Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 9]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                                 Oc
  • Jung Hyojung                             Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng              [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                   [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                           [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                       [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                             [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                              [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

Chapter:

1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7, 8

 

9

Missing Puzzle

 

Yifan menyambar handphonenya penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran, dia sudah mencoba menghubungi ponsel Hyojin untuk kesekian kalinya namun panggilannya selalu masuk voice mail.

Yifan menyimpan lagi handphonenya, mungkin dia harus menelepon rumah Hyojin mungkin gadis itu sedang tidur atau semacamnya.

Yifan mengetik nomor rumah Hyojin dan menghubungi nya, dia menunggu beberapa detik sampai akhirnya seseorang mengangkat telepon nya.

Yobuseyo..” suara seorang wanita terdengar.

Yobuseyo, maaf aku Wu Yifan aku mencari Jung Hyojin apakah dia ada dirumah?” tanya Yifan cemas.

“Maaf tuan tapi nona belum pulang.” pelayan itu menjawab dan Yifan semakin khawatir.

“Baiklah terimakasih.” Yifan menutup teleponnya, dia mengambil kunci mobilnya dan keluar dari kantor.

Saat dia keluar dia bertemu dengan Yixing yang sedang duduk manis dimejanya lelaki itu kelihatannya sibuk, Yifan menghampiri Yixing dia ingat kalau tadi pagi Yixing mengatakan kalau dia tidak enak badan.

“Kenapa kau disini?” tanya Yifan kebingunga.

“Oh..Yifan, aku sudah baikkan jadi aku memutuskan untuk mengurus beberapa dokumen.” Yixing berkata dia tersenyum polos kearah Yifan,Yifan tidak curiga lagipula dia tahu kalau Yixing ada seorang pegawai yang professional.

“Baiklah, aku harus pergi.” Ucap Yifan.

“Kau mau kemana?” Tanya Yixing.

“Mencari Hyojin, apa kau sudah mendengar uang perusahaan nya hilang?” Tanya Yifan dan Yixing menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu, baiklah sebaiknya kau pergi.” Yixing menyuruh.

Yifanpun tidak membuang wakyu diapun pergi menuju lift, setelah sosok Yifan menghilanh Yixing menyeringai penuh misteri sepertinya semua perkiraannya benar.

Yixing mengambil dokumen keuangan Yifan dia membuka dokumen itu dan memasukan beberapa jumlah uang yang cukup besar, dia menyambar handphonenya dan menghubungi nomor Jongsuk.

“Apa kau sudah selesai memasukan datanya?” tanya Jongsuk.

“Semuanya beres, kau tinggal memasukan uang nya ke akun bank Yifan.” Yixing menjawab dan dia menutup teleponnya.

[Club malam, seoul -Korea selatan 20:30 am]

   “Luhan!” seseorang memanggil Luhan,Luhan mendongak dan dia bisa melihat temannya Jongdae.

“Jongdae! Sedang apa kau disini?” Luhan bertanya dia menghentikan memutar disk nya.

“Gawat Luhan! Tuan Choi Siwon ingin bertemu denganmu! Dia sudah menunggu diluar club.” Jongdae berkata panik.

“Choi Siwon? Kenapa dia ingin bertemu denganku?” tanya Luhan penasaran.

“Dia bilang dia ingin membahas sesuatu, berhati – hatilah dia bukan orang sembarangan.” Jongdae berbisik sedikit panik, tentu saja Jongdae tahu kalau lelaki yang bernama Choi Siwon itu berbahaya.

Jongdae sering mendengar kalau orang yang dipanggil Choi Siwon selalu berakhir babak belur, itu masih mending jika dia kembali Jongdae mendengar Siwon tidak akan ragu untuk membunuh jika dia mau.

“Aku pergi dulu, bisakah kau menggantikan aku sesaat?” Luhan meminta dengan ramah.

“Tentu saja, kau sebaiknya kembali arraseo?” Jongdae meremas bahu Luhan.

“Tenang saja, aku akan kembali Jongdae.”Luhan menenangkan temannya

Jongdae dengan berat hati membiarkan Luhan pergi, dia menatap penuh khawatir kearah punggung Luhan yang menghilang dia balik pintu keluar club.

Luhan sedikit gugup saat dia melangkahkan kakinya keluar dari club, dia bisa melihat sesosok lelaki kekar yang memakai jas berdiri tak jauh darinya, lelaki itu mendekat dan mebungkuk kearahnya dengan sopan.

“Luhan-shi, tuan saya sudah menunggu anda di mobilnya.” lelaki itu berkata dia menunjuk kearah mobil limosin yang sangat mewah.

Luhan menelan ludahnya, dia sering melihat mobil limosin namun dia tidak pernah melihat yang sebesar dan sepanjang ini, dia tidak tahu apa tujuan Choi Siwon memanggilnya namun dia berharap dia akan kembali dengan tubuh yang utuh.

Luhan membuka pintu mobil itu dan dia bisa melihat seorang lelaki paruh baya duduk dikursi, dia kelihatanya sedang bersanti dan menikmati champage nya.

“Luhan-shi, senang akhirnya bisa bertemu denganmu.” Siwon berkata dan dia tersenyum kearah Luhan.

Luhan tidak membalas senyum itu, dia hanya diam penuh misteri dia tahu senyuman Siwon itu palsu dia sudah sering berurusan dengan orang macam Siwon.

“Apa yang kau inginkan?” Luhan bertanya dan Siwon menyeringai, sikap anak lelaki nya itu memang mirip dengan dia.

Dingin dan kasar, Siwon semakin yakin kalau Luhan memang anaknya.

“Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari kekasihmu, penculiknya bilang kalau dia mengenalmu.”

Mendengar perkataan itu Luhan terkejut, kekasih? Tapi dia tidak memiliki kekasih? Siapa wanita ini, Luhan berpikir dan dia bisa melihat Siwon mengambil handphonenya. Lelaki itu memberikan handphonenya pada Luhan, Luhan mengambil telepon gengam itu dan mendekatkanya ketelinga Luhan.

“L-luhan.. Tolong aku..”

Suara Hyojin terdengar gemetaran dan sedikit serak, mata Luhan melebar saat dia mendengar suara Hyojin.

“Hyojin-ah? Kau dimana? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Luhan panik dan Siwon menyeringai penuh kemenangan, rencananya berjalan dengan lancar.

“Aku tidak tahu! Aku mohon selamatkan aku Kyaa!” suara jeritan Hyojin terdengar, Luhan mendengar suara robekan kain dan jeritan Hyojin.

“Katakan padaku dimana Hyojin!” Luhan membentak, dia membantingkan handphone Siwon penuh dengan emosi.

“Ck..ck..ck.. tak usah marah Luhan.” Siwon berkata.

“Aku tidak bisa mengatakan padamu begitu saja, penculik Hyojin bisa-bisa membunuhku.” Ucap Siwon , dia meneguk champage nya dengan santai.

“Aku mohon! Katakan padaku dimana dia sekarang.” Luhan memelas.

“Hm..kau pasti sangat menyukai gadis ini Luhan-shi.” Siwon menatap kearah Luhan, melihat ekspressi panik anaknya Siwon merasa iba.

“Bukan urusanmu! Katakan padaku dimana dia?!” Luhan membentak penuh emosi.

“Baiklah, baiklah kau tak usah marah ok? Aku akan mengatakan dimana Hyojin dengan satu syarat.” Kata Siwon.

“Apa yang kau mau?”

“Kau harus bekerja dibawah pimpinanku, kau harus mengikuti setiap perintahku dan keinginanku bagaimana?” Siwon memberi syarat, dia bisa melihat Luhan berpikir sejenak dan akhirnya dia mengangguk.

“Baiklah, aku akan bekerja untukmu sekarang katakan padaku dimana Hyojin?!” Luhan berkata tidak sabar.

“Dia ada digedung tua didekat studio KBS, berhati-hatilah mereka banyak sekali aku rasa kau tidak akan menang melawannya sendirian.” Siwon memberi peringatan.

“Kau tak usah khawatir.” Luhan berkata dia turun dari mobil Siwon, Siwon menghela nafasnya dia merasa bersalah saat dia melihat anaknya Luhan panik seperti itu.

Padahal dia hanya ingin memeluk anaknya itu, dia ingin menjadi seorang ayah yang baik untuk Luhan. Menyayanginya dan melindunginya, bukan menipu dia seperti ini dia merasa kotor sekali sekarang dia melirik kearah anak buahnya yang duduk di dikursi depan mobilnya.

“Ikuti Luhan, jangan sampai dia terluka sedikitpun.” Siwon memerintah dan kedua bodyguard yang duduk dimobilnya mengangguk lalu keluar dari mobil Siwon.

[Jalanan Seoul, Korea selatan – 20:55 pm]

   Yifan membelokan mobilnya dijalanan ramai Seoul, dia sudah bolak-balik mencari Hyojin dia sudah pergi ketaman kota dan kantor gadis itu bahkan dia juga sudah menyuruh Yongguk untuk mencari Hyojin namun sayang lelaki itu juga tidak berhasil menemukan sosok itu.

Ditengah kecemasannya Yifan mendengar handphonenya bergetar, dia mengerang kesal dan mengambil handphonenya namun dia terkejut saat dia melihat naa Luhan tertera dihandphonenya.

“Ya?” Yifan mengangkat telepon dari Luhan.

“Aku tahu ini mendadak sebaiknya kau pergi kegedung tua didekat studio KBS, Hyojin ada disana dan dia culik.” Luhan berkata.

“APA?!” Yifan terkejut sekali dia bahkan mengerem mobilnya sekaligus.

“Ya, aku rasa penculiknya lebih dari satu orang sebaiknya kau membawa Zhongren atau orang lain untuk membantu.” Luhan menyarankan dan diapun langsung menutup teleponnya.

“YA! Luhan?! Apa maksudmu?” Yifan berkata namun dia bisa mendnegar Luhan sudah menutup teleponnya.

“Aissh!” Yifan megutuk dia menghidupkan kembali mobilnya lalu menghubungi Yongguk.

“Yifan? Apa kau sudah menemukan Hyojin?” taklama Yongguk mengangkat teleponnya, lelaki itu terdengar kelelahan mungkin berlari entahlah Yifan tidak tahu.

“Iya aku menemukan dia, dia ada di gedung tua dekat studio KBS sebaiknya kau kesana dan berhati-hatilah Hyojin kelihatannya disandera.” Yifan mengungkapkan.

“Apa?! Kenapa bisa?” Yongguk terdengar sama kagetnya dengan dia saat Luhan memberitahunya.

“Aku tidak tahu yang penting kita harus menyelamatkan dia sekarang, cepatlah kesana aku masih ada didaerah gangnam.” Yifan menyuruh.

“Baiklah aku akan kesana.” Yongguk berkata dan dia menutup teleponnya.

Yifan menyimpan handphonenya dan dia menginjak pedal gasnya secepat mungkin, entah kenapa jantungnya berdetak snagat cepat dan dia merasa gugup sekali. Dia khawtair jika sesuatu yang buruk terjadi pada Hyojin, dia tidak akan senang jika penculik-penculik Hyojin melukai gadis itu.

Dia bersumpah jika dia menemukan Hyojin terluka ataupun tergores sedikit dia akan memenggal semua kepala penculik Hyojin, dia menggengam erat setirnya menahan emosinya dia sudah siap untuk memukul dan menghabisi siapa saja yang melukai Hyojin nya.

[Gedung tua, Suwon – Korea selatan 21:00pm]

“Lepaskan aku brengsek!” Hyojin mengutuk, dia mencoba melepaskan tali yang mengikat tubuhnya dikursi.

Dia menatap tajam kearah seorang lelaki tinggi yang menatapnya, lelaki itu mengelap pisau belatinya dan sesekali menatap kearah Hyojin yang masih mencoba berontak.

“Bisakah kau diam? Jika ka uterus berontak kau akan menyakiti dirimu sendiri.” Jongsuk berkata dnegan tenang, dia bukanlah ellaki yang temperamen.

“Apa yang kau mau? Lepaskan aku brengsek!” Hyojin masih emosi.

“Aku tidak tuli Hyojin, aku tahu aku brengsek.” Jongsuk akhirnya menyimpan pisau belatinya ditempatnya, dia mendekat kearah Hyojin dan membungkuk didepan gadis itu.

“Dengar, jika kau tidak diam..aku bisa merobek bajumu lebih besar dan kau akan telanjang didepan semua anak buahku.” Jongsuk berkata dan Hyojin merapatkan rahangnya.

“Lepaskan aku kalau begitu, aku akan memberikan apapun yang kau mau.” Hyojin berkata namun Jongsuk tertawa.

“Kau akan memberikan apa yang aku mau?” Jongsuk bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Hyojin..Hyojin.. apa yang aku inginkan tidak pernah bisa kau kabulkan.” Jongsuk berkata dan dia mengelus kepala Hyojin namun Hyojin menjauh dari sentuhan Jongsuk.

“Apa yang kau inginkan? Katakan?” Hyojin meminta dan Jongsuk menyeringai.

“Aku ingin nyawamu.” Jongsuk berbisik dan Hyojin mengepalkan tangannya, jika tangannya tidak diikat dia sudah menampar lelaki ini.

“Kau gila..” Hyojin berbisik dan Jongsuk mengangguk.

“Ya aku gila, apa yag akan kau lakukan? Memukulku?” Jongsuk mengejek dan Hyojin meludah kearah Jongsuk.

Jongsuk menatap matanya saat ludah Hyojin sampai dipipinya, dia menyeka ludah Hyojin lalu mengelap pipinya dengan sapu tangannya. Dia kelihatan tenang namun beberapa menit kemudian dia mencekik Hyojin membuat Hyojin terkejut, dia bisa merasakan tekanan yang kuat dilehernya membuat dia tidak bisa bernafas.

“Wanita jalang! Beraninya kau meludahi aku!” Jongsuk membentak dan melotot.

“Dengar Jung Hyojin! Jika kau tidak berharga bagiku aku sudah menguburmu hidup-hidup!” Jongsuk berkata dan Hyojin hanya menatap Jongsuk dengan tatapan kebencian.

Jongsuk melepaskan kecikkannya dia takut jika Hyojin pingsan, Hyojin terbatuk-batuk saat Jongsuk melepaskan tangannya dari leher gadis itu.

“Aku hanya harus bersabar sedikit, sebenatr lagi uangku akan datang..uang satu miliar ku.” Jongsuk berkata dan menyeringai jahat kearah Hyojin.

“Apa maksudmu?”

“Uang satu miliar yang hilang itu, seseorang mengambilnya untuk menjadi tebusanmu cantik.” Jongsuk mengungkapkan.

“Permainan apa yang kau mainkan sekarang? Ini sama sekali tidak seru.” Hyojin berkata dan Jongsuk mengangguk.

“Benar, permainan ini terlalu membosankan bukan?” Jongsuk bertanya.

Namun belum juga Hyojin sempat menjawab seorang lelaki datang dan memotong pembicaraan nya dengan Jongsuk.

“Jongsuk, orang yang membawa uang itu sudah datang.” Lelaki itu memberi informasi.

“Ah! Akhirnya..kau bilang permainan ini membosankan bukan? Sekarang permainan ini akan lebih seru.” Jongsuk berkata pada Hyojin.

“Suruh dia masuk kesini.” Jongsuk menyuruh pada lelaki yang tadi masuk.

Lelaki itu menurut dan dia membuka pintu ruangan tua itu menyuruh orang yang membawa tebusan Hyojin masuk, Hyojin bisa mendengar suara ketukan sepatu higheel dan diapun berspekulasi kalau orang yang membawa uang tebusan dia adalah seorang wanita.

Dia berdoa kalau orang yang membawa uang tebusannya itu bukanlah Taeyeon, karena jika Taeyeon dia akan marah sekali dan memecat gadis itu. Sosok yang membawa uang tebusannya itu benar perempuan namun rambut wanita itu panjang itu artinya wanita itu bukanlah Taeyeon, wanita itu mendongak dan Hyojin langsung membeku.

“Im Biseo-nim?” Hyojin bergumam dan Yoona menatap sedih kearah Hyojin.

“Hyojin-ah..” Yoona memanggil.

“Im Biseo-nim? Apa-apaan ini?! Apa kau bekerjasama dengan mereka?!” Hyojin membentak penuh emosi, dia tidak percaya semua ini.

Orang yang selama ini dia percayai mengkhianatinya, dia tidak pernah menyangka Yoona akan dengan teganya mengkhianati dia begitu saja. Dia kira Yoona adalah orang yang akan mengurusnya dan membantunya, selama betahun-tahun mengenal Yoona dia sudah menganggap sekertarisnya itu seperti kakaknya sendiri.

“Apa kau puas dengan permainan seperti ini Hyojin-ah?” Jongsuk bertanya dia puas seklai saat dia melihat mata Hyojin berkaca-kaca menahan tangisnya.

“Jadi mana uangku Yoonaku sayang?” Jongsuk bertanya dan Yoona melemparkan tas silver yang dia bawa kedepan Jongsuk.

“Gadis yang baik.” Jongsuk berkata dia mendekat kearah Yoona dan mengecup gadis itu dibibirnya.

Yoona mendorong Jongsuk menjauh setelah lelaki itu mengecupnya, dia menatap kearah Hyojin yang menunduk menangis. Dia merasa di khianati dan disakiti, dari semua orang yang jahat didunia ini kenapa harus Yoona? Hyojin berpikir.

“Hyojin-ah…” Yoona memanggil.

“PERGI!” Hyojin membentak, airmatanya sudah turun dan membasahi pipinya.

“Hyojin-ah biarkan aku menjelaskan..” Yoona memelas.

“Aku tidak butuh penjelasan dari seorang pengkhianat seperti kau!” Hyojin membentak,  hati Yoona hancue berkeping-keping saat dia menatap kearah mata HYojin.

