Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 4]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Special cameo : Lee Jongsuk

Cast :

  • Jung Hyojin                             Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng              [Kris EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                 [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                        [Yongguk B.A.P]
  • Choi Junhong/ Zelo              [Zelo B.AP.]
  • Li Luhan                                   [Luhan EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG – NC 17

Chapter:

1 , 2 , 3

Bagi yang gak tahu siapa itu Lee Jongsuk bisa lihat disini [Lee Jongsuk]

4

Her Guardian

“Hyung apa kau yakin?” Tanya Zelo, saat dia melihat Yongguk mengemasi barang-barangnya kedalam koper hitam besar yang ada diranjangnya.

“Ya dan sebaiknya kau tidak cerewet, kau beruntung aku memaafkanmu.” Yongguk memarahi, dia mengambil beberapa potong bajunya dari lemari dan menyimpannya di koper.

“Hyung, kau yakin? Bukankah kau ingin melupakan dia?” Zelo bertanya, Yongguk menghentikan aktivitasnya sesaat.

Bayangan wajah Hyojin langsung muncul di pikirannya, Zelo benar. Alasannya untuk keluar dari rumah keluarga Jung adalah untuk melupakan Hyojin, namun sekarang dia memutuskan untuk kembali kesempatan untuk Yongguk akan jatuh cinta kembali pada gadis itu sangat besar.

“Dia membutuhkanku, bagaimanapun aku kakak dia juga.” Yongguk menjawab, setelah dia selesai berkemas.

“Hyung, kau bukan siapa-siapa bagi dia..kau hanya cucu pemba—“ Sebelum Zelo bisa menamatkan kalimatnya, kedua pipinya sudah di pegang oleh Yongguk dan lelaki itu kelihatannya marah.

“Aku tidak peduli, aku mungkin bukan kakak biologisnya namun aku menyayangi dia.” Yongguk melepaskan cengkramannya dari Zelo.

“Hyung! Kau benar-benar gila..apa kau yakin kau bisa ada disisinya hanya sebagai kakak?” Zelo bertanya membuat Yongguk menghentikan langkahnya.

“Hyung, perasaan yang kau punya untuk Hyojin bukanlah rasa sayang..tapi cinta!” Zelo melanjutkan, Yongguk mencengkram tasnya dia tahu apa yang di katakan Zelo benar.

“Lalu kenapa? Apa kau tidakboleh mencintai dia secara diam-diam? Aku hanya ingin ada disisinya..melindungi dia.” Yongguk berkata, dia berjalan keluar dari rumahnya membuat Zelo mengusap wajahnya frustasi.

Bang Yongguk memang orang yang keras kepala, tidak salah lagi.

[Kediaman keluarga Jung, Korea selatan – 07:00 am]

Sarapan Hyojin dan Hyojung sudah siap dimeja, kedua gadis muda yang cantik turun dari tangga dan segera duduk di kursi yang sudah disediakan di meja makan. Semua pelayan langsung sibuk meladeni nona mereka, ada yang menungkan susu kegelas Hyojung dan yang lainnya menuangkan the untuk Hyojung.

Sarapan pagi itu adalah nasi untuk Hyojin sedang Hyojung lebih memilih untuk memakan sandwichnya, Walaupun Hyojin dan Hyojung duduk bersebalahan entah mengapa pagi ini Hyojin tidak mencoba untuk membuat percakapan kecil seperti yang biasa dia lakukan di pagi hari.

Hyojin terlalu sibuk dengan sarapannya, bahkan dia tidak melirik kearah Hyojung yang menatapnya dengan tatapan khawatir. Hyojung sadar kalau kakaknya itu terlihat lebih pucat dari biasanya, dia hendak bertanya namun melihat ekspressi kakaknya dia tahu kalau Hyojin dalam mood yang tidak baik.

Walaupun kecewa Hyojung memakan sandwichnya dengan tenang, dia tidak mencoba untuk membuat suara yang bisa mengganggu Hyojin.

“Maaf Nona..” Tiba-tiba saja salah satu pelayannya berkata, membuat Hyojin berhenti memakan sarapannya.

“Ada seorang pemuda, dia bilang kalau dia adalah cucu dari pembantu yang dulu.” Pelayannya berkata, tiba-tiba saja wajah Hyojin langsung berubah membuat Hyojung terkejut.

“Yongguk Oppa..” Hyojin langsung mengelap bibirnya yang sedikit berminyak, dia meminum air putih yang ada didepan dan langsung berlari keruang tamu mengacuhkan Hyojung.

Hyojung yang penasaran mengikuti langkah kakaknya, dia terkejut saat dia melihat sosok lelaki yang membelakanginya.

“Oppa!!” Hyojin berseru dengan senangnya, lelaki yang membelakangi Hyojung langsung berbalik dan dia tersenyum saat dia melihat sosok kakaknya Hyojin.

“Hyojin-ah.. sudah lama tak bertemu.” Yongguk tersenyum kearah Hyojin, Hyojin langsung memeluk Yongguk penuh kebahagiaan dia merindukan lelaki itu.

“Aigoo.. Uri Hyojin-ah sudah tumbuh dewasa sekarang..” Yongguk berkata, Hyojin melepaskan pelukannya dan tersenyum.

“Nde, oppa juga sekarang sudah lebih tinggi dariku.” Hyojin berkata dia tersenyum manis, inilah kebiasaan Hyojin.

Hyojin slelau berubah menjadi anak kecil setiap kali dia bersama dengan Yongguk, saat Yongguk ada disampingnya dia lupa kalau dia adalah wanita yang berumur 24 tahun. Saat dia melihat Yongguk, dia selalu merasakan kalau dia hanyalah gadis yang berumur tujuh belas tahun lagi.

“Oppa, apa kau datang kesini untuk tinggal disini?” Tanya Hyojin melingkarkan tangannya dilengan Yongguk.

“Tentu saja, aku tidak bisa mengatakan tidak pada gadis yang satu ini.” Yongguk mengelus kepala Hyojin.

“Bagus kalau begitu, aku senang..” Hyojin tersenyum.

“Eonni..” Hyojung memanggil, dia sudah berdiri disana sekitar beberapa menit namun kedua orang yang dia tunggu sepertinya tidak menyadari keberadaannya.

“Ah..Hyojung-ah..sudah lama tidak bertemu.” Yongguk berkata, dia tersenyum kearah Hyojung dan Hyojung membalas dengan senyum tipisnya.

“Nde Oppa, senang bisa bertemu denganmu lagi.” Hyojung membalas, dia ingin mendekat namun melihat Hyojin yang begitu dekat dengan Yongguk membuatnya tidak nyaman.

“Aku harus pergi sekolah, maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama.” Hyojung berkata, dia mengambil tasnya lalu pergi keluar dari rumah.

Dia bahkan tidak berpamitan pada Hyojin, Yongguk yang melihat tingkah aneh Hyojung sedikit khawatir. Apakah mungkin keberadaannya membuat HYojung tidak nyaman? Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu dan Hyojung bukanlah orang yang mudah beradaptasi.

“Oppa, bagaimana kalau aku antar kau kekamarmu?” Hyojin menawarkan.

“Baiklah..” Yongguk menyetujui.

Hyojin menarik Yongguk menuju kamar yang sudah dia siapkan untuk Yongguk, dia tidak sabar untuk menunjukan kamar itu pada Yongguk. Dia tahu kalau Yongguk akan menyukainya, mereka berjalan beberapa menit menulusuri lorong yang cukup panjang sampai akhirnya mereka berhenti didepan sebuah pintu.

Pintu didepan Yongguk dan Hyojin memang terlihat biasa, namun ruangan di balik pintu inilah yang sangat special bagi Yongguk dan Hyojin.

“Tadaaa..” Hyojin bersenandung saat dia membuka pintu kamar yang sudah dia sediakan untuk Yongguk.

“Woww.. Hyojin-ah..” Yongguk terkejut melihat kamar barunya, matanya melebar sata dia melihat betapa indahnya pemandangan jendela dikamarnya.

“Hyojin-ah bukankah kamar ini adalah kamar nenekku dulu?” Yongguk bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Ya, awalnya Eomma dan Appa menyiapkan kamar ini untukmu tapi kau malah memutuskan untuk pergi.” Hyojin berkata, dia duduk di ranjang kecil kamar Yongguk.

“Terimakasih sudah menyiapkan kamar ini, padahal kau tak usah repot-repot.” Ucap Yongguk, dia menyimpan koper yang dia bawa.

“Oppa, kau janji tidak akan pergi lagi?” Hyojin bertanya, dia menatap kearah Yongguk penuh dengan keseriusan.

Yongguk hanya tersenyum tipis, dia tidak sanggup menatap sepasang mata yang menatapnya sekarang. Karena jika dia menatap mata Hyojin dia akan takut, dia takut jika dia akan tenggelam dalam mata coklat itu dan jatuh cinta lagi pada gadis itu untuk kesekian kalinya.

“Mungkin, Hyojin-ah..aku tidak bisa terus disini kau tahu? Kau akan menikah dan memiliki keluarga.” Yongguk menjawab, suaranya bergetar sedikit.

Kenyataan kalau dia tidak akan pernah memiliki Hyojin cukup menyakitkan, dan dengan bodohnya dia barus saja mengingatkan dirinya sendiri dengan fakta itu. Yang jelas Bang Yongguk, dia baru saja menaburkan garam diatas lukanya sendiri.

“Oppa, meskipun begitu kau sudah kuanggap keluargaku..aku ingin kau tetap ada di sampingku.” Hyojin berkata dia mendekat kearah Yongguk, dia tak ragu untuk menyandarkan kepalanya didada bidang Yongguk membuat Yongguk tersenyum pahit.

Tangan besarnya menyentuh kepala Hyojin dan mengelusnya, dia mencium pucuk kepala Hyojin.

“Aku mengerti, karena itu..aku datang kesini sekarang.” Yongguk berkata, dia menghela nafasnya.

Disamping Hyojin memang tidak akan mudah, dia tahu itu. Apalagi saat dia melihat betapa cantiknya Hyojin sekarang, gadis di pelukannya ini tumbuh semakin cantik seperti bunga mawar yang sedang mekar begitu harum dan menggoda.

“Jadi setelah aku ada disini, apa tugasku sekarang?” Tanya Yongguk.

Hyojin melepaskan pelukannya.

“Bagaimana kalau kau jadi bodyguardku saja, aku aka membayarmu dengan bayaran besar..kau tenang saja.” Hyojin menjanjikan, Yongguk tersenyum dia tahu kalau Hyojin akan mengatakan itu dia sudah tahu nona kecilnya itu dari dulu.

“Tak usah membayarku besar-besar, aku senang aku disampingmu.” Yongguk menyentuh pipi Hyojin, Hyojin mengangguk dan menyentuh tangan Yongguk.

“Aku tahu Oppa, tapi anggap saja uang yang aku berikan padamu adalah rasa terimakasihku selama ini.” Hyojin membalas.

“Bukankah sebaiknya kau berangkat? Ini sudah agak siang, apa aku juga harus jadi supir pribadimu?” Yongguk menggoda dan Hyojin tertawa.

“Kau harus ada di sisiku selama 24 jam!” Ucap Hyojin dan Yongguk hanya bisa tertawa sambil menganggukan kepalanya.

Nona nya ini memang sedikit penuntut, tapi tidak apa dia suka berada di samping Hyojin walaupun mereka tidak pernah sederajat. Namun Yongguk yakin, dia cukup bahagia dengan berjalan disamping Hyojin.

Menyaksikan setiap adegan kehidupan gadis itu, menjaganya dan menyayanginya seperti seorang kakak. Walaupun hatinya terus mencemoohnya mengatakan kalau dia seorang yang munafik, namun Yongguk tidak bisa berhenti.

Yongguk menyayangi Hyojin, namun dia tidak ingin menghancurkan hubungan yang mereka punya. Yongguk bukanlah seorang yang kaya atau mempunyai jabatan, dia tidak akan pernah bisa membahagiakan Hyojin apalagi memenuhi apa yang gadis itu inginkan.

[Diperjalanan menuju kantor Jung Textile, Korea selatan – 08:45 am]

Yifan menyentir mobilnya setengah melamun, dia masih ingat perkataan pedas Hyojin tempo hari. Dia benar-benar tidak habis pikir kalau gadis itu akan sekasar itu padanya, ini pertamakalinya seorang gadis sekasar itu padanya padahal biasanya semua gadis langsung bertekuk lutut padanya saat mereka melihat betapa tampannya dia.

Yifan adalah lelaki dengan ego yang besar, bagaimana tidak? Dia memperjuangkan hidupnya dan Zhongren selama ini. Tanpa bantuan sepeser pun dari ayahnya ataupun panti asuhan, dia dan Zhongren bahkan pernah kelaparan sampai akhirnya mereka harus mencopet.

Kehidupan Yifan bukanlah kehidupan yang enak, dia sudah sering dipukuli oleh preman-preman di kawasan Seoul namun sekarang setelah dia sudah terbiasa dengan kehidupan jalanan dia cukup di hormati.

