Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 7]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                             Oc
  • Jung Hyojung                         Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng              [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                 [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                       [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                  [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                          [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                          [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG – NC 17

Chapter:

1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6

7

How To Be Sure…

“Sehun!Sehun!Sehun!” Semua teman-teman Sehun menyemangati kapten tim basket mereka, Hyojung yang duduk dibangku penonton paling depan ikut menyemangati juga.

Sehun seperti biasanya bermain dengan lihai, bahkan tim basket mereka sudah menguasai lapangan dan skor mereka jauh lebih besar dari lawan. Sehun berlari dengan cepat, dia mendrabel bola basket dengan semangat apalagi saat dia melihat Hyojung duduk dibangku penonton yang paling depan.

Ini adalah kesempatannya untuk membuat gadis itu terpesona, dia sudah dekat kearah ring basket.  Dia melirik kekanan dan kekiri untuk menentukan posisinya aman, setelah yakin dia meloncat untuk melakukan slam dunk namun tiba-tiba seseorang dari tim lawan menyenggolnya.

Semua penonton berteriak terkejut dan tubuh Sehun langsung terhempas kelantai lapangan, dia bersumpah dia bisa merasakan kalau sikunya membentur lantai lapangan cukup keras.

“SEHUN!” Hyojung terkejut saat dia melihat Sehun terbaring kaku di lapangan basket.

Suara peluit terdengar sangat kencang membuat permainan berhenti, seorang wasit langsung memberikan pemain yang mendorong Sehun kartu merah. Sehun mencoba bangun namun dia mengerang saat dia merasakan sakit yang luarbiasa ditangannya, teman se tim Sehun langsung membantu kapten nya untuk berdiri.

“Kapten! Kau baik-baik saja?” Tanya Chanyeol.

“Aku tidak tahu, lenganku sakit sekali.” Sehun meringis, seorang petugas kesehatan langsung berlari kearah Sehun dan memberikan Sehun sebuah ice pack.

Sayang sekali Sehun harus keluar dari lapangan karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bermain basket, dia kecewa sekali saat pelatihnya menyuruhnya untuk duduk di bangku penonton.

Sehun menurut dan akhirnya dia duduk, dia menekan sedikit ice pack yang ada ditangan kirinya tangannya benar-benar terasa sakit sekali dia mengerang mencoba menahan sakit.

“Sehun kau tidak apa-apa?” mendengar suara Hyojung, Sehun melirik kebelakang dan dia tersenyum saat dia melihat sosok gadis itu.

“Ya, aku baik-baik saja..hanya sedikit terkilir.” Sehun menjawab.

“Kau hebat sekali tadi, tak usah sedih..kau sudah mencetak banyak skor.” Hyojung mencoba menghibur dan gadis itu duduk disamping nya.

“Apa kau haus? Aku bisa membawakan minum untukmu.” Hyojung menawarkan namun Sehun menggelengkan kepalanya.

“Tidak usah, bisakah kau diam saja disini? Temani aku menonton pertandingan.” Sehun meminta dan Hyojung mengangguk.

“Baiklah jika itu yang kau mau.” Hyojung menurut, dia melirik kearah lapangan basket dan menonton pertandingan.

Sebenarnya pertandingan tidak lama lagi, sekitar lima belas menit lagi namun tim lawan sepertinya masih optimis untuk mengejar skor. Chanyeol dan teman setim Sehun yang lainnya juga sepertinya masih mencoba untuk menembus pertahanan lawan, mereka saling menjaga dan merebut bola basket.

Sehun yang meyaksikan kelihatan sangat tegang, dia ikut berteriak riuh saat Chanyeol hampir memasukan bola basket ke ring lawan. Dia mengikuti setiap gerak teman se timnya, dia bahkan tidak sadar kalau tangannya terkilir dan sakit.

Waktu terus berjalan tim Sehun masih beruntung karena mereka masih bisa mempertahankan skor, dan tak terasa lima belas menit berlau. Suara peluit terdengar lagi dan secara resami tim sekolah Hyojung dan Sehun menang, semua orang berteriak histeris bahagia begitu juga Sehun dan Hyojung.

Hyojung bertepuk tangan dengan antusias sedangkan Sehun langsung diserbu oleh teman-teman se timnya yang memeluk dia, Hyojung hanya bisa tersenyum melihat betapa bahagianya Sehun.

****

“Kau pasti bahagia sekali hari ini?” Hyojung bertanya saat mereka berjalan menuju kelas Hyojung.

Hari sudah sore namun Sehun dan Hyojung juga teman-teman yang lainnya memutuskan untuk tetap disekolah, mereka memutuskan untuk merayakan kemenangan tim basket ada yang menghidupkan music dan bermain game begitu banyak aktivitas membuat sekolah atau lebih tepatnya kelas Sehun sangat berisik.

Sehun yang tidak suka kebisingan tentu saja menjauh dan memutuskan untuk diam di balkon sekolah, matahri sudah setengah terbenam dan memancarkan chaya orange yang menyentuh kulit nya dengan hangat.

“Iya, aku bahagia.” Sehun menjawab dan tersenyum.

“Tapi aku juga kecewa..” Sehun mengungkapkan membuat Hyojung melirik kearahnya.

“Kenapa?” Tanya Hyojung.

“Karena aku gagal membuatmu kagum.” Sehun menjawab dengan polos membuat Hyojung tersenyum malu.

“Kau sudah membuatku kagum Sehun, kau kapten basket yang berbakat dan pintar.” Hyojung memuji, Sehun hanya tersenyum tipis dan menghela nafasnya.

“Sebentar lagi musim dingin, aku tidak suka musim dingin.” Sehun berkata sambil menerawang menatap kearah matahari yang terbenam.

“Aku suka musim dingin, bukankah musim dingin adalah musim yang paling menyenangkan?” Hyojung bertanya.

Dia tersenyum saat dia ingat kalau setiap musim dingin dia dan keluarganya akan pergi ke pulau Nami untuk menikmati pemandangan indah pulau itu,jika mereka cukup bersemangat mereka akan bermain ski dan semacamnya.

Namun tahun ini mungkin berbeda, karena kedua orangtuanya tidak ada sekarang dan Hyojin kakaknya kelihatannya terlalu sibuk untuk mengajaknya berjalan-jalan. Senyum nyapun langsung hilang saat dia ingat semuanya, Hyojung berubah menjadi murung membuat Sehun khawatir.

Apakah dia mengatakan sesuatu yang salah? Sehun bertanya pada dirinya sendiri, dia segera menghapus pikiran itu. Sebaiknya dia menghibur Hyojung, siapa tahu saja gadis itu bisa lebih terbuka padanya.

“Hyojung-ah bagaimana kalau kau menemaniku ke festival musim dingin?” Tanya Sehun, dia ingat kalau didekat rumahnya biasanya selalu ada karnaval khusus musim dingin.

“Apa boleh?” Mata Hyojung langsung bercahaya saat dia mendengar permintaan Sehun, Sehun mengangguk dan tersenyum.

“Iya tentu saja, kau pasti akan suka festival karnavalnya biasanya aku selalu kesana dengan ibuku saat aku masih kecil.” Sehun mengungkapkan dan Hyojung mengangguk.

“Baiklah aku akan pergi ke festival itu denganmu.” Hyojung menyetujui ide Sehun.

Sehun mengacungkan jari kelingking nya kearah Hyojung, Hyojung menatap kearah jari kelingking Sehun kebingungan.

“Janji?” Ucap Sehun.

Hyojung akhirnya mengerti dan melingkarkan kelingkingnya di jari kelingking Sehun.

“Janji.” Hyojung membalas dan mereka berdua tertawa.

[Kantor Hyojin, perusahaan Jung – 17:00pm]

“Sebaiknya kau memberi alasan kenapa sekarang kau berdiri disini, Kim Sajang-nim.” Hyojin berkata, dia mendongak menatap Taeyeon yang berdiri disampingnya.

“Untuk tempo hari…aku minta maaf Hwajang-nim.” Taeyeon membungkuk Sembilan puluh derajat menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.

“Oh..kau meminta maaf sekarang? Bagus kalau begitu, aku kira kau benar-benar tidak tahu malu.”

Perkataan Hyojin langsung menusuk hatinya, bagaimana mungkin seseorang bisa berkata tidak sopan seperti itu dengan mudahnya. Hyojin bahkan tidak ragu saat dia menyampaikan celaan itu, direktur yang satu ini memang benar-benar kasar dan kejam.

“Sekali lagi saya minta maaf Jung Hwajang-nim.” Taeyeon sekali lagi menunduk.

“Tak usah minta maaf, aku sudah memaafkanmu…lain kali jangan bersikap seperti itu atau aku akan memecatmu.” Ancam Hyojin dan Taeyeon mengangguk.

“Anda tenang saja Hwajang-nim, saya tidak akan mengulanginya lagi.” Taeyeon berjanji.

“Bagus, sebaiknya kau duduk…aku ingin membahas sesuatu denganmu.” Hyojin berkata, mata Taeyeon melebar dan dia bisa meraskaan jantungnya berdetak sangat cepat bahkan rasanya jantungnya itu kaan keluar dari dadanya.

“A..A..Ada apa Hwajang-nim?apakah kau masih belum puas dengan iklan sutradara Lee?” Taeyeon bertanya dengan gugup, keringat dingin mulai membasahi tangannya.

“Aku sudah puas dengan iklan itu, aku hanya ingin membahas tentang kau dan Yifan.” Hyojin mengungkapkan, dia berdiri dari duduknya.

“Jelaskan…sebenarnya apa hubungan kalian?” Hyojin mendekat kearah Taeyeon, tubuh Hyojin yang lebih tinggi dari Taeyeon membuat Taeyeon semakin merasa terintimidasi.

“A..aku hanya,kami hanya..” Taeyeon mencoba berpikir, dia tidak tahu apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya atau berbohong.

“Kau bisa jujur aku tidak marah, lagipula aku tidak serius dengan Yifan.” Hyojin melipatkan tangannya dan menunduk kearah Taeyeon.

“Kim sajang-nim..saya mohon, katakan yang sejujurnya.” Hyojin berkata.

Taeyeon menelan ludahnya, dia tahu dia tidak akan kabur dari situasi ini.

“Kami berdua mantan kekasih.” Taeyeon menjawab, dia meremas lengannya gugup.

“Oh..jadi Oppa benar-benar sudah putus denganmu?” Hyojin bertanya lagi dan Taeyeon mengangguk.

“Hwajang-nim..aku dan Yifan hanya masa lalu jadi..kau tak usah khawatir.” Taeyeon berkata dan Hyojin tersenyum.

“Apa kau pikir aku terintimidasi karena kau mantan pacar Yifan?” Hyojin bertanya sambil menahan tawanya, ternyata gadis yang satu ini juga cukup angkuh…Hyojin ingin tertawa.

Hyojin menyentuh dagu Taeyeon membuat Taeyeon menatap kearahnya, Taeyeon terkejut dengan perlakuan Hyojin dia tidak menyangka direkturnya itu akan menyentuhnya.

“Dengar Kim Taeyeon, aku tidak pernah merasa takut atau terintimidasi oleh gadis sepertimu…aku tahu semua perlakuan baikmu hanya topeng iyakan? Orang sepertimu biasanya munafik dan selalu berkhayal.” Hyojin berkata dengan nada suaranya yang rendah, Taeyeon langsung gemetar ketakutan dengan kata-kata Hyojin.

Wanita ini benar-benar iblis! Sangat menakutkan sekali, Taeyeon tidak tahu kalau dibalik wajah cantik Hyojin tersimpan jiwa yang gelap seperti yang dia lihat sekarang. Tangan lembut Hyojin berpindah dari dagu Taeyeon kebahunya, Hyojin menyandar mendekat dan berbisik.

“Kau yang harus berhati-hati, aku bisa mencakarmu kapan saja.” Hyojin mengungkapkan dan Taeyeon mengangguk mengerti.

Taeyeon tidak akan pernah menginjak kakinya di daerah Hyojin lagi, dia tahu wanita itu tidak kan ragu mencakarnya dan menghancurkan nya seperti kain tua yang muda robek.

“Bagus, aku tharap kau berhenti menghalangi jalanku dan Yifan.” Hyojin duduk lagi dikursinya.

“Kau boleh pergi sekarang.” Hyojin memerintah dan Taeyeon menunduk sekali lagi lalu pergi dari ruangan Hyojin, Hyojin tahu gadis itu pasti akan menangis saat dia keluar dari ruangannya.

[Rumah baru Yifan dan Zhongren, Ilsan – seoul 20:00 pm]

“Ahhh…akhirnya beres juga.” Zhongren duduk disofanya, dia senang sekali saat dia slesai membereskan semua barang-barangnya kerumah baru mereka.

Yifan yang melihat hongren kelelahan mengambilkan minuman soda dingin untuk adiknya itu, Zhongren yang kehausan langsung menyambar minuman soda kaleng yang kakaknya bawa dan membukanya. Zhongren meneguk minuman itu sampai setengah habis dan menghela nafasnya dengan lega, munman dingin itu berhasil menghilangkan dahaganya sedikit.

Yifan tertawa melihat reaksi adiknya yang terkadang berlebihan dan dia mengacak-ngacak rambut Zhongren.

“Kau lelah?” Yifan bertanya dan Zhongren mengangguk.

“Iya Hyung, apakah kau membantu memasukan kulkas besar yang kau beli? Tidakkan? Aku bersumpah rasanya tanganku akan patah saat aku membantu mengangkat kulkas itu.” Zhongren berkata dengan ekspressi nya yang berlebihan.

Aigoo kenapa kau membantu mereka? Aku sudah menyewa pegawai itukan? Padahal kau pergi saja ke agency.” Yifan berkata dan Zhongren menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak suka barang-barangku disentuh oleh orang asing.” Zhongren mengungkapkan.

“Masih seperti dulu? Ya tuhan Zhongren jika kau tidak menghilangkan kebiasaan itu bagaimana kalau nanti kau menikah?” Yifan bertanya dan Zhongren hanya mengangkat bahunya.

“Aku rasa..aku tidak akan menikah di usia muda.” Zhongren menjawab dan Yifan hanya menghelengkan kepalanya dan mendengus.

Jawaban yang sangat tipikal untuk Zhongren, dia tahu adiknya itu tidak suka komitmen.

“Aku tidak akan terkejut jika kau menikah tua..” Yifan bercanda dan sebuah pukulan mendarat di lengannya.

“Aww sakit tahu!” Yifan mengeluh dan dia memukul kembali lengan Zhongren.

“Habis! Hyung selalu mengatakan itu..aku jadi takut.” Zhongren jujur, dia memajukan bibirnya percis seperti anak kecil.

