Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings [Episode 2]

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                   Oc
  • Jung Hyojung               Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng    [Kris EXO]
  • Wu Zhongren/Kai       [Kai EXO]
  • Bang Yongguk             [Yongguk BAP]

And another supportive cast….

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG – NC 17

2

Targetting

[Ruang konferensi pers,Perusahaan Jung – Korea selatan 08:00 am]

Hyojin berjalan menuju ruangan konferensi pers, di samping kiri dan kanan nya berjajar sekertaris Im, pengacara Cho dan beberapa anak buah ayahnya. semua wartawan sudah menunggu diruangan yang sudah disediakan oleh perusahaannya, disana tidak hanya ada wartawan namun semua penanam sahampun datang begitu juga para direksi yang selama ini membantu ayahnya membangun perusahaan tekstile nya yang besar.

Hyojin berhenti sejenak didepan pintu ruangan konferensi, dia menarik nafasnya mempersiapkan dirinya dengan semua pertanyaan yang mungkin para wartawan akan tanyakan padanya.

“Semuanya akan baik-baik saja, Hyojin-ah..” Sekertaris Im berbisik, dia menyentuh bahu Hyojin dan Hyojin mengangguk.

Mendapatkan sedikit dukungan dari sekertaris Im dia sedikit percaya diri, lagipula apa yang harus dia takutkan? Pengacara Cho ada disampingnya tersenyum kepadanya.

“Aku yakin, kau bisa mengatasi koferensi ini Hyojin-ah.” Pengacara Cho mengungkapkan, dalam suaranya Hyojin bisameraskaan ketulusan yang mendalam.

“Terimakasih.” Hyojin berkata.

“Tanpa kalian aku tidak bisa berdiri disini.” Hyojin melanjutkan, dan akhirnya diapun membuka pintu ruangan konferensi pers.

Seketika suara riuh para wartawan yang sibuk memanggil namanya membuat Hyojin terkejut, dia menutup matanya melindungi mata sensitivenya dari jempretan cahaya lens kamera para wartawan.

Pengacara Cho langsung menghalangi para wartawan yang ingin mendekat kearah Hyojin, dia menuntun wanita itu menuju meja yang sudah disiapkan untuknya. Hyojin duduk di kursi yang sudah disiapkan dengan tangan yang sedikit gemetar dia mengambil mic yang sudah disiapkan di depannya, tak menunggu lama diapun langsung berbicara.

“Selamat siang, para dewan direktur dan saudara-saudara wartawan yang saya hormati. Juga para pegawai lainnya yang menyempatkan waktu kalian untuk datang keacara konferensi pers ini.” Hyojin memulai, dia menarik nafasnya melanjutkan pidatonya.

Kris yang duduk dibagian belakang ruanga konferensi pers menyeringai saat dia melihat sosok wanita muda didepannya, didepannya itu adalah targetnya dia tidak menyangka targetnya lebih cantik dilihat secara langsung dari pada difoto yang ayahnya berikan kemarin.

“Tujuan saya hari ini berdiri disini, ingin mengkonfirmasi tentang status perusahaan yang ayah saya, Jung Yunho pimpin.” Hyojin melanjutkan, semua wartawan dengan riuh menanyakan berbagai pertanyaan dan itu membuat Hyojin semakin gugup.

Dia terdiam sejenak mencoba menenangkan dirinya sendiri, pertanyaan para wartawan berhasil membuatnya semakin gugup.

“Saya disini menyatakan, kalau saya memutuskan untuk mengambil alih perusahaan.” Hyojin mengatakan dan sia langsung bisa mendengar sebagian pegawai bersorak senang.

Setidaknya dia membuat banyak sekali orang bahagia, bahkan dia bisa melihat para dewan direktur langsung menghelus dada mereka. Mereka sepertinya merasa lega karena mereka masih bisa menjaga jabatan tinggi mereka, untuk sesaat Hyojin bahagia melihat semua orang diruangan itu tersenyum padanya.

“Dimulai dari besok, saya Jung Hyojin..akan menjadi pimpinan direktur perusahaan ini saya harap semua dewan direktur dapat membantu saya dan bekerja sama dengan saya yang masih muda dan kurang berpengalaman ini.” Hyojin berkata, dia membungkuk sekilas menghiraukan pertanyaan dari wartawan.

Setelah pernyataan itu Hyojin langsung dikawal oleh beberapa bodyguard dan keluar dari ruang konferensi pers, pengacara Cho langsung mengambil mic dan mengambil alih perhatian para wartawan dengan suaranya.

Melihat targetnya keluar Kris ikut keluar juga, dia merasa tidak tertarik untuk berada diruangan panas dan bising jika targetnya tidak ada disana.

[Beijing, Cina – 20:40 pm]

“Brengsek!” Seorang lelaki tersungkur ketanah, wajah babak belurnya menyentuh lantai keramik dengan kasar.

Baju kemeja putihnya dipenuhi dengan debu dan bercak darah yang keluar dari sudut bibir dan hidungnya, dia tidak bisa berbuat apapun dia membiarkan sekumpulan lelaki menendang perutnya membuatnya mengeliat penuh kesakitan.

“Cukup!”

Suara yang menggelegar keras membuat sekumpulan lelaki kejam yang menendangi lelaki itu berhenti, lelaki itu mencoba membuka matanya dan dia langsung merangkak mendekat kearah sosok yang ada didepannya.

Hyung... aku mohon!” Lelaki itu memohon dan memeluk kaki lelaki yang di depannya.

“Berapa lama? Satu minggu? Satu bulan? Atau mungkin satu tahun?” Lelaki tinggi yang sangar didepannya menjambak rambutnya dengan kasar.

“Yongguk Hyung...aku benar-benar tidak punya uang.” Lelaki itu memohon.

“Jangan panggil aku Hyung..aku bukan kakakmu lagi Zelo.” Yongguk berkata, dia melepaskan jambakan rambutnya dari dongsaengnya itu.

Hyung..aku benar-benar tidak punya apapun, aku mohon..beri aku kesempatan.” Zelo memohon dan dia kembali memeluk kaki Yongguk.

“Aku bosan mendengar alasan itu, ataukah aku harus membunuhmu saja?” Yongguk bertanya, dia mengodok sakunya.

“TIDAK! Jangan Hyung…jebal!!” Zelo menahan tangan Yongguk, ekspressi panik terpancar diwajah babak belur pemuda itu.

“lalu kembalikan uangku, kau malah kabur ke cina dan enak-enakan berjudi disini?! Aku kira aku bisa percaya kau!” Yongguk membentak dia menarik kerah baju Zelo.

Hyung,aku salah..aku mohon maafkan aku..aku lupa diri.”Zelo memohon, dia bersujud didepan Yongguk.

Yongguk mendengus dengan sinis, dia sangat kesal sekali pada dongsaengnya sekarang. Dia sangat menyayangi Zelo namun dengan kelakuan adik mudanya itu dia sangat marah dan kesal, berani sekali Zelo membawa kabur uangnya dan menghambur-hamburkannya di kasino.

Yongguk bekerja siang dan malam untuk mendapatkan uang itu, dia berencana untuk membangun sebuah bisnis dan keluar dari dunia malam yang gelap dan menyesakan baginya memulai hidupnya sebagai orang biasa dan melupakan masa lalu kelamnya.

Namun dengan raibnya uang tabungannya dia harus kembali bekerja sebagai mafia, menjual narkoba dan membunuh orang-orang yang sama sekali tidak pernah menyakitinya. Yongguk menghela nafasnya dan menjenggut rambutnya sendiri, semua ini membuatnya frustasi bisa-bisa besok dia menjadi gila.