Terimakasih pada wajah tampan dan keahlian berjudinya, dia akhirnya bisa menyekolahan dirinya sendiri dengan sedikit bantuan dari mama Wu. Oh bukan sedikit, sebenarnya hampir 70% uang nya adalah dari mama Wu.

Dia tidak pernah berhenti berterimakasih pada ibu asuhnya itu, namun yang membuat Yifan bingung ibu asuhnya itu tidak pernah membiarkan dia membayar kembali uang pendidikannya.

“Berterimakasihlah pada tuhan, jika kau punya waktu kunjungilah ayahmu di Beijing.”

Perkataan itu meresap kuat di otak Yifan, jika dia tahu kalau dia akan di usir oleh ayahnya saat dia datang ke Beijing dia tidak akan datang. Walaupun Yifan ingin sekali memeluk ayahnya, mengatakan kalau dia menyayangi ayahnya sepertinya keinginan itu hanya akan menjadi angan-angan saja.

Lelaki tua itu bahkan tidak melirik kearahnya saat dia berkunjung, dia malah menyuruh bodyguard sadisnya menyeretnya keluar dari rumah mewah itu. Yifan tidak bisa menangis, dia bukanlah wanita dia hanya bisa berteriak dan mengutuk padahal semua itu tidak cukup karena hatinyalah yang terluka bukan egonya.

Yifan memukul setirnya kesal, dia mengusap rambutnya sedikit menjabaknya kepalanya rasanya ingin pecah jika dia mengingat soal Hyojin dan ayahnya dalam waktu yang sama. Yifan kaget saat dia mendengar handphonenya berbunyi, dia langsung mengangkat teleponnya.

“Ya, ada apa?” Yifan mengangkat teleponnya malas, dia sudah tahu siapa yang menghubunginya.

“Apa kabar anakku? Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan hati Jung Hyojin?” Suara Zhoumi terdengar di seberang telepon.

Yifan diam sejenak, dia tahu ayahnya pasti akan tertawa jika dia menjawab yang sejujurnya dia membuka mulutnya hendak menjawab namun Zhoumi mendahuluinya.

“Aku tahu, kau di tolak mentah-mentah oleh dia bukan? Tidak apa-apa..mungkin kau bisa mencobanya lagi.” Zhoumi berkata, Yifan meremas setirnya dia benci nada cemoohan dalam perkataan ayahnya itu.

“Hyojin bukan gadis yang cerah, dia sepertinya tidak terlalu bahagia jika seseorang menyelamatkan hidupnya.” Yifan mengungkapkan.

“Dia tidak menghargai usaha Yifan.” Zhoumi membalas, dia menghela nafasnya.

“Aku akan memberikanmu senjata untuk bisa mendekat padanya.” Zhoumi melanjutkan.

“Maksudmu?” Yifan bertanya.

“Datanglah keperusahaan Li textile di korea, kau tak usah khawatir aku sudah mengatur semuanya. Mulai hari ini, kau adalah CEO disana.” Zhoumi menjawab dan mata Yifan melebar.

“Tapi baba..” Yifan hendak memprotes.

“Tidak ada tapi-tapian, tenang saja aku akan mengirimkan Yixing untuk membantumu…mulai hari ini belajarlah dengan keras.” Zhoumi memerintah, nada suaranya terdengar sangat absolut dan lelaki itupun langsung menutup teleponnya.

Wei?baba?” Yifan berkata, namun ayahnya benar-benar sudah menutup teleponnya.

Yifan mengehela nafasnya, dia membelokan mobilnya menuju perusahaan Li sepertinya hari ini dia akan cukup sibuk untuk mengurus jabatannya yang baru.

[Perusahaan Li Textile,Korea selatan – 10:30 am]

Yixing sudah berdiri didepan perusahaan Li di korea, dari kemarin dia sudah datang ke korea bersama dengan Luhan. Yixing sedikit sedih saat dia melihat Zhoumi begitu dingin saat melepas kepergian Luhan, sepupu nya.

Tapi bagaimanapun Yixing tahu, Zhoumi melakukan itu karena suatu hal dia sangat kecewa pada tantenya, Zhang Ziyi. Dia tidak menyangka kalau selama ini tantenya menyembunyiakn rahasia yang begitu gelap, Yixing bahkan malu sekali pada Zhoumi sekarang.

Dia tidak tahu kalau dia bisa menatap lurus kearah pamannya itu, Yixing merasa bersalah dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu ada di sisi Zhoumi mendampingi lelaki tua itu.

Sebuah mobil Porsche datang kehalaman kantor Li, Yixing segera berjalan kearah mobil itu karena dia tahu siapa yang datang. Prediksinya benar saat dia melihat sosok tinggi Yifan keluar dari mobil itu, Yixing menyeringai Yifan benar-benar terlihat sudah rapih dan siap untuk menerima jabatannya.

“Apa ayahmu sudah meneleponmu?” Yixing bertanya, Yifan melirik kearah lelaki disampingnya dan mengangguk.

“Sepertinya, kau sudah mengganti bajumu.” Yixing menatap kearah Yifan, dia menyentuh kedua bahu yifan lalu merapikan jas lelaki itu sedikit.

“Kau harus terlihat rapih dan berwibawa, ingat mulai hari ini kau seorang CEO jangan tunjukan sikap yang jelek dan bicaralah dengan bahasa formal.” Yixing memberi pentunjuk.

“Jangan terlalu dekat dengan siapapun, kau harus mengkonsultasikan setiap keputusan denganku. Jika kita menghadiri meeting jangan berbicara sebelum aku ijinkan, bacalah setiap dokumen yang akan kau tanda tangani setidaknya dua kali.” Yixing melanjutkan membuat Yifan memutar matanya, dia tidak terlalu suka dengan peraturan selama ini dia selalu hidup bebas.

“Ya, aku tahu..kau tak usah menceramahiku.” Yifan memotong pembicaraan Yixing.

“Benarkah? Baiklah jika kau cukup percaya diri.” Ucap Yixing, dia berjalan mendahului Yifan dan Yifan mengikutinya dari belakang.

Saat mereka berdua melangkah masuk kedalam perusahaan semua orang menarik nafas mereka, mereka terpesona dengan kehadiran Yixing dan tentu saja Yifan yang terlihat tampan pagi itu.

“Selamat pagi tuan Zhang..” Seorang resepsionis menyapa mereka berdua, Yixing tersenyum kearah resepsionis itu.

“Oh Seohyun, senang bertemu denganmu pagi-pagi sekali.” Yixing menyapa dan resepsionis itu tersenyum, dia melirik sekilas kearah Yifan dan Yifan hanya menunduk sekilas dan Seohyun tersenyum.

“Apa ini CEO baru yang kau bicarakan tempo hari Tuan Zhang?” Tanya Seohyun.

“Oh iya, kau benar dia Wu Yifan.” Yixing mengenalkan, Yifan sedikit kecewa saat Yixing memperkenalkan dia dengan nama marga panti asuhannya. Apakah Zhoumi menyuruhnya seperti itu? Apakah Zhoumi ayahnya masih malu untuk memiliki anak seperti dia?

“Senang bertemu denganmu, tuan Wu.” Seohyun menyapa dan Yifan mengangguk.

“Senang bertemu dengan anda juga, Seohyun-shi.” Yifan kembali menyapa, dia tersenyum malas.

Yixing berpamitan pada Seohyun dan merekapun berpisa, Yixing masuk kedalam lift masih diikuti Yifan yang sebenarnya sedikit penasaran dengan ruangan kantornya. Dia tidak mengharapkan sesuatu yang mewah, dia hanya ingin kantor yang simple dan nyaman untuk dia tempati.

Beberapa menit berlalu pintu lift terbuka, Yixing keluar lebih dulu dan Yifan mengikuti dibelakang masih mencoba mengingat lantai berapakah kantornya. Yixing berdiri didepan pintu double yang sepertinya terbuat dari kayu jati yang tebal, dia menyentuh gagang pintu pintu double itu dan sebuah kantor yang cukup luas langsung menyapa mereka berdua.

Yifan tertegun sebentar saat dia melihat kantornya, begitu luas dan mewah bahkan terlalu mewah untuk selera Yifan.

“Wow..apa ini tidak berlebihan?” Yifan bergumam, Yixing tertawa melihat ekspressi kekaguman Yifan.

“Kenapa? Kau tidak pernah masuk ruangan semewah ini?” Tanya Yixing.

“Tidak, aku sering melihat ruangan mewah seperti ini namun bukan kantor.” Yifan mengungkapkan, dia berjalan kearah mejanya yang besar dan kuat.

Yifan menyentuh meja, tak ada sedikitpun debu di meja itu dia bisa melihat plat namanya yang bertuliskan. “CEO Wu Yifan” dia ingin tertawa dengan jabatan itu. Sebagian orang di perusahaan ini mungkin sudah mengejar jabatan ini dari dulu, namun dia yang baru datang kesini suda duduk enak menjadi CEO yang di hormati semua orang.

“Kau sebaiknya mulai bekeja sekarang, mulai hari ini aku adalah sekertarismu jadi tak usah ragu untuk meminta tolong padaku.” Yixing berkjata, dia berbalik hendak keluar dari ruangan Yifan.

“Tunggu..” Yifan memanggil membuat Yixing menghentikan langkahnya.

“Kau, kenapa kau baik padaku? Aku kira kau membenciku..” Ucap Yifan, Yixing berbalik kearah Yifan dan menyeringai.

“Aku hanya mabuk waktu itu, aku tidak bermaksud untuk menghina ibumu dia wanita yang baik.” Yixing mengungkapkan lalu dia pergi.

Yifan tersenyum sedikit, setidaknya dia bisa memaafkan Yixing sekarang. Mungkin mulai hari ini dia harus cukup manis pada lelaki itu, walaupun dia sendiri masih belum percaya sepenuh pada Yixing dia hanya harus mengetes seberapa besar kesetiaan pengacara sekaligus sekertaris itu.

[Kantor Jung Hyojin, Korea selatan – 12:00 pm]

Hyojin menutup dokumen yang sedang dia baca, kepalanya sedikit pusing. Dia melepaskan kacamata nya dan melirik kearah jam dinding, Waktu masih menunjukan jam 12 siang dan ini waktunya makan siang dia tersenyum dan langsung mengambil handphonenya mengetik nomor Yongguk.

“Ini aku, kenapa? Apa kau butuh sesuatu?” Suara Yongguk langsung terdengar dari seberang telepon.

“Ya, aku ingin makan siang denganmu Oppa.” Hyojin mengutarakan keinginannya.

“Jemput aku, aku menunggu di lobi kantor.” Hyojin berkata sebelum dia menutup telepon, dia merapikan rambut panjangnya sejenak.

Dia menatap kearah bayangan wajahnya yang ada di cermin, dia mencoba tersenyum dan terlihat ceria namun wajah benar-benar kelihatan lelah dia tidak bersinar seperti dulu. Hyojin menghela nafasnya, dia tahu kalau Yongguk pasti akan menyadari betapa lelahnya dia.

Hyojin keluar dari ruangannya dan sekertaris Im langsung menyapanya, Sekertaris Im terlihat sedang tidak sehat saat Hyojin bertatap muka dengannya.

“Sekertaris Im, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat.” Hyojin bertanya khawatir.

“Aku baik-baik saja Hyojin-ah, kau mau kemana?” Tanya Sekertaris Im.

“Aku akan pergi makan siang dengan Yongguk Oppa, jika ada apa-apa hubungi saja aku.” Hyojin menjawab dan sekertaris Im mengangguk.

“Baiklah, hati-hati dijalan.” Sekertaris Im berkata dan Hyojin mengangguk.

“Aku pergi.”

Hyojin berjalan menuju lift, dia menekan tombol nomor satu dan pintu liftpun tertutup. Sekertaris Im langsung duduk kembali di mejanya, dia menatap kearah layar komputernya sebuah rekening bank sedang dia buka dan dia bisa melihat uang di akun bank itu sangat banyak sekali.

Sekertaris Im, menatap sebentar kearah jumlah uang yang ada di sudut layar komputernya. Jumalah uang yang ada di akun bank itu mencapai 10 miliar, Sekertaris Im meremas tanganya saat dia ingat ancaman lelaki itu..lelaki monster itu selalu menghantuinya setiap hari.

Terserah padamu, aku akan memberimu waktu sekitar dua bulan..jika kau tidak berhasil membawa uang yang aku minta maka Hyojin dan Hyojung akan mati..dan semua orang akan menyalahkanmu

 

Suara lelaki itu tergiang-ngiang di kepalanya, Yoona segera menggelengkan kepalanya terlalu takut untuk membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki itu pada Hyojin dan Hyojung.

Haruskah dia melaporkan ini pada polisi? Namun jika dia berbuat itu. Yoona akan di tanyai berbagai pertanyaan dan semua rahasia gelapnya akan terungkap, semua kebusukan dan kejelekannya akan terungkap.

