Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 3]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Special Cameo: Bora – Sistar

Cast :

  • Jung Hyojin                 Oc
  • Jung Hyojung              Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng      [Kris EXO]
  • Wu Zhongren/Kai          [Kai EXO]
  • Bang Yongguk               [Yongguk B.A.P]
  • Choi Junhong                 [Zelo B.AP.]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG – NC 17

3

Mask

“Bagaimana dengan keadaan Yifan?”

Itulah pertanyaan pertama yang Taeyeon Noona katakan, aku tersenyum tipis aku tahu Taeyeon Noona lebih peduli pada Yifan Hyung dibandingkan aku. Aku hanyalah adik tengilnya sampai sekarang, sedangkan Yifan Hyung…dia masih memiliki tempat yang special di hati Taeyeon Noona.

“Dia baik-baik saja.” Aku menjawab sambil meneguk lemon teaku.

“Hm..aku sudah lama sekali tidak mendengar kabar darinya, apakah kalian sekarang sudah berhenti..kau tahu.” Taeyeon bertanya dan aku menyeringai, aku tahu jelas apa yang Taeyeon Noona maksud.

“Menurutmu?” Aku balik bertanya, membuat Taeyeon semakin penasaran.

“Katakan padaku! Jangan bermain-main seperti itu, aku serius.” Paksa Taeyeon, dia menatap kearahku seperti anak anjing yang menunggu snack dari tuannya.

well, kau tahu Hyung..dia belum berhenti.” Aku menjawab, aku bisa melihat wajah Taeyeon Noona berubah menjadi sedih.

Apakah kau begitu memperdulikannya Noona? Kenapa kau sampai-sampai sedih seperti itu? Kenapa kau tidak pernah melihat kearahku, aku dengan bodohnya terus berharap kalau suatu hari nanti kau juga akan bersedih untukku seperti kau bersedih untuk Yifan Hyung.

Aisshh..jinjja! apa yang harus aku lakukan? Apakah Yifan tidak pernah mengatakan padamu kalau dia ingin berhenti?” Taeyeon Noona bertanya lagi, sekarang dia menggigit kukunya.

Aku benci kebiasaan itu, selain kebiasaan itu tidak bagus kebiasaan mengigit kuku Taeyeon noona juga bisa merusak kukunya. Aku menarik tangan Taeyeon noona agar dia berhenti mengigit kukunya, dia terkejut dan hanya menatap kearahku.

“Jangan gigit kukumu, aku tidak suka.” Aku berkata dan tiba-tiba saja tangan Taeyeon noona menyentuh dahiku dan menoyorkan kepalaku.

“Aishh! Kau lebih muda dariku.” Ucap Taeyeon Noona dan aku hanya tersenyum tipis,aku tahu Taeyeon Noona pasti malu sekarang.

“Jika kau dan Yifan belum berhenti, apa yang kalian lakukan sekarang? Jangan bilang kalian terlibat dengan mafia atau semacamnya!” Taeyeon Noona mengancam, aku ingin tertawa melihat ekspressi khawatirnya yang percis seperti anak kecil.

“Tenang saja Noona, kami cukup pintar untuk tidak terlibat dalam hal-hal konyol seperti itu.” Aku menjawab dan sepertinya Taeyeon Noona puas dengan jawabanku.

“Bagus kalau begitu, apapun yang kalian lakukan jangan terlibat dengan mafia!” Taeyeon Noona melarang dan aku hanya bisa mengangguk seperti anak lelaki yang baik.

“Tadi aku melihat kau mengobrol dengan seorang gadis, apa dia pacar barumu?” Taeyeon Noona bertanya, dia mendekat kearahku sambil mengangkat halisnya penasaran.

Aniyo..dia hanya kenalan.” Aku menjawab sambil melirik kearah lain, wajah Taeyeon Noona terlalu dekat membuatku sedikit gugup.

“hm..benarkah? ayolah,aku tahu gelagatmu.” Taeyeon Noona menyikut lenganku, sambil menaik turunkan halisnya membuatku ingin tertawa.

“Noona..aku bilang dia hanya kenalan, lagipula aku tidak terlalu suka dia.” Aku menjawab dan Taeyeon Noona mendecak.

“Ya,ya..aku tahu kau pasti hanya malu lagipula kau sudah besar Zhongren-ah kenapa kau masih bertingkah seperti anak kecil didepanku eoh? Aku sudah sering bertemu dengan mantan-mantanmu.” Taeyeon Noona berkata membuatku tersenyum malas kearahnya, kakak ku yang satu ini memang bisa menyebalkan.

“Noona bagaimana kalau kita membahas tentangmu saja? Berapa pacarmu sekarang?” Aku bertanya sambil menangkup kedua sisi wajahku dengan kedua tanganku dengan lucunya, membuat Taeyeon tertawa.

“Hm..coba ku ingat-ingat, aku mengencani beberapa teman kerjaku tapi sekarang aku single semenjak aku mendapat promosi aku terlalu sibuk untuk berkencan.” Taeyeon noona menjawab, dia meminum Moccacino nya.

“Hm..jadi sekarang standarmu sudah tinggi? Apa kau berencana untuk mengencani seorang direktur? Atau mungkin kau akan menguasai perusahaan dimana kau bekerja?” Aku bertanya penasaran namun Taeyeon Noona hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak obsesif bodoh!” Taeyeon Noona berkata, dia menghela nafasnya dan melirik kearah jendela.

Aku tahu dia pasti sangat merindukan Yifan Hyung, terakhir mereka bertemu adalah tiga tahun yang lalu. Walaupun mereka tidak saling bicara aku tahu Taeyeon noona bahagia saat dia bertemu dengan Yifan Hyung, kebahagiaannya begitu jelas terpampang di wajahnya bahkan orang butapun bisa melihatnya.

“Noona…apakah kau masih mencintai Hyung?” aku bertanya, aku tidak tahu kenapa hatiku bergemuruh saat aku melontarkan pertanyaan itu.

Tanganku langsung dingin dan jantungku berdetak sangat cepat, aku tidak langsung mendapatkan jawaban dari Taeyeon noona. Aku tahu dia masih sangat mencintai Yifan Hyung, Yifan Hyung selalu memiliki tempat yang special di hati Taeyeon noona aku tahu itu.

Wae geurae? Kenapa kau tiba-tiba saja bertanya seperti itu? Yifan dan aku hanya masa lalu iyakan? Kenapa kau harus mengungkitnya?”Ucap Taeyeon Noona.

“Tidak apa-apa, aku tahu jawabannya.” Aku menjawab, walaupun hatiku kecewa aku tetap tersenyum aku tidak ingin terlihat bodoh dihadapan dia.

Seperti orang bodoh, aku terus dan terus berharap kalau suatu hari nanti kau akan melupakan dia. Namun sepertinya kau tidak pernah menyadariku, bahkan kau tidak pernah memandangku, seperti angin aku akan mencintaimu walaupun kau tidak bisa melihatnya aku tahu kau bisa merasakannya.

“Ini sudah lima belas menit, aku harus kembali.” Taeyeon Noona berkata, menyadarkanku dari lamunanku.

“Baiklah, apa kau ingin aku mengantarkanmu kekantor?” Aku menawarkan.

“Tidak usah, aku bawa mobil.” Taeyeon Noona menolak dan aku sedikit kesal, kenapa semua wanita yang aku tawari untuk diantar selalu menolak?! Apa seperti lelaki jahat bagi mereka?!

“Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai depan.” Aku berkata, Taeyeon Noona dan akupun langsung berdiri dari tempat duduk kami setelah membayar pesanan.