Yifan terkadang lupa kalau Zhongren jauh lebih muda darinya dia akui candaannya terkadang memang berlebihan.

“Maaf aku hanya bercanda, lagipula kau tampankan? Kau tak usah takut..banyak wanita yang mau padamu.” Yifan mencoba menghibur dan Zhongren tersenyum.

“Jadi kau mengatakan kalau aku memang tampan?” Zhongren menatap penuh harap kearah Yifan.

Yifan menghela nafasnya, tidak apa-apa mungkin sekali ini dia harus menghibur adiknya.

“Ya kau tampan….”  Yifan berkata dengan malas dan Zhongren tertawa puas.

“Hahaha aku tahu! Didalam hatimu kau mengakui ketampananku iyakan Hyung?” Zhongren memansang pose keren nya sedangkan Yifan hanya tertawa sambil memutar matanya sangat konyol sekali adiknya ini.

“Ini sudah malam, tidurlah..aku akan menyelesaikan beberapa berkas kantor.” Yifan berdiri dari duduknya.

“Wah…Hyungku ini sekarang sudah bisa mengerjakan berkas kantor? Aku bangga sekali.” Zhongren melingkarkan tangannya kepundak Yifan dan memukul dada kakaknya pelan.

“Ya! Kau kira aku bodoh? Aku lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan kau tidak tahu?” Yifan bertanya kelihatan sedikit marah dan Zhongren menelan ludahnya.

“Hehhehe aku tahu Hyung, aku tidur dulu dahh!!” Zhongren berkata dan langsung kabur kekamarnya.

Yifan tersenyum, dia senang sekali kelihatannya Zhongren dalam mood yang baik. Sepertinya keputusan dia untuk pindah ke ilsan tidak salah. Yifan berjalan keruang kerja barunya, dia masih bisa mengirup harum perabotan kayu yang baru, dia duduk di kursi nya dan mulai membuka berkas kantornya.

Satu berkas,dua berkas sampai tiga berkas dia baca dan tanda tangani. Banyak sekali proposal yang harus dia baca, dia jenuh dan akhirnya membuka laci mejanya. Didalam laci mejanya itu ada sebuah kotak kecil dan dia membukanya, didalam kotak kecil itu ada sebuah kalung yang berbandul bunga mawar.

Sebenarnya dia tertarik untuk membeli kalung itu karena dia teringat Hyojin, gadis itu pasti akan senang sekali saat dia memberikan kalung ini untuknya. Dia menyimpan kalung itu dan kembali membaca berkas kantornya, Yifan berhenti lagi dia tersenyum sendiri saat dia ingat kalau Hyojin menciumnya kemarin.

“Aisshh!” Yifan mengacak-ngacak rambutnya, jika dia sudah ingt Hyojin dia tidak akan bisa fokus.

Yifan melamun sejenak namun tiba-tiba handphonenya berdering mengagetkannya, dia langsung menyambar handphonenya dan melihat kontak ayahnya tertera di handphonenya. Yifan menghela nafasnya bersiap untuk berbicara pada Zhoumi, lagipula kenapa lelaki tua itu menelepon malam-malam seperti ini.

“Jiaheng, aku sudah mendapatkan kabar baiknya dari Yixing.” Zhoumi berkata, nada suara lelaki tua itu terdengar lebih ceria sekarang.

“Yixing? Apa yang dia katakan?” Tanya Yifan.

“Dia bilang kau sudah berkencan dengan Hyojin, itu benarkan?” Zhoumi mengungkapkan.

“Iya itu benar, tapi apakah dia mengatakan kalau dia menghancurkan kencanku dengan Hyojin? Dia bahkan berkencan dengan CEO perusahaan Jung.”Yifan memberi tahu, dia yakin ayahnya itu akan marah saat dia mendengar apa yang dia katakan.

“Aku tahu, dia mengencani seseorang dari perusahaan Jung aku tahu itu…kau tak usah panik dia memiliki tujuan yang sama denganmu.” Zhoumi menjawab.

“Maksud baba?”

“Dia hanya ingin informasi tentang penjualan perusahaan Jung dari wanita itu, kau tahu Yixing lebih tahu perusahaan Jung daripada kau, sebaiknya kau belajar banyak padanya.” Zhoumi menasehati.

Yifan mendengus, bagaimana dia mau belajar pada Yixing?! Lelaki itu selalu berhasil membuat emosinya naik. Dia tidak pernah bisa membayangkan kalau dia dan Yixing bisa akrab, mereka itu bagaikan air dan minyak tidak pernah bisa bersatu.

“Jiaheng, berhati-hatilah.” Zhoumi berkata membuat Yifan sadar dari lamunannya.

“Kenapa baba?” Tanya Yifan.

“Ayah Luhan merencanakan sesuatu, dia lelaki yang berbahaya sebaiknya kau tidak berurusan dengan Luhan saat kau di Korea.” Zhoumi mengungkapkan, suaranya terdengar khawatir sekarang.

Yifan tersenyum sebenarnya dia senang, apakah ayahnya benar-benar khawatir padanya sekarang? Apakah ini rasanya saat orangtuamu khawatir padamu? Yifan hanya tersenyum tipis dia cukup bahagia dengan perhatian Zhoumi.

“Baiklah baba, aku tidak akan mencampuri urusan Luhan.” Yifan berkata.

“Lupakan saja soal anak itu, kau harus fokus pada Hyojin dia adalah targetmu jika kau sudah mendapatkan dia jangan lupa buat dia untuk menandatangi surat pengabungan perusahaan.” Zhoumi memerintah.

“Baik baba.” Yifan menurut, sebenarnya dia ingin menanyakan beberapa hal pada Zhoumi dia penasaran namun dia belum punya kekuatan untuk bertanya saat itu tapi sekarang sepertinya waktu yang tepat.

Baba, kenapa kau ingin mengabungkan perusahaan Jung dan Li? Bukankah perusahanamu sama kuatnya dengan perusahaan Jung?” Yifan bertanya, dia sudah belajar banyak tentang perusahaan Li dan Jung.

Jelas sekali kalau dua perusahaan itu sama kuatnya, mereka tidak akan bisa mengalahkan satu sama lain karena mereka memiliki keahlian dibidang yang berbeda. Perusahaan Jung lebih mengandalkan kreativitas dengan produknya, kain mereka selalu menjadi buruan clothing line anak muda dan anak-anak.

Sedangkan perusahaan ayahnya, lebih fokus pada kualitas meskipun mungkin kain-kain dari perusahaan ayahnya lebih sedikit membosankan namun mereka mencoba untuk berinovasi sekarang.

“Kau tahu, dia sebuah kerajaan tidak mungkin ada dua raja yang memimpin iyakan?” Zhoumi bertanya dan Yifan merespon dengan kata simple ‘ya’.

“Perusahaan Jung dan perusahaan kita adalah dua raja yang memimpin satu kerajaan, bukankah itu tidak pantas? Salah satu dari kita harus hancur atau menghilang.” Zhoumi menjelaskan.

“Aku tidak sekejam itu Jiaheng, aku tidak akan menghancurkan perusahaan Jung…tapi aku akan membuat perusahaan itu tunduk dibawahku dan menjadi sebagian dari kepemilikanku. Aku tahu Jung Yunho sangat menyayangi perusahaannya itu, tidak aneh..dia sama denganku oleh karena itu akan cukup baik untuk menggabungkan kedua perusahaan.”

Yifan hanya diam, dia tidak pernah tahu  ayahnya memiliki ambisi yang sangat besar. Yifan bingung apakah dia harus mendukung ide ayahnya atau menentangnya, dia disini bermain bebas dia tidak terikat oleh rasa persaudaraan seperti Yixing atau Luhan dia bisa membalikan punggung nya dan meninggalkan misi ini kapan saja.

“Baiklah baba, aku mengerti.” Yifan menjawab.

“Dengarkan aku, apapun yang kau lakukan…jangan jatuh cinta pada Hyojin! Dia hanya alat bagimu bukan seorang wanita.” Zhoumi memberi peringatan.

“Aku mengerti baba.”

[Kediaman keluarga Jung, Seoul -Korea selatan 08:30 am]

    Hyojin baru saja selesai mandi, sebenarnya hari ini hari minggu dan dia merasa bosan dirumah. Dia tersenyum saat sebuah ide muncul dipikirannya, dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Hyojung namun ditengah perjalanannya dia bertemu dengan adiknya yang sudah rapih dan cantik.

“Kau mau kemana?” Tanya Hyojin curiga.

“Err..Naeun dan Chorong mengajakku bermain ke mall Eonni, apakah aku boleh pergi?” Tanya Hyojung.

“Ke mall? Baiklah..tapi jangan lama-lama.” Hyojin memberi peringatan dan Hyojung mengangguk.

“Iya aku tidak akan lama Eonni.” Hyojung berkata dan tersenyum.

“Awas kalau kau pergi dengan laki-laki.” Hyojin mengancam dan Hyojung menelan ludahnya, kakaknya itu memang menyeramkan.

“Tidak kok..Eonni tidak usah khawatir.” Hyojung berkata, dia mencium pipi kanan kakaknya itu dan langsung kabur karena tidak mau di introgasi.

Hyojin tersenyum dan berbalik melihat pungung adknya itu menjauh darinya, dia menghela nafasnya sepertinya minggu ini dia akan menghabiskan harinya sendiri lagi.

****

   Zhongren sudah menunggu diseberang rumah Hyojung sambil menyandar kemobilnya, dia bahkan sudah memakai kacamata hitam dan topi untuk menyembunyikan identitasnya. Zhongren merasa konyol sekali karena harus berpakain seperti ini, namun dia bahagia saat dia melihat sosok Hyojung keluar dari rumahnya.

“Hyojung-ah!” Zhongren memanggil dan Hyojung melirik kearah Zhongren.

Dia menyembrang dan langsung berlari kearah Zhongren, gadis itu memeluk Zhongren dan Zhongren tertawa. Tidak pernah dia melihat seseorang begitu bahagia saat bertemu dengannya, namun sepertinya Hyojung bahagia sekali saat bertemu dengannya.

“Jadi kemana kita akan pergi sekarang?” Hyojung bertanya saat dia sudah melepaskan pelukannya.

“Kau ingin pergi kemana?” Zhongren bertanya.

“Aku dengar ada pameran buku didekat mall Coex apa kau mau kesana?” Hyojung bertanya dan Zhongren mengangguk.

“Apapun untukmu Hyojung-ah.” Zhongren menyentuh pipi Hyojung, dia tidak tahu kenapa setiap hari Hyojung kelihatannya semakin cantik dimatanya.

“Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita pergi kesana sekarang.” Zhongren berkata, dia membukakan pintu mobilnya untuk Hyojung dan Hyojung masuk kedalam mobilnya.

Zhongren kemudian menyusul duduk dikursi pengemudi, sebenarnya dia ingin cepat-cepat pergi. Dia takut kalau Yongguk memergoki mereka seperti beberapaminggu yang lalu, Zhongren bersumpah ia tidak ingin bertemu dengan lelaki menyeramkan itu sekali lagi.

“Oppa, apakah kau sudah menerima tawaran agency model itu?” Hyojung bertanya, dia ingat tempo hari Zhongren mengatakan kalau dia mendapatkan tawaran untuk menjadi model disebuah agency.

“Entahlah..menurutmu aku bagus untuk jadi model?” Zhongren bertanya dan Hyojung mengangguk.

“Tentu saja! Kau tinggi dan..tam—“ sebelum Hyojung menamatkan kalimatnya Hyojung menutup mulutnya malu.

Zhongren tersenyum melihat tingkah malu Hyojung.

“Aku sudah menerimanya, tadi pagi-pagi sekali aku datang kesana dan mereka mengatakan akan membuatkanku aku sebuah profile.” Zhongren menjelaskan.

“Hm..begitu ya, wah aku tidak sabar untuk melihat fotomu di majalah-majalah.” Ucap Hyojung begitu antusias, Zhongren tertawa dan mengacak-ngacak rambut Hyojung membuat Hyojung memukul tangan Zhongren.

“Oppa! Kau menghancurkan rambut rapihku!” Hyojung cemberut, dia menyisir rambut pendeknya.

“Bagaimana kabar kakakmu?” Zhongren tiba-tiba saja penasaran.

Yifan tidak pernah membahas Hyojin didepannya entah kenapa kakaknya itu selalu menjaga topic Hyojin agar tidak muncul didalam percakapan mereka, Zhongren tahu kakaknya itu tidak nyaman untuk membahas wanita itu didepannya namun Zhongren manusia, dan manusia selalu penasaran.

“Oh Eonni? Dia baik-baik saja..kau tahu oppa? Dia bahkan berkencan sekarang.” Hyojung menjawab dengan polos.

“Berkencan? Dengan siapa?” Tanya Zhongren pura-pura tidak tahu, padahal dia yakin lelaki itu adalah kakaknya Yifan.

“Aku tidak tahu tapi dia tampan, sangat tinggi dan memiliki rambut pirang.” Hyojung mengungkapkan.

“Oh begitu ya, kakakmu juga cantikan? Tidak aneh dia mendapatkan lelaki yang tampan.” Zhongren berpendapat dan Hyojung mengangguk.

“Aku bahagia karena Eonni kelihatannya lebih ceria sekarang.” Ucap Hyojung , dia tersenyum.

“Sudah lama sekali aku tidak melihat senyum Eonni semenjak eomma dan appa meninggal, dia selalu sibuk dan terlihat lelah sedangkan kemarin..kemarin aku bisa melihat dia tersenyum.” Hyojung berkata, dia kelihatan benar-benar menyayangi kakaknya dan khawatir pada kakaknya.

Hyojung tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini, harapannya hanyalah Hyojin kakaknya jadi dia selalu khawatir jika kakaknya sudah mulai terlihat lelah dan murung. Mungkin sebelum Hyojung tidak terlalu mengenal sosok kakaknya, karena umur mereka yang sangat jauh mereka selalu hidup di dunia masing-masing.

Namun setelah kematian kedua orang tuanya Hyojin dan Hyojung belajar untuk saling mengenal bahkan menghibur jika salah satu sudah mulai bersedih, Hyojung tahu kakaknya itu menyayanginya juga namun terkadang dia terlalu keras padanya.

“Kau memikirkan kakakmu?” Suara Zhongren mengagetkan Hyojung dan Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Tidak, Oppa..bagaimana keluargamu? Kau belum menceritakannya padaku.” Hyojung bertanya, dia dan Zhongren sudah mengenal cukup lama Hyojung rasa tidak ada salahnya dia mengenal jauh Zhongren.

“Seperti yang sudah kau tahu, aku tumbuh di panti asuhan Hyojung-ah aku tidak memiliki keluarga sepertimu.” Zhongren menjawab, dia mencoba untuk ceria namun suaranya masih terdengar sedih.