Yoona langsung keluar dari akun bank itu, dia tidak bisa melakukan ini Yoona tidak bisa mencuri uang dari Hyojin dan Hyojung apalagi dari para dewan direksi.

Handphone Yoona bergetar, dia melirik kearah handphonenya dan matanya melebar saat dia melihat nama lelaki iblis yang dia cintai sekligus benci terpampang di handphonenya.

“Jongsuk-ah..” Yoona mengangkat teleponnya.

“Jadi, mana uangku? Apa kau sudah mendapatkannya? Aku bosan harus menunggu 2 bulan.” Lelaki itu berkata dari seberang telepon.

“Jongsuk-ah! Kenapa kau melakukan ini padaku?” Yoona bertanya lirih, namun dia hanya mendengar tawa jahat Jongsuk.

“Tentu saja untuk balas dendam..” Jongsuk menjawab dengan simple, seakan perkataan nya itu adalah sesuatu yang normal.

“Jika aku tidak bisa membunuh orang tua mereka, aku akan membunuh mereka.” Jongsuk menjawab, Yoona ketakutan suara yang dia dengar bukanlah suara Jongsuk yang dia kenal.

“Yoona-ya, ingat..aku menunggu.” Jongsuk mengingatkan dan dia menutup teleponnya.

Jongsuk tersenyum saat dia mendengar nafas berat Yoona, dia tahu kalau mantan kekasihnya itu ketakutan setengah mati dia tidak ragu. Mata Jongsuk melebar saat dia melihat Hyojin keluar dari gedung kantornya, wanita itu masih berdandan rapih seperti biasa namun ada sesuatu yang membuat Jongsuk kaget.

Dia melihat seorang lelaki turun dari mobil marcedes hitam gadis itu, lelaki itu menghampiri Hyojin dan Hyojin dengan senangnya melingkarkan tangannya dilengan lelaki itu.

“Siapa dia..” Jongsuk berbisik, dilihat dari penampilannya seperti lelaki itu bekerja untuk Hyojin namun dia belum yakin.

******

Aku tersenyum saat aku melihat sosok Yongguk Oppa, dia terlihat sangat tampan dalam balutan jas hitam nya. Aku mendekat dan melingkarkan tanganku di lengannya, Yongguk Oppa kelihatanya kaget namun dia tersenyum bahagia.

“Hyojin-ah, sebaiknya kita tidak terlalu dekat..” Yongguk berkata, dia menyentuh tanganku mencoba melepaskan peganganku.

“Tidak apa-apa, lagipula disini sepi.. orang-orang masih sibuk bekerja.” Aku beralasan, namun aku melepaskan tanganku mungkin Yongguk Oppa benar.

Aku berjalan kearah mobilku dan Yongguk Oppa membukakan pintu mobil untukku, setelah itu dia langsung menyusul dan duduk di kursi pengemudi.

“Jadi kau mau makan siang dimana?” Tanya Yongguk, saat dia selesai memasangkan seat beltnya.

Aku berpikir sejenak, sebenarnya kau ingin sekali makan di restoran sushi yang tidak jauh dari kantor. Dulu aku dan keluargaku sering kesana, aku belum sempat mengajak Yongguk Oppa untuk makan disana karena Yongguk Oppa sudah pergi dari rumah saat itu.

Aku memasangkan seat beltku dan melirik kearahnya, Yongguk Oppa sepertinya benar-benar menunggu jawabanku.

“Bagaimana kalau kita pergi kerestoran sushi? Kau suka sushikan Oppa?” Tanyaku, Yongguk kelihatannya setuju karena dia mengangguk.

“Baiklah, kita cari restoran sushi terdekat.” Yongguk Oppa berkata, dia menghidupkan mesin mobilku dan mobilpun mulai maju meninggalkan halaman depan kantor.

Selama diperjalanan kami tidak mengobrol, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padanya, mulai dari bagaimana keadaannya sekarang sampai darimana saja dia selama beberapa tahun ini.

“Apa kau akan diam saja seperti itu?” Tanya Yongguk Oppa, aku terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu dan melirik kearahnya.

“Maaf, aku hanya sedang berpikir.” Aku menjawab dan menggigit bibir bawahku, aku tidak tahu harus mulai darimana aku takut menyingung sesuatu yang tidak seharusnya aku ucapkan.

“Oppa..” Aku memulai membuat Yongguk Oppa melirik kearahku sekilas.

“Ya Hyojin-ah?” Dia merespon.

“Aku hanya penasaran, sebenarnya saat kau pergi..kau pergi kemana?” Tanyaku sedikit gugup, aku takut kalau Yongguk Oppa tidak mau membahas itu.

“Oh..aku pergi ke cina, aku bekerja disana tapi aku memutuskan kembali lagi ke Korea karena kau memintaku untuk datang.”

Aku tersenyum, aku  sebenarnya bahagia karena Yongguk Oppa lebih memilih aku daripada karir nya yang mungkin sudah berkembang di cina.

“Terimakasih Oppa, aku berjanji aku akan membayarmu lebih besar disini.” Aku berkata namun Yongguk Oppa menggelengkan kepalanya.

“Sudah cukup Hyojin-ah aku bosan mendengar itu, aku tidak peduli berapa besar uang yang akan kau berikan padaku yang jelas aku ingin ada disampingmu.” Ungkap Yongguk, aku menatap lembut kearah Yongguk dia terharu dengan perkataan itu.

Yongguk memang selalu menjadi sosok pelindungku dari dulu, dia selalu membuat aku merasa berharga dan di inginkan. Yongguk Oppa tidak mengeluh ataupun berkata buruk padaku, lelaki itu selalu mengikuti dan melindungi aku.

“Jika kau butuh aku, aku akan berjalan disampingmu namun aku tidak akan berbicara karena aku tahu kau hanya butuh aku disampingmu bukan mencampuri urusanmu.” Yongguk melanjutkan.

Aku tersenyum dan mengangguk, apa yang Yongguk katakan benar. Aku tidak suka jika seseorang mencampuri urusanku, aku hanya butuh seseorang yang mendampingiku dan menjagaku agar aku tidak hancur dan tersesat.

“ Bgaaimana pekerjaanmu sekarang? Apa kau sibuk?” Tanya Yongguk sekali lagi, matanya lincah mencari restoran sushi.

“Lumayan, tapi aku sudah terbiasa.” Aku menjawab sedikit malas, aku tidak mengeluh pada Yongguk Oppa.

Jika aku mengeluh aku yakin dia kaan merasa khawatir dan mencoba menghiburku, akupun akhirnya memutusakn untuk berbohong.

“Bagus kalau begitu, kau terlihat lelah bagaimana kalau aku saja yang menjemput Hyojung? Kau bis alangsung pulang dengan pak Hwangjun.” Yongguk oppa mengusulkan, aku hanya mengangguk.

“Ah! Disana ada restoran sushi, apa kau mau makan disana?” Yongguk Oppa menunjuk kearah bagunan kecil yang ada di pinggir jalan, restoran itu terlihat tenang dan cukup sepi.

“Baiklah, kita makan disana.” Aku menyutujui, Yongguk oppa memarkirkan mobilku iddepan restoran itu dan kami berdua turun dari mobil.

Suasana restoran cukup sepi siang ini, bahkan aku hanya bisa melihat beberapa orang yang duduk di meja yang ada di sudut kanan ruangan restoran. Seorang pelayan yang ramah menyapa kami, mengantarkan kami ke meja dan dia memberikan menu restoran pada kami.

“Kau mau makan apa?” Tanya Yongguk Oppa.

“Hm..coba kulihat.” Aku menatap kearah menu, banyak sekali pilihan paket sushi yang bisa aku pilih.

“Aku pilih paket 3 saja, dan minumnya satu orange juice.” Aku memesan dan Yongguk Oppa memesan hal yang sama juga.

Pelayan ramah itu menyuruh kami untuk menunggu beberapa menit, aku melirik kearah jendela restoran melihat banyak sekali orang yang berlalu-lalang di jalanan seoul.

“Soal Hyojung…apakah dia baik-baik saja?” Yongguk Oppa memulai pembicaraan, aku menatap kearah Yongguk oppa dan menggelengkan kepalaku.

“Aku tidak tahu Oppa, dia tidak pernah terbuka padaku.” Aku mengungkapkan, aku sebenarnya sudah khawatir dari kemarin tapi melihat tingkah Hyojung aku bisa sedikit tenang karena dia sudah berhenti bolos.

“Apa reaksi dia saat dia mengetahui paman Yunho dan bibi Boa meninggal?” Tanya Yongguk, aku sebenarnya tidak ingin mengingat momen-momen yang sedih namun aku harus menjawab pertanyaan Yongguk Oppa.

“Dia hanya shock dan menangis, namun aku tahu dia sangat sedih dan kehilangan.” AKu menjawab, karena pada kenyataan nya akupun merasakan hal yang sama.

Rasa kehilanganku pun sama besarnya dengan Hyojung, namun aku merasa menyesal juga karena aku tidak mengunjungi mereka sesering mungkin. Aku hanya tidak ingin mendengar pertanyaan Eomma tentang pernikahan, Eomma selalu memaksaku untuk menikah dan menjodohkanku dengan anak temannya jika aku datang ke Korea.

“Aku mengerti, aku akan bicara dengan dia..aku harap aku bisa menenangkan dia.” Yongguk berkata, dia tersenyum kearahku.

“Terimakasih Oppa.” Ucapku.

[Sekolah Hyojung, Korea selatan 14:00pm]

Hyojung menghela nafasnya, sekolah sudah berakhir dan dia merasa bebas sekali apalagi cuaca hari ini sedikit mendung membuat moodnya sedikit sennag. Hyojung tidak pernah suka sinar matahari, dia lebih suka jika udara sedikit dingin dan langit mendung berwarna abu.

Hyojung melangkah keluar dari kelas, dia mengabaikan teman-temannya yang melirik kearahny aneh. Belakangan ini Hyojung sudah mulai berhenti bermain degan teman sekelasnya, dia tidak tertarik untuk mendnegar gossip soal anak tim basket atau celotehan tentang mode baju yang terbaru.

Dia lebih tertarik untuk belajar, saat dia melangkah keluar dari kelas seorang gadis cantik dengan rambut hitam menyapanya dengan ramah.

“Hyojung-ah..annyeoung!” Gadis itu menyapa.

“Oh…suzy-ah.” Hyojung sedikit terkejut melihat temannya berdiri didepannya, Suzy tersenyum kearahnya dan melingkarkan tangannya di bahu gadis itu.

“Hyojung-ah bagaimana kalau kita makan di kantin? Aku akan menteraktirmu deh.. kau tahukan teboukki di kantin sekolah kita enak?” Tanya Suzy.

“Ah..tapi..”

“Ayolah! Aku juga ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Suzy berkata, dia menarik  Hyojung, membuat Hyojung hampir terjatuh namun beruntungnya Hyojung memilki keseimbangan yang baik.

Suzy melangkah dengan cepat sekali, bahkan Hyojung kelelahan untuk menyusul langkah gadis cantik itu.

“Suzy-ah..” Hyojung memanggil untuk meminta agar Suzy berjalan sedikit pelan.

Saat kaki mereka akhirnya menginjak lantai kantin mata Hyojung melebar, dia kaget saat dia melihat sosok Sehun duduk disalah satu bangku kantin. Apakah dia orang yang akan Suzy kenalkan pada Hyojung, Hyojung meringis dia tidak mau berurusan dnegan lelaki populer itu.

“Sehun-ah!” Suzy memanggil, dia menarik Hyojung dan menyuruh Hyojung untuk duduk disalah satu bangku kantin.

“Ah..Suzy-ah! Kau kemana saja? Aku menunggumu.” Sehun menyahut dan Suzy duduk disampingnya.

“Aku membawa pesananmu..” Suzy menggoda, dan mata Sehun langsung menatap kearah Hyojung yang duduk didepannya masih tertunduk.

“Oh..terimakasih tapi kau tak usah membawanya kesini.” Sehun berkata.

“Tidak apa-apa, lagipula Hyojung temanku dan dia tidak keberatan, iyakan Hyojung –ah?” Tanya Suzy riang dan Hyojung hanya bisa mengangguk, mana mungkin dia mengecewakan temannya yang ceria itu.

“Nde, apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Hyojung bertanya, Sehun menatap kearahnya dan tersenyum.

“Ya, aku belum tahu siapa kamu..aku hanya tahu namamu jadi, bagaimana kalau kita mengenal satu sama lain lebih dekat?” Sehun menawarkan, dia mengulurkan tangannya kearah Hyojung.

Hyojung menatap kearah tangan Sehun, dia akhirnya menjabat tanganku dan Sehun kelihatan lega sata tangan Hyojung akhirnya menyambut uluran tangannya. Dia akan malu skelai jika Hyojung mentah-mentah menolaknya didepan Suzy, apalagi dia punya reputasi yang harus di jaga.

