Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Sibling’s [Episode 6]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                            Oc
  • Jung Hyojung                        Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng             [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                       [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                  [Luhan EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG – NC 17

Chapter:

1 , 2 , 3 , 4,5

6

Jealousy

“Kau terlihat lelah Taeyeon sajang-nim.” Aku segera mendongak saat aku mendengar suara Jung Hwajang-nim, aku segera tersenyum kearahnya.

“Aku hanya sedikit lelah Hwajang-nim..” aku menjawab, ingin sekali aku memukul kelapaku.

Kenapa juga aku harus minum-minum sampai malam kemarin, aku bahkan menangis kepada Zhongren dan memohon agar dia datang. Andai saja aku bisa lupa kejadian kemarin, aku ingin sekali melupakannya … Zhongren pasti kaget sekali melihat aku bertingkah seperti itu.

“Laporanmu cukup detail, kerja yang bagus kau bisa pergi.” Jung Hwajang-nim berkata, aku menunduk dan permisi untuk pergi.

“Taeyeon sajang-nim!” tiba-tiba saja aku bisa mendengar Jung Hwajang-nim memanggilku, aku berbalik kearahnya.

Dia kelihatan ragu karena Jung Hwajang-nim tidak mengatakan apapun beberapa menit, sampai akhirnya dia menatap kearahku.

“Jika kau punya waktu luang…bagaimana kalau kita bertemu?” Hyojin berkata, aku sedikit terkejut kenapa gadis dingin ini ingin bertemu denganku?

“bertemu? Maksud anda di luar kantor?” Aku bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Ya, kau ingin menanyakan soal Yifan oppa kemarin…iyakan?” Dia bertanya, aku langsung mengepalkan tanagnku erat-erat kenapa dia harus membahas Yifan dneganku.

Dan dia memanggil Yifan dengan sebutan ‘Oppa’? apakah mereka begitu dekat, aku penasaran sebaiknya aku menyetujui permintaan dia. Lagipula aku tidak punya pilihan lain juga, jika aku menolak permintaan nya berarti aku pegawai yang tidak sopan.

“Baiklah Hwajang-nim, hubungi aku kapanpun anda mau.” Aku berkata dan Jung Hwajang-nim mengangguk.

“Oke, aku akan menghubungimu nanti.” Jung hwajang-nim menyetujui.

Aku menunduk sekali lagi dan keluar, sekertaris Im yang duduk di mejanya tersenyum padaku saat dia melihat aku.

“Bagaimana laporannya? Apa dia puas kali ini?” Tanya sekertaris Im.

Nde, aku rasa beliau puas..aku lega sekali.” Aku berkata dan sekertaris Im tertawa.

“Oh Taeyeon sajang-nim, kau berlebihan…tapi terkadang Jung Hwajang-nim bisa menyeramkan kalau dia marah.” Sekertaris Im berkata dan aku mengangguk, aku pernah mendengar kalau Hyojin marah pada seorang pegawai karena dia melakukan kesalahan saat membuat laporan dan sampai sekarang pegawai itu tidak pernah mau lagi bertemu Jung Hwajang-nim.

Jung Hwajang-nim memang memiliki reputasi yang sangat baik diantara para dewan direksi, karena dia disipilin dan bisa diandalkan dia juga orang yang jujur dan pintar. Namun diantara para pegawai nya Jung Hwajang-nim bagaikan kembaran iblis yang hidup dalam tubuh manusia, bahkan tatapannya saja bisa membuat semua pegawai diam dan menunduk takut.

Aku bukanlah pengecualian, aku juga selalu merasa gugup saat aku harus berhadapan dengan direktur ini. Entah kenapa aura Jung Hwajang-nim terasa sangat dingin, dia juga tidak terlalu banyak bicara membuat kami semakin ragu untuk memulai pembicaraan.

“Aku harus kembali sekertaris Im.” Aku berkata dan aku tersenyum kearahnya.

“Taeyeon sajang-nim, aku tahu bekerja dengan Jung Hwajang-nim tidak mudah tapi sebaiknya kau bersabar jika dia sudah dekat denganmu dia orang yang baik dan menyenangkan.”Ucap Sekertaris Im.

Baik?menyenangkan? aku sedikit terkejut mendengar itu. Namun mengingat kalau sekertaris Im sangat dekat dengan Jung hwajang-nim dan keluarganya, mungkin aku bisa mempertimbangkan.

Ah ye..algeseumnida Im Biseo-nim.” Aku menunduk lagi dan pergi masuk kedalam lift.

Pintu lift tertutup dan aku bisa menghela nafas lega, aku melirik kearah bayanganku di dinding lift entah kenapa Jung hwajang-nim tahu kalau aku lelah? Padahal aku sudah memakai make up.

Mungkin aku tidak sengaja menghela nafas saat aku menunggu dia selesai membaca laporanku, entahlah. Namun yang membuatku lebih tertarik adalah ajakan Jung Hwajang-nim, jika aku seorang direktur kaya yang memiliki banyak saham mungkin itu masuk akal namun aku bukanlah orang seperti itu.

“Apa kau benar-benar menyukainya, Jung Hwajang-nim?” aku bergumam.

Pintu lift terbuka dan aku bisa melihat sesosok lelaki berdiri didepanku, aku mengingat lelaki ini. Kalau tidak salah lelaki ini adalah lelaki yang aku tabrak kemarin secara tidak sengaja, aku menunduk dan langsung menyapanya.

Annyeoung haseyo, soal kemarin..aku minta maaf.” Aku berkata walaupun sedikit malu, lelaki itu tersenyum padaku sepertinya dia mengenalku.

“Oh..kau pasti gadis yang waktu itu ya?” lelaki itu berkata sambil menunjuk kearahku.

Nde..aku minta maaf karena aku ceroboh.” Kataku dan lelaki itu mengangguk.

“Tidak apa-apa, apa kau baik-baik saja?” Tanya lelaki itu perhatian dan aku mengangguk.

“Aku baik-baik saja.”

“Bagus kalau begitu, perkenalkan..namaku Bang Yongguk.” Lelaki yang dihadapanku mengulurkan tangannya padaku.

Aku tersenyum dan menyambut tangannya.

“Aku Kim Taeyeon.”

“Aku rasa..kita akan bertemu lagi Taeyeon-shi, jadi janagn malu untuk menyapa lain kali..aku harus pergi, aku ada janji dengan Hwajang-nim.” Yongguk berkata aku mengangguk dan membiarkan dia masuk kedalam lift sedangkan aku melangkah keluar.

Taklama kemudian Yongguk menekan tombol lift dan pintu liftpun tertutup secara otomatis, aku berbalik dan hendak pergi menuju lokasi syuting iklan aku tidak mau terlambat bisa-bisa aku dimarahi.

[Lokasi Syuting, Seoul – Korea selatan 09:15 am]

“APA? JADI MODEL?!” suara Yixing menggelegar di telepon, aku panik dan langsung menutup speaker teleponku.

“Yixing…kau tak usah berteriak! Kau membuatku malu.” Aku berdesis dan tersenyum kearah sutradara dan beberapa koordi yang berdiri tak jauh dariku.

“Tapi Luhan, kenapa jadi model? Kau tahukan ayahmu tidak suka kau terjun kedunia entertainment.” Yixing berkata, dia terdengar masih marah.

“Lalu kenapa? Baba tidak ada di Korea kan? Dia tidak akan tahu soal pekerjaan ini.” Aku beralasan.

“Aku tahu..tapi bagaimana kalau dia mengetahuinya, kau memang bekerja untuk siapa? Iklan apa yang kamu bintangi?” Tanya Yixing.

“Aku dengar iklan ini untuk sebuah clothing line.” Aku menjawab.

Clothing line? Apakah clothing line perusahaan Jung?” Tanya Yixing penasaran, aku tidak tahu yang jelas seorang sutradara menarikku ke lokasi syuting dan mengatakan kalau aku sempurna untuk iklannya.

“Entahlah, aku bilang pekerjaan ini mendadak..seorang sutradara tiba-tiba saja menarikku dan mengatakan kalau aku harus membintangi iklannya.” Aku menjelaskan.

“Apa? Dan kau setuju? Luhan..bagaimana kalau orang-orang itu penipu?” Yixing marah dan aku menghela nafasku, sekarang Yixing mulai terdengar seperti ibuku.

“Yixing tenanglah, kami syuting di tempat yang ramai lagipula disini banyak sekali orang mulai dari koordi dan beberapa perancang busana aku rasa ini terlalu serius untuk penipuan.” Aku berkata dan aku bisa mendengar Yixing menghela nafasnya lega.

“Oh begitu,tunggu disana aku mungkin aku kesana secepatnya.” Ucap Yixing dia langsung menutup teleponnya tanpa memberiku kesempatan untuk protes.

Aku menutup teleponku, sekarang aku mulai menyesal dengan keputusanku untuk memberi tahu Yixing. Lagipula aku memang membutuhkan uang, aku ingin membeli beberapa peralatan baru untuk alat music Dj ku.

Annyeoung haseyo, apakah kau Luhan?” seorang wanita tiba-tiba saja menyapaku, aku berbalik dan menemukan seorang wanita yang berambut pendek dibelakangku.

“Iya, aku Luhan..anda siapa?” Tanyaku.

“Oh aku Kim Taeyeon, aku CEO dari perusahaan Jung.” Wanita itu menjawab dan aku terkejut, ternyata perkiraan Yixing benar.

“Oh annyeoung haseyo, senang bertemu dengan anda.” Aku menunduk, kenapa aku bisa ceroboh? Bagaimana mungkin aku bisa bekerja dibawah perusahaan yang sudah menjadi saingan perusahaan Baba selama ini?

“Senang bertemu dengan anda juga, maaf aku menganggu tapi aku kesini hanya untuk menginterview anda.” Taeyeon berkata, aku sedikit kaget sejak kapan menjadi model iklan harus di interview? Apakah aku begitu penting nya?

Aku tersenyum dan mengangguk, setidaknya aku harus bersikap baik pada Taeyeon. Siapa tahu saja aku bisa masuk kedalam perusahaan mereka, sebenarnya baba dan aku dari dulu ingin mengirimkan mata-mata pada perusahaan Jung namun niat kami selalu diurungkan karena perusahaan Jung terlalu kuat.

“Oh tentu, tapi kalau boleh tahu..kenapa aku harus di interview?” Tanyaku penasaran.

“Oh.. kami hanya ingin beberapa pendapat dari sebagian orang tentang clothing line kamu dan aku rasa kau cukup stylish untuk memberi penilaian pada pakain-pakain kami.” Taeyeon menjawab dia menyimpan beberapa catalog pakian diatas meja yang ada didepanku.

Aku menatap kearah katalog- katalog itu dan membukanya, ternyata rancangan baju mereka cukup bagus bahkan aku terkejut saat aku melihat pakain-pakain lelaki yang mereka rancang. Aku mungkin ada di pihak ayahku dalam perusahaan, namun jika kau ingin jujur pakaian-pakain perusahaan Jung memang bagus.

“wah pakain kalian bagus, aku suka.” Aku memuji dan Taeyeon tersenyum.

“Benarkah? Apa menurutmu untuk seseorang yang sangat pemilih pakaian ini akan dia beli?” Taeyeon bertanya dan aku menatap kearah Taeyeon.

Bukankah semua pakaian ini hanya untuk umum? Lalu kenapa dengan pertanyaan yang spesifik itu? Aku rasa tidak banyak orang yang sangat pemilih jika soal pakaian, namun sekali lagi perusahaan Jung memang menjual baju-baju mereka kepada seluruh rakyat di Korea bahkan luar negeri.

“Kalau soal itu entahlah, anda tahu sendiri kalau itu tergantung pada referensi setiap orang.” Aku menjawab dan Taeyeon mengangguk.

“Baiklah terimakasih atas waktumu, aku harap syuting nya akan lancar.” Taeyeon berkata dan dia menunduk kearahku begitu juga aku.

Haruskah aku mendekati dia? Kelihatannya dia korban yang sempurna untukku. Dia tahu segala sesuatu tentang perusahaan Jung, apalagi dia CEO aku yakin dia bisa menjadi sumber informasi yang kuat.

Aku menyeringai dan membenarkan rambutku sekilas, sepertinya Baba harus berterimakasih padaku jika aku pulang ke Beijing.

[Kediaman keluarga Li,Beijing – Cina 10:30 pm]

   Ziyi berdiri dihadapan Zhoumi, dia baru saja datang dari Korea dan dia langsung dipanggil oleh suaminya itu. Padahal dia belum sempat mengganti bajunya ataupun sarapan, dia bisa melihat sosok suaminya yang sudah lemah duduk di kursi roda menatapnya kosong.

“Darimana saja kau? Kau bahkan tidak tidur dikamarmu tadi malam.” Zhoumi bertanya, suaranya terdengar lemah.

“Aku baru pulang dari paris, aku pulang karena Luhan memintaku.” Ziyi menjawab dengan dingin.

“Sampai kapan kau akan seperti ini? Apa kau masih marah?” Zhoumi bertanya.

Ziyi hanya diam, dia merapatkan rahangnya kuat-kuat.

“Ziyi, hentikan game kenak-kenakan ini..kita suami istri aku mencintaimu jadi hentikan semua ini.” Zhoumi berkata dia menatap sedih kearah istrinya, namun sepertinya Ziyi tidak tersentuh oleh perkataan Zhoumi.

