Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 12]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                             Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng                            [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                                [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                         [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                  [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                           [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                           [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

Chapter:

1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7, 8,9 ,10, 11

12

Lose Your Mind

   Warning! major character death!

Yifan menatap lurus kearah batu nisan Hyojin, tidak terasa ini sudah 100 hari Hyojin meninggalkannya, foto gadis itu masih terpampang manis didepan makamnya. Banyak sekali bunga yang bertengger menghiasi makam Hyojin, dia baru saja menghadiri peringatan kematian ayahnya di cina kemarin sekarang dia juga harus menghadiri peringatan kematian kekasihnya di korea.

Semua orang yang datang menangis mengingat jasa Hyojin dan sosok Hyojin, tidak disangka banyak orang yang datang kepemakaman untuk memperingati hari kematian Hyojin. Yifan bisa melihat wajah Taeyeon, Yixing,Yongguk dan Zhongren adiknya ada beberapa orang yang dia kenal juga dari perusahaan seperti Eunbi, pengacara Cho dan Yuri yang menangis tersedu-sedu.

Yifan menyimpan setangkai bunga mawar didepan foto Hyojin yang tersenyum kepadanya, gadis itu cantik sekali dalam foto itu. Yifan mengelus foto Hyojin dan kembali berdiri, semua orang memberikannya tatapan iba mengingat kalau semua orang tahu Yifan dan Hyojin berkencan sudah lama.

Sebuah tangan menyentuh bahunya dan Yifan berbalik menatap kearah Hyojung yang masih menangis, Yifan menyentuh tangan Hyojung dan meremasnya penuh dengan simpati. Hyojung menyandar kearah Yifan dan menangis, Yifan melingkarkan tangannya dibahu Hyojung mengelus bahu gadis itu agar dia berhenti menangis.

“Cukup Hyojung-ah, kau akan membuat Hyojin khawatir.” Yifan berkata namun Hyojung malah menangis lebih keras.

Satu – persatu orang-orang meninggalkan makam Hyojin sampai akhirnya tinggallah Hyojung, Zhongren dan juga Yifan yang masih menunduk menatap makam Hyojin. Semuanya seperti mimpi untuk ketiga orang itu, padahal rasanya baru kemarin mereka bahagia dan berlibur dipulau Jeju.

“Oppa, sebaiknya kau pulang..ini sudah mulai siang.” Hyojung berkata dan Yifan mengangguk.

“Kalian pulang saja duluan, aku akan menyusul.” Yifan menjawab dan Zhongren juga Hyojung menurut.

Pasangan itu berbalik meninggalkan Yifan menuju parkiran pemakaman, Yifan berjongkok disamping makam Hyojin. Airmata yang dari tadi dia tahan akhirnya meluncur menetes ketanah, dia mengigit bibirnya menahan tangisnya.

“Hyojin-ah..mianhae..” Yifan berbisik dan dia menunduk menangis.

“Karena aku..semuanya jadi seperti ini..maafkan aku Hyojin-ah.” Yifan mencium batu nisan Hyojin.

Yifan berdiri dan menyeka airmatanya, tanpa dia ketahui Taeyeon berdiri dibelakangnya menatap kearahnya dari kejauhan. Wanita itu menghela nafasnya berat, dia sangat sedih saat dia melihat Yifan menangis padahal dia terlihat kuat sekali saat Hyojin dimakamkan dan saat semua orang menangis dia tidak menangis ataupun terlihat murung dia tegar dan berdiri tegap.

Yifan mengodok saku celananya dan dia mengeluarkan kalung berbandul bunga mawar yang biasa Hyojin gunakan, dia menatap kosong kearah kalung itu dan memasukannya lagi kedalam saku celananya.

Taeyeon menatap kearah punggung Yifan yang berlalu menjauh dari makam Hyojin, lelaki itu kelihatan pucat sekali. Taeyeon akhirnya menyusul lelaki itu dan berjalan dibelakangnya, Yifan kelihatannya sudah tahu kalau Taeyeon ada dibelakangnya namun lelaki itu memutuskan untuk mengacuhkannya.

“Yifan..” Taeyeon berkata.

“Kau tidak usah mengatakan apapun, aku lelah.” Yifan mendahuluinya dan dia masuk kedalam mobil sedannya.

“Kau yakin kau bisa menyetir? Tanganmu..tanganmu masih sakitkan?” Tanya Taeyeon khawatir.

“Aku baik-baik saja Taeyeon, kau sebaiknya pulang.” Ucap Yifan dia menghidupkan mesin mobilnya lalu mobil Yifanpun berlalu meninggalkan pemakaman.

Taeyeon hanya menatap sedih kearah mobil Yifan yang semakin menjauh darinya, Taeyeon menunduk dan dia membuka tasnya mengeluarkan sebuah foto. Foto yang dia pegang adalah foto seorang gadis dengan rambut yang pendek,wajah gadis itu entah bagaimana bisa sangat mirip sekali dengan Hyojin.

Taeyeon hendak membahas ini dengan Yifan namun Yifan selalu menjauhinya, sehingga dia tidak bisa membicarakan apa yang baru saja dia temukan. Sosok yang mirip dengan Hyojin, sangat misterius sekalikan?

Taeyeon menyimpan kembali foto itu didalam tasnya, mungkin besok dia bisa membahas ini dengan Yifan. Itu juga jika lelaki itu berhenti menjauhinya dan mau mendengarkan apa yang harus dia katakan, Yifan terkadang pintar untuk menghindari semua orang.

[Rumah sakit, Gwangju – Korea selatan 12:00PM]

   Seorang gadis duduk disebuah kursi roda, dia menatap kearah langit yang cerah dan angin musim semi berhembus membuat rambut coklat keemasannya bergerak menutup sebagian wajahnya. Wajah gadis itu murung namun semua orang yang melihat sosoknya tidak bisa menyangkal kalau gadis itu sangat menawan, kulit gadis itu kecoklatan dan halus diterpa sinar matahari.

Tangan lentiknya beristirahat disisi kursi rodanya, baju putih yang dia kenakan terlihat cocok sekali memeluk tubuh gadis itu. Gadis itu akhirnya tidak murung lagi saat dia merasakan hangatnya sinar matahari menyentuh wajahnya, dia suka sekali matahari karena matahari membuatnya merasa senang dan bersemangat.

“Berapa lama kau akan berjemur disitu Hyojin-ah?” Tanya seorang lelaki, gadis yang dipanggil itu tersenyum dan berbalik.

“Luhannie, aku suka sekali matahari.” Hyojin berkata dengan manja membuat Luhan tersenyum.

“Kulitmu lebih gelap dari sebelumnya, bukankah sekarang sudah cukup?” Luhan menyentuh lengan Hyojin.

“Tapi..aku suka berjemur Luhannie, aku tidak suka terus diam didalam rumah sakit.” Hyojin mengeluh percis seperti anak kecil.

“Kalau begitu kau ingin pergi kepantai?aku bisa mengantarmu.” Luhan mengelus kepala Hyojin.

“Mungkin nanti, aku baru saja selesai menjalani terapi..suster Kim sangat keras sekali padaku.” Hyojin mengadu dan Luhan menggengam tangan Hyojin lalu menciumnya.

“Apalagi yang dia katakan padamu sekarang?” Luhan menatap kearah Hyojin.

“Dia mengatakan padaku kalau aku tidak akan pernah bisa berjalan jika aku tidak mencobanya, padahal aku mencoba Luhannie..aku bahkan menahan rasa sakit dilututku.” Hyojin berkata dan Luhan tersenyum saat dia melihat Hyojin memajukan bibirnya kesal.

“Kau harus bersabar, suster Kim ingin kau cepat sembuh oleh karena itu dia keras padamu.” Luhan mengelus pipi Hyojin.

“Aku tahu, lainkali jangan tinggalkan aku berdua dengan suster Kim..kau kemana saat aku diterapi?” Hyojin bertanya dan dia menangkup wajah Luhan.

“Aku harus menyelesaikan beberapa lagu,aku janji lain kali aku akan ada saat kau menjalani terapi.” Luhan tersenyum dan Hyojin menatapnya penuh kesebalan walaupun begitu Luhan tahu Hyojin tidak benci padanya.

“Kau juga ada di kecelakaan itukan? Tapi kau baik-baik saja..aku sangat iri.” Hyojin berkata dan Luhan hanya tersenyum tipis.

“Apa kau masih marah padaku karena aku mencium gadis lain?” Luhan bertanya dan Hyojin memukul bahu Luhan.

“Cukup! Aku tidak ingin mengingat itu..aku bisa mati karena cemburu jika aku mengingat kau mencium gadis lain.” Hyojin berkata dia memeluk Luhan dengan erat.

Luhan tersenyum dan dia memeluk kembali Hyojin,Luhan benar-benar bahagia saat dia mendengar pengakuan Hyojin. Kyungsoo yang melihat Hyojin dan Luhan berpelukan tersenyum, Hyojin kelihatannya sangat mencintai Luhan karena dia selalu energetik setiap kali Luhan ada disampingnya.

“Aigoo apakah karena Luhan ada kau baru bisa tersenyum selebar itu?” Kyungsoo memutuskan untuk menjahili sepasang kekasih itu.

Seonsaengnim..” Hyojin terkejut melihat sosok Kyungsoo sudah berdiri didepan mereka berdua.

“Oh Kyungsoo-ya, kau sudah selesai bekerja?” Tanya Luhan dan dia berdiri.

“Ya, aku hanya ingin mengecheck keadaan Hyojin, bagaimana kakimu sekarang Hyojin-ah?apa sudah baikan?” Kyungsoo bertanya dan Hyojin mengangguk.

Nde soensaengnim, kakiku tidak sering sakit lagi.” Hyojin menjawab dengan senyum cerahnya.

“Bagus kalau begitu, apakah kau sudah melatih kemampuanmu motorikmu? Bagaimana dengan tanganmu apakah masih gemetar?” Kyungsoo bertanya lagi Hyojin tertawa dan dia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, seonsaengnim..kau tidak usah khawatir, aku akan cepat sembuh dan pulang bersama Luhannie.” Hyojin menjawab dan dia melirik kearah Luhan yang menatapnya penuh kebahagiaan.

“Bagus, kau sebaiknya lebih rajin menjalani terapi suster Kim bilang kau sudah membuat banyak kemajuan sekarang.” Kyungsoo berkata dan Hyojin mengangguk.

“Apakah kita bisa melanjutkan terapinya dirumah? Aku bosan harus tinggal disini.” Hyojin mengeluh.

“Hyojin-ah, kondisimu belum sembuh total bagaimana jika kau pingsan lagi seperti waktu itu? Kau tidak ingin membuat Luhan khawatirkan?” Kyungsoo menunduk didepan Hyojin dan mengelus kepala Hyojin.

“Tapi..”

“Hyojin-ah, bagaimana kalau aku antar kau keruanganmu? Kau sudah terlalu lama berada diluar.” Luhan mengakhiri perdebatan antara Kyungsoo dan Hyojin.

“Baiklah, tapi kau jangan pergi sebelum aku tidur.” Hyojin meminta dan Luhan tersenyum, bagaimana dia bisa menolak pada wajah cantik dan imut Hyojin.

“Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau tidur.” Luhan menjawab dia mendorong kursi roda Hyojin dan berpamitan pada Kyungsoo.

Luhan mengantar Hyojin sampai gadis itu sampai diruanganya, Luhan membantu Hyojin berbaring diranjang rumah sakit. Hyojin kelihatan sedih, mungkin karena dia ingin cepat keluar dari rumah sakit ini.

Hyojin sudah ada dirumah sakit ini selama tiga bulan lebih dan mungkin gadis itu sudah muak dengan keadaan dirumah sakit, Luhan duduk disamping ranjang Hyojin mengelus kepala Hyojin agar gadis itu bisa tertidur. Melihat mata Hyojin yang mulai tertutup Luhan menghela nafasnya, dia menunggu gadis itu sampai dia benar-benar tertidur.

Luhan menatapi wajah Hyojin, dia bisa melihat luka bakar disamping kanan wajah Hyojin dan dia menyentuhnya. Luka itu kelihatannya sudah mulai sembuh, Hyojin harus menjalani tiga kali operasi untuk menghilangkan luka bakar diseluruh tubuhnya dan Luhanlah yang membayar semua biaya itu.

Dia menguras semua uang pemberian Zhoumi di akun banknya,dia tidak membutuhkan uang yang menumpuk itu. Dia tidak ingin terus dihantui rasa bersalah karena uang itu dia dapatkan dari hasil kejahatan, dia harus membunuh dan mengancam seseorang untuk mendapatkan uang itu.

Luhan mengecup tangan Hyojin dan dia bisa mendengar Hyojin mengerang, Luhan tersenyum Hyojin terkadang seperti anak kecil saat dia tertidur.

“Apa kau sudah tidur?” Luhan bertanya lembut, Hyojin diam tidak membalas.

Luhan melepaskan tangan Hyojin dan dia menyelimuti gadis itu, Luhan mengecup dahi Hyojin dan dia pergi keluar dari ruangan Hyojin. Luhan menutup pintu ruangan Hyojin dan dia menyandar kepintu ruangan Hyojin, Luhan menghela nafasnya dia kelihatan tidak bahagia sama sekali.

“Apa dia sudah tidur?” Tanya Kyungsoo, dokter itu ternyata mengikutinya keruangan Hyojin.

“Ya, menurutmu bagaimana keadaannya?” Tanya Luhan dan Kyungsoo tersenyum tipis, dia menyentuh bahu Luhan.

“Kau tak usah khawatir, dia mulai pulih kembali..tapi soal memorinya aku tidak yakin.” Kyungsoo menjawab sedikit sedih.

“Apakah dia akan terus seperti ini? Apakah dia akan terus berpikir kalau aku Yifan?”Luhan bertanya dan Kyungsoo hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Entahlah Luhan, Hyojin mengalami retrograde amnesia, pendarahan di otaknya sangat parah oleh sebab itu dia juga kehilangan kemampuan motoriknya saat pertama kali dia sadar sebaiknya kau bersabar..mungkin suatu saat dia akan kembali mengingat semuanya kita hanya harus menunggu.” Kyungsoo menjelaskan, Luhan hanya diam menunduk.

“Sampai kapan? Bagaimana jika dia tahu yang sebenarnya?” Tanya Luhan.

“Aku yakin Hyojin akan mengerti kenapa kau melakukan ini, apa yang dia alami memang sangat tragis mungkin inilah jalan dia untuk menghindari rasa sakitnya mungkin dengan mengganti Yifan dengan kau adalah jalan satu-satunya agar dia bisa menerima kenyataan.” Kyungsoo berkata dan dia tersenyum tipis.

“Berhentilah bersedih, aku rasa sebaiknya kau menikmati waktumu bersama Hyojin ia butuh seseorang yang bisa membuatnya senang dan kaulah orang itu.” Kyungsoo menasehati, Luhan mengangguk mengerti.

“Aku harus mengecheck pasien lainnya, jika kau ingin menanyakan sesuatu hubungi aku.” Kyungsoo berkata dan dia berlalu bersama seorang suster yang menyambutnya saat dia pergi menuju ruangan pasien.

[Kediaman Keluarga Jung, Korea selatan – 13:00PM]

“Ini sudah tiga bulan lebih Hyojung-ah, perusahaan tidak bisa terus diam dan menunggu keputusanmu.” Kyuhyun berkata, dia mulai khawatir saat dia melihat Hyojung menatap sedih kearah surat yang ada didepannya.

“Hyojung-ah, sebaiknya kau menerima tawaran Yifan Hyung.” Zhongren memberi saran, dia menyentuh tangan kekasihnya.

“Oppa tapi..bagaimana jika Eonni tidak senang dengan keputusanku?” Tanya Hyojung dia menatap khawatir kearah Zhongren.

“Tidak Hyojung-ah, Hyojin ingin yang terbaik untukmu..kau tidak bisa membiarkan perusahaan ayahmu bangkrutkan?” Yifan angkat bicara dan dia menyodorkan surat perjanjian kerjasama pada Hyojung.

“Jika kau masih ragu, baca lagi perjanjiannya.” Yifan berkata dan Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah membacanya, aku tidak mau membaca lagi.” Hyojung berkata dan Yifan menghela nafasnya.

“Hyojung-ah ini jalan satu-satunya untuk mempertahankan perusahaan ayahmu, atau kau ingin perusahaan ayahmu bangkrut dan sahamnya di jual lelang?” Kyuhyun bertanya.

“Tentu saja tidak..” Hyojung menjawab.

“Kalau begitu tanda tanganilah perjanjian ini, aku berjanji aku akan mengurus perusahaan ayahmu sebaik kakakmu..aku akan memajukan perusahaan ayahmu dan kau masih mempunyai semua sahamnya.” Yifan membujuk.

“Benar Hyojung-ah, kau melihat kalau perusahaan Li maju semenjak Yifan hyung menjadi CEO kan? Apalagi sekarang dia sudah jadi direktur utama.” Zhongren mendukung Yifan, Hyojung menatap kearah surat penjanjian yang ada didepan Yifan.