“Oppa, aku tahu tumbuh di panti asuhan tidak mudah tapi itu sebagian dari masa lalumu sebaiknya kau tak usah sedih seperti itu.” Hyojung berkata, dia mencubit pipi Zhongren membuat Zhongren tersenyum.

“Kau benar, lagipula sekarang aku bahagia…kenapa aku harus bersedih kalau aku tumbuh di panti asuhan iyakan?” Zhongren melirik kearah Hyojung, dia bisa melihat Hyojung yang tersenyum dan rasa pedih didadanya langsung hilang saat dia melihat senyum Hyojung.

“Iya Oppa, ingat kau tidak boleh terjebak dalam masa lalu..aku tahu hidupmu tidak mudah dan mungkin masalah akan datang, tapi Oppa itu bukan alasan yang tepat untuk bersedih..kau harus menghadapi semuanya dengan senyuman.” Hyojung berkata dan Zhongren mengangguk, dia kagum sekali dengan kedewasaan Hyojung.

Umur dan perkataan nya berbeda sekali, Hyojung sangat dewasa untuk seorang remaja yang masih berumur tujuh belas tahun. Zhongren sebenarnya senang, dia senang karena dia memiliki orang yang positive dan ceria seperti Hyojung.

Sepertinya mulai hari ini hari-harinya tidak akan mendung lagi, karena dia memiliki cahaya sekarang dan cahayanya itu adalah Jung Hyojung.

[Sebuah café, gangnam – Korea selatan 09:00 am]

    Hyojin melangkah masuk kedalam café, beberapa menit yang lalu dia mendapatkan telepon dari Yifan dan menyuruhnya untuk datang ke café ini. Namun dia tidak bisa menemukan sosok pacarnya itu, Hyojin melangkah kedalam lebih jauh mencari tempat duduk.

Namun baru juga dia melangkah beberapa kali, seseorang menutup matanya dari belakang membuat dia terkejut.

“Siapa ini?” Hyojin bertanya sedikit ketus.

“Menurutmu?” sebuah suara menyapa pendengarannya, Hyojin langsung tersenyum saat dia mengenal suara itu.

“Yifan Oppa.” Hyojin menjawab dan akhirnya kedua tangan yang menghalangi pandangannya menyingkir.

“Oppa!” Hyojin berseru saat dia berbalik menemukan sosok Yifan yang berdiri dibelakangnya.

“Maaf, saat aku melihat kau kebingungan karena tidak menemukanku aku jadi ingin menjahilimu.” Yifan berkata dan Hyojin pura-pura cemberut.

Aigoo, apakah pacarku ini marah?” Yifan menunduk mendekatkan wajahnya kearah Hyojin yang lebih pendek darinya.

“Tidak lucu! Aku kira kau seseorang yang akan menculikku.” Hyojin mengungkapkan dan memukul dada Yifan.

“Hahaha kau konyol sekali Hyojin-ah, tenang saja..selama kau ada bersamaku tidak akan ada yang berani menculikmu.” Yifan berkata dia menyelipkan poni panjang Hyojin ketelinga gadis itu.

“Kau bilang kau ingin membahas sesuatu, kau ingin membahas apa?” Tanya Hyojin.

“Oh soal itu..” Yifan mengodok saku jaketnya, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dan memberikannya pada Hyojin.

“Apa ini?” Hyojin bertanya.

“Hadiah ulang tahun dariku.” Yifan berkata dan Hyojin mengerutkan keningnya.

“Tapi Oppa, ulang tahunku sudah lama berlalu..” Hyojin mengungkapkan dan Yifan hanya tersenyum.

“Tidak apa-apa, aku hanya sedih karena aku tidak ada saat kau berulang tahun.” Ucap Yifan dan Hyojin tersenyum.

“Bagaimana kalau kita duduk dulu sebelum kau membuka kotak itu.” Yifan berkata, dia menarik Hyojin dan mereka berdua duduk disalah satu kursi yang kosong.

Hyojin membuka kotak kecil itu dan dia bisa menemukan sebuah kalung didalamnya, kalung itu begitu indah dan berkilau. Kalung yang Yifan berikan berbandul bunga mawar dengan mata berlian ditengahnya, sangat indah sekali.

“Oppa..aku sangat menyukainya.” Hyojin berkata dia memeluk Yifan dan Yifan tersenyum penuh bahagia.

“Ah..lega sekali, aku sedikit ragu jika kau akan menyukainya.” Yifan berkata, dia memperhatiakan wajah Hyojin yang kelihatan sangat bahagia.

“Tapi..kenapa mawar?” Hyojin melirik kearah Yifan.

“Hm..karena kau seperti mawar bagiku.” Yifan menjawab.

“Benarkah? Tapi..mawar memiliki duri yang tajam, duri itu bisa melukaimu kapan saja.” Hyojin berkata.

“Tapi selain durinya bunga mawar itu indahkan? Bunga mawar itu harum dan indah apalagi jika mereka baru mekar. Setiap orang yang melihat bunga mawar pasti ingin menyentuh bunga itu, bunga itu memiliki duri karena dia ingin melindungi dirinya sendiri…tergantung pada orang yang ingin menyentuhnya jika orang itu ceroboh tentu saja dia akan terluka, tapi tidak semua orang cerobohkan? Jika orang itu cukup hati-hati dia akan berhasil menggengam bunga mawar itu.”

Hyojin tersenyum puas, dia mendekat dan mencium pipi Yifan. Lelaki yang satu ini benar-benar pintar merayu bahkan kata-kata manisnya itu langsung menusuk hati Hyojin membuat Jung Hyojin yang dingin semakin tergila-gila padanya.

“Terimakasih Oppa, untuk hadiahnya.” Hyojin berkata.

“Sama-sama, apa kau ingin memakai kalung itu?” Yifan menawarkan dan Hyojin mengangguk.

Dia berbalik dan menarik rambut panjangnya kesamping, membuat punggung nya terlihat oleh Yifan. Yifan melepaskan kalung aksesoris Hyojin dan memasangkan kalungnya, saat Yifan sudah selesai memasangkan kalungnya tidak sengaja tangannya menyentuh kulit punggung Hyojin.

Kulit punggung Hyojin terasa lembut ditangannya, dia ingin sekali menyentuh dan mencium punggung itu namun dia sadar kalau dia sedang ada didaerah publik. Hyojin langsung berbalik dan dia menyentuh kalung barunya, dia sangat menyukai kalung barunya itu sangat pas sekali dilehernya yang jenjang.

[Mall Coex, Seoul – Korea selatan 11:00 am]

   Hyojung dan Zhongren berjalan sambil meminum bubble tea mereka, terkadang Hyojung menunjuk kearah toko baju dan beberapa toko lain. Mereka menikmati kebersamaan mereka, bahkan mereka tidak merasa lelah setelah berjalan-jalan sekitar satu jam lebih.

“Oppa bagaimana dengan kaos itu?” Hyojung menunjuk kearah manekin yang ada di sebuah toko baju.

Manekin itu memakai kaos couple yang berwarna ungu dengan tulisan didepannya, Zhongren suka dengan model kaos itu namun yang membuatnya tidak nyaman adalah tulisan dalam kaos itu.

Kaos itu bertuliskan ‘My girlfriend’ dan ‘My boyfried’ dengan arah panah yang salaing menujuk satu sama lain, entah kenapa Zhongren jadi tiba-tiba saja gugup.

“Bagaimana Oppa?” Tanya Hyojung lagi karena Zhongren tak kunjung menjawab.

“Bagus, tapi Hyojung-ah..lebih baik kita mencari buku saja ok?” Zhongren mengusulkan dan Hyojungpun mengangguk.

“Ok kalau begitu..” Hyojung menyetujui dengan polos, dia bahkan tidak tahu kalau Zhongren sudah keringat dingin.

“Buku apa yang ingin kau beli?” Tanya Zhongren saat mereka sedang berjalan.

“Entahlah, mungkin novel..atau sastra.” Hyojung menjawab dan Zhongren mengcak-ngacak rambut Hyojung.

“Ya! Kau masih SMA bukankah sebaiknya membeli buku pelajaran?” Tanya Zhongren dan Hyojung.

“Oppa! Aku tidak suka buku pelajaran, lagipula aku sudah membeli banyak dan tidak ada satupun yang membuatku semangat baru saja aku membuka satu halaman aku sudah merasakan mataku berat.” Hyojung berkata dan Zhongren tertawa.

“huft..pantas saja kau tidak pernah menjadi peringkat pertama.” Zhongren meledek dan Hyojung memukul lengan Zhongren.

“Awww mwoya?!” Zhongren mengerang kesakitan.

“Urggh jinja! Kau menyebalkan sekali.” Hyojung berkata dan pergi melangkah menjauh dari Zhongren dan Zhongren tersenyum.

Dia tahu kalau Hyojung hanya merajuk, Zhongren berlari dan melingkarkan tangannya dibahu Hyojung.

“Oh ayolah Hyojung-ah, jangan merajuk seperti itu.” Zhongren berkata dan dia menyentuh dagu Hyojung.

Hyojung menahan tawanya dan tetap diam, Zhongren sekarang mulai khawatir dan diapun membalikan badan Hyojung agar mengarah kepadanya.

“Hyojung-ah..jangan marah…jeball..” Zhongren mengeluarkan bunny aegyonya dan mengedipkan matanya pada Hyojung.

Hyojung yang tidak bisa menahan tawanya akhirnya tertawa, Zhongren lega sekali saat dia melihat lagi senyum gadis itu.

“Kau tidak marah lagi? Maafkan aku..” Zhongren memohon dan Hyojungpun mengangguk.

“Iya aku maafkan..” Hyojung berkata dan Zhongren menyeringai lalu memeluk gadis itu.

“Maafkan aku..aku benar-benar hanya bercanda.” Zhongren berbisik dan Hyojung memeluk kembali Zhongren.

Nde..Oppa.” Hyojung merespon.

Mereka akhirnya melanjutkan berjalan, Zhongren membiarkan Hyojung melingkarkan tangannya dilengannya. Itulah betapa dekatnya mereka, sepertinya Hyojung sangat menyukai dia sampai gadis itu selalu menyentuhnya dan menjaganya agar dia tidak melirik gadis lain saat dia sedang berjalan dengan gadis itu.

Sebenarnya Zhongren suka perhatian itu, kebanyakan gadis yang dia kencani sebelumnya tidak terlalu memperhatikan detail tentang dia. Bahkan mereka hanya ‘bermain’ di tempat tidur dan jika dia atau pacarnya sudah bosan mereka akan putus, namun dengan Hyojung sepertinya berbeda.

Gadis itu lebih suka mengobrol dibandingkan berciuman seperti wanita yang lebih tua yang biasa dia kencani, Hyojung tidak pernah melarang atau mengaturnya. Gadis itu hanya akan diam dan memeluknya erat, jika dia sedang lelah dan malas untuk bercanda Hyojung akan diam dan menyandarkan kepalanya dibahunya.

Zhongren kira hubungan yang dia dan Hyojung jalani akan sangat membosankan, namun dia salah besar. Sebenarnya dalam hati kecilnya dia ingin merasakan hal itu, dia ingin merasakan hubungan yang nyata bukan hanya hubungan fisik namun juga mental.

Zhongren ingin menemukan seorang wanita yang bisa mengurusnya, memahaminya dan mungkin akan menamatkan kalimatnya saat dia terlalu malas untuk berbicara. Dia ingin wanita seperti itu, wanita yang hangat dan penuh kasih sayang.

Selama ini hubungannya dengan semua pacarnya selalu palsu, mereka hanyalah tante – tante kaya yang bosan dan ingin mencari kesenangan dengan berkencan dengan lelaki yang lebih muda dari mereka.

Zhongren melirik kearah Hyojung, tidak pernah dia merasa beruntung saat dia melihat seorang wanita namun Hyojung merubahnnya. Mulai hari ini Zhongren akan selalu bersyukur pada Tuhan karena Tuhan mempertemukan dia dan Hyojung, Zhongren meremas tangan Hyojung dengan kuat seakan dia tidak ingin kehilangan gadis itu.

Hyojung yang terkejut melirik kearah Zhongren, dia terkejut saat dia melihat mata Zhongren berkaca-kaca. Hyojung tidak bisa menjelaskan kenapa Zhongren bertingkah seperti itu, namun Hyojung berpikir kalau Zhongren hanya takut kehilangan dia dan diapun tersenyum menghibur lelaki itu.

“Oppa aku tidak marah, kau tak usah sedih.” Hyojung berkata dan Zhongren mengangguk.

“Aku tahu.” Zhongren menjawab.

Tak terasa mereka sampai didepan toko buku, mereka langsung masuk dan mencari-cari buku yang Hyojung inginkan. Zhongren dengan setia mendampingi gadis itu untuk memilih buku dijajaran buku yang banyak, Hyojung kelihatan senang sekali saat dia menemukan beberapa buku yang dia cari.

Gadis ini benar-benar menyukai novel ternyata, Zhongren hanya tersenyum saat dia melihat Hyojung yang dengan senangnya memilih buku-buku novel terbaru.

“Zhongren!”

Mendengar seseorang memanggilnya Zhongren melirik kebelakang, dia terkejut saat dia menemukan sosok Taeyeon dibelakangnya. Taeyeon langsung mendekat kearahnya, Hyojung melirik kearah Taeyeon saat dia mendengar kalau wanita itu memanggil nama Zhongren.

“Ah..Noona.”

Mendengar kalau Zhongren memanggil Taeyeon noona, dia jadi ingat beberapa minggu yang lalu seseorang menelepon Zhongren dan Zhongren meninggalkan dia untuk ‘noona’ yang meneleponnya itu.

Apakah ini Noona yang saat itu menlepon Zhongren? Hyojung bertanya pada dirinya sendiri.

“Zhongren-ah, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini.” Taeyeon berkata dan dia tersenyum, namun matanya langsung menatap kearah sosok Hyojung yang berdiri dibelakang Zhongren.

“Nona Hyojung, Annyeoung haseyo.” Taeyeon menyapa, dia terkejut melihat adik Hyojin bosnya yang kelihatannya dekat dengan Zhongren.

Hyojung hanya tersenyum tipis, dia langsung mendekat kearah Zhongren. Hyojung memang selalu canggung jika bertemu dengan orang baru, dia bukanlah orang yang gampang bergaul apalagi ramah.

“Taeyeon, bisakah kau tidak berlari seperti itu?” seorang lelaki tiba-tiba saja muncul menyusul Taeyeon.

Mata Zhongren langsung melebar saat dia melihat sosok itu, dia mengenal sosok lelaki itu. Dia ingat kalau lelaki itu adalah tangan kanan ayah Yifan, dia melihat wajah lelaki itu saat di Cina.

“KAU!” Zhongren langsung marah.