Aku membukakan pintu mobil Taeyeon Noona dan dia tersenyum kearahku penuh rasa terimakasih, sebelum dia naik tiba-tiba saja dia menyentuh pipiku membuatku terkejut.

“Jaga dirimu baik-baik, ingat pesanku arraseo?” Taeyeon noona menasehati, aku mengangguk.

Aku menyentuh tangan lembutnya, dia mungkin menyangka kalau aku baik-baik saja dengan sentuhannya. Namun dia salah, setiap sentuhanya membuatku sakit. Sakit karena aku sadar, aku tidak akan pernah bisa memilikinya.

“Tenang saja Noona.” Aku berkata dan segera melepaskan tangan dia dari pipiku.

“Aku pergi.” Taeyeon Noona berpamitan dan diapun masuk kedalam mobilnya, mobil sedan hyundainya pun melaju menjauh dari café.

Noona, saranghae..” Aku bergumam kecil dan tertawa, andai saja aku cukup berani mengatakan itu padanya.

[Kediaman keluarga Li, Cina – 16:00 pm]

Baba..apa kau tidak akan memakan buburnya?” Luhan bertanya dengan kecewa, dia menghela nafasnya sata dia melihat mangkuk bubur ayahnya masih penuh.

“Aku tidak lapar.” Zhoumi menjawab datar, dia masih fokus kepada dokumen yang ada di tangannya.

Baba, ini sudah sore..dari tadi siang kau tidak makan.” Luhan mengingatkan.

Namun lelaki tua yang ada disampingnya itu tidak menjawab, Luhan benci perlakuan ini begitu berbeda dari beberapa minggu yang lalu.

Baba, kenapa kau seperti ini? Apa kau marah padaku? Apa aku berbuat salah?” Luhan bertanya, suaranya gemetar menahan tangis.

Emosi Luhan percis seperti gunung berapi, beberapa dorongan lagi dia yakin dia akan meledak dan membentak ayahnya.

“Aku sudah dengar kalau kau akan ke Korea, bagus kalau begitu pergilah.” Zhoumi berkata, dia tiba-tiba saja terbatuk dan Luhan langsung mengelus punggung ayahnya.

Baba, apa kau marah karena aku pergi ke Korea?” Luhan bertanya, dia mengerti jika ayahnya marah kalau dia pergi ke Korea.

Luhan selalu ada disamping Zhoumi selama belasan tahun, Luhan sangat mengerti jika ayahnya itu akan kehilangan dan mungkin marah saat dia mengetahui kalau anak lelakinya yang sering ada disisinya akan pergi meninggalkannya.

“Tidak, kenapa aku harus marah? Sebaiknya kau pergi ke Korea..kau harus tahu dimana asal dan usul mu.” Zhoumi menjawab membuat Luhan kebingungan.

“Apa?maksud Baba apa?” Luhan bertanya, dia idak mengerti maksud perkataan Zhoumi sedikitpun, bukankah dia berasal dari cina? Dia anak Zhoumikan? Lalu apa hubungan dia dengan Negara korea?

“Bagaimana kalau kau Tanyakan itu pada ibumu, dia akan senang sekali menjelaskannya untukmu.” Zhoumi menjawab.

“Aku lelah, sebaiknya kau pergi.” Zhoumi berkata, suaranya begitu dingin sehingga Luhan merasa sedikit sakit hati dengan perlakuan ayahnya itu.

Ini pertamakalinya ayahnya dengan kejamnya mengusirnya, apakah ini rasanya menjadi Yifan? Luhan berpikir. Dia ingat wajah sengsara Yifan saat Zhoumi mengusirnya, Luhan sekarang baru mengerti mulai dari hari ini Luhan berjanji akan menghormati lebih kakak tirinya itu.

“Baiklah, tapi aku mohon..makanlah buburnya.” Ucap Luhan dengan lemah, dia berdiri dan menutup pintu kamar Zhoumi.

Zhoumi menahan airmatanya, entah kenapa setiap kali dia melihat Luhan hatinya selalu sakit. Dia tidak bisa terus seperti ini, menyadari kalau Luhan bukanlah darah dagingnya membuat dia begitu kecewa.

Dia meremas pulpen yang dia pegang, bayangan wajah anak lelakinya itu selalu berhasil membawa airmatanya berkumpul di sudut mata tuanya. Zhoumi melepaskan kacamatanya, dia memijat keningnya kepalanya terasa sakit saat dia memikirkan realita yang ada dihadapannya.

Dia tidak ingin menjalani kehidupan ini, dia tahu Luhan bukanlah anaknya namun dia tidak bisa berhenti menyayangi anak lelaki itu. Dia ingin memeluk dan mengatakan kalau apapun yang terjadi dia adalah anaknya, namun kenyataan selalu mengetuk hatinya mengatakan bagaimanapun Luhan bukanlah darah daging dia Luhan tidak bisa menjadi pewaris tunggal perusahaan yang dia miliki.

Malah anak lelaki yang dia coba untuk lindungi yang lebih berhak, awalnya dia tidak pernah menginginkan Yifan. Yifan adalah kesalahan baginya namun sekarang dia baru sadar betapa indah kesalahan yang dia buat, tentu saja Zhoumi menyayangi Yifan namun dia tidak ingin melibatkan Yifan dengan perusahaannya dia tidak ingin pemuda itu tahu betapa busuk ayahnya.

Rasa sayangnya pada Luhan dan Yifan begitu berbeda, bagaikan warna hitam dan putih. Zhoumi menyayangi Luhan karena Luhan selalu menjadi andalannya.

Anak lelaki itu sudah belajar berbisnis mengantikan posisinya di saat dia terlalu lelah Luhan sudah belajar pahit dan getirnya menjalankan perusahaan nya,dia tahu semua kebusukan, kelicikan dan kejahatannya namun anehnya anak itu terus saja menyayanginya mendengar semua nasihatnya dan menghormatinya.

Sedangkan rasa sayangnya untuk Yifan lebih murni, dia lebih baik membiarkan anak lelakinya itu jauh darinya membencinya yang terpenting dia aman. Dia aman dari tangan-tangan jahat yang siap mencakarnya kapan saja, dia tahu Yifan merasa dibuang namun jika dia membuang Yifan dia tidak akan membayayai sekolah Yifan benar?

Dia bangga sekali saat dia mendengar dari mama Wu pemilik panti asuhan dimana Yifan tumbuh mengatakan kalau Yifan lulus dengan nilai yang terbaik di kampusnya, dan yang lebih membuat dia bangga anaknya itu mengambil jurusan bisnis sama sepertinya saat dia masih muda dulu.

Berbeda dengan Luhan yang lebih suka belajar musik dan kesenian, Zhoumi tidak pernah memaksa Luhan untuk belajar bisnis karena Zhoumi tahu dia sudah menguasai trik-trik bisnisnya.

“Yifan, maafkan aku..Luhan Maafkan aku..” Zhoumi bergumam, dia hanya bisa menangis sendirian merasa bodoh dan egois.

[Sebuah Hotel,Seoul – Korea selatan 18:00 pm]

“Kau terlihat cantik.” Sekertaris Im memuji, dia membenarkan rambut Hyojin yang sudah di sanggul rapih.

“Terimakasih.” Gadis yang berdiri didepannya menjawab.

“Masuklah, semua orang sudah menunggu mereka akan memulai acaranya sekitar sepuluh menit lagi.” Sekertaris Im berkata.

“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak akan masuk?” Hyojin bertanya dan sekertaris Im hanya tersenyum.

