya tidak mencium pacarmu di kantor bagaimana jika semua orang tahu?” Hanbyul berkata dan dia menyeka bibir Luhan menghapus lipstick nya dari bibir Luhan.

“Opps.. aku lupa.”Luhan tersenyum dan mereka langsung berpisah saat pintu lift terbuka.

Luhan melangkah duluan dan dia masuk kedalam kantornya, Hanbyul duduk dimejanya dan seperti biasanya diamengerjakan tugasnya. Rasanya seperti mimpi dia bisa kembali kedalam perusahaannya dan bekerja untuk perusahaannya sendiri, Hanbyul berdiri dari duduknya dan dia berjalan kearah jendela yang ada didepan mejanya.

Hanbyul menyentuh kaca kantornya dan dia bisa melihat betapa sibuknya kota Seoul dibawah gedung perusahaannya, Hanbyul atau Hyojin melepaskan tangannya dari kaca dan dia terkejut saat dia melihat tiba-tiba saja Yifan sudah muncul disampingnya.

“Hwajang-nim..” Hanbyul berkata terkejut.

“Selamat pagi, apa yang sedang kau lakukan?” Yifan bertanya dan Hanbyul menjauh dari jendela.

“Tidak apa-apa Hwajang-nim, apa kau butuh sesuatu?” Hanbyul berkata dn dia berjalan kearah mejanya.

“Ya, aku ingin bertemu Luhan apa dia ada?” Tanya Yifan.

“Oh ya, dia baru saja masuk.” Hanbyul berkata dan dia mengambil teleponnya menghubungi kantor Luhan.

“Ya Hanbyul-shi?” Luhan mengangkat teleponnya.

“Direktur Li, tuan Wu Yifan ingin bertemu dengan anda.” Hanbyul memberitahu.

“Oh suruh dia masuk.” Luhan menyuruh dan dia menutup teleponnya.

“Mari Hwajang-nim.” Hanbyul berjalan kearah pintu kantor Luhan dan membukakan pintu kantor Luhan untuknya.

“Terimakasih.” Yifan berkata pada Hanbyul dan Hanbyul membalas senyuman Yifan lalu pergi menutup pintu kantor Luhan.

Ge, aku tidak tahu kau akan menyambutku dengan cepat.” Luhan berbalik dia sedang menyandar kearah tembok yang berjarak tak jauh dari jendela kantornya.

“Tak usah berbasa-basi..wanita yang diluar dia Hyojinkan?” Yifan bertanya dan Luhan hanya tersenyum dan melirik kembali kejendela kantornya.

“Kau tidak menjawabku.” Yifan berkata dan Luhan hanya diam.

“Sampai kapan kau akan terus menanyakan Hyojin?” Luhan bertanya dia terdengar kesal dan Yifan hanya bisa menunduk.

“Bisakah kau tinggalkan dia sendirian? Dia sudah cukup menderita karena kau dan kau masih mencarinya bukankah aku sudah menjelaskan semua ini waktu itu?” Luhan menatap tajam kearah Yifan.

“Aku tidak bisa melepaskan dia Luhan.”

“Kenapa? Karena kau merasa bersalah?” Luhan bertanya namun nada bicaranya terdengar mencemooh.

“Bukan, karena aku mencintainya.”

Luhan mengepalkan tangannya dia ingin sekali memukul Yifan, namun dia menahannya dia tidak bisa berkelahi dikantor tidak sekarang. Luhan menghela nafasnya dan dia melirik kearah jendela kantornya, dia tidak tahu harus menjawab apa yang jelas dia tidak akan membiarkan Yifan tahu dimana Hyojin berada.

“Kau bisa mencarinya di akhirat, Hyojin sudah mati Ge..sudah berapakali aku mengatakan itu.” Luhan mengungkapkan.

“Kau mengakui kalau kau menyembunyikan Hyojin, dimana dia sekarang?!” Yifan kehabisan kesabarannya dan membentak.

