Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 5]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Special cameo: Choi Siwon [Super junior]

Cast :

  • Jung Hyojin                              Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng               [Kris EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                  [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                        [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                   [Luhan EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG – NC 17

Chapter:

1 , 2 , 3 , 4

5

Blossom

[Perusahaan Jung, Korea selatan – 10:00 am]

“Bagaimana kalau kita membuat iklan di tv untuk clothing line kita?” Tanya Taeyeon, dia sedang mendiskusikan proyek terbaru perusahaan textile Jung dengan teman rekan kerjanya.

Rambut coklatnya sedikit acak-acakan karena dia sudah semalaman tidak tidur, kemarin dia harus membereskan laporan tentang biaya untuk proyek terbaru mereka. Taeyeon sangat senang saat dia mendengar kalau Hyojin, direktur nya menyetujui ide barunya.

“Itu ide yang bagus Taeyeon-Shi, tapi bagaimana cara kita agar kita mendapatkan anggaran lebih? Anda tahukan berapa biaya untuk melakukan iklan tv?” Tanya Yuri, rekan kerja setimnya.

“Kau benar Yuri-shi, tapi aku rasa direktur Jung tidak akan keberatan untuk menambah budget proyek kita.” Taeyeon berpendapat.

“Dia tidak akan keberatan jika proyek kita menjanjikan, lihat saja sekarang Taeyeon-shi proyek kita bahkan belum merekrut perancang busana satupun.” Sunny temannya yang lain bergabung dalam percakapan.

“Bagaimana kalau kalian berdua mencari perancang busana dan aku akan membujuk Jung Hwajang-nim?” Taeyeon memberi usul.

Yuri dan Sunny mengangguk setuju, mereka lebih baik kelelahan mencari perancang busana daripada harus berhadapan dengan direktur mereka yang terkenal tegas dan suka mengkritik.

“Bagus kalau begitu, aku mengandalkan kalian!” Taeyeon berkata, dia mengambil beberapa folder yang ada dimejanya dan berjalan menuju lift.

Entah mimpi apa Taeyeon tadi malam namun dia merasa sial sekali, ini masih pagi dan dia harus berhadapan dengan direktur sekaligus saingannya. Taeyeon masih ingat adegan dimana Yifan memeluk mesra gadis itu, dan ingatan itu selalu berhasil membuatnya marah dan sedih sekaligus.

Pintu lift terbuka dan dia menghela nafasnya bersiap menghadapi direkturnya, dia bisa melihat sekertaris Im sedang duduk di mejanya namun anehnya sekertaris yang biasanya terlihat cantik dan ceria itu hari ini terlihat murung dan sedikit pucat.

Annyeoung haseyo Im biseo-nim.” Taeyeon menyapa dan Yoona langsung mendongak mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang sedang dia baca.

“Ah..Taeyeon-shi, apa anda butuh sesuatu?” Tanya Yoona dan Taeyeon mengangguk.

Nde, aku ingin bertemu dengan Hwajang-nim jika dia ada.” Taeyeon mengungkapkan dan Yoona sepertinya setuju.

“Sebentar, aku akan menghubungi beliau.” Yoona menjawab, dia mengambil telepon yang ada disampingnya untuk menghubungi Hyojin.

“Hwajang-nim, Taeyeon-shi ingin bertemu anda.” Yoona mengungkapkan, Taeyeon bisa melihat Yoona mengangguk dan menutup teleponnya.

“Masuk saja Hwajang-nim sudah menunggu didalam.” Yoona memerintah dan Taeyeon menunduk sekilas kearah Yoona untuk berterimakasih.

Taeyeon berdiri sebentar didepan ruangan Hyojin, dia merapikan penampilannya sebelum dia mengetuk pintu kantor direkturnya itu. Setelah mendengar perintah untuk masuk, Taeyeon membuka pintu kantor Hyojin dan dia bisa melihat sosok direkturnya sedang duduk di kursinya menatap kearahnya.

“Ah Taeyeon sajang-nim, ada apa anda kesini?” Hyojin bertanya, dia melipatkan tangannya di meja.

“Hwajang-nim, saya hanya ingin membahas sesuatu.” Taeyeon mengungkapkan dia menutup pintu ruangan Hyojin dan masuk.

“Duduklah!” Hyojin memerintah, Taeyeon langsung duduk dikursi yang sudah ada didepan meja Hyojin.

Taeyeon memberikan Hyojin folder yang dia bawa kepada Hyojin, jantungnya berdetak cepat dia sangat gugup bagaimana jika Hyojin tidak setuju untuk menambah budget untuk proyeknya? Bisa kacau jadinya jika itu terjadi.

Hyojin membuka folder yang Taeyeon berikan, dia membuka beberapa lembar folder itu, membacanya sekilas dan akhirnya menutupnya. Taeyeon menelan ludah, sial! Hyojin pasti tidak setuju dengan usulannya.

Hyojin menatap kearah Taeyeon sejenak, Taeyeon merasa sangat kecil sekali dibawah tatapan Hyojin dia harap dia bisa menghilang dari hadapan wanita yang duduk didepannya.

“Berapa banyak?” Tanya Hyojin.

“Eh? Maksud anda?”

“Berapa banyak uang yang kau butuhkan? Apa proyekmu sudah berjalan lancar?” Tanya Hyojin.

Nde hwajang-nim, kami sedang mencari perancang busana yang cocok untuk clothing line yang baru, kami juga berencana untuk membuat iklan.” Taeyeon menjelaskan.

“Bukankah di proposal yang kemarin kau sudah menuliskan biaya untuk iklan?” Tanya Hyojin sedikit menaikkan halisnya curiga.

“Benar Hwajang-nim, namun biaya untuk iklan yang kami tuliskan kemarin hanya untuk majalah dan Koran karena sebelumnya kami belum pernah membuat iklan untuk Tv.” Taeyeon mengungkapkan.

“Oh jadi kau ingin membuat terobosan baru?”

Taeyeon mengangguk, dia cukup tenang saat dia melihat Hyojin sepertinya mengerti jalan pikirannya.

“Baiklah, aku akan menyutujui pengajuan biaya mu tapi dengan satu syarat..” Hyojin berkata.

Taeyeon menatap resah kearah Hyojin, entah syarat apa yang akan diajukan oleh Hyojin namun Taeyeon sudah gugup.

“Aku harus tahu segala proses nya dan kau harus melaporkan setiap perkembangan proyek barumu padaku, bagaimana Taeyeon sajang-nim?” Hyojin mengangkat halisnya.

“Baiklah, saya setuju kenapa tidak?” Taeyeon menyetujui dan Hyojin mengangguk.

“Bagus kalau begitu, berapa banyak yang kau inginkan? Sepuluh juta? Atau mungkin lebih?”Tanya Hyojin,  dia menandatangi proposal yang Taeyeon bawa.

“Aku kira sepuluh juta sudah cukup, kami masih mempunyai sisa budget yang kemarin Hwajang-nim.” Taeyeon membalas, dia segera mengambil proposalnya saat Hyojin memberikan folder taeyeon pada pemiliknya.

“Laporkan perkembangan iklan nya padaku mulai besok,aku tidak membayarmu untuk bermalas-malasan  Taeyeon sajang-nim.” Hyojin berkata.

“Terimakasih Hwajang-nim.” Taeyeon menunduk berterimakasih.

“Ya, kau boleh pergi.” Hyojin memerintah, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Taeyeon hendak membalas, namun ingatan dia tentang Yifan yang memeluk Hyojin selalu membuat dia penasaran. Dia ingin sekali bertanya langsung pada gadis itu, dia ingin tahu jelas sebenarnya apa hubungan Yifan dengan Hyojin selama ini.

“Err anu hwajang-nim..”Taeyeon memulai memberanikan diri untuk menatap kearah Hyojin membuat Hyojin menatap kembali kearahnya.

“Aku hanya ingin bertanya, apakah anda mengenal Wu Yifan?” Tanya Taeyeon, dia menatap kearah Hyojin penuh harap.

“Ya, aku tahu dia memang kenapa?” Hyojin menjawab.

“Sebenarnya aku hanya penasaran, apakah kalian dekat?” Tanya Taeyeon dan Hyojin langsung menggelengkan kepalanya.

“Taeyeon-shi, ini masih jam kerja jika kau ingin membahas itu buatlah janji denganku diluar jam kerja.” Hyojin menjawab dengan dingin, bahkan sepertinya dia tidak peduli karena matanya fokus pada dokumen yang ada dihadapannya.

“Maaf Hwajang-nim, aku akan pergi..sekali lagi terimakasih.” Taeyeon malu, dia langsung keluar dari ruangan Hyojin.

Saat dia sudah keluar dia berterimakasih pada sekertaris Im dan langsung turun menuju lobby dia harus mengurus beberapa proyek lainnya, dia sedikit lega karena Hyojin menyetujui pengajuannya. Namun ada satu hal yang menganjal di hatinya, dia belum tahu jelas apa hubungan Hyojin dengan Yifan.

Pintu lift sudah terbuka dan Taeyeon langsung keluar dia tidak sadar kalau seseorang berdiri didepannya sehingga dia tidak sengaja menabrak lelaki itu, Taeyeon tentu saja langsung jatuh saat dia bertabrakan dengan lelaki kekar itu dan berkas-berkas yang ada di foldernya langsung berceceran jatuh.

“Ya tuhan! Maafkan aku..aku sedikit melamun.” Lelaki yang ada dihadapan Taeyeon berkata,  lelaki itu langsung membungkuk membantu Taeyeon untuk memungut berkas-berkas nya yang berceceran.

Saat Taeyeon mengambil berkas-berkas itu tidak sengaja tangan lelaki itu menyentuh tangannya, Taeyeon terkejut dan langsung menarik tangannya dia mendongak dan menatap kearah lelaki yang ada dihadapannya itu.

“Maaf, aku tidak sengaja.” Lelaki itu bergumam.

“Tidak apa-apa, aku harus pergi.” Taeyeon berkata, lelaki itu tersenyum dan mengangguk.

Taeyeon langsung pergi, dia malu sekali bahkan dia tidak berkata apapun pada lelaki itu. Dia keluar dari gedung kantor dan langsung naik kemobilnya, dia bisa merasakan pipinya memanas pipinya sekarang pasti sangat merah.

******

“Im Biseo-nim, kau datang untuk melaporkan tentang Wu Yifan?” Aku bertanya saat aku melihat sosok sekertaris Im sudah berdiri didepanku.

Nde, Hyojin-ah.” Sekertaris Im menjawab, dia menatap khawatir kepadaku membuatku penasaran.

Apakah Wu Yifan ini bukanlah orang yang baik-baik? Aku bertanya pada diriku sendiri. Lalu kenapa juga sekertaris Im memasang ekspressi khawatir? Apakah dia sedang bimbang? Aku tidak tahu…banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalaku.

“Hyojin-ah apapun yang terjadi, sebaiknya kau tidak terlibat dengan lelaki ini.” Sekertaris Im memberi peringatan, aku sedikit bingung.

“Memang apa yang kau temukan tentang lelaki ini? Sampai-sampai kau melarangku seperti itu Im biseo-nim.” Aku berkata dan Sekertaris Im membuka folder yang dia bawa.

“Dia mungkin seorang CEO sekarang, tapi dulu dia seorang penjudi dan berandalan.” Sekertaris Im menjelaskan, dia mengambil beberapa foto yang ada di folder dan menunjukannya padaku.

“Dia sudah masuk penjara beberapa kali karena tuduhan penipuan dan perjudian, aku rasa lelaki seperti dia berbahaya Hyojin-ah.” Sekertaris Im berkata, aku mengambil beberapa berkas yang ada di folder itu dan membacanya.

Berkas itu ternyata berkas tentang profile Wu yifan, aku bisa melihat umur, tinggi dan berat badan nya. Foto yang ada di tanganku berbeda dengan Wu Yifan yang aku tahu, Wu yifan dalam foto yang Sekertaris Im bawa memiliki rambut hitam dan kulitnya kecoklatan namun fitur wajahnya sama.

Mungkin lelaki ini sudah berubah, mungkin semua ini hanyalah masa lalunya. Semua orang punya masa lalukan? Lalu kenapa aku merasa khawatir saat aku melihat semua data tentang Yifan? Apakah aku takut untuk menemukan alasan agar aku tidak bisa lagi dekat dengan dia?

Aku langsung menghapus pikiran itu, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu Jung Hyojin?1 cukup, kau mulai luluh pada lelaki itu.

Aku menutup folder yang sekertaris Im bawa, aku tidak bisa mengatakan apapun pada sekertaris Im. Semua informasi tentang Yifan cukup membuatku terkejut, aku rasa aku harus berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan apapun.

“Terimakasih, kau boleh pergi sekarang.” Aku berkata, sekertaris Im sepertinya hendak menasehatiku lagi namun aku membalikan kursiku sehingga aku membelakanginya.