Hyojung menatap kearah Yifan seakan gadis itu mengatakan kalau dia mempercayai lelaki itu, Yifan tersenyum dan mengangguk dia menegrti apa arti tatapan itu.

“Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk menjaga perusahaan ayahku dengan baik.” Hyojung menatap kearah Yifan.

“Tenang saja Hyojung-ah, kau bisa mengontrol keadaan perusahaan sebanyak yang kau mau..aku tidak akan menyembunyikan apapun.” Yifan menyakinkan.

Hyojung yang mendengar perkataan Yifan akhirnya luluh, dia mengambil pulpen tintang yang ada disamping surat perjanjian kerja sama. Hyojung menandatangi surat itu walaupun dia ragu apakah keputusannya benar atau salah, namun sekarang dia sendirian dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan perusahaannya hanyalah Yifan dan Zhongren.

“Terimakasih Hyojung-ah, kau tak usah khawatir..kau bisa berkuliah dengan tenang sekarang iyakan?” Yifan bertanya dan Hyojung mengangguk.

“Hyojung-ah lebih baik kau fokus untuk kuliah sekarang, setelah kau lulus kau bisa menjabat sebagai direktur diperusahaan.” Kyuhyun menyarankan.

Nde, terimakasih pengacara Cho.” Hyojung berkata.

“Aku harus mengurus beberapa kasus yang lain, aku harus pergi dulu..Hyojung-ah jika kau butuh apa-apa telepon saja aku ok?” Ucap Kyuhyun.

“Baiklah pengacara Cho.” Hyojung menunduk kearah Kyuhyun berterimakasih karena pengacara itu selalu setia membantunya kapan saja.

“Aku harap kau lulus dengan nilai yang bagus, aku akan mengunjungimu jika aku ada waktu.” Kyuhyun menyentuh bahu Hyojung penuh simpati.

“Tak usah repot-repot pengacara Cho aku tahu kau sibuk.”

“Tidak,tidak..aku tidak sibuk lagipula aku khawatir jika kau sendirian.” Ucap Kyuhyun.

“Dia tidak sendirian pengacara Cho.”  Suara Yongguk terdengar dari belakang mereka dan Hyojung tersenyum kearah Yongguk.

“Aku akan menemaninya setiap saat.” Yongguk berkata.

“Oh Yongguk, aku tahu..aku hanya ingin memastikan Hyojung baik-baik saja.” Kyuhyun mengelus kepala Hyojung.

“Aku akan memastikan itu, kau bisa bekerja dengan tenang sekarang.” Yongguk membalas.

“Baiklah, aku harus benar-benar pergi sekarang sampai jumpa nanti Hyojung-ah.” Kyuhyun berpamitan.

“Hati-hati dijalan pengacara Cho.” Hyojung mengingatkan, Kyuhyun mengangguk dan pergi meninggalkan keempat orang yang ada dibelakangnya.

“Karena perjanjian sudah selesai, aku akan pergi kekantor.” Yifan menutup dokumen perjanjian yang sudah ditanda tangani Hyojung.

Yongguk menatap tajam kearah Yifan saat dia mendengar suara lelaki itu, ini pertamakalinya dia bertemu langsung dengan Yifan. Saat pemakaman Hyojin Yifan datang sendirian saat semua orang sudah pulang, Yongguk marah sekali namun dia tidak bisa berbuat apa-apa saat lelaki itu muncul dengan kepala yang diperban.

“Kemana saja kau?” Yongguk bertanya pada Yifan.

“Aku sibuk, maaf aku tidak bisa mengunjungi makam Hyojin sesering kalian.” Yifan menjawab dan Yongguk mendengus.

“Sibuk?! Jadi pekerjaanmu lebih penting dari Hyojin?!” Yongguk membentak tangannya gatal ingin memukul wajah Yifan.

“Oppa..sudah.” Hyojung mendekat kearah Yongguk.

“Hyojin sangat penting bagiku, tapi Hyojin peduli pada perusahaan ayahnya kan? Oleh karena itu aku harus mengurus perusahaannya.” Yifan mengungkapkan.

“Cih! Kau hanya ingin menguasai perusahaan Hyojin iyakan?!”

“YONGGUK OPPA!” Hyojung membentak membuat Yifan, Zhongren juga Yongguk menatap kearahnya.

“Cukup..apa kau akan terus menyalahkan kematian Eonni pada Yifan oppa? Ini semua kecelakaan oppa, kau harus menerima kenyataan.” Hyojung berkata dia berbalik dan berlari menuju kamarnya.

“Lihat apa yang kau lakukan, sebaiknya kau menutup mulutmu.” Yifan berkata dingin dia berbalik pergi keluar dari rumah.

“Hyung, sebaiknya kau menenangkan dirimu.” Zhongren menyentuh bahu Yongguk namun Yongguk menepis tangan Zhongren.

“Jangan menasehati aku, aku tahu Hyojin kecelakaan karena Yifan.” Yongguk bersih keras dan pergi meninggalkan Zhongren.

“Aishh..” Zhongren mengutuk, Yongguk memang keras kepala.

Zhongren tidak bisa menyalahkan Yongguk untuk berprasangka seperti itu karena dia sendiri curiga dengan kakaknya, kakaknya itu tiba-tiba saja pulang dengan kepala yang diperban dan tubuh yang penuh memar saat hari dimana Hyojin dimakamkan. Zhongren sudah mencoba untuk menanyakan kenapa kakaknya itu bisa sampai terluka namun Yifan tetap menutup mulutnya, dia bahkan tidak banyak berbicara belakangan ini.

Zhongren merasa Yifan menjauh darinya secara perlahan, biasanya Yifan menghabiskan akhir pekan bersamanya namun sekarang Yifan lebih sering menghabiskan waktunya di kasino bersama perempuan yang bernama Bora. Sekarang Zhongren merasa kalau kehidupan mereka mulai berubah seperti dulu lagi, Yifan kembali menjadi lelaki yang dingin dan pendiam dia tidak pernah lagi tersenyum atau menjahili Zhongren.

Bahkan Yifan mengatakan kalau dia ingin menjual rumah mereka yang ada di Ilsan, Zhongren sudah tinggal dirumah Hyojung selama satu minggu sekarang. Dia tidak pernah lagi pulang kerumah mereka yang ada di Ilsan, begitu juga dengan Yifan dia memilih untuk membeli sebuah apartemen di Gangnam.

Zhongren menyentuh foto yang ada diatas meja kecil dekat telepon, dia tersenyum melihat foto Hyojin dan Yifan. Mereka terlihat cocok sekali untuk satu sama lain, Yifan juga terlihat sangat bahagia difoto itu.

Zhongren masih bisa mengingat percakapan mereka saat di pulau Jeju, masih bisa mendengar lelucon Hyojin dan Hyojung dan mendengar tawa Yifan yang sangat jarang dan berharga. Zhongren rindu sekali momen-momen dimana dia bisa bercanda dengan Hyojin dan bermanja-manja padanya, Hyojin memang wanita yang penuh dengan perhatian dan kasih sayang.

Zhongren rindu momen dimana dia bisa lebih egois menikmati kasih sayang yang Yifan dan Hyojin berikan padanya, saat Zhongren menatap kearah Yifan dan Hyojin dia merasa kalau dia menatap kearah kedua orang tuanya. Namun semua itu hilang sekarang, hanya ada kehampaan dan kesedihan yang menyelimuti mereka, airmata Zhongren jatuh membasahi foto itu dan dia segera menyekanya.

Dia harus kuat untuk Hyojung, dia tidak boleh menunjukan kalau dia lemah. Hyojung akan sedih jika dia melihat Zhongren seperti ini, Zhongren menyimpan kembali foto itu dan berjalan menuju tangga untuk menyusul Hyojung yang berlari kekamar tadi.

[Studio musik, Seoul – Korea selatan 15:00PM]

    Luhan mematikan mp3 playernya, dia menatap kearah kertas yang dia pegang. Didalam kertas itu tertulis beberapa lirik lagu dan kunci gitar, ini sudah kedua kalinya Luhan menghapus nada-nada yang dia buat, dia tetap saja tidak bisa menemukan nada yang tepat untuk lagunya.

Luhan melepaskan headset nya dan menghidupkan ponselnya, foto Hyojin langsung menyambutnya saat dia menghidupkan ponselnya. Luhan menatap kearah foto Hyojin sejenak dan dia kembali mematikan ponselnya, dia tidak bisa terus memikirkan gadis itu karena dia harus bekerja sekarang.

Menghidupkan kembali mp3 playernya Luhan bisa mendengarkan lantunan musik yang sudah dia buat tadi, dia tersenyum puas dengan koreksi yang dia buat.

“Tuan Choi Luhan apa kau sibuk?” Suara seorang wanita mengagetkannya dan Luhan melirik kesamping.

“Oh Eunjo, kau datang..ada apa?” Tanya Luhan dia tersenyum pada adiknya.

“Oppa, aku mendapat tugas dari Appa dia bilang kau harus menandatangani surat ini dia bilang setelah kau menandatangani surat ini kau resmi menjadi penduduk Korea dan anak dari Appa.” Eunjo menjelaskan dan dia memberikan sebuah amplop coklat pada Luhan.

“Terimakasih,kau tidak kuliah?” Luhan bertanya sambil membuka amplop coklat itu.

“Tidak, aku baru pulang..Oppa,bagaimana keadaan Hyojin eonni?apa dia sudah baikan?” Eunjo bertanya dan dia duduk disamping Luhan.

“Ya, dia sudah mulai bisa menulis dan berjalan.” Luhan menjawab dengan senyum khas nya.

“Bagus kalau begitu, apakah Hyojin eonni akan tinggal bersamamu nanti?” Eunjo bertanya penasaran.

“Menurutmu?” Luhan mengangkat alisnya dan Eunjo memajukan bibirnya.

“Ya! Aku bertanya serius..” Eunjo memukul lengan Luhan pelan.

“Sepertinya begitu, dia tidak punya siapa-siapa lagi selain akukan?” Luhan menjawab dan Eunjo mengangguk.

“Kasihan sekali Hyojin eonni, dia pasti sangat sedih jika dia tahu yang sebenarnya..” Eunjo menunduk sedih.

Luhan mengelus kepala Eunjo.

“Ya! Kau masih kecil, sebaiknya kau fokus kuliah..bukankah kau ingin menjadi dokter ?” Luhan berkata.

“Iya,iya aku tahu..aku harus pergi oppa, sampai jumpa nanti.” Eunjo berkata dan dia berdiri dari duduknya.

“Hati-hati dijalan, kau ceroboh.” Luhan mengingatkan dan Eunjo memberi hormat pada Luhan membuat Luhan tertawa.

Tawa Luhan langsung menghilang saat Eunjo keluar dari studionya, dia membaca berkas yang Siwon berikan untuknya. Berkas itu berisi soal keterangan kasus perusahaan Jung, Luhan masih meniliti penyebab kenapa perusahaan Jung bisa terkena tuduhan penggunaan bahan kimia berbahaya.

Dia tahu seseorang sengaja memasukan zat kimia itu kedalam pewarna tekstil perusahaan Jung karena zat itu hanya ditemukan dibeberapa gulung kain yang baru saja di produksi, Luhan membaca laporan keterangan dari Kim Taeyeon dan Hyojin. Dia juga membaca keterangan dari Yuri dan beberapa manager produksi perusahaan Jung, dari semua keterangan Luhan hanya tertarik pada keterangan Kim Taeyeon.

Luhan tahu wanita itu terlibat dengan Yixing, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Yixing darinya. Lelaki itu sekarang tidak lagi terbuka padanya, dia tidak menyalahkan Yixing karena dia sendiri juga tidak terbuka pada Yixing.

Dia merahasiakan keberadaan  Hyojin dari lelaki itu,Luhan tahu jika Yixing mengetahui keberadaan Hyojin lelaki itu akan mencoba membunuh lagi gadis itu. Dia tahu kalau Yixing ingin memanfaatkan Hyojin Yixing sama saja dengan Zhoumi walaupun sekarang Zhoumi sudah meninggal Hyojin belum sepenuhnya aman dan dia harus menyembunyikan gadis itu seaman mungkin.

Ponsel Luhan bergetar, Luhan mengambil ponselnya namun dia sangat terkejut sata dia membaca pesan singkat yang Yixing kirimkan untuknya.

Yifan berhasil membujuk Hyojung, dia akan mengadakan rapat dengan para pemegang saham untuk memilih direktur utama group barunya.

   Membaca itu Luhan langsung marah, dia berdiri dari duduknya dan pergi keluar dari studionya. Dia benar-benar akan menghabisi Yifan jika dia bisa, Luhan memakai helm motornya dan menghidupkan motor sportnya taklama kemudian motor Luhan mebelah jalanan Seoul menuju perusahaan Li.

[Perusahaan Li, Seoul –Korea selatan 16:20PM]

“Apa kau sudah menghubungi semua direktur dan pemegang saham?” Tanya Yifan dia melirik kearah Yixing yang sedang sibuk membaca jadwal Yifan.

“Ya, meeting akan dimulai pukul 12 siang besok.” Yixing menjawab.

“Bagus kalau begitu, aku juga ingin membahas soal nama baru untuk perusahaan nanti apakah kau punya saran?” Yifan bertanya.

“Aku belum memikirkannya mungkin aku akan mencari nama yang bagus nanti.” Ucap Yixing.

Mereka berdua masuk kedalam gedung kantor, masih berdiskusi tentang rencana mereka untuk besok. Mereka berdua berhenti mengobrol saat sosok Luhan muncul, lelaki itu berbalik kebelakang dan menatap tajam kearah Yifan.

Yifan menyeringai saat dia melihat betapa marahnya Luhan, lelaki itu mendekat kearahnya dengan langkah yang cepat sedangkan Yifan memutuskan untuk berjalan malas kearahnya. Tanpa dia sangka Luhan langsung menedangnya membuat Yifan langsung tersungkur kelantai, semua orang yang ada dilobi perusahaan Li menarik nafasnya terkejut.

Yifan langsung berdiri saat dia melihat Luhan mencoba memukulnya, Yifan dengan cekatan menahan pukulan Luhan. Dia menarik tangan Luhan dan membantingkan tubuh Luhan kelantai, mereka saling memukul namun Yifan yang berhasil membuat Luhan berdarah karena dia memukul Luhan tepat disudut bibir Luhan.

Luhan menyentuh bibirnya yang terasa sakit, dia bisa melihat darah jatuh dari bibirnya kelantai. Luhan menyerang Yifan lagi dan dia berhasil memukul Yifan kali ini, Yifan melawan dan hendak memukul Luhan lagi namun Yixing mencoba mencegah Yifan agar mereka berdua tidak berkelahi.

“Sudah cukup!” Yixing membentak dia menengahi Yifan dan Luhan, Luhan mendekat dan mencoba memukul Yifan kembali namun Yixing menahannya.

“BRENGSEK! Apa yang kau mau dari Hyojin huh?! Dia sudah mati sekarang dan kau masih ingin menghancurkan perusahaan dia?!” Luhan berteriak dan Yifan mendekat menarik kerah baju Luhan.

“Dengar bodoh! Setidaknya aku melakukan sesuatu untuk membantu Hyojin, kau hanya diam seperti boneka saat Hyojin meninggal.” Yifan berkata dan Luhan mengepalkan tangannya penuh emosi.

“Setidaknya aku tidak melukainya seperti kau, Hyojin meninggal karena kau Yifan! Semuanya karena kau!” Luhan menuduh, Yixing memisahkan Luhan dan Yifan.

“Sudah Luhan! Sebaiknya kau pulang, kau memalukan sekali.” Yixing marah dan dia mendorong Luhan menjauh dari Yifan.

“Yifan kau tidak apa-apa?” Tanya Yixing dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Aku akan pergi keruanganku, sebaiknya kau menyingkirkan dia dari gedung ini.” Yifan berkata masih marah, dia pergi menuju lift semua mata orang yang ada di loby perusaah Li masih tertuju pada mereka.

“Luhan, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menyerang Yifan?” Yixing bertanya.

“Diam! Kau sama saja dengan Yifan..kau hanya peduli pada uang dan uang!” Luhan membentak dan pergi meninggalkan Yixing yang kebingungan.

“Luhan! Kau mau kemana?!” Tanya Yixing dia mengikuti Luhan namun lelaki itu mengacuhkannya.

“Luhan dengarkan aku dulu, kau salah paham..” Yixing berkata namun Luhan tidak mendengarkannya dan memakai helmnya.

“Katakan pada Yifan selamat, dia memang anak kandung Li Zhoumi.” Luhan berkata dan menghidupkan mesin motornya.

“Luhan!” Yixing mencoba menjelaskan, Luhan tidak mendengarkan dan diapun memajukan motornya lalu pergi meninggalkan parkiran perusahaan Li.

“Aissh! Dasar anak itu..” Yixing mengusap rambutnya kesal.