Yixing yang mengenali sosok Zhongren sama terkejutnya, dia sangat terkejut sekali saat dia melihat sosok Zhongren berdiri didepannya. Padahal dia masih ingat kalau lelaki itu berhasil memukul dua bodyguard Zhoumi saat Zhoumi menyuruh Yifan dan dia untuk pergi, Yixing langsung melirik kearah lain mencoba menyembunyikan ekspressi paniknya.

“Oh..apa kalian mengenal satu sama lain?” Tanya Taeyeon.

Zhongren yang tidak ingin membuat Taeyeon bingung langsung menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia tentang orangtua Yifan yang sebenarnya tidak boleh sampai kependengaran Taeyeon, Zhongren tersenyum dan mencoba mengalihkan perhatian Taeyeon.

“Noona, apa yang kau lakukan disini? Siapa lelaki itu?” Zhongren bertanya.

“Oh dia Zhang Yixing, dia..temanku.” Taeyeon menjawab, nada suaranya terdengar ragu sepertinya mereka memang lebih dari teman.

“Oh begitu ya..” Zhongren merespon.

“Bagaimana denganmu dan nona Hyojung? Aku tidak tahu kau mengenal dia.” Taeyeon berkata dan Zhongren hanya tersenyum dia melirik kearah Hyojung yang menunduk malu.

“Kami teman dekat, dia memintaku untuk mengantarnya.” Zhongren menjawab dan dia melingkarkan tangannya di bahu Hyojung.

“Oh begitu ya,aku tidak ingin menganggu kalian..sepertinya aku duluan saja dengan Yixing.” Taeyeon berkata dia hendak berbalik dan pergi bersama Yixing.

Zhongren yang melihat itu segera panik, dia tidak mungkin membiarkan Taeyeon pergi bersama lelaki lain apalagi dengan Yixing. Dia tahu lelaki itu memiliki maksud lain, Zhongren menarik lengan Taeyeon membuat dia terkejut.

“Noona, bagaimana kalau kita pergi bersama? Aku dan Hyojung akan makan di KFC, apa kau mau ikut?” Zhongren menawarkan, Hyojung menarik lengan Zhongren dan meremasnya sedikit keras tanda kalau dia tidak setuju.

Zhongren tahu kalau Hyojung tidak akan suka ini, namun dia harus melindungi Taeyeon. Bagaimanapun dia menyukai noonanya itu, dia tidak ingin melihat Taeyeon pergi dengan lelaki lain apalagi dengan seseorang yang Zhongren benci seperti Yixing.

“Tapi Zhongren-ah..” Taeyeon mencoba menolak.

Jebal! Hanya sekali ini saja.” Zhongren berkata membuat Hyojung marah, dia melepaskan gengaman tangannya dari lengan Zhongren.

“Baiklah, Yixing-shi..apa kau keberatan?” Tanya Taeyeon, Yixing menggelengkan kepalanya dia tidak ingin membuat Taeyeon curiga juga jadi terpaksa dia harus bersikap normal.

“Tidak.” Yxing menjawab.

Akhirnya merekapun pergi ke kedai KFC yang terdekat setelah Hyojung selesai membeli buku, gadis itu kelihatannya marah karena tidak melirik kearah Zhongren sedikitpun. Zhongren memang sedang dalam dilemma sekarang, dia tidak ingin melihat Taeyeon wanita yang dicintainya pergi bersama Yixing lelaki jahat yang dia kenal, sedangkan dia sedang bersama Hyojung.

Hyojung adalah targetnya, gadis itulah yang akan menentukan masa depan dia dan Yifan. Dia tidak bisa melepaskan gadis itu begitu saja, Zhongren mencoba meraih tangan Hyojung mencoba untuk meminta maaf.

Namun dengan kasarnya Hyojung menepis lengan Zhongren, Hyojung sepertinya benar-benar sangat marah sekarang. Ekspressinya pun terlihat sangat dingin dan kelam, tidak pernah dia melihat mataharinya Hyojung, murung seperti sekarang.

Zhongren menghela nafasnya, dia tahu dia salah namun terkadang dia ingin Hyojung bisa bersikap lebih dewasa dan berbicara padanya. Suasana diantara mereka berempat sangat canggung sekali, Taeyeon sesekali akan mengobrol dengan Zhongren dan menanyakan kabarnya namun Hyojung memutusakan untuk diam saja dan melipat tangannya.

Mereka berempat samapi di kedai KFC dan Zhongren menarik salah satu bangku kosong didalam kedai untuk Hyojung duduki, Zhongren ikut duduk disamping gadis itu dan mencoba bertanya.

“Kau mau makan apa Hyojung-ah?” Zhongren bertanya.

“Apa saja.” Hyojung menjawab dengan ketus, Zhongren menghela nafasnya dia tidak tahu bagaimana cara agar Hyojung berhenti merajuk seperti itu.

Taeyeon yang melihat reaksi Hyojung merasa tidak nyaman, dia tahu alasan kenapa Hyojung marah namun dia tidak bisa menolak ajakan Zhongren. Apalagi Zhongren memaksanya, dia merasa tidak tega.

“Taeyeon-shi, apa yang ingin kau pesan?” Suara Yixing menyadarkannya dari lamunannya.

“Sama denganmu saja.” Taeyeon berkata dan Yixingpun mengangguk mengerti.

Zhongren dan Yixing pergi untuk memesan makanan, namun saat mereka sudah cukup jauh dari meja Hyojung dan Taeyeon, Zhongren menarik Yixing menuju toilet dengan kasarnya Zhongren menarik kerah baju Yixing.

“Apa yang kau lakukan dengan Taeyeon Noona?!” Tanya Zhongren penuh emosi.

“Aku berteman dengan dia, apa kau cemburu?” Yixing bertanya, dia mencoba melepaskan gengaman Zhongren dari kerah bajunya.

“Huh? Lucu sekali, apa kau kira aku akan percaya?! Kau anak buah ayah Yifan Hyung iyakan? Aku tahu kau merencanakan sesuatu…” Zhongren menuduh.

“Iya aku anak buah ayah kakak angkatmu, tapi aku kesini bukan untuk berbisnis..aku kesini karena aku harus mengantarkan Taeyeon yang membutuhkanku.” Yixing mengungkapkan, Zhongren akhirnya melepaskan gengamannya.

“Sejak kapan kau mengenal Taeyeon noona?” Tanya Zhongren.

“Sekitar dua tahun yang lalu.” Ucap Yixing.

“Ingat! Sekarang aku memberikanmu kesempatan, jika kau menyakiti Taeyeon noona aku akan menghancurkanmu!” Zhongren mengancam.

“Lalu bagaimana dengan Hyojung? Bukankah dia targetmu? Sebaiknya kau memperhatikan dia sebelum seseorang merebut dia.” Yixing berkata.

“Apa maksudmu?” Zhongren kebingungan.

“Apa kau pikir hanya kau yang menginginkan kekayaan Hyojung? Selain kau, masih banyak lelaki lain yang menginginkannya apalagi dia cantik seperti itu…kau pikir kau akan menang begitu saja?” Yixing menyeringai saat dia melihat ekspressi panik Zhongren.

“Ck..aku kira kau tidak senaïve itu Zhongren-ah.” Yixing meledek, dia menyenggol bahu Zhongren dengan sengaja lalu keluar dari toilet.

Zhongren mengepalkan tangannya kesal, dia melirik kebelakang dan mengikuti langkah Yixing yang sudah keluar terlebih dahulu.

Taeyeon menatap kearah Hyojung, dia tersenyum kearah Hyojung saat tatapannya dengan tatapan gadis itu bertemu. Hyojung tidak membalas senyum Taeyeon, membuat Taeyeon sedikit kecewa dia kira Hyojung akan lebih ramah padanya.

“Aku dengar kau sekolah di SMA internasional apa itu benar?” Taeyeon bertanya pada Hyojung, Hyojung hanya mengangguk sedikit.

“Hm..pasti menyenangkan? Aku selalu ingin masuk kesekolah internasional namun aku tidak memiliki biaya yang cukup.” Taeyeon berkata.

“Apakah kau dekat dengan kakakmu?” Taeyeon bertanya lagi.

“Ya, cukup dekat.” Hyojung menjawab singkat.

“Begitu ya, aku sebenarnya penasaran..apakah kau pacar Zhongren?” Taeyeon mendekat dan dia bisa melihat kedua pipi Hyojung merona.

“Tidak! Kami hanya teman dekat.” Hyojung membantah, namun merah dipipi gadis itu menunjukan kalau dia menyukai Zhongren.

“Zhongren memang lelaki yang baik, dia bisa diandalkan. Setiap aku menghubungi dia, dia selalu datang dan menghiburku jadi tidak apa-apa jika kau menyukai dia.” Taeyeon berkata dan tersenyum.

Hyojung mengepalkan tangannya kesal, bagaimana Taeyeon tahu kalau dia menyukai Zhongren? Sudah jelas kalau Zhongren menyukai Taeyeon! Hyojung ingat saat Zhongren meninggalkan dia di aquarium hanya karena telepon dari Taeyeon, Hyojung tidak ragu lagi sekarang wanita yang menelepon Zhongren waktu itu adalah Taeyeon.

Apakah dia sedang mencemoohnya sekarang? Hyojung mengepalkan tangannya penuh emosi.

“Aku tidak suka dia! Kau tak usah sok tahu.” Hyojung membentak, dia mengambil tasnya dan berdiri dari duduknya.

“Jika Zhongren Oppa bertanya, katakan pada dia tak usah mencariku lagi.” Hyojung berkata dan dia pergi keluar dari kedai KFC.

“Hyojung tunggu!” Taeyeon mencoba mencegah gadis itu untuk pergi.

Zhongren yang melihat Hyojung melangkah keluar segera berlari menyusul gadis itu, dia panik sekali saat dia melihat gadis itu menangis.

“Hyojung-ah!” Zhongren memanggil namun Hyojung tidak merespon dia terus berjalan.

“Hyojung-ah,, kau kenapa? Katakan padaku kau kenapa?” Zhongren berkata sekali lagi namun Hyojung masih mengacuhkannya.

“Jung Hyojung!” Zhongren akhirnya kehabisan kesabarannya, dia menarik tangan Hyojung dengan kasar membuat gadis itu berbalik menatapnya.

Kedua mata Hyojung merah sekali, dia pasti menangis. Zhongren merasa bersalah saat dia melihat wajah sedih Hyojung, ada apa dengan mataharinya yang selalu ceria? Kenapa sekarang dia menangis seperti ini?

“Aku ingin pulang, kau tak usah mengantarku.” Ucap Hyojung dengan suara kecilnya.

“Kenapa?aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri.” Zhongren berkata, dia menarik tangan Hyojung pergi menuju parkiran mobil.

Taeyeon yang melihat itu hanya mengepalkan tangannya, dia menghela nafasnya dan mencoba tersenyum. Bagaimanapun semua ini bukan kesalahannyakan? Dia tidak bermaksud untuk menghancurkan kencan Zhongren dengan Hyojung.

“Taeyeon-shi..” Yixing menyentuh bahu Taeyeon.

“Aku baik-baik saja.” Taeyeon berkata dia duduk kembali dikursinya menatap kosong kearah makanannya.

“Makanlah, kau pasti lapar.” Yixing menyuruh, dia menyodorkan sebuah nasi dan sepotong ayam kepada Taeyeon.

Taeyeon hanya diam, dia mencoba menahan airmatanya namun usahanya gagal akhirnya airmatanya turun membasahi tangannya. Bagaimanapun Taeyeon merasa bersalah, setelah dia menghancurkan kencan Yifan dan Hyojin lalu kenapa sekarang dia harus terlibat dengan Hyojung dan Zhongren? Dia tidak ingin semua ini.

Yixing yang melihat Taeyeon menangis merasa kasihan, dia menyentuh tangan Taeyeon dan meremasnya sedikit. Sedangkan Taeyeon hanya menangis, mengacuhkan sentuhan lelaki yang duduk dihadapannya itu.

[Kediaman keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 14:00pm]

“Sampai kapan kau akan merajuk seperti itu?” Zhongren bertanya saat mobilnya sudah berhenti tepat didepan pintu utama rumah keluarga Jung.

“Berhenti membujukku.” Hyojung berkata dan dia melepaskan seatbelt nya hendak turun dari mobil, Zhongren menarik lengan Hyojung membuat Hyojung berhenti.

“Kenapa kau marah? Apa Taeyeon noona mengatakan sesuatu padamu?” Tanya Zhongren khawatir.

“Aku hanya baru menyadari sesuatu, dan aku tidak suka itu.” Hyojung mengungkapkan, dia dengan kasar melepaskan gengaman Zhongren.

“Menyadari apa Hyojung? Apa yang aku lakukan?” Zhongren bertanya lagi dan Hyojung melirik kearahnya.

“Taeyeon..kau menyukai Taeyeon,iyakan?” Hyojung bertanya dan mata Zhongren melebar.

“Aku tahu kalau dia yang meneleponmu saat kita sedang di aquarium, kau meninggalkanku sendirian hanya untuk Taeyeon sudah jelaskan kalau kau menyukai dia?” Hyojung menjelaskan, dia menahan airmatanya agar tidak jatuh.

“Hyojung…aku dan Taeyeon noona hanya adik dan kakak, aku tidak mungkin menyukai dia.” Zhongren berkata.

“Bohong! Aku bisa melihat dari cara kau menatap kearahnya, kau cemburu pada Yixing iyakan?” Hyojung bertanya penuh emosi, airmatanya mengancam untuk turun kapan sjaa namun dia menahannya sekuat tenaga.

Dia tidak ingin terlihat lemah, apalagi rapuh dihadapan Zhongren.

“Hyojung, apa kau cemburu?” Zhongren bertanya dan akhirnya airmata Hyojung jatuh.

Zhongren yang melihat itu segera menarik Hyojung kedalam pelukannya, Hyojung menolak dan mendorong Zhongren menjauh darinya.

“Aku tidak ingin bermain permainan ini lagi Oppa, aku bukanlah boneka yang bisa kau mainkan kapan saja..jika kau mencintai Taeyeon pergilah padanya.” Hyojung berkata, dia langsung turun dari mobil Zhongren dan berlari masuk kedalam rumahnya.

Zhongren memukul setirnya, dia benar-benar sudah menghancurkan semuanya! Sial, seharusnya dia lebih berhati-hati. Namun dia tidak bisa berbohong, dia snagat menyukai Taeyeon sedangkan Hyojung hanyalah target untuknya.

Satu-satunya wanita yang dia cintai adalah Kim Taeyeon, dari dulu sampai sekarang wanita itulah yang selalu ada dihatinya tidak peduli berapa ratus wanit ayang pernah hinggap di hatinya hanya Taeyeon yang bertahan.