“Aku akan masuk nanti, aku ingin menunggu Taeyeon.” Sekertaris Im menjawab.

“Baiklah, aku masuk duluan.” Ucap Hyojin, dia berbalik pergi menuruni tangga menuju Aula Hotel.

Sekertaris Im, atau dikenal juga sebagai Yoona berbalik kearah lain dengan langkah yang sedikit cepat dia menaiki tanggga menuju bar kecil yang ada disudut lantai dua hotel. Seorang lelaki sudah menunggunya disana, lelaki itu memakai topi hitam dan jaket kulit coklat.

Kulit putihnya terlihat sangat kontras dengan jaket berwarna gelapnya, dia menyeringai saat dia melihat sosok Yoona mendekatinya.

“Apa ang kau inginkan?” Yoona bertanya dengan nada sinis.

“Sedikit uangmu, apa itu salah?” Lelaki berkulit putih itu berkata, dia melirik kearah Yoona membuat Yoona ingin sekali memukul wajah tampan itu dengan tinjunya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu, apa aku tidak cukup tampan lagi untukmu?” Tanya lelaki berjaket itu membuat Yoona menggertakan giginya kesal.

“Kita sudah berakhir! Pergilah..kenapa kau mengikutiku?!” Yoona membentak dan lelaki itu malah tertawa sambil memainkan gelas minumanya.

“Hahahah Ayolah Yoonie-ah..kau punya banyak uang sekarang, aku hanya meminta beberapa juta won saja.” Ucap lelaki itu dengan santai.

“Aku tidak punya uang ok? Aku hanya seorang sekertaris.” Ungkap Yoona.

“Oh benarkah, aku dengar kau sekarang adalah guardian untuk Hyojin dan Hyojungkan? Tentu saja kau punya uang banyak.” Lelaki itu berkata.

“Mereka sudah besar! Mereka akan tahu jika aku mengambil uang mereka.” Yoona menjawab.

“Lalu? Bodohi mereka, ka nada saja orangtuamu sakit..atau mungkin adikmu sedang sakit.” Lelaki itu memberi ide dan Yoona menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa berbohong..” Yoona berbisik.

“Terserah padamu, aku akan memberimu waktu sekitar dua bulan..jika kau tidak berhasil membawa uang yang aku minta maka Hyojin dan Hyojung akan mati..dan semua orang akan menyalahkanmu.” Lelaki itu mengancam, dia menyentuh bahu Yoona lalu pergi dari bar.

Yoona mengepalkan tangannya, dia melirik kearah sosok lelaki yang berjaket coklat itu. Dia tidak mengerti bagaimana bisa dia pernah jatuh cinta pada lelaki itu, bagaimana mungkin dia mencintai monster itu?

*********

Hyojin berbincang denga beberapa CEO muda yang dia kenal di ruangan pesta, mereka saling berbagi pengalaman dan hobi masing-masing. Hyojin hanya bisa tersenyum, dia tidak tertarik untuk berbagi saol kehidupannya yang cukup membosankan dan monoton.

“Bagaimana dengan perusahaanmu Hyojin-shi?” Tanya salah satu gadis cantik yang bernama Sulli.

“Oh perusahaanku? Baik-baik saja..stock kami terjual dengan baik.” Hyojin menjawab dan semua orang yang ada didalam kelompok dia mengangguk setuju.

Dari dulu Perusahaan Jung selalu menjadi nomor satu dalam penjualan stock, banyak sekali orang yang menginginkan kain yang berasal dari perusahaan textile Jung.

“Kau benar, perusahaanku selalu membeli kain dari perusahaanmu Hyojin-shi.” Chanyeol seorang wakil direktur dari perusahaan Park berkata.

“Terimakasih atas kepercayaan anda dalam produk kami.” Hyojin menjawab dan memberikan Chanyeol senyuman tulusnya.

Namun anehnya pemuda itu bukanya menjawab malah tersneyum malu, bahkan kedua pipinya sedikit merah membuat sulli dan beberapa orang yang menyadari tingkah malu Chanyeol tertawa.

“Hahaha..aku rasa Chanyeol-shi menyukaimu Hyojin-shi.” Ledek Hyoyeon yang berdiri tepat disamping Chanyeol.

“Ya! Noona hentikan..kau membuatku malu.” Chanyeol berkata dan Hyoyeon malah tertawa lagi melihat tingkah dongsaengnya itu.

“Jung Sajang-nim!” Seseorang memanggil Hyojin, dia melirik kebelakang dan menemukan CEO perusahaan nya berlari kearahnya.

Sajang-nim, jeasounghamnida..aku terlambat.” Taeyeon menunduk kearah Hyojin, menunjukan betapa menyesalnya dia karena dia sudah terlambat.

“Dari mana saja kau? Apa kau tahu kau membuat aku dan Sekrtaris Im menunggu di luar?” Hyojin bertanya, dia sedikit kesal namun dia mencoba terlihat tenang didepan tamu yang lain.

“Di jalan macet sekali Sajang-nim.” Taeyeon memberi alasan.

“Sudah cukup dengan alasannya, sekarang pergilah sapa CEO yang lain.” Hyojin berkata dengan dingin, dia berbalik kearah teman mengobrolnya dan kembali melanjutkan percakapan mereka.

Taeyeon menunduk sekali lagi lalu pergi, dia melirik kearah Hyojin sekilas dia tidak pernah suka sosok Hyojin dari pertama dia melihat gadis itu. Dia lebih suka pimpinan nya yang dulu,Jung Yunho.

Lelaki itu selalu baik dan penuh dengan kebijaksanaan berbeda dengan anak perempuannya yang terlihat lebih dingin dan tidak mudah didekati, mungkin sifat anak perempuannya itu lebih mirip dengan istri Jung Yunho.

“Kapan kau akan mendekatinya?” Zhongren berbisik saat dia sudah melihat sosok Hyojin mengobrol dengan tamu lain.

“Sebentar lagi, aku akan mengajak mengobrol saat dia berhenti berbicara dengan tamu yang lain.” Yifan menjawab, dengan santainya dia meminum orange juice yang ada ditangannya.

“Yikes..minuman disini payah semua.” Zhongren mengeluh.

“Apakah mereka punya champagne atau wine? Aku tidak suka jus.” Zhongren berkata membuat Yifan menyeringai.

“Ini acara kan acara sosial bodoh! Tentu saja disini tidak akan ada alkohol, apa kau bisa bayangkan semua tamu ini mengobrol sambil mabuk?” Yifan bertanya dan Zhongren tertawa.

“Kau benar Hyung, aku pergi dulu..jika aku lama-lama disini aku bisa mati kebosanan.” Zhongren menyimpan gelas yang dia pegang di sisi meja buffet.

“Semoga kau sukses mendapatkan Hyojin.” Kata Zhongren, dia mengedipkan matanya lalu pergi dari aula hotel.

“Aisshh..dasar Zhongren!” Yifan menggerutu, adiknya itu tidak pernah betah untuk diam di suatu tempat lama-lama.

Berbeda dengan dia Zhongren lebih agresif dan aktif, dia tidak suka hanya diam dan memperhatikan targetnya seperti Yifan. Sedangkan dia (Yifan) lebih suka menunggu dan memperhatikan gelagat targetnya dan mendekati targetnya di waktu yang tepat, Yifan menyandar kearah tembok aula hotel masih anteng meminum jusnya sampai akhirnya dia terkejut melihat sosok yang dia kenal sedang mengobrol tak jauh darinya.