“Baiklah, ingat Hyojin-ah kau bukanlah Jung Hyojin yang dulu…kau adalah direktur perusahaan ini sekarang. Berhati-hatilah, aku yakin lelaki ini berbahaya untukmu.” Ucap Sekertaris Im.

Taklama kemudian aku bisa mendengar langkah kaki Sekertaris Im dan suara pintu yang ditutup, aku menghela nafasku. Aku menatap kosong kearah jendela kantor, banyak sekali orang di kota seoul ini lalu kenapa pikiranku terfokus pada satu orang.

“Wu Yifan..” Aku bergumam, namanya entah mengapa terasa familiar untukku.

Tok..Tok…Tok..

Suara ketukan pintu membuatku kaget, aku berbalik dan aku menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk. Sosok Yongguk Oppa langsung muncul dihadapanku, aku tersenyum padanya dan dia berjalan menghampiriku.

“Wah…Hyojin-ah, kantormu bagus sekali.” Puji Yongguk Oppa, dia selalu ceria di pagi hari beda sekali denganku yang benci pagi hari.

“Terimakasih, apakah kau sudah mengantar Hyojung sekolah?” Aku bertanya dan Yongguk mengangguk.

“Ya, kau tenang saja..semuanya beres, soal Hyojung aku akan mengatasinya sebaiknya kau fokus bekerja.” Yongguk Oppa menjawab dan aku mengangguk.

“Terimakasih Oppa.”

“Oh iya, kau memanggilku untuk apa? Kau butuh sesuatu lagi?” Yongguk Oppa bertanya, aku jadi ingat tadi pagi-pagi sekali aku menyuruhnya untuk datang ke kantor.

“Oh soal itu..aku hanya ingin kau membantuku.” Aku berkata, aku membuka folder yang tadi sekertaris Im bawa.

Kuambil foto Yifan yang ada didalamnya, namun aku mengambil foto yang terbaru dimana dia sudah berambut pirang.

“Ini, bisakah kau selidiki tentang lelaki ini?” aku bertanya dan Yongguk Oppa mengambil foto Yifan.

Dia memperhatikan wajah lelaki itu sesaat dan akhirnya mengangguk.

“Ya tentu saja, dimana dia tinggal? Aku bisa menguntitnya.” Yongguk oppa berkata.

“Kau tak usah menguntitnya, kau hanya harus mencari informasi tentang dia.” Aku menjelaskan, aku memberikan folder profile Yifan pada Yongguk oppa.

“ini, bacalah data-data yang ada di folder itu dan mungkin kau bisa menggalinya lebih jauh.” Aku memerintah.

“Oke, apa aku harus mulai mencari informasinya sekarang?” Yongguk Oppa bertanya.

“Terserah padamu, tapi lebih cepat lebih baik.” Aku menjawab.

“Jika itu yang kau mau,baiklah aku akan mencarinya sekarang.” Yongguk Oppa mengambil folder profile Yifan dan keluar dari ruanganku.

[Perusahaan Li, Korea selatan – 12:00 pm]

“Jiaheng, mama harus membeli makanan dulu bagaimana kalau kau tunggu disini?” mamaku berkata, aku mengangguk dan tersenyum kearah mamaku.

Aku tidak mengerti kenapa mata mamaku merah sekali, dia juga tidak berhenti menangis sejak tadi pagi apakah sesuatu terjadi?

“Jiaheng, kau harus berjanji menjadi anak baik ya? Kau harus jadi anak yang penurut dan santun.” Mama berkata, aku bosan mendengar nasihat itu namun aku mengangguk.

“Maafkan mama Jiaheng.” Mama berkata dia menangis kembali, tangannya memelukku dengan erat.

“Mama..kau memelukku terlalu erat, aku tidak bisa bernafas.” Aku mengeluh saat aku merasakan pelukan mamaku semakin erat.

Mama menatap kearahku setelah dia melepaskan pelukannya, dia tersenyum pahit kearahku dan membenarkan poni rambutku. Dia menangkup wajahku dan mencium keningku, dia lalu tersenyum lagi.

“Aigoo..anak mama memang sangat tampan.” Mama memuji aku hanya tersenyum, aku sering sekali mendengar pujian itu.

“Mama pergi dulu, kau tunggu saja ya?” ucap mama, aku hanya mengangguk saja lagipula aku tidak pernah suka datang kepasar apalagi pasar di korea lebih becek dari pasar yang ada di Beijing.

Aku tidak mengerti kenapa mama dan aku harus pindah ke Korea, padahal kehidupan kami di Beijing jauh lebih nyaman daripada disini. Aku duduk disalah satu bangku kosong, dan aku bisa melihat mama berjalan masuk kedalam pasar sambil menenteng keranjang belanjaannya.

Pagi itu aku menunggu dan terus menunggu, namun aku mulai khawatir saat mama tidak kunjung juga kembali. Ini sudah mulai siang dan aku kehausan, aku tidak tahu jalan pulang jadi aku memutuskan untuk menunggu.

“Nak, apa kau sendirian? Kemana orang tuamu?” seseorang bertanya padaku, namun dalam bahasa mandarin, aku yang mengerti jelas bahasa itu melirik kearah seorang wanita yang berdiri disampingku.

“Tidak, aku datang kesini bersama ibuku..namun dia tidak juga kembali.” Aku menjawab dalam bahasa mandarin.

“Ini sudah sore nak, apa kau akan tetap menunggu ibumu? Apa kau tidak lapar?” Tanya wanita itu, aku hanya diam tidak mengerti dengan semua situasi ini.

“Tapi mama pasti kembali, dia bilang padaku untuk menunggu.” Aku menjawab, wanita itu hanya menatap kearahku dengan mata sendunya.

“Nak, aku rasa ibumu tak akan kembali…ikutlah denganku tidak baik bagi seorang anak kecil untuk diam di pasar sendirian apalagi ini sudah sore.” Wanita itu berkata, aku mengerutkan keningku kebingungan.

“Tapi..bagaimana kalau mama mencariku?” aku bertanya.

“Dia akan tahu dimana kau, jadi kau tak usah khawatir.” Wanita itu berkata.

“apa kau bilang kalau mama meninggalkanku? Tapi dia bilang aku harus menunggu..aku ingin bertemu dengan mama.” Aku memelas, wanita itu hanya diam menunduk dia menyentuh pipiku dan tersenyum pahit.

“Maaf nak, tapi sepertinya ibumu meninggalkanmu…dia tidak akan kembali.” Wanita itu berkata, aku hanya bisa terdiam perkataan wanita itu.

“Tidak! Mama tidak mungkin meninggalkanku..” aku berlari menuju pasar namun wanita itu mencegahku, aku menangis panik dan memanggil mama.

“Tidak! Mama..mama.. jangan tinggalkan aku..” aku menangis mencoba berontak dari gengaman wanita itu namun aku gagal.

“MAMA! Mama.. jangan tinggalkan aku…jianheng janji, jiaheng akan menjadi anak yang baik..” aku menangis dan terus berontak.

Namun pada akhirnya aku lelah, aku tahu hari itu mama tidak akan pernah kembali padaku. Dia memutuskan untuk meninggalkanku, dan melupakanku.

******

“Sajang-nim..Wu sajang-nim..” suara panggilan itu menyadarkanku dari lamunanku, aku segera melirik kearah sumber suara dan aku bisa melihat Yixing sudah berdiri disampingku.

“Ya? Apa kau butuh sesuatu?” aku bertanya dan Yixing mengela nafasnya.

“Bukankah ini masih siang Sajang-nim, bisakah kau tidak melamun? Masih banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan.” Yixing berkata dan aku mengangguk, aku tahu ini salahku.

“Ini beberapa dokumen yang harus kau tanda tangani, aku sudah mengecheck nya terlebih dahulu jadi kau tinggal menandatanaginya.” Yixing berkata, dia memberikan beberapa berkas kepadaku, dia berjalan untuk keluar dari ruanganku namun tiba-tiba dia berbalik lagi.

“Oh iya! Aku baru ingat perusahaan Jung akan meliris clothing line baru, aku rasanya ini saat yang tepat untuk menawarkan kerja sama.” Yixing memberikan usulan, aku hanya mengangguk malas untuk saat ini aku tidak ingin berurusan dengan Jung Hyojin apalagi dengan perusahaannya.

“Terimakasih atas informasinya, kau boleh pergi.” Aku berkata, aku mengambil pulpen tintaku dan mulai membuka dokumen-dokumen yang Yixing berikan padaku.

“Ah..aku tahu, kau pasti belum berhasil mendekati Hyojin,iyakan?” Yixing bertanya, dia melipatkan tangannya di dadanya dan aku hanya menyeringai.

Kenapa semua orang sepertinya tahu kalau aku belum bisa mendapatkan hati gadis itu?! Apakah dia seorang selebriti? Kenapa semua orang sepertinya tahu tentang aku dan Hyojin.

“Darimana kau tahu?” aku bertanya.

“Paman Zhoumi, dia tidak pernah menyembunyikan sesuatu padaku.” Yixing menjawab.

“Sepertinya ayahku suka sekali melihat aku kerepotan dan sekarat.” Aku berkata dan Yixing tertawa.

“Kau terlalu berlebihan Yifan, dia hanya ingin mengujimu.” Yixing memberi alasan, aku bosan dengan alasan itu.

Sampai kapan dia akan mengetesku? Sampai aku tua dan mati? Aku menghela nafasku dan mengambil handphoneku. Sebenarnya aku ingin sekali mendapatkan nomor Hyojin, namun aku belum sempat bertanya pada gadis itu.

“Oh iya, Yixing apa kau tahu nomor telepon Hyojin? Aku belum sempat bertukar nomor handphone dengannya.” Aku bertanya dan Yixing megangguk.

“Aku punya nomor kantornya, tapi untuk nomor handphone pribadi aku tidak punya.” Yixing menjawab dia mengaktifkan handphonenya dan mengirimkan nomor kantor Hyojin kehandphoneku.

“Semoga kau berhasil.” Yixing berkata dia mengedipkan matanya padaku, aku hanya mengerang kesal aku tidak mood untuk bermain-main dengannya.

Aku mengaktifkan handphoneku, aku hanya menatap kearah nomor kantor Hyojin. Sebenarnya aku sedikit ragu. Apakah ini waktu yang tepat untuk menghubunginya? Aku takut jika dia akan marah lagi dan semakin menjauh dariku.

Aku menghela nafasku, kenapa Hyojin begitu susah untuk kudapatkan. Dia begitu dekat didepan mataku namun saat aku mencoba menyentuhnya, dia bergerak menjauh bagaikan angin.

Terkadang aku berpikir, apakah aku benar-benar hanya mempermainkan gadis ini? Aku mengepalkan tanganku. Persetan kalau dia marah! Aku harus bertemu dengan dia sekarang, aku menekan tombol memanggil dihandphoneku dan nada tunggupun bisa kau dengar.

Aku menunggu dengan resah beberapa saat, sampai akhirnya aku bisa mendengar seorang wanita mengangkat teleponku.

“Dengan kantor Jung textile, ada yang bisa saya bantu?” suara itu bukanlah suara Hyojin, tentu saja inikan nomor kantornya.

“Ya, saya ingin berbicara dengan Jung Hyojin.” Aku menjawab.

“Oh maaf, ini dengan siapa? Apakah anda sudah membuat janji dengan direktur Jung?” Tanya wanita yang di seberang telepon.

“Belum, aku Wu Yifan aku CEO dari perusahaan Li.” Aku menjawab, aku bisa mendengar sedikit tarikan suara wanita yang ada di seberang telepon.

Kenapa dia terdengar begitu terkejut saat dia tahu namaku? Apakah namamu begitu terkenal sehingga dia tahu?

“Maaf tuan Wu Yifan tapi direktur Jung sedang sibuk sekarang, sebaiknya anda tidak menghubungi dia lagi.” Wanita itu berkata, dia langsung menutup telepon membuatku kebingungan.

“Aisshh..bahkan sekertarisnya pun sepertinya tidak menyukaiku.” Aku mengutuk, tidak pilihan lain bagiku selain menemuinya secara langsung saja.

[Kasino, apgyujong – Korea selatan 11:20 pm]

Yongguk berdiri didepan kasino yang biasa Yifan dan Zhongren datangi, bangunan kasino itu terlihat redup sekarang mungkin karena ini masih siang. Dia masih bisa melihat beberapa orang masuk dan keluar dari kasino itu, beberapa wanita cantik dan seksi keluar dari kasino itu.

Penasaran Yongguk langsung menghampiri salah satu wanita itu, mungkin dengan betanya pada mereka akan menambah pengetahuannya tentang Yifan.

“Ah permisi nona-nona.” Yongguk menyapa, dan sekumpulan wanita cantik yang memakai baju seksi mereka melirik kearah Yongguk.

