Posted in FanFiction NC 17+

Tale Of Two Siblings ~Episode 1~

Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ https://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                 Oc
  • Jung Hyojung              Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng    [Kris EXO]
  • Wu Zhongren/Kai        [Kai EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG – NC 17

1

A Goodbye

[Kasino, Apgyujong – Korea selatan 23:20 pm]

 Hyungku sekali lagi harus berjudi, aku hanya bisa menatap gugup kearah nya dengan khawatir sedangkan dia hanya menyeringai kearahku. sepertinya dia mencoba untuk mengatakan ‘tenanglah,kau seperti orang aneh.’ Ya, Hyung selalu mengatakan itu dan biasanya aku membalas perkataan itu dengan senyum jahil.

Aku menyandar kearah punggung kursiku, aku bisa melihat pelayan kasino mulai membagikan kartu kepada masing-masing pemain termasuk Hyungku.

Beberapa orang yang sudah melihat kartu milik mereka langsung memasang taruhan mereka, kelihatannya mereka cukup percaya diri saat mereka melihat kartu mereka. Hyungku hanya diam saat dia melihat betapa besar taruhan yang lawan mainnya keluarkan, itu tandanya dia juga harus mengeluarkan taruhan yang sama besar.

Tanpa ragu, Hyungku langsung memasang taruhan nya, semua chip yang dia beli dia taruhkan dimeja. Aku mengepalkan tanganku semakin gugup, jika dia kalah hari ini kami tidak bisa makan untuk besok.

Aku berdoa dan terus berdoa, lucu sekali bukan? Seorang pencuri dan penipu sepertiku masih berdoa pada tuhan. Namun entahlah sepertinya berdoa sudah menjadi kebiasaanku, mama Wu di panti asuhan selalu mengajarkanku untuk berdoa jika aku sedang dalam kebimbangan dan kesusahan dan sepertinya situasi ini cukup mendukungku untuk berdoa.

“Hahaha One pair!” Seseorang dari ujung berseru pada akhirnya, dia dengan senangnya menunjukan kartunya yang merupakan kombinasi dari kartu 2 spade dengan nilai yang sama dan ketiga kartu dia yang lain adalah 2 bintang dengan nilai yang berbeda dan satu ratu.

Lawan mereka yang lain mengerang kesal dan lelaki itu menarik chip – chip yang sudah terkumpul dimeja dengan senyumnya yang menjijikan, Aku menghela nafas mungkin besok kita tidak bisa makan. Saat lelaki itu hendak mengambil chip-chip taruhan lawan mainnya, Hyungku menyentuh tangannya.

Aku menarik nafasku sedikit panik, jangan-jangan Hyung akan memukuli dia. Hyungku memang memiliki kesabaran yang tipis, aku sudah berdiri hendak mencegah namun dia tidak juga memukul orang itu.

“Maaf ahjusshi, tapi kartuku Full house.” Hyung mengungkapkan, dia menyeringai dan menunjukan kartunya dengan bangga.

M-mwo? dodeche mwoya??!” Lelaki itu berseru kaget saat dia melihat kartu hyungku.

“Maaf, sepertinya aku yang menang..Ahjusshi.” Hyung berkata dan dia mengambil tas hitam yang sudah disiapkan oleh pelayan kasino.

Aku tersenyum dan mengahampiri Hyungku, aku bangga sekali padanya dengan penuh kesenangan aku lingkarkan tanganku dipundaknya dan aku menepuk dadanya. Seperi biasa dia hanya membalasku dengan anggukan kecil, dia tidak pernah banyak berbicara kecuali saat kami berdua cukup anehkan?

Aigoo Hyung! Gomawo nde?” Kataku dan membuka tas hitam yang sudah disimpan diatas meja poker.

Kubuka tas hitam itu dan aku bisa melihat tumpukan uang yang banyak sekali, aku tidak bisa menahan senyumku dan aku tersenyum dengan bahagianya. Uang ini cukup untuk kehidupanku dan Hyung selama beberapa bulan, kami berdua bisa berpesta dan menyewa atau bahkan membeli apartemen untuk tempat tinggal kami sementara.

Aku dan Hyungku selalu berpindah-pindah dari tempat satu ketempat lain, jadi kami tidak memiliki tempat tinggal yang tetap.

Kami berdua biasanya tinggal disebuah hotel atau menyewa apartement selama beberapa bulan sebelum akhirnya kami bosan dan pergi lagi, Hyung selalu bilang padaku kalau kita hanya memiliki satu rumah yaitu panti asuhan dimana kami berdua tumbuh.

“Baiklah Kai,apa kau sudah selesai memeriksa uangnya?” Suara Hyung mengagetkanku.

Nde Hyung,ayo pergi..” Ucapku dan mengambil tas yang penuh dengan uang itu.

Aku bisa merasakan tatapan iri dari semua lawan main Hyung, namun kami berdua tidak terlalu peduli yang jelas semua uang yang mereka taruhkan kini menjadi milik kami. Aku berjalan duluan kepintu utama kasino, namun anehnya Hyung kelihatan sedikit panik dan dia menarik tanganku untuk berlari menjauh dari kasino.

Hyung, wae?” Tanyaku kebingungan, Hyung kelihatannya sedikit cemas kerutan didahinya membuktikan kecemasannya dan aku bisa merasakan tangan Hyung dingin.

“Seseorang mengikuti kita..” Hyung berbisik dan aku melirik kearah sekitarku, namun aku tidak menemukan siapapun yang bisa di curigai.

“Apa maksudmu Hyung? Tidak ada siapa-siapa yang mengikuti kita..” Aku berpendapat, namun Hyung malah meremas tanganku lebih kuat.

“Dia mendekat sebaiknya hati-hati,kau pergi duluan kemobil aku akan mengatasi mereka.” Yifan hyung mendorongku menjauh.

“Tapi Hyung aku tidak bisa meninggalkanmu.” Aku menolak.

“Jangan keras kepala Zhongren!” Yifan hyung menatap kearahku, dia pasti sangat marah karena dia memanggilku dengan nama asliku.

“Baiklah,hubungi aku jika kau sudah selesai.” Ucapku,aku segera berlari menuju mobil Porsche hitam yang sudah aku dan Yifan Hyung rental selema seminggu ini.

Aku menyimpan tas hitam yang berisi uang dikursi sampingku dan aku mulai menghidupkan mesin mobil, aku bisa melihat sosok Yifan hyung masuk kembali kedalam kasino dan sepertinya prediksinya benar.

Aku bisa melihat dua orang berjas mengikutinya dari belakang, sepertinya kedua orang itu adalah seorang security. Aku sedikit merasa khawatir namun Yifan Hyung bukanlah orang yang lemah, dia bisa mengalahkan lima orang sekaligus dengan jurus boxing nya.

Menghela nafas aku menyetir mobilku menuju hotel terdekat dimana aku dan Yifan hyung menyewa kamar, dengan berat hati aku hars meninggalkan Yifan hyung sendirian.

*****

‘Firasatku benar, dua orang lelaki tadi mengikutiku.’ Aku berpikir, dari sudut mataku aku bisa melihat kedua lelaki itu berdiri di dekat mesin slot.

Aku berpura-pura untuk berjalan kearah bar kasino, di bar kasino cukup sepi hanya ada beberapa orang yang sedang duduk dan menikmati minuman martini dan gin and tonic mereka.

“Minseok!” Aku memanggil bartender yang sudah biasa melayaniku di kasino ini.

“Ah Yifan,kau datang lagi?” Minseok menyapa dengan senyum nya seperti biasa.

“Hm..aku butuh uang untuk bulan depan.” Aku menjawab cuek dan menghela nafasku sambil menyisir rambut pirangku dengan jari-jariku.

“Kau mau minum apa?” Minseok bertanya.

“Satu vodka martini.” Aku menjawab, aku melirik kearah sekitar mencari sosok kedua pria misterius tadi.

“Satu vodka martini, siap disajikan.” Minseok berkata dan aku memberikan dia tip.