Ge, aku tidak ingin bertengkar disini kau bisa keluar sekarang.” Luhan mengusir dan dia berjalan menuju mejanya kembali duduk.

“Kenapa kau menyembunyikan Hyojin dariku?aku hanya..aku hanya ingin meminta maaf padanya.” Yifan berkata penuh dengan keputusasaan.

“Dia tidak ingin bertemu denganmu ge, kau sudah mengahncurkan hidupnya orang terakhir yang ingin dia lihat adalah kau ge.” Luhan menatap kearah Yifan yang berdiri didepannya penuh dengan amarah namun entah kenapa lelaki itu terlihat rapuh sekali.

“Apakah dia membenciku?” Suara Yifan terdengar sedikit gemetaran.

“Ya, dia membencimu.” Luhan menjawab.

Hati Yifan rasanya ditusuk oleh sebuah belati sata dia mendengar jawab Luhan, Yifan berbalik dan dia keluar dari ruangan Luhan bergegas menuju kantornya sendiri. Hanbyul langsung berdiri saat dia melihat Yifan keluar dari ruangan Luhan, Yifan tidak melirik sedikitpun pada Hanbyul dan berjalan terus menuju lift.

“Argggh!” Yifan tiba-tiba saja mengerang dan dia mencengkram kepalanya yang sakit.

Hanbyul yang melihat itu segera berlali menolong Yifan, Yifan menepis tangan Hanbyul dia berusaha untuk berjalan lagi dari kepalanya terasa sangat sakit.

“Hwajang-nim, kau baik-baik saja?” Hanbyul bertanya dan tangan lembutnya menyentuh lengan Yifan membantu lelaki itu untuk berjalan.

“Lepaskan, aku baik-baik saja.” Yifan melepaskan tangan Hanbyul dari lengannya namun dia masih memegang kepalanya yang sakit.

Yifan mencoba berjalan kearah lift namun sayang belum juga dia melangkah dia sudah kehilangan kesadarannya dan jatuh kelantai, Hanbyul yang melihat itu panik dan menompang tubuh Yifan sehingga tubuh Yifan tidak membentur lantai dengan keras.

“Tolong!tolong!” Hanbyul menjerit dan pegawai yang ada dilantai kantor Luhan langsung berdatangan menolong Hanbyul dan Yifan.

*****

  Hyojin mengigit bibirnya saat dia melihat tubuh Yifan terbaring diranjang rumah sakit, entah kenapa keadaan ini terasa tidak asing baginya dan Hyojin merasa sedikit panik saat para dokter yang menanganinya mengatakan kalau Yifan memiliki sebuah penyakit.

Hyojin tidak bisa mendapatkan data yang lebih jelas karena dia bukanlah keluarga Yifan, dia hanay bisa duduk disamping tubuh Yifan sampai salah seorang keluarga Yifan datang. Satu-satunya keluarga yang Yifan miliki hanyalah Zhongren, sepertinya dia harus menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Zhongren hari ini.

Prediksinya tidak salah saat dia melihat sosok Zhongren masuk kedalam ruangan Yifan dan dia kelihatan panik sekali, Zhongren melirik kearah Hyojin yang berdiri disamping kiri ranjang Yifan.

“Noona..” Zhongren terlihat sangat kaget sekali saat dia melihat Hanbyul.

“Maaf, siapa kamu?” Hyojin bertanya dan Zhongren segera menggelengkan kepalanya menyadarkan dirinya sendiri.

“Maaf, aku sepertinya salah orang.” Zhongren berkata dan dia menatap kearah Yifan yang masih belum sadarkan diri.

“Hwajang-nim pingsan, aku sangat khawatir jadi aku membawanya kerumah sakit..tadi dokter bilang kau harus menemui mereka sepertinya mereka ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Hyojin menjelaskan dan Zhongren mengangguk.

“Terimakasih sudah membawa kakakku kerumah sakit.” Zhongren berterimakasih, dia kelihatan sedikit kebingungan namun dia segera berjalan kearah ambang pintu namun belum juga dia keluar dari ruangan dia kembali lagi berbalik.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” Tanya Zhongren dan Hyojin tersenyum kearahnya.