“Ziyi!” Zhoumi akhirnya marah karena istrinya itu tidak membalas.

“Cinta kau bilang?! Li Zhoumi..berhenti berakting, kau tidak mencintaiku!” Ziyi membentak, dia melotot kearah suaminya itu penuh amarah.

“Apa yang kamu bicarakan?” Zhoumi mengerutkan kening nya.

“Aku tahu semuanya…tentang kau dan wanita itu.” Ziyi mengungkapkan, Zhoumi melebarkan matanya saat dia mendengar pengakuan dari istrinya.

“Wanita apa? Jangan berkhayal Ziyi..” Zhoumi menyangkal tuduhan istrinya.

“Huh? Berkhayal?! Aku tahu..kau dan wanita itu memiliki anak iyakan? Namanya Wu Yifan apa aku benar?” Tanya Ziyi masih marah dan Zhoumi mengepalkan tangannya.

Rahasianya selama ini yang dia tutup rapat-rapat akhirnya terbuka juga, sepertinya usahanya untuk menutup rahasianya sia-sia karena pada akhirnya istrinya mengetahui kebusukannya. Zhoumi diam, dia memikirkan alasan yang tepat untuk membujuk istrinya.

“Cukup Zhoumi..aku lelah dengan semua rahasia yang kau sembunyikan dariku, berapa banyak lagi? Berapa banyak lagi rahasia yang kau sembunyikan!” Ziyi menangis,dia merasa marah dan sedih.

“Aku bukan satu-satunya yang memiliki rahasia…aku tahu rahasiamu, lalu kapan kau akan mengungkapkan kebohonganmu?” Zhoumi membalas dia menatap tajam kearah istrinya.

Ziyi berhenti menangis saat dia mendengar apa yang Zhoumi katakan, dia bilang dia tahu rahasia Ziyi? Rahasia yang mana? Apakah rahasia tentang Luhan anak satu-satu nya?

“Selama ini aku percaya padamu, aku membiarkan kau pergi ke paris..aku bahkan membiarkan kau berselingkuh! Karena aku tahu aku salah…” Zhoumi berkata dia menatap marah kearah Ziyi namun dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, masalah ini tidak akan selesai dengan amarah.

“Kau tahu?” Ziyi bertanya suaranya gemetaran.

“Ya aku tahu segalanya, kau dan lelaki Korea itu..aku tahu segalanya!” Zhoumi membentak dan Ziyi langsung ambruk ketanah kakinya terasa lemas, hati nya tergoncang dan dia shock.

“J-jika kau tahu..kenapa kau tidak menceraikanku?” Ziyi bertanya.

“Karena aku mencintaimu Zhang Ziyi..karena aku mencintaimu…” Zhoumi menjawab.

“Bohong! Kau mencintai ibu Yifan…” Ziyi protes, bagaimana mungkin dia bisa mempercayai seorang pembinis yang suka berbohong seperti Zhoumi.

Ziyi tidak akan pernah jatuh lagi keperangkap lelaki tampan itu, dia sudah cukup menderita dia tidak ingin lagi merasa kesakitan. Dia hanya ingin bebas dari Zhoumi, dia ingin melupakan semua kenangan pahit yang di berikan oleh Zhoumi padanya.

“Kau tidak mempercayaiku? Baiklah..lakukan apa yang kau suka, aku lelah dengan semua kebohonganmu.” Zhoumi berkata, dia mengarahkan kursi rodanya kearah meja kerjanya dia mengambil sebuah folder dan melemparkannya kearah Ziyi.

“Kau ingin berceraikan? Baiklah, ayo kita bercerai.. tapi jangan harap anakmu mendapatkan sepeserpun dariku.” Zhoumi mengancam dan Ziyi langsung naik pitam.

“Apa maksudmu?! Dia anakmu Zhoumi…kau tidak bisa mencabut hak warisnya!” Ziyimarah namun Zhoumi hanya menyeringai angkuh.

“Anakku? Kau bilang Luhan anakku?! Kau pikir aku bodoh?” Tanya Zhoumi.

“Dia bukan anakku, sudah kubilangkan?! aku tahu semuanya…dia anak lelaki Korea itukan? Siapa namanya? Oh iya..Choi Siwon.” Zhoumi berkata dan mengarahkan kursi rodanya kearah kamarnya meninggalkan Ziyi yang masih shock.

“Luhannie..” Ziyi bergumam dia menangis dan mengepalkan tangannya, apa yang harus dia lakukan? Sekarang anaknya dalam bahaya.

Dia tahu kalau Zhoumi tidak akan membiarkan Luhan aman, lelaki itu adalah monster dia tidak pernah takut untuk menyakiti siapapun termasuk keluarga nya sendiri. Ziyi bahkan tahu kalau Zhoumi mengusir Yifan sebelumnya, dia mendengar itu dari beberapa pelayan di rumah.

Ziyi segera bangkit dan berjalan kearah kamar Zhoumi, apapun yang terjadi padanya tidak penting sekarang. Yang terpenting adalah Luhan, dia tidak bisa membiarkan anaknya itu terluka apalagi dalam bahaya.

[Perusahaan Jung, Koreas selatan 12:00 pm]

“Apa kau sudah makan siang?” suara Yifan terdengar di seberang telepon Hyojin dan Hyojin tersenyum.

“Belum, aku ada janji dengan beberapa dewan direksi hari ini.” Hyojin mengungkapkan, dia masih membaca beberapa dokumen dimejanya.

“Kenapa kau selalu sibuk? Aku merindukanmu…bagaimana kalau kita makan malam bersama nanti malam?” Yifan mengajak dan Hyojin menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu kalau Yifan bisa semanja ini.

“Maaf, aku tidak bisa…Kau menyuruhku untuk lebih dekat dengan Hyojungkan? Aku berencana untuk makan malam dengannya.” Hyojin menjawab dan dia bisa mendengar erangan kesal dari Yifan.

“Tapi itu tidak adil, masa kau akan melupakan aku? Aku pacarmu kan?” Tanya Yifan dan Hyojin tertawa.

“Oh ya? Kau pacarku?” Hyojin belagak bodoh.

“Jung Hyojin aku tidak suka cara bercandamu..” Yifan berkata dan Hyojin tertawa.

“Aku hanya bercanda Oppa, tak usah serius.” Ucap Hyojin sambil menhaan tawanya, menggoda Yifan memang sesuatu yang cukup menghiburnya.

“Jadi…bagaimana kalau makan siang bersama?” sekali lagi Yifan bertanya, Hyojin berhenti menandatangi dokumen yang sedang dia pegang.

Dia ingat kalau siang ini dia kaan pergi ketempat syuting iklan clothing linenya, walaupun dia kecewa diaterpaksa harus menolak tawaran Yifan.

“Maaf Oppa, aku harus pergi kesuatu tempat siang ini.” Hyojin menjawab.

“Baiklah, aku rasa ini kekurangannya berkencan dengan seorang wanita sukses, cantik dan mandiri.” Ucap Yifan dan Hyojin tertawa.

“Oh jadi setelah aku berkencan denganmu aku berubah menjadi wanita yang cantik, mandiri dan sukses? Bukankah kau bilang aku ini sombong dan dingin?” Hyojin menggoda lagi.

“Kau melakukannya lagi..sudah kubilangkan aku hanya emosi saat itu aku kesal karena kau selalu menendangku dan menjauh dariku.” Yifan mengungkapkan, mendengar pengakuan itu Hyojin sedikit merasa bersalah.

Mungkin Yifan benar-benar menyukainya, mungkin dia harus berhenti curiga pada setiap lelaki yang mendekatinya. Semua pemikiran itu memenuhi pikirannya, dia bahkan lupa kalau Yifan masih meneleponnya.

“Hyojin? Apa kau masih disana?” Tanya Yifan membuat Hyojin berkedip dan sadar dari lamunannya.

“Ah iya, maaf aku harus pergi..aku ada janji bagaimana kalau kau menghubungiku lagi nanti?” Hyojin mengusulkan.

“Baiklah, sampai nanti..” Yifan menyetujui.

“Sampai nanti…” Hyojin menjawab dia hendak menutup teleponnya namun dia mendengar Yifan memanggil namanya.

“Ya?” Hyojin merespon.

Saranghae..” Yifan berkata dan dia langsung menutup teleponnya.

Hyojin tersenyum, ini pertamakalinya dia mendnegar kata itu keluar dari mulut Yifan. Meskipun sebenarnya lelaki itu sudah mengungkapkan perasaan kemarin, namun dia belum mengatakan secara langsung kalau dia mencintai Hyojin.

“Apa yang membuat nonaku ini tersenyum sendiri seperti itu?” Suara Yongguk mengagetkan Hyojin, Hyojin tersenyum saat dia melihat sosok Yongguk.

“Apa mobilku sudah siap?” Tanya Hyojin dan Yongguk mengangguk.

“Kau bilang kau ingin secepatnya pergi, jadi aku sudah menyiapkan mobilmu dari tadi tapi aku dengar kau sedang menelepon seseorang jadi aku memutuskan untuk menunggu.” Yongguk mengungkapkan dan Hyojin berdiri dari duduknya.

“Padahal kau tak usah menunggu Oppa, lagipula tadi bukanlah telepon yang penting.” Ucap Hyojin, dia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari ruangannya dengan Yongguk yang mengikuti dibelakangnya.

“Oh ya? Jika telepon itu tidak penting lalu kenapa kau tersenyum sendirian tadi?” Yongguk mengangkat halisnya sambil melirik kearah Hyojin dengan tatapan nakal.

“Bukan urusanmu Oppa!” Ucap Hyojin salah tingkah, mereka masuk kedalam lift sedangkan Yongguk menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Aigoo apakah Jung Hyojin sedang jatuh cinta?” Yongguk bertanya dan Hyojin hanya tersenyum.

“Menurutmu?” Hyojin melirik kearah Yongguk, senyum Yongguk langsung hilang saat dia melihat cahaya dimata Hyojin.

Jung Hyojin nya..Nona yang selama ini dia inginkan, apakah benar dia sedang jatuh cinta? Entah kenapa hati Yongguk langsung berdenyut sakit saat dia melihat ekspressi bahagia Hyojin, apakah salah bagi dia untuk merasa sedih saat Hyojin senang?

Pintu lift terbuka dan Hyojin langsung melangkah keluar dari lift, semua pegawai yang melihat dia langsung menunduk penuh hormat dan Hyojin tersenyum.

Yongguk yang berjalan mendahului Hyojin segera membukakan pintu mobilnya, Hyojin masuk kedalam mobil dan dia dengan manisnya duduk di bangku belakang. Yongguk segera masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi, setelah itu dia menghdupkan mesin mobil Hyojin.

Mobil Hyojin melesat cepat membelah jalan Seoul, Yongguk sebenarnya tidak pernah mengemudikan mobil cepat-cepat saat dia bersama Hyojin. Dia tahu kalau nonanya itu akan gugup, entah sejak kapan Hyojin menjadi takut untuk berada didalam mobil.

Bahkan terkadang dia bisa melihat Hyojin mengigit kukunya resah jika Yongguk menjalankan mobilnya terlalu cepat, sungguh aneh..apakah Hyojin trauma dengan apa yang terjadi pada orang tuanya?

Hyojin sadar kalau handphonenya bergetar, dia mengaktifkan handphonenya dan kelihatannya dia membaca sebuah pesan. Yongguk yang penasaran melirik kearah kaca spion, dia bisa melihat Hyojin tersenyum kearah layar handphonenya, dia kelihatan begitu bahagia.

Hyojin melirik kearah jendela mobilnya dan tersenyum, Yongguk tidak pernah melihat senyum Hyojin yang secerah itu. Apalagi setelah meninggalnya paman Yunho dan tante Boa, Hyojin kelihatan lebih murung begitu juga dengan Hyojung.

Tak terasa mobil Hyojin sudah memasuki areal syuting iklan, Yongguk membelokan mobilnya hendak parkir. namun tiba-tiba seorang lelaki berlari kedepan mobil Hyojin membuat Yongguk hampir menabrak lelaki itu.

Beruntung bagi lelaki itu Yongguk memiliki reflek kaki yang cepat, dia langsung menginjak pedal rem dan mobilnya terhenti seketika. Hyojin bahkan terdorong kedepan, dia kaget dan langsung mendongak melihat seorang lelaki yang jatuh mungkin karena kaget.

Hyojin langsung turun dari mobilnya, dan dia bisa melihat seorang lelaki yang terjatuh dia kelihatannya melukai lutut dan sikunya.

“Ahjusshi! Apa kau baik-baik saja?” Hyojin berkata, dia segera berlutut untuk menolong lelaki itu.

“Ya!!! aku masih muda, tak us—“ sebelum lelaki itu bisa menamatkan kalimatnya dia berhenti.

Ahjusshi, apa kau ingin kerumah sakit? Aku bisa mengantarmu..” Hyojin berkata, dia memegang siku lelaki itu dan meniup nya sekan-akan dengan tiupan nafasnya luka lelaki itu akan hilang.

Lelaki itu hanya diam dan menatap kearah Hyojin, Hyojin tidak menyadari kalau lelaki itu menatapnya namun Yongguk menyadarinya. Yongguk tahu lelaki itu menyukai Hyojin, dia bisa melihat dari tatapan lelaki itu yang penuh dengan kekaguman.

Ahjushhi!” Hyojin memanggil, bingung melihat lelkai yang dihadapannya hanya diam.