Minseok mengangguk penuh rasa terimakasih sebelum dia pergi untuk melayani pelayan lain, aku mengambil gelas vodka martiniku dan mulai meminumnya. Aku sedikit meringis merasakan rasa asam lemon yang khas dari minumanku, aku tidak pernah mengerti kenapa aku menyukai minuman asam ini.

Aku melirik lagi kebelakang namun anehnya aku tidak menemukan lagi dua orang aneh yang mengikutiku tadi, aku melirik kesekitar mencari kedua sosok itu namun hasilnya nihil.

Aku merasa sedikit lega, itu artinya mereka sudah tidak mengikutiku lagi aku meneguk minumanku sekaligus dan hendak pergi kehotel menyusul Zhongren yang sudah pulang duluan.

“Kenapa terburu-buru, Jiaheng?” Suara seseorang mengagetkanku, bagaimana mungkin seseorang tahu nama asliku? Selama ini belum pernah aku menyebutkan siapa nama asliku pada siapapun kecuali mama Wu.

Aku berbalik dan melihat seorang lelaki duduk dibar, dia sedang meneguk minuman beer nya aku tidak mengenal lelaki itu namun entah mengapa wajahnya cukup familiar bagiku.

“Ayahmu merindukanmu Jiaheng,apa kau tidak akan menemuinya?” Tanya lelaki itu.

“Siapa kau?” aku bertanya, aku kembali duduk ditempat asalku dan dia hanya mendengus.

“Kenapa semua orang ingin tahu aku..” dia bergumam dan memainkan botol minuman beernya.

“Zhang Yixing,kau bisa memanggilku Lay disini.” Lelaki itu menjawab, dia mengodok saku jas biru mudanya dan melemparkan sebuah foto kepadaku.

Aku penasaran dan mengambil foto itu, didalam foto itu ada seorang wanita cantik yang kukenal wanita itu tidak lain adalah ibuku. Ibuku yang sudah tega membuangku di sebuah panti asuhan dikorea, menjauhkanku dari ayahku yang sebenarnya tidak terlalu peduli padaku.

“Kau tahu ibuku?” Tanyaku,kuremas foto itu..aku tidak ingin melihat wajah wanita kejam itu.

“Tuan Li mengatakan padaku untuk menjemputmu.” Yixing mengungkapkan, dia melirik kearahku.

Mata coklat Yixing menatapku tajam, dia menyeringai lagi dan kembali menatap kearah botol beer nya.

“Kau pasti senang bukan? Akhirnya ayahmu menghubungimu juga..” Yixing meneguk kembali beernya, minuman itu pasti terasa pahit dilidahnya karena dia menghela nafasnya.

“Katakan pada lelaki tua itu,aku tidak pernah merindukannya sedikitpun.” Ucapku pahit, aku segera berdiri namun Yixing mencegahku.

Tangannya menggengam kuat lenganku, dia kelihatan ragu namun dia akhirnya membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

“Dia sekarat..” Kata Yixing, matanya sedikit berkaca-kaca.

“Lalu?” Aku mengangkat halisku.

“Huh? Lalu? Apa kau tidak khawatir?!” Yixing bertanya, menaikan nada suaranya membuat sebagian orang yang duduk disamping nya melirik kearah kami berdua.

“Lay,dia bukan ayahku..dia hanya lelaki brengsek yang menghamili ibuku.” Aku berkata dan aku melepaskan tangan Yixing dari lenganku.

“*Biao Zi Yang De..” Yixing bergumam namun cukup keras untuk aku dengar.

Mendengar kata-kata itu emosiku langsung naik, aku langsung menarik kerah baju Yixing membuat pemuda itu berdiri dari duduknya. Aku bisa melihat ekspressi terkejut terpasang diwajah lelaki itu, aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi siap meninju wajah Yixing namun ku urungkan niat itu.

Aku bisa melihat security mulai mendekat kearahku dan Yixing, aku tidak ingin terlibat dalam perkelahian tidak penting akhirnya kulepaskan gengamanku dari kerah baju Yixing.

“*Milu Hun Dan..” Aku berbisik, kurapihkan lagi kerah baju Yixing.

“Aku harap kau membusuk dineraka.” Ucapku lagi sebelum aku pergi keluar dari kasino.

“Aissh!” Aku bisa mendengar Yixing menendang salah satu kursi dibar.

*Son of a b#tch = anak pelacur/ di besarkan oleh pelacur

*Get lost,b#stard = pergi,brengsek

[Kediaman keluarga Jung, Gangnam – Korea selatan 09:00 am]

Aku meremas kain rok hitamku, semua mata tertuju padaku membuatku sedikit gugup, foto ayah dan ibuku terpampang didepanku dan aku hanya bisa menangis. Sepasang tangan melingkar dipundakku, tangan itu adalah milik sekertaris Im.

“Hyojung-ah..sebaiknya kau minum dulu,apa kau lapar?” Tanya Sekertaris Im.

“Tidak sekertaris Im,terimakasih.” Aku menjawab dngan suara serakku, airmata masih membasahi kedua pipiku dan sesekali ku usap airmata itu dengan tissue yang sudah setengah basah yang kugengam sejak pemakaman tadi.

“Eonnie…apakah dia akan datang?” Aku bertanya.

“Tentu saja Hyojung-ah, dia masih di perjalanan kau tahu jarak Amerika ke Korea cukup jauhkan?” Sekertaris Im menjelaskan, tangan lembtnya mengusap punggungku.

Aigoo..Hyojung-ah, sebaiknya kau berhenti menangis matamu sudah sembap seperti itu.” Sekertaris Im mencoba menghiburku namun aku tidka ingin tersenyum apalagi tertawa sekarang.

Kedua orang yang aku sayangi dan aku hargai hilang begitu saja, mereka di renggut dari sisiku oleh tuhan. Kenapa tuhan begitu kejam sekali? Merebut kedua orangtuaku sekaligus secara bersamaan, semua ini tidak adil bagiku yang hanya baru berumur tujuh belas tahun.

“Hyojung-ah!” Tiba-tiba saja suara keras memanggil namaku, aku melirik dan aku bisa melihat kakakku berdiri di ambang pintu.

EONNI!” Aku berdiri dan segera berlari memeluk kakaku.

Rasanya lega sekali,akhirnya aku bisa memeluk kakakku yang sudah meninggalkan rumah selama lima tahun. Aku kembali menangis namun kali ini tangisanku adalah tangis bahagia, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan kakakku.

Hyojung-ah..gwenchana?” Eonnie bertanya padaku, dia menangkup wajahku dan mengusap airmataku.

“Eonnie, Eomma dan Appa sudah pergi..” Aku terisak menangis lagi dan kakakku langsung memelukku lagi.

“husshh..kau kuat Hyojung-ah, tenang saja aku ada disini sekarang..” Eonnie berkata, aku mengangguk mempercayai kakakku satu-satunya itu.

“Hyojin, senang bertemu denganmu lagi.” Sekertaris Im menyapa Hyojin eonni dan Hyojin eonni hanya tersenyum tipis.

“Nde, Sekertaris Im sudah lama kita tidak bertemu.” Kata Hyojin eonni, dia meremas bahuku dan mengelus kepalaku sepertinya Eonni cemas.

“Kita harus membahas sesuatu nanti, makanlah dulu kau pasti lapar.” Ucap Sekertaris Im, dia berjalan menuju buffet yang sudah di sediakan diruang tengah rumah kami yang cukup besar.

Semua tamu yang menghadiri pemakaman orang tuaku menatap kearahku dan Eonni dengan tatapan kasihan, aku tidak suka tatapan itu. Tatapan yang para tamu berikan padaku dan eonni membuatku merasa tidak aman, Eonni yang kelihatannya tahu bagaimana perasaanku segera melingkarkan tangannya dibahuku.

“Hyojung-ah, tenang..kau sangat tegang.” Hyojin Eonni berkata dan aku mengangguk.

Walaupun sekarang aku tidak meneteskan airmata lagi,namun hatiku masih menangis aku tidak bisa membayangkan mulai besok dan seterusnya aku tidak akan lagi bisa melihat kedua orang tuaku.