******

  Yifan memukul mejanya, dadanya masih terasa sakit karena tadi Luhan menendangnya terlalu keras. Yifan melirik kearah foto Hyojin yang tersenyum kearahnya, Yifan mencengkram foto itu dan membantingkannya kelantai membuat suara kaca pecah terdengar memenuhi ruangan kantornya.

Yifan menatap kearah bingkai foto Hyojin yang hancur, Yifan langsung panik saat dia sadar apa yang baru saja dia perbuat. Yifan segera berlutut dan memungut foto Hyojin dari lantai tanpa dia sadari salah satu pecahan kaca melukai tangannya, Yifan mengerang saat dia merasakan perih dijarinya dan darahnya menetes pada foto Hyojin.

Yifan terdiam sesaat, darahnya terus menetes pada foto Hyojin menodai wajah gadis cantik itu. Yifan terkejut saat dia mendengar pintu kantornya terbuka, Yixing yang melihat tangan Yifan berdarah langsung memarahi Yifan namun lelaki itu tidak mendengar apapun yang Yixing katakan karena perhatiannya tertuju pada wajah Hyojin.

Dia baru sadar betapa dia merindukan gadis itu, dia merindukan tawa dan senyum Hyojin dia rindu saat gadis itu memeluknya dan menciumnya. Dia rindu untuk merasakan betapa hangatnya hadir Hyojin didalam hidupnya yang dingin dan gelap, dia rindu wangi gadis itu dia merindukan segalanya yang berhubungan dengan gadis yang bernama Jung Hyojin.

“Yifan! Kau tidak apa-apa? Yi—“ Yixing berhenti berkata saat dia melihat airmata Yifan menetes membasahi pipi lelaki itu.

Yixing baru sadar betapa hancurnya Yifan tanpa Hyojin,bahkan lelaki itu tidak malu untuk menangis didepan Yixing. Yixing tidak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa menyentuh bahu Yifan dan meremasnya penuh dengan simpati.

Yixing mengerti, Yifan pasti merasa sangat kehilangan waktu satu tahun bukanlah waktu yang sebentar apalagi Yifan kelihatannya sudah terbiasa dengan Hyojin yang selalu ada disampingnya. Jika dia ada ditempat Yifan dia juga akan menangis, bahkan mungkin dia tidak bisa terus bekerja dan melanjutkan proyek group yang Yifan lakukan.

“Yifan..” Yixing memanggil, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia sendiri terkejut melihat Yifan yang kuat menangis didepannya.

“Bisakah kau pergi?” Yifan berkata dia menyeka airmatanya.

“Aku harus mengobati lukamu dulu.” Yixing menolak.

“Aku bisa mengobatinya sendiri, ini hanya luka goresan..kau tak usah khawatir.” Yifan berkata dan dia berbalik membelakangi Yixing.

“Baiklah, aku akan pergi…jika kau butuh sesuatu panggil aku.” Yixing menurut, dia pergi keluar dari kantor Yifan dan menutup pintu ruangan itu dengan berat hati.

Yifan menatap kosong kearah jendela di kantornya, banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang dibawahnya mereka bekerja keras, sibuk mengantarkan dokumen dan menyampaikan laporan kepada atasan mereka.

“Yifan..”

Mendengar suara itu Yifan melirik kesekitarnya, dia mencari sosok wanita yang menghasilkan suara itu namun hasilnya nihil. Semenjak kepergian Hyojin Yifan selalu mendengarkan bisikan wanita itu, seakan wanita itu ada disampingnya masih mendampinginya.

Saranghae Oppa...”

Yifan menutup telinganya, dia tidak ingin mendengar suara manis Hyojin lagi tidak..jika dia terus tenggelam dalam kenangan Hyojin dia tidak akan pernah bisa berhenti bersedih. Yifan menutup matanya dan berharap kalau bayangan Hyojin akan meninggalkanya, namun usahanya gagal setiap kali dia menutup matanya dia bisa melihat wajah Hyojin dengan jelas.

[Rumah sakit, Gwangju – Korea selatan 18:00PM]

PRANGGG….

   Suara gelas yang pecah terdengar, Hyojin mencengkram kepalanya yang berdenyut sakit. Hyojin menutup matanya dan tiba-tiba saja sebuah adegan muncul didepannya, dia bisa melihat dirinya sendiri sedang menyisir rambutnya dan seorang lelaki muncul dari belakang namun dia tidak bisa melihat wajahnya.

*****

“Hyojin-ah..”

Suara lelaki itu kembali menghantuinya, Hyojin bisa merasakan jari –jari dingin lelaki itu menyentuh kulit  punggungnya yang hangat. Hyojin membuka mulutnya hendak membalas namun dia tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.

Rambut lelaki itu pirang mirip sekali dengan Luhan, hidung dan bibir lelaki itu terasa sangat lembut menyentuh punggungnya. Lelaki itu membisikan sesuatu ditelinga Hyojin namun Hyojin tidak bisa mendengar jelas apa yang dia katakan,dia hanya bisa mendengar sepotong perkataan lelaki itu.

“….mencintai mu,jangan lupa itu…”

Hyojin mendengar lelaki itu berbisik, dia cukup yakin kalau suara itu berbeda dengan suara Luhan namun entah kenapa wajah Luhanlah yang dia ingat.hanya wajah luhan yang dia tahu, tangan lelaki itu menyentuh pingangnya dan diapun menutup matanya kembali.

****

“Arghhh.” Hyojin mengerang sakit dan semua adegan yang dia lihat hilang begitu saja.

Hyojin mencoba menahan rasa sakitnya itu dia tidak ingin membuat Kyungsoo ataupun suster yang lain khawatir, dia tidak ingin Kyungsoo menunda lagi kepulangannya dia ingin segera keluar dari penjara putih ini.

Hyojin menarik dan mengeluarkan nafasnya mencoba menenangkan dirinya, dia harus terbiasa dengan sakit ini dia harus bisa menahannya. Hyojin sedikittenang saat sakit kepalanya lama-kelamaan reda, dia sudah tidak merasakan lagi sakitnya saat dia mendengar pintu ruangannya dibuka.

Sosok Kyungsoo masuk dan mendekat kearah Hyojin saat dia melihat Hyojin masih memegang kepalanya, dia snagat khawatir saat dia melihat gelas pecah yang ada dibawah ranjang Hyojin.

“Hyojin-ah! Kenapa kau tidak memanggilku?” Tanya Kyungsoo dan dia mendekat kearah Hyojin untuk memeriksa keadaan gadis itu.

Seonsaengnim..aku tidak apa-apa.” Hyojin berkata dan mencoba tersenyum.

“Bohong, kau pecat sekali..apa kepalamu sakit lagi?” Kyungsoo menyentuh kepala Hyojin dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya sedikit pusing.” Hyojin berbohong dan Kyungsoo menatapnya tidak percaya.

“Hyojin-ah, jika kau sakit kau harus jujur padaku..aku doktermu aku harus menyembuhkanmu jadi kau tak usah segan.” Kyungsoo berkata dan Hyojin tersenyum lalu mengangguk.

“Aku tahu Seonsaengnim.” Hyojin menjawab dan mengangguk.

“Aku bertanya sekali lagi, apakah kepalamu sakit lagi?” Kyungsoo bertanya dan HYojin menggelengkan kepalanya.

“Tidak Seonsaengnim,aku baik-baik saja.” Hyojin menjawab.

“Kau keras kepala, apa kau ingin aku menaikan dosis obatmu?” Kyungsoo mengancam dan Hyojin tertawa.

“Ampun Soensaengnim..aku tidak mau minum obat lagi.” Hyojin pura-pura takut dan dia merapatkan kedua tangannya seakan dia sedang menyembah kearah Kyungsoo.

“Baiklah, jika kau benar-benar tidak apa-apa..aku akan menyuruh suster untuk membersihkan gelasmu yang pecah,lain kali hati-hati eoh?” Kyungsoo memberi peringatan dan Hyojin mengangguk menurut.

“Aku harus pergi,Luhan akan kesini sebentar lagi jadi kau tak usah khawatir.” Kyungsoo memberi tahu.

“Bagus kalau begitu, aku bosan haru sendirian.” Hyojin merespon.

Kyungsoo berpamitan pada Hyojin dan dokter muda itu pergi dari ruangannya, Hyojin segera menarik buku yang ada dimeja kecil disamping ranjangnya. Dia membuka buku diarynya dan menuliskan sesuatu didalam buku itu, dia menuliskan apa saja yang baru dia lihat tadi.

Hyojin menutup diarynya, dia mulai khawatir belakangan ini dia sering sekali melihat adegan-adegan yang aneh. Dia bahkan tidak tahu apakah adegan yang dia lihat itu ilusi atau asli dia menggigit jarinya penuh kecemasan, mungkin dia harus mengatakan ini pada Luhan namun sekali lagi Hyojin takut jika Luhan berpikir kalau dia sudah mulai gila.

“Siapa lelaki itu?” Hyojin bergumam, dia mencoba mengingat wajah dan suara lelaki yang dia lihat tadi namun hasilnya nihil.

Hyojin tidak pernah bisa mengingat wajah lelaki itu dengan jelas namun dia cukup yakin karena itu Luhan, Hyojin hanya bisa mengingat rambut pirangnya saja. Hyojin melirik kearah jendela ruangannya dan langit sudah gelap, itu tandanya Luhan sudah meninggalkanya cukup lama.

Hyojin menyentuh dadanya entah kenapa rasanya sakit sekali jika dia mengingat kalau Luhan tidak ada disampingnya saat dia bangun, dia selalu disambut oleh keheningan ruangan nya saat dia membuka matanya.

Hyojin mengambil remote Tv dan dia menghidupkan televisi diruangannya, dia bisa melihat adegan seorang wanita berlari di taman bunga yang dipenuhi oleh bunga kuning. Wanita itu terlihat sangat bahagia sekali, lalu seorang lelaki muncul dan memeluk wanita itu dari belakang.

Senyum menghiasi bibir Hyojin entah kenapa dia merasa tidak asing dengan adegan itu, dia merasa kalau dia pernah pergi ketaman bunga itu. Anehnya dia merasa familiar saat dia melihat pemandangan laut yang biru dibelakang taman bunga itu,Dia merasa kalau dia pernah kesana.

Merasakan angin yang berhembus kencang ditaman itu dan mencium harum bunga yang menyelimutinya, Hyojin ingin sekali pergi ketaman itu namun dia tidak tahu dimana taman itu berada. Mungkin jika dia bertanya pada Luhan, Luhan akan tahu dimana taman itu.

*****

“Apa kau sudah lama menungguku?” Luhan akhirnya datang, dia berdiri di ambang pintu dengan senyumnya yang khas.

“Luhannie..kau lama.” Hyojin merajuk dan Luhan tertawa, dia menutup pintu ruangan Hyojin dan berjalan kearah Hyojin yang sudah membuka tangannya menunggu Luhan untuk memeluknya.

“Maaf, tadi aku harus mengurus studio terlebih dahulu..Myungsoo tidak datang membantuku karena dia sibuk.” Luhan meminta maaf dan dia memeluk Hyojin.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk.” Hyojin memaafkan Luhan dan memeluk lelaki itu dengan erat.

Hyojin melepaskan pelukannya dan dia baru menyadari kalau sudut bibir Luhan dibalut oleh plester, Hyojin menyentuh sudut bibir Luhan membuat Luhan mengerang kesakitan.

“Kenapa dengan bibirmu?” Tanya Hyojin khawatir.

“Aku hanya jatuh..” Luhan berbohong.

“Oh ya? lalu kenapa pipimu juga memar?” Tanya Hyojin menyadari kalau pipi kiri Luhan memar.

“Aku jatuh dari tangga, aku tidak sengaja membenturkan pipiku kelantai dengan keras.” Luhan berbohong lagi, dia merasa bersalah namun inilah jalan satu-satunya agar Hyojin tidak khawatir.

“Lain kali hati-hati,Aku merindukanmu.” Hyojin berkata Luhan mencium bibir Hyojin sekilas lalu menyentuh pipinya.

“Aku juga, besok hari minggu.. apa kau ingin pergi keluar? aku sudah mendapat ijin dari Kyungsoo.” Luhan menawarkan dan dia bisa melihat mata Hyojin bersinar penuh semangat.

“Iya! Aku ingin pergi kepantai.” Hyojin berkata, Luhan mengelus kepala Hyojin dia senang sekali saat melihat betapa semangatnya Hyojin.

“Bagus kalau begitu, besok kita pergi kepantai..kau ingin pergi kepantai mana?” Tanya Luhan.

Hyojin mengangkat bahunya, dia tidak tahu banyak tentang pantai di Gwangju dia sempat mendengar beberapa suster mengobrol tentang tempat-tempat yang bagus untuk kencan. Mereka bahkan menggoda Hyojin agar cepat menikah dengan Luhan karena ternyata mereka terlihat sangat cocok bagi semua suster dirumah sakit, Hyojin hanya bisa tersenyum dengan godaan itu.

Dia sendiri tidak tahu sejak kapan Luhan dan dirinya berhubungan, semuanya terasa sangat natural bersama Luhan seperti air yang mengalir. Luhan tidak pernah menceritakan bagaimana mereka bertemu dan Hyojin terlalu malu untuk bertanya, namun malam ini dia bertekad untuk bertanya pada Luhan.

“Luhannie..” Hyojin memanggil dan Luhan menatap kearahnya.

Nde?”

“A-aku..aku hanya penasaran, sebenarnya sudah berapa lama kita berhubungan?” Hyojin bertanya dia menunduk tidak bisa menatap kearah Luhan.

Luhan terkejut dengan pertanyaan Hyojin bagaimana dia bisa menjawab? Hyojin sendiri yang sadar dan menunjuknya sebagai pacarnya, Luhan terkejut saat Hyojin mengatakan kalau mereka berpacaran bukankah Hyojin dan dia hanyalah sahabat sampai malam dimana Hyojin mabuk dan dia tidur bersama gadis itu.

“Menurutmu? apakah menurutmu hubungan kita sudah lama?” Luhan balik bertanya membuat Hyojin terdiam sejenak untuk berpikir.

“Mungkin, aku merasa sangat nyaman denganmu…aku bahagia saat kau ada dan aku yakin kalau aku mencintaimu.” Hyojin berkata dia menangkup wajah Luhan dan mencium pipi lelaki itu.

Luhan hanya tersenyum tipis, apakah yang Hyojin rasakan itu adalah perasaannya untuk Yifan? Luhan tidak bisa bahagia, mungkin dia akan bahagia jika Hyojin dalam keadaan normal dan gadis itu mengingat semua yang terjadi dengan jelas.

Namun dengan keadaan seperti ini Luhan tidak bisa bahagia, dia tahu Hyojin mengatakan itu karena dia berpikir kalau dia adalah Yifan bukan Luhan sahabatnya. Luhan menatap kearah mata Hyojin dan dia tersenyum, dia mengelus pipi Hyojin.

“Jangan katakan itu..kau tidak yakin.” Luhan berkata.

“Apa maksudmu? Tentu saja aku yakin, aku tidak akan mengatakannya jika ak—“

Luhan menyimpan jari telunjuk dibibir Hyojin sehingga gadis itu berhenti berbicara.

“Katakan itu setelah kau sembuh, setelah kau ingat semuanya.” Ucap Luhan dan Hyojin menunduk sedih.

“Apa kau tidak percaya padaku karena aku menderita amnesia?” Tanya Hyojin dia terdengar terluka.

“Bukan…aku hanya takut kalau perasaanmu hanya sesaat.” Luhan menjawab.

“Luhannie.. kita sudah bersama cukup lama bukan? Aku yakin itu, aku tidak bisa mengingatnya tapi..” Hyojin menarik tangan Luhan dan menyimpan tangan lelaki itu didadanya.

“Tapi hatiku tahu itu, aku tahu kau mencintaiku..dan aku juga.” Hyojin melanjutkan dan Luhan segera menarik tangannya kembali.

“Hyojin-ah, kau tidak bisa mempercayai hatimu karena terkadang hatimu memilih sesuatu yang buruk untukmu.” Luhan mengungkapkan.

“Ini sudah malam, aku lelah..bolehkah aku tidur duluan?” Luhan meminta ijin dan Hyojin mengangguk.

“Jika kau lelah, tidurlah.” Hyojin menyetujui walaupun dia kecewa, dia ingin mengobrol dengan Luhan semalaman.

“Maaf aku tidak menemani mu lebih lama..” Luhan meminta maaf dan dia mencium dahi Hyojin lalu tidur disofa yang sudah biasa dia tiduri selama beberapa bulan.

Hyojin hanya bisa menatap kearah punggung Luhan, lelaki itu selalu mengakhiri setiap percakapan mereka jika Hyojin sudah mulai membahas soal perasaannya. Hyojin tidak mengerti kenapa Luhan melakukan itu, dia merasa kalau Luhan menyembunyikan sesuatu darinya dan itu membuat Hyojin kecewa.

“Luhan..” Hyojin memanggil saat Luhan membuka jaket kulitnya, lelaki itu berbalik dan menatap kearahnya.