Sosok itu adalah sosok Taeyeon, sudah lama sekali dia tidak melihat sosok itu namun Yifan masih mengingat wajah wanita itu dengan jelas.

Yifan segera berbalik menyembunyikan wajahnya, betapa sialnya dia harus bertemu dengan Taeyeon dalam keadaan seperti ini. Sekarang bagaimana dia bisa mendekati Hyojin jika Taeyeon ada disini untuk menghalangi jalannya, Yifan segera berjalan menuju meja buffet dan pura-pura memilih dessert yang disediakan disana.

Yifan melirik kebelakang di mana Hyojin sudah selesai mengobrol, dia ingin sekali mendekati gadis itu. Yifan mencoba mendekati Hyojin namun gadis itu malah mengaktifkan handphonenya, dia membaca sesuatu dari handphonenya lalu berjalan kelauar dari aula hotel.

Yifan penasaran dia mengikuti Hyojin dari belakang dengan hati-hati, dia bisa melihat gadis itu terlihat khawatir namun dia tidak tahu apa yang membuat gadis itu sangat khawatir.

Taeyeon yang sedang mengobrol terkejut saat dia melihat sosok Yifan keluar dari aula hotel, dia baru sadar kalau lelaki itu datang kepesta acara amal perusahaan Kim. Taeyeon yang penasaran langsung berpamitan pada teman mengobrolnya, lalu dia pergi mengikuti sosok lelaki tampan itu.

Yifan bisa melihat Hyojin keluar dari hotel, dia pergi menuju parkiran mobil. Apakah gadis itu akan pulang? Bahkan acara belum selesai lalu kenapa gadis itu akan pulang? Apakah dia sakit?Yifan berpikir, Hyojin berhenti sejenak di pinggir trotoar tempat parkir kelihatannya gadis itu lupa lagi dimana dia memarkirkan mobilnya.

Kě ’ài..” Yifan pikir saat dia melihat Hyojin memajukan bibirnya tidak yakin arah mana yang harus dia pilih.

Yifan mencoba mendekatinya mungkin dia bisa membantu gadis itu, saat Yifan berjalan kearah  Hyojin dia bisa melihat sebuah mobil dengan kecepatan sangat tinggi mendekat kearah Hyojin.

Yifan yang sadar kalau mobil itu akan menabrak Hyojin segera berlari kearah gadis itu, tanpa berpikir panjang Yifan langsung menarik gadis itu dan memeluknya lalu membalikan posisi mereka sehingga punggung Yifanlah yang mengarah kearah mobil sedan itu menjaga tubuh gadis itu agar tidak terkena mobil.

Hyojin menarik nafasnya terkejut saat dia merasakan pelukan seorang lelaki, dia menutup matanya karena takut saat dia mendengar klakson mobil yang sangat keras. Mobil sedan itu langsung keluar dari tempat parkir hotel, namun Yifan belum juga melepaskan pelukannya.

Jantungnya berdetak cepat sekali, rasanya jantungnya akan copot saat dia melihat mobil sedan itu sedikit lagi akan menabrak tubuh Hyojin. Jika Hyojin sampai terluka dia akan menyalahkan dirinya sendiri, dia bersumpah.

Taeyeon yang menyusul kaget saat dia melihat sosok Yifan dan Hyojin berpelukan, dia mengepalkan tangannya kesal hatinya langsung terbakar oleh api cemburu. Apalagi saat dia melihat kedua tangan Yifan menyentuh pinggang dan kepala Hyojin dengan erat, seakan dia melindungi gadis itu dari monster yang mencoba melukai gadis itu.

Hyojin baru sadar kalau dia baru saja dipeluk oleh orang asing, Hyojin segera melepaskan pelukan lelaki itu dan mendorongnya menjauh.

“Siapa kau?!”Hyojin bertanya sedikit membentak karena terkejut.

Yifan hanya diam, dia juga baru sadar kalau dia memeluk Hyojin tadi.

“A-aku..Aku Wu Yifan.” Yifan menjawab, dia terlihat masih terkejut dengan apa yang terjadi.

Hyojin kelihatan sama bingungnya dan terkejut dengan Yifan.

“Kenapa kau memelukku? Beraninya kau!” Hyojin marah, dia berbalik menuju mobilnya.

“Hei tunggu!” Yifan memanggil Hyojin namun Hyojin mengacuhkan panggilan lelaki itu, sampai akhirnya Yifan menarik tangan Hyojin sedikit kasar membuat gadis itu berhadapan lagi dengannya.

“Apa kau tidak akan mengucapkan sesuatu? Kau hanya akan pergi begitu saja?” Yifan menaikkan halisnya, dia sedikit tersinggung dengan perilaku Hyojin.

Yifan mengira kalau Hyojin akan mengatakan sebuah perkataan terimakasih atau semacamnya, namun sepertinya Yifan salah gadis ini tidak tahu sopan santun sebaiknya Yifan mengajari gadis ini suatu pelajaran.

“Apa yang kau inginkan?” Hyojin bertanya kesal.

“Apa kau tidak akan berterima kasih?” Yifan tidak percaya kalau targetnya ini wanita sombong yang tidak tahu sopan santun jauh sekali dengan penampilannya yang rapih dan berkelas.

“Aku tidak menyuruhmu untuk menyelamatkanku, kau juga seharusnya minta maafkan? Untuk seseorang yang tiba-tiba saja memeluk wanita seperti itu…bukankah tidak sopan?” Hyojin bertanya dan Yifan tidak bisa melawan lagi, mungkin Hyojin benar namun tetap saja dia memeluk Hyojin karena dia ingin menyelamatkan gadis itu apakah Hyojin tidak menghargai usaha itu?

“Ck..aku rasa wanita sepertimu memang tidak tahu sopan santun.” Yifan menyindir, nada suara nya terdengar sangat meremehkan membuat Hyojin emosi.

“Maaf tuan..siapapun anda, anda tidak berhak menilai saya seperti itu sebelum anda mencemooh orang lain bukankah lebih baik anda bercermin dulu?” Hyojin membalas lebih pedas, dia menarik nafas terkejut saat dia melihat sosok Taeyeon berlari kearahnya.

“Sajang-nim..” Taeyeon mendekat.

“Taeyeon-shi! Apakah kau melihat sekertaris Im? Dia mengirimkan pesan padaku kalau dia sakit.” Hyojin bertanya pada Taeyeon.

“Oh..aku tidak melihatnya sajang-nim, apakah dia baik-baik saja sekarang?” Tanya Taeyeon kembali.

“Entahlah itu sebabnya aku akan menyusul dia, bisakah kau mewakiliku dulu?” Hyojin bertanya dan Taeyeoen mengangguk.

“Baiklah.”

“Hubungi aku untuk detail acaranya nanti.” Hyojin berkata dia membuka kunci mobilnya lalu masuk kedalam mobil, dia benar-benar mengacuhkan Yifan yang hanya berdiri diam disamping Taeyeon.

Untuk yifan Seumur hidupnya, ini baru pertamkalinya dia bertemu dengan seorang gadis yang sangat dingin dan arrogan.

Jung Hyojin, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku..” Yifan berpikir, dia mengepalkan tangannya kesal saat dia melihat mobil Mercedes benz hitam Hyojung melaju menjauh dari parkiran hotel.

“Yifan..sudah lama tidak bertemu.” Kata Taeyeon, dia melirik kearah Yifan.

“kita… Sebaiknya anggap saja kalau kita tidak pernah mengenal satu sama lain.” Yifan tiba-tiba saja berkata, dia bahkan tidak melirik kearah Taeyeon dan langsung pergi kearah mobilnya lalu naik kedalamnya.