Semua ini seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir bagiku, aku tidak bisa kehilangan lagi seseorang yang aku sayangi. Kupeluk Hyojin eonni dan kelihatannya dia sedikit terkejut, namun aku tidak peduli kupeluk dia erat-erat tak akan kubiarkan dia pergi lagi seperti Eomma dan Appa.

Eonni teonajima..jebal.” Aku berbisik.

Nde, eonni akan selalu ada disisimu.” Hyojin Eonni berkata, aku tersenyum setidaknya ada cahaya dalam kegelapanku.

*****

Semua tamu sudah pergi sekarang, aku menggengam ponselku dan aku bisa membaca beberapa pesan yang masuk ke alamat emailku. Kebanyakn pesan itu dari teman-temanku di amerika, mereka menyampaikan bela sungkawa mereka atas meningalna kedua orang tua.

Aku menghela nafasku, aku melirik kearah Hyojung yang sedang makan malam. Anak itu masih terlihat shock, dan terkadang dia melamun membuat sup hangat yang disediakan oleh pembantu dirumah menjadi dingin.

Aku sendiri tidak ingin makan, mendengar berita kematian kedua orang tuaku membuatku kehilangn selera makan namun aku harus memaksa Hyojung untuk makan kalau tidak dia akan sakit.

“Hyojung-ah..makanlah.” Aku mencoba membujuk dan Hyojung hanya diam.

Aku melirik keara sekertaris Im yang duduk diseberangku, Sekertaris Im mengangguk kearahku seakan dia mengerti apa yang ingin aku ucapkan.

“Hyojung-ah kakakmu benar, makanlah dari tadi pagi kau belum makan.” Sekertaris Im membantuku membujuk.

“Aku tidak lapar..” Hyojung menjawab dia berdiri dari duduknya.

“Kau mau kemana?” Aku bertanya.

“Kamar,bangunkan aku jika mimpi buruk ini sudah berakhir.” Ucap Hyojung, dia menatap kosong kearahku dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

Aku meremas tanganku, dia bilang mimpi buruk? Ini adalah kenyataan Hyojung semua ini nyata kau harus sadar itu! Kau hanya membohongi dirimu sendiri.

“Hyojin,sebaiknya kau ikuti adikmu.” Sekertaris Im berkata dan aku mengangguk.

Aku berjalan menaiki tangga, aku melirik sekilas kearah pintu kamar kedua orang tuaku yang berjarak tidak jauh dari tangga lalu aku berbelok kekanan menuju lorong kamar Hyojin. Aku mengangkat tangank hendak mengetuk pintu, namun aku bisa mendengar isak tangis Hyojung.

Aku menutup mataku mencoba berpikir keras, haruskah aku mengetuk pintu dan kembali membujuknya?

Aku berbalik dan menyandar kearah pintu kamar Hyojung,aku masih bisa mendengar dengan jelas suara isakan tangis adikku yang masih muda itu. Bagiku wanita yang berumur dua puluh empat tahun cukup tua untuk menghadapi fase dalam kehidupan ini, karena aku mengerti jelas konsep kehidupan karena dimana ada kehidupan pasti ada kematian.

Seperti didalam pertemuan pasti ada perpisahan,namun bagi Hyojung dia masih naïve dan percaya kalau kedua orangtua kami akan selalu ada disisinya dan dia pasti sangat terpukul. Apalagi tuhan dengan kejamnya merenggut nyawa kedua orangtua kami secara bersamaan, Hyojung pasti tidak menyangka itu.

Kedua orangtua kami meninggal didalam kecelakaan mobil, aku masih ingat saat Eomma mengatakan padaku kalau dia akan berlibur dengan Appa ke perancis.

Aku masih bisa ingat tawa ibuku saat aku menggodanya soal bulan madu kedua mereka, aku masih ingat ayahku berpesan untuk pulang natal tahun ini karena Hyojung merindukanku. Kebahagian yang biasa kami miliki sekarang hancur, aku tidak yakin bisa menjadi sosok ayah ataupun ibu untuk Hyojung aku bahkan tidak yakin kalau aku bisa melihat lagi senyum ceria adikku itu.

Hyojung-ah..mianhe..” Aku bergumam dan menunduk.

Sekertaris Im yang menyusul kelihatan khawatir saat dia tidak sengaja melihat Hyojin menyandar kearah pintu kamar Hyojung, wanita itu pasti menangis karena dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Ini hanyalah langkah awal bagi mereka, selain kesedihan ini mereka juga akan menemukan rintangan-rintangan besar lainnya yang menungu mereka dimasa depan. Mulai detik ini, kedua saudara itu harus belajar menjadi kuat dan membela diri mereka masing-masing karena dunia ini tidak ramah ,dunia ini kejam.

[Hotel, Apgyujong – Korea selatan 12:05 am]

“Hyung..hyung!” Zhongren sudah memanggil Yifan berkali-kali namun sepertinya kakaknya itu tidak menyahut juga.

“Nde?” Akhirnya lelaki itu merespon saat Zhongren menepuk bahunya.

“Hyung..Waeyo? apa yang terjadi? Kenapa kau melamun sejak kemarin malam?” Zhongren bertanya, dia berbaring diranjang sebelah Yifan sambil meneguk jus jeruk yang dia pesan tadi saat sarapan.

“Menurutmu..” Yifan memulai, dia melirik kearah Zhongren dan Zhongren berhenti meneguk jusnya sejenak, dia penasaran dengan pertanyaan Yifan sehingga dia juga menahan nafasnya.

“Menurutmu, apa aku harus menemui ayahku?” Akhirnya Yifan bertanya, Zhingren kaget dengan pertanyaan Yifan.

“Hyung, apa kau lupa dengan apa yang dia katakan padamu saat itu?” Zhongren sekarang duduk diranjangnya, jus jeruk yang ada ditangannya sekarang berubah menjadi  tidakmenarik lagi untuknya saat dia mendengar pertanyaan itu.

“Aku tahu, tapi kali ini si brengsek itu sekarat..” Yifan membalas.

“Lalu? Apa kau harus peduli? Dia bahkan tidak menolongmu saat preman-preman jalanan memukuli aku dan kamu Hyung.” Zhongren berpendapat, dia melirik kearah jendela hotel yang cukup besar.

Pemandangan Seoul bisa mereka lihat dengan jelas, jendela itu besar sekali membuat Zhongren bisa membayangkan kalau dia bisa terbang bebas dan berada diangkasa menikmati kebebasan yang tiada batas.

“Kau benar, tapi kau tahu kita bisa merebut harta tua Bangka itukan? Kau sendiri tahu kalau si brengsek itu kaya sekali.” Yifan megungkapkan, dia berdiri dan mengambil jaket nya.

“Kau benar hyung, tapi kau mau kemana? Ini masih siang..kau tidak akan pergi kekasino lagi untuk berjudi?” Zhongren bertanya dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Aku akan menemui si tua Bangka itu..” Ucap Yifan dengan dingin, Zhngren menghela nafasnya.

“Hyung, jangan membuat keputusan yang bodoh.” Zhongren mengingatkan.

Wǒ zhīdào…” Yifan menjawab dengan seringai nya dan pergi keluar dari ruangan hotel.

[Café di daerah Apgyujong – Korea selatan 01:00 pm]

“Kau tidak akan kembali ke Amerika?” Tanya Cecil temanku, dia kelihatan sedih sekali saat aku mengutarakan niatku.

“Ya, maafkan aku Cecil..adikku membutuhkanku.” Hyojin membalas, dia mengambil secangkir the yang sudah dia pesan sejak tadi.

Rasa teh itu sedikit hambar, Hyojin mengambil satu sendok gula dan memasukan gula itu kedalam tehnya lalu mengaduk teh itu dengan pelan. Sosok pirang yang ada didepannya hanya menatap penuh simpati kearahnya, dia dan Cecil sudah berteman cukup lama.

Cecil adalah teman akrabku, diantara empat orang lainnya hanya Cecil lah yang datang kekorea karena dia senang memiliki waktu senggang, berbeda dengan ketiga sahabatku yang lain.

“Apa kau sudah mengirimkan surat pengunduran diri?” Tanya Cecil sekali lagi, mata birunya menatap kearahku penuh Tanya, aku mengangguk.