“Nah Sehun-ah.. bagaimana kalau aku pergi sekarang? Aku kaan memesan teboukki untuk kalian berdua.” Suzy mengusulkan, dia berbalik pergi meninggalkan Sehun dan Hyojung yang masih canggung.

“Jadi..bagaimana sekolah? Apakah kelasmu suda menyiapkan konsep untu festival musim gugur kali ini?” Tanya Sehun mencari topic pembicaraan.

“Oh iya, kelasku memutuskan untuk membuat café mini.” Hyojung menjawab, sebenarnya dia tidak terlalu memperhjatikan dia bukanlah tipe gadis yang suka berdebat apalagi mendengarkan ceramah.

“Wah kreatif, kelasku memutuskan untuk membuat rumah hantu.” Sehun mengungkapkan.

“Aku mungkin akan jadi salah satu hantunya, bagaimana kalau kau mampir? Tenang saja aku akan baik padamu..” Sehun berkata dan Hyojung hanya tersenyum tipis.

“Nah ini teubokki kalian!” Suzy tiba-tiba saja datang mengagetkan Hyojung dan Sehun.

“Kalian sedang mengobrol apa? Aku penasaran..” Suzy ikut bergabung dalam percakapan, dia melirik kearah Sehun lali Hyojung.

Suzy tersenyum, ekspressi Sehun benar-benar menunjukan kalau dia menyukai Hyojung sedangkan Hyojung sepertinya terlalu malu untuk menatap Sehun. Suzy hanya bisa menggelengkan kepalanya, keadaan ini mengingatkannya pada sata dia dan pacarnya Chanyeol pertama kali bertemu.

“Oh Sehun-ah! Suzy-ah!” Tiba-tiba saja suara Chanyeol terdengar, wajah Suzy langsung cerah saat dia mendengar suara kekasihnya.

“Chanyeolie!” Suzy memanggil kekasihnya dengan nama kesayangan, membuat Chanyeol tersipu malu.

Aigoo.. suzy-ah..inikan sekolah jangan panggil aku seperti itu.” Chanyeol komplain, dia lalu duduk disamping Suzy.

Sehun dan Hyojung menahan tawa mereka saat mereka mengingat nama kesayangan Chanyeol, lelaki tinggi dan sangar itu ternyata mau saja di panggil seperti itu. Chanyeol memang berubah menjadi anak kecil saat dia didekat Suzy, dia bahkan bermanja-manja ingin disuapi oleh kekasihnya itu.

“Ngomong-ngomong, kenapa kalian disini..terutama dengan Hyojung-ah.” Chanyeol bertanya penasaran.

“Oh Sehun hanya ingin berkenalan dengan Hyojung, lucu sekalikan?” Tanya Suzy kepada Chanyeol dan Chanyeol mengangguk, dia senang..ini pertamakalinya SEhun menunjukan ketertarikan kepada gadis biasanya dia dingin.

“Hyojung-ah, maukah kau menonton pertandingan basketku minggu depan?” Sehun langsung bertanya, membuat Hyojung menatap kearahnya terkejut.

“Huh?kenapa…tiba-tiba…” Hyojung bergumam membuat Sehun tersenyum.

“Aku hanya ingin membuatmu kagum, apa boleh? Dan mungkin kalau kau kagum bisakah aku mengajakmu berjalan-jalan jika ada waktu?” Sehun bertanya membuat Hyojung tersipu malu, pipinya bahkan merah padam sekarang.

“Hahaha Aigoo Sehun-ah! Kau terlalu jujur..lihat Hyojung jadi kebingungan seperti itu.” Chanyeol tertawa, begitu juga Suzy.

Wae? Apa aku salah?” Tanya sehun yang tidak tahu kalau gadis yang ada didepannya gugup setengah mati.

“Sehun-ah jika kau ingin mendekati Hyojung, kau harus pelan-pelan..” Suzy berbisik.

“Dia bukan tupe yang berpengalaman, lihat saja ekspressinya.” Chanyeol berbisik lagi dan Sehun baru menyadari kalau Hyojung gugup dan salah tingkah.

“Maaf jika kau terlalu jujur, terkadang aku tidak bisa menhan apa yang ada dihatiku.” Sehun berkata dan meminta maaf, Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa.” Hyojung memaafkan.

“Jika kau ingin dtaang di pertandinganmu aku akan datang,soal jalan-jalan..maaf tapi sepertinya aku harus mempertimbangkan itu.” Hyojung menjawab, suaranya sedikit bergetar mungkin karena gugup.

“Baiklah, tidak apa-apa…aku cukup senang dengan kehadiranmu di pertandingan.” Sehun menjawab dia tersenyum cerah kearah Hyojung, Hyojung yang melihat senyum itu langsung melirik kearah lain.

Senyum Sehun begitu cerah dan menarik, dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat membuat dia ingin segera menutup matanya dan tidak melihat Sehun lagi.

“A-aku harus pulang, smapai jumpa nanti.” Hyojung berkata, dia bahkan tidak melirik kearah Sehun saat dia bangkit dari duduknya.

Sehun langsung mengikuti langkah Hyojung, dia berniat untuk mengantarkan gadis itu sampai gerbang sekolah. Dia hanya ingin menghabiskan waktu lebih dnegan Hyojung sebenarnya, tidak apa-apa jika gadis itu tidak imengobrol dnegannya dia hanay butuh untuk berdiri disamping Hyojin saja.

Hyojung melirik kearah Sehun, dia mungkin bertanya-tanya kenapa pemuda itu mengikutnya namun dia tidak berkata apapun dan melanjutkan langkahnya.

“Aku hanay ingin mengantarmu, tidak apa-apakan?” Tanya Sehun lagi, memecahkan keheningan diantara mereka.

“Ya, tidak apa-apa.” Hyojung menjawba singkat, sebenarnya baru kali ini dia pulang dari sekolah dengan seornag teman biasanay dia suka menunggu jemputan sendirian sambil melamun.

Hyojung dan Sehunpun sampai di gerbang sekolah, Hyojung sudah bisa melihat mobil Mercedes kakaknya dan dia hendak memanggil Hyojin. Namun dia membatalkan niatnya sata di amelihat kalau Yongguklah yang keluar dari mobil Hyojin, bukan kakaknya.

“Yongguk Oppa..” Hyojin bergumam membuat Sehun melirik kearah Hyojung.

“Siapa dia?” Tanya Sehun penasaran.

Yongguk yang melihat sosok Hyojung langsung tersenyum kearah Hyojung, dia berjalan kearah Hyojung dan dia melirik kearah Sehun saat dia mendapati kalau pemuda itu berdiri tepat disamping Hyojung.

“Hyojung-ah, maaf kakakmu sedang sibuk jadi hari ini aku yang menjemput.” Yongguk mengungkapkan dan Hyojung mengangguk.

“Oh nde, arraseo.” Hyojung mengangguk.

“Siapa kau?” Tanya Yongguk pada Sehun, nada suaranya terdengar tidak ramah sama sekali membuat Sehun sedikit terintimidasi.

“Aku teman Hyojung.” Sehun menjawab, sosok Yongguk yang tinggi dan berotot membuatnya merasa sedikit terancam apalagi Hyojung memanggilnya dnegan sebutan ‘Oppa’.

“Oh begitu, terimakasih sudah mengatarkan nona ini sampai didepan sekolah.” Yongguk berkata, dia melingkan tangannya di bahu Hyojung.

“Ayo Hyojung-ah kita pulang.” Dia berkata Hyojung menunduk sekilas kearah Sehun dan diapun mengikuti langkah Yongguk dan masuk kedalam mobil Mercedes hitam kakaknya.

“Ini kesempatanmu Sehun-ah, rebut hati Hyojung dengan begitu ayahmu bisa menguasai perusahaan Jung.”

“Eomma, tapi bukankah itu keterlaluan? Apakah itu sama saja dengan menipu?” Tanya Sehun, dia menatap kearah ibunya yang duduk didepannya.

“Tidak ada pilihan lain Sehun, jika ayahmu memutuskan untuk memberikan semua saham perusahaannya pada kakak tiri mu kita akan diusir dari sini.” Ibu Sehun mengungkapkan, suaranya terdengar resah dan gugup.

“Tapi Eomma..” Sehun mencoba menolak.

“CUKUP! Aku membesarkanmu sampai sekarang, memberimu makan,pakaian dan fasilitas lainnya ini saat nya kau berbalas budi padaku.” Ibu Sehun bersih keras, wanita paruh baya itu menatap kearah Sehun dengan mata sayunya.

“Sehun-ah..Eomma mohon, lakukan ini untuk Eomma..untuk kita sehun-ah!” Ibunya memohon, suaranya terdengar menyedihkan membuat Sehun menghela nafasnya.

“Baiklah Eomma, jika itu yang kau mau.” Sehun menyetujui, dia meremas tangannya dia benci untuk berbohong namun sekarang dia sendiri harus hidup dalam kebohongan.

Menipu Hyojung dan mungkin menipu dirinya sendiri, namun seperti apa yang dikatakan ibunya mereka tidak memiliki pilihan lain. Kakak tirinya memang tidak pernah menyukai dia dan ibunya, dari dulu kakak tirinya tidak pernah melirik kearahnya ataupun menyentuhnya Sehun masih ingat.

Dia masih ingat sekali, saat dia berumur sepuluh tahun dan kakaknya sudah berumur tiga belas tahun saat itu. Dia menyukai kakak tirinya, sehingga Sehun selalu mendekati kakak tirinya dan mencoba mengajaknya bermain bersama.

“Noona, apakah aku boleh bermain bersamamu?” Tanya Sehun saat dia melihat kakaknya sedang bermain  menggunakan platisin yang berwarna-warni.

“Mau apa kau kemari, pergi sana..” Kakak tirinya mengusir.

“Tapi Noona..Appa bilang kalau aku harus bermain denganmu.” Sehun mencoba memprotes, Noona nya langsung melirik kearahnya mata indah itu melotot kearahnya membuat dia takut dan menunduk.

“Ya! Apa kau tuli? Sudah kubilang kalau kau sebaiknya pergi! Aku tidak suka kau..kau hanya anak haram yang merusak keluarga indahku!” Kakak perempuannya membentak, Sehun menatap sedih kearah kakak tiri nya dan berbalik.

“Jiyoung Noona, wae? Kenapa kau sangat kejam padaku?” Sehun menyentuh dadanya, hatinya selalu sakit jika dia mengingat kakak tirinya yang dia sukai.

Sehun-ah.. Urimaniyeyo…

Seorang wanita berbisik, tanpa Sehun ketahui seorang wanita yang mengendarai sedan Hyundai silver menatap kearahnya. Kacamata hitam yang dia kenakan menyembunyikan mata coklat indahnya,rambut coklat walnutnya terlihat bersinar terkena sinar matahari siang begitu juga kulit pucat putihnya.

“Omo..aku tidak menyangka kau akan tumbuh seperti sekarang, lihat kau..tinggi dan tampan sayang masih saja bodoh seperti dulu.” Wanita itu menyeringai dan menghidupkan mesin mobilnya.

“Coba aku lihat bagaimana ekspressimu saat kau melihatku dirumah.” Waniat itu berkata dan dia mengarahkan mobilnya menuju jalan raya meninggalkan gang kecil yang menjadi tempat persembunyikan mobilnya tadi.

*********

Aku duduk disamping Yongguk Oppa, aku melirik kearahnya dan sepertinya dia terlalu fokus menyetir. Aku ingat dengan janjiku pada Zhongren oppa, haruskah aku memintanya untuk mengantarku ke café? Ah tidak..jika dia tahu kalau aku bertemu dengan seorang lelaki dia pasti akan panik.

Yongguk oppa sama saja dengan Hyojin Eonni, mereka seperti Appa dan Eomma keduaku. AKu menghela nafas, haruskah aku mencari alasan untuk bertemu dnegan Zhongren? Aku melirik kearah kaca spion.

Saat aku melamun tiba-tiba saja sebuah ide datang menghampiri pikiranku, aku tersenyum licik terkdang otakku bisa digunakan untuk tipu muslihat juga.

“Ya tuhan!” Akuberseru membuat Yongguk Oppa melirik kearahku.

“Ada apa Hyojung? Apa kau lupa sesuatu?” Yongguk Oppa bertanya dengan khawatir, sangat tipikal sekali darinya.

“Aku lupa harus membeli sesuatu.” Aku berkata.

“apa yang ingin kau beli?” Tanya Yongguk Oppa.

“Aku harus membeli sesuatu, tapi Oppa aku malu..”  Aku berkata sambil merajuk dan memasangkan muka lucuku.

“Kenapa? Apakah hal itu penting?” Yongguk oppa bertanya dan aku mengangguk.

“Oppa bagaimana kalau kau mengantarkan aku kedaerah pusat perbelanjaan saja nanti aku bisa pulang sendiri.” Aku meminta, Yongguk oppakelihatan emmeprtimbangkannya.

“Aku mohon Oppa! Aku butuh sekali hali itu..kalau tidak akan gawat!” aku berbohong mencoba memakai ekspressi panikku.