“Ah maaf, aku baik-baik saja..kau tak usah khawatir.” Lelaki itu akhirnya merespon, dia berdiri dan Hyojin membantunya.

Jeasounghamnida..maaf supirku sedikit ceroboh, Oppa! Kesini minta maaf lah.” Hyojin menunduk penuh penyesalan lalu dia memanggil Yongguk dan Yongguk segera mendekat kearah lelaki itu.

Jeasounghamnida, jalmothaesso.” Yongguk menunduk Sembilan puluh derajat.

Gwenchana, aku hanya terluka sedikit..besok juga sembuh.” Lelaki itu berkata dan dia tersenyum kearah Hyojin dan Yongguk.

“Aishh jika yang melakukannya wanita, dia tidak keberatan..” Yongguk berbisik menyindir.

“Oppa!” Hyojin memarahi, dia menyikut lengan Yongguk dan melotot kearahnya.

“Kalau boleh tahu siapa namamu Ahjusshi?” Hyojin bertanya.

“Aku Luhan.” Luhan menjawab.

“Ah..maafkan aku Luhan-shi.” Hyojin sekali lagi menunduk.

“Aku sudah bilang tidak apa-apakan?” Luhan tersenyum lagi dan Hyojin mengangguk.

“Tapi tetap..aku merasa bersalah, bagaimana kalau aku mengantarkanmu ke rumah sakit?” Hyojin menawarkan, Luhan menyeringai dia tahu cara yang tepat untuk membuat Hyojin tidak merasa bersalah lagi.

“Baiklah jika kau memaksa, tapi aku tidak ingin kerumah sakit..aku ingin kau yang mengobati lukaku.” Luhan berkata.

Ya! Saekiya! Kau yang salah!” Yongguk mengutuk dan Hyojin menyentuh dada Yongguk membuat Yongguk mundur.

“Baiklah, aku akan mengobati lukamu.” Hyojin menyeujui.

“Oppa, belikan aku obat anti septic, perban dan alkohol.” Hyojin memerintah.

“Tapi Hyojin-ah..” Yongguk hendak protes.

“Tidak ada tapi-tapian! Kau sudah hampir menabrak lelaki ini..merasa bersalahlah sedikit.” Hyojin marah dan Yonggukpun berbalik masuk kedalam mobil untuk membelikan Hyojin apa yang dia pinta.

“Jadi namamu Hyojin?” Luhan bertanya, dia mendengar Yongguk memanggil nama Hyojin tadi.

Nde..maaf Oppa memang sedikit kasar, tapi dia orang yang baik.” Hyojin berkata.

“Bagimana kalau kita duduk disana?” Hyojin menunjuk kearah kursi kosong yang ada didekat parkiran.

Luhan mengangguk dan merekapun duduk disana, mereka sedikit canggung tapi Luhan mencoba mencari topik pembicaraan.

“Mau apa kau kesini? Apa kau bekerja di daerah sini?” Luhan bertanya dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bekerja didaerah sini, aku kesini untuk mengontrol syuting iklan perusahaanku.” Hyojin mengungkapkan.

Tubuh Luhan langsung beku beberapa saat, Hyojin bilang dia ingin melihat Syuting iklan perusahaan nya? Apa jangan-jangan Hyojin ini adalah direktur Jung yang semua kru iklan bicarakan, bagaimana mungkin?!

“Apa nama lengkap mu Jung Hyojin?” Luhan bertanya ragu, dia mengepalkan tangannya berharap kalau nama marga Hyojin bukanlah Jung.

“Bagaimana kau tahu? Apa kau bisa membaca pikiran?” Hyojin bercanda dan Luhan langsung kaku, bagaimana mungkin dia bisa senang jika hatinya kecewa.

Dia baru saja jatuh cinta pada seorang anggota keluarga Jung, dunianya rasanya langsung hancur saat dia mendengar pengakuan Hyojin. Apakah ini yang di sebut karma? Luhan selama ini selalu mengangap perusahaan Jung adalah saingan perusahaan Li, dan sekarang dia disini duduk dan jatuh cinta pada putri pemilik perusahaan Jung.

“Luhan-shi? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Hyojin bertanya, dia merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Luhan.

“Bukan apa-apa, kau terlihat sedikit familiar..jadi aku kira aku mungkin pernah bertemu denganmu.” Luhan beralasan, sebenarnya dia tidak sepenuhnya berbohong.

Dia pernah melihat foto Yunho dan Hyojin juga Hyojung dia sebuah tabloid bisnis. Mereka cukup terkenal di dunia bisnis, apalagi Yunho yang sukses menjalankan perusahaan nya tentu saja mendapat banyak spotlight dari pengusaha lain yang ingin mengikuti jejaknya.

“Oh begitu ya..pantas aja.” Hyojin berkata, taklama kemudian dia bisa melihat Yongguk mendekat kearah mereka dan memberikan Hyojin sebuah kantong plastic.

“Ini, aku sudah membelikan semua yang kau pinta.” Yongguk berkata dan Hyojin mengambil kantong plastik itu.

Dia mulai membuka bungkus perban dan alkohol juga kapas yang Yongguk bawa, dia mulai membersihkan luka Luhan dengan teliti sampai luka luhan benar-benar bersih. Lalu dia membubuhkan obat anti septic pada luka luhan dan dia memasangkan perban keluka Luhan setelah itu dia memasangkan plester, agar perban Luhan tidak lepas atau bengkok.

Hyojin cukup telaten dalam menangani luka, terimakasih pada adiknya Hyojung yang sering terluka dia jadi terbiasa.

Luhan mencoba menggerakan lengannya dan dia merasa lega saat dia merasakan kalau tanganya bisa bebas bergerak, dia takut jika tangannya terkilir. Kalau tangannya terkilir dia tidak bisa pergi untuk bekerja besok, padahal dia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai Dj di sebuah club malam.

“Terimakasih.” Luhan berkata dan Hyojin mengangguk.

“Sama-sama, lain kali berhati-hatilah.” Hyojin berkata dan dia berdiri dari kursi.

“Hwajang-nim!”

Hyojin mendengar seseorang memanggilnya, dia melirik kesekitar dan melihat Taeyeon berlari kearahnya.

“Hwajang-nim, aku kira anda belum datang.” Taeyeon berkata.

“Tidak apa-apa, lagipula aku baru selesai mengobati luka Luhan-shi.” Hyojin berkata dan melirik kearah Luhan.

“Ah! Luhan-shi..apa kau tidak apa-apa? Aku sudah mendengarnya dari Yongguk.” Taeyeon berkata dengan penuh kekhawatiran dan Luhan mengangguk.

“Tenang saja Taeyeon-shi, aku baik-baik saja.” Luhan menenangkan dan Taeyeon mengangguk.

“Aku sangat khawatir saat mendengar kau terluka, kaukan model Luhan-shi..bagaimana kalau kau tidak bisa mengambil tawaran pemotretan gara-gara luka yang parah.” Taeyeon berkata dan mata Hyojin melebar.

“Model?” Hyojin bertanya.

“Iya Hwajang-nim, dia adalah model iklan kita.” Taeyeon berkata dan Hyojin kelihatannya terkejut.

Luhan memang tampan namun dia tidak menyangka kalau dia hampir saja mencelakakan model iklannya sendiri.

“Tidak apa-apa Hwajang-nim..aku baik-baik saja, aku harus pergi sekarang aku rasa sampai jumpa lagi.” Luhan berkata, dia tidak ingin berlama-lama dengan Hyojin juga Taeyeon.

Dia merasa kalau dia adalah mata-mata yang sedang menyamar, dia sedikit gugup juga jadi sebaiknya dia pergi. Dia menunduk kearah Hyojin dan Hyojin membalas, lalu dia pergi meninggalkan Taeyeon dan Hyojin.

“Taeyeon sajang-nim, apa kau punya data pribadi Luhan?” Hyojin bertanya dan Taeyeon mengangguk.

“Nde, aku akan mengirimkan uang Luhan besok Hwajang-nim.” Aeyeon menjawab.

“Tidak usah, biar aku saja yang mengirimnya bisakah kau memberikan nomor teleponnya?” Hyojin meminta dan Taeyeon hanya mengangguk, ada apa dengan wanita ini? Bukankah dia sedang berpacaran dengan Yifan? Lalu kenapa dia kelihatannya tertarik pada luhan?

“Hyojin-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menanyakan alamat Luhan?” Tanya Yongguk, dia mengakui kalau dia cemburu bahkan dia tidak sadar kalau dia mencengkram lengan Hyojin sedikit keras.

“Oppa..tenang saja, aku hanya ingin tahu dia.” Hyojin menenangkan, dia menyentuh tangan Yongguk dan Yongguk sedikit tenang.

“Tapi..dia kelihatannya bukan lelaki yang baik-baik.” Yongguk berkata, dia tidak tahu harus mengucapkan apa seklain alasan yang menyedihkan itu.

“Oppa bukankah tidak baik untuk menilai buku dari cover nya?” Hyojin memarahi dan dia melirik kearah Taeyeon.

“Baiklah Taeyeon sajang-nim, tunjukan iklan perusahaan kita padaku.” Hyojin memerintah dan Taeyeon mengangguk, dia mengantar Hyojin dan Yongguk keruangan sang sutradara.

[Perusahaan Li, Korea selatan 14:45 pm]

“Apa katamu?!” Yifan kelihatan terkejut saat dia mendengar berita yang disampaikan Yixing padanya.

“Apa kau sudah tahu? Luhan sekarang tinggal di Korea, dia hanya akan tinggal di Korea beberapa tahun tenang saja.” Yixing berkata dia mengambil dokumen yang sudah Yifan tanda tangani.

“Kenapa aku tidak memberitahuku dari kemarin?” Yifan bertanya dia sedikit marah, dia marah karena sepertinya Yixing mengijinkan musuh sekaligus adik tirinya itu untuk datang ke Korea.

“Untuk apa? Apa kau akan mencegah dia untuk tinggal di Korea? Oh aku tahu..kau akan mengusir dia?” Yixing bertanya sinis dan Yifan mengepalkan tangannya.

Sepertinya Yixing masih dipihak Luhan, dia membela Luhan dengan sepenuh hati seperti itu. Dia tahu hubungan Yixing dan Luhan cukup dekat, dia mendengar soal Yixing dan Luhan dari Zhoumi.

“Kau memang peliharaan Luhan kan? Selalu mengikuti dia dan menurut padanya.” Yifan mencemooh sedikit meremehkan membuat emosi Yixing sedikit bergejolak namun Yixing masih menahanya.

“Maaf Yifan sajang-nim, aku disini sebagai sekertarismu jadi sebaiknya kau diam dan kerjakan tugasmu sebelum aku memukul wajah cantikmu.” balas Yixing mencemooh dan Yifan langsung memukul meja dan berdiri.

“Apa kau bilang? Wajah cantik? Hahaha lucu sekali, lalu kenapa jika aku punya wajah cantik? Kau ingin memiliki wajah seperti ini bukan? Untuk menggoda Luhan.” Yifan mendekat dan dia bisa melihat Yixing langsung marah dan matanya menatap tajam kearah Yifan.

“Ah,Yixing biseo-nim, apa kau mungkin…kau gay? Kau menyukai Luhan, iyakan?” Yifan menyeringai dan dia bisa melihat Yixing merapatkan rahang nya penuh emosi.

“Kau sebaiknya jaga mulutmu, aku tidak pernah menyukai Luhan seperti itu … dia hanya sepupuku.kami berbagi banyak kesenangan dan kesusah bersama.” Yixing menjelaskan.

“Dan kau Yifan, bagaimana denganmu? Menggoda seorang gadis saja kau tak becus.” Yixing berkata dan dia akhirnya berbalik untuk keluar dari ruangan Yifan, Yifan mengambil pulpen tintanya dan melemparkannya kearah pintu dengan penuh emosi.

“Arrgggh!” Yifan mengerang kesal, ingin sekali dia memukul wajah Yixing namun mereka sedang di kantor tidak baik untuk imej nya jika dia berkelahi dengan sekertarisnya.

Yixing melemparkan dokumen yang dia bawa kemejanya, dia memijat keningnya yang terasa berdenyut sakit. Sepertinya dia dan Yifan tidak akan pernah akur, selalu saja saling menjatuhkan dan mencemooh dia tidak tahu kapan semua konflik ini berhenti.

Dia duduk dikursi, dia masih ingat cemoohan Yifan dan dia ingin marah sekali. Bagaimana mungkin Yifan berpikir kalau dia gay? Kurang ajar! Lelaki itu memang pantas untuk dipukul. Andai saja mereka sedang berada di sebuah club mungkin Yixing akan memberikan anak lancang itu pelajaran, namun Yifan beruntung kalau mereka ada di kantor.

Yixing sebagai pengacara dan sekertaris tentu saja tahu hukuman apa yang akan dapatkan jika dia berkelahi dengan Yifan, namun dia tidak peduli jika situasinya beda dia ingin memukul Yifan.

Yixing sadar dari lamunanya saat handphonenya bergetar, dia melihat nama seseorang yang dia sukai tertera di handphonenya. Dia sekarang bergelut dengan batinnya, haruskah dia mengangkat telepon itu? Namun jika dia tidak mengangkat telepon itu dia akan menyesal.

Yixing segera menyambar handphonenya, dia mengangkat teleponya dnegan ragu jadi dia menunggu orang yang menelepon nya untuk bicara lebih awal.