“Sudah, tuan Smith mengerti alasanku..dia sedikit sedih dengan kepergianku namun dia menerimanya dengan lapang dada.” Aku mengungkapkan dan Cecil kelihatan lega, dia menyentuh tanganku.

“Aku benar-benar berduka cita atas kepergian orang tuamu…aku harap kau kuat,kau bisa meminta bantuanku jika kau membutuhkannya.” Ucap Cecil penuh simpati, dia memang teman yang paling baik diantara sahabatku yang lain.

Thank you so much, aku tahu aku bisa mengandalkanmu.” Kataku dan Cecil tersenyum sedih, dia menggengam erat tanganku.

“Aku tahu, semuanya tidak akan mudah tapi aku yakin kau bisa Hyojin-ah.” Cecil menyemangatiku, kata-kata itu sedikit menghiburku dia benar apapun yang terjadi aku harus bisa menjalaninya.

Sekarang aku harus menghidupi adikku dan mungkin ribuan pegawai yang ada diperusahaan ayahku, aku masih belum tahu warisan apa saja yang ayahku dan ibuku tinggalkan namun pengacara Cho sudah menghubungiku.

Lelaki itu mengatakan kalau aku dan Hyojung akan mendnegarkan surat warisan ayah dan ibuku setelah Hyojung pulang sekolah, aku melirik kearah jam tangan silverku. Waktu sudah menunjukan jam setengah dua siang, sudah waktunya untuk adikku pulang.

“Oh sial,aku akan telat menjemput adikku!” Aku berseru sedikit keras membuat Cecil sedikit terkejut.

“Maaf aku harus pergi, telepon aku jika kau butuh apapun.” Aku berkata dan Cecil mengangguk, aku memeluknya sekilas dan erlari keluar dari Café.

Aku bisa melihat Cecil menggelangkan kepalnaya sambil tersenyum, sepertinya dia memang sudah tahu bagaimana gelagatku. Bersahabat dengan dia memang menyenangkan, dia dan aku memilki pandangan hidup yang sama, dia selalu mendengarkan keluh kesahku dan kami selalu setuju pada pendapat satu sama lain.

Sambil berlari ku aktifkan handphoneku dan kuhubungi nomor Hyojung, untuk beberapa saat dia tidak kunjung mengangkat panggilanku membuatku sedikit kesal. Aku membuka pintu mobilku dan menghidupkan mesinnya, lalu aku mengendarai mobilku menuju sekolah Hyojung yang berada tidak jauh dari Gangnam.

Melihat jalan yang cukup ramai aku mengerang, tidak biasanya jalanan ramai seperti ini aku akan terlambat jika lalulintas berjalan lambat seperti ini. Aku membuka jendela mobilku dan aku bisa melihat pegawai jalanan sedang membenarkan jalanan, perbaikan jalan itu membuat jalur jalan raya yang diperuntukan untuk dua jalur menjadi satu.

Suara klakson berbunyi keras hampir membuatku tuli, aku melirik kebelakang mobilku dan aku bisa melihat seorang lelaki mengendarai sedan BMW menekan klaksonnya dengan keras sekali lagi.

“YA! Disini macet,bisakah kau berhenti menekan klaksonmu?!” Aku berteriak kesal dari jendela mobilku, lelaki itu menatap kearahku dengan sinis.

“Jika kau tidak lelet, jalanan ini tidak akan macet!” dia membalas, aku mengerang kesal ingin sekali kurobek wajah lelaki brengsek itu.

Apa dia buta?! Apa dia tidak melihat pegawai jalanan yang sibuk membenarkan jalan raya? Aku memutuskan untuk mengacuhkan lelaki itu lagipula aku tidak mau terlibat dalam perkelahian yang konyol.

Kaca spionku bisa menangkap baying lelaki itu, lelaki itu kelihatannya sedang kesal karena dia memukul setir mobilnya beberapa kali dan akhirnya dia menangkap tatapanku. Aku segera melirik kearah lain, mata lelaki itu tajam seklai membuatku sedikit takut, orang macam apa dia?!

Setelah jalur jalanan kami dibuka aku segera memajukan mobilku dan dengan kecepatan tinggi aku menyetir menuju sekolah Hyojung, dia pasti sudah pulang sekarang.

Sekitar lima belas menit aku sampai, ternyata firasatku benar Hyojung sudah pulang. Aku bisa melihat sosok adikku itu berdiri didepan gerbang sekolah nya yang besar, dia memainkan kakinya sambil melirik kearah kanan dan kiri mungkn sedang mencariku.

Aku menghentikan mobilku didepan dia, Wajah Hyojung terlihat lega saat dia melihatku dia berjalan menuju mobilku dan membuka pintu mobil lalu naik kedalam.

“Apa kau menunggu lama?” Aku bertanya dan Hyojung hanya menggelengkan kepalanya, rambut coklat panjangnya sedikit acak-acakan mungkin karena dia menunggu diluar dan angin berhembus cukup kencang.

“Apa kau lelah? Bagaimana sekolahmu?” Aku bertanya mencari topic pembicaraan diantara kita, Hyojung mengelengkan kepalanya.

“Sekolah masih biasa, aku hanya sedikit lelah.” Hyojung menjawab dingin, dia melipatkan kedua tangannya didepan dadanya.

Hyojung adikku yang ceria entah kenapa berubah menjadi gadis bermuka masam seperti sekarang? Aku sedikit khawatir, apakah aku bisa mengembalikan semua kebahagiaan yang pernah dia rasakan? Haruskah aku menghiburnya?

“Hey, bagaimana kalau kita main game? Kita bisa pergi ke mall dan membeli peralatan sekolah baru untukmu.” Aku membujuk namun denga kecewanya Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Di pikir-pikir..aku lelah, aku hanya ingin tidur.” Kata Hyojung, dia menyandarkan kepalanya kearah pintu mobil dan aku bisa mendengar dia menghela nafasnya.

“Hyojung-ah bagaimana kalau kita makan ramyun saja? Aku dengar ada to—“

“Sudah kubilang Eonni,aku lelah.”

Hyojung memotong perkataanku, ini baru pertamakalinya dia biasanya tidak berani memotong pembicaraanku. Dia mungkin benar-benar lelah aku memutuskan untuk diam dan fokus menyetir,suasana dalam mobil begitu hening namun aku tahu Hyojung sedang berpikir.

Dia sesekali menyentuh kepalanya dan menyisir rambut panjangnya dengan tangannya, dia melirik kearah jendela sesekali namun dia tidak melirik kearahku. Aku bisa merasakan kalau Hyojung sepertinya sedang membangun benteng diantara kami, dia seakan mencoba menjauhkan dirinya dariku dan mungkin kenyataan.

Sesampainya dirumah Hyojung langsung turun dari mobilku, dia berjalan masuk kedalam rumah tanpa berkata apapun padaku. Aku mengikuti langkah nya dari belakang, aku terkejut saat aku bisa melihat sekertaris Im dan pengacara Cho sudah duduk diruang tamu kami.

“Selamat siang, Hyojin-ah..Hyojung-ah.” Pengacara Cho menyapa dengan sopan seperti biasanya, aku menunduk sekilas begitu jga dengan Hyojung.

“Pengacara Cho,aku kira kau akan datang besok.” Aku berbasa-basi dan segera menghampiri sosok pengacara itu.

Hyojung yang cuek tidak menyapa pengacara Cho dia langsung berlari kelantai atas menuju kamarnya, aku melirik kearah sosok Hyojung yang menghilang diantara tembok tikungan lorong lantai atas.

“Maaf, Hyojung sedang lelah jadi..” Aku tak sempat menamatkan kalimatku.

“Tidak apa-apa Hyojin-ah, duduklah ada yang harus kita diskusikan.” Ucap pengacara Cho, akupun menurut.

Sekertaris Im memanggil salah satu pembantu dan diapun kembali duduk bergabung denganku dan pengacara Cho, Tanpa menunggu lama pengacara Cho membuka tas koper hitam yang dia mengambil secarik kertas yang ada dalam tas koper itu.

“Aku turut berduka cita atas perginya orangtuamu Hyojin-ah.” Pengacara Cho berbasa-basi,aku hanya mengangguk tidak ingin mengomentari ungkapan itu.