“Apa kau tidak mencintaiku?” Hyojin bertanya dia mengepalkan tangannya, cemas akan jawaban Luhan.

Luhan tersenyum tipis, dia mendekat kearah Hyojin dan menyentuh kepala gadis itu. Hyojin hanya bisa menatap kearah mata Luhan, dia meminta jawaban pertanyaannya sekarang dia tidak ingin Luhan hanya menciumnya dan tetap tidak menjawab pertanyaan.

“Tentu saja, kenapa kau bertanya?” Luhan duduk disamping Hyojin.

“Kalau begitu, kenapa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Luhan menghela nafasnya, menyentuh tangan Hyojin dengan erat. Dia ingin sekali menceritakan semua yang telah terjadi namun dia takut jika Hyojin tidak bisa menerima kenyataan, dia takut kalau dia membuat Hyojin sedih dan terkejut.

“Aku akan mengetakannya setelah kau mengingat semuanya, setelah kau kembali menjadi Hyojin yang dulu.” Luhan berkata.

“Sebenarnya,apa yang terjadi? aku mencoba mengingatnya namun hasilnya nihil..” Hyojin berbisik lemah.

“Kau tak usah terburu-buru, aku yakin kau akan mengingatnya..mungkin kau harus bersabar.” Luhan mencoba menghibur.

“Tapi Luhan! Aku ingin tahu semuanya,apakah ingatanku benar? Kau pacarku kan? Kau ada saat kecelakaan dan kau yang menyelamatkanku dari mobilku yang akan meledak iyakan?” Hyojin menarik kaos Luhan.

“Benar Hyojin, ingatanmu benar..namun kau tidak mengingat semuanya,aku tidak ingin membuatmu terkejut.” Luhan berkata lembut dia menyentuh pipi Hyojin.

“Kenapa?apa yang terjadi? Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk?” Hyojin bertanya penuh dengan putus asa dan Luhan menggelengkan kepalanya.

“Tidak, kau tidak melakukan apapun hanya saja, seseorang menyakitimu..itu yang terjadi.” Luhan menjelaskan, Hyojin menunduk mencoba mengingat namun dia tetap saja tidak bisa mengingat apapun terkadang dia benci keadaannya.

Hyojin merasa menjadi orang yang bodoh, dia bahkan tidak bisa menulis dengan benar apalagi membaca. Semenjak dia kecelakaan kemampuan motoriknya merosot, dia masih beruntung karena dia hanya mengalami retrograde amnesia tidak seperti teman terapinya yang mengalami antrogade amnesia.

Setiap hari dia harus mengenalkan dirinya dan pada teman terapinya itu, Hyojin merasa kasihan pada temannya itu namun dia sendiri tidak dalam keadaan yang normal. Semenjak kecelakaan dia mengalami diseleksia yang parah, hanya sekitar  sebulan yang lalu dia mulai bisa membaca dan menulis kembali dengan baik walaupun terkadang dia masih membuat kesalahan.

Bahasa inggris yang dia pelajari sepertinya satu-satunya yang masih dia ingat, saat Kyungsoo memberikan beberapa tes bahasa inggris dia bisa menjawabnya dengan benar.Mungkin karena dia berusaha sangat keras untuk menghapalkan bahasa itu sehingga otaknya masih bisa mengingat dengan jelas, sedangkan bahasa korea dia pelajari secara alami karena itu adalah bahasa pertamanya.

“Berapa lama lagi aku harus disini?” Hyojin mengganti topik pembicaraan, jika Luhan tidak ingin mengatakan yang sebenarnya Hyojin akan mencari tahu sendiri.

“Sampai kau sembuh Hyojin-ah.” Luhan menjawab.

“Kapan? Bagaimana kalau aku tidak pernah sembuh?bagaimana jika kau tidak pernah bisa mengingat semuanya?” Hyojin marah.

“Hyojin-ah..”

“Luhan, aku tidak bisa terus berada disini..aku muak dengan tempat ini! Aku ingin bebas keluar seperti orang yang normal,apakah aku sesakit itu sehingga aku tidak bisa keluar?” Hyojin terdengar terluka saat dia bertanya.

“Bukan begitu, diluar sangat bahaya sekali..bagaimana kalau seseorang mencoba menyakitimu?” Luhan menyentuh kedua bahu Hyojin.

“Siapa yang akan menyakitiku?” Hyojin mendesak.

“Seseorang, aku tahu seseorang akan menyakitimu.” Luhan menjawab lemah, dia menunduk.

“Kenapa?kenapa dia ingin menyakitiku?”

“Hyojin-ah, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu…aku akan membahasnya setelah kau siap.” Luhan mengakhiri lagi percakapan mereka, Luhan mencium dahi Hyojin dan pergi untuk tidur di sofa.

[Kasino, Apgyujong 23:00PM]

  Yifan menghela nafasnya saat dia merasakan Bora memeluknya dari belakang, gadis itu sudah mencoba menghiburnya beberapa kali namun tetap saja Yifan masih merasa bosan. Dia sudah bermain poker selama 3 jam lebih dia sudah memenangkan beberapa permainan lainnya namun dia masih saja tidak merasa bahagia, sebuah botol champagne ada disampingnya.

Bora akan menuangkan minuman alkohol itu kedalam gelas yang Yifan pegang dan lelaki itu akan meminumnya, dia sudah menghabiskan setengah botol minuman keras itu namun dia belum juga mabuk. Yifan menyeringai saat dia melihat kartunya full house kembali, dia tersenyum lebar dan menunjukan kartunya kepada lawan mainnya yang mengerang kesal karena mereka kalah lagi.

“Argghh sial! Yifan-shi, sepertinya kau memang sangat beruntung sekali malam ini.” Salah satu lawan mainnya memuji dan Yifan hanya tersenyum tipis.

“Sepertinya begitu.” Yifan menjawab singkat.

“Yifan Oppa selalu memenangkan game poker disini, iyakan Oppa?” Bora bertanya dengan manja dan Yifan hanya mengangguk, bahkan suara manja Bora tidak bisa menghiburnya.

“Aku hanya beruntung Bora sayang, hanya beruntung..” Yifan mengelus pipi Bora.

“Dan kau selalu beruntung karena ada aku.” Bora tertawa, Yifan hanya tersenyum tipis dia berdiri dari duduknya.

“Maf tuan-tuan tapi aku harus pulang, ini sudah malam..aku tidak mau adikku mengomel.” Yifan bercanda dan semua teman bermain pokernya tertawa.

“Sampai jumpa lagi Yifan-shi, aku harap kita bertemu lagi dimeja poker ini besok.” Seorang lelaki yang menggunakan jas abu-abu berkata padanya.

“Semoga saja Hyunbin-shi, aku datang jika aku merasa beruntung.” Yifan berkata dia menyentuh bahu Hyunbin dan pergi, Bora mengandeng tangan Yifan membantu lelaki itu untuk berjalan lurus.

“Aku baik-baik saja Bora.” Yifan berkata dia mendorong gadis itu sedikit menjauh.

“Oppa, kau benar-benar mabuk..aku bisa mengantarmu keapartemenmu.” Bora berkata, dia sudah ke apartemen Yifan beberapa kali, mereka tidak pernah tidur bersama hanya menghabiskan waktu bersama dan biasanya tertidur karena mereka berdua mabuk.

“Aku tidak ingin merepotkanmu, kau tahu Chansung akan sangat marah jika dia menemukan kau keluar dari kasino bersamaku.” Yifan berkata, dia masih ingat betapa marahnya tuan muda pemilik kasino itu saat dia melihat gadis kesukaannya keluar dari kasino bersama dirinya.

“Chansung? Dia tidak ada disini sekarang..” Bora menjawab.

“Tetap saja, dia memiliki banyak mata-mata disini..kau tidak mau aku berakhir mati ditempat sampahkan?” Yifan bertanya dia berjalan menuju pintu utama kasino, Bora masih mengikutinya dari belakang.

“Tapi Oppa aku tidak ingin kau sendirian, apa kau masih sedih dengan perginya Hyojin?” Bora bertanya dia mendekat dan menarik lengan Yifan membuat Yifan berhenti berjalan.

“Aku sudah melupakan Hyojin, kau bisa tenang.” Yifan mengelus kepala Bora dan berbalik untuk pergi.

“Bohong! Kau masih mencintai dia iyakan?aku bisa melihatnya dari matamu..aku tahu kau masih sangat mencintai gadis itu.” Bora berkata dan Yifan tertawa.

“Bora, aku tidak mencintai Hyojin ok? Aku hanya memanfaatkan dia agar aku kaya seperti sekarang.” Yifan berkata, Bora menatap lurus kearah matanya dan Bora tahu kalau Yifan berbohong dia tahu karena Yifan akan berkedip jika dia berbohong.

“Oh ya, jika kau tidak mencintai Hyojin kau harus membuang kardigan Hyojin yang kau simpan dilemarimu..apakah kau bisa melakukannya?” Bora menantang, Yifan hanya diam saat dia mendengar tantangan gadis itu.

“Kenapa aku harus membuangnya? Aku tidak pernah melihat atau menyentuhnya.” Yifan memberi alasan dan Bora menyeringai.

“Lihat..kau bahkan tidak bisa menerima tantanganku.” Bora melipatkan tangannya didepan dadanya.

“Bora, aku tidak punya waktu untuk game kekanak-kanakan mu.” Yifan berkata dia mengodok saku jasnya dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar Bora.

“Ini, terimakasih kau sudah menemaniku malam ini.” Yifan memberikan uang itu pada Bora.

“Aku tidak butuh ini, aku ingin kau jujur padaku.” Bora tidak menerima uang yang Yifan berikan padanya.

“Kau sudah membayar cukup kemarin, bahkan lebih..aku belum bisa menghabiskan semua uang yang kau berikan padaku.”Ucap Bora.

“Aku akan mengikutimu sebelum kau berkata yang sejujurnya padaku.” Bora berkata dia berjalan menuju mobil sedan Yifan dan masuk kedalam mobil itu saat Yifan membuka kunci mobilnya.

“Bora, jangan keras kepala.” Yifan sedikit kesal, dia menarik lengan Bora terlalu keras membuat Bora mengerang kesakitan.

“Aww..Oppa sakit.” Bora mengerang dan Yifan langsung panik saat dia melihat ekspressi Bora.

Entah kenapa ekspressi Bora mengingat dia pada Hyojin saat dia memutuskan untuk meninggalkan gadis itu, Yifan segera memeluk Bora dengan erat. Entah kenapa dia takut sekali saat wajah Hyojin mulai datang memenuhi pikirannya, dia ingat saat terakhir kali dia berbicara pada gadis itu, dan yang paling menyakitkan adalah kata-kata terakhir Hyojin padanya dia mengatakan kalau gadis itu membencinya.

Yifan masih ingat tamparan keras dipipinya, dia masih ingat pukulan Hyojin didadanya dan itu sangat menyakitkan untuk hatinya dibandingkan fisiknya. Yifan memejamkan matanya membuat tubuhnya mati rasa sejenak, dia memeluk erat tubuh Bora dan airmatanya langsung tumpah.

“Hyojin-ah..mianhae..jeongmal mianhae.” Yifan berkata dan Bora menunduk sedih, dia memeluk kembali Yifan dia tahu lelaki itu sangat terluka dengan kepergian Hyojin.

“Oppa, kau bisa menangis jika kau mau.” Bora berkata dan dia mengelus punggung Yifan.

Yifan menyeka airmatanya, dia melepaskan pelukannya dari Bora dan gadis itu membatu Yifan untuk menyeka airmatanya. Bora menangkup wajah Yifan, dia sendiri menangis saat dia melihat betapa merahnya mata Yifan dan betapa berantakannya lelaki itu.

“Kau harus kuat, aku tahu semua ini berat..tapi aku yakin kau bisa melewatinya aku sedih setiap kali aku melihat kau seperti ini.” Bora berkata dan Yifan tersenyum tipis.

“Ya tuhan..berhenti mengkhawatirkanku eomma!” Yifan mengejek dan Bora tersenyum tipis.

“Apa kau bilang? Kalau aku ibumu, aku sudah memukul pantatmu karena kau nakal!” Bora berkata dia memukul bokong Yifan membuat Yifan tersenyum.

“Aku harus pulang, tenang saja aku akan menghubungimu besok..aku tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh ataupun semacamnya.” Yifan berjanji dan Bora mengangguk.

“Sebaiknya begitu, jika kau melakukan sesuatu yang bodoh aku akan memukul kepalamu sampai kau sadar betapa bodohnya kau.” Bora mengancam dan Yifan mengangguk.

“Aku pergi dulu.” Yifan mengacak-ngacak rambut Bora dan Bora marah.

“Ya! Kau menghancurkan rambutku!” Bora membentak namun Yifan segera kabur dan masuk kedalam mobilnya meninggalkan kasino.

****

  Yifan membuka pintu apartemennya, dia sudah tinggal di apartemen ini sejak dua bulan yang lalu. Dia sudah membereskan rumahnya yang ada di Ilsan dan akan menjualnya mulai besok, Zhongren memutuskan untuk tinggal dirumah keluarga Jung, dia bilang dia khawatir dengan keadaan Hyojung karena sepertinya gadis itu semakin kurus setiap harinya.

Yongguk bahkan kesusahan untuk membujuk gadis itu agar makan, satu- satunya orang yang bisa membujuk gadis itu hanyalah Zhongren. Yifan menyimpan kunci apartemennya didalam sebuah mangkuk yang ada di counter dapur kecilnya, dia menyalakan lampu dan duduk disofanya.

Yifan menarik rambutnya kebelakang, sepertinya rambutnya sudah mulai panjang dia membuka jasnya dia berjalan kearah kamarnya dan kamarnya masih sepi seperti biasanya. Yifan membuka lemarinya dan menyimpan jasnya ditempatnya, Yifan melirik kearah sudut lemarinya dan dia melihat kardingan abu-abu Hyojin.

Dia menyuruh pembantu di apartemennya untuk tidak menyentuh kardigan Hyojin, Yifan tersenyum tipis saat dia mengingat kalau pembantunya bertanya kenapa ada kardigan wanita di lemarinya. Yifan mengatakan kalau pembantunya tidak boleh menyentuh atau memindahkan kardigan itu apalagi mencucinya, dia ingin harum tubuh Hyojin tetap menempel pada kardigan itu.

Tangan Yifan menyentuh kain wol kardigan Hyojin, dia menarik kardigan itu dan menghirupnya aroma tubuh Hyojin masih melekat pada kain kardigan Hyojin dan Yifan suka itu. Dia merindukan kehadiran Hyojin disampingnya, Yifan membawa kardigan itu dan berbaring diranjangnya, dia meremas kain kardigan Hyojin dan memeluk kardigan itu seakan kardingan itu adalah tubuh Hyojin.

Entah sejak kapan dia memiliki kebiasaan ini, dia selalu bisa tidur jika dia memegang kardigan Hyojin namun jika dia tidak memegang kardigan itu dia selalu bermimpi buruk. Yifan mencoba menutup matanya, dia bahkan tidak mengganti bajunya siapa yang pedulikan? Tidak akan ada orang yang memarahinya jika dia tidur memakai baju kemeja dan celana kantornya.

[Kediaman Keluarga Jung 23:30PM]

    Hyojung membuka album foto-foto yang diambil saat mereka berlibur dijeju tahun lalu, dia masih bisa melihat kakaknya tersenyum dan berpose untuk foto. Hyojung tersenyum saat dia melihat foto kakaknya yang sedang memakan udang, Zhongren dan Yifan dibelakangnya tertawa melihat ekspressi Hyojin yang lucu.

Hyojung menghidupkan dvdnya dan memutar kaset video dia dan Hyojin saat mereka masih kecil, Hyojung bisa melihat wajah ibunya yang bertepuk tangan saat dirinya yang masih kecil meniup lilin di kue ulang tahunnya.

“Hyojung-ah!Hyojung-ah!” Suara Hyojin terdengar memanggil dan Hyojung kecil menatap kearah kakaknya yang memegang kamera.

“Eonni!” Hyojung tersenyum, bibirnya masih penuh dengan mentega dari kue yang dia makan.

“Eomma!Appa!” Hyojin memanggil dan kedua orangtua mereka melambaikan tangan mereka kearah kamera.

“Hyojin-ah, kau sudah makan kuenya?” Yunho bertanya, dia mengangkat tubuh Hyojin dan Hyojin membalikan arah kamera sehingga kamera merekam mereka berdua.

“Belum Appa, Appa ucapkan selamat ulang tahun untuk Hyojung.” Hyojin berkata dan Yunho menatap kearah kamera.

“Hyojung-ah selamat ulang tahun, semoga kau menjadi anak yang baik dan semakin pintar disekolah.. Appa dan Eomma menyayangimu.” Yunho berkata.

“Eonni juga menyayangimu!” Hyojin berkata, dia mencium pipi Yunho dan Yunho tertawa.

“Kau belum tidur?”