Mata Hyojin menyorotkan kebencian yang begitu besar, kemanakah tatapan penuh kasih syaang yang biasa dia terima dari Hyojin? Sekarang yang dia lihatnya hanyalah kegelapan dan kemarahan jiwa Hyojin.

*****

Yongguk turun dari mobil Hyojin, dia bisa melihat sosok seorang yang menggendarai motor sport berhenti didepa gedung tua itu dia membuka helmnya dan melirik kearah Yongguk.

“Siapa kau?” Lelaki itu bertanya.

“Aku Yongguk, aku kesini untuk menyelamatkan Hyojin.” Yongguk berkata dan Luhan tersenyum.

“Oh bagus, apa Yifan yang menghubungimu?” Tanya Luhan.

“Ya, dia menyuruhku untuk datang kesini.” Yongguk berkata.

Taklama berselang sebuah mobil mendekat earah mereka, Yifan turun dari mobilnya dan berlari kearah Luhan dan Yongguk.

“Ayo kita masuk, sebaiknya kita membawa Hyojin pulang secepatnya.” Yifan berkata dan kedua lelaki yang dia ajak bicara mengangguk.

Luhan yang berjalan paling depan mencoba membuka pintu geduang tua itu namun pintyu itu dikunci, Yongguk menyuruh Luhan untuk mundur dan dia dengan mudahnya menendang pintu tua itu sampai terbuka.

Tidak aneh, Yongguk memiliki badan yang tinggi dan kekar. Sekumpulan lelaki yang melihat sosok Luhan dan Yifan juga Yongguk masuk langsung menyerbu ketiga lelaki itu, Luhan dengan sigapnya memukul lawannya sampai terjatuh.

Yifan mencoba menghindar dari pukulan-pukulan lawannya dan akhirnya dia menendang lawan-lawannya hingga jatuh kelantai. Yongguk mengambil kursi yang ada disampingnya dan melemparkannya kearah lawannya, dia meninju seorang lelaki yang mencoba memukulnya dengan tongkat kayu.

Yifan berhasil mengalahkan beberapa preman yang mencoba menghabisinya, Luhan masih sibuk dengan lawannya saling memukul dan meninju beruntung bagi luhan dia sudah terbiasa dengan perkelahian dia bisa dengan mudah mengalahkan semua lawannya.

Beberapa menit berlalu preman-preman itu kalah, Yifan menarik kerah baju salah satu preman yang sudah berbaring dilantai babak belur.

“Dimana Hyojin?” Tanya Yifan.

“Dilantai 2.” Preman itu menjawab dan dia terbatuk-batuk karena susah bernafas.

Yifan segera berlari menju tangga di ikuti oleh Luhan dan Yongguk, jantung Yifan berdetak cepat sekali apalagi saat dia melihat sebuah pintu dilantai dua. Yifan membuka pintu itu dan jantungnya hampir copot saat dia melihat Hyojin yang berdiri dan ditodong oleh sebuah pistol oleh seorang lelaki.

“HYOJIN!” Yifan memanggil, Hyojin menangis mulutnya dibungkam oleh sebuah kain dan tangannya diikat.

“Hallo Yifan, aku tidak mengira kau yang akan pertama muncul.” Jongsuk berkata dia menyeringai kearah Yifan.

“Siapa kau?! Darimana kau tahu namaku?” Yifan bertanya dan Jongsuk hanya tersenyum penuh misteri.

“Katakan saja gadis manis ini terlalu banyak bicara.” Jongsuk menodongkan pistolnya lebih dekat kearah Hyojin membuat Hyojin semakin ketakutan.

“Lepaskan dia!” Luhan yang berdiri disamping Yifan membentak.

“Ckckck..dan pasti Luhan sang pahlawan selalu datang tepat waktu membawa teman-temannya.” Jongsuk berkata sedikit sinis.

“Apa yang kau mau? Sebaiknya kau lepaskan Hyojin!” Yongguk berkata dan Jongsuk menggelengkan kepalanya.

“Maaf tuan bodyguard tapi aku lebih suka menyekap Hyojin.” Jongsuk membalas dia melirik kearah Hyojin yang sudah panik disampingnya, apalagi gadis itu bisa merasakan lubang pistol menyentuh pelipisnya.

“Habisi dia!” Jongsuk menyuruh anak buahnya yang sudah berkumpul dibelakangnya.

“Arggh kenapa mereka tidak pernah habis?!” Yongguk mengerang kesal, tangannya sudah terasa sakit karena memukul terlalu banyak orang.

Yifan dan Luhan sudah maju duluan mereka mengalah satu-persatu  dari semua kumpulan lelaki yang menyerangnya, Luhan terpukul dan dia jatuh kelantai dengan bibir yang berdarah. Yifan yang melihat itu membantunya dan memukul pipi lawan Luhan.

“Terimakasih.” Luhan berkata dia kembali berdiri.

“Sama-sama, kau berhutang padaku.” Yifan berkata dia kembali menyerang sekumpulan preman lain yang menghadangnya.

“Eummpphh!!” Hyojin mengerang dia berontak mencoba melepaskan gengaman tangan Jongsuk dari lengannya.

“Aku bilang diam!” Jongsuk membentak.

Hyojin mencoba melepaskan tangannya dari ikatan, walaupun kulitnya terasa perih dia terus mencoba melepaskan tangannya dari ikatan kain. Setelah beberapa menit mencoba melonggarkan kain yang mengikat tangannya akhirnya Hyojin berhasil.

Melihat kesempatan dia mendorong Jongsuk sekuat tenaganya membuat Jongsuk terjatuh, Hyojin yang melihat Yifan tidak sedang berkelahi kabur dan segera berlari kearah lelaki itu. Yifan yang melihat itu segera mendekat kearah Hyojin namun Yifan melihat Jongsuk berdiri kembali, lelaki itu mengangkat pistolnya kearah Hyojin.

Yongguk yang melihatnya hendak berlari kearah Hyojin juga mencoba menyelamatkan Hyojin namun dia menghentikan langkahnya, dia tidak tahu apa yang mencegahnya untuk berlari apakah mungkin karena dia takut dengan kematian?

“Hyojin!” Yifan berteriak dia berlari dan memeluk Hyojin lalu membalikan posisi mereka.

DORRR!!!

  Suara tembakan terdengar keras menggema diruangan, Luhan juga Yongguk yang mendengar itu langsung berhenti berkelahi mereka semua melirik kearah Jongsuk yang menodongkan pistolnya kearah Yifan dan Hyojin.

Yifan dan Hyojin membeku mereka takut jika peluru yang di tembakan oleh Jongsuk mengenai salah satu dari mereka, Hyojin memeluk erat Yifan sambil menutup matanya dia tidak merasakan sedikitpun sakit namun dia menyentuh sesuatu yang basah dipunggung Yifan.

“Oppa?” Hyojin memanggil.

Yifan melepaskan pelukannya dari Hyojin.

“Aku lega sekali, kau baik-baik saja..” Yifan berkata namun tiba-tiba tubuh Yifan ambruk dalam pelukan Hyojin, Hyojin terkejut sekali saat dia melihat darah yang banyak sekali ditangannya.

Darah dari punggung Yifan sudah menetes kelantai dan Hyojin panik melihat begitu banyak darah yang keluar dari punggung Yifan, dia menangis dan memeluk Yifan.

“OPPA!” Hyojin memanggil berharap Yifan masih sadar namun sepertinya tidak.

Semua preman yang melihat itu langsung panik dan pergi meninggalkan gedung tua itu, mereka takut jika mereka menerima hukuman juga atas kematian seorang manusia yang bahkan mereka tidak kenal.

Yixing yang melihat dari sudut ruangan terkejut juga, dia mengepalkan tangannya dan hatinya bergetar sangat keras. Apakah dia sedang meyaksikan Yifan sekarat disini? Yoona yang melihat Yifan tertembak langsung menelepon ambulan dan polisi dengan panik.

Yoona tidak peduli lagi dia segera berlari menuju Yifan dan Hyojin yang sedang menangis histeris sambil memeluk Yifan menahan tubuh lelaki itu agar tidak ambruk ketanah, Luhan dan Yongguk berlari kearah Hyojin dan Yifan juga.

“Oppa! Bangun Oppa..” Hyojin berkata dia memeluk erat Yifan dan menutup matanya, dia harap semua ini hanya mimpi.

Mimpi yang sangat buruk sekali sehingga dia ingin segera bangun dari mimpi ini, namun suara dan sentuhan Yongguk dan Luhan yang memisahkan dia dari tubuh Yifan terasa terlalu nyata membuat dia sadar kalau semua ini kenyataan yang sangat pahit.

Jongsuk yang melihat tubuh Yifan yang lemas terbaring dilantai dengan Luhan yang sedang menekan luka Yifan agar darah lelaki itu tidak keluar terlalu banyak, dia panik dan segera berdiri mencoba melarikan diri namun dia dihalangi oleh Yixing.

“Kau tak bisa lari, aku tidak setuju dengan skenario ini.” Yixing berkata.

“Aku tidak peduli! Awas! Aku harus pergi.” Jongsuk berkata namun Yixing menarik lengan Jongsuk dan memutarnya membuat Jongsuk mengerang kesakitan.

“Maaf Jongsuk, kau harus pergi kekantor polisi.” Ucap Yixing.

“Aku akan membocorkan semuanya! Lagipula semua ini rencana mu iyakan?!” Jongsuk membentak dan Yixing menyeringai.

“Oh silahkan saja bocorkan semuanya, aku bisa bebas dengan mudah aku punya Choi Siwon dipihakku.” Kata Yixing membuat Jongsuk putus asa.

Tak menunggu lama sekumpulan polisi dan petugas kesehatan datang, petugas kesehatan yang melihat Yifan terluka segera mengangkatnya dengan brankar. Hyojin menangis histeris dan memegang tangan Yifan mengikuti para petugas kesehatan yang membawa Yifan menuju ambulan, sedangkan Jongsuk langsung ditangkap oleh polisi dengan keterangan dari Yixing.

Luhan menyeka bibirnya yang terasa sakit, tangannya juga penuh dengan luka dia mengerang sejenak saat dia mencoba menggerakan jari-jarinya yang terasa kaku. Dia melirik kesekitar ruangan dan dia mendapati sosok Yixing yang sedang mengobrol dnegan salah satu polisi, dia hendak menyapa lelaki itu namun sebuah tanganya dipundaknya mencegah.

“Tuan anda juga terluka sebaiknya saya obati dulu luka itu.” Seorang petugas kesehatan berkata dan Luhan mengangguk.

Mungkin dia akan menanyakannya nanti setelah mereka ada di apartemen, Luhan mengikuti petugas kesehatan keluar dari ruangan.

[Rumah sakit, Seoul – Korea selatan 22:45 pm]

     Hyojin masih menangis dan dia mengikuti brankar yang membawa Yifan menuju ruang operasi, saat mereka sampai didepan ruangan operasi seroang dokter mencgah Hyojin untuk masuk. Dia dengan putus asanya harus menunggu diluar, tangannya masih gemetaran dan wajahnya pucat sekali.

Hyojin duduk disalah satu kursi tunggu yang ada disamping ruang operasi, Hyojin menyeka airmatanya dan mengusap wajahnya. Yongguk yang melihat betapa sedihnya Hyojin duduk disamping gadis itu, Yongguk mengelus punggung Hyojin dan dia menangis lagi.

“Oppa..ini semua salahku..” Hyojin berkata ditengah tangis, semuanya ini bukanlah slaah siapapun Yongguk berpikir ini semuanya hanya kecelakaan.

“Tidak Hyojin-ah..kau tidak salah.” Yongguk mengelus kepala Hyojin dan Hyojin menangis dipundak Yongguk.

“Oppa apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau Yifan Oppa tidak selamat?” Hyojin berbisik dan Yongguk menggelengkan kepalanya.

“Tidak Hyojin-ah..aku yakin Yifan sangat kuat dia tidak akan menyerah begitu saja.” Yongguk berkata.

Yoona yang baru sampai didepan ruang operasi hanya berdiri,hatinya terasa sakit sekali saat dia melihat Hyojin menangis seperti itu. Hyojin menagis histeris saat dia melihat Yifan tertembak, padahal gadis itu jarang sekali memperlihatkan ekspressi didepannya bahkan saat orangtuanya meninggal gadis itu hanya menangis sesaat.

Yoona hendak berbalik pegi namun dia bertemu dengan sosok Hyojung dan Zhongren yang baru saja memasuki rumah sakit, Hyojung langsung berlari kearah ruang operasi saat dia melihat sosok kakanya yang menangis.

“Eonni!” Hyojung memanggil.

“Hyojung-ah!” Hyojin berdiri dari duduknya dan Hyojung memeluknya penuh dengan kelegaan.

“Ah..leganya eonni, kau baik-baik saja?” Hyojung bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Aku baik-baik saja.. tapi Yifan..” Hyojin melirik kearah Zhongen yang kelihatan sangat khawatir sekali.

“Zhongren maafkan aku..” Hyojin berkata dan mendekat kearah Zhongren.

“Apa yang terjadi? Kenapa dengan Hyung ku?” Zhongren bertanya panik.

“Yifan..dia..” Hyojin hendak berkata namun tenggorokannya terasa sakit karena dia menhaan tangisnya.

“Kenapa Noona?! Katakan padaku..” Zhongren menyentuh kedua bahu Hyojin dan menguncangkan tubuh gadis itu.

“Maafkan aku Zhongren-ah..Yifan tertembak.” Hyojin berkata.

Mendengar perkataan Hyojin dunia Zhongren terasa runtuh, apakah dia tidak salah dengar? Tertembak Hyojin bilang? Bagaimana bisa?! Hyungnya itu bisa mengalahkan lima orang sekaligus kenapa dia harus tertembak?!

“Bohong..Noona..kau berbohong.” Zhongren berkata dan matanya berkaca-kaca.

“Maafkan aku..aku tidak tahu..semuanya terjadi begitu saja.” Hyojin berkata diapun akhirnya menangis lagi saat dia melihat ekspressi menderita Zhongren.

Andwae!uri Hyung…andwae!” Zhongren berkata dan Hyojin langsung memeluk Zhongren.

Mianhae Zhongren-ah..”

****

   Setelah menunggu beberapa menit  Zhongren dan Hyojin duduk dikursi, mereka terlihat sangat shock.  Sesekali Hyojin melirik kearah lampu yang ada diatas ruangan operasi, lampu itu adalah lampu yang menandakan kalau operasi sudah selesai atau belum.

Hyojung melirik kearah Zhongren dan dia menyentuh tangan pemuda itu, Zhongren tersenyum tipis kearah Hyojung dan Hyojung membalas senyum Zhongren.

Dia tahu kalau Zhongren sangat khawatir tentang kakaknya sekarang namun Hyojung penasaran, darimana Hyojin kakaknya mengetahui Zhongren? Seingat dia Hyojung belum pernah mengenalkan kekasih nya itu pada kakaknya.

Beberapa menit berlalu terasa sangat lama sekali, bahkan jarum jam rasanya enggan bergerak dan terus diam ditempatnya Yongguk melirik kearah jam dinding dirumah sakit dan waktu menunjukan pukul 11 malam.

Hyojin masih diam dan meneguk kopi yang dia bawa untuk gadis itu tadi,sesekali gadis itu menghela nafasnya, dia mengusap wajahnya mata gadis itu terlihat sangat merah dia bahkan mengacuhkan luka ditangannya.

Tiba- tiba saja seorang dokter keluar dari ruangan operasi, Hyojin langsung berdiri dan mendekat kearah dokter itu.

“Dokter ..bagaimana keadaan Yifan?” Tanya Hyojin.

“Tenang nona, keadaan Yifan-shi baik-baik saja.” Dokter mengatakan membuat Hyojin lega, rasanya beban dipundaknya diangkat dan menghilang.

“Dia beruntung karena peluru tidak menembus jantungnya, tapi sebaiknya dia mendapat perawatan intensive beberapa minggu.” Dokter menyarankan dan Hyojin mengangguk.

“Apakah anda keluarganya?” Tanya dokter.

“Aku adiknya dokter.”Zhongren yang berdiri disamping Hyojin berkata.

“Maaf sebaiknya anda segera mengurus administrasi nya.” Dokter berkata dan dia pergi bersama seorang suster yang mengantarnya ke meja administrasi.

Luhan dan Yixing baru datang kerumah sakit mereka berlari kearah Hyojin dan Hyojung yang masih berdiri didekat ruang operasi.

“Bagaimana operasinya? apa Yifan baik-baik saja?” Tanya Luhan.

“Ya dia baru selesai di operasi, dia sekarang ada di ruangan perawatan.” Hyojin berkata, wanita itu bahkan bisa tersenyum sekarang.

Luhan iri sekali saat dia melihat betapa Hyojin bahagianya menceritakan kalau Yifan sangat kuat, dia cemburu setengah mati namun dia mencoba menyembunyikan emosinya. Dia iri sekali karena Yifan memiliki efek yang sangat besar untuk wanita itu, terkadang dia ingin menjadi pengaruh yang besar untuk seseorang yang dia sukai dan memilikinya seperti Yifan pada Hyojin.

“Luhan, darimana kau mengenal Yifan?” Hyojin bertanya menyadarkannya dari lamunannya.

“Oh..itu cerita yang panjang, aku akan menceritakannya nanti.”Luhan berkata dan dia tersenyum menyembunyikan ekspressi paniknya.

Dia belum siap untuk menceritakan semuanya, dia takut jika Hyojin tidak bisa menerima kenyataan kalau dia dan Yifan adalah saudara tiri. Hyojin merasa sedikit curiga dengan perkataan Luhan namun dia tidak mengubrisnya, mungkin nanti mereka bisa membahasnya lebih dalam.

Hyojung yang baru melihat Luhan hanya merasakan aura yang gelap dia sedikit merasa terintimidasi dengan Luhan yang sangat tampan, dia berdiri dibelakang Hyojin tidak memiliki niat untuk menyapa Luhan.