“Kenapa eoh?! Kenapa kau mencuri uangku?!” Yongguk bertanya dengan nada suara marahnya, dia tidak pernah berpikir kalau Zelo dongsaengnya yang dia urus bisa dengan teganya mencuri uangnya.

“Aku lupa diri Hyung..maafkan aku!” Zelo menangis.

Yongguk berdiri dia menatap kearah televisi yang kebetulan ada di depan tembok ruangan bos pemilik kasino, dia sudah meminjam ruangan ini khusus untuk menjebak Zelo agar dia mau mengikuti orang suruhan yang sudah dia sewa.

Matanya melebar saat dia melihat sosok Hyojin ada dilayar Tv nasional cina, walaupun Yongguk tidak mengerti apa yang dikatakan oleh reporter cina tentang Hyojin dia bisa menebak nya.

Kedua orangtua Hyojin, Jung Yunho dan istrinya Jung Boa meninggal dunia sebuah foto mobil sedan mewah yang hancur karena kecelakaan ditampilkan di tv itu. Yongguk mengepalkan tangannya khawatir, dia langsung berbalik dan bertanya kepada orang sewaannya tentang berita apakah yang baru saja dia tonton.

“Berita yang kau lihat tadi adalah berita tentang anak pemilik perusahaan jung textile yang mengambil alih jabatan ayahnya karena ayahnya meninggal dunia.”

Itulah penjelasan dari orang sewaannya, Yongguk langsung berlari keluar meninggalkan Zelo yang masih kebingungan juga keempat orang sewaannya.Tiba- tba saja semuanya tidak terlalu penting untuk Yongguk, yang terpenting sekarang dia harus menghubungi nona kecilnya Jung Hyojin.

Yongguk menghidupkan ponselnya, dia langsung mencari nomor rumah Hyojin yang masih dia punya. Dia menunggu beberapa detik untuk seseorang mengangkat teleponnya, dengan perasaan resah dia menunggu.

Ingin sekali dia terbang kekorea dan segera mengecheck keadaan Hyojin dan juga Hyojung, dia sekarang sedikit menyesal untuk terbang ke Beijing.

“Yobuseyo..” suara manis gadis yang selalu dia impikan terdengar.

“Hyojin-ah..” Yongguk berkata dan dia bisa mendengar Hyojin menarik nafasnya, mungkin terkejut karena mereka sudah lama tidak bertemu.

“Yongguk Oppa? Sudah lama sekali..apa kabarmu?” Hyojin bertanya, Yongguk merasa lega karena Hyojin masih bisa terdengar ceria.

“Aku..aku baik-baik saja Hyojin-ah, bagaimana denganmu? Aku sudah mendengar beritanya.” Yongguk mengungkapkan.

“Oh soal itu..aku baik-baik saja Oppa,kau tak usah khawatir.” Hyojin menjawab, dia memainkan kabel teleponnya.

“Hm..bagus kalau begitu, selamat sekarang kau pemimpin direktur Hyojin-ah.” Ucap Yongguk, dia mencoba untuk tetap positive dan menghibur Hyojin.

Nde, terimakasih Oppa..”

“Bagaimana dengan Hyojung?” Yongguk kembali mengajukan pertanyaan.

“Euh..Hyojung? dia baik, dia sedang tidur sekarang.” Hyojin menjawab, namun dalam nada suaranya Yongguk bisa membaca ada sesuatu yang salah dengan Hyojung.

“Kau yakin?apa kau ingin aku menemanimu?” Yongguk bertanya dan Hyojin tersenyum, Yongguk memang selalu menjadi teman nya yang baik.

“Tidak apa-apa Oppa, kau tak usah datang..lagipula kau sibukkan? Aku dengar kau sekarang bekerja di seoul.” Hyojin mengungkapkan.

Yongguk membantu, Dia tidak bisa menceritakan kisahnya yang gelap kepada putrinya. Yongguk harus berbohong meskipun dia benci itu.

Nde..aku bekerja di Seoul sekarang, tapi aku sedang mencari pekerjaan baru sekarang.” Kata Yongguk, da mendongak menatap langit hitam diatasnnya.

“Begitu ya, Oppa bagaimana kalau kau bekerja saja diperusahaanku? Aku punya posisi yang cocok untukmu.” Hyojin menawarkan, Yongguk tersenyum dia tahu Hyojin akan menawarkannya pekerjaan.

“Apa kau yakin? Aku tidak sepintar kau..aku bahkan tidak kuliah.” Yongguk menjawab, dia tahu jelas tempatnya di mana dia tidak akan pernah sejajar dengan Hyojin.

“Ah..kata-kata itu lagi, aku bosan mendengarnya Oppa kau pintar aku yakin sekali lagipula kuliah belum menentukan kepintaran seseorang.” Hyojin berpendapat.

“Datanglah, aku dan Hyojung merindukanmu. Kau masih ingatkan? Kita biasanya bermain bersama saat kita masih kecil dulu.” Ucap Hyojin, wanita itu mengenang sesaat masa lalunya dengan Yongguk.

“Kau benar, aku masih ingat kita sering mengelitiki satu sama lain sampai tertawa terbahak-bahak.” Yongguk berkata dia menghela nafasnya merindukan sosok nona mudanya lagi, dia ingin sekali menerima tawaran Hyojin dan bekerja lagi untuk Hyojin namun egonya berteriak untuk tidak melakukan itu.

Jika dia bekerja lagi dibawah pimpinan Hyojin, kapan mereka akan sejajar? Kapan mereka bisa menjalin hubungan yang lebih sekedar dari persaudaraan yang palsu ini? Bahkan Yongguk bukanlah bagian keluarga Jung, ayah Hyojin saja yang terlalu baik membiarkan dia menjadi bagian keluarga terhormat itu.

Neneknya yang dulu bekerja sebagai pelayan disana sudah lama pergi, dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menemui nona muda itu. Sudah sekitar 3 tahun lebih dia dan Hyojin tidak bertemu, mendengar suara manis Hyojin membuat Yongguk kembali jatuh cinta pada dara muda itu.

Sama seperti dulu saat dia pertamakali melihat gadis itu, saat itu dia (Yongguk) masih kurus dan dekil. Orang kampung yang baru saja datang kesebuah kota. Dia langsung jatuh cinta pada nonanya yang sudah menunggu berdiri diujung tangga dengan baju rapihnya, saat itu dia hanya bisa menatap kearah sosok cantik Hyojin dengan kekaguman yang mendalam.

Semua tentang Hyojin selalu membuatnya tertarik, dari mulai bagaimana gadis itu tertawa saat mengobrol dengan teman-temannya sampai sisi rapuh yang menyedihkan gadis itu. Yongguk masih ingat saat dia melihat Hyojin menangis saat pacarnya memutuskan hubungan asmara cinta monyet mereka, betapa marahnya Yongguk waktu itu namun dia hanya bisa menatap dan mencoba menghibur nona mudanya dari kejauhan.

“Oppa, datanglah..aku membutuhkanmu.”

Suara Hyojin mengembalikannya kepada realita, dia tersenyum tipis.

“Bagaimana aku bisa menolak jika nonaku ini memintaku untuk datang seperti itu.” Yongguk menggoda, dia bisa mendengar tawa kecil Hyojin dari seberang telepon.

“Hm..masih gombal seperti dulu ternyata..baiklah Oppa, aku tunggu kedatanganmu.” Hyojin membalas.

“Baiklah, sampai bertemu lagi di korea.”

“Nde..Oppa.”