“Aku kesini untuk memberikanmu surat wasiat ini, sebaiknya kau baca.” Pengacara Cho memberikan surat wasiat yang dia pegang padaku.

Aku sedikit gugup, jantungku berdetak kencang namun aku mengambil surat wasiat itu dan membacanya. Kata – perkata kubaca dengan teliti dan aku sangat terkejut dengan apa yang ayah dan ibuku tinggalkan untukku dan Hyojung,begitu banyak uang dan perusahaan yang harus aku atur.

“Ayah dan ibumu memiliki banyak asset Hyojin-ah, mereka mengatakan kalau mereka takut jika kau dan Hyojung tidak bahagia jika mereka pergi.” Pengacara Cho mengungkapkan, dia menghela nafasnya sepertinya dia menhan airmatanya sendiri.

“Ayahmu mengatakan padaku, ‘Jika keberadaan aku sebagai ayah dan beradaan istriku sebagai ibu tidak membahagiakan mereka, setidaknya hartaku akan memanjakan mereka.’ Aku merasa sangat terharu pada kata-kata itu, walaupun tindakan ayahmu tidak sepenuhnya benar kau harus tahu Hyojin-ah..kedua orangtuamu menyayangimu.” Pengacara Cho berkata, suaranya sedikit gemetar dia terlihat sedih.

Aku meremas sisi surat itu, ayahku dan ibuku memang menyayangiku aku tahu itu rasa sayang mereka padaku tidak usah dipertanyakan namun dengan tanggung jawab ini membuat merasa tertekan.

Aku tidak pernah ingin memiliki asset sebanyak ini, bahkan aku tidak pernah menginginkan untuk memimpin suatu perusahaan yang sangat besar.

“Jadi Hyojin-ah..apa yang akan kau lakukan?apa kau akan meneruskan perusahaan ayahmu?” Pengacara Cho bertanya, kedua matanya menatap kearahku penuh Tanya.

“Entahlah pengacara Cho..aku bahkan tidak mengerti seluk-beluk bisnis.” Aku menjawab, mataku masih membaca sebagian paragraph surat wasiat itu.

“Tenanglah Hyojin-ah, pikirkan baik-baik..jika kau menutup perusahaan ayahmu bayangkan berapa banyak pegawai yang akan dipecat.” Ucap Sekertaris Im.

“Sekertaris Im..aku tidak tahu.” Balasku.

“Oh iya, ayahmu juga mengatakan kalau untuk sementara walimu adalah sekertaris Im.” Pengacara Cho berkata, aku melirik kearah pengacara Cho.

“Apa? Wali? Aku sudah besar..kenapa aku butuh seorang wali?!” Aku bertanya, sedikit tersinggung.

Aku adalah wanita berumur dua puluh empat tahun, bukan lagi gadis SMA yang belum mengerti apapun lalu kenapa aku butuh seorang wali?

“Ayahmu mengatakan kalau kau belum cukup dewasa.” Pengacara Cho membalas, dia mengambil salah satu kertas yang ada di tas kopernya lagi.

“Ini…ini adalah bukti surat peninggalan ayahmu, dia mengatakan untuk tidak memberikan semua asset ini sebelum kau menikah atau berumur dua puluh tujuh tahun.”

Sekertaris Im hanya diam, dia menatap kearah surat yang ada didepannya kelihatannya dia juga sama shocknya denganku. Ayahku memang orang yang tidak mudah ditebak dia selalu melakukan apapun yang aku ataupun Hyojung tidak pernah mengerti, aku menambil surat itu dan membacanya ternyata benar surat itu adalah surat dari ayah karena dibawahnya ada tanda tangan ayahku.

“Semua keputusan ada ditanganku Hyojin, Hyojung hanya mendapatkan resort yang ada di jeju dan dia juga akan mulai menangani perusahaan hotel ayahmu setelah dia lulus SMA.” Pengacara Cho menuturkan.

“Aku tahu awalnya semuanya berat, tapi aku mohon Hyojin-ah..keputusanmu akan menentukan kehidupan seribu pegawai lebih jadi sebaiknya kau memikirkannya baik-baik.” Pengacara Cho tersenyum kearahku, dia sepertinya mencoba menyemangatiku.

[Kediaman keluarga Li – Cina 04:30 pm]

Walaupun tubuhku lelah karena baru turun dari pesawat terbang, aku memaksakan untuk berjalan masuk kedalam halaman rumah besar yang berdiri tegak dihadapnku. seorang pelayan yang mengenaliku membungkuk kearahku dan tersenyum, Pembantu itu kelihatan senang sekali dengan kehadiranku, ada apa ini? Bukankah terakhir kali aku kesini si brengsek tua itu mengusirku?!

Dengan langkah berat aku berjalan memasuki bangunan rumah utama yang sangat mewah sekali, lampu Kristal besar langsung menyapaku dan sinar oranye nya menyentuh kulitku. Seorang pemuda dengan rambut pirang hampir sama denganku duduk diruang tengah, dia membaca bukunya tidak menyadari keberadaanku.

Aku menyandar ke ambang pintu ruang tengah rumah yang terlalu besar itu, sampai akhirnya pemuda jangkung itu menyadari keberadaanku dan melirik malas kearahku.

Gege,kau datang juga..”

“Jangan panggil aku itu, aku bukan kakakmu.”

“Ya aku tahu, tapi bukankah ibuku dan ayahmu menikah? Aku seharusnya memanggilmu begitu meskipun kau tak layak.”

Aku mendengus, lidah lelaki itu sama pedasnya dengan lidah ibu pelacurnya, cih..aku tidak sudi melihat dia lagi aku mulai menyesal untuk datang ke neraka ini.

“Jadi kau akhirnya memutuskan untuk menemui ayah?” Luhan berdiri dari duduknya.

“Ya, lalu kenapa? Apa kau takut jika ayah lebih memilihku daripada kau?” aku mengangkat halisku, senyum sinis Luhan terpasang diwajah putih itu sangat menjijikan.

“Tenang saja Gege, ayah memiliki banyak harta untukku,kau dan ibuku.” Luhan menjawab dengan pintar.

“Cukup dengan basa-basinya, jadi kenapa ayah memanggilku kesini?” Tanyaku langsung dan Luhan mendekat kearahku, dia mencapai bahuku hendak menyentuhku.

Aku tidak suka itu, aku tidak suka tangan kotornya menyentuh tubuhku. Kutangkap tangan slim Luhan dengan cekatan, lalu kulepaskan lagi. pemuda itu terlihat kecewa namun dia mengacuhkan perasaannya dan mengantarkanku keruangan ayah.

Kami berdua berjalan cukup lama, rumah ini terlalu besar hanya untuk tiga orang bahkan aku tidak bisa menghitung berapa banyak pelayan yang ada dirumah ini.

Dari jendela lantai atas aku bisa melihat tiga orang tukang kebun sedang menata halaman belakang rumah, dari lorong aku bisa melihat dua pelayan yang membersihkan kaca jendela tinggi dan pelayan yang lainnya kelihatan sibuk membersihkan rumah yang hampir menyerupai istana kecil ini.

“Disini ruangan ayah,masuklah..pengacara Zhang ada didalam, dia sepertinya sedang mengurus beberapa surat penting dengan ayah.” Kata Luhan, dia mengetuk pintu besar yang ada didepannya dan suara menyuruh kami berdua masuk terdengar dari balik pintu.

“Terimakasih.” Aku bergumam, aku sebenarnya tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu namun didikan mamah Wu di panti asuhan sepertinya menyerap dalam jiwa dan pikiranku.

“Sama-sama, Jiaheng ge.” Luhan tersenyum penuh maksud, dia berbalik dan meninggalkanku.

Aku melirik kearah pintu besar dan menyentuh gagang pintu itu, kubuka perlahan pintu jati tebal itu dan aku bisa melihat sosok lelaki tua yang duduk diranjangnya. Lelaki itu masih tampan meskipun keriput memenuhi wajahnya, selang oksigen terpasang di hidung nya membantunya untuk bernafas dan pendeteksi jantung menempel didadanya.