“Aishh baiklah, tapi ingat jangan lebih dari dua jam..jika kau belum pulang sata jam lima sore aku akan mencarimu.” Yongguk Oppa mengancam dan aku mengangguk dengan antusias.

“Nde! Arraseo..” Aku berkata.

“Baiklah, aku akan mengantarkanku ke pusat perbelajaan.” Yongguk oppa berkata, dia membelokan mobil menuju pusat perbelanjaan membuatku sennag.

“Ternyata aktingku bagus juga.” Aku berpikir dan tersenyum.

Tak memakan waktu lama aku sampai dipusat perbelanjaan, aku turun dari mobil dan melabaikan tanganku pada yongguk oppa saat mobilnya melaju menjauh dariku. Aku tersenyum dan segera pergi menuju café dimana aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Zhongren.

Aku berjalan cepat menuju café entah kenapa hatiku tidak sabar sekali untuk bertemu dnegan Zhongren Oppa, sepertinya hatiku akan meledak jika aku melihatnya hari ini. Dan benar sjaa, aku tersenyum bahagia saat aku melihat sosok Zhongren Oppa yang duduk disalah stau bangku yang ada di café.

Zhongren oppa terlihat sedang santai meminum tehnya, dia membuka halaman majalah yang sedang dia baca saat aku melangkah masuk. Aku bejalan cukup pelan, hendak mengagetkannya dan sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku.

“Kau sudah menunggu lama, Oppa?” Tanyaku, membuat Zhongren menatap kearahku dan menyimpan majalahnya.

“Hyojung-ah..senang kau datang.” Zhongren Oppa tersenyum kearahku dan aku mengangguk.

[Kediaman keluarga Oh, Korea selatan – 18:12 pm]

Sedan Hyundia silver berhenti tepat didepan rumah keluarga Oh, semua pelayan sudah berbaris rapih menyambut kedatang orang yang ada didalam mobil itu. Seorang pelayan lelaki langsung membukakan pintu mobil sedan itu, menampilkan sesosok gadis cantik didalam mobil sedan silver itu.

Gadis tinggi itu memakai baju hitam dengan celana yang cukup ketat memperlihatkan lekuk tubuh nya yang indah, rambut coklat nya tergerai rapih. Mata tajamnya melirik kekanan dan kekiri memperhatikan jajaran pelayannya yang begitu banyak, dia mendongak dan melihat sosok tua ayahnya yang selalu didampingi oleh sekertaris dan istri mudanya.

Cih! Wanita itu ingin sekali meludah saat dia melihat sosok istri muda ayahnya, dia tidak pernah menyukai wanita yang penuh tipu muslihat itu. Namun sayang, dia harus berakting menunjukan pada ayahnya kalau dia menyayangi ibu tirinya itu.

Dengan langkah yang pelan namun tegas gadis itu berjalan menuju ayahnya yag sudah menunggu diujung jajaran para pelayan, gadis itu tersenyum saat akhirnya dia cukup dekat dengan ayahnya.

“Aigoo Jiyoung-ah! Sudah lama tidak bertemu.” Ayahnya berkata, dia membuka tangannya membuat Jiyoung menunduk kearah ayahnya dan memeluknya.

“Appa…aku sangat rindu padamu.” Suara manja gadis itu terdengar, Jiyoung memang sangat menyayangi ayahnya, setidaknya dia bisa berakting seperti itu walaupun didalam hatinya dia mengutuk lelaki tua itu.

“Jiyoung-ah senang melihatmu lagi.” Suara wanita itu membuat rahang Jiyoung mengeras, dia tidak suka suara itu.

Jiyoung melepaskan pelukannya dari ayahnya, Jiyoung langsung memeluk istri kedua ayahnya itu dengan erat membuat wanita paruh baya itu hampir tersedak karena kaget. Jiyoung menyeringai saat dia mendengar wanita paruh baya itu terbatuk-batuk karena kaget, Jiyoung mengelus punggung ibu tirinya itu dan berbisik.

“Lain kali aku akan memastikan untuk membuatmu tersedak sampai mati.” Jiyoung berbisik dan akhirnya dia melepaskan pelukannya.

“Eomma..aku juga rindu padamu, aku tidak percaya aku bisa melihatmu maish ada dirumah ini.” Jiyoung menyindir namun senyum manisnya masih terpampang di wajah cantiknya.

Ayahnya dan semua pelayannya kelihatannya cukup bodoh untuk percaya pada aktingnya, mereka malah tersenyum berbisik kalau hubungan dia dan ibu tirinya kelihatannya baik-baik saja.

“Jiyoung-ah..kau pasti lelah, istirahatlah dulu atau kau ingin makan malam?” Tanya ayahnya dengan manis.

“Hm.. terimakasih Appa, tapi dimana Sehun?” Tanya Jiyoung penasaran, dia melirik kesekitar namun dia tidak juga menemukan sosok adik tirinya yang dia benci setengah mati itu.

“Kau mencariku Noona?” Tanya Sehun, Jiyoung melirik kearah sumber suara dan dia bisa melihat Sehun berdiri diujung tangga dengan senyum manis namun sinisnya.

“Oh kau masih hidup ternyata, aku terkejut.” Jiyoung seklai lagi menyindir, mulutnya itu sepertinya sudah terbiasa merangkai kata-kata tajam yang sinis.

“Ya, aku berterimakasih pada tuhan kalau aku masih diberi kesempatan untuk melihatmu lagi.” Sehun menjawab, dia memasukan tangannya kesaku jeans yang dia kenakan.

“Kau terlihat lebih tampan dari sebelumnya, kau pasti populer disekolahmu.” Jiyoung berkata, kali ini dia memutuskan untuk bersikap manis.

Dia suka bermain game, game yang paling dia sukai adalah game up and down. Game itu adalah game dimana dia akan memuji-muji seseorang sampai orang itu melayang, dan kemudian beberapa menit kemudian dia akan menjatuhkan orang itu dan menginjak-nginjaknya sampai dia meludahinya betapa menyenangkan bukan game itu?

“Tidak juga, aku tidak sepopuler Oh Jiyoung yang paling cantik di kelasnya dan yang paling suka membuat onar.” Sehun berkata sinis, Jiyoung tersenyum dia suka dengan balasan Sehun, ternyata anak ingusan itu ingin bermain dengan iblis ini? Baiklah…kita lihat sampai mana dia bertahan.

“Oh jangan mulai dengan kata onar, bagaimana dengan tim basketmu yang urakan? Aku sudah melihat seragam barunya secara online, jangan bilang kalau kau yang mendesain seragam itu Sehunnie?” Tanya Jiyoung, tangan Sehun langsung mengepal dia tidak suka dengan cara Jiyoung merendahkan tim basketnya.

“Noona aku rasa ini urusan diantara kita, kenapa kau membawa-bawa tim basketku?” Sehun bertanya dan Jiyoung tertawa, lucu sekali saat dia melihat ekspressi marah Sehun.

“Hahahaha.. maaf Sehun-ah, aku hanya memberi komentar.” Jiyoung menjawab, dia berjalan mendekat kearah Sehun, diletakannya tangan lembutnya di bahu Sehun.

“Senang bertemu denganmu lagi, dongsaengi..” Jiyoung berkata dia mengecup pipi Sehun sekilas dan pergi keatas menuju kamarnya.

Sehun membeku sesaat, dia tidak menyangka kakaknya itu akan menciumnya seperi itu ini pertama kalinya selama belasan tahun Jiyoung menyentuhnya. Sehun tidak bisa menahan senyumnya dia tersenyum dan melirik kearah sosok kakaknya yang menjauh, sepertinya Sehun tidak usah sedih hari ini.

[Sebuah Café, korea selatan –  17:45pm]

“Haahaha kau lucu sekali Oppa.”  Suara tawa Hyojung bisa terdengar, dia tidak bisa menahan tawanya saat dia melihat Zhongren menirukan gaya Krong yang sering dia lihat di dalam kartun anak-anak pororo.

“Terimakasih, sudah lama aku tidak membuat orang lain tersenyum.” Zhongren berkata, dia menatap kearah Hyojung.

Entah kenapa setiap kali Zhongren melihat kearah gadis itu dia selalu tertegun, dia tertegun akan manisnya senyum dan tawa gadis itu. Zhongren mengakui kalau Hyojung memang cantik, terkadang dia menatap kearah mata gadis itu sesaat dan mengagumi betapa beningnya mata Hyojung dan putihnya kulit gadis itu.

“Oppa, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh diwajahku?” Tanya Hyojung, dia tiba-tiba merasa malu dan menyentuh wajahnya.

“Ah..bukan apa-apa, aku hanya sedikit melamun.” Kata Zhongren, dia tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya canggung.

“Hyojung-ah, aku sebenarnya punya tiket untuk drama musikal Elizabeth kau tahu? Drama musikal itu cukup populer.” Zhongren mengungkapkan, dia mengodok saku jasnya dan memberikan Hyojung satu tiket.

“Bagaimana kalau kita menontonnya?” Zhongren mengajak, dia menunggu jawaban Hyojin dengan penuh harap.

Dia tahu dia akan kecewa jika Hyojung menolaknya, dia tidak bisa berbohong sepertinya dia mulai menyukai gadis muda yang duduk dihadapannya. Hyojung hanya menatap kearah tiket itu, sebenarnya dia ingin menolak apalagi saat dia melihat waktu yang tertera di dalam tiket itu.

Waktu dalam tiket itu menunjukan pukul delapan malam, dia bisa di cekik oleh Yongguk dan Hyojin kakaknya jika dia keluar malam-malam apalagi jika mereka tahu kalau dia pergi dia seorang pria yang baru saja Hyojung kenal.

“Oppa..maaf tapi sepertinya aku tidak bisa.” Ucap Hyojung penuh kekhawatiran, da tahu kalau Zhongren pasti akan kecewa.

“Kenapa? Apa kau sedang sibuk? Kita bisa menontonnya lain kali..” Zhongren bertanya, padahal dia kecewa sekali saat dia mendengar jawaban Hyojung.

“Bukan begitu…aku takut kakakku tidak mengijinkan aku untuk datang kesana apalagi waktu drama musikal itu dimulai pada malam hari.” Hyojung mengungkapkan, dia bermian dengan jarinya cemas.

“Tidak apa-apa, lagipula ini salahku…seharusnya aku bertanya padamu sebelumnya.” Zhongren mengambil tiketnya, dia menghela nafasnya kecewa membuat Hyojung semakin merasa bersalah.

“Bagaimana kalau kita pergi ke aquarium saja? Aku mungkin bisa pergi kesana besok..” Hyojung mengusulkan, dia tahu ini keputusan yang bodoh dia baru saja mengajak Zhongren berkencan sejak kapan dia berani seperti ini?

“Benarkah? Baiklah..jika kau bisa, kenapa tidak?” Zhongren berkata tersenyum, dia tahu pesona pasti sudah mulai menggaet hati Hyojung.

“Tapi sebaiknya kit tidak pergi berdua, bagaimana kalau Oppa membawa teman? Aku akan membawa temanku juga.” Hyojung kembali memberi usulan, Hyojung mengigit bibirnya dia pasti terlihat bodoh sekarang kenapa juga dia harus berkata seperti itu?! Apa tidak ada alasan lain?

Hyojung menatap kearah Zhongren, sepertinya Zhongren kaget dengan usulan Hyojung dia mungkin kecewa karena sepertinya Hyojung hanya ingin berteman dengannya.

“Teman? Baiklah…apa aku harus membawa teman lelaki?” Zhongren bertanya dan Hyojung mengangkat bahunya tidak yakin.

“Terserah, tapi jika kau tidak bisa membawa teman tidak apa-apa…aku juga tidak akan membawa teman jika kau tidak.” Hyojung berkata, dia tahu apa yang dia katakana sedikit membingungkan, sekarang dia mulai terlihat seperti remaja labil yang tidak bisa mengambil keputusan yang tegas.

Zhongren menyeringai, dia ingin mencubit pipi Hyojung saat dia melihat gadis itu menunduk malu dan dia mengembungkan pipinya mencoba untuk tenang. Begitu polos dan murni, Zhongren bersumpah dia begitu iri pada Hyojung karena sosok Hyojung mengingatkannya pada dirinya dulu.

Sosok Hyojung mengingatkannya pada dirinya sebelum dia merasakan kepahitan kehidupan, dia ingat dulu dia adalah pemuda yang ceria dengan seribu senyum. Namun hari ini, dia bukanlah pemuda itu, sekarang dia adalah Wu Zhongren lelaki dengan seribu rahasia.

“Baiklah, tapi sepertinya kau tak usah membawa teman..aku lebih suka kita pergi berdua bagaimana menurutmu?” Zhongren mendekat kearah Hyojung, Hyojung tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah jika itu yang kau mau Oppa.” Hyojung berkata.

Hyojung melirik kearah jam dinding Café dan waktu hampir menunjukan jam lima sore, dia bisa melihat matahari mulai terbenam dan dia langsung berdiri dari duduknya membuat Zhongren terkejut.