Dengan kata-kata terakhir itu Yongguk menutup teleponnya, dia mendongak menatap kearah langit yang kosong. Bulan yang bersinar terang terlihat kesepian sendirian, dimanakah bintang yang biasa menemaninya?

Yongguk menyentuh dadanya, entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat sekali. Apalagi saat dia mengingat suara Hyojin, dia ingin sekali kembali ke korea dan bertemu dengan wanita itu dia ingin mendengar lagi tawa dan melihat senyum Hyojin.

Dia baru sadar kalau dia merindukan gadis itu.

[Hotel, apgyujong – Korea selatan 21:00 pm]

Yifan baru sampai di hotel yang dia sewa beberapa hari yang lalu dengan Jongin, dia dengan malas masuk kedalam kamar hotelnya dan menemukan adiknya sudah duduk manis diranjangnya menonton tv.

“Kau sudah pulang hyung?” Tanya Zhongren yang sedang melahap es krim vanillanya, dia melirik kearah Yifan dan tersenyum.

Yifan tertawa saat dia melihat disudut bibir adiknya ada es krim vanilla, Yifan berjalan dan mengusap noda es krim vanilla yang ada disudut bibir Zhongren membuat Zhongren malu.

“Lihat kau, kau sudah pintar merayu wanita tapi kau masih makan es krim seperti anak kecil.” Yifan meledek,dia membuka mantel hitam yang dia kenakan.

Sekarang adalah musim gugur dan udara mulai dingin, dia bisa merasakan hawa diluar hotel lebih dingin tadi. Dia duduk diranjangnya sambil menggosokan kedua tangannya, Zhongren yang melihat kakaknya kedinginan langsung menaikan suhu ruangan.

“Apa sudah hangat?” Zhongren bertanya dan Yifan mengangguk.

“Terimakasih, Zhongrennie…” Yifan menggoda dan Zhongren mengerang tidak senang, dia tidak suka nama panggilan itu.

“Hyung! Aku sudah besar..berhentilah memanggilku seperti itu.” Zhongren mengeluh namun tatapannya masih fokus pada tv didepannya.

Arra..arra.. kau sebaiknya menonton, aku akan mandi dulu.” Yifan berkata dia berjalan kearah kamar mandi dikamar hotel mereka.

“Hyung..” Zhongren memanggil dan Yifan menghentikan langkahnya.

“Apa yang ayahmu katakan? Apa dia mengusirmu lagi?” Zhongren bertanya, dia sedikit kesal karena kemarin Yifan tidak mengajaknya Cina.

Dia tahu dia tidak akan berguna saat di Cina, namun setidaknya dia ada disisi kakaknya melindungi kakaknya jika ayah nya yang bejad itu akan menyakitinya lagi.

“Kami hanya berbincang, lelaki tua itu..dia benar-benar sekarat.” Yifan menjawab, lalu tubuh tingginya menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Zhongren mengepalkan tangannya, Yifan sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya. Zhongren yakin itu, dia bisa membaca ekspressi kakak angkatnya itu dengan jelas.

“Hyung, kenapa kau selalu menutup dirimu sendiri?” Zhongren bergumam.

Es krim vanillanya tidak terasa manis lagi sekarang, dia kembali khawatir. Khawatir jika Yifan melakuka sesuatu yang bodoh lagi, dia takut jika kakak angkatnya itu akan tersakiti lagi seperti dulu.

Zhongren tidak pernah mengerti, dia tidak mengerti kenapa Yifan selalu berharap kalau lelaki tua itu akan menganggapnya sebagai seorang anak lelaki. Sudah jelas ayahnya itu hanya memanfaatkannya, Zhongren tahu gelagat Li Zhoumi dia cukup terkenal didunia malam jika kau ingin uang kau bisa pergi pada Li Zhoumi.

Tapi jika kau tidak bisa membayarnya sebaiknya kau bersiap-siap untuk mati dengan cara yang tragis.

Beberapa menit berlalu Zhongren dikagetkan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka, Zhongren bisa melihat sosok Yifan keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk dan rambut yang dicat pirangnya terlihat basah.

“Ngomog-ngomong, aku bertemu dengan Taeyeon noona.” Zhongren memulai dan Yifan menghentikan langkahnya menuju lemari kecil yang adi disudut ruangan kamar hotelnya.

“Taeyeon? Apa yang dia katakan?” Tanya Yifan, nada suara terdengar tidak senang.

“Dia sudah jadi CEO sekarang, apa kau menguras uangnya sampai habis?” Zhongren bertanya, mengangkat halisnya.

“Ck…aku tidak ingin terlibat dengan dia ok? Lupakan wanita itu.” Yifan menjawab dan dia mulai memakai bajunya.

“Hyung, kau menyukai diakan? Dia cinta pertamamu?” Zhongren memancing, mencoba mendapatkan informasi lebih dari Yifan.

Kakaknya itu selalu tertutup jika masalah wanita, Zhongren hanya tahu segelintir wanita yang terlibat dengan kakaknya. Kakaknya itu mungkin tampan namun dia tidak pernah bergonta-ganti pacar, dia bisa dibilang sebagai pria yang setia sangat membosankan bukan?

Berbeda dengan Zhongren yang terkenal sebagai playboy, dia bahkan sudah ‘tidur’ dengan beberapa pacarnya.

“Oh iya Zhongren, bisakah kau membantuku?” Yifan meminta, dia memakai kaos polos abu-abunya dan celana santainya.

“Tentu saja Hyung, apa yang kau inginkan?” Zhongren berbalik menatap kakaknya.

“Bisakah kau mencari informasi tentang perusahaan Jung textile?” Kata Yifan.

“Wae? Ini baru pertama kalinya kau menyuruhku untuk menyelidiki perusahaan, apa kau berencana untuk bekerja disana?” Zhongren bertanya penasaran.

“Tidak, kita punya target baru.” Yifan mengungkapkan, dia melemparkan foto yang Zhoumi berikan pada Zhongren.

“Hm..siapa wanita ini? Apakah dia lebih kaya dari Taeyeon Noona?” Zhongren melirik kearah Yifan yang sudah duduk dengan nyaman.

“Tentu saja, dia adalah pemilik perusahaan yang tadi kusebutkan.” Yifan menjawab dengan santai, dia meneguk air minum yang ada di meja.

“Hm..lumayan, dia juga cantik.” Zhongren memperhatiakn foto di tangannya.

“Kapan kita akan mulai mendekati dia?”

“Kita tunggu waktu yang tepat, dia bukanlah wanita yang gampang didekati.” Yifan mengusulkan, dia menerawang kearah jendela hotelnya lalu menyeringai.

[Kediaman keluarga Jung – Korea selatan 21:34 pm]

Aku sudah mendapatkan laporan dari sekertaris Im, sekarang aku benar-benar kesal. Aku bisa melihat beberapa tanda alpa di absen Hyojung, sebenarnya ada apa dengan remaja yang satu ini?

Aku bahkan harus bertemu dengan guru BK Hyojung karena masalah ini, gurunya mengatakan kalau belakangan ini karakter Hyojung berubah secara drastis. Aku mengerti adikku itu masih sedih atas kepergian kedua orang tua kami, namun itu bukanlah alasan yang tepat untuk bolos sekolah.

Aku berjalan menuju kamar adikku dengan langkah cepat, aku sudah tidak tahan ingin membentak dia namun aku harus mencoba untuk sabar.

Ku ketuk pintu kamar Hyojung tiga kali, namun aku tidak mendapat sahutan. Aku memutuskan untuk mengetuk lagi sampai akhirnya aku mendnegar suara Hyojung menyuruhku masuk, kubuka pintu kamarnya dan aku bisa melihat Hyojung sedang duduk di kursi meja belajarnya.