“Jiaheng..” Panggil lelaki tua itu senang, dia membuka tangannya menyuruhku untuk memeluknya.

Aku benci gesture itu, bagaimanapun aku masih marah padanya aku tidak ingin leleh begitu saja karena satu pelukan. Dia kecewa saat dia sadar kalau aku tidak akan melangkah lebih dekat padanya, diapun menyimpan kembali kedua tangannya disamping tubuhnya.

Sosok pengacara Zhang yang Luhan maksud duduk disampingnya, aku terkejut saat tatapanku dan tatapannya bertemu. Ternyata pengacara Zhang adalah Zhang Yixing yang memarahiku tempo hari di kasino, lelaki itu sepertinya sudah lama disini dan kedua tangannya memegang beberapa berkas kertas.

“Jiaheng, aku senang kau memutuskan untuk datang.” Yixing berkata, dia bahkan tersenyum.

Betapa palsunya senyum itu? Aku ingat ekspressinya saat di kasino. Dia terlihat merendahkanku dan ibuku, aku masih ingat saat dia mengutuk soal ibuku dasar lelaki penjilat! Aku tahu dia ramah padaku agar ayahku menyukai dia.

“Tak usah basa-basi, aku kesini hanya satu hari sebaiknya kau mengatakan apa yang kau inginkan secepatnya.” Aku berkata.

“Bagaimana kalau kau duduk disini, anakku.” Lelaki tua itu mengusulkan dan dia bergeser kesamping, memberikanku tempat kosong diranjang empuknya.

Aku mendengus, oh jadi dia ingin bermain halus sekarang? Betapa lucunya..trik ini mungkin akan berhasil jika dia melakukan nya beberapa tahun yang lalu saat aku masih membutuhkan dia, dan menganggap dia ayahku.

“Aku tidak punya banyak waktu tuan Li Zhoumi.” Aku berkata dan mata Yixing langsung melebar.

“Ya! Mana sopan santunmu?!” dia membentak.

Lelaki tua itu menyentuh bahu Yixing dan Yixing kembali tenang, dia menunduk sekilas meminta maaf pada Zhoumi dan Zhoumi mengangguk mengerti. Dia menghela nafasnya dan melirik kearahku dengan senyum lembutnya, senyum lembut itu tidak akan pernah megobati luka hatiku yang menganga.

“Sepertinya kau masih marah padaku Jiaheng, apa itu benar?” Lelaki tua itu bertanya padaku, aku menyeringai.

“Kau cukup pintar untuk lelaki tua yang sedang sakit.” Jawabku.

“Yixing pergilah,aku ingin berbicara dengan anak lelaki ini sendirian.” Zhoumi meminta, Yixing hendak memprotes namun Zhoumi langsung memotong pembicaraannya.

“Tenang saja, dia tidak akan menyakitiku.” Zhoumi menenangkan.

“Iyakan Jiaheng? Kau bukan manusia rendahan sepertiku?” Zhoumi meledek, suara sarkastiknya melukai sedikit ego Jiaheng atau Yifan yang cukup besar.

“Terserah padamu tuan Li, aku harap kau tidak membuat dirimu sendiri dalam bahaya.” Balasku.

Yixing akhirnya berdiri dan membungkuk kearah ayahku sekilas lalu pergi meninggalkanku dan ayahku sendirian, muka pucat ayahku terlihat menyedihkan sepertinya Yixing benar ayahku sedang sekarat sekarang.

“Bagaimana kabar adik angkatmu? Siapa namanya lagi..oh iya Zhongren.” Ayahku memulai pembicaraan.

“Dia baik-baik saja.” Aku menjawab singkat dan akhirnya aku duduk disampingnya.

“Dengarkan Jiaheng..” Ayahku mendekat dan menyentuh bahuku, pegangannya erat membuatku sedikit gugup.

“Kau satu-satunya orang yang bisa aku percayai disini, kau tahu Luhan bagaimana kan?” Tanya Ayahku, aku ingin sekali tertawa Luhan? Seperti apa? Dia bagaikan iblis yang dibalut oleh tubuh seorang malaikat.

“Kau tak usah khawatir, kau akan mendapatkan semua hartaku Jiaheng…karena kaulah anak biologisku satu-satunya.” Ayahku mengungkapkan, aku sedikit terkejut.

“Maksudmu? Jadi..Luhan bukan anakmu?” Aku bertanya dan ayahku mengangguk.

“Bukan, pelacur itu berbohong padaku..dia pikir selama ini aku bodoh?! Aku hanya bersikap pura-pura tidak tahu.” Ayah menjawab, dia mengepalkan tangannya dengan erat penuh emosi.

Dalam keadaan seperti ini aku sedikit merasa simpati padanya,apa benar dia mempercayaiku? Lalu kenapa dia membuangku? Kenapa dia mengusirkan seperti aku ini adalah sebuah sampah yang harus dia buang jauh-jauh.

Bahkan dia memberikanku sejumlah uang untuk hidup di korea terpisah dengannya yang hidup mewah di cina, namun sata itu aku tidak butuh uang. Yang aku inginkan hanya pengakuan, pengakuan bahwa aku seorang anak lelaki nya pengakuan bahwan sekarang aku bisa memakai nam amarga Li dengan bangga.

“Jadi kau memanggilku hanya untuk ini?” tanyaku melirik kearah sosok tua ayahku, Ayahku menggelengkan kepalanya.

“Kau juga harus membantuku Jiaheng.” Ayah mengungkapkan, entah kenapa aku bisa menebak kalau perkataan itu akan keluar dari mulutnya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” aku menanyakan dengan malas, haruskah aku menolong lelaki tua Bangka ini?

“Tak usah memasang wajah masam itu, kau mirip sekali dengan ibumu.” Ayah berkata, dia tersenyum padaku ini pertama kalinya dia tersenyum padaku.

Entah kenapa aku merasa senang saat aku melihat lelaki tua itu tersenyum kepadaku seperti itu, aku benci perasaan ini aku menggengam dadaku yang bergemuruh dengan perasaan senang bahkan aku bisa merasakan sudut bibirku terangkat sedikit membentuk senyum tipis.

“Ini, carilah gadis ini..” Ayahku memberikanku sebuah foto seorang gadis cantik yang memakai baju gaun.

“Dia adalah anak sulung pemilik perusahaan Jung textile, pemiliknya dan istrinya mati tragis dalam kecelakaan mobil.” Ayah menjelaskan.

“Jika kau bisa menggodanya dan membuatnya menandatangani pengabungan perusahaan kita dengan perusahaannya, kau mendapatkan semua hartaku Jiaheng.” Ayah melanjutkan.

Untuk sesaat aku menatap kearah foto wanita itu, dia kelihatannya jauh lebih muda dariku.rambut hitamnya tergerai panjang sepunggung, fitur wajahnya juga lembut aku memperhatikan mata bening gadis itu dan mataku langsung memandang kearah bibir pink nya yang kelihatan lembut itu.

“Hati-hati Jiaheng, dia adalah heartbreaker..banyak lelaki yang melamarnya namun dia menolak semua pemuda kaya itu mentah-mentah.” Ayahku memperingati lalu dia menyeringai saat dia melihat ekspressi seriusku.

“Hm..menarik, bagaimana kalau aku datang padanya? Apakah menurutmu dia juga akan menolakku?”

“Aku yakin iya, tapi jika kau berhasil menggodanya aku tidak akan terkejut.”

“Tantanganmu aku terima, baba.”

“Senang bisa bekerjasama denganmu, nak..”

[Jalanan Gangnam – Korea selatan 10:45 am]

Hari ini Hyojung bolos sekolah, dia tidak ingin mendengar ceramah semua gurunya dan muak dengan tatapan kasihan yang dia dapatkan dari teman-temannya. Dengan langkah yang pelan dia berjalan menulusuri jalanan gangnam yang sangat ramai, entah kemana dia akan dia hanay ingin bebas.

Hyojung meremas tas selendangnya, dia sudah mengganti bajunya tadi jadi dia tidak usah khawatir aka nada petugas sekolahan yang mengenalnya.

Rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajahnya, matanya berkaca-kaca menhana tangisnya. Sebenarnya dia ingin menangis dari tadi namun dia menahannya, dia terus menahannya sampai akhirnya airmatanya memaksa keluar dan menetes ke punggung ketelapak tangannya.

Hyojung berhenti didekat sebuah toko baju, disana ada tangga kecil dan Hyojungpun duduk disana dia menyeka airmatanya dan kembali menangis.

Eomma..bogoshippo..” Hyojung bergumam, dia menangis penuh kesengsaraan.

Di saat seperti ini dia berharap kalau ibunya ada disampingnya, dia sangat tergantung sekali pada sosok ibunya. Ibunya adalah sahabatnya, Hyojung bukanlah gadis yang pandai memiliki teman dia selalu canggung disekitar orang baru beda sekali dengan kakaknya.

Hyojin lebih gampang memiliki teman karena dia populer dan cukup ramah, sedangkan dia..dia sangat pemalu bahkan dia tidak berani menyapa teman sekelasnya. Dia selalu menunggu smpai teman-teman sekelasnya yang bertanya padanya atau memulai percakapan dengannya barulah dari sana dia bisa terbuka.

“Nona..apakah kau baik-baik saja?” Tanya seseorang.

Hyojung kaget dan mendongak, dia mendapati seorang lelaki jangkung dengan mantel hitim berdiri didepannya. Lelaki itu kelihatan khawatir dan Hyojung malah menangis dngan keras emmbuat orang-orang yang melihat mereka berbisik.

Lelaki itu terkejut.

“Dia menangis bukan karena aku..” Lelaki itu mencoba menjelaskan situasinya namun orang-orang tetap memberikan dia tatapan yang menghakimi membuatnya menghela nafas.

“Aish,jinjja!” Lelaki itu mengutuk, dia mengodok saku mantelnya dan menawarkan Hyojung sebuah sapu tangan berwarna ungu dengan bunga teratai disampingnya.

“Tolong nona jangan menangis..” Lelaki itu memohon dan berjongkok didepan Hyojung.

“Jangan menangis, jika kau menangis kecantikanmu akan hilang..” Lelaki itu memuji dan dia mengelap airmata yang ada dipipi Hyojung.

Hyojung yang terkejut dengan perlakuan Jongin berhenti menangis, dia menatap kearah Jongin sejenak entah kenapa perlakuan Jongin mengingatkannya pada ibunya. Dia ingat jika dia menangis, ibunyalah yang selalu menyeka airmatanya.

Hyojung langsung memeluk lelaki itu tidak peduli dia siapa, Hyojung hanya ingin memeluk lelaki itu dan menghilangkan rasa sedihnya.

“Eomma..” Hyojung bergumam.

Hyojung bisa merasakan sebuah tangan besar menyentuh punggungnya, tangan itu mengelus punggung dan Hyojung memeluk lelaki itu dengan erat, entah kenapa sentuhan lelaki itu sama hangatnya dengan sentuhan ibunya.lelaki itu berhasil menenangkan nya sekarang dia tidak merasa marah atau sedih lagi.

“Shutt nona..apakah anda baik-baik saja? Apa anda butuh tumpangan?” Lelaki itu bertanya dan Hyojung langsung melepaskan pelukannya.

“Maaf..” Ucap Hyojung saat dia sadar kalau tadi dia memeluk lelaki asing itu.

“Tidak apa-apa.”Ucap Lelaki itu, dia tersenyum dan Hyojung segera berdiri menepuk-nepuk roknya yang sedikit kotor.

“Aku..aku harus pergi, terimakasih ahjusshi.” Hyojung membungkuk sekilas kearah lelaki itu dan pergi menjauh dari lelaki itu.

Lelaki itu tersenyum saat dia melihat pipi Hyojung merah padam, Gadis itu pasti baru sadar kalau dia baru saja memeluk orang asing dengan erat tadi.

*****

Zhongren berjalan menuju sebuah café dia duduk disalah satu kursi yang kebetulan dekat seklai dengan jendela, dia memesan satu cappuccino dan sebuah dessert kue coklat. Keadaan Café cukup sepi hari itu dan Zhongren menyukainya, dia sudah bosan dengan dentuman keras musik club yang membuat telinganya sakit.

Minggu kemarin dia sudah bersenang-senang dengan Hyungnya, Yifan sekarang dia harus sendirian karena kakak angkatnya itu memutuskan untuk pergi ke cina menemui ayahnya yang sekarat.

Zhongren tidak mengerti kenapa Yifan masih peduli pada lelaki tua brengsek itu, Zhongren masih ingat saat ayah Yifan mengusir kakak angkatnya itu dari rumahnya. Dia ingat lelaki itu dengan kejamnya menyuruh bodyguard untuk menyeret Yifan, sedangkan dia marah dan akhirnya dia memukul salah satu bodyguard ayah Yifan.

Dengan helaan nafas yang cukup keras dia mengambil gelas cappuccino yang ada didepannya, diteguknya kopi itu perlahan karena masih panas.

Sebenarnya tujuan dia kesini hanya untuk menunggu seseorang, seseorang yang sudah lama tidak dia temui karena mereka berdua sibuk. Lucu sekali bukan? Zhongren hanyalah menipu orang-orang dan berjudi namun dia suah sibuk sekarang, Zhongren awalnya akan mebuka sebuah usaha namun niatnya diurungkan oleh Yifan.

Kakak angkatnya itu mengatakan kalau dia terlalu muda untuk mengurus sebuah perusahaan, sebenarnya Zhongren ingin membantah pernyataan itu namun dia tidak bisa menolah perintah kakak angkatnya itu.

Bagaimanapun kakaknya selalu benar, dia tahu Zhongren seperti apa karena mereka sudah hidup bersama lebih dari tujuh belas tahun.Mereka terkadang bisa membaca pikiran satu sama lain, jika Yifan sedih atau marah Zhongren akan tahu begitulah betapa kuatnya hubungan mereka.

Walaupun mereka bukanlah adik kandung secara biologis, namun mereka memiliki ikatan yang kuat.

Handphone Zhongren bergetar dan dia mendapatkan sebuah pesan singkat dari Yifan, Zhongren membuka pesan baru itu berharap kalau isi pesan itu mengatakan padanya untuk menjemputnya dibandara.

Dia sudah hampir mati kebosanan tanpa kakak angkatnya itu disampingnya, meskipun mereka tidak berbicara banyak namun ada sesuatu yang membuat Zhongren terhibur dan merasa aman saat dia bersama kakaknya.

‘aku akan pulang besok, berhati-hatilah..jangan pergi kekasino malam ini.’ Pesan singkat dari Yifan Zhongren baca, dia mengunci kembali handphonenya, seperting Hyung nya itu memang akan pulang besok.

Dengan langkah malas Zhongren harus menghibur dirinya sendiri di kota seoul yang sangat luas ini, dia sedang tidak ingin clubbing sebaiknya dia pergi kesuatu tempat yang lebih tenang.

“Zhongren?!”

Suara seorang wanita mengagetkan dia, Zhongren melirik kesekitar dan menemukan sosok yang tidak asing baginya.sososk wanita itu memakai baju formal kantoran, rambut coklat mudanya dia ikat kebelakang membuat fitur wajah terlihat lebih tajam.

Zhongren tersenyum kearah wanita itu dan mendekat, wanita itu sama bahagianya dan mereka berpelukan sesaat.

“Zhongren..sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Wanita itu berkata dan melepaskan pelukannnya.

“Nde, Noona..” Zhongren membalas, wanita itu melirik kesekitar sepertinya wanita itu mencari sosok Yifan.

“Kemana Yifan?” Tanya wanita itu.

“Oh Yifan hyung, err..dia sedang pergi.” Zhongren menjawab canggung, wanita itu melirik penuh curiga kearah Zhongren.

“Benar Noona..aku bersumpah!” Ucap Zhongren, tatapan tajam wanita itu membuat ia gugup dan canggung dalam waktu yang sama.

“Jangan bohong padaku Zhongren-ah..” Wanita bergumam mata coklat sipitnya masih menatap kearah Zhongren, Zhongren bisa merasakan kalau mata wanita itu mencoba menarik informasi lebih darinya.