Zhongren mengodok sakunya, dia mencari kontak nomor Taeyeon dan menghubungi nomor itu.

Nde Zhongren-ah?” Taeyeon mengangkat teleponnya.

“Noona, bisakah kita bertemu di apartemenmu? Aku ingin membahas sesuatu.”  Zhongren berkata.

“Ya tentu saja, aku sudah pulang kok..aku akan menunggumu.” Taeyeon menyetujui.

Zhongren menutup teleponnya dan menghidupkan kembali mesin mobilnya, Hyojung yang mengintip dari jendela kamarnya meremas tirai jendelanya. Airmatanya masih turun membasahi pipi gadis itu, Hyojung kira Zhongren akan mengejarnya dan mengatakan kalau dia lebih menyukai Hyojung daripada Taeyeon.

Namun perkiraannya salah, Zhongren sepertinya benar-benar menyukai Taeyeon dan itu membuat hatinya hancur. Seperinya dia terlalu gampang untuk jatuh cinta, dia kra Zhongren merasakan hal yang sama dengannya namun Hyojung salah.

Dia terlalu berharap dan dengan naïve nya dia memberikan hatinya untuk Zhongren, berimajinasi kalau suatu hari Zhongren akan menjadi miliknya. Zhongren terasa dekat sekali, namun saat Hyojung mencoba memiliki Zhongren dia bergerak menjauh bagaikan angin.

“Hyojung-ah, kau kenapa?” Suara Hyojin terdengar dari belakangnya, Hyojung segera menyeka airmatanya dan mencoba tersenyum.

“Aku tidak apa-apa Eonni.” Hyojung berkata dan erbalik, namun Hyojin menyadari mata Hyojung sembab.

“Apa kau menangis?kenapa matamu sembab?” Tanya Hyojin, dia masuk kedalam kamar Hyojung.

“Aku tidak apa-apa eonni, mataku sedang sakit jadi sembab.” Hyojung berbohong.

Dia tidak ingin kakaknya mencampuri urusannya, dia tahu jika kakaknya tahu kalau dia menangis karena Zhongren kakaknya itu akan memburu pemuda itu dan melarangnya untuk menemui Hyojung lagi.

“Oh begitu ya, aku punya obat mata apa kau ingin?” Hyojin menawarkan, dia tahu kalau adiknya itu berbohong.

“T-tidak usah..sekarang tidak sakit kok..” Hyojung berbohong lagi.

“Kau bohong Hyojung-ah! Aku tahu kau menangis, aku melihat kau menangis setelah kau turun dari mobil seorang lelaki.” Hyojin mengungkapkan dan Hyojung hanya menunduk malu.

“Siapa lelaki tadi? Apakah dia pacarmu?” Hyojin bertanya dan dia mendekat kearah adiknya.

“Hyojung-ah..kau bisa jujur padaku, aku bukan eomma dan appa.” Ucap Hyojin, dia menyelipkan beberapa helai rambut adiknya ketelinga gadis itu.

“Tapi Eonni, aku baik-baik saja..kami hanya bertengkar sedikit.” Hyojung menjawab, dia berbalik dan tidur diranjangnya mengacuhkan Hyojin.

Hyojin menghela nafasnya, dia tahu kalau Hyojung tidak ingin dia untuk mencampuri urusannya namun dia sangat khawatir sekali saat dia melihat Hyojung menangis. Hyojin duduk diranjang Hyojung, dan dia membelai kepala adiknya.

“Aku mungkin tidak sebijaksana eomma atau sepintar Appa, tapi aku ingin kau mempercayai aku Hyojung-ah..aku tidak ingin kau terus menutup dirimu dariku.” Hyojin berkata dan diapun pergi keluar dari kamar Hyojung.

Hyojung mengigit bibirnya, kakaknya benar. Dia belum terbiasa dengan kehadiran kakaknya, berpisah selama beberapa tahun dari kakaknya membuat dia tidak percaya pada kakaknya.

Mungkin Hyojung harus lebih terbuka, mungkin saja kakaknya itu akan mengerti. Namun sekali lagi, dia tidak bisa mempercayai kakaknya seperti dia percaya pada ibunya, selama ini orang yang dia percayai hanyalah ibu dan ayahnya.

Hyojin menyentuh pintu kamar Hyojung, dia merasa sedikit terlukai dengan perlakuan adiknya. Entah kenapa Hyojung sepertinya memisahkan dirinya dari Hyojin, dia merasa kalau adiknya itu tidak menyukainya dan ada benteng yang sangat besar yang menghalangi mereka berdua.

Hyojin merasa kalau mereka hanya dekat secara fisik, namun secara mental mereka terpisah sangat jauh sekali. Hyojin tidak pernah mengerti kenapa adiknya itu sangat tertutup sekali, Hyojin mengira setelah kematian kedua orangtuanya Hyojung akan leih percaya padanya namun sepertinya tidak.

Sebaiknya itu tidak pernah menunjukan rasa sedihnya, mengeluh ataupun menangis padanya. Dia merasa tidak berguna disini, dia bahkan pernah berpikir untuk kembali ke amerika bekerja di perusahaan nya yang dulu namun mengingat Hyojung dia selalu membatalkan niatnya.

Apalagi sekarang dia memiliki Yifan, lelaki itu selalu mendengarkan keluh kesah nya dan selalu siap untuk memeluknya jika Hyojin merasa resah dan kecewa.

[Apartemen Taeyeon, Seoul – Korea selatan 14:40 pm]

  Zhongren mengetuk pintu apartemen Taeyeon, dia menunggu sebentar sampai akhrnya Taeyeon membuka pintu apartemennya. Taeyeon tersenyum lebar saat dia melihat sosok Zhongren, namun Zhongren hanya tersenyum tipis lelaki itu terlihat tidak seceria biasanya.

“Masuklah.” Taeyeon berkata.

Zhongren melangkah masuk kedalam apartemen Taeyeon, sedangkan Taeyeon menutup pintu apartemennya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Taeyeon bertanya, namun Zhongren hanya diam menunduk.

“Zhongren, apa kau baik-baik saja?” Tanya Taeyeon khawatir.

Zhongren menatap kearah mata Taeyeon, dia tiba-tiba saja mendorong Taeyeon kearah pintu apartemennya dengan keras membuat Taeyeon terkejut. Zhongren tidak pernah sekasar ini padanya, matanya menatap tajam keara Taeyeon.

“Zhongren!” Taeyeon membentak terkejut.

“Noona! Jadilah milikku!” Zhongren tiba-tiba saja berkata dan dia langsung  menarik Taeyeon dan menciumnya.

Taeyeon melebarkan atanya saat dia merasakan bibir Zhongren menyentuh bibirnya, Taeyeon langsung mendorong Zhongren dan dia langsung menampar Zhongren dnegan keras.

“Ya! Wu Zhongren! Apa kau gila?!” Taeyeon membentak, dia menyeka bibirnya.

“Ya! Aku gila noona! Semua ini membuatku gila!” Zhongren balik membentak.

“Zhongren…” Taeyeon terkejut dengan tingkah Zhongren, Zhongren tidak pernah meledak-ledak seperti ini.

“Noona, katakan padaku siapa Yixing? Apa hubungan kau dengan dia?” Zhongren bertanya dan Taeyeon menghela nafasnya.

“Dia temanku Zhongren, aku tidak memiliki hubungan khusus dengan dia.” Taeyeon mengungkapkan.

“Lalu kenapa kau tidak mau menjadi milikku? Apakah aku kurang baik padamu? Apa kekuranganku? Katakan! Aku akan berubah!” Zhongren menyentuh kedua tangan Taeyeon.

“Zhongren, aku..aku tidak menyukaimu seperti itu!” Taeyeon menjawab.

Hati Zhongren langsung hancur saat dia mendengar pengakuan Taeyeon, selama ini bertahun-tahun lamanya Zhongren melindungi dan menyayangi Taeyeon sepertinya tidak pernah bisa merubah perasaan wanita itu padanya.

“Kenapa? Karena Yifan Hyung?” Zhongren menatapa kearah Taeyeon dan Taeyeon mengangguk.

“Ya, karena Yifan..aku mencintai dia, bukan kau.” Taeyeon berkata, matanya berkaca-kaca.

“Bohong..kau sudah melupakan dia.” Zhongren berkata namun Taeyeon hanya diam.

“Apa kau bodoh? Aku bahkan meneleponmu saat aku cemburu melihat Yifan dan Hyojin, apakah itu bukti yang cukup kuat untuk membuktikan aku masih mencintai dia?”

Zhongren menahan airmatanya, kata-kata itu menusuk hatinya. Dia tidak bisa berkata apapun, dia hanya ingin Taeyeon..hanya Taeyeon lalu kenapa wanita itu tidak pernah membiarkan dia mendekat.

“Sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggumu?” Zhongren bertanya.

“Maksudmu?”

“Sampai kapan kau akan mencintai dia? Dia tidak pernah mencintaimu Taeyeon noona…dia mencintai Jung Hyojin!” Zhongren membentak dan dia menangkup wajah Taeyeon.

“Aku yang mencintaimu! Bajingan itu tidak pernah mencintaimu…dia hanya mempermainkanmu noona!” Zhongren berkata dan Taeyeon menangis, apakah semua perkataan Zhongren benar?

“Kau bohong! Dia dan Hyojin hanya bermain-main..aku tahu dia masih menyukaiku!” Taeyeon membela Yifan.

“Apa kau tahu? Dia berubah untuk Hyojin, dia bahkan membeli rumah! Sebuah rumah di ilsan jika kau tidak percaya tanyakan pada dia.” Ungkap Zhongren.

“Tidak mungkin, kau hanya membual…iyakan Zhongren?!” Taeyeon bertanya sekarang airmatanya membasahi pipinya.

“Kau tidak akan pernah mendapatkan dia noona, dia sudah menjadi milik Hyojin sekarang.” Kata Zhongren, dia melepaskan kedua tangannya dari sisi wajah Taeyeon dan pergi membanting pintu apartemen Taeyeon.

Taeyeon langsung berlari mencari handphonenya, dia dengan paniknya mencari kontak Yifan di handphonenya setelah dia menemukannya dia langsung menghubungi Yifan. Taeyeon menunggu dengan cemas, airmata masih membasahi pipinya dia mengigit bibirnya mencoba menahan semua kesedihannya.

“Yobuseyo?” suara Yfan terdengar mengangkat teleponnya.

“Y-yifan? Ini aku..” Taeyeon berkata, suaanya masih gemetaran.

“Taeyeon? Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” Yifan bertanya, dia terdengar sangat khawatir.

“A-apa kau bisa menemuiku? Aku..aku ingin bertanya sesuatu.” Taeyeon mengungkapkan.

“Maaf Taeyeon, tapi aku rasa itu bukan ide yang bagus.” Yifan menolak permintaan Taeyeon, Taeyeon menahan tangis dan marahnya.

“A-aku mohon..aku takut Yifan.” Taeyeon berbisik, dia masih menangis membuat Yifan khawatir.

“Kau dimana? Aku akan datang..” Akhirnya Yifan menurut.

“Aku dirumahku.” Taeyeon menjawab.

[Kediaman Yifan & Zhongren, Ilsan- seoul 14:10 pm]

    Yifan mengambil jaket dan kunci mobilnya, entah kenapa dia merasa khawtair sekali saat dia mendengar Taeyeon meneleponnya sambil menangis. Dia berlari keluar dari rumahnya setelah dia mengunci pintu depan, dia naik kemobilnya dan menghidupkan mesin mobilnya.

Mobil sedannya langsung melesat membelah jalanan yang cukup sepi siang itu, Yifan menginjka pedal gas mobilnya secepat mungkin. Yifan mengingat suara tangis Taeyeon yang sangat lemah, dia semakin khawatir.

Saat dia membelokan mobilnya dia mendengar ponselnya berdering, Yifan mengerang kesal dan menyambar ponselnya. Dia terkejut saat dia melihat nama Hyojin tertera di layar ponselnya, dia ragu antara harus mengangkat atau menutup telepon dari kekasihnya itu.

Yifan menarik nafasnya mencoba menenangkan dirinya, dia melambatkan laju mobil lalu mengangkat telepon dari Hyojin.

“Nde Hyojin-ah..ada apa?” Yifan mengangkat teleponnya.

“Oppa, bisakah kau datang kerumahku?” Tanya Hyojin dengan manja, dia tersenyum mendengar suara manja gadis itu.

“Ada apa? Bukannya kau bilang kau ingin istirahat?” Yifan bertanya, dia masih ingat percakapan dia dan Hyojin tadi siang.

“Iya, tapi Hyojung sedang bersedih sekarang..aku tidak bisa mengajaknya mengobrol.” Hyojin mengeluh.

Yifan meremas ponselnya, entah kenapa dia merasakan firasat buruk saat dia mendengar kalau Hyojung sedang bersedih.

“Kenapa lagi dia?” Tanya Yifan.

“Sepertinya dia bertengkar dengan pacarnya entahlah, dia tidak mau curhat padaku.” Hyojin mengugkapkan, Yifan bisa menebak kalau Hyojin sedang cemberut sekarang.

“Bagitu ya, kalau begitu kenapa kau tidak hibur dia? Ajaklah dia bermain atau semacamnya..kau pintar membujuk orangkan?” Yifan bertanya, dia ingat kalau Hyojin sering membujuk para pembeli saham dia mendengar itu dari Yixing.

“Iya, tapi Hyojung wanita..aku tidak bisa membujuk dia seperti aku membujuk pembeli saham.” Hyojin bercanda dan dia tertawa.

“Aigoo,apa yang pacarku ini lakukan untuk membujuk pembeli saham?” Yifan meladeni candaan Hyojin.

“Menurutmu?” Hyojin ingin membuat Yifan bertanya-tanya.

“hm..apa yah, apa kau memuji-muji mereka?” Yifan menebak.

“Kau pikir aku sedangkal itu?” Hyojin bertanya.

“Lalu apa? Jangan bilang kau pergi dengan mereka ke karaoke.” Yifan berkata dan dia bisa mendengar tawa Hyojin.

“Tentu saja tidak Oppa! Kau pikir aku wanita macam apa?” Tanya Hyojin.

“Licik dan menawan.” Yifan menjawab.

“apa? Kau pikir aku licik?” Hyojin kedengarannya terkejut.

“Ya, kau licik karena kau mencuri hatiku dengan cepat.” Yifan berkata, dia tidak pernah tahu kalau dia bisa menggoda seperti Zhongren.

“Ya..ya.. godaanmu sudah basi.” Hyojin meledek.

“Hei! Aku mencoba menjadi romantis, apa itu salah?” Yifan pura-pura merajuk.