“Ya tuan? Apakah kau ingin berjudi? Aku bisa menemanimu.” Salah satu wanita dikumpulan itu menggoda.

Aniyo..saya hanya ingin bertanya tentang lelaki ini, apa kalian mengenal lelaki ini?:” Yongguk bertanya sambil menunjukan foto Yifan.

“Oh dia Yifan.” Salah satu wanita yang lain berkata.

“Kau mengenalnya?”

“Ya, kami minum bersama beberapa hari yang lalu.” Ungkap wanita itu membuat Yongguk semakin penasaran.

“Benarkah? Apakah dia sering kesini?” Tanya Yongguk lagi.

“Entahlah, tapi kami bertemu hanya satu kali disini itu juga kebetulan.” Wanita itu menjelaskan.

Yongguk mengangguk, dia membungkuk berterimakasih pada wanita yang sudah memberikannya informasi dan diapun masuk kedalam kasino.

Keadaan di kasino sedikit sepi meskipun masih banyak orang yang berjudi, dia melirik kesudut ruangan dan menemukan sebuah bar. Yongguk dudu disalah satu barstool disana dan seorang bartenderpun mendekatinya, bartender itu tersenyum padanya.

“Hallo, aku minseok bartender disini apa kau ingin memesan minuman?” Tanya Minseok.

Ah ye..satu cocktail saja.” Yongguk memesan, dia tidak mau mabuk disiang bolong apalagi dia harus menjemput Hyojung nanti.

“Satu cocktail segera datang..” Minseok berkata, dia membuatkan minuman untuk Yongguk sebenarnya dia penasaran kenapa lelaki itu kelihatan cemas.

Setelah dia selesai membuatkan cocktail untuk Yongguk , Minseok memutuskan untuk diam dulu lagipula dia hanya punya satu costumer sekarang.

“Jadi apa yang membawamu kesini? Inikan masih siang.” Minseok berkata, dia mengelap meja barnya.

“Aku hanya penasaran, apa kau tahu siapa lelaki ini?” Yongguk menunjukan foto Yifan pada Minseok dan Minseok yang tahu tentu saja mengangguk.

“Ya, aku tahu dia..dia adalah Yifan.” Minseok menjelaskan.

“Dia costumer favoriteku, dia tampan, cerdas namun sayang sedikit tertutup dan canggung.” Minseok mengungkapkan, dia mengelap gelas-gelas dan akhirnya melirik kearah Yongguk yang menatap kearahnya.

“Apa kau mengenal baik Yifan?” Yongguk mencoba menggali tentang Yifan lebih jauh.

“Tidak, kami hanya mengobrol beberapa kali sudah kubilangkan dia tertutup jadi biasanya dia minum disini setelah dia berjudi.” Minseok menjawab.

“Berjudi? Apa dia sering berjudi disini?”

“Ya cukup sering, itulah kenapa aku mengenalnya dia biasanya berjudi jika dia kehabisan uang.”

Yongguk mengangguk, sebenarnya dia penasaran kenapa Hyojin ingin mengenal lelaki yang tidak baik ini. Bukannya Yongguk sok suci, dia sendiri sama jeleknya dengan Yifan namun setidaknya dia tidak memiliki niat jahat pada gadis itu dia mencintai gadis itu.

“Terimakasih atas informasinya.” Yongguk berkata, dia meminum minumannya dan membayarnya, dia bahkan memberikan tip untuk Minseok.

“Terimakasih, datang lagi jika kau butuh informasi lagi.” Minseok berkata, dia memasukan uang yang Yongguk berikan kesakunya.

[Kelas Hyojung, SMA Seoul – Korea selatan 14:25 pm]

Semua murid sudah keluar dari kelas mereka, dan sekolah mulai sepi namun Hyojung memilih untuk diam dulu dikelasnya. Dia suka kelasnya yang sepi, apalagi tadi teman-teman dia berisik sekali mendebatkan tentang custom apa yang akan mereka kenakan untuk festival musim gugur yang semakin dekat.

Hyojung mengehela nafasnya dan berdiri didepan jendela nya, dia bisa melihat sekumpulan anak basket yang sedang berlatih. Hyojung ingat kalau tim basket SMA mereka akan mengikuti pertandingan nanti jumat, dia ingat kalau Sehun mengajaknya untuk menonton pertandingan nya.

Hyojung memutuskan untuk turun kebawah dan pergi kelapangan, dia berjalan sambil menenteng tasnya dan sinar matahri langsung menyinarinya saat dia sampai dilapangan basket.

“Hyojung!” Suara lelaki mengagetkannya dan Hyojung melirik kearah sumber suara itu, dia bisa melihat Sehun berlari kearahnya lelaki itu pasti sudah berlatih basket karena dia berkeringat.

“Sehun..” Hyojung memanggil dan Sehun tersenyum.

“Hi, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi disini.” Sehun berkata dan Hyojung tersenyum.

“Yongguk Oppa belum menjemputku jadi aku memutuskanuntuk diam saja disini lalu aku melihat tim basket mu berlatih aku pikir sebaiknya aku mengunjungimu.” Hyojung mengungkapkan dan Sehun tersenyum senang dengan perhatian Hyojung.

“Apa kau ingin mengobrol? Ayo duduk disana, lagipula aku sudah selesai.” Sehun berkata, dia menarik Hyojung untuk duduk dibangku yang ada disamping lapangan.

Sehun mengelap wajahnya dengan handuk kecil yang dia bawa, Hyojung ingat kalau dia tadi membeli minuman isotonik lalu dia mengambil minuman itu dari tasnya.

“Ini, kau pasti haus.” Hyojung berkata.

“Terimakasih.” Sehun menerima botol minuman itu.

“Ngomong-ngomong, sebenarnya siapa Yongguk Oppa itu? Aku baru melihatnya belakangan ini.” Sehun bertanya setelah dia selesai minum.

“Oh dia sebenarnya cucu pembantuku yang dulu, tapi kami sudah dekat karena umur kami tidak beda jauh..maksudku umur Hyojin Eonni dan Yongguk oppa.” Hyojung menjelaskan.

“Oh begitu ya, jadi sekarang dia bekerja dirumahmu?”

“Ya, dia bodyguard sekaligus supir pribadi Hyojin Eonni sekarang.” Hyojung menjawab.

“Hm..pantas saja dia sangat protektif.” Sehun bergumam dan Hyojung mengangguk.

“Ah..gawat, kalau dia terus protektif seperti kemarin bagaimana aku bisa berkencan?” Hyojung bertanya pada dirinya sendiri, namun dia melirik kearah Sehun membuat Sehun tertawa.

“Kau tenang saja, aku cukup pintar memanipulasi orang.” Sehun berkata dan Hyojung tertawa.

“Kau PD sekali! Ingat loh Yongguk Oppa tidak bodoh…apalagi dia berotot dia bisa memukulimu.” Hyojung berkata dan Sehun memajukan bibirnya.

“Apa kau mencoba menakutiku sekarang?” Tanya Sehun bercanda.

“Bukan..aku hanya memberimu peringatan.” Hyojung menjawab dan mereka tertawa lagi.

“Jadi..apa kau akan menonton pertandinganku nanti hari jumat?” Tanya Sehun, dia menatap kearah Hyojung.

“Tentu saja, kenapa tidak? Aku akan menontonya dengan Suzy kalau bisa aku juga akan menonton dengan Chorong atau Naeun.” Hyojung menjawab dan sepertinya Sehun puas dengan jawabannya.

“Bagus kalau begitu, aku ingin sekali kau datang Hyojung-ah.” Sehun berkata, dia melirik kearah Hyojung dan Hyojung tersenyum.

“Kau tak usah khawatir, aku akan datang…aku akan menyemangatimu dan kau harus berjanji untuk menang.” Hyojung mengacungkan jari kelingkingnya pada Sehun membuat Sehun bingung.

“Berjanjilah padaku, jika aku datang kau harus menang.” Ucap Hyojung, Sehun tersenyum dan akhirnya diapun mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Hyojung.

“Aku berjanji.” Sehun berkata.

[Perusahaan Jung textile, Korea selatan – 15:20 pm]

Yifan turun dari mobilnya, ini sudah jam tiga sore lebih dan dia baru sampai didepan kantor perusahaan Jung. Para pegawai perusahaan Jung masih berlalu-lalang keluar dan masuk dari perusahaan itu, dia ingin sekali turun dari mobilnya dan datang keruangan Hyojin namun dia ragu.

Yifan menghela nafasnya, dia tahu jika dia masuk kedalam kantor itu dia juga akan bertemu dengan Taeyeon dan bertemu dengan Taeyeon bukanlah pilihan yang bagus. Karena jika dia melihat gadis itu lagi, dia akan mulai merindukan sosok gadis itu lagi.

Dia akan mengingat semua kenangan indahnya dengan Taeyeon, Taeyeon adalah racun untuk madunya dia tidak akan pernah bisa berhenti menyukai gadis itu. Namun dia sisi lain jika dia terus mencintai Taeyeon, dia akan menyakiti gadis itu apalagi sekarang dia memiliki tujuan untuk mendapatkan hati Hyojin.

Yifan membuka dashbor mobilnya, mungkin dia harus membeli mobil saja karena waktu rental mobilnya sudah habis. Yifan harus mengembalikan mobil mewahnya kembali ketempat asalnya, Yifan akhirnya menyimpan lagi surat rental mobilnya dan turun dari mobil.

Dia merapikan rambutnya sedikit dan jasnya, persetan dengan Taeyeon dia disini untuk Hyojin lalu kenapa dia harus peduli pada mantan kekasihnya itu?

Yifan berjalan masuk kedalam perusahaan Jung dan seperti biasa semua wanita di kantor itu langsung menatap kearahnya, Yifan sudah terbiasa dengan perhatian yang dia dapatkan dari banyak wanita.

“Permisi, lantai berapakah kantor Jung Hyojin?” Tanya Yifan pada resepsionis kantor Jung.

“Oh anda sudah punya janji dengan direktur Jung?” Tanya resepsionis itu, Yifan menghela nafasnya kenapa dia selalu harus membuat janji untuk bertemu dengan Hyojin.

“Katakan pada dia, tunangannya merindukan dia dan tunangannya ini marah karena dia tidak menghubungi nya.” Yifan berkata, mata resepsionis yang dia ajak bicara langsung melebar dan diapun mengangguk langsung menghubungi kantor direktur Jung.

“Yobuseyo, hwajang-nim..anu..seseorang ingin bertemu dengan anda, dia bilang kalau dia tunangan anda dan dia marah karena anda tidak menghubunginya.” Resepsionis itu berkata lewat telepon, Yifan bisa melihat ekspressi resepsionis itu khawatir dan gugup dia yakin kalau Hyojin memarahi gadis itu.

Ah nde..algeseumnida, baik hwajang-nim.” Resepsionis itu mengangguk dan akhirnya menutup teleponnya.

“Maaf tuan tapi direktur Jung mengatakan kalau dia sedang sibuk jadi dia bilang sebaiknya anda tidak datang kesini lagi.” Resepsionis itu berkata.

Mwo? Beraninya dia, katakan padaku dimana kantor Hyojin.” Yifan berkata, dia melotot kearah resepsionis itu membuat resepsionis yang berbicara dengannya semakin gugup.

“Tapi tuan saya tidak bisa mengatakan itu, direktur bilang kalau dia tidak ingin bertemu dengan anda.” Resepsionis itu menjelaskan dan Yifan mengepalkan tanganya kesal.

“Katakan padanya jika dia tidak mengijinkan aku masuk, aku akan berteriak disini dan mengatakan kalau direktur mereka adalah gadis yang kasar,tidak tahu terimakasih dan sombong.” Yifan mengancam dan resepsionis itu semakin pusing.

“Tuan saya mohon pergilah, atau saya akan memanggil security.” Resepsionis itu balik mengancam dan Yifan tertawa.

Mwo?sekarang kau juga mengancamku? Apa kau ingin aku adukan pada dewan direktur sini? Ya..cepat beritahu dimana lantai kantor Hyojung atau aku akan mencarinya sendiri.”

Resepsionis itu tetap diam ditempatnya dan menutup mulutnya, Yifan muak kenapa juga ada harus berurusan dengan orang-orang yang menyebalkan. Sudah cukup dengan Hyojin sekarang dia harus berurusan dengan dua wanita yang sama menyebalkannya, sekertaris Hyojin dan resepsionis ini.

Taeyeon yang baru selesai mendiskusikan proyek barunya dengan Sunny dan Yuri masuk kedalam kantor, dia sedikit terkejut saat dia melihat sosok Yifan sedang mengobrol dengan resepsionis kantornya.

Taeyeon penasaran dan diapun mendekat, namun saat dia mendekat resespsionis yang kebetulan bernama Eunbi itu menunduk kearahnya membuat Yifan melirik kearahnya.

Sajang-nim, annyeoung haseyo.” Eunbi menyapa.