“Aku Hanbyul, Hanbyul Lawrence.” Hyojin menjawab dan Zhongren kelihatan masih kebingungan, dia tidak mengatakan apapun dan pergi.

Hyojin hanya bisa diam, dia menunduk menatapi sosok Yifan yang lemah terbaring diranjang rumah sakit. Tangannya ragu-ragu ingin menyentuh pipi lelaki itu namun akhirnya dia memberanikan diri untuk menyentuh Yifan, Tangannya menyentuh pipi Yifan dan airmata Hyojin mengancam untuk turun.

Dia tidak pernah sadar betapa dia merindukan Yifan, selama ini dia hanya tenggelam dalam emosinya dan terus menyalahkan Yifan atas kehancuran dirinya sendiri. Selama ini dia mengutuk dan membenci lelaki itu tanpa dia sadari kalau dia juga mencintai Yifan sebesar dia membenci lelaki itu, nafas Yifan terdengar sangat lemah dan Hyojin bisa melihat dada Yifan naik dan turun bernafas.

Hyojin melepaskan tangannya dari pipi Yifan namun tiba-tiba Yifan mencengkram tangan Hyojin, Hyojin terkejut dan dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Yifan.

“Hyojin-ah..” Yifan mengigau dan hati Hanbyul langsung terasa ditusuk oleh seribu jarum dalam waktu yang sama.

“Hyojin-ah..jangan pergi..” Yifan berkata dia terdengar sangat lemah saat dia mengatakan itu.

“Hwajang-nim..” Hyojin memanggil namun Yifan tetap menutup matanya.

“Hyojin-ah…saranghae..” Yifan berkata dan dia meremas tangan Hanbyul.

Airmata jatuh dari kedua mata Yifan dan lelaki itu melepaskan tangan Hyojin kembali tertidur dengan tenang, Hyojin menyentuh tangan Yifan sesaat dan melepaskan tangannya dari genggaman Yifan lalu pergi keluar dari ruangan lelaki itu.

Ponselnya sudah berdering beberapa kali dan dia bisa melihat nama Luhan tertera dilayar ponselnya, Hyojin membiarkan ponselnya dan setelah Luhan berhenti memanggilnya Hyojin mematikan ponselnya. Dia berjalan untuk mencari Zhongren, dia beruntung sekali menemukan Zhongren sedang bercengkrama dengan seorang dokter.

Hyojin bersembunyi dibalik tembok lorong rumah sakit, dia bisa mendengar percakapan Zhongren dan dokter itu dengan jelas.

“Bagaimana keadaannya dokter?” Tanya Zhongren sedikit gelisah.

“Tuan Zhongren, kakak anda..apakah dia pernah mengalami kecelakaan lalu lintas? Atau mungkin dia pernah mengalami trauma dikepalanya karena pukulan keras?” Sang dokter bertanya.

“Setahu saya tidak dok, tapi dia pernah berkelahi dan kepalanya terluka.” Zhongren mengungkapkan.

Hyojin menutup mulutnya, apakah Yifan tidak mengatakan kalau dia mengalami kecelakaan dengan dirinya? Hyojin ingat sekali kalau mobil Yifan mengikutinya saat dia kabur karena dia melihat Taeyeon dan Yifan berciuman, Hyojin kembali mendengarkan percakapan Zhongren dengan dokter.

“Oh begitu ya, sepertinya ada gumpalan darah di otak kakak anda Zhongren-shi dan gumpalan darah itu harus segera diangkat karena bisa membahayakan sistem syaraf kakak anda.” Dokter itu mengungkapkan dan Zhongren menarik nafasnya terkejut.

“Tuan Yifan sepertinya belum tahu dengan keadaan beliau tapi saya sangat merekomendasikan operasi bedah secepatnya, Zhongren-shi tuan Yifan tidak memiliki banyak waktu saya khawatir dia tidak akan selamat jika dia terus seperti ini.” Sang dokter berkata.