“Hyojung kenalkan ini Luhan, dia temanku.” Hyojin mengenalkan Luhan pada adiknya.

Annyeoung Hyojung-ah..” Luhan menyapa namun Hyojung tidak menyapa balik dia malah menunduk tidak menatap Luhan sedikitpun.

“Maaf Hyojung adikku, dia sedikit pemalu.” Hyojin berkata.

“Tidak apa-apa, aku juga pemalu saat aku masih kecil.” Luhan mengungkapkan, dia ingat saat dia masih apabila dia disapa oleh kerabat jauhnya atau orang yang tidak familiar dengannya Luhan selalu bersembunyi dibelakang punggung ibunya.

“Aku akan pergi keruangan Yifan,aku pergi dulu.” Hyojin berkata.

“Mau aku antar?” Luhan menawarkan.

“Tidak usah, aku akan kesana sendiri.” Hyojin menjawab gadis itu membalikkan badannya untuk naik ke lift menuju lantai 3 dimana ruangan Yifan berada.

Luhan yang ditinggalkan dengan Hyojung merasa canggung dia melirik kearah Hyojung.

“Kau masih muda, berapa umurmu?” tanya Luhan mencoba membuat percakapan dengan remaja itu.

“Aku tujuh belas tahun.” Hyojung menjawab singkat.

“Oh kau masih SMA? Pasti menyenangkan.” Luhan berkata dan tersenyum mencoba mengakrabkan diri dengan Hyojung.

“Tidak juga.” Hyojung membalas sama singkatnya dengan jawaban yang tadi.

“Kau sekolah dimana? Apa kau sudah punya pilihan untuk masuk universitas?” Sekali lagi Luhab bertanya berharap kalau gadis itu lebih terbuka padanya kali ini.

“Aku sekolah di SMA internasional seoul, universitas? Aku sebenarnya ingin masuk seoul university.” Hyojung menjawab.

“Oh kebetulan, aku juga kuliah disana kau tenang saja, jika kau ingin informasi kau bisa menanyakan nya padaku.” Luhan berkata dengan bangga, dia memiliki kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Hyojung siapa tahu gadis itu bisa membantunya untuk mendekati kakaknya.

“Wah benarkah? Aku akan bertanya pada Oppa jika aku butuh informasi.” Hyojung membalas meskipun wajah masih tidak menunjukan ekspressi Luhan sedikit merasa lega.

Luhan mengodok sakunya dan dia mengambil handphonenya, dia menunjukan handphonenya pada Hyojung.

“Ini ketik nonormu, aku akan menghibungimu nanti.”

Hyojung mengambil ponsel Luhan dan gadis itu mengetikan nomor ponselnya dan menyimpa nomornya diatas nama Hyojung.

“Hyojung!” Suara Zhongren terdengar dan Hyojung melirik, Zhongren langsung menarik Hyojung mendekat kearahnya.

Lelaki itu menatap tajam kearah Luhan, dia kelihatannya tidak suka dengan kehadiran Luhan dan itu membuat Hyojung kebingungan. Kakak nya terlihat dekat dengan Luhan namun entah kenapa Zhongren kelihatan membenci Luhan lebih dari apapun, Zhongren tidak mengatakan apapun begitu juga Luhan mereka hanya saling menatap namun Hyojung bisa merasakan ketegangan diantara mereka berdua.

“Senang bertemu denganmu lagi Zhongren.” Luhan berkata dengan senyum khasnya namun terlihat lebih sinis.

“Aku tahu kau akan terlibat, apa kau merencanakan semua ini? Menculik Hyojin noona dan menembak Yifan hyung?” Zhongren bertanya dengan nada yang menuduh dan Luhan hanya mendengus.

“Bukankah tidak baik untuk menuduh orang seperti itu? Aku bisa menuntut mu karena pencemaran nama baik.” Luhan mengancam dan Zhongren langsung menarik kerah baju Luhan.

Hyojung terkejut dia ingin memisahkan Zhongren dan Luhan namun dia takut.

“Dengar brengsek! Jika kau mendekati Hyungku dan Hyojin noona lagi aku tidak ragu untuk menghabisimu.” Zhongren mengancam dan dia menarik Hyojung untuk pergi keruangan Yifan.

Luhan mengepalkan tangannya penuh dengan amarah, Semua ini jelas bukanlah salahnya lalu kenapa dia yang selalu dituduh. Luhan tahu kalau dia seharusnya tidak menghubungi Yifan, namun dia tidak punya siapa-siapa lagi selain Yifan di Korea.

Dia tidak bisa menghubungi Yixing karena dia tahu kalau sepupunya itu akan mencegahnya mati-matian, bahkan Yixing tidak akan membiarkan Luhan naik motor jika dia akan ngebut itulah sepupunya yang terlalu protektif padanya.

Dia menyayangi Yixing lebih dari apapun namun terkadang sikap Yixing membuat dia kesal dan gerah, dia tahu Yixing menyayanginya namun dia bukanlah anak kecil yang selalu harus diperhatikan dan diasuh.

Luhan berbalik untuk keluar dari rumah sakit, dia tidak dalam mood yang baik untuk menjenguk Yifan  bisa – bisa dia akan mencekik Zhongren jika dia melihat lagi sosok anak kecil kurang ajar itu.

“Kau tidak akan menjenguk Yifan?” Suara Yixing mengagetkan nya.

“Aku akan menjenguknya besok.” Luhan menjawab singkat, dia sebenarnya masih sedikit marah pada Yixing karena sepertinya lelaki itu mengikutinya.

“Yixing.” Luhan memanggil membuat Yixing melirik kearahnya.

“Ya?” dia merespon.

“Kenapa kau ada di gedung itu? Apakah kau ikut campur dalam penculikan ini?” Luhan menuduh dan Yixing hanya diam, dia tidak ingin membahas soal itu dengan Luhan dia tahu kalau dia berbohong Luhan akan mengetahuinya dia bukanlah pembohong yang ulung.

“Sebaiknya kau pulang..” Yixing memerintah namun Luhan menggelengkan kepalanya, dia tidak akan menurut pada perintah Yixing sekarang dia bukanlah anak manis seperti dulu lagi dia akan berontak karena dia sudah besar sekarang.

“Jangan memerintahku lagi, aku bukan budak mu yang bisa kau perintah seenak nya.” ucap Luhan penuh emosi, Yixing terkejut dengan pemberontakkan Luhan.

Biasanya Luhan selalu menurut padanya, dia dan luhan sudah seperti kakak dan adik namun sekarang rasanya mereka hanya dua orang asing yang saling mengenal.

“Apa maksudmu?” Yixing bertanya kebingungan.

“Selama hidupku kau selalu mengatur aku, bahkan aku harus mendapatkan ijin darimu untuk tinggal di korea! Kau pikir kamu siapa?! Aku bisa hidup sendirian tanpamu!” Luhan membentak dia bahkan melotot kearah Yixing.

“Luhan!” Yixing memberi peringatan, dia sedang emosi sekarang dan dia bisa saja memukul sepupunya itu.

“Katakan yang sejujurnya, apa kau terlibat dalam penculikan Hyojin?” Luhan menatap kearah Yixing penuh harap, dia berharap kalau sepupunya itu tidak terlibat dalam suatu tindak kriminal.

“Aku..”

“Dia tidak terlibat dalam apapun.”

Suara seorang lelaki mengagetkan mereka berdua, Yixing dan Luhan melirik kearah sumber suara dan mereka menemukan Siwon yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.

“Yixing-shi tidak terlibat dalam apapun dia mengenal Jongsuk yang menculik Hyojin dan dia berusaha untuk membujuk lelaki itu untuk melepaskan Hyojin.” Siwon berbohong dan Yixing hanya menunduk malu, beruntung nya dia karena Siwon datang.

“Apa itu benar Yixing?” tanya Luhan.

“Ya benar, apa kau tidak pecaya padaku Luhan-shi?’ Siwon berbicara mencegah Yixing untuk mengatakan apapun.

“Lalu kenapa kau terlibat dalam penculikan ini? Darimana kau tahu Jongsuk?” Luhan menatap curiga kearah Siwon.

Simple, dia berhutang banyak padaku dia akan membayarkan uang tebusan Hyojin padaku.” Siwon menjawab Luhan sepertinya percaya dengan penuturan Siwon.

“Sebaiknya kau meminta maaf pada Yixing, dia tidak tahu apa-apa.” Siwon mengusulkan namun Luhan malah pergi menaiki motor sport hitamnya.

“Sampai jumpa dirumah, Yixing.” Luhan berkata dan motor Luhanpun melesat menjauh dari bangunan rumah sakit.

“Apa yang kau bicarakan?! Kenapa kau membelaku?” Yixing bertanya pada Siwon.

“Aku tidak bisa membiarkan Luhan dalam bahaya, aku percaya kau Yixing..lindungilah anakku.” Siwon mengungkapkan dia tersenyum kearah Yixing dan dia menepuk bahu pemuda itu sebelum pergi kedalam rumah sakit.

[Ruangan Yifan, rumah sakit internasional – Korea selatan 23:37pm]

Hyojin duduk disamping ranjang Yifan, airmatanya mengancam untuk turun lagi saat dia melihat betapa lemah dan kakunya tubuh Yifan. Hyojin menyentuh pipi Yifan dan pipi lelaki iyu terasa dingin, wajahnya yang biasa bersinar terlihat sangat pucat sekali bahkan bibir lelaki itu terlihat sangat pucat hampir berwarna putih.

“Oppa..aku mohon cepatlah sadar, aku sangat khawatir.”Ucap Hyojin suaranya gemetaran dan akhirnya airmatanya tuun membasahi pipinya.

Hyojin menarik tangan Yifan, dia mencium tangan Yifan.

“Oppa..saranghae.” Hyojin berbisik suaranya kecil namun suara itu cukup keras untuk Yifan dengar.

Hyojung dan Zhongren yang menunggu kelihatan khawatir sekali, apalagi Zhongren dia khawatir jika kakaknya itu tidak kembali lagi. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Yifan, selama ini kakaknya lah yang selalu ada disampingnya.

“Hyojung sebaiknya kau pulang, besok kau sekolah.” Hyojin berkata dan dia melirik kebelakang.

“Eonni, kau juga harus pulang..tanganmu terluka dan kau pasti lelah.” Hyojung protes namun Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Aku baik-baik saja, kau juga zhongren sebaiknya kau pulang.” Hyojin menyuruh.

“Tapi Noona, aku tidak bisa membiarkan kau disini sendirian.” Zhongren menolak.

“Tidak apa-apa, aku akan menjaga kakakmu.” Hyojin berkata.

“Tidak Noona, aku juga ingin menjaga kakakku.” Zhongren memaksa dan Hyojin melotot kearah Zhongren membuat Zhongren ketakutan.

Sepertinya semua isu tentag Hyojin benar, wanita itu terlihat sangat menakutkan saat marah.

“Hyojung, kau sebaiknya pulang dengan Zhongren aku tahu kalian punya kegiatan masing-masing besok jadi jangan bolos karena ini.” Ucap Hyojin dingin, Hyojung dan Zhongren bahkan tidak berani membantah.

“Baiklah Eonni, telepon aku juga kau butuh apapun.” Hyojung menyentuh bahu kakaknya dan Hyojin tersenyum.

“Ya, aku akan menelepon sebaik kalian cepat pulang ini sudah tengah malam.” Hyojin memerintah.

Hyojung dan Zhongren akhirnya dengan berat hati meninggalkan Hyojin sendirian diruangan Yifan, walaupun mereka berdua khawatir mereka tidak bisa berbuat apapun Hyojin sangat keras kepala mereka tidak mau membuat situasi semakin keruh.

*****

  Yifan membuka matanya, sinar matahari terasa sangat hangat menyentuh wajahnya dia tersenyum saat dia merasakan sebuah tangan menyentuh wajahnya.

“Bangun Yifan..ini sudah siang.” Suara seorang wanita terdengar, Yifan membuka matanya dan dia bahagia sekali saat dia melihat sosok ibunya.

“Mama..” Yifan bergumam dan ibunya tersenyun.

“Bagaimana kau bisa disini?” Tanya mama Yifan, dia mengelus kepala Yifan dan Yifan memeluk ibunya dengan bahagia.

“Mama aku rindu padamu.” Yifan berkata dan dia bisa mendengar tawa lembut mamanya.

“Dasar konyol..kau sudah dewasa dan kau masih merindukan mama?” Tanya mama Yifan, Yifan melepaskan pelukan nya.

“Yifan,kau tidak bisa terus diam disini.” Mama Yifan menatap sedih kearah Yifan, dia menangkip wajah anak lelakinya itu.

“Apa kau ingin ikut denganku?” Tanya mama Yifan dan Yifan terkejut.

“Kemana mah?”

“Kesana..”

Mamah Yifan menunjuk kearah kebun yang sangat indah, kebun itu dipenuhi dengan berbagai bunga yang indah dengan berbagai warna dan ukuran.

Mamah Yifan menarik pemuda itu dan mengajaknya berjalan menulusuri kebun yang indah itu, Yifan kagum sekali dia bisa melihat begitu banyak jenis bunga yang  dia kenali namun kebanyakan diabtidak tahu bunga apa itu.

Yifan berjalan menulusuri kebun itu sampai akhirnya dia berhenti saat dia melihat sebuah pohon dengan bunga putih yang kecil, Yifan mendekat kearah bunga itu dan dia hendak menyetuhnya.

“Apa kau suka bunga itu?” Mamanya bertanya.

“Entahlah, aku hanya tertarik pada bunga ini karena bungabinibsangat putih dan unik.” Yifan berkata dia menatap penuh kagum pada bunga putih itu.

“Bunga itu memang cantik bukan?” Mama Yifan bertanyabdan Yifan menggangguk.

“Bagaimana dengan bunga disana?”Mama Yifan bertanya, dia melirik kearah pohon bunga yang terletak tidak jauh dari bunga itu.

Yifan bisa melihat sebauh bunga yang tumbuh sendirian, bunga itu berwarna merah namun ujung bunga itu sudah mulai layu.

“Bunga itu jelek sekali mah..” Yifan berkata.

“Benarkah? Kalau begitu apa kau ingin membuang bunga itu?” Tanya mama Yifan.

Yifan penasaran dia berjalan kearah bunga itu, disekitar bunga itu tumbuh duri-duri yang sangat tajam membuat Yifan ketakutan.

“Ma..banyak sekali duri ditangkai bunga itu.” Yifan mengadu dan mamanya tersenyum.

“Kau benar, berbeda sekali dengan bunga yang putih itukan?” Mamah Yifan menunjuk kearah bunga yang Yifan sukai.

“Ya, mama kasihan sekali bunga itu apakah tidak ada orang yabg menyiramnya?” Tanya Yifan , ibunya mendekat kearah Yifan dan dia mendorong Yifan agar melangkah lebih dekat kearah bunga itu.

Yifan bisa mencium harum yang sangat wangi dan menenangkan dia sangat menyukai harum itu sehingga dia mendekat lebih jauh menuju bunga itu, dia merasa aneh bagaimana bunga yang jelek itu bisa menyebarkan harum yang wangi.

“Apa sekarang kau masih menyukai bunga putih itu?” mamah Yifan menyadarkan Yifan dari lamunannya.

“Aku ingin memetiknya mah, bunga ini harum sekali…aku sangat menyukainya.” Yifan berkata penuh semangat.

“Apa kau yakin?” Mama Yifan bertanya seakan dia ragu akan keputusan Yifan.

“Ya mah, aku akan merawat bunga ini sehingga dia bisa berkembang dan indah kembali.” Yifan menjawab penuh dengan keyakinan.

“Baiklah, petiklah bunga itu jika kau bisa.” Mama Yifan berkata, Yifan berbalik dan menatap kearah pohon bunga itu.

Dia takut sekali saat dia mendekat dan melihat betapa tajamnya duri bunga itu, dia mencapai kearah bunga itu dengan hati-hati dan pelan.

Tangannya gemetaran karena dia takut jika salah satu duri melukai tangannya, namun setelah beberapa menit kesusahan akhirnya Yifan bisa memetik bunga mawar itu.

“Ma! Aku mendapatkannya!” Yifan bersorak dan mamanya hanya tersenyum.

Yifan menatap kearah bunga mawar yang ada ditangannya, bunga itu langsung terlihat segar saat dia menyentuhnya, bahkan ujung kelopak bunga yang layu menghilang saat Yifan menyentuh bagian itu.

“Wah..indah sekali.” Yifan terkesima bunga ditangannya sekarang sangat indah dan harum, begitu menawan.

“Yifan, apa kau ingin membawa bunga itu kerumah?” Tanya Mama Yifan.

“Ya tentu saja, dia tidak akan bertahan disini mama.” Yifan menjawab.

Mamanya tersenyum namun dia terlihat sangat sedih, mamanya menyentuh tangan Yifan membuat Yifan meremas tangan mamahnya.

“Yifan jika kau membawa bunga itu, kau tidak bisa ikut denganku.” Mama Yifan mengungkapkan membuat Yifan bersedih.

“Tapi kenapa ma?” Tanya Yifan sedih.

“Karena kau bertanggung jawab atas bunga itu, kau bilang bunga itu tidak akan selamat disinikan?”

Yifan menatap kearah bunga yang ada ditangannya, ibunya benar bunga yang dia pegang akan layu jika dia terus diam disini.

“Yifan, kau sudah besar…kau tak membutuhkanku sekarang.” Ucap Mama Yifan.

“Tapi ma..aku ingin ikut bersama mama.” Yifan memelas.

“Aku tidak membutuhkanmu Yifan, tapi bunga ini..dia sangat membutuhkanmu.” Mama Yifan berkata dan Yifan menunduk sedih.

“Yifan apa kau ingat perkataanku? Bantulah seseorang jika kau bisa membantu.” Ucap mamah Yifan.

“Aku baik-baik saja Yifan aku tidak butuh kau tapi bunga ini, dia akan layu dan mati jika kau tidak merawatnya.”