“Hahaha Oppa, kau terdengar lucu saat kau mencoba untuk menggodaku.” Hyojin tertawa, suara tawa gadis itu begitu indah diteliga Yifan dan Yifan tidak bisa menahan senyumnya, diapun tersenyum bahagia.

Tidak pernah dia tersenyum selebar ini dalam hidupnya, biasanya dia selalu serius dan murung. Namun dengan Hyojin, dia merasa kalau dia bisa terbebas dari kesedihan dia bisa melupakan semua masalahnya dan rasa lelahnya.

“Jadi Oppa, kapan kau akan kerumahku?” Hyojin bertanya.

“er.. Hyojin-ah maaf sepertinya aku tidak bisa, aku harus mengurus beberapa dokumen dikantor bagaimana kalau besok?” Yifan menolak tawaran Hyojin, HYojin sangat kecewa sekali namun dia mencoba tersenyum.

“Baiklah, jika kau sibuk tidak apa-apa…aku mengerti.” Hyojin berkata, dia benar-benar terdengar sangat kecewa dan Yifan merasa bersalah.

“Maafkan aku, aku janji besok aku akan menjemputmu dan kita akan pergi kemanapun yang kamu mau.” Yifan berjanji.

“Tidak apa-apa, kau kembali saja bekerja.” Ucap Hyojin, dengan perkataan itu Yifan semakin merasa bersalah.

“Baiklah, aku akan menyelesaikan dulu pekerjaanku.” Yifan berkata.

“Baiklah, sampai nanti.” Hyojin merespon, dia dan Yifanpun menutup telepon mereka hampir bersamaan.

Yifan menghela nafasnya merasa bersalah, namun dia tidak bisa berbohong dia masih peduli pada Taeyeon. Dia bukanlah lelaki dingin dan jahat sepertinya yang orang lain kira, dia hanya tidak beruntung dalam keadaan nya sehingga orang selalu menyalahkan dia.

Yifan menghentikan mobilnya didepan gedung apartemen Taeyeon, dia berlari masuk kedalam gedung dan langsung pergi menuju apartemen Taeyeon. Yifan berdiri didepan pintu apartemen Taeyeon dan mengetuk pintu apartemen gadis itu.

Tak ada jawaban, membuat Yifan takut dia langsung menyentuh gagang pintu apartemen Taeyeon dan ternyata pintu apartemen Taeyeon tidak di kunci.

“Taeyeon?” Yifan memanggil, masih tidak ada jawaban.

Yifan berjalan kearah ruang tengah apartemen Taeyeon dan dia bis amelihat Taeyeon duduk dilantai sambil memeluk kakinya, Taeyeon menangis tersedu-sedu rambut coklat cerahnya berantakan dan hidungnya merah karena menangis.

Dia tidak mengatakan apapun dan hanya menangis, Yifan mendekat dan berlutut didepannya.

“Kenapa?kenapa kau menangis?” Yifan bertanya.

Taeyeon mendongak saat dia mendengar suara Yifan, Taeyeon langsung memeluk Yifan dia merasa lega sekali saat dia melihat sosok Yifan. Taeyeon memeluk Yifan dengan erat, dia bahkan tidak berkedip karena dia takut jika semua ini hanyalah mimpi dan dia akan bangun sendirian.

“Taeyeon..apa yang terjadi?” Yifan melepaskan pelukan Taeyeon, Taeyeon berhenti menangis dan dia menatap kearah Yifan.

“Apa benar yang dikatakan Zhongren?” Taeyeon bertanya, membuat Yifan kebingungan.

“Apa yang dia katakan?” Tanya Yifan.

“Kalau kau mencintai Hyojin, apa itu benar?” Taeyeon bertanya, dia menunggu jawaban Yifan dengan cemas bahkan gadis itu meremas lengan baju kemejanya dengan erat.

“Kenapa kau ingin tahu?” Yifan bertanya kembali, dia hanya berakting bodoh dia tahu sekali alasan kenapa Taeyeon menanyakan itu.

Taeyeon merapatkan rahangnya kesal, dia ingin sekali menampar wajah Yifan. Bagaiamna dia masih bertanya itu? Apakah airmata yang dia tumpahkan sekarang tidak cukup menjelaskan kenapa dia bertanya hal itu?!

“Karena aku masih menginginkanmu bodoh! Selama ini..aku masih mencintaimu! Kau milik aku!” Taeyeon membentak dan memukul-mukul dada Yifan.

Yifan memegang pergelangan tangan Taeyeon membuat wanita itu berhenti memukul dada Yifan, Taeyeon menangis dia berantakan sekali sekarang. Jika dia terlihat seperti ini didepan rekan kerjanya dia akan malu, namun di depan Yifan dia membuang semua harga dirinya demi lelaki itu dia akan melakukan apapun karena dia mencintainya.

Yifan menghela nafasnya, dia menarik Taeyeon kedalam pelukannya dan dia mengelus pungung Taeyeon agar dia lebih tenang. Dia tahu Taeyeon sedang panik sekarang, dia mengerti..wanita mana yang tidak panik mendengar lelaki pujaannya jatuh cinta pada gadis lain?

“Yifan, aku mohon..menjauhlah dari Hyojin! Aku tidak suka wanita itu, dia seorang iblis.” Taeyeon berkata ditengah tangisnya, entah kenapa Yifan merasa sesuatu menusuk hatinya saat dia mendnegar ucapan Taeyeon.

“Kau tidak pantas bersama dia! Dia jahat! Dia bahkan mengatakan kalau dia akan mencakarku kalau aku berdekatan denganmu.” Taeyeon mengungkapkan, dia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Yifan.

“Kembalilah padaku, aku mohon..jika kau mau aku akan berhenti bekerja disana dan mencari pekerjaan lain.” Taeyeon berkata dia menatap kearah Yifan penuh harap.

Dia berharap kalau lelaki yang dihadapannya itu mengangguk dan setuju, namun Yifan hanya diam membeku. Dia tidak mengatakan apapun, hanya diam tertunduk sepertinya dia sedang berpikir.

“Taeyeon, kau harus tahu..aku tidak mencintaimu lagi.” Yifan berkata, mendengar itu airmata kembali muncul di sudut mata Taeyeon.

“Bohong! Kau bilang kau mencintaiku! Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku!” Taeyeon berkata, dia ingat janji-janji manis yang Yifan katakan padanya dimasa lalu.

Taeyeon ingat saat Yifan masih sangat muda, rambutnya masih berwarna hitam dan badanya masih kurus saat itu. Dia terlihat begitu lugu dan tampan, itulah Wu Yifan yang Taeyeon sukai dia suka Yifan dulu yang tidak memiliki apapun namun akan memberikan sepenuh hatinya untuk Taeyeon.

“Kau bilang, cinta kita tidak akan hilang begitu saja..katakan padaku, mana janji itu Wu Yifan!” Taeyeon berkata dia menatap kearah Yifan dengan mata berkaca-kacanya.

“Kua bilang kita akan menikah, walaupun kau tidak memiliki banyak uang kau akan bekerja keras untukku dan anak kita nanti.” Taeyeon mengenang masa lalunya, Yifan mengigit bibirnya.

Dulu dia memang mencintai Kim Taeyeon, namun wanita itu malah mengkhianati perasaannya. Kim Taeyeon adalah alasan utama kenapa dia tidak ingin terlibat dengan wanita, selama ini Kim Taeyeonlah yang menjadi ketakutannya dalam bercinta.

Dia tidak pernah lagi bisa mencintai seorang wanita karena Kim Taeyeon, karena dia yang meninggalkannya hanya demi jabatan dan uang.

“Lalu kenapa kau pergi? Kenapa kau ingin berpisah denganku? Kau pikir aku akan mencintai seseorang yang membuangku begitu saja seperti sampah?!” Yifan berkata, dia mencengkram tangan Taeyeon.

“Yifan..”

“Lucu sekali, sekarang kau berbicara soal cinta? Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan pergi dan memilih kekayaan dan kemewahan yang kau punya sekarang.” Yifan melepaskan tangan taeyeon dari wajahnya.

“Jangan pernah memanggilku lagi dan jangan pernah mengatakan kalau kau mencintaiku, semuanya bohong..aku tidak pernah percaya padamu lagi.” Yifan berdiri dan hendak pergi, namun Taeyeon segera menyusul dan memeluknya dari belakang.

“Aku mohon Yifan! Aku benar-benar mencintaimu..aku bodoh! Aku sangat bodoh, saat itu aku buta! Hidup dipanti asuhan selama bertahun-tahun membuatku menderita, aku tergoda oleh semua kekayaan dan kemewahan sehingga aku lupa padamu…maafkan aku Yifan.” Taeyeon berkata dia memeluk Yifan dengan erat, jika dulu dia membiarkan Yifan pergi namun sekarang tidak.

Yifan hanya diam dia tidak merespon sedikitpun, Taeyeon tidak akan lagi melukai hatinya. Dia cukup bodoh untuk datang kesini dan memberikan perhatiannya untuk Taeyeon, seharusya dia tidak datang.

Taeyeon membalikan tubuh Yifan, wajah Yifan begitu kaku sekali dan dia membenci itu. Kemana Yifan yang tersenyum setiap kali dia melihatnya, sekarang yang dia hadapi hanyalah Yifan yang terlihat lelah dan dingin.

“Katakan padaku, apa kau lupa semua kenangan kita?” Taeyeon bertanya lirih, suaranya gemetaran.

Yifan menatap kearahnya, tatapan lelaki itu benar-benar kosong membuat Taeyeon sedih. Kemanakah cahaya yang selalu menyinari mata Yifan? Kemanakah semua kebahagiaan yang selalu Yifan tunjukan kepadanya?

“Aku tidak akan pernah melupakannya.” Taeyeon melanjutkan, dia tidak peduli jika Yifan akan merespon atau tidak.

“Kau ingat saat kita pertama kali berciuman? Saat itu..hujan deras sekali dan kau menungguku dengan hanya satu payung.” Taeyeon tersenyum mengingat Yifan yang berdiri didepan panti asuhan hanya untuk menunggu Taeyeon pulang dari sekolah.

Dia tidak peduli jika dia kedinginan yang terpenting Taeyeon tidak, Taeyeon masih ingat kalau Yifan menunggu nya dan langsung memeluknya saat dia melihat sosok Taeyeon berlari dia bahkan tidak peduli kalau bajunya ikut basah juga.

Yifan langsung melepaskan jaket yang dia kenakan dan melingkarkannya dibahu Taeyeon, saat itu Taeyeon menggigil karena kedinginan. Dia memeluk Yifan dengan erat dan tersenyum saat dia merasakan hangat tubuh pemuda itu,namun tiba-tiba saja Yifan melepaskan pelukannya.

Dia menatap dalam-dalam kearah Taeyeon, Taeyeon tidak mengerti saat itu. Dia masih terlalu muda dan lugu, dia tidak tahu kenapa Yifan bersikap seperti itu.beberapa menit kemudin Yifan mendekat dan bibir merekapun bersentuhan untuk yang pertama kalinya, ciuman pertama mereka terasa dingin sekaligus hangat.

Keadaan mereka sekarang sama percis saat mereka pertama berciuman, hanya saja posisinya yang terbalik. Sekarang dia lah yang memeluk Yifan, dia lah yang ingin mencium lelaki itu dan memilikinya.

Taeyeon mendekat dan menarik kerah baju Yifan sehingga lelaki itu menunduk, beberapa menit kemudian bibir mereka bersentuhan lagi. Taeyeon bahagia sekali, setelah beberapa tahun akahirnya dia kembali merasakan kehangatan Yifan.

Yifan awalnya ikut larut dalam godaan Taeyeon, dia menarik Taeyeon mendekat dan mencium gadis itu penuh dengan gairah. Namun saat dia membuka matanya dan dia menyadari kalau wanita yang dia peluk sekarang bukanlah Jung Hyojin, dia merasa jijik.

Yifan langsung mendorong Taeyeon menjauh darinya, entah apa perasaan ini Yifan tidak tahu namun dia merasa jijik saat dia sadar kalau dia mencium wanita selain Jung Hyojin. Dada Yifan terasa sesak saat dia sadar kalau dia baru saja mencium wnata lain selain Hyojin, apakah ini yang disebut dengan rasa bersalah?

Yifan segera berbalik dan pergi menjauh, dia berlari menjauh dan menyeka bibirnya. Rasanya dia ingin mencuci bibirnya jika bisa, Yifan tidak pernah merasa sekotor ini, dia benci perasaan yang dia rasakan sekarang.

Dia harus pergi kerumah Hyojin dan memeluk gadis itu, dia tidak ingin terus merasakan seperti ini. Jalan satu-satunya untuk menenangkan dirinya adalah dengan bertemu gadis itu, setidaknya dia bisa melupakan apa yang baru saja terjadi.

[Sebuah Club malam, Seoul – Korea selatan 18:00 pm]

  Hyojin bisa mendengar suara dentuman musik yang keras dari luar club, dia tidak pernah menyukai club malam. Namun dia harus menemui seseorang, dia harus mengantar uang bayaran Luhan dan dia baru sempat menemui lelaki itu sekarang.

Hyojin melangkah masuk kedalam club dan dia langsung disambut oleh musik remix yang sangat memekakkan telinga, sekumpulan orang menari dilantai dansa dengan lincahnya dan sebagiannya lagi duduk dibar sambil menikmati minuman mereka.

Hyojin memutuskan untuk duduk dibar, dia memesan segelas cocktail. Dia melirik kesekitar mencari sosok Luhan, saat sang bartender memberikan pesanannya Hyojin bertanya.

“Maaf, apakah kau mengenal Luhan? Dia bilang kalau dia Dj disini.” Hyojin bertanya.

“Oh Luhan! Aku tahu dia, dia sedang bekerja sekarang..itu dia.” Sang bartender menunjuk kearah Dj booth dan Hyojin bisa melihat Luhan sedang sibuk dengan peralatan Dj nya.

“Oh terimakasih.” Hyojin berkata dan dia memberikan bartender itu sedikit tip.

Luhan terlihat sangat fokus sekali dengan peralatannya, dia sesekali memutar disknya dan dia ikut berdendang dengan semua orang yang menari lincah di lantai dansa mengikuti irama yang dia buat.

Hyojin menyeringai, Luhan terlihat sangat seksi dengan headphone nya. Apalagi dia memakai kemeja hitam dengan V neck yang memamerkan dada putihya, Hyojin berjalan melewati lautan manusia yang berkumpul di lantai dansa.

Luhan yang melihat sosok Hyojin mendekat kearah nya kaget, dia tersenyum saat dia melihat betapa cantiknya Hyojin malam itu. Gadis itu memakai gaun hitam pendek yang memeluk lekuk tubuh indahnya dengan sempurna, rambut coklatnya dia biarkan tergerai menetupi bahunya.