Hyojung yang mendengar suara Zhongren segera mematikan dvd nya dan meyeka airmatanya, dia berbalik dan menemukan Zhongren berdiri dibelakangnya. Hyojung tersenyum kearah Zhongren dan dia menutup album yang ada ditangannya, dia tidak ingin Zhongren khawatir lagi.

“Aku belum mengantuk..” Hyojung menjawab, dia bisa mendengar langkah kaki Zhongren mendekat kearahnya.

“Kau menagis lagi.” Zhongren berkata dia menyentuh pipi Hyojung yang basah.

“Tidak,aku hanya kelilipan.” Hyojung berbohong.

“Jangan bohong padaku Hyojung!” Ucap Zhongren tegas.

“Oppa, kau tak usah khawatir..” Hyojung berkata dan Zhongren menarik tangan Hyojung.

“Bagaimana aku tidak khawatir? Kau semakin kurus setiap hari..kau tidak mau makan dan selalu murung.” Zhongren berkata dia menyentuh pipi Hyojung.

“Oppa aku..”

“Kenapa kau kembali seperti dulu? Bukankah sekarang kau memiliki aku? Kau bisa membagi rasa sakitmu bersamaku.” Zhongren berkata dan Hyojung hanya diam.

“Aku kekasihmu Hyojung, aku bukan temanmu..kau bisa membagi apapun yang kau rasakan denganku, apakah begitu susah bagimu untuk membuka hatimu untukku? Apa kau tidak percaya padaku?” Zhongren menatap kearah Hyojung dan Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Aku..aku hanya takut.” Hyojung berkata dia meremas tangan Zhongren.

“Aku sendirian Oppa, aku tidak tahu harus bagaimana.” Hyojung menangis agi.

“Kau tidak sendirian Hyojung-ah, kau tahu aku dan Yongguk Hyung ada untukmu jika kau masih merasa sendirian apa kau ingin Yifan Hyung kesini juga?” Zhongren bertanya dan Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Tidak Oppa, aku tetap akan mersa sendirian..” Hyojung menyeka airmatanya.

“Jangan sepeti itu, kau sudah menangis terlalu banyak..Hyojin Noona tidak akan suka jika dia tahu kau seperti ini.” Zhongren mengelus pipi Hyojung.

“Aku hanya sedih, kenapa Eonni harus meninggalkanku.” Hyojung mengungkapkan.

“Semua orang akan meninggal pada akhirnya Hyojung-ah, kau harus menerima kenyataan itu..kau harus kuat, kau tidak ingin membuat kedua orangtuamu juga Hyojin noona sedihkan?”

Zhongren benar dan Hyojung mengangguk, dia tidak pernah ingin membuat kedua orangtua apalagi kakaknya menangis. Dia ingin melihat kedua orangtuanya bahagia disana begitu juga dengan Hyojin kakaknya, Hyojung mendekat kearah Zhongren dan memeluk lelaki itu.

“Maaf aku membuatmu selalu khawatir, aku tahu aku sangat manja dan rewel jadi aku mohon bersabarlah denganku.” Hyojung berkata dan Zhongren tersenyum, dia memeluk Hyojung kembali dan mencium kepala Hyojung.

“Aku selalu bersabar untukmu.” Zhongren berkata dan dia memeluk gadis itu dengan erat.

“Mulai besok aku akan mencoba untuk makan secara teratur, aku mungkin belum bisa tersenyum tapi aku akan mencobanya.” Hyojung berkata dan Zhongren mengangguk.

“Besok aku akan pergi kekampus dan mulai belajar lagi.” Hyojung melanjutkan dan Zhongren melepaskan pelukannya dari Hyojung.

“Kau haus berjanji untuk tidak menangis lagi, itu yang aku butuhkan.” Zhongren berkata dan Hyojung hanya terdiam, dia tidak bisa berjanji untuk tidak menangis lagi dia masih sedih tentu saja dia akan menangis.

“Hyojung-ah, bisakah kau berjanji padaku untuk berhenti menangis?” Zhongren bertanya dengan lembut namun Hyojung tetap diam.

“Kalau begitu, bisakah kau mencoba untuk berhenti menangis?” Zhongren bertanya sekali lagi dan kali ini Hyojung mengangguk.

“Aku akan mencoba.” Hyojung berkata dan dia tersenyum tipis kearah Zhongren.

“Lihat kau, kau sangat cantik saat kau tersenyum…” Zhongren memuji dan Hyojung hanya tersenyum manis kearah kekasihnya itu.

“Andai kau bisa tersenyum seperti itu setiap hari sekarang, aku akan sangat bahagia.” Zhongren berkata dia mendekat dan mengecup bibir Hyojung singkat.

“Apa yang harus aku lakukan agar senyum itu tetap ada dibibirmu?” Zhongren berbisik.

“Tetaplah ada disampingku, jangan pernah pergi..” Hyojung menjawab dan dia mencium kembali Zhongren.

Zhongren tersenyum dalam ciuman mereka, dia mencium kembali Hyojung penuh dengan hasrat. Bibir mereka bersentuhan dan Hyojung bisa merasakan hangatnya mulut Zhongren, Zhongren menarik dagu Hyojung sedikit membuat gadis itu membuka mulutnya membiarkan Zhongren mendominasi ciuman mereka.

Hyojung melingkarkan tangannya dileher Zhongren dan Zhongren mengangkat tubuhnya seakan dia adalah pengantin, Hyojung tertawa saat Zhongren mengangkat tubuhnya.

“Kau akan membawaku kemana?” Tanya Hyojung dan Zhongren mulai menaiki tangga menuju kamar Hyojung.

“Kekamarmu, ini sudah malam..kau seharusnya sudah tidur.” Zhongren berkata dan Hyojung menyandarkan kepalanya didada Zhongren.

“Kau benar Oppa, aku ngantuk.” Hyojung menguap dan Zhongren tersenyum, dia akhirnya sampai dikamar Hyojung dan dia membuka pintu kmaar gadis itu.

Zhongren menidurkan Hyojung diranjangnya, dia menyelimuti gadis itu dan mencium dahi Hyojung sebelum dia mengatakan selamat tidur pada gadis itu. Hyojung tersenyum dan dia memejamkan matanya saat dia melihat Zhongren menutup pintu kamarnya, malam itu Hyojung bisa tidur dengan nyenyak tidak seperti beberapa malam yang lalu.

[Rumah sakit, Gwangju – Korea 08:50 AM]

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Luhan, dia menatap kearah Kyungsoo yang duduk dibangku meja kerjanya.

“Kau ingin membawa Hyojin kerumahmu?tapi kenapa? Apa pelayanan disini kurang memuaskan?” Tanya Kyungsoo.

“Bukan seperti itu Kyungsoo, dia bilang padaku kalau dia bosan disini.” Luhan menghela nafasnya.

“Oh..” Kyungsoo merespon.

“Baiklah, kau bisa membawa pulang dia tapi kau harus berjanji untuk membawa dia terapi kerumah sakit, kau tahu terapi dia belum selesai dia belum bisa menulis dengan baik.”Kyungsoo berkata dan Luhan mengangguk.

“Kau tak usah khawatir, aku akan membawanya kesini rutin.” Luhan menepuk bahu Kyungsoo dan Kyungsoo tersenyum.

“Aku harap dia lebih bahagia dirumahmu,aku tahu dia pasti bosan terus berada disini.” Kyungsoo berpendapat.

“Begitulah, aku hanya ingin dia bahagia.” Luhan tersenyum tipis.

“Kau pasti sangat mencintai Hyojin iyakan?” Kyungsoo mengangkat alisnya dan Luhan hanya tersenyum penuh misteri.

“Aishh..aku hanya memberi peringatan, sebaiknya kau tidak terlalu mencintainya, kau tahu jika Hyojin akhirnya sadar apa yang terjadi dia tidak akan senang.” Kyungsoo berkata dan senyum Luhan hilang.

“Nikmatilah waktumu bersama dia, buatlah dia bahagia.” Kyungsoo menepuk bahu Luhan dan pergi meninggalkan lelaki itu.

Luhan memasukan tangannya disaku celana jeansnya, dia membuka ruangan Hyojin dan dia mendapati gadis itu sedang duduk di kursi rodanya menyisir rambut coklat pendeknya. Rambut pendeknya yang baru terlihat sangat cocok untuknya, Luhan bisa melihat leher jenjang  Hyojin dan tersenyum.

Dia mendekat dan memeluk gadis itu dari belakang membuat Hyojin tersenyum, Luhan mengistirahatkan kepalanya di ceruk leher Hyojin dan mencium leher gadis itu, Hyojin tertawa saat dia merasakan bibir hangat Luhan menyentuh kulit lehernya.

“Ada apa? Kenapa kau terlihat murung?” Hyojin bertanya dia menyentuh pipi Luhan, mereka terlihat serasi sekali saat Hyojin melirik kearah kaca besar yang ada diruangannya.

“Aku punya berita bagus, bagaimana aku terlihat murung?” Luhan bertanya.

“Oh ya? Berita apa?” Hyojin bertanya penasaran.

“Kita akan pulang kerumahku sekarang.” Luhan menjawab dan mata Hyojin melebar dia berbalik.

“Benarkah? Jangan bohong Luhan..”

“Iya, apa kau tidak percaya padaku?”Luhan tersenyum dan Hyojin langsung memeluknya penuh kebahagiaan.

“Yey! Aku akhirnya aku pergi dari sini.” Hyojin berkata dia tersenyum lebar dan memeluk Luhan erat.

Luhan melepaskan pelukan mereka berdua,Luhan menatap kearah Hyojin dan dia menyelipkan rambut Hyojin ketelinga gadis itu.

“Apa kau bahagia sekarang? Sebaiknya kau bereskan semua bajumu, aku akan membantu.” Luhan berkata dan Hyojin mengangguk penuh semangat.

Hyojin langsung mengambil koper yang ada dilemari ruangannya, dia membereskan baju-bajunya dan memasukannya kedalam koper. Luhan yang membantu membereskan buku-buku Hyojin terkejut saat dia melihat sebuah buku diary, Luhan melirik kebelakang dan dia melihat Hyojin masih sibuk membereskan bajunya.

Luhan membuka buku diary Hyojin dan dia bisa melihat tulisan Hyojin dihalaman pertama buku diarynya, dia membuka halaman pertama diary dihalaman itu tertulis kalau Hyojin merasa kebingungan saat dia pertama bangun dari komanya.

Hyojin menulis kalau dia sangat bahagia saat dia membuka matanya pertamakali, namun dia sedih saat dia melihat wajahnya dibalut oleh perban. Hyojin merasa kebingungan dengan situasi yang dia hadapi dia tidak bisa mengingat apapun, namun dia menulis saat dia melihat wajah Luhan dia tahu kalau Luhan adalah orang yang menyelamatkannya.

“Apa yang kau baca Luhan?” Suara Hyojin mengagetkan Luhan, dia segera menutup buku diary Hyojin dan menyembunyikannya didalam tumpukan buku latihan Hyojin.

“Bukan apa-apa, aku hanya melihat buku latihanmu.” Luhan tersenyum menyembunyikan kepanikannya.

“Aku sudah membuat kemajuankan? Suster Kim bilang tulisanku sudah bagus sekarang.” Hyojin berkata dan Luhan mengangguk.

“Benar, sepertinya sebentar lagi kau akan sembuh.” Luhan berkata dan Hyojin mengangguk.

“Aku harap begitu, aku ingin segera mengingat semuanya.” Hyojin menghela nafasnya.

“Kau tak usah khawatir, kau bisa mengingat semuanya suatu hari nanti.” Luhan menghibur dia memasukan buku-buku Hyojin kedalam koper gadis itu.

“Aku harap begitu, Luhan..bagaimana jika aku tidak pernah bisa mengingat semuanya?apakah kau akan terus ada disampingku?” Hyojin bertanya dengan suara yang lemah, Luhan menyentuh bahu Hyojin.

“Aku akan selalu ada disampingmu, kau tak usah khawatir.” Luhan menenangkan dan Hyojin tersenyum.

“Terimakasih, aku tidak tahu apa ang harus aku lakukan tanpamu.” Hyojin mendekat dan memeluk Luhan.

“Sama-sama, aku bahagia bisa membantumu.” Luhan mencium kepala Hyojin.

“Luhan, kita akan pergi kemana sekarang?apa kita akan kembali kerumah ayahmu yang ada di Seoul?” Hyojin bertanya.

“Ya, kita akan tinggal disana sebelum aku menemukan rumah untukmu.” Luhan menjawab.

“Untukku?kau tidak akan tinggal bersamaku?” Hyojin bertanya, dia terdengar sedikit sedih.

“Hyojin-ah..”

“Tidak apa-apa, kau bisa tinggal bersamaku..lagipula kita sudah berpacarankan? Aku tidak keberatan.” Hyojin menjawab dia melepaskan pelukannya dari Luhan.

“Aku tidak ingin tinggal sendirian, tinggal sendirian itu..terlalu sepi untukku.” Hyojin menunduk sedih.

Luhan tersenyum pahit saat dia melihat Hyojin bersedih, dia mendekat dan mengecup dahi Hyojin.

“Kau tidak sendiri Hyojin-ah, ada aku, Kyungsoo, Ayahku dan Eunjo yang peduli padamu.” Luhan berkata dan Hyojin tersenyum tipis.

“Aku tahu..” Hyojin menjawab, dia melirik kearah kopernya.

“Apakah kita harus memberskan pakaianku sekarang?” Hyojin melanjutkan melipat pakaiannya dan Luhan membantunya.

[Perusahaan Jung, Korea selatan – 09:00AM]

    Yuri memasukan semua peralatan tulis Hyojin kedalam sebuah box, dia menangis saat dia melihat foto yang ada dimeja Hyojin. Foto itu adalah foto saat semua pegawai mengadakan acara mendak kegunung Jirisan, ditengah-tengah semua pegawai dia bisa melihat Hyojin dan Hyojung yang berpose begitu juga dirinya dan Taeyeon yang berdiri tidak jauh dari kedua saudara itu.

Yuri mengelus foto itu dan memasukannya kedalam box, dia lalu memasukan beberapa buku milik Hyojin yang masih tertinggal dikantornya. Selama tiga bulan ruangan ini tidak pernah dimasuki oleh siapapun, tetap tertutup rapat karena semua pegawai masih terkejut dengan kematian Hyojin.

Hyojin masih muda itulah alasan kenapa semua pegawai terkejut sekali saat mendengar kalau Hyojin meninggal karena kecelakaan mobil, Yuri langsung menangis saat dia ingat foto mobil Hyojin yang terbakar hangus dan hancur.

Taeyeon kelihatannya sama terkejutnya dengan dia namun gadis itu tidak menitikan setets airmatapun saat dia tahu kalau Hyojin meninggal, dia bahkan langsung menghibur Hyojung saat gadis itu menangisi makam kakaknya. Taeyeon mungkin wanita yang paling tegar yang Yuri pernah kenal, padahal gadis itu cukup dekat dengan Hyojin Yuri pernah melihat mereka berdua mengobrol akrab.

Yuri memasukan lagi sebuah bingkai foto yang ada dimeja Hyojin, kali ini difoto itu hanya ada seorang lelaki tampan yang memiliki rambut pirang. Yuri tersenyum saat dia mengenali sosok lelaki itu, lelaki itu adalah Wu Yifan Yuri mengenal lelaki itu karena Hyojin mengenalkannya saat acara dinner gala beberapa bulan yang lalu sebelum direkturnya itu meninggal.

“Permisi..” Suara seorang lelaki mengagetkan Yuri, Yuri segera menyeka airmatanya dan melirik kearah pintu.

“Ah Yuri-shi, aku kira kau siapa..” Yuri terkejut saat dia melihat sosok Yifan berdiri diambang pintu.

“Hwajang-nim apa yang anda lakukan disini?” Tanya Yuri.

“Aku hanya akan menggambil semua peralatan Hyojin, adiknya terlalu sibuk kuliah jadi aku yang akan membawanya.” Yifan mengungkapkan dan Yuri mengangguk.

“Oh begitu, baiklah…Jung Hwajang-nim hanya memiliki beberapa barang yang tertinggal.” Yuri segera membereskan smua peralatan Hyojin dan setelah dia selesai dia menutup box yang ada didepannya.

“Hanya ini saja?” Tanya Yifan dan Yuri mengangguk.

“Ya, dia tidak memiliki banyak barang yang tertinggal.” Yuri menjawab.

Yifan mengambil box itu dan tersenyum kearah Yuri.

“Terimakasih sudah membereskan kantor Hyojin.” Yifan berkata dan Yuri tersenyum.

“Sama-sama Hwajang-nim, lagipula aku sudah lama tidak masuk kekantor ini..aku sedikit merindukan Jung Hwajang-nim.” Yuri berkata dia mengelus meja Hyojin.

“Aku juga Kwon biseo-nim, aku juga..” Ucap Yifan, Yuri hanya tersenyum pahit dia ingin menangis namun dia tidak bisa.

“Aku harap kau menemukan wanita yang lebih baik dari Jung hwajang-nim.” Yuri berkata dan Yifan mengangkat bahunya.