“Benar Taeyeon noona,aku tidak bohong.” Zhongren meyakinkan Taeyeon dan sepertinya Taeyeon menyerah.

“Oh begitu ya, sayang sekali..padahal aku jarang sekali bertemu dengan kalian.” Taeyeon mengungkapkan.

“Bagaimana kabarmu sekarang?” Taeyeon memulai pembicaraan.

“Aku dan Hyung baik-baik saja, bagaimana denganmu Noona?” Tanya Zhongren balik, Taeyeon mengangguk.

“Aku baik-baik saja, sekarang kalian tinggal dimana?” Taeyeon bertanya lagi.

“Aku dan Hyung masih berpindah-pindah, kau tahu bagaimana Hyung..” Zhongren berkata.

“Ya aku tahu bagaimana Hyungmu, aku harus bekerja sekarang.” Taeyeon melirik kearah jam tangannya.

“Bagaimana kalau kau menghubungiku aku nanti? Ini kartu namaku.” Taeyeon memberikank kartu namanya kepada Zhongren lalu dia pergi keluar dari café.

Zhongren menatap kearah kartu nama yang dia pegang, Zhongre sedikit terkejut saat dia melihat jabatan Taeyeon yang tertera didalam kartu itu.

“Hm..CEO? sejak kapan dia mendapatkan promosi?” Zhongren bergumam dan diapun keluar dari café itu, hari masih siang namun dia tidak tahu harus pergi kemana.

[Kediaman keluarga Jung – Gangnam 12:10 pm]

Hyojung dengan hati-hati melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, sebagaina pelayan merasa aneh karena Hyojung pulang masih siang. Biasanya gadis remaja itu pulang sekitar pukul tiga sore atau lebih, dengan langkah yang pelan Hyojung berhasil menaiki anak tangga rumah mereka yang besar.

“Hyojung?”

Suara kakaknya membuat Hyojung terkejut dan dia langsung berbalik menatap kakkanya yang berdiri tak jauh darinya, kakaknya itu terlihat rapih dan cantik namun yang aneh kakaknya itu menggunakan pakaian formal untuk bekerja.

“Eonni? Kau masih dirumah?” Hyojung bertanya, suaranya terdengar sedikit gemetar karena panik.

“Kenapa kau sudah pulang? Tidak biasanya..” Hyojin bertanya.

“Err..anu..tadi ada cara mendadak di sekolah jadi kami dipulangka.” Hyojung berbohong, Hyojin yang melihat ekspressi Hyojung yang panik tentu saja tahu kalau adik nya itu berbohong.

“Oh benarkah? Ada acara apa?” Hyojin bertanya lagi, dia ingin tahu apakah adiknya itu akan jujur padanya atau tidak.

“Aku tidak tahu Eonni, aku harus keatas dulu aku ingin pipis.” Hyojung berbohong lagi, dia langsung berlari kelantai atas dan masuk kedalam kamarnya.

Hyojin mengepalakan tangannya, dia tahu jelas kalau adiknya itu bolos dia tidak tahu kenapa adiknya bolos. Ini pertamakalinya Hyojung melakukan itu, biasanya Hyojung tidak pernha berani melanggar peraturan apalagi peraturan yang ibunya dan ayahnya buat.

“Hyojung-ah..ada apa denganmu?” Hyojin bergumam.

“Nona,mobil anda sudah siap.” Seorang pelayan berkata membuyakan lamunan Hyojin.

“Oh terimakasih, tolong hubungi sekertaris Im katakan padanya untuk menelepon sekolah Hyojung dan cek absensinya.” Hyojin memerintah, sang pelayan mengangguk dna pergi untuk melaksanakan tugas.

Hyojin untuk terakhir kalinya melirik kearah pintu kamar Hyojung dan berbalik pergi, dia bisa membahas soal kenakalan adiknya nanti. Untuk sekarang dia harus menghadiri konferensi pers tentang pengambil alihan pimpinan perusahaan, Hyojin sangat gugup dan takut namun dia harus dewasa.

Keputusan yang dia ambil memang tidak mudah, namun setidaknya keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik untuk dia dan sebagian orang.

Apapun yang terjadi, dia tahu dia akan bertahan. Masih banyak pilihan yang bisa dia pilih, hidupnya dan Hyojung masih panjang.

To Be Continue..

Don’t forget the comment!

oh iya reader’s gimana episode satunya?? rame gak??

Penulis:

Nothing special about me im just a women who have alot of free time

41 thoughts on “Tale Of Two Siblings ~Episode 1~

  1. suka banget ceritanya ,kalau bisa jangan terlalu banyak cast ya chingu soalnya akuu lama” bingung , tapi ceritanya selalu bikin penasaran , aku harap ceritanya gak kayak sinetron indonesia yang awalnya bagus lama” mubeng ..
    aku tunggu kelanjutannya aja

  2. awal ceritanya agak menegangkan,,soalnya yifan mau berantem gtu sama yixing,,,
    sedih juga yah hyojin dan hyojung ditinggalin sama ortuny,,,,itu keknya hyojung seneng bgt deh pas eonninya dtg,,hadjuuhh,,alurnya aku suka thorr,,
    Fighting terus ^^

  3. Annyeong eon! Aku reader baru disini🙂
    Aku suka jalur ceritanya, kalo feel mungkin belum terlalu dapat (dipart selanjutnya mungkin aku baru dapat feelnya)
    Tapi cukup bingung karena nama kai disini berganti-ganti ._. kadang Zhongren, kadang Jongin ._.

  4. annyeong aku reader baru^^
    pas baca teasernya langsung penasaran.. eh part 1 ternyata emang keren banget! aku suka ffnya..
    fighting!

  5. anyeong thor!!!!
    Aldona imnida,q reader baru disini.
    Ini ff pertama yg q baca diblog ini,ff nya seru,tulisannya jg rapi,alurnya jg enak diikutin,
    AUTHOR JJANG!!!

  6. baru baca ff ini nih chingu. Aku suka sama genre action jd aku coba baca eh ternyata yg main kai n kris. Luhan disini banyak kah casnya? Kayanya bakalan complcated yah? Next part🙂

  7. astaga Yifan, kau pencuri? *digaplokKris😀 .. eonni, aku sedikit bingung dengan pov disini. Seharusnya disetiap cerita ada pov nya biar gak sedikit bingung😀 .. Semoga kau berhasil membuat Hyojung jatuh hati padamu Yifan, Kyaa~ Zhoumi, kau sudah bapak2 toh😄 .. Ada beberapa typo yang masih bertebaran .. Ah ya eonni aku intro dulu deh😀 .. Annyeong eonni, Ayana Imnida 95Line, new reader bagapta eonni🙂

    1. oh bangapta saeng🙂 aku seven 94 line…hehe d mklum ja yh klw da typo soal ny aku gk pnya beta reader, oh aku gk ska bikin pov yg kyk gtu saeng soal ny klw di novel2 jga ska gk tulisan yg ngejelasin pov tpi teng cukup jelas kok klw saeng bca ny teliti

  8. ff nya bagus. penulisannya rapi, alurnya juga enak diikutin. tapi konfliknya kurang, mungkin karena masih chapter awal kali ya. tapi ini bikin penasaran. lanjut ah.. hwaitting authornya

  9. Hi, aku baru nemu Link WordPress ini dan aku tertarik sama FF ini jadi aku baca deh hehe, aku suka sama ceritanya. Konfliknya lumayan berat tapi bahasannya ringan kok🙂
    aku lanjut di chap berikutny ya

  10. aku suka cerita ini lain dr fanfic yg pernah aku baca hhr. jadi tambah penasaran. aku lanjut ke chap selanjutnya ya

  11. huaaaa crta na bgus!!!!?!!!!! nyari” FF yg genre berbeda mlah nyasar d sni, jdi gentanyangan d WP ni deh, hehehe…
    wlau udh lma publ tpi bru bca skrg ga pa” kan thor??!!
    q snggup bca FF ampe blasan part sharian #pengacara hehehe
    thor keep write^^ #Hug tlisan na bgus”.. #JJanggg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s