“Aku harus pulang, aku khawatir kakakku marah.” Hyojung berkata dia mengambil tasnya.

“Terimakasih atas waktunya Oppa, aku senang bisa berbicara denganmu lagi.” Hyojung berkata dia menunduk sekilas kearah Zhongren dan berbalik.

Hyojung merasakan tangannya di tarik oleh Zhongren membuat dia terkejut, dia berbalik dan menatap kearah Zhongren.

“Mari aku antar, sekarang kau tidak bisa menolak.” Zhongren berkata dan Hyojung menghela nafasnya, sepertinya Zhongren tidak akan menyerah.

“Baiklah jika kau memaksa.” Hyojung menurut, dia membiarkan Zhongren mengikutinya dari belakang setelah mereka membayara pesanan mereka di café.

Zhongren membuka pintu mobilnya dan membiarkan Hyojung masuk, gadis itu segera memasangkan sabuk pengamannya, saat Zhongren masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi Hyojung melirik kearahnya.

“padahal rumahku tidak jauh dari sini kau tak usah mengantarku Oppa.” Hyojung berkata dan Zhongren hanya menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, berbahaya untukmu jika kau pulang sendirian aku tidak bisa tidur kalau sesuatu terjadi padamu apalagi yang lebih buruk, bagaimana kalau kau bertemu dengan lelaki lain yang lebih tampan dariku?” Zhongren bercanda dan Hyojung tertawa, Zhongren suka suara tawa gadis itu sangat merdu seperti suara nyanyian penyanyi kesukaannya.

“Hahaha Oppa, kau ada-ada saja.” Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Katakan padaku kemana jalan rumahmu.” Zhongren berkata dan menghidupkan mesin mobilnya.

“Lurus saja, nanti kau akan menemukan kompleks perumahan.” Hyojung menjawab.

[Perusahaan Jung, Korea selatan – 18:24 pm]

Hyojin berdiri dari kursinya, ini sudah sore bahkan hampir malam dia berbalik menatap kearah jendela besra di kantornya. Dia bisa melihat lampu-lapu jalanan mulai di hidupkan dan langit sudah berwarna hitam gelap, Hyojin mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kantornya.

Hyojin maish melihat sekertaris Im menunggunya, sekertarisnya itu kelihatannya baru selesai mengerjakan beberapa dokumen.

“Im biseo-nim.” Hyojin memanggil dan sekertaris Im mendongak menatap Hyojin.

“Ah..Hyojin-ah, apa kau akan pulang?” Tanya sekertaris Im.

Nde, apa kau sudah selesai?” Tanya Hyojin namun sekertaris Im menggelengkan kepalanya.

“Belum, tapi sebaiknya kau pulang aku yakin Yongguk pasti sudah menunggumu dibawah.” Sekertaris Im berkata dan Hyojin mengangguk.

“Baiklah, jangan terlalu malam..nanti pagi kau lelah.” Kata Hyojin dan Yoona atau sekertaris Im mengangguk.

“Tenang saja Hyojin-ah, aku belum tua…” Yoona berkata dan tersenyum.

“Aku pergi dulu, sampai besok.” Hyojin berpamitan dan pergi kearah lift, sekertaris Im menunggu sampai pintu lift Hyojin tertutup.

Setelah pintu lift Hyojin tertutup dia kembali menatap kearah dokumen yang dia pegang, dokumen yang dia pegang adalah dokumen tentang pemasukan uang perusahaan Jung. Bulan ini pemasukan uang perusahaan Jung cukup lancar, dia bisa melihat angka uang yang sangat tinggi membuatnya semakin bimbang.

Yoona melirik kesekitarnya, dia berjalan kearah ruangan Hyojin. Yoona bisa melihat beberapa tumpukan dokumen di meja Hyojin, dia mendekat kearah meja Hyojin dan membuka dokumen-dokumen itu.

Yoona tahu apa yang dia lakukan salah, namun dia tidak memiliki pilihan lain dia harus melakukan ini. Yoona membaca dokumen yang dia pegang, dokumen itu berisi tentang pengajuan sebuah proyek baru yang berhubungan dengan Clothing line.

Yoona membaca setiap rincian biaya-biaya yang di butuhkan untuk proyek clothing line itu dan dia terkejut saat melihat total semua biaya Clothing line yang sangat mahal, dia melihat kalau Hyojin menyetujui proyek itu dan menandatanginya membuat Yoona menghela nafasnya.

“Haruskah aku mengambil uang ini?” Yoona bergumam, dia menutup kembali dokumen itu dan keluar dari ruangan Hyojin.

Hyojin melangkah keluar dari kantornya, dia sudah lelah dan matanya rasanya sudah berat sekali. Dia hanya ingin merebahkan tubuhnya di ranjang dantertidur, dia bahkan tidak mau makan malam dia hanya ingin mandi dan tidur.

Suara klakson mobil mengagetkannya, dia mencari sumber suara itu dan tiba-tiba saja sebuah mobil Porsche hitam yang tidak dia kenal berhenti didepannya.

Annyeounghasimnika, Hwajang-nim.” Kaca mobil Porsche itu menurun dan sosok Yifan yang duduk di kursi pengemudi bisa terlihat.

Hyojin menghela nafasnya, dari semua waktu pada hari ini kenapa dia harus bertemu dengan lelaki menyebalkan itu pada saat dia beristirahat.

Mwo? Hwajang-nim? Kau pikir kau siapa memanggilku seperti itu?” Tanya Hyojin sebal, dia tidak ingin berurusan dnegan lelaki itu sekarang.

“Aku patner kerjamu, apakah aku salah memanggilmu seperti itu Hwajang-nim?” Yifan berkata, dia mengangkat halisnya membuat Hyojin mendengus kesal.

“Aku tidak ingin bermain-main denganmu, aku lelah sebaiknya kau pergi.. kkeojyeo!” Hyojin mengusir, dia bahkan mengacuhkan Yifan yang sudah membukakan pintu mobilnya untuk Hyojin.

“Ah..aku tahu, kau hanya jual mahalkan?” Tanya Yifan, dia turun dari mobilnya.

“Ayolah, aku tahu kau lelah jadi berhenti bertingkah lucu dan masuk kemobilku.” Yifan berkata, dia bahkan tidak ragu saat dia menarik tangan Hyojin dengan mesra.

Sebagian pegawai yang baru keluar dari perusahaan berbisik sata mereka melihat pimpinan mereka di gandeng oleh lelaki tampan, Hyojin yang tentu saja sadar akan situasi langsung melepaskan tangan Yifan dari tangannya.

“Ya! Apa kau tidak tahu sopan santun?! Aku bukan temanmu atau pacarmu jadi jangan pernah sentuh tanganku.” Hyojin membentak marah, Yifan hanya tersenyum.

“Aigoo, Hwajang-nim kalau kau marah kau terlihat lucu sekali.” Yifan memuji membuat Hyojin merapatkan giginya kesal.

“Dengar ya, aku tidak suka kau…jadi pergilah aku tidak ingin berurusan denganmu lagi.” Hyojin memberi peringatan, namun seperti Yifan tidak mendengar peringatan itu.

“Tapi aku menyukaimu…aku ingin terus berurusan denganmu.” Yifan protes.

Hyojin yang mendengar pengakuan Yifan hanya menatap bingung kearah Yifan, bagaimana seseorang bisa begitu berani dan jujur seperti itu?  Sekarang Hyojin kebingungan untuk menjawab dia hendak membuaka mulutnya untuk menjawab namun Yifan kembali menarik tangannya.

“Kau bisa menjawab pengakuanku didalam mobil,masuklah.” Yifan mendorong Hyojin masuk kedalam mobil porschenya dan Hyojin tidak bisa melawan saat Yifan mengunci pintu mobilnya.

“Apa yang kau mau?” Tanya Hyojin dengan nada cuek, dia bahkan tidak melirik kearah Yifan yang duduk tepat disampingnya.

“Kau.” Yifan menjawab dengan singkat.

Hyojin mengepalkan tangannya, dia tidak suka dengan jawaban Yifan. Dia pikir dia siapa?! Begitu kasar dan urakan, tiba-tiba saja datang kedalam kehidupannya,menganggunya dan dia bilang sekarang kalau dia menginginkannya? Cih..Hyojin tak sudi.

“Kau pikir kau siapa?! Dan kenapa kau menginginkan aku? Aku tidak menginginkanmu!” Hyojin membentak, Yifan tidak menjawab dan dia menghidupkan mesin mobilnya.

“Siapa kau? Berhenti bersikap seperti ini..” Ucap Hyojin dia bahkan tidak memakai seat belt nya.

Yifan tidak menjawab, dia fokus menyetir melihat jalanan yang cukup ramai sore itu mengacuhkan Hyojin yang menatap kearahnya penuh dengan kebencian. Jika Hyojin ingin bermain api dengannya baiklah, Yifan juga akan menyiapkan apinya dan berperang dengan gadis itu.

“Kau! Hentikan mobil ini…sekarang juga!” Hyojin memerintah, namun bukannya berhenti Yifan mempercepat laju mobil sportnya membuat Hyojin gugup.

Dia tidak pernah suka megendarai mobil cepat-cepat, apalagi dengan apa yang sudah terjadi pada orang tuanya yang mati dalam kecelakaan mobil membuatnya semakin takut untuk mengendarai mobil.

Ya! Apa kau tuli?!” Hyojin membentak dia bisa merasakan tangannya berkeringat.

Ya!Ya! aku bilang hentikan mobil ini!” Hyojin membentak dia memukul lengan Yifan membuat Yifan kesal, sepertinya gadis disampingnya itu berencana untuk mengetes sampai mana kesabarannya.

Saat mobilnya mencapai perempatan dimana disana ada lampu merah Yifan langsung berhenti mengerem mobilnya sekaligus, membuat Hyojin hampir membentur dashboard mobilnya.

YA! Michieosso? J-jugule?!” Hyojin sekali lagi membentak, jantungnya berdetak seratus kali lebih cepat membuat nafasnya berat dan dia bisa merasakan keringat menetes di sudut keningnya.

“Ya, aku gila..aku bisa gila karenamu.” Yifan menjawab, dia melirik kearah Hyojin, mata tajamnya seakan menelanjangi jiwa Hyojin membuat Hyojin merasa terintimidasi.

Yifan mendekat kearah Hyojin membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, Yifan menarik seatbelt mobilnya dan memasangkanya untuk Hyojin dia menatap kearah Hyojin lalu tangan besarnya menyentuh sisi wajah Hyojin.

“Hyojin-ah, mari kita menjadi teman? Aku tidak mau hubungan kita seperti ini.” Yifan membujuk namun Hyojin tidak kunjung menjawabnya.

“Apa kita teman? Apakah kau tidak pernah berterima kasih karena aku menyelamatkanmu waktu itu?” Tanya Yifan, Yifan terlalu dekat membuat Hyojin bisa merasakan nafas hangat Yifan menyentuh bibir atas nya.

“Kenapa kau ingin berteman denganku?” Tanya Hyojin kembali.

“Bukankah tadi aku bilang kalau aku menyukaimu? Aku ingin kita dekat, aku ingin mengenalmu dan kau mengenalku.” Yifan mengungkapkan.

Hyojin melirik kearah lain, dia tidak bisa menatap kearah Yifan yang dekat sekali dengannya. Yifan kembali menyetir saat dia melihat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Anehnya Yifan kelihatannya tahu dimana rumah Hyojin, karena Yifan langsung membelokan mobilnya menuju kompleks perumahannya.

“Darimana kau tahu rumahku?” Tanya Hyojin.

“Aku temanmu kan? Aku tentu saja tahu dimana rumahmu.” Yifan menjawab dengan pintar.

Beberapa menit berlalu, mereka tidak berbicara lagi setelah percakapan itu, Hyojin terlalu lelah untuk berdebat dengan Yifan dan kelihatannya Yifan juga tidak ingin membuat percakapan saat dia melihat betapa pucatnya Hyojin. Mungkin dia memang terlalu keras pada gadis itu, dia harus lebih lembut dan ramah lain kali.

Melihat gerbang rumah Hyojin, dia akhirnya menghentikan mobilnya di depan rumah Hyojin seorang pelayan lelaki yang melihat nona nya ada didalam mobil Yifan segera membukakan gerbang rumah Hyojin menginjinkan mobil Yifan untuk masuk kehalaman depan rumah Hyojin yang megah dan besar.

Yifan menghentikan mobilnya, Hyojin tidak langsung turun namun dia hanya diam mungkin masih shock dengan kejadian tadi. Yifan mendekat dan dia melepaskan seatbelt mobilnya, Hyojin bahkan tidak bereaksi saat dia melepaskan seatbelt nya.

“Turunlah, aku tahu kau lelah.” Ucap Yifan.

Hyojin mengangguk, dia melirik kearah gagang pintu mobil Yifan dan hendak menyentuhnya namun Yifan tiba-tiba saja menyentuh bahunya.