“ Hello Dj Luhan.” Hyojin menyapa.

“Hi, darimana kau tahu aku bekerja disini?” Luhan berkata.

“Taeyeon.” Hyojin menjawab, didalam club terlalu bising mereka bahkan harus berteriak untuk mendengar satu sama lain.

Hyojin mendekat kearah Luhan dan dia membisikan sesuatu di telinga Luhan.

“Bisakah kita pergi ke suatu tempat yang lebih sepi?” Hyojin berbisik.

“Tentu saja, setelah aku menyelesaikan lagu ini.” Luhan kembali berbisik ditelinga Hyojin.

“Baiklah, aku menunggumu dibar.” Hyojin menjawab, dia melambai kearah Luhan dan pergi kembali ke bar untuk duduk.

Hyojin duduk di bar dan dia menghidupkan handphonenya, dia bisa melihat tiga panggilan tidak terjawab dari Yifan. Hyojin menyeringai, Yifan pasti panik dan mencari-cari dia sekarang.

Hyojin memutuskan untuk mengacuhkan panggilan Yifan, lagipula dia tahu kalau Yifan tidak akan senang jika dia mendengar kalau dia sedang ada di club malam. Lelaki itu pasti langsung panik dan menyusulnya, Hyojin cukup yakin dengan prediksinya.

Hyojin meneguk minuman cocktailnya dan menunggu Luhan, Luhan cukup lama dan itu membuatnya sedikit jenuh. Dia memesan minuman lagi dan meneguknya sampai habis, dia bahkan mengacuhkan sebagian lelaki yang mencoba menggodanya.

Beberapa menit berlalu dan musik berhenti, sesosok lelaki dengan rambut silver duduk disampingnya. Hyojin melirik dan dia terkejut saat dia menemukan kalau itu Luhan, dia belum menyadari perubahan warna rambut Luhan tadi karena pencahaan yang kurang.

“Jadi kau mau pergi kemana?” Tanya Luhan dengan senyum lebarnya.

“Entahlah, café?” Hyojin mengusulkan.

“Baiklah, café.” Luhan berdiri dan dia mengulurkan tangannya pada Hyojin membuat Hyojin bingung.

“Ayo, jangan sampai gadis cantik sepertimu tersesat.” Luhan berkata dan mengedipkan matanya pada Hyojin.

Hyojin mendengus dan tertawa.

“Baiklah, tuan Luhan.. tolong dampingi aku sampai pintu utama.” Hyojin berkata dan dia melingkarkan tangannya dilengan Luhan.

“Dengan senang hati, nona.” Luhan membalas, mereka berduapun berjalan keluar dari club malam yang sangat ramai.

*****

   Hyojin merasa lega sekali saat dia dan Luhan sampai di sebuah café, dia dan Luhan duduk disalah satu bangku kosong yang ada di café.

“Akhirnya, aku rasa gendang telingaku akan pecah saat aku masuk kedalam club malam itu.” Hyojin berkata, dia tidak sadar kalau orang yang membuat musik didalam club itu adalah Luhan.

“Maksudku karena volumenya, musiknya bagus.” Hyojin menjelaskan dan Luhan tertawa saat dia melihat wajah panik Hyojin.

“Tidak apa-apa, aku mengerti..kau bukan tipe wanita yang suka keramain apa aku benar?” Luhan bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Kau cukup pintar membaca orang.” Hyojin memuji dan Luhan hanya tersenyum.

“Aku rasa itulah salah satu keahlianku.” Luhan menjawab.

“Jadi, apa yang membawa mu mendatangiku? Apa kau butuh sesuatu Hwajang-nim?” Luhan bertanya dan Hyojin tertawa.

“Jangan panggil aku Hwajang-nim, panggil saja aku Hyojin, aku lebih muda darimu.” Hyojin mengungkapkan, dia sebenarnya sudah membaca profile Luhan dari Taeyeon.

“Oh begitu ya, kalau begitu haruskah aku memanggilmu Hyojin-ah juga?” Luhan berbisik dan Hyojin mengangguk.

“Boleh saja, tapi jangan didepan pegawaiku.” Hyojin menyetujui.

“Baiklah, Hyojin-ah.”

Hyojin membuka tas kecil yang dia bawa dan memberikan sebuah amplop pada Luhan, Luhan hanya menatap kearah amplop itu.

“Ini, uang bayaranmu..maaf terlambat karena aku ingin kau bekerja dengan maksimal pada syuting pengulangan.” Hyojin berkata, dia masih ingat kalau dia menyuruh sutradara Lee untuk menggunakan Luhan sebagai model iklannya lagi.

Kamsahamnida Hwajang-nim, aku benar-benar membutuhkannya.” Luhan berkata, dia mengambil amplop itu dan menyimpannya di saku celananya.

“Sama-sama,aku dengar kau masih kuliah..jurusan apa?” Tanya Hyojin penasaran.

“Oh aku belajar musik, aku belum sempat mengambil jurusan musik karena aku harus belajar bisnis dulu jadi aku mempelajarinya sekarang.” Luhan mengungkapkan.

“Oh begitu ya, kau pasti sangat menyukai musik?” Hyojin bertanya.

“Ya tentu saja, aku tidak bisa hidup tanpa musik.” Luhan menjawab penuh dengan hasrat, entah kenapa Hyojin suka sekali saat dia melihat betapa semangatnya Luhan.

Jarang sekali dia bertemu dengan lelaki seperti Luhan, dia terlihat begitu ceria dan selalu menikmati apa yang dia lakukan. Hyojin sangat iri sekali, ingin sekali dia merasakan apa yang Luhan rasakan saat Luhan memainkan musik.

Luhan cukup beruntung karena dia bisa melakukan apa yang dia sukai sekaligus meraup uang, Hyojin ingin seperti itu juga namun sepertinya cita-citanya hanya mimpi. Dia sekarang harus mengurus perusahaan besar ayahnya dan mengurus Hyojung  sekarang.

“Apa yang kau pikirkan Hyojin-ah? Kau terlihat sedikit tidak fokus?” Luhan bertanya, dia menyentuh tangan Hyojin membuat Hyojin terkejut.

“Maaf..sepertinya cocktail tadi benar-benar mulai mempengaruhiku.” Hyojin berkata.

“Apa kau ingin aku antarkan pulang? Aku tidak keberatan.” Luhan mengusulkan.

“Tidak usah, aku tidak mabuk..hanya sedikit pusing.” Hyojin menolak tawaran Luhan.

“Jadi..apakah kau serius ingin menjadi model juga? Kau cukup bagus.” Hyojin bertanya.

“Ya mungkin, entahlah..aku lebih suka menjadi Dj tapi jika aku butuh uang extra mungkin aku akan mengambil modeling lagi sebagai sampingan.” Luhan mengungkapkan.

“Bagus kalau begitu, kau cukup beruntung bisa melakukan apa yang kau suka.” Hyojin berkata dan Luhan tersenyum.

“Aku tidak seberuntung yang kau kira Hyojin.” Luhan menjawab, dia menatap kearah mata coklat Hyojin.

Entah apa yang merasuki Luhan, namun saat dia melihat mata Hyojin jantungnya berdetak sangat cepat. Apalagi saat dia melihat bibir merah Hyojin yang terlihat sangat lembut sekali, Luhan ingin mendekat dan mengecup bibir itu.

Tanpa Luhan sadari dia sudah dekat sekali dengan Hyojin bahkan bibir mereka hampir bersentuhan, Hyojin yang setengah mabuk tentu saja tidak menyadari keadaan ini. Luhan menyeringai, dia menyentuh dagu Hyojin membuat Hyojin terkejut.

“Jung Hyojin, aku menyukai mu maukah kau berkencan denganku?” Luhan bertanya tanpa menunggu jawaban dari Hyojin, Luhan langsung mencium gadis itu.

Hyojin sangat terkejut sekali saat dia merasakan bibir Luhan menyentuh bibirnya, dia langsung mendorong Luhan menjauh dan menyeka bibirnya. Tidak pernah dia menyangka kalau Luhan akan dengan beraninya mengecup dia seperti itu, Hyojin berdiri dari duduknya namun dia merasa pusing sehingga dia sempoyongan.

“Hyojin!” Luhan menahan tubuh Hyojin agar tidak jatuh, sedangkan Hyojin hanya memegang kepalanya yang berdenyut sakit.

“Sebaiknya aku mengantarkanmu, kau berantakan sekali.” Luhan berkata, dia menuntun Hyojin yang mabuk keluar dari Café.

Hyojin membiarkan Luhan menyentuh bahunya dan membantunya berjalan, meskipun dia merasa tidak nyaman dia harus bertahan. Lagipula Luhan hanya mencoba untuk menolong, Hyojin tahu kalau dirinya benar-benar mabuk sekarang karena dia tidak bisa melihat dengan jelas.

Luhan dan Hyojin berjalan menuju club malam Luhan, karena Hyojin memarkirkan mobilnya di tempat parkir club malam. Luhan membantu Hyojin untuk masuk kedalam mobilnya dan dia memasangkan seat belt Hyojin untuk gadis itu, Hyojin tidak peduli lagi dia hanay ingin pulang lalu dia memberikan kunci mobilnya pada Luhan.

Luhan menerima kunci mobil itu dan dia duduk dikursi pengemudi, dia menghidupkan mobil Hyojin dan mengarahkan mobil Hyojin menuju jalanan. Luhan sesekali melirik kearah Hyojin melihat kalau wanita itu sepertinya setengah sadar juga, dia hanya mengarang dan memijat kepalanya yang mungkin terasa sakit.

Luhan tersenyum, Hyojin terlihat seperti anak kecil jika dia sedang mabuk. Bahkan dia mengerang seperti anak kecil yang sedang kesal juga.

“Jadi..jalan mana yang harus aku ambil?” Tanya Luhan saat mereka sampai di perempatan jalan.

“Belok kanan,setelah itu lurus saja..kau akan melihat perumahan.” Hyojin memberik petunjuk.

Luhan mengangguk, dia membelokan mobil Hyojin kekanan.Selama di perjalan dia tidak bisa fokus, karena dia hanay memikirkan wanita yang ada disampingnya. Luhan tidak pernah segugup ini saat duduk berduaan dengan wanita, sebenarnya dia jarang sekali berkencan namun saat dia melihat Hyojin entah kenapa dia ingin sekali memiliki wanita itu.

Walaupun Hyojin kelihatan dingin dan angkuh namun saat mereka berdua, Hyojin sangatlah manis dan ramah. Luhan menggapai tangan Hyojin, dia bisa merasakan tangan Hyojin dingin sekali dan Luhan meremas tangan Hyojin dengan erat.

Beberapa menit berlalu mereka sampai didepan rumah Hyojin, Luhan turun dan membantu Hyojin untuk keluar dari mobil.

“Hyojin..” suara seorang lelaki terdengar memanggil Hyojin, sehingga Luhan mendongak untuk menatap lelaki itu.

Matanya melebar saat dia melihat sosok didepannya, lelaki itu adalah lelaki yang selama ini dia jauhi dan hindari. Betapa sialnya Luhan karena harus bertemu dengan Yifan, kakak tirinya yang membencinya.

Gege, apa yang kau lakukan disini?” Luhan bertanya kaget.

“Luhan?apa yang kau lakukan dengan kekasihku?” Yifan bertanya, dia langsung menarik Hyojin dari gengaman Luhan.

“Euh..Oppa?kenapa kau disini?” Hyojin yang setengah sadar bertanya.

“Apa kau mabuk?! Kenapa kau bersama lelaki ini?” Yifan bertanya dengan geram, dia marah sekali.

“Apa? Tidak..Luhan hanya rekan kerjaku..dia membintangi iklan perusahaanku.” Hyojin menjawab.

“Apa itu benar?” Yifan menatap tajam kearah Luhan.

“Ya, apa yang Hyojin katakan benar.” Luhan menjawab.

“Oppa,sebaiknya kita masuk..aku lelah.” Hyojin berkata dan dia menarik Yifan, dia tahu jelas kalau Yifan tidak suka pada Luhan dia bisa merasakan ketegangan diantara mereka.

“Jangan pernah mendekati Hyojin lagi, dia milikku.” Yifan memberi peringatan.

“Luhan-shi, jika kau ingin pulang aku akan menyuruh supirku mengantarkanmu.” Hyojin berkata dan Luhan mengangguk.

Hyojin dan Yifan lalu masuk kedalam rumah Hyojin, lelaki itu membantu Hyojin untuk berjalan masuk. Saat dia baru masuk, dia langsung di bertemu dengan Yongguk dan Hyojung yang sedang berbincang.

Yongguk yang melihat Hyojin dituntun oleh Yifan langsung berlari kearah Hyojin, dia khawatir sekalisaat dia melihat Hyojin yang berjalan sempoyongan.

“Hyojin-ah! Kau tak apa-apa?” Yongguk bertanya begitu juga Hyojung yang berdiri disamping Yongguk.

“Aku baik-baik saja, kalian lanjutkan saja obrolan kalian..Yifan oppa akan mengantarku.” Hyojin berkata dan Yifan mengangguk.

“Ayo Hyojin-ah.” Yifan menyeringai kearah Yongguk penuh kemenangan, dia tahu kalau sekarang Yongguk pasti mengutuknya.

“Oh iya! Yongguk oppa, bisakah kau mengantar Luhan rekan kerjaku? Dia menunggu diluar sebaiknya kau tidak membuat dia menunggu.” Hyojin sekali lagi berkata dan Yongguk mengangguk mengerti.

Dia langsung berjalan keluar melaksanakan perintah Hyojin, sedangkan Hyojung membantu kakaknya. Hyojung tersenyum kearah Yifan dan Yifan membalas senyum gadis itu, sepertinya Hyojung kelihatan sedikit lebih pemalu dari Hyojin karena dia selalu menunduk menyembunyikan wajahnya.

Setelah Hyojung berhasil menidurkan kakaknya diranjang, Yifan melepaskan jaket dan sepatu higheel Hyojin.

“Aku rasa, aku akan membantu sampai disini..aku pergi dulu.” Hyojung berkata dan menunduk sekilas kearah Yifan.

“Terimakasih, Hyojung-ah.” Yifan berkata dan dia bisa melihat kedua pipi Hyojung langsung merona.

“Sama-sama.” Hyojung menjawab singkat dan langsung pergi dari kamar Hyojin.

Yifan duduk diranjang Hyojin, dia mengelus pipi Hyojin dan Hyojin tersenyum karena dia bisa merasakan tangan hangat Yifan. Yifan menyelipkan beberapa helai rambut Hyojin yang menghalangi wajah cantik wanita itu, dia tersenyum pahit..apakah dia baru sadar betapa cantiknya Jung Hyojin?