“Saya tidak tahu seberapa parah gumpalan darah di otak tuan Yifan namun melihat dari tanda-tandanya sepertinya gumpalan darah itu sudah menyebar pada syaraf tubuhnya yang lain.” Dokter itu mengungkapkan dan Zhongren mengangguk.

“Aku akan membicarakan ini dengan dia, terimakasih dokter.” Zhongren berkata dan dia menunduk kearah dokter yang merawat Yifan.

Hyojin segera berlari, dia sangat terkejut dengan apa yang dia mendengar kalau Yifan tidak memiliki waktu yang banyak lagi. Dia menangis dan berlari menuju wc rumah sakit, dia mencengkram ujung wastafel rumah sakit dan menatap bayangannya sendiri di cermin.

Hyojin terlihat sangat pucat sekali, dia tidak menyangka kalau Yifan akan menderita seperti ini. Hyojin menutup matanya menenangkan dirinya terlebih dahulu, suara-suara dikepalanya benar-benar menganggu dan dia tidak suka ini.

Hati dan pikirannya mulai berperang, hatinya menyuruh untuk segera berterus terang dan memeluk Yifan membujuk lelaki itu untuk operasi sedangkan pikiran logikanya mengatakan kalau dia sebaiknya menjauh.

“Yifan, apa yang akan kau lakukan?” Hyojin bergumam.

*****

“Hyung..” Yifan bisa mendengar suara Zhongren menyambutnya, Yifan membuka matanya perlahan dan dia tersenyum saat dia melihat sosok adiknya.

“Zhongren..” Yifan memanggil, suaranya terdengar sedikit serak sehingga Zhongren langsung menawarkan air putih pada Yifan.

Yifan dengan senang hati meminum air putih yang Zhongren tawarkan padanya, air putih yang dia minum terasa sangat sejuk untuk tenggorokannya yang kering.

“Dimana aku?” Yifan bertanya, dia tidak mengenali jendela dan ranjang putih yang dia tiduri bahkan aroma diruangan itu begitu asing baginya.

“Kau pingsan hyung, pegawaimu membawamu kerumah sakit.” Zhongren menjelaskan.

“Oh..aku mungkin terlalu lelah.” Yifan berkata dia memijat keningnya yang masih sedikit berdenyut sakit, pandangannyapun tidak terlalu jelas sekarang.

“Hyung, apa kau merasa baik-baik saja?” Zhongren bertanya dan dia duduk disamping ranjang Yifan.

“Aku baikan sekarang.” Yifan menjawab dan mencoba tersenyum kearah Zhongren.

“Hyung, malam disaat Hyojin noona meninggal..kau datang kerumah dengan jahitan dikepalamu dan memar ditubuhmu banyak sekali apa kau ikut tabrakan bersama Hyojin noona?” Zhongren bertanya dan Yifan melirik kearah Zhongren terkejut.

“Dokter bilang kau memiliki gumpalan darah di otakmu Hyung…dokter bilang gumpalan darah yang ada di otakmu bisa disebabkan oleh pukulan yang keras atau kecelakaan lalu lintas, kau tidak bisa berbohong sekarang.” Zhongren menatap tajam kearah Yifan dan Yifan menghela nafasnya.

“Maaf..aku,aku tidak ingin membuat Hyojung curiga dia akan membenciku jika dia tahu yang sebenarnya.” Yifan meminta maaf dan dia menunduk malu dengan tindakannya yang egois dan licik.

“Selama ini..kau berbohong padaku?” Zhongren bertanya, suara terdengar kecewa.

“Maafkan aku Zhongren, aku tidak tahu harus berkata apa padamu dan keadaan saat itu snagat kacau aku tidak ingin menambah beban Hyojung ataupun kau.” Yifan menjelaskan dan Zhongren mendengus.