Yifan hanya diam, dia mempertimbangkan keputusannya. Dia ingin ikut dengan mamanya namun dia tidak tega membiarkan bunga yang ada ditangan nya layu, mama nya terlihat sehat dan baik-baik saja mungkin ibunya benar dia tidak membutuhkan Yifan.

“Kau yakin ma?” Tanya Yifan dan mamah Yifan mengangguk.

“Yifan, aku akan sedih namun setidaknya aku akan baik-baik saja.” Mama Yifan menjawab diabtersenyum kemah kearah Yifan.

“Baiklah jika mama yakin.” Yifan mengalah dan mamanya kelihatan bahagia.

“Aku bangga sekali padamu Yifan.” Mamanya tersenyum namun sosok ibunya itu mulai menghilang dan menipis seperti bayangan.

“Mama!” Yifan memanggil namun sosok ibunya itu langsung menghilang membuat Yifan panik.

“Wu Yifan-shi…”

Mendengar namanya dipanggil Yifan berbalik kebelakang dan dia terkejut saat dia melihat sosok Hyojin, Hyojin terlihat begitu cantik dengan rambutnya yang disanggul dan gaun merah yang dia kenakan.

*******

Tut..Tut..tut..

   Suara pendeteksi jantung Yifan tiba-tiba saja berbunyi dengan kencang, tubuh Yifan langsung kejang – kejang dan Hyojin yang masih melamun menatap Yifan terkejut. Dia langsung menekan bel darurat beberapa kali dan tak lama kemudian seorang suster dan dokter datang keruangan Yifan, Hyojin khawatir sekali saat dia melihat tubuh Yifan kejang-kejang bahkan beberapa suster menahan kedua tangan dan kaki Yifan

Dokter yang menangani Yifan langsung menyuktikan obat penenang membuat tubuh Yifan berhenti kejang-kejang dan detak jantungnya kembali normal.Dokter membuka mata Yifan dan mengecheck apakah lelaki itu sudah sadar apa belum.

“Dokter apa yang terjadi? Kenapa Oppa kejang-kejang seperti tadi?” Hyojin bertanya dengan panik.

“Sepertinya beliau mengalami ketegangan saraf, namun sepertinya dia sudah sadar tadi sebaiknya anda membiarkan pasien untuk istirahat.” Dokter menyarankan dan Hyojin mengangguk.

“Anda tidak usah khawatir nona.” Dokter menghibur dan Hyojin mengangguk setelah itu dokter dan susterpun keluar dari ruangan Yifan.

Hyojin menghela nafasnya, dia tidak bisa tidur. Bagaimana dia bisa tidur jika kekasihnya menderita seperti ini karena dia, andai saja Hyojin tidak berlari kearah Yifan mungkin Yifan akan selamat.

[Apartemen Luhan dan Yixing,Seoul – Korea selatan 07:00 am]

   Luhan baru terbangun dari tidurnya,dia hendak meminta maaf pada Yixing karena kemarin dia sangat kasar pada lelaki itu.

Luhan membuka pintu kamarnya dan dia mendengar Yifan sedang dalam percakapan dengan seorang wanita di telepon, Luhan tidak tahu siapa wanita yang Yixing telepon namun mereka terdengar sangat serius.

“Ya, Yifan tertembak kemarin..aku tidak tahu, tapi sepertinya dia sudah stabil sekarang.”Yixing berkata.

“Kau akan pergi sendiri? Kau yakin?” Yixing melanjutkan.

“Baiklah jika itu yang kau mau, aku akan mengantarmu sampai depan rumah sakit.” Ucap Yixing, sangat tipikal sekali Luhan merasa kasihan pada siapapun yang Yixing pacari dia pasti tidak akan bebas karena lelaki itu pasti selalu khawatir dan melindunginya .

“Apa kau sudah selesai mengobrol dengan pacarmu?” Luhan berjalan dan duduk disofa apartemennya.

“Siapa bilang orang yang aku telepon tadi pacarku?” Yixing berbalik menatap Luhan.

“Oh ya? Jika dia bukan pacarmu kenapa kau sangat perhatian sekali, bahkan kau mau mengantarkannya kerumah sakit.” Luhan menaikan alisnya dan Yixing tertawa.

“Kau memang suka sekali memata-matai orang, kenapa kau tidak jadi detektif saja?” Yixing berkata dan Luhan menggelengkan kepalanya.

Nah..terlalu banyak kasus yang tidak menarik dan terlalu gampang dipecahkan.” Luhan menjawab penuh dengan percaya diri dan Yixing tertawa lalu mengacak-ngacak rambut Luhan.

“Kapan kau akan menjenguk Yifan?” Yixing bertanya.

“Aku akan menjenguk sebelum aku pergi ke club, mungkin nanti siang atau sore.” Jawab Luhan dia terdengar tidak terlalu bersemangat.

“Kenapa, kau terlihat murung?” Yixing sudah lama mengenal Luhan dan dia selalu berhasil membaca ekspressi sepupunya itu.

“Tidak apa-apa.” Luhan menjawab malas, dia memainkan kancing dibajunya dan tersenyum lemah kearah Yixing.

“Ok, cukup dengan berpura-pura aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.” Yixing menatap lurus kearah Luhan.

“Aku ti—“ sebelum Luhan bisa menamatkan kalimatnya Yixing memotong pembicaraannya.

“Tadi malam kau marah padaku, sekarang kau menyembunyikan sesuatu dariku apa seseorang mengatakan sesuatu yang jelek padamu?”

Luhan menghela nafasnya, terkadang dia benci Yixing karena lelaki itu bisa membaca pikiran dan emosinya seperti buku yang terbuka.

“Zhongren, dia bilang kalau aku terlibat dalam penculikan ini..aku jelas-jelas tidak tahu apapun aku hanya marah.” Luhan mengungkapkan.

“Sepertinya semua hal buruk yang menimpa Yifan gege salahku, Zhongren mengatakan kalau aku tidak boleh menemui Yifan gege aku tidak yakin kalau aku harus datang kerumah sakit dan menjenguknya.”Luhan berkata, didalam nada suaranya Yixing bisa menebak kalau Luhanbenar-benar sedih.

“Luhan, Zhongren bukanlah adik asli Yifan, dia hanya diangkat oleh Yifan untuk menjadi adiknya sedangkan kau..kau adiknya Luhan kau tak usah takut, aku akan menemanimu.” Yixing menyentuh bahu Luhan.

“Aku tahu itu, tapi aku merasa tidak enak juga padanya..karena aku memanggilnya dia jadi terluka.” Luhan melanjutkan.

“Kau tidak tahu apa-apakan? Semua ini bukan salahmu, kau tak usah menyalahkan siapapun lagipula Yifan yang melindungi Hyojinkan? Dia melakukannya sendiri tanpa paksaan.” Yixing memberi alasan agar Luhan berhenti merajuk.

“Kau benar, aku sebaiknya mandi dulu..badanku terasa snagat lengket.” Luhan berkata da Yixing mengganguk dia bisa melihat punggung Luhan menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Yixing meremas handphonenya, Luhan yang tidak tahu apapun merasa bersalah lalu kenapa dia yang merencanakan semua ini tidak memiliki sedikitpun rasa bersalah. Walaupun dia sendiri mengaku kalau dia sangat terkejut saat dia melihat Yifan melindungi Hyojin dari tembakan Jongsuk, dia tidak menyangka kalau lelaki itu akan berkorban untuk seseorang yang mungkin tidak benar-benar dia cintai.

Namun hati manusia siapa yang tahu? Yixing cukup yakin kalau Yifan memiliki hubungan yang intim dengan Hyojin, dia bisa merasakannya. Yixing menghela nafasnya, dia merasa takut sekali sepertinya Yifan sudah jatuh cinta pada gadis itu.

[Rumah sakit internasional, Seoul –Korea selatan 08:00 am]

“Eughhh..” Yifan menegrang saat dia merasakan sinar matahari menusuk pandangannya, Hyojin yang mendengar erangan itu langsung berlari mendekat kearah Yifan.

“Oppa, ini aku..” Hyojin berkata dengan lembut dia menyentuh tangan Yifan dan Yifan tersenyum saat dia melihat sosok Hyojin.

“Hyojin-ah..” Yifan memanggil dengan suara seraknya dan Hyojin mengangguk sambil menangis.

“Ya Oppa, ini aku Hyojin..” Hyojin berkata dia bahagia sekali saat dia mendnegar suara Yifan lagi, semalaman dia tidak bisa tidur karena dia takut Yifan tidak akan kembali padanya.

“Air..” Yifan berkata.

Hyojin langsung menuangkan air yang ada disamping ranjang Yifan kegelas dia mengambil sedotan putih yang ada disamping gelas. Dia membantu Yifan untuk bangun dari tidurnya dan memberikan gelas itu, Yifan sangat haus sekali bahkan dia menghabiskan setengah air yang ada digelas.

“Sudah baikan?” Hyojinbertanya dan Yifan mengangguk.

“Ya, tenggorokanku tidak sakit lagi.” Yifan menjawab dan dia tersenyum lemah.

“Apa yang terjadi?” Yifan bertanya pada Hyojin, Hyojin menunduk penuh rasa bersalah.

“Kau tertembak Oppa, tapi tenang saja pelakunya sudah tertangkap.” Hyojin menjawab.

“Kenapa kau bersedih? Apa kau tidak suka aku kembali sadar?” Yifan menyentuh pipi Hyojin.

“Bukan seperti itu! Aku sangat sennag sekali, aku bahkan tidak bisa tidur karena aku takut kau tidak sadar.” Hyojin mengungkapkan, Yifan percaya dengan perkataan Hyojin karena dia bisa melihat kantung mata Hyojin bengkak dan sedikit menghitam.

“A-aku kira kau tidak pernah kembali..aku takut sekali, bahkan rasanya jantungku akan berhenti saat aku tahu peluru itu mengenai punggungmu.” Hyojin berkaa airmatanya kembali tumpah untuk kesekian kalinya, entah kenapa Yifan merasa snagat sedih saat dia melihat wanita itu menangis seperti itu.

Dimanakah Jung Hyojin yang kuat dan tangguh yang dia lihat sekaang adalah Hyojin yang rapuh dan lemah, Yifan menyeka airmata Hyojin dan Hyojin mendekat kearah Yifan memeluk lelaki itu dengan erat.

“Jangan melakukan hal bodoh lagi seperti ini! Aku tidak akan bisa hidup jika kau meninggalkanku.” Ucap Hyojin ditengah tangisnya.

“Hyojin-ah.” Yifan memeluk gadis itu dengan erat, dia tidak pernah merasakan perasaan ini.

Dia sebenarnya bahagia, bertahun-tahun hidup sendirian tidak pernah ada orang yang mengkhawatirkannya selain Zhongren. Namun sekarang, dia baru saja menemukan alasan baru untuk hidup.

Dia hidup untuk Hyojin, jika dia tidak ada dia takut Hyojin akan melakukan sesuatu yang bodoh. Dia hidup untuk melindungi gadis itu sekarang, dia sekarang tahu betapa besarnya cinta Hyojin untuknya .

“Aku tidak akan kemana-mana, aku akan disini bersamamu.” Yifan berbisik.

Dia merasa sangat tersiksa saat dia mendengar tangis Hyojin, dia tahu gadis itu pasti ketakutan sekali saat dia tertembak. Yifan harap dia bisa menghilangkan ingatan yang menyeramkan itu, namun dia tidak bisa.

Ketukan pintu terdengar dan Hyojin melepaskan pelukannya, dia menyeka airmatanya dan berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu dan menemukan sosok Luhan bediri didepannya, Hyojin terkejut.

“Luhan? Apa yang kau lakukan disini?” Hyojin bertanya.

“Aku ingin menjenguk Yifan, bukankah dia pahlawan yang menyelamatkan mu kemarin?” Luhan bertanya dia melangkah masuk mengacuhkan Hyojin yang terkejut.

“Yifan ge, aku membawakan bunga dan buah-buahan untukmu.” Luhan berkata dengan cerianya, dia menyimpan bingkisan Buah-buah yang dia bawa dan menyimpan bunga yang dia bawa di vas bunga yang ada dimeja pinggi ranjang Yifan.

“Luhan? Kau tak usah repot-repot.” Yifan berkata dan Luhan duduk disamping Yifan, Hyojin masuk dan dia masih terlihat kebingungan.

“Tidak apa gege, aku senang sekali kalau kau sudah sadar aku khawatir sekali.” Luhan berkata dan dia tersenyum.

Hyojin hanya berdiri disamping mereka berdua, memperhatikan interaksi Yifan dan Luhan. Hyojin tidak mengerti apa yang Luhan dan Yifan bicarakan, karena kedua lelaki itu berbicara dalam bahasa mandarin membuat Hyojin kesal.

“Bisakah kalian berbicara dengan bahasa korea? Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan.” Hyojin ikut bergabung dalam percakapan Yifan dan Luhan.

Luhan tertawa begitu juga Yifan, Hyojin menyadari sesuatu yang mirip dari mereka. Entah kenapa Hyojin menemukan beberapa point dari wajah Yifan yang mirip dengan Luhan, Hyojin tersenyum tipis dan dia duduk diujung ranjang Yifan.

“Terimakasih sudah menjenguk Yifan Oppa.” Hyojin berkata dia tersenyum pada Luhan dan lelaki itu mengangguk.

Mereka berdua saling menatap sesaat lalu berpaling dari satu sama lain mungkin malu, mereka sadar kalau Yifan memperhatikan mereka berdua.

Yifan yang melihat tatapan Luhan kearah Hyojin sedikit curiga, dia benci saat dia melihat tatapan Luhan kearah Hyojin. Karena dia tahu tatapan Luhan sama dengan tatapannya saat dia mengagumi gadis itu, dadanya bergemuruh saat dia sadar kalau ada kemungkinan Luhan menyukai kekasihnya.

“Apa kau kesini sendirian? Bagaimana dengan Yixing?” Tanya Yifan membuat Luhan berhenti menatap Hyojin dan melirik kearahnya.

“Oh Yixing, dia sedang sibuk kau tahu menggantikan posisimu untuk sementara.” Luhan menjawab dan Yifan mengangguk, Luhan benar lelaki itu pasti sangat sibuk sekarang.

“Oh kau benar, katakan padanya aku minta maaf karena sudah membuat dia sibuk aku juga berterimakasih padanya.” Yifan berkata dan Luhan mengangguk.

“Kau tak usah khawatir aku akan menyampaikannya.”Luhan menjawab.

“Zhongren kemana?” Luhan bertanya dia baru sadar kalau anak tengil itu tidak ada disamping Yifan, sebenarnya dia merasa sedikit lega.

“Oh Zhongren dia sedang bekerja, apa kau tahu? Dia mendapatkan tawaran sebagai model.” Yifan menjawab.

“Wah..itu bagus, aku tahu Zhongren berbakat.” Luhan merespon dia tersenyum tipis, sebenarnya dia merasa aneh harus berdekatan dengan Yifan.

Biasanya mereka saling menyindir dan melontarkan kata-kata yang menyingung namun sekarang mereka lebih akur, Luhan sebenarnya suka dengan keadaan ini. Dia lelah harus terus bertengkar dengan Yifan, sesekali dia ingin interaksi yang dekat dan akur dengan kakak tirinya itu.

“Aku haus pergi, aku masih punya beberapa pekerjaan apa kau tidak keberatan ge?” Luhan berdiri dari duduknya.

“Baiklah, sampai jumpa nanti.” Ucap Yifan.

“Sampai jumpa nanti, Yifan ge, Hyojin-ah.” Luhan berkata dan dia menunduk untuk pergi.

“Pergi aku antar kau sampai pintu depan rumah sakit.” Hyojin meminta, dia berdiri juga dari ranjang Yifan.

“Tak usah..” Luhan menolak.

“Tidak apa-apa, Oppa tidak keberatan iyakan?” Hyojin melirik kearah kekasihnya.

“Ya, antar saja dia.” Yifan menyetujui.

“Baiklah.” Luhan menyetujui.

Hyojin dan Luhanpun pergi keluar dari ruangan Yifan, Yifan menatap kearah punggung Hyojin dan Luhan yang menghilang dari ruangannya. Yifan mengepalkan tangannya, emosinya mulai naik, jika dia tidak sakit dia sudah melemparkan vas bunga yang ada disamping ranjangnya.

*******

    Hyojin dan Luhan masuk kedalam lift, mereka merasa sangat canggung sekali antara satu sama lain. Sebenarnya Hyojin ingin menanyakan tentang hubungan Luhan dan Yifan namun entah kenapa setiap kali dia mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada lelaki itu, dia selalu gagal untuk menannyakannya.

“Soal kemarin..” Hyojin memulai.

“Ya?” Luhan melirik kearah gadis itu.

“Apa kau akan menjelaskan apa hubunganmu dengan Yifan?” Hyojin menatap kearah Luhan.

“Oh…kau masih penasaran soal itu?”

Hyojin mengangguk.

“Aku dan Yifan saudara tiri.” Luhan mengungkapkan dan Hyojin terkejut, bukankah Yifan tumbuh di panti asuhan? Hyojin berpikir.

“Aku dengar dari dia kalau dia tumbuh di panti asuhan.” Hyojin mengungkapkan, dia masih ingat dengan jelas ekspressi sedih Yifan saat dia menceritakan kehidupannya di panti asuhan.

“Aku kira Yifan gege sudah menceritakan semuanya padamu, bagaimana kalau kau tanyakan saja pada dia?” Luhan mengusulkan.

“Aku akan bertanya pada dia nanti.” Hyojin menyetujui.

Pintu lift terbuka dan Hyojin mengikuti langkah lelaki itu.

“Terimakasih sudah mengantar aku.” Luhan berbalik kearah Hyojin yang mengikutinya dari belakang setelah mereka smapai dipintu utama rumah sakit.