Taeyeon bersumpah, dia ingin menangis dan langsung ambruk ketanah saat dia mendengar apa yang dikatan Yifan. Begitu mudahnya Yifan mengatakan itu, apakah Yifan sudah melupakan cinta mereka beberapa tahun yang lalu? Apakah kenangan indah mereka tidak berarti untuk dia sekarang?

Taeyeon hanya bisa menatap kearah mobil Yifan yang mengikuti mobil Hyojin dengan sedih, airmatanya mengumpul disudut matanya namun tidak kunjung turun membahasi pipinya.

Zhongren yang melihat semua kejadian itu hanya menghela nafasnya, dia menyandar kesalah satu tiang tinggi pintu utama hotel. Dia bisa melihat jelas ekspressi menderita Taeyeon, ini baru pertamakalinya dia ingin memukul Yifan tepat di wajahnya namun dia tidak bisa melakukan itu bagaimanapun Yifan benar.

Lebih baik bagi mereka untuk kembali menjadi orang asing lagi…

******

“Ini hanya peringatan,kau akan benar-benar kehilangan
Hyojin dan Hyojung jika kau tidak memberikan uang itu.”

Yoona mendapat kirim sebuah pesan dan video dari nomor lelaki berjaket coklat yang dia temui tadi.

Yoona menelan ludahnya, dia menekan tombol play untuk melihat video yang monster itu kirimkan padanya. Dia bisa melihat sosok Hyojin sedang mencari arah menuju mobilnya, Yoona tahu kalau kamera yang digunakan untuk merekam video ini disimpan didepan kaca mobil.

Lalu mobil itu mendekat dan terus mendekat kearah Hyojin sampai akhirnya seseorang menarik Hyojin dan memeluknya, Yoona menghela nafasnya dengan lega karena masih ada orang yang menyelamatkan Hyojin, dia mengenggam handphonenya tangannya gemetaran dan nafasnya terdengar berat.

Yoona tidak tahu harus bagaimana, jumlah uang yang monster itu minta begitu besar bahkan tabungannya tidak cukup untuk membayar monster itu.

Tingnong tingnong tingnong….

Mendengar suara bel rumahnya berbunyi Yoona terkejut, dia takut. Jangan-jangan monster itu mencoba datang lagi kerumahnya mengancamnya, atau yang lebih buruk akan membunuhnya.

Yoona berjalan menuju pintu depan rumahnya, dia lega saat dia melihat sosok Hyojinlah yang dia lihat dibalik pintu.

“Sekertaris Im..aku sudah mendapat pesanmu, apa kau baik-baik saja?” Tanya Hyojin khawatir dan Yoona hanya bisa tersenyum.

“Aku baik-baik saja Hyojin-ah. Kau tak usah khawatir.” Yoona menjawab, dia bahkan tidak bisa menatap kearah wajah gadis itu.

Bagaimana dia bisa berlaku baik seperti ini? Dia akan mencuri uang gadis itu Yoona bukanlah orang yang munafik. Hyojin menghela nafasnya saat dia melihat Yoona memalingkan wajahnya bahkan menunduk, Hyoji merasa curiga dengan perlakuan wanita yang ada dihadapannya ini.

“Sekertaris Im,apa kau yakin? Kau kelihatan pucat.” Hyojin bertanya, Yoona mengangguk.

“Kau harus cepat kembali keacara, tidak baik jika kau tidak ada disana.” Yoona menyuruh, dia mendorong tubuh Hyojin sedikit membuat gadis itu melangkah keluar dari rumah Yoona.

“Baiklah jika kau baik-baik saja, aku akan kembali.” Kata Hyojin, Hyojinpun masuk kembali kedalam mobilnya.

“Aku akan menghubungimu besok, kau tenang saja.” Ucap Yoona, Hyojin mengangguk dan diapun menghidupkan mesin mobilnya.

“Aku pergi.”

“Ya, hati-hati.”

Yoona melambaikan tangannya saat dia melihat mobil Hyojin melaju meninggalkan halaman rumahnya, Yoona menghela nafas berharap kalau gadis itu akan baik-baik saja.

[Kediaman keluarga Jung – Korea selatan 21:22 pm]

Hyojung menutup buku teks pelajarannya, dia sudah lelah harus mengerjakan essay yang diberikan oleh gurunya tadi siang. Hyojung menguap dan dia melirik kearah jam dindingnya, waktu sudah menunjukan hampir jam sepuluh pantas saja dia mengantuk.

Dia mengambil handphonenya dan dia bisa melihat satu pesan baru dari nomor asing, Hyojung mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenal nomor itu, Hyojung membuka pesan itu dan dia melirik kearah waktu kapan pesan itu sampai.

Pesan itu sudah diterima oleh beberapa menit yang lalu cukup lama, namun dia baru membukanya dia membaca pesan itu dan ternyata pesan itu dari Zhongren.

Hyojung kira Zhongren hanya berbasa-basi saat dia meminta nomor handphonenya, ternyata tidak lelaki itu benar-benar menghubunginya. Hyojung menatap lurus kearah pesan Zhongren, walaupun pesan Zhongren hanya berisi sapaan yang singkat namun entah kenapa Hyojung merasa bingung.

Haruskah dia membalas pesan itu? Hyojung mengigit bibirnya kebingungan, apakah terlibat dengan Zhongren adalah hal yang baik atau sebaliknya?

“Akkh..” Hyojung menjerit saat dia dikagetkan dengan getaran handphonenya, ternyata ada satu pesan lagi yang datang dari nomor Zhongren.

Kenapa kau tidak membalas pesanku?
Apa kau sudah tidur?

Hyojung tersenyum dan diapun membalas pesan Zhongren.

Tidak,aku baru selesai belajar
Jadi aku baru melihat pesanmu.

Hyojung membalas dan dia mengirimkan pesannya, tak menunggu lama dia langsung mendapatkan balasan dari Zhongren.

Belajar?wah..kau rajin sekali, saat aku masih SMA
aku tidak suka belajar,apakah kau pintar?
Kau ranking berapa?

Hyojung mendengus mendapat balasan itu,sangat tipikal..lagipula siapa yang suka belajar? Belajar disekolah itu sangat membosankan apalagi jika gurunya terus berbicara tanpa henti.

Aku juga tidak terlalu suka belajar juga
lumayan..aku masuk sepuluh besar

Zhongren yang mendapat balasan dari Hyojung tersenyum, ternyata mendekati Hyojung lebih mudah dari yang dia kira. Dia yakin jika dia terus mengobrol dengan gadis remaja ini, dia bisa dengan mudahnya merebut hati Hyojung dan menjalankan rencananya.

Wah hebat, kau membuatku iri
hey..apakah besok kau akan datang ke café lagi?

Hyojung menimbang-nimbang untuk sesaat, dia mungkin tidak punya sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan dan sepertinya bertemu dengan Zhongren tidak akan membosankan daripada dia harus diam dirumah sendiri.

Mungkin, apakah kau ingin aku datang?

Hyojung menunggu jawaban, entah kenapa jantungnya berdebar-debar saat dia menunggu balasan dari Zhongren.

Tentu saja, datanglah mungkin kita bisa mengenal
satu sama lain lebih akrab

Hyojung membaca pesan itu berkali-kali, dia tersenyum tipis. Mungkin Zhongren benar-benar tertarik padanya, Hyojung menggelengkan kepalanya dia tidak boleh terlalu percaya diri, bagaimana jika Zhongren hanya mencoba untuk ramah saja?