“Apa yang harus aku lakukan Hyojin-ah? Aku bingung.” Yifan bergumam dan dia menggengam tangan Hyojin dengan erat sebelum menciumnya.

[Festival karnaval, seoul – Korea selatan 13:00 pm]

“WOW! Disini ramai sekali!” Hyojung berteriak histeris saat dia melihat festival karnaval yang seru.

Sehun yang melihat Hyojung yang histeris hanya tertawa, rasanya semangatnya sekarang ada dipuncak saat dia melihat betapa bahagianya Hyojung. Sepertinya eputusanya untuk mengajak Hyojung tidak salah, sebenarnya ini pertamakalinya Sehunmerasa senang saat dia datang kefestival ini.

Biasa nya dia merasa sangat bosan sekali dan ingin pulang, namun bersama Hyojung melihat orang-orang lewat dengan kostum aneh saja sudah membuat dia semangat dan senang.

“Ah! Lihat! Apa itu?” Tanya Hyojung dia menunjuk kearah para badut yang berjalan dan menyapa semua orag yang menonton karnaval.

“Hahaha lucu sekali.” Hyojung tertawa begitu juga Sehun, dia tidak pernah tahu kalau Hyojung bisa tertawa lepas seperti itu.

Biasanya Hyojung selalu menjadi gadis yang pendiam, dia tidak pernah menunjukan ekspressi yang berlebihan. Biasa nya gadis itu hanya merespon dengan anggukan kepala atau senyum tipisnya yang menarik, namun sekarang dia tertawa lepas membuat matanya setengah tertutup.

“Apa kau suka karnavalnya?” Sehun berbisik ketelinga Hyojung, Hyojung mengangguk dengan antusias.

“Ya, terimakasih sudah membawaku kesini.” Hyojung berkata, dia kembali menonton karnaval dan melambaik kearah para badut yang berjalan melewatinya.

Setelah selesai melihat karnaval, Hyojung dan Sehun berjalan menikmati pemandangan karnaval yang sangat indah. Mereka menulusuri tempat perbelanjaan yang sangat ramai, saking ramainya mereka bahkan hampir terpisah.

Sehun mengulurkan tangannya kepada Hyojung, membuat Hyojung bertanya-tanya.

“Pegang tanganku, nanti kau tersesat.” Sehun akhirnya mengutarakan maksudnya.

“Baiklah.” Hyojung menjawab singkat, walaupun malu dia menyambut tangan Sehun dan memegang tangan pemuda itu dengan erat.

Tanpa Hyojung dan Sehun sadari, Seorang lelaki yang memakai kacamata dan topi memperhatikan mereka. Dia langsung menginjak rokoknya saat dia melihat Sehun dan Hyojung bermesraan.

“Aissh!” lelaki itu mengutuk.

Lelaki itu melepaskan topi dan kacamatnya, dan ternyata lelaki yang mengikuti Hyojung dan Sehun adalah Zhongren. Sebenarnya awalnya dia hanya akan meminta maaf pada Hyojung, namun dia penasaran saat dia melihat Hyojung pergi bersama Sehun.

Akhirnya sekarang dia mengikuti gadis itu dan melihat betapa mesranya Sehun dan Hyojung, mereka bahkan tertawa dan bercanda. Sedangkan Zhongren sendirian, menatap adegan dihadapannya dengan hati yang terbakar.

Sepertinya apa yang Yixing katakan benar, sepertinya dia harus berhati-hati karena dia baru sadar kalau dia sekarang memiliki saingan. Zhongren meremas minuman kaleng yang dia pegang, dia benar-benar marah saat dia melihat Sehun dengan santainya melingkarkan tangannya di bahu Hyojung.

Mereka sepertinya cukup dekat karena Hyojung membiarkan Sehun melakukan kontak fisik dengannya, padahal Zhongren harus menunggu beberapa minggu sampai dia berani menyentuh gadis itu.

Zongren yang kesal langsung mengodok saku jeansnya dan mengeluarkan handphonenya, dia menghubungi kontak Hyojung dan menunggu beberapa saat. Dia bisa melihat Hyojung mengeluarkan handphonenya, dia menatap sejenak kearah layar handphonenya namun dia langsung menutup telepon dari Zhongren.

Itu membuat Zhongren semakin marah, ingin sekali dia berjalan kesana dan menjauhkan Hyojung dari Sehun. Zhongren memutuskan untuk mengikuti Sehun dan Hyojung lagi, dia bisa melihat kedua remaja itu membeli dua permen kapas.

Zhongren bisa melihat jelas senyum manis Hyojung yang dia pamerkan kepada Sehun, melihat itu hati Zhongren langsung bergejolak. Jika dia tidak menenangkan dirinya sendiri, dia yakin dia bisa meledak kapan saja.

Zhongren langsung berjalan kearah Hyojung dan Sehun yang sedang berbincang, Zhongren melepaskan topi dan kacamatanya. Hyojung yang mengenal sosok Zhongren langsung terkejut, Sehun yang melihat ekspressi Hyojung yang ganjal berbalik mengikuti pandangan gadis itu.

Sehun bisa melihat sesosok lelaki asing yang mendekat kearah mereka, namun sepertinya Hyojung mengenal lelaki itu.

“Sehun-ah, bagaimana kalau kita pergi ketempat lain?” Hyojung bertanya dan dia menarik Sehun.

Sehun hanya menurut, namun tiba-tiba saja lelaki itu langsung menarik lengan Hyojung sehingga dia tidak lagi menyentuh Sehun.

“Lepaskan aku!” Hyojung membentak, matanya melotot penuh emosi.

“Aku tidak ingin bertengkar lagi Hyojung-ah, cukup dengan permainannya.” Zhongren berkata dan dia langsung menarik Hyojung mendekat kearahnya.

Zhongren memejamkan matanya  dan mencium bibir Hyojung begitu saja dihadapan banyak orang, Hyojung hanya diam karena terkejut, bahkan dia tidak sadar kalau Zhongren menciumnya penuh dengan hasrat.

Hyojung mendorong tubuh Zhongren menjauh, dia menatap tajam kearah Zhongren lalu dia menyeka bibirnya. Sehun yang tidak mengerti hanya diam, dia tidak tahu sebenarnya apa hubungan Hyojung dengan lelaki yang satu ini.

“CUKUP! Aku tidak ingin kau lagi..kau hanya mempermainkan aku!” Hyojung membentak dan airmata langsung jatuh membasahi pipinya.

Zhongren yang melihat itu terkejut, apakah Hyojung benar-benar menyukainya sampai dia menangis seperti itu? Zhongren langsung menarik tangan Hyojung, memaksa gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

“Hyojung-ah!” Sehun memanggil panik saat dia melihat Hyojung dia seret oleh Zhongren.

Zhongren membuka pintu mobilnya dan dia mendorong Hyojung dengan kasar masuk kedalam mobil, Zhongren ikut masuk kedalam mobilnya dan dia duduk dikusi pengemudi.

“Kau puas? Membuatku cemburu dan menguntitmu seperti ini?” Zhongren melirik kearah Hyojung yang masih menangis.

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengikuti aku! Aku bahkan tidak pernah ingin kau cemburu!” Hyojung membentak.

Zhongren langsung menarik tekuk Hyojung dan mencium gadis itu untuk yang kedua kalinya, awalanya Hyojung memberontak dia mencoba mendorong Zhongren. Namun Zhongren terlalu kuat untuknya, lelaki itu memeluknya sangat erat sampai akhirnya dia luruh dalam peluk Zhongren.

Hyojung memejamkan matanya dan berhenti memberontak, dia mengalah dan membiarkan Zhongren menciumnya. Zhongren akhirnya berhenti menciumnya, lelaki itu menatap kearah Hyojung penuh dengan keseriusan.

“Aku tidak pernah mempermainkanmu Hyojung-ah…aku hanya bingung.” Zhongren mengungkapkan dan Hyojung menatap kearah Zhongren.

“Kenapa?kenapa kau harus bingung?” Hyojung bertanya.

“Karena kau benar, aku menyukai Taeyeon noona.” Zhongren berkata, mata Hyojung langsung melebar dan dadanya terasa sesak ingin sekali dia menangis lagi sata dia mendnegar itu.

“Tapi..saat aku melihat kau bersama lelaki tadi, aku tidak bisa diam..aku sangat cemburu bahkan aku berharap kalau aku bisa membakar dia hidup – hidup.” Lanjut Zhongren.

“Aku kira selama ini aku hanya menyukai Taeyeon noona, namun aku salah…sepertinya aku lebih menyukaimu.” Zhongren tersenyum kearah Hyojung, Hyojung ikut tersenyum dan dia langsung memeluk Zhongren.

“Kalau begitu jangan menyukai dia lagi! Oppa..kau milikku.” Hyojung berkata dan Zhongren memeluk kembali Hyojung.

“Apa ini artinya kau memaafkanku?” Zhongren bertanya dan dia bisa merasakan anggukan kepala Hyojung dibahunya.

Zhongren tersenyum dan dia mengelus kepala Hyojung, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, apakah dia baru saja mengungkapkan rasa cinta pada gadis ini? Zhongren senang namun dia juga khawatir dan cemas.

Bukankah dia sendiri yang menciptakan permainan ini? Lalu kenapa sekarang dia yang harus kalah?

To Be Continue..

Jangan Lupa komen dan Feedbacknya yah..😀

Ps:

Wah readers kepanjangan gak ni cerita? wkwkwk di word aku udah ada 261 page loh😀

episode ini khusus buat yang suka sama pairing nya Hyojung sama Zhongren soalnya mereka jadi di episode ini

menurut kalian gimana karakter Luhan?? bagus gak?

terus buat next episode bakal fokus ke Luhan dan papanya Siwon, masa lalu Zhongren sama penculikan (?)
ayo tebak..kia-kira siapa yang di culik ? jadi siap-siap yah!!

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

42 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 7]

  1. Huaaa tbc nya ngeganggu heee
    Ga kepanjangan ko mlah kalo bisa tambah panjang#digeplak author

    Tapi di part berikutnya tambahin juga ya thor momen hyojin ma yifan heheheehe

    Omoo ada yang diculik????kayanya yang diculi hyojung yah….ahhhh thor pokoknya aq tunggu next partnya daebak…..

    Semangattt…..jangan lama2 ya hehehe

  2. wew amazing bgt, ini bnr2 ff yg critanya puajang n ckp cape bcnya….
    dengan rasa puas tentunya.
    blh ku kritik dikit, ada bbrp EYD yg salah
    halis>>alis
    custom(adat)>> costume (kostum)
    ada bbrp lg sih tapi aku lupa,
    fighting untuk chap selanjutnya

  3. di episode ini aku udah isa nglihat lama” konfliknya keluar , cinta segitiga antara luhan , yifan dan hyojin and then zhongren , hyojung dan sehun ,,,
    tapi masih bingung sebenernya zhongren udah mulai ada rasa atau belum sama hyojung , aku tunggu kelanjutannya kisah cinta mereka…

  4. akhirnya bisa comment,hehe
    baru sempet baca, dan di episode ini, vinta segitiganya udah mulai terlihat
    kris masih bingung sama perasaannya, kai juga, akupun juga bingung #apadeh😀
    berharap konflik semakin muncul dan semakin seru, makasih udah update cepet thor *bow
    aku yang biasanya pake id novitanuphi, entah kenapa mendadak gag bisa comment pake id itu T.T

  5. Chapter yang menegangkan. . . Gimana coba kalo yifan trus dikejar2 ama taeyeon kagak relaaaa… .siapa yang bkal diculik hyojung tao hyojin?? Yang culik laki2 gila pacarnya yoona itu yaa??? Kagak sabarrr

    eonni minta PW.nya chapter 8 jeballll ^/\^

  6. ceritanya bner2 bkin pusing,galau,n penasaran..
    sbenarnya tu sehun gmana sih??kayakny bkalan suka bneran tuh…hahaha gak sabar nunggu adegan tonjok2an si jongin m thehun
    lanjuut

  7. aigo.. hyojin kalau marah n cemburu menakutkan juga ya?
    hla sebenarny it kris n hyojin bener2 serius nda sih?
    trus apa bener zhongren it cemburu?
    wkwkwk… sepertiny kris n zhongren jatuh ke pelukanny hyojin n hyojung ya?
    jadi tambah penasaran dg ni ff.. n pengen tau nih gmn perasaan mrka sebenarny,chingu…

  8. Aku ngebuut baca ep. 4-7 -_- soalnya penasaran.
    Abis bagus sih ya kak😀
    Luhan asal nyosor :pp untung hyojin setengah sadar.
    Zhongrennya pakemin mau sama sapa kasian Hyojinnya.
    Pasti next chap Luhan sama Sehun pada patah hati wkwkwk :pp
    Chap 8 dirty version, pasti lanjutan akhir part 7 *eh.

      1. clean version itu apa
        mian ga ngerti :((
        aku udah nulis di page pass nc mintak password sih :pp
        tapi tak baca dulu yg di blog lain deh :))

  9. aaa!! tambah bagus!! gemes banget sama zhongren!! akhirnya sama hyojung !!
    entah mengapa aku ingin konflinya luhan sama kris di tambah ya thor^^
    hehehe.. gomawo🙂

  10. yakk zonghrennya nappeun namja ke taeyeon mau ke hyojung juga mau aduhh..
    ceritanya makin complicated pada bingung sama perasaanya🙂
    Sehunnya keeren yah, sweet banget😀

  11. author, aku baru nemu blog ini, jadi baru bisa koment sekarang,, waaahhhhhhhh ini seru banget sumpah!!!
    aku sedikit tidak mengerti tentang taeyeon, jadi ujung ujungnya aku sedikit ga suka sama taeyeon, kekekekee
    dan tentang Sehun juga aku rada ga ngerti,,
    semangat author,,, aku mau ngelanjutin baca yg ep*8 hahahahaha ::)

  12. wah makin keren. sudut pandang.a bnyk. . . .
    seneng deh hyojin ketemu ma Luhan.
    pasti makin seru. . . .

    wah sempit bnr ya dunia saling ktmu tp trnyata saling bersangkutan. . .

  13. jadi zhongren mulai menyadari benih2 cinta. kalo sehun sebenernya demen hyojung gak sih? jadi kepo sama keluarga dia apalagi kakak tirinya. terus itu kasian ya taeyon, dia sebenernya jahat gak sih? sejauh ini menurut aku, lebih jahat hyojin lho(?) seruseru lah bikin penasaran

  14. berasa taeyeon ganggu mulu wkwk gak wufan-hyojin, kai-hyojung wakakaak makin banyak konflik juga nih next ditunggu passwordnya juga >_<

  15. bgus thor crta na, tpi pas bka yg part 8 mlah d pass in, jdi ga bsa lnjut bca na, kan ga seru kalo d lngkauin gtu… mnta pass dong..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s