“Eunbi-ya, ada apa?” Tanya Taeyeon, dia tidak melirik kearah Yifan.

“Anu..sajang-nim lelaki ini memaksa untuk bertemu dengan Jung Hwajang-nim.” Eunbi mengadu, dia bahkan tidak berani menatap kearah Yifan.

Taeyeon menatap kearah Yifan sehingga mereka saling menatap, ini sudah hampir tiga tahun mereka berpisah rasanya Taeyeon ingin memeluk Yifan namun dia tidak bisa.

“Apa yang kau inginkan dari direktur Jung?” Taeyeon bertanya, nada suaranya dingin sedingin es.

“Aku hanya ingin bertemu dengan dia, apa salah?” Yifan membalas.

“Kau tahu direktur Jung sedang sibuk, sebaiknya kau berhenti menganggu dia.” Tayeon berkata.

“Aku tidak akan berhenti menganggunya sebelum dia menemuiku, jadi sebaiknya kau bekerja sama denganku dan membawaku kekantor direktur Jung tersayangmu itu.” Yifan berkata dan Taeyeon mendengus.

“Kenapa aku harus? Kau sebaiknya pergi.” Taeyeon berkata, dia berjalan meninggalkan Yifan.

Yifan menggigit bibirnya, dia akhirnya menarik lengan Taeyeon dan Taeyeon menatap kearah Yifan. Ini pertamakalinya Yifan kembali menyentuhnya, Taeyeon bisa merasakan tangan hangat Yifan menggengam lengannya dengan kuat.

Jebal..hanbeoman, dowajwoyo.” Yifan berkata.
“aku mohon..sekali ini, tolong aku.”

Taeyeon merapatan rahangnya, dia begitu marah dan cemburu, Yifan sampai memohon padanya seperti itu hanya untuk bertemu dengan Hyojin. Lalu dulu saat dia dan Yifan masih bersama, Yifan tidak pernah melakukan ini untuknya.

Awalnya Taeyeon hanya akan mengacuhkan Yifan namun mendengar betapa putus asanya Yifan, dia merasa kasihan akhirnya diapun mengangguk.

“Baiklah, aku akan mengantarmu kekantor Jung Hwajang-nim.” Taeyeon berkata.

“Ikuti aku.” Taeyeon menyuruh, dia berjalan kearah lift dan Yifan mengikutinya dari belakang.

Setelah masuk kedalam lift, Taeyeon memencet tombol lantai paling atas lalu pintu liftpun tertutup secara otomatis. Taeyeon hanya diam disamping Yifan, Yifan yang berdiri disamping Taeyeon juga hanya menunduk tidak mengatakan apapun.

“Selama ini…kau kemana saja? Apa kau sudah lupa padaku?” Taeyeon memulai dan Yifan hanya diam seribu kata.

“Oh jadi ini bagaimana cara kau membalas dendam? Apa kau masih marah karena aku memutuskan mu?” Taeyeon melirik kearah Yifan.

“Bukankah kita masa lalu? Kau bilang hubungan kita memang akan berakhirkan? Lalu kenapa aku harus terus mengingatnya? Aku sudah melupakan tentang kita dan sebaiknya kau melakukan yang sama.” Ucap Yifan, dia melirik kearah lain dia tidak sanggup melihat mata Taeyeon yang berkaca-kaca.

“Oh begitu, mudah sekali bagimu…bahkan kau tidak mencoba untuk membaca hatiku.” Taeyeon berkata, suaranya gemetar karena dia menahan tangisnya.

Tenggorakan Yifan terasa kering, dia juga ingin menangis kenapa setiap mereka bersama Yifan selalu merasa di cekik seakan dia kehabisan oksigen dan tak bisa bernafas.

“Kau memutuskan untuk mengencani direkturku sekarang? Bahkan kau memohon-mohon untuk bertemu dengannya, apa kau sangat menyukai dia?” Taeyeon bertanya.

“Kalau iya kenapa? Bukan urusanmu kan?” Yifan menjawab.

Taeyeon mengepalkan tangannya emosi.

“Jawab dengan jujur, apakah kau menyukai Jung Hyojin lebih dari kau menyukaiku?” Taeyeon bertanya, dia memberanikan diri untuk menatap kearah wajah Yifan.

Yifan hanya diam, dia berharap kalau pintu liftnya langsung terbuka sekarang agar dia bisa bernafas lagi dan melarikan dirinya dari Taeyeon. Sepertinya doanya didengarkan oleh tuhan, karena akhirnya pintu lift terbuka dan Yifan melangkah keluar dari lift meninggalkan Taeyeon.

“Terimakasih sudah mengantarku, soal itu..bagaimana kalau kau menilainya sendiri.” Yifan berkata, dia berjalan menuju kantor Hyojin.

Pintu lift tertutup, Taeyeon langsung ambruk ke lantai lift airmatanya langsung turun membasahi kedua pipinya. Dia tidak peduli jika make up nya luntur, dia hanya bisa menangis meratapi kisah cintanya dengan Yifan yang berakhir dengan pahitnya.

Yifan berjalan kearah pintu kantor Hyojin, Yoona yang melihat itu segera berdiri dan menghalangi Yifan.

“Kau…darimana kau tahu kantor Hyojin?” Yoona bertanya dan Yifan melotot kearah Yoona.

“Kau pasti sekertaris yang mengangkat teleponku, sekertaris macam apa kau?” Yifan berkata dia mendorong Yoona dan melanjutkan langkahnya menuju kantor Hyojin.

Yoona yang jatuh kelantai segera berdiri, dia menghalangi pintu kantor Hyojin dan Yifan menatap tajam kearah Yoona. Yoona tidak takut sama sekali, dia tetap diam ditempatnya dan melarang Yifan untuk masuk.

“Jangan ganggu Hyojin, dia sedang sibuk..dia sudah cukup lelah dengan urusan kantor jangan buat dia semakin lelah dengan membuat keonaran.” Ucap Yoona, dia menatap kearah Yifan sedikit memohon.

“Aku hanya ingin bertemu dengan dia, kenapa? apa salah? Aku dan dia teman..jika kau tak percaya kau bisa menanyakannya nanti.” Yifan mendorong lagi Yoona dan akhirnya dia membuka pintu kantor Hyojin.

Hyojin yang sedang menandatangi dokumen-dokumen penting nya segera berhenti saat dia mendengar pintu kantornya dibuka, Hyojin mendongak dan dia menghela nafasnya saat dia melihat sosok Yifan menatap kearahnya penuh dengan amarah.

“Kau..kenapa kau datang lagi? Bukankah sudah kubilang agar kau pergi?” Hyojin berkata dia menyimpan pulpen tintanya dan melepaskan kacamatanya.

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Hyojin, Yifan hanya diam dia menutup pintu ruangan Hyojin dan menguncinya.

Hyojin mengepalkan tangannya gugup saat dia mendengar Yifan mengunci pintu kantornya, sebenarnya apa yang Yifan rencakan? Hyojin tahu kalau dia tidak akan senang dengan apa yang akan Yifan lakukan.

“Berhentilah jadi pecundang dan hadapi aku.” Yifan berkata dan Hyojin mendengus.

Mworago? Pecundang?”

“Kenapa kau selalu bersembunyi? Kenapa kau tidak pernah menghadapiku secara langsung?” Yifan bertanya dan dia mendekat kearah Hyojin dan menarik gadis itu membuat Hyojin berdiri dari kursinya terpaksa mengikuti langkah Yifan namun Hyojin berontak.

Hyojin melepaskan gengaman tangan Yifan dengan kasar, walaupun pergelengan tangannya sakit dia mencoba menahannya.

“Yifan-shi! Anda sudah keterlaluan, aku bisa menelepon security kapan saja!” Hyojin marah, dia menatap tajam kearah Yifan namun Yifan hanya mendengus tidak takut akan ancaman Hyojin.

“Kau tidak pedulikan?” Yifan memulai, dia menarik tangan Hyojin sehingga Hyojin mendekat kearahnya bahkan tubuh mereka sekarang sangat dekat.

“Tatap mataku, apa kau bisa membacanya?” Yifan bertanya, Hyojin menatap kearah mata Yifan.

Hyojin bisa melihat mata coklat bening Yifan yang begitu indah, mata itu menatap kearahnya penuh dengan emosi dan hasrat yang mendalam. Hyojin bahkan gugup dibawah pandangan Yifan, dia merasa sangat kecil dan rapuh.

“Apa kau tahu? Aku selalu merindukanmu, perkataanmu selalu ada di pikiranku aku bahkan tidak bisa tidur!” Yifan membentak dan Hyojin menunduk.

“Apa kau memikirkan aku? Apakah wajahku ada dipikiranmu? Karena wajah mu selalu datang dan pergi di pikiranku!” Yifan mengungkapkan, dia menggengam erat tangan Hyojin.

“Aku tidak mengerti, kenapa gadis kasar, sombong dan tidak tahu terimakasih seperti mu bisa memiliki efek yang begitu besar untukku? Kau adalah satu-satunya yang berhasil membuat kepalaku sakit setiap kali aku memikirkanmu.” Yifan membentak, Hyojin mulai menangis airmatanya turun membasahi pipinya.

“Jung Hyojin, joahae!” Yifan berkata, Hyojin menatap kearah Yifan terkejut apakah telinganya tidak salah dengar?

“ya, aku menyukaimu…aku sudah mulai gila, entah sejak kapan aku menyukaimu tapi aku selalu merindukanmu aku selalu memikirkanmu.” Yifan berterus terang.

“Sepertinya tipe idealku sudah berubah sekarang.” Yifan tersenyum pahit.

“Semenjak aku bertemu denganmu, aku lebih suka gadis yang kasar dan sombong sepertimu terlebih lagi aku hanya menyukai gadis yang bernama Jung Hyojin. Itu gila bukan? Mengejar – ngejar gadis itu seperti anjing kelaparan…apa yang harus aku lakukan Hyojin?! Aku tidak bisa berhenti sebelum aku mendapatkanmu.” Yifan melanjutkan, Hyojin hanya diam menatap kearah Yifan dengan seribu pertanyaan di kalbu nya.

“Kenapa kau menyukaiku?” Tanya Hyojin lemah.

“Aku tidak mengerti..aku hanya menyukaimu, aku tidak punya alasan.” Yifan menjawab.

“Saat aku bertemu denganmu dan menyelamatkanmu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk melindungimu lagi dan terus melindungimu…aku ingin tahu siapa kau, aku rasa.. cinta pada pandangan pertama memang nyata.”

Hyojin tersenyum tipis, Yifan yang melihat itu tersenyum lega. Apakah itu artinya dia sudah berhasil mendapatkan hati Hyojin?

“Kau bilang kau menyukaiku kan?” Tanya Hyojin.

“Ya..” Yifan menjawab dan mengangguk.

“Seseorang pernah mengatakan padaku, jika kau ingin yakin kalau kau menyukai seseorang maka hatimu akan sakit jika kau melihat orang itu bersama orang lain.” Hyojin berkata dan Yifan menatap kearah gadis itu.

“Kalau begitu, apakah  hatimu akan sakit jika aku bersama lelaki lain?” Hyojin bertanya Yifan membuka mulutnya hendak menjawab namun Hyojin segera memotongnya.

“Kita lihat, apakah kau dan aku akan saling menyakiti…lagipula cinta itu menyakitkan bukan?” Hyojin berkata, dia menatap kosong kearah jendela kantornya.

“Hyojin, apa maksudmu?” Yifan bertanya.

“Kau..perasaanmu mungkin saja hanya ilusi, sebagai lelaki kau ingin menjadi pahlawan ideologi itu selalu ada di pikiran setiap lelaki.” Hyojin berkata.

“Dan kau bukan pengecualian, mari kita lihat..sampai mana rasa sukamu untukku dan aku juga ingin membuktikan rasa sukaku padamu.” Hyojin melanjutkan.

Yifan menyeringai saat dia mendengar perkataan Hyojin, apakah dia mendengar perkataan gadis itu dengan benar?

“Apa kau menyukaiku?” Tanya Yifan.

“Aku bilang, aku belum yakin.” Hyojin berkata, dia menunduk malu.

Yifan  menangkup wajah Hyojin, dia tersenyum pada gadis itu. Mata Hyojin menatap kearah wajah Yifan, ada keheningan sejenak diantara mereka. Yifan mendekat, tanpa Hyojin sadari bibirnya dan bibir Yifan sudah bertemu.

Bibir Yifan terasa hangat dibibirnya, Hyojin menutup matanya dan Yifan melingkarkan tangannya dileher Hyojin  memeluk erat gadis itu sehingga ciuman mereka lebih dalam. Yifan mengigit lembut bibir bawah Hyojin membuat gadis itu melenguh, Hyojin meremas kuat-kuat kemeja Yifan karena dia gugup.