“Hyung, aku adikmu walaupun kita tidak memiliki darah yang sama aku menyayangimu hyung, aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi tapi sepertinya kesetiaanku tidak berarti apa-apa untukmu.” Zhongren marah dan dia hendak berdiri namun Yifan mencegahnya.

“Aku mohon, aku tidak ingin membuat semuanya semakin rumit…bisakah kau merahasiakan ini dari Hyojung?” Yifan memelas dan Zhongren menepis tangan Yifan.

“Jika kau ingin aku merahasiakan ini,katakan semuanya padaku.” Zhongren meminta dan Yifan mengangguk.

“Baiklah aku akan menceritakan semuanya.” Yifan menyetujui dan Zhongren duduk kembali diranjangnya.

“Kau benar, aku ikut kecelakaan bersama Hyojin malam itu.” Yifan mengaku, suaranya terdengar sedikit lemah.

“Hyojin marah padaku karena dia melihat aku dengan Taeyeon.”

Mendengar pengakuan Yifan, emosi Zhongren langsung naik kenapa Yifan tidak pernah bisa melepaskan Taeyeon? Kenapa dia selalu melibatkan dirinya dengan wanita itu, sudah jelas kalau mereka tidak bisa bersama lagi namun sepertinya mereka berdua tetap berusaha untuk saling bertemu.

“Kau masih mencintai Taeyeon noona?”

“Aku sudah melupakan Taeyeon Zhongren., dia masa laluku.” Yifan berkata.

“Oh ya? Lalu knapa kau selalu beusaha untuk bertemu dengan dia..kau bahkan datang kerumah Hyojung bersama dia waktu itu dan saat aku meneleponmu Taeyeon noona yang mengangkatnya.” Zhongren mengungkapkan dan Yifan menghela nafasnya.

“Awalnya aku dan Taeyeon ingin mencoba lagi, tapi aku sadar..aku tidak mencintai dia lagi.” Yifan menjawab.

“Kau tidak mencintainya?”

Yifan mengangguk.

“Aku baru sadar sekarang.” Yifan melirik kearah lain menyembunyikan matanya yang berkca-kaca dari Zhongren.

“Hyung, apa kau benar-benar mencintai Hyojin noona?” Zhongren bertanya.

“Menurutmu?”

Mereka terdiam sesaat, Zhongren sendiri tidak tahu apakah kakaknya itu benar-benar mencintai Hyojin. Namun melihat dari gelagat dan ekspressi Yifan Zhongren cukup yakin kalau Yifan sudah jatuh cinta pada Hyojin, Zhongren tahu kakaknya itu menderita karena dia kehilangan Hyojin.

“Hyung, kau harus di operasi, dokter bilang gumpalan darah di otakmu sangat berbahaya.” Zhongren memberitahu.

“Aku sudah tahu, kau tak usah membahasnya.”

“Lalu kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Aku akan menemanimu sampai operasinya selesai.” Zhongren berkata dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak mau di operasi.”

“Tapi hyung..”

“Untuk apa Zhongren? Akhirnya aku juga akan mati.”

“Hyung! Apa karena Hyojin noona sudah meninggal kau jadi seperti ini?” Zhongren marah mendengar perkataan Yifan.

Yifan hanya diam, dia tidak mampu melihat kearah Zhongren. Adiknya itu menatap kearah Yifan dan dia menyentuh bahu Yifan memaksa Yifan untuk menatap kearahnya namun Yifan bersikeras tidak melirik kearah Zhongren, Zhongren mencengkram bahu Yifan.

“Hyung, apakah kau tidak akan memikirkan aku? Bagaimana dengan Hyojung? Dia akan sedih jika kau pergi.” Zhongren berkata dan Yifan hanya diam.

“Hyung, aku tidak bisa terus hidup jika kau pergi, jika kau ingin mati bawa aku bersamamu..aku akan mengikutimu sampai kemanapun..bahkan kenerakapun aku akan tetap mengikutimu.” Zhongren mengungkapkan.