“Sama-sama, jenguklah Yifan Oppa lebih sering aku lihat kalian cukup dekat.” Hyojin berkata dan Luhan mengangguk.

“Ya, aku akan menjenguk lagi..kalau begitu sampai jumpa.” Luhan berpisah dari Hyojin.

Hyojin melambaikan tangannya pada Luhan yang membalasnya, Hyojin memberikan senyum manis pada Luhan yang pergi menaiki sepeda motornya. Tanpa Hyojin sadari Taeyeon baru saja memarkirkan mobilnya, dia melihat interaksi antara Luhan dan Hyojin yang kelihatan akrab.

Taeyeon ragu apakah dia harus menjenguk Yifan sekarang? Dia tahu jika dia menjenguk Yifan sekarang Hyojin akan marah. Wanita itu pasti akan mengusirnya, Taeyeon tidak peduli dia turun dari mobilnya membawa bingkisan buah-buahannya dan satu kotak soup kesukaan Yifan.

Taeyeon sudah mendengar tentang keadaan Yifan dari Yixing, rumor tentang Hyojin yang diculik dan Yifan yang menyelamatkannya sudah tersebar di semua berita Koran dan televisi. Belum ada konfirmasi yang jelas dari pihak perusahaan Jung dan perusahaan Li entah kenapa kedua perusahaan itu sepertinya menyembunyikan kasus ini dari publik.

Taeyeon memutuskan untuk keluar dari parkiran rumah sakit, dia tahu jika dia menjenguk Yifan sekarang dia tidak akan memiliki waktu untuk mengobrol dengan lelaki itu sendirian.

[Sekolah Hyojung, Seoul – Korea selatan 10:00 am]

  Bel istirahat sudah berbunyi dan Hyojung dengan malasnya berdiri dari tempat duduknya, dia melangkah keluar dari kelasnya.

Kemarin malam Zhongren kelihatan sangat sedih sekali, Hyojung bahkan bingung bagaimana dia bisa menghibur Zhongren. Hyojung bukanlah orang yang pintar menghibur dia sediri selalu murung, Hyojung tahu Zhongren sangat membutuhkan dia sekarang namun entah kenapa Hyojung selalu ragu setiap kali dia mendekat pada Zhongren.

Zhongren memang pacarnya Hyojung tahu jelas status antara mereka, namun dia tetap tidak bisa berhenti berpikir kalau mereka tidak seperti kedua orang yang berpacaran.

Mereka berdua terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing, apalagi sekarang Zhongren lebih sibuk bekerja sebagai model daripada berkencan dengan dia.

Hyojung mengambil handphonenya, tak ada satupun pesan atau telepon dari Zhongren membuat Hyojung kesal. Baru saja dia melangkah menjauh keluar dari kelasnya dia di kagetkan dengan sosok Sehun yang tiba-tiba saja muncul didepannya, lelaki itu terengah-engah dan akhirnya dia berbicara.

“A-aku dengar kakakmu diculik apa itu benar?” Sehun bertanya Hyojung yang terkejut hanya mengangguk.

“Bagaimana keadaan kakakmu? Apa dia baik-baik saja?” Sehun sekali lagi melontarkan pertanyaan.

“Dia baik-baik saja, kau tak usah khawatir.” Hyojung menjawab dengan senyum, Hyojung sedikit tersentuh dengan perhatian Sehun.

“Syukur kalau begitu, aku khawatir sekali..apa kau baik-baik saja?” Sehun bertanya seklai lagi, lelaki itu menyentuh kedua bahunya.

Hyojung yang malu langsung menjauh dari Sehun membuat Sehun sedikit terkejut, terkadang dia lupa kalau Hyojung sangat pemalu dan diapun menarik tangannya.

“Maaf.” Dia berkata dan menggaruk kepalanya canggung.

“Tidak apa-apa.” Hyojung menjawab.

“Baiklah kalau begitu, sepertinya aku selesai aku senang jika kakakmu baik-baik saja.” Ucap Sehun.

“Aku pergi dulu, jika kau butuh sesuatu aku ada di lapangan basket indoor.” Sehun memberi tahu dan Hyojung mengangguk.

Sehun melambaikan tangannya pada Hyojung dan pergi meninggalkan gadis itu, Hyojung tersenyum Sehun memang teman yang baik Hyojung yakin. Hyojung tersenyum saat dia melihat Sehun bergumam sesuatu dia pasti mengutuk karena dia tiba-tiba saja menyentuh Hyojung, tanpa Sehun ketahui Hyojung sebenarnya sedikit menyukai sikap itu dari Sehun.

Selama ini tidak pernah ada orang yang berani menyentuhnya seperti Sehun, mereka biasanya segan dan merasa canggung namun Sehun kelihatannya merasa tidak canggung dengan Hyojung dan Hyojung lega karena dia sebenarnya ingin mempunyai teman dekat selain dari Naeun,Suzy dan Chorong yang sudah dia kenal sejak sekolah dasar.

“Hyojung-ah!!” Chorong memanggil.

“Hi!” Hyojung merespon dia duduk di meja Chorong.

“Kemana yang lainnya?” Hyojung bertanya kebingungan saat dia melihat kalau Chorong sendirian dimeja kantin.

“Oh..Suzy pergi bersama Chanyeol, Naeun aku tidak tahu aku dengar dia sedang sibuk mengurus aktivitas club cheerleader nya.”

Hyojung hanya bisa mengangguk, dia sebenarnya sedikit iri pada Chanyeol dan Suzy mereka kelihatan selalu berdekatan dan mesra sekali.

Dia hanya bisa berharap kalau Zhongren bisa lebih dekat dengan dia, Hyojung dan Zhongren hanya sekedar pergi berkencan dan mengobrol mereka tidak pernah seintim Chanyeol dan Suzy.

mereka bahkan hanya berciman sekali dan saling memegang tangan dan itu saja, Hyojung tahu kalau Zhongren menjaga jarak karena dia jauh lebih muda dari lelaki itu namun entah kenapa Hyojung merasa sedikit kecewa.

Terkadang dia ingin Zhongren lebih seperti Sehun atau Chanyeol mungkin? Mereka lebih sensitive dan perhatian, Zhongren juga sebenarnya perhatian namun terkadang dia tidak sensitive dengan mood dia.

Hyojung berdiri dari duduknya membuat Chorong terkejut.

“Kau mau kemana?” Tanya Chorong.

“Aku mau jalan-jalan.” Hyojung menjawab dia pergi meninggalkan Chorong.

Entah apa yang membawa Hyojung kelapangan namun dia baru sadar kalau kakinya melangkah menuju lapangan basket indoor yang ada dibelakang sekolah, dia bisa melihat tim basket berkumpul dilapangan basket indoor dan dia bisa melihat Sehun mengobrol dengan teman setimnya.

Annyeoung!” Hyojung berseru membuat sebagian teman setim Sehun melirik kearahnya.

“Hyojung-ah?” Sehun kaget melihat sosok gadis itu.

“Sehun-ah..” Hyojung tersenyum pada Sehun.

Sehun menghampiri gadis itu dia sangat senang Hyojung datang kepadanya.

“Maaf menganggu, aku hanya ingin mengobrol sebentar.” Hyojung mengungkapkan.

“Tentu saja, apa yang ingin kau obrolkan?” Sehun bertanya.

Mereka berdua duduk disalah satu bangku kantin, Hyojung memainkan tangannya gugup dia ingin bertanya soal Jiyoung pada Sehun sebenarnya dia hanya ingin mengobrol dengan  pemuda itu namun dia tidak tahu apa yang harus dia bahas

“Jadi..apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Sehun membuat Hyojung sadar dari lamunannya.

“Err bagaimana kabar Jiyoung eonni?” Tanya Hyojung.

“Jiyoung noona? Dia baik-baik saja dia sekarang membantu Appa diperusahaan.” Sehun menjawab dan Hyojung mengangguk.

“Aku senang kau menemuiku.”Sehun mengungkapkan dia tersenyum pada Hyojung.

“Eh? Kenapa?” Tanya Hyojung terkejut.

“Aku kira kau akan melupakanku setelah kau dan pacar mu itu lebih dekat.” Sehun menjawab dan Hyojung tersenyum pahit.

“Kau temanku Sehun, aku tidak mungkin melupakanmu.” Hyojung menjawab dan Hyojung tersenyum lagi namun kali ini senyumnya cerah.

Sehun tidak bisa menahan senyumnya juga dia tersenyum manis kearah gadis itu, rasanya dia bisa lepas mengekspressi dirinya didepa  Hyojung sekarang.

Walaupun gadis itu sangat pemalu namun Hyojin memiliki efek yang positif untuk Sehun, Semenjak dia mengenal gadis itu dia lebih bisa bebas dan tersenyum.

Dia tidak harus selalu menunjukan poker facenya, menutupi setiap ekspressi yang ingin dia gambarkan dalam wajahnya.

Gadis itu menarik semua keberaniannya keluar, biasanya dia selalu ragu dalam mengambil keputusan dia selalu mempertimbangkan apapun namun dengan Hyojung semuanya mengalir dengan normal.

“Ngomong-ngomong bagaimana kabar pacarmu? Dia kelihatanya lebih tua darimu.” Sehun bertanya, dia tidak memiliki pertanyaan lain selain itu dia tidak ingin membahas sesuatu yang membosankan.

“Zhongren oppa? Dia baik-baik saja, dia sedang sibuk bekerja sekarang.” Hyojung menjawab sedikit malu, bahkan Sehun bisa nelihat pipi Hyojung memerah.

Betapa manisnya itu? Hyojung adalah versi wanita korea yang sangat tradisional dia masih malu-malu jika dia menceritakan tentang lelaki yang dia cintai.

Berbeda sekali dengan teman-teman wanita nya yang lain, bahkan wanita yang dia cintai Oh Jiyoung tidak semanis Hyojung. Dari dasar hatinya dia benar-benar iri pada Zhongren, lelaki itu sangat beruntung memiliki wanita yang mengagumkan dan manis seperti Hyojung disampingnya.

“Apa pekerjaan dia? Apakah kalian sering berkencan?” Sehun menompang kepalanya dengan tangannya sambil melirik kearah Hyojung.

“Euh..iya, Zhongren oppa bekerja sebagai model.” Hyojung menunduk dan memainkan jarinya gugup.

Sehun menyeringai, Hyojung benar-benar sangat lucu. Dia inginbsekali menggoda gadis itu, namun dia takut kalau gadis iyu marah padanya jika dia menggoda terlalu jauh.

“Hey, apakah kau merasa canggung denganku?” Sehun melontarkan pertanyaan, Hyojung menatap kearah lelaki itu dan gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu bisakah aku mencium pipimu sekali saja?” Sehun meminta seakaan permintaan itu hanyalah hal yang sepele.

Hyojung tidak menjawab dia malah semakin menunduk, pipinya langsung berubah menjadi merah padam.

Sehun mendekat kearah Hyojung namun Hyojung tetap diam, Hidung Sehun sudah menyentuh sisi pipi Hyojung dan taklama kemudian dia bisa merasakan sebuah ciuman manis dipipinya.

“Terimakasih sudah jadi temanku, aku harap kau tidak akan melupakan aku.” Sehun berkata dan dia berdiri dari duduknya.

“Sebentar lagi bel masuk, aku sebaiknya mengantarmu sampai kelas.” Sehun berkata dan Hyojung mengangguk.

    Jantungnya berdetak cepat sekali bahkan tangannya gemetaran, bibirnya mungkin sudah menjadi milik Zhongren namun pipinya selalu menjadi milik Sehun karena dia lelaki pertama yang mengecup pipinya selain ayahnya Jung Yunho.

[Ruangan Yifan, Rumah sakit Seoul – Korea selatan  12:00pm]

   Yongguk datang membawa baju ganti Hyojin dan makan siang ubtuk nonanya, dia menatap sinis kearah Yifan yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit

Sebenarnya dia kasihan pada lelaki itu namun dia tidak bisa berhenti merasakan rasa cemburu yang besar, seumur hidupnya Yongguk belum pernah dimanja oleh Hyojin tapi sekarang Yifan yang baru saja mengenal Hyojin beberapa bulan sudah Hyojin manja dengan penuh kasih sayang.

“Apa kau ingin menambah buburnya Oppa?” Tanya Hyojin saat Yifan sudah menghabiskan satu mangkok kecil bubur yang hambar pemberian dari suster rumah sakit.

“Tidak aku sudah kenyang..” Yifan menjawab dan Hyojin menyeka sudut bibir Yifan.

“Kalau begitu tidurlah, aku akan mandi dulu.” Hyojin berkata dia menarik selimut Yifan agar kain hangat itu menutupi dada Yifan.

Yongguk yang melihat itu mendengus dengan kesal, dia ingin sekali menekan luka Yifan sampai lelaki itu menjerit seperti gadis kecil.

Hyojin hendak pergi namun Yifan menarik tangan Hyojin.

“Mana ciuman sebelum tidurku?” Yifan bertanya dia menunjuk kearah bibirnya.

“Oppa kau sudah besar..lagipula disini ada Yongguk Oppa, kau aman bersama dia.” Hyojin berkata, Yifan melirik kearah Yongguk yang kelihatan sudah naik pitam melihat tingkah manja nya pada Hyojin.

“Dia menyeramkan..aku takut dia mencekikku saat aku tidur.” Yifan mengadu dan Yongguk mengepalkan tangannya penuh emosi, dia bersumpah jika Yifan sudah sembuh dia akan memukul lelaki itu dengan keras.

” Oppa kau konyol sekali..aku yakin Yongguk oppa tidak akan melakukan itu.” Hyojin berkata dia mengelus kepala Yifan.

“Tidurlah, aku janji Yongguk Oppa tidak akan melukaimu.” Hyojin berkata dan Yifanpun dengan berat hati menurut dia membiarkah Hyojin melepaskan tangannya.

Hyojin berjalan masuk kedalam kamar mandi, Yongguk yang duduk dikursi yang ada disudut ruangan Yifan mengela nafas. Dia merasa sedikit khawatir dengan keadaan Hyojin, dia khawatir saat dia melihat betapa pucat nya wajah Hyojin bahkan wanita itu memiliki kantung mata tanda kalau dia kurang tidur.

Melihat Yifan yang tertidur lelap di ranjang, Yongguk kembali mengingat saat lelaki itu berlari kearah Hyojin dan tanpa takut memeluk gadis itu walaupun dia tahu kalau dia akan tertembak.

Yongguk mengagumi itu, karena dia sendiri takut saat dia melihat Jongsuk sudah menodongkan pistolnya pada Hyojin dan siap menembak gadis itu. Yongguk mulai berpikir apakah dia benar-benar mencintai Hyojin selama ini? Dia merasa malu sekali pada dirinya sendiri, padahal tadi dia marah sekali saat Hyojin memanjakan Yifan.

Tapi jika dipikir-pikir lagi tentu saja Yifan layak mendapatkan itu, lelaki itu sudah menyelamatkan nyawa Hyojin. Dia hanya terlalu egois untuk menganggap kalau dia juga layak mendapatkan kasih sayang dan cinta gadis itu, Yongguk sadar sekarang ternyata dia masih kekanak-kanakan.

Beberapa menit berlalu Yongguk bisa melihat Hyojin yang keluar dari kamar mandi, gadis itu sudah memakai baju formalnya dan sedang menyisir rambut coklat panjangnya. Hyojin terlihat sangat seksi dalam balutan baju formal itu, Yongguk tersenyum dan dia mendekat kearah Hyojin.

“Apa kau benar-benar ingin kembali kekantor? Kau tidak lelah?” Tanya Yongguk, dia mengambil handuk yang Hyojin bawa.

“Ya, ada urusan yang harus aku selesaikan.” Hyojin menjawab suaranya terdengar tegas.

“Ada apa? Apa urusan itu berhubungan dengan penculikanmu?” Yongguk melontarkan lagi pertanyaan.

“Ya, Oppa sebaiknya kau tidak ikut campur ini urusan aku dengan Yifan.” Hyojin menjawab, Yongguk merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Hyojin namun Hyojin benar.

Dia tidak memiliki hak apapun untuk ikut tahu soal urusan penculikan Hyojin, Yongguk cukup yakin kalau kasus penculikan Hyojin pasti ada hubungannya dengan perusahaan. Hyojin memiliki banyak saingan didunia bisnisnya, apalagi semua saingan Hyojin tidak ragu untuk bermain kotor.

“Baiklah, aku akan menyiapkan mobil dulu.” Yongguk berkata dia menyimpan handuk Hyojin disalah satu gantungan baju yang ada diruangan.

Hyojin tidak menjawab dia hanay mengangguk lalu menyisir rambutnya, dia bisa melihat sosok Yongguk keluar dari ruangan Yifan. Hyojin menghela nafasnya, dia merasa bersalah karena dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Yongguk.

Dia takut jika dia tahu kalau Yoona terlibat dalam penculikan ini Yongguk akan melakukan sesuatu yang buruk pada wanita itu, Hyojin mengikat rambutnya dan berbalik mengambil tas hijaunya yang ada di kursi.

“Oppa, aku pergi dulu..aku akan kembali kau tak usah khawatir.” Hyojin berkata pada Yifan yang sudah tertidur, lalu dia mencium dahi lelaki itu dan pergi.

[Perusahaan Jung, Seoul – Korea selatan 13:00pm]

  Berita tentang penculikan Hyojin sudah tersebar diseluruh sudut perusahaan Jung, semua pegawai skearang lebih sibuk untuk membahas penculikan Hyojin daripada bekerja. Taeyeon yang sedang mengejakan laporannya sedikit kesal, semua rekan kerjanya tidak bisa diam dan terus mengoceh.

Taeyeon berhenti mengerjakan laporannya, walaupun dia terpisah jauh dengan semua rekan kerjanya yang ada diluar ruanganya dia bisa melihat mereka sedang mengobrol dari jendela kantornya.