“Eonni, ada apa?” Tanyanya dengan suara tanpa dosa, oh bagus seklai Hyojug sekarang kau pintar ber akting.

“Hyojung-ah..aku ingin menanyakan sesuatu padamu, kemarilah.” Aku duduk diranjang empuk adikku dan diapun mengikutiku.

Matanya bis amelihat kertas absensi yang ada ditanganku, aku bisa melihat matanya melebar dan kelihatannya dia panik. Dia sepertinya sudah tahu maksudku datang kesini, yaitu menari alasan kenapa di absennya ada tulisan alpa.

“Aku ingin kau menjelaskan ini…kenapa kau bolos?” Tanyaku langsung ke point, aku tidak ingin membuang waktuku dengan berceramah atau menasehatinya dulu.

“Eonni..aku tidak ingin membahas itu.” Hyojung menolak, dia melirik kearah lain menghindari tatapan mataku.

“Hyojung-ah, aku tahu kau masih sedih soal orang tua kita tapi ini sudah berminggu-minggu ayolah sadar…kau tidak bisa terus seperti ini.” Aku berkata.

Hyojung menghela nafasnya, dia kelihatan kesal. Oh aku juga kesal Hyojung tapi aku masih sabar karena aku tahu, kau hanya kebingungan.

“Eonni, kau tidak tahu betapa menderitanya aku disekolah.” Hyojung mengungkapkan.

“Apa maksudmu?” Tanyaku mengerutkan keningku.

“Semua guru dan teman-temanku selalu menyatakan bela sungkawanya, mereka selalu baik padaku karena mereka tahu aku anak yatim piatu…mereka membicarakanku seakan aku adalah gossip hangat.” Hyojung berkata, airmatanya mengancam untuk turun.

“Aku tidak mau itu..aku baik-baik saja, kenapa mereka harus menolongku jika aku yatim piatu..kenapa mereka harus membicarakanku seakan-akan kehilangan kedua orang tua adalah sebuah kesalahan.aku tidak suka itu!” Hyojung membentak dan akhirnya airmata keluar dari matanya, menetes ketangan nya yang mengepal kuat.

“Hyojung-ah..aku mengerti, tapi itu bukan alasan untuk kau bolos.” Aku menyentuh bahu Hyojung.

“Eonni kau tidak mengerti!” Hyojung bersih keras, dia menatap kearahku dan aku menghela nafasku.

“Hyojung-ah mungkin sekarang mereka akan seperti itu, tapi aku yakin semuanya akan membaik mereka akan menemukan sesuatu yang lebih menarik dari berita kematian orang tua kita.” Aku mencoba menenangkan Hyojung.

“Kau mungkin benar, aku tidak mengerti karena kau bukanlah kau…tapi aku tidak ingin semua ini membuatmu menjadi terpuruk ok? Tunjukan pada mereka bahwa kau baik-baik saja.” Aku menangkup wajah Hyojung dan menyeka airmatanya.

Eonni, mianhae..jalmothaesso..” Akhirnya Hyojung meminta maaf dan dia memelukku, aku tersenyum dan mengelus kepalanya.

“Hyojung-ah..kita hanya memiliki satu sama lain sekarang, berhentilah bertingkah konyol sekarang kau harus bisa menjaga dirimu sendiri.” Aku berbisik dan aku bisa meraskan anggukan kepala Hyojung.

“Selama kau bolos..kau pergi kemana?” Aku bertanya penasaran, aku mungkin bisa menemukan dia jika dia bolos lagi.

“Aku hanya pergi kemakam Eomma dan Appa, jika tidak aku pergi ke mall.” Hyojung menjawab pertanyaanku.

Dari nada bicara dia kedengarannya cukup jujur,akupun memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

Aku mengelus kepala Hyojung, aku cukup lega karena Hyojung akhirnya meminta maaf. Aku harap dengan pembicaraan ini Hyojung akan berhenti bolos sekolah, sepertinya aku harus lebih perhatian pada adikku sekarang.

 [Kediaman keluarga Li – Cina 22:00pm]

Sebuah sedan berhenti tepat didepan rumah kediaman keluarga Li yang mewah, pelayan yang sudah menunggu didepan pintu langsung berlari dan membukakan pintu mobil itu untuk penumpang yang ada didalam.

Sosok seorang wanita yang paruh baya keluar dari mobil mewah itu, kaki jenjangnya menggunakan sepau hak tinggi yang runcing membuat suara ketukan setiap kali hak runcingnya bersentuhan dengan lantai marble rumah keluarga Li.

Dia tersenyum saat dia melihat putra satu-satunya Luhan sudah menunggunya didepan, tanpa ragu lagi wanita itu berjalan kearah anak lelakinya dan memeluknya.

Luhan melepaskan pelukan ibunya, dia tidak suka jika ibunya itu masih menunjukan rasa sayangnya didepan umum.

“Luhannie, mama sangat merindukanmu.” Wanita itu berkata, dia mengelus kepala anak lelaki nya itu dan Luhan hanya tersenyum.

“Mama, jangan panggil aku itu..disinikan banyak orang.” Luhan merajuk dia berjalan masuk kedalam rumah mendahului ibunya.

Wanita itu tersenyum dan mengikuti langkah Luhan, mereka berdua duduk diruang tengah rumah besar itu. Kedua pelayan yang melihatnya segera mengambilkan mereka tea set dan beberapa cemilan kecil, sangat jarang sekali bagi mereka melihat nyonya Li ada dirumah.

“Bagaimana kuliahmu? Apa lancar?”Tanya nyonya Li, Luhan hanya mengangguk sebenarnya dia ingin menyampaikan berita baik namun dia menunggu sampai ibunya lebih santai.

“Bagaimana Prancis ma? Apakah mama menemukan lelaki lain selain baba?” Luhan bertanya nakal, bibir ibu Luhan terangkat sedikit membentuk senyum tipis.

“Ayolah Luhannie, aku sudah tua..aku kesana untuk mengurus bisnis fashionku.” Ibu Luhan menjawab dan dia tersenyum saat seorang pelayan menuangkan teh hangat kegelasnya.

“Benarkah seorang Li Ziyi sudah tidak tertarik pada lelaki tampan?” Luhan penasaran mengangkat halisnya, perkataan nya itu benar-benar tidak sopan namun Ziyi mencoba menahan emosinya.

“Oh darling…bisakah kau tidak memanggil namaku seperti itu? Aku ibumu.” Ziyi menasehati, dia meneguk teh hangatnya dengan pelan seperti seorang lady.

“Keadaan baba, memburuk apakah kau bisa dam di cina untuk beberapa saat?” Luhan meminta.

“Kenapa Luhan? Kau ada disinikan? Menemani ayahmu itu.” Ziyi bertanya, dia sepertinya tidak suka sata ia mendengar permintaan Luhan.

“Mama..aku mendapat beasiswa.” Luhan mengungkapkan, dia bisa melihat ekspressi ibunya menegang.

“Beasiswa? Wah..anakku ini ternyata pintar, jadi kau mendapatkan beasiswa untuk apa?” Ziyi bertanya.

“Aku akan pindah kekorea.” Luhan berkata.

Ziyi menarik nafasnya terkejut dia segera berdiri dari duduknya, mendengar nama Negara itu Ziyi sangat kesal dia tidak pernah ingin mendengar apalagi mengunjungi Negara itu lagi.

“Tidak! Aku tidak mengjinkanmu kesana.” Ziyi melarang dengan tegas.