“Zhongren, kau bukan siapa-siapa aku, kau memiliki Hyojung dan sekarang karirmu sedang maju…kau akan baik-baik saja tanpaku.” Yifan melepaskan tangan Zhongren dari pundaknya.

“HYUNG! Ini semua bukan soal uang ataupun cinta..Hyung, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk terus ada disampingmu dan aku tidak akan melanggar janji itu.” Zhongren terdengar serius.

“Kalau begitu aku menyuruhmu untuk meninggalkanku, kau tidak punya kewajiban untuk terus ada disampingku..aku lelah terus melihatmu mengikutiku seperti anjing.” Yifan berkata dengan nada yang dingin, Zhongren tidakbisa berbohong perkataan Yifanbenar-benar melukai hatinya.

“Hyung..”

“Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan kakakmu lagi..kau boleh pergi.” Ucap Yifan.

“Hyung, jika kau bercanda ini tidak lucu.” Zhongren mengepalkan tangannya gugup dengan jawaban yang akan Yifan berikan padanya.

“Siapa bilang aku bercanda? Pergilah, aku tidak membutuhkanmu.” Yifan menjawab dengan santainya seakan tidak ada sedikitpun kesedihan.

Zhongren marah dan dia langsung menampar Yifan, Yifan terkejut dengan tamparan Zhongren. Zhongren menguncangkan tubuhnya dan dia terlihat sangat sedih, Zhongren menyentuh bahunya penuh dengan keputusasaan.

“Hyung! Sadarlah..kenapa kau seperti ini? Katakan padaku!” Zhongren meminta dan Yifan mendorong tubuh Zhongren menjauh.

“Beraninya kau menamparku!” Yifan membentak.

“Hyung..”

“Aku bilang pergi! …Dan jangan pernah kembali.”

Airmata Zhongren akhirnya turun dan dia menyeringai penuh dengan kesinisan kearah Yifan.

“Baiklah, lakukan apa yang kau inginkan..aku tidak peduli.” Zhongren marah dan dia pergi membanting pintu ruangan Yifan.

Yifa terdiam, kesunyian di ruanganya benar-benar membuatnya merasa sesak dia tidak mengerti kenapa dia melakukan semua ini. Dia hanya ingin Zhongren bahagia, dia tidak ingin membuat Zhongren lebih menderita lagi dengan menyaksikan dirinya sekarat dia hanya ingin Zhongren bebas dan tersenyum seperti Zhongren yang dulu.

To Be Continue…

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

31 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 14]

  1. menurutku karakter cast di sini sudah cukup kut, mereka memiliki karakter yang berbeda-beda, mungkin mereka yang berpendapat tentang hyojin yg minum atw murahan dll itu cuma sebagian readers aja yang belum memiliki pandangan yang cukup luas tentang kehidupan dunia luar yang seperti itu. mungkin readers tersebut masih polos… hehehe maaf kalau terkesan sok tahu. tapi yang jelas author harus berkreasi sesuai dengan apa yang di imajinasikan, dan readers hanyalah penikmat jadi jangan merubah karakter cast dari ff sesuai yang readers mau, karena mungkin author gak bisa dapat feel nya… hehehe semangat lanjutinnya ya… aku selalu setia menanti ff kamu… maaf komennya panjang gila….

    1. yup oleh karena itu aku ngejelasin disini, gak sok tahu kok..gak apa2🙂
      iya..iya setuju dengan pendapat kamu makasih di tunggu aja yah kelanjutannya🙂

  2. Hhhh akhirnya di next..🙂
    yeay semua kebenaran terungkap🙂 tapi aku gk suka banget ama luhan & hyojin.. Knp hyojin harus balas dendam ? Masih kurangkah kasih sayang yifan ?
    Thooorr Sadarkanlah hyojin + buat hyojin mengaku ama yifan… Supaya yifan oppa mau di operasi..
    Sedih banget baca percakapan yifan + zhongren..😥
    seandainya aja hyojin tau klo yifan cinta banget ama dia..
    Thooorr nextnya jgn lama2 ya😉
    Fighting thoorr !!