Lidah mereka saling bertemu dan berperang memperebutkan dominasi namun Yifan yang menang, Hyojin membiarkan lelaki itu mengambil alih tubuhnya dan membuka hatinya.

Ini bukanlah ciuman pertama Hyojin, namun entah kenapa gadis itu merasa kalau inilah ciuman petamanya. Yifan sepertinya sudah berpengalaman dalam berciuman, karena dia tahu angle yang benar dan dia selalu berhasil menggoda Hyojin membuat Hyojin menginginkan lagi ciuman pemuda itu.

Yifan akhirnya melepaskan ciumannya, dia menyelipkan rambut Hyojin ketelinga gadis itu lalu dia mencium dahinya.

“Aku tidak akan menyakitimu, tidak apa-apa jika kau menyakitiku yang penting kau datang kepelukanku setelah kau sadar kalau kau menyukaiku juga.” Yifan berbisik ketelinga Hyojin dan memeluk gadis itu dengan erat menghirup parfum dan wangi tubuh Hyojin.

Hyojin tersenyum, dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yifan, dia tidak tahu kalau keputusannya ini benar namun dia tahu kalau hatinya mengatakan ini yang terbaik. Terkadang Hyojin hanya harus mengikuti hatinya, dia lelah terus berpikir dengan logikanya ini saat nya dia mengikuti firasat hatinya.

[Mall COEX, seoul – korea selatan 17:00 pm]

“Kenapa kau ingin aku menurunkanmu disini? Apa kau akan bertemu dengan Zhongren lagi?” Yongguk mengintrogasi Hyojung hanya tersenyum.

“Oppa, aku hanya akan bermain dengan temanku..kau tak usah khawatir aku akan pulang tepat waktu.” Hyojung berkata.

“Jika Hyojin tahu soal ini dia akan marah.” Yongguk berkata dan Hyojung memutar matanya bosan dengan perkataan itu.

“Oppa, tenang saja aku akan menjelaskan padanya temanku sudah menunggu aku harus pergi.” Hyojung berkata, dia membuka pintu mobil dan turun.

“Annyeoung! Sampai bertemu dirumah!” Hyojung pamitan, dia langsung berbalik dan berlari masuk kedalam mall COEX yang berjarak tak jauh dari mobilnya.

Yongguk menatap khawatir kearah Hyojung, haruskah dia mengikuti Hyojung? Namun jika dia mengikuti Hyojung nanti Hyojung akan marah padanya. Yongguk mengacak-ngacak rambutnya kesal, diapun menghidupkan mesin mobilnya dan pergi menuju perusahaan Jung untuk menjemput Hyojin.

Hyojung melirik kearah sekitar, dia mencari sosok Zhongren ditengah keraiman tempat COEX Aquarium. Banyak sekali anak-anak yang berlarian kesana dan kemari, bahkan tidak sedikit diamelihat beberapa pasangan yang sedang berkencan membuatnya sedikit iri.

Hyojung yang lelah mencari akhirnya duduk disalah satu bangku kosong yang ada di jajaran bangku, dia masih mencari sosok Zhongren dengan teliti berharap lelaki itu muncul dan menyapanya. Namun sepertinya doanya tidak didengar oleh tuhan karena sosok Zhongren tak kunjung juga muncul, Hyojung menghela nafas kecewa dan menunggu.

Saat dia sedang melamun tiba-tiba saja sepasang tangan menutup kedua matanya, Hyojung terkejut dan dia menyentuh tangan yang menutupi kedua matanya.

“Siapa ini?” Hyojung bertanya.

“Biasakah kau tebak?” Tanya seseorang dibelakangnya, Hyojung tersenyum saat dia mengenali kalau suara itu adalah suara Zhongren.

“Hm..siapa ya? Apakah ini Crong yang tempo hari mengobrol denganku?” Hyojung menggoda dan dia bisa mendengar tawa Zhongren.

“Maaf aku sedikit terlambat.” Zhongren berkata, dia duduk disamping Hyojung.

“Apa kau haus?” Tanya Zhongren dia memberikan Hyojung sebotol kaleng cola.

“Terimakasih, ya tidak apa-apa aku baru sampai kok.” Hyojung mengungkapkan, dia membuka bool kaleng cola Zhongren dan meminumnya.

“Sepertinya kau memang tidak membawa temanmu.” Zhongren melirik kearah sekitarnya, mungkin mencari teman Hyojung.

“Tidak, temanku semua sibuk jadi sepertinya hari ini hanya aku dan kau lagi.” Aku menjawab dan Zhongren memajukan bibirnya berpura-pura untuk kecewa.

“Yah..padahal aku ingin bertemu dengan temanmu, siapa tahu saja dia lebih cantik darimu.” Zhongren bercanda dan Hyojung memukul lengan Zhongren.

“Ah..geurae, kalau begitu kau pergi saja dengan gadis lain kalau aku kurang cantik untuk mu.” Hyojung berkata, dia pura-pura akan pergi dan merajuk.

Zhongren menyeringai dan menarik tangan Hyojung.

“Eitss tunggu, aku hanya bercanda..apa kau cemburu?” Tanya Zhongren, dia mendekat kearah Hyojung dan Hyojung hanya diam masih cemberut seperti anak kecil yang tidak dibelikan lollipop oleh orang tuanya.

Zhongren mencubit pipi Hyojung dan Hyojung menepis tangan Zhongren lalu berbalik, dia sebaiknya merajuk sekarang hitung-hitung saja ini balasan untuknya.

“Hyojung-ah mian.. aku hanya bercanda, tolong jangan marah..” Zhongren membujuk.

Hyojung hanya diam dia masih merajuk, Zhongren menyeringai dan dia tiba-tiba saja memeluk Hyojung dari belakang membuat Hyojung terkejut.

“Mianhe..Oppa hanya bercanda, apa kau masih marah sekarang?” Tanya Zhongren, suaranya terdengar dekat sekali ditelinga Hyojung.

Hyojung akhirnya tersenyum dan luluh.

Nde, aku maafkan.” Hyojung membalas, Zhongren membalik tubuh Hyojung dan menatap kearahnya.

Aigoo, kau ternyata cantik juga kalau dilihat dari dekat.” Zhongren memuji dan dia menyelipkan poni panjang Hyojung ketelinga gadis itu.

“Ck…gombal!” Hyojung meledek dan dia menjulurkan lidahnya pada Zhongren.

“terserah, ayo lebih baik kita melihat ikan-ikannya.” Zhongren mengajak dan merekapun berjalan mulai melihat beberapa ikan-ikan yang lucu.

Saat mereka berdua berjalan menulusuri aquarium-aquarium yang besar Hyojung berhenti sejenak, dia tersenyum lebar saat dia melihat ikan-ikan kecil yang berenang kearahnya dia ingat ikan yang dia lihat sekarang adalah ikan yang sejenis dengan Nemo tokoh kartun kesukaannya.

“Ah! Nemo…” Hyojung berseru kegirangan, Zhongren hanya tersenyum inikah rasanya berkencan dengan anak SMA?

Sebenarnya ini bukan pertamakalinya Zhongren berkencan dengan anak SMA, namun biasanya gadis-gadis yang dia kencani memiliki karakter yang lebih serius.

“Apa kau suka Nemo? Aku menonton film sekali..” Zhongren melirik kearah Hyojung yang masih fokus mengikuti gerak ikan kecil berwarna orange didepannya.

“Ya, aku menontonnya dengan eomma dan appa…” Nada suara Hyojung melemah, dia menunduk dan ekspressi senangnya menghilang.

Zhongren merasa khawatir, dia tahu kalau gadis itu belum bisa melupakan dan menerima kenyataan kalau kedua orang tuanya pergi. Gadis itu mungkin tumbuh dalam keadaan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang, berbeda dengan dia yang tumbuh dip anti asuhan dan kasih sayang yang dia terima hanyalah kasih sayang dari Yifan kakak angkatnya.

Pabo-ya..” Zhongren bergumam, dia membuka tangannya kearah Hyojung membuat Hyojung kebingungan.

“Pegang tanganku.” Zhongren memerintah, Hyojung ragu namun akhirnya dia menyambut tangan Zhongren.

“Apa kau masih sedih sekarang?” Zhongren bertanya dan Hyojung tersenyum lalu dia menggelengkan kepalanya.

Zhongren mengenggam erat tangan Hyojung dan dia menyatukan jari-jari mereka.

“Mulai sekarang, jika kau sedih pegang tanganku dan cobalah tersenyum.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk seperti anak kecil.

“Terimakasih sudah menghiburku Oppa.” Hyojung berkata dan Zhongren hanya mengangguk, mereka melanjutkan berjalan ke aquarium yang lain.

[Perusahaan Jung, Korea selatan – 18:00 pm]

“Oppa, kau tak usah menjemputku..ya aku tahu aku akan baik-baik saja.” Aku bisa melihat Hyojin menelepon Oppa kesayangannya, aku tidak suka itu.

“Ya, Oppa tak usah khawatir aku akan pulang tepat waktu.” Hyojin berkata dia menutup teleponnya dan melirik kearahku.

Wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?” Hyojin bertanya polos, kenapa katanya?! Dia baru saja menelepon lelaki lain dihadapanku.

Padahal aku sudah meluangkan waktuku jauh-jauh datang lagi kekantor ini setelah aku membuat onar tadi siang, bahkan sekertaris Hyojin sudah bersiap menelepon security. Awalnya aku sedikit malu untuk datang lagi kesini, namun mengingat aku harus menjemput gadis yang satu ini rasa Malu aku hilang begitu saja.

“Ah..kau cemburu?” Hyojin menggodaku, aku hanya menghela nafasku.

“Apa kau harus melapor setiap saat kau akan pergi pada dia?” Tanyaku.

“Tidak juga, aku hanya tidak ingin dia khawatir.” Hyojin menjawab, aku menarik tangannya dan menggengamnya dengan erat.

“Khawatir? Aku yang seharusnya khawatir…wanita yang aku sukai menelepon lelaki lain didepan mataku, kau kira aku tidak khawatir?!” aku bertanya kesal, Hyojin hanya tersenyum dan dia mendekat kearahku.

“Wu Yifan-shi, jika kau terus seperti ini aku mungkin saja kabur.” Hyojin berkata dia mengambil tas nya dan melangkah keluar dari kantor.

Aku yang melihat itu mengikutinya dari belakang, saat aku keluar aku bisa melihat ekspressi sekertaris Hyojin yang kaku. Dia bahkan tidak melirik kearahku namun menyapa Hyojin, aku baru tahu kalau nama sekertaris Hyojin adalah Im Yoona karena aku melihat plat nama yang ada di meja sekertaris itu.

Dia kelihatannya sekertaris yang baik karena Hyojin kelihatannya menyukai Yoona, bahkan Yoona memanggil Hyojin dengan nama kesayangan saat mereka mengobrol berdua. Kedua wanita itu mengobrol sejenak mengacuhkanku yang berdiri dibalakang Hyojin seperti patung, itu lebih baik daripada aku dimarahi oleh sekertaris itu.

“Hyojin-ah hati-hati, apakah Yongguk akan menjemputmu?” Yoona bertanya saat kami bertiga sampai didepan lift.

“Yongguk Oppa? Tidak,aku akan pulang dengan Yifan-shi iyakan Yifan-Shi?” Hyojin menjawab dan dia melirik kearahku dengan senyumnya.

Entah mengapa saat aku melihat senyuman itu jantungku berdetak cepat, aku mengangguk canggung. Aku bisa melihat Yoona melotot kearahku, dia sepertinya benar-benar tidak menyukaiku.

“Oh begitu, kau sebaiknya tidak berbuat apapun pada Hyojin.” Yoona mengancam dan aku hanya menyeringai.

“Tak usah khawatir, Im biseo-nim..aku akan menjaga direktur kesayanganmu dengan hati-hati.” Aku menjawab dan aku bisa melihat Hyojin menahan tawanya.

Pintu lift sudah terbuka aku dan Hyojin melangkah kedalam lift namun Yoona tetap diam.

“Im biseo-nim, apa kau akan lembur lagi?” Tanya Hyojin.

“Iya, masih ada dokumen yang harus aku periksa Hyojin-ah…kau pulang saja duluan.” Yoona menjawab.

“Baiklah aku pergi duluan..” Hyojin berpamitan, dia menekan tombol lantai dasar dan pintu liftpun tertutup.

“Apa kau akrab Im biseo-nim?” Aku bertanya, aku penasaran sekali sebenarnya sedekat apa Hyojin dengan sekertarisnya itu.

“Ya,aku cukup akrab dengan dia.” Hyojin menjawab singkat.

“Oh..apakah dia sudah lama bekerja disini?” Aku kembali bertanya namun Hyojin malah melirik kearahku kelihatannya dia tidak suka dengan pertanyaanku.