“Mama, ini yang terbaik untukku aku tidak ingin hidup disini..aku ingin mandiri.” Luhan berpendapat, dia bukanlah anak lelaki yang berumur10 tahun lagi dia sudah besar dan dia ingin mengatur hidupnya sendiri.

“Darling, kamu tahu betapa bahayanya di korea bukan? Apa kau ingin bertemu dengan Yifan?! Dia bukanlah orang yang akan senang jika melihat wajahmu.” Ziyi mengingatkan betapa buruknya hubungan Luhan dan Yifan.

“Lalu kenapa? Mama aku tidak akan mengikuti dia, aku ke korea hanya untuk belajar.” Luhan beralasan namun tetap saja Ziyi tidak setuju.

“Tidak Luhan, dengarkan mama…kau akan membahayakan dirimu sendiri.” Ziyi memberikan peringatan pada putranya.

Dia khawatir jika sesuatu terjadi pada anaknya apalagi Yifan bukanlah orang yang baik, dia bisa saja mencelakakan putra satu-satunya itu kapan saja. Luhan memasang muka masamnya, dia sangat kecewa dengan reaksi ibunya itu dia kira ibunya akan selalu mendukungnya jika masalah pendidikan.

Namun prediksinya salah, ibunya itu masih egois dan selalu berprasangka buruk. Dia selalu menganggap kalau Luhan adalah anak kecil bukanlah lelaki yang sudah tumbuh dewasa, Luhan bosan dengan perlakuan ini dia ingin membuktikan kalau dia adalah lelaki dewasa.

“Terserah padamu Mama.. tapi aku pergi, aku cukup baik menyampaikan berita ini padamu tidak seperti kau yang selalu pergi tiba-tiba dan meninggalkan surat di meja belajarku.” Luhan menyindir.

Dia berbalik dan membanting pintu ruang tengah dengan keras, Ziyi yang mendengar perkataan lancang anaknya itu meremas tangannya.  Ziyi berbalik dan melihat kedua pelayan yang menatap kearahnya.

“Apa yang kalian lihat?!” Ziyi membentak membuat kedua pelayan itu segera pegi menuju dapur sambil menunduk.

“Lima belas menit kau disini, kau sudah membuat keributan.” Mendengar suara itu Ziyi melirik kearah ambang pintu.

“Yixing, apa yang kau inginkan?!” Ziyi bertanya dengan kasar dia sedang tidak mood untuk bertatak krama.

“senang bertemu denganmu lagi, tante.” Yixing menyapa dia menyeringai melihat wajah antic tantenya itu sekarang kusut.

“Luhan pasti belajar untuk membantahku dari kamu!” Ziyi menuduh, dia meneguk lagi tehnya.

“Hm..bisa dibilang begitu, bukankah itu salah mu sendiri? Membiarkan dia dalam lingkunganku? Tentu saja dia akan belajar banyak hal dariku.” Yixing menjawab dengan percaya diri, dia sudah bergaul dengan Luhan sejak mereka masih kecil.

Sebagai sepupu Luhan dan Yixing cukup dekat, mereka berbagi banyak hal dan tentu saja Luhan sudah belajar banyak dari Yixing.

“Kau benar, menitipkan dia kepadamu adalah keputusan yang salah.” Ziyi bergumam, dia melirik kearah jendela ruang tengah yang menunjukan pemandangan halaman belakang rumah yang luas sekali.

“Aku setuju dengan pendapat Luhan, sebaiknya kau diam disini dan urus suamimu paman Zhoumi.” Yixing mengungkapkan.

“Bukankah dia sudah sekarat? Biarkan saja dia mati..” Ucap Ziyi acuh tak acuh, Yixing menggelengkan kepalanya bagaimana mungkin orang yang dihadapannya ini adalah tantenya? Dia tidak habis pikir tantenya bisa seperti itu.

“Tante! Paman Zhoumi adalah suamimu, bagaimanapun juga dia ayah dari Luhan dia dan kau sudah berbagi banyak kenangan kenapa kau seperti ini sekarang?!” Yixing membentak, marah dengan ungkapan tantenya itu.

Bagaimana mungkin wanita yang selama ini dia hormati sebagai tante bisa berkata kejam seperti itu, dia seakan bukanlah Zhang Ziyi yang dia ketahui beberapa tahun yang lalu. Dimanakah wanita lemah lembut yang dia kenal dulu? Tantenya sekarang bagaikan monster yang haus darah dan kekuasaan.

“Aku tidak pernah mencintainya, lagipula dia menikahiku karena dia ingin merebut perusahaan textile ayahku.” Kata Ziyi, matanya berkaca-kaca namun dia masih bisa menahannya.

“Tante itu tidak benar, paman Zhoumi mencintaimu apakah kau tahu setiap malam dia mencoba menghubungimu di Prancis? Kau hanya terlalu sibuk dengan dunia gemerlapmu.” Yixing membela, dia masih ingat ekspressi kecewa Zhoumi setiap kali Ziyi menolak panggilannya.

“Huh? Mencintaiku? Lucu sekali.. kau sudah diperalat olehnya Yixing, Zhoumi itu seperti ular! Dia licik.”

PLAKKKK…

Sebuah tamparan mendarat dipipi Ziyi, Ziyi terkejut dia menyentuh pipinya yang terasa terbakar karena tamparan Yixing dia tidak menyangka keponakannya itu berani menamparnya.

Yixing mengepalkan tangannya, dia kelihatan marah sekali bahkan kedua pipinya merah menahan amarahnya.

“TANTE! Bagaimana kau bisa menuduh paman Zhoumi seperti itu?! Kau sebaiknya menyadari kesalahanmu, pantas saja Luhan sangat membencimu kau pantas untuk dibenci!” Yixing pergi meninggalkan Ziyi.

Ziyi menyentuh pipinya masih terkejut, apakah mungkin perkataan Yixing benar? Apakah mungkin selama ini dia hanya salah paham? Zhoumi dan dia tidak pernah berbicara hati ke hati mungkin saja dia salah.

****

Aku menatap kosong kearah gagang pintu kamar ayahku, aku tidak ingin menganggunya namun aku merindukan babaku. Aku rindu ceritanya tentang kesuksesannya saat muda, aku rindu cerita dia tentang mama saat mereka berpacaran, aku rindu gelak tawanya.

Akhir-akhir ini Baba menjauh dariku, dia bahkan tidak merespon setiap pertanyaanku aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi.

Aku sangat cemburu sekali saat aku melihat babaku mulai dekat dengan Yifan gege, padahal dia jarang sekali kesini. Yifan gege tidak pernah peduli pada baba sampai sekarang, aku tahu Yifan gege hanya menginginkan harta baba.

Sedangkan aku, aku tidak peduli dengan harta baba. Yang kuinginkan hanyalah perhatiannya, selama ini dia selalu menjadi pahlawanku,dia selalu ada saat aku membutuhkannya dengan perubahan sekarang aku merasa sangat tidak nyaman.

“Berapalama kau akan berdiri disana?” Suara Yixing mengagetkanku.

“Yixing, kau mengagetkanku.” Aku berkata mencoba tersenyum, aku mencoba menutupi kesedihanku.

“Aku mendengar pertengkaranmu dengan tante.” Yixing mengungkapkan.

“Sebaiknya kau meminta maaf padanya, kau mengertikan kenapa dia tidak mengijinkanmu datang ke Korea.” Ucap Yixing.

“Yixing kau tidak mengerti, aku lelah diperlakukan seperti anak kecil..aku tidak ingin menurut terus.” Kataku, suaraku pasti terdengar begitu putus asa.