  3. Akhirnya dipost kan.. Tiap hari buka blog ini buat liat update-an, firasat hari ini bkal dipost.. Ayolah ini sungguh menyedihkan gimana pada akhirnya. Aku jadi ikut galau kalau ingat hyojin ama yifan, aku nangis mulu kan jdinya. Taeyeon udah ama yongguk aja, trus hyojin kalau gak kuat buat bles dndam ama yifan mending nyerah aja.. Balikan ama yifan sonohhh!!

    Eonni rncana bkal bkin tale of two sibling yg cast.nya thehun yaa. Bikin aja dech!!

    Fighting!!!

  4. skt hati, dan nyesel. udh ngetik pjg2 bwt comment, dan hp tiba2 eror, berakhr dgn semua nya ilang.
    maaf curhat, jd bingung mw ngomment apa jdnya. hehehe
    percakapan yifan sama kai bkin terenyuh,
    T.T
    aku merasa, karakter yifan disini dia g jahat, malah kesannya dia perlu dikasihani, keadaan yg membuat nya jahat. dia membohongi hyojin kn demi dpt pngakuan anak kndung dr zhoumi, eh ternyata sblm diakui dan diungkap ke publik, zhouminya udh mati duluan. usahanya sia2, karena dimata publik, luhan lah anaknya, dan yifan bukan siapa2.
    saat dia udh mw baik dan brubah, malah hyojin dikbrkan mati dan skrg balik pngen bls dndam. kalau jd hyojin, aku tau pasti pngen bls dndam, tp dgn keadaan yifan yg skrg, siapa yg tega. dia g ingatkah yifan rela ditembak T.T
    nangis bombay inget nasib yifan, hdp dr kecil udh susah, skrg makin susah.
    smoga ada keajaiban yg buat yifan mw operasi, dan smoga hyojin menerima permintaan maaf nya.
    udh ah cuap2 nya, hehe
    jempol buat author, alurnya g ketebak sama sekali, ditgu next nya thor ^^

  5. Halo kak🙂
    yeyeyey akhirnya muncul juga wkwkw😀
    Hwaduh, si Yifan kok ketemu sama Hyojin. Aku penasaran, sebenernya Zi Tao itu jahat apa baik? apa semi jahat :O?
    Dia mau bunuh Luhan apa Yifan? :O

    Dan akhirnyaa si hyojin inget😀
    paling nunggu2 part yg beginian ni
    dan maaf ya kak sebelumnya, aku jadi sebel sama karakter Taeyon disini wkwkwk :p

    oke kak, sekian dulu🙂
    diunggu chapter 15. FIGHTING!

  6. Di publish jga,biasanya comment di wp sebelah hahaha,ini aku suka ceritanya beda dari yang lain, imajinasi yang enggak pasaran tentunya. Mau kasih saran nih karna cast utama exo mending chingu coba deh kirim ff nya,biasanya reader nya sampe ratusan. Itu wp emang khusus cast utama exo coba deh .mana tau bisa dapet comment ratusan, biar chingu berkarya lebih semangat hehehe keep writting ya\m/

      1. Di wp efw chingu, aku reader setia juga di situ hehe . Di situ banyak reader ninggalin rcl, mana tau ff chingu di situ dapet comment ratusan,. Asal cast cewenya OC bisa aja dapet banyak rcl di sana

      2. Chingu ada pin? Atau. WA Enaknya lewat situkan sekalian supaya kenal lebih dekat sama authornya hehehe. Kalo twitter akunya suspended, fb ga pakek lagi hehehe