Taeyeon berjalan keluar dari kantornya dengan ekspressi marahnya, dia berkacak pinggang memperhatikan semua rekan kerjanya yang dengan santai mengobrol dan meminum kopi mereka tanpa menyadari keberadaan Taeyeon.

“Apakah ini pekerjaan kalian dari tadi?!” Taeyeon membentak membuat semua rekan kerjanya melirik kearah dia.

“Perusahaan Jung tidak membayar kalian untuk bergosip! Cepat bereskan pekerjaan kalian dan berikan semua laporannya padaku!” Taeyeon membentak marah.

Semua pengawai langsung bubar dan kembali kemeja mereka, Taeyeon masih emosi dia langsung masuk kedalam ruangannya dan membanting pintunya. Taeyeon benci saat dia mendengar semua rumor yang beredar di perusahaan Jung, mereka mengatakan kalau Hyojin diselamatkan oleh tunangannya.

Tunangan mereka bilang?! Hyojin dan Yifan baru mengenal satu sama lain beberapa bulan, sedangkan dia mengenal Yifan lebih dari 10 tahun dialah yang berhak menjadi tunangan Yifan bukan Hyojin.

*****

  Yongguk menghentikan laju mobil mereka sudah sampa didepan pintu utama perusahaan Jung, Yongguk turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Hyojin. Hyojin turun dari mobilnya dan sepertinya semua pegawai terkejut melihat sosok direktur utama mereka masuk kedalam kantor.

Semua pegawai menyapanya seperti biasanya, namun bedanya Hyojin bisa mendengar bisikan-bisikan dari pegawainya setiap kali dia berjalan melewati mereka. Hyojin masuk kedalam lift, dia masih didampingi oleh Yongguk .

Pintu lift terbuka dan dia bisa melihat sosok Yoona sudah duduk dimejanya, wanita itu sepertinya sudah membereskan semua barang-barangnya. Hyojin bisa melihat Yoona menitikan airmatanya, wanita itu terlihat sangat menyedihkan.

“Oppa pergilah, aku ingin berbicara dengan Im biseo-nim sendirian.” Hyojin memerintah dan Yongguk menurut, dia masuk kembali kedalam lift meninggalkan Hyojin sendirian.

“Kau sudah bersiap-siap untuk pergi?” Tanya Hyojin, Yoona yang mendnegar suara Hyojin segera mendongak.

“Hyojin-ah..”

“Kenapa kau melakukannya? Apa salahku?”

“Hyojin-ah..ini semua salah paham, kau tidak mengerti..” Yoona mencoba menjelaskan, airmatanya turun membasahi pipinya.

“Apa yang tidak aku mengerti? Kalau begitu jelaskan.” Hyojin menuntut.

“Jongsuk adalah mantan kekasihku, dia mengancam untuk membunuh kau dan Hyojung jika kau tidak memberikan uang satu milliar padanya.” Yoona mengungkapkan.

“Lalu kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Hyojin bertanya, jika Yoona mengatakankalau seseorang memerasnya mungkin Hyojin akan membantu.

“Bagaimana aku bisa mengatakannya jika kau masih shock dengan kematian orang tuamu? aku tidak ingin memberikan beban padamu Hyojin-ah.” Yoona menjawab.

“Aku tahu kau tertekan dengan semua tanggung jawab perusahaan, aku tidak ingin membuat kau semakin ketakutan dengan mengatakan kalau seseorang memburumu dan mencoba membunuhmu.” Yoona menjawab.

“Apa hanya itu alasanmu? Aku yakin jika itu alasanmu kau akan mengatakannya padaku cepat atau lambat.” Hyojin tidak percaya dengan alasan Yoona, dia tahu kalau wanita itu menyembunyikan sesuatu.

“Aku..”

“Katakan yang sejujurnya Im biseo-nim..jika kau ingin aku memaafkanmu sebaiknya kau katakan semuanya dengan jujur.”

Yoona menunduk, dia malu sekali harus berdiri dihadapan Hyojin sekarang. Dia adalah pengkhianat! Dia tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari Hyojin, dia bahkan hampir membunuh gadis itu karena kelakuannya.

“A-aku..aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya, aku takut jika kau semakin membenciku.” Yoona mengungkapkan.

“Jika kau ingin aku tidak membencimu katakan yang sejujurnya.” Ucap Hyojin.

“Orang tuamu akan bercerai Hyojin.” Yoona akhirnya berkata dan mata Hyojin melebar terkejut.

“Apa maksudmu? Mereka terlihat akur saat terakhir kali aku melihat mereka.” Hyojin tidak percaya dengan perkataan Yoona.

“Ibumu akan mengatakannya padamu namun ayahmu tidak setuju,mereka bertengkar sebelum mereka kecelakaan.” Yoona menjelaskan, dunia Hyojin terasa hancur saat dia mendengar semua itu.

Hyojin merasa begitu bodoh, kenapa dia tidak pernah menyadari semua ini? Dia terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri dia menyalahkan dirinya untuk itu. Namun dia merasa ada sesuatu yang ganjal, dia bingung bagaimana Yoona tahu kalau kedua orangtuanya bertengkar sebelum kecelakaan?

“Darimana kau tahu semua ini? Darimana kau tahu kalau Eomma dan Appa bertengkar?” Hyojin bertanya penuh kecurigaan.

“Karena akulah penyebab semua ini…” Yoona berkata dengan nada lemas.

“Maksudmu?!” Hyojin marah.

“Yunho-shi bilang dia menyukaiku, akulah yang menyebabkan kenapa kedua orangtuamu ingin bercerai.” Yoona menangis, dia langsung berlutut dihadapan Hyojin.

“Aku mohon..maafkan aku Hyojian-ah..” Yoona menangis.

Hyojin hanya diam, tubuhnya terasa mati rasa saat dia mendengar pengakuan Yoona. Orang yang selama ini dia percaya ternyata adalah pengkhianat terbesar dalam hidupnya. Hyojin merasa jijik sekali pada Yoona, dia bahkan tidak ingin melihat wajah wanita itu.

“PERGI! PERGI DARI HADAPANKU!” Hyojin membentak penuh amarah, airmatanya menetes membasahi pipinya, matanya melotot kearah sosok Yoona yang berlutut dihadapannya.

“Hyojin-ah..aku mohon maafkan aku.” Yoona berkata.

“Maaf?! Kau bilang maaf?! Setelah kau mengkhianatiku dan berbohong padaku kau ingin meminta maaf?!” Hyojin membentak.

“Aku salah Hyojin-ah..aku akan pergi tapi aku mohon…jangan membenciku.” Yoona berkata suaranya terdengar lemah karena dia menangis.

Hyojin hanya diam, dia membiarkan Yoona berlutut dihadapannya menangis tersedu-sedu. Yoona memang pantas menangis, dia harus menderita sama seperti dia yang menderita setelah kehilangan kedua orangtuanya.

“Pergilah dari hadapanku, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu.” Hyojin berkata dan Yoona mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Aku mohon Hyojin-ah..”Yoona sekali lagi memohon.

“Aku bilang pergi, kau dipecat sekarang..jangan pernah menunjukan lagi wajahmu dihadapanku.” Hyojin berkata dengan dingin, dia menyeka airmatanya dan pergi masuk keruangannya membanting pintu kantornya sekeras mungkin.

Hyojin menyandar kepintu ruangan kantornya, wanita itu menangis tersedu-sedu tubuhnya ambruk kelantai. Dia memeluk kakinya dan menangis lagi, semua ini terlalu menyakitkan untuk Hyojin dia merasa dikhianati dan dibodohi.

“Hyojin-ah…aku pergi.” Hyojin bisa mendengar suara Yoona dari balik pintu.

Hyojin meremas kain celananya menahan tangisnya, dia tidak membalas dan dia bisa mendengar langkah kaki Yoona yang menjauh darinya. Setiap langkah yang Yoona ambil membuat hati Hyojin terluka, Yoona pergi meninggalkannya dan dia membuat Hyojin semakin merasa sendirian didunia ini sekarang.

Setelah kehilangan kedua orang tuanya yang dia sayangi sekarang dia kehilangan orang yang sangat dia percayai, itu membuat Hyojin takut..dia takut untuk menyayangi lagi. Dia takut untuk bergantung pada orang lain lagi, dia tidak ingin merasakan rasa sakit ini kembali dia sangat takut.

Orang yang bisa dia percayai dan sayangi sekarang hanyalah Hyojung dan Yifan, dia tidak ingin lagi mencintai dan mempercayai orang lain. Dia sudah lelah dan takut untuk percaya dan mencintai seseorang, karena dia tahu bagaimana rasanya dikhianati dan dibodohi seperti ini.

Hyojin mendengar ponselnya berdering, Hyojin segera menyeka airmatanya dan mengambil ponselnya. Ternyata nama Kyuhyun tertera dilayar ponselnya, Hyojin mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu dan mengangkat telepon Kyuhyun.

“Hyojin-ah, aku sudah mengurus kasusmu kau tenang saja Jongsuk akan dipenjara cukup lama.” Kyuhyun berkata.

“Terimakasih pengacara Cho, maaf aku sudah merepotkan.” Hyojin berkata.

“Tidak apa-apa, aku sudah tahu yang sebenarnya..Yoona menyerahkan dirinya kepolisi tadi pagi.” Kyuhyun mengungkapkan.

“Apa?” Hyojin terkejut.

“Ya, dia mengatakan kalau dialah yang mencuri uang perusahaan dia mendapatkan password akun bank perusahaan dari laptopmu.” Kyuhyun menuturkan.

“Oh…begitu, apakah dia akan dipenjara?” Hyojin bertanya.

“Ya, mungkin sekitar satu tahun sampai dua tahun.” Kyuhyun menjawab.

“Tebus dia, bebaskan dia.” Hyojin memerintah, Kyuhyun sepertinya terkejut karena dia tidak menjawab apapun saat Hyojin menyuruhnya untuk membebaskan Yoona.

“Tapi Hyojin-ah..dia bersalah.” Kyuhyun memberi alasan.

“Aku tidak peduli, bebaskan dia.” Hyojin berkata lalu dia menutup teleponnya.

Anggap saja dengan kebebasan itu Hyojin sudah membayarkan kembali jasa Yoona, dia yakin kalau dia tidak akan bertemu dengan wanita itu dalam waktu yang lama dia tidak akan bisa membayar jasa Yoona selama ini selain dengan membebaskan wanita itu sekarang.

[Sekolah Hyojung, Seoul – Korea selatan 15:20 pm]

  Hyojung berdiri didepan sekolahnya menunggu Zhongren yang menjemputnya, dia sebenarnya sedikit gugup untuk berkencan dengan Zhongren sekarang. Dia bahkan tidak bisa berhenti merapikan seragamnya, sesekali dia membenarkan rambutnya dan megecheck apakah lipglossnya sudah rata atau belum.

Taklama menunggu Hyojung mendnegar suara klakson mobil, Hyojung melirik kearah kanan dan kiri mencari sumber klakson itu dan dia menemukan mobil Zhongren sudahbrhenti tak jauh dari sekolahnya.

Hyojung berlari kearah mobil Zhongren, dia masuk kedalam mobil kekasihnya itu dan dia langsung disamput oleh Zhongren yang memakai baju kasual dengan kacamata hitamnya.

“Hi, bagaimana sekolah?” Zhongren bertanya.

“Membosankan.” Hyojung menjawab singkat, sebenarnya dia sedikit marah karena Zhongren tidak menghubunginya sama sekali dari kemarin padahal dia sangat khawatir dan merindukan kekasihnya itu.

“Kenapa kau murung? Oh iya, kita sebaiknya menjenguk Yifan hyung saja bagaimana?” Zhongren bertanya dan melirik kearah Hyojung.

“Terserah Oppa saja.” Hyojung menjawab seenak nya, dia sedang marah pada Zhongren.

Zhongren tahu ada sesuatu yang ganjal dengan Hyojung, Gadis itu kelihatan lebih murung dari biasanya.Kemanakah Hyojung yang selalu ceria dan tersenyum saat gadis itu bertemu dengan nya? Yang dia lihat sekarang hanyalah Hyojung yang muram dan pendiam. Rasanya dia kembali lagi ketitik awal hubungan mereka, dimana dia dan Hyojung hanyalah dua orang asing yang saling mengenal.

“Apa kau marah padaku?” Zhongren melirik kearah Hyojung saat dia berhenti dilampu merah.

“Menurutmu?” Hyojung bertanya sinis, gadis itu tidak melirik kearah Zhongren sedikitpun.

“Kau marah.” Zhongren berpendapat, suaranya terdengar tegas.

“Apa kesalahanku kali ini?” Tanya Zhongren.

Hyojung melipat tanganya didepan  dadanya, dia tidak mau membahasnya dia sedang marah. Hyojung hanya ingin Zhongren sadar apa kesalahannya, dia lelah harus menunjukan setiap kesalahan Zhongren. Dia lelah harus menghakimi dan menilai setiap kelakuan lelaki itu, dia mencintai Zhongren tapi jika Zhongren terus bersikap cuek seperti ini dia tidak yakin kalau dia harus mempertahankan hubungan mereka.

“Apa kau tidak akan menjawab pertanyaanku?” Zhongren mencoba memancing Hyojung untuk bertanya namun gadis itu tidak menjawab memutuskan untuk memperkeruh  keadaan diantara mereka.

“Hyojung jangan bersikap kebak-kanakan..jika kau punya masalah denganku katakanlah!” Zhongren akhirnya naik pitam dan Hyojung menunduk menangis.

Zhongren menghentikan mobilnya, dia marah namun dia merasa bersalah karena dia membuat Hyojung menangis.

“Maaf..aku tidak bermaksud untuk membentak.” Zhongren berkata dengan lembut, dia mencoba menyentuh Hyojung namun Hyojung menepis tangannya dengan kasar.

“Aku ingin pulang…” Hyojung menangis dia menyeka airmatanya.

“Hyojung-ah..sebaiknya kita bahas ini ok? Katakan padaku apa kesalahanku? Aku janji aku akan memperbaikinya.” Zhongren membujuk.

Hyojung hanya diam masih menangis, Zhongren menghela nafasnya dia tahu Hyojung tidak akan menjawab pertanyaannya diapun mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit, mau tidak mau gadis itu harus mengikutinya jika Hyojung memutuskan untuk keras kepala Zhongren akan lebih keras kepala lagi kita lihat siapa yang akan menang.

Zhongren menginjak pedal gasnya kecepatannya laju mobilnya sudah lebih dari rata-rata, Zhongren bisa melihat Hyojung mulai panik dan menggengam sabuk pengaman nya dengan erat.

Zhongren menyeringai saat dia melihat Hyojung mulai gugup, dia tahu kalau Hyojung tidak suka jika dia sudah melajukan mobil kencang sekali seperti sekarang.

Zhongren membelokan mobilnya dengan kasar membuat Hyojung meremas sabuk pengamannya lebih kencang lagi dan tangannya berkeringat, Zhongren ingin tahu sampai dimana Hyojung akan tutup mulut.

Mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Zhongren menghentikan mobilnya dan turun. Hyojung melepaskan sabuk pengamannya, Zhongren sudah membukakan pintu mobilnya untuk Hyojung.

“Apa kau akan turun?” Zhongren bertanya dingin.

Hyojung segera turun dari mobil Zhongren.

“Jika kau ingin menjenguk Yifan hyung, kau sebaiknya tersenyum dia sedang sakit jadi dia tidak butuh wajah muram kamu.”Ucap  Zhongren, Hyojung tidak membalas dia hanya mengangguk.

Zhongren membuka bagasi mobilnya dan mengambil bingkisan buah-buahan dan sebuah bungkusan lainnya yang Hyojung tidak ketahui apa isinya.

Hyojung dan Zhongren berjalan masuk kedalam rumah sakit dan masuk kedalam salah satu lift yang kosong. mereka berdua tidak pernah secanggung ini sebelumnya, Zhongren tidak mengatakan apapun dia sibuk memperhatikan bingkisan yang dia bawa untuk Yifan, Hyojung hanya menunduk memainkan jarinya dengan gugup.

“Yifan oppa sudah baikan belum?” Hyojung akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

“Dia baik-baik saja, kau tak usah khawatir.” Zhongren menjawab.

“Begitu ya..syukurlah kalau begitu.” Hyojung merespon dia melirik kearah lain menunggu pintu lift yang mereka tumpangi terbuka.

Tak menunggu lama pintu lift terbuka, mereka berjalan berdampingan namun tak ada sepatah katapun mereka ucapkan pada satu sama lain.

” Hyojung bisakah kau buka pintunya untukku?” Suara Zhongren mengagetkan Hyojung.

Hyojung membuka pintu ruangan Yifan dan sosok kakak Zhongren bisa terlihat berbaring diranjang rumah sakit, Zhongren masuk dan dia kelihatan sedih sekali saat dia menemukan kalau kakaknya masih lemah dan di infus.

“Hyung..ini aku, Zhongren.” Zhongren membangunkan Yifan, Yifan membuka matanya dan tersenyum kearah Zhongren.

“Kau akhirnya datang..” Yifan berkata dengan suaranya yang sedikit serak.

“Ya, maaf hyung aku terlambat..tadi ada pemotretan.” Zhongren memberi alasan.

” Tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk sekarang.” Yifan memberikan senyum lembutnya pada Zhongren.

“Hyung tebak, aku kemari dengan siapa?” Zhongren berkata seringai liciknya menghiasi wajah tampannya.

“Siapa?” Yifan penasaran.

Annyeoung Yifan Oppa!” Hyojung berkata seceria mungkin.

Yifan melirik kearah samping nya dan dia menemukan Hyojung yang tersenyun kearahnya.

“Ah! Hyojung-ah..” Yifan terkejut namun dia tertawa.

“Apa kabar Oppa? Apa kau merasa baikan?” Tanya Hyojung dengan ceria.