“Kau mungkin bertanya-tanya siapa aku, aku Wu Yifan aku bekerja sebagai CEO di perusahaan Li jika kau tidak percaya kau bisa menelitinya.” Yifan berkata dan Hyojin hanya diam.

Yifan menghela nafasnya dia menyangka Hyojin mungkin benar-benar tidak tertarik padanya, sebaiknya dia mengenalkan dirinya sendiri terlebih dahulu dan lihat bagaimana reaksi gadis itu.

“Terimakasih sudah mengantarku.” Hyojin tiba-tiba saja berkata membuat Yifan sedikit terkejut.

“Dan untuk tempo hari, maaf aku tidak bermaksud untuk lancang padamu.” Hyojin berkata dia lalu turun dari mobil Yifan membuat Yifan sedikit tertegun.

“Terimakasih katanya?”Yifan bergumam, dia tersenyum dan menatap kearah punggung Hyojin yang menghilang dibalik pintu rumahnya.

Entah kenapa kata terimakasih yang Hyojin katakan lebih bergharga baginya, dia merasa bahagia. Apakah ini rasanya di hargai? Selama hidupnya dia tidak pernah merasa sebangga ini.

“Aku akan membuatmu mengatakan itu sekali lagi Jung Hyojin.” Yifan bergumam dan dia menghidupkan lagi mesin mobilnya untuk keluar dari halamn rumah Hyojin.

Hyojin yang mendengar mesin mobil Yifan menjauh dari halaman rumahnya, menghela nafasnya lega entah kenapa tadi saat dia berbicara dengan Yifan dia tidak bisa bernafas, jantungnya berdetak kencang dan dia merasa gugup sekali.

Hyojin menyetuh dadanya, ini pertamakalinya jantung nya berdetak secepat ini. Tanganya masih berkeringat, dia tidak mengerti kenapa lelaki asing yang bernama Wu Yifan itu bisa memberikan efek yang besar untuknya.

Dia adalah seorang CEO Hyojin mengingat itu, dia langsung mengeluarkan handphonenya dari tasnya dan mencari kontak nomor sekertaris Im.

Nde Hyojin-ah.. ini aku.” Sekertaris Im mengangkat teleponnya.

“Im biseo-nim, bisakah aku meminta bantuanmu?” Tanya Hyojin.

“Ya tentu saja Hyojin-ah, apa yang kau mau?” Sekertaris Im bertanya.

“Aku ingin kau meniliti tentang Wu Yifan, dia adalah CEO perusahaan Li aku ingin tahu jelas semua tentang dia. Kirimkan informasinya padaku setelah kau selesai.” Hyojin memberikan intruksi.

“Baiklah, aku akan menilitinya besok kau tunggu saja.” Seketaris Im berkata.

“Baiklah, aku tunggu.” Hyojin menutup teleponnya, dia melamun sesaat dia masih mengingat harum tubuh Yifan entah parfum apa yang lelaki itu gunakan namun wanginya begitu tajam bahkan sebagian harum lelaki itu menempel di bajunya dia yakin.

“Tapi aku menyukaimu…aku ingin terus berurusan denganmu.”

Hyojin mengingat perkataan Yifan, Hyojin segera menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya berkali-kali karena sudah mengingat perkataan bodoh itu. Mungkin saja Yifan hanya bercanda, dia bilang dia hanya ingin menjadi teman bukan? Lalu kenapa dia harus seperti ini?

“Hyojin-ah!”

Suara Yongguk mengagetkan Hyojin, dia melirik kearah sumber suara dan dia melihat Yongguk terengah-engah berdiri di ambang pintu.

“Oppa, apa kau sudah berlari?” Hyojin bertanya Yongguk segera berjalan kearah Hyojin dan memeluk gadis itu.

Pabo-ya! Kenapa kau tidak menunggu aku?! Aku panik mencarimu kemana-mana! Apalagi semua pegawai bilang kalau seorang lelaki sudah menjemputmu.” Yongguk mengungkapkan, suaranya masih terdengar panik dan teregah-engah mungkin lelah.

“Maaf, tadi..tadi ada temanku yang kebetulan lewat.” Hyojin berbohong, dia tidak ingin membuat Yongguk semakin panik dengan menceritakan soal Yifan.

“Oh begitu ya, lain kali hubungi aku jika kau mau pulang..aku harus mengecheck Hyojung dulu tadi jadi aku terlambat untuk datang kekantor.” Yongguk berkata.

“Memangnya ada apa dengan Hyojung? Apa dia bolos lagi?” Tanya Hyojin.

“Bukan, dia sepertinya sudah mulai berpacaran.” Yongguk mengungkapkan, Hyojin kelihatan kaget namun dia tidak menjawab apapun.

“Benarkah? Siapa pacarnya?” Tanya Hyojin penasaran, dia tahu kalau adiknya itu sudah remaja dan mungkin ini sudah waktunya bagi adiknya untuk mengenal cinta.

Bahkan dia sendiri sudah mengenal cinta sejak SMP adiknya saja yang mungkin terbilang terlambat,namun dia bersyukur karena adiknya itu mulai mengenal cinta pada usia yang matang tidak seperti dirinya.

“Entahlah,dia cukup tampan dan dia juga tinggi tapi ekspressi wajah lelaki itu aneh sekali.” Yongguk berpendapat membuat Hyojin menahan tawanya.

“Maksud Oppa?”

“Iya, dia kelihatannya lelaki yang dingin.”

“Itu mungkin type yang dia suka, dingin dan menyebalkan.” Hyojin berkata sambil menatap lurus kearah Yongguk, Yongguk tertawa dia tahu Hyojin sedang menyindirnya.

“Apakah aku menyebalkan? Hm..aku berpikir.” Yongguk menyentuh kepalanya berlagak sedang berpikir.

“tentu saja tidak Oppa, aku mau istirahat dulu.” Hyojin berkata dia menyentuh bahunya yang sakit.

“Baiklah, aku akan memanggilmu jika makan malam sudah siap.” UcapYongguk, Hyojin mengangguk dan dia pergi kekamarnya.

Yongguk berbalik kearah pintu depan, ini sudah sorenamun Hyojung belum juga pulang Yongguk juga jadi sangat khawatir. Namun saat dia melihat mobil sedan masuk kehalaman depan rumah, Yongguk penasaran dia keluar dari rumah dan berdiri didepan pintu.

Mata Yongguk melebar saat dia melihat Hyojung duduk manis didalam mobil sedan itu dan seorang pemuda yang memakai jaket coklat bercorak duduk disamping Hyojung, lelaki ini jelas beda dari lelaki yang Yongguk snagka adalah pacar Hyojung.

Mobil sedan itu berhenti tepat didepan Yongguk, ekspressi Hyojung sudah pucat saat dia melihat Yongguk berdiri di pintu depan dengan ekspressi yang cukup menyeramkan lebih menyeramkan lagi untuk Zhongren.

“Err..Hyojung siapa lelaki itu?” Tanya Zhongren gugup, dia tidak pernah melihat seorang lelaki yang seseram Yongguk.

“D-dia..kakakku..bukan kakak kandung tapi aku sudah menganggapnya sebagai kakak.” Hyojung menjawab, dia sendiri menelan ludahnya saat dia melihat ekspressi keruh Yongguk.

Yongguk berjalan kearah mobil sedan Zhongren, dia mengetuk kaca pintu Zhongren cukup keras membuat Zhongren dan Hyojung terkejut. Mereka merasa gugup sekali, bahkan Hyojung bisa merasakan perutnya tiba-tiba saja terasa mulas memikirkan kalau Yongguk akan memarahinya.

“Buka pintunya!” Yongguk memerintah.

Zhongren yang takut langsung membuka kunci pintu mobilnya, Yongguk membukanya lalu menarik Hyojung keluar dari mobil pemuda itu. Hyojung hanya bisa menurut karena dia takut, dia mengigit bibirnya nervous dia tahu kalau dia dan Zhongren akan kena omel Yongguk.

“Hyojung, bisakah kau jelaskan situasi ini?” Tanya Yongguk geram.

“Hm..anu..Oppa, dia temanku..namanya Wu Zhongren.” Hyojung menjelaskan, dia sendiri terllau gugup untuk berbicara.

“A-annyeoung haseyo..” Zhongren menyapa sama gugupnya dengan Hyojung.

“Oh Zhongren? Apa kau orang cina?” Tanya Yongguk.

“Ah aniyo…ibu asuhku orang cina jadi dia memberi namaku nama cina.” Zhongren berkata, dia sebenarnya tidak ingin menginginkan untuk mengungkapkan itu namun sepertinya dalam keadaan ini dia harus jujur.

“Oh..apa kau tumbuh di panti asuhan?” Yongguk bertanya, dia kelihatannya mulai simpati pada Zhongren dan Zhongren menggangguk lemah.

Sebenarnya cukup malu untuk mengungkapkan ini pada orang yang baru saja dia temui, namun Zhongren puas karena sepertinya dia sudah menarik simpati Yongguk dan juga Hyojung yang sekarang menatap sedih kearahnya.

“Maafkan aku, aku tidak tahu..” Yongguk bergumam.

“Tidak apa-apa.” Zhongren tersenyum tipis.

“Terimakasih sudah mengantar Hyojung, lain kali kau tak usah mengantarnya biarkan aku saja yang menjemput.” Yongguk kembali tegas sekarang, dia menutup pintu mobil Zhongren.

“Sekarang pergilah, sebelum aku berubah pikiran untuk menyekapmu disini.” Yongguk mengancam, Zhongren yang ketakutan langsung menghidupkan mesin mobilnya.

“Hyojung-ah, annyeoung..” Zhongren pamit, Hyojung hendak membalas namun Yongguk menghalangi gadis itu.

“Aku bilang pergi! Kkeojo!” Yongguk memerintah dan Zhongren segera menginjak gas mobilnya.

Beberapa menit kemudian mobil Zhongrenpun keluar dari halaman rumah Hyojung, Hyojung hanya menatap sedih kearah mobil itu sampai mobil Zhongren menghilang dijalanan. Yongguk yang melihat ekspressi sedih Hyojung sedikit khawatir, dia (Hyojung)  sepertinya sangat menyukai Zhongren.

“Ya! Siapa lelaki tadi? Bukankah pacar mu itu lelaki yang tadi aku temui disekolah?” Tanya Yongguk curiga, dia mendekat kearah Hyojung membuat Hyojung menunduk.

“Bukan! Sehun hanya temanku..Oppa jinjja! Kalau kau mengancam semua lelaki yang mendekatiku aku bisa-bisa jadi perawan tua!” Hyojung marah, dia menghentakan langkah kakinya dan masuk kerumah dengan tangan yang dilipat didada.

“Ya! Jung Hyojung…aku belum selesai bicara denganmu apa hubunganmu dnegan Zhongren eoh?!” Yongguk berteriak.

“Pikir saja sendiri!” Hyojung menjawab jutek.

“Ya! Jung Hyojung apa kau tidak akan mendengar nasihat kakakmu eoh? Ya!” Yongguk memarahi namun Hyojung malah menjulurkan lidahnya pada Yongguk membuat Yongguk berkacak pingang.

Neo jinjja! Kesini kau…” Yongguk mengejar Hyojung dan Hyojung tertawa sambil berlari kekamarnya.

Hyojin yang mendengar pertengkaran Hyojung dan Yongguk hanya menggelengkan kepalanya, ini pertamakalinya rumah ini terasa hidup dan ramai. Sepertinya keputusannya untuk membawa Yongguk kesini memang tidak salah, dia tahu Yongguk akan selalu menjaga dan menyinari kehidupan dia dan Hyojung.

Hyojin melirik kearah foro yang ada di meja cerminnya, dia tersenyum saat dia melihat tiga sosok anak kecil yang sedang asik bermain dan tersenyum kearah kamera.

“Oppa, terimakasih karena kau selalu ada disisiku.”

[Apartement Luhan, Korea selatan – 20:11 pm]

“Luhan!” Yixing memanggil, dia masuk kedalam apartemen Luhan yang baru dan anehnya dia tidak bisa menemukan sosok sepupunya itu.

Yixing melirik kearah sekitar apartemen Luhan yang sangat luas, dia bisa mendengar alunan musik yang cukup keras dan cepat,entah darimana asal suara itu. Yixing akhirnya mengikuti suara musik itu dan dia bisa melihat Luhan sedang berkutat dengan mesin Dj nya, dia sedang membuat musik mungkin, Yixing memutuskan untuk diam dan memperhatikan Luhan.

Musik itu terdengar sangat cepat dan keras, Yiing tahu musik yang Luhan buat adalah musik untuk club malam.

“Apa kau akan bekerja sebagai Dj lagi?” Tanya Yixing, Luhan yang mendengar suara Yixing yang cukup keras mematikan musik nya.

“Ah Yixing, kau datang..” Luhan berkata, dia tersenyum kearah sepupunya itu.

“Sudah lama sekali kau tidak memainkan alat musik Dj mu.” Yixing mengungkapkan dan Luhan mengangguk.