“Aku tahu, tapi kenapa harus Korea Luhan? Aku tahu kau menerima beasiswa dinegara lain juga selain di Korea.” Ungkap Yixing, dia menatap kearahku penuh dengan curiga.

“Aku suka Korea, disana banyak bunga yang indah bukan? Aku suka kebudayaannya juga lagipula aku akan belajar musikkan? Sedangkan musik yang sedang populer adalah K-pop.” Tutur ku dengan semangat.

“Kau yakin dengan keputusanmu, kau tahu Yifan tidak akan suka keputusanmu.” Yixing mengingatkan.

“Kenapa aku harus peduli, aku ke korea bukan untuk berurusan dengan dia.” Aku menjawab.

“Jika kau yakin, aku menyetujuinya. Tapi kau harus bejanji untuk tidak terlibat dengan kakak tirimu itu ok? Dia orang yang berbahaya.” Yixing memberi peringatan.

“Iya aku mengerti Yixing, kau mulai terdengar seperti ibuku.” Aku meledek dan Yixing tersenyum tipis.

“Jaga dirimu baik-baik disana.” Yixing menepuk bahuku dan pergi menuju pintu utama rumah keluarga Li yang ada dilantai bawah.

“Yixing!” Aku memanggil membuat Yixing melirik kearahku.

“Terimkasih, karena sudah mempercayaiku.” Aku tersenyum kepada sepupuku itu dan Yixing mengangguk.

“Sama-sama.” Yixing menjawab singkat, dia berbalik lagi dan pergi.

Aku mengurungkan niatku untuk berbicara dengan Baba, mungkin besok pagi adalah waktu yang tepat untuk pembicarakan keberangkatanku ke Korea.

[Jalanan didekat perusahaan Jung textile – 08:00 am]

Zhongren membenarkan topi pedora coklatnya saat dia melihat sosok Hyojin turun dari mobil Mercedes silvernya, seperti biasanya dia (Hyojin) di lindungi oleh beberapa orang berseragam dan kedua sosok yang sering Zhongren lihat selalu bersamanya.

Ini hari kedua Zhongren menyelidiki gadis itu, kemarin saat kakaknya menyuruhnya, dia langsung melakukan penelitian lewat internet. Ternyata anak dari Jung Yunho pemilik Jung textile adalah Jung Hyojin, Zhongren mengetahui kalau Jung Yunho memiliki dua orang putri namun yang dia ketahui hanyalah Hyojin karena adik Hyojin yang bernama Hyojung menolak untuk di ekspose ke publik.

Zhongren harus berpura-pura membaca Koran saat matanya bertemu dengan tatapan bodyguard Hyojin, dia langsung menunduk dan membaca korannya yang sebenarnya tidak terlalu menarik.

Hyojin terlihat terlalu muda untuk wanita berumur 24 empat tahun, itulah yang Zhongren pikir saat dia melihat sosok wanita itu berjalan menuju masuk kedalam kantornya,Wanita itu terlihat masih berumur 20 tahun dan mungkin jika wanita itu menggunakan seragam SMA Zhongren akan percaya kalau dia masih dibawah umur.

Mendengar handphonenya bergetar Zhongren menghidupkan handphonenya, dia melihat satu pesan baru dari Yifan sampai kehandphonenya, dia membuka pesan itu.

Aku sudah mendapatkan schedule Hyojin,
aku akan mencoba menyapanya di acara amal perusahaan Kim.

Membaca pesan singkat itu Zhongren langsung membalas.

Baiklah, tapi Hyung berhati-hatilah dia
memiliki dua bodyguard yang selalu mengawasinya!

Setelah mengirim pesan itu dia berdiri untuk pergi, sebelum itu dia bertanya soal perusahaan Jung textile kepada kasir café namun Zhongren kecewa sepertinya kasir itu tidak tahu banyak tentang keluarga Jung apalagi perusahaannya.

Lelaki muda itu berjalan mencari target untuk informasinya, dia terkejut sata dia melihat sosok Taeyeon turun dari mobil sedan Hyundainya yang diparkirkan didekat perusahaan Jung textile.

Zhongren berpikir sebentar namun dia segera berlari kearah Taeyeon, dia berpura-pura tidak melihat sosok wanita itu dan menabraknya tidak sengaja.

“Noona!” Zhongren berseru,pura-pura terkejut dan Taeyeon tersenyum.

“Oh Zhongren-ah..apa yang kau lakukan disini?” Tanya Taeyeon sedikit terkejut.

“Err..aku sedang berjalan-jalan, aku senang aku bertemu denganmu.” Zhongren berbohong dan sepertinya Taeyeon mempercayainya.

“Iya, aku harus bekerja dulu jadi..” Taeyeon tidak menamatkan kalimatnya.

“Tunggu, apa Noona bekerja disini? Ya tuhan, kau seorang CEO di perusahaan ini?” Zhongren pura-pura terkejut.

“Ya begitulah Zhongren, kita sudah lama tidak bertemu jadi kau belum tahu banyak soal aku.” Taeyeon mengungkapkan dan Zhongren mengangguk.

“Kau benar Noona, bagaimana kalau kita minum kopi bersama nanti siang? Aku sedang tidak sibuk.” Zhongren menawarkan.

“Kau baik sekali Zhongren-ah, baiklah aku akan datang.” Taeyeon menyetujui dan Zhongren tersenyum senang.

“Bagus kalau begitu, boleh aku minta nomor handphonemu yang baru?” Zhongren meminta, tentu saja Taeyeon langsung memberikan nomor handphonenya pada Zhongren dnegan harapan kalau Yifan juga memutuskan untuk menghubunginya.

Zhongren menyimpan nomor kontak Taeyeon di memori handphonenya dan dia berpisah dengan Taeyeon, setelah Taeyeon menghilang masuk kedalam perusahaan dia menyeringai penuh kemenangan.

Sepertinya tugasnya untuk menyelidiki Hyojin akan lebih gampang, apalagi sekarang dia memiliki kenalan orang dalam. Dia tahu Taeyeon akan menceritakan segalanya pada Zhongren, apalagi dia bisa membujuk wanita itu dengan gampang.

[SMA Seoul – 13:30 pm]

“Urgghh..” Hyojung mengerang, dia tidak suka pelajaran sekarang.

Pelajaran terakhirnya adalah pelajaran Sejarah, dia tidak suka pelajaran itu karena pelajaran itu membuatnya mengantuk dan gurunya pun sangat membosankan. Dia melirik kearah jendela disekolahnya dan dia melihat sekumpulan murid lelaki bermain bola, Hyojung memutuskan untuk memperhatikan grup murid lelaki itu.

Hyojung iri sekali, dia ingin keluar dan menikmati sinar matahari. Walaupun sekarang sudah mulai musim gugur dan udara cukup dingin anehnya matahari masih bersinar cerah, Hyojung suka sekali matahari karena matahari membuatnya hangat.

Daun pepohonan di sekolahnya juga sudah mulai berguguran membuat pemandangan di jendela kelasnya semakin luas, dia bisa melihat beberapa gedung tinggi yang ada diluar sekolahnya.

Sebagian teman sekelasnya sudah pulang namun Hyojung hanya diam di kelasnya, dia menghidupkan handphonenya dan mengirimkan pesan pada kakaknya Hyojin. Setelah selesai dia pergi dari kelasnya berjalan dengan malas, teman sekelasnya sangat berisik sekali ladi membuat kepalanya sakit mendengar celotehan mereka.

Hyojung bukanlah tipe gadis yang suka mengobrol, dia lebih suka membaca saja daripada harus berbicara.

DUGGG!