“Yixing-shi! Ini aku Taeyeon..” Yixing meremas handphonenya saat dia mendengar nama itu, entah kenapa jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.

Nde..” Yixing merespon.

“Aku sudah dengar dari dewan direksi yang lain, apa benar sekarang kau akan bekerja tetap di perusahaan Li?” Taeyeon bertanya, dia terdengar ceria seperti biasanya membuat Yixing tersenyum.

“Ya, ternyata berita nya sudah tersebar ya?” Yixing bertanya.

“Iya, tentu saja..aku selalu mendengar berita tentangmu Yixing-shi, aku senang kau bisa kembali ke Korea.” Taeyeon mengungkapkan.

“Ya, aku tidak menyangka aku akan kembali ke Korea.” Yixing menjawab.

“Jangan ragu untuk menghubungiku jika kau butuh apapun, bagaimana kalau kita pergi makan malam bersama? Kebetulan aku sedang tidak sibuk malam ini.” Taeyeon mengusulkan, mata Yixing melebar saat dia mendengar ajakan Taeyeon.

“Baiklah jika kau memaksa.” Yixing bercanda dan dia bisa mendengar Taeyeon tertawa.

“Hahah Yixing-shi kau lucu, jika kau merasa terbebani tak usah…aku tahu kau orang yang sibuk.” Taeyeon membalas candaan Yixing.

“Bukan!bukan seperti itu..” Yixing panik saat dia mendengar kalau Taeyeon akan menarik tawarannya.

“Ya, aku ingin pergi makan malam bersamamu..” Yixing mengungkapkan, sekarang dia kedengaran seperti anak SMA yang baru saja berkencan.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menemui mu di restoran Bongchu chiken, kau tahu restoran itukan?” Taeyeon bertanya dan Yixing mengangguk.

Yifan yang melangkah keluar dari kantornya melirik kearah Yixing, dia bisa mendengar kalau Yixing sedang menelepon seseorang namun dia tidak tahu siapa.

“Restoran bongchu chiken? Kenapa kau ingin kesana?” Yixing bertanya, Yifan bisa mendengar jelas percakapan Yixing.

“Oh begitu ya, baiklah…kau akan kesana jam berapa?” Yixing bertanya lagi pada penelepon nya dan Yifan tidak bisa pergi, dia harus mendnegarkan percakapan ini jadi dia memutuskan untuk bersembunyi di balik tembok yang dekat dengan pintu kantornya dan menguping pembicaraan Yixing.

“Jam delapan? Baiklah, apa kau ingin aku menjemputmu?” Yixing menawarkan dengan baik hati, Yifan mengangkat halisnya.

Apakah Yixing sedang mengobrol dengan pacarnya? Mereka terdengar sangat intim dan dekat. Yifan semakin penasaran namun Yifan kecewa saat dia melihat Yixing akhirnya menutup teleponnya, Yifan ingin mengutuk namun dia ingat dia sedang bersembunyi.

Yifan berpura-pura baru keluar dari kantornya dan melangkah keluar, Yixing yang melihat sosok Yifan langsung bertanya.

“Kau mau kemana?” Tanya Yixing.

“Menggoda seorang gadis, kau bilang aku tidak becuskan? Jadi sebaiknya aku berlatih.” Yifan menjawab sinis dan pergi menuju lift.

[Sebuah Café, Gangnam – Korea selatan 15:36 pm]

“Hyung!” Zhongren memanggil saat dia melihat sosok kakaknya masuk kedalam café, dia sudah menunggu sekitar lima belas menit jadi dia senang sekali saat diamelihat Yian datang.

“Kau telat!” Zhongren memarahi dan Yifan hanya mengelus kepala Zhongren.

“Maaf, Yixing membuatku telat.” Yifan mengungkapkan, dia jadi ingat pertengkarannya dengan sekertarisnya itu.

“Aku sudah mencari beberapa rumah yang ada di daerah Seoul, aku rasa kau akan menyukai rumah ini.” Zhongren menunjukan beberapa foto rumah yang akan menjadi rumah mereka, Yifan bisa melihat foto-foto itu dengan jelas.

Namun ada satu rumah yang menarik perhatiannya, rumah itu tidak terlalu besar. Dengan style modern yang cukup mencolok, rumah itu memiliki banyak jendela dan dihalaman depannya memiliki banyak pohon.

Walaupun rumah ini ada di daerah yang cukup jauh dari gangnam namun Yifan menyukainya, dia menarik foto rumah itu dan bertanya pada Zhongren.

“Bagaimana dengan rumah ini?” Yifan bertanya dan Zhongren mengangguk.

“Cukup bagus Hyung, tapi aku tidak yakin rumah ini cocok untuk kita…kau tahu jarak nya cukup jauh.” Zhongren beralasan dan Yifan mengangguk.

“Aku tahu, tapi aku tidak keberatan..aku lebih suka tinggal di lingkungan yang sepi dan tidak ramai.” Yifan menjawab.

“Baiklah, aku akan menghubungi penjual rumah ini besok.” Zhongren mnyetujui.

“Oh iya Hyung, apa kau tahu? Aku mendapatkan tawaran dari agency model.” Zhongren mengungkapkan, Yifan terlihat terkejut namun dia tersenyum bahagia dan mengacak-ngacak rambut Zhongren.

Dia bangga sekali pada adik angkatnya itu, ternyata selama dia sibuk di kantornya adiknya mendapatkan kesempatan untuk bekerja juga.

“Wahh kau hebat Zhongren-ah! Kapan kau mendapatkan tawarannya?” Yifan bertanya penasaran.

“Kemarin, saat aku sedang hunting rumah.” Jawab Zhongren.

“Bagus kalau begitu, terima saja tawarannya..aku tahu kau akan menjadi model yang bagus.” Yifan meyemangati dan Zhongren mengangguk penuh antusias.

“Ya aku pikir begitu, lagipula aku lebih tampan dari kau..iyakan Hyung?” Zhongren bercanda dan Yifan memukul dahi Zhongren.

“Ya! Sekarang kau besar kepala.” Yifan marah namun akhirnya dia dan Zhongren tertawa.

Sudah lama sekali mereka tidak bercanda seperti ini, dia rindu pada keakraban mereka saat di panti asuhan. Yifan dan Zhongren tidak pernah terpisahkan, bahkan mama Wu tidak bisa mencegah Zhongren untuk ikut dengannya saat Yifan meninggalkan panti asuhan.

“Hyung setelah kau membeli rumah ini, apa yang akan kau lakukan?” Zhongren bertanya penasaran.

Sebenarnya dari kemarin dia ingin sekali menanyakan pertanyaan itu, namun melihat kakaknya yang lelah Zhongren jadi takut untuk bertanya. Dia tahu kalau Yifan sedang lelah dia akan lebih sensitive dan lekas marah, namun melihat ekspressi Hyung nya yang lebih cerah sekarang dia memberanikan diri.

“Oh..aku membeli rumah ini agar Hyojin bisa berkunjung, dia akan curiga kan kalau aku mengajaknya kekamar hotel?” Yifan berpendapat dan Zhongren mengangguk.

“Alasan yang cukup bagus, tapi Hyung…bukankah kau terlalu serius?” Zhongren mendekat, dia menatap lurus kearah mata Yifan.

“Apa maksudmu? Tentu saja aku serius, aku serius untuk menipu gadis itu dan merebut perusahaannya.” Yifan mengungkapkan dan Zhongren hanya menatap kebingungan kearah Yifan.

Zhongren tahu sekali karakter Yifan dan entah kenapa saat dia mendengar ungkapan Yifan dia merasa kalau perkataan kakaknya itu sebuah kebohongan yang besar, dia merasa kalau kakaknya yang sedang menipu dia bukan menipu Jung Hyojin.

“Aku mengerti.” Zhongren mengangguk, dia tidak ingin bertengkar apalagi berdebat dengan kakaknya.

Zhongren tidak tahu harus melakukan apa, namun dia takut jika kakaknya itu terlarut-larut dalam perasaannya. Dia tahu kalau Yifan sudah mulai serius soal Hyojin, dia bahkan rela menghabiskan uang tabungannya hanya demi membeli rumah.

Padahal mereka bisa menyewa apartemen, mereka bisa pindah ketempat lain dengan mudah jika mereka hanya menyewa apartemen namun Yifan menolak. Dia langsung menolak tawaran Zhongren dengan tegas, entah sebenarnya apa alasan Yifan untuk membeli rumah, namun dia berharap kalau alasan sebenarnya bukanlah karena seorang wanita yang bernama Jung Hyojin.

Ditengah lamunan nya handphonenya bergetar, dia langsung mengangkat handphonenya saat dia melihat nama Hyojung tertera dihandphonenya.

“Oppa! Kau dimana, aku sudah sampai di taman..apa kau lupa dengan janji kita?!” suara Hyojung terdengar marah.

“Oh! Iya, maaf aku harus mengurus beberapa masalah, baiklah aku akan menyusul.” Zhongren berkata dan dia langsung berdiri dari duduknya.

“Hyung,aku harus pergi.” Zhongren berkata.

“Siapa yang menelepon?” Yifan bertanya, dia tidak pernah melihat Zhongren menurut selain pada dirinya.

“Jung Hyojung.” Zhongren menjawab.

“Kau berhasil mendekati dia?” Yifan bertanya sedikit terkejut.

“Sudah kubilang Hyung, soal wanita..aku jagonya.” Zhongren berkata dan dia mengedipkan matanya genit kearah Yifan lalu pergi keluar dari café.

“Aisshh dasar playboy!” Yifan mengutuk, Yifan memang selalu kalah soal menggoda wanita jika dibandingkan Zhongren.

Lelaki itu seperti ular, licin dan licik. Namun entah kenapa semua wanita selalu berhasil jatuh cinta padanya, Yifan sedikit iri jika saja dia bisa lebih ramah dan pintar berbicara seperti Zhongren mungkin dia akan lebih mudah menggoda Hyojin.

Yifan mengodok saku jasnya, dia mengaktifkan handphonenya namun dia kecewa saat dia tidak menemukan satu pesanpun dari Hyojin. Kapan dia dan Hyojin bisa seperti Hyojung dan Zhongren? Mereka berdua kelihatan cukup akrab walaupun Yifan tahu kalau Zhongren hanya bermain-main dengan Hyojung.

Yifan meremas handphonenya dan pergi keluar dari café sesudah dia membayar pesanan Zhongren, adiknya itu memang memiliki kebiasaan membiarkan dia untuk membayar semuanya.

Yifan melangkah keluar dari café dengan langkah malas, dia sekarang harus kembali kekantornya dan mungkin menjemput Hyojin nanti sore. Namun langkah nya terhenti saat dia bertemu dengan sosok yang cukup familiar, sosok itu berjalan melewatinya dan dia langsung mengikuti sosok itu.

Sosok itu adalah Luhan, dia kelihatan berbeda dengan rambut silver nya. Kenapa lelaki itu mengecat rambutnya lagi? Yifan berpikir dia bersembunyi didekat tiang listrik yang cukup tinggi untuk menyembunyikan tubuhnya, dia bisa melihat sosok Luhan masuk kedalam sebuah gedung club malam.

Yifan tidak bisa mengikuti Luhan masuk kedalam gedung itu karena dua orang bodyguard menunggu diluar, mereka kelihatannya mengenal satu sama lain karena saat Luhan berjalan kesana kedua bodyguard itu langsung membukakan pintu untuk Luhan.

Mengambil handphonenya Yifan memotret moment itu, mungkin dia bisa menanyakan pada Yixing apa yang Luhan lakukan di sebuah gedung club malam sore-sore seperti ini.

[Lokasi syuting,Korea selatan – 17:15pm]

    Hyojin baru saja selesai melihat cuplikan iklan untuk clothing line nya, dia cukup menyukai konsep yang sutradara itu ambil. Namun masalahnya dia tidak menyukai bagaimana pakain-pakainnya di pamerkan, terlalu klise dan murahan Hyojin berpikir.

“Ulangi lagi syuting iklannya.” Hyojin berkata setelah dia puas memperhatikan cuplikan iklannya.

“T-tapi Hwajang-nim..aku rasa konsep nya bagus.” Sutradara Lee yang duduk disamping Hyojin berkata.

“Ya aku suka konsepnya, tapi cara kalian mempromosikan baju-baju itu terlalu klise dan murahan.” Hyojin mengkritik.

“Aku ingin pengulangan lagi, aku tidak membayar kalian untuk membuat iklan yang klise seperti ini.” Hyojin dengan dingin nya berkata, sutradara Lee mengangguk dan menunduk penuh malu.

“Baiklah Hwajang-nim, kami akan mengulangi syuting nya…maaf kami tidak bisa memuaskan anda.” Sutradara Lee meminta maaf dan Hyojin mengacuhkan perminta maafan sutradara Lee.

“Minta maaflah setelah kau berhasil membuat iklan yang cukup bagus.” Hyojin dengan dinginnya berkata, dia lalu keluar dari ruangan sutradara Lee diikuti oleh Taeyeon dan Yongguk.

Taeyeon menunduk meminta maaf atas sikap dingin direkturnya, sutradara Lee menggangguk dia mengerti kalau Hyojin ingin iklan clothing linenya unik dan beda dari yang lain. Lagipula dia masih baru menjadi direktur, dia ingin membuat dewan direksi lain mempercayainya dengan kesuksesan yang dia buat untuk perusahaan Jung Textile.