“Aku rasa tidak akan, dia yang terbaik untukku..aku mungkin menemukan penggantinya namun tidak pernah sama seperti Hyojin.” Yifan menjawab dan Yuri mengangguk.

“Apapun yang membuatmu bahagia Hwajang-nim.” Yuri tersenyum dan Yifan menunduk sekilas berpamitan pada Yuri.

“Sampai jumpa lagi, Kwon biseo-nim.” Yifan berpamitan danberbalik pergi keluar dari ruangan Hyojin sambil membawa peralatan Hyojin.

“Tuhan, kuatkanlah Yifan Hwajang-nim..” Yuri berdoa, dia kasihan sekali saat dia melihat Yifan begitu pucat dan kantung mata lelaki itu terlihat menghitam mungkin kurang tidur.

Yifan terlihat berantakan sekali, rambut pirangnya mulau panjang dan wajahnya selalu muram setiap saat dia hanya tersenyum saat dia melihat pegawai atau atasannya lewat. Yifan bahkan tidak mencukur kumisnya, membuat Yixing ,memaksanya untuk mencukurnya atau Yixing sendiri yang akan melakukannya untuk dia.

Yixing tersenyum saat dia melihat Yifan keluar dari gedung perusahaan Jung, dia melihat atasanya itu membawa sebuah box coklat seperti apa yang dia katakan tadi sepertinya lelaki itu benar-benar akan membawa peralatan Hyojin.

“Kau benar-benar akan membawa semua peralatan Hyojin?” Yixing bertanya dan membuka bagasi mobil sedan Yifan untuk lelaki itu.

“Ya, aku tidak ingin mereka membuangnya begitu saja kalau aku tidak membawanya iyakan?” Yifan berkata dan Yixing mengangkat bahunya.

“Aku tidak peduli, sebaiknya kau simpan box itu dan pergi kekantor bersamaku..sebentar lagi rapat akan dimulai.” Yixing berkata dan Yifan menyimpan box yang dibawa olehnya kedalam bagasi mobilnya.

“Wow..aku tidak tahu kau semangat sekali untuk bekerja hari ini.” Yifan berkata penuh dengan nada sarkastik dan Yixing hanya memutar matanya.

“Masuklah, aku tidak ingin berdebat denganmu disini.” Yixing membuka pintu mobil sedan Yifan dan Yifanpun menurut lalu masuk kedalam mobilnya setelah dia menutup bagasi mobilnya.

“Apa kau gugup dengan hasil meeting nanti?” Yifan bertanya saat Yixing sudah masuk kedalam mobil.

“Sedikit, aku tahu kau akan memenangkan posisi tertinggi.” Yixing menjawab malas, dia menghidupkan mesin mobil Yifan dan menyetir.

“Kau terdengar sedikit kesal, apakah kau ingin Luhan yang sekarang ada diposisiku?” Tanya Yifan dan Yixing meremas setirnya.

“Siapapun yang akan menjadi pemimpin group barumu aku tidak peduli, yang jelas aku ingin yang terbaik untuk perusahaan Li.” Yixing menjawab.

“Oh..seperti yang aku kira, kau memang anak buah tuan Zhoumi yang paling setia Yixing.”  Yifan berkata dia melirik kearah jendela mobil.

“Cukup dengan sindirannya Yifan, bagaimana keadaan tanganmu?” Ucap Yixing.

“Kenapa semua orang begitu peduli pada tanganku? Tanganku baik-baik saja Yixing, bukankah kau seharusnya lebih khawatir pada keadaan Taeyeon kekasihmu?” Yifan menyeringai saat dia melihat Yixing merapatkan kedua bibirnya.

“Taeyeon baik-baik saja, kau yang sakit.” Timpal Yixing.

“Oh benarkah?aku senang kau peduli padaku Yixing, ngomong-ngomong bagaimana kabar Luhan? Aku belum menerima perminta maafan dari dia sampai sekarang.” Yifan berkata dia membenarkan lengan bajunya yang sedikit kusut.

“Dia baik-baik saja, aku minta maaf atas nama Luhan..dia sedikit keras kepala kau tahu itu.” Yixing menjawab dan Yifan menyeringai.

“Aku tidak butuh minta maafmu, kau tak usah meminta maaf.” Ucap Yifan.

[Kediaman keluarga Choi, Seoul – Korea selatan 10:00AM]

   Luhan menghentikan mobilnya dia melirik kearah Hyojin yang masih sibuk mengagumi rumah Siwon, Luhan tersenyum melihat betapa senangnya Hyojin yang akhirnya keluar dari rumah sakit.

“Hyojin-ah, bagaimana? Apa kau suka rumah ayahku?” Tanya Luhan dan Hyojin melirik kearah Luhan penuh dengan senyuman.

“Ya, rumah ayahmu besar sekali.” Hyojin berkomentar dan Luhan mengangguk.

“Ya, terlalu besar untuk kami bertiga.” Luhan menyetujui.

“Ayo kita masuk, Appa pasti sudah menunggu kita aku akan mengambil kursi rodamu dulu” Luhan berkata dia turun dan mengambil kursi roda Hyojin dari bagasi mobilnya.

Seorang pelayan yang melihat sosok Luhan keluar dari mobil segera menyambut tuan muda itu dan membantunya untuk membawa kursi roda Hyojin, Luhan membuka pintu mobil dan membantu Hyojin agar duduk dikursi rodanya.

“Luhan..Hyojin!” Sosok Siwon datang dia tersenyum melihat kedua orang itu.

“Aku tidak menyangka kalian akan datang secepat ini, aku dan Eunjo belum beres menyiapkan makanan untuk kalian.” Siwon berkata dan Luhan tersenyum.

“Appa kau tak usah repot-repot.” Ucap Luhan.

“Aigoo,bagaimana keadaanmu Hyojin-ah apa sudah baikan?” Siwon menunduk mengelus kepala Hyojin.

Nde, abeonim..” Hyojin menjawab dan Siwon tersenyum.

“Jangan panggil aku seperti itu, panggil juga aku Appa,aku tidak suka kalau kau terlalu formal.” Ucap Siwon dan Hyojin mengangguk.

“Iya Appa.” Hyojin menyetujui dan dia tersenyum.

“Omo..kau semakin cantik Hyojin-ah, pantas saja Luhan tergila-gila padamu.” Siwon menggoda dan Luhan memukul lengan ayahnya pelan lalu mereka bertiga tertawa sedangkan pipi Hyojin memerah mendengar pujian Siwon.

“Appa, cukup..kau membuat Hyojin dan aku malu.” Luhan berkata.

“Ayo kita masuk, Eunjo sudah menunggu kita.” Siwon mendorong kursi roda Hyojin dan Luhan mengikuti langkah ayahnya masuk kedalam rumahnya.

Rumah Siwon masih seperti saat terakhir dia mengunjungi rumah itu, Hyojin mendongak dan dia bisa melihat lampu Kristal yang bagus sekali menggantung diatas langit-langi rumah Siwon. Hyojin bisa melihat foto Eunjo dan Siwon terpampang didinding, dia juga menemukan foto Luhan dan Eunjo juga didekat foto Eunjo dan Siwon.

“Apakah Eunjo sudah lulus SMA sekarang?” Tanya Hyojin.

“Ya dia sudah lulus beberapa bulan yang lalu.” Siwon menjawab, Hyojin menatap kearah foto Eunjo dan Luhan yang ada di dinding entah kenapa dia merasa sangat familiar sekali dengan foto itu.

******

“Eonni! Aku lulus dengan nilai yang memuaskan!” Hyojin tersenyum saat dia mendengar suara diseberang teleponnya.

“Bagus, aku akan kesana …-ah” Hyojin berkata, Hyojin bisa mendnegar suaranya namun dia tidak bisa mendengar nama siapa yang dia sebut.

Hyojin melihat sesosok lelaki pirang yang biasa dia lihat dalam bayangannya muncul lagi, lelaki itu membuka pintu mobil sedannya. Hyojin mendekat lalu mencium bibir lelaki itu sekilas lalu masuk kedalam mobilnya, Hyojin merasa bahagia sekali namun tetap dia tidak bisa melihat wajah lelaki itu.

Mereka mengobrol sepanjang jalan namun Hyojin tidak bisa mendnegar percakapannya dengan lelaki itu, dia seakan sedang melihat film bisu tak ada suara yang bisa dia ingat. Dia hanya bisa melihat mulutnya bergerak dan lelaki itu menatap kearahnya, Hyojin mencoba mengingat wajah lelaki itu namun selalu gagal.

*****

“Hyojin-ah..” Hyojin langsung sadar dari lamunannya dan melirik kearah Siwon yang menguncangkan bahunya.

“Kenapa?apa kau sedang memikirkan sesuatu?” Siwon bertanya dan Hyojin tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, aku hanya..aku hanya sedikit lelah.” Hyojin berbohong.

“Kau istirahat saja, ini kamarmu sekarang.” Siwon membuka pintu kamar Hyojin.

Hyojin bisa melihat ruangan yang sangat rapih dengan cat coklat dan putih yang sangat serasi, sebuah ranjang dengan ukuran queen size yang dibalut oleh seprei coklat dan putih juga  di samping kanan ranjangnya ada sepasang jendela yang cukup besar sehingga dia bisa melihat halaman belakang rumah Siwon yang indah.

Siwon mendorong kursi roda Hyojin agar gadis itu bisa menikmati kamarnya, Hyojin tersenyum saat dia melihat foto dia dan Luhan ada dimeja cerminnya yang berjarak tidak jauh dari lemarinya.

“Appa, apakah kau yang menyimpan foto ini disini?” Hyojin bertanya dan Siwon mengangguk.

“Ya,Eunjo yang menyuruhku untuk mencetak foto itu..rambutmu masih panjang waktu itu kau juga terlihat lebih pucat namun kau cantik.” Siwon berkata.

“Terimakasih Appa, aku suka sekali bingkainya.” Hyojin berkata, dia menyentuh bingkai foto dia dan Luhan yang berwarna hijau dengan bunga dan daun disisinya.

“Kau tak usahberterimakasih padaku, berterimakasihlah pada Enjo nanti..dia pasti senang sekali melihatmu.” Siwon berkata.

“Sebaiknya kita keruang makan, Luhan dan Eunjo sepertinya sudah selesai menyiapkan meja makan.” Siwon menebak dan dia memutarkan kursi roda Hyojin setelah gadis itu menyimpan kembali foto dia dan Luhan.

Saat Siwon dan Hyojin sampai diruang makan mereka berdua bisa melihat Luhan dan Eunjo membantu pelayan untuk menyusun meja dan makanan, Eunjo tersenyum bahagia saat dia melihat sosok Hyojin.

“EONNI!” Dia berseru dan berlari memeluk Hyojin, Hyojin tersenyum dan memeluk Eunjo kembali.

“Eonni, bagaimana keadaanmu?baikan?” Tanya Eunjo da berlutut didepan Hyojin.

“Ya, aku sudah baikan sekarang.” Hyojin menyelipkan rambut Eunjo ketelinga gadis itu.

“Eonni,bagaimana kalau kita jalan-jalan nanti? Aku ingin membawa Eonni kesalah satu  toko bubble tea kesukaanku.” Eunjo berkata dan Hyojin mengangguk.

“Baiklah, kita akan pergi kesana nanti.” Hyojin menjawab.

“Eunjo, Hyojin masih lelah dengan perjalanannya bagaimana kalau besok saja?” Tanya Luhan bergabung dengan perakapan Eunjo dan Hyojin.

“Oh iya, kalau begitu besok saja Eonni.” Eunjo berkata dan Hyojin menganguk sambil tersenyum, Eunjo lucu sekali dengan tingkah manjanya.

“Terserah kau Eunjo-ya.”Ucap Hyojin.

“Baiklah ayo kita makan, Luhan bantu Hyojin untuk duduk di kursi.” Siwon memerintah.

Luhan dan Eunjo membantu Hyojin untuk duduk dikursi meja makan, setelah itu Luhan duduk disamping Hyojin dan Eunjo duduk disamping ayahnya. Mereka berempat mulai makan dan Siwon memuji masakan Eunjo yang enak, Luhan terkejut saat dia mendengar kalau Eunjolah yang memasak hampir sebagian besar makanan dimeja.

“Eomma sudah pergi sejak aku kecil, jadi aku belajar memasak untuk Appa.” Eunjo mengungkapkan, Siwon tersenyum bangga kearah Eunjo namun Luhan hanya menunduk sedih.

Hyojin memegang tangan Luhan dan Luhan tersenyum kearah Hyojin mereka melanjutkan makan mereka, Eunjo menceritakan kesehariannya dikampus gadis itu sangat semangat sekali saat dia menceritakan kelas biologi yang dia ikuti. Eunjo ternyata ingin menjadi dokter saat dia sudah lulus nanti, dia ingin membangun sebuah rumah sakit dan itu disambut dengan baik oleh Siwon.

Hyojin hanya diam mendengarkan percakapan Siwon dan Eunjo juga Luhan, mereka bertiga tertawa dan bercanda seperti keluarga yang sangat dekat namun entah kenapa Hyojin merasa terasingkan. Dia merasa kalau dia sendirian, apalagi saat dia melihat Luhan tertawa mendengarkan lelucon Siwon dan tak melirik kearahnya sedikitpun.

Mungkin inilah rasanya sendirian, walaupun kau di kerumuni oleh orang yang mencintaimu dan peduli padamu kau tetap merasa sepi.

[Perusahaan Li, Seoul – Korea selatan 02:30PM]

“Selamat tuan Wu.”

“Yifan, selamat!”

“Semoga kau sukses memimpin group baru mu Wu Yifan-shi.”

Semua direktur dan pemegang saham menyemangati Yifan dia tersenyum dan membungkuk hormat kepada semua orang yang telah memilihnya sebagai direktur utama, suara tepuk tangan terdengar riuh menyambutnya saat Yifan membungkuk lalu dia kembali berdiri tegap.

“Saya ingin mengucapkan terimakasih atas kepercayaan semua direktur berikan pada saya dan pemegang saham juga, terimakasih banyak saya akan bekerja keras dan tidak akan mengecewakan kalian semua.” Yifan berkata dia membungkuk lagi.

“Saya resmikan kalau hari ini perusahaan Li dan Jung textile berubah menjadi Guangde group.” Yifan mengumumkan, tepuk tangan langsung riuh terdengar.

Yixing yang duduk disudut ruangan hanya bisa menatap kesal kearah Yifan, yang seharusnya berdiri ditempat itu sekarang adalah Luhan bukan dia. Yifan yang melihat Yixing menatap kearahnya tersenyum dan melambaikan tangannya, Yixing mendengus dan berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruang meeting.

Yifan masih menikmati kemenangan nya dan dia disambut oleh beberapa direktur yang ingin mengobrol dengannya, mereka bercakap-cakap membahas tentang misi dan visi mereka yang baru untuk group yang dia bangun.

Yixing memukul wastafel yang ada di toilet laki-laki, dia masih merasa kesal dengan kemenangan Yifan dia benar-benar marah saat semua direktur melupakan Luhan dan memilih Yifan sebagai pemimpin baru mereka. Dasar tidak tahu terimakasih, Yixing berpikir padahal sebagian besar direktur itu pernah di tolong oleh Luhan dan mereka tahu betapa besarnya potensi Luhan.

Yixing menghidupkan air di wastafel dan mencuci mukanya dia hanya ingin pulang dan mungkin meminum beberapa gelas wine untuk menenangkan dirinya sendiri, dia menyeka air diwajahnya dengan tissue yang ada disamping wastafel.

“Kau sepertinya tidak terlalu senang dengan kemenangan Wu Yifan.” Suara lelaki mengejutkannya dan dia berbalik kebelakang menemukan sosok Zitao berdiri dibelakangnya.

“Zitao? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yixing.

“Menyelesaikan misi terakhirku.” Zitao berkata dia menyeringai.

“Misi terakhirmu?” Tanya Yixing kebingungan.

Zitao mendekat dan dia mata Yixing melebar saat dia merasakan sesuatu menusuk perutnya, cairan hangat terasa menetes kesepatunya dan tangannya.

“Maaf Yixing ge, aku harus menyingkirkanmu dan Luhan seperti yang tuan Zhoumi katakan.” Zitao berbisik dia menusuk Yixing lebih dalam dan Yixing mengerang kesakitan.

“Selamat tinggal, temui aku dineraka nanti.” Zitao berbisik lagi dia mencabut pisaunya dan pergi membiarkan Yixing ambruk kelantai.

Yifan yang baru saja selesai berbincang kebingungan saat dia tidak menemukan Yixing diruang meeting, Yifan pamit dulu kepada semua direktur dan pemegang saham dan keluar dari ruang meeting.

Saat dia sampai di lorong kantor dia melihat sosok berambut hitam dan memakai mantel coklat berjalan menjauh dari Wc, Yifan merasa sedikit familiar dengan sosok itu namun dia mengacuhkannya dan mencari Yixing. Yixing tidak ada dikantornya saat dia mencari dan diapun harus mencari ketempat lain, dia memilih untuk mencari Yixing di Wc dan dia terkejut saat dia melihat Yixing tergeletak dilantai toilet.