“Ya..aku merasa baikan sekarang terimakasih karena kakakmu yang merawatku.” Yifan berkata dia mengelus kepala Hyojung dan Hyojung tersenyum.

“Sama-sama oppa, lagipula eonni sangat mengkhawatirkanmu jadi dia tidak bisa tidur meskipun dia pulang.” Hyojung mengungkapkan, dia ingat betapa tertekannya Hyojin saat Yifan belum sadarkan diri.

Kakaknya itu terlihat sangat rapuh saat dia menangis sambil menatap kearah Yifan yang pucat dan tak sadarkan diri.

” Benarkah? Aku sedikit merasa bersalah karena aku sudah membuat kakakmu repot.” Yifan berkata.

Aniyo..oppa, eonni sangat menyukaimu aku rasa dia tidak keberatan sedikitpun untuk mengurus oppa.” Hyojung mengungkapkan, melihat bagaimana khawatirnya kakaknya pada Yifan Hyojung yakin kalau kakaknya Hyojin sangat menyukai Yifan. Hyojung bisa membaca itu dari bagaimana kakaknya menatap kearah Yifan, terkadang dia iri dengan cinta yang kakaknya dan Yifan punya.

Karena Hyojung tahu cinta dia dan Zhongren tidak sekuat cinta kakaknya dan Yifan, mereka malah cangung dengan satu sama lain sekarang mereka sedikit kesusahan untuk menyesuaikan diri dengan satu sama lain.

Apalagi ditambah dengan kurangnya komunikasi antara mereka membuat mereka belum bisa seintim Hyojin dan Yifan,  terkadang Hyojung membenci dirinya sendiri karena dia pemalu jika dia lebih berani seperti Hyojin mungkin dia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Zhongren.

“Hyung apa kau ingin jeruknya? Aku akan mengupasnya untuk mu.” suara Zhongren menyadarkan Hyojung dari lamunannya.

“Tidak usah..aku tidak lapar, aku sudah makan tadi.” Suara lemah Yifan terdengar, kelihatanya lelaki itu belum pulih sepenuhnya.

“Oppa cepatlah sembuh, kau tidak mau kalau eonniku terus khawatirkan?” Hyojung bertanya dan Yifan mengangguk.

[Perusahaan Jung, Seoul – Korea selatan 16:00 pm]

  Taeyeon terkejut saat dia mendengar kalau sekertaris Im mengundurkan diri dari posisinya, sekertaris itu sudah bekerja diperusahaan ini selama sepuluh tahun lebih. Dia sudah mengenal banyak klien dan direktur, lalu apa yang membuat sekertaris handal itu mengundurkan diri.

Taeyeon berjalan menuju lift, dia marah sekali dia ingin penjelasan dari Hyojin. Jika Hyojinlah yang memecat sekertaris Im, Taeyeon akan marah sekali. Dia sangat dekat dengan sekertaris Im, sekertaris Im adalah seniornya yang paling baik dan perhatian padanya tentu saja dia tidak setuju jika sekertris Im dipecat begitu saja.

Pintu lift terbuka dan dia bisa melihat meja sekertaris Im sudah bersih, tak ada satupun barang-barang milik sekertrais Im yang tersisa. Taeyeon mengetuk pintu ruangan Hyojin, namun tak ada sahutan.

Taeyeon kembali mengetuk masih tidak ada sahutan, Taeyeon kesal dan dia membuka pintu kantor Hyojin. Dia terkejut saat dia melihat Hyojin sedang duduk dikursinya dengan satu botol vodka disampingnya, gadis itu terlihat berantakan sekali.

“Hwajang-nim!” Taeyeon memanggil namun Hyojin tidak menyahut, dia hanya diam memainkan gelasnya sambil melamun.

“Hwajang-nim, apa yang terjadi? Apa benar Im biseo-nim mengundurkan diri?” Taeyeon bertanya namun Hyojin hanya diam.

“Jung Hwajang-nim, saya mohon jawab saya..” Taeyeon berkata.

“Apa yang kau inginkan? Apa kau akan membela dia?” Hyojin akhirnya merespon,dia menatap kearah Taeyeon dengan mata sayunya.

“Hwajang-nim, anda terlalu banyak minum.” Taeyeon berkata dia mendekat dan menutup botol vodka Hyojin.

“Hentikan! Aku masih ingin minum..” Hyojin berkata dengan suara mabuknya, gadis itu sepertinya benar-benar sudah mabuk.

“Tidak Hwajang-nim! Sudah cukup..jika anda terus minum anda akan pingsan.” Taeyeon memberi peringatan, dia merebut botol vodka Hyojin dan menjauhkan botol minuman itu dari Hyojin.

“KAU PIKIR KAU SIAPA?!” Hyojin membentak penuh emosi, dia melotot kearah Taeyeon namun sekarang Taeyeon tidak takut karena dia benar.

“Aku disini sebagai Kim Taeyeon, bukan CEO yang bekerja dibawahmu aku disini untuk menolongmu.” Taeyeon menjawab dia memasukan botol vodka yang dia pegang kedalam kulkas kecil yang tersembunyi dibalik rak buku kantor Hyojin.

“Argggh! Sial! Kenapa semua orang melarangku? Aku sudah besar! Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Hyojin mengutuk dia menjenggut rambutnya frustasi.

“Hwajang-nim,sebaiknya kau beristirahat.” Taeyeon berkata dia menyentuh bahu Hyojin namun Hyojin menepis tangan Taeyeon dengan kasar.

Hyojin mencoba untuk berdiri, dia berjalan sempoyongan dan akhirnya dia jatuh kelantai cukup keras. Taeyeon yang melihat itu segera berlutut disamping Hyojin dan membantu direkturnya itu untuk berdiri, Hyojin masih keras kepala dan menodorong Taeyeon menjauh.

“PERGI!” Hyojin mengusir.

Taeyeon membiarkan Hyojin berdiri sendiri namun gadis itu malah jatuh lagi, dia mengerang dan menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit. Taeyeon menghela nafasnya dan dia mengulurkan tangannya pada Hyojin, menunggu gadis itu untuk menyambut tangannya.

“Apa kau akan terus diam disana?” Taeyeon bertanya.

Hyojin tidak menjawab, tiba-tiba saja airmata Hyojin menetes dan Taeyeon bisa melihat itu Taeyeon merasa kasihan sekali. Dia hanya bisa tertegun melihat Hyojin, seorang Jung Hyojin yang ditakuti oleh seluruh pegawainya menangis dihadapannya.

“Kenapa?! Kenapa kalian semua baik padaku?! Apa yang kalian mau? uangku? warisanku? jabatanku?!” Hyojin membentak tiba-tiba, dia masih menangis tersedu-sedu.

“Hwajang-nim..”

“Berhenti bersikap baik padaku! Jika kau ingin mengkhianati aku… berhentilah bersikap baik padaku! Aku lebih baik sendirian..” Hyojin menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis.

Entah kenapa saat dia menatap kearah sosok Hyojin yang menangis dihadapannya Taeyeon merasa sangat iba dia merasa dia sedang melihat sesosok anak kecil yang tersesat, bukanlah sosok Hyojin yang berwibawa dan independen.

“Hyojin..cukup kau mempermalukan dirimu sendiri.” Taeyeon berkata dia memeluk Hyojin, Hyojin tidak menolak dia malah memeluk kembali Taeyeon.

Taeyeon tahu Hyojin pasti sangat tertekan dengan semua tuntutan perusahaan, dia sudah bekerja siang dan malam membanting tulangnya untuk membuktikan pada direktur lain kalau dia mampu sebagai pemimpin. Taeyeon tahu itu, dia tahu kalau gadis itu lelah dan kesepian apalagi dengan perginya sekertaris Im yang sangat dia percaya dan sayangi.

Taeyeon mengelus kepala Hyojin yang masih menangis didalam pelukannya, dia tidak peduli jika hubungannya dengan Hyojin tidak baik. Dia hanya ingin menyadarkan gadis itu, dia ingin menyadarkan Hyojin kalau dia kuat dan bisa menghadapi semua ini dengan tegar.

“Aku tahu semua ini sulit, kau bahkan lebih muda dariku…tapi aku yakin kau kuat untuk melewati semua ini.” Taeyeon berkata.

“Sejujurnya, aku iri padamu..dia usiamu yang lebih muda dariku kau sudah berhasil memimpin perusahaan sebesar ini, aku berpikir ‘wah…gadis ini mengagumkan’ tapi melihat kau seperti ini aku merasa kecewa Hyojin.” Taeyeon mengungkapkan.

“Sadarlah! Mana gadis yang penuh percaya diri yang mengancamku tanpa rasa takut? Kemanakah sosok kuat itu? Berhenti menangis dan lupakan semuanya! Kau punya perusahaan yang harus kau pimpin disini.” Taeyeon menguncangkan tubuh Hyojin dan Hyojin mengangguk.

“Ayo, kau harus pulang..kau terlihat berantakan sekali.” Taeyeon membantu Hyojin untuk berdiri kali ini Hyojin tidak menolak dan mengikuti langkah Taeyeon.

Taeyeon membantu Hyojin untuk berjalan, gadis itu sangat lemah sekali mungkin lelah karena sudah menangis. Pengaruh alkohol juga sudah mulai mempengaruhi otaknya dan pengelihatannya, Hyojin tidak bisa melihat dengan jelas lingkungan disekitarnya.

Beberapa menit berlalu Taeyeon sampai didepan kantor, dia menanyakan nomor Yongguk pada Hyojin namun gadis itu malah memberikan handphonenya pada Taeyeon. Taeyeon mencari kontak Yongguk dan menyuruh lelaki itu untuk menjemput Hyojin dan dia yang sudah berdiri didepan kantor.

Tak sampai lima menit mobil Hyojin sudah keluar dari parkiran basement, Yongguk menghentikan mobil Hyojin didepan Taeyeon dan gadis itu. Yongguk segera turun dan membantu Taeyeon menompang Hyojin, Hyojin tiba-tiba saja kehilangan kesadaran dan Yongguk harus mengangkat tubuh gadis itu.

Yongguk mendudukan Hyojin dikursi belakang mobilnya, dia menutup pintu mobil Hyojin dan melirik kearah Taeyeon.

“Terimakasih sudah mengantar Hyojin.” Yongguk tersenyum kearah Taeyeon dan Taeyeon mengangguk.

“Sebaiknya kau cepat mengantar dia pulang.” Taeyeon mengusulkan dan Yongguk mengangguk lalu masuk kedalam mobil.

Mobil sedan Hyojin melaju menjauh dari kantor, Taeyeon menunggu mobil Hyojin sampai keluar dari kantor. Taeyeon berjalan menuju parkiran basement untuk mengambil mobilnya, sepertinya ini waktu yang tepat untuk menjenguk Yifan.

[Ruangan Yifan, rumah sakit Seoul – Korea selatan 16:45 pm]

Yifan dan Zhongren tertawa, mereka sedang asik mengobrol tentang masa lalu mereka saat dipanti asuhan. Hyojung hanya mendengar kedua lelaki itu berceloteh sambil mengupas buah apel, sesekali dia ikut tersenyum saat dia mendengar betapa konyolnya tingkah Yifan saat lelaki itu masih kecil.

“Hyung, apa kau ingat saat kau kabur? Kau bilang kau tidak ingin rambutmu dicukur.” Zhongren berkata sambil tertawa, mengingat ekspressi panik kakaknya waktu dulu.

“Ah..iya aku ingat, aku bahkan memanjat tembok panti asuhan waktu itu.” Yifan berkata sambil ikut tertawa, dia merasa konyol sekali.

“Hahaha benarkah? Kenapa Oppa? Apa kau tidak suka dicukur?” Hyojung ikut bergabung, dia menyajikan potongan apel yang baru saja dia kupas.

“Ya begitulah, waktu itu tukang cukur dipanti asuhan sangat menyeramkan aku bahkan selalu tegang saat dia menyentuh rambutku, aku takut dia mencukur semua rambutku sampai botak.” Yifan mengungkapkan, tawa Hyojung dan Zhongren langsung terdengar.

Ditengah tawa mereka Zhongren mengambil salah satu potongan apel yang Hyojung sediakan begitu juga dengan Hyojung, tangan keduanya bertemu dan saling menyentuh tidak sengaja. Hyojung yang sadar kalau tangannya menyentuh tangan Zhongren segera menariknya, Hyojung langsung menyentuh tangannya dan ppinya langsung bersemu merah.

Yifan tersenyum saat dia melihat interaksi malu-malu antara Zhongren dan Hyojung, kedua remaja ini memang sangat menggelikan.

“Whoaam.. aku lelah.” Yifan pura-pura menguap.

“Zhongren-ah kau sudah disini satu jam lebih, pergilah pulang..antar Hyojung.” Yifan menyentuh bahu adiknya.

“Tapi hyung..”

“Sudah, aku tidak apa-apa aku sudah besar.” Yifan berkata dan Zhongrenpun mengangguk.

“Baiklah, Hyojung-ah ayo kita pulang.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk, dia mengambil tas sekolahnya.

“Kalau begitu, sampai bertemu lagi Yifan Oppa.” Hyojung berkata dan menunduk sopan kearah Yifan.

“Ya, sampai jumpa lagi Hyojung-ah.” Yifan melambaikan tangannya.

Zhongren dan Hyojung membuka pintu ruangan Yifan, namun mereka terkejut saat mereka mendapati Taeyeon sudah berdiri didepan ruangan Yifan.

“Noona?”

“Zhongren-ah..”

“Oppa siap—“ sebelum Hyojung bisa menamatkan kaliamatnya dia melihat sosok Taeyeon dan wajahnya kembali muram.

“Aku ingin menjenguk Yifan, apakah dia sudah baikan?” Taeyeon bertanya, Zhongren mengangguk.

“Dia ada didalam, Hyojung-ah ayo kita pulang.” Zhongren berkata dengan dingin, Hyojung mengikuti langkah Zhongren.

Taeyeon menunduk sedih, dia tahu Zhongren pasti masih marah padanya. Apakah dia bodoh? Tentu saja Zhongren akan marah padanya, dia sudah menolak cinta tulus Zhongren secara mentah-mentah.

Taeyeon berjalan masuk dan dia bisa melihat sosok Yifan menatapnya dengan sinis.

“Kenapa kau kesini? Apa kau ingin membuatku semakin sakit?” Yifan bertanya dan Taeyeon tersenyum pahit kearah lelaki itu.

“Aku hanya ingin mengantarkan sup kesukaanmu, aku senang kau sudah baikan sekarang.” Taeyeon berkata dia menyimpan bingkisan buah dan supnya diatas meja yang ada disamping ranjang Yifan.

“Terimakasih, tapi aku tidak mau makanan darimu.” Yifan berkata dengan dingin, Taeyeon meremas bingkisannya dan mencoba menahan airmatanya.

“Apakah kau terlalu berlebih Yifan? Aku membuat sup ini khusus untukmu.” Taeyeon membalas suaranya gemetaran menahan tangis.

“Aku tidak pernah memintamu untuk membuatkannya.” Yifan menjawab ketus.

“Sampai kapan kau akan bertingkah seperti ini? Apa kau akan membenciku selamanya? Kau tahu aku tidak akan berhenti sebelum kau menyerah.” Taeyeon menjawab dia menatap tajam kearah Yifan.

“Huh? Menyerah..aku tidak akan menyerah, bahkan dalam mimpimu juga aku tidak akan menyerah.” Yifan menjawab dengan tegas, mata coklatnya bertemu dengan Taeyeon.

“Lalu kenapa kau seperti ini?huh? apa kau tidak akan memberiku kesempatan?” Taeyeon mendekat kearah Yifan.

“Aku mencintai Hyojinkan? Aku tidak akan memberikan kau ataupun wanita lain kesempatan.” Yifan berkata nada suaranya terdengar rendah, dia menyeringai saat dia melihat airmata Taeyeon menetes.

Dia menyukai itu, ya..Kim Taeyeon harus menderita sama sepertinya. Dia harus menangis dan berlutut dihadapannya seperti dia, saat wanita itu akan meninggalkannya ke Seoul hanya untuk sebuah pekerjaan dan kemewahan.

“Kau senang jika aku menderita?” Taeyeon bertanya, Yifan tidak menjawab dia hanya diam seribu kata.

“Baiklah, lakukan apa yang kau ingin lakukan…tapi aku mohon, pada akhirnya kau sebaiknya kembali padaku.” Taeyeon berkata.

“Karena kau tidak layak bersama Hyojin, kau sama kotornya denganku jadi kau hanya pantas denganku.” Taeyeon melanjutkan, dia berbalik dan keluar dari ruangan Yifan.

Yifan tertegun, apa yang Taeyeon katakan benar. Yifan tersenyum namun airmatanya menetes, Taeyeon benar..dia sangat kotor dan rendahan dia tidak pernah layak untuk Hyojin yang murni dan tulus.

[Rumah kediaman keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 17:20pm]

  Zhongren mematikan mesin mobilnya, Hyojung dan dia bahkan tidak saling melirik saat apalagi mengobrol disepanjang perjalanan. Atmosphere diantara mereka terasa tegang sekali, Hyojung bahkan merasa snagat susah untuk bernafas saat dia bersama Zhongren.

“Apa kau masih marah padaku?” Zhongren memulai.

“Iya.” Hyojung menjawab.

“Apa kau akan terus diam dan tidak membahasnya?”

“Darimana saja kau? Kau bahkan tidak membalas pesanku.”

Hyojung akhirnya mengungkapkan kekesalannya, Zhongren baru sadar kalau belakangan ini dia mengacuhkan Hyojung. Dia terlalu bersemangat untuk bekerja, dia terlalu asik dengan dunianya sendiri sehingga dia lupa pada kekasihnya Hyojung.

“Maaf..aku terlalu sibuk.” Zhongren berkata penuh penyesalan.

“Kau selalu sibuk.” Hyojung membalas dengan ketus.