Hyojin masuk kedalam mobilnya, dia memijat kepalanya yang berdenyut sakit. Entah kenapa hari ini sepertinya semua orang tidak bisa memuaskannya. Mulai dari dokumen perusahaan sampai iklan yang tadi dia lihat, membuatnya kecewa.

“Hyojin-ah..kau baik-baik saja?” Yongguk bertanya khawatir.

“Aku baik-baik saja.” Hyojin menjawab singkat, dia menghela nafasnya dan menyentuh pundaknya yang sedikit sakit.

Seharian dia sudah membaca dokumen dan dia merasa sedikit pegal, Yongguk menghidupkan mesin mobil dan mobilnyapun langsung meluncur meninggalkan lokasi syuting.

Handphone Hyojin bergetar, dia mengaktifkan handphonenya dan melihat nama Yifan tertera dilayar handphonenya.

“Ini aku, ada apa?” Hyojin mengangkat teleponnya.

“Kau terdengar lelah, apa kau ingin makan malam denganku?” Yifan menawarkan.

“Entahlah Oppa, aku lelah.” Hyojin berkata sambil menghela nafasnya.

“Oh ayolah…aku janji makan malam denganku akan membuatmu lebih rileks.” Yifan membujuk.

“Baiklah, kau ingin makan malam dimana?” Hyojin menurut, sebenarnya Yifan sedikit terkejut.

Hyojin sepertinya mulai melunak padanya, Yifan tersenyum lebar sepertinya strateginya akan berjalan dengan mulus jika Hyojin terus bersikap seperti ini.

“Kau tak perlu tahu, aku akan menjemputmu..pakailah pakain yang sexy dan anggun aku akan menjemputmu sekitar jam delapan.” Yifan berkata dan Hyojin menyeringai.

“Apa kau akan memamerkanku pada teman-temanmu?” Hyojin bertanya.

“Tentu saja, aku tidak malu memamerkan wanita yang aku cintai..lagipula kau cukup cantik untuk aku pamerkan.” Yifan menjawab dan Hyojin mendengus.

“Kau pasti suukaa..sekali pamer.” Hyojin meledek.

Well, sedikit pamer tidak salahkan? Tenang saja..ini kencan pertama kita aku tidak ingin ada gangguan dari orang lain.” Yifan menjawab dan Hyojin tersenyum.

“Baiklah, sebaiknya kau tidak membawa sekumpulan teman-temanmu.” Hyojin memberi peringatan.

“Tenang saja, kita hanya akan makan malam berdua.” Yifan menenangkan.

“Baiklah, sampai jumpa nanti malam.”

“Sampai jumpa.” Yifan berkata dan mereka berduapun menutup telepon mereka.

Yongguk yang mendengar percakapan itu meremas setirnya, apakah Hyojin benar-benar jatuh cinta pada seseorang? Apakah itu alasan kenapa gadis itu tersenyum saat mereka bertemu tadi?

Hati Yongguk berdenyut sakit, namun dia mencoba menahannya. Dia lebih baik tidak mencampuri ursan asmara Hyojin, karena semakin jauh dia tahu semakin sakit hatinya jadi sebaiknya dia bersikap acuh.

Yongguk lebih baik tidak tahu apapun, dia lebih baik berpura-pura untuk tiak tahu dan menganggap kalau Hyojin tidak memiliki pacar atau semacamnya.

[Apartemen Yixing dan Luhan, Seoul – Korea selatan 19:30pm]

Hari itu, aku masih ingat..hari dimana aku bertemu dengan seorang wanita bernama Kim Taeyeon. Hari itu, aku sedang sedih karena aku baru saja putus dengan tunanganku Mei.

Aku kira kami akan menikah, aku kira..Mei akan melakukan apapun untukku termasuk pindah ke Korea.

“Maaf Tuan, apakah kau baik-baik saja?”

Suara wanita itu mengagetkanku, aku mendongak. Aku terkejut jantungku berdetak sangat cepat dan mataku melebar saat aku melihat sosok wanita itu, begitu cantik dan lembut.

“Malaikat..” Aku bergumam, aku bahkan tidak sadar kalau aku mengatakan kata itu.

Wanita yang membungkuk didepanku hanya tersenyum, dia menawarkanku sebuah tissue. Apakah aku menangis? Aku segera menyentuh kedua pipiku dan ternyata pipiku basah, walaupun malu aku ambil tissue itu.

“Terimakasih.” Ucapku malu-malu, aku segera menyeka airmataku.

Bagaimana mungkin aku,seorang Zhang Yixing menangis di tempat umum seperti ini?! Aku meremas tissue yang wanita itu berikan. Aku sangat malu karena ini mungkin pertamakalinya seseorang melihatku menangis, aku adalah lelaki yang kuat itulah yang paman Zhoumi selalu katakan padaku.

“Apa kau ingin menceritakan kenapa kau menangis? Aku sangat khawatir saat aku melihat kau menangis sendirian di sudut café ini.” Taeyeon mengungkapkan, dia memberikanku sebuah gelas kopi hangat.

“Terimakasih, kau tak usah repot-repot membawakanku kopi.” Aku berkata dengan dingin.

“Tidak apa-apa, lagipula aku merasa bosan sendirian..minumlah kopinya.” Taeyeon berkata, dia duduk didepanku dan tersenyum.

“Aku tidak percaya orang asing sepertimu.” Kataku, aku melirik kearah jendela café dan ternyata cuaca masih hujan.

Aku menghela nafasku, aku tidak pernah suka hujan. Hujan selalu menjadi halangan bagiku, apalagi sekarang aku sedang bersedih apakah tuhan mengolok-ngolokku dengan mengirimkan hujan kebumi hari ini?! Hujan juga selalu membuatku menjadi lebih melankolis, dan aku benci perasaan itu.

Aku benci jika dadaku mulai sesak dan airmata selalu mengancam untuk turun setiap kali aku mengingat hujan dan Mei. Aku masih ingat, Mei sangat menyukai hujan.

Mei bilang hujan itu adalah anugerah dari tuhan, karena dengan adanya hujan semua tanaman yang kering kembali subur.

Hujan juga membuat udara panas menjadi lebih sejuk, Mei bisanya melihat hujan dari jendela apartemen kami biasanya dia akan menyeduh teh dan bersenandung sambil menonton hujan seakan hujan adalah suatu tontonan yang menarik baginya.

Aku biasanya akan mendengus meremehkan, aku akan berkata kalau Mei kekanak-kanakan. Aku akan meledeknya dan Mei akan tertawa. Dia bukanlah wanita yang mudah tersinggung, itulah salah satu alasan kenapa aku menyukai dia.

“Apa kau benci hujan?” Suara wanita yang duduk didepanku menyadarkanku dari lamunan.

“Huh?” Aku melamun jadi aku tidak mendengar jelas apa yang Taeyeon tanyakan tadi.

“Aku benci hujan, karena hujan selalu menghalangi jalanku.” Taeyeon berkata, dia menyentuh cup kopinya dan menghela nafas.

“Seharusnya sekarang aku ada dirumah, tapi karena hujan aku harus berteduh dulu disini.” Taeyeon menopang pipinya dengan tangannya.

“Aku benci udara dingin juga, hujan selalu membuatku kedinginan.” Taeyeon melanjutkan, aku hanya bisa diam.

Bagaimana gadis ini bisa berpikiran sama denganku? Apakah dia seorang pembaca pikiran? Aku hanya bisa menatap lurus kearahnya seperti seorang idiot.

“Oh iya, kau bilang kau tidak percaya orang asingkan? Kenalkan..aku Kim Taeyeon.” Taeyeon mengulurkan tangan nya kearahku, aku tidak bisa menolak aku harus tahu siapa wanita ini.

“Zhang Yixing.” Aku menjawab dan Taeyeon kelihatan kaget.

“Apa kau orang Cina? Namamu cukup unik jika kau orang Korea.” Taeyeon berkata dan aku hanya bisa mengangguk.

“Wahhh Jinjja?! Pantas saja..tapi bahasa Koreamu bagus sekali kau belajar darimana?” Taeyeon bertanya.

“Aku belajar dari pamanku, dia pengusaha textile dan dia pernah tinggal di Korea untuk beberapa tahun.” Aku menjawab dan Taeyeon mengangguk mengerti.

“Oh begitu ya, apa kau juga tinggal di Korea sekarang?” Tanya Taeyeon lagi.

“Untuk sementara, pamanku menyuruhku untuk melakukan survey disini untuk cabang barunya.” Jawabku.

*****

“Sampai kapan kau akan berkaca Yixing?” Suara Luhan mengagetkanku, aku berbalik dan melirik kearah Luhan yang sudah menyandar di ambang pintu kamar mandi kamarku.

“Luhan! Kau mengagetkanku..” aku berkata dan mengelus dadaku.

“Kau rapih sekali..apa kau akan berkencan?” Luhan menggoda, dia menaik turunkan halisnya.

“Menurutmu?” aku balik bertanya, aku tidak ingin membahas wanita dengan sepupuku yang satu ini.

“Oh..aku tahu, aku akan berkencan dengan wanita iyakan? Kau selalu rapih dan harum jika kau akan berkencan.” Luhan menebak dan aku mengacuhkan dia.

Luhan duduk diranjang kamarku dan dia menatap kearahku penuh curiga, aku menatap dia kembali.

“Apa? Kenapa kau menatap kearahku seperti itu?” Aku bertanya.

Luhan hanya tersenyum.

“Aku senang.” Ungkapnya membuatku semakin bingung.

“Kenapa?apa kau mendapat bonus dari bosmu?” Aku bertanya dan melirik kearah Luhan, mataku melebar saat aku melihat siku Luhan di balut oleh perban.

“Luhan! Kenapa siku mu di balut oleh perban?!” aku bertanya dan menarik lengan Luhan membuat Luhan mengerang kesakitan.

“Aww… Yixing kau melukai tanganku! Aku hanya jatuh saja.” Ucap Luhan, menatap kearahnya aku akan tahu jika dia berbohong namun sepertinya kali ini Luhan mengatakan yang sebenarnya karena dia tidak panik.

“Oh begitu ya, ingat Luhan..jika kau bertengkar lagi aku tidak akan mengijinkanmu untuk bekerja di club malam.” Aku memberi peringatan dan Luhan mengacak-ngacak rambutnya.

“Aissh! Sepertinya aku akan hidup dengan baba yang kedua! Yixing kau bukan ayahku berhentilah khawatir.” Luhan mengeluh, aku mengelengkan kepalaku.

Jika sesuatu terjadi pada Luhan akulah yang akan disalahkan, lagipula bagaimana aku tidak khawatir?! Saudaraku yang sangat dekat denganku bekerja disebuah club malam, padahal dia bisa bekerja di perusahaan ayahnya yang besar sekali.

“Luhan, aku cukup baik untuk mengijinkanmu bekerja di club malam jangan mengambil keuntungan yang lebih dari kebaikanku atau aku akan menarik semuanya.” Aku mengancam dan Luhan mengangguk malas.

Aye! Aye! Captain..” dia memberi hormat kearahku dan aku tersenyum lalu mengacak-ngacak rambutnya.

“Sekarang, jadilah anak yang baik dan tidur dikamarmu..bukankah mulai besok kau akan bekerja di club?” aku menyuruh dan Luhan menurut.

“Baiklah, ceritakan padaku tentang kencanmu ok?” Luhan meminta dan aku menggelengkan kepalaku.

“Tidak! Jika aku menceritakannya kau akan mencampuri urusanku.” Aku berkata dan Luhan tertawa.

“Oh ayolah..aku ingin mendengar cerita lain selain cerita tentang Mei.”

Aku berhenti merapikan jasku saat aku mendengar nama Mei keluar dari mulut Luhan, aku bisa melihat Luhan langsung menutup mulutnya. Sepertinya dia tidak sadar menyebutkan nama itu, Luhan mengigit bibirnya merasa bersalah.

“Euh… lupakan saja! Semoga kencanmu lancar!” Luhan berkata dan menutup pintu kamarku.

Nama wanita itu, ternyata masih membawa rasa sakit untuk hatiku. Setiap kali aku mendengar nama Mei, dadaku rasa nya sesak dan hatiku berdenyut sakit aku tidak menyangka selama bertahun-tahun ini Mei masih memiliki efek untukku.

Aku kira aku sudah melupakan gadis itu, aku kira dia hanyalah orang asing bagiku sekarang namun sepertinya aku salah. Melihat reaksiku yang langsung membeku saat aku mendnegar nama Mei menyadarkanku, sepertinya aku memang harus mengubur kenangan tentang gadis itu.

Setelah siap aku pergi keluar dari apartemen, aku harus fokus pada makan malamku dengan Taeyeon sekarang sebaiknya aku menyimpan kenangan Mei jauh-jauh. Aku dan dia bukan siapa-siapa lagi sekarang, kami hanya masa lalu tidak lebih dari itu.

Aku berjalan kearah mobilku,kuhidupkan mobilku dan akupun menyetir kearah jalan menuju bongchu chiken.

[Kediaman keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 20:00 pm]

   Yifan memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Hyojung, dia menatap kearah pintu depan rumah gadis itu namun anehnya gadis itu tidak ada. Yifan turun dari mobilnya dan mengetuk pintu depan, seorang pelayan langsung membukakan pintu rumah.