“Yixing! Apa yang terjadi?” Yifan panik dan dia mendekat kearah Yixing, Yixing sudah pucat dan darah tetap keluar dari luka diperutnya.

“Yixing!Yixing!” Yifan memanggil dan menepuk-nepuk pipi Yixing berharap lelaki itu membuka matanya namun hasilnya nihil.

Yifan segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor darurat dan menunggu seseorang menolongnya, dia kahwatir sekali saat dia melhat darah yang banyak keluar dari luka Yixing.

Yifan membuka jasnya dan menekan luka Yixing agar pendarahan Yixing berhenti, dia menekah Luka Yixing lebih keras berharap kalau Yixing akan merespon namun tetap saja lelaki itu menutup matanya tidak sadarkan diri.

*****

   Beberapa petugas kesahatan datang mereka langsung mengangkat Yixing keatas brankar yang sudah mereka bawa, Yifan mengikuti brankar Yixing dan semua orang dikantor langsung berbisik-bisik melihat kemeja Yifan berlumuran darah Yixing.

Yixing langsung dibawa kedalam mobil ambulance yang sudah menunggu, Yifan hanya bisa memegang tangan Yixing penuh dengan kecemasan saat petugas kesehatan membuka baju Yixing untuk melihat luka Yixing.

Luka Yixing ternyata sangat dalam dan lebar, petugas kesehatan harus menunggu dokter untuk menangani luka Yixing karena mereka takut melakukan kesalahan. Beruntung bagi Yixing lelaki itu masih bernafas meskipun darah masih keluar dari lukanya, Yifan mendekat kearah Yixing saat lelaki itu sadar.

“Yixing, apa yang terjadi?kenapa kau bisa seperti ini?” Yifan bertanya ditengah-tengah kepanikannya.

Yixing membuka mulutnya hendak menjawab namun suaranya hilang, Yifan mendekat kearah Yixing dan matanya melebar saat dia mendengar nama yang Yixing bisikan ketelinganya.

“Huang Zitao..” Yixing berbisik dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Para petugas kesehatan langsung panik saat mereka melihat Yixing tidak sadarkan diri lagi, mereka mengecheck detak jantung Yixing. Detak jantung Yixing behenti dan mereka segera melakukan CPR dan rangsangan detak jantung, Yifan yang melihat itu panik dia memanggil nama Yixing berkali-kali namun petugas kesehatan mendorong Yifan untuk menjauh.

Beberapa menit berlau mereka sampai dirumah sakit, mereka mendorong brankar Yixing dan berlari dengan cepat menuju ruangan gawat darurat. Yifan menunggu diluar karena dia tidak bisa masuk, dia duduk di bangku dekat ruang gawat darurat dia menghubungi Taeyeon.

Taeyeon terdengar panik saat Yifan mengatakan kalau Yixing sekarat, Yifan juga tidak lupa menghubungi Luhan dan Luhan terdengar terkejut saat dia mendengar alasan kenapa Yifan menghubunginya. Yifan mengusap wajahnya, kemejanya masih berlumuran darah Yixing dia belum mengerti sebenarnya apa yang terjadi.

Semuanya terjadi begitu cepat, padahal beberapa menit yang lalu dia melihat Yixing duduk disudut ruangan melihat dia berpidato dan sekarang lelaki itu ada diruang gawat darurat. Yifan menunggu dan menunggu, waktu terasa berjalan sangat lambat saat dia cemas seperti ini.

Seorang dokter akhirnya keluar berbarengan dengan Taeyeon yang baru sampai dirumah sakit, dia tidak sadar kalau Yixing sudah setengah jam didalam ruang unit gawat darurat. Taeyeon mendekat dan dia meremas tangan Yifan saat dia melihat ekspressi kelam sang dokter, Yifan dan Taeyeon mendekat kearah dokter itu.

“Dokter bagaimana keadaan Yixing?” Tanya Yifan.

“Oh kau pasti yang membawa saudara Yixing?” sang dokter bertanya dan Yifan mengangguk.

“Maaf, kami sudah melakukan segala cara untuk menyelamatkan saudara Yixing..namun dia tidak tertolong pendarah di organ dalamnya terlalu hebat dan dia kehilangan terlalu banyak darah.” Sang dokter memberi penjelasan dan Taeyeon langsung menangis mendengar penjelasan itu.

“J-jadi Yixing meninggal dok?” Tanya Yifa, suaranya gemetar karena dia menahan tangisnya.

“Ya, maafkan kami tuan Yifan..kami sudah berusaha kami turut berduka cita.” Sang dokter mengungkapkan dia menyentuh bahu Yifan dan pergi berlalu.

“Tidak…tidak mungkin! Kenapa semua ini terjadi.” Taeyeon berkata dan Yifan menyentuh bahu Taeyeon.

“Taeyeon,tenanglah.”

“Yifan! Apa yang terjadi?kenapa Yixing bisa berdarah?!” Taeyeon marah dia masih menangis.

“A-aku..aku juga tidak tahu, saat aku menemukannya dia sudah tidak sadarkan diri sepertinya seseorang menusuknya.” Yifan menjawab dan Taeyeon mengusap kepalanya masih tidak percaya.

“Kenapa kau meninggalkan dia sendiri?! Kau selalu bersamanya!” Taeyeon membentak.

“Dia tidak bilang kemana dia akan pergi, apa kau ingin aku mengikutinya seperti babysitter?” Yifan balik membentak.

“Kau membenci dia iyakan? Kau ingin membunuh dia?!” Taeyeon menuduh dan dia memukul dada Yifan.

“Apa maksudmu?! Aku tidak pernah ingin membunuh dia! Aku peduli pada Yixing.” Yifan membalas dan Taeyeon mendengus saat dia mendengar perkataan Yifan.

“Bohong!bohong! kau membencinya aku tahu itu! Kau ingin menyingkirkan dia dan Luhan iyakan?” Taeyeon memfitnah, Yifan yang kesal menarik tangan Taeyeon dengan keras dan menampar wajah gadis itu.

    Luhan yang baru sampai terkejut melihat itu, dia terkejut saat Yifan begitu saja melayangkan tangannya dan menampar Taeyeon. Luhan marah dan berlari mendorong Yifan sampai dia tersungkur kelantai, Luhan melirik kearah Taeyeon dan melihat pipi Taeyeon merah karena tamparan Yifan.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Luhan dan Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Dengar! Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menyentuh Taeyeon dan Yixing! Bagaimana keadaan Yixing sekarang?” Luhan bertanya.

“Luhan..Yixing..dia..” Taeyeon ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya.

“Ada apa dengan Yixing?apa yang terjadi?” Luhan bertanya.

“Dia meninggal, seseorang menusuknya.” Yifan mengungkapkan, Luha langsung membeku mendengar apa yang Yifan katakan.

“Apa?tidak mungkin..” Luhan berkata dan Taeyeon langsung menyentuh lengan Luhan.

“Luhan aku tahu ini berat, tapi ini kenyataan..” Taeyeon berkata, Luhan melirik kearahnya degan mata yang berkaca-kaca.

“Tidak mungkin, Taeyeon-shi katakan kalau semua ini bohong..” Luhan menyentuh bahu Taeyeon.

“Maafkan aku Luhan, tapi semua ini nyata.”

Luhan langsung ambruk kelantai saat dia mendengar jawab Taeyeon, airmatanya langsung turun dan dia menangis. Taeyeon berlutut didepannya dan memeluk Luhan dengan erat, Luhan memeluk Taeyeon dan dia menyembunyikan tangisannya diceruk leher wanita itu.

Yifan hanya bisa menonton Luhan menangis, dia hanya bisa berdiri disana seperti seorang yang idiot. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki semua ini, satu-satunya hal yang Yixing tinggalkan untuk dia hanyalah nama Zitao dan dia harus mencari lelaki itu untuk mendapatkan konfirmasi.

Beberapa suster keluar mendorong brankar dan Luhan melirik kearah kedua suster itu dia mendekat kearah brankar yang kedua suster itu dorong, Luhan meminta ijin untuk membuka kain putih yang menutupi mayat yang ada diatas brankar itu dan dia mendapatkan ijin kedua suter itu.

Luhan membuka perlahan kain putih itu, dia bisa melihat wajah pucat Yixing dan dia kembali menangis. Begitu menyakitkan saat dia melihat Yixing yang biasanya berexpressi kini hanya tergeletak kaku dan tidak bernyawa, Luhan menyentuh wajah dingin Yixing dan dia mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya.

“Selamat tinggal Xingxing..aku menyayangimu.” Luhan berkata, airmata masih menetes membasahi pipi pucat Yixing, Taeyeon yang melihat dari belakang hanya bisa menahan tangisnya.

Luhan membiarkan kedua suster yang mendorong brankar membawa jasad sepupunya kekamar mayat, Dia memeluk Taeyeon saat gadis itu kembali menangis. Yifan benci dengan kematian, dia benci karena semua orang selalu menangis dan dia yang harus kuat untuk mereka.

Yifan menahan airmatanya, dia tidak bisa menangis jika dia melihat Taeyeon dan Luhan hancur seperti sekarang. Yifan mendekat kearah Taeyeon dan Luhan, dia hanya bisa menyentuh bahu Luhan memberikan lelaki itu semangat.

Yifan berjalan menjauh dari Luhan dan Taeyeon, dia tidak bisa terus mendnegar tangisan Taeyeon juga Luhan yang menyayat hati. Dia berjalan keluar dan angin sore menyambutnya, rambut pirang panjangnya tertarik kebelakang saat angin berhembus dengan kencang.

Yifan menghidupkan pematik apinya dan mengeluarkan rokoknya, diwaktu seperti ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya selain rokok. Dia sudah lama tidak merokok namun semenjak kepergian Hyojin dan Yixing sekarang dia merasa kalau rokok adalah satu-satunya obat yang bisa membuatnya sembuh, rokoklah yang bisa membuat dia lupa sejenak tentang kepergian Hyojin dan Yixing.

Yifan mengodok saku celananya dan mengeluarkan handphonenya, dia membuka kontak dihandphonenya. Dia tersenyum saat dia masih melihat nomor Hyojin masih ada didaftar kontaknya , dia tidak akan pernah menghapus nomor gadis itu sama seperti wajahnya nomor handphone gadis itu akan tertanam terus dipikiran dan hatinya.

Yifan menghubungi nomor Hyojin namun suara seorang operator mengatakan kalau nomor Hyojin tidak aktif, Yifan mengacuhkan suara operator itu dan bersikap seakan Hyojin akan mengangkat teleponya.

“Hyojin-ah..ini aku, dimanapun kau berada sekarang aku selalu merindukanmu aku harap kau baik-baik saja disana aku tidak sabar untuk menjemputmu.” Yifan berkata dan akhirnya airmata turun dari pipinya.

“Hyojin-ah,saranghae…jeongmal mani..saranghae.”

[Kediaman Choi, Seoul – Korea selatan 18:00PM]

  Hyojin menatap aneh kearah Eunjo yang menangis setelah dia menerima telepon, Siwon segera merebut telepon dari tangan Eunjo. Eunjo menangis dan menyandarkan kepalanya didada Siwon, Siwon mencengkram telepon saat dia mendengar suara ditelepon.

Hyojin tidak tahu siapa yang menelepon, dia hanya bisa menunggu sampai salah satu antar Eunjo dan Siwon memberikannya penjelasan. Eunjo melirik kearah Hyojin yang menatap kearahnya seperti seorang yang bodoh, Eunjo berjalan kearahnya dan berlutut didepan gadis itu.

“Yixing Oppa..dia adalah teman baik Luhan Oppa, dia meninggal tadi sore.” Eunjo menjelaskan.

“Yixing?” Hyojin mengucapkan nama itu, entah kenapa nama lelaki itu begitu familiar untuknya.

“Ya, apa Eonni mengenal dia? Dia seorang sekertaris dia bekerja diperusahaan Li, apakah Eonni mengenalnya?” Eunjo bertanya dan Hyojin hanya diam, dia mencoba mengingat lelaki itu.

****

“Ah! Jung Hwajang-nim, Annyeong haseyo..”Yixing menyapa.

“Annyeong haseyo.” Hyojin menyapa kembali Yixing dengan senyumnya.

“Apa kau disini sendirian?” lelaki yang berdiri disampig Hyojin bertanya dan Yixing menggelengkan kepalanya.

“Tidak,aku dengan seseorang.” Yixing menjawab.

“Oppa, mungkin dia juga sedang kencan..sebaiknya kita tidak menganggu.” Hyojin berbisik kepada lelaki dismpingnya dan Yixing menunduk malu.

“Oh.. kau sedang kencan Yixing biseo-nim? Bagus kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukan double date saja?” lelaki yang disamping Hyojin memberi usul, dia duduk disalah satu bangku kosong yang ada di meja Yixing.

“Tapi..” Hyojin mencoba protes namun lelaki itu menarik kursi yang ada disampingnya menyuruh Hyojin untuk duduk.

****

“Ya, aku rasa aku tahu dia..” Hyojin bergumam dan Eunjo mengangguk.

“Mungkin kau harus ikut kepemakamanya nanti.” Eunjo mengusulkan.

“Eunjo, bisakah kau mengantarkan Hyojin kekamarnya?” Siwon menyuruh dan Eunjo menurut, dia mendorong kursi roda Hyojin menuju kamarnya.

Hyojin bisa melihat Siwon masih mengobrol dengan Luhan ditelepon dan Hyojin bersumpah dia penasaran sekali, dia tidak bisa menguping karena Eunjo mendorong kursi rodanya semakin jauh dari sosok Siwon.

Eunjo membuka pintu kamar Hyojin dia mendorong kursi roda Hyojin masuk kedalam kamar.

“Tunggu.” Hyojin berkata membuat Eunjo berhenti mendorong kursi rodanya.

“Aku ingin berlatih untuk berdiri, bisakah kau membantuku Eunjo-ya?” Hyojin bertanya dengan manis dan Eunjo mengangguk.

“Baiklah, apa yang harus aku lakukan Eonni?” Tanya Eunjo dia berjalan kedepan Hyojin.

“Kau diam saja disana dan aku akan mencoba berjalan kearahmu.” Hyojin memberikan intruksi dan Eunjo menurut.

Eunjo berjalan menjauh dari Hyojin dia bersiap untuk menangkap Hyojin jika gadis itu jatuh, Hyojin sedikit ragu namun dia mencoba untuk berdiri. Hyojin berdiri perlahan dan dia berhasil, Eunjo yang melihat itu tersenyum bahagia seakan dia baru pertamakali melihat bayi yang sedang belajar berjalan.

Hyojin mulai melangkah dan dia bisa merasakan sedikit rasa sakit dilututnya namun dia menahannya, dia melangkah lagi mendekati Eunjo.

“Arghh..” Hyojin meringis dan Eunjo mendekat hendak menolong namun Hyojin mencegahnya.

“Tidak,tetaplah diam disana.” Hyojin menyuruh dan dia kembali berdiri tegak.

“Eonni kau yakin bisa berjalan?” Tanya Eunjo khawatir.

“Tenang saja Eunjo aku sering melakukan ini di rumah sakit.” Hyojin menenangkan dan dia kembali melangkah mendekat kearah Eunjo.

Hyojin menahan rasa sakit dilututnya dan terus berjalan dan dia akhirnya sampai lalu Eunjo menahan tubuhnya yang langsung lemas, keringat dingin keluar dari dahinya Hyojin dan itu membuat Eunyong khawatir.

“Eonni sebaiknya kau tidur,ayo.” Eunjo menahan tubuh Hyojin dan membantu gadis itu berjalan menuju ranjang yang bergarak tidak jauh dari mereka.

Hyojin berbaring diranjangnya dan Eunjo menarik selimut Hyojin dan menyelimuti gadis itu, Hyojin tersenyum kearah Eunjo dan dia mengelus pipi gadis itu saat Eunjo duduk disampingnya.

“Terimakasih, kau baik sekali.” Hyojin berkata dan Eunjo menggelengkan kepalanya.

Ani..itu bukan apa-apa,aku yang harus berterimakasih pada Eonni.”Eunjo menjawab.

“Kenapa?”

“Karena Eonni yang bisa membuat Luhan Oppa bahagia,Luhan Oppa selalu murung setiap kali dia kesini tapi saat Eonni datang dia terlihat lebih ceria.” Eunjo mengungkapkan.

“Dia bahkan mau membantuku untuk menyiapkan makanan, Luhan Oppa memang baik namun terkadang dia selalu menutup dirinya dan menyendiri.” Eunjo berkata dia kelihatan seperti adik yang benar-benar khawatir pada kakaknya.

“Aku mengerti Eunjo, mungkin Luhan hanya butuh waktu sendirian..kau tahu terkadang dia juga menjauh dariku.” Hyojin berkata dan Eunjo menatap kearahnya tidak percaya.

“Benarkah? kenapa?” Tanya Eunjo.