“Ya, saat aku membukanya semua peralatan ini berdebu.” Luhan berkata, dia masih mengelap beberapa peralatan Dj nya yang masih berdebu.

“Kenapa kau tiba-tiba membuka lagi peralatan ini? Bukankah kau bilang kau berhenti menjadi Dj?” Yixing menyentuh media player Luhan yang ada di meja.

“Hm..sepertinya aku harus kembali ke profesiku yang dulu.” Luhan menjawab, dia masih mengecheck suara peralatannya dan sesekali dia mendengarkan suara musiknya lewat headset besar yang dia pegang.

“Maksudmu? Kenapa kau harus kembali menjadi Dj?” Tanya Yixing sedikit marah, dia tidak pernah suka jika Luhan sudah kembali menjadi Dj karena itu artinya dia akan berurusan dengan dunia malam dan sepertinya dunia malam bagi Yixing adalah masalah.

“Aku butuh uang untuk membiyayai hidupku, aku juga suka menjadi Dj aku suka membuat musik.” Luhan memberi alasan, Yixing mengepalkan tangannya dia sama sekali tidak menyukai alasan itu.

“Bukankah sudah kubilang? Aku akan mengurus biaya hidupmu..lagipula kau punya beasiswakan?” Tanya Yixing dan Luhan mengangguk.

“Iya, tapi beasiswaku hanya untuk beberapa semester.” Luhan mengungkapkan, dia mematikan alat music Dj nya dan menatap kearah Yixing.

“Lagipula aku tidak ingin diam di apartemen ini seperti orang bego, aku ingin mencari uang dan bekerja keras sepertimu.. aku bukan lagi pangeran yang ada di istana keluarga Li.” Luhan melanjutkan.

Yixing menghela nafasnya, sepupunya itu memang keras kepala. Namun Luhan memang memiliki poin, dia benar mungkin ini sudah saatnya bagi lelaki itu untuk mandiri lagipula dia dan Luhan memiliki umur yang sama sebaiknya Yixing lebih mempercayai Luhan sekarang.

“Baiklah, tapi ingat..kau harus berhati-hati untuk memilih pekerjaan.” Yixing memberi peringatan.

“Jangan sampai aku harus menarikmu dengan kasar untuk keluar dari club seperti saat di Beijing.” Yixing berkata.

“Siap komandan!” Luhan memberi hormat kepada Yixing dan Yixing hanya tersenyum.

“Aigoo..apa sih enaknya jadi Dj?” Yixing bertanya, dia memainkan media player Luhan lagi dan Luhan hanya tersenyum.

Dia tahu kehidupannya di Seoul tidak akan semudah kehidupannya di Cina, di Cina dia memiliki koneksi yang banyak namun di Korea dia tidak memiliki siapapun. Sepertinya Korea adalah tempat yang sangat tepat untuknya agar dia belajar menjadi mandiri, dia harus membuktikan pada Ibunya kalau dia juga bisa hidup mandiri tanpa bantuan ayahnya.

Mengingat ayahnya entah kenapa dia jadi ingat pada Yifan juga, atau dia lebih suka memanggilnya Jiaheng. Jiaheng adalah nama asli Yifan, namun entah kenapa Yifan tidak pernha mengijinkan seorangpun untuk memanggilnya dnegan nama itu.

Luhan pernah mendengar kalau nama Jiaheng adalah nama pemberian dari ayahnya Zhoumi, apakah kakak tirinya itu benar-benar tidak menyukai nama itu? Luhan berpikir.

“Oh iya, aku dengar kau mengantarkan Yifan gege tadi..bagaimana? apa dia sudah resmi menjadi CEO di perusahaan Baba?”

Mendengar pertanyaan itu ekspressi Yixing langsung kaku, dia tidak tahu harus menjawab apa dia takut kalau Luhan kecewa dnegan keputusan ayahnya. Luhan mendengar tentang diangkatnya Yifan menjadi CEO dari ayahnya secara langsung saat dia hendak berangkat ke Korea, Yixing tidak mengerti kenapa Zhoumi mengatakan hal yang menyakitkan itu sebelum Luhan meninggalkannya.

“Ya, aku sudah mengenalkan dia pada pegawai diperusahaan.” Yixing menjawab singkat, dia tidak mau membahas lebih detail karena dia tahu kalau Luhan pasti terluka.

“Sepertinya pengabdianku selama bertahun-tahun tidak cukup untuk Baba, bahkan aku di kalahkan oleh Yifan gege.” Luhan menghela nafas, Yixing bisa melihat ekspressi kekecewaan Luhan yang mendalam.

“Luhan, mungkin paman Zhoumi belum mempercayaimu.. kau masih mudakan? Mungkin dia ingin kau lebih dewasa saat kau memegang kekuasaan di perusahaannya.”  Yixing mencoba menghibur, Luhan tertawa kecil.

“Andai itu benar, tapi semua orang tahukan Baba tidak akan mempercayakan perusahaannya padaku lagipula aku anak kedua, aku pasti mendapat sesuatu yang lebih kecil dari Yifan gege.” Luhan berpendapat.

“Hentikan dengan omong kosong ini Luhan, kau lebih berhak mendapatkan perusahaan Li dibandngkan Yifan.” Yixing membela, Luhan melirik kearah Yixing dan memberikan senyumannya kepada sepupunya itu.

“Terimakasih karna kau sudah mempercayaiku, tapi sebaiknya kau berhenti menghiburku…lagipula aku senang karena aku sudah lepas dari perusahaan itu.” Luhan mengungkapkan.

Luhan duduk di ranjang kamarnya yang cukup besar, dia merebahkan tubuhnya yang lelah sedangkan Yixing duduk disampingnya. Mata Yixing menatap sendu kearah Luhan, dia merasa kasihan pada Luhan.

“Aku merasa bebas, akhirnya aku merasa cekikan dileherku menghilang dan darah yang ada di tanganku hilang juga.”

“Luhan..”

“Sudah cukup Yixing, aku tidak bisa berperang lagi untuk perusahaan Li. Sudah cukup banyak nyawa yang aku renggut, sekarang aku hanya ingin bertobat atau semacam itu..entahlah aku bahkan tidak percaya pada tuhan.” Luhan tertawa.

“Luhan, bukankah kau sudah mengorbankan semuanya untuk perusahaan Li? Lalu kenapa sekarang kau akan mundur begitu saja? Kau tidak akan melawan?” Tanya Yixing.

“Yixing, aku tidak butuh uang aku tidak ingin perusahaan baba aku melakukan semua itu karena aku menyayangi baba dan aku ingin membuat baba bahagia.” Luhan menjawab, Yixing tersenyum dia tahu sepupunya itu adalah anak yang berbakti.

“Bodoh! Apa kau benar-benar ingin itu saja? Kau yakin kau tidak mau uang?” Tanya Yixing, Luhan menatap kearah Yixing dan tersenyum.

“Ya, aku tidak mau uang…aku lebih baik hidup sederhana namun bebas dan bahagia.” Luhan menjawab mantap tak ada keraguan sedikitpun didalam suaranya.

“Baiklah, sepertinya kau benar..orang bodoh sepertimu sebaiknya bersembunyi saja dan menikmati kebebasan.” Yixing meledek.

“Ya sepertinya orang bodoh sepertiku lebih baik beristirahat dan menikmati sisa hidupku yang mungkin saja pendek.” Luhan berkata dia menutup matanya merasa mengantuk.

[Gedung Perusahaan, Korea selatan – 08:00 am]

Seorang lelaki turun dari mobilnya, jas abu-abunya terlihat rapih sekali begitu juga rambut coklat nya yang sudah disisir rapih.

Langkah lelaki itu tidak terlalu cepat namun tegas, badan tingginya yang tegap membuat beberapa pegawai lelaki merasa minder. Semua pegawai wanita pasti langsung menatap kearahnya saat dia lewat, begitu berkharisma dan tampan itulah pujian yang selalu dia dengar saat dia lewat.

Jam tangan rollex yang dia kenakan terlihat bersinar saat dia menarik lengan bajunya untuk melihat waktu, dia tersenyum karena dia selalu tepat waktu.

Semua pegawai yang melihat sosok lelaki itu langsung membungkuk hormat, bahkan semua pegawai yang sedang mengantri untuk naik lift langsung memberi jalan untuknya.

Hwajang-nim, selamat pagi.” Seorang sekertaris menyapa.

Lelaki itu melirik kearah sekertarisnya yang menenteng folder kuning sekilas dan tersenyum.

“Selamat pagi juga Kim biseo-nim.”

Pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk kedaam lift itu, Sekertaris Kim langsung menekan tombol lantai paling atas dan pintu liftpun tertutup secara otomatis. Sambil menunggu pintu lift terbuka kembali, sekertaris Kim sudah menyiapkan dokumen jadwal untuk bosnya dan memberikannya pada bos nya.

Hwajang-nim, ini jadwal anda.” Sekertaris Kim memberikan sebuah dokumen pada Bos nya.

“Cukup dengan jadwalnya, apakah hari ini ada berita baru?” Tanya lelaki yang berdiri di samping sekertaris Kim.

Sekertaris Kim mengangguk, dia membuka folder kuning yang dia genggam dan mengeluarkan sebuah foto dari folder itu.

“Anak anda Luhan, dia datang ke Korea sejak kemarin.” Sekertaris Kim mengungkapkan, lelaki itu menatap kearah foto yang ada ditangannya.

“Luhan? Kenapa dia ke Korea?” Tanya lelaki itu sedikit terkejut dan panik.

“Saya dengar dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di korea.” Jawab sekertaris Kim.

“oh..bagus kalau begitu, kalau begitu selidiki dimana dia tingal sekarang dan dimana di berkuliah.” Lelaki itu memerintah.

“Baik hwajang-nim.” Sekertaris Kim menurut.

“Ah Luhannie, akhirnya kau akan bertemu dengan Appa… Kau tahu? Appa sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu.”

To Be Continue..

Don’t forget The comment !

Ps:

Gimana guy’s???penasaran gak sama siapa ayahnya Luhan?

yang penasaran angkat kaki wkwkwk😀

Oh iya ada penguman juga aku udah bikin trailer video yang baru

buat yang penasaran juga bisa lihat disini —-> [Tale of Two siblings trailer 2]

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

24 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 4]

  1. Akhirnya publish lagi….siapa ya ayah nya luhan?terus ibunya sehun jahat bgt..knp hyojung harus jadi target eomanya sehun???makin seru nih ceritanya….

    Ditunggu next partnya…semangatt buat authornya..

  2. serruuuuu abiisss,,,huwaaaa,,,my baby sehun jangan jadi jahatt yaahh hhehee^^author bisa aza nih bkin penasaran reader,,kira” sapa yahh ayahnya luhan ituu??
    d tunggu chapter berikutnyaa,,😀

  3. eh? aku kira in sehun itu bener2 suka sama hyojung.. ternyata dia di suruh omma nya deketin hyojung..
    aduh .. aku jadi penasaran thor, siapa ayahnya luhan..

  4. waduh… sapa tuh ayahnya luhan? apa sekarang dia lagi d korea?
    ckckck.. kasihan banget sih si hyojung malah di permainin kayak gtu..

  5. annyeong, mian ya eon bru mampir stlh sekian lama… lgi bnyk tgs jd blm smpt bca ff…

    ini ff ny bnr2 bgs, msh bnyk misteri dmn2… di tunggu y lnjtnny

  6. waahh yifan maksa bgt yahh pingin kenal sama hyojin kkekee,,,kira” gmn yahh hubungan mereka selanjutnya,,sehun dan zhongren bersaing nih keknya buat dapetin hyojung…makin seru aza ceritanyaa,,,,

  7. Cieeee nmbang Lulu bijak yak.. haha..
    Ni FF adalah salah satu FF yang paling aku suka.. hebat bgt nih author nya.😀

  8. aku komen disini gpp yah dari part 1-4 soalnya aku ngebut bacanya .. abis penasaran, dan kebingungan aku di part selnajut”nya udah terjawab di part 1-4 ini🙂 ceritanya keren. bener bener ini ff nya buat bingung karena ceritanya yang makin complicated hehe..
    karakte Kris keren banget.. si Lulu juga😀

  9. ternyata sehun deketin hyojung krn perusahaannya,
    Di part ini jg banyak cast baru bermunculan, bikin makin penasaran sama kelanjutannya
    Paling suka JUNGREN moment ,

  10. wah si yifan udah bilang suka u.u oh ternyata sehun ada lg toh casnya. Penasaran deh siapa ayah kandungnya luhan, mudah2an org baik deh hehe. Lanjut

  11. akhirnya ketemu juga sama ayah biologisnya luhan. konflik makin ribet tapi ayah biologisnya bukan sama Bora itu kan wkwk :v Duh BYG kenapa jadi galak gini.lolz

  12. siapa yg jadi ayahnya luhan?
    aku penasaran bgt. kasian luhan adahal dia udah ngorbanin banyak hak tapi ayahnya malah tiba” jadi dingin gitu. luhan jangan sedih ya
    aku lanjut ke chap selanjutnya ya eon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s