“Maaf, apa ada yang bisa saya bantu tuan?” pelayan itu bertanya dengan sopan.

“Iya, apakah nona Jung Hyojin ada? Aku..aku temannya Yifan.” Yifan berkata dan pelayan itu mempersilahkan Yifan masuk.

“Silahkan masuk, sebentar saya panggilkan nona Hyojin.” Pelayan itu berkata dan Yifan mengangguk.

Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah keluarga Jung, dia sebenarnya sedikit kagum dengan interior rumah keluarga Jung. Begitu mewah dan elegan, walaupun rumah keluarga Jung cukup besar namun Yifan merasa nyaman dengan atmosphere hangat yang di sampaikan oleh rumah ini.

Yifan melirik kearah kanannya dan dia bisa melihat foto keluarga besar yang dipajang di tembok, disana ada foto Hyojin, Hyojung dan kedua orang tuanya yang duduk didepan kedua anak perempuannya.

Walaupun dari foto Yifan tahu keluarga Jung adalah keluarga yang bahagia, dia bisa melihat senyum lebar Yunho dan istrinya begitu juga Hyojin dan Hyojung. Bagitu bahagia dan tentram rasanya saat Yifan melihat foto itu, sebenarnya dia sedikit iri karena dia tahu jelas kalau dia tidak akan pernah memiliki foto keluarga seperti itu.

“Wu Yifan-shi, tidak kaget aku bisa bertemu denganmu disini.”

Suara seorang lelaki mengagetkannya, Yifan berbalik kebelakang dan dia menemukan sesosok lelaki tinggi yang berotot. Lelaki itu menatap kearahnya tajam, Yifan tahu kalau lelaki itu tidak menyukai dia.

“Siapa kau?” Tanya Yifan.

“Kenalkan, Bang Yongguk.” Yongguk mengulurkan tangannya pada Yifan, Yifan menyambut tangan Yongguk dan mereka berjabat tangan.

Jabatan tangan Yongguk sangat keras membuat Yifan terkejut, namun Yongguk segera melepaskan jabatan tangannya.

“Ada apa kau malam-malam kesini? Aku dengar kau ingin menemui Hyojin.” Tanya Yongguk dia kelihatannya curiga pada Yifan.

“Hyojin? Berani sekali kau memanggil dia dengan namanya, apakah kau saudaranya?” Yifan bertanya, dia ingat kalau Hyojin bukanlah orang yang ramah, tidak mungkin dia akan membiarkan sembarang orang menyebutkan namanya.

“Aku teman masa kecilnya, apa kau iri? Oh..apakah Hyojin tidak mengijinkan kau memanggil namanya?” Yongguk menyindir dan Yifan hanya mendengus.

Arogan sekali lelaki yang satu ini, Yongguk sepertinya sama dengan dia. Mereka berdua ternyata satu type, dan Yifan tidak suka itu. Karena jika Yongguk terlalu dekat dengannya, dia tahu lelaki itu bisa membuka semua kartu permainannya.

“Hyojin pacarku, tentu saja dia mengijinkan aku memanggil namanya dia bahkan memanggilku dengan panggilan Oppa dengan manja.” Yifan menjawab dan dia bisa melihat ekspressi Yongguk menjadi kaku.

Lelaki yang berdiri didepannya mengepalkan tangannya kesal, dia menatap tajam kearah Yifan namun Yifan hanya tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada yang berani bermain api  dengan Wu Yifan, jika kau bermain api dengannya bersiap-siaplah untuk terbakar.

“Oh jadi kau pacar Hyojin? Aneh sekali…aku tidak tahu kalau Hyojin menyukai lelaki aneh sepertimu.” Yongguk meledek dan sekarang bagain Yifan yang emosi.

Yifan membuka mulutnya hendak membalas namun perhatian tercuri oleh sosok Hyojin yang sudah berdiri diujung tangga menatap kearahnya, Yongguk yang melihat tatapan Yifan yang terfokus pada Hyojin melirik kearah belakangnya.

“Oh..ternyata kalian sudah akrab? Aku melihat kalian mengobrol tadi?” Hyojin mengangkat halisnya, Yifan dan Yongguk hanya tersenyum.

“Hyojin-ah, kau tidak melihatmu berdiri disana.” Yifan berkata dan Hyojin berjalan mendekat kearah kedua lelaki itu.

“Tidak apa-apa, lagipula aku suka melihat pacarku dan kakakku berkomunikasi.” Hyojin berkata dia merapikan jas Yifan sekilas dan Yifan tersenyum kearah gadis itu penuh dengan kasih sayang.

“Karena kalian sepertinya sudah mengenal satu sama lain, aku tidak usah mengenalkan kalian lagikan?” Hyojin bertanya dan kedua lelaki yang berdiri disamping kanan dan kirinya mengangguk.

“Hyojin-ah ini sudah malam, sebaiknya kita pergi sekarang.” Yifan berkata dia melingkarkan tangannya di pinggang Hyojin.

“Baiklah, Oppa aku pergi dulu.” Hyojin berkata dan dia melambai kearah Yongguk sesaat lalu pergi bersama Yifan.

Yongguk hanya bisa menatap nanar kearah Yifan dan Hyojin yang pergi, hatinya sakit saat dia melihat begitu bahagia nya Hyojin dengan Yifan. Dia tidak tahu apakah dia bisa menhan rasa sakit ini, dia mulai menyesali keputusannya untuk datang namun mengingat Yifan bukanlah lelaki yang baik dia harus menjaga Hyojin.

Bagaimanapun Bang Yongguk masih mencintai Jung Hyojin, walaupun dia tidak bisa memiliki gadis itu dia ingin menjadi pelindung nya, terdengar sangat picisan bukan? Namun itulah yang Yongguk rasakan sekarang.

Hyojung yang melihat kakaknya pergi dengan seorang lelaki tersenyum, sepertinya kakaknya itu mulai berkencan lagi. Hyojung merasa sedikit lega, dia tidak ingin kakaknya terkubur dalam kesedihan dan kesibukan lagipula kakaknya itu cukup dewasa untuk menikah.

[Bongchu Chicken restaurant, Seoul – Korea selatan 20:30 pm]

   Yixing tersenyum saat dia melihat sosok Taeyeon berjalan kearahnya, gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan dress kuningnya. Taeyeon melambaikan tangannya saat dia sadar kalau Yixing menatap kearahnya, Taeyeon lalu duduk dimeja yang sudah Yixing pesan.

“Maaf, apakah aku terlambat?” Taeyeon bertanya.

“Tidak, aku juga baru sampai beberapa menit yang lalu.” Yixing menjawab dan tersenyum.

“Bagus kalau begitu, aku harus mengurus beberapa masalah tadi..jadi aku sedikit telat.” Ungkap Taeyeon dan Yixing mengangguk mengerti.

“Apa kau mau memesan sekarang?” Tanya Yixing.

“Ya tentu saja.” Taeyeon setuju.

Yixing memanggil pelayan dan mereka berdua memesan makanan, sambil menunggu mereka mengobrol dengan akrabnya. Yixing kelihatan fokus mendengar celotehan Taeyeon tentang kehidupannya di Korea, sedangkan Taeyeon asik menceritakan hari-harinya pada Yixing.

Mereka sudah lama tidak bertemu, sekitar satu tahun. Yixing masih ingat, terakhir mereka bertemu adalah saat natal tahun lalu Yixing membelikan Taeyeon sebuah pin rambut yang berbentuk bintang saat itu.

Yixing juga mengatakan kalau senyum Taeyeon secerah bintang yang selalu menyinari malamnya, dalam memori Yixing tertanam senyum malu Taeyeon pada malam itu.

“Yixing-shi? Apa yang sedang kau pikirkan?” Taeyeon menyentuh lengannya.

Yixing yang melamun segera sadar dari lamunannya, dia menatap kearah Taeyeon dan menggelengkan kepalanya. Sial, dia kepergok sedang melamun lagi oleh Taeyeon.

“Bukan apa-apa, kau terlihat cantik malam ini.” Yixing memuji dan Taeyeon tersipu malu, Taeyeon tersenyum.

“Terimakasih, kau terlihat tampan juga malam ini.” Taeyeon kembali memuji.

“Aku harus ke toilet dulu, kau tidak apa-apakan aku tinggal sebentar?” Taeyeon bertanya dia sebenarnya ingin buang air kecil dari tadi, namun dia tidak sempat.

“Ya tidak apa-apa.” Yixing mengangguk.

Taeyeonpun bangkit dari duduknya dan pergi kearah Toilet yang cukup jauh dari meja mereka.Yixing tersenyum kepada Taeyeon, matanya mengikuti sosok Taeyeon yang menghilang diantara lorong restoran lalu dia mengalihkan pandangannya namun dia terkejut saat dia melihat dua sosok yang baru masuk kedalam restoran.

****

Yifan membukakan pintu restoran untuk Hyojin, Hyojin melangkah masuk dan tersenyum melihat tingkah Yifan yang sangat sopan dan berkelas. Sebenarnya dia tidak menyangka kalau Yifan akan sejantan ini, dia mulai merasa tertarik pada Yifan sekarang.

Ladies first..” Yifan berkata dan menyeringai kepada Hyojin, Hyojin hanya tersenyum.

How charming..Thank you, gentleman.” Hyojin berkata, suara terdengar rendah dan seduktif membuat Yifan langsung bergetar.

Dia tidak pernah tahu Hyojin bisa seksi seperti ini, apalagi sekarang dia menggunakan gaun yang sedikit terbuka. Yifan bisa melihat bahu mulus Hyojin dan lekuk tubuhnya dari belakang, begitu slim dan menggoda.

Seorang pelayan datang menyambut mereka, Hyojin dan Yifan memesan sebuah meja namun tatapan Yifan dan Yixing langsung bertemu saat mereka melangkah masuk kedalam ruang makan restoran.

Yifan menyeringai saat dia melihat sosok Yixing yang kaget, bahkan Yifan tidak tahu kalau mata Yixing selebar itu. Yifan melingkarkan tangannya di pinggang Hyojin, dia mendekat dan membisikan sesuatu pada Hyojin.

“Hyojin…kau cantik sekali malam ini.” Yifan berbisik membuat Hyojin tersenyum.

“Oppa, ini tempat umum…jangan terlalu dekat.” Hyojin kembali berbisik dan sekarang bagian Yifan yang tersenyum.

Dia melirik kearah Yixing mungkin mencoba untuk memancing emosi lelaki itu, Yixing hanya mendengus. Dia tahu kalau bocah ingusan itu ingin memprovokasinya, sebaiknya Yixing mengontrol emosinya.

Yixing mengalihkan perhatiannya pada gelas wine yang ada disampingnya, dia meminum wine itu sebaiknya dia tidak meladeni game kekanak-kanakan Yifan.

“Yixing biseo-nim, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini.” Suara Yifan terdengar dari samping kanannya, Yixing menggengam gelas winenya lebih erat.

Sebenarnya apa yang bocah ini inginkan?! Kenapa juga dia harus sial sekali bertemu dengan Yifan di saat dia berkencan dengan Taeyeon, dia benar-benar sedang tidak mood untuk meladeni Yifan sekarang.

“Wu Sajang-nim.. annyeong haseyo.” Yixing menyapa, dia terkejut saat dia melihat sosok Hyojin yang berdiri disamping Yifan menatap juga kearahnya.

“Ah! Jung Hwajang-nim, Annyeong haseyo..” sekali lagi Yixing menyapa.

Annyeong haseyo.” Hyojin menyapa kembali Yixing dengan senyumnya.

“Apa kau disini sendirian?” Yifan bertanya dan Yixing menggelengkan kepalanya, itu mau kau! Yixing berpikir.

“Tidak,aku dengan seseorang.” Yixing menjawab.

“Oppa, mungkin dia juga sedang kencan..sebaiknya kita tidak menganggu.” Hyojin berbisik kepada Yifan dan Yixing menunduk malu.

“Oh.. kau sedang kencan Yixing biseo-nim? Bagus kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukan double date saja?” Yifan memberi usul, dia duduk disalah satu bangku kosong yang ada di meja Yixing.

“Tapi Oppa..” Hyojin mencoba protes namun Yifan menarik kursi yang ada disampingnya menyuruh Hyojin untuk duduk.

“Duduklah, bukankah lebih seru jika kita makan malam berempat?” Yifan bertanya dan tersenyum puas saat dia melihat ekspressi kesal terpampang di wajah Yixing.

Hyojin menghela nafasnya dan akhirnya menurut, dia duduk dengan tenang dan menatap kearah menu yang baru saja diantarkan oleh pelayan beberapa menit yang lalu. Walaupun atmosphere antara mereka canggung namun kelihatannya hanay Yifanlah yang bahagia, dia tersenyum penuh kemenangan.

“Yixing-shi maaf sudah membuatmu menunggu.” Taeyeon akhirnya kembali dari toilet.

“Oh apakah dia pa..” Sebelum Yifan bisa menamatkan kalimatnya dia terkejut saat dia melihat sosok Taeyeon didepannya.

“Yifan..” Taeyeon bergumam namun Yifan langsung melirik kearah Hyojin.

Hyojin yang sedang sibuk membaca menu terkejut juga saat dia melihat sosok Taeyeon, sedang apa karyawannya itu disini? Apakah Taeyeon mengikuti dia dan Yifan kesini?

“Kim sajang-nim..”