“Karena itulah dia, Luhan tidak ingin membuat kau dan Siwon abeonim khawatir jadi dia selalu memendam masalahnya sendirian..aku juga benci itu,terkadang aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.” Tutur Hyojin dan Eunjo mengangguk.

“Kau benar Eonni, terkadang aku melihat Luhan Oppa dan berpikir ‘apa yang sedang dia pikirkan?kenapa dia terlihat begitu serius?’ Luhan Oppa benar-benar terlihat serius jika dia sedang melamun.” Eunjo berkata dan Hyojin tersenyum.

“Ya, dia terlihat seperti orang idiot jika dia melamun.” Hyojin mengejek dan Eunjo tertawa.

“ya, itu juga benar.” Eunjo menyetujui dan mereka berdua tertawa.

“Aku harus pergi Eonni, tidurlah aku akan datang pagi-pagi nanti jadi jangan khawatir.” Eunjo berkata dan Hyojin mengangguk.

“Selamat malam Eunjo-ya.”

“Selamat malam juga Eonni.”

Eunjo mematikan lampu dikamar Hyojin dan dia menutup pintu kamar Hyojin, Hyojin mencoba menutup matanya dan berharap esok segera datang.

 [Apartemen Yifan, Seoul- Korea selatan 22:00PM]

  Yifan membuka pintu apartemennya, apartemennya seperti biasa sepi dan gelap. Yifan menghidupkan lampu dan dia membuka jas kantor dan kemejanya yang masih berlumuran darah Yixing, dia menyimpan pakaiannya ditong sampah dia yakin kalau pakaiannya itu tidak bisa dipakai lagi.

Yifan menyimpan box yang berisi peralatan Hyojin di meja counter dapur kecilnya, dia lalu pergi kekamar mandi untuk menghidupkan air dan mandi. Yifan berpikir sejenak mengenang sosok Yixing, dia masih tidak percaya ini.

Padahal beberapa jam yang lalu Yixing dan dia baru saja mengobrol tentang rencana mereka untuk membangun group baru dan mencari nama untuk group, setelah mereka akhirnya setuju untuk menamakan group mereka guangde.

Yifan mengusap rambut basahnya dan keluar dari shower setelah dia selesai mandi, tubuhnya terasa sedikit menggigil karena dia mandi dengan air dingin. Yifan memakai bajunya dan pergi menuju ruang tengah apartemen besarnya.

Yifan melihat mesin penjawab telepon otomatisnya hidup karena chaya merah di sudut alat kecil itu bercahay, Yifan menekann tombol play dimesin penjawab otomatis itu dan suara seorang wanita terdengar.

“Yifan ini aku Taeyeon, aku tidak bisa menghubungi ponselmu ayah dan ibu Yixing sudah datang dari cina tadi kau tidak usah khawatir dia akan segera di makamkan, kau sebaiknya memberikan keterangan pada polisi mereka mencarimu.” –click-

   Satu pesan dia dengarkan, ada satu pesan lagi di mesin penjawab nya dan dia menekan tombol play lagi.

“Yifan ge ini aku Luhan, aku mendapatkan nomormu dari Taeyeon-shi. Yixing akan di makamkan di cina jika kau mau menghadiri pemakamanya datanglah kecina, tante dan paman Zhang akan menguburkan Yixing dipemakaman yang sama dengan Baba jadi kau tak usah pusing mencarinya, oh iya kabari aku jika kau akan datang.” –click-

   Yifan menghela nafasnya, dia tahu polisi akan mencarinya cepat atau lambat, kenapa semua orang begitu mencurigainya atas kematian Yixing? Apakah dia terlihat seperti pembunuh? Dia mungkin sering mabuk dan suka berjudi namun dia tidak pernah membunuh.

Yifan mengambil gelas winenya dan membuka botol wine putihnya yang dia sudah beli beberapa minggu yang lalu, dia menuangkan wine itu kedalam gelasnya dan dia memegang gelas itu.

PRANGGG…

   Gelas itu jatuh kelantai, Yifan mengerang kesakitan karena tangan kanannya tiba-tiba saja tidak bisa digerakan dan terasa sangat sakit. Yifan mencoba menggerakan tangannya namun percuma karena tangannya langsung kaku dan berdenyut menyakitkan, Yifan mencoba menahan rasa sakitnya sampai keringat dingin keluar dari dahinya.

Dia sudah biasa merasakan rasa sakit ini, dia sudah merasakan sakit ini semenjak kecelakaannya dengan Hyojin. Walaupun dia sering merasakan sakit ini dia tetap tidakbisa menahannya, dia mengerang kesakitan mencari sesuatu yang bisa meredakan rasa sakit ditangannya yang kaku.

Yifan berjalan menuju kamarnya sempoyongan dia membuka laci dimeja cerminya dan mengeluarkan sebuah botol obat, dia membuka botol obat itu dan menelan salah satu obat kecil didalam botol itu dan dia menyandar keranjangnya menunggu efek dari obat itu.

Beberapa menit berlalu dan rasa sakitnya hilang, dia lega sekali saat akhirnya tangannya bisa kembali bergerak dan tidak kaku lagi. Dia melirik kearah foto Hyojin yang ada disamping ranjangnya, Yifan menatap sedih kearah Hyojin.

“Hyojin-ah sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menjemputmu.” Yifan berbisik.

[Kediaman Keluarga Choi, Seoul – Korea selatan 23:20PM]

   Luhan menghentikan mobilnya, dia mematikan mesin mobilnya namun dia tidak kunjung turun dari mobil. Dia menatap kosong kearah depan memikirkan perkatan kedua orang tua Yixing, mereka mengatakan kalau Yixing terlihat mencurigakan sebelum dia meninggal.

Tante Lien, ibu Yixing berkata kalau Yixing meninggalkan mereka berdua sebuah surat sebelum kembali ke Korea beberapa bulan yang lalu. Luhan menghela nafasnya masih belum mengerti kenapa semua ini bisa terjadi, semua kecurigaan sekarang tertuju pada Yifan karena semua orang tahu Yixing dan Yifan selalu bertengkar apalagi lelaki itulah yang menemukan Yixing pertamakali.

Luhan mencoba berprasangka baik kepada kakak tirinya itu namun semua bukti tertuju pada Yifan, Luhan hanya butuh sebuah motif dan dia tidak ragu untuk menjebloskan Yifan kedalam penjara namun sayang Luhan tidak memiliki satu alasanpun kenapa Yifan ingin membunuh Yixing.

Luhan menahan airmatanya saat dia mengingat wajah pucat Yixing,dia benar-benar tidak rela untuk melepaskan Yixing. Dia masih menyayangi Yixing dan dia merasa bersalah karena dia tidak sempat meminta maaf pada sepupunya itu, Luhan masih ingat kalau beberapa hari sebelum Yixing meninggal dia bertengkar dengan Yixing.

Luhan membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar, angin malam terasa sangat dingin sekali dan Luhan masuk kedalam rumahnya.

“Luhan, bagaimana dengan Yixing?” Tiba-tiba saja dia bisa mendengar suara Siwon, lelaki itu kelihatannya menunggu dia diruang tamu sampai Luhan pulang.

“Appa, Yixing akan dimakamkan besok jenazahnya akan diterbangkan ke Cina sekarang.” Luhan menjawab.

“Aku tahu kau pasti sangat sedih, kau dekat sekali dengan Yixingkan?” Siwon menyentuh bahu Luhan dan Luha mengangguk.

“Ya, tapi ini semua terjadi..aku tidak mau menyesalinya.” Luhan berkata dan Swon tersenyum dia meremas bahu Luhan memberikan semangat pada anaknya.

“Jika kau ingin mengatakan apapun katakan saja, aku akan mendengarkan.” Siwon menawarkan.

“Yixing dibunuh Appa, seseorang menusuknya.” Luhan mengungkapkan dan Siwon terkejut.

“Apa?kenapa kau tidak menceritakannya padaku?apa polisi sudah menyelidikinya?”

Luhan mengangguk dia dan Taeyeon sudah memberikan keterangan mereka pada polisi begitu juga ayah dan ibu Yixing, satu-satunya yang belum memberikan keterangannya hanya Yifan.

“Ya, aku sudah memberikan keterangan pada polisi, hanya Yifan ge yang belum.”

“Kemana dia pergi?apakah dia kelihatan mencurigakan?”

“Entahlah Appa, aku harap tidak..apa Hyojin dan Eunjo sudah tidur?” Luhan bertanya dan Siwon mengangguk.

“Mereka sudah tidur dari tadi.” Siwon menjawab dan Luhan mengangguk.

“Aku akan mengecheck keadaan Hyojin, sebaiknya Appa juga tidur.” Luhan berkata.

Siwon tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah, kau juga istirahat..besok kau akan pergi kecina kan?”

“Aku akan tidur setelah melihat keadaan Hyojin.”Luhan menjawab dan dia pergi menuju kamar Hyojin.

Luhan membuka pintu kamar Hyojin dia bisa melihat Hyojin sudah tertidur nyenyak diranjangnya,Luhan melangkah masuk dan dia duduk disamping Hyojin. Luhan tersenyum melihat betapa tenangnya Hyojin saat dia tertidur, dia mengelus pipi Hyojin dan tiba-tiba saja Hyojin membuka matanya.

“Luhannie, bagaimana temanmu yang meninggal?” Tanya Hyojin.

“Dia akan dimakamkan besok di Cina, aku akan pergi ke Cina besok.” Luhan mengungkapkan dan Hyojin mengangguk.

“Aku mengerti, pergilah..aku tahu aku sangat dekat temanmu yang satu ini..Eunjo mengatakan kalau kau dan Yixing sangat dekat.” Hyojin berkata.

“Maaf aku harus meninggalkanmu lagi.” Luhan terdengar sedih dan Hyojin tersenyum.

“Tidak apa-apa Luhan, aku mengerti..kau tak usah menyalahkan dirimu sendiri dan keadaan Yixing temanmu dank au harus menghadiri pemakamannya.” Ucap Hyojin bijak, Luhan menunduk dia menggengan tangan Hyojin dengan erat.

“Menangislah jika kau mau, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun..ini hanya rahasia diantara kita.” Hyojin berkata dan Luhan menatap kearah Hyojin.

Hyojin bangun dari tidurnya dan dia memeluk Luhan, Luhan memeluk kembali Hyojin dan airmatanya mengalir begitu saja.Hyojin mengelus kepala Luhan saat dia merasakan cairan hangat jatuh kepundaknya dan dia bisa mendengar isak tangis Luhan, Hyojin begitu sedih saat dia mendengar kekasihnya menangis seperti ini.

“Luhannie..semuanya akan baik-baik saja, aku akan selalu ada disampingmu.” Hyojin berbisik dan dia bisa merasakan anggukan kepala Luhan.

“Aku tahu semua ini berat untukmu, tapi aku yakin kau bisa menjalaninya karena kau kuat Luhan.” Hyojin melanjut, Luhan mengeratkan pelukannya pada pinggang Hyojin.

“Jangan tinggalkan aku..” Luhan berbisik ditengah tangisnya.

Hyojin melepaskan pelukannya dan dia menyeka airmata Luhan, Hyojin tersenyum kearah Luhan dan dia mencium hidung Luhan.

“Aku akan ada disampingmu, kau tenang saja.” Hyojin berkata, Luhan tersenyum dan dia memeluk Hyojin lagi.

“Jangan tinggalkan aku seperti Yixing.” Luhan berkata .

“Aku tidak akan..”

To Be Countinue..

Jangan Lupa komennya ya😀

PS:

Fuihh..untung Yixing yah yang meninggal duluan :D siap-siap deh buat yang gereget pengen Hyojin dan Yifan ketemu
mereka berdua bakal ketemu di chapter berikutnya jadi tetep
tunggu seriesnya yah soalnya bentar lagi series ini akan tamat ^^

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

32 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 12]

  1. Min,ini bikin aku gregetan terus,bayangannya selalu melintas di kepalaku.Semoga Hyojin bisa ketemu ama Yifan,aku maunya dia sama Yifan daripada sama Luhan.Fanfic ini emg daebak bgt

  2. Tp aku udh terlanjur suka Hyojinnya ama Yifan.Jdi kalo sama Luhan agk canggung.Tp kalo kenyataannya dia sama Luhan ya apa boleh buat..

  3. aaaa.. yixing mati..
    ntar kalau luhan di bunuh zitao gimana? aaah! jangan thor..
    aku tetep pingin liat luhan sama hyojin aja deh thor.. hehehe..
    mian kalau kurang setuju..
    di tunggu kelanjutannya ya thor..

  4. hyojin sama luhan aja gin mereka cocok bgt. itu sih tao kenapa masih gentayangan juga, kan zhoumi udah mati bang yixing mati kan Y-Y
    jangan luhan lg yg dibunuh dong banyak korban berjatuhan di ff ini (?)
    oke lanjut eon palli palli

  5. Masyaalloh~
    tegang baca awalnya bakal ada yg mati. .eeh skrang lega ternyata cuma yixing yg mati, tp napa hyojin kagak ingat yifan, aku jadi ikut galau kayak yifan TT.TT
    Udah kagak bisa nebak lagi dah lanjutannya kayak dimana. . .setiap nebak mleset muluu~
    ikut aja dah akhirnya gimana.

    Eonni author Jjang!!

  6. ternyata yifan gak jadi menyandang status duren dah… padahal saya mau daftar nich… wkwkwk padahal hyojin n yifan belom maried… semangat lanjutinnya, makin penasaran nich…

  7. jinjja daebak!!!…ternyata eh ternyata hyojin ga meninggal,,syukurlah,, ya walaupun dia amnesia,,,hehe
    tpi yg meninggal malah yixing,,wow aku agak kaget…yifan kasian juga yahh,,,
    hyojinnya ayo cpet sembuh biar bisa balikan sama yifan,,hehe,,,
    koq ga rela rasanya ff ini mau tamat,,,hhii,,abisnya seru bgt sih,,

    next chapter selalu d tunggu thor🙂
    hwaiting!!!

  8. yeyeyeyey!
    setelah sekian lama menanti, abis uas🙂
    akhirnya ada ep.12
    hyojin gak meninggal,🙂 yifannya gakjadi galau :p
    lanjuuut lagi kak

  9. authoooooorrrr,,, mungkin aku yang paling bingung diantara para reader, aku baru nemu blog ini, dan baru baca, jadi yg di protect aku ga tau dan ga ngerti jalan ceritanyaaaa😦
    author, minta PWnyaaaaa jebaaaaalllll😦
    biar aku bisa ngasih saran😀
    siapa tau saran aku berguna😀
    email aku eyisumitri@yahoo.com
    terimakasiiiihhhhhh🙂

  10. nyesek pas baca kris yang bilang akan menjemput hyojin T.T
    kasihan kris, tapi luhan juga kasihan >..<
    gag rela …
    hehehehehehe

  11. Omo Yixing meninggal, kasian

    Hyojin kok bsa seh gk ingt yifan.. n napa jg hyo jin di blg pcrny Luhan.. Q pgnny hyo jin ama Luhan.. Luhan nusuk yifan dr blkg neh.. Walo Luhan emg baek, tpi q gk suka ah ma dy

    Yifan sakit ya??? di tunggu lnjtnny y

  12. aigo.. aku bener-bener penasaran gimana ntar si hyojin n yifan ketemu ny gimana.
    aku nda nyangka sih kalo zitao msh jalanin misi zhoumi.
    terus apa ntar luhan juga? kalo yifan?
    omo.. jangan sampai.

  13. yixingku yang malang :((((((( author tega ngebunuh yixing,,,,
    cariin Luhan Wanita lain, yang ga jauh jauh beda sama hyojin,,, dan biarkan hyojin tetap sama kris,,, pertemukan kembali mereka berduaaaaa :((((((

  14. omaigatt, sedih bgt di bagian yixing ge , huweeee T__T , yixing di ff ini cerdas n cerdik banget padahal, aku suka karakternya, benci sama yifan tp bisa tetep profesional dalam kerjaan,malah ngebantu yifan di saat yifan dalam bahaya, dia thu care sm org-org sekitarnya , ff ini penuh kejutan, kalau baca nih ff berasa nonton drama serial yg booming n keren bgt..

  15. huaa knp satu persatu hrus meniggal??????? dan knp harus yixing?????
    Zitao juga knp malah ngelanjutin misinya padahal kan zhoumi dah mati. . . . .

    gmn ya kalo hyojin ketemu yifan. . .

  16. aku sbel sama sosok luhan disini,,
    ya ampun klo mkirin khidupan yifan ,hyojin,luhan .. bkin bner bner mau nangis..
    q lbih milih yifan and hyojin chingu.. bgaimanapun, pengorbanan cinta mrka itu dramatis bgt…
    andaikan luhan tidak egois thd perasaannya ke hyojin..

  17. aduh yixing meninggal? huwaa tao jahat ih kan zhoumi udah meninggal gak usah dilanjutin kek misinya huhu. ah bete sama luhan kan kasian ayang yifan. baca next nya ah hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s