Baiklah aku akan datang, tapi mungkin sebentar

Hyojung membalas lagi pesan Zhongren, dia berbaring di ranjang sambil menatap kearah handphonenya. Tanpa disangka dia mendapatkan balasan dengan cepat, Hyojung membuka pesan baru Zhongren.

Bagus kalau begitu..
aku menunggumu di café biasa
Hyojung-ah..

Hyojung tidak membalas lagi Zhongren, dia tidak bisa seperti ini. Ini pertamkalinya jantungnya berdetak kencang seperti ini, kenapa juga dia harus seperti ini? Padahal dia sering berteman dengan lelaki.

Namun ini baru pertamakalinya Hyojung merasa gugup seperti ini, biasanya dia cuek saja saat teman sekelasnya mendekatinya namun dengan Zhongren, semuanya sangatlah berbeda sekali.

Hyojung bangkit dari posisi tidurnya saat dia mendengar pintu utama rumah dibuka, dia langsung berlari menuruni tangga. Dia tahu kalau kakaknya pasti sudah pulang, dia tersenyum saat dia melihat sosok kakaknya masuk kerumah dengan ekspressi yang sedikit lelah.

“Eonni! Eonni sudah pulang? Bagaimana pestanya?” Hyojung menyapa dan dia mendekat kearah Hyojin.

“Lumayan, walaupun sedikit membosankan.” Hyojin menjawab, dia melingkarkan tngannya di bahu Hyojung.

“Eonni,apa kau mau makan? Atau kau mau mandi? Aku akan menyiapkannya untukmu.” Hyojung dengan baik hatinya menawarkan.

“Tidak usah, ini sudah malam tidurlah..” Ucap Hyojin, dia sangat berterima kasih sekali pada adiknya namun dia tidak ingin membuat adiknya repot.

“Baiklah, aku akan keatas jika kau butuh apapun..panggil aku.” Hyojung berkata, dia langsung berjalan ke tangga rumah sedangkan Hyojin berjalan kedapur untuk meminum segelas.

Hyojin menghela nafasnya, dia selalu mengingat wajah lelaki itu. Hyojin menatap kosong kearah gelas yang ada didepannya, Hyojin lalu memjamkan matanya.

Yifan langsung menarik gadis itu dan memeluknya lalu membalikan posisi mereka sehingga punggung Yifanlah yang mengarah kearah mobil sedan itu menjaga tubuh gadis itu agar tidak terkena mobil.

Hyojin menarik nafasnya terkejut saat dia merasakan pelukan seorang lelaki, dia menutup matanya karena takut saat dia mendengar klakson mobil yang sangat keras. Mobil sedan itu langsung keluar dari tempat parkir hotel, namun Yifan belum juga melepaskan pelukannya.

Jantungnya berdetak cepat sekali, rasanya jantungnya akan copot saat dia melihat mobil sedan itu sedikit lagi akan menabrak tubuh Hyojin. Jika Hyojin sampai terluka dia akan menyalahkan dirinya sendiri, dia bersumpah.

Taeyeon yang menyusul kaget saat dia melihat sosok Yifan dan Hyojin berpelukan, dia mengepalkan tangannya kesal hatinya langsung terbakar oleh api cemburu. Apalagi saat dia melihat kedua tangan Yifan menyentuh pinggang dan kepala Hyojin dengan erat, seakan dia melindungi gadis itu dari monster yang mencoba melukai gadis itu.

Hyojin meremas lengannya, sentuhan Yifan masih terasa hangat di kulitnya. Dia benci perasaan itu, dia tidak suka jika seseorang tiba-tiba saja datang dan melindunginya.

Sebagian dari diri Hyojin menginginkan mobil itu untuk menabraknya, dia ingin dia menghilang dan menyusul kedua orang tuannnya di surga. Dia lelah dengan semua masalah ini, dia lelah dengan masalah perusahaan dan beberapa masalah pribadi yang harus dia selesaikan karena kematian kedua orang tuanya.

Hyojin meneguk air putih yang ada didepannya, dia berjalan kearah tangga rumah namun dia sedikit terkejut saat dia melihat sebuah mobil meninggalkan halaman rumahnya. Mobil itu tidak asing baginya, dia melihat mobil itu di parkiran saat dia baru sampai di hotel.

Supirnya bapak Hwangjun baru saja selesai memarkirkan mobilnya dan masuk, dia langsung membungkuk hormat saat dia melihat majikannya masih ada diruang tengah.

“Pak, mobil siapa tadi yang masuk ke halaman kita?” Tanya Hyojin penasaran.

“Oh tadi, anu..ada seorang pemuda dia bertanya apakah ini kediaman keluarga Jung dia bilang dia mengenal anda Nona.” Pak Hwangjung menjawab.

“Oh..lain kali jangan biarkan mobil orang asing masuk.” Hyojin memerintah dan Pak Hwangjun mengangguk.

[Kamar hotel Yifan dan Zhongren, Korea selatan 23:00 pm]

“Skor!” Zhongren berseru, dia senang sekali kalau rencananya untuk mendekati Hyojung berhasil.

“Urgh! Diam..kau hanya beruntung!” Yifan mengerang kesal, dia tidak suka wajah senang Zhongren karena itu sama saja dengan ledekan baginya.

Ini pertamakalinya Zhongren menang duluan, biasanya wanita-wanita yang mereka dekati selalu menyukai Yifan namun sekarang Yifan harus berhadapan dengan wanita cuek yang bermulut pedas seperti Hyojin.

“Ayolah Hyung..tunjukan karismamu.” Zhongren menyikut lengan Yifan, Yifan hanya menghela nafasnya lelah dia mengacak-ngacak rambutnya.

Bagaimana mungkin seorang gadis bisa membuatnya sefrustasi ini? Yifan berdiri dari duduknya dan mengambil jaketnya, Zhongren yang melihat itu berdiri dari sofa.

“Kau mau kemana Hyung?” Tanya Zhongren.

“Aku butuh udara segar, tidurlah..ini sudah malam.” Yifan berkata, dia keluar dari kamar hotelnya meninggalkan Zhongren.

Yifan berjalan turun ke lobi hotel, dia pergi ke parkiran hotel lalu menaiki mobilnya. Malam ini dia memutuskan untuk pergi ke kasino, dia lebih baik berjudi saja daripada harus memikirkan gadis kasar yang menyebalkan yang bernama Jung Hyojin.

Dia menghidupkan mesin mobilnya, pergi menuju kasino yang berada tak jauh dari hotelnya.

Bebebrapa menit berlalu dan dia sampai di kasino, kasino seperti biasanya ramai dengan semua orang yang berjudi dan berpesta. Banyak sekali wanita seksi yang siap menemaninya malam ini, dan ternyata tak menunggu lama seorang wanita mendekatinya.

“Apa kau kesini untuk berjudi tuan?” Tanya wanita seksi itu, parasnya cantik tubuh nya pun jenjang dan kulitnya putih bersih.

“Untuk apalagi aku kesini?” Tanya Yifan.

“Bagus, kalau begitu ijinkan aku menemanimu.” Wanita itu langsung melingkarkan tangannya di lengan Yifan.

“Panggil aku Bora, siapa namamu?” Wanita yang mengandeng lengan Yifan berkata.

“Aku Yifan,Okay Bora..aku harap kau bisa jadi jimat keberuntunganku malam ini.” Yifan menyentuh dagu Bora.

“Kau tenang saja, orang bilang aku adalah pembawa keberuntungan.” Bora menjawab dan dia menarik Yifan kesalah satu permainan judi yang di sebut black jack.