“Apakah kau kesini untuk menggali informasi tentang sekertaris Im?” Dia bertanya mengangkat halisnya, gadis yang pintar.. sepertinya aku harus berhati-hati dia bisa saja mengetahui tujuan asliku untuk mendekatinya.

“Maaf, aku orang yang suka penasaran.” Aku berkata.

“Sekertaris Im sudah bekerja pada ayahku selama hampir dua puluh tahun, dia sering datang kerumah dan bergabung dengan acara keluarga kami jadi aku dan Hyojung sudah akrab dengannya.” Hyojin berkata, aku mengangguk sebenarnya informasi yang dia berikan tidak begitu berguna namun tak ada salahnya menyimpannya di memoriku untuk berjaga-jaga.

“oh begitu ya, pantas saja..” Aku merespon dan pintu lift terbuka.

Saat kami berdua berjalan menuju pintu depan aku melirik kearah meja resepsionis dan aku masih bisa melihat Eunbi, resepsionis menyebalkan yang tadi aku temui. Aku menyeringai kearahnya dan kulingkarkan tanganku dipundak Hyojin, Hyojin hanya diam dan terus berjalan.

Eunbi menunduk malu, mungkin dia menyesali perbuatannya tadi. Baguslah, anak itu memang harus diberi pelajaran lain kali aku bertemu dengan dia mungkin aku akan memarahinya lagi.

Aku dan Hyojin berjalan menuju mobilku yang terparkir tidak jauh dari pintu utama kantor,aku membukakan pintu mobilku untuk Hyojin dan Hyojin masuk kedalam mobilku. Kali ini dia menurut tidak seperti kemarin, aku harus membentak dan memaksanya untuk masuk.

Aku duduk di kursi pengemudi dan memasangkan sabuk pengamanku, kuhidupkan mesin mobilku namun aku bisa merasakan tangan Hyojin menyentuh tanganku.

“Yifan-shi, apa kau ingin aku memanggilmu Oppa?” Hyojin tiba-tiba saja bertanya, aku tersenyum.

“Jika kau suka, kenapa tidak?” aku memberikannya kebebasan, dia hanya menyeringai dan melirik kearah jendela mobil.

“Oppa, apakah kau akan diam saja? Ayo cepat antar aku pulang.” Hyojin memerintah dan aku mengangguk.

Sepertinya gadis yang satu ini memang suka menyuruh-nyuruh orang, pantas saja semua dewan direktur menyutujui keputusan gadis ini untuk mengambil alih perusahaan sebesar perusahaan Jung textile sepertinya Hyojin memang memiliki bakat .

Aku mengarahkan mobilku keluar dari tempat parkir perusahaan Jung, kedua orang satpam tersenyum pada kami saat mereka melihat Hyojin duduk manis disampingku. Hyojin melirik kearah radio di mobilku, dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

“Apa kau ingin mendengarkan radio?” aku bertanya.

“Tidak, aku hanya berpikir..” Hyojin berkata.

“Belakangan ini, aku sibuk sekali..apakah Hyojung tidak kesepian?” Hyojin bergumam, aku melirik kearah Hyojin.

Entah mengapa pertanyaan itu membuatku berpikir juga, belakangan ini aku sibuk dengan jabatan baruku sebagai CEO aku juga jadi lupa tentang Zhongren.

“Entahlah, bagaimana kalau kau mengajaknya mengobrol.” Aku memberi usulan dan Hyojin mengangguk.

“Kau benar, aku rasa aku harus mengajaknya mengobrol.” Hyojin menyetujui usulanku, dia melirik lagi kearah jendela mungkin melamun.

“Oppa, bagaimana dengan keluargamu? Aku ingin tahu..” Hyojin melirik kearahku, keluarga dia bilang? Hm..menarik apakah gadis ini sekarang tiba-tiba saja tertarik padaku sehingga dia bertanya soal keluargaku?

“Aku tumbuh di panti asuhan..” aku menjawab, sudah biasa untukku menjelaskan hal ini sudah banyak sekali orang yang bertanya darimana asal usulku dan tanpa bosannya aku harus menjelaskan panti asuhan dimana aku tumbuh dan Zhongren.

“Panti asuhan? Apa yang terjadi pada orangtua mu?” Hyojin sekarang kelihatannya semakin penasaran.

Aku mengeratkan pegangan tanganku ke setir, sebenarnya aku tidak ingin membahas soal itu namun jika aku tidak menjawabnya aku tidak akan mendapatkan kepercayaan Hyojin. Aku tahu Hyojin sepertinya sedang memberikan ku sebuah tes, jika aku lulus tes ini aku cukup yakin Hyojin akan lebih terbuka padaku jika aku terbuka padanya.

“Ibuku meninggalkanku di sebuah pasar, soal ayahku…aku tidak tahu.” Aku menjawab dan menatap kearah Hyojin, aku bisa melihat tatapan iba dimatanya.

Aku benci itu, aku benci tatapan iba semua orang setiap kali aku menceritakan tentang orangtuaku. Namun aku tidak menyalahkan Hyojin ataupun orang lain yang memberikan respon yang sama, karena jika aku ada ditempat mereka aku juga akan merasa iba.

“Apakah sulit?” Hyojin bertanya tiba-tiba, aku tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu.

“Maksudmu?” aku balik bertanya, respon yang Hyojin berikan berbeda dari orang yang lain.

Biasanya orang lain mengatakan kalau mereka menyesal karena sudah mengungkit tentang orangtuaku, mereka biasanya langsung mengganti topik pembicaraan.namun sepertinya Hyojin tidak berniat untuk melakukan itu, dia hanya menatap kearahku seakan dia mencari sesuatu di mataku.

“Apakah sulit saat orang tuamu meninggalkanmu? Apakah kau menderita?” Tanya Hyojin dan aku mengangguk, tentu saja sulit..tertentu saja aku menderita.

“Ya, sangat sulit dan aku menderita.” Aku menjawab jujur, aku menginjak pedal gas membuat mobil melaju lebih cepat.

Hyojin menyentuh tanganku lagi,entah kenapa sentuhan tangannya membuatku tenang. Akupun berhenti menginjak pedal gas mobil, membuat mobil melaju lebih lambat.

“Kau hebat.” Ucap Hyojin, aku terkejut dan melirik kearahnya.

“Untuk seseorang yang tumbuh dipanti asuhan kau sangat hebat.” Hyojin tersenyum kearahku, sekarang aku bisa melihat kekaguman yang murni di matanya.

“Tanpa bimbingan orang tua kau berhasil seperti ini, tanpa kedua orang tua yang memperhatikanmu kau berhasil menjaga dirimu sendiri. Aku sangat iri padamu, walaupun kau memiliki kekurangan dan kesalahan itulah yang membuatmu kuat karena kau belajar dari sana.” Hyojin mengungkapkan, aku hanya diam terkejut dengan perkataan Hyojin.

“Kau mungkin merasa sendirian didunia ini, namun kesendirianmu lah yang menjadi kekuatanmu. Walaupun kau sendiri, kau ingin membuktikan kalau kau bisa sukses iyakan?”

Aku menghentikan mobilku dipinggir trotoar, aku hanya menunduk mencoba mengerti apa yang Hyojin katakan tadi. Semuanya begitu baru bagiku, bagaimana seseorang yang baru aku kenal beberapa bulan mengerti aku seperti ini?

Dia bahkan bisa membaca hatiku seperti buku yang terbuka,apakah aku begitu terbuka padanya sehingga dia bisa membaca hatiku seperti ini?

“Apa aku salah? Apakah perkataan aku tidak benar? Aishh..seharusnya aku berhenti bertingkah seperti psikolog disini!” Hyojin memukul kepalanya namun aku segera mencegahnya.

“sebaiknya kita tidak membahas itu.” Aku berkata, aku menghidupkan kembali mesin mobil dan kembali menyetir.

Hyojin sekarang memilih untuk diam, dia mungkin masih merasa lelah. Setelah beberapa menit diperjalan kami sampai dirumah Hyojin, Hyojin langsung turun saat mobilku sudah berhenti didepan beranda depan rumahnya.

“Terimakasih sudah mengantarku.” Hyojin berkata dari ambang pintu mobil.

Aku mengangguk dan aku bisa melihat sosok Hyojin berjalan masuk kedalam rumah nya, aku menyetir mobilku keluar dari rumah Hyojin. Jantungku masih berdetak dengan kencang, tanganku bahkan berkeringat.

Kenapa aku gugup seperti ini? Apakah aku merasa takut?

[COEX mall,seoul – Korea selatan 18:30pm]

Hyojung dan Zhongren masih anteng berjalan-jalan di coex mall mereka sekarang sudah leuar dari coex aquarium, Hyojung bilang dia bosan dan mereka sekrang sedang membeli bubble tea dan berkeliling mall untuk mencari sesuatu yang menarik bagi mereka.

Tangan Hyojung dan Zhongren masih bergandengan, bahkan sepertinya keduanya tidak berniat untuk melepskan gandengan tangan mereka.

“Oppa, lihat!” Hyojung berseru membuat Zhongren melirik kearah yang ditunjuk oleh Hyojung.

“Ayo kita berfoto..” Hyojung menarik Zhongren kearah photobooth yang terletak tak jauh dari escalator mall.

“Kau ingin berfoto? Tapi penampilanku acak-acakan.” Zhongren berkata sebenarnya itu hanya alasannya saja, dia tidak terlalu suka di foto.

“Kau tampan Oppa, tak usah khawatir..ayo!” Hyojung membujuk, dia menarik Zhongren masuk kedalam salah satu photobooth.

Zhongrenpun mengalah dan akhirnya dia mengikuti keinginan Hyojung, dia masuk kedalam salah satu photobooth dan Hyojung yang bersemangat langsung memilih frame untuk foto mereka.

“Ayo Oppa, berpose!” Hyojung memerintah saat dia mendengar suara mesin computer menyuruh mereka untuk berpose dalam hitungan tiga.

Hyojung tersenyum sedang Zhongren hanya menatap lurus kearah kamera, Hyojung tertawa saat dia melihat ekspressi kosong Zhongren. Namun di potretan yang kedua Zhongren dengan jahilnya menarik pipi Hyojung membuat Hyojung cemberut, di potretan yang ketiga Hyojung melirik kearah Zhongren dan entah kenapa tiba-tiba sjaa Zhongren mendekat dan dia mencium pipi Hyojung.

Hyojung yang kaget hanya diam namun dia kembali berpose, dia tidak ingin membuat keadaan canggung jadi dia bertingkah sekan-akan tadi tidak terjadi apa-apa. Setelah selesai Hyojung dan Zhongren keluar, mereka langsung mengambil foto mereka.

“Wah..aku terlihat seperti ikan difoto ini.” Zhongren komplain, dia menunjuk kearah foto dimana dia mencium pipi Hyojung.

Hyojung hanya diam dan menatap kearah foto itu, memang benar Zhongren seperti ikan didalam foto itu Hyojung sendiri ingin tertawa.

Suara dering handphone Zhongren terdengar, Zhongren langsung mengodok saku jeansnya. Dia kelihatan terkejut saat dia melihat nama yang tertera di handphonenya, dia akhirnya mengangkat telepon itu.

“Nde, Noona..ini aku.” Zhongren mengangkat teleponnya, Hyojung yang mendengar panggilan noona sedikit menjadi penasaran dia mendengarkan percakapan Zhongren walaupun dia menatap kearah foto yang dia pegang pura-pura tidak peduli.

“Zhongren-ah…” Suara Taeyeon terdengar diseberang telepon, suaranya gemetaran dan Zhongren bisa mendengar isakan tangis wanita itu.

“Noona! Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?!” Zhongren bertanya.

“Zhongren-ah..tolong aku..” Ucap Taeyeon.

“Katakan kau dimana sekarang Noona? Aku akan menjemputmu.” Zhongren khawatir, apalagi saat dia mendengar tangis Taeyeon.

“Aku dirumahku, aku mohon…datanglah.” Taeyeon mengungkapkan.

“Tunggu aku disana,aku akan kesana secepatnya.” Zhongren enutup teleponnya, dia melirik kearah Hyojung.

“Hyojung-ah, bisakah kau menghubungi Yongguk Hyung? Kau tidak apa-apakan pulang dengan dia?” Zhongren bertanya.

“Ya tidak apa-apa, memang ada apa Oppa?” Hyojung bertanya.

“Aku harus pergi kesuatu tempat, maaf tapi aku buru-buru.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk.

Zhongren langsung berbalik dan berlari, Hyojung hanya menatap kearah punggung lelaki itu penuh dengan kekecewaan. Bahkan Zhongren tidak berbalik kearahnya, lelaki itu mungkin benar-benar terburu-buru.

Hyojung jadi penasaran, sebenarnya siapakah wanita yang Zhongren panggil Noona? Hyojung akhirnya duduk dan menelepon nomor Yongguk meminta Yongguk untuk menjemputnya di mall.