Annyeong haseyo, Hwajang-nim.” Taeyeon langsung membukuk menyapa direkturnya itu.

“Kim sajang-nim, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Hyojin.

“Aku disini sedang makan malam dengan Yixing-shi.” Taeyeon menjawab dengan malu.

Hyojin kelihatannya mengerti dia mengangguk, sangat canggung sekali…dia sekarang harus satu meja dengan Taeyeon dan mungkin memamerkan pacarnya yang duduk disampingnya sekarang.

Taeyeon akhirnya duduk, dia melirik kearah Yifan sekilas namun sepertinya Yifan berakting kalau dia tidak mengenal Taeyeon. Dia benar-benar mengacuhkan keberadaan Taeyeon, sedangkan Yixing merasakan ada ketegangan antara Yifan dan Taeyeon.

Seorang pelayan menghampiri meja mereka, Hyojin memesan makanannya begitu juga dengan Yifan. Setelah itu mereka kembali fokus pada satu sama lain, Yifan tersenyum kearah Hyojin dan dia menyelipkan sedikit rambut Hyojin ketelinga gadis itu.

Taeyeon yang melihat kemesraan antara Yifan dan Hyojin langsung mengepalkan tangannya, hatinya langsung terbakar oleh api cemburu. Yixing yang melihat Taeyeon mengepalkan tangannya menyentuh kepalan tangan Taeyeon, dia tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi namun dia yakin pasti ada sesuatu diantara Yifan dan Taeyeon.

Taeyeon sedikit tenang saat tangan Yixing menyentuh tanganya, dia tidak ingin membuat Hyojin dan Yixing curiga dengan tingkahnya. Yifan bilang bilang mereka kembali menjadi orang asingkan? Baiklah..Taeyeon akan menuruti permintaan Yifan dia akan berakting kalau dia tidak mengenal Yifan.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kalian berdua bertemu? Aku tidak tahu kau mengenal Yixing biseo-nim, Kim sajang-nim.” Hyojin berkata dan Taeyeon melirik kearah Hyojin.

“Oh..kami bertemu di café beberapa tahun yang lalu.” Taeyeon menjawab.

Yifan hanya bisa diam, dia tidak ingin membahas apapun dengan Taeyeon. Duduk dihadapannya saja sudah membuat Yifan tidak nyaman dan canggung, apalagi jika dia harus mengobrol dengan mantan kekasihnya itu.

“Kalau kalian? Bagaimana kalian bertemu?” sekarang bagian Yixing yang bertanya.

“Oh kami bertemu di acara amal perusahaan Kim beberapa bulan yang lalu.” Hyojin menjawab.

“Iyakan Oppa?” Hyojin melirik kearah Yifan dan Yifan mengangguk.

Taeyeon melirik kearah Yifan, Hyojin memanggilnya Oppa?! Oh..jadi kedua orang ini sudah dekat ternyata. Itu membuat Taeyeon semakin kesal, dia tidak pernah mau melihat lagi Yifan apalagi harus berurusan dengan lelaki yang duduk didepannya.

Pesanan mereka akhirnya datang, setidaknya dengan adanya makanan ini mereka tidak akan secanggung tadi. Mereka bisa fokus memakan pesanan mereka, daripada berdiam saja seperti tadi.

Yifan memakan pesanannya, namun matanya terus melirik kearah Hyojin yang sepertinya tidak tahu kalau Yifan selalu memandanginya. Gadis itu acuh dan terus memakan makanannya, sedang Taeyeon dan Yixing menatap kearah Yifan.

“Kau suka makanannya?” Yifan bertanya dan tersenyum kearah Hyojin.

Hati Taeyeon langsung berdenyut sakit, dia merindukan sekali senyum manis itu. Taeyeon merasa bermimpi saat dia melihat senyum Yifan, rasanya dia kembali kemasa lalu saat dia melihat Yifan tersenyum.

“Ya, makanan disini lumayan.” Hyojin menjawab, Yifan menyeka sedikit noda kecap yang ada disudut bibir Hyojin dengan jarinya lalu dia menjilat jarinya itu membuat Hyojin terkejut.

“Hm..manis, sama sepertimu.” Yifan berkata.

Taeyeon sudah muak, dia langsung berdiri dan menyimpan serbet makan yang ada dipangkuannya dengan kasar dia mengambil tasnya lalu menunduk kearah Hyojin yang sudah menatap kearahnya kaget.

“Maaf Jung Hwajang-nim, saya ada urusan…jadi saya berangkat duluan.” Taeyeon berkata lalu dia menunduk kearah Yixing meminta maaf juga dan akhirnya dia pergi.

“Taeyeon-shi!” Yixing memanggil.

Yifan menggengam erat sendok nya, dia menahan emosinya dan mencoba untuk tenang. Dia tidak bisa membuat Hyojin curiga, tingkah Taeyeon sudah cukup mencurigakan dia tidak ingin menambah kecurigaan Hyojin.

“Kenapa dia? Tidak sopan sekali…” Hyojin meledek.

“Hyojin-ah, sebaiknya kita makan saja ok? Sepertinya dia memiliki masalah dengan Yixing.” Yifan mengalihkan perhatian Hyojin dan Hyojin mengangguk.

Hyojin tidak akan membiarkan Taeyeon menghancurkan kencannya dengan Yifan, lagipula dia tidak terlalu menyukai Taeyeon dia sedikit senang saat gadis itu berdiri dan pergi meninggalkan dia dan Yifan berdua.

******

Taeyeon berlari menuju mobilnya namun Yixing langsung menarik lengan Taeyeon dengan kasar membuat wanita itu berbalik kearahnya, Taeyeon terkejut saat dia melihat ekspressi marah Yixing.

“Maaf..aku harus pergi.” Taeyeon berkata dia mendorong dada Yixing agar menjauh darinya.

“Kemana? Apa kau mencoba kabur? Sebenarnya kau kenapa?!” Yixing membentak membuat Taeyeon berhenti mendorong dada Yixing.

Airmata Taeyeon langsung turun membasahi pipi gadis itu, dia meremas kemeja Yixing dan Yixing menarik Taeyeon dalam pelukannya. Taeyeon akhirnya menangis, Yixing tidak mengerti kenapa Taeyeon yang selalu ceria dan ramah tiba-tiba saja menangis seperti ini? Apakah ada sesuatu diantara Yifan dan Taeyeon?

Yifan yang menyusul dibelakang menatap kearah Yixing dan Taeyeon yang berpelukan, dia hanya menatap lurus kearah kedua orang itu. Yifan menghela nafasnya, dia tenang karena Taeyeon tidak sendirian setidaknya ada Yixing disamping wanita itu.

Yifan berbalik masuk kedalam restoran, namun entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah menjauh. Hatinya bergemuruh namun dia mencoba untuk menahannya, walaupun nafasnya berat menahan sakit dia mencoba untuk tersenyum saat dia melihat Hyojin melirik kearahnya.

Dia harus bersikap senormal mungkin, menunjukan kalau dia bahagia bersama Hyojin. Jika tidak maka semuanya akan hancur, dia akan kehilangan kepercayaan Hyojin dan mungkin yang lebih buruk Hyojin memutuskan untuk menjauh darinya lagi seperti sebelumnya.

Yifan kembali duduk dikursinya dan Hyojin kelihatannya tidak bahagia, dia memainkan makanannya dan menhela nafasnya. Yifan menyentuh tangan Hyojin dan Hyojin melirik kearah Yifan, Yifan bisa membaca emosi Hyojin..wanita itu benar-benar tidak senang sekarang.

“Aku mau pulang…” Hyojin berkata.

“Kenapa? Makananmu belum habis.” Yifan mencoba membujuk.

“Aku tidak lapar.” Hyojin menjawab dengan singkat, suaranya terdengar marah dan Yifan tahu dia dalam masalah yang besar sekarang.

“Apa kau ingin pergi kerestoran lain? Ayolah..ini kencan pertama kita.” Yifan membujuk lagi dan dia mencoba memamerkan senyumnya pada Hyojin.

Mungkin jika dia tersenyum seperti itu Hyojin akan luluh, setidaknya senyumnya selalu berhasil menggoda beberapa wanita lainnya. Namun sepertinya Hyojin berbeda, dia mengendus dan melemparkan serbet makannya lalu berdiri.

“Aku tidak punya waktu untuk drama, jika kau menyukai Taeyeon kejar dia.” Ucap Hyojin, dia mengambil tasnya dan berjalan keluar.

Yifan kebingungan, dia langsung melemparkan beberapa ratus ribu won ke meja untuk membayar makanan yang mereka pesan lalu mengejar Hyojin. Yifan menarik lengan Hyojin saat mereka sampai didepan restoran, namun Hyojin dengan kasarnya melepaskan tangan Yifan dari lengannya, dia kelihatan sangat marah.

“Hyojin! Dengarkan aku..” Yifan mencoba menjelaskan.

“Untuk apa?! Kau jelas-jelas menyukai Taeyeon iyakan?! Lalu kenapa kau mendekatiku? Kau hanya mempermainkanku?” Hyojin membentak lalu dia berbalik untuk pergi.

“Hyojin! Aku tidak pernah mempermainkan mu!” Yifan membentak cukup keras membuat Hyojin ketakutan.

Mereka diam sesaat menatap kearah satu sama lain, Hyojin masih shock dengan bentakan Yifan sedangkan Yifan masih marah dengan tingkah Hyojin. Yifan menghela nafasnya dan dia menarik Hyojin kedalam pelukannya, dia mengelus rambut panjang gadis itu.

“ Bisakah kita tidak bertengkar sekarang? Jika kau ingin pulang, aku akan mengantarkanmu.” Ucap Yifan, dia menarik lengan Hyojin menuju mobilnya dan dia membiarkan gadis itu duduk dikursi depan mobilnya.

Dia duduk dikursi pengemudi melirik kearah Hyojin yang masih diam, Yifan menghidupkan mobilnya dan menyetir menuju rumah Hyojin. Didalam mobil terasa dingin sekali, padahal Yifan tidak menghidupkan AC mobilnya, mungkin ini hanya pengaruh dari kondisi perasaannya..karena dia merasa dingin.

Beberapa menit berlalu Hyojin masih marah, dia bahkan tidak melirik kearah Yifan dan fokus menatap kearah jendela pintu mobil mengacuhkan Yifan yang melirik kearahya sesekali.

“Kau masih marah?” Yifan bertanya, dia menghentikan mobil didepan sebuah taman kota.

“Kelihatannya?” Hyojin membalas dengan sinis, Yifan benar-benar harus sabar menghadapi gadis yang satu ini.

Satu langkah salah dia akan benar-benar kehilangan kesempatannya, Yifan mematikan mesin mobil membuat Hyojin melirik kearahnya dengan aneh.

“Ini bukan rumahku, kenapa kau menghentikan mobil disini?” Hyojin bertanya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, turunlah.” Yifan menyuruh, dia turun dari mobilnya namun Hyojin tidak mengikutinya.

Wanita itu memutuskan untuk keras kepala dan melipat tangannya, inilah Jung Hyojin yang sebenarnya. Dia bukanlah wanita yang halus dan penuh pengertian, dia egois dan angkuh dia tidak akan memberi kesempatan sebelum dia berpikir kalau orang yang akan dia berikan kesempatan cukup berharga untuknya.

Yifan tahu kalau Hyojin lebih muda darinya, dia harus lebih pemaaf dan pengertian. Dia akhirnya membuang semua keangkuhannya dan membukakan pintu mobil untuk Hyojin, Hyojin tetap diam tak melirik kearah Yifan yang sudah membuka pintu.

“Hyojin-ah…jangan merajuk seperti ini, kau terlihat cantik saat kau merajuk jadi aku akan menggodamu jika kau tidak berhenti merajuk.” Yifan berkata dia berharap perkataannya itu dapat meluluhkan Hyojin.

“Apa yang ingin kau katakan? Aku bilang aku ingin pulangkan.” Hyojin menjawab ketus.

“Kau ingin penjelasan antara aku dan Taeyeonkan? Kau penasaran kenapa kami berdua sellau bertingkah aneh iyakan?” Yifan berkata dan Hyojin melirik kearah Yifan.

“Kalau begitu jelaskan.” Hyojin memerintah dan Yifan mencapai tangan Hyojin.

“Aku tidak akan menjelaskan jika ka uterus cemberut seperti itu, kau harus tersenyum dulu baru akan aku jelaskan.” Pinta Yifan membuat Hyojin megerang.

Hyojin menatap kearah Yifan dan dia mencoba menunjukan senyumnya, meskipun tipis Yifan bisa melihat sudut bibir wanita itu terangkat.

“Aku ingin senyum yang lebar Hyojin-ah.” Yifan menggoda dan Hyojin menghela nafasnya lalu tersenyum lebar kearah Yifan.

Yifan tidak bisa menahan senyum nya sendiri saat dia melihat betapa canggung nya Hyojin saat dia mencoba untuk kelihatan ceria, seperinya wanita ini bukanlah tipe wanita yang lugu dan periang.

“Baiklah cukup, sekarang turunlah dari mobil.” Yifan mengulurkan tangannya kepada Hyojin dan Hyojin menyambut tangan Yifan lalu turun dari mobil.

Mereka berpengan tangan sampai akhirnya mereka berdua menemukan bangku kosong ditaman, mereka berdua duduk akhirnya. Jantung Hyojin berdetak snagat cepat saat dia sadar kalau ditaman kota sepi sekali, sedangkan Yifan kelihatan santai.