Yifan menyetujui, lagipula dia memang ahli dalam bermain permainan kartu. Dengan Bora disampingnya menambah percaya dirinya, dia langsung membeli chip yang cukup banyak dan bertaruh.

Permainan black jack cukup ramai, dia berhasil memimpin permainan dalam waktu beberapa menit saja. Sepertinya malam ini keberuntungan ada di pihaknya, dan tentu saja Yifan terlalu sibuk untuk memikirkan Hyojin.

Permainan demi permianan Yifan coba, mulai dari permainan kartu sampai permainan mesin slot, Bora dengan senangnya memeluk Yifan saat lelaki itu berhasil meraup begitu banyak uang.

“Yifan! Kau memang hebat..” Bora berkata dia melingkarkan tangannya di bahu Yifan, memeluk lelaki itu dari belakang.

“Kau yang membawa keberuntungan cantik.” Yifan berkata, Bora tersenyum dan dia berbisik kepada Yifan.

“Kita bisa menyewa kamar hotel diatas jika kau mau, aku punya bnayak waktu untukmu.” Bora berbisik menggoda, dia menyeringai sedangkan Yifan hanya tersenyum.

“Baiklah jika itu yang kau mau, biarkan aku menyelesaikan game poker ini.” Yifan menjawab.

Dia sudah menerima kartunya, dia tersenyum saat dia melihat jumlah kartu nya yang cukup besar.

“Maaf tuan-tuan, sepertinya chip kalian malam ini milikku.” Yifan berkata dan dia membuka kartunya, semua lawan main mengerang kesal karena mereka kalah.

Yifan dengan bahagianya mengambil semua chip di meja poker, dia dan Bora langsung menukarkan chip-chip itu dengan uang. Mata Bora hampir keluar dari tempatnya, saat dia melihat uang yang di terima oleh Yifan.

“Apa kau tidak pernah melihat uang sebanyak ini?” Yifan bertanya.

“Aku pernah pernah melihatnya, namun aku belum pernah menyentuhnya.” Bora menjawab.

Yifan mengeluarkan sejumlah uang dari amplop coklat besar yang dia terima dari kasino, dia memberikan uang itu pada Bora.

“Ini, bayaranmu untuk malam ini..lain kali kau harus menemaniku lagi.” Yifan berkata, dia berbalik lupa dengan tawaran Bora tadi.

“Apa kau benar-benar akan pergi begitu saja? Apa menurutmu bayaranku terlalu besar?” Bora bertanya, dia bisa memperkirakan kalau uang yang dia pegang bisa mencapai lima juta.

“Tenang saja, uangku masih banyak sekali..uang mu hanya sekitar setengah persen dari yang aku punya.” Yifan menjawab.

“Bukan itu maksudku bodoh…apa kau tidak mau aku temani semalaman? Sudah kubilangkan aku punya waktu banyak malam ini.” Bora mengungkapkan.

“Tenang saja, servis yang sekarang gratis..kau sudah membayar lebih dari cukup.” Bora berkata, dia menarik Yifan menuju bar Kasino.

Yifan tersenyum, walaupun ragu dia akhirnya mengikuti langkah Bora. Wanita yang satu ini unik, Yifan tahu kalau Bora pastilah sudah ahli dalam memikat pria dilihat dari fisik dan perlakuannya Yifan tahu Bora adalah wanita yang ‘berpengalaman’.

“Minseokie! Satu botol wine untuk aku dan lelaki tampan ini!” Bora berteriak dan Minseok mengacungkan jempolnya, sepertinya Bora akrab dengan bartender disini.

“Sudah berapa lama kau bekerja disini?” Yifanbertanya dan Bora tersenyum kearah Yifan, dia suka membuat lelaki ini penasaran.

“Menurutmu?” Tanya Bora kembali membuat Yifan berpikir sesaat.

“Satu tahun? Dua tahun?” Yifan menebak.

“Wow tebakanmu hampir benar..” Bora kagum, dia tidak menyangka seseorang bisa menebak hampir tepat seperti Yifan.

“Aku sudah bekerja disini selama tiga tahun, aku bekerja disini sejak aku berumur Sembilan belas.” Bora menjawab, mendengar jawaban itu Yifan cukup prihatin.

Dia yakin kalau Bora terpaksa harus bekerja disini, dia yakin wanita yang ada di hadapan nya ini memiliki masa lalu yang suram sama sepertinya dan itu membuatnya mengasihani wanita itu.

Lucu bukan? Hidupnya saja sama menyedihkannya dengan Bora, lalu kenapa dia merasa kasihan pada wanita cantik ini?

“Ini Wine kalian, apa kalian tidak akan meminumnya disini?” Tanya Minseok.

“Tidak, aku tidak suka minum disini..terlalu ramai.” Ucap Bora, Minseok mengangguk dia memberikan dua paper cup pada Bora.

“Nikmati wine kalian.” Minseok berkata, Bora memberikan sejumlah uang pada Minseok lalu wanita itu menarik Yifan kembali untuk keluar dari keramaian kasino.

“Dimana mobilmu?” Tanya Bora.

“Disana..” Yifan menunjukan kearah mobil Porsche hitamnya.

“Wow..kau pasti sangat kaya.” Ujar Bora, wanita itu menyentuh mobil mulus Yifan penuh kekaguman.

Yifan tertawa melihat konyolnya ekspressi Bora.

“Masuklah, kau mau pergi kemana?” Tanya Yifan.

“Sungai Han..” Jawab Bora.

“Kenapa kau ingin kesana? Disana dingin.” Yifan berpendapat.

“Tidak peduli,ayolah..aku ingin kesana.” Bora memaksa dan Yifanpun mengangguk.

Setidaknya dia tidak sendirian, lagipula sepertinya Bora adalah teman yang baik untuknya.

“Baiklah, tapi jika kau sakit jangan salahkan aku.” Kata Yifan, dia bisa melihat wanita cantik yang duduk di sebelahnya mengangguk.

Yifan menghidupkan mesin mobilnya, tak menunggu lama mobilnya sudah meninggalkan parkiran kasino. Jalanan seoul malam itu cukup sepi, waktu sudah menunjukan jam tiga malam tentu saja jalanan akan sangat sepi.

Bora membuka kaca jendela mobil, dia tersenyum sata dia merasakan angin malam menyentuh wajahnya rasa dia senang sekali. Dia selalu menyukai angin, karena angin sellau membuatnya merasa bebas.

Melihat betapa bahagianya Bora, entah kenapa Yifan juga ikut merasakan kebahagiaan Bora. Ekspressi Bora saat ini mengingatkannya pada saat pertamakali dia memenangkan permainan poker, dia masih ingat kalau dulu dia dan teman-teman di panti asuhannya selalu bermain poker dan taruhan mereka adalah roti makan siang.

Mengingat masa lalu itu, dia tersneyum sendiri. Dia sebenarnya ingin seklai pergi ke panti asuhan dimana dia tumbuh. Namun mengingat keadaannya sekarang, dia tidak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk datang dan memeluk mama Wu figure ibunya selama ini.

“Aku suka angin malam..” Bora bergumam, dia memejamkan matanya menikmati nagin malam yang emmbuat rambutnya bergoyang-goyang mengikut arah angin.

“Apa kau suka angin malam Yifan?” Tanya Bora.

Yifan berpikir sejenak.

“Tidak terlalu..terkadnag angin malam itu dingin.” Yifan menjawab.