[Apartemen Kim Taeyeon, Korea selatan 19:20 pm]

Zhongren berlari, dia tidak tahu sudah berapa lama dia berlari. Jantungnya berdetak kencang sekali, dia ingat suara Taeyeon yang sedang menangis. Zhongren langsung memijit tombol lift apartemen Taeyeon, dia menunggu beberapa menit dan liftpun terbuka.

Zhongren langsung menekan tombol lantai nomor sepuluh dan menunggu lift tertutup, dia cemas sekali bahkan tangannya mulai dingin mungkin karena gugup. Pintu lift terbuka dan Zhongren langsung berlari menuju apartemen Taeyeon, dia terkejut saat dia melihat pintu apartemen Taeyeon terbuka lebar.

“Noona? Taeyeon Noona?!” Zhongren berteriak, dia menutup pintu apartemen Taeyeon dan berjalan masuk kedalam apartemen gadis itu.

“Noona?” Zhongren sekali lagi memanggil, dia bisa mendengar isakan tangis Taeyeon saat dia sudah dekat dengan ruang tengah apartemen Taeyeon.

Mata Zhongren melebar saat dia melihat sosok Taeyeon, Taeyeon duduk dilantai dengan kaki yang dilipat didadanya dan tangannya memeluk kedua kakinya dia menunduk menyembunyikan wajahnya.

Botol soju sudahberserakn disamping nya, Zhongren segera berlari kearah Taeyeon dan berlutut didepan Taeyeon.

“Noona, apa yang terjadi? Kau kenapa?” Zhongren bertanya selembut mungkin, dia tidak ingin Taeyeon terkejut.

“Zhongren-ah!” Taeyeon lansung mendongak dan menatap kearahnya, dia langsung memeluk Zhongren dan menangis diceruk leher Zhongren.

“Noona..” Zhongren terkejut dan dia mengelus punggung Taeyeon.

“Zhongren-ah..” Taeyeon menangis, Zhongren bisa merasakan pelukan Taeyeon kuat seklai di pundaknya.

“Shuttt..noona tenang lah, ada apa?”

“Yifan, apakah dia benar-benar menyukai Hyojin?” Taeyeon bertanya tiba-tiba, ekspressi Zhongren langsung kaku.

Kenapa selalu tentang Yifan? Kenapa seorang Kim Taeyeon begitu mencintai Wu Yifan?! Zhongren mengepalkan tangannya, dia melepaskan pelukan Taeyeon dan dia menyeka airmata gadis itu.

“Cukup Noona, jangan menangis.” Zhongren berkata dia langsung menggendong Taeyeon, Taeyeon melingkarkan tangannya dileher Zhongren.

Zhongren mebawa Taeyeon kekamar gadis itu dan dia membaringkan Taeyeon dikamarnya, Zhongren melepaskan sepatu Taeyeon yang masih Taeyeon kenakan. Taeyeon hanya diam membiarkan Zhongren membuka blazer nya juga, Zhongren menyimpan blazer Taeyeon di meja kecil yang ada disamping ranjang Taeyeon.

“Zhongren-ah…apa benar? Apa Yifan menyukai Hyojin?” Sekali lagi Taeyeon bertanya, Zhongren menghela nafasnya dan diam.

Dia menarik selimut yang ada di ranjang Taeyeon dan menyelimuti gadis itu, Taeyeon hanya diam masih menunggu jawab dari Zhongren.

“Aku tidak tahu Noona, kau tahu Yifan Hyung selalu menutup-nutupi perasaannya.” Zhongren menjawab, dia bisa melihat airmata mulai mengumpul lagi disudut mata Taeyeon.

“L-lalu..apakah dia sudah lupa padaku? Apa dia membenciku sekarang?” Taeyeon menarik lengan baju Zhongren, dia tahu kalau Taeyeon cemas dia bisa melihat itu dari ekspressi Taeyeon.

“Entahlah Noona, tapi kau tenang saja..aku cukup yakin Yifan Hyung belum menyukai Hyojin seperti dia menyukaimu.” Zhongren berkata, sebenarnya dia tidak tahu kalau perkataan nya itu benar namun dia hanya ingin menghibur Taeyeon.

“Benarkah? Apakah dia masih menyimpan foto-foto kami yang dulu?” Tanya Taeyeon, dia mendekat kearah Zhongren menunggu jawaban Zhongren.

Zhongren mengangguk, dia merasa bersalah karena harus berbohong. Apa yang dikatakan dia tidak sepenuhnya benar, Yifan memang masih menyukai Taeyeon, Zhongren tahu itu karena kakaknya terkadang masih menatap kearah foto gadis itu pada malam hari namun soal foto-foto yang mereka punya Zhongren tidak tahu dimana Yifan menyimpannya nya.

“Aku harap kau benar Zhongren, aku tidak bisa kehilangan Yifan..” Taeyeon berkata, dia berbaring lagi di ranjangnya.

“Noona, kau masih mencintai Yifan hyung?” Zhongren bertanya dan Taeyeon hanya diam.

“Aku takut Zhongren, aku takut jika Yifan berpaling pada wanita lain apakah itu yang kau sebut cinta?” Taeyeon menatap kearah Zhongren, Zhongren merapatkan rahangnya kuat-kuat.

Hatinya sakit sekali, dia ingin marah namun dia tidak tahu kalau dia harus marah pada siapa. Apakah dia harus marah pada dirinya sendiri karena dia tidak bisa melupakan rasa cintanya pada Taeyeon? Ataukah dia harus marah pada Taeyeon yang tidak pernah menyadari perasaan nya?

“Aku mengerti Noona, sebaiknya kau tidur..kau pasti lelah sudah menangisi Yifan Hyung sambil mabuk.” Zhongren berkata dan Taeyeon tersenyum.

“Aku memang bodoh, iyakan Zhongren?” Taeyeon menutup matanya walaupun bibirnya bergerak.

“Tidak Noona, jika aku ditempatmu aku akan melakukan hal yang sama.” Zhongren menjawab, bagaimana mungkin dia bisa menilai kelakuan Taeyeon? Dia sendiri melakukan hal yang sama saat dia tahu kalau Yifan dan Taeyeon berkencan.

“Bisakah kau disini sampai aku tertidur?” Taeyeon meminta.

“Tapi Noona..” Zhongren hendak protes namun Taeyeon meletakan jari telunjuknya dibibir Zhongren.

“Aku mohon, sekali ini saja.” Taeyeon berkata dengan lemah, Zhongren akhirnya mengangguk dia.

“Aku takut Zhongren.” Taeyeon berbisik, Zhongren menyeringai dan dia menggengam tangan Taeyeon dengan erat.

“Jangan takut Noona, aku ada disini.” Zhongren berkata, tangannya yang satu lagi mengelus pipi Taeyeon sampai akhirnya Taeyeon mulai tertidur.

Noona, saranghae.” Zhongren berbisik dan dia menggengam tangan Taeyeon lebih erat.

[Sebuah restoran, Seoul – Korea selatan 20:30 pm]

“Katakan padaku, apa alasan seorang super model bernama Li Ziyi memanggilku malam-malam seperti ini?” Seorang lelaki yang memakai jas putih berkata, dia menuangkan wine yang ada disampingnya kedalam gelas nya.

“Berhenti memanggilku dengan nama marga lelaki itu, aku benci.” Ziyi yang duduk didepannya berkata.

“Kenapa?  bukankah nama legal mu seperi itu? Kau masih menikah dengan Li Zhoumikan?” lelaki yang tinggi dan kekar dihadapannya bertanya.

“Cukup! Aku tidak ingin bertengkar denganmu.” Ziyi berkata, dia mengambil gelasnya yang sudah berisi wine dan meneguknya.

“Sebenarnya aku tidak pernah ingin bertemu denganmu lagi, apalagi berurusan denganmu namun aku harus melakukan ini demi Luhan.” Ziyi berkata, lelaki itu langsung mencengkram gelasnya saat dia mendengar nama Luhan disebut.

“Kenapa dengan Luhan?” Lelaki itu bertanya.

“Jangan pernah dekati Luhan.” Ziyi memberi peringatan, dia menatap tajam kearah lelaki yang ada dihadapannya sekaan dia mengancam.

“Jika kau berani menyentuh selembar rambutnya pun aku akan menyingkirkanmu, kau bukan siapa-siapa bagi Luhan jadi jangan kira kalau kau bisa mendekatinya karena dia ada di Korea sekarang.” Ucap Ziyi penuh emosi, lelaki yang duduk dihadapannya malah tertawa tidak takut oleh ancaman Ziyi.

“Hahaha kau pikir kau siapa bisa menyingkirkan ku? Aku yang akan menyingkirkanmu.” Jawab lelaki itu.

“Choi Siwon! Aku memperingatkan! Jika kau berani mendekati Luhan aku akan mencikikmu dengan tanganku sendiri.” Ziyi emosi namun Siwon hanya diam.

“Baiklah, aku menunggu mu.” Siwon menjawab, dia berdiri dan melemparkan sejumlah uang ke meja.

“Aku yang akan membayar makanan, kau mungkin lelah sudah terbang dari paris kesini sebaiknya kau istirahat.” Kata Siwon, dia berbalik hendak pergi namun tangan Ziyi langsung menarik lengannya membuat dia berhenti berjalan.

“Kau tidak bisa menyentuh anakku, Luhan anakku bukan anak mu!” Ziyi membentak, Siwon meraptkan rahangnya kesal dia melepaskan tangan Ziyi dari lenganya dengan kasar.

“MWO? Anakmu?! Dia anakku juga! Aku ingin bertemu dengannya dari dulu namun kau malah kabur dan menikah dengan Zhoumi!” Siwon membentak, matanya melotot penuh emosi membuat Ziyi terkejut.

“Dengar, mungkin selama 25 tahun ini kau berhasil menyembunyikan Luhan dariku namun sekarang..cukup Ziyi! Aku ingin dia tahu siapa ayahnya yang sebenarnya.” Siwon berkata dia berbalik meninggalkan Ziyi yang terkejut.

Ziyi hanya diam, dia masih shock dengan perkataan Siwon. Tidak! Luhan tidak boleh tahu siapa ayahnya yang sebenarnya jika dia tahu siapa ayahnya yang sebenarnya semuanya akan kacau, dia akan membenci Ziyi atau bahkan yang lebih buruk dia akan mundur dari posisinya sebagai pewaris perusahaan Li.

Ziyi menatap kearah punggung Siwon, dia tahu semua ini memang tidak adil bagi lelaki korea itu namun dia tidak bisa membiarkan Siwon mendekati putranya. Dia tahu kalau Siwon akan mendekati Luhan bagaimanapun caranya, Ziyi mengepalkan tangannya mulai sekarang dia harus lebih berhati-hati.

“Luhannie..maafkan mama.” Ziyi bergumam.

[Kediaman keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 21:00 pm]

Hyojin baru selesai mandi, dia melirik kearah jam dan waktu sudah menunjukan jam Sembilan dia tidak tahu kalau Hyojung sudah tidur atau belum namun dia tetap melanjutkan niatnya untuk mengobrol dengan Hyojung.

Hyojin membuka pintu kamarnya dan berjalan kearah kamar Hyojung, dia jadi ingat perkataan Yifan. Dia bilang kalau sebaiknya Hyojin mengajak adiknya mengobrol, Hyojin dan Hyojung memang memliki jarak umur yang sangat jauh dan itu membuat Hyojin kesusahan.

Dia kesusahan untuk mengerti jalan pikir adiknya, adiknya yang begitu muda juga tidak membantunya karena Hyojung sendiri mungkin masih bingung untuk mengerti keadaannya psikologisnya.

“Hyojung-ah..” Hyojin memanggil dan dia mengetuk pintu kamar Hyojung.

Hyojin membuka pintu kamar Hyojung, namun dia tidak menemukan sosok Hyojung dikmaarnya. Hyojin terkejut dia berbalik menuju tangga rumah namun dia juga tidak menemukan sosok Hyojung juga, akhirnya Hyojin berjalan menuruni tangga dan dia bertemu dengan pelayannya.

“Apa kau melihat Hyojung?” Hyojin bertanya pada pelayannya.

“Ah..nona Hyojung sedang duduk dihalaman belakang.” Pelayannya menjawab, Hyojin menghela nafasnya dia takut sekali kalau adiknya kabur.

Hyojin segera berlari kearah halaman belakang rumah mereka yang luas, dia bisa melihat sosok Hyojung sedang duduk di kursi ayunan yang biasa mereka gunakan saat mereka berkumpul waktu dulu.

Hyojung kelihatannya sedang membuka album-album keluarga, Hyojin melangkah mendekat kearah Hyojung. Hyojung yang mendengar langkah kaki kakaknya langsung melirik, dia tersenyum saat dia melihat Hyojin.

“Eonni, kau belum tidur?” Tanya Hyojung dan Hyojin menggelengkan kepalanya dan duduk disamping Hyojung.