Sebuah bola tiba-tiba saja mengenai kepala Hyojung, Hyojung mengerang kesakitan sambil menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit.

“Argghh siapa yang melempar bola ini?!” Hyojung berteriak, membuat semua orang dilorong kelas melirik kearahnya.

Hyojung membeku, dia baru sadar kalau dia masih di sekolah sekarang hampir semua temannya menatap aneh kearahnya.

“Maaf aku tidak sengaja melemparnya.” Seorang remaja lelaki berkata, mata Hyojung langsung mencari sosok itu dan dia bersumpah dia siap mencakar wajah remaja itu.

Sesosok remaja lelaki yang sebaya dengannya berjalan kearahnya, Hyojung terkejut saat dia melihat wajah remaja itu. Lelaki itu adalah Oh Sehun, dia adalah anak populer disekolahnya karena dia adalah kapten club futsal.

“Oh kau Jung Hyojung ya? Aku tahu kau..” Sehun berkata, dia tersenyum pada Hyojung.

“Lain kali jangan main bola di lorong sekolah!” Hyojung membentak dia memberikan bola yang dia pegang dengan kasar pada Sehun.

Sehun menyeringai melihat tingkah lucu Hyojung, ini pertamakalinya ada gadis yang kasar padanya biasanya mereka langsung berlari malu namun Hyojung beda.

“Kapten! Kau sudah mendapatkan bolanya?” Tanya Chanyeol yang berlari kearah Sehun.

“H..aku sudah mendapatkannya.” Sehun menjawab dan melemparkan bola yang dia pegang kepada Chanyeol.

“Oh iya Chanyeol..” Sehun berbalik kearah Chanyeol.

“Nde?”

“Apa kau tahu tentang Jung Hyojung?” Sehun bertanya dan Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya.

“Yang aku tahu hanya kedua orang tuanya meninggal tragis dalam kecelakaan.” Chanyeol menjawab.

“Oh..begitu ya.” Sehun merespon dan diapun pergi menuju ruangan clubnya.

Dia penasaran dengan gadis yang satu ini, ada sesuatu yang misterius tentang dia. Walaupun rumor banyak berhembus tentang dia namun Sehun ingin tahu yang sebenarnya, dia tidak hanya puas dengan bisikan-bisikan.

****

“Aishh! Dasar Oh Sehun menyebalkan.” Aku mengutuk saat aku merasakan kepalaku masih berdenyut sakit, aku berjalan keluar dari gerbang sekolah yang mewah.

Aku malas menunggu Hyojin Eonni untuk menjemputku jadi aku memutuskan pulang menggunakan taksi, namun hari ini aku tidak mood untu pulang. Aku ingin berjalan-jalan dulu sejenak, lagipula dirumah sepi.

Biasanya pulang sekolah aku selalu mengobrol dengan Eomma, dia selalu menanyakan bagaimana hariku disekolah. Namun sepertinya hari ini tidak aka nada yang peduli bagaimana hariku, Eonni selalu kelihatan lelah setiap kali dia pulang dari perusahaan aku tidak mau menganggunya.

Hari ini angin bertiup cukup kencang, aku baru ingat kalau sekarang sudah mulai musim gugur seharusnya aku membawa jaketku.

Tidak peduli dengan udara aku terus berjalan dan terus berjalan, entahlah aku tidak tahu harus pergi kemana yang jelas aku tidak mau pergi kerumah. Dirumah terlalu sepi dan aku selalu ingat Eomma, aku tidak ingin menangis dan terpuruk lagi.

Dreddd Dreddd

Aku bisa merasan handphoneku bergetar aku mengaktifkan handphoneku dan nomor Eonni langsung tampil di layar handphoneku, aku mengacuhkannya aku tahu dia pasti mencariku.

Kakiku terasa pegal aku harus beristirahat, aku ingat saat aku menangis kemarin aku berhenti didekat café. Sebaiknya aku kesana saja, aku tidak tahu café lain selain café itu lagipula sepertinya café itu cukup sepi.

Aku berjalan dengan semangat, setidaknya sekarang aku memiliki tujuan. Beberapa menit berjalan aku akhirnya sampai di Café itu aku berjalan masuk kedalam café dan seorang pelayan menyapaku, aku tersenyum dan segera duduk di salah satu kursi dekat jendela café.

Dari jendela café aku bisa melihat orang-orang berlalu-lalang diluar sebagaian ada yang berlari dan sebagiannya lagi ada yang sedang mengobrol dengan temannya, aku sedikit cemburu mereka kelihatannya bahagia.

“Apa yang ingin anda pesan nona?” Tanya pelayan itu, aku melirik kearah menu café sejenak.

“Aku pesan satu cappuccino dan dessert chocolate cakes.” Aku memesan dan pelayan itupun pergi meninggalkanku, aku mengehela nafasku sambil melirik kearah jendela.

Aku sangat terkejut saat aku melihat sesosok lelaki yang tidak asing bagiku, wajah tampan lelaki itu masih aku ingat. Lelaki itu adalah lelaki yang waktu itu aku peluk saat aku menangis, aku segera memalingkan wajahku saat aku melihat lelaki itu melirik kearahku.

Aku panik, aku hendak berdiri dan mengambil tasku namun aku mendengar seseorang masuk kedalam café. Saat aku mendongak, aku bisa melihat wajah lelaki itu tersenyum kearahku.

Dia kelihatan senang, anehnya…dia berjalan kearahku dan akhirnya dia duduk didepanku seakan-akan kami berdua sudah akrab.

“Agasshi,annyeoung!” Dia menyapa dengan nada suara cerianya, bagaimana mungkin dia sangat percaya diri menyapaku seperti itu?!

“A-annyeoung.” Aku mencoba, oh sial..kenapa juga aku harus terbata-bata seperti itu.

“Zhongren, namaku Zhongren saat terakhir kita bertemu kita tidak sempat berkenalan kan?” Lelaki itu bertanya, dia mendekat kearahku.

“Kalau kau? Siapa namamu?” Tanya Zhongren kepadaku,aku sedikit terkejut.

“A-aku?” Aku menunjuk pada diriku sendiri.

“Ya tentu saja, kau siapa lagi? Aku tidak tertarik berkenalan dengan pelayan yang berdiri dibelakang kasir itu.” Zhongren membuat lelucon dan aku hanya bisa tersenyum tipis.

“Aku, aku Jung Hyojung.” Aku menjawab, namun saat dia mendengar namaku wajah Zhongren langsung kaku dia terlihat terkejut.

Waeyo?” aku bertanya melihat ekspressi aneh yang di tunjukan Zhongren, dia sepertinya baru saja melihat hantu atau semacamnya.

Zhongren-shi? Gwenchanayo?” Aku bertanya, Zhongren langsung menatap kearahku.

“Apakah kau Jung Hyojung saudara dari Jung Hyojin?” dia tiba-tiba saja bertanya, darimana dia tahu kakaku? Apakah dia teman kakakku?

“Nde, kau benar.” Aku menjawab lagi dan aku bisa melihat ekspressi wajahnya kelihatan senang sekali.

“Ah..Bangapta! kau lebih muda dariku, jadi aku mengijinkan kau memanggilku Oppa.” Zhongren berkata, dia tersenyum kearahku.

Aku benci senyum itu, apalagi sikapnya yang sok akrab seperti itu. Lagipula siapa yang mau memanggilnya Oppa, tapi sepertinya aku harus menurut saja untuk saat ini mungkin saja lelaki ini teman akrab kakakku.

“Nde Oppa..apakah kau mengenal kakakku?” sekarang giliranku untuk bertanya.