Setelah percakapan itu, mereka tidak mengatakan apapun pada satu sama lain. Yifan sibuk menyetir dan Bora lebih suka menikmati angin malam. Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di sungai Han, mereka turu dari mobil dan Bora langsung berlari menikmati udara segar di tepi sungai Han.

Yifan hanya bisa tersenyum melihat tingkah wanita itu, dia tahu Bora pasti jarang sekali keluar dari kasino itu.

“Hm..aku sudah lama sekali tidak kesini.” Bora berkata, dia akhirnya duduk disalah satu bangku yang ada.

“Yifan duduklah, kenapa kau diam saja?” Aja Bora, dia menepuk tempat kosong disampingnya.

Bora membuka botol wine yang dia pegang dengan terampil, dia masih membawa paper cup yang di berikan minseok tadi di kasino. Dia menuang wine yang cukup banyak ke cup Yifan, dia memberikan cup itu kepada Yifan, Yifan menerimanya dengan senang hati.

“Terimakasih.” Yifan bergumam, inilah salah satu kebiasaan Yifan.

Sekecil apapun perlakuan yang orang lain lakukan untuknya, Yifan sellau berterimakasih berbeda dengan seorang waita yang tadi dia temui Yifan menyindir dlaam hatinya sendiri.

“Sama-sama.” Bora berkata, dia menuangkan wine untuk dirinya sendiri.

“oh iya, ngomong-ngomong.. aku baru pertamkali melihatmu di kasino.” Yifan mengungkapkan.

“Kemana saja kau selama ini?” Tanya Yifan penasaran.

“Aku? Au terlalu sibuk melayani tuan muda.” Bora menjawab.

“Tuan muda?”

“Ya, tuan muda pemilik kasino…dia sepertinya serius menyukaiku.” Bora mendengus.

“Namun aku juga serius tidak menyukai dia, dia sangat sombong dan kasar.” Bora melanjutkan.

“Aisssh.. jika aku ingat dia, darahku langsung naik!” Bora mengutuk dan Yifan tertawa.

“Lalu kenapa malam ini kau tidak melayani dia?” Pertanyaan keluar lagi dari mulut Yifan.

“Aku memutuskan untuk tidak datang ke kantornya, aku yakin dia sekarang pasti mengamuk dan mencari-cari aku.” Bora meneguk winenya.

“Persetan dengan dia..” Bora bergumam.

Yifan menyeringai, entah bagaimana perkataan Bora mengingatkan dia pada Hyojin.

“Kenapa wanita selalu seperti itu..” Yifan bergumam membuat Bora melirik kearah lelaki pirang disampingnya.

“Seperti itu bagaimana?” Tanya Bora.

“Ya seperti kau…kenapa kau tidak bersikap manis padanya? Tolaklah dia dengan lembut aku yakin dia akan mengerti.” Yifan berkata dan Bora melirik kearah lain, bibirnya tersenyum tipis.

“Dia tidak akan mengerti, jika aku bersikap manis…dia akan semakin mencintaiku.” Bora mengungkapkan.

“Maksudmu?” Yifan mengangkat halisnya.

“Apa kau tahu? Wanita itu punya seribu topeng..” Bora memulai.

“Wanita itu pandai menyembunyikan perasan mereka, itulah alasannya kenapa mereka selalu berakhir menangis sendirian.” Bora melanjutkan, dia meneguk winenya lagi lalu mendongak kearah langit.

“Jika mereka sedih mereka akan memakai topeng kebahagiaan mereka, tersenyum dan tertawa seakan- akan mereka baik-baik saja. Karena mereka tahu, jika mereka murung, orang disekitar mereka akan khawatir.”

Yifan menatap kearah Bora, perkataan Bora mungkin benar adanya. Selama ini dia belum mengerti wanita seuntuhnya, dia bukanlah seorang lelaki yang sensitif yang mampu membaca pikiran atau keinginan orang lain.

“Wanita bisa kuat dan tangguh, namun tidak ada seorangpun yang tahu kalau dia haus akan kasih sayang dan cinta benarkan? Itulah wanita, selalu berpura-pura seperti aktris drama yang sudah handal.” Bora menamatkan kaliamatnya, dia menuangkan wine lebih banyak ke paper cupnya.

“Kau mungkin benar, aku tidak pernah tahu wnaita seperti apa…” Ucap Yifan, nada suaranya terdengar lemah mungkin dia sedang berpikir.

“Apa yang kau pikirkan? Apa wanita yang kau sukai seperti apa yang aku bicarakan?” Tanya Bora.

Yifan hanya tersenyum penuh misteri.

“Aku bertemu dengan seorang gadis, dia sangat kasar dan tidak sopan.” Yifan mengungkapkan.

“Tapi aku penasaran, apakah dia memakai topeng nya saat dia bersikap seperti itu? Ataukah itu memang sifat aslinya?” Yifan menyentuh dagunya berpikir.

“Aku cukup yakin, itu hanya topeng dia..” Bora menjawab.

“Dia mungkin merasa canggung denganmu, Mungkin bahkan gugup…banyak alasannya.” Bora melanjutkan meneguk winenya.

“Hei Bora, senang aku bisa bertemu denganmu malam ini.

“Senang bertemu denganmu juga Yifan.”

To Be Continue..

Don’t forget the comment😀

Ps:

Gimana dengan cameo nya Bora sistar??
hehe gak tahu kenapa jadi pengen nulis soal dia

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

38 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 3]

  1. bgs eon… mkin pnsrn…

    eon, itu emg gk ad povny y??? Tpi gpp dh, wlo gk ad pov ny jg ttp ngrt kok

    fihhting y eon lnjtnny… jgn lama2

  2. mulai gak suka sama karakter taeyeon disini , zhongren jangan ngeharapin taeyeon yg gak suka sama lo donk ,, ada aku nih disini ^^
    ceritanya berasa kayak campuran dari drama” korea😀 kalau isa dibuat alur yang tambah bagus ya chingu ..
    ditunggu episod” selanjutnya

  3. Halohalohalo. Reader baru ^^
    salam kenal ya kak :))
    Ceritanya baguus. apalagi ada kris :p
    kirain Kris bakal kepincut sama Bora.
    Yoona jahat apa baik?

  4. tuh kann,,mulai anteng deh hyojung sama zhongren hehe,,
    aku bisa bayangin karakter hyojin d sini jutek abis,,,tapi kerenn,,aku suka sifatnya hehe…..taeyeonnya knp ga nyadar yahh klo c zhongren suka sama dia??mgkn krna dia masi suka sama yifan tuhh,,eh aku penasaran bgt,,sapa tu cwo yg udah ngancem” n minta uang sama yoona??makin penasaraann sama kelanjutannya

  5. uaaahhh kereenn. suka banget pas bagian bora cerita2 sama yifan😀
    tapi sayang thor, masih agak banyak typo nya._. ntar di next ff coba lebih di teliti lagi yah thor..
    Keep writing thor^^~

  6. Nggak nyangka kalo kai cintanya bertepuk sebelah tangan huhuhu ;-;
    Cameo nya keren! Sempet kaget kalo Bora yang jadi cameonya kkk

  7. Kayaknya Luhan sayang banget sama baba-nya, kasian kalo tiba-tiba diacuhin gitu. satu lagi yang biki aku penasaran, kenapa Kris bilang Luhan itu devil berpenampilan malaikat???????? padahal Luhan kayaknya lembuuuuut banget?

  8. sakit banget kalau jadi Kai yang Cintanya bertepuk sebelah tangan, banyak amanat yg dapat diambil dr ff ini. Penasaran sama si Tuan Muda ini siapa hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s