“Aku belum mengantuk, kau sendiri kenapa belum tidur?” Hyojin balik bertanya, angin malam sedikit dingin malam itu membuat Hyojin sedikit mengigil.

“Aku rindu Eomma dan Appa, biasanya kan kita sering berkumpul disini iyakan Eonni? Apa kau masih ingat?” Hyojung bertanya dan Hyojin mengangguk.

Tentu saja dia ingat, dia selalu ingat setiap detail waktu yang dia habiskan dengan keluarganya. Dia ingat betapa kocaknya ayahnya jika dia sudah emmbuat lelucon, dia ingat kebiasaan ibunya yang selalu mengomel dia ingat semuanya.

Ayahnya mungkin selalu sibuk dengan perusahaan, namun ayahnya tidak pernah lupa untuk menghabiskan waktu dengan Hyojin atau Hyojung. Hyojin ingat jika dia sedang belajar, ayahnya selalu datang dan menyemangatinya.

“tentu saja aku ingat, bagaimana aku bisa melupakannya?” Hyojin berkata, dia mendongak kearah langit yang penuh dengan bintang dan dia bisa melihat dua bintang yang paling cerah dilangit.

“Lihat! Itu Eomma dan Appa.” Hyojin menunjuk kearah dua bintang yang cerah itu.

Hyojung mengikuti telunjuk kakaknya dan dia tersenyum saat dia melihat dua bintang yang cerah, dia tahu apa maksud Hyojin.

“Eomma bilang jika orang mati, maka dia akan berubah menjadi bintang iyakan Eonni?” Hyojung bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Aku tahu itu, aku yakin Eomma dan Appa selalu memperhatikan kita.” Hyojin berkata, dia melirik kearah Hyojung dan dia terkejut saat dia melihat adiknya itu menitikan airmata.

Hyojin langsung menarik Hyojung kedalam pelukannya, dia tahu adiknya itu benar-benar merindukan orangtua mereka. Namun melihat Hyojung menangis seperti ini dia juga menjadi sedih, Hyojin mungkin tidak terlalu akrab dengan Hyojung namun karena darah mereka sama entah kenapa emosi yang dirasakan Hyojung bisa Hyojin rasakan juga.

“Mianhe, Eonni tidak bermaksud mengingatkanmu pada Eomma.” Hyojin berbisik dan Hyojung mengangguk dia masih menangis.

“Eonni, jangan pergi lagi…aku takut sendirian.” Hyojung berkata dia memeluk Hyojin, mulai dari sekarang dia hanya memiliki Hyojin jadi dia takut jika kakaknya itu akan meninggalkannya juga seperti ayah dan ibunya.

“Aku tidak akan pergi Hyojung, kau tenang saja.” Ucap Hyojin, dia mengelus punggung adiknya yang sedang menangis.

Sudah lama mereka tidak saling berbicara, Hyojin tahu jika Hyojung kesepian namun dia berusaha untuk selalu ada untuk adiknya. Dia tahu ada disamping adiknya dan bermain peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi adiknya tidak mudah namun dia yakin dia bisa mencobanya.

[Kamar Hotel Yifan dan Zhongren, Korea selatan – 23:10 pm]

Zhongren membuka pintu kamar hotelnya, dia lelah sekali dia sebenarnya tertidur beberapa jam di apartemen Taeyeon dia membuka jaketnya dan hendak tidur. Namun dia terkejut saat dia melihat sosok Yifan duduk di sofa kamar hotel mereka, lelaki itu kelihatannya sedang meminum wine.

Zhongren bisa melihat sebuah botol wine ada di meja, sedangkan Yifan meneguk wine yang ada di gelasnya sampai habis. Zhongren tidak tahu berapa lama Yifan menunggu, namun melihat botol wine yang sudah setengah kosong itu menandakan kalau Yifan sudah menunggu lama.

“Hyung, kau menungguku?” Zhongren bertanya dan Yifan melirik kearah Zhongre.

“Oh..Zhongren, kau sudah pulang?” Tanya Yifan, dia melirik kearah Zhongren yang berdiri tak jauh darinya.

“Bukankah sudah lama kita tidak minum bersama? Duduklah, aku akan menusngkan winenya untukmu.” Yifan menyuruh, Zhongren mengangguk dan duduk disamping Yifan.

Yifan yang sudah selesai menuangkan wine kegelas yang baru memberikan gelas itu pada Zhongren, Zhongren menerima dengan senang hati dan meminum wine itu.

“Aku hanya sedang berpikir..” Yifan memulai dan Zhongren melirik kearah kakknya.

“Tentang apa Hyung?” Tanya Zhongren.

“Aku ingin membeli rumah.” Yifan mengungkapkan, Zhongren yang sedang meminum winenya langsung terdiam.

“Kau yakin Hyung?” Zhongren bertanya, dia sangat terkejut sekali saat Yifan mengutarakan niat nya dia bahkan tidak percaya sebenarnya apakah Hyung nya ini sedang mabuk atau benar-benar yakin.

“Ya, aku ingin punya rumah..rumah yang bisa kita tinggali.” Yifan menjawab dia tersenyum dan menatap kearah gelas winenya.

“Kau pasti berpikir aku gila, iyakan?” Yifan tertawa dan dia meneguk lagi winenya.

“Hyung bukankah kau bilang kau hanya punya satu rumah?” Zhongren menatap bingung kearah Yifan.

“Ya aku tahu itu, rumah kita hanya satukan? Hanya panti asuhan dimana kita tumbuh.” Ucap Yifan, dia menghela nafasnya dan melirik lagi kearah Zhongren.

“Aku lelah Zhongren, aku lelah terus berlari dan mengejar sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kita capai.” Lanjut Yifan, dia menyimpan gelas winenya.

“Aku hanya ingin beristirahat di rumah, namun kau dan aku tahu kalau kita tidak bisa kembali ke panti asuhan itu…kita tidak pantas ada disitu.” Yifan berjalan kearah ranjang nya dan berbaring disana.

Zhongren hanya diam, dia tidak mengerti kenapa Hyung nya tiba-tiba saja merubah pikirannya seperti itu? Dia tahu kalau hyung nya bukanlah orang yang gampang merubah keputusan, dia memiliki pendirian yang kuat dan ego yang besar.

Namun sekarang dia sepertinya berubah, dia merubah pemikiran yang dia percayai selama ini. Dia mulai luluh dan lemah, apakah semua ini karena seorang Jung Hyojin? Apakah kakaknya itu benar-benar menyukai wanita itu? Zhongren berpikir.

To Be Continue…

Jangan lupa comment nya😀

Ps:

Hayoo gimana??? adakah yang nyangka kalau Siwon papa nya Luhan?

baut next episode siap-siap aja liat adegan mesra Hyojin sama Yifan yaa!!

ciao! see you in the next episode (-__^)v

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

35 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 5]

  1. Ga nyangka siwon appa nya luhan,,,,hyokin udah beneran suka sama yifan???takut sakit hati kalo tau tujuan yifan deketin hyojin…..okelahhh aq tunggu next part nya..ceritanya makin seru….

    Fighting buat authornya..

  2. semoga aza yifan udah luluh m hyojin,,hhii…
    itu hyojung kasian amat ditinggalin,,hhuhhuu..akhirnyaaaa ketahuan juga papihnya luhan siapa,,ternyata siwon hhahaa,,makin penasaran sama kelanjutannya,,

    d tunggu next chapter,,,😀

  3. omg ini Kris kereeeen bgt sumpah… and Zhongren ada baiknya kamu jauhin taeyon hahaha
    sip thor alurnya detail bgt… makin seru aja nih.. ditunggu next chap nya yah ^^

  4. apa yifan udah mulai suka beneran sama hyojin?
    thor, panggilan kai kok zhong ren? kok gak di panggil kai aja?
    oh.. jadi siwon itu bapaknya luhan ya..
    lanjut thor ceritanya ..

    1. Hayoo coba tebak! oh itu..soalnya Zhongren itu nama cina nya Jongin kan kai sama kris itu di adopsi nya sama orang cina yang tinggal di korea
      ditunggu aja yah kelanjtannya 🙂

  5. thor, lanjutan nya cepet ya??😀
    suka banget sama alurnya, mianhae baru sempet comment di episode 5, hehe
    itu yifan udah mulai luluh sama hyojin, semoga kedepan yifan beneran cinta sama hyojin, aku kasihan sama hyojin dan adeknya,orang2 mendekatinya karena uang dan harta mereka, bukan karena yang lain >.<

    1. sipp di tunggu aja yah lanjutannya Chingu, mari kita berdoa jaa yah soal itu😀 iya emang, soalnya aku ingin bikin cerita ini serealistik mungkin gak muluk-muluk😀

      1. dan author bikin cerita ini hidup, realistik banget, dan aku suka
        >.<
        kutunggu lanjutannya, aku selalu mendukung kris
        kudoakan dari sini thor, biar semangat ngerjain ff ini, kan udah aku comment
        #pede😀

  6. Aku udah nyaangka ayahnya lulu itu siwon loh thor >. < imagenya pas (?) Kkk ffnya rame thor, maaf ya baru komen di chap 5 ini :))

  7. aigo… jadi choi si won it ayahny luhan?? omo.. >_<
    n selain perusahaan it, apa yi fan bener-bener suka ya dengan hyojin?

  8. hyojin cewek yang luarnya tegar tapi daleemnya lembut , suka sama karakter yang seperti itu ..
    suka nglihat taeyeon di kata”in seperti itu😀 #ketawajahat
    habisnya jahat sih , muka duaa banget ..
    kasihan sama yongguk yg memendem cinta gak terbalas T.T
    sabar aja mungkin suatu saat ketemu sama jodohnya ..😀

  9. Aiiih yang chap 4 ternyata udah aku bca tdi kebaca lagi gak papa ya eonni soalnya belum ada wktu buat baca lanjutnya sih jdi lupa deh dlu udah bca smpai mana ><v

    ribet nih urusan hidup kluarga yifan, ayah luhan… siwon?? Apalagi yg belum terungkap mari kita lanjutkan sodara2
    fighting. . .fighting

  10. langsung baca 3 part :pp
    Yeyeyeye. Hyojinnya sama Kris. Yeyeyeye.
    Siwon sama Ziyi apanya. Ga nyangka kalo Luhan bukan anaknya Zhoumi. Pantes lebih milih Kris.
    Lanjuut kak :))

  11. omo gk nyangka klo luhan tuh ankny siwon, tpi knp yizi mlh tinggalin siwon n nikah ama zhoumi? apa krn zhoumi lbh kaya dri siwon???

    cieee kykny tnp sdr yifan udh mulai suka neh hyo jin… mdh2n yifan gk nyktn htiny hyojin

  12. aahh krisnya so sweet banget apalagi pas adegan Kissing nya..
    aku baru tau kalau Zhongren itu kai haha.. pantes lah dia jadi karakternya disini🙂

  13. Ngga bisa ditebak kalo ayahnya luhan itu siwon😮 kkk
    Kenapa kai masih mengharap cintanya yang bertepuk sebelah tangan sih ;A; kai lebih cocok sama hyojung ;-;

  14. iya gk nyangka thor trnyata siwon appa.a Luhan. . .
    wah knp hyojin mau ama yifan. perjuangan yifan kurang lama thor. . . .
    seneng deh kalo main cast yeoja.a OC tp support cast.a dr GD/BB hehehe

  15. maaf chapter 3 sama 4nya gak komen soalnya aku terlalu penasaran sama ceritanya. selama aku baca dari chapter 3 sampai 5 ini, masih ada typo. dan kadang ada penggunaan kata yang tak efektif dan baku. seperti ‘selembar rambut ‘seharusnya sehelai rambut, atau kata ‘betapa kocaknya ayahnya’ bisa diganti betapa lucunya ayahnya. itu menurut ku lho author *dengan ilmu sok tau-_-
    tapi aku suka sama ceritanya walaupun agak ribet sama castnya yang terlalu bayak, tapi disitu yang bikin penasaran ada apa dengan mereka semua? aku mau baca lanjutanya ya author. hwaitting authornya!

  16. emmmmm makin ribet hahaha gak nyangka luhan anakny siwon, oh iya aku jg kasian sama si Hyojung entah kenapa si kai bener2 ngeselin buat aku karena dia ga bs ngelupain taeyeon ;(((

  17. wah siwon ayahnya luhan ternyata. ah pantas aja luhan ganteng ayahnya juga ganteng bgt hhe. hyojung sekarang suka sama kai ya . hm apa yg terjadi selanjutnya aku jadi kepo bgt.
    aku lanjut ya eon.

  18. wah siwon ayahnya luhan ternyata. ah pantas aja luhan ganteng ayahnya juga ganteng bgt hhe. hyojung sekarang suka sama kai ya . hm apa yg terjadi selanjutnya aku jadi kepo bgt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s