“Oh bukan, aku tahu kakakmu karena Noonaku bekerja di perusahaan kakakmu.” Zhongren menjawab dan aku mengangguk.

Alasan yang cukup bagus untuk bersikap akrab denganku, tapi bukankah dia seharusnya lebih segan padaku? Dia tahu kalau aku saudara bos kakaknya.

“Kenapa kau disini sendirian? Kemana pengawalmu?” Zhongren bertanya melirik kearah sekitarnya, aku hanya menyeringai.

Pengawal dia bilang? Aku benci untuk diikuti seseorang, bisa-bisa aku stress jika sampai kakakku menyewakanku seorang bodyguard. Seorang pelayan datang kemejaku membawakan pesananku, Zhongren lalu memesan lemon tea dan menyuruh pelayan itu untuk mengantarkannya kemejaku.

Tunggu! Apa dia akan duduk disini bersamaku? Aku tidak suka itu, dia akan mengangguk waktu tenangku. Beraninya sekali dia duduk disini, dia pikir aku akan menerimanya begitu saja? Tentu saja tidak!

“Apa yang kau pikirkan Hyojung-shi? Apa kau tidak akan memakan pesananmu?” Suara Zhongren menyadarkanku dari pemikiranku.

Opso, aku hanya..aku harus pergi.” Aku berdiri, aku sudah tidak ingin lagi berjalan-jalan sekarang sebaiknya aku pulang.

“Kau sepertinya terburu-buru, apa ingin aku antarkanku?” Zhongren menawarkan.

“Tidak usah, terimakasih.” Aku menjawab singkat dan segera mengambil tasku, aku mengodok sakuku hendak menyimpan sejumlah uang di mejaku namun Zhongren mencegahnya.

“Ayolah, aku bukan orang jahat jika aku melakukan sesuatu yang aneh padamu kau bisa menelepon polisi.” Zhongren berkata, tangan hangatnya menyentuh tanganku.

Aku segera menarik tanganku sedikit kasar, aku terkejut ini pertamakalinya seseorang menyentuh tanganku seperti itu membuatku terkejut.

“Maaf, kau pasti terkejut ya?” Zhongren bertanya dan menggaruk kepalanya.

“Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan lakukan itu lagi…aku tidak suka.” Aku berkata dan dia kelihatan sangat menyesal atas perbuatannya.

“Maafkan aku, biarkan aku yang membayar pesananmu.” Zhongren menawarkan, dia berjalan kearah kasir dan membayar pesananku dan pesanan dia.

Aku meremas uangku, aku sedikit malu namun sebaiknya aku berterimakasih padanya. Bagaimanapun dia cukup baik untuk membayarkan pesananku, aku berjalan kearahnya dan berdiri tepat dibelakangnya.

“Terimakasih sudah membayar pesananku.” Aku menunduk sesaat dan berbalik menuju pintu keluar Café.

“Hyojung-ah…” Panggil Zhongren dan aku melirik kearahnya.

“Karena kau tidak mengijinkanku untuk mengantarkanmu pulang, bolehkah aku meminta nomor teleponmu?” Zhongren bertanya, dia menunjukan ponselnya kepadaku.

Aissh..lelaki ini benar-benar! Aku pasti akan di gangggu terus jika aku tidak memberikan apa yang dia inginkan, dengan malas kuambil handphone Zhongren. Aku ketik nomor handphoneku disana dan menyimpannya atas nama Hyojung, lalu kuberikan lagi handphone Zhongren kepada pemiliknya dia tersenyum penuh kemenangan.

“Terimakasih, aku akan menghubungimu nanti.” Dia (Zhongren) berkata dan aku hanya mengangguk malas sambil menarik tasku kedepan membenarkan posisinya yang sudah terasa tidak nyaman.

“Aku pergi dulu.” Aku berkata dan keluar dari café, dia mengangguk dan melambaikan tangannya padaku.

Aku cepat-cepat naik taksi saat aku melihat sebuah taksi berhenti tepat di trotoar tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat Zhongren mengikutiku melihat taksi yang ku naiki melaju menjauh dari café.

Dia masih melambaikan tangannya dan aku tak bisa menahan tawaku, lelaki itu benar-benar konyol sekali melambaikan tangannya seperti itu. Aku hanya menggelengkan kepalaku, bagaimana mungkin seseorang yang ingin di panggil Oppa bertingkah laku seperti itu.

“Dasar aneh..” aku bergumam sambil tersenyum sendirian.

To Be Continue….

Don’t forget the comment, semakin banyak komen semakin cepet cerita ini di lanjutkan!

ps:

Next chapter Yifan dan Hyojung akan bertemu, jadi siap-siap yah!!😀 oh iya bagaimana penampilan zelo dan yongguk disini?? kerenkan? tenang aja mereka bakalan rajin nongol di chapter-chapter berikutnya jadi setia terus ngikutin cerita ini ya😀

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

27 thoughts on “Tale Of Two Siblings [Episode 2]

  1. Ga sabaar nunggu part berikutnya…kyanya ada persaingan antra yifan dan yongguk…jangan lama2 ya thor part berikutnya “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​

  2. Annyeong~ Imma new reader~ Entah kenapa pertama kali liat ff ini keinget drama that winter the wind blows kkkk~ tapi ternyata ceritanya beda :)) ide ceritanya menarik! Bahasanya juga enak dibaca, walaupun ada typo dikit. ^^

    1. annyeoung juga!! semoga betah di blog aku🙂 wah masa? kebetulan aja mungkin🙂 maaf soal typo susah untuk dihilangkan🙂 di maklum aja yah chingu🙂

  3. Waaah~
    keren badai, kebanyakan karakter tokohnya gak ketebak. . Cast.nya punya muka banyak(?) bingung deh jelasinya. Daebaaakk

  4. kasian yah hyojung jadi suka bolos gegara ortunya meninggal,,tapi keknya dengan kehadiran zhongren hyojung jdi terhibur,,g murung lagi,,,tpi kesian juga dia kn cm d manfaatin sama zhongren,,,
    uri luhan yg sabar yahh,, hehe

  5. Kyaa suka banget waktu scene kai makan ice cream, jadi lucu ngebayanginnya :3
    Di part ini juga muncul sehun, apakah dia bakalan jadi rivalnya kai memperebutkan hyojung? kkk
    Gak sabar baca part selanjutnya xD

  6. aku suka part ini!
    Apa nanti sehun ceritanya bakal suka sama hyojung?
    Kayanya harus ngebut baca part selanjutnya, soalnya bikin penasaran.

  7. hwaa q suka sama karakter cast d sini. . . .
    Hubungan org tua Luhan sbnr.a gmn. . . .
    n d sini sbnr.a siapa yg jahat. . .
    Luhan kta.a bagaikan iblis bertubh malaikat tp pdhl dia baik. . . .
    keren lah pokok.a. . . .

  8. baru baca ff ini lagi hehe iya disini ada zelo n yongguk jd cast baru, mau tau kelanjutan ceritanya jd yongguk temen kecilnya hyojin? Ada sehun jg dia bakal ada trus?

  9. Penasaran banget sama apa yang akan direncanakan Kris biar bisa deket sama Hyojin. kalo Luhan ke korea, apa Luhan berhubungan juga sama dua bersaudara ini??? penasaraaaaaaaan

  10. wu fan sama bersain sama yongguk, aduh penasaran sangat saya apa yang terjadi selanjutnya. banyak ya cast nya kece2 pula duh. penasaran deh mau baca lanjutannya hihi

  11. ada sehun. aku penasaran kisah selanjutnya ntara hyojung sama zhongren. sku lanjut ke vhap selanjutnya ya eon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s