“Aku tidak tahu harus mulai darimana..” Yifan memulai.

“Bagaimana dengan menjelaskan padaku kenapa Taeyeon tiba-tiba saja lari seperti tadi?” Hyojin bertanya.

“Dia cemburu.” Yifan menjawab, mendengar jawaban itu Hyojin meremas ujung baju dress nya dengan erat.

Cemburu? Taeyeon cemburu pada dia dan Yifan? Bukankah seharusnya yang cemburu adalah dia? Hyojin mungkin pacar Yifan,namun Yifan terlihat lebih khawatir pada Taeyeon dibandingkan dirinya.

Yifan bahkan tidak menyadari kegundahan hatinya sekarang, dia begitu buta pada ekspressi dan detail yang Hyojin berikan. Dia tidak pernah mencoba memahami perkataannya, ataupun bahasa tubuhnya sepertinya satu-satunya yang dia lihat hanyalah Taeyeon.

“Lucu sekali…Taeyeon, dia wanita yang lucu.” Hyojin mendengus meremehkan, sangat tipikal bagi Jung Hyojin untuk menunjukan ekspressi itu.

“Apa kau meledeknya sekarang? Aku tidak peduli, dia hanya mantan kekasihku.” Yifan mengungkapkan, Hyojin yang kaget melirik kearahnya mata coklatnya terlihat bulat sempurna.

“Mantan?”

“Ya, kami bertemu beberapa tahun yang lalu.”

Hyojin menunduk, apa-apaan ini?! Yifan adalah mantan kekasih Taeyeon?! Pantas saja mereka selalu terlihat canggung dengan satu sama lain, Yifan dan Taeyeon pasti sennag sekali sudah mebuatnya kebingungan.

Hyojin bisa merasakan amarahnya naik kepermukaan, dia ingin sekali memukul Yifan atau Taeyeon. Mereka pikir Hyojin mainan? Sehingga mereka bisa seenaknya menyembunyikan sesuatu yang besar ini.

“Hyojin-ah aku harap kau mengerti, tapi aku berjanji..aku sudah melupakan Taeyeon, dia hanya masa lalu.” Yifan menyentuh tangan Hyojin, Hyojin menutup matanya berharap kalau semua ini mimpi yang buruk.

Namun remasan tangan Yifan membuat dia sadar kalau semua ini bukan mimpi, rasa sakit hatinya terasa begitu nyata menyayatnya. Haruskah dia mengalah? Membuang semua keangkuhannya dan membiarkan lelaki yang duduk disampingnya mencintainya? Hyojin sekarang berperang dengan pikiran dan batinnya.

“Kenapa kau tidak mengatakan semua ini dari awal? Apakah kau sengaja duduk dengan Yixing biseo-nim agar kau bisa bertemu dengan Taeyeon?” Tanya Hyojin matanya meniliti setiap kebohongan yang mungkin akan Yifan katakan.

“Aku sama sekali tidak tahu kalau Taeyeon mengencani Yixing, aku merasa bodoh sekarang..maafkan aku Hyojin.” Yifan mengungkapkan, dia menunduk penuh malu.

Jika saja dia tidak suka pamer dan sombong, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin mereka akan berkencan dengan tenang dan Hyojin akan semakin menyukainya, dia bersumpah jika dia punya mesin waktu dia ingin kembali kemasa lalu.

Hyojin yang melihat ekspressi Yifan merasa kasihan, bagaimanapun apa yang dikatan Yifan benar. Bagaimana Yifan tahu kalau sekertarisnya mengencani Taeyeon? Yifan bukanlah paranormal yang bisa membaca pikiran.

“Baiklah aku maafkan.” Ucap Hyojin, mungkin sebaiknya dia memberikan satu kesempatan untuk Yifan.

“Terimakasih Hyojin, maaf aku tidak mengatakan yang sebenarnya padamu..aku hanya takut.” Yifan berkata dia meremas lagi lengan Hyojin.

“Aku takut jika aku mengatakan yang sebenarnya kau akan membenciku dan kabur dariku.” Yifan berkata, Hyojin tidak pernah melihat ekspressi yang begitu sedih dari wajah seorang lelaki.

Apakah seorang Wu Yifan benar-benar mencintainya sebesar itu? Dia bahkan tidak takut kalau Hyojin akan meledeknya dan mengatakan kalau dia pecundang. Yifan sepertinya mempercayai Hyojin, Hyojin yakin akan itu dia sedikit senang karena sepertinya Yifan mulai terbuka padanya.

Hyojin mendekat dan dia memeluk Yifan, Yifan sedikit terkejut namun dia memeluk kembali Hyojin. Hyojin tersenyum saat dia merasakan tangan besar Yifan menyentuh punggung nya, Hyojin memeluk erat Yifan dan Yifan tersenyum.

“Kau tidak usah takut, selama kau mengatakan yang sebenarnya..aku tidak akan kabur.” Hyojin berkata.

Yifan mengangguk, dia melepaskan pelukan Hyojin lalu menangkup wajah wanita itu dengan lembut. Mata coklat Hyojin menatap lurus kearahnya, Yifan bisa melihat bayangannya ada di mata Hyojin.

Hyojin tersenyum, namun senyumnya yang sekarang begitu berbeda dengan senyum yang dia tunjukan saat di mobil. Jantung Yifan berdetak dengan kencang saat dia melihat senyum Hyojin, begitu manis dan bebas.

Yifan bahkan iri dengan senyuman itu, bagaimana mungkin seseorang bisa tersenyum lepas seperti itu. Yifan membalas senyuman Hyojin, walaupun senyumanya tidak seindah senyuman Hyojin setidaknya dia mencoba.

Yifan mendekat dan dia mengecup bibir Hyojin, dia bisa merasakan manisnya lipgloss Hyojin di bibirnya namun dia tidak peduli. Yifan menarik Hyojin lebih dekat pada tubuhnya, tangan Hyojin menyentuh pinggangnya dan dia bisa merasakan Hyojin meremas bajunya dengan gugup.

Bagaimana seorang wanita berumur dua puluh empat tahun bertingkah seperti ini? Selalu gugup dan canggung saat mereka mencoba untuk lebih intim, Yifan tersenyum dalam ciumannya Jung Hyojin…kau benar-benar lucu sekali.

*****

  Yifan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Hyojin, dia mengantarkan Hyojin sampai pintu depan.

“Aku rasa ini perpisahan kita.” Hyojin berkata.

“Selamat malam, tidur yang nyenyak.” Lanjut Hyojin.

“Iya, kau juga..” Yifan menjawab, Hyojin berbalik dan masuk kedalam rumahnya.

Yifan tersenyum sebenarnya entah kenapa dia sedikit kecewa saat dia melihat sosok Hyojin masuk kerumah, dia sepertinya merasa sepi jika wanita itu tidak disampingnya.

“Oppa!” tiba-tiba saja Yifan mendengar suara Hyojin dia berbalik.

Yifan terkejut saat tiba-tiba Hyojin memeluknya lagi, dasar gadis konyol.. Yifan berpikir namun dia senang karena Hyojin memeluknya. Hyojin melepaskan pelukannya, dia mengecup bibir Yifan sekilas.

Saat Hyojin hendak melepaskan ciumannya, Yifan malah menarik tekuknya membuat dia mencium Yifan lebih lama.

   Yongguk yang berdiri diambang pintu meremas gagang pintu dengan kuat, dia datang kedepan rumah karena dia mendengar suara mesin mobil Yifan dan suara langkah Hyojin. Dia tidak menyangka kalau dia akan menyaksikan pemandangan yang tidak pantas didepannya, Yifan menyeringai saat tatapan dia dan Yongguk bertemu.

Yongguk merapatkan rahangnya mencoba menahan emosi, Yifan menarik Hyojin lebih dekat kearahnya membuat Hyojin mengerang nikmat saat Yifan mengigit lembut bibir bawah gadis itu.

Yongguk melirik kearah lain dan pergi, dia sangat marah. Dia berharap kalau adegan yang tadi dia lihat bisa hilang dari pikirannya, dia benci mengingat seringai jahat Yifan dia tahu lelaki itu merencanakan sesuatu.

To Be Continue..

Jangan lupa komennya ya😀

Ps:

Gimana Hyojin dan Yifan moment nya??

yang suka kasih komennya? kekeke😀

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

29 thoughts on “Tale Of Two Sibling’s [Episode 6]

    1. eh? namanya juga kan twist harus ada dong yang jadi yang jahatnya gak mungkinlah semua karakter baik hati walaupun ganggu jangan salah keberadaan Taeyeon itu penting🙂

  1. Waahhh chingu, akhirnya part 6, seneng bgt bacanya, suka sama alurnya, smoga yifan smpai nikahhhhh sm hyojin, hihihi jgn dekat karna perusahaan aja, ditunggu kelanjutannya chingu,,,, suka bgt sm ff km,

  2. jadi luhan suka hyojin??
    hyojin diperebutkan 3 cowok ganteng, dan yixing yang suka taeyeon, aku baru tau >..<
    hyojin cemburu ya sama taeyeon?? hehe, kris sepertinya menaruh hati sama hyojin, tapi keinget motivasi dia ngedeketin hyojin pertama hanya untunk perusahaan, berharap hyojin gag akan marah kalau sampai tahu, pokoknya kris kudu sama hyojin, taeyeon sama orang lain aja, yixing atau yongguk mungkin??
    hehe
    moment kai sama hyojung gag ada, -___-
    padahal nunggun mereka jadian, hehe

    rada sedih pas yifan bilang kapan dia bisa foto keluarga kayak keluarganya hyojin, mungkin bisa kalau dia mau jujur dan merelakan hatinya buat hyojin #sok romantis

    thor,mau nanya, ibunya yifan masih hidup gag sih?? kai disini beneran anak yatim piatu? gag adakah cerita tentang keluarganya? next episode kutunggu thor, semoga bisa bikin lebih gereget😀
    maaf commentnya panjang kayak kereta api
    *bow bareng baekhyun

    1. oh kalau soal mama Yifan bakal di ceritain tapi mungkin di chapter2 berikutnya..kalau soal Kai sih next chap kayak bakal di ceritain deh pkoknya tunggu ja next chpa nya yah🙂

  3. Akhirnya yang ditunggu2 udah dipostin….

    Suka banget moment nya…
    Ni jadi cinta segi empat yah antra hyojin,yifan,yongguk,luhan….makin penasaran aja ceritanya….ditunggu next part nya….chayo thor jangan lama2 postnya hehehehe

  4. Sampai panas dingin bacanya, aku penasaran sama Hyojung bakalan di rebutin sama siapa aja. Apa Yixing juga tau kalau Luhan bukan anak nya Zhoumi……..

  5. Penasaran banget😀 tapi kok zelo gak muncul terus ya? Apa mungkin nanti zelo bakal suka sama hyojung? Trus sehun juga gak muncul lagi.
    Konfliknya rumit,aku suka sama jalan ceritanya(y) aku tunggu hyojung dan zhengren moment ya !😀
    Aku tunggu next chapnya,harus lebih seru ! Jangan lama2 ya🙂

  6. oh kalau zelo kayaknya dia bakal munculnya di chapter2 yang berikutnya deh soalnya sebenarnya dia cumn peran pendukung aja makanya aku gak masukin didaftar cast juga kalau di chapter yang sekarang2

  7. akhirnya aku bisa baca ep.6 ini..
    oh? apa luhan suka sama hyojin thor?
    ceritanya makin seru thor..
    aku penasaran konflik antara luhan sama yifan thor..
    di tunggu cerita selanjutnya thor…

  8. Ya ampun kisah cinta yang rumit hyojin ama yifan tapi yongguk suka ama hyojin eeeh ada lgi luhan ngongol demen ama hyojin, trus taeyeon ngebet bner pgen ama yifan lagi dan banyak lagi yang bkin pusing. . .belum lgi tuh hyojung ama zongren. . .apakah yang terjadi??? Saranghaeyeo eonni author :-*

  9. Baca dulu…
    Baguuuus baguuus :))
    Yaak Yifan cemburu yaaak :pp
    Makin lama makin kasian sama si Yongguknya.
    Kak, tuh gifnya bikin geregeten :pp

  10. Luhan X Kris X yongguk –> hyojin .. aduh jadi hyojin enak banget yah direbutin cowok” keren tp jadi bingung bakalan gimana nantinya.. tp kayanya Kris yang bakal dipilih tp engga tau juga hehe..
    makin rumit deh😀

  11. thor kenapa g’ ada JUNGREN moment? Padahal yg paling aku suka itu.
    yaudah gpp,g’ tau hrs coment apa.
    Pokoknya AUTHOR DAEBAK!!!

  12. author chapter ini kenapa bikin saya gemes ih. ini ada lagi yang demen sama hyojin, makin ribetlah ceritanya. taeyon gak bisa banget apa lupain yi fan? padahal yang naksir dia kece2 duh. menurut aku karakter hyojin labil, kadang dingin tapi kadang hangat kayak dia pas nolongin luhan. tapi ceritanya daebaklah bikin penasaran. sampe tugas2 terbengkalai saking penasarannya baca ck-_- aku mau lanjut baca chapter selanjutnya ya thor hihi

  13. ahahaha yongguk cemburu, duh hyojin cepetan luluh deh gue kadang sebel liatin dia jutek labil mulu :c hahaha Kasian taeyeonnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s