  7. akhirny d post jga nih lanjutanny.
    aigo.. aku nda rela chingu hyojin sama lu han.menurutku lebih cocokkan hyojin sama yi fan.
    nda nyangka yi fan bener-bener cinta mati sama hyojin sampai pengen ngikutin jejak hyojin padahal hyojin blm meninggal.
    huhuhu.. ini part yg bkin nyesek aj, chingu..
    jdi rada sebel ma hyojin krn kebencian n dendamny menutupi rasa cintany ma yi fan.padahal yi fan it cinta mati sama hyojin.apa yg d lakuin hyojin selanjutny ya?
    moga2 ada akhir bahagia yi fan n hyojin ya, chingu..
    n yi fan mau di operasi biar nda ada gumpalan darah d tubuhny.🙂

  8. yeeaaayyy makin seruuu aza nih ceritanyaa,,,
    tapi kasian yifannya sakit,,,hyojinnya jadi dilema tuh antara jujur sama terus bohong,,,aiihh makin rumit juga cinta segitiganya,,
    mana yg bakal hyojin pilih,,yifan atau luhan???

    mending taeyeon nyerah aza deh,,d paksa” juga yifan g akan bisa suka lagi sama diaaa…
    kira” penyamaran hyojin bakalan terbongkar ngga yaahh,,,,??
    aaaaaaa penasaraann thoorr..
    di tunggu episode berikutnyaaa yaahh,,,semangaaatt authoorr😀

  9. Akhirnya publish juga…kyanya hyojin ga bakaln tega balas dendam ke yifan dengan kondisi yifan saat ini…
    Hyojung bakal magang di perusahannya..nanti dy bakalan ketemu hyojin dong,,makin seruuuu
    Apakah hyojin sama yifan bersatu lagi???ditunggu chingu next partnya…

  10. akhirnya muncul juga…
    jangan jangan ntar hyojin jatuh cinta lagi sama yifan ? terus gimana nasibnya luhan thor?
    aduh kasihan luhannya thor..
    yongguk itu mulai suka sama taeyeon kah thor? hehehe..

  11. sering ngcek ke blog ini tapi belum juga di publish but finally god hear my pray😀 kalo readers yg komen kaya gitu jangan di respon eon, mrka cuma terlalu polos untuk tau hal2 kaya gitu, mungkin mrka masih dibawah umur yg di anjurkan eonni mangkanya labil bgt -_- ehm…. hyojin kulitnya coklat? eh wae? dia cantik dgn kulit putihnya. taeyeon dari awal pengen ku ulek (?) tuh wajah, jangan ganggu kris sama hyojin coba? bete sendiri -,-partnya kris sama zhongren itu sumpah nyucuk, kasian zhongren dia terluka bgt tuh. gak tega kalo bayangin wajah kai nangis gitu Y-Y
    udah segitu dulu komen aku eon, jangan publish lama2 ya eon penasaran soalnya^^

  12. maaf yae thor aku bru bsa komen sekarang soal.y hp aku lgi rusak sebnr.y bca.y udh tp karna ganti hp aku jdi gk bsa komen,jujur makin keren,walaupun sedikit kecewa hyojin sma luhan,kasihan yifan.

  13. maaf yae thor aku bru bsa komen sekarang soal.y hp aku lgi rusak sebnr.y bca.y udh tp karna ganti hp aku jdi gk bsa komen,jujur makin keren,walaupun sedikit kecewa hyojin sma luhan,kasihan yifan thor !

  14. klo bleh jujur, tp bkan nyalahin tkoh hyojin juga sih..
    ishh andaikan aku bisa msuk disitu aku langsung nrocos, kamu itu slah paham and bla bla bla.. kris berkorban cukup buat hyojin..
    ya ampun oppa, kasihan ,, dia rela nyembunyiin skitnya and bersih keras ngga mau sembuh.. smpe trlibat cek cok sma adek ksanyangan nya lgi..
    rencana hyojin unnie terlalu kejam T.T

  15. Kasihan banget yifan , meskipun dia dulunya jahat tapi knpa hrus dihukum kyk gtu ..
    Hyojin jga ngapain pake mau bls dendam ma yifan , udh tau klo msh cinta ..
    Hadehhhh ..
    Ceritanya makin bagus thor , kalo ff ini slsai aku hrap author nyiptain ff lain yg sma serunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s