“Hyojung-ah, ini pertamakalinya aku benar-benar bekerja..aku ingin fokus dan aku lupa padamu maafkan aku..aku memang bodoh.” Zhongren berkata dia menggapai kearah tangan Hyojung.

“Kalau begitu kita putus saja.” Hyojung berkata, dia melirik kearah Zhongren.

“Apa? Kenapa? Aku tidak mau putus.” Zhongren berkata dia menggengam kuat tangan Hyojung.

“Oppa aku tidak yakin kalau aku menyukaimu.” Hyojung berkata, dia menatap lurus kearah Zhongren.

Tidak! ini semua pasti bohong! Zhongren yakin dengan koneksi yang dia rasakan dengan Hyojung, mereka begitu serasi saat bersama lalu kenapa Hyojung berubah menjadi seperti ini? Dia tidak bisa melepaskan Hyojung tidak sekarang.

“Apa maksudmu? Kau menyukaikukan? Lalu kenapa kau cemburu pada Taeyeon noona jika kau tidak menyukaiku?”

“Aku hanya iri karena dia mendapatkan perhatianmu sedangkan aku tidak.” Hyojung memberi alasan.

“Aku bahkan tidak yakin kalau kita cocok.” Hyojung melanjutkan, dia melepskan tangan Zhongren dari tangannya.

“Aku rasa kita hanya cocok menjadi adik dan kakak, tidak lebih dari itu.” Ucap Hyojung.

“Kau bohong, aku tahu kau menyukai aku.” Zhongren kukuh pada pendiriannya, dia tahu kalau Hyojung berbohong.

“Lalu jika kau melihat Taeyeon eonni dengan lelaki lain apakah kau tidak akan cemburu?” Hyojung bertanya dan pertanyaan itu langsung menusuk hatinya.

Hyojung benar, jika dia melihat Taeyeon bahagia dengan lelaki lain apakah dia kan cemburu? Tentu saja! Dia mencintai wanita itu lebih dari sepuluh tahun, Zhongren hanyalah remaja yang terus bergantung pada cinta pertamanya dengan bodoh dan naïve. Tapi jika pertanyaan itu diganti dengan Hyojung, apakah dia kaan cemburu? Jawabannya sama dia cemburu setengah mati saat dia melihat Hyojung bersama Sehun.

“Kau tidak akan menjawabkan? Sudah jelas..kau masih mencintai Taeyeon noona.” Hyojung berkata, Zhongren bisa melihat mata Hyojung berkca-kaca.

“Hyojung, kau tidak mengerti..”

“SAMPAI KAPAN AKU BISA MENGERTI?!” Hyojung membentak, ini pertamakalinya gadis itu menaikan nada suaranya.

“Aku lelah oppa, aku tidak bisa mencintai lelaki yang tidak mencintaiku kembali..aku tidak mau membuang waktuku denganmu hanya sebagai pengganti Taeyeon eonni.” Hyojung mengungkapkan dan airmatanyapun tumpah.

“Selama ini..hanya aku yang mencintaimu, hanya aku yang menyayangimu, hanya aku…akulah yang mencintaimu bukan kau! Karena aku tahu, walaupun tubuhmu ada disamping aku pikiranmu melayang dengan Taeyeon eonni.” Hyojung menangis.

“Hyojung..aku..”

“Jangan katakan apapun, jangan berbohong… aku tahu kau mencintainya aku hanya lelah harus terus seperti ini.” Hyojung menyeka airmatanya.

“Jika kau ingin kembali bersamaku, kau harus melupakan Taeyeon eonni dan melepaskan dia.” Hyojung turun dari mobil Zhongren dan dia berjalan menjauh.

Zhongren segera turun dari mobilnya, dia harus mencegah agar Hyojung berhenti menjauh darinya. Zhongren hendak menyentuh bahu Hyojung, namun tiba-tiba dadanya terasa sakit.

*****

“Jongin-ah..”

Ibu Jongin memanggil, Jongin berlari mendekat kearah ibunya. Api yang sudah mengelilingi ibunya mencoba melukainya namun Jongin tidak peduli, kaki kecilnya terus berlari mendekat kearah sosok ibunya.

“Eomma!”

Jongin berteriak dia sedikit lagi menyentuh tubuh ibunya, namun sepasang tangannya mencegahnya membuat dia tidak bisa mendekat lagi. Dia bisa melihat ibunya menangis, masih membuka tangannya agar Jongin memeluknya.

“Jongin-ah..eomma menyayangimu.”

Suara ibunya terdengar menggema, Jongin menangis dia berontak agar dia lepas dari tangan kejam yang mencegahnya untuk mendekat kearah ibunya. Namun semua terlambat, bangunan rumah Jongin menimpa sosok ibunya dan ibunya hilang diantara kobaran api merah yang menyala hanya jeritanlah yang terdengar melengking menyakiti telinganya.

*****

  Tubuh Zhongren ambruk ketanah, dia merasa sesak. Hyojung yang melihat Zhongren jatuh ketanah kaget dan segera berlutut dihadapan lelaki itu, Hyojung tidak tahu apa yang terjadi namun wjaah Zhongren pucat sekali dan lelaki itu meremas dadanya.

“Oppa?! Kau kenapa? Apa kau sakit?” Hyojung bertanya panik.

“O-obat..” Zhongren menocba berkata ditengah sesak dadanya.

“Obat? Dimana? Biar aku ambil.” Hyojung berkata dan Zhongren mengodok saku celananya, dia mengeluarkan botol obat berwarna orange dan mengambil salah satu pil putih didalamnya lalu menelannya.

Zhongren bisa bernafas lagi namun dia langsung kehilangan kesadaran dan jatuh kedalam pelukan Hyojung, Hyojung panik dia menguncangkan tubuh Zhongren beberapa kali namun lelaki itu tidak merespon juga.

*****

  Yongguk menidurkan Hyojin dikamarnya, gadis itu masih tidak sadarkan diri. Yongguk membuka blazer hitam Hyojin, dia menggantungkan blazer itu digantungan baju yang ada dikamar Hyojin. Hyojin mengerang dalam tidurnya, dia memijat kepalanya namun Yongguk menarik tangan Hyojin.

“Jangan keras-keras Hyojin-ah, kau akan menyakiti dirimu sendiri.” Yongguk berkata, dia memijat kepala Hyojin dengan pelan dan Hyojin berhenti mengerang.

Yongguk tersenyum Hyojin terlihat seperti anak kecil saat dia tidur, begitu tenang dan lugu jika dia terus seperti ini Yongguk mungkin akan semakin jatuh cinta pada gadis itu. Yongguk menghentikan pijitannya, dia mengelus pipi Hyojin tangannya menyentuh bibir lembut Hyojin sekilas namun dia segera menariknya.

Yongguk hanyalah pegawai, tidak pantas baginya untuk memiliki pikiran romantis terhadap nonanya. Dia tidak pernah sepadan dengan Hyojin, namun tangannya tetap gatal ingin menyentuh wajah gadis cantik itu.

Yongguk menghela nafasnya, persetan dengan status mereka. Hyojin disini disampingnya, dia hanya ingin menyentuh Hyojin saja, itu tidak akan menyakiti gadis itu benarkan? Yongguk menghadap kearah Hyojin dia dengan ragunya mencapai kearah bibir Hyojin.

Hyojin kelihatannya masih tertidur lelap, jari Yongguk mendekat dan akhirnya menyentuh bibir lembut Hyojin bibir Hyojin terasa sangat lembut di tangannya. Yongguk mendekat dan dia bisa merasakan nafas hangat Hyojin menyentuh bibir atasnya, dia mendekat lebih jauh namun dia terkejut saat Hyojin membuka matanya.

Yongguk terdiam dan menatap kearah Hyojin, dia tidak tahu harus menjelaskan apa pada gadis itu. Posisinya benar-benar tidak baik, dia hanya tinggal seinci lagi untuk mencium gadis itu.

“Oppa?” Hyojin bertanya tidak yakin dengan pengelihatannya.

“Hyojin-ah kau sudah bangun? Apa kau mau aspirin? Kau pasti pusing.” Yongguk segera berdiri dari ranjang Hyojin.

“Ya, bisakah kau mengambilkan obat aspirinku dilaci?” Hyojin menunjuk kearah laci meja kecil yang ada disebelah ranjangnya.

Yongguk segera mengambilkan obat Hyojin, dia memberikan Hyojin botol obat aspirin lalu dia memberikan segelas air putih yang sudah disiapkan pembantu untuk Hyojin. Hyojin meminum obat nya lalu tidur kembali, sakit kepalanya sudah hilang dan perngelihatannya sudah tidak buram lagi.

“Terimakasih sudah mengantarku.” Hyojin berkata.

“Sama-sama, kau sebaiknya tidur.” Yongguk menyarankan, dia menarik selimut Hyojin agar menutupi tubuh Hyojin.

“Tidurlah yang nyenyak.” Yongguk berkata dia berbalik meninggalkan kamar Hyojin dan menutup pintu kamarnya.

Hyojin menghela nafasnya lega, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak membuka matanya tadi. Hyojin sebenarnya masih sadar saat Yongguk membuka blazernya, dia bahkan merasakan jari Yongguk menyentuh bibirnya dan lelaki itu mendekat untuk menciumnya.

Hyojin meremas selimutnya, dia takut. Apakah Yongguk juga memiliki perasaan untuknya? Setelah Luhan lalu kenapa sekarang Yongguk? Semua ini kacau, dia tidak bisa terus seperti ini dia harus menjauh dari kedua lelaki itu.

To Be Countinue…

Jangan lupa komennya 😀

ps:

Tada!!! gimana ceritanya menegangkan? intense?kekeke😀 disini banyak banget adegan yang bikin
emosi kalian naik turun gak? gimana adegan penculikannya bagus?
Oh iya untuk episode selanjutnya siap-siap dengan aksi Luhan dan bapaknya Siwon yah!!😀
Oh iya cuman mau nanya aja, menurut kalian hubungan Hyojin sama Luhan sebaiknya bagaimana?
ada usulan? please jangan bilang kalau mereka cocok hanya jadi teman
kalian tahu Hyojin sama Luhan punya chemistry yang kuat😉

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

31 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 9]

  1. wuahhh, makin seruu aja thorr, berapa episode nih thor, penasaran sama ending nya, siapa sama siapa , wuahhhh ,
    luhan hyo jung , atau sehun hyo jung yhaaa, kaianya aku lbh milih hyo jung sama sehun😛

  2. waaahhh,,daebakkk benerr authorr,,tau ga,,aku ampe nangis bacanya,,apalgi wktu yifan ketembak,,,aiihh,,bner” dapet bgt feelnya,,,terbawa suasana gtu hhii,,semakin rame aza nih FF,,,
    kasian juga hyojin,,pasti terpukul bgt sama kejadian yg menimpa dia,,,sepertinya yifan udah bner” tau klo hyojin cinta bgt sama dia,,apa dya bakal bner” jatuh cinta sama hyojin??
    kira” taeyeon bakal rebut yifan dri hyojin ga yaahh???ih aku gemes dah liat pasangan hyojung sama zhongren,,hhee,,,
    authorr,,aku selalu tunggu chapter berikutnya,,,
    hwaiting authorr keceehh…mmuahh mmuaahh muaacch (^_^)V

  3. Best moment bgt yifan ama his mom, aku sampai nangis gak tau apa yang bkin nangis tkut yifan mati kali yaa!!?

    3 jagoan datang, aku gak nyangka tragedi pnculikannya bkal kyak gitu.. . .kereeenn
    hyojin itu dihiyanati ama yoona udah kyak gitu apalagi kalo yifan ketahuan punya maksud trtentu, padahal kan hyojin udah cintaaa bgt ama yifan.. .gak tau dah apa yg akn trjadi yeoroebundeul!!?

    Buat hyojin suka ama luhan tpi bkan suka bneran kagak tega ama yifan.. .tp yifan.nya itu salah paham ama hubungan hyojin ama luhan. . .dan akhirnya hyojin ama yifan brantem hebat sampai hyojin mukulin yifan, mereka kan sllu sweet trus aku pengen tau gimana klo mreka brantem #smirk mudeng kagak kalo gak mudeng abaikan hahahaha

    eonni fighting!!

    1. Yupp maka dari itu Yifan khawatir banget kalau Hyojin tahu maksud dia yang sebenarnya, wah brutal Hyojin kan gak sadis masa dia mukulin Yifan nanti sama Yifan malah di tarik kekamar lagi wkwkwk <– author yadong!

  4. yeeyeyeye. Udah ada chap 9 :))
    untung yifan gakpapa, fyuuh.
    Sekarang aku tau, si Yoona baik, kirain jahat :pp
    Lama-lama gemes sama Zhongren, udah dapet Hyojung ee masih inget yg lama :pp

    Ayoo kak, lanjuut chap 10 :DD

  5. beh thor tambah rumit dan bikin grigitan.
    yixing juga jahat amat pokonya nih ff drama bgt thpr ngaduk2 perasaan pokonya bawaannya pengen teriak mulu hehe
    lanjit thor😀

  6. Omoo ternyata yoona begitu…kasian bgt hyojinnya apalgi pas ini “Orang yang bisa dia percayai dan sayangi sekarang hanyalah Hyojung dan Yifan, “gimana kalo hyojin tau tujuan pertama Yifan …pasti tambah sedih….

    Kalo menurut aq hyojin sama luhan bisa jadi seh hehehehe disitu karakter luhan baik seh…tapi tetep dukung hyojin sama yifan soalnya udah klop hehehe

    Ditunggu ya part berikutnya….

  7. kasihan hyojin, dia udah gag percaya sama orang lain, cuma yifan dan hyojung >.<
    kalau dia tau alasan yifan mendekatinya karena gag tulus, terus gimna ya sama hubungan mereka??
    hyojin sepertinya tertarik sama luhan, dan dia mulai bimbang dengan hatinya..
    aku gatau lagi apa yang harus dipikirkan pas nunggu ff ini, siwon sama luhan buat rencana apa aku gag tau, dan kenapa zhoumi hanya diam melihat anak kandungnya tertembak akibat ulah siwon?? dia gag tau?? gag mungkin, dia punya mata2 banyak..
    dan buat hubungan hyojung, aku bingung sendiri, mereka masih egois, belum bisa nerima satu sama lain, mungkin sementara putus dulu kali ya😀

  8. aigo… bener2 kasihan pas aksi penculikan hyojin it… mana yifan juga tertembak lagi.😦
    waduh kayakny hyojin udah tahu kalau yongguk punya rasa ya sama dia?
    jadi penasaran dg kisah selanjutny…
    kalau menurutku sih hyojin lebih cocok dg yifan daripada luhan..
    ya mereka sbg temen tapi temen deket gtu..
    hehehe…

  9. Makin keren aja thor , FFnya setiap episod selalu ada surprize ..
    Gimana nih kelanjutan Hyojung & Zhongren ? Koq malah jdi putus , trus Zhongren sakit apa sampe harus minum obat ? Apa gara” trauma ?
    Dibalik kisah hyojin yg mnyedihkan masih banyak org yg sayang sma dia ..

  10. aaaaaaaaa!!! thor!! makin bagus ceritanya..
    kenapa kris yang ke tembak? kenapa gak luhan yang ketembak? biar hyojin merasa bersalah sama luhan..
    luhan sama hyojin lebih dari teman aja thor..
    dan entah kenapa aku mendukung luhan jadi pacarnya hyojin deh thor..
    hehehehe…

  11. hei aku readers baru ^^ salam kenal🙂
    ceritanya seru, tp aku belum begitu ngerti mungkin karena aku bacanya dari part ini dulu kali yah hehe..
    izin berkelana di FP ini yah🙂

  12. Ini demi apa, kece badai halilintar tsunami gunung meletus banjir dan sebangsanyaaaa… aaaaaaaaaaa suka suka suka dehhh :*
    Maaf Thor Kece. aku telat baca.. akhir2 ini aku sibuk ama tugas yg bejibunnya minta ampun *curhat.. jadinya belom sempet baca.. dan wawwwwwww… INI KERENNNNNNN!!!! nyesel aku gk baca dari dulu..

  13. sumpah bcany bnr2 bkin deg2n, apa ge yg pas di gudang tmpt hyo jin di culik.. yifan keren bgt, q suka ama gayany dy kykny dy emg udh mulai suka bnrn dh ma hyo jin..

    eon mnrt q kykny emg hyojung lbh cck ama luhan dh, zhongren ama taeyeon aj dh

    sebel liat yixing, beraniny dy mw jhtn yifan..

      1. iya gak apa2 lain kali bacanya hati2 yah banyak banget yang salah baca..padahal aku butuh banget pendapat readers soal Hyojin sama Luhan oh iya pw nya udah aku kirim🙂

  14. author,,,, part 8nya ga ada???? atau cuma yang di protect itu ja????😦
    aku jadi bingung baca yang part 9, hahahahhaa
    thor, boleh minta PWnya ga??? kekekeke
    biar aku ga bingung bacanya,,,
    soalnya aku reader baru,,
    ntar di part selanjutnya aku kasih saran,, janji deehhhhhh
    email aku eyisumitri@yahoo.com
    gamsahamidaaaaa😀

  15. part ini feel.nya bener” komplit dari yg tegang,sedih,bikin nyesek,sampe bikin gemes.
    Apalagi wkt taeyeon nyari kesempatan bwt ketemu yifan,blum lagi kebongkarnya kelakuan yoona,trus hubungan JUNGREN yg makin rumit,
    SIIP BANGET DEH POKOKNYA!!!
    STANDING APLOUSE BUAT AUTHOR!!!

  16. serius deh thor ini ribet banget lho. dan hebatnya aku ngerti *abaikan

    ada aja kejutannya ya thor ternyata yoona?? ck
    sebenernya apasih isi kepala author? dapet aja ya konfliknya. belum lagi author nanya pendapat hyojin dan luhan, aduh jangan2 itu bakal nimbulin suatu cerita tersendiri. *nahlhooo

    hwaitting